Kamis, 25 Maret 2010

(Masih Tentang Gus DUR) : "Gus Dur, Islam Moderat dan Pencipta Wacana

Oleh : Muhammad Ilham

Kiai tak sekadar sebagai 'pialang budaya' seperti diungkapkan Clifford Geertz, tapi memerankan peran penting sebagai 'penghasil budaya' bagi masyarakat (Clifford Geertz)

Saya bukan pengagum Gus Dur secara totaliti. Namun terkadang, hingga hari ini, saya masih sulit memahami sosok Gus Dur yang unik, pintar, tak bisa memahami arah pikirannya bahkan terkadang juga "menjengkelkan" (terutama bagi orang yang tidak memahaminya, dan terkadang itu termasuk saya). Karena hal inilah, saya sering berusaha membaca dan ingin memahami keunikan Gus Dur, figur dan talenta kontroversi, Kiai yang multi-talent. Walau Gus Dur telah ”pergi”, sebagaimana halnya Bung Karno maupun Nurcholis Madjid, pemikiran putra Jombang ini terus hidup, dibedah-kupas, dikritisi dan seterusnya. Dalam ranah dinamika pemikiran intelektual Islam Indonesia, Gus Dur bagaimanapun jua adalah ikon Islam moderat Indonesia. Islam moderat boleh diklaim siapa saja. Tapi, tidak ada yang bisa menghindar dari nama putra KH. Wahid Hasyim ini. Itu karena diakui secara mendunia. Gus Dur adalah 'wakil' muslim moderat yang sering dirujuk dan dihargai. Pada masa hidupnya, latar belakang sebagai santri par excellence berhasil meramu kemodernan dan keindonesiaan dalam wacana dan praksis keislaman merupakan prestasi yang sulit dicapai. Gus Dur bukan model sarjana seperti almarhum Cak Nur. Jika Cak Nur membangun wacana Islam moderat dari cara kerja keilmuan yang ketat dengan meneliti objektivitas Islam, Gus Dur kerap kali langsung melontarkan ide tanpa bersusah payah melacak dari mana ujung pangkalnya. Sehingga sering orang melabelkan Gus Dur sebagai Kiai jago silat dengan jurus yang sulit dibaca lawan.

Bila kita melihat “langgam” pemikiran dan sosok Gus Dur, maka Gus Dur adalah pencipta wacana.
Ia diuntungkan karena ia mewakili basis massa Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Sebelum resmi terjun dalam dunia politik praktis, baik selama menjadi presiden ataupun setelahnya, kedudukannya sebagai NU 1 membuatnya tak terlalu terbebani dengan wacana-wacana sekuler, seperti pluralisme, demokrasi, hak asasi manusia, dan masyarakat sipil. Tidak seperti Cak Nur, Gus Dur tak selalu memerlukan legitimasi ayat-ayat Alquran, filsafat dan yurisprudensi ulama klasik untuk mendukung gagasan-gagasannya. Tetapi, Gus Dur dianggap lebih 'islami' apa pun gagasan yang ia lontarkan, lantaran ia memiliki kekuatan simbolis sebagai wakil santri nomor wahid yang berdarah biru dari Hadratussyekh Hasyim Asy'ari. Ijtihad Gus Dur adalah subjektivitas dirinya. Ibaratnya, Gus Dur adalah wacana itu sendiri. Justru orang lain yang perlu melihat, meneliti, dan menganalisis Gus Dur sebagai objek. Meskipun begitu penting dicatat bahwa hasil pemikiran dan tindakan Gus Dur tidak jatuh dari kehampaan sejarah. Formula-formula Gus Dur terbangun dari timbunan ide-ide besar yang ia gali dari keranjingan belajar autodidak, keterlibatan aktif, dan kemampuan komunikasi interpersonal yang menarik selama hidupnya. Ditambah lagi, modal sosial Gus Dur sangat besar sehingga memungkinkannya luwes bergerak untuk setia dengan segala idealisme yang sulit dipahami orang.

Salah satu warisan berharga dari Gus Dur ialah 'jualan' Islam dalam lanskap pemikiran yang moderat. Titik berangkat Gus Dur bermula dari isu-isu pembangunan pesantren sebagai bagian dari subkultur masyarakat. Ketika pertama kali Gus Dur memasarkan pesantren di dunia internasional, ada yang lebih berharga ketimbang mengakui pesantren sebagai salah satu lembaga independen umat muslim yang asli tradisi Nusantara. Hal berharga itu ialah cara berpikir dari kelokalan sebagai sebuah sumber pembacaan, bukan sebaliknya. Bagi Gus Dur, pesantren ialah wahana tempat olah kreasi tradisi dengan kiai-kiai sebagai pimpinannya. Gus Dur memandang pemribumian (vernacularization) ialah keperluan agar tradisi tidak tercerabut. Inilah yang sering disinggung oleh Greg Barton.
Ketika ilmu-ilmu sosial dari Barat diimpor besar-besaran, Gus Dur malahan perlu sekali untuk melihat pesantren sebagai laboratorium hidup bagi masyarakat. Di hadapan tradisi besar keilmuan dunia, Gus Dur tidak inferior. Dia sangat percaya diri bahwa dari konteks kelokalan bisa muncul kreativitas. Tak berhenti di situ. Kaidah ulama klasik yang hidup di pesantren, al-muhafazhatu 'alal-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah, 'memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik,' sesungguhnya dipegang Gus Dur. Itu kenapa, ia tak gamang ketika harus berbicara tentang demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia. Baginya, itu bukan saja hal yang haram bagi umat Islam, bahkan menjadi sesuatu yang wajib justru untuk menopang nilai-nilai Islam yang kosmopolitan, berkeadilan, dan beradab. Dalam bahasa kaidah Islam klasik berbunyi, ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa al-wajib, 'sesuatu yang mendesak dibutuhkan maka bersifat wajib dilakukan.'

Dalam cakrawala keislaman seperti itu, Gus Dur telah membangun model 'Islam moderat' yang dibutuhkan. Dalam istilahnya, hal itu adalah bagian dari teorema 'Islam kita' sebagai sebuah peleburan fusi dari keislaman, kemajemukan, dan tradisi keindonesiaan. Membaca Gus Dur, dengan demikian, adalah jendela untuk melihat Islam moderat yang tidak buta dengan tradisi yang hidup, menjalin kerja sama antaragama dan multikultural, serta tidak gamang dengan perubahan tingkat global. Persis moderatisme inilah yang dikembangkan Gus Dur sebagai soft power yang perlu dijadikan sebagai kebutuhan primer dalam masyarakat demokratis saat ini. Kekuatan soft power, terletak pada daya tarik dan bujukan dari nilai-nilai sosial budaya suatu masyarakat. Gus Dur berhasil membangun citra Islam moderat sebagai salah satu soft power dari budaya masyarakat Indonesia dalam lingkungan mondial.

Khomeini, Mut'ah, Syiah dan Sunni (Ringkasan dari Diskusi di Facebook )

Oleh : Muhammd Ilham

Artikel, tepatnya tulisan yang tidak terstruktur ini merupakan dialog/diskusi di Facebook saya yang rasanya "sayang" untuk tidak dipost di Blog ini. Ada pertentangan, pergulatan ideologi, pride dan berbagai istilah lainnya. Diskusi di FB saya ini sedikit banyaknya memberikan pencerahan (khususnya) bagi saya. Dalam konteks inilah, alangkah dan eloknya, saya susun kembali pointers diskusi yang berangkat dari topik "panas" pula. Dari 64 komentar, saya ringkas-kan menjadi 22 komentar. Semoga bermanfaat adanya !.

Muhammad Ilham : Membaca Khomeini dan pemikirannya, rasanya seperti membaca ensiklopedis dimana dalam pemikirannya tergabung stois Platonis, filosof Aristotelian, mistisisme-sufistik, dengan mudah membahas pemikiran tokoh Sufi Busthami. Dan yang terbagus adalah, ia bukan ideologi yang asyik-masyuk serta bersibukkan diri menerjemahkan teori para akademikus Barat. Ia "mandiri" dan tidak bangga menggemborkan trias-politika, namun ia mempersembahkan sebuah sistem negara yang hingga kini menjadi David di hadapan Goliath dunia, dan pemikir yang tidak hanya melahirkan karya tulis tapi membiakkan ribuan karya hidup mulai dari politikus sekaliber Ayatullah Al Uzma Beheshti, intelektual kawakan sespektakuler Murtadha Muthahhari, bahkan sampai sampai fisikawan sepandai Mostafa Chamran yang entah kenapa hingga hari ini tidak mendapatkan NOBEL Fisika itu, dan kader militan sesederhana Mahmoud Ahmadinejad. Ia mengenyampingkan anak-nya yang pintar Ahmad Khomeini yang zuhud-smart, untuk membentuk sebuah sistem yang bersih tanpa kronisme, sebuah biang atau penyebab hancurnya Ustman bin Affan serta Dinasti-DinastiIslam yang despotik. Dalam konteks ini, rasanya kita bisa bangga dengan Khomeini karena ia Islam. ada usia yang masih cukup muda, Khomeini telah mengembangkan suatu visi tentang Islam yang berbeda, yang meliputi dimensi spiritual, intelektual, sosial dan politiknya, yang telah dipegangnya dengan teguh selama lebih dari setengah abad. Sesungguhnya salah satu ciri sifatnya yang paling nyata adalah tingkat konsistensinya yang tinggi dan tak akan banyak dimiliki orang. Ia tidak mau "menunggangi" nama besar dan ajaran Islam untuk kepentingan Pribadinya. Sesuatu yang tidak kita jumpai di "ranah" politik Islam Indonesia yang katanya Muslim Terbesar Dunia dan Memiliki Etika dan Sopan Santun Politik ... Membaca buku "WASIAT SUFI" karangan Ayatullah Khomeini, seumpama membaca "HAYATUN MUHAMMAD"-nya Hussein Haikal. Kebetulan saya sudah beberapa kali mengulang membacanya. Dari buku ini akan terlihat "kesalahan paradigma Barat memandang sosok tua-berjenggot" putih ini. Bagi banyak orang Barat, adalah nama yang lekat dengan fundamentalisme, ekstrimisme dan otoritarianisme. Kenyataannya, berbeda dari yang sering dipahami banyak orang. Imam Khomeini, seperti diuraikan dalam buku tersebut justru sarat dengan unsur-unsur human interest, seperti keterbukaan, kasih sayang, kepedulian dan bahkan modernitas. Semuanya mengisyaratkan satu hal bahwa, jauh sebelum dikenal sebagai mulla-faqih dan pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khomeini, tak diragukan lagi, adalah seorang sufi. Tasawuf Imam Khomeini, tidaklah berpandangan untuk menolak dunia ini, tetapi menjadi basis bagi kegiatan-kegiatan keduniaan. Membaca Buku Ini rasanya seperti membaca Buku-Buku Hamka, membawa kita memahami Sufi yang "tidak lari" dari dunia riil.

