Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2013

Kriminalisasi Pemikiran Kelompok Intoleran


Menurut Muhammad Ilham, fenomena tersebut sebagai bentuk "Kriminalisasi Pemikiran" yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak mengakui kebhinekaan di Indonesia.  Dalam aspek manapun, penyerangan termasuk rencana penyerangan, adalah sesuatu yang menyalahi 'semangat bernegara'. Tidak ada dasar juridis maupun historis orang melakukan penghancuran sebuah tradisi keilmuan, ujar dosen sejarah dan sosiologi politik itu, Sabtu (23/11). 


IRAN RADIO BROADCASTING (irib) - Sebuah lembaga kecil di Yogyakarta baru-baru ini menjadi target ancaman penyerangan oleh kelompok intoleran yang menuding tempat berdiskusinya para mahasiswa itu sebagai agen penyebaran ajaran Syiah kota pelajar itu. Tapi rencana aksi anarkis terhadap Institut Rausyan Fikr berhasil digagalkan berkat kesigapan aparat keamanan dan pemerintah Yogyakarta. Sebelumnya, beredar ancaman penyerangan yang sudah merebak sejak Kamis, 21 November 2013. Yayasan yang berlokasi di jalan Kaliurang ini menerima peringatan dari kepolisian dan Kantor Wilayah Kementerian Agama, Sleman, tentang adanya ancaman serangan yang diduga akan dilakukan kelompok yang mengklaim sebagai Majelis Mujahidin Indonesia, Forum Umat Islam dan Front Jihad Islam usai shalat Jumat. Sejumlah spanduk terpampang di berbagai lokasi strategis di Yogyakarta yang menyatakan Syiah bukan Islam, dan Rausyan Fikr sebagai agen penyebar ajaran Syiah. 

"Mereka tidak hanya keliru, tetapi sudah sesat," kata komandan lapangan Front Jihad Islam Yogyakarta Nurohman  dengan nada berapi-api, Jumat, (22/11), seperti dilansir media lokal.

Sementara itu, Juru bicara Rausyan Fikr, Edy Syarif membantah tudingan tersebut. Menurut Edy, yayasan yang berdiri sejak tahun 1995 ini hanya forum kajian pemikiran Islam dari berbagai aliran, termasuk Syiah. Selain aktif membuka kelas filsafat dan pemikiran Islam, Rausyan Fikr juga menerbitkan buku-buku filsafat dan keagamaan, termasuk Syiah yang mencapai 20 buku.  "Secara institusi tidak Syiah, tetapi orang-orangnya ada yang Syiah" ujar Edy. 

Mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta ini menolak anggapan bahwa Yayasan Rausyan Fikr sebagai bagian dari lembaga Syiah Indonesia. Menurutnya, Rausyan Fikr bukan anggota IJABI maupun ABI, dua organisasi payung penganut Syiah di Indonesia. "Yayasan ini hanya rajin menggelar kajian terhadap pemikiran tokoh Syiah seperti Muthahhari, Ali Syariati dan lain-lain, " tegasnya. Pernyataan Edy diamini oleh beberapa orang yang pernah terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan Rausyan Fikr. Iqbal Aji Daryono, yang pernah mengikuti kursus filsafat Islam di Rausyan Fikr mengungkapkan institusi itu sangat terbuka dan tidak ada ajakan menjadi Syiah. 

"Saya pernah ikut kursus filsafat Islam di Rausyan Fikr. Kami diskusi secara sangat sehat dengan tradisi rasionalisme yang menyenangkan. Semua berpikir terbuka. Buku-buku yang dipelajari di sana juga sangat beragam dari Mutadha Muthahhari hingga Karl Marx. Tak ada sama sekali ajakan untuk menjadi Syiah, dan di sana saya tetap bisa nyaman dengan ke-Sunnni-an saya, " tutur alumnus Jurusan Jurnalistik UGM yang saat ini berdomisili di Australia, Sabtu (23/11) di jejaring sosial. Ketua Dukuh Manggung, Depok, Sleman, Sujiman mengatakan mereka yang belajar di Rausyan Fikr, yang dituding Syiah oleh sejumlah kalangan intoleran, adalah warga negara yang baik dan terbuka, serta berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Sujiman juga membantah tudingan kelompok intoleran bahwa aktivitas keagamaan di Institut Rausyan Fikr berbeda dengan penganut Islam lainnya. "Saya kira tidak, wong mereka juga shalat jamaah di masjid kampung kok. Kayaknya sama aja tu. Tapi saya tidak tahu kalau ada pihak yang menilai beda. Sebagai penganut Islam, saya kok menilai sama aja tu," kata Sujiman, seperti dilansir sorot jogja Jumat (22/11). Seperti menimpa Rausyan Fikr, seorang dosen di Bandung yang Sunni Ahad (23/11) mengeluhkan beredarnya pesan singkat melalui BBM bahwa lembaga Quran miliknya mengajarkan Syiah. Serangan kubu intoleran juga dilancarkan tehadap Ketua PB NU yang dituding melindungi Syiah di Indonesia. Pada 9 November lalu, situs Arrahmah secara keras menyerang Ketua PB NU dalam tulisan berjudul "Dr. Said Aqil Siradj Dulu dan Kini". Situs Islam garis keras pimpinan Muhammad Jibril, yang pernah ditahan polisi karena terlibat aksi terorisme, menyerang ketua PB NU gara-gara kiai Said menyebut Syiah sebagai bagian dari Islam dalam sebuah pernyataannya beberapa waktu lalu. 

Eskalasi gelombang tekanan kelompok intoleran terhadap minoritas Muslim Syiah di Tanah Air semakin meningkat belakangan ini. Menurut Muhammad Ilham, fenomena tersebut sebagai bentuk "Kriminalisasi Pemikiran" yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak mengakui kebhinekaan di Indonesia. "..dalam aspek manapun, ...penyerangan termasuk rencana penyerangan, adalah sesuatu yang menyalahi 'semangat bernegara'. Tidak ada dasar juridis maupun historis orang melakukan penghancuran sebuah tradisi keilmuan," ujar dosen sejarah dan sosiologi politik itu, Sabtu (23/11). "Bila ini dilakukan, seperti ancaman penyerangan terhadap Rusyan Fikr, [maka] termasuk 'kriminalisasi tradisi keilmuan'," tegas dosen IAIN Imam Bonjol Padang. (IRIB Indonesia)

Jumat, 18 Januari 2013

Negeri "Berjuta" Marga

Oleh : Muhammad Ilham 

Salah satu yang menjadi daya tarik bagi saya ketika “berjalan-jalan” ke perkampungan-perkampungan di daerah Sumatera Utara, khususnya perkampungan yang menjadi “enclave” Batak (baik Batak-Mandailing, Toba, Sipirok, Dairi, Simalungun dan Karo), adalah menambah kosakata “marga-marga” orang Batak dalam khazanah saya. Orang Batak, sebagaimana halnya etnik Manado selalu mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama kecil. Menurut Elfitra (2002), orang Jawa dan Sunda lumayan ketat dalam memberi nama anak, sehingga nama-nama mereka memiliki kekhasan tersendiri. Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa langsung dikenali status sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan atau rakyat biasa. Nama depan “Andi” jelas berasal dari kaum ningrat Sulawesi Selatan, khususnya etnik Bugis. Jadi Andi Mallarangeng yang sudah "dicekal" KPK itu, ternyata turunan bangsawan, sama dengan penyanyi legendaris Andi Meriem Matalatta. Demikian juga halnya dengan kelompok masyarakat adat lain : Badui, Dayak, Sakai, Nias atau Mentawai, masing-masing memiliki karakter tersendiri yang mudah dikenali (addressed). Namun tak ada yang “seketat” orang Batak dan Manado dalam memberi nama dengan kualifikasi addressed tersebut. Manado-Kawanua, misalnya, kita mengenal clan seumpama Tambayong, Pondaag (jadi ingat Pance Pondaag), Mangindaan (marganya Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi EE. Mangindaan), Rumangkang dan seterusnya. Nah, bagi saya, nama-nama orang Batak (dalam hal ini, marga-nya) adalah sesuatu yang teramat kaya-variatif, representasi yang jelas dan kadang-kadang unik bila didengar oleh telinga. Karena itulah, bila saya melakukan perjalanan ke Sumatera Utara, maka mata saya selalu akan mencari nama-nama orang Batak yang (baik) tertera di papan pengumuman, di depan pintu rumah ataupun di kertas-kertas Koran.  

Ketika memulai perjalanan melewati kabupaten Mandailing-Natal terus ke Tapanuli Selatan, nama-nama marga yang sering terbaca oleh saya di papan pengumuman masjid (nama-nama pengurus masjid ataupun khatib masjid ketika singgah untuk sholat dan istirahat) adalah Nasution (marga-nya Jenderal A. Nasution dan Adnan Buyung Nasution), Lubis (jadi ingat dengan Perwira berpengaruh yang menjadi salah satu otak PRRI - Kolonel Zulkifli Lubis ..... kalau sekarang, Lubis melekat dalam kosakata publik karena advokat senior Todung Mulya Lubis dan Indra Sahnun Lubis ...... 2 tahun lalu, Kadiv. Humas Polri juga bermarga Lubis - Brigjen. Zainuri Lubis), Hasibuan, Rangkuti (marganya sastrawan-penyair kondang, Hamsad Rangkuti), Pane (ingat pada Sanusi dan Armijn Pane), Pohan, Pulungan, Tanjung (marganya Akbar tanjung dan Faisal Tanjung ........ dan owner TransTV-TransCorp, Chairul Tanjung), dan Dongoran. Ketika memasuki daerah Tapanuli Tengah dan Utara lanjut ke Toba Samosir, biasanya di setiap rumah warga, khususnya di perkampungan, akan terpampang papan nama (kecil) di atas pintu masuk rumah mereka. Nama kepala keluarga. Dan yang paling ditonjolkan adalah nama marga. Begitulah, ketika masuk daerah Sibolga menuju Barus dan Dolok Sanggul terus ke Pakkat …….. saya menikmati “kekayaan-ragam” nama-nama marga. Ada Simanjutak (biasanya sering ditulis M. Simanjuntak atau L. Simanjutak dan seterusnya ……. M dan L, ada juga W ataupun K … tapi selalu disingkat, sementara marga ditulis lengkap), Silalahi (tokoh nasional bermarga Silalahi, sekarang ini, diantaranya TB - Tahi Bonar - Silalahi), Situmeang, Simarmata, Sitompul (marganya si Poltak yang didepak dari Demokrat), Silitonga (pasti ingat dengan penyanyi terkenal era 70-an Eddy Silitonga), Silindung, Singarimbun (jadi ingat sosiolog kenamaan UGM – Prof. Masri Singarimbun …. dan “si – si” yang lain, termasuk Sidabutar, Sitanggang, Sitorus dan Simbolon. Hutasoit (dulu pada era Soharto ada Menteri bermarga Hutasoit - JE. Hutasoit), Hutasuhut, Hutagalung (siapa yang tak kenal Charles Hutagalung, penyanyi bersuara tenor idola ayah saya ... coy), Hutapea (marganya si flamboyan Hotman Paris Hutapea), Hutajulu, Hutahaean, Hutabarat (pasti ingat dengan penyanyi bersuara merdu, Victor Hutabarat) dan “huta-huta” lainnya seperti Hutauruk (dulu ada penyanyi wanita terkenal, Bornok Hutauruk) dan Hutagaol (Huta Timur tak saya jumpai, apalagi Huta Selatan apatah lagi Huta Tenggara). Melewati Dolok Sanggul terus ke Siborong-Borong menuju Parapat, saya catat beberapa nama marga yang lain (setidaknya yang saya lihat/tertulis di pinggir jalan). Ada Panggabean (jadi ingat dengan “orang kuat” zaman Soeharto, Maraden Panggabean yang Jenderal itu), Panjaitan (marga-nya Donal Izaac/DI. Panjaitan yang patungnya ada di Balige), Tampubolon, Pardede (dulu ada klub bola terkenal, Pardedetex yang owner-nya pengusaha terkenal Batak era 70-an TD. Pardede), Pangaribuan (marga advokat dan tokoh HAM,  Luhut Pangaribuan), Gultom, Nainggolan, Tambunan (marga-nya Gayus), Sinaga (jadi ingat dengan Cyrus Sinaga), Girsang, Damanik, Manik.

Ketika melewati daerah menjelang Medan terus ke Sipirok, saya mencatat beberapa marga yang cukup “familiar” kita dengar. Ada Siregar, ada Batubara (marganya mantan menteri Cosmas Batubara), Harahap dan seterusnya. Ketika akan memasuki daerah Karo (Batak Karo) ……. Nama-nama marga-nya semakin “enak didengar”. Ada Perangin-Angin, Sembiring (mungkin Menkominfo Tiffatul Sembiring adalah orang Karo), Bangun (ingat : actor laga Indonesia angkatan Barry Prima, Advent Bangun), Ginting dan seterusnya.

Saya tak sempat mencatat nama-nama marga yang lain. Saya yakin dan percaya, masih puluhan lagi yang belum terbaca oleh saya. Tapi ada satu marga yang dalam perjalanan bulan Desember 2012 lalu yang selalu saya cari-cari, tapi tak ketemu, yaitu marga RAJAGUKGUK. Marga seorang pakar hokum tata Negara, Prof. Erman Rajagukguk. Saya membayangkan (sambil tersenyum), bila dua pakar dari dua daerah berbeda dipertemukan di sebuah forum seminar, yang satu Prof. Erman RAJAGUKGUK, yang satunya lagi sejarawan terkenal asal Makasar, Prof. Anhar GONGGONG. Tentulah, akan menjadi moment nan “unik”……………… (yang terakhir ini, just kidding, tanpa bermaksud melecehkan). 

Rumah Makan Padang Bercita Rasa "Lain"

Oleh : Muhammad Ilham 

(c) wikipedia.com
Lewat kota Medan antara Tebing Tinggi dan Asahan, seperti biasa, mobil yang kami tumpangi berhenti di rumah makan. Tidak cukup besar, juga tak terlalu kecil. Sederhana. Nampaknya rumah makan ini, ada "aura" Minangkabau, buktinya, ketika memesan makanan, ada yang (mampu) berbahasa Minangkabau dengan aksentuasi-langgam Batak. Saya tak ingin mengomentari cita rasa makanannya. Karena perut lapar, "telur puyuh dimasak dengan air biasapun, enak, "kata salah seorang mahasiswa saya. Saya lebih tertarik mengetengahkan "cita rasa" yang lain. Rupanya, rumah makan yang ada "aura" Minangkabau ini, menjadikan wanita sebagai pelayannya. Bukan itu saja, para wanita ini, justru menggunakan pakaian ketat-bahenol. Salah seorang diantaranya, teramat menonjol. Berdiri di ruangan tengah agak ke dapur, sambil mencuci piring. Wajahnya cantik dengan tekstur tubuh a-la Dewi Persik dan (sedikit) Julia Peres. Pokoknya, posisinya tepat. Jadi fokus orang yang makan. Tak henti-hentinya, seorang mahasiswa saya berguman, "alah maak jang, mati tegak lah awak", katanya sambil menyuap nasi yang menurutnya tak enak, tapi jadi SODAP karena ada "cita rasa" yang lain. Cita rasa mata yang "hijrah" ke lidah. 

Saya teringat dengan Mochtar Naim. Dalam sebuah penelitiannya tentang Rumah Makan Padang (saya pernah baca sekilas ketika observasi arsip ke PDIKM Padang Panjang sekitar pertengahan bulan Oktober 2012 yang lalu), sosiolog yang mantan anggota DPD RI ini dengan tegas mengatakan, "rumah makan Minang atawa rumah makan Padang, tidak menggunakan tenaga kerja wanita". Lelaki Minangkabau, menurut Mochtar Naim, melihat wanita yang bekerja di rumah makan, akan teringat dengan ibunya hingga menimbulkan perasaan kasihan. Namun lebih dari itu, kehadiran wanita di rumah makan, akan membuat pemikiran laki-laki yang makan menjadi "pecah", pemikiran bermacam-macam akan muncul berkelindan. Padahal, rumah makan bagi laki-laki Minang, hanyalah untuk makan tok.

_____ ketika jadi mahasiswa dahulunya, saya sering makan di beberapa rumah makan di kota Padang, khususnya rumah makan "harga miring". Dan, pelayannya, semuanya laki-laki. Orang pun datang ke rumah makan, hanya untuk makan. Belakangan ini, beberapa rumah makan yang saya jumpai, justru hanya menggunakan laki-laki sebagai kasir dan penjaga pintu depan saja. Pelayannya kebanyakan wanita. Ketika nasi diletakkan, ia kemudian berjalan membelakang ...... dan pemikiran kita-pun "pecah" jadinya. (Ternyata) Mochtar Naim ..... betul !

_____ Tadi, saya memeriksa laporan catatan perjalanan beberapa orang mahasiswa saya yang berjenis kelamin laki-laki. Dan, kesan yang sangat mengezutkan bagi mereka adalah, "rumah makan Minang dengan wanita montok berpakaian ketat sebagai pelayannya". Dan saya tak menganggap mereka "gatal" ataupun freudian. Bagi saya, mereka sangat detail melihat sebuah komparasi budaya !!

"Simbolisasi" Agama dalam Politik


Oleh : Muhammad Ilham

Kota saya, sudah mulai banyak dipenuhi baliho para "calon", entah itu calon Walikota ataupun calon legislator yang akan mengadu peruntungan tahun 2013 dan 214 yang akan datang. Seperti biasa, pesan-pesan normatif keagamaan dalam baliho-baliho tersebut - apalagi bila berkaitan dengan moment keagamaan - sangat mengemuka. Dalam konteks ini, teringat oleh saya pengalaman seorang kawan dari teman saya, tahun 2009 yang lalu.  Ada seorang teman dari kawan saya yang kebetulan "nyaleg" waktu Pemilu Legislatif 2009 yang lalu. Teman dari kawan saya ini dikenal sebagai "urang pasa", sering duduk dikedai, hobi main koa dan sangat "pa-ota". Ketika jadi Caleg, praktis ia tak pernah lagi ke kedai memegang kartu Koa. Fotonya di baliho kampanye bergandeng dengan gambar masjid, dan ia memakai baju koko-berkopiah. Dibawahnya bertuliskan : "Mari Kita Kembali ke Surau, Mari Semarakkan Masjid, Hindari Maksiat". Ketika ia dinyatakan gagal jadi anggota legislatif, ia kembali ke habitat-nya, Kedai dan Koa. Sambil bergurau, kawan-kawannya-pun menyindirnya memanfaatkan simbol-simbol agama. Dengan santai ia-pun bilang, di dunia ini tiga daya tarik politik : "Uang, Wanita dan Simbol Agama". Yang pertama, sulit bagi saya, yang kedua tidak mungkin kita lakukan di ranah Minang, yang ketiga lebih memungkinkan. Oke ... putar kartu Koa-nya, kita main .... dan azan berkumandang, ia tidak mau ke Surau .... Coki ! 

(Tulisan dibawah, terinspirasi dari dialog saya dengan seorang kawan di FB)

(c) kompasiana.com
Seandainya Sumatera Barat memiliki ulama kharismatis, mungkin saat-saat sekarang, sang ulama akan kewalahan menerima kunjungan para Calon Kepala Daerah, untuk sekedar bersilaturrahmi. Seandainyalah, Sumatera Barat tidak ”dikuasai” Muhammadiyah, tapi dipengaruhi oleh NU-Tradisionalis, maka saat-saat sekarang ini, akan banyak kunjungan Calon Kepala Daerah ke maqam-maqam ulama kharismatik. Begitu menariknya simbol-simbol agama dalam ranah politik, membuat seluruh pasangan Calon Kepala Daerah, setidaknya yang terlihat di baliho pinggir jalan – merasa perlu untuk memakai simbol-simbol agama : ”Surau, Asmaul Husna, gambar Masjid, Kopiah Haji, Baju Koko dan memamerkan gelar Haji”. Hampir pasti, tak ada Calon Kepala Daerah yang memakai simbol-simbol ”grass-root”. Begitu kuat daya tarik simbol-simbol agama dalam politik, sehingga tidak pula mengherankan apabila (ketika jadi Gubernur) Fauzi Bowo ”kewalahan” menghadapi politisasi kasus Maqam Mbah Priok, Pasangan Jokowi, Basuki "Ahok" Tjahaya Purnama merasa kewalahan menghadapi serangan rasis (baca : agama) terhadap dirinya,  bahkan 2 tahun yang lalu  Julia Perez yang ”bahenol-monotok” tersebut seakan-akan layu untuk maju jadi Bupati Pacitan ketika ”Pasal Zina” dihembuskan Mentri Dalam Negeri.

Agama sebagai sebuah fakta kultural dan historis memiliki dua dimensi utama: yaitu dimensi simbolis-mitis dan sosiologis. Dimensi simbolis-mitis mengandung arti bahwa agama merupakan sebuah struktur makna (meaning structure) yang berada di ranah abstrak dan keberadaannya terlepas dari ruang dan waktu. Melalui struktur makna tersebut maka mode pemahaman diri (mode of self-understanding) digagas dan diciptakan melalui berbagai kegiatan penafsiran (hermeneutics) atas ajaran. Dalam kegiatan ini termasuk penciptaan dan penafsiran atas simbol-simbol dan metafor yang ada untuk kemudian dirumuskan serta diterapkan dalam tindakan aktual. Karena sifatnya yang abstrak dan sangat tergantung pada kemampuan tafsir itulah maka ajaran agama pada hakekatnya terbuka untuk diperdebatkan, apalagi ditambah adanya kenyataan adanya konteks sosiologis dan dimensi historis yang akan menjadi batas dan bingkainya. Pemahaman terhadap ajaran agama, dengan demikian, tidak mungkin tunggal atau monolitik. Munculnya berbagai macam aliran atau mazhab (schools of thought) sebenarnya merupakan hal yang wajar dan sah-sah belaka. Ketika agama dan pemeluknya berada dalam konteks politik, maka peran dan fungsi sosial dan politik agama pun akan sangat dipengaruhi oleh dialektika antara dimensi simbolis-mitis dan sosiologis-historis. Pada suatu konteks historis tertentu agama bisa saja begitu hegemonik sehingga sakan-akan menjadi satu-satunya alat untuk menjelaskan realitas atau merupakan kekuatan ideolologis yang tak tertandingi dalam  masyarakat. Namun pada konteks yang lain posisi seperti ini dapat saja terdesak ataupun mengalami pergeseran-pergeseran dan bahkan bisa lebih jauh : agama dianggap kehilangan relevansinya sebagai alat penjelas realitas tersebut. Sejarah ummat manusia, jika dilihat dari perspektif perkembangan agama, adalah rangkaian perubahan-perubahan yang terjadi dalam peran dan fungsi agama dalam konteks sosiologis ummat manusia.

Dalam kajian antropologi politik, peranan agama dan simbol-simbol supranatural di dalam politik memainkan arti penting. Agama pun bisa dijadikan landasan bagi struktur, landasan kepercayaan, atau sumber tradisi yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Namun, pilihan paling lazim adalah menjadikan agama sebagai alat legitimasi oleh para elite yang berkuasa atau kekuatan yang mengejar kekuasaan (ini yang dikritisi para kalangan Marxian). Pemakaian” ayat, dalil, atau ungkapan yang dinisbatkan pada agama tertentu sebenarnya identik dengan kemunculan kiai atau tokoh lain yang merepresentasikan agama. Kemunculan simbol-simbol tadi telah mengandung pesan, lebih dari makna yang terkandung dalam substansi yang sebenarnya. Tidak heran bila kosakata silaturahmi lebih sering digunakan ketimbang pertemuan politik.Membebaskan panggung politik dari anasir-anasir agama tidak semudah yang dibayangkan kelompok yang menganut paham pemisahan agama dan politik. Bahkan, bagi sebagian kalangan, memisahkan agama dan wilayah politik bukan saja sulit, tapi dipandang tidak perlu. 

Fakta mengungkapkan, bagi sebagian pemilih di tanah air dikotomi tua – muda tidak begitu penting. Demikian juga dikotomi sipil - militer sudah melonggar. Namun dikotomi Islam - non-Islam masih dipandang sensitif dan penting dipertimbangkan sebagai variabel penting keputusan untuk memilih. Bagi sebagian kelompok, bila menerapkan sistem politik menurut kaidah agama dipandang belum mungkin, makamengambil anasir-anasir agama untuk diformulasikan ke dalam kaidah hukum dan politik sudah dianggap cukup. Adaptasi ajaran politik pun terjadi di sepanjang garis keyakinan agama. Keputusan untuk memilih melibatkan variabel yang kompleks. Diperlukan sentuhan personal untuk merebut dukungan. Lebih-lebih dalam situasi ekonomi yang mencekik, kandidat yang bisa memberi harapan bagi perbaikan yang dirasakanakan lebih diapresiasi. 

Referensi : Kuntowijoyo (1994)

Rabu, 26 Desember 2012

Aceng, Jenderal David Petraeus & Lembaga Perkawinan

Oleh : Muhammad Ilham

Ada dua hal yang kontradiktif : 

(c) luv-islam.com
Pertama, Direktur CIA David Petraeus mundur sebagai pimpinan CIA, sebuah jabatan prestisius-strategis, pimpinan agen mata-mata terdepan AS. Tak ada apa-apanya dibandingkan dengan BIN, KGB ataupun Mossad. Jenderal pintar ini mengatakan (bahwa) ia terlibat perselingkuhan dan mengakui telah melakukan kesalahan fatal. Ia berkata, "setelah 37 tahun menikah, saya melakukan tindakan yang salah dengan terlibat skandal di luar pernikahan. Perilaku seperti itu tidak bisa diterima, baik saya sebagai suami maupun sebagai pimpinan organisasi." Ia kemudian minta maaf masyarakat AS .......... dan pada keluarganya. Obama mengatakan bisa menerima pengunduran diri itu sembari memuji atas karyanya di CIA, dan atas jasanya pernah memimpin tentara AS di Irak dan Afganistan. Fox News memberitakan bahwa dia berselingkuh dengan Paula Broadwell, seorang penulis biografi. Intinya, David Petraeus yang Jenderal itu mundur karena menghargai sebuah lembaga yang bernama perkawinan, dan ia menyadari bahwa secara personal dan status, ia adalah figur publik dan publik referen. Ia tak mau berdebat di tataran legalitas-juridis, tapi ia lebih mengedepankan sesuatu yang "mahal" bernama ETIKA. 

Kedua, Aceng HM. Fikri, Bupati Garut nan fenomenal itu, melalui pengacaranya, tak mau mengundurkan diri atas nama legalitas-yuridis. Menyikapi pernikahan 5 harinya, si Bupati ini menganggap pernikahannya secara agama sah, dan tak berbuat salah menurut kacamata Fiqh Munakahat. Mantan Secondan Dicky Candra yang artis itu, juga mengatakan bahwa pernikahannya dengan remaja putri 18 tahun itu, ibarat "membeli barang". "Kalau tak sesuai dengan Spek-nya, buat apa diteruskan". Sebuah argumen yang CETAR - meminjam istilah Syahrini ... hehehe. Dan dalam acara Indonesia Lawyer Club, saya "terkezzut" (pakai huruf "zz"), beberapa ulama kaliber nasional yang dijadikan narasumber oleh Karni Ilyas pun berkomentar tentang Pernikahan Siri si Aceng. Pendapat ulama-ulama ini, si Aceng yang selalu berkopiah hitam tersebut : Pernikahan Aceng dan Fanny Octara secara Fiqh Munakahat, sah. Jangan diperdebatkan, karena sama denga memperdebatkan ketentuan agama (Islam). Mau "satu jam, atau satu hari" pun, perkawinan tersebut tetap sah. Biasa kok, mau diceraikan Aceng mau tidak, terserah ia. Tak perlu harus minta izin sama atasan atau pimpinannya bila ia ingin poligami dan nikah siri ". Poligami itu, kata seorang Imam Besar Masjid terkenal Indonesia yang dibangun oleh arsitek Batak-Kristen (Frederick Silaban), Masjid Istiqlal, berkata, "Orang yang poligami tersebut adalah orang yang memiliki keberanian. Aceng Fikri adalah orang yang Berani".

___________ Dan, tak satu-pun ulama-ulama gadang itu mempersoalkan "begitu rendahnya wanita" dalam proses Aceng Gate tersebut. Bahkan secara langsung justru menganggap Aceng itu pemberani, orang berpoligami adalah orang "Bagak". Karena Rasulullah juga berpoligami, menurut ulama-ulama yang membuat saya miris-terkezut tersebut. Saya akhirnya berfikir, bukankah orang yang mampu menghargai lembaga perkawinan,menyanyangi anak dan (satu) istrinya dengan baik ..... tidakkah orang itu berani dan jantan ? ...... Tidakkah justru orang seumpama Aceng adalah tipikal manusia Pengecut dan berlindung dibalik nash agama yang ditafsirkan secara parsial ? Harusnya para ulama-ulama dan "pengikut" Aceng itu belajar secara totalitas sejarah nabi Muhammad dalam konteks poligami-nya, bukan "membatasi" episode kehidupan nabi pada fase ia berpoligami. Berapa tahun nabi SAW. Monogami ? Bukankah cukup panjang waktu yang ia lalui bersama Khadidjah seorang ? Bukankah masa-masa panjang "berdua" Muhammad-Khadidjah itu, putra Abdullah tersebut sedang "kuat-subur", masa penuh bergolak ? Lalu, kapan ia berpoligami ? Dengan siapa dan konteks (ashbab)-nya apa ? Urusan Syahwat, nash agama dibawa-dibawa. Urusan Syahwat, argumen legalitas-normatif, dipakai secara mati-matian tanpa melihat untuk apa nash (legalitas-normatif) itu hadir ? Seharusnya Fiqh tidak berhenti di analisis makna nash, tapi juga melihat ujung-nya yaitu ETIKA !!

Tapi sudahlah, saya tak banyak punya pengetahuan tentang Fiqh Munakahat. Ilmu saya dangkal tentang ini. Saya hanya ingat nasehat ibu saya (almarhumah) yang buta huruf pada saya beberapa tahun lalu menjelang ia meninggal.
"Untuk apa orang Sholat, nak ?, " tanyanya.
"Agar etika orang tersebut terjaga. Bukankah ujung dari sholat tersebut mencegah perbuatan keji dan munkar ?", jawabnya
"Untuk apa orang puasa, nak ?, " tanyanya kembali.
"Agar orang merasa kasihan pada orang yang tak punya. Agar kita amanah pada Tuhan", jawabnya kembali.
"Bila kamu nanti menikah, untuk apa menikah itu nak ?," tanyanya pada saya yang terpana.
"Perkawinan itu bukan Ijab Qabul, mahar, wali dan saksi saja nak. Tapi ada ujung dari perkawinan atau pernikahan itu, yaitu menciptakan kedamaian, keluarga yang bahagia, sakinah mawaddah wa rahmah. Perkawinan tidak akan damai bila kamu menyakiti istri dan anak-anakmu nanti. Perkawinan tidak akan indah bila kamu berbohong dan berselingkuh. Bila istri-mu memiliki kekurangan, kamu harus menutupinya. Jangan ketika ia sehat dan cantik, kamu mau. Namun ketika ia berkeriput, kamu tinggalkan. Kesalahan istri kamu pada dasarnya juga kesalahan kamu", jawabnya dengan panjang.

Malam kemaren, sebelum tadi malam, selepas saya menonton dengan istri acara ILC (Nikah Siri : Kasus Aceng), UPIK BANUN saya bertanya waktu mau tidur.
"Bang, bagaimana abang melihat lembaga perkawinan itu ?", katanya.
(Mungkin ia sedikit takut mendengar ulama-ulama "gadang" dalam acara ILC tersebut mengatakan lelaki berpoligami adalah lelaki pemberani .... Hiiiks)

Saya-pun tersenyum dan berkata, "ente dan anak-anak adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan pada saya, dan sombong teramat besar saya pada Tuhan bila, anugerah terindah saya sia-siakan. bagi saya itu makna JANTAN". Titik, dan tak perlu kita bahas argumen ulama-ulama gadang di ILC itu, kata saya sambil memadamkan lampu, dan mulai memasuki "keheningan" tidur.

_______ Ujung FIQH adalah Etika, demikian kata almarhumah UMAK saya. Sehingga tak salah, bila perdebatan masalah Nikah Siri, Aceng dan Poligami di ILC, tak memberikan "inspirasi". Jenderal David Petraeus mengedepankan Etika, bukan formal-legalistik. Sementara (belajar dari kasus Aceng), nampaknya kita lebih menyukai berada pada tataran Fiqh, ujungnya-outputnya (baca : Etika), kita kesampingkan. Padahal, karena Etika itulah Rasul di utus ke muka bumi ini. Simpulan saya, "pengajian" almarhumah umak saya yang buta huruf itu jauh lebih ber-ETIKA dibandingkan ulama-ulama gadang yang, menurut saya, tercermin "syahwat tersembunyi". Buktinya, ketika ditanya Karni Ilyas, mengapa harus poligami ? .... jawab mereka umumnya sama, "daripada berzina, kan lebih baik poligami ? (standar mereka hanya-lah Zina). Memangnya nabi berpoligami karena, "daripada berzina ?".

:: Sekali lagi, kita semua terserah berpendapat.

Walaupun agamaku memberikan daya tawar tinggi padaku yang berjenis kelamin laki-laki, namun yakinlah, saya ingin meneladani Baginda Yang Mulia, Muhammad SAW. Beliau yang rajin berolah raga (tentunya olah fisik masa itu : berkuda dan memanah) dan mempraktekkan hidup sehat tersebut, tak memberikan contoh bahwa Khadijah-lah yang harus meminta maaf padanya terlebih dahulu. Muhammad SAW. yang rajin meminum susu kambing itu justru memuliakan wanita. Bukan menganggap wanita sebagai "mainan" dan assesoris "freudian" kelelakiannya.

Referensi : Foxnews (cc : ABCNews) cc. detik.com

Kamis, 01 November 2012

Kehangatan Agama

Oleh : Muhammad Ilham 

Dalam banyak hal, agama telah "bermetamorfosis" menjadi sejumlah ritus, upacara bahkan entertain. Dalam bahasa metafora Nabi Mulia Baginda Muhammad putra tersayang Abdullah, "masjid-masjid mereka ramai tetapi kosong dari petunjuk". Kesalehan tidak jarang justru digunakan untuk menyembunyikan keangkuhan dan menutupi penyelewengan. Bahkan, publik tak bisa dibohongi bahwa lembaga-lembaga agama menjadi lembaga-lembaga yang memberlakukan kasih dan "kehangatan" agama hanya sebagai komoditas. Teks-teks kitab suci digunakan sebagai amunisi untuk "menembaki" orang-orang yang dianggap sesat. Sebagaimana halnya politik, agama pada akhirnya telah kehilangan "kehangatan". "Agama, kata Baginda Nabi Muhammad SAW., adalah kecintaan dan kehangatan yang tulus. Tak ada agama kalau sudah kehilangan kecintaan dan kehangatan yang tulus tersebut". Wallahu A'lam bish Shawab. 

Dan, masjid senantiasa bertambah, dengan segala corak rona dan rupa. Mendecak kagum kita melihatnya. Semoga bertambah pula "kehangatan" dan "petunjuk" yang dihadirkannya. 

 _______ Si bungsu protes, sudah tiga maghrib saya tak menemaninya ke musholla.

Senin, 29 Oktober 2012

Cerita TKI : "Indonesia Maids Now on SALE"


Oleh : Muhammad Ilham 

Beberapa puluh tahun lalu, Douwes Dekker (pernah) berkata : " .... bangsa kuli dan kuli bangsa". Apa yang diungkapkan Dekker tersebut, menjadi aktual (lagi) dalam bentuk lain, ketika membahas mengenai Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Cerita Tenaga Kerja Indonesia (baca : TKI) seumpama cerita "telenovela", ada kisah bahagia penuh tawa, tapi tak sedikit kita disuguhkan cerita miris-sedih penuh air mata. Para TKI di negeri seberang, pada dasarnya merupakan inspirasi bagi semua orang, anak bangsa ini, untuk tidak hanya bertepuk dada. Mereka sukses di negeri orang, karena negerinya tak memberikan ranah untuk membuatnya sukses. Demikian juga halnya dengan cerita duka "pahlawan devisa" (ah ... gelar usang !), ketika mereka dinistakan di negeri orang lain, telunjuk juga harus dan mutlak dihadapkan kepada bangsa ini, mereka pergi dan dinistakan di negeri orang karena mereka tak memiliki kesempatan untuk sekedar menaikkan taraf hidup di negeri yang mungkin dibangun "peluh-keringat" orang tua mereka. Berbagai kisah sedih yang dialami oleh TKI dan bagaimana bangsa ini memberikan "solusi" seakan-akan membuat kita nelangsa.

Dengan demikian, bangsa ini sesungguhnya telah mengalami pelecehan atas kehormatan dan kedaulatannya. Para pembantu itu tidak dapat dipungkiri adalah representasi bangsa yang terbesar jumlahnya di luar negeri. Maka jelaslah, bahwa peristiwa-peristiwa 'kecil' penyiksaan TKI itu sesungguhnya adalah suatu penggalan drama saja dari keseluruhan cerita bahwa bangsa ini tidak memiliki nilai kehormatan di mata bangsa lain. Situasi ini benar-benar diperparah dengan ketidakmampuan pemerintah memberi perlindungan dan pembelaan pada para pembantu itu. Tidak mengherankan jika kemudian kasus-kasus kekerasan terus saja terjadi, sebab ketidakmampuan pemerintah ini memberi pesan yang jelas bahwa keseluruhan bangsa ini sebenarnya sudah takluk pada kekuatan majikan-majikan di luar negeri. Jika para pembantu itu adalah budak dari tiap-tiap majikannya, maka pemerintah Indonesia adalah budak dari pemerintah negara majikan-majikan itu. Titik.

Apa yang termaktub dalam "selebaran" yang beredar di Malaysia beberapa hari belakangan ini dan membuat "heboh" ranah publik (lihat foto : dibawah), kembali menjadi bukti.


sumber : detik.news.com

Dalam selebaran yang beredar di Malaysia tertulis, "Indonesia Maids Now on SALE". Di situ dijelaskan, TKI dilabeli harga 7.500 ringgit Malaysia atau diskon 40 persen dari tarif semula. Jika ingin menggunakan jasa TKI, calon pengguna bisa menyetor deposit 3.500 ringgit. Iklan tersebut juga memuat nomor telepon yang bisa dihubungi.

Kamis, 25 Oktober 2012

Akar Masalah

Oleh : Muhammad Ilham 

Dalam sosiologi berlaku peribahasa "siapa yang hanya mempunyai palu sebagai alatnya di tangan akan mengubah semua orang menjadi paku, dan siapa yang hanya mempunyai sapu sebagai alatnya akan mengubah semua orang menjadi sampah".

Analogi tersebut melukiskan betapa berbahayanya mengklaim menemukan akar persoalan, karena apa yang menjadi akar pada dasarnya adalah apa yang dianggap sebagai akar masalah. Pemilihan dan penetapan anggapan ini memang didasarkan pada sejumlah pengetahuan. Tetapi apa jadinya kalau pengetahuan tersebut keliru, sementara kita telah mengorbankan demikian banyak orang? Sukarno menganggap akar masalah adalah bahwa bangsa ini tidak cukup revolusioner, dan akibatnya ekonomi berantakan tidak keruan. Soeharto menganggap akar masalah adalah ketidakstabilan politik dan pertumbuhan ekonomi yang rendah, dan akibatnya adalah hak-hak demokratis menjadi porak-poranda. Habibie menganggap akar masalah adalah keterbelakangan teknologi, dan akibatnya adalah pemborosan yang fantastis dengan proyek pesawat terbang yang ternyata sulit dijual. Gus Dur mungkin berpendapat akar masalah adalah disintegrasi, dan kenyataannya kerusuhan di berbagai wilayah tetap berlanjut dan Jakarta mengalami berbagai ledakan bom. Kalau kita sekarang menganggap akar masalah adalah politik, sangat mungkin kita tidak akan pernah dapat mengatasi krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. Sebaliknya, kalau kita menganggap akar masalah adalah ekonomi (dan politik harus mengalami moratorium), maka jebakan kepada developmentalisme ala Orde Baru kembali disiapkan dengan sebaik-baiknya.
Wallahu 'alam !

Foto :  J_pollock____Open Art

______ Ketika (kita) seringkali menyalahkan variabel permukaan, bukan variabel substansial, maka saya ingat dengan anekdot berikut :

Pernah ada anekdot feminis yang bagus yang saya kutip dari Ariel Heryanto (2000). (Saya modifikasi "sedikit). Intinya kira-kira begini : 

Konon, suatu hari para ahli angkasa luar Indonesia menerima pesan dari makhluk planet lain. Mereka menyatakan minat berkunjungdan mengadakan studi banding ke bumi. Sambutan meledak-ledak bukan saja dari kalangan ahli. Perusahaan pemancar televise, dan pembuat film berlomba-lomba mendapat tempat dalam acara tersebut. Pabrik sepatu, kemeja, minuman, kerupuk, tebu-panggang Kuranji bahkan cendol Pattimura-pun ikut menjadi sponsor. Akhirnya tibalah hari “H”. Para tamu dari planet lain itu diajak berkeliling ke pusat-pusat peradaban manusia Indonesia, baik warisan budaya klasik-kuno hingga modern (yang klasik-kuno mungkin banyak, yang modern … entahlah, mana ada di Indonesia. Ya, namanya saja narasi-imajiner). Seluruh acara kunjungan diikuti ratusan juta penduduk Indonesia, bahkan bumi lewat siaran langsung. Di ujung kunjungan resmi itu, diadakanlah upacara perpisahan. Makan malam di istana negara a-la “keripik”, “bakso”, Obama kemaren-lah. Para tamu diminta memberikan kesan-kesannya. Puja puji berhamburan bak kembang api. Tepuk tangan silih berganti, orang Indonesia bangga. “Tapi”, kata sang tamu tiba-tiba, “ada keganjilan tentang kehidupan di bumi ini”. Serentak perhatian hadirin tertuju kepada wakil dari planet lain yang memberikan sambutan tersebut. “Apa? Katakan, apa yang ganjil?”, teriak hadirin berasamaa. “Yang aneh, “ kata sang tamu, “setiap kali kami berjalan-jalan di pusat-pusat kota pada malam hari, yang kelihatan hanya kaum laki-laki. Baik di Jakarta, Medan, Bandung ataupun Padang”. Para hadirin menjadi lega. “Oh itu”. Seorang petinggi dari Indonesia menjelaskan, “itu lumrah. Maklum, kalau pada malam hari pusat-pusat kota kurang aman. Demi alas an keamanan, kebanyakan wanita dan anak-anak tinggal di dalam rumah”. Penjelasan ini kurang memuaskan para tamu. Mereka kelihatan bingung dan sibuk berbisik-bisik dalam bahasa planet mereka, sampai-sampai tuan rumah bertanya, “Apakah penjelasan kami tadi kurang memuaskan?”. Salah seorang tamu tadi menjawab, “Terus terang, kami masih tak paham. Kalau di planet kami, ada binatang yang buas dan berbahaya bagi umum, maka yang dikurung adalah binatang itu. Bukan korbannya !”. Skak Ster.


Hans Jochem Bakker ___ Open Art


___________ lalu apa hubungannya dengan FOTO/PIC diatas  ?
Lihatlah, berdebat masalah cantiknya wanita pada foto ini, selalu mata tertumpu pada ranum merah merekahnya bibir si wanita. Padahal, bibir hanyalah artifisial, bagian kecil dari kumulasi variabel kecantikan.

Rabu, 10 Oktober 2012

Adnan Buyung Nasution : 23 April 1977

Oleh : Muhammad Ilham

Bagi pembela, kepentingan klien adalah yang paling utama. Setidaknya demikian yang sering kita saksikan dalam TalkShow Indonesia La wyers Club - dengan segala tingkah polah para lawyers nan parlente itu. Saya masih ingat, bagaimana advokat "papan atas" seumpama Otto Cornelis Kaligis, Hotma Sitompul, Hotman Paris Hutapea, Indra Shahnun Lubis, Junivers Girsang, Assegaf, Tommy Sihotang, dan lain-lain, dengan lantang mengatakan, "KITA MEMBELA UNTUK KEPENTINGAN KLIEN, BOHONG BILA ADA ADVOKAT YANG MEMBELA BUKAN UNTUK KEPENTINGAN KLIEN MEREKA".

Dan, dari ARSIP yang saya dapatkan (penggalan Majalah TEMPO, tanggal 23 April 1977), Advokat papan atas lainnya - ADNAN BUYUNG NASUTION - (baik pada masa sekarang dan masa itu), dengan lantang mengatakan, "Saya tidak mau diperbudak Klien". Ketika seorang tokoh nasional masa itu terlibat Korupsi, Buyung diminta menjadi pembela. Dalam proses selanjutnya, ketika si tokoh yang terlibat korupsi ini meminta agar Buyung mencari celah untuk meringankan hukuman seringan-ringannya, Buyung berkata, "Saya bukan budak klien. Saya kembalikan uangnya, saya buang berkasnya dan saya suruh ia mencari pembela lain". Dan ini dipublish di Majalah Tempo, lebih kurang 35 tahun yang lalu. Buyung sebenarnya telah memberikan batasan, siapa dan untuk apa pembela itu hadir. 
 
 
 

Jumat, 21 September 2012

Untuk Siapa Republik Ini Dibentuk ?

Oleh : Muhammad Ilham

Begitu menarik diskusi hari ini, diskusi lepas dan "bervitamin" mengenai untuk siapa sebenarnya Republik Indonesia dibentuk oleh founding fathers ? Semua itu berawal dari artikel cendekiawan muda Indonesia - Anies Baswedan - "Ini Soal Tenun Kebangsaan. Titik !" yang dipublish di Harian Kompas (11/9/2012). Sebagian dari artikel tersebut saya jadikan bahan diskusi di facebook saya (Muhammad Ilham Fadli) hari ini .......... dan diskusi-pun mengalir dengan hangat. Berikut penggalan artikel-nya :


Sumber Foto : INTI

Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa! Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi. Janji pertama Republik ini adalah melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tapi karena diancam saudara sebangsa, maka Republik ini telah ingkar janji. Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas oleh saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas dimana-mana. Perlindungan minoritas dibahas amat luas. 

Bangsa ini harus tegas: berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan. Kekerasan ini terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Ini soal sekelompok warga negara menyerang warga negara lain. Kelompok demi kelompok warga negara secara kolektif menganiaya sesama anak bangsa. Mereka merobek tenun kebangsaan ! Tenun Kebangsaan itu dirobek dengan diiringi berbagai macam pekikan seakan boleh dan benar. Kesemuanya terjadi secara amat eksplisit, terbuka dan brutal. Apa sikap negara dan bangsa ini? Diam? Membiarkan? Tidak! Republik ini tidak pantas loyo-lunglai menghadapi warga negara yang pilih pakai pisau, pentungan, parang bahkan pistol untuk ekspresikan perasaan, keyakinan, dan pikirannya. Mereka bukan sekadar melanggar hukum tapi merontokkan ikatan kebangsaan yang dibangun amat lama dan amat serius ini. Mereka bukan cuma kriminal, mereka perobek tenun kebangsaan. Tenun Kebangsaan itu dirajut dengan amat berat dan penuh keberanian. Para pendiri republik sadar bahwa bangsa di Nusantara ini amat bhineka. Kebhinekaan bukan barang baru. Sejak negara ini belum lahir semua sudah paham. Kebhinekaan di Nusantara adalah fakta, bukan masalah ! 

Tenun kebangsaan ini dirajut dari kebhinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Setiap benang membawa warna sendiri. Persimpulannya yang erat menghasilkan kekuatan. Perajutan tenun inipun belum selesai. Ada proses yang terus menerus. Ada dialog dan tawar-menawar antar unsur yang berjalan amat dinamis di tiap era. Setiap keseimbangan di suatu era bisa berubah pada masa berikutnya. Dalam beberapa kekerasan belakangan ini, salah satu sumber masalah adalah kegagalan membedakan "warga negara" dan "penganut sebuah agama". Perbedaan aliran atau keyakinan tidak dimulai bulan lalu. Usia perbedaannya sudah ratusan -bahkan ribuan- tahun dan ada di seluruh dunia. Perbedaan ini masih berlangsung terus, dan belum ada tanda akan selesai minggu depan. Jadi, di satu sisi, negara tidak perlu berpretensi akan menyelesaikan perbedaan alirannya. Di sisi lain, aliran atau keyakinan bisa saja berbeda tapi semua adalah warga negara republik yang sama. Konsekuensinya, seluruh tindakan mereka dibatasi oleh aturan dan hukum republik yang sama. Di sini negara bisa berperan. Negara memang tidak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warganya. Tetapi negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Jadi dialog antar pemikiran, aliran atau keyakinan setajam apapun boleh, begitu berubah jadi kekerasan maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukumnya. 

Negara jangan mencampuradukkan friksi/konflik antar penganut aliran/keyakinan dengan friksi/konflik antar warga senegara. Dalam menegakkan hukum, negara harus selalu melihat semua pihak semata-mata sebagai warga negara dan hanya berpihak pada aturan di republik ini. Apalagi aparat keamanan, ia harus hadir untuk melindungi “warga-negara” bukan melindungi “pengikut” keyakinan/ajaran tertentu. Begitu pula jika ada kekerasan, maka aparat hadir untuk menangkap “warga-negara” pelaku kekerasan, bukan menangkap “pengikut” keyakinan yang melakukan kekerasan. Pencampuradukan ini salah satu sumber masalah yg harus diurai secara jernih dan dingin. Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Disini pendidikan berperan penting. Tetapi itu semua tak cukup, dan takkan pernah cukup. Menjaga tenun kebangsaan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. Ada saja manusia yang datang untuk merobek. Bangsa dan negara ini boleh pilih: menyerah atau “bertarung” menghadapi para perobek itu.  Jangan bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis sejarah, bahwa bangsa ini gagah mempesona saat mendirikan negara bhineka tapi lunglai saat mempertahankan negara bhineka. 

Membiarkan kekerasan adalah pesan paling eksplisit dari negara bahwa kekerasan itu boleh, wajar, dipahami, dan dilupakan. Ingat, kekerasan itu menular. Dan, pembiaran adalah resep paling mujarab agar kekerasan ditiru dan meluas. Pembiaran juga berbahaya karena tiap robekan di tenun kebangsaan ini efeknya amat lama. Menyulam kembali tenun yang robek, hampir pasti tidak bisa memulihkannya. Tenun yg robek selalu ada bekas, selalu ada cacat. Ada seribu satu pelanggaraan hukum di republik ini, tapi gejala merebaknya kekerasan dan perobekan tenun kebangsaan itu harus jadi prioritas utama untuk dibereskan. Untuk mensejahterakan bangsa semua orang boleh “turun-tangan”, tapi untuk menegakkan hukum hanya aparat yang boleh “turun-tangan”. Jadi saat penegak hukum dibekali senjata itu tujuannya bukan untuk tampil gagah saat upacara, tapi untuk dipakai saat melindungi warga negara, saat menegakkan hukum. Negara harus berani dan menang "bertarung” melawan para perobek itu. Bahkan saat tenun kebangsaan terancam itulah negara harus membuktikan di Republik ini ada kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat tapi tidak ada kebebasan untuk melakukan kekerasan. Aturan hukumnya ada, aparat penegaknya komplit. Jadi begitu ada warga negara yang pilih untuk  melanggar dan meremehkan aturan hukum untuk merobek tenun kebangsaan, maka sikap negara hanya ada satu: ganjar mereka dengan hukuman yang amat menjerakan. Bukan cuma tokoh-tokohnya saja yang dihukum. Setiap gelintir orang yang terlibat harus dihukum tanpