Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2014

Lawak dan Sinisme (Lain) Terhadap Politik

Oleh : Muhammad Ilham

Begitulah ............. !!

Acara Parodi Politik Sentilan Sentilun dan acara sejenisnya, justru melawan dengan melawak. Sayatannya, sayatan daging, masyarakat bisa ketawa, jualan pun terjual pula. ada sarkasme dan sinisme dalam bahasa "ketawa" yang terkandung didalamnya. 

Dengarlah, ketika Butet Kertaradjasa (Sentilan Sentilun) berkisah dengan sedikit improvisasi : Bertanyalah seorang anak 10 tahun pada si ayah, "Ayah, apa itu politik?" Sebuah pertanyaan "high" bagi anak seusianya. Setelah cukup lama terdiam, sang ayah-pun menjawab dengan improvisasi, "Politik itu seperti keluarga kita. Ayah mendapatkan uang untuk keluarga kita, ayah adalah KAPITALIS. Sedangkan IBUmu memakai uang yang ayah cari itu untuk menguruskan keluarga kita, jadi IBU adalah NEGARA. Sedangkan, kak IRA (nama imajiner : Pembantu Rumah Tangga) adalah golongan pekerja. Kamu adalah rakyat dan adik kamu adalah generasi masa depan. Lai paham wang ??" Si anak bingung. Ia tak paham sedikitpun. Lantas si ibu menyela, "Tak apa, malam ini waktu hendak tidur, kamu fikirkan apa yang ayah ucapkan itu, kemudian coba pahami. Oke. ayo, habiskan makanan, cuci kaki, gosok gigi ... bobok !" 

Si Anak yang 10 tahun ????? ........... semalaman si anak berusia 10 tahun itu tidak dapat lelapkan matanya gara-gara memikirkan, apa itu politik. Ia resah, dan mengambil kesimpulan, "ingin tidur dekat ayah dan ibunya". Ketika sampai di kamar orang tuanya itu, si anak melihat ibunya telah lena-lelap, sementara sang ayah entah kemana. Akhirnya, ia mengambil keputusan, "tidur saja di kamar Kak IRA (si pembantu rumah tangga). Ketika ia membuka kamar si pembantu, terlihat ayahnya lagi main "cacing gila" dengan si Kak IRA. Terpana, ia lantas menuju kamarnya. Tidur !! 

Sewaktu bersarapan esok pagi, si ayah bertanya, "Sudah tahu apa itu politik?" 

Si anak menjawab dengan ketus, "sudah !". 

Si anak tanpa mengangkat muka melihat ayah dan ibunya, dengan tenang menjawab. "Sewaktu NEGARA sedang asyik tidur, golongan KAPITALIS menodai golongan PEKERJA. Akibatnya rakyat diabaikan dan masa depan bergelumang najis ! Itulah POLITIK".

Sumber foto : aris thofihara fb

Jumat, 27 Desember 2013

Politic .... ?

Sore itu :
bertanyalah seorang mahasiswa saya, "dalam pemahaman yang teramat sederhana, berdasarkan apa yang sering terjadi selama ini di lingkungan kita, apa sebenarnya praktek politik itu ?". 

(Maka) .... seumpama gambar inilah, dinda. Bentuk wajahnya jelas.  
Tapi lihatlah, begitu banyak kepentingan dan tarik menarik.

artgallery

Kang (D)jalal dan PDI-P

Oleh : Muhammad Ilham

Dr. KH. Djalaluddin Rahmat atau biasa dipanggil Kang Djalal ini, ketika saya menjadi mahasiswa (1992-1999), merupakan idola banyak orang-orang kampus, khususnya berbasis keilmuan (Islam) berbarengan dengan Cak Nur, Cak Nun, Amien Rais dan Gus Dur. Beliau adalah "referensi" sangat menarik tentang Islam dan Peradaban. Saya bangga padanya. Pikirannya bernas, cerdas, memiliki kedalaman ilmu agama yang luar biasa (padahal ia Doktor Komunikasi Politik .... jadi ingat dengan kedalaman ilmu Imaduddin Abdulrahim yang Doktor matematik itu). Analisisnya tajam, bahasa Arab bagus, bukunya banyak dibaca dan gaya bahasanya amat menarik. Ia idola banyak mahasiswa dan orang Indonesia. Belakangan Saya terpana, mengapa pengarang buku "Islam Aktual" dan "Islam Alternatif" serta Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) ini melabuhkan aspirasi politiknya ke PDI-P, mengapa bukan ke Partai Islam ?

Suatu ketika, disebuah media online, Kang Djalal yang pintar dan zuhud ini, ditanya mengapa mau menjadi calon legislatif partai yang bukan berbasis Islam ?. Pendiri Yayasan Mutahhari Bandung yang terkenal itu, kemudian menjawab, "hanya PDI-P yang tidak mengkafirkan saya. Hanya PDI-P yang selama ini melindungi kebebasan berpendapat kami. Partai Islam serta Menteri Agama, hanya menjadikan kami sebagai komoditas politik dan memonopoli sorga".
 
Konon, ummat Islam di Indonesia berkurang drastis secara statistik. Mengapa ? ...... karena Syi'ah dianggap bukan Islam.  hehe !!! 

(c) muhsin labib

"Media Darling" Zaman

Oleh : Muhammad Ilham

hbr.org
Betapapun hebatnya seorang pemimpin, pasti ada celah-celah tertentu yang enak untuk dikecam. Bila ia sukses di satu bidang, dibidang lain ia akan "ditembak". Dan biasanya, kesuksesan besar dan kelebihan utama seseorang itu akan abih tandeh oleh secuil kesalahannya. Jangankan Habibie, Mega, Abdurrahman Wahid ataupun SBY, tokoh besar se"gadang" Soekarno dan Gamal Abdel Nasser juga tak luput dari hal sedemikian. Soekarno, misalnya. Siapa yang meragukan kebesaran dan ketokohannya. Pemersatu bangsa, proklamator, tokoh bangsa, pejuang kemerdekaan tanah air sejak muda, penggali Pancasila ...... tapi (masih ) teramat sering kita mendengar tentang "kegenitannya". Bahkan - meminjam istilah tokoh posmo Jean Bauddrillard - Soekarno dianggap "megalomania", orang yang gemar serba besar dan serba cemerlang. Bahkan Cindy Adams, penulis biografi Soekarno, pernah mempertanyakan (sekaligus menjawab sendiri), mengapa Soekarno begitu suka menggunakan berbagai lambang dan logo kebesaran di dadanya. "Pasti terlihat gagah dan jumawa", kata Cindy Adams. Soekarno-pun meng-iyakannya. Ditengah "megalomania"nya ini, sejarah mencatat rakyat masih susah. Tapi kenyataannya, ketika "Putra Fajar" ini meninggal dunia, ia tidak meninggalkan kekayaan buat keluarganya. Walau gosip tentang kekayaannya yang "tertanam" di negeri antah berantah (hingga) kini masih terus dijaga oleh sebagain orang. Soekarno yang "besar" itu (tetap) terus disalahpahami.

Jokowi sekarang menjadi "media darling", bahkan mengalahkan "pemilik sah ideologis yang dianutnya" - Megawati. Ketika anarkisme atas nama agama sedang berkembang di negeri ini, orang merindukan Gus Dur. Ketika Ahmadiyah, Syi'ah dan aliran keagamaan lainnya disudutkan, kerinduan terhadap ayah Yenny Wahid ini membuncah di setiap nafas publik. Ketika berbicara masalah NKRI, orang akan mengingat Megawati dan ayahnya Soekarno. Pada suatu ketika, orang merindukan kemajuan teknologi, masyarakat akan mengingat Habibie. Setiap BBM mau naik, pak Harto akan disebut dalam "zikir" publik. begitulah ........ kita dan termasuk saya, kadang-kadang mudah melihat sisi-sisi jelek seorang pemimpin. Nilai baik dan inspiratif yang mereka tawarkan, justru dianggap pencitraan. Saya yakin, beberapa tahun ke depan, tak kecil kemungkinan, Gus Dur, Megawati dan SBY dibaca dengan penuh gairah pada masa cucu-cicit kita kelak. Sedangkan Presiden pada masa mereka, akan dihantam teruk. Semoga tidak dan semoga saya salah.

>>> merupakan penggalan artikel saya di Kompasiana dengan judul, "SBY, Jokowi & Objektifitas". Dalam bentuk makalah lengkap, diterbitkan oleh Jurnal Fakultas Adab IAIN STS Jambi, Desember 2013 dengan judul, "Aktor Sejarah dan Politisi : Dimensi Subjektifitas Historis dan Subjektifitas Politik".

Kriminalisasi Pemikiran Kelompok Intoleran


Menurut Muhammad Ilham, fenomena tersebut sebagai bentuk "Kriminalisasi Pemikiran" yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak mengakui kebhinekaan di Indonesia.  Dalam aspek manapun, penyerangan termasuk rencana penyerangan, adalah sesuatu yang menyalahi 'semangat bernegara'. Tidak ada dasar juridis maupun historis orang melakukan penghancuran sebuah tradisi keilmuan, ujar dosen sejarah dan sosiologi politik itu, Sabtu (23/11). 


IRAN RADIO BROADCASTING (irib) - Sebuah lembaga kecil di Yogyakarta baru-baru ini menjadi target ancaman penyerangan oleh kelompok intoleran yang menuding tempat berdiskusinya para mahasiswa itu sebagai agen penyebaran ajaran Syiah kota pelajar itu. Tapi rencana aksi anarkis terhadap Institut Rausyan Fikr berhasil digagalkan berkat kesigapan aparat keamanan dan pemerintah Yogyakarta. Sebelumnya, beredar ancaman penyerangan yang sudah merebak sejak Kamis, 21 November 2013. Yayasan yang berlokasi di jalan Kaliurang ini menerima peringatan dari kepolisian dan Kantor Wilayah Kementerian Agama, Sleman, tentang adanya ancaman serangan yang diduga akan dilakukan kelompok yang mengklaim sebagai Majelis Mujahidin Indonesia, Forum Umat Islam dan Front Jihad Islam usai shalat Jumat. Sejumlah spanduk terpampang di berbagai lokasi strategis di Yogyakarta yang menyatakan Syiah bukan Islam, dan Rausyan Fikr sebagai agen penyebar ajaran Syiah. 

"Mereka tidak hanya keliru, tetapi sudah sesat," kata komandan lapangan Front Jihad Islam Yogyakarta Nurohman  dengan nada berapi-api, Jumat, (22/11), seperti dilansir media lokal.

Sementara itu, Juru bicara Rausyan Fikr, Edy Syarif membantah tudingan tersebut. Menurut Edy, yayasan yang berdiri sejak tahun 1995 ini hanya forum kajian pemikiran Islam dari berbagai aliran, termasuk Syiah. Selain aktif membuka kelas filsafat dan pemikiran Islam, Rausyan Fikr juga menerbitkan buku-buku filsafat dan keagamaan, termasuk Syiah yang mencapai 20 buku.  "Secara institusi tidak Syiah, tetapi orang-orangnya ada yang Syiah" ujar Edy. 

Mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta ini menolak anggapan bahwa Yayasan Rausyan Fikr sebagai bagian dari lembaga Syiah Indonesia. Menurutnya, Rausyan Fikr bukan anggota IJABI maupun ABI, dua organisasi payung penganut Syiah di Indonesia. "Yayasan ini hanya rajin menggelar kajian terhadap pemikiran tokoh Syiah seperti Muthahhari, Ali Syariati dan lain-lain, " tegasnya. Pernyataan Edy diamini oleh beberapa orang yang pernah terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan Rausyan Fikr. Iqbal Aji Daryono, yang pernah mengikuti kursus filsafat Islam di Rausyan Fikr mengungkapkan institusi itu sangat terbuka dan tidak ada ajakan menjadi Syiah. 

"Saya pernah ikut kursus filsafat Islam di Rausyan Fikr. Kami diskusi secara sangat sehat dengan tradisi rasionalisme yang menyenangkan. Semua berpikir terbuka. Buku-buku yang dipelajari di sana juga sangat beragam dari Mutadha Muthahhari hingga Karl Marx. Tak ada sama sekali ajakan untuk menjadi Syiah, dan di sana saya tetap bisa nyaman dengan ke-Sunnni-an saya, " tutur alumnus Jurusan Jurnalistik UGM yang saat ini berdomisili di Australia, Sabtu (23/11) di jejaring sosial. Ketua Dukuh Manggung, Depok, Sleman, Sujiman mengatakan mereka yang belajar di Rausyan Fikr, yang dituding Syiah oleh sejumlah kalangan intoleran, adalah warga negara yang baik dan terbuka, serta berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Sujiman juga membantah tudingan kelompok intoleran bahwa aktivitas keagamaan di Institut Rausyan Fikr berbeda dengan penganut Islam lainnya. "Saya kira tidak, wong mereka juga shalat jamaah di masjid kampung kok. Kayaknya sama aja tu. Tapi saya tidak tahu kalau ada pihak yang menilai beda. Sebagai penganut Islam, saya kok menilai sama aja tu," kata Sujiman, seperti dilansir sorot jogja Jumat (22/11). Seperti menimpa Rausyan Fikr, seorang dosen di Bandung yang Sunni Ahad (23/11) mengeluhkan beredarnya pesan singkat melalui BBM bahwa lembaga Quran miliknya mengajarkan Syiah. Serangan kubu intoleran juga dilancarkan tehadap Ketua PB NU yang dituding melindungi Syiah di Indonesia. Pada 9 November lalu, situs Arrahmah secara keras menyerang Ketua PB NU dalam tulisan berjudul "Dr. Said Aqil Siradj Dulu dan Kini". Situs Islam garis keras pimpinan Muhammad Jibril, yang pernah ditahan polisi karena terlibat aksi terorisme, menyerang ketua PB NU gara-gara kiai Said menyebut Syiah sebagai bagian dari Islam dalam sebuah pernyataannya beberapa waktu lalu. 

Eskalasi gelombang tekanan kelompok intoleran terhadap minoritas Muslim Syiah di Tanah Air semakin meningkat belakangan ini. Menurut Muhammad Ilham, fenomena tersebut sebagai bentuk "Kriminalisasi Pemikiran" yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak mengakui kebhinekaan di Indonesia. "..dalam aspek manapun, ...penyerangan termasuk rencana penyerangan, adalah sesuatu yang menyalahi 'semangat bernegara'. Tidak ada dasar juridis maupun historis orang melakukan penghancuran sebuah tradisi keilmuan," ujar dosen sejarah dan sosiologi politik itu, Sabtu (23/11). "Bila ini dilakukan, seperti ancaman penyerangan terhadap Rusyan Fikr, [maka] termasuk 'kriminalisasi tradisi keilmuan'," tegas dosen IAIN Imam Bonjol Padang. (IRIB Indonesia)

Kamis, 18 Juli 2013

SBY, Jokowi & Subjektifitas

Oleh : Muhammad Ilham

Sudah sekian generasi  kita melakukan (termasuk saya) : "ketika seorang pemimpin yang satu dijulang disanjung setinggi bintang, sementara pada sisi lain, seorang pemimpin dihantam-teruk, tak ada yang baik sedikitpun apa yang ia lakukan".    

(c) istockphoto.com
Lihatlah, seperti bumi dan langit perlakuan publik dan media kepada dua tokoh terbaik kita saat ini - JOKOWI dan SBY. Secara personal, saya mengagumi kedua orang ini, terlepas baik buruknya mereka berdua, sebagaimana saya juga menyukai nilai-nilai baik Soekarno, Soeharto, Habibie, Gusdur dan Megawati. Mereka PASTI disukai publik pada masa mereka, kalau-lah tidak, mana mungkin mereka menjadi pemimpin negeri 220 juta jiwa ini.  Jokowi rajin blusukan, melakukan kunjungan yang "non-elit" dan bercengkerama dengan masyarakat di pinggir kali. Publik secara serentak akan mengatakan Jokowi sebagai prototipe pemimpin terbaik dan "luar biasa". Media dalam headline-nya akan sepakat memberitakan mantan Walikota Solo ini, "tipikal pemimpin bekerja nyata" (demikian kira-kira). Lalu, ketika SBY dan anggota kabinetnya (katakanlah : Dahlan Iskan, Hatta Rajasa dan seterusnya) melakukan hal yang serupa, maka suara mayoritas publik yang dituntun oleh media akan sepakat mengatakan : PENCITRAAN. Ketika Jokowi asyik bermain gitar dan menonton konser Heavy Metal, Insyinyur Kehutanan tamatan UGM ini akan dikatakan sebagai pemimpin yang gaul, mengikuti selera zaman dan seterusnya. Pada sisi lain, ketika SBY yang putra Pacitan itu memetik gitar, bernyanyi bersama dan membuat album (ini juga dilakukan banyak pemimpin-pemimpin daerah belakangan ini), maka SBY akan dikatakan "lebih mengurus musik dibandingkan negara". SBY teramat dilekatkan dengan pencitraan, apapun yang dilakukannya. Beda dengan Jokowi. Apapun yang dilakukannya, masuk ke dalam gorong-gorong sekalipun, akan dianggap sebagai peristiwa luar biasa ..... (ketika Dahlan Iskan melakukan hal serupa, ia justru dihantam dengan label pencitraan murahan). Ketika banjir, sampah dan persoalan sosial lainnya masih tak beranjak dari Jakarta, Jokowi selalu "dimaafkan". Ketika SBY menghardik Gubernur yang tertidur pada waktu rapat kordinasi pimpinan daerah, media justru menganggap SBY bukan pemimpin yang baik. Bandingkan dengan Ahok (secondan Jokowi) yang menghardik "keras" dan mempublishnya di you.tube .......... publik dan media mengapresiasinya.  

Sekali lagi, saya bukan mendikotomikan antara Jokowi dan SBY. Tapi begitulah kita, termasuk saya, kadang-kadang. Ketika SBY mencalonkan diri menjadi Presiden pada tahun 2004, suami Ani binti Sarwo Edhie Wibowo ini dianggap media dan publik sebagai "Imam Mahdi" karena Presiden petahana (incumbent) waktu itu - Megawati Soekarnoputri dianggap sebagai Presiden "lemah", banyak diam dan sulit berdamai dengan emosi kewanitaannya (baca : pendendam dan sedikit introvert). SBY dijulang tinggi, Megawati dihantam teruk. Pada periode sebelumnya, justru Megawati dianggap sebagai "solusi" dari "kenyelenehan" Presiden Abdurrahman Wahid. Gus Dur "dikubak" aib personalnya. Kecerdasan serta kepintaran luar biasa cucu pendiri NU ini, dianggap tidak berguna. Hal yang sama juga berlaku ketika Habibie menggantikan Soeharto. Dalam rentang waktu satu tahun lebih beberapa bulan, Teknokrat jebolan Aanchen Universitet Jerman yang bergelar "Mr. Crack" ini dianggap sebagai figur muslim "borjuis" panutan dan dibanggakan. Suami Ainun "si mata indah" Besari juga dipandang kaum muslim Indonesia sebagai orang yang mampu "menghijaukan" ranah politik Indonesia era 1990-an. Pokoknya, ayah Ilham dan Tareq Habibie, walau badannya pendek, tapi otaknya cemerlang, bening sebening bola matanya. Bahkan penyanyi balada Iwan Fals merasa perlu untuk menulis satu bait dalam lagunya Guru Omar Bakrie : ....... lahirkan otak orang seperti otak Habibie. Habibie bahkan ditahbiskan sebagai "orang paling berpengaruh" di lingkaran Soeharto pasca kematian ibu Tien. Putra Mahkota Politik Soeharto, demikian kata indonesianist William Liddle di jelang Pemilu 1998. Pada era ini, perbincangan terpusat pada Habibie. Kecuali bagi yang iri-dengki, khususnya kalangan militer (maklum Habibie berasal dari kalangan sipil), hampir tak ada cela founding father Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) tersebut. Tapi, "mata indah bola pingpong" Habibie ini (kemudian) kehilangan kebeningan pada era 1999-an, seketika ia menjadi Presiden RI setelah lengser keprabon-nya Soeharto. Habibie yang dijulang tinggi pada masa Orde Baru, justru dipojokkan dari segala mata angin. "Bola matanya" yang bak bola pingpong diplesetkan jadi pemikiran bulat yang tak punya ujung pangkal. Bulat, memang tak bersegi. Mana pangkal, mana ujung tak dijumpai. Dan, kebeningan Habibie selama ini berubah drastis menjadi figur yang tidak menarik lagi bagi lawan politiknya. Habibie yang dianggap sebagai Presiden RI pembuka "kran" demokrasi ini, dituding-hina. Ia salah, mengapa Habibie jadi Presiden. Habibie justru dianggap sebagai sebagi Presiden gagal, dengan indikator yang jelas : Timor-Timur lepas dari pangkuan NKRI.  

Betapapun hebatnya seorang pemimpin, pasti ada celah-celah tertentu yang enak untuk dikecam. Bila ia sukses di satu bidang, dibidang lain ia akan "ditembak". Dan biasanya, kesuksesan besar dan kelebihan utama seseorang itu akan abih tandeh oleh secuil kesalahannya. Jangankan Habibie, Mega, Abdurrahman Wahid ataupun SBY, tokoh besar se"gadang" Soekarno dan Gamal Abdel Nasser juga tak luput dari hal sedemikian. Soekarno, misalnya. Siapa yang meragukan kebesaran dan ketokohannya. Pemersatu bangsa, proklamator, tokoh bangsa, pejuang kemerdekaan tanah air sejak muda, penggali Pancasila ...... tapi (masih ) teramat sering kita mendengar tentang "kegenitannya". Bahkan - meminjam istilah tokoh posmo Jean Bauddrillard - Soekarno dianggap "megalomania", orang yang gemar serba besar dan serba cemerlang. Bahkan Cindy Adams, penulis biografi Soekarno, pernah mempertanyakan (sekaligus menjawab sendiri), mengapa Soekarno begitu suka menggunakan berbagai lambang dan logo kebesaran di dadanya. "Pasti terlihat gagah dan jumawa", kata Cindy Adams. Soekarno-pun meng-iyakannya. Ditengah "megalomania"nya ini, sejarah mencatat rakyat masih susah. Tapi kenyataannya, ketika "Putra Fajar" ini meninggal dunia, ia tidak meninggalkan kekayaan buat keluarganya. Walau gosip tentang kekayaannya yang "tertanam" di negeri antah berantah (hingga) kini masih terus dijaga oleh sebagain orang. Soekarno yang "besar" itu (tetap) terus disalahpahami.  

Jokowi sekarang menjadi "media darling", bahkan mengalahkan "pemilik sah ideologis yang dianutnya" - Megawati. Ketika anarkisme atas nama agama sedang berkembang di negeri ini, orang merindukan Gus Dur. Ketika Ahmadiyah, Syi'ah dan aliran keagamaan lainnya disudutkan, kerinduan terhadap ayah Yenny Wahid ini membuncah di setiap nafas publik. Ketika berbicara masalah NKRI, orang akan mengingat Megawati dan ayahnya Soekarno. Pada suatu ketika, orang merindukan kemajuan teknologi, masyarakat akan mengingat Habibie. Setiap BBM mau naik, pak Harto akan disebut dalam "zikir" publik.  begitulah ........ kita dan termasuk saya, kadang-kadang mudah melihat sisi-sisi jelek seorang pemimpin. Nilai baik dan inspiratif yang mereka tawarkan, justru dianggap pencitraan. Saya yakin, beberapa tahun ke depan, tak kecil kemungkinan, Gus Dur, Megawati dan SBY dibaca dengan penuh gairah pada masa cucu-cicit kita kelak. Sedangkan Presiden pada masa mereka, akan dihantam teruk. Semoga tidak dan semoga saya salah.  

Catatan akhir : 
Seandainya DN. Aidit-Nyoto-Syam Kamaruzzaman berhasil "memerahkan" sistem politik Indonesia tahun 1965, niscaya kita tak akan menemukan Jalan Soedirman, Jalan Hamka dan seterusnya di jalan-jalan protokol. Pasti yang akan dijumpai adalah Jalan Tan Malaka, jalan Moeso, jalan Sneevliet, jalan Misbach, dan bisa jadi jalan Karl Marx. Tapi itu tak terjadi. 1965 seterusnya, "ideologi merah" adalah public enemy yang dibungkus cantik dalam bungkusan politik. Dan lihatlah beberapa tahun belakangan, justru ideologi merah sedang menjadi "cantik" di kalangan anak muda yang justru nantinya akan menjadi usang pada anak muda generasi berikutnya.

Malala Yousafzai : Nominem Nobelis 2013

One child
One teacher
One pen and one book
........... can change the world.
Education is the only solution.
Education First !
(Malala Yousafzai  nominem Nobelis 2013)

Siapa Malala Yousafzai ?
Berikut AFP, Sabtu (13/7/2013) : 

(c) time
Sosok remaja Pakistan Malala Yousafzai dikenal sebagai gadis remaja yang selamat dari penembakan kelompok Taliban, yang tidak suka melihatnya sekolah. Namun Malala bangkit dan bersumpah dirinya tidak akan bisa dibungkam. Malala Yousufzai dikenal namanya setelah berani menentang Taliban di saat Pemerintah Pakistan tidak memiliki kendali terhadap kelompok militan tersebut. Remaja perempuan yang masih bersekolah itu, aktif mendukung pendidikan untuk perempuan di Pakistan. Penembakan terhadap Malala terjadi ketika seorang pria bersenjata naik ke atas bus yang membawa anak-anak dari rumah menuju sekolah di Lembah Swat, pada Oktober 2012 silam. Tiba-tiba pria itu melepaskan tembakan ke arah Malala di bagian kepala dan lehernya. Pelaku pun melepaskan tembakan ke arah remaja lainnya di dalam bus tersebut. Setelah dirawat di Inggris, kondisi Malala akhirnya berangsur sembuh.  Setelah sembuh, Malala makin aktif menyuarakan pentingnya pendidikan untuk perempuan, khususnya di Pakistan. Dirinya pun diundang berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jumat 12 April. Dalam pidatonya, Malala akan terus melawan diskriminasi terhadap perempuan.

"Mereka (Taliban) berpikir sebuah peluru akan membungkam kami, tetapi mereka gagal," tegas Malala, seperti dikutip AFP, Sabtu (13/7/2013).

"Para teroris berpikir mereka akan mampu mengubah tujuan hidup dan menghentikan ambisi saya. Tetapi tidak ada yang berubah dalam hidup saya, kecuali kelemahan, ketakutan dan keputusasaan, semuanya sudah mati. Kekuatan dan keberanian lahir kembali," lanjutnya.

Berpidato tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-16, Malala mengaku dirinya tidak punya dendam pribadi dengan Taliban dan kelompok militan lainnya. Dia bahkan tidak membenci pelaku yang telah menyarangkan peluru di kepalanya.

"Saya menginginkan pendidikan untuk putra dan putri dari kelompok Taliban serta kelompok esktrimis lainnya. Saya bahkan tidak membenci Taliban yang telah menembak saya. Meskipun ada pistol ditangan, saya tidak akan menembaknya," tuturnya.
  

Jumat, 12 Juli 2013

Kembalikan putihnya sang Dwi Warna

Ditulis ulang : Muhammad Ilham
(c) Kafeel Yamin

(c) erepublik.com
Suatu saat saya menerima kiriman tautan-tautan dari seorang fesbuker yang tak saya kenal, ke inbox. Tautan-tautan itu terhubung kepada  situs-situs yang mempromosikan Aceh merdeka, di penuhi foto-foto para  demonstran di Eropa yang membawa spanduk menuntut berpisah dari NKRI. “Aceh mau pisah dari NKRI?” tanya saya, yang langsung dia jawab: “Tak ada bukti hitam diatas putih (Referendum) kalau Aceh bersatu dengan  NKRI. Aceh bisa hidup tanpa NKRI tapi NKRI tdk bisa hidup tanpa Aceh.” Saya bilang Juga tidak ada bukti hitam di atas putih kalau Sumatra Utara, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Timur, Bali, bersatu dengan NKRI. Tapi faktanya bersatu karena kehendak bersama. Tidak semua integritas nasional ditentukan oleh referendum. Negara-negara bagian di AS masuk The United States of America tidak melalui referendum, tapi kehendak bersama semua negara bagian.

Saya bilang anda itu hidup dengan pikiran negatif. Aceh sekarang sudah merdeka. Semua kekuasaan pemda dipegang orang Aceh. Royalti perusahaan-perusahaan masuk ke pemda Aceh. Orang Aceh sebagai individu pun lebih merdeka daripada anda yang dipenjara oleh pikiran sendiri.

Orang Aceh bisa pergi ke daerah-daerah lain di Indonesia untuk mengembangkan usaha. Anak-anak bisa sekolah. Pendeknya, tak ada yang menghambat orang Aceh untuk maju dan berkembang.

Sebagaian orang Papua berpikir sama: Pepera itu tidak sah. Papua bukan bagian dari NKRI. Sejarah, budaya, ras, berbeda dengan ‘NKRI’. Dan yang mereka maksud NKRI itu Jawa. Mereka ‘berjuang’ untuk lepas dari NKRI yang penjajah dan penindas.

Papua sekarang adalah kawasan paling merdeka dan otonom. Seluruh pejabat provinsi, kabupaten, anggota DPRD adalah orang Papua. Dana Otsus [Otonomi Khusus] Papua paling besar: 30 trilyun rupiah per tahun, sementara jumlah penduduknya paling sedikit: tak sampai 3 juta. Tapi kebanyakan dari dana-dana itu dikorupsi orang Papua sendiri.

Seorang Papua berkomentar: “Di seluruh dunia, kelompok minoritas yang berambut kriting seperti kita ini, orang papua yg paling maju dan paling hebat. jadi harus disyukuri..”

Tentu, yang mengembangkan sikap dan cara pandang negatif ini bukan hanya orang Aceh atau Papua, juga orang-orang dari negara ‘maju’: Australia, New Zealand, Belanda, Inggris, Swedia, Amerika. Mereka menggosok-gosok kaum pribumi supaya lepas dari negaranya dan mereka bantu mencari dukungan internasional.
Padahal, dengan cara pandang itu, orang-orang kulit putih harus angkat kaki dari benua Amerika, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan. Itu semua penjarahan yang sangat telanjang. Genosida asli. Bahkan di Tasmania, Selatan Australia, seluruh penduduk asli Tasmania dibantai habis. Punah sama sekali. Prinsip-prinsip dasar dan konvensi Hak Asasi Manusia bisa berlaku surut. Dan kalo itu dilakukan, perang dan konflik tak berkesudahan.
Bagaimana dengan kelompok keagamaan? Sama: ada kelompok Islam yang ‘berjuang’ mendirikan kekhalifahan di Indonesia. Mereka pun mengembangkan sikap negatif: NKRI itu sekuler, Pancasila itu batil, pemerintah itu togut. Pokok jahat bin biadab.

Saya tanya salah seorang dari mereka: “coba sebutkan satu saja perintah Allah dan Rasul-Nya yang tak bisa dilaksanakan di Indonesia.”

Tidak ada. Semua orang bisa melaksanakan ajaran agamanya dengan leluasa. Tentu buka ajaran Islam bila mendesakkan syari’ah jadi hukum negara, karena Allah dan rasul-Nya melarang pemaksaan dalam agama.
Ada juga kelompok Nasrani yang selalu merasa ‘dimusuhi’ di mana-mana di Indonesia ini, terutama oleh kelompok Islam yang radikal, yang jumlahnya tak sampai 20persen dari ummat Islam Indonesia keseluruhan.
Bila di tempat permukiman kaum Islam radikal didirikan gereja, hampir  bisa dipastikan menimbulkan konflik — apalagi bila dipaksakan.

Bila yang demikian terjadi, mereka beranggapan bahwa ‘ummat Islam’ menentang pendirian gereja, tidak toleran. Padahal,  berkali-kali lipat pendirian gereja berjalan mulus tanpa konflik.
Ironisnya, agama yang menekankan sikap positif dan toleran justru sering menjadi sumber sikap bermusuhan dan kebencian.

Ironisnya lagi, kekerasan berdasarkan agama itu sering timbul antar kelompok dalam satu agama: seperti syi’ah dan sunni, wahabi dan syi’ah. Bahkan dalam satu gereja HKBP jama’ah saling berseteru.

Mayoritas kita kehilangan sikap positif dan kemampuan bersyukur. Betapa banyak yang ‘wajib’ disyukuri dari Indonesia, tapi kita hanya tertarik kepada yang negatif-negatifnya. Kita pun kehilangan kemampuan menghargai prestasi para pendahulu, kita lebih pandai mengorek-orek kesalahan dan cacat mereka. Soekarno bagi Soeharto adalah ‘penyelewengan dari Pancasila dan UUD-45’, Soeharto bagi kaum reformis adalah tiran penindas dan pembunuh; dan seterusnya. Setiap ganti kekuasaan, penguasa baru menghabisi program-program penguasa sebelumnya, termasuk yang baik-baik.

Padahal, tak ada yang sempurna dalam sejarah.
Bukan berarti NKRI sekarang sudah sempurna, tapi ia harus dibangun, dibenahi, dire-orientasi di atas kebersihan dan kesucian jiwa. Utopis ya?

Merahnya darah NKRI bertumpu di atas putihnya kalbu manusia Indonesia. Warna putih itu kini agak kelam, dia harus dibersihkan kembali. Dan…tetaplah NKRI.

Sabtu, 01 Juni 2013

Arok - Dedes dan Mantagi Wanita dalam Politik

Oleh : Muhammad Ilham

Karena melihat ada sinar di paha putih mulus Ken Dedes
membuat Ken Arok yang sudra itu,  kelak menjadi raja besar di tanah Jawa 
(Pramoedya Ananta Toer : Arok-Dedes)

(c) sierraekspresmedia.com
Karena faktor wanita (dalam bahasa Minangkabau : padusi)  menjadi salah satu faktor kontributif dalam merubah alur gerak sejarah, membuat "mbah" Postmodernisme Michael Foucault merasa perlu untuk menulis buku : "Seks dan Sejarah”. Julius Caesar menjadi besar sekaligus terjerambab dalam sejarah dan diakhiri oleh pengkhianatan Brutus, bermula-tersebabkan oleh Cleopatra, yang berjenis kelamin wanita. Tontonlah film Sparta, dengan lakon-nya aktor ganteng berwajah kotak - Bradd Pitt - menjadi haru biru karena perebutan wanita. Dalam film-film imajiner Hollywood, berlaku hukum bahwa tak ada yang bisa mengalahkan Superman, Batman, Spiderman .... apalagi Hulk. Urat takut mereka sudah putus. Tapi para aktor super-hero imajiner ini, menjadi "kalah" oleh wanita. Presiden Afrika Selatan, Zuma suatu ketika pernah mengatakan, "saya tak bisa membuat sejarah, sebelum mendapatkan senyum wanita" .... dan akhirnya Zuma yang berusia tujuh puluh tahun ini, memiliki istri hingga 5 (entah 6) orang. Pemerintah Afrika Selatan menjadi pusing 7 x 7 keliling karena membiayai beli mikc-up perempuan-perempuan cantik di sekeliling Zuma. Presiden flamboyan AS, John Fritgerald Kennedy, dicatat sejarah sebagai salah seorang Presiden AS yang paling berhasil, tapi ia punya catatan sensual yang terus mengikuti kisah Presiden "berlabel" JFK ini, "Marlyn Monroe bunuh diri, diindikasikan karena patah hati cintanya ditolak JFK". Presiden AS yang lain, Bill Clinton, berjasa mempopulerkan istilah "impeachment" kepada publik dunia karena faktor wanita - Monica Lewinsky. Kalaulah bukan karena Maria Eva, besar kemungkinan politisi Golkar, Yahya Zaini berpotensi menjadi Menteri Agama. Tapi sayang, video "semlehoy" mereka, membuat mantan ketua PB. HMI harus mengakhiri karir politiknya. Sama halnya yang berlaku pada Antasari Azhar. Ketika karir-nya menjulang tinggi-gemilang hingga ke bintang, mantan Ketua KPK berkumis tebal  ini harus terjerambab tak bangkit lagi ..... bermula dan tersebabkan wanita mungil, Rani.  

Wanita, kata Foucault, sebagaimana halnya faktor lingkungan dan ekonomi, sering membuat alur sejarah tak berjalan "normal". Havelock Ellis yang digelari oleh Foucault sebagai "Darwinnya Ilmu Sejarah Asmara" menganggap wanita sering membuat sejarah berubah dari “alur resmi” atau “alur yang harus semestinya”. Mengikuti sejarah asmara tokoh-tokoh terkenal sepanjang zaman, membuat kita bisa memahami mengapa ada beberapa kalangan sejarawan menempatkan seks sebagai salah satu faktor pemicu perubahan sejarah. Dalam setiap abad, diberbagai tempat dan dalam berbagai strata sosial, kisah-kisah petualangan orang besar tidak bisa dilepaskan dari “peran” wanita (baca: asmara). Sejarah Peradaban Islam juga demikian. Bacalah secara objektif, sejarah para Sultan pasca Khulafaurrasyidin, wanita menjadi “cerita menarik sekaligus memiriskan”. Harem, sebuah “konsep sensualitas-erotik” kerajaan Turki Utsmany, menjadi catatan sejarah bagaimana wanita menjadi bahagian penting dalam kehidupan para Sultan (dan ini menjadi keheranan saya ........ salah satu organisasi yang mengusung konsep Khilafah justru menjadikan sistem kekhlaifahan Turki ini menjadi referensi mereka untuk mengaktualisasikan "imagine-society" mereka). Cerita 1001 malam Dinasti Abbasiyah, Selat Bhosporus yang menjadi kuburan ratusan para selir Sultan, hingga jumlah istri dan selir para Sultan “ummat Islam” mutakhir. Konon, Sultan Kuwait, Sultan Sabah al-Nahayan memiliki ratusan selir, dan seterusnya, dan seterusnya. Intinya, intrik politik, dalam peradaban ummat manusia ini, mulai dari “zaman batu” hingga zaman “Fathanah”, sejak masa "Cleopatra" hingga "Maharani Suciyono", kehadiran wanita menjadi salah satu penentu jalannya gerak sejarah. Karena wanita-lah, beberapa politisi potensial Indonesia harus melalui alur sejarah mereka yang "yang seharusnya tidak mereka alami".   

:: Malam ini, menikmati festivalisasi "Wanita-Wanita di sekitar Daging Sapi" (TVOne). Ketika melihat foto Darin Mumtazah, seorang PREN saya berkata, "mancimpua !" .... sambil menelan ludah, jakunnya pun turun naik.
:: saya minta maaf, tak ada niat sedikitpun "menyudutkan" makhluk Tuhan bernama wanita. Orang yang saya cintai di dunia ini, ibunda almarhumah, istri nan ayu serta anak-anak yang manis, mereka adalah wanita. Apa yang terjadi pada wanita, juga berlaku secara sama pada Laki-Laki.

referensi : Foucault (1998: terjemahan); youtube (film Cleopatra dan film Sparta)

Sabtu, 02 Februari 2013

Harapan, Politisi dan Wanda Hamidah (yang) Keturunan Arab

Oleh : Muhammad Ilham

Tulisan ini, merupakan Catatan (Note) saya dua tahun lalu. Saya publish kembali, ketika dalam diskusi malam kemaren dengan beberapa kawan, terselip "kegalauan" dan ketidakpercayaan mereka pada yang namanya politisi dan dunia mereka - "politik". "Ilham, kembali komplek kita ramai dikunjungi calon-calon politisi, menawarkan harapan, janji dan setelah mereka nantinya menang atau kalah ..... ya, menang atau kalah, mereka kemudian pergi !".

Bolehkah kita berharap ? Tentu tak salah, bahkan dianjurkan. Bukankah Imam Al-Ghazali justru menempatkan formula "cemas" dan "harap" dalam nukilan-nukilan teosofinya berkenaan dengan ibadah. Demikian juga, misalnya penyair klasik Cina Lut Szun pernah mengatakan bahwa :

Harapan itu ibarat jalan di dalam rimba/ 
Pada awalnya tak ada/
/tapi karena sering dilalui/ 
Akhirnya/
/jalan itu ada dengan sendirinya/.



Demikian juga harapan kita tentang dunia politik yang diisi para politisi (itu sudah pasti, karena tidak mungkin diisi oleh seniman !). Dunia politik dan politisi, bagaimanapun juga, adalah sebuah keniscayaan demokrasi. Namun melihat tingkah polah para politisi belakangan ini, setidaknya sebagaimana yang dipublish berbagai media massa, korupsi dan hedonisme yang berkembang pada badan-tubuh-jiwa mereka, membuat publik justru menganggap dunia politik dan politisi sebagai public enemy, untuk tidak mengatakan benalu. Mungkin publik over generalize, namun publik juga tidak bisa disalahkan. Ekspektasi publik terhadap dunia politik dan para politisi ini begitu besar. Karena itu tidaklah salah bila hedonisme yang menjangkiti para politisi tersebut membuat publik merasa dibodohi dan dipecundangi. Kasihan memang orang yang masuk dunia politik. Tak semua politisi itu yang busuk, pasti ada yang berhati bening dan berjiwa waras. Namun karena dunia politik adalah dunia tawar menawar - yang terefleksi dari "diktum keramat" mbah Harold Lasswel, "who get what how and when", maka mau tidak mau, kepentingan publik harus dikesampingkan ketika berbenturan dengan kepentingan kelompok-partai. Banyak politisi berhati bening tidak sanggupmenolak "pakem" ini. Karena bagaimanapun juga, ketika seseorang ingin terjun di dunia politik, maka ia harus siap bergelut dengan dunia kebusukan. Kalau berhasil, dia akan menjadi politisi yang disegani kawan maupun lawan. Politik itu busuk, kata "rakyat bawah-pinggiran". Iya memang, bila kita dasarkan pada realita yang terlihat. Karena itu sebaiknya dipisahkan saja antara agama dan politik seperti di Barat. Jelas, terukur dan gentle. Kalau tidak, kasihan agama yang selalu di"tunggangi" oleh politisi-politik. 

Politisi seharusnya tidak menjadi bagian utama dalam membiarkan masyarakat mempraktekkan pola berpolitik yang merusak, seperti money politic. Praktek jual beli suara hanya akan menjauhkan cita-cita indonesia menjadi lebih baik. Seorang calon yang menangnya dengan cara membayar, pasti yang dipikirkan pertama kali bagaimana mengembalikan modalnya, bukan bagaimana memperbaiki nasib rakyatnya. Politisi yang ingin memperbaiki negeri ini dengan setulus hati, agar tak mengajari rakyat dengan politik transaksional. Karena itu pula, Majelis Ulama Indonesia (pernah tahun 2009, walau tak jadi) yang berencana mengeluarkan fatwa haram Golput, idealnya justru mengeluarkan fatwa super "haram" bagi masyarakat untuk memilih politisi bermasalah dan mempraktekkan politik transaksional. Saya rasa, itu jauh lebih mendidik dan memiliki pengaruh besar dalam meniti harapan Indonesia yang lebih baik. Bagaimanapun juga, harapan ini harus terus kita pelihara !!

_____________ Ah, malam tadi, kami sepakat bila Wanda Hamidah mencalonkan diri jadi anggota DPR-RI nantinya dari PAN pada Pemilu 2014 yang akan datang, kami tak akan pilih ...... "haram jadah". Tapi sore tadi, sepulang dari kampus, kawan-kawan saya berkabarberita pada saya bahwa nanti mereka justru memilih si Wanda keturunan Arab ini. "Salah kami ilham, ruponyoa inyo negatif, bahkan jadi Duta BNN pulo, tambah pulo inyo jando ..... keh keh keh". Yang pertama dan kedua, nampaknya rasional, sedangkan yang ketiga, libido kawan saya sedang tak terkendali".
 _____________ Saya tak tahu, apakah ada kaitan artikel di atas dengan alinea dibawah.

sumber foto : muslimpolitician.com   

Jumat, 18 Januari 2013

"Simbolisasi" Agama dalam Politik


Oleh : Muhammad Ilham

Kota saya, sudah mulai banyak dipenuhi baliho para "calon", entah itu calon Walikota ataupun calon legislator yang akan mengadu peruntungan tahun 2013 dan 214 yang akan datang. Seperti biasa, pesan-pesan normatif keagamaan dalam baliho-baliho tersebut - apalagi bila berkaitan dengan moment keagamaan - sangat mengemuka. Dalam konteks ini, teringat oleh saya pengalaman seorang kawan dari teman saya, tahun 2009 yang lalu.  Ada seorang teman dari kawan saya yang kebetulan "nyaleg" waktu Pemilu Legislatif 2009 yang lalu. Teman dari kawan saya ini dikenal sebagai "urang pasa", sering duduk dikedai, hobi main koa dan sangat "pa-ota". Ketika jadi Caleg, praktis ia tak pernah lagi ke kedai memegang kartu Koa. Fotonya di baliho kampanye bergandeng dengan gambar masjid, dan ia memakai baju koko-berkopiah. Dibawahnya bertuliskan : "Mari Kita Kembali ke Surau, Mari Semarakkan Masjid, Hindari Maksiat". Ketika ia dinyatakan gagal jadi anggota legislatif, ia kembali ke habitat-nya, Kedai dan Koa. Sambil bergurau, kawan-kawannya-pun menyindirnya memanfaatkan simbol-simbol agama. Dengan santai ia-pun bilang, di dunia ini tiga daya tarik politik : "Uang, Wanita dan Simbol Agama". Yang pertama, sulit bagi saya, yang kedua tidak mungkin kita lakukan di ranah Minang, yang ketiga lebih memungkinkan. Oke ... putar kartu Koa-nya, kita main .... dan azan berkumandang, ia tidak mau ke Surau .... Coki ! 

(Tulisan dibawah, terinspirasi dari dialog saya dengan seorang kawan di FB)

(c) kompasiana.com
Seandainya Sumatera Barat memiliki ulama kharismatis, mungkin saat-saat sekarang, sang ulama akan kewalahan menerima kunjungan para Calon Kepala Daerah, untuk sekedar bersilaturrahmi. Seandainyalah, Sumatera Barat tidak ”dikuasai” Muhammadiyah, tapi dipengaruhi oleh NU-Tradisionalis, maka saat-saat sekarang ini, akan banyak kunjungan Calon Kepala Daerah ke maqam-maqam ulama kharismatik. Begitu menariknya simbol-simbol agama dalam ranah politik, membuat seluruh pasangan Calon Kepala Daerah, setidaknya yang terlihat di baliho pinggir jalan – merasa perlu untuk memakai simbol-simbol agama : ”Surau, Asmaul Husna, gambar Masjid, Kopiah Haji, Baju Koko dan memamerkan gelar Haji”. Hampir pasti, tak ada Calon Kepala Daerah yang memakai simbol-simbol ”grass-root”. Begitu kuat daya tarik simbol-simbol agama dalam politik, sehingga tidak pula mengherankan apabila (ketika jadi Gubernur) Fauzi Bowo ”kewalahan” menghadapi politisasi kasus Maqam Mbah Priok, Pasangan Jokowi, Basuki "Ahok" Tjahaya Purnama merasa kewalahan menghadapi serangan rasis (baca : agama) terhadap dirinya,  bahkan 2 tahun yang lalu  Julia Perez yang ”bahenol-monotok” tersebut seakan-akan layu untuk maju jadi Bupati Pacitan ketika ”Pasal Zina” dihembuskan Mentri Dalam Negeri.

Agama sebagai sebuah fakta kultural dan historis memiliki dua dimensi utama: yaitu dimensi simbolis-mitis dan sosiologis. Dimensi simbolis-mitis mengandung arti bahwa agama merupakan sebuah struktur makna (meaning structure) yang berada di ranah abstrak dan keberadaannya terlepas dari ruang dan waktu. Melalui struktur makna tersebut maka mode pemahaman diri (mode of self-understanding) digagas dan diciptakan melalui berbagai kegiatan penafsiran (hermeneutics) atas ajaran. Dalam kegiatan ini termasuk penciptaan dan penafsiran atas simbol-simbol dan metafor yang ada untuk kemudian dirumuskan serta diterapkan dalam tindakan aktual. Karena sifatnya yang abstrak dan sangat tergantung pada kemampuan tafsir itulah maka ajaran agama pada hakekatnya terbuka untuk diperdebatkan, apalagi ditambah adanya kenyataan adanya konteks sosiologis dan dimensi historis yang akan menjadi batas dan bingkainya. Pemahaman terhadap ajaran agama, dengan demikian, tidak mungkin tunggal atau monolitik. Munculnya berbagai macam aliran atau mazhab (schools of thought) sebenarnya merupakan hal yang wajar dan sah-sah belaka. Ketika agama dan pemeluknya berada dalam konteks politik, maka peran dan fungsi sosial dan politik agama pun akan sangat dipengaruhi oleh dialektika antara dimensi simbolis-mitis dan sosiologis-historis. Pada suatu konteks historis tertentu agama bisa saja begitu hegemonik sehingga sakan-akan menjadi satu-satunya alat untuk menjelaskan realitas atau merupakan kekuatan ideolologis yang tak tertandingi dalam  masyarakat. Namun pada konteks yang lain posisi seperti ini dapat saja terdesak ataupun mengalami pergeseran-pergeseran dan bahkan bisa lebih jauh : agama dianggap kehilangan relevansinya sebagai alat penjelas realitas tersebut. Sejarah ummat manusia, jika dilihat dari perspektif perkembangan agama, adalah rangkaian perubahan-perubahan yang terjadi dalam peran dan fungsi agama dalam konteks sosiologis ummat manusia.

Dalam kajian antropologi politik, peranan agama dan simbol-simbol supranatural di dalam politik memainkan arti penting. Agama pun bisa dijadikan landasan bagi struktur, landasan kepercayaan, atau sumber tradisi yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Namun, pilihan paling lazim adalah menjadikan agama sebagai alat legitimasi oleh para elite yang berkuasa atau kekuatan yang mengejar kekuasaan (ini yang dikritisi para kalangan Marxian). Pemakaian” ayat, dalil, atau ungkapan yang dinisbatkan pada agama tertentu sebenarnya identik dengan kemunculan kiai atau tokoh lain yang merepresentasikan agama. Kemunculan simbol-simbol tadi telah mengandung pesan, lebih dari makna yang terkandung dalam substansi yang sebenarnya. Tidak heran bila kosakata silaturahmi lebih sering digunakan ketimbang pertemuan politik.Membebaskan panggung politik dari anasir-anasir agama tidak semudah yang dibayangkan kelompok yang menganut paham pemisahan agama dan politik. Bahkan, bagi sebagian kalangan, memisahkan agama dan wilayah politik bukan saja sulit, tapi dipandang tidak perlu. 

Fakta mengungkapkan, bagi sebagian pemilih di tanah air dikotomi tua – muda tidak begitu penting. Demikian juga dikotomi sipil - militer sudah melonggar. Namun dikotomi Islam - non-Islam masih dipandang sensitif dan penting dipertimbangkan sebagai variabel penting keputusan untuk memilih. Bagi sebagian kelompok, bila menerapkan sistem politik menurut kaidah agama dipandang belum mungkin, makamengambil anasir-anasir agama untuk diformulasikan ke dalam kaidah hukum dan politik sudah dianggap cukup. Adaptasi ajaran politik pun terjadi di sepanjang garis keyakinan agama. Keputusan untuk memilih melibatkan variabel yang kompleks. Diperlukan sentuhan personal untuk merebut dukungan. Lebih-lebih dalam situasi ekonomi yang mencekik, kandidat yang bisa memberi harapan bagi perbaikan yang dirasakanakan lebih diapresiasi. 

Referensi : Kuntowijoyo (1994)

Kamis, 13 Desember 2012

Habibie itu Pengkhianat, (Bahkan) "The Dog of Imperialism"

Oleh : Muhammad Ilham

(c) kompasiana.com
Belakangan ini, media massa dan media elektronik mendapat berita empuk berkaitan dengan statement seorang (mantan) menteri Malaysia yang mengatakan Bacharuddin Joesoef (BJ) Habibie - mantan Presiden Indonesia ketiga - sebagai pengkhianat bangsa Indonesia. Bahkan Presiden dengan mata bak bola pingpong ini dianggap sebagai budak kaum imperialis. Koran Republika, misalnya menjadikan berita ini sebagai headline (tanggal 10/12 dan 11/12-2012). Pemerintah Malaysia, menurut Republika,  untuk kesekian kalinya melecahkan bangsa Indonesia. Setelah tidak pernah serius menyelesaikan kasus tenaga kerja Indonesia (TKI), kali ini mereka menghina presiden Republik Indonesia ketiga, BJ Habibie. Dalam tulisan opini yang dikutip Utusan Malaysia (kemudian dihapus), awal pekan ini, Menteri Penerangan Malaysia Tan Sri Zainuddin Maidin menuding, Habibie sebagai pengkhianat bangsa. Itu lantaran semasa menjabat presiden, Indonesia harus kehilangan Timor Timur (sekarang Timor Leste). Bahkan, dengan kasarnya Zainuddin menyebut, lengsernya Habibie yang merupakan pemerintahan tersingkat dan jatuh dalam kehinaan. "Habibie sebagai 'The Dog of Imperialism' serta pengkhianat bangsa Indonesia. (Habibie) adalah ibarat gunting dalam lipatan ketika pemerintahan Soeharto," demikian pernyataan Zainuddin. 

Meski dalam tulisan itu, ia menekankan hal itu merupakan pandangan pribadi, bukan pemerintah, sontak saja sepertinya kontroversi bakal memanaskan hubungan kedua negara. Kedatangan Habibie ke Selangor, Malaysia atas undangan Anwar Ibrahim. Wakil presiden di era Soeharto itu memberi pidato akademik di Dewan Pro Canselor Universiti Selangor (Unisel) Shah Alam Selangor. Pemerintah Malaysia menyoroti kedatangan Habibie ke Malaysia yang di undang Partai Keadilan Rakyat (PKR). Itu lantaran PKR dikenal sebagai partai oposisi yang dipimpin mantan deputi perdana menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim.

Dan ketika wartawan/reporter TV One mewawancarai Zainuddin Maidin yang bergelar Tan Sri, apakah beliau ingin mengkoreksi pernyataannya di salah satu media massa, akbar istilah negara Cik puna Siti Norhaliza, Zainuddin Maidin yang biasa dipanggil ZAM ini tak bersedia minta maaf.  Bagi saya tidak masalah,  karena bagaimanapun juga, itu bukan pendapat resmi pemerintah Malaysia. Masyarakat Indonesia-pun tak perlu bereaksi berlebihan. Lebih baik opini dibalas dengan opini, itu jauh lebih elegant dan smart. Namun yang saya cengangkan adalah ketika si-ZAM ini mengungkapkan kepada si reporter TV One tersebut bahwa beliau sangat mengagumi Soekarno dan Soeharto. Soeharto tidak masalah, ia (bahkan) dianggap oleh Mahathir Mohammad sebagai sahabat sekaligus guru. Tapi Soekarno ? ......... contradictio. Nampaknya, si-ZAM harus kembali membaca buku sejarah.

Biografer Cindy Adams, pernah menukilkan beberapa paragraf tentang Soekarno - begini :

(c) historia-online

Seorang tokoh pernah berkata, kata Cindy Adams dalam bukunya tersebut, bahwa :

"Jika beliau (maksudnya : Soekarno) berteriak karena terinjak dan teraniaya harga dirinya sebagai presiden dan kepala negara, maka Sukarno adalah presiden paling berani yang pernah hidup di atas bumi ini". "Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!", atau Go to hell with your aid. Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malaya itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu".

Kebencian Soekarno terhadap Malaysia, besar sekali. Kalau si ZAM belajar sejarah, ia akan tahu, bahwa Soekarno pada masa pemerintahannya, pernah ingin menghajar Malaysia. Dan, mengapa Tan Sri Zainuddin Maidin itu justru underestimate dengan Habibie, padahal Habibie tak pernah melontarkan kata-kata profokatif terhadap pemerintahan dan elit politik Malaysia. Mengapa harus Habibie ? Habibie bahkan terkesan soft pada Malaysia ketika beliau menjadi Presiden ? ................................ Nampaknya analisis dari Zaenal A. Budiono/detik.com (15/12/2012) ada benarnya :

detiknews.com - The dog of imperialism. Frasa inilah yang akhir-akhir ini membuat panas kuping sejumlah elit di Indonesia. Gara-garanya, kalimat itu ditujukan untuk mantan Presiden RI ke-3, Baharudin Jusuf Habibie. Penulisnya adalah Tan Sri Zainudin Maidin, mantan Menteri Penerangan Malaysia. Walaupun tulisan Maidin bukan sikap resmi Kuala Lumpur, tetap saja frasa tersebut terlalu kasar sebagai bahasa diplomasi. Apalagi ditilik dari rekam jejak hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, riak-riak selalu menyertai, mulai dari isu TKI, Sipadan-Ligitan, Ambalat, hingga reog. Maka jangan heran jika orang Indonesia sangat sensitif jika ada komentar miring dari jirannya itu. Terkait kedatangan Habibie di Malaysia, itu atas undangan tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim. Beliau didaulat untuk memberikan ceramah di Universiti Selangor. Namun sepertinya hal tersebut tak mendapat restu pemerintah setempat yang dikuasai UMNO. Anwar selama ini dianggap sebagai tokoh reformis Malaysia yang “menganggu” status quo. Beragam cara digunakan pihak penguasa untuk menekan Anwar. Mulai dari isu rekening miliaran ringgit hingga yang menghebohkan soal sodomi. Namun pada akhirnya pengadilan Malaysia membebaskan Anwar karena tak terbukti. Momen kebebasan Anwar makin menyiutkan nyali penguasa Malaysia. Anwar diramal akan menjadi ikon baru demokrasi Malaysia yang hingga kini berjalan bak siput—terlalu lamban. Di sisi lain, kalangan muda dan kelas menengah Malaysia mulai mendukung Anwar. Mereka tak mau dibodohi oleh rejim yang terlalu takut dengan demokrasi. Lebih-lebih, hubungan Anwar dengan sejumlah tokoh reformis Indonesia dikenal dekat. Ia bersahabat baik dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan bahkan menjadi komentator saat Presiden SBY masuk dalam Time 100, tahun 2006 silam. Anwar juga dekat dengan Amien Rais, Gus Dur dan tokoh-tokoh penting Indonesia lainnya. Suasana demikian tak ia temui di Malaysia, dimana antar tokoh pemerintah dan oposisi bisa berdikusi bersama, saling kritik dan tukar pendapat atas nama demokrasi.

Di Indonesia sendiri, partai-partai oposisi bebas mengundang tokoh-tokoh dari luar negeri, menggelar diskusi, kritik, bahkan demonstrasi. Semua disikapi sebagai bagian dari keniscayaan demokrasi. Pada akhirnya iklim yang demikian, akan membuat bangsa ini dewasa dan siap dengan perbedaan. Kembali ke Anwar, salah satu tokoh penting lain yang tak pernah lupa dikunjungi Anwar saat di Jakarta adalah BJ Habibie. Mengapa Anwar dan Partai Keadilan Rakyat Malaysia (PKR) dekat dengan Indonesia? Mereka sadar bahwa kekolotan politik yang anti demokrasi tak akan bisa bertahan lama. Malaysia sekarang boleh mengklaim ekonomi mereka stabil dan terus tumbuh. Namun itu bukan jaminan stabilitas. Kelas menengah dan kalangan terdidik di sana juga memiliki hak-hak politik yang harus diberi saluran. Maka dua kali demonstrasi besar berujung kerusuhan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tak semua klaim tersebut liear dengan realita. Di sisi lain, Indonesia yang sempat terpuruk pasca reformasi—dan berkomitmen menggelar demokrasi—kini terus menunjukkan performance positif dalam ekonomi. Indonesia kini adalah negara dengan GDP nomor 16 di dunia, yakni sebesar US $ 800 Milyar. Makanya kita sekarang masuk kelompok G-20, forum strategis yang menentukan arah pembangunan ekonomi dunia. Indonesia juga sedikit dari negara yang ekonominya terus tumbuh di tengah ketidakpastian global. Saat ini pertumbuhan kita mencapai 6,5%, jauh di atas Malaysia. Investment grade Indonesia pun—yang diberikan R&I, Moddy’s dan Fitch—terus membaik dan bahkan masuk kategori "layak investasi". Tak hanya di bidang ekonomi, Indonesia juga dipandang sebagai "cermin demokrasi" bagi negara-negara berkembang. Keberadaan Bali Democracy Forum (BDF) yang setiap tahunnya menjadi ajang sharing demokrasi negara-negara non Barat membuktikan kita menjadi kutub baru demokrasi Asia. Bahkan tahun 2012 ini, BDF dihadiri 14 pemimpin tertinggi (kepala Negara) dan 43 delegasi lainnya. 


Penasbihan Indonesia sebagai negara demokrasi sudah muncul bebeapa tahun lalu, ketika Freedom House menyamakan level demokrasi Indonesia dengan negara-negara Barat yang demokrasinya sudah maju. The point is, Indonesia yang awalnya tertatih, dimana ekonominya terpuruk di awal-awal reformasi, kini mampu bangkit dan tumbuh dengan menerapkan demokrasi. Hal ini juga sekaligus antitesa bagi sebagian kalangan yang percaya demokrasi di dunia ketiga (negara berkembang) berlawanan dengan kinerja ekonomi. Mengenai isu Timor Timur yang diangkat Maidin, ia seakan “buta” sejarah Indonesia. Sebagai mantan menteri, seharusnya ia tahu bahwa kasus Timor Timur tak sesederhana tuduhannya kepada Habibie yang ia sebut sebagai “pengkhianat”. Rakyat Indonesia menjadi saksi bagaimana Habibie berani membuka pintu bagi demokrasi di Indonesia. Sejak itu era otoritarian orde baru yang mencekam dapat diakhiri. Lepasnya Timor Timur pada 1999 lebih disebabkan tiga hal, pertama, sejarah Timor sendiri yang berbeda dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Kedua, kegagalan pendekatan keamanan ala orde baru yang otoriter. Ketiga, kemungkinan adanya “intervensi” dalam jajak pendapat, dimana penghitungan dilakukan di New York, dan bukan di Dili ataupun Jakarta. Jadi Habibie di sini hanya ketiban tanggung jawab untuk memimpin Indonesia di tengah keterpurukan ekonomi dan keterbukaan politik sekaligus. Sebuah era yang sangat tidak mudah. Rakyat Timor Leste kini juga melihat Indonesia sebagai negara sahabat. Kedua pemimpin negara sepakat menyelesaikan problem masa lalu melalui dialog dan rekonsiliasi. 


Para pengusaha Indonesia juga banyak masuk ke Timor Leste untuk membantu derap ekonomi negara baru tersebut. Tak ada dendam, tak ada permusuhan. Bahkan Xanana Guamao dan Ramos Horta, dua pemimpin Timor berkali-kali datang ke Jakarta dan Bali untuk membangun hubungan baik. Presiden SBY saat melawat ke Dili pertengahan tahun ini disambut sebagai “tamu agung” dengan perayaan besar di sepanjang jalan. Ini menunjukkan bahwa demokrasi dan dialog bisa menjadi elemen soft power yang menentukan dalam diplomasi modern. Jika demikian keadannya, dapat disimpulkan bahwa tuduhan Maidin benar-benar lucu dan ahistoris. Atau ada agenda lain? Mungkin saja. Sebab kalau kita cermati lebih dalam, serangan Maidin sejatinya bukan ke Habibie. Mantan Presiden ketiga Indonesia itu hanya dijadikan media untuk menyerang lawan politiknya di dalam negeri yang paling tangguh: Anwar Ibrahim. Sebagaimana di atas, Anwar tak mudah ditundukkan dengan berbagai cara, bahkan sekarang popularitasnya terus menanjak. Apalagi setelah “serangan isu sodomi” tak terbukti. Anwar sendiri mengatakan bahwa artikel Maidin tersebut menunjukkan bahwa UMNO sangat panik. Kedatangan Habibie demikian dikhawatirkan akan mampu memompa semangat perlawanan para pemuda dan mahasiswa Malaysia. Ia juga menyamakan rejim UMNO dengan orde baru yang tumbang di Indonesia. Akankah ini tanda bahwa UMNO akan tumbang? Rakyat Malaysia yang bisa menjawabnya. Sementara di pusat keramaian Jakarta, sejumlah remaja dan orang tua tengah berkumpul untuk mengantri tiket. Mereka tak sabar menyaksikan film yang diprediksi akan “meledak” di pasaran di akhir tahun ini. Sebuah cerita tentang tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Tak melulu cerita heroik, tapi justru tentang perjalanan cinta, kesetiaan dan pengorbanan anak manusia. “Habibie dan Ainun”, itulah judul film yang tengah happening di Indonesia saat ini. Film tentang betapa idealnya hubungan Habibie dan istrinya Ainun hingga ajal memisahkan keduanya. Di lantai lobi XXI Premiere, kritik Maidin tak banyak “dianggap sesuatu” oleh kaum muda Indonesia. Mereka tetap ramai mengantri. Mereka melihat Habibie sebagai sosok yang berjasa besar dalam pembangunan dan perubahan Indonesia. Bapak teknologi, Bapak demokrasi. "Ah Maidin… kemana aja selama ini hingga tak tahu reputasi BJ Habibie".

_________ Ini bukan tulisan bertendensi provokatif. Saya hanya mengkomparasi dan mengkonfirmasi fakta sejarah.

Senin, 26 November 2012

Atas Nama Agama atau Atas Nama Kemanusiaan

Oleh : Muhammad Ilham 

Beberapa jam, malam tadi, saya diskusi dengan beberapa kawan via facebook, dan kesimpulannya : Perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan kemanusiaan, bukan perjuangan agama.  Beberapa figur kunci yang menjadi "mastermind" perjalanan historis bangsa Palestina (kalau saya boleg istilahkan dengan "bangsa"), diantarnya adalah figur non-muslim. WADDI HADDAD, misalnya, adalah orang Palestina beragama Kristen yang merupakan mastermind dari kelompok Black September. Salah satu aksi yang paling dikenal dari kelompok tersebut adalah aksi penculikan dan pembunuhan terhadap 11 atlet Olimpiade Israel di Munich, Jerman pada tahun 1972. Tokoh lain yang sangat fenomenal tahun 1980-an, disamping Yasser Arafat, adalah GEORGE HABBASH. Habbash merupakan mantan pemimpin organisasi PFLP (Front Rakyat Pembebasan Palestina) yang dicap oleh media Israel dan media barat sebagai organisasi ultra radikal, bahkan jauh radikal dibandingkan Hamas. Kemudian ada tokoh lain yang dianggap sebagai perempuan pintar-Palestina, HANAN ASHRAWI, perempuan Kristen yang paling dikenal di dunia internasional. Selain menjadi legislator di parlemen Palestina, Hanan Ashrawi selama beberapa tahun sempat menjadi juru bicara delegasi Palestina dalam perundingan perdamaian. Ayah Hanan, Daoud Mikhail, adalah salah seorang yang ikut membidani lahirnya PLO (Organsisasi Pembebasan Palestina). 

 Referensi : Smith Al Hadar (1999), Riza Sihbudi (2001), Cahrles Honoris/detik.com

______ Bagaimana Fesbukiyyah ? Kita boleh beda pendapat, karena semua perbedaan pandangan itu, bermula dari bahan bacaan (mungkin bahan bacaan saya teramat sedikit). Dan inilah tanggapan beberapa facebooker (tidak semuanya saya publish) :

Soe Darman permasalahan Palestina tidak bisa hanya dilihat dalam perspektif kemanusiaan, karena kepedulian setiap orang berbeda-beda. yang bisa kita lihat adalah apa motif utama orang peduli terhadap Palestina. ada yang peduli karena di dorong oleh kemanusiaan, ada faktor agama, ada faktor politik..dan banyak lagi motif yang akan muncul.

Dewi Sartika Djamal sudut pandang yang berani, ada baiknya kita saling mencari referensi lagi agar tidak salah melangkah, karena ini masalah yang mendasar.   

Limpoel Chania · 19 teman yang sama“Di Palestina 50% penduduknya beragama Yahudi dan sisanya beragama Kristen dan Muslim yang berada di daerah Tepi Barat dan Yerusalem,” Duta besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi,.Tanggal 29 November oleh PBB ditetapkan sebagai Hari Internasional Solidaritas terhadap Palestina pada Sidang Umum PBB 12 Desember 1979. Tanggal ini dipilih karena pada 29 November 1947 PBB menerapkan resolusi 181 (II) atau yang dikenal dengan nama Partition Resolution. Resolusi ini mengatur pembagian Palestina menjadi dua, negara Yahudi dan negara Arab, dengan Yerusalem sebagai corpus separatum kedua wilayah. Namun, hanya satu negara yang lahir dari resolusi ini, yaitu Israel. Sementara Palestina masih diragukan kedaulatannya, bahkan oleh PBB sekalipun.....jadi...dan siapapun yang ada di palestine, apapun keyakinannya, apapun tendensinya, mereka juga manusia yang memiliki hak untuk hidup sebagaimana mestinya. Ini masalah kemanusian, Ini masalah pembantaian yang ada disana, wanita, anak-anak, dan masyarakat sipil yang telah menjadi korban kesemena-mena'an Israel di palestine. Saya rasa manusia manapun akan terusik jiwa kemanusiaannya terlepas dari apapun keyakinannya ketika melihat apa yang sedang menimpa saudara2 kita disana. 

Johannes Bambang Arianto · 2 teman yang sama
Sudah diprediksi dari dulu dan diulang, tujuan mereka itu berpropaganda untuk konsolidasi di Indonesia dengan tujuan memperoleh suara demi Pikalda atau keperluan lain.Kalau membela kaum syiah di Sampang Madura, pastilah tidak popoler. Membutakan diri dan anehnya banyak yang mau dibutakan. Bila pada suatu saat akan terjadi kedamaian di Palestina, kita di Indonesia yang hancur/terpecah belah , karena soal yang sama. Palestina.

Taufiq Tan Menarik sekali hasil diskusinya bung Ilham, kita tidak bisa melupakan perjalanan historis yang membuat negara israel dari tidak ada menjadi ada. lahirnya negara israel itu sendiri adalah kejahatan kemanusiaan, karena mereka melakukan perampasan, pencaplokan dan pengusiran terhadap warga palestina. jadi Kalau konflik israel dan palestina ini dipahami sebagai masalah kemanusiaan, maka selama israel itu ada, selama itu pula kejahatan kemanusiaan itu berlangsung, bukankah begitu bung? jadi perjuangan panjang rakyat palestina untuk memperoleh kembali hak2nya sudah complicated, di sana sudah termasuk masalah kemanusiaan, harga diri, dan agama. Kenapa juga agama? karena menurut saya, palestina dan masjid al-aqso sudah menjadi simbol kehormatan kaum muslimin, al-aqsha adalah milih sah kaum muslimin, bukan hanya muslim di palestina, tapi juga muslimin di seluruh dunia, karena itu membela dan mempertahankan eksistensinya sama dengan mempertahankan eksistensi kaum muslimin itu sendiri...dan menurut saya kita semua wajib mempertahankannya.... Israel memang berkepentingan untuk mengisolasi konflik ini dari dunia internasional. ketika pertama kali mereka mencaplok tanah palestina, seluruh dunia marah, tapi israel bisa mengisolasinya menjadi konflik kawasan, bahwa ini hanya urusan israel vs negara2 arab. setelah perang arab -israel selesai yang berakhir dengan kekalahan negara2 arab, mereka mengisolasi lagi konflik ini menjadi urusan Israel dan Palestina, negara arab tak usah ikut campur. kemudian diisolasi lagi menjadi israel vs PLO, kemudian diisolasi lagi menjadi menjadi israel vs hammas. mereka membuat citra bahwa israel tidak berperang melawan rakyat palestina, tapi melawan organisasi yang bernama hammas. sejak itu, dunia tidak peduli lagi dengan konflik israel vs hamas dan menganggap itu bukan urusan mereka. karena kepedulian dunia hanya pada kemanusiaan, dunia hanya bereaksi ketika ketika konflik menimbulkan korban. di luar itu banyak masyarakat Islam di seluruh dunia merasa konflik palestina bukan urusan mereka. apakah hasil diskusi bung Ilham dan kawan2 adalah bukti keberhasilan israel mengisolasi isu ini? wallahualam (yang terakhir ini just joking bung Ilham..wassalam)

Muhammad Ilham Fadli Bung Taufiq Tan ..... saya-pun belum sependapat dengan kesimpulan diskusi. Mungkin simpulan Soe Darman yang bisa menjadi "jalan tengah". Tergantung motivasi (walau ini terlampau sederhana bila dikaitkan dengan kajian politik internasional), ada yang melihat sebagai motivasi agama, ada yang melihat sebagai motivasi politik. Tapi (jujur) saya terkejut dengan statement Dubes Palestina di Jakarta, sebagaimana yang dijelaskan diatas oleh Liompoel Limpoel Chania. Tapi ungkapan Dubes tersebut bisa dikritisi. Bila Palestina itu secara geografis masuk daerah Israel, Yerusalem dan seterusnya, bisa jadi secara demografis orang Yahudi berjumlah lebih kurang 50 %. Tapi bila secara spasial hanya meliputi Daerah Otoritas Palestina (sekarang), tentu ungkapan si Dubes bisa dikatakan tak benar (ini juga pernah dibantah oleh Aristo Munandar di Harian Pedoman Masyarakat). _________________ Tentang Isolasi Isu, bisa benar bila dilihat dari "Manajemen Issu". Bagaimana-pun juga, politik adalah bagaimana mengatur isu. Kalau saya, hingga hari ini, (mana tahu nanti bisa pula berobah), masih memegang parameter UUD 1945 ...... bahwa penjajahan harus dihapuskan. Dan saya memahami, Israel mencaplok wilayah Palestina.

Limpoel Chania 
Semua mesti meluruskan keadaan yg sebenarnya, kadangkala banyak diantara kita yg terjebak dengan informasi yang ada dimedia, dan itupun dijadikan rujukan satu2nya, jaman sekarang apa yg nggak bisa dilakukan, sejarahpun bisa diputar-balikkan..mengapa harus palestina dan Israel, mengapa bukan Rusia dengan Amerika bersiteru jika dilihat dari kacamata pencaplokan wilayah?...Semua ini membingungkan, tentu saja karena keterbatasan kita yang kurang mengetahui sejarah yang sebenarnya..Apakah ini memang benar masalah kemanusiaan, atau masalah politik atau bisa saja masalah agama...Kalau masalah d indonesia sebahagian menganggap itu semua karena ulah tangan manusia, ketidakbecusan (maaf) pemimpinnya saja., berbeda dengan masalah palestina yang diperangi...wallahu'alam

Shofwan Karim Seperti tercantum di dalam diktum pembukaan UUD Negara RI 1945.

Andri Azis Tapi bisa saja banyak yang akan menyangka mereka pula yang membuat posisi Palestina tersudutkan Bang. Mudah-mudahan tidak benar.

Faisal Zaini Dahlan R. Garaudi menulis buku "The Case of Israel, a Studi of Political Zionism"....TETAPI diterjemahkan ke dalam bhs Indonesia menjadi "Zionis, Sebuah Gerakan Keagamaan dan Politik" . Dalam kesimpulan nomor 2 Garaudi menulis (2). Unsur doktrin yang dianut oleh negara Israel, Zionisme, sebagai sebuah gerakan politik, yang lahir bukan bersumber kepada tradisi Yudaisme, yang hanya sekedar memberikan kepada doktrin tersebut suatu penyamaran serta dalih-dalih pembenaran tindakan-tindakan yang dilaksanakan, tetapi sesungguhnya berasal dari nasionalisme dan kolonialisme Barat abad ke-19 adalah sebuah bentuk rasisme, nasionalisme, dan kolonialisme. (hal. 301).

Dina Y. Sulaeman Saya lebih suka menganalisisnya dari berbagai sisi, tdk membatasinya pada aspek2 tertentu. Saat berbicara dg sesama muslim, sangat layak bila perjuangan Palestina dibawa ke ranah agama, karena ada hadis dan ayat soal persaudaraan. Saat berbicara dg audiens umum, aspek kemanusiaan juga sangat tepat utk menganalisis Palestina. Saat bicara di ranah politik, Israel pun tetap bisa dikritik habis2an. Intinya, dari sisi apapun kita bicara, tetap saja, Israel adalah negara illegal.

Nano Hadinoto Kami, yang berada di Eropa, cenderung melihat masalah ini sebagai fenomena sosial-politik-ekonomi. Sosial, karena adanya kesenjangan sosial di wilayah itu, politik, karena tebalnya aspek politik internasionall, yang menyangku negata adidaya, dan ekonomi, karena seluruh wilaya Timur Tengah mengandung aspek ekonomi, yang mendominasi segalanya. Tak heran, armada negara negara adidaya berpatroli disana. Aspek agama SANGAT tipis, karena palestina pasti tidak menggebuk Israil karena mereka yahudi, namun karena mereka ingin merdeka, dan itu hak mereka. israel sebaliknya tak mungkin menggebuk Palestina karena Islam, sebab, kalau mau gebuk Islam, silakan gebuk Iran, Turki, Libya, Arab Saudi, Kuweit, Yemen, mesir, Yordania... tak mungkin lah.

Abrar Broer perspektif apa pun akan benar..karena semuanya terjalin dalam ranah yang holistik..agama, politik, ekonomi dst. Tp apapun judulnya..amerika lebih berpihak u israel..harus ada kekuatan pembanding untuk menyeimbangi dominasi dan kepercayaan negara2 terhadap amerika untuk menghentikan perperangan ini.

Nano Hadinoto Kesimpulan mas Fadli didukung fakta dilapangan. Uni Eropa yang 99,9% Kristiani selalu mem-back Palestina (walau tak berani menentang AS), memberikan sumbangan dana yang besar sekali tiap tahun untuk anggaran belanja Palestina, Jerman yang Kristiani tak henti henti memberikan bantuan tekhnologi. Jerman melatih polisi Palestina dan mempersenjatai mereka. Bantuan ini lebih daripada bantuan Indonesia, sebuah negara Islam terbesar didunia. SELURUH Amerika Latin, yang 100% Katholik, memback Palestina, juga di PBB. Mereka bukan kawan Israil. Kita lihat? Perjuangan rakyat palestina adalah perjuangan LINTAS agama. Juga saudara saudara kita, warga Indonesia Hindu Bali, Kristen, Buddha, Konghucu bersimpati pada perjuangan rakyat palestina. Tak ada yang ingin membantu Israil. 

Nico Varnindo Vargas mantap ! 

sumber : Muhammad Ilham Fadli Facebook