Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2013

Berkonflik Dengan "Saudara" Sendiri

Oleh : Muhammad Ilham

"Mengapa Ken Dedes mau menikah dengan si Sudra Ken Arok yang telah membunuh suaminya (baca : Tunggul Ametung)?". Padahal Tunggul Ametung satu kasta dengan Ken Dedes, sementara Ken Arok berasal dari kasta rendah, kasta Sudra ?. (Rupanya), bagi Ken Dedes, menikah dengan Tunggul Ametung yang satu kasta dengannya merupakan "aib" karena berbeda aliran. Bagi Dedes, biar menikah dan "berdamai" dengan "lain kasta" dibandingklan dengan beda aliran, walau satu kasta. "Kisah" ini (walau butuh verifikasi), terasa memiliki "benang merah" dengan apa yang berlaku dengan sesama muslim, antara Arab Saudi dan Iran di Jazirah Timur Tengah yang "tak pernah damai" itu. Arab Saudi mau bekerjasama dengan Israel (hanya) untuk menghancurkan "kawan" seagamanya. Lalu, argumentasi apa yang pantas untuk kita ketengahkan, kalau bukan alasan politis dan dominasi (dengan mengatasnamakan ajaran Islam) ?. 

Dulu, Arab Saudi menyediakan tempat di Dahran (hanya) untuk pasukan Jenderal Norman Schwarzkopf (maaf bila salah ejaan), hanya untuk menyerang Saddam Hussein. Kini, Arab Saudi berjabaterat saling bermutalissimbiotik dengan rezim Yahudi Israel, hanya untuk menyerang Iran ....... Lantas, dalam konteks ini, mengapa kita berbusa berbuih-buih memuja muji rezim Arab Saudi, Mengapa kita menjadikan Palestina sebagai komoditas politik, padahal yang "terdekat" (baca : Arab Saudi) tak sedikitpun menaruh simpati terhadap perjuangan rakyat Palestina. Arab Saudi yang Ken Dedes, mau bekerjasama dengan Israel hanya untuk membunuh "orang terdekatnya" bernama Tunggul Ametung. Berbeda aliran dalam satu kasta, (mungkin) jauh lebih memiliki kualitas aib tinggi dibandingkan berbeda kasta.

Berikut laporan TribunNews.com (cc : SundayTimes) : " .............. Israel dan Arab Saudi akan Bekerjasama Menyerang Iran".

TRIBUNNEWS.COM – Sebuah surat kabar Inggris, minggu pagi melaporkan bahwa Israel akan bekerjasama dengan Arab Saudiuntuk serangan militer melawan Iran. Kedua negara, yakni Israel dan Arab Saudi, ingin bersatu melawan Iran, karena khawatir negara-negara Barat akan datang untuk berdamai dengan Iran, meringankan sanksi, dan memungkinkan Republik Islam Iran melanjutkan program nuklirnya. Menurut Sunday Times, Riyadh telah setuju membiarkan Israelmenggunakan wilayah udaranya dalam serangan militer terhadap Iran, dan bekerja sama atas penggunaan helikopter penyelamat, pesawat tanker dan drone. "Arab Saudi ikut geram dan bersedia untuk memberikan Israel semua bantuan yang dibutuhkan," ungkap sebuah sumber diplomatik yang tak disebutkan namanya kepada koran itu. Laporan itu muncul ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sedang melobi kesepakatan bersama sebuah aliansi internasional menentang perjanjian yang memungkinkan Iran untuk terus memperkaya uranium. 

Pada hari Minggu, Israel akan menyambut Presiden Prancis Francois Hollande, yang pekan sebelumnya memberikan omong kosong pada kesepakatan antara enam kekuatan dunia dan Iranyang akan meringankan sanksi dengan imbalan langkah awal menuju batas pengayaan. Netanyahu pada hari Jumat mendesak Prancis untuk tetap teguh dalam tekanan pada Iran menjelang babak baru pembicaraan mengenai program nuklir Republik Islam itu di Jenewa. Setelah bertemu Hollande, Netanyahu akan pergi ke Moskow pada hari Rabu untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin dan akan melobi kesepakatan. “Sebagai perdana menteri Israel, saya harus menjaga keberlangsungan hidup negara saya,” tegas Netanyahu. CNN melaporkan bahwa Netanyahu juga mengatakan dalam wawancara bahwa ia akan melakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk melindungi Israel.

Sumber Foto: Dodi Esvandi

Jumat, 12 Juli 2013

Dikotomi yang Mencederai Persaudaraan Muslim

Oleh : Muhammad Ilham 

Seandainya rezim Bashaar al-Assad tidak dekat dengan Iran, tentunya Arab Saudi dan Mesir tidak menganggap putra Hafeez al-Assad tersebut wajib diperangi. Tapi ia sahabat sejati Iran yang Syi'ah dan Heezbollah yang juga Syi'ah, sehingga pada akhirnya, sesama saudara muslimnya (Mesir, Arab Saudi dan Turki serta negara aristokrat-absolut teluk lainnya) menempatkan negara yang dulu dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW. sebagai Damsyik ini, sebagai "out-group". Sementara NATO dan Israel, justru kebalikannya. Teruslah kalian berperang, berperanglah terus. Ketika manusia di belahan dunia lain sedang membangun peradaban, berusaha melahirkan para pemenang Nobel, mewujudkan mimpi manusia untuk hidup di luar angkasa, memikirkan ozon yang demi kepentingan generasi mendatang, berlomba-lomba membahagiakan manusia dengan capaian-capaian tinggi dan ulung dalam bidang teknologi ...... pada sisi lain negeri-negeri "kelahiran" pada Nabi ini sedang berlomba untuk membeli senjata negara-negara "pusat peradaban modern" untuk dihabiskan dan dimuntahkan kedalam tubuh sesama saudara muslim mereka. Teruslah berperang, berperanglah terus ....... !!

(Ketika saya masih Sekolah Dasar dahulu, saya paling suka memandang foto seorang aristokrat Arab Saudi yang pendek-tambun di majalah Tempo milik ayah saya. Sang aristokrat itu bernama Adnan Khasogi. Ia flamboyan, dekat dengan wanita-wanita cantik dan berprofesi sebagai Pialang Senjata. Ia pernah berkata (kira-kira begini) : "Timur Tengah merupakan pasar persenjataan paling potensial untuk jangka waktu yang tidak bisa dipastikan, tapi yang jelas, untuk jangka waktu yang lama". 

Ketika menonton ILC beberapa malam yang lalu, teringat saya dengan novel AROK-DEDES-nya Pramoedya Ananta Toer. "Mengapa Ken Dedes mau menikah dengan Ken Arok yang telah membunuh suaminya (baca : Tunggul Ametung)?". Padahal Tunggul Ametung satu kasta dengan Ken Dedes, sementara Ken Arok berasal dari kasta Sudra ?. (Rupanya), bagi Ken Dedes, menikah dengan Tunggul Ametung yang satu kasta dengannya merupakan "aib" karena berbeda aliran. Bagi Dedes, biar menikah dan "berdamai" dengan "lain kasta" dibandingklan dengan beda aliran, walau satu kasta. "Kisah" ini (walau butuh verifikasi), terasa memiliki "benang merah" dengan apa yang berlaku dengan realitas Sunni-Syi'ah sebagaimana yang terefleksi dalam acara ILC tersebut.

Tulisan ini, kemudian saya posting di Facebook Muhammad Ilham Fadli, untuk mengkritisi sebuah artikel IST (cc : http://international.okezone.com), tentang "Mesir : Izinkan Warganya untuk Berperang di Suriah" : 

Pejabat senior di kantor Presiden Mesir mengatakan, seluruh warga diizinkan untuk bergabung dalam peperangan di Suriah. Warga-warga itu tidak akan dihukum sepulangnya mereka dari Suriah. "Hak bepergian akan terus terbuka untuk seluruh warga Mesir," ujar salah satu penasihat Presiden Mesir Khaled al-Qazzaz, ketika menanggapi pertanyaan seputar konflik Suriah dan sikap warga Mesir atas peristiwa itu, demikian seperti diberitakan Associated Press, Jumat (14/6/2013). Qazzaz menegaskan, Pemerintah Mesir tidak khawatir akan munculnya radikalisasi warga Mesir setelah mereka pulang dari Suriah. Meski militansi kian berkembang di Semenanjung Sinai kian meningkat, Mesir belum menganggapnya sebagai ancaman. "Kami tidak memandang hal itu sebagai ancaman. Kami bisa mengontrol situasi di Sinai, Mujahidin itu tidak akan kembali," papar Qazzaz. Sebelumnya, salah satu ulama Sunni Mesir Yusuf Qardawi turut menyerukan warga agar mendukung oposisi Suriah dengan tenaganya. Ulama itu berupaya untuk menekan kekuatan Hizbullah yang membantu pasukan Presiden Bashar al-Assad. "Semuanya yang memiliki keahlian dan pernah mendapat pelatihan untuk membunuh, diwajibkan untuk pergi (ke Suriah)," ujar Qardawi. Namun dorongan-dorongan itu dinilai akan semakin meningkatkan eskalasi perang saudara di Suriah. Kelompok bersenjata asing justru akan memainkan peranan yang sangat besar dalam konflik tersebut. Sejauh ini, Mesir belum tahu berapa jumlah warganya yang berperang di Suriah. Warga-warga yang berperang umumnya adalah anggota dari kelompok Salafi.

Selasa, 20 November 2012

Israel Sedang Menguji Loyalitas Obama

Oleh : Muhammad Ilham 

“When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel ….." 
(Obama)

Israel sedang "mentesting" Obama. Secara politik, Israel berharap agar Matt Romney yang terpilih karena (teramat) berorientasi pada Israel. Tapi publik Paman Sam ternyata lebih menyukai suami Michelle Obama ini. Dan, Israel ingin menguji sebuah hal yang bernama "kesetiaan" ..... dan Obama (serta siapapun nantinya Presiden AS), pasti setia. Sangat tidak mungkin Obama melawan arus “pakem” kebijakan politik standar Amerika Serikat, apalagi Obama nyata-nyata telah mendukung Israel sebelum ia jadi Presiden. Persoalan Palestina-Israel, lebih memungkinkan hanya bisa diselesaikan oleh komunitas Timur Tengah, khususnya negara-negara Islam Teluk. Kita tak bisa berharap banyak pada PBB, demikian juga dengan Amerika Serikat, siapapun presidennya. Dalam ilmu politik, antara Israel dan Palestina telah terjadi cyrcle bargaining, siklus tawar-menawar. Siapa yang menunggangi dan ditunggangi, tidak jelas secara konkrit. Apakah Israel yang menunggangi Amerika Serikat atau sebaliknya. Namun yang jelas, hubungan Amerika Serikat dan Israel adalah hubungan simbiosis mutualis, saling menguntungkan. Oleh karena itu, kemauan politik negara-negara Timur Tengah-lah yang lebih rasional dan memungkinkan. 

Salah satu bukti kesetiaan itu terlihat dari tanggapan Gedung Putih berkaitan dibombardirnya Gaza dalam minggu terakhir ini. Dunia internasional (termasuk PBB dan ASEAN) "mengutuk" dibombardirnya Gaza tersebut. Namun Israel - sebagaimana halnya dengan tindakan negara ini pada waktu-waktu terdahulu - tetap tak bergeming. Sedangkan Gedung Putih, mendukung (selalu) tindakan negara Zionis ini, dengan menyelipkan sedikit "pesan kemanusiaan" yang mudah dibaca sebagai "kamuflase diplomasi internasional", sebagaimana tanggapan Obama tentang Gaza.  "Presiden menegaskan kembali dukungan AS terhadap hak Israel untuk mempertahankan diri, dan juga menyampaikan penyesalan mendalam atas jatuhnya korban jiwa baik dari warga sipil Palestina maupun Israel," demikian pernyataan Gedung Putih seperti dilansir AFP, Sabtu (17/11/2012). PM Netanyahu yang menginisiasi telepon tersebut, menyampaikan apresiasi mendalam atas investasi AS bagi roket Iron Dome dan sistem pertahanan mortar. Menurut Netanyahu, persenjataan tersebut secara efektif melawan roket yang ditembakkan oleh militan Hamas dari Jalur Gaza. "Efektif melawan ratusan roket yang ditembakkan dari Gaza dan berhasil menyelamatkan banyak nyawa warga Israel," imbuh pernyataan tersebut yang mengutip pernyataan Netanyahu. Namun, pernyataan Gedung Putih tidak memberikan penjelasan lebih lanjut soal rencana kedua negara. Hanya disebutkan bahwa, kedua pemimpin juga mendiskusikan soal cara untuk meminimalisir konflik yang terjadi.

“When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel", demikian Obama.  

Berikut tanggapan beberapa kawan (facebooker) di Facebook saya : 

Anis Ahmad semua sedang mengetes pak Muhammad Ilham Fadli...menurut Rabbi Jonathan Sacks yang berbicara kpd BBC..eskalasi ketegangan saat ini antara Israel dan Hamas "ada hubungannya dengan Iran, sebenarnya. lebih lanjut bisa disimak di surat kabar Sayap kiri Israel Haaretz telah menerbitkan serangkaian artikel sepanjang minggu ini yang menunjukkan bahwa penyerangan ke Gaza bisa menjadi "pemanasan" untuk menyerang Iran.

http://www.haaretz.com/weekend/week-s-end/for-netanyahu-gaza-escalation-could-pave-the-way-to-iran-strike.premium-1.478369

masih inget ttg drone hizbullah yang menyelinap ke israel dan berhasil memotret latihan perang antara IDF dan Us Army?
mereka sdh siap2 utk melakukan latihan perang dlm menghadapi Iran

http://www.bizpacreview.com/hezbollah-drone-transmitted-preparations-for-israeli-u-s-joint-military-exercise/
 

Secara teori, pasukan yang mampu menyerang Ahmed Jabari akan dapat menentukan lokasi Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Dan dengan pasukan tersebut juga mampu menghancurkan roket Fajr serta rudal Shihabs, serta instalasi nuklir Iran.

Juru Bicara IDF
menekankan bahwa "Jalur Gaza telah menjadi garis depan pangkalan Iran." Pada pandangan pertama, Operasi Pilar Pertahanan tampaknya ditujukan pada arena Palestina, namun pada kenyataannya diarahkan atas permusuhan Iran terhadap Israel. "

"Operasi Pillar of Clouds merupakan tes praktek keahlian untuk komandan Angkatan Udara Israel dan kepala Intelejen IDF, Mayor Gens Amir Eshel dan Aviv Kochavi."

http://www.youtube.com/watch?v=P6U2ZQ0EhN4&feature=player_embedded

M Arief Pranoto Mungkin kalau Henry Bannerman masih hidup, ia akan berkata "peran yang dimainkan sudah benar" --- menjadi organ pemecah-belah di Jazirah Arab.

Muhammad Ilham Fadli Dan LUCUnya, cuma IRAN yang bersuara keras, sedangkan negara TimurTengah yang (katanya) Islam itu, semuanya mendiam bisu, buta dan pekak bin tuli : _____ http://news.detik.com/read/2012/11/19/104134/2094064/1148/ahmadinejad-kecam-serangan-israel-ke-gaza?nlogo

Referensi : BBC/AFPNews & detik.com (Foto : republika.co.id)
   

Kamis, 01 November 2012

Solidaritas A-la Khaddafi

Oleh : Muhammad Ilham 

Mencermati Konflik Sosial di RAKHINE-Rohingya Myanmar dan SURIAH, saya teringat dengan Moammar Qaddafi (@ Khaddafi). Terlepas dari "sisi jeleknya", ada satu benang merah untuk melihat posisi politik internasionalnya - solusi Pan-Arabisme dan solidaritas muslim-nya yang amat kentara.

Moammer Qaddafi, tak lebih tak kurang adalah pribadi yang responsive dan spontan. Ia beda dengan Anwar Sadat ataupun Husni Mubarak, apatah lagi bila disandingkan dengan Hafeez al-Assad yang kala hidupnya termasuk tokoh paling berpengaruh di Timur Tengah. Qaddafi memiliki “dunianya” sendiri yang terkadang kontradiktif. Merindukan Arab yang bersatu di satu sisi, pada sisi lain dengan mudahnya ia melecehkan para Sultan-Sultan konservatif Timur Tengah. Qaddafi yang menyedot kekaguman saya untuk kali pertama lewat cover majalah TEMPO milik ayah saya di tahun 1980-an ini, mengklaim dirinya sebagai “anak ideologis” Nasser. Saya masih ingat sebuah penggalan wawancara wartawan TEMPO (pasca peristiwa peledakan pesawat terbang Pan Am di Lockerby) dengan Qaddafi. “Ketika saya berhasil menurunkan Raja Idris, bertanyalah Raja Hassan dari Maroko pada saya, apakah saya anak sosialis Partai Baath?”, kata Qaddafi. Lalu saya jawanb, “Tidak, saya adalah anak revolusi Nasser”. Qaddafi mungkin bukan pribadi yang kompleks seumpama Nasser. Kontradiktif, memang. Boleh dikatakan, Qaddafi merupakan pribadi puritan dalam dunia yang kompleks. Baginya, selain Islam, tidak ada alternative lain. Dan ini ia tuangkan dalam buku ideologisnya yang terkenal,Buku Hijau, sebuah buku “mirip” Das Kapital bagi kaum Marxis. Baginya memilih diantara dua “kutub ideology besar” – Amerika Serikat arau Rusia/Uni Sovyet – bukanlah pilihan cerdas. “Satu imperialis, satu lagi atheis”, sebuah ungkapannya yang terkenal seperti “Tak Barat, Tak Timur”nya Ayatullah Ruhullah Khomeini. 

Kala ia menggugat Nasser memilih Rusia/Uni Sovyet sebagai “teman berdayung” menghadapi Israel yang tentunya dibawah bayang-bayang Amerika Serikat, Nasser kelabakan menjelaskan hubungan-hubungan politik-regional yang tidak hitam putih ini kepada Qaddafi. Puritanisme Qaddafi ini lebih merupakan refleksi dari kesederhanaan anak padang pasir pedalaman. Wartawan TEMPO era 1980-an – Parakitri (kalau saya tak salah) – menganggap Qaddafi menemukan dirinya sendiri dalam dinas ketentaraan. Ia mencintai dunia ini karena satu factor : kedisplinan. Tapi nalurinya tetap kebebasan a-la badui Padang Pasir. Tidaklah mengherankan bila ia responsive dan spontan. Ia pernah marah besar pada Raja Yordania – Hussein – yang mengobrak abrik kelompok Fedayyin, “Raja sinting itu harus diborgol dan dibuang ke luar Arab”. Dengan santai-nya Qaddafi juga memanggil raja-raja Arab dengan “saudara”. Tentunya raja-raja konservatif ini merasa tersinggung luar biasa. Qaddafi tak peduli, apakah ucapannya itu akan berpotensi menjadi batu penghalang mewujudkan mimpinya akan “Persatuan Arab”. Dan memang, ide besar yang ia rujuk pada Pan-Arabisme Nasser ini, tak pernah didukung negara-negara Arab yang mayoritas kerajaan itu. Jauh sebelum Qaddafi menjatuhkan Raja Idris di Libya, ia menyaksikan betapa rapuhnya persatuan Arab. Ia miris kala menyaksikan kehancuran dunia Arab, baik dalam Perang Suez 1955 maupun Perang Juni 1967 (Yom Kippur). “Semua ini karena masyarakat Arab bercerai berai,” pekiknya. Tidaklah mengherankan kemudian, tidak sampai dalam hitungan minggu ia merebut kekuasan di Libya, Qaddafi menyampaikan “pesan” pada Nasser – mentornya. “Beritahukan Nasser, revolusi ini digerakkan untuknya, karena itu, ia boleh ambil apa saja milik kami. Libya punya berates mil pantai tengah, punya dana dan segalanya. Semua itu bias dipakainya untuk bertempur mewujudkan persatuan Arab”, ujarnya. Gagasan ini tidak ditanggapi Nasser secara serius. 

Ketika Nasser meninggal dan digantikan oleh Anwar Sadat, Qaddafi juga mengajak suami Jehan Sadat ini untuk penyatuan Arab – bermula dengan tawaran menyatukan Libya dan Mesir. Bersama ibu, istri dan bayinya dan menggerakkan 40.000 rakyat Libya long march dari Libya ke Kairo – sebuan perjalanan teramat panjang – Qaddafi ingin menunjukkan kesungguhan yang spontan dan responsive. Anwar Sadat tergugah, pembicaraan dua negara ini bermula. Libya akan dijadikan salah satu propinsi Mesir. Lalu Qaddafi ? … ia siap melepaskan jabatannya. Tapi ambisi penyatuan dua negara ini tak lama. Anwar Sadat dan Qaddafi, pecah kongsi dan berselisih paham. Bagi Sadat, Qaddafi tidak matang dan tidak memiliki keseimbangan. Ia terlampau spontan dan tak stabil, menggelora tanpa perhitungan. Sebaliknya, Qaddafi menilai Sadat kurang revolusioner. Gagal dengan Nasser dan Anwar Sadat, tak menyurutkan Qaddafi untuk mewujudkan keinginan dan mimpinya tentang penyatuan Arab. Pada awal tahun 1980-an, ia pernah mengajak negara Aljazair dan Syiria serta Maroko bersatu. Tapi karena ia gabungan “militer yang disiplin dan naluri badui” membuat negara-negara yang diajaknya ini tidak berkenan. Nasser yang “bermantagi”, gagal, apatah lagi Qaddafi yang spontan-menggelora ini. Tapi “mimpinya” ini setidaknya memberikan catatan bagi sejarah bahwa solusi terbaik bagi negara-negara di Timur Tengah agar tidak identik dengan konflik adalah dua – “penyatuan Arab” dan selalu mengingat kata-katanya … Amerika Serikat dan Rusia sama saja, yang satu imperialis, lainnya atheis !. Rasanya, Qaddafi benar ! 

ARTIKEL 2 : (SOLIDARITAS MUSLIM DUNIA : Kasus Rohingya) 

Khaddafi "muda" dikenal memiliki solidaritas diantara kaum muslimin internasional yang sangat tinggi. Pada tahun 1972, Presiden Uganda nan fenomenal itu, Idi Amin gagal mendapatkan bantuan keuangan dari Israel yang telah lama membantu negara "benua hitam" ini. Sewaktu ia mau pulang ke negaranya, Idi Amin menceritakan kegagalannya memperoleh bantuan keuangan dari Israel. Oleh Khaddafi kemudian, Idi Amin diberikan bantuan dua kali lipat dari permintaan Idi Amin pada Israel. Syaratnya tak banyak - putuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Itu saja. Dan uang dianggap lunas, tak perlu dikembalikan. Ketika tentara Israel menghantam pesawat-pesawat terbang Uganda karena Uganda dianggap terlibat kasus penyanderaan orang Yahudi dalam penerbangan Air France dari Athena tahun 1975 (?), Khaddafi dengan amat cepat mengganti pesawat-pesawat Uganda ini dengan pesawat-pesawat tempur Mirage buatan Perancis. Perancis-pun marah karena dibohongi Khaddafi yang mengatakan bahwa pesawat-pesawat Mirage yang dibelinya itu untuk kebutuhan dalam negeri. Khaddafi tak ambil pusing. Di Afrika, Khaddafi tidak hanya membantu Uganda saja. Banyak negara-negara lain di "benua hitam" ini menerima uang pemberian Khaddafi. Bantuan "gratis" dengan syarat mudah - negara-negara penerima bantuan Khaddafi harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Nasserianisme-nya teramat kental. Namun seiring dengan perjalanan waktu, Khaddafi "meluaskan" wilayah hasrat politik internasionalnya. Ia memberikan bantuan tidak lagi dengan syarat pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Israel saja. Khaddafi justru membantu elemen-elemen masyarakat yang memberontak terhadap negara mereka masing-masing. "Seandainya Afrika Selatan dekat dengan negara kami secara teritorial, tentu saya akan memberikan bantuan keungan dan persenjataan pada mereka untuk melawan rezim Apartheid", kata Khaddafi. Perlawanan IRA (pembebasan Irlandia Utara) terhadap Inggris juga (konon) turut di back-up secara finansial oleh Khaddafi. Demikian pula dengan pergolakan penduduk Islam d Moro di Filiphina Selatan. Bahkan Presiden Filiphina pada masa itu, Ferdinand Marcos, sering dikutuk dan dicaci maki Khaddafi. Sambil mengutuki Marcos, bantuan keuangan dan senjata terus mengalir ke Filiphina Selatan dari Tripoli. Bahkan disinyalir, Ghaddafi juga terlibat dalam perjuangan masyarakat muslim Thailand Selatan (Yala, Narathiwat dan Pattani). 

Di kawasan bergolak yang tadinya merupakan milik Sultan-Sultan Melayu tersebut, pergolakan tidak seseru Filiphina Selatan, tapi campur tangan Khaddafi cukup diperhitungkan. Ketika muslim Eritrea di Ethiopia bergolak, maka dalam pertemuan Kepala Negara Islam di Tripoli, Khaddafi mengatakan bahwa Libya yang mempersenjatai Front Pembebasan Eritrea. Bagi Khaddafi, Kaisar Haille Selassi yang merupakan pimpinan Ethiopia kala itu adalah pimpinan yang menindas kaum muslimin Eritrea. Bahkan secara terang-terangan, Khaddafi mengatakan bahawa Haille Selassie adalah turunan Hebrew dan mempunyai ikatan dengan zionisme. Pakistan yang juga Islam tidak luput dari bantuan Khaddafi. Saking besarnya perhatian Khaddafi terhadap Pakistan, sampai-sampai Presiden Pakistan masa itu, Zulfikar Ali Bhutto merasa perlu "berterima kasih" pada Khaddafi. Nama Khaddafi diabadikan sebagai nama salah satu stadion olah raga di Pakistan. 

Sementara bantuan Khaddafi terhadap Palestina, nyata dan jelas. Disamping bantuan terhadap "saudara kami kaum muslimin", demikian istilah Khaddafi, lawannya pun jelas, Israel. "Kami mempersenjatai orang-orang Palestina dan ini kami anggap adil serta sebuah bentuk tanggung jawab suci", kata Khaddafi mensikapi  bantuannya pada Palestina. Membantu orang-orang Palestina bagi Khaddafi tidak hanya dalam hal perjuangan ke arah pembebasan wilayah-wilayah yang diduki Israel saja. Gerakan-gerakan internasional seperti penyanderaan dan pembajakan yang dilakukan oleh orang-orang Palestina, juga mendapat dukungan langsung maupun tidak langsung dari Libya.  Saya yakin, kalau seandainya Khaddafi hidup, mungkin ia-lah yang bereaksi keras terhadap kasus Rohingya.

Artikel ini telah dipublish di : http://www.theglobal-review.com
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=10019&type=4#.UI_DpmH9EW4

Referensi : Tulisan ini didasarkan pada reportase TV One dalam acara "Timur Tengah" jelang kejatuhan Qaddafi & Wikipedia.com

Senin, 29 Oktober 2012

Alur Politik


Alur politik Amerika Serikat - Israel  dan Negara-Negara di Timur Tengah

sumber foto : international politics

Rabu, 24 Oktober 2012

Gendang Kuasa Hegemonik AS dan Sekutunya

Oleh : Muhammad Ilham 

Sehubungan dengan artikel di Global Review : 

Direktur Eksekutif Global Future Institute Hendrajit mengatakan, Pidato Presiden SBY di depan peserta Musyawarah Nasional PBNU September lalu mengenai sikap Indonesia terkait krisis di Suriah, sangat mengecewakan.  "Meskipun tidak secara terang-terangan mendukung skema global Amerika menggusur Presiden Bashar Assaad, namun penekannya pada upaya dunia internasional untuk menghentikan konflik bersenjata di Suriah, bisa ditafsirkan tetap memberi angin bagi kekuatan-kekuatan pro Amerika dan Eropa Barat untuk menggusur Presiden Assaad dari kursi kepresidenan," terang Hendrajit kepada NU Online di Jakarta, siang tadi (18/10). Dia berpendapat, pernyataan Presiden SBY sangat pro Amerika dan para sekutunya yang menggunakan dalih demokrasi dan pelanggaran hak-hak asassi manusia sebagai pembenaran agar dunia internasional melakukan isolasi total terhadap Presiden Assaad.

"Presiden Hugo Chavez justru memberikan sikap yang jauh lebih progresif daripada Presiden SBY. Dengan menyatakan diri berada dalam satu sikap dan haluan dengan Rusia dan Cina yang sudah terlebih dahulu mengecam campur-tangan AS di Suriah, Hugo Chavez menegaskan bahwa mendukung gerakan penggulingan kekuasaan Presiden Bashar Assaad berarti secara terang-terangan melakukan pelanggaran kedaulatan nasional Suriah," paparnya.Cina dan Rusia, kata Hendrajit, cukup punya alasan kuat mengecam campur tangan AS di Suriah. "Presiden  Venezuela Hugo Chavez juga tidak omong kosong ketika mengatakan penggusuran Presiden Bashar Assaad merupakan pelanggaran kehormatan dan kedaulatan nasional terhadap Suriah," lanjutnya.Lebih jauh Hendrajit berharap bahwa Pemerintah Indonesia tidak bisa netral dan acuh tak acuh. Harus ada sebuah tindakan nyata dan bersifat ofensif baik dari jajaran kementerian luar negeri, maupun elemen-elemen masyrakat, terutama dua organisasi Islam terbesar di Indonesia NU dan Muhammadiyah, untuk menyatukan sikap menentang campur tangan AS dalam urusan dalam negeri Suriah. Dikatakannya, konflik di Suriah terus berkecamuk karena keseimbangan antara AS dan sekutunya, Rusia dan Cina cukup terjaga dan ini bikin AS dan Inggris jadi kebakaran jenggot belum lagi Iran yang pakai selat Hormuz sebagai kartu truf. 

Maka saya berpendapat :

Apapun tentang Bashar al-Assad, pemimpin seluruh dunia dan lembaga-lembaga dunia yang otoritatif, seharusnya EQUAL. Bak kata Ruhut Sitompul, "jangan ikut gendang politisi ketika melihat kasus hukum di Indonesia." Maka bila kita pakai pola Ruhut ini, maka Pendapat yang sama: "Indonesia harusnya tak mengikuti gendang kuasa hegemonik dunia - meminjam Gramschy, dalam hal ini AS dan sekutunya. 

Bagaimanapun Juga, Assad memiliki latar untuk menjaga otoritas dan kewibawaannya, dan ia memiliki nilai sendiri terhadap para "pemberontak" (oposisi istilah Erdogan dan AS). Kuasa hegemonik, dengan mudah "membentuk opini". Defenisi "brutal, barbar, mana oposisi-mana pemberontak, "dipaksakan" untuk diterima oleh penafsir tunggal, dalam hal ini kuasa hegemonik tadi. "Saya menjaga kewibawaan dan kedaulatan negara saya", demikian yang sering diucapkan Bashaar al-Assad, justru diterjemahkan oleh banyak pihak sebgai "pelanggaran HAM tragis". Bila ini dipertanyakan, akan memunculkan banyak pertanyaan-pertanyaan "bumerang". Bagaimana dengan kasus Irak, Libya dan seterusnya. Akhirnya kita ingat dengan "cerita Alexander Agung dengan seorang Nelayan": "Saya mengambil ikan di laut ini, tuan Alexander anggap sebagai pencuri, tapi kalian menjarah laut ini justru dianggap sebagai pahlawan".

Kesimpulannya, saya kutip kata Assad di reuter: "Saya punya cara mengatasi konflik di negara saya, dan anda sekalian (maksudnya: negara-negara Barat), tidak memiliki otoritas untuk mengajarkan kepada saya bagaimana cara yang terbaik karena tangan dan sejarah kalian-pun masih basah oleh kebrutalan". Naaaaahhhhh !!. 


Lebih lanjut : 
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=9933&type=100#.UIif7Gf5vIU
Muhammad Ilham Fadli


Konsepsi demokrasi-pun sangat kontekstual, tergantung kompromi "waktu" dan "budaya" ...... dalam bahasa lain : tergantung latar historis dan kultural. Karena itu, sangat tidak adil, bila dalam dunia yang pluralis, dipaksakan untuk mengaplikasikan "defenisi tunggal". Tapi sekali lagi, kuasa hegemonik, selalu melakukan hal itu, dan terkadang kita secara latah mengikutinya. nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia dengan "setting" universal a-la barat, tentunya tidaklah fair bila dianggap sebagai sesuatu yang harus mutlak "diterima semuanya" oleh kita yang memiliki latar kultural dan sejarah yang berbeda dengan mereka. Apalagi, kecurigaan terhadap agama, telah menjadi cause-awal lahirnya beberapa ideologi dan nilai-nilai demokrasi dan HAm yang dianggap sebagian dari kita sebagai nilai-nilai universal. Padahal, filosof sejarawan sekuler, Bertrand Russel, mengatakan : "Sebuah ideologi, tidaklah pernah universal, ia lahir dan tumbuh berkembang dari perjalana sejarah panjang mereka". Karena itu, alangkah naifnya kita "mengadopsi" dan menganggap sesuatu ideologi yang nyata-nyata lahir dan tumbuh berkembang dari sebuah komunitas/entitas sosial yang memiliki latar historis berbeda dengan kita. Bukan berarti menolak, karena menolak tanpa kompromi dan pemahaman komprehensif juga bukan sesuatu yang baik tapi menganggap sebagai sesuatu yang mutlak, juga menjerumuskan kita pada fanatisme dalam bentuk lain dan menjadi insan yang a-historis. Bak kata teman saya ....... "Menganggap PIZZA sebagai makanan universal dan melihat kualitas makanan orang Mentawai yang suka Sagu dari kacamat PIZZA"

Minggu, 14 Oktober 2012

Assad dan Konflik Suriah

Oleh : Muhammad Ilham 

Ketika Opini "si pembunuh" terbentuk oleh media terhadap Bashaar al-Asaad, Presiden Suriah, izinkan saya untuk memiliki pandangan lain. Bashaar al-Asaad, dikenal tak segarang ayahnya, Hafeez al-Assaad. Hafeez al-Assaad, dikenal sebagai salah satu penentu konstelasi politik Timur Tengah pada era 1980-an bersama-sama dengan Anwar Sadat, sehingga (pernah) muncul diktum : "Di Timur Tengah tak ada damai tanpa Mesir, tak ada perang tanpa Suriah".  

Siapa Bashaar al-Assaad ? 

Asad adalah satu-satunya pemimpin Arab yang hingga hari ini tetap teguh menolak berdamai dengan Israel, Asad bahkan membantu Hizbullah untuk melawan invasi Israel ke Lebanon selatan, bahkan Asad menyediakan perlindungan bagi aktivis-aktivis top Hamas. Syiria - Asad adalah ‘ayah’ bagi jutaan pengungsi Palestina dan Irak. Sejak 63 tahun yang lalu, Syria adalah tempat berlindung bagi orang-orang Palestina yang terusir dari tanah air mereka sendiri. Syria bahkan menjadi markas perjuangan Hamas untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Israel. Kondisi 500.000 pengungsi Palestina di Syria jauh lebih baik daripada kondisi pengungsi Palestina di Lebanon atau Jordan. Para pengungsi itu mendapat layanan kesehatan dan perumahan yang sama sebagaimana rakyat Syria. Lebih dari itu, perang Irak pun membawa dampak membanjirnya pengungsi ke Syria. AS yang konon datang ke Irak untuk menyelamatkan rakyat Irak, justru telah menyebabkan 1,5 juta warga Irak terpaksa mengungsi, menjauhkan diri dari berbagai aksi kekerasan di Irak. Bagi Syria yang berpenduduk 18 juta jiwa itu, kedatangan 2000 pengungsi per hari (data tahun 2007) , jelas memerlukan sebuah kelapangan hati yang luar biasa. Bandingkan dengan Mesir era Mubarak yang dengan bengis menutup pintu perbatasan Rafah, menghalangi pengungsi Palestina, yang sekarat sekalipun, untuk mendapatkan pertolongan. 

Menurut UNHCR, kedatangan pengungsi dalam jumlah sangat besar itu menambah berat beban Syria karena mereka diberi layanan sebagaimana warga Syria: pendidikan, kesehatan, rumah, dan subsidi minyak. Tak heran bila Syria disebut sebagai negara yang terbaik di kawasan Timur Tengah dalam memberikan layanan sosial dan ekonomi bagi para pengungsi. Dan kini, AS dan sekutu-sekutunya berupaya menggulingkan Assad dengan alasan demokrasi. Namun, alasan sesungguhnya adalah jelas: Asad adalah satu-satunya pemimpin Arab yang hingga hari ini tetap teguh menolak berdamai dengan Israel, Asad bahkan membantu Hizbullah untuk melawan invasi Israel ke Lebanon selatan, bahkan Asad menyediakan perlindungan bagi aktivis-aktivis top Hamas. Bagi Israel, Asad adalah duri dalam daging. Dan kepada AS-lah Israel meminta bantuan untuk menyingkirkan Asad. AS, lagi-lagi, menggunakan cara lama, membiayai kelompok-kelompok oposan di Syria untuk melawan Asad. Media pun digunakan untuk membesar-besarkan demo di Syria (bahkan dengan cara curang sekalipun, dengan menggunakan kamuflase gambar- gambar dan video). Bahkan, untuk kasus Libya dan Syria, justru Al Jazeera (yang sering dicitrakan sebagai media non-Barat) yang menjadi ujung tombak untuk menggalang opini dunia agar AS diberi hak untuk melakukan ‘humanitarian intervention’: menyerbu Libya dan Syria, menggulingkan Qaddafi dan Asad, dan mengganti keduanya dengan pemimpin yang bisa ‘diatur’.

Sumber/Referensi tulisan miring : 
http://dinasulaeman.wordpress.com/2011/05/23/syria-prahara-di-negeri-kaum-pengungsi/
& Cakrawala Sains  Facebook
Foto : presidenassad.net

Jumat, 12 Oktober 2012

Politic is Who Get What How and When

Oleh : Muhammad Ilham

Kaidah umum dalam ilmu politik, dan itu tidak terbantahkan dalam realitas dan entitas interaksi politik adalah "tak ada makan siang yang gratis"....... who get what how and when, kata Harold Lasswel. 


(c : rationalist)
(c : rationalist)

KLIK (artikel saya) :


(c : AFPNews)

Minggu, 30 September 2012

Yahudi, Zionisme & Ahmadinedjad

Oleh : Muhammad Ilham

Bermula dari artikel tentang " Ahmadinedjad Tidak Keberatan Bila Anaknya Berhubungan dengan Yahudi" (detik.nes.com/internasional) dan artikel saya yang berjudul "Ketika Hitler Masih Hidup" Muhammad Ilham BLOG: Ketika Hitler (Masih) "Hidup" maka diskusi-pun berlangsung :

Ning Surachman Manusia dilarang untuk rasis. Kebanyakan tak mengerti apa itu yahudi dan apa itu zionis. Sehingga pukul rata dengan mengatakan semua Yahudi jahat, orang Arab itu bakhil, atau apalah itu.. Untuk mengubah pola pikir itu sulit.

Ali Cestar judaism is 100% monotheistic. zionism is 65% atheistic. (gitu aja kok repot...qqq)

Dina Y. Sulaeman berita yg di detik com itu ngasih info yangg seolah-olah sudah disepakati/sahih soal ras-nya Ahmadinejad.. pdhl cerita sebenarnya nggak gitu..pernah saya tulis di ini:http://dinasulaeman.wordpress.com/2009/10/11/benarkah-ahmadinejad-yahudi/Dalil yang dipakai Telegraph (dan dikutip pula oleh Kompas) adalah “karena dulu nama family Ahmadinejad adalah Saburjian”. Saburjian, kata koran itu, adalah nama keluarga yang umum dipakai oleh orang Yahudi. Nah, klaim ini perlu dikritisi lagi. Apa benar orang Yahudi di Iran pakai nama Saburjian? Saya tak menemukan data valid tentang hal ini. Bahkan, kata Saburjian ini tak saya temui di kamus Moin (kamus Farsi-Farsi yang tebalnya setengah meter). Padahal, kata Telegraph (dan Kompas), Saburjian ini konon artinya “penenun Sabour”. Sabour sendiri katanya nama selendang khas Yahudi. Aneh juga kok kamus sekaliber Moin tak memuat kata itu.

Budi Hartono Tidak ada yang terlalu surpise.  Adolf Hitler  juga Yahudi, tapi kita tahu  apa yang Hitler lakukan?

Muhammad Ilham Fadli Saya sederhana saja, dinda Dina Y. Sulaeman dan Budi Hartono, Yahudi atau apapun-lah, bagi saya tak masalah. Yahudi adalah entitas agama. Sedangkan Zionisme adalah ideologi dengan Israel sebgai "ejawantahnya". Yang menjadi persoalan adalah Zionisme dan Israelnya, bukan Yahudinya. So ....... butuh keterangan lebih lanjut, apakah Hitler juga Yahudi bung Budi Hartono.

Nano Hadinoto Betul sekali. Yahudi adalah bangsa, adalah etnis, adalah entitas agama, yang berakar sama dengan Islam dan Kristiani. Zionisme adalah ideologi yang hanya mementingkan kepentingan sendiri, tanpa memperhatikan kesejahteraan semua manusia yang hidup diwilayah itu.

Muhammad Ilham Fadli Pak Nano Hadinoto .... dalam konteks di atas, pada akhirnya kita bisa memahami dan mencari "benang merah", mengapa AS begitu "dekat teramat sekali" dengan Israel. Bukan karena Yahudi-nya .... tapi ZIONIS-nya (cf. Lihat, misalnya analisis Paul Findley, Mereka Berani Bicara) ...... kata kuncinya : AIPAC (American Israel Public Agency)

Budi Hartono Demikianlah adanya info tersebut bisa dilihat pada http://dunia.news.viva.co.id/news/read/172958-tes-dna---hitler-keturunan-yahudi-dan-afrika. Sejarah memang kadang mengejutkan, seperti halnya politik, sering kali jauh dari konsisten Disamping Hitler, kita juga Tahu bahwa Karl Heinrich Mark adalah Yahudi bahkan lahir dari keluarga religius Yahudi, namun apa lacur, dalam manifesto komunis-karena kognisi mark yg mungkin kecewa- ia begitu ektrem untuk menyatakan bahwa "agama adalah candu". Mungkin pula Hitler mengalami kognisi buruk konspirasi YAHUDI akibar Perjanjian Versailes yg merugikan Jerman dan dibalik itu adalah kominitas Yahudi. Btw, saya setuju bahwa Yahudi BUKANLAH ZIONIS tapi ZIONIS sudah barang tentu Yahudi. Toh saat ini, YAHUDI bukanlah sekedar pertalian darah, AGAMA dan BANGSA, tapi sudah menjadi perilaku dan kebiasaan.

Muhammad Ilham Fadli Ya ..... saya juga dahulunya sering baca tentang hal ini. Tapi, seumpama GENOSIDA (debatable), persoalan Hitler itu Yahudi atau tidak, umumnya sepakat mengatakan, beliau dari ras non-Yahudi, walau ada satu dua yang menganggap tidak. Tapi pointnya, bagi saya adalah : YAHUDI agama, yang kita takutkan itu ZIONISME yang kadang-kadang juga hadir di sekeliling kita, di seputaran kita. Masalah hadits di atas, kita juga harus lihat ASBAB-nya (dalam ilmu musthala'ah hadits dikenal dengan ashbabul wurud). "Pengetahuan" Nabi kala itu, hanya pada tiga agama itu, Yahudi, Majusi dan Nasrani ..... beliau yang mulia ini tak tahu tentang entitas agama lain seumpama Budha dan Hindu yang juga dianut oleh masyarakat "lain" di luar jazirah Arabia. Intinya, konteks hadits tersebut, bersifat kontekstual, dan analisisnya juga harus kita letakkan dalam konteks itu. "Tantangan" bagi nabi ada pada tiga agama .... Nasrani, Majusi dan Yahudi sesuai dengan pengetahuan nabi. Oleh karena, pemahaman dan melokalisir pada tiga agama itu, rasanya tak juga adil bagi kita pada masa sekarang .... Semua terpulang pada Allah SWT. kita hanya "menafsirkan". Demikian bung Budi Hartono.

Budi Hartono iya, saya sepakat, terutama pada kalimat : "Intinya, konteks hadits tersebut, bersifat kontekstual, dan analisisnya juga harus kita letakkan dalam konteks itu. "Tantangan" bagi nabi ada pada tiga agama. Nasrani, Majusi dan Yahudi sesuai dengan pengetahuan nabi. Oleh karena, pemahaman dan melokalisir pada tiga agama itu," semoga para "Pembela Islam" mendapatkan pencerahan atas kalimat dari pak Muhammad Ilham

Muhammad Ilham Fadli Konteks Agama adalah Candu dalam Manifesto Komunisme Marx juga harus juga ditelaah. MARX bukan menganggap agama itu candu, tapi agama yang dijadikan "struktur" ... struktur yang mengeksploitasi kalangan bawah. "Sabarlah ..... kamu ditakdirkan oleh Tuhan menjadi budak, jadi terima", demikian perumpamaan yang (sering) dikemukan Marx. Ia bukan hanya benci pada Yahudi, tapi pada semua agama. Sayang beliau hidup dalam suasa era industrialisasi dengan "anak kandungnya" Kapitalisme, dimana terjadi eksploitasi kalangan atas pada kalangan bawah (borjuis pada proletar). Dan ia melihat agama dijadikan "alat" untuk eksploitasi itu. Bila ia hidup pada masyarakat ACEH dan melihat "getaran" aura Hikayat Sabeel melawan Belanda yang kapitalitik, saya yakin MARX akan merubah pendapatnya : "(ternyata : agama itu potensial melawan borjuis). Ini-lah yang dianalisis dengan bagus oleh HOS Cokroaminoto dan beberapa pentolan komunisme di Minangkabau pada era 1920-an.

Nano Hadinoto Leluhur Adolf Hitler beberapa generasi keatas adalah murni orang Eropa non Yahudi. Ayahnya, Alois Hitler (sebelumnya bernama Schicklgruber) adalah pegawai bea cukai kekaisaran Austria, ibunya Clara Poelzel. Mereka adalah keluarga pedesaan, dan saleh beragama Katholik. Selesai sekolah, ia pindah dari kota kelahirannya Braunau am Inn di batas Austria-Jerman, ke Jerman (yang waktu itu merupakan kumpulan kerajaan kerajaan), yakni ke kerajaan Bavaria (Jerman: Bayern). Masuk militer pada Perang Dunia II kedalam Resimen Infantri Cadangan no 16 Diraja Bavaria. kebencian penduduk terutama grass root pada orang Yahudi yang hanya sedikit itu kala itu menyala-nyala (sampai di generasi saya, teman teman di Austria dan Jerman, terutama yang usianya 10-20 tahun lebih tua dari saya). Orang Yahudi dianggap borju, padahal banyak yang pas pasan hidupnya. Kesenjangan terbesar bangkit dari sisi agama, karena agama Yahudi yang bertumpu pada Kitab Taurat MENOLAK keberadaan Yesus, apalagi sebagai Tuhan. Tuhan bagi umat yahudi adalah Yahweh (atau Elohim, El Lah)yang mahaesa. Grass root rata rata sangat saleh Katholik atau Kristen-Protestan jadi sentimen sekali. Karl Marx memang keturunan Yahudi, anak pemilik pabrik. Sebagai turunan Yahudi dia ditolek dikalangan elit "pribumi" Eropa yang Krsitiani, tetapi keYahudian juga membuat dia tak nyaman. Dia melihat agama, yang memang sejak abad pertengahan di Eropa hingga revolusi indiustri diabad ke XIX- awal abad ke XX, sangat berkolaborasi dengan penguasa, terutama bangsawan. Jadi dinilai sangat meng-exploitasi rakyat kecil. Dizaman dia, abad XIX-XX awal, hapir tak terbayangkan, agama mampu membangkitkan revolusi melawan penguasa. Sayang dia tak mengalami, bagaimana gereja Katholik di Latin Amerika bangkit sebagai pembela petani dan rakyat kecil di Amerika Latin, dan di-kejar kejar militer. Agama sebagai pembangkit kesadaran rakyat belum terlihat di Eropa saat itu. Padahal ini terjadi ditempat lain. Tan Malakka misalnya melihat Islam sebagai sumber kekuatan melawan penjajahan. Juga haji Misbah. HOS Cokroaminoto diilmahi oleh agama Islam dalam kesadaran nasionalnya.

Sumber foto :  arrahmah.com

Sabtu, 25 Agustus 2012

Dr. Ahmadinejad, Honourable President of Islamic Republic of Iran


"Barat sejak awal hanya berniat menjarah minyak Libya dan hanya mendukung Moammar Khadafi jika menguntungkan mereka. Bahkan, Barat tak akan segan menyingkirkan Khadafi bila dinilai tak bisa menyokong keinginan mereka. Tunjukkan pada saya satu saja pemimpin Eropa atau Amerika yang belum pernah berkunjung ke Libya atau memiliki persetujuan dengan Khadafi" 

(Dr. Ahmadinejad, Honourable President of Islamic Republic of Iran : Reuters




Dr. Mahmoud Ahmadinejad was born in 1956 in the village of Aradan in the city of Garmsar. He moved and stayed in Tehran together with his family while he was still one-year old and completed his primary as well as his low and high secondary education there. In 1975, he successfully passed the university entrance exam with high marks and started his academic studies on the subject of civil engineering in the Science and Technology University in Tehran. In 1986, he continued his studies at MS level in the same university. In 1989, he became a member of the Board of Civil Engineering Faculty of the Science and Technology University. In 1997, he managed to obtain his Ph.D. on transportation engineering and planning from the Science and Technology University. 

Dr. Ahmadinejad is familiar with English language. During the years when he was teaching in the university, he wrote many scientific papers and engaged in scientific research in various fields. During the same period, he also supervised the theses of tens of students at MS and Ph.D. levels on different subjects of civil engineering, road and transportation as well as construction management. While still a student, Dr. Ahmadinejad engaged in political activities by attending religious and political meetings before the Islamic Revolution. With the victory of the Islamic Revolution, he became a founder and also a member of the Islamic Association of Students in the Science and Technology University. During the war imposed on Iran, Dr. Ahmadinejad was actively present as a member of the volunteer forces (Basij) in different parts and divisions of the battlefronts particularly in the war engineering division until the end of the war. Dr. Ahmadinejad is married and has three children- two sons and one daughter.

Sumber : President.ir

Selasa, 07 Agustus 2012

Isn't History Repeating Itself ( Hitler & Israel, Now)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham 

Sebagaimana yang dilansir oleh detik.news.com (cc) AFP News, pertemuan Gerakan Non Blok (GNB) untuk membahas Palestina dibatalkan setelah Menlu Mary Natalegawa bersama empat menteri luar negeri lainnya ditolak Israel masuk ke Ramallah. Mereka yang ditolak ini merupakan menteri dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. "Sebuah keputusan telah diambil untuk melarang perwakilan diplomatik dari beberapa negara yang tidak mengakui Israel," ujar salah seorang pejabat Israel seperti dilansir AFP, Minggu (5/7/2012). Pada Minggu hari ini, sedianya di Ramallah Palestina akan diselenggarakan pertemuan Gerakan Non-Blok (GNB) tingkat menteri, namun mendadak dibatalkan. Hal itu disebabkan karena Lima menteri luar negeri, salah satunya Marty Natalegawa, ditolak masuk Ramallah. Total 13 menteri sedianya akan mengikuti acara ini. Pihak Israel mendadak menolak lima menteri yang telah hadir dan tengah menuju Ramallah. Lima menteri itu adalah menteri dari Malaysia, Indonesia, Bangladesh, Kuba dan Aljazair. Lima menteri ini bersama dengan para menteri lainnya sedianya hadir untuk menghadiri pertemuan dua hari dalam konferensi Luar Biasa Tingkat Menteri Luar Negeri Gerakan Non-Blok mengenai Palestina (Extraordinary Ministerial Meeting of the Non-Aligned Movement Committee on Palestine) di Ramallah pada hari Minggu ini. 

Apa yang dilakukan negara Israel terhadap negara-negara lainnya - kecuali Amerika Serikat  dan sekutu-sekutunya - dalam lingkup pergaulan internasional, menurut AFPNews menunjukkan kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh "musuh historis" mereka yaitu Adolf Hitler, "sombong dan menganggap diri benar, walau melanggar nilai-nilai kemanusiaan universal". Israel pada prinsipnya mengulang (repeating) apa yang dilakukan oleh Hitler, setengah abad yang lalu.




















Sumber Foto : AFPNews.com & binscorner.com