Emmeraldi Chatra : lham, Khomeini tidak nikah mut'ah ? Ini debatable. Beberapa tahun lalu, ketika saya lagi getol-getolnya mempelajari seluk beluk nikah mut'ah saya membaca sebuah buku, kalau tidak salah judulnya ”Mengapa Saya Keluar dari Syiah”, yang menceritakan keterlibatan Khomeini dalam praktik mut'ah. Tapi tidak seperti penulisnya yang menceritakan dengan nada benci, justru, saya menerimanya dengan senang hati, karena saya terlanjur jatuh cinta kepada nikah mut'ah itu hehehe. Karena Rafsanjani menganjurkan remaja-remaja Iran melakukan nikah mut'ah dalam pidato politiknya, saya kira tidak ada petinggi Immamiyah yang tidak memprakktekan nikah mut'ah.

Andri Aziz : Bang Emeraldy, saya setuju dengan abang, saya juga baca beberapa buku yang menerlibatkan Khomeini dalam nikah mut'ahnya source paling dicari sekaligus paling disembunyikan adalah buku "lillah tsumma littarekh" - Demi Allah dan Demi Sejarah, karangan Sayid Husein Almuswiy. Bahkan di buku ini dijelaskan tentang perbedaan pandangan khomeini tentang usia yang dibolehkan bagi seorang wanita dimut'ah yaitu umur 2 tahun, berbeda dengan pendapat kebanyakan ulama syiah yaitunya usia 10 tahun. Kakanda Ilham, AN setuju dengan poin-poin mantapnya Syiah di dalam mengedepankan diri Islam ke mata dunia (karena memang syiah menampakkan diri) tapi ada suatu hal yang harus benar-benar kita kaji sebagai seorang Muslim terlepas sunni atau tidak, mengapa di dalam filem yang berjudul OSAMA Islam diidentikkan dengan agama mandi wajib dan agama poligami ? mengapa Islam diidentikan dengan agama teroris atau paling tidaknya sebagai agama pencari masalah ? AN akan jawab dengan dua hal utama saja. Pertana karena masih adanya praktek nikah mut'ah di dalam Islam (Syiah) kedua, karena Iran sering cari masalah dengan Barat (Ahmadinedjad), toh tidak semua negara Islam sanggup dengan persenjataan, kok yang nantang Iran yang dibunuh malah Iraq. Ini juga harus kita pertanyakan, ngak-ngaku ada senjata nuklir Iran yang digempur Iraq.

Muhammad Ilham : Pak EM dan AN, Saya juga punya buku Sunni yang menjelekkan Mut'ah dan Mahdi-nya Syiah, sebagaimana saya juga mempunyai segelintir buku Syiah yang menggugat pemahaman Sunni. Konteksnya kita adalah bagaimana berada dalam sebuah Conclusi : "Bukan Saling Menjelekkan". Bagaimana kita tidak masuk bahagian itu. SEDERHANA. Tentang Mut'ahnya dan anjuran Rafsanjani, samalah halnya kita membaca buku seperti "Bobroknya Sistem Perkawinan Eropa yang ditulis oleh Orang Indonesia yang sangat Menghargai nilai istitusi Keluarga". Bacalah hakikat dan konteks pemahaman Nikah Mut'ah itu, saya rasa tak se-ekstrem yang kita bayangkan yang berbau Fun dan Sensualitas. Serendah itukah ? Begitu banyak persoalan-persoalan besar IRAN-SYIAH, lalu mengapa harus direduksi dengan Mut'ahnya. Sama-lah halnya dengan Jumlah SELIR Dinasti-Dinasti Islam Zaman dulu yang ribuan. Dalam konteks apa kita memahami itu. Ali Shariati yang sangat cinta berat terhadap Syiah, tak sedikitpun menyinggung Mut'ah. (jadi panjang !!!) Mengenai yang kedua, Iran tidak sering cari masalah. Beda dengan Arab saudi yang "mewakafkan" sedikit wilayahnya untuk AS membombardir saudara sesama muslimnya di Irak. Iran bagi saya adalah segelintir negara di Teluk yang jauh memiliki Harga Diri. Coba tunjukkan pada "dunia" negara-negara mana di Timur Tengah memperjuangkan Palestina, SO hanya IRAN. Arab Saudi .... Nehi, bahkan diam. Kuwait, UEA dan seterusnya negara-negara teluk kaya minyak, justru para pangerannya lebih sibuk beli Kasino dan Klub Sepak Bola. Sementara Palestina justru dibackup Iran dan Islam Asia Tenggara. Mesir, setelah Perang Arab, mereka dapat Gurun Sinai yang awalnya untuk dihibahkan pada Palestina, nyatanya untuk mereka sendiri. Demikian juga Dataran Tinggi Golan dan Lembah Beka. Jadi, sekali lagi, Iran tidak diidentikkan dengan terorisme. Tidak ada satu-pun orang Iran yang tercatat jadi TERORIS. Padahal, nilai teologis-fanatisme mereka jauh lebih besar (dasar-dasar Asyura) dibandingkan Sunni. Tapi mengapa Sunni yang banyak mencederai Islam dengan aksi Terorisme. Potensi fanatisme Syiah justru terlihat dari kualitas intelektual mereka. Sejarah mencatat, selain Ibnu Syina dan Al-Kindi bahkan hingga hari ini, hampir tak ada intelektual yang berbasiskan Sunni-Timur Tengah. Iran Persia-Syiah .... banyak

Andri Aziz : AN melihat semua ini karena kita membahasakan agama bang. Jika kita membahasa dunia dan tidak pada agama AN akan setuju saja. Toh dunia kan luar sedangkan agama dalamnya. Jika sama saja kita melihat sebuah perjuangan dengan pandangan dunia tentu tak ada bedanya antara kita dan agama lain. Jika saja nilai objektifitas itu adalah bagaimana dunia memandang sebuah keadaan tidak adalah arti para penganut isme-isme selama ini ? karena toh mereka walaupun mungkin betul tetap dijadikan kelompok yang salah hanya karena berada pada apa yang mereka perjuangkan, bagi AN jangan kita melihat sebuah keadaan Islam contohnya jika agama dijadikan alasan untuk diterima oleh semua dunia. AN tidak yakin itu. Coba kita tanyakan pada diri kita apa yang telah dilakukan Syiah misalkan, nikah mut'ah akan terasa benarnya atau apalah semua atribut kesyia'han jika mereka menjadi satu agama lain.. Agama Syiah misalnya (kalau AN boleh ngusul) sama halnya ketika seandainya Kristen dengan akidahnya adalah bagian Islam tentu kita tidak akan mau terima, namun kita akan menerimanya ketika dia berada di luar kita sehingga yang terjadi adalah saling menghargai antar umat beragama. Naamun beda dengan di dalam. Jika intern yang akan kita bahas tentu adalah masalah keistiqomahan kerja kita sebagai anggota kelompok. Apakah yang dilakukan syiah adalah termasuk inovasi agama ? entah iya ataupun tidak, jawabanya tetap saja menjadikan hal ini tidak memiliki minat sama sekali. Maka kalau memang ingin menjadikan syiah sebagai acuan dulu jangan adakan di dalam tubuh agama atau jika kita bicara dengan kaliber politik atau kelompok social. Buatlah satu lagi kelompok jangan buat makan di dalam satu kelompok. Tentu kita tahu bagaimana sejarah memperlakukan para penghianat ?(ini mungkin terlalu ekstrem) tapi ya begitu. Kita tak bisa lepaskan syiah dari mut'ah, hums, takiyah walaupun dilakukan dengan cara paling bermartabatpun, karena AN (apalagi saudari, anak, atau ibu AN) tidak akan mau di mut'ah hanya karena alasan agama.

Muhammad Ilham : Ada teori dalam Sosiologi : "Struktural Fungsioanl" - Suatu fenomena/peristiwa akan tersrtruktur dengan baik karena fungsional bagi masyarakatnya, bila disfungsi, maka ia akan hilang dengan sendirinya". Poligami dahulu fungsional, tapi sekarang sudah sampai pada taraf dis-fungsi. Bisa saja, Mut'ah adalah sesautu yang ada dalam tataran normatif pemahaman mereka, tapi dalam praktek relasi sosialnya, hampir dis-fungsi. Dan kecenderungan itu sudah terlihat. Bacalah buku-buku intelektual muda Syi'ah yang tidak memberikan apresiasi pada mut'ah, termasuk Ali Shariati. Sama halnya dengan Poligami yang dalam ajaran Islam (Sunni) diberi ruang, tapi toh belakangan ini, dalam relasi sosial, justru tak mendapat justifikasi sosial yang memuaskan

Andri Aziz : AN setuju, tataran normatif pemahaman mereka dan ajaran sunni. Sebenarnya sudah menjelaskan bahwa dua hal ini syiah dan sunni adalah berbeda bang, AN tidak nyolot banget jika dari dulu pertanyaan mengapa sunni dan syiah tetap disatukan padahal nabinya saja sudah berbeda ? bukankah hal ini rada-rada mirip dengan kristen dan Islam? Nabi yang menjadi Tuhan (Kristen) sahabat-manusia biasayang menjadi nabi (syiah). AN rasa kita sudahi saja kakanda ilham yang budiman dan cendekia tentunya :)..karena AN tidak terlalu suka menjelaskan akidah (sebagai patokan dasar keberagamaan manusia-tauhidnya Islam, trinitasnya Kristen, Trimurtinya Hindu dan lain-lain, dengan penghubungan yang dilogikan pada kehidupan duniawi. Sebanding dengan kesenangan AN diskusi tentang masalah filsafat, menembus secara vertikal menuju ketuhanan lebih masuk akal, daripada membahas sebuah society yang berasal dari ketidak jelasan yang tiba-tiba mendapat dukungan untuk diperjelas namun mempunyai cita-cita yang tidak masuk akal, karena AN tidak bisa memisahkan ketika membahas masalah syiah dengan apa yang mereka anggap sebagai akidah mereka namun tetap memakai kitab suci yang sama, mencela kerasulan Muhammad Saw. namun tetap menggunakan Al-Quran yang dibawa Muhammad SAW. sebagai pusat risetnya dan katanya sambil menunggu kitab suci yang benar-benar milik mereka (implikasi cita-cita pencampakan al-Quran) dan satu lagi menunggu Mahdinya mereka (bukan mahdinya Islam) yang membawa risalah penghancuran Ka'bah dan memindahkan kiblat ke Karbala. Ironi kelompok yang menamakan diri dengan nama yang sama, namun seperti menusuk ubun-ubun dan parahnya poin-poinnya ternyata mirip dengan isi protokoler Yahudi yang Zionis, dan ini bisa dimaklumi karena pendiri syiah (Abdullah bin Saba) adalah seorang Yahudi yang "bisa dikatakan" zionis..:) Wallahu 'alam dna mudah-mudahan AN salah :) hehe...niru bang Ilham.

Muhammad Ilham : Yup Andri. Sungguh menarik berdiskusi dengan andri. Dalam usia yang muda, andri memiliki pemahaman yang bagus berbasiskan bacaan. Kemampuan empati sungguh bagus. Menarik diskusinya (abang mungkin juga harus banyak bertanya dan belajar pada Andri). SEDIKIT sebagai Penutup untuk Topik ini : Sejak mahasiswa, abang membaca buku-buku karangan Ali Shariati, Khomeini, Thabatthaba'i, Nateq Nauri, Baqr al Sadr, Mutahhari sebagaimana abang juga suka membaca buku-buku Hassan al-Banna, Sayyid Qutb dan Muhammad Iqbal. Tapi abang tak pernah sekalipun menemukan ungkapan "miring" pada Nabi Muhammad, bahkan kekaguman mereka pada Nabi ini luar biasa. Kalau pencitraan ALI cukup tinggi dibandingkan misalnya Abu Bakar, Utsman dan Umar (mungkin kita terus belajar!)

Andri Azis : Iya bang...perbanyak maaf saja bang, mungkin basis bacaanya yang beda bang :) Mesir mungkin bisa dikatakan kaya khazanah sunni sekaligus syiah..hm abang tentu tau sejarah Al-Azhar, yang pada awalnya adalah jamiah berbasiskan syiah yang kemudian diubah menjadi basis sunni terkuat, dan di seberang mesjid Azhar yang sunni berdiri mesjid Husein (dengan kuburan kepala husein;katanya) di dalamnya yang tidak kalah megahnya bang, Insya Allah jika kita sama diberi rezeki nanti abang akan lihat atau jangan jangan abang sudah melihatnya.

Emmeraldi Chatra : Dari posting Sdr Andri Aziz saya membuat simpulan diskusi ini bisa mengarah pada debat firqah yang sejatinya sudah berumur ratusan tahun.Andri sangat mewarisi kebencian terhadap Syiah dan menganggap Syiah itu sudah diluar Islam, sebaliknya yang Islam adalah apa yang ia yakini. Sangat disayangkan, karena menutup kemungkinan akan munculnya pikiran yang akomodatif terhadap keragaman dalam menakwil. Sungguh saya tidak mengerti mengapa semangat permusuhan Sunni-Syiah masih juga dipelihara ketika kita menyadari bahwa pertikaian klasik itu sebenarnya mempunyai motif politik yang sangat kental, bukan agama. Mustinya jangan lupa bahwa ketika Sunni menganggap Syiah bukan Islam, Syiah juga melakukan tindakan yang sama. Semangat permusuhan ini tidak ada untungnya,jika kita mau menyadari, kecuali memberi peluang kepada pihak luar untuk terus mengadu domba antar sesama muslim.

Muhammad Ilham : Pak Em, bukan kebencian. Tapi mengkritisi. Dan masukan diskusi kita di status ini saya fikir bisa memperkaya perspektif kita bersama. Terkadang (bahkan hampir PASTI) bahan bacaan mengarahkan opini dan mainstream kita ... tinggal bagaimana kita memupuk MENTAL berbeda pendapat.

Emmeraldi Chatra : Saya yakin,diskusi akan membukakan mata hati kita terhadap kebenaran yang ada pada kubu lain,yang selama ini mungkin tidak kita terima.Namun apabila diskusi sudah dimulai dengan kata "kita" dan "mereka" dengan aksentuasi yang tajam, penuh aroma ketidaksukaan, diskusi hanya akan jadi arena debat kusir karena "kita" tidak akan pernah menerima kebenaran "mereka". Bagi Sunni tradisi mut'ah yang diamalkan kelompok Syiah selalu jadi titik tengkar (disamping taqiyah dan khums) yang digunakan untuk menggusur Syiah dari Islam. Pikiran Sunni terhadap mut'ah benar-benar tertutup, dan mungkin hingga hari kiamat pun mereka tidak akan menerimanya. Sebenarnya penolakan itu tidak jadi masalah, karena pemahaman keagamaan itu memang tidak mungkin selalu sama. Namun ketika penolakan diberi bobot "pasti", pasti keliru, pasti salah, pasti sesat, ceritanya jadi lain. Penolakan bukan lagi dalam kerangka pencarian kebenaran yang hakiki, tapi dalam rangka institusionalisasi kebencian antar firqah belaka. Bagi saya, inilah cara pandang yang kontraproduktif.

Andri Azis : Saya tidak mewarisi apa-apa dari keadaan yang abang/ bapak sebut dengan kebencian dan saya sudah jelaskan ketidaksukaan jangan selalu disamakan dengan kebencian, bahkan kitapun yang telah hidup dan berkembang dalam budaya intelektual masih saja meletakkan "ketidaksukaan" sejajar dengan "kebencian", coba dikaji lagi kata-kata dan tindakan "ketidaksukaan" dan "kebencian" ini, karena saya paham tidak ada ruangan untuk saling membenci selama yang kita bincangkan adalah sebuah kajian akademis (jika kita bisa menamakannya dengan itu), jika kita berbicara tentang si anu yang membunuh si anu, mungkin kita bisa pakaikan kata kata si anu benci si anu, namun ketika si anu tidak mau menyetujui si anu dan si anu, jangan kemudian kita artikan karena tidak setuju (tidak suka) ini dengan benci, kita mengkritisi (setuju dengan bang Ilham) sebuah tawaran realita yang diberikan oleh sejarah. Sama halnya dengan kelompok atheis yang menuding kelompok agama sebagai orang "bodoh" dan kelompok agama menuding kelompok atheis dengan orang "tolol", kita lihat dari segi apakah mereka saling berbeda ? sebagai manusiakah atau sebagai anggota berpemahamankah ? saya akan jawab mereka berbeda sebagai berpahaman, yang ingin saya sampaikan adalah, ada hal yang merupakan prinsip kita yang memang tidak bisa ditemukan karena kita adalah "makhluk berpemahaman" dan berpemahaman bisa juga diartikan berbeda, karena wilayahnya adalah wilayah prinsip apalagi jika kemudian ada kaitannya dengan agama, dan setiap agama toh memiliki prinsip kemutlakan, beda kalau kita bicara masalah pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, kita akan tiba tiba bersatu dna tidak akan berbeda untuk mengatakan pembunuh adalah penjahat, karena kita berbicara sebagai" manusia" bukan "makhluk berpemahaman". Dalam masalah sunni dan syiah mengapa terjadi perdebatan panjang, karena ada yang merusak tatanan tunggal awal...dalam masalah ini saya menitelkan syiah sebagai itu, beda kalau seandainya pada abad kedua Islam datanglah agama baru bernama Syiah tentu pembahasan akan lain. Islam akan memperketat security bagi pemeluknya sama seperti Kristen mensecure pemeluknya agar tidak pindah ketika Islam datang. Nah masalahnya adalah syiah dan sunni, saya memanngil diri saya sebagai sunni karena dunia juga memanggil begitu. Oke, saya sunni, mengakui Allah sebagai Tuhan Tunggal, Esa, Nabi Muhammad sebagai Rasul penutup risalah, para sahabat yang diberikan garansi penuh oleh Nabi Muhammad termasuk nabi dan ahlul bait sebagai sebaik baik insan dan generasi cemerlang setelahnya, tuntunan yang apik dan rapi dan yang paling penting adalah logis dan loyal, kemudian dimanakah sebuah pemaham yang datang entah dari mana dan oleh seseorang yang mengandalkan akalnya saja (akal untuk sebuah yang di atas akal) dan mangatakan bahwa Ali adalah Tuhan, yang kemudian diartikan dewa atau nabi, coba baca lagi tentang asal muasal fitnah ini. Lalu tentang dosa kaum suni, saya tentu tidak akan mengatakan bahwa sejarah ini menulis dengan kebaikan saja...lalu apakah denga kesalahan syiah yang membuat percabangan dalam Islam ini dan menjadi muasal dari perdebatan tanpa henti ini (terlepas ini adalah takdir Tuhan) kemudian demi membela kelompok ini kita malah mengatakan dan membandingkan dengan kesalahan kelompok pesaingnya, logika macam apakah ini, saya jadi tiba-tiba teringat keadaan negara ini, kelompok tertuduh mencari kenyataan salah yang lain demi menutupi salah sendiri, padahal memang dialah yang membuat muasal masalah...wallahu a'lam..semoga saja saya salah (ulang lagi).

Emmeraldi Chatra : Kebencian" dan "ketidaksukaan" memang berbeda secara semantis, dan itu tidak memerlukan pendidikan yang terlalu tinggi untuk membedakannya. Tapi keduanya - kebencian dan ketidaksukaan -- berada pada garis kontinum yang sama, hanya berbeda spektrum. Tidak ada kebencian yang muncul dari sikap netral atau suka. Ketidaksukaan lebih mendekati titik netral,sedang kebencian berada pada ujung yang ekstrim. Yang jelas, keduanya adalah sikap negatif terhadap suatu obyek. Kalau memang kita hendak bicara pada tataran akademik,sikap negatif terhadap suatu obyek jadi topik yang memerlukan diskusi sendiri. Tradisi positivistik mengharamkan adanya value dan preasumption ketika hendak membicarakan obyek, katakanlah Syiah atau mut'ah dan menekankan pada obyektivitas. Namun tradisi interpretif/konstruktivis/fenomenologi tidak menuntup kemungkinan dilakukan pemihakan dan pemberian bobot nilai subyektif terhadap obyek. Masalahnya,itu manusiawi. Dalam konteks Suni-Syiah masalahnya sudah lain. Pemihakan sudah melewati garis batas yang bisa ditolerir oleh kaum fenomenolog sekalipun. Kebencian itu melembaga, diwariskan,dan diterima tanpa reserve oleh generasi sesudahnya. Karena itu ketidaksukaan dalam wacara Suni-Syiah tidak ada bedanya dengan kebencian.Kebencian menyebabkan mata hati menjadi tertutup, tidak mampu menangkap secuil kebenaran, bahkan tertutup untuk keragu-raguan sekalipun tuduhan bahwa Syiah mempertuhan Ali itu suatu contoh yang jelas. Tolong telusuri kembali dari mana asal-muasal dongeng itu. Bukankah cerita itu bersumber dari sumber tunggal : Sayf Ibn Umar al-Dhabbi al-Usayyidi al-Tamimi, yang kemudian dikutip secara ceroboh oleh Tabari. Sayf Ibn Umarlah yang menceritakan perihal Abdullah bin Saba, tanpa bandingan dari catatan lain. Banyak ulama Sunni (diantaranya al Hakim, Nasa'i, Abu Hatam, Abu Dawud) mengatakan Sayf itu pembohong, apalagi ulama-ulama Syiah. Tapi mengapa cerita bohong Sayf itu masih didengungkan hingga sekarang? Jawabannya ialah karena ketidaksukaan/kebencian sudah jadi dasar argumen. Jelas sikap yang tampak bukan lagi sikap ilmiah,tapi sikap ideologis yang berkacamata kuda.

Andri Azis : Sebelum dan sesudahnya saya mohonkan banyak maaf jika telah banyak berbeda pendapat dengan abang atau bapak yang tentu sudah banyak lebih tahu dari saya ini. Jikalau salah tolong ditunjuk ajari selayaknya umur yang masih muda ini, tapi kita ketika bicara tak kan ada bisa lepas dari subjektifitas walaupun sudah berusaha seobjektif muingkin, dan itu bagi saya wajar karena manusia bentuknya saja yang serupa namun kepala dan olah pikirnya tentu berbeda hakikat tauhid dan sekaligus tanda tauhid bukti adanya Tuhan dan ketika kita bicara agama, tentu kita harus memilih mau jadi apa, jangan sampai umur sudah habis dan maut sudah menjelang namun jalan menuju ke syurga belum juga kita liat bahkan kita pilih, pilihlah salah satu asalkan benar dari asalnya apapun itu insya Allah akan membantu sedangkan sudah memilih saja ntah masuk syurga ntah tidak apalagi jika masih melihat-lihat alias window shoper...heheh..semoga bertemu di topik yang lain dan dengan "kehangatan" yang masih sama dan terimakasih pada bang Ilham..sungguh banyak yang bisa adinda ambil dari diskusi kali in :) salaam buat malaikat malaikat kecil abang :)

Muhammad Ilham : Andri dan Pak Em, Semalam saya bongkar-bongkar lagi buku-buku Syiah dan buku-buku Sunni karangan ulama-ulama Malaysia. Akhirnya saya berpendapat Pak EM dan Andri benar, suatu saat saya berfantasi, kita duduk bertiga dan berempat atau berapapun untuk "Bersitembung Secara Akademik" mencari titik temu dan berempati terhadap perbedaan yang ada. Terima kasih andri atas salam buat anak-anakku. Terima kasih buat Pak Emmeraldi Chatra yang membuat "diskusi" ini menjadi hidup. Luar biasa. Semoga di topik yang lain, argumentasi mencerahkan dari Bapak EM dan Andri selalu dinanti dengan tangan sangat terbuka.

Emmeraldi Chatra : Ilham: Memang menarik diskusi ini,tapi sangat sayang jika terlalu cepat ditutup. Saya menyimpulkan, perseteruan Sunni-Syiah tampaknya belum akan berakhir hingga beberapa abad ke depan. Soalnya,seperti yg saya tulis, ada kebencian yang diwariskan. Sekalipun Mahmud Syaltut, mufti Mesir mengatakan di th 50-an bahwa Syiah itu muslim, dan fiqh Ja'fari boleh dipakai oleh kaum Sunni, toh kelompok2 yang menginginkan permusuhan terus dilembagakan tidak mau menyerah. Mereka mencerca Syaltut dengan mengatakan ulama itu tidak tahu apa-apa tentang Syiah (jelas menggelikan mengingat Syaltut adalah ulama yang dalam ilmunya). Untuk tetap eksis kelompok pro-permusuhan tetap membuat kader2 yang enggan berdamai, yang memendam kebencian di dada dan menganggap Syiah itu diluar Islam.Akan begini teruskan nasib umat Islam? Akankah umat Islam terus sibuk dengan kesombongan pikiran masing-masing dan mengkapling surga dan neraka sebagai hak milik kelompok mereka? Wallahualam. Satu hal yang kurang dipahami oleh pembenci Syiah, juga pembenci Sunni dari kalangan Syiah ialah bahwa saling benci diantara kedua kelompok sudah diboncengi dan diperteguh oleh politik adu domba Inggris di abad ke-19. Inggris sengaja menjadikan Syiah dan Sunni sebagai identitas etnis. Syiah itu Parsi, Sunni itu Arab. Politik adu domba mereka gunakan untuk melemahkan kekuatan Turki Osmani yang sangat kuat.

Andri Azis : Betul itu pak Em, Syekh Syaltut adalah salah satu kebanggaan civitas akademis di Mesir. Mengenai eksistensi fikih Ja'fari dalam agama Islam yang dibolehkan, sama halnya dengan memakai tafsir Alkasfy karangan Zamahsyari, sedangkan kita tahu Zamahsyari adalah Mu'tazilah...hm...yang saya pertahankan dari awal dan mungkin ini dianggap sebagai perlawanan oleh pak Em, adalah masalah akidah. Saya meletakkan akidah saya sebagai prinsip paling tinggi dalam beragama. Saya tidak akan mau dipaksakan menerima bahwa mut'ah, khums dan takiyah sebagai satu hal yang bisa dibenarkan. Ya jika kita buka skop lebih besar mirip mirip dan beda beda tipislah dengan keadaan seorang muslim di suruh minum khamr. Mungkin bagi non muslim tidak masalah, namun bagi muslim ini adalah sangat masalah, karena hubungan ke itu tadi, akidah, prinsip kita, kemudian jika dipanjangkan lagi, pride kita dan kalau saya tidak salah menganalisa semua hal yang dilakukan oleh syiah sebagaimana sunni, Kristen, Hindu, Budha dan lain lainnya..semua yang dilakukan, apakah itu tata negarakah, jual belikah, ekspansi kah dan lain-lain akan dilakukan berdasarkan prinsipnya tadi, akidah mereka masing-masing. Kita tentu masih ingat bagaiman glory, gospelnya Kristen dan begitu juga dengan agama lainnya. Toh dengan memperkenalkan prinsip-prinsipnya di bidang umum syiah tetap melancarkan kegiatannya akidahnya dengan hums, dua hal ini cukup membuat kita harus hati-hati terhadap ancaman yang kita tidak tau apakah itu, karena takiyah berarti adalah boleh berkata tak sebetulnya kepada yang selain syiah di dalam akidah mereka "bukanlah seorang muslim orang yang tidak melakuka takiyah' silahkan coba diskusi dengan orang Syiah jika hasilnya tidak berbelit belit (dalam masalah akidah). Sekarang sebagai manusia yang arus kita lakukan adalah tetap menjaga adab adab kita sebagai manusia itu menurut saya, saya ketika bertemu orang syiah tetap menghargainya sebagai manusia, makhluk yang mempunyai mata, kepala, hidung dan hati sama seperti kita. Namun saya tetap tidak suka jika sudah menyangkt masalah akidah prinsip kita harga diri kita jika kita bilang bahwa harga diri adalah hal yang menyebabkan ego, saya akan terima itu.karena untuk apa hidup jika tidak mempunyai harga diri dan jika akidah adalah hal yang tdak penting lalu untuk apa kita susah susah belajar ini dan itu kalau pada prinsip pun kita tak memiliki apa yang bisa kita pertahankan menyedihkan hidup yang seperti ini. Semua hanya diukur dengan landasan teori dan setelah melihat silanya teori tak selalu bisa dijadikan landasan bekerja, menangkis dan beramal dalam hidup seseorang...semoga saya salah (pernyataan untuk ketiga kalinya) :D

Muhammad Ilham : Pak EM ........ "Bertupang" dan "Bercabangnya" Islam itu, rasanya bisa kita telusuri dari periode awal Pasca Meninggalnya Rasulullah SAW. Dan secara umum, faktor yang paling signifikan adalah faktor politik (baca: kepemimpinan). Dan akhirnya .... bertemulah apa yang diungkapkan oleh Thaha "sang Buta" Hussein (seorang pemikir Mesir pintar yang dianggap "mbalelo") : "Ketika Politik menunggangi keluhuran sebuah ajaran normatif, maka ia akan terpupuk dengan kebencian untuk waktu yang sangat lama". Bila kita melihat pertembungan Sunni-Syiah dalam koridor "sistem sejarah" tradisi kolonialisme abad 15 - 20 awal, analisa Pak EM bisa saja diterima (setidaknya menurut saya secara subjektif). Jangankan Syiah-Sunni, hanya gara-gara Rokok doang .... NU dan Muhammadiyah di Indonersia sudah dikondisikan untuk dipertembungkan. Karena itulah mungkin perlu-nya kita menghayati apa yang diungkapkan Sayyed Hossein Nasr : "Dialog Peradaban berawal dari Dialog Internal Islam itu sendiri, dan dialog itu harus dimulai dari proses empati dan husnudzhon. Karena setiap entitas normatif/ideologi selalu tumbuh dari proses sejarah dimana identitas entitas normatif itu lahir" (hah, agak ribet). Tapi intinya ....... "Mengapa tidak kita ambil Puncak-Puncak Peradaban Syiah, Sunni, Tareqat, Wahhabiyah dst. .... ya, Puncak-Puncak Peradaban mereka. Mengapa hanya karena persoalan remeh temeh seumpama Mut'ah justru mereduksi puncak-puncak peradaban itu. Akhirnya, dengarlah tangisan Muhammad Iqbal dalam JAVID NAMAH : "Sudahlah Air Mata Sejarah/Beri Kita Pelajaran/Kita Tak Mau Lagi Mengeluarkan Air Mata/Walau Air Mata Itu Terus Mengalir/

Andri Azis : Wah..alhamdulilah...statement akhir seperti layaknya seorang tuan rumah bang Ilham memberikan jamuan yang pas bang, tidak pedas dan tidak pula manis...mazbuuth kalau bahasa sininya...heheh :) terima kasih banyak atas ilmunya bang dan pak em...kami yang masih bocah ini banyak belajar dan banyak berpikir :)

Emmeraldi Chatra : Saya setuju. Kita menghadapi masalah komunikasi antar kelompok/firqah yang sangat tidak menguntungkan bagi kehidupan umat. Selama ini apa yang kita sebut komunikasi tidak lebih dari adu argumen untuk menengakkan keyakinan/aqidah masing-masing dengan cara mengecilkan aqidah kelompok lain. Karena - seperti ditulis Andri - aqidah sudah dikaitkan dengan pride, harga diri, maka tertutup kemungkinan untuk melakukan tindakan yang lebih dari sekedar empati. Empati itu hanya soal rasa, sedang yang kita perlukan adalah masuk ke wilayah pemikiran orang lain tanpa rasa curiga berlebihan. Orang Sunni mustinya mulai belajar Syiah dengan mengenyampingkan prasangka, demikian juga orang Syiah terhadap Sunni. Masalahnya, berapa banyakkah diantara kedua kelompok yang saling belajar pikiran kelompok lain tanpa bias kecurigaaan, apalagi kebencian?

Sumber : FB Muhammad Ilham Ibn Fadli

Sabtu, 20 Maret 2010

Kontradiksi Terorisme dan Perang

Oleh : Muhammad Ilham

Noam Chomsky, secara terang-terangan melempar tuduhannya pada AS sebagai lumbung aksi terorisme. Dengan menunjukkan sejumlah data, Chomsky melihat sebuah paradoks terorisme yang sangat kontradiktif dilakukan oleh AS. Berdasarkan pengalaman historis, menurut Noam Chomsky, AS telah mengkondisikan aksi teror di sejumlah negara, seperti Nikaragua, Elsalvador, Palestina dan Lebanon , yang justur menimbulkan jumlah korban sipil yang jauh lebih banyak dari korban tragedi bom di WTC, 11 September 2001 (Noam Chomsky : 2005)

Kematian Dulmatin, salah seorang gembong teroris Asia Tenggara yang konon ilmu merakit bom-nya diatas Dr. Azahari, beberapa hari lalu tewas di tembak oleh Densus 88 Anti Teror. Petualangan si Joko Pitono @ Dulmatin ini akhirnya berakhir di sebuah Warung Internet di pemukiman padat Jakarta. Pasca kematian Nordin M. Thop beberapa bulan lalu, dan ”diamnya” beberapa tokoh garis keras seumpama Abu Bakar Ba’asyir, ranah perbincangan publik Indonesia tidak lagi dihiasi oleh istilah teroris. Ranah public lebih banyak dihiasi oleh perdebatan dan dagelan politik seperti Kasus Bank Century. Hampir tak pernah terdengar lagi sebutan teroris, kelompok garis keras dan kata-kata ”teroris tersebut dikenal sebagai seorang muslim yang taat”. Namun, pasca kematian Dulmatin, khazanah kata-kata itu mulai muncul kembali di ruang publik. ”Dulmatin, seorang teroris yang dikenal oleh kawan-kawannya sebagai seorang muslim yang taat, ditembak di sebuah Warnet .... perjalanan tokoh teroris berakhir di ujung peluru Densus 88 Anti Teror”, demikian intro sebuah TV Swasta ketika membahas kematian Dulmatin yang sempat menjadi orang yang ”dihormati” kelompok Abu Sayyaf Minadanao ini. Ya..... Teroris yang Muslim taat. Rasanya terdapat ”sense” contradiksi disana. Secara kategoris mengandung contradictio-interminis, karena sejatinya, seorang muslim bukanlah teroris. Karena Islam sangat jelas melarang terorisme maka idealnya seorang muslim tak mungkin menjadi teroris. Tapi pada faktanya, ada Almarhum DR. Azahari, Noordin Mohammad Thop, Abdul Azis alias Imam Samudra, Amrozi, dan belakangan Dulmatin serta kawan-kawannya. Mereka, menurut kesaksian teman, guru, atau keluarganya, merupakan muslim yang taat dan rajin membaca al-Quran. Ketaatan mereka, barangkali, meminjam istilah Kuntowijoyo, masih subyektif dan belum mengalami proses obyektivikasi. Ketaatannya terhadap agama belum berfungsi konstruktif secara sosial. Terlepas apakah mereka benar-benar sebagai pelaku utama, sekadar “peran pembantu”, atau bahkan “wayang”, yang jelas, pengakuan mereka telah meledakkan bom (antara lain) di Legian, Kuta, Bali, 12 Oktober 2002 lalu dan Bom Bali II bulan Oktober 2005 yang lalu menunjukkan bahwa mereka benar-benar teroris. Keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan jihad fi sabilillah sekadar menambah bukti bahwa terminologi/konsep jihad memang potensial disalahartikan.

Memang benar bahwa terorisme tak ada kaitan dengan Islam. Tak ada satu ayat pun dalam al-Quran yang mengizinkan, apalagi menyuruh seseorang menjadi teroris. Demikian juga Hadits Rasulullah. Tapi, harus cepat-cepat digarisbawahi bahwa hal itu sebatas doktrinal. Secara historis barangkali amat sulit menghindarkan Islam dengan tindakan apapun yang mungkin bisa dilakukan oleh para pemeluknya, termasuk teror sekalipun. Mengapa? Karena Islam, seperti juga agama-agama lain, tidak berada di ruang hampa. Islam senantiasa bergumul dalam realitas obyektif yang menyejarah, ikut mewarnai dan membentuk kebudayaan manusia. Dalam bahasa antropolog Clifford Geertz, sebagai agama, Islam bukanlah sesuatu yang otonom. Secara apologetis siapa pun bisa mengatakan bahwa Islam tak bisa dikait-kaitkan dengan tindakan kejahatan seseorang karena Islam adalah ajaran suci sedangkan yang melakukan kejahatan adalah orangnya. Islam harus dibedakan dengan orangnya. Tetapi, sesuatu yang berbeda, tentu bukan berarti tak bisa berhubungan sama sekali. Islam bahkan senantiasa berhubungan dengan orang, karena seseorang baru bisa dikatakan muslim setelah ia berhubungan dengan Islam, dengan menjadi pemeluknya, meyakini kebenarannya, dan mengimplementasikan ajaran-ajarannya. Apalagi, Islam sendiri tidak akan diturunkan Allah jika tidak ada orang (manusia) di muka bumi. Islam justru diturunkan Allah untuk menjadi petunjuk bagi manusia (hudan linnas). Jadi, Islam dan muslim tak bisa dipisahkan satu sama lain.

Mengapa ada muslim yang menjadi teroris? Ada banyak sebab. Dari sudut pandang agama bisa dijawab dengan mengatakan bahwa manusia diciptakan Allah dengan segala kekurangan. Tentang kekurangan manusia banyak sekali disebutkan, baik dalam al-Quran maupun Hadits. Dalam satu ayat al-Quran misalnya disebutkan bahwa ketika manusia diciptakan Allah, sudah inheren dalam jiwanya dua potensi: (1) berbuat kebajikan (dimensi takwa) dan (2) berbuat kejahatan (dimensi fujur). Dan, seseorang yang sudah memeluk Islam pun, tak ada jaminan untuk bisa menghindarkan diri dari dimensi fujur, karena manusia memang tempatnya kesalahan dan kealpaan (mahal al-khatha wa al-nisyan). Bahkan Rasulullah yang ma’shum sekalipun, suatu ketika pernah berbuat kesalahan walaupun ringan. Seorang muslim juga bisa menjadi teroris karena pemahamannya yang tidak proporsional tentang agama, baik karena kesalahan metodenya maupun karena kedangkalan ilmu agamanya. Di antara aspek agama yang paling sering ditafsirkan secara literal dan dangkal adalah konsep mengenai jihad fi sabilillah yang dianggap identik dengan aksi-aksi fisik seperti perang mengangkat pedang, senapan, atau meledakkan bom.

Selain itu, ketidakadilan politik global juga sangat potensial melahirkan teroris, termasuk dari kalangan muslim. Kebijakan politik dunia yang tidak adil terhadap beberapa negara muslim misalnya, telah menimbulkan perlawanan dari segenap muslim yang menyadari betul ketidakadilan itu. Sialnya, karena tidak berdaya melawan secara terang-terangan, ada di antaranya yang menempuh jalur inkonvensional, yakni dengan cara kekerasan dan teror. Kalau memang demikian, cara yang paling proporsional untuk menghindari kemungkinan tindakan teror, bagi muslim adalah dengan cara memperbaiki kembali pemahaman dan implementasi keislamannya. Pemahaman yang sempit dan dangkal harus diperluas dan diperdalam; pemahaman yang subyektif individual harus diobyektivikasi sehingga konstruktif secara sosial. Sementara itu, bagi Amerika dan Rusia harus meninjau kembali dan memperbaiki kebijakan-kebijakan politik hubungan internasionalnya. Sayangnya, baik Amerika maupun Rusia (terutama Amerika) tampaknya tidak menyadari (atau pura-pura tidak tahu) adanya ketidakadilan dari kebijakan-kebijakan politik internasional yang ditempuhnya. Lantas, untuk menghapus terorisme, bukannya dengan cara memperbaiki kebijakan-kebijakan yang ditempunya, malah dengan menempuh jalan pintas: menggalang kekuatan dan menyerukan perang terhadap terorisme. Padahal, pada hakikatnya perang adalah teror juga. Perbedaan antara perang dan teror hanya sebatas prosedural. Yang pertama legal yang kedua ilegal. Pada faktanya sama saja, berupa pembantaian massal. Dan, karena pembantaian akan menimbulkan trauma dan dendam kesumat yang berkepanjangan maka, tampaknya, teror pun kemungkinan besar tidak atau belum akan lenyap dari muka bumi.

Rabu, 17 Maret 2010

Pater Beek : Spindoctor Orde Baru

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Setelah kudeta PKI berhasil digagalkan di tahun 1965, Jenderal Soeharto memerintahkan untuk menangkap setengah hingga satu juta penganut paham komunis di Indonesia. Ada indikasi, Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto tidak lepas dari peran seorang pater asal Belanda, Josephus Beek.

Josephus Beek lahir 12 Maret 1917 di Amsterdam. Tahun 1935, ia bergabung dengan Ordo Yesuit Belanda di Mariëndaal, Grave. Ia menjadi novis di Jawa Tengah antara 1931 dan 1939. Di masa pendudukan Jepang (1942-1945) ia sempat mendekam di penjara. Setelah perang usai, ia melanjutkan pendidikannya di Maastricht, Belanda Selatan. Ia ditahbiskan menjadi pastur pada tahun 1948 dan ditugaskan kembali ke Indonesia sejak 1956. Mula-mula ia aktif sebagai misionaris di Yogyakarta, kemudian pindah ke Jakarta. Di tahun 70-an ia dinaturalisasi menjadi WNI. Pater Joop Beek wafat 17 September 1983 di Jakarta dan dimakamkan di Giri Sonta, Jawa Tengah. Di tahun 2005 terbit buku Dit was Brandpunt, goedenavond (Demikian Fokus kali ini, selamat malam) tulisan Aad van den Heuvel, mantan presenter radio dan televisi Katholik Belanda, KRO. Cukup banyak media yang menyorot buku ini, tapi tidak banyak yang menyebut pertemuan mantan presenter itu dengan Pater Beek di tahun 1966.

Di sebuah kantor di Jalan Gunung Sahari 88, Jakarta, Van den Heuvel sempat mewawancarai Pater Beek. Pada kesempatan itu, Pater Beek menyatakan keprihatinannya tentang komunisme dan menganggap Islam sudah membahayakan. Ia berambisi ‘menyelamatkan’ minoritas pemeluk agama Katholik saat itu. Pater Beek berpendapat, hal itu dapat diwujudkan dengan memberi dukungan dan penyuluhan ke TNI. Ia tak segan mengirim satuan tentara untuk memperkuat Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Soeharto. Van den Heuvel sendiri mencap Pater Beek sebagai ‘dalang wayang politik’ di Indonesia. Sebetulnya, Van den Heuvel sudah menyinggung peran misterius Pater Beek dalam sejarah Indonesia di sebuah roman (1991) dan wawancara (1993). Bahkan, di tahun 1993 Van den Heuvel menyebut Beek sebagai otak genius penggagalan kudeta PKI di tahun 1965 dan makar-makar lainnya setelah itu.

Meskipun banyak kritisi yang menganggap pernyataan Van den Heuvel sebagai isapan jempol belaka, di bukunya Dit was Brandpunt, goedenavond ia kembali menekankan peran Beek di peristiwa sekitar bulan September dan Oktober 1965. Menurutnya, Beek banyak bekerja sama dengan satuan militer Jenderal Soeharto, terutama dengan dua penasehatnya: Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani. Van den Heuvel sendiri menyaksikan di tahun 1966 Pater Beek sedang menyusun naskah pidato di mesin tik tua merek Remington dan keesokan harinya pidato tersebut dibacakan oleh Soeharto. Selain itu, Van den Heuvel melihat beberapa catatan Beek di tahun 1963 mengenai rencana pembentukan Golkar. Menurut Van den Heuvel, Golongan Karya – ‘kendaraan politik’ kekuasaan Soeharto hingga tahun 1998 – adalah grup fungsional yang terdiri dari petani, nelayan, wanita, buruh, pegawai dan sebagainya. Partai ini sangat mirip dengan bentuk korporatisme di Eropa yang berakar dari tradisi Katholik. Korporatisme menyerukan kerjasama yang erat di antara kelompok-kelompok fungsional tersebut. Pendekatan yang sama sekali bertolak belakang dengan paham komunisme yang justru menyerukan perbedaan kelas. Mungkinkah penggambaran Van den Heuvel meleset? Atau mungkin halusinasinya saja?

Majalah Tempo di tahun 1999 mewawancarai Dick Hartoko, salah seorang Yesuit. “Bentuk awal Golkar adalah ide Beek sepenuhnya,” ujar Hartoko tanpa rasa ragu sedikit pun. Setahun sebelumnya, sosiolog George Aditjondro menulis pernyataan yang sama di majalah Islam Media Dakwah. Aditjondro berpendapat bahwa Beek menerapkan ‘teori hierarki lawan’ dalam membasmi ‘pengaruh buruk’ bagi umat Katholik di Indonesia hingga komunisme dapat dibendung di tahun 1965. Untuk Beek tersisa dua musuh utama, tentara dan Islam. Ia menganggap Islam sebagai musuh yang lebih berat dibanding tentara. Lambert Giebels, penulis biografi Soekarno pada tahun 2001 menulis peran Beek di dalam demonstrasi mahasiswa di tahun 1966 yang dapat menggulingkan Soekarno. Akhirnya, Soeharto dapat duduk di kursi kepresidenan. Hanya saja, data-data Giebels sering dianggap tidak akurat. Data-data lengkap mengenai aktivitas Beek baru dapat ditelusuri tahun 2006 lalu di publikasi ilmiah seorang mahasiswa doktoral asal Kalimantan Selatan di Universitas Utrecht. Mujiburrahman menulis Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia's New Order, sebuah thesis yang jauh dari sorotan media massa.

Mujiburrahman mengkonfirmasi fakta-fakta tersebut di dalam thesisnya dan ia juga menggambarkan kelompok minoritas Kristen di Indonesia yang merasa terancam dengan merebaknya komunisme pada awal tahun 60-an. Kaum Katholik mencoba mencari jalan keluar dengan menyusupi organisasi-organisasi militer. Pater Beek pun ingin satuan militer tersendiri. Bersama-sama dengan beberapa pastur dan uskup, ia mengumpulkan dan mengorganisasi latihan militer bagi pemuda dan mahasiswa Katholik. Khalwat dimulai di Asrama Realino di Yogyakarta dan selanjutnya dipindahkan ke Jakarta. Sebagian dana – selain dari Indonesia – didapat Beek dari Belanda dan Jerman. Dalam training kader militernya, tentara-tentara Beek dilatih selama sebulan penuh. Menurut Richard Tanter, peneliti asal Australia, calon militer tersebut diperlakukan tidak manusiawi. Seringkali mereka mendapat hukuman pukulan dan dibangunkan tengah malam untuk menjalani latihan fisik. Beberapa anggota militer tersebut memberikan detail secara anonim. Salah seorang dari mereka dikurung selama tiga hari tanpa diberi makan atau diikat di kursi di sebuah ruang yang sengaja digelapkan dan seekor ular – kendati tak berbisa – dibiarkan menjalar di bahu mereka. Ada lagi yang diikat setengah telanjang di pohon dilumuri lumpur dan dibiarkan semalaman digigiti nyamuk.

Setelah Khasebul usai, tentara didikan Beek ditugasi menjadi mata-mata handal untuk kepentingan jemaahnya. Konon, setelah kematian Beek di tahun 1983 bentuk pendidikan militer ini masih terus berlangsung. Di tahun 1971, peran Pater Beek juga disinggung dalam pembentukan Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Selain keterlibatan langsung dengan lembaga prestisius CSIS semasa Orde Baru ini, Beek dan tentaranya juga membuat banyak manuver politik dan terkait erat dengan BAKIN (kini BIN) dan OPSUS. Bahkan, ada desas desus ia berhubungan dekat dengan lembaga intelijen Amerika, CIA. Friksi dan konflik pun mulai bermunculan. “Secara teoretis idenya sebetulnya positif, tetapi pada prakteknya menjadi kisruh,” ujar salah seorang kolega Beek. Banyak pastur-pastur muda waktu itu yang menentang Beek dan membentuk gerakan-gerakan protes. Jenderal Soetopo Joewono, Kepala BAKIN saat itu pun memohon Vatikan untuk menarik Beek dari Indonesia. Beek sempat kembali ke Belanda, namun melanjutkan aktivitasnya lagi di Indonesia.

Sumber: Harian Noordhollands Dagblad “Wajangspeler trok aan vele touwtjes” (20-10-2007), Ilustrasi: Harian de Volkskrant dan kompas.com

Selasa, 16 Maret 2010

Rokok Terus "Terbakar" Kontroversi

Oleh : Muhammad Ilham

Rokok kembali menjadi perdebatan. "Asap nikmat'" ini terus menjadi kontroversi antara dihalalkan ataukah diharamkan di negeri yang banyak memiliki pabrik rokok ini. Awal Januari 2009 lalu, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok. Tidak diharamkan bagi semua orang memang. Namun rokok diharamkan bagi anak-anak remaja dan wanita hamil. Merokok juga diharamkan apabila dilakukan di tempat umum, kala itu. Tapi fatwa tersebut ternyata berlalu seiring menghilangnya pemberitaan media. Yang paling gres, PP Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah berkesimpulan bahwa aktivitas merokok hukumnya adalah haram. "Setelah mendengar masukan dari berbagai pihak, baik dari segi ekonomi maupun kesehatan, Majelis Tarjih dan Tajdid mengeluarkan amar putusan bahwa merokok haram hukumnya," ujar Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih Dr Yunahar Ilyas, Selasa (9/3/2010) lalu. Fatwa ini pun kembali memeicu kontroversi. Banyak yang pro, tapi ada juga yang kontra. Menurut adik kandung KH Abdurrahman Wahid, Lily Wahid, fatwa tersebut berdampak pada ribuan petani tembakau yang akan menyebabkan pengurangan penghasilan mereka. Perdebatan juga masuk di Facebook. Dibawah ini saya posting perdebatan di FB saya dengan beberapa orang kawan (tidak saya post semuanya, hanya beberapa komentar dari 71 komentar di 3 status/share di FB saya).


Silfia Hanani : ilham, ini potret identitas imajiner. Manalah bisa fatwa tanpa kekuatan negara/pemerintah. Masyarakat sudah terlanjur memaknai rokok sebagai hal yang tidak masalah dan tidak apa-apanya, jadi apapun bentuk fatwa jika pemerintah tidak ikut andil tak bakal ada efek. Fatwa rokok haram, hanya slogan jika tidak ada kekuatan yang pemerintah dalam mengaturnya dengan jelas.

Rifki Abror Ananda
: Rokok... rokok apa maumu ? Apa sih kehebatanmu, kok saudaraku ilham begitu gigih mempertahankanmu ?

Muhammad Ilham
: Bukan mempertahankan, sebagai insan yang ingin Indonesia SEHAT, saya mendukung dalam jumlah digit yang paling tinggi. Tapi, mari selesaikan persoalan rokok dengan sebuah pencerahan budaya, bukan dengan buldozer haram tanpa memikirkan ekses sosial ekonomi dan kemasyarakatan. Sudah berapa banyak label HARAM yang dikeluarkan, tapi justru menimbulkan ketidakacuhan. Ayo........ paksa negara untuk "mengharamkan" IKLAN ROKOK di TV, Paksa Pemerintah untuk memikirkan Nasib Petani Tembakau, Ayoooo ... paksa Pemerintah menaikkan harga ROKOK 10 kali lipat kayak Malaysia dan Singapura ..... dan ITU artinya kita melakukan pencegahan secara integral (sebagaimana yang dikhawatirkan Ni Silfia Hanani diatas, bila pemerintah tidak campur tangan, maka Fatwa itu hanyalah imajinasi saja). Kalau Fatwa haram saja ..... siapapun bisa. Bahkan di MUI, apalagi NU ....... banyak yang tidak bersepakat. Lantas pertanyaannya .... mengapa orang yang mengeluarkan fatwa itu (baca : ulama atau Institusi) tidak bisa mempressure internal-nya, sementara masyarakat umum mereka pressure. Catatan : saya sedang belajar berhenti merokok, walau tertatih-tatih, namun itu ibadah. Bagi orang yang tidak merokok dari awal, begitu mudah menganggap Rokok HARAM karena tidak merasakan sulitnya melepaskan diri Rokok. Semoga para Perokok yang sedang tertatih-tatih mengurangi rokok bahgkan berhenti merokok, jauh lebih dinilai dari Tuhan sebagai ikhtiar terbaik dibandingkan orang yang hanya mengeluarkan Fatwa tanpa pernah merasakan itu). Dalam aspek metodologi penelitian .... mereka hanya melihat dari "menara gading" tanpa pernah merasakan itu. Catatan : Di Malaysia, tidak ada Fatwa HARAM, tapi masyarakatnya hampir berhasil mengenyahkan rokok dalam hidup sehari-hari. Ulama-ulamanya memaksa agar peraturan tegak.

Robi Kurniawan
: Rokok itu haram, terlepas adanya aturan pemerintah atau kedokteran tetan kesehatan, tapi subtansial rokok itu tidak memberikan solusi terbaik. Bukan hanya perokok aktif yang terganggu, tapi yang kena asapnya alias perokok pasif. Dalam kaidah ushul fikh mengambil manfaat mengalahkan yang mudharat !

Muhammad Ilham
: (Bukan untuk justifikasi atau menegakkan “benang basah” ... tapi mari kita lihat secara Jernih .. !!) Dalam kontesk sosiologis-antropologis, problem rokok memang problem yng kompleks. Ada aspek kesehatan, ketenagakerjaan, budaya, sosial, dan ekonomi. Kompleksitas persoalan ini memerlukan pendekatan-pendekatan yang holistis dan sistematis. Misalnya melalui regulasi, ... See Morependidikan, kampanye, membuka alternatif lapangan pekerjaan, dan sebagainya. Namun justru lantaran kompleksitas persoalan tersebut, rokok tidak cukup diatasi hanya dengan satu solusi. Problem rokok memerlukan pendekatan multidimensional. Tidak hanya pendekatan-pendekatan yang bersifat “rasional”, namun juga pendekatan-pendekatan yang, meminjam istilah kawan saya, “irrasional”. Di sinilah fatwa rokok turut memainkan perannya. Hemat saya, aspek regulasi, kesehatan, ketenagakerjaan, dan kebijakan tentang rokok menjadi wilayah pemerintah dan instansi terkait. Itu bukan wilayah para ahli agama. Urusan ulama adalah “pembinaan” ummat. Salah satunya dengan mengeluarkan fatwa tentang rokok. Fatwa Muhammadiyah kali ini bahkan lebih baik dari fatwa rokok MUI. Sebelumnya, MUI mengharamkan rokok hanya bagi perempuan, anak-anak, dan tempat-tempat umum. Fatwa seperti ini relatif bias, tidak tegas, dan terkesan pilih-pilih. Padahal dampak rokok tidak akan pilih-pilih. Persoalannya menurut saya, sejauh mana fatwa tersebut efektif untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap rokok? Bukan hanya karena rokok sudah menjadi “budaya” masyarakat, namun juga karena masih banyak elit agama yang hidupnya akrab dengan rokok. Asumsi saya, di kalangan Muhammadiyah sendiri masih banyak pimpinan daerah, wilayah, dan pusat yang hobi merokok. Demikian pula halnya dengan pengelola amal usaha seperti rumah sakit dan lembaga pendidikan Muhammadiyah. Jumlah mereka ada ribuan, bahkan mungkin jutaan. Apakah orang-orang ini “mau” menaati fatwa majlis tarjih tentang rokok? Fatwa rokok Muhammadiyah kali ini juga akan “impoten”, tidak sanggup memenuhi tugas dan fungsinya. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Berapa banyak produk “fatwa” telah dikeluarkan ulama belakangan ini, namun tak satupun yang efektif “mempengaruhi” masyarakat. Lihat misalnya fatwa tentang golput, facebook, mengemis, rebonding, foto pra-wedding, ojek wanita, dan sekarang rokok. Sebagian besar masyarakat agaknya cenderung cuek dan tidak lagi ambil pusing soal fatwa. Alih-alih menggubris fatwa ulama, mereka tampaknya sudah mulai “kekenyangan” fatwa.

Rifki Abror Ananda :
belum pernah ada orang yang bisa meyakinkan saya bahwa merokok tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan, bahkan para perokok banyak meyakinkan saya "Kalau memang belum pernah merokok, jangan sesekali mendekatinya, kalau sudah kecanduan susah menghentikannya (klo memang enak, kenapa harus dihentikan), begitulah petuah para perokok ????

Muhammad Ilham :
(Sekali lagi, bukan justifikasi). Dalam konteks dinamika sosial dan perubahan sosial, mungkin ini juga disebabkan oleh semakin cerdas dan kritis-nya masyarakat, juga lantaran fatwa ulama seringkali tidak mengakar dan berwawasan “kerakyatan...”. Sekali lagi .... BERWAWASAN KERAKYATAN. Kesan yang muncul, para ulama mengeluarkan fatwa tanpa kepekaan terhadap kondisi masyarakat. Contoh terakhir adalah fatwa soal pengemis dan tukang ojek perempuan. Orang boleh tidak setuju dengan pendapat ini. Tapi harapan saya , fatwa rokok Muhammadiyah kali ini tidak demikian .. (MUNGKIN .... Pendapat saya ini SALAH .... namun yang jelas, saya tetap berusaha untuk mengurangi bahkan berhenti MEROKOK ... karena bagaimanapun hidup Sehat adalah pola yang disarankan Rasulullah Baginda yang mulia)

Jumat, 12 Maret 2010

Snouck Hourgronje : Kolonialisme yang Berlindung Dibalik Penelitian Ilmiah

Oleh : Muhammad Ilham

“Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. ” Dalam surat-nya Snouck mengungkap bahwa ia meragukan adanya Tuhan " (Snouck Hourgronje)

Entah kenapa, dalam minggu ini, saya tertarik membaca (kembali) tentang Muslim "murtad" Snouck Hourgronje. Antroplog yang dianggap "layar sejarah" Indonesia sebagai pengkhianat berkedok agama. Namun terlepas dari semua itu, buku "Surat-Surat Snouck Hourgronje kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia" Jilid I - XV yang saya baca dalam beberapa hari belakangan ini, setidaknya membuat saya sedikit salut pada-nya. Kemampuan metodologis dan analisis serta rekomendasinya sangat bagus dan terukur, ilmiah dan terkesan provokasi namun juga mengesankan kompromistis pada aspek-aspek tertentu. Saya masih ingat, waktu saya kecil ketika mendengar ceramah-ceramah ulama-ulama "kelas lokal" dikampung saya, paling sering menyinggung nama Snouck Hourgronje, bukan memuji, tapi memposisikannya seperti Abu Lahab dan Abu Jahil.

Siapa Snouck Hourgronje ? Nama lengkapnya,
Christian Snouck Hourgronje, lahir di pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck pun sedari kecil sudah diarahkan pada bidang teologi. Ia tumbuh dan berkembang dalam tradisi Protestan. Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab, 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah). Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arab-nya, Snouck kemudian melanjutkan pendidiklan ke Mekah, 1884. Di Mekah, keramahannya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekah, Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dalam sejarah Indonesia, khususnya sejarah kolonial Belanda, figur Snouck Hurgronje adalah sosok kontroversial khususnya bagi kaum Muslimin Indonesia, terutama kaum muslimin Aceh. Bagi penjajah Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yang berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding, untuk tidak menyebut "selevel" dengan Abu Jahil dan Abu Lahab.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan peran Snouck sebagai orientalis ternyata hanya kedok untuk menyusup dalam kekuatan rakyat Aceh. Dia dinilai memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik.
Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck para perkembanagan selanjutnya. Snouck berpendapat bahwa Al-Quran bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya Muhammad yang mengandung ajaran agama. Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori “Evolusi” Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia. Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas dosa-dosa mereka. Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya. Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah mengatakan, “Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga Muslim Indonesia- agar terbebas dari Islam“. Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah (Ini juga disinggungnya dalam buku Surat-Surat Snouck Hourgronje ..... terbitan INIS).

Snouck pernah mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Indonesia. Saat itu, Snouck belum pernah datang ke Indonesia, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah penjajahan Belanda.
Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak. Saat tinggal di Jedah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah Dari Indonesia untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan “Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui ke-Islaman Anda“. Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi ini tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda. Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang ‘Ulama besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama. Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu. Snouck kemudian menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk ditugaskan di Aceh. Saat itu perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck masih terus melakukan surat menyurat dengan ‘Ulama asal Aceh di Mekah. Snouck tiba di Jakarta pada tahun 1889. Jendral Benaker Hourdec menyiapkan asisten-asisten untuk menjadi pembantunya. Seorang di antaranya adalah warga keturunan Arab Pekojan, yaitu Sayyid Utsman Yahya Ibn Aqil al Alawi. Ia adalah penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum Muslim atau asisten honorair.

Misi utama Snouck adalah “membersihkan” Aceh. Setelah melakukan studi mendalam tentang semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh.
Pada bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam, ‘Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para ‘Ulama. Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena mereka hanya memikirkan bisnisnya. Snouck menegaskan bahwa Islam harus dianggap sebagai faktor negatif, karena dialah yang menimbulkan semangat fanatisme agama di kalangan muslimin. Pada saat yang sarna, Islam membangkitkan rasa kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap Belanda. Jika dimungkinkan “pembersihan” ‘Ulama dari tengah masyarakat, maka Islam takkan lagi punya kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh adat bisa menguasai dengan mudah. Bagian kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat yang menjadi sumber kekuatan ‘Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi. Cara yang ditempuh sama dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan ‘Ulama Jawa, Snouck menerima surat yang bertuliskan “Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana Abdul Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. “

Lebih aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak: Salamah, ‘Umar, Aminah dan Ibrahim. Akhir abad 19 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah, putri khalifah Apo, seorang ‘Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf.
Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Nöldeke, seorang orientalis Jerman terkenal. Sekedar catatan, Nöldeke adalah orientalis dan pakar Kearaban dari Jerman. Tahun 1860 aia menerbitkan bukunya, Geschichte des Qurans (Sejarah al-Quran). Karyanya ini dikembangkan bersama Schwally, Bergsträsser, dan Otto Pretzl, dan ditulis selama 68 tahun sejak edisi pertama. Sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis penyusunan Al-Quran. Musthafa A’zhami, dalam bukunya, The History of The Qur’anic Text, mengutip satu artikel di Encyclopedia Britannica (1891), dimana Nöldeke menyebutkan banyaknya kekeliruan dalam Al-Quran karena, kata Nöldeke, “Kejahilan Muhammad” tentang sejarah awal agama Yahudi – kecerobohan nama-nama dan perincian yang lain yang ia curi dari sumber-sumber Yahudi.’’ Sebagaimana dikutip dalam bukunya, Musthafa A’zhami, The History of The Qur’anic Text, Nöldeke, telah menuduh Nabi Muhammad sebagai penulis Al-Quran dan orang jahil. Selanjutnya, dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keIslaman dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi mendapatkan informasi. Lebih kurang selama tujuh bulan Snouck berada si Aceh, sejak 8 Juli 1891, baru pada 23 Mei 1892, ia mengajukan Atjeh Verslag, laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasehat strategi kemiliteran Snouck. Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher dalam dua jilid yang terbit 1893 dan 1894. Dalam Atjeh Verslag-lah pertama disampaikan agar kotak kekuasaan di Aceh dipecah-pecah. Itu berlangsung lama, karena sampai 1898, Snouck masih saja berkutat pada perang kontra-gerilya.

Nasehat Snouck mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah uleebalang, tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah berposisi di sana menjadi takut. Untuk waktu yang singkat, metode yang dipakai berhasil. Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik devide et impera.
Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung. Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang. Van Heutsz adalah seorang petempur murni. Sebagai lambang morsose, keinginannya tentu menerapkan nasihat pertama Snouck; mematahkan perlawanan secara keras. Tapi Van Heutsz ternyata harus melaksanakan nasihat lain dari Snouck, yang kemudian beranggapan pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan akan melahirkan implikasi yang tambah sulit diredam. Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Sehingga Snouck terpaksa membalikkan metode, dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda menyangkut kepentingan umat Islam. Atas sarannya, Belanda mencoba memikat ulama untuk tak menentang dengan melibatkan massa. Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan bagaimana menguasai beberapa bagian Jawa dengan memanjakan ulama.

Sejarah kemudian mencatat ...... Inilah yang mungkin menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh.

Sabtu, 06 Maret 2010

Tan Malaka : Pahlawan off the Record

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

“Namun sejak orde baru, namanya (Tan Malaka) dihapus dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah. Gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut. Tetapi dalam buku teks sejarah ia tidak boleh disebut. Atau menurut istilah seorang peneliti departemen sosial, Tan Malaka menjadi “off the record’ dalam sejarah Orde Baru”. (Asvi Warman Adam)

Dalam kancah perjuangan bangsa Indonesia menuju bangsa yang merdeka, Tan Malaka mempunyai posisi yang sejajar dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Agus Salim. Namun sejarah sang penguasalah yang menengelamkan Tan Malaka ke dalam lumpur sejarah yang diciptakan oleh kekuasaan. Dalam konteks ini tidaklah berlebihan jika dikatakan “sejarah adalah milik orang yang berkuasa”.
Ketika sebuah rezim mulai menunjukan kuasa, maka dari segala arah para Hulubalang dan Pangrehpraja menunjukan kesetiaannya dalam aneka ragam bentuk. Mereka menciptakan sejarah dengan cara memanipulasi data dan argumen untuk kekuasaan itu sendiri. Peranan Soeharto yang mengecilkan peranan Sultan Hamengkubuwono IX dalam serangan umum atau terpublikasinya gambar “Soeharto bersama Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam suatu upacara,” suatu contoh mungkin masih kita ingat. Tiadanya kebebasan intelektual yang membentengi kaum terdidik dalam menyatakan kebenaran sejarah. Jika pun terdapat “pahlawan” ia dapat dikalahkan oleh mesin politik kuasa. 32 tahun kuasa rezim Orde Baru berkuasa telah menebarkan ketakutan luar biasa—kuasa-Nya telah mengintimidasi nalar setiap orang (Zulhasril Nasir, 2007: vii). Seorang Tan Malaka telah dilenyapkan dari pentas sejarah oleh kekuasaan rezim Oder Baru, soalnya, dengan peristiwa testemen yang dilakukan oleh Tan Malaka terhadap Soekarno, ia mesti dilenyapkan dari memori rakyat. Walhasil, tidak tangung-tangung Tan Malaka seolah-olah diterkam zaman dan tengelam dalam hiruk pikuk pengkaburan sejarah oleh penguasa. Bahkan, dirahim tanah kelahirannya ‘Minangkabau’ kiprah Tan Malaka mulai redup dalam ingatan generasi Minang, siapakah yang salah?.

Dalam pentas perjuangan, Tan Malaka bukan saja seorang prajurit yang pernah mengangkat senjata menghapus telapak penjajah dari Indonesia. Tetapi unik, dalam epos perjuangannya, Tan Malaka telah melahirkan karya-karya yang luar biasa dan dalam petilasannya telah membuat kagum peneliti-peneliti dari mancanegara akan ketajaman pena-nya dan hujaman pikirannya yang menyentuh langit-langit perjuangan revolusinya. Dalam catatan dan masih bisa ditemui, ada beberapa karya briliant Tan Malaka yang masih menjadi referensi di Indonesia dan di mancanegara, seperti, Madilog, Merdeka 100 %, Gerpolek, Dari Penjara ke Penjara, Massa Aksi dan Uraian Mendadak. Tan Malaka sebagai seorang pejuang yang lahir dan dibesarkan dari rahim Minangkabau telah menorehkan sejarah perjuangan bangsa yang unik dan aktual akan selalu berbekas dalam memori generasi yang masih mau menerima, dan membaca siapa gerangan Tan Malaka.
Dalam pentas sejarah, Tan Malaka dinilai sebagai pahlawan nasional yang mempunyai mobilitas perjuangan yang tinggi dan terpanjang. Alasanya 30 (tiga puluh) tahun mobilitas perjuangan Tan Malaka tanpa henti, baik dalam negeri maupun diluar negeri dan tercatat berjuang dalam lintas internasional dalam rangka melakukan agitasi terhadap dunia, agar Indonesia merdeka 100%. Tercatat Tan Malaka pernah menginjakkan kakinya di dalam negeri, dari Pandan Gadang (Suliki), Bukit Tinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kendiri, Surabaya. Di luar negeri mulai dari Amsterdam, Berlin, Moskow, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon, dan Penang. Hampir tidak ada pahlawan nasional yang memiliki mobilitas sepanjang Tan Malaka, namun “kenapa dalam sejarah, ia dilenyapkan dari memori rakyatnya?.

Adanya benarnya kata peneliti, bahwa Tan Malaka adalah pahlawan yang “off the record” dalam sejarah orde baru. Hal ini bertitik tolak dari literature yang terbilang minim mengkaji epos perjuangan Tan Malaka atau pun pemikiran-Nya. Sudah dipermaklumi, karena Tan Malaka di mata rezim Orde Baru adalah pemberontak yang ingin meruntuhkan negara Republik Indonesia dan serta merta yang berhubungan dengannya dilenyapkan dan dikaburkan oleh kekuasaan. Cap ‘seorang pemberontak’ bagi Tan Malaka bermula ketika Tan Malaka berupaya mendirikan Negara Demokrasi Indonesia pada momentum Belanda masuk ke Yogyakarta 19 Desember 1948. Ketika itu, diumumkan bahwa Soekarno-Hatta tertangkap. Dengan alasan bahwa Presiden dan Wakil Presiden sudah tidak ada, Tan Malaka memproklamasikan berdirinya GPP (Gerakan Pembela Proklamasi) di atas Gunung Kawi. Lahirlah kemudian Gerakan Kawi Pact yang bertujuan untuk meneruskan cita-cita komunisme ala Tan Malaka. Ia memproklamasikan berdirinya Negara Demokrasi Indonesia dengan dalih, bahwa pemerintah RI Soekarno-Hatta sudah tidak ada. Pengumuman berdirinya Negara Demokrasi Indonesia, sekaligus dilakukan dengan penunjukan dirinya sebagai Presiden, dengan mengangkat Kolonel Warrow sebagai Menteri Pertahanan dan Mayor Sabaruddin sebagai Panglima Besar GPP (Dalam Nur Hadi, 2006). Atas alasan inilah, Tan Malaka dicap sebagai pemberontak oleh rezim yang berkuasa dan siklusnya, Tan Malaka harus rela dipenggal dari pentas sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Di luar konteks di atas, seorang pahlawan yang berjasa dan telah turut andil dalam membangun cita-cita kemerdekaan, ia tidak akan pernah mati dalam mata sejarah, walau bagaimana pun kuasa menguburnya dalam lumpur, akan tetapi ia akan senantiasa bersinar menembus dalamnya lumpur buatan kekuasaan. Dan Tan Malaka yang dikubur oleh sejarah negeri sendiri, tetapi hidup dan bercahaya dinegeri orang lewat pena para sejarahwan yang objektif menilai dan mendalami ruang-ruang misteri perjuangan yang digubah oleh Tan Malaka.

Adalah Rudolf Mrazek yang mengukir Tan Malaka lewat bukunya “Tan Malaka a Political Personality’s Structure of Experience”, Kemudian Harry Poeze telah mengabadikan Tan Malaka lewat bukunya setebal 2194 halaman dan berharga 99,90 euro. “Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolution 1945-1949.” Dan menjelang tahun 1980-an, terjadilah arus balik penulisan sejarah Tan Malaka terutama di Eropa, Mulai dari Belanda dengan karya Harry Poeze, sampai ke Australia yang ditulis oleh Helen Jarvis. Penulisan sejarah Tan Malaka di luar negeri ini menjadi bukti bahwa Tan Malaka bercahaya di negeri orang, dan diredupkan di negeri-Nya sendiri.
Sesuai dengan hantaran di atas, maka pantaslah pertanyaan ini dilemparkan “Apakah Tan Malaka pahlawan Indonesia? Sebab terlalu besar mengangapnya menjadi pahlawan dari bangsa yang menganggapnya kecil.

(c) : Muhammad Sholihin)

Jumat, 05 Maret 2010

Politik (Praktis) dan Ketenangan SBY : Berkaca dari Koalisi SBY-Boediono

Oleh : Muhammad Ilham

Melihat Sidang Paripurna DPR (Kasus Bank Century) tadi malam, saya teringat ucapan mendiang Raja FAISAL dari Arab Saudi yang dikutipnya dari Ann Richards : "Aku Selalu Bilang bahwa dalam ber-POLITIK, musuh-musuhmu tak akan bisa melukai-mu, TAPI, teman-temanmu akan membunuh-mu" (Muhammad Ilham : Facebook)

Dalam praktek politik, dikenal diktum keramat ” Tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang abadi itu hanyalah kepentingan politik individu atau kelompok”. Walaupun sebuah koalisi dibangun dengan ”tembok” kokoh-kuat, apalagi kemudian diperkuat dengan penandatanganan kontrak politik antarelite politik, bila hanya didasari kepentingan strategis (untuk tidak menyebut : instan) mereka yang berkoalisi tanpa didukung oleh ideologi dan program kabinet yang solid, akan hancur saat kepentingan politik yang mereka perjuangkan mulai tampak berbeda. Fenomena politik ini amat kasatmata terjadi pada koalisi partai-partai politik pendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Hanya karena perbedaan kepentingan politik terkait dengan posisi masing-masing partai anggota koalisi pada Panitia Khusus (Pansus) DPR tentang Hak Angket Bank Century, koalisi partai yang dibangun Yudhoyono bersama Partai Demokrat (PD), Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kini mulai retak dan menjurus pada pecah kongsi.

Secara garis besar, koalisi partai pendukung pemerintah itu kini terbagi ke dalam dua kubu besar. Kubu pertama yang setia mendukung pemerintah, yaitu PD dan PKB, dalam pemandangan awal fraksi di dalam Pansus itu berpendirian bahwa pemberian dana talangan (bail out) terhadap Bank Century dilakukan demi mencegah krisis perbankan dan ekonomi nasional sudah sesuai dengan aturan perundang-undangan dan tidak ditemukan unsur melawan hukum. Sebaliknya, kubu kedua yang kritis terhadap pemerintah dan ingin ”mengingatkan sahabat dan kawan sekoalisi”, yaitu Golkar, PKS, PAN, dan PPP, menduga kuat ada penyimpangan dan perbuatan melanggar hukum dalam proses bail out.

Penyelesaian konflik di dalam internal koalisi seharusnya dilakukan Yudhoyono melalui cara berdialog langsung dengan para elite partai pendukung koalisi. Melalui proses ini akan terjadi kesepahaman dan penyelesaian politik yang saling menguntungkan, apakah bentuknya symmetric win-win solution ataupun asymmetric win-win solution. Pendekatan zero sum game menuju pada win-lose atau lose-lose solutions tentunya tidak menguntungkan koalisi. Bagi rakyat keseluruhan, jika koalisi ini pecah kongsi, ini akan menimbulkan iklim yang baik di dalam sistem politik Indonesia, di mana akan ada kesejajaran kekuatan antara eksekutif dan legislatif sehingga proses checks and balances dapat berjalan normal. Namun, bagi Presiden Yudhoyono, ia akan sulit mengelola pemerintahan di dalam situasi anggota DPR dari partainya yang belum memiliki kecanggihan di dalam berpolitik (tentang hal ini : baca artikel dibawah!)

Tadi malam kita melihat, meski dihajar babak belur oleh parlemen lewat Pansus Angket Century, SBY rupanya tenang saja. Memang, sempat diakui kalau dirinya dalam keadaan harap-harap cemas melihat proses dan prilaku Pansus. Tetapi perasaan itu dikuburnya dalam-dalam dan diganti dengan perasaan tenang dan tegas bahwa dirinya mengapresiasi hasil Pansus meskipun tetap akan mempertahankan posisi orang-orang tercintanya, Boediono dan Sri Mulyani Indrawati yang dituding bertanggung jawab atas bailout Century. SBY menepis semua perkirakan banyak orang yang menyatakan akan marah besar terhadap Partai Golkar, PKS dan PPP yang dinilai telah berkhianat kepada koalisi yang dipimpinnya. Justru SBY malah menganggap urusan utak-atik koalisi dan reshuffle kabinet bukanlah hal penting. Prioritas SBY panca tuntasnya kasus Century di DPR adalah bekerja keras untuk menciptakan kesejahteraan rakyat secara nyata. Seperti resi, SBY ingin terlihat sabar, arif dan dewasa, bersih dan suci, tetapi tetap tegas dan berwibawa. SBY tidak ingin merespon secara reaktif keputusan DPR dengan terpancing dan melakukan tindakan seperti anak kecil yang ngambek dan mencak-mencak seperti anak kecil. SBY justru ingin menunjukkan sebagai negarawan sejati yang memikat hati rakyat untuk selalu mengatakan, ‘SBY benar’. Benarkan SBY sudah menjadi resi? atau sekian rencana sudah siap diluncurkan dibalik kelembutannya itu? Hanya Allah yang tahu !

(ada beberapa kalimat yang dikutip dari www.vivanews.com dan www.detik.com/5 Februari 2010)