Minggu, 01 Mei 2011

"Memerangi" Terorisme dan Kebijakan Kontradiktif

Oleh : Muhammad Ilham

Pada hakikatnya perang adalah teror juga !"
(Edward Said : 1996)

Noam Chomsky, secara terang-terangan melempar tuduhannya pada AS sebagai lumbung aksi terorisme. Dengan menunjukkan sejumlah data, Chomsky melihat sebuah paradoks terorisme yang sangat kontradiktif dilakukan oleh AS. Berdasarkan pengalaman historis, menurut Noam Chomsky, AS telah mengkondisikan aksi teror di sejumlah negara, seperti Nikaragua, Elsalvador, Palestina dan Lebanon, yang justru menimbulkan jumlah korban sipil yang jauh lebih banyak dari korban tragedi bom di WTC, 11 September 2001 (Noam Chomsky : 2005)


"Azahari, Noordin M. Thop, Dulmatin, adalah beberapa diantara tokoh teroris di Indonesia yang dikenal oleh kawan-kawannya sebagai seorang muslim yang taat, berakhir di ujung peluru Densus 88 Anti Teror”, demikian intro salah satu TV Swasta ketika membahas kematian "Human Bombers" MuhammadSyarif serta tertangkapnya (?) Umar Patek di Pakistan. Umar Patek dan Dulmatin adalah orang yang ”dihormati” kelompok Abu Sayyaf Minadanao ini. Jangan ditanya tentang Azahari yang Doktor Fisika asal Malaka Malaysia serta "secondan"nya Noordin M. Thop, mereka berdua hingga hari ini masih menjadi "momok", inspiring bagi para pengagumnya yang "satu ideologi" dengan mereka. Ya..... Teroris yang Muslim taat. Rasanya terdapat ”sense” contradiksi disana. Secara kategoris mengandung contradictio-interminis, karena sejatinya, seorang muslim bukanlah teroris. Karena Islam sangat jelas melarang terorisme maka idealnya seorang muslim tak mungkin menjadi teroris. Tapi pada faktanya, ada Almarhum DR. Azahari, Noordin Mohammad Thop, Abdul Azis alias Imam Samudra, Amrozi, dan belakangan Dulmatin serta kawan-kawannya. Mereka, menurut kesaksian teman, guru, atau keluarganya, merupakan muslim yang taat dan rajin membaca al-Quran. Ketaatan mereka, barangkali, meminjam istilah Kuntowijoyo, masih subyektif dan belum mengalami proses obyektivikasi. Ketaatannya terhadap agama belum berfungsi konstruktif secara sosial. Terlepas apakah mereka benar-benar sebagai pelaku utama, sekadar “peran pembantu”, atau bahkan “wayang”, yang jelas, pengakuan mereka telah meledakkan bom (antara lain) di Legian, Kuta, Bali, 12 Oktober 2002 lalu dan Bom Bali II bulan Oktober 2005 yang lalu menunjukkan bahwa mereka benar-benar teroris. Keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan jihad fi sabilillah sekadar menambah bukti bahwa terminologi/konsep jihad memang potensial disalahartikan.

Memang benar bahwa terorisme tak ada kaitan dengan Islam. Tak ada satu ayat pun dalam al-Quran yang mengizinkan, apalagi menyuruh seseorang menjadi teroris. Demikian juga Hadits Rasulullah. Tapi, harus cepat-cepat digarisbawahi bahwa hal itu sebatas doktrinal. Secara historis barangkali amat sulit menghindarkan Islam dengan tindakan apapun yang mungkin bisa dilakukan oleh para pemeluknya, termasuk teror sekalipun. Mengapa? Karena Islam, seperti juga agama-agama lain, tidak berada di ruang hampa. Islam senantiasa bergumul dalam realitas obyektif yang menyejarah, ikut mewarnai dan membentuk kebudayaan manusia. Dalam bahasa antropolog Clifford Geertz, sebagai agama, Islam bukanlah sesuatu yang otonom. Secara apologetis siapa pun bisa mengatakan bahwa Islam tak bisa dikait-kaitkan dengan tindakan kejahatan seseorang karena Islam adalah ajaran suci sedangkan yang melakukan kejahatan adalah orangnya. Islam harus dibedakan dengan orangnya. Tetapi, sesuatu yang berbeda, tentu bukan berarti tak bisa berhubungan sama sekali. Islam bahkan senantiasa berhubungan dengan orang, karena seseorang baru bisa dikatakan muslim setelah ia berhubungan dengan Islam, dengan menjadi pemeluknya, meyakini kebenarannya, dan mengimplementasikan ajaran-ajarannya. Apalagi, Islam sendiri tidak akan diturunkan Allah jika tidak ada orang (manusia) di muka bumi. Islam justru diturunkan Allah untuk menjadi petunjuk bagi manusia (hudan linnas). Jadi, Islam dan muslim tak bisa dipisahkan satu sama lain.

Mengapa ada muslim yang menjadi teroris? Ada banyak sebab. Dari sudut pandang agama bisa dijawab dengan mengatakan bahwa manusia diciptakan Allah dengan segala kekurangan. Tentang kekurangan manusia banyak sekali disebutkan, baik dalam al-Quran maupun Hadits. Bahkan Rasulullah yang ma’shum sekalipun, suatu ketika pernah berbuat kesalahan walaupun ringan. Seorang muslim juga bisa menjadi teroris karena pemahamannya yang tidak proporsional tentang agama, baik karena kesalahan metodenya maupun karena kedangkalan ilmu agamanya. Di antara aspek agama yang paling sering ditafsirkan secara literal dan dangkal adalah konsep mengenai jihad fi sabilillah yang dianggap identik dengan aksi-aksi fisik seperti perang mengangkat pedang, senapan, atau meledakkan bom. Selain itu, ketidakadilan politik global juga sangat potensial melahirkan teroris, termasuk dari kalangan muslim. Kebijakan politik dunia yang tidak adil terhadap beberapa negara muslim misalnya, telah menimbulkan perlawanan dari segenap muslim yang menyadari betul ketidakadilan itu. Karena tidak berdaya melawan secara terang-terangan, ada di antaranya yang menempuh jalur inkonvensional, yakni dengan cara kekerasan dan teror. Kalau memang demikian, cara yang paling proporsional untuk menghindari kemungkinan tindakan teror, bagi muslim adalah dengan cara memperbaiki kembali pemahaman dan implementasi keislamannya. Pemahaman yang sempit dan dangkal harus diperluas dan diperdalam. Pemahaman yang subyektif individual harus diobyektivikasi sehingga konstruktif secara sosial. Sementara itu, bagi Amerika dan Rusia harus meninjau kembali dan memperbaiki kebijakan-kebijakan politik hubungan internasionalnya. Sayangnya, baik Amerika maupun Rusia (terutama Amerika) tampaknya tidak menyadari (atau pura-pura tidak tahu) adanya ketidakadilan dari kebijakan-kebijakan politik internasional yang ditempuhnya. Lantas, untuk menghapus terorisme, bukannya dengan cara memperbaiki kebijakan-kebijakan yang ditempunya, malah dengan menempuh jalan pintas : menggalang kekuatan dan menyerukan perang terhadap terorisme. Padahal, pada hakikatnya perang adalah teror juga. Perbedaan antara perang dan teror hanya sebatas prosedural, pertama legal sedangkan yang kedua ilegal. Pada faktanya sama saja, berupa pembantaian massal. Dan, karena pembantaian akan menimbulkan trauma dan dendam kesumat yang berkepanjangan maka, tampaknya, teror pun kemungkinan besar tidak atau belum akan lenyap dari muka bumi.

Referensi : Kuntowijoyo (1999)/Sumber Foto : FreakingNews.com

Tidak ada komentar: