Jumat, 21 September 2012

Tuanku Imam Bonjol, Wahabisme & Petisi

Oleh : Muhammad Ilham

Mungkin karena isu "radikalisme Islam" (mulai) mencuat lagi dalam ruang publik Indonesia, tak salah kemudian apabila beberapa peristiwa sejarah yang bernuansa Wahabisme, dikritisi oleh beberapa kalangan. Tak terkecuali, ketokohan (tepatnya : kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol) yang dianggap menjadi salah satu "benang merah" Wahabisme di Minangkabau. Bahkan ada yang ingin mengajukan petisi yang mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan, dan meluruskan sejarah Kerajaan Islam Minangkabau Pagaruyung, sejarah tanah Sumatra, dan sejarah Republik Indonesia. Tuanku Imam Bonjol berkhianat pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagaruyung, membantai keluarga kerajaan, memimpin invasi ke Tanah Batak yang menewaskan lebih satu juta jiwa, menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan menewaskan Sisingamangaraja X, bertanggung-jawab atas masuknya Kerajaan Belanda di tanah Sumatera Utara dan Minangkabau. 

Berikut, dialog-diskusi kritis tentang topik di atas yang berlangsung di account facebook saya (Muhammad Ilham Fadli), dengan pengantar awal dari saya mengenai : "Tuanku Rao di satu Sisi, Tuanku Imam Bonjol di Sisi Lain & Wahabisme yang Tidak Menyejarah di Minangkabau". 

Tentang asal usul Tuanku Rao sampai hari ini masih menimbulkan perdebatan. Beberapa buah buku yang khusus meneliti tentang Tuanku Rao dan yang menyinggung sedikit tentang Tuanku Rao dalam pembahasannya, memberikan klaim asal Tuanku Rao pada dua daerah yaitu dari Batak dan dari Minangkabau. Onggang Parlindungan mengatakan bahwa Tuanku Rao berasal dari daerah Batak. Pendapat Onggang Parlindungan ini kemudian dibantah oleh HAMKA dalam bukunya Antara Fakta dan hayal Tuanku Rao. HAMKA mengatakan bahwa Tuanku Rao bukan berasal dari daerah Batak. Tuanku adalah orang Minangkabau. Sementara itu, Christinne Dobbin (1992: 218) mengarakan bahwa Tuanku Rao secara genetik adalah keturunan daerah penguasa Bakkara, Batak. Karena interaksi yang intens dengan gerakan Paderi yang identik dengan Minangkabau dan agama Islam yang dianutnya serta area perjuangannya melawan kolonial Belanda berada di wilayah Minangkabau (tepatnya di Pasaman), membuat timbul "kesan" bahwa Tuanku Rao adalah orang Minangkabau.Bila dilihat dari argumentasi dan dukungan fakta yang dikemukakan, pendapat Onggang Parlindungan dan Christine Dobbin lebih masuk rasional dan argumentatif. Dalam tradisi oral history (sejarah lisan) Batak disebutkan bahwa Sisingamangaraja X mempunyai adik perempuan yang bernama Nai Hapatin. Ia kawin dengan seorang laki-laki dari klan Sisingamangaraja, Ompu Pelti. Sisingamangaraja X yang bernama asli Ompu Tua Nabolon tidak menyukai perkawinan ini. Tidak didapatkan data latar belakang pasti mengapa beliau tidak menyukai Sisingamangaraja Ompu Pelti. Namun secara asumtif mungkin bisa dikemukakan bahwa Sisingamangaraja tidak menginginkan perkawinan ini berlangsung disebabkan mereka sama-sama satu marga, sama-sama berasal dari klan Sisinga mangaraja. Perkawinan antara satu marga merupakan perkawinan yang dianggap tabu dalam adat Batak, terutama pada masa dulu. Untuk itu, Sisingamangaraja X berusaha menghalang-halangi agar perkawinan ini tidak jadi dilangsungkan. Karena Ompu Pelti dan adik perempuannya sama-sama keras, maka sesuai dengan adat Batak yang berpegang pada Dalih Natolu yaitu berpegang pada tiga : Marhula-hula, Mardongan Sabutuha dan Maranak Boru (O. Parlin-dungan, 1969: 59) akhirnya mereka dibuang ke daerah Bakkara selanjutnya mereka pindah ke daerah Aceh Tengah. Padahal secara adat, hukuman yang harus diberikan bagi mereka yang melanggar adat adalah sangat berat seperti dirajam atau dipukul dengan batu sampai mati. Karena mereka berasal dari kelompok "darah biru" maka huku-man yang diberikan kepada mereka hanya sebatas dibuang dalam masa tertentu. Secara sosiologis bisa saja masa tertentu tersebut bisa dilihat dari kajian stratifikasi sosial. Didaerah "rantau" inilah anak mereka lahir, yang kemudian mereka beri nama Sipongki Na Ngolngolan yang kemudian dikenal dengan panggilan Tuanku Rao.

Data diataslah yang menjadi pijakan Onggang Parlindungan untuk mengatakan bahwa secara genetik Tuanku Rao adalah orang Batak. Klaim ini dibantah oleh HAMKA yang berpijak pada buku Study Over Batak an Batak Schelanden tahun 1866 yang ditulis oleh JB. Newmen Kontrelir BB (HAMKA, 1974: 239). Di dalam buku itu dijelaskan bahwa Tuanku Rao berasal dari Padang Matinggi. Pendapat HAMKA ini kemudian diperkuat oleh hasil wawancara dengan Sya'ban Sutan Ibrahim yang mengatakan bahwa Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi, Rao Padang Nunang. Bahkan Sya'ban Sutan Ibrahim mengatakan bahwa keturunan-keturunan beliau sampai hari ini bisa ditelusuri di daerah ini. Jubah beliau masih disimpan sebagai pusaka sejarah oleh anak cucunya. Jubah tersebut adalah salah satu Jubah yang selalu dipakai oleh Tuanku Rao ketika bertempur melawan kolonial Belanda.


Bila dirunut secara objektif dan memenuhi kaedah-kaedah epistimologis yang dilakukan Onggang Parlindungan, maka bisa didapatkan kesimpulan bahwa Sipongki Na Ngolngolan alias Tuanku Rao adalah orang Batak. Beliau berasal dari marga Sinambela dari keturunan Sisingamangaraja. Dalam masyarakat Minangkabau tidak ada dikenal marga atau suku Sinambela. Lain ceritanya apabila Tuanku Rao berasal dari Marga Lubis atau Tanjung. Namun terlepas dari perdebatan mengenai asal usul Tuanku Rao diatas, dalam konteks tema tulisan ini, Tuanku Rao bisa ditempatkan sebagai salah seorang ulama Minangkabau. Bisa saja secara genetik beliau tidak berasal dari "darah" Minangkabau, akan tetapi area perjuangannya dan "peristirahatannya yang terakhir berada di daerah Minangkabau. Bisa saja secara genetik beliau adalah orang Batak, tapi secara sosiologis beliau bisa dikategorikan sebagai orang Minangkabau.


Si Pongki "Tuanku Rao" Na Ngolngolan : Interaksi Ajaran Islam hingga Gerakan Paderi di Minangkabau

Se
telah Tuanku Rao lahir, orang tuanya membawa beliau ke kampung halamannya di tanah Bakkara dan menitipkan kepada kakeknya dari pihak ayah. Sementara itu, kedua orang tua Tuanku Rao kembali lagi ke Aceh Tengah. Kabar kepulangan adik beserta kemenakannya membuat "luka lama" Sisingamangaraja kambuh lagi. Rasa benci dan harga diri yang tercoreng membuat Sisingamangaraja kemudian berusaha membunuh kemenakannya dengan jalan membuang Tuanku Rao ke tengah-tengah Danau Toba. Sebelum dibuang, tubuh Tuanku Rao diikat dengan tali yang diberati oleh batu. Namun niat Sisingamaraja tersebut tidak kesampaian karena setelah diikat dengan tali yang diberati batu tersebut dan dibuang ke Danau Toba, Tuanku rao berhasil melepaskan ikatan tali itu dan langsung berenag ke tepian. Selanjutnya, mengingat keamanan diri dan kakeknya yang tidak terjamin apabila ia tetap berada di daerah Bakkara, maka Tuanku Rao berangkat menunuju Aceh Tengah dan meninggalkan kakeknya di Bakkara. Di Aceh Tengah inilah (di daerah ini beliau tidak bergabung atau menemui kedua orang tuanya) Tuanku Rao pertama sekali mengenal dan mempelajari ajaran Islam yang pada akhirnya beliau masuk Islam. Kemudian untuk menghindari pengejaran terhadap dirinya dari antek-antek pamannya Sisinga mangaraja, maka Tuanku Rao hidup berpindah-pindah tempat dari satu tempat ke tempat lain yang didaerah tersebut tidak ada orang yang bermarga Sinambela.

Berapa lama Tuanku Rao belajar Agama Islam di Aceh ?. Menurut salah satu Sumber Lisan di daerah Rao Mapattunggul, Tuanku Rao belajar ilmu agama di Aceh sampai berumur 18 tahun dan setelah itu ia kembali ke Padang Matinggi untuk menemui sanak familinya sekaligus mulai mendakwahkan Islam kepada kalangan keluarganya dan masyarakat Batak disekitarnya. Diperkirakan Tuanku Rao pulang ke Padang Matinggi pada tahun 1801 M. Selanjutnya beliau bekajar dari beberapa orang ulama terkenal Minangkabau abad ke-19 M., diantaranya Tuanku Nan Renceh, Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin. Fakta sejarah beliau belajar kepada beberapa ulama terkenal Minangkabau juga dikemukakan oleh Onggang Parlindungan yang mengatakan : "Pada tahun 1804 hingga tahun 1806 Tuanku Rao belajar Tulisan Arab serta mendalami Islam dan ilmu lain dengan ulama-ulama Islam di Minangkabau seperti Tuanku Nan Renceh, Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin dan lain-lain. Pada waktu itu ulama-ulama tersebut merupakan ulama populer yang baru pulang dari Mekkah dan memiliki gerakan yang terkenal dengan sebutan gerakan Wahabi (Onggang Parlindungan, 1969: 68).
Dengan ulama-ulama tersebut diatas, Tuanku Rao belajar secara mendalam tentang seluk beluk hukum Islam. Terhadap gerakan Wahabi yang dibawa dan dipopulerkan oleh para gurunya ini, Tuanku Rao hanya memberikan apresiasi dan menghormati pilihan media gerakan gurunya tersebut, namun Tuanku Rao tidak masuk intens ke dalam unsur gerakan yang berasal dari Saudi Arabia ini. Disamping belajar dengan Tuanku Nan Renceh, Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin, Tuanku Rao juga belajar tentang ilmu agama pada sahabat karibnya Tuanku Tambusai sampai ia mendapat gelar Fakih, sebuah gelar yang berarti ilmu agama yang dimiliki Tuanku Rao telah memuaskan. Setelah kepulangannya dari Aceh dan kemudian pergi menambah ilmu keislaman kepada beberapa orang ulama terkenal Minangkabau, Tuanku Rao kemudian termotivasi dan berkeinginan untuk menegakkan kemurnian Islam di daerah Lembah Rao dan daerah sekitarnya. Pada awal gerakannya, cita-cita Tuanku Rao hanyalah sekedar untuk memurnikan ajaran Islam yang telah disalahjalankan oleh kalangan adat. Dalam sejarah, gerakan Tuanku Rao dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Batak cenderung keras. Sikap keras beliau ini banyak yang memunculkan sikap pro dan kontra. Area gerakan dakwah Islam Tuanku Rao tidak hanya diwilayah Rao saja, akan tetapi sampai ke daerah Tarutung, Balige, Porsea dan daerah-daerah Batak lainnya dengan pola yang cenderung sama, menyebarkan Islam dengan kecenderungan kearah kekerasan. Gaya Tuanku Rao inilah yang kemudian mendapat tantangan yang sangat serius dari kalangan adat baik di daerah Batak maupun didaerah Rao Mapattunggul.

Namun cita-cita Tuanku Rao ini, sebagaimana hanya ini juga terjadi dalam nelihat latar belakang lahirnya gerakan atau Perang Paderi di Minangkabau, mendapat tantangan berat karena adanya intervensi politik dari kalangan adat yang mengundang kolonial Belanda untuk "campur tangan". Mulai sejak itu Tuanku Rao bergerak dengan dua tujuan yakni memurnikan ajaran Islam dari unsur-unsur yang menyelewengkan ajaran Islam terutama kalangan adat dan mengusir kaum kolonial Belanda yang berusaha menduduki daerah Lembah Rao dan sekitarnya yang kaya akan rempah-rempah dan emas.5 Kolonial Belanda yang "bermurah hati" mau membela kepentingan kalangan adat sebenarnya menginginkan tanah dan kekayaan Lembah Rao. Sesuatu yang sebenarnya tidak disadari oleh kalangan adat ketika itu atau kalangan adat menyadari implikasi negatif yang akan ditimbulkan apabila mereka meminta bantuan kolonial Belanda menghadapi Gerakan Tuanku Rao dan Gerakan Paderi, akan tetapi mengingat eksistensi "darah biru" mereka digerogoti kalangan ulama maka implikasi negatif diatas dinafikan kalangan adat. Sejak itu, dengan memusatkan Rao sebagai pusat gerakannya, Tuanku Rao bersama pengikutnya mulai berperang melawan kolonial Belanda yang "bertopeng" dibelakang kepentingan kalangan adat. Kondisi perang ini makin bertambah "heroik" setelah perlawanan terhadap kolonial Belanda menjadi perlawanan kolektif dibawah payung Gerakan Paderi yang dipimpin oleh ulama kharismatis asal Bonjol, Peto Syarief yang kemudian dikenal dengan panggilan Tuanku Imam Bonjol. Dan selanjutnya, Tuanku Rao mulai bergabung dalam "arus umum" Perang Paderi dimana beliau termasuk menjadi orang kepercayaan Tuanku Imam Bonjol.

Perlawanan sengit yang diberikan Tuanku Rao dan Tuanku Imam Bonjol membuat pihak militer kolonial Belanda kalang kabut. Untuk mengantisipasi hal ini, pihak militer Belanda di daerah Pasaman meminta tambahan pasukan kepada pemerintah pusat di Batavia. Maka pada bulan Juni 1832, pasukan Belanda dari Jawa tiba di Padang kemudian langsung diberangkatkan menuju Rao. Pasukan ini dipimpin oleh seorang opsir muda bernama Mayor van Amerongen. Kedatangan pasukan ini kemudian diketahui oleh pasukan Paderi yang berada di daerah Lembah Rao. Tuanku Rao kemudian mengadakan perundingan kilat dengan Tuanku Tambusai dan kemudian diambil keputusan bahwa apabila pasukan Belanda datang untuk berdamai maka para pejuang Paderi akan bersikap seolah-olah akan menerima perdamaian tersebut, tetapi apabila datang dengan kekerasan maka pihak Paderi Rao-pun akan menghadapi mereka dengan kekerasan pula.

Kemudian dilakukanlah pembagian tugas. Tuanku Rao bertugas mempertahankan benteng dari jurusan Timur, Tuanku Tambusai dari jurusan Barat, Imam Perang Muhammad Jawi dari jjurusan Utara dan Haji Muhammad Saman bertugas sebagai penghubung diantara mereka. Rupanya Belanda tidak menyodorkan perdamaian. Belanda menyodorkan pilihan perang atau angkat kaki dari daerah Lembah Rao. Jawaban yang diberikan pasukan Tuanku Rao dan pasukan lainnya yang tergabung dalam pasukan Paderi sudah jelas, menerima tawaran perang. Selanjutnya perang-pun terjadi. Berpuluh-puluh kali benteng Rao diserang dari berbagai jurusan tapi berpuluh-puluh kali pula pasukan Belanda mendapat balasan yang cukup keras dari pasukan Paderi. Melihat hal ini, Mayor van Amerongen merasa khawatir dan kemudian beliau meminta tambahan pasukan ke Padang. Pasukan bantuan tambahan dari Padang tiba di Rao pada bulan September 1932, segera Mayor van Amerongen kemudian melakukan serangan besar-besaran terhadap benteng Rao. Setelah melakukan pertempuran selama 16 hari, akhirnya benteng para pejuang Paderi terdesak. Untuk menghindari banyaknya jatuh korban, mereka kemudian mengosongkan benteng. Tuanku Rao bersama pasukannya mengundurkan diri ke Air Bangis, sedangkan Tuanku Tambusai bersama pengikutnya termasuk Muhammad Saman mundur ke arah barat memasuki daerah Mandahiling. Sedangkan benteng Rao berhasil direbut pasukan von Amerongen. Atas jasanya ini, nama benteng Rao kemudian dirubah menjadi Benteng Von Amerongen.

Kekalahan yang diderita pasukan Paderi di Rao dan jatuhnya benteng Rao ke tangan pasukan Belanda, membuat masyarakat yang ada disekitar Lubuk Sikaping merasa panas dan berencana untuk menyerang Rao serta membebaskan benteng Rao dari cengkeraman p asukan Belanda. Sebelum penyerangan dilakukan, utusan Belanda berangkat ke Lubuk Sikaping untuk menemui para penghulu dan membujuk mereka untuk "mengamankan" serta mengurungkan rencana anak kemenakan mereka menyerang benteng Rao. Akan tetapi para penghulu tidak mau tunduk dengan permintaan utusan Belanda ini. Akibatnya, para penghulu yang dianggap sebagai otak non-kooperatif ini ditangkap dan dipenjarakan. Tindakan ini nampak nya cukup efektif karena membuat takut masyarakat Lubuk Sikaping bertindak lebih jauh sebagaimana yang telah mereka rencanakan pada awalnya.
Kepergian Tuanku Rao dan pasukannya ke daerah Air Bangis pada tahun 1883 sebenarnya merupakan strategi untuk menyusun kekuatan kembali setelah pasukannya kalah dalam perang mempertahankan benteng Rao melawan pasukan Von Amerongen. Air Bangis merupakan daerah terjauh dari Rao di wilayah Kabupaten Pasaman. Secara asumtif, kemungkinan besar karena pertimbangan jarak inilah, maka Tuanku Rao berfikir akan mudah menyusun kekuatan kembali untuk melawan pasukan Belanda dan merebut benteng Rao. Namun setibanya di Air Bangis, daerah pantai dan daerah dagang di pantai Barat Sumatera ini telah diduduki oleh pasukan Belanda. Kedatangannya ke Air Bangis kemudian dicium penguasa Belanda setempat. Berita kedatangan Tuanku Rao ke Air Bangis dikabarkan ke Benteng Rao di Rao Mapattunggul. Maka segeralah dikirim seorang kurir beserta pasukan Belanda dari Rao. Kurir tersebut bernama Letnan Muda J.H.C. Schultze. Disamping mengirimkan pasukan dari Rao, bala bantuan juga dikirimkan dari Padang yang mengirim satu buah kapal perang yang bernama Circe. Pasukan Belanda di Air Bangis dibantu oleh pasukan Letnan Muda J.H.C. Shultze serta penguasaan medan laut oleh kapal Circe, mereka mengepung ruang gerak Tuanku Rao dan pasukannya di sekitar Air Bangis. Pada akhirnya, dalam tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 19 Januari 1833, Tuanku Rao kemudian ditangkap hidup-hidup tanpa perlawanan berarti dari beliau.

Kemudian proses selanjutnya, sejarah tidak mencatat secara jelas. Bagaimana Tuanku Rao meninggal dan dieksekusi. Apakah ditembak, dirajam atau dibenamkan di laut. Kemudian dimana beliau dikuburkan. Siapa saja dari pasukannya yang mati terbunuh, kemudian apa saja kegiatan utamanya di Air Bangis, serta mengapa ia ditangkap, apakah beliau tidak bisa menghilangkan identitasnya. Sejarah tidak mencatat secara tuntas. Yang diketahui hanyalah, Tuanku Rao ditangkap dan dihukum mati dengan cara yang sangat keras.6 Dua kata terakhir ini, kata "sangat keras" sampai hari ini belum bisa diinterpretasikan analisis sejarah makna kata tersebut. Tapi yang pasti, Tuanku Rao tidak meninggal dalam peperangan karena menurut Chritinne Dobbin, beliau ditangkap hidup-hidup dalam sebuah pengepungan yang dilakukan secara kolektif dari darat dan dari arah laut Air Bangis.

Kematian Tuanku Rao sampai hari ini, baik yang bersumber dari fakta sejarah (pendapat dari beberapa sejarawan yang pernah meneliti tentang Tuanku Rao) maupun dari cerita-cerita rakyat yang berkembang, masih dianggap sebagai sebuah kematian yang tragis dari perjalanan hidupnya yang juga tragis, keras dan penuh dinamika. Namun kematian Tuanku Rao bukanlah kematian sia-sia. Dalam ranah sejarah Islam di Minangkabau dan Tanah Batak, "posisi dan peran" Tuanku Rao menempati posisi dan peran yang cukup penting. Beliau adalah figur yang sangat banyak memberikan kontribusi dalam menyebarkan Islam di daerah-daerah pinggiran Minangkabau (daerah-daerah tansisi spasial Batak-Minangkabau atau daerah perbatasan kultur Minangkabau dengan Batak) dan sebagian besar daerah-daerah di Tapanuli. Terlepas dari gayanya yang keras dalam menyebarkan agama Islam, yang pasti pembicaraan mengenai Islamisasi di Minangkabau dan daerah-daerah di Tapanuli, sejarah tidak akan bisa melupakan posisi dan peran penting Sipongki "Tuanku Rao" Na Ngolngolan ini.

Begitu juga halnya ketika kita berbicara mengenai sejarah perjuangan Indonesia dalam melawan penjajahan kolonial Belanda. Tuanku Rao adalah seorang pahlawan yang sangat berani dalam melawan secara fisik keberadaan kolonial Belanda di daerah Pasaman dan Batak. Bersama-sama dengan para kawannya yang tergabung dalam Gerakan Paderi, mereka "menguras" energi dan kekayaan kolonial Belanda. Perlawanan yang mereka lakukandalam rentang waktu hitungan tahun yang panjang membuat pemerintah kolonial harus mengeluarkan biaya besar. Disamping itu, Tuanku Rao merupakan orang kepercayaan Tuanku Imam Bonjol, salah seorang pahlawan nasional dari Minangkabau. Memang beliau tidak mendirikan pesantren ataupun membuat sebuah surau dengan seperangkat sistem belajar mengajar. Beliau tidak seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Sulaiman Ar Rasuli ataupun Dr. Haji Abdul Karim Amrullah yang memiliki kesempatan membuat lembaga pendidikan dan mentransfer ilmu mereka kepada para murid secara sistematis. Beliau juga tidak terlibat secara intens dengan perdebatan-perdebatan teologis sebagaimana halnya yang terjadi pada ulama-ulama besar Minangkabau sesudahnya. Walaupun sebenarnya pada waktu itu perdebatan teolgis "terbuka" dengan satu objek perdebatan yaitu Gerakan Wahabi. Tapi beliau tidak begitu tertarik. Tuanku adalah "orang lapangan". Beliau lebih suka berada diatas punggung kuda, dan menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah dan tugas "laki-laki"nya yaitu berperang sebagaimana halnya yang dilakukan oleh Tuanku Imam Bonjol. Maka pembicaraan tentang Peperangan Paderi, posisi dan perang penting Tuanku Rao tidak bisa dilupakan.
 

Sumber : (Basyral Hamidi Harahap, 2001; Christine Dobbin, 1996; M. Onggang Parlindungan, 2002; HAMKA, 1974 dan Muhammad Ilham, "Tuanku Rao dan Air Bangis", 2000)

Selanjutnya, diskusi berkembang (hanya publish sebagian) :

Dina Y. Sulaeman terimakasih bang..menarik sekali.. jadi agak malu, saya urang awak tapi banyak tak tahu sejarah kampung sendiri..Tolong dijelaskan juga ya Bang soal Wahabisme itu. Samar2 yg saya ingat, guru sejarah dulu cerita bhw yang dilakukan psukan Paderi adalah melarang masy melakukan hal2 yg melanggar syariat Islam, misalnya judi, sabung ayam. Oiya, Om D-Gooh Teguh (dari bliau ini nih info soal petition tsb) silahkan nimbrung juga :)

D-Gooh Teguh saya share saja. dari sekilas2 mmg sudah lama saya curiga bahwa Imam Bonjol ini pengkhianat tetapi data dan analisis ilmiahnya ya baru baca juga.

Chen Chen Muthahari Teman2 Batak tsb... biasanya masih membekas ingatan buruk/luka-2 nya terhadap Perang Paderi ini.

Muhammad Ilham Fadli Dina Y. Sulaeman, sebelum bahas "cerita usang" dan analisis a-historis mengenai "pengkhianat" atau tidak "pengkhianat"nya Imam Bonjol dan group "wahabisme" nya tersebut, ada hal yang perlu diperhatikan terlebih dahulu. (Pertama) : Kritik HISTORIOGRAFI ...... "sumber sejarah" yang digunakan, sumber sejarah mana ? Kalau ARSIP-ARSIP Belanda, dijamin 100 % Imam Bonjol bagi Belanda adalah Pengkhianat. Kalau Buku yang dikarang oleh peneliti "out-group" (kalau boleh saya katakan demikian), pasti analisis subjektifitasnya muncul (apalagi ketika kita membaca Buku Mangaraja Onggang Parlindungan dan dihubungkan dengan Batak-Bakkara dstrsnya.). (Kedua) : analisis historis harus kita tempatkan dalam konteks waktunya, ada "jiwa zaman" pada masa itu. Tuanku Nan Renceh, "membunuh" kakak ibunya (?) gara-gara makan SIRIH, juga harus diletakkan pada jiwa zaman itu. Sama halnya dengan, bagaimana kita memahami "KKN"-nya Utsman bin Affan, "harem"-nya dinasti Turky Utsmany atau bagaimana kita memahami "mengapa" beberapa ulama dan pelajar Thawalib Padang Panjang banyak menggandrungi ideologi Komunis tahun 1920-an di Padang Panjang. Dalam konteks ini, kita menempatkan analisis. Yang jelas, Imam Bonjol adalah "aktor historis" Minangkabau yang implikatif. Kalau dalam kajian Al-Qur'an dikenal Ashbabun Nuzul, Ashbabul Wurud untuk Ilmu Hadits, maka dalam melihat event sejarah, harus dilihat SEBAB MUSABAB-nya dan "dikonfirmasi" dengan "jiwa zamannya" ..... kalau tidak, maka SOEKARNO-pun kita anggap Pengkhianat karena menerima beberapa "tawaran" Jepang, atau KARTOSOEWIRJO bisa jadi dianggap BANCI karena mengajukan Grasi pada Soekarno dan seterusnya.

Muhammad Ilham Fadli Bu Chen Chen Muthahari, sama halnya orang Minangkabau, masih "membekas" dalam perilaku buruk rupa tentara JAWA ketika melakukan penumpasan PRRI di Sumatera Barat. Persoalannya sekarang adalah, "menempatkan" event tersebut dalam konteks waktunya. Membaca Sejarah Islam Minangkabau, tidak bisa secara parsial dan dihadapkan secara vis - a vis dengan "out-group" Minangkabau lainnya. Bagaimana kita memahami seorang Amangkurat II sang psikopat itu membunuhi banyak ulama ? Atau bagaimana kita memahami kejadian "kompetisi - konflik - anarkisme" Nuruddin Ar-Raniry dan As-Sumaterani di Aceh ?

Dina Y. Sulaeman wow..thank you very much Bang.. dapat ilmu baru nih soal studi sejarah.. ditunggu lanjutannya.. Pertanyaan selanjutnya: lalu bolehkah kita menilai benar-salahnya perilaku seorang tokoh sejarah? Apa kita hanya bisa memahaminya, atau boleh mengkritisinya?

Chen Chen Muthahari Seperti yg anda katakan bung Muhammad Ilham Fadli: penumpasan PRRI itu untuk apa? Perang Paderi itu untuk apa? kenapa Imam Bonjol yg jadi pahlawan nasional? mungkin ini maksud petisi ini, mempersoalkan kembali hal ini. apakah krn pernah selingkuh bu Inggrid gak bisa jadi pahlawati Nasional?

Muhammad Ilham Fadli Kepahlawanan itu DEBATABLE, bu Chen Chen Muthahari. Saya lebih suka menggunakan aktor sejarah. Sekarang begini, "tidakkah dalam fase juangnya, Imam Bonjol cs. adalah aktor heroik melawan Belanda ? ..... disisi lain, oleh sahabat kita yang lain (tentunya dengan pertimbangan arsip yang subjektif) dianggap pula sebagai "pengkhianat" kemanusiaan. TIMUR LENK yang mendirikan Dinasti TIMURID, dianggap sebagai raja Muslim yang "berjasa" besar dalam peradban Islam, pada sisi lain, "tangannya berdarah-darah", bahkan diklaim pernah mendirikan tugu dari kepala ratusan bahkan ribuan orang ?. Kalau juga kita menggunakan konsep Pahlawan, apakah semua Pahlawan Nasional itu juga "dimiliki" oleh semua orang yang mengaku sebagai rakyat Indonesia ? .............. PRRI bagi orang Minangkabau adalah "koreksi daerah terhadap pusat" (lihat : Mestika Zed, RZ. Leirisza dan hampir seluruh masyarakat Minangkabau mengatakan hal itu). Tapi bagi sejarah politik Nasional, PRRI adalah pemberontak. Chairul Saleh Dt. Panduko Rajo, Soekarni dan DN. Aidit ... adalah segelintir anak muda yang menorehkan sejarah luar biasa ... "menculik dan memaksa Soekarno-Hatta (cf.) Rengasdenklok" ..... bagaimana kalau tidak mereka culik, maukah Soekarno memproklamirkan kemerdekaan ? ... tidakkah EVENT yang mereka ciptakan itu adalah event yang kontributif bagi arah perjuangan bangsa ? .... Tapi karena pilihan ideologi, mereka hanya menjadi "footnote" untuk tidak menyebut dihilangkan.
 
Dina Y. Sulaeman ..... coba ambil "spirit-epistimologis" dari artikel ini : ___________ http://ilhamfadli.blogspot.com/2012/05/menggugat-kartini_10.html

Chen Chen Muthahari memang debatable, karena pengangkatan kepahlawanan nasional jg ada hubungan dengan politik, penguasa, dll. tetapi dalam sejarah selalu terbuka untuk fakta2 baru tentang suatu peristiwa. makanya jurusan sejarah di kampus2 gak pernah mati. :-)

Nano Hadinoto Betul sekali, mas Muhammad Ilham Fadli. Hidup bukanlah masalah hitam putih, salah benar, namun bak bianglala yang mencakup jutaan facette. Banyak titik pandang antara benar salah, antara kawan lawan, antara pahlawan pengkhianat. Bung Karno adalah proklamator, tetapi juga wafat sebagai tahanan politik. Demikian pula St. Syahrir, disatu sisi pahlawan nasional dan pemimpin, dilain sisi wafat sebagai tahanan politik.

Muhammad Ilham Fadli Betul, saya sangat setuju. Dalam konteks diskusi kita diatas, saya tidak pernah menolak dan mengatakan Imam Bonjol dan "kawan-kawan" Wahabisme (kalau boleh saya istilah demikian) Minangkabau era Imam Bonjol ini itu "Pahlawan ataupun Pengkhianat". Saya hanya memberikan perspektif, agar dalam melihat "posisi historis" tokoh-tokoh berkenaan, harus dipahami dalam konteks HISTORIS (Historiografi, Metodologis dan analisis Konteks-Temporal ...... mohon maaf ribet bahasanya, bukan ingin sok-sokan). Kita boleh beda pendapat bu Chen Chen Muthahari :)

Dina Y. Sulaeman Mantap sekali tulisan "Menggugat Kartini" bang Ilham, beberapa pertanyaan saya selama ini jadi terjawab.

Chen Chen Muthahari saya nggak beda pendapat kok dengan Bapak. saya jg dulu kuliah di jurusan sejarah. cuman saya mau membela teman2 ini (walau saya belum akan sign petition ini) karena seingat saya waktu kuliah di jurusan sejarah, kita boleh me-re-tafsirkan kembali fakta2 dgn fakta2 baru yg ditemukan. 

Dina Y. Sulaeman sambungan: Yg sering mengemuka selama ini kan, knp kok Kartini yg 'diangkat' terus, pdhl kontribusi nyata Dewi Sartika lebih besar (salah satu yg ngomong gini suamiku Bang, hehe..urang Sunda).. dari tulisan Abang, sy jadi nyadar, ada dua masalah yg beda di sini: masalah politik (penetapan pahlawan terkait dg politik), dan kedua (yg spt-nya sering diabaikan pembahasannya) adalah konteks sejarah masing2 'aktor sejarah' itu. oh iya lupa kalo Chen Chen jurusan sejarah..kirain sastra perancis..hehe.. kalau saya baru nyadar utk lebih banyak baca sejarah Indonesia setelah gabung sama Asian Afrika Reading Club tea..:)

Muhammad Ilham Fadli Bu Chen Chen Muthahari betul. Re-tafsir harus teruys dilakukan, agar terus melakukan re-konstruksi. Disana sejarah menjadi dinamis kalau terjadi dialog terus menerus. Tapi harus juga diperhatikan, Kritik Internal, secara epistimologis ....... sumber sejarah mana yang digunakan. Bila kita semuanya menggunakan arsip Belanda, tidak perlu lagi kita tafsirkan ...... mungkin hanya ARU PALAKKA ataupun TAMBILUAK yang jadi Pahlawan. ...............Bu, saya bukan sejarawan. belum sampai kesana karena tak satupun karya inspiratif yang pernah saya lahirkan. Saya hanya guru, peminat sejarah dengan background Ilmu Politik dan Ilmu Sejarah. Itu saja. Salam. Diskusi menarik.

Nano Hadinoto Ya, ini juga fenomena yang sama. Karena penulis sejarah diawal negara kita kebanyakan berasal dari Jawa, maka RA Kartini sangat diexpose. Daerah mempunyai pahlawan pahlawan wanita yang tak kalah unggul, Dewi Sartika di Pasundan, Walanda Maramis di Minahasa. kemajuan kaum wanita di zaman belanda tercapai pertama di Minahasa, bukan di jawa atau daerah lain.

Chen Chen Muthahari Di samping itu penulisan sejarah budaya kita juga pengajaran sejarah budaya sangat kurang. Terlalu kepada sejarah politik. Kalau hanya sejarah politik nggak tahu sejarah budaya akan repot. Latarbelakang budaya Jawa, Sunda, Minahasa, Minangkabau dll beda - mengapa perempuan Jawa--> Kartini, Sunda -->Sartika, Minahasa-->Walanda Maramis, Aceh-->Cut Nyak Dhien. Dan sebagainya. Sewaktu saya dulu di Malaysia, kami belajar sejarah budaya dari kelas 1 SMP sampai kelas 2 SMA (karena kelas 3 sudah fokus penjurusan pra-u). Di Indonesia yg saya ingat saya cuma belajar sejarah politik. Ketika saya mau coba bawa revolusi ini ke kampus, dianggap nya saya nggak menulis dn meneliti sejarah. Suatu pengalaman yg menyakitkan.

Dina Y. Sulaeman Chen Chen , D-Gooh , Ilham : kembali ke masalah petisi.. pertanyaan saya, masih perlukah menggalang petisi tsb? apalagi sy lihat friend yg share link petisi itu adalah org2 yg memang sensi sama kata 'wahabi'.. Tidakkah ini malah akan jadi sumber perdebatan antarmazhab lagi?

Muhammad Ilham Fadli Dina Y. Sulaeman, baguslah. Itu jauh lebih baik. Ketokohan Seseorang harus di debat, supaya masyarakat bisa lebih terbuka. Bahkan bila perlu, ini menjadi perdebatan hangat. Sama halnya, ketika Natsir mau diangkat jadi Pahlawan, terjadi perdebatan panjang yang akhirnya justru memberikan pencerahan pada publik. Tentang konflik suku, saya rasa tidak akan muncul. Saya yakin. WAHABISME pun juga harus dicari benang merahnya dengan PADERI, kalau memang ada kaitannya. Tapi yang saya heran, secara sosiologis, "aura Wahabisme" kok tidak berkembang di Minangkabau ? hehehehehe just kidding.

Muhammad Ilham Fadli Diskusi menarik Dinda cerdas Dina Y. Sulaeman, bu Chen Chen Muthahari yang inspiring dan pak Nano Hadinoto yang "bergelora". Menarik diskusinya. Simpulan saya cuma satu ___________ : Aktor sejarah adalah insane-insan yang memiliki implikasi positif terhadap gerak langkah perubahan masyarakat, sedangkan pahlawan, lebih bertendensi politis. Karena itu, bagi saya, selalu mengkritisi kehadiran aktor sejarah, adalah sebuah keharusan. Bukan memitoskan, karena memitoskan seseorang akan membuat kita menjadi insane yang tidak waras, kata Bung Hatta. Dengan selalu mengkritisinya, maka kita bisa mendialogkan nilai-nilai inspiratif seorang actor sejarah yang hidup pada masa lalu dengan “dunia kita” pada masa sekarang, dengan tentunya bersikap adil, empati dan kontekstual. “Ashbabun” actor sejarah itu, juga harus kita pertimbangkan supaya kita tidak terjebak dalam proses pengkerdilan ataupun pemitosan ..... dua hal yang juga membawa kita sebagai insan yang kerdil pula.

D-Gooh Teguh wow... wow... mantaff. Petisi tetap perlu, apalagi kalau nanti ada yang bikin petisi mendukung Haji Bonjol tetap menjadi Pahlawan Nasional. Wacana terbuka dan konflik wacana tidak akan pernah menjadi konflik sosial jika penguasa tegas menegakkan konstitusi...

Nano Hadinoto Setuju mas Fadli, jangan me-mythos-kan tokoh sejarah. Kita lihat istilah "Dwitunggal", yang adalah sebuah ironi. Bung Hatta "terpaksa" mundur dari pimpinan negara, karena tak setuju sepenuhnya terhadap policy negara. Jadi ke"Dwi-Tunggal-an" beliau berdua tidak berkesinambungan dalam sejarah RI, namun temporer.

D-Gooh Teguh Setuju sangat itu pak... Aktor Sejarah jangan dijadikan mitos tetapi harus tetap dikritisi apa adanya. Dan menurut hemat saya kepahlawanan seseorang yang "politis" itu juga harus terus dibelejeti dan didudukkan sebagai kajian aktor sejarah. Parameter "KONTRIBUSI POSITIF" nampaknya bagus juga... jadi setiap aktor sejarah ada dampak positif dan negatifnya. Nah, resultante-nya itu-lah ukurannya. Sebagai contoh, Pak H. Bonjol mmg berperang melawan Kolonial setelah sebelumnya diduga digunakan kolonial untuk melemahkan "sishankamrata" rakyat minang dan tanah batak. Macam Al Qaidah yang terkadang disupport imperialis terkadang diperangi dimana perlu. NAH, perlu dikaji kontribusi negatif perusakan sishankamrata oleh Pak H. Bonjol ini dibandingkan dengan perlawanannya pada "mantan majikannya" apakah bisa dikompromikan. Btw, Imam Bonjol sudah pergi haji khan? Boleh dunk saya sebut Pak H. Bonjol. 

Muhammad Ilham Fadli Analisis Bpk. D-Gooh Teguh boleh juga. Tapi ada beberapa bagian yang mungkin perlu "dibaca ulang kembali" agar analisisnya agak pas. Sesekali baca juga Tambo Imam Bonjol atau coba baca pula karangan Christinne Dobbin, agar lebih seimbang. Bukan Haji Bonjol .... Tuanku Imam Bonjol : Secara kultural, gelar Tuanku dan Imam itu, identik dengan sistem kepemimpinan adat dan budaya Minangkabau. Mungkin bacaan pak D-Gooh cukup banyak, untuk itu, sesekali juga secara empati, dipahami tentang sistem kepemimpinan adat Minangkabau, periodesasi sejarah Islam Minangkabau, karena setiap periodesasi memiliki "arus utama" isu sendiri ... supaya perbincangan kita menjadi lebih agak "hangat" dan kritis. .... :). 
Muhammad Ilham Fadli Dinda Dina Y. Sulaeman dan D-Gooh Teguh (ngomong-ngomong "D-Gooh" itu, kira-kira apa maksudnya ? hehehehe, sekedar bertanya untuk menambah pengetahuan saja) ________ Saya menulis satu buku (katakanlah : buku "acak-acak" yang diterbitkan di Bangi UKM Malaysia bareng Prof. Saefullah - lihat di inbar http://ilhamfadli.blogspot.com/ ----- tentang TEORI POLITIK ISLAM. Intinya begini, berkaitan dengan diskusi Dina dengan D-Gooh, apakah perlu Partai atau Tidak. Pertanyaan itu-pun sama (juga) dengan yang diajukan MARX (Perlukah Negara atau Tidak, bagi Marx tidak, tapi kemudian "dimurtad-i oleh muridnya V. Ilyich Lenin dengan mendirikan negara). Bagi saya, semuanya tergantung pada yang namanya KONSENSUS (Syura dalam bahasa al-Qur'annya). Bagi siapa yang ingin menjadikan Indonesia ini mau jadi NEGARA ISLAM, lewati saja "jalurnya", dirikan saja Partai Politik yang benar=benar mengusung NEGARA ISLAM .... lalu "jual ke masyarakat". Demikian juga dengan ide anti PARTAI, yang menurut saya hanya akan jadi "wacana" saja, bila hanya demikian. Ia harus diajewantahkan dalam mekanisme sistem politik, apakah menjadi "kekuatan politik praktis" ataupun "kekuatan penekan". Lalu, masyarakat yang "mengukurnya", kalau dalam istilah Sosiologi Politik Parsonian (mekanisme sistem politik : "in-put - feedback dari publik - out put). Hakim-nya PUBLIK.

Muhammad Ilham Fadli Saya masih termasuk orang yang percaya dengan Partai Politik. Saya hanya (banyak) tak percaya dengan POLITISI (POLITIKUS istilah Prof. JE. Sahetapy dalam acara ILC). Kenapa saya percaya percaya .... ? Karena Indonesia juga pernah memiliki dekade yang inspuiratif dimana dihuni oleh politisi-politisi inspiring. Persoalannya berarti, bukan Partai Politiknya, tapi Sistemnya yang secara reduktif dan konkalingkong juga diciptakan politisi (juga). __________ http://ilhamfadli.blogspot.com/2011/07/oleh-muhammad-ilham-apa-beda-politisi.html
Muhammad Ilham Fadli Kembali ke topik awal, Dina Y. Sulaeman dan D-Gooh Teguh (walau sebenarnya saya ingin sekali diskusi masalah Sistem Politik .... teringat masa-masa S1 di FISIP Univ. Andalas Padang dulu ... hehehe) ..... saya ingin (kembali) diskusikan tentang Tuanku Imam Bonjol, Wahabisme, Pembantaian di Bakkara dan Petisi …….. Izinkan saya memiliki pendapat, sesuai dengan sumber sejarah yang saya baca – dan tidak begitu banyak. Sebelumnya, saya minta maaf bila ada yang menafsirkan saya “terkesan” sukuisme. Jujur, saya tidak memposisikan diri untuk membela satu suku ataupun satu tokoh disatu sisi dan memojokkan satu suku atau tokoh pada sisi lain. Ini murni “diskusi kritis”, bila ada sumber dan tafsiran yang didukung fakta historis yang kuat, bisa jadi pendapat saya ini berubah. Secara cultural, saya juga keturunan Batak (ayah saya marga Nasution dari kakek), sedangkan ibu saya orang Minangkabau, jadi rasanya saya mendapat “tempat” yang pas untuk sedikit berpendapat.
 
Dina Y. Sulaeman D-Gooh Teguh .... Bagi saya, menggugat keabsahan gelar Pahlawan Nasional terhadap Tuanku Imam Bonjol (sekali lagi bukan Haji Bonjol, karena gelar Tuanku dan Imam sangat identik dengan system cultural dan pemerintahan a-la Minangkabau), sah-sah saja. Sebagai akademisi, bahkan saya menyukai kerja ilmiah seumpama ini. Namun, menghubungkan Tuanku Imam Bonjol (selanjutnya : TIB) dengan kasus pembunuhan di daerah Batak dan dikaitkan dengan Wahabisme, saya juga ingin mengkritisinya. Karena sejauh yang say abaca, bukan TIB yang melakukan itu. Gerak perjalanan historis TIB praktis lebih banyak berkecimpung dalam pertempuran melawan Belanda (cf. Christinne Dobbin). Kekerasan di daerah Batak, pada prinsipnya tidak bias kita lepaskan dari ketokohan Tuanku Rao. Siapa Tuanku Rao ? Ia adalah kemenakan “yang tidak diakui” oleh Sisingamangaraja, karena Tuanku yang bermarga Sinambela dan bernama Sipongki Nangolngolan SINAMBELA ini, (konon ?) berayahkan orang Aceh. Ia diusir dari “kerajaan” dan “trah” Sisingamangaraja. Tidakkah mungkin ada dendam terhadap paman/mamaknya tersebut ? Dan ia kemudian bergabung dengan TIB dengan wilayah “territorial” di bagian utara. Wilayah operasional Tuanku Rao, hingga ke Bakkara, sedangkan TIB hanyalah di daerah perbatasan (mendirikan benteng di Bonjol dan Rao). Setahu saya, TIB tidak pernah melakukan pembunuhan massal. Kalau Tuanku Rao yang ber-klan-kan Sinambela tersebut …. Iya. Lalu, peran TIB dalam “merusak” struktur adat Minangkabau (dalam hal ini kaum adat), pada dasarnya tidak menimbulkan gejolak dan konflik sosial di kalangan grass-root.Yang ada adalah, kaum adat “terdesak” karena otoritas mereka tereduksi. Dalam moment itu, Belanda masuk ……….. (dan hamper seluruh peristiwa sejarah di Nusantara, pola seperti ini dilakukan oleh Belanda). Dina ..... Jadi, saya fikir, “menisbatkan” pembunuhan massal kepada TIB, rasanya perlu dikritisi. Kalau pada Tuanku Rao, bisa jadi. Lalu bagaimana dengan Wahabisme di Minangkabau yang dibawa oleh beberapa Haji sepulang dari Mekkah ?. Hanya kaum adat yang berkonflik …. Dan kemudian justru, melahirkan sintesa baru dalam tatanan sosio-kultural Minangkabau yang dikenal dengan Perjanjian Bukik Marapalam yang hingga hari ini, butir-butir Perjanjian itu berjalan dengan lempang serta menjadi ICON Minangkabau …. Serta, sejauh yang saya pahami, justru tidak melahirkan generasi Wahabisme periode pasca Paderi. Justru yang lahir adalah “generasi Nano-Nano” …… sosialis tulen seumpama Sutan Syahrir, Sosialis Religius seperti Agus Salim, komunisme (Murbaisme) Tan Malaka, tokoh Masyumi seperti Natsir, nasionalis seumpama Hatta, Islam modernis seperti Inyiak Dotor ayah Buya Hamka yang muridnya juga dikenal sebagai tokoh komunisme era 1920-an di Minangkabau (Dt. Batuah), Islam modernis seperti Abdullah Ahmad, tradisionalis seperti Inyiak Jaho, Inyiak Canduang, Inyiak Parabek ……… dalam kurun waktu yang sama. Demikian. Wallahu a’lam.

Dina Y. Sulaeman Terima kasih bang, betul, mari kembali ke pertanyaan awal, apa benar TIB seperti yg dituduhkan.. Sebagai urang awak juga saya tidak merasa dibesarkan dg kultur wahabi haha.. Justru rasanya kultur di sekeliling saya sangat respek pada keilmuan dan tidak mudah menyalah2kan orang lain (mengkafirkan) spt khasnya Wahabisme. Bahkan setelah saya ke Iran (dan biasanya jd muncul 'stigma' tertentu), saya malah diundang bicara berkali2 di forum2 Islam.. dan mereka santai2 saja nanya2 bagaimana kultur Syiah di Iran dan saya pun menjelaskan dg apa adanya, tanpa merasa tertekan atau terintimidasi. 

2 komentar:

Abbas mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Abbas mengatakan...

Assalamualaikum silahkan dibaca ini http://dinarfirst.org/tuanku-imam-bonjol-1772-1864-piti-ameh-dan-sunan-giri/