Senin, 21 November 2011

Syafruddin Prawiranegara : "Genetik Sunda, Sosiologis-Historis Minangkabau"

Oleh : Muhammad Ilham

Nampaknya ada kesamaan antara SiPongki Na Ngolngolan Sinambela atau biasa dikenal dengan Tuanku Rao dengan Syafruddin Prawiranegara. Bila Tuanku Rao yang merupakan kemenakan Sisingamangaraja dan dianggap sebagai salah satu tokoh utama Perang Paderi di wilayah Pasaman dan "front utara" tersebut secara genetik berasal dari Batak tapi secara sosiologis dimaknai sebagai bagian penting dalam perjuangan sejarah Islam Minangkabau, maka demikian juga halnya dengan Syafruddin Prawiranegara. Syafruddin yang "terlambat" diberi gelar pahlawan ini (karena dianggap "pemberontak"), lahir dari rahim budaya Banten (dulu : Jawa Barat/Sunda), namun beliau ini justru dianggap sebagai "insan" Minangkabau. Membincangkan tradisi politik Minangkabau pasca kemerdekaan, sosok ayah Farid Prawiranegara ini tidak bisa dilepaskan. Seumpama Tuanku Rao yang teramat sulit orang memberi batas apakah ia orang Minangkabau atawa Batak, maka demikian juga halnya dengan Syafruddin Prawiranegara. Beliau memiliki kedekatan emosional dan historis dengan masyarakat Sumatera Barat. Buktinya, ketika Syafruddin Prawiranegara diangkat sebagai Pahlawan Nasional, justru orang Sumatera Barat jauh lebih antusias dibandingkan masyarakat Banten. Menurut laporan Detik.com+, masyarakat Banten banyak yang terheran-heran Sjafruddin Prawiranegara diangkat sebagai pahlawan nasional atas usul Pemerintah Banten. Banyak warga Banten beranggapan Sjafruddin merupakan orang Minangkabau, Sumatera. Sesungguhnya pria yang akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 8 November 2011 ini kelahiran Banten. Sjafruddin lahir di Anyer Kidul, Serang, Banten pada 28 Februari 1911. Ayah Sjafruddin Raden Arsjad Prawiraatmadja, keturunan Sultan Banten. Sang ibu, Nur Aini binti Mas Abidin Mangundiwirya, anak pejabat pangreh praja Banten. Meski demikian, anggapan Sjafruddin merupakan orang Minang tidak terlalu salah. Kakek buyut pria yang biasa dipanggil Kuding itu, Sutan Alamintan yang berasal dari lingkungan Kerajaan Pagaruyung Minang. Sutan Alamintan mengorganisasi rakyat melawan Belanda dalam Perang Paderi. Perang Paderi ini terkenal dengan pemimpinnya Tuanku Imam Bonjol. Setelah ditangkap Belanda Sutan Alamintan dibuang ke Banten.

Dari keluarganya, darah Syafruddin memang darah pejuang. Tidak cuma sang kakek yang melawan Belanda. Saat Syafruddin berumur 12 tahun, sang ayah yang merupakan seorang jaksa juga dibuang ke Kediri, Jawa Timur, karena dianggap memihak pribumi. Raden Arsjad sebagai pejabat pemerintah Belanda menolak duduk bersila di lantai saat memberi laporan kepada pejabat Belanda. Duduk bersila dan memakai bahasa Sunda halus saat itu sudah menjadi aturan baku bagi pejabat pribumi bila berhadapan dengan penguasa Belanda. Namun Arsjad menentang aturan tersebut. Saat sang ayah dibuang ke Kediri, Syafruddin pun mengikutinya. Dengan begitu, masa hidup presiden kedua RI yang memimpin 207 hari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini tidak banyak dilewatkan di Banten. Tidak mengherankan bila kita akan kesulitan untuk menemukan jejak Sjafruddin di kota Jawara tersebut. Ia tidak dikenal di Banten karena Syafruddin menimba ilmu (keIslaman) bukan di daerah ini, tapi di Sumatera Barat. Tidak mengherankan bila pemberian gelar pahlawan nasional kepada Syafruddin pun mengejutkan masyarakat Banten. Mayoritas masyarakat Banten baru mengetahui bila pria yang memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini merupakan orang Banten.

Selain itu, ketidaktahuan masyarakat juga diakibatkan lamanya sosok Syafruddin dilupakan dalam sejarah kemerdekaan RI. Kehidupannya semakin dikucilkan dari ruang publik ketika dijebloskan penjara dengan cap pemberontak karena terlibat Pemerintah Revolusioner RI (PRRI) oleh Presiden Soekarno. Bahkan, ketika Presiden Soeharto pun sosok yang satu ini pun dianggap musuh, karena sering mengkritisi kebijakan Orde Baru. Pada Juli 1980, Sjafruddin bersama AM Fatwa, dan Bung Tomo, dilarang memberikan khutbah Idul Fitri dengan alasan kutbah mereka bisa memancin emosi masyarakat. Khutbah Syafruddin berjudul 'Kembali Pada Pancasila dan UUD 1945' isinya 80 persen soal politik. Tapi sekali lagi, biasa saja orang lahir di sebuah daerah, namun dianggap menjadi milik daerah lain. Che Guevarra yang merupakan orang Argentina, justru diagungkan kaum sosialis Bolivia. Demikian dengan Tan Malaka yang dihormati pejuang Filiphina, hingga sekarang. Beberapa ulama penyebar Islam di Sulawesi "hanya" menumpang lahir dan DNA dari ranah Minangkabau, karena orang Bugis menganggap mereka bagian dari icon Bugis itu sendiri. Tanyalah pada orang Malaysia, siapa Syekh Taher Djalaluddin. Mereka pasti secara serempak akan menjawab, "Syekh Taher adalah orang mulia Melayu Malaysia". Padahal, Syekh yang bergelar al-Falaki (karena dianggap ahli ilmu Falak tersebut) merupakan "produk asli" Minangkabau. Tapi bila ditanya pula orang Minangkabau, siapakah DN. Aidit ? Secara serempak pasti mengatakan : "gembong PKI". Dan banyak diantara orang Minangkabau akan merasa "risih" ataupun bengong, rupanya DNA DN. Aidit ini berasal dari "air danau Maninjau" - ayahnya, Haji Aidit adalah ulama dari daerah di pinggiran Danau Maninjau, dan ketika memberi nama anaknya dengan Dja'far Nawawi (DN) Aidit ketika si anak lahir di Bangka Belitung. Belakangan, Dja'far Nawawi ini diganti oleh Aidit menjadi Dipa Nusantara. "Kurang terkesan proletar", ujarnya suatu ketika kala ditanya mengapa ia mengganti nama yang "Islami" tersebut. Wallahu a'lam.

Referensi : detik.com+/7-11-2011.
Foto : masyumicentre.com

Tidak ada komentar: