Sabtu, 24 Desember 2011

Kim Jong Il, Korea Utara dan Mitos Figur

Oleh : Muhammad Ilham




Sumber : youtube.com

Kematian Presiden Korea Utara .... Kim Jong Il dan sebelumnya (ayah beliau) Kim Il Sung, memberikan pemahaman kultural menarik bagi kita ditengah-tengah berkembangnya kultur rasionalitas, terutama dalam ranah politik. Sangat "tipis" beda antara pengkultusan dengan cinta. Ketika melihat apa yang dipublish youtube ini, mengingatkan saya (kembali) dengan apa yang pernah dikemukakan Bung Hatta : "Kultus, membuat daya kritis dan kewarasan kita hilang". Zaman nampaknya tak lepas dari pengkultusan. Lihatlah, kala skuad Sepak Bola Korea Utara yang dianggap sebagai tim penuh "misteri" pada perhelatan Piala Dunia Afrika Selatan Juni lalu, begitu mengagungkan pemimpin mereka, Kim Jong-Il. Dalam wawancara skysport dengan kapten tim sepakbola negara yang beribukotakan Pyongyang ini, kebanggaan apa yang akan kalian persembahkan buat rakyat Korea Utara?. Jawab si-kapten ini sederhana : "pertama kami persembahkan bagi Bapa Agung Kim Jong-Il, ia yang bisa mengubah pasir jadi padi, membuat bom dari batang pohon tinggi, pusat partai yang gilang gemilang tinggi menjulang tak terbilang", kata si-kapten dengan sesegukan. Sulit untuk memahami mengapa semua ini terjadi. Tapi semua itu adalah contoh dari begitu banyak pemimpin yang dikultuskan. Stalin, yang bernama lengkap Joseph Ilyich Stalin ini, memiliki banyak koleksi gelar yang luar biasa, "Pemimpin Besar nan Agung Rakyat Sovyet", "Genius Ummat Manusia", "Cahaya Pembimbing Ilmu", "Ahli Agung Dalam Hal Keputusan-Keputusan Revolusioner Yang Berani" dan entah apalagi. Konon, menurut sejarawan Anton Antonov, ada 24 gelar menjulang disematkan kepada pemimpin yang identik dengan horor-state ini.

Ada pemujaan yang tulus, yang tidak memiliki hubungan dengan kekuasaan yang besar. Manusia bisa idiot sekali merindukan sang Terkasih, sang Pujaan, Sang Bapak dan seterusnya, perwujudan dari segala yang diidam-idamkannya. Dan ketika Tuhan tak diyakini lagi atau disingkirkan dari perbendaharaan kata - misalnya kasus Korea Utara, kasus Bung Karno, kasus Stalin diatas - maka sang Terkasih, sang Pujaan, Sang Bapak dan seterusnya hadir pada sosok Bung Karno, Stalin dan Kim, bahkan bisa pada artis, SBY ataupun Mbah Maridjan. Maka beruntunglah bagi orang yang percaya bahwa Tuhan tak bisa digantikan dan nabi-pun tak ada lagi setelah berakhir pada Muhammad bin Abdullah. Karena itulah, Islam mengajarkan, jangan sekali-kali "menduakan" Tuhan, karena membuat kamu tak waras dan tidak memiliki kemampun berfikir kritis. Hatta benar, dan ia tak mau "menduakan" Tuhan, karena ia ingin tetap waras dan kritis.

Kembali ke Kim Jong-Il. Sebagaimana yang ditulis vivanews.com, Korea Utara tidak bisa dipisahkan dari "dinasti Kim", bermula dari Kim Il-Sung, terus ke Kim Jong-Il dan (kemungkinan besar) Kim Jong-Un. vivanes.com dalam "sorot" mengatakan bahwa dari ayahnya Il-sung, Kim Jong-il juga mewariskan negara yang susah. Krisis pangan menghantui rakyat Korut selama 20 tahun terakhir. Mereka juga bermasalah dengan energi. Di bawah Kim Il-sung, Korut adalah negara mandiri, pertumbuhan ekonominya stabil. Tapi belakangan, Korut makin tertutup dengan doktrin “juche” yang kadang ekstrim, dan menolak Korut terintegrasi di pasar global. Ekonomi negeri itu akhirnya terkucilkan, dan lalu merosot. Setahun setelah Kim Il-sung wafat persoalan pun muncul. Sebagai pemimpin baru, Kim Jong-il dihadang bencana kelaparan di negeri itu. “Kelaparan selama 1995-1997 membunuh lebih dari satu juta warga, dan menciptakan generasi kurang gizi," ujar Lind di jurnal Foreign Affairs, 25 Oktober 2010. Separuh anak-anak di Korut dicurigai lumpuh, dengan berat di bawah standar.

Soal kesehatan ini memang memprihatinkan. Seorang warga Indonesia yang pernah bertugas di Korut, Andreza Dasuki, misalnya bercerita betapa sulit fasilitas medis di sana. Bertugas sebagai diplomat Indonesia di Pyongyang pada 2006-2008, Andreza mengatakan rakyat Korut menderita oleh embargo internasional. Soal pangan, misalnya, sangat terasa sulitnya. Andreza mengutip data rekannya di Badan PBB di Korut, menurut kalkulasi, negeri itu akan selalu kekurangan beras 1 hingga 1,5 juta ton. Tak banyak tanah yang baik ditanami, dan kondisi alam hanya bisa sekali panen. Obat-obatan juga langka. Andreza pernah punya pengalaman dapat obat kadaluarsa, yang mungkin dari stok lama bantuan internasional. “Mereka tak punya peralatan teknologi tinggi memadai. Stetoskop aja masih terbuat dari kayu,” Andreza mengisahkan. Terisolir dari perdagangan internasional, pasokan kebutuhan pokok dari luar negeri ke Korut pun terbatas. Bila ada barang masuk, rata-rata dijual pakai sistem cash and carry. Barang yang sudah masuk ke Korut akan dijual habis, tanpa mengenal kadaluarsa. "Khususnya makanan dan minuman. Kami harus berhati-hati terhadap barang-barang kadaluarsa. Itu pemandangan umum di pertokoan," kata Andreza.

Di tengah keterbatasan itu, Andreza hormat atas sikap pemerintah Korut yang berupaya membantu orang asing. "Kita disediakan tim dokter khusus. Mungkin karena kami dari misi diplomatik, tapi juga mereka menghormati Indonesia sejak zaman Bung Karno, yang bersahabat dekat pemimpin pertama Korut yang sangat mereka hormati, Kim Il Sung," kata Andreza. Tapi diplomat asing tak gampang berbicara dengan warga Korut. Kalau tanpa otorisasi dari pemerintah, jangan harap bisa bergaul dengan warga. Apalagi meminta keterangan mereka. "Selama dua tahun di Pyongyang, tak sekali pun kami dapat mengunjungi rumah warga asli. Akses sangat dibatasi," kata Andreza yang di kedutaan bekerja di bidang sosial dan budaya. Pemerintah Korut hanya mengizinkan orang asing berkunjung ke simbol kebesaran negara. Meskipun di pedalaman, lokasinya sudah disterilkan. “Sama sekali tidak mewakili realitas masyarakat mereka," dia melanjutkan. Di negeri penuh pengawasan ketat itu, kata Andreza, Korut membuat orang asing di sana seperti "boneka di lemari kaca". Artinya, warga asing itu bisa melihat, tapi tak tahu apa yang terjadi di luar kaca. “Di lemari itu, kita bebas melakukan apa saja. Tapi tak berpengaruh kepada lingkungan di luar kaca," ujar Andreza. Warga Korut juga tertutup terhadap orang asing. Meski sudah akrab di satu tempat, belum tentu ramah jika berjumpa di lokasi lainnya. "Mereka akan cuek atau pura-pura tak tahu bila kita bertemu pada lokasi bukan tempat mereka bekerja," kata Andreza. Memang ada resto dan karaoke bagi orang asing. Tapi itu sepertinya juga kendali pemerintah lokal memantau orang asing. Andreza, misalnya, pernah mengujungi taman, atau kebun binatang. Tapi kondisinya menyedihkan. Yang paling kuat terasa di Korut adalah kepatuhan absolut pada pemimpin. Mungkin karena agama dilarang, maka panutan nilai kehidupan adalah apa yang diajarkan pemimpin mereka. "Semua nilai kebenaran mengacu pada ajaran Kim Il Sung, Bapak Rakyat Korea Utara,” ujar Andreza.

Tidak ada komentar: