Minggu, 06 Maret 2011

Kolonel Moammar Qadhafi : Revolusioner yang digoyang Revolusi

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Berawal dari Benghazi, 42 tahun silam. Kapten Muammar Qadhafi memimpin sejumlah tentara muda melakukan kudeta. Saat itu, Raja Idris I sedang berobat di Turki, sehingga perebutan kekuasaan berlangsung tanpa pertumpahan darah. Ketika itu, Qadhafi muda mendapat dukungan rakyat. "Kami pikir, revolusi Qadhafi demi kebebasan dan hak asasi manusia," kata Fathi Baja, warga Benghazi yang mendukung langkah Qadhafi saat itu. Ironisnya, 42 tahun kemudian, ia kembali ikut revolusi, tapi kali ini untuk "memecat" Qadhafi. "Setelah empat dekade, yang ada hanya kekacauan," ujarnya. "Yang ada kediktatoran yang brutal." Dipimpin Qadhafi, yang lahir dari keluarga Badui pada 1942, Libya menjadi begitu terkenal. Dia menyediakan surga bagi para penentang Barat. Di bawah kepemimpinannya, tak ada presiden ataupun perdana menteri. Dia juga tak mengangkat diri menjadi jenderal, tapi hanya kolonel. Qadhafi cuma menyebut diri sebagai pemimpin dan pengarah.

Pada 1970-an, ia mengeluarkan "Buku Hijau" yang menggabungkan sosialisme, kapitalisme, dan Islam untuk mengatur negerinya. Buku ini seolah menjadi konstitusi yang tak pernah ada selama kepemimpinannya. Dia juga mendeklarasikan sistem "jumhuriyah": kekuasaan ada di tangan rakyat. Implementasinya, kekuasaan berada di tangannya sendiri. Dengan cepat Qadhafi terlena. Dia tidak mau ada ancaman terhadap kepemimpinannya. Sebanyak 10-20 persen rakyat Libya dijadikan mata-mata di berbagai sektor kehidupan. Kebebasan yang diimpikan Fathi Baja dan teman-temannya lebih dari empat dekade silam tak pernah terwujud. Berbicara dengan orang asing pun bisa diganjar penjara selama tiga tahun. Tak ada kebebasan pers. Penghilangan orang pun kerap terjadi. Hubungan Libya dengan masyarakat internasional pun tak mulus. Pada 1980-an, Qadhafi menyediakan kamp latihan bagi kelompok-kelompok pemberontak di Afrika Barat. Sang pemimpin revolusi juga menggelontorkan dana bagi berbagai kelompok perjuangan di beberapa negara, seperti Angkatan Bersenjata Republik Irlandia, Brigade Merah Italia, dan Organisasi Pembebasan Palestina. Libya dituding mensponsori serangan terhadap Barat, termasuk pengeboman di Jerman dan pembajakan pesawat Pan Am 103 yang jatuh di Lockerbie, Skotlandia. Semua itu membuat Libya terisolasi. Beragam sanksi dari masyarakat internasional membuat negeri itu terpuruk. Belakangan Qadhafi melunak. Libya memberikan kompensasi besar kepada keluarga korban Lockerbie. Qadhafi berjanji tak akan mengembangkan senjata pemusnah massal. Amerika dan negara Barat lain kembali bermanis muka. Tapi kali ini ancaman datang dari rakyatnya sendiri. Kesabaran rakyat Libya sudah habis atas sikap otoriter Qadhafi. Kini giliran sang revolusioner yang digoyang revolusi.







Bersama Perdana Menteri Italia nan flamboyang, pemilik AC Milan - Silvio Berlusconi

Dengan Sharkozy - Presiden Perancis

Qadhafi dengan Vladimir Putin - si penguasa Kremlin

Sumber teks : Pd. Prabandari/BBC-AP. Foto : al-jazeera.com

Tidak ada komentar: