Minggu, 01 Agustus 2010

Permi dan Komunisme di Minangkabau

Oleh : Muhammad Ilham

Orang Minangkabau digambarkan sebagai “orang-orang yang gelisah dengan tradisi pemberontakan yang panjang” (George Mc. Turnan Kahin)

Kegagalan sistem pemerintahan ke-Khalifahan dalam dunia Islam dan muncul ide Pan Islamisme yang dikembangkan Jamaluddin Al Afghani, serta ide nasionalis Mesir dan Turki, menjadi pebicaraan oleh tokoh-tokoh reformis. Zainuddin Labai El Yunusy banyak membaca ide Islam nasionalis Rasyid Ridha dan nasionalis Turki oleh Mustafa Kamal serta disebarkannya melalui majalah Al Munir Al Manar disamping membuat perkumpulan Debating Club dan mendirikan sekolah modoren Diniyah Schol. Disamping itu beliau mendirkan Koperasi pada Surau Jembatan Besi yang kemudian berubah menjadi wadah persatuan siswa yang disebut Sumtera Thuwailib. Surau Jembatan Besi berubah menjadi sekolah moderen Sumatra Thawalib dan Nama Sumatera Thawalib menjadi nama sekolah-sekolah kaum reformis sekaligus mejadi wadah persatuan.

Sikap anti penjajahan yang sejalan dengan munculnya wacana baru tentang nasionalisme menimbulkan kesadaran persatuan dan kesadaran berbangsa sendiri. Gejolak gerakan kebangsaan mulai terasa di Minangkabau sejak awal tahun l920an makin meningkat setelah masuknya aliran komunisme ke lembaga pendidikan Sumatra Thawalib yang dibawa oleh H.Dt Batuah. Penekanan kesesuain antara ide egalitarian Komunis dengan ide egalitarian dalam Islam sangat menarik. Untuk itu Dt. Batuah sebagai seorang guru Sumatra Thawalib mencoba mengembangkan faham komunis yang radikal anti penjajahan pada guru dan muridnya sehingga Koperasi Sabun berubah menjadi Bufet Merah sebagai tempat diskusi dan pengembangan faham “Komunis Islam”.
Keberhasilan Dt. Batuah menyebarkan “Faham Kuminih” dikalangan pelajar Sumatera Thawalib menyebabkan timbulnya perpecahan dikalangan guru dan murid Sumatera Thawalib. Haji Abdul Karim Amarullah (HAKA) yang ayah Buya HAMKA itu, mengundurkan diri dari Sumatera Thawalib yang didirikannya. Sedangkan Mukhtar Lutfi menulis buku Al-Hikmatul Mukhtar yang berisi tentang Islam dan politik yang sangat anti kolonial dan komunis, sehingga dilarikan ke Mesir Guna menyebarkan ajaran Komunis, Dt.Batuah beserta Natar Zainuddin menerbitkan Surat Kabar Djago-Djago dan Pemandangan Islam. Kedua surat kabar tersebut juga diikuti pers komunis lain yaitu, Islam Begerak, Medan Muslim, Dunia Akhirat dan Petir.

Puncak perjuangan Komunis adalah pemberontakan Silungkang tahun l927 dan beberapa tahun sebelumnya Dt. Batuah dan Natar Zainudin sudah ditangkap Belanda. Setelah peristia penangkapan tokoh-tokoh komunis dan pemerontakkan Silungkang menjadikan Sumatra Thawalib sepi dan fakum. Baru pada tahun 1928 Sumatera Thawalib kembali bangkit dengan mengadakan kongres pertama, yang melahirkan Persatuan Sumatra Thawalib. Kepulangan guru-guru Thawalib dari perantauan setelah menghindar dari konflik dengan Komunisme dan tekanan dari Belanda seperti, Fakih Hasyim dari Surabaya, Ilyas Yakub dan Mukhtar Lutfi dari Mesir, Mansur Daud Datuk Palimo Kayo dari Turki, Sumatera Thawalib berubah menjadi Persatoean Moeslim Indonesia (PMI) dan kemudian menjadi Permi sebagai organisasi politik.


Sesuai dengan karakter politik kawasan ini, Permi lahir sebagai organissasi politik yang keras (radikal) terhadap kolonial dan mampu mengawinkan antara agama dan politik. Dengan azas Islam dan Kebangsaan, Permi menuai kritik dari kalangan Islam sendiri disebabkan mengunakan kebangsaan sebagai azas. Kritik terhadap Permi bukan hanya dari ulama Kaum Tua , tapi juga dari kelompok ulama dan organisasi Islam modernis. Sebahagian besar ulama, tokoh dan organisasi Islam belum bisa menerima faham kebangsaan, justru itu Permi dalam perkembangan dan jalur politiknya lebih bisa mendekatkan diri pada organisasi politik sekuler yang berazaskan kebangasaan, seperti PARTINDO yang dipimpin Sukarno. Dalam waktu singkat Permi menyebar sampai ke Aceh, Tapanuli, Bengkulu dan Sumatera Selatan, serta kepelosok Sumatera Barat dengan 200 cabang pada Nagari.


Menurut Audrey Kahin, Permi partai politik yang berkarakter Minangkabau yang berani mengawinkan agama dan politik dalam platform-nya karena itu dia diterima dan diminati.
Sebagai partai politik, Permi mempunyai lembaga pendidikan, badan usaha dan sarat kabar. Permi menerbitkan enam buah surat kabar dan Medan Rakyat adalah surat kabar yang diterbitkan oleh kantor pusatnya di Padang. Melalui enam surat kabar ini pemikiran-pemikiran tokoh Permi tersebar baik berupa tulisan maupun pidato-pidato pada rapat-rapat umum. Politik garis yang dijalankan Permi, menyebabkan pemerintah Belanda mengambil tindakan keras dan hampir seluruh tokoh Permi ditangkap, dipenjarakan dan bahkan dibuang keluar Sumatera Barat, sehingga Permi tidak berumur Panjang. Sebabagian dari tokoh besar Permi lepas dari penjara disaat Belanda kalah oleh Jepang. Setelah itu sebahagian besar dari tokohnya melanjutkan perjuangan dalam partai-partai nasionalis Islami yang anti Komunis seperti Masyumi dan ada yang bergabung dengan partai nasionalis sekuler yang lebih mendekat dengan Komunis seperti PNI.

Keberlanjutan ideologi dari tokoh adalah pengaruh dari ideologi awal yang mewarnai.
Perubahan Sumatra Thawalib menjadi organisasi politik PERMI yang beraliran keras dan manuver politik memadukan Islam dengan Kebangsaan merupakan usaha keluar dari konflik, sekalipun kembali menimbulkan konflik yang lebih besar. Sebagai organiasi politik yang tumbuh dari lembaga pendidikan Islam, seolah terlepas dari akarnya dan mengangap Islam tidak cukup mampuni menjadi landasan perjuangan. Butuh ideologi "alternatif" yang membackup elan vital Islam itu sendiri, dan mereka melihat itu pada faham komunisme. Wallahu a'lam.

Referensi : Audrey Kahin (1998)

Tidak ada komentar: