Selasa, 14 Agustus 2012

Aidit dan Idealisme Politik

Oleh : Muhammad Ilham 

DN. AIDIT
DN Aidit @ Dja'far Nawawi Aidit @ Dipa Nusantara Aidit (dan ada juga yang memanggilnya dengan Dani Nusantara) ini adalah putra Haji Aidit keturunan Maninjau Minangkabau. Namanya masuk dalam kategori “haram-jadah” diperkatakan dalam sejarah bangsa ini. Tapi biarlah, terpulang pada yang membaca dan memahaminya. Bak kata revolusioner legendaries Cuba – Ernesto Che Guevarra – revolusi biasanya diletuskan oleh orang gila dan dipimpin oleh orang yang berani, kemudian dinikmati kaum oportunis. Aidit nampaknya hanya merasakan “dua hal” – ia gila dan ia berani. Terlepas setuju – tak setuju dengan ideologi yang dikumandangkannya, tapi seperti yang diakui Prof. Taufik Abdullah, ia termasuk kategori politisi dan pemimpin yang memiliki visi dan strategi serta pembangun institusi yang tangguh. Sebuah hal yang membedakan Aidit bersama-sama dengan “kawan-kawan sezamannya” dengan politisi masa kini. Ia tidak hanya diletakkan dalam footnote (catatan kaki) sejarah, tapi “kehadirannya” dalam memberikan warna pada arah sejarah  bangsa ini – terlepas suka tidak sukanya kita sebagai anak bangsa – tidak diperbincangkan orang. Ia ibarat Tambiluak bagi Peristiwa Situjuah, ataupun Aru Pallaka bagi sejarah heroik kepahlawanan Bugis, atau bias diumpamakan Brutus. Tapi orang tidak tahu, DN Aidit adalah politisi yang sangat anti korupsi, keras dan disiplin. Ada kata-katanya yang kemudian menjadi diktum anggota PKI, "Masuk PKI itu harus siap hidup susah, siap tak punya apa-apa, bahkan mengorbankan segalanya”. Tak salah bila ia lebih suka hidup susah membesarkan partai dibandingkan dengan tawaran ayahnya untuk pulang ke Bangka Belitung, menjalankan usaha ayahnya yang dikenal sebagai tuan tanah dengan luas tanah sejauh mata memandang.

Aidit sangat membenci korupsi, ia menciptakan banyak jargon-jargon politik untuk melawan korupsi termasuk “Hancurkan 3 setan kota, dan 7 setan desa”. Koruptor yang berbisnis wewenang dan menjual kekuasaannya untuk para cukong ia sebut sebagai “Kapitalis Birokrat”. Aidit juga sangat disiplin dalam soal kehidupan pribadi. Ia anti POLIGAMI, kader Partai tidak boleh senang-senang. Untuk poligami sendiri Aidit sangat keras dan ini kemudian menciptakan polemik diam-diam dengan Njoto yang saat itu ada kisah affair dengan perempuan Russia, padahal Njoto sudah punya isteri dan banyak anak. DN Aidit marah besar dengan Njoto. Aidit juga menyerang kesukaan Bung Karno soal perempuan dan banyak Jenderal yang juga suka main perempuan. Ia selalu mengejek Ahmad Yani yang sudah meniru-niru Bung Karno soal perempuan. DN Aidit terus menerus bekerja untuk rakyatnya, ia gebrak konflik di politik Agraria, satu orang petani, satu hektar tanah. Ia buat perahu-perahu yang banyak untuk nelayan. PKI-lah satu-satunya partai yang berani mengepung pangkalan-pangkalan minyak asing dengan gerakan rakyat sampai mereka ketakutan, Bung Karno sampe dibikin pusing dengan gerakan pemuda rakyat ini. Melihat tingkah laku politisi kita di akhir-akhir ini, berbeda sekali dengan Aidit, Hatta, Agus Salim dan Natsir dari Masjumi mereka benar-benar berjuang untuk idealisme-nya bukan untuk duit para cukong. Kiranya pendidikan politik harus kembali diajarkan di SMA dan kampus-kampus Universitas.

SILAHKAN TAK SUKA AIDIT. SEMUA ANAK BANGSA INI MEMILIKI HAK.

Tapi yakinlah, dari AIDIT kita bisa belajar bahwa politisi dulu berani mati digantung soal idealisme – bukan gantung di Monas .. hehe -  apapun idealisme mereka, tapi sekarang idealisme itu sudah mati digantikan dengan politik uang. Kita nampaknya sudah apatis dan pesimis dengan Partai Politik belakangan ini. Seakan-akan Partai Politik adalah sumbu korupsi. Tapi, sejarah masa AIDIT memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa pada suatu fase dalam sejarah politik Indonesia, ada idealisme, dan itu tumbuh di dalam tubuh Partai. Tapi sekarang, idealism tersebut dikonversi menjadi politik uang.

Referensi & Sumber Foto : Anton DHN

Tidak ada komentar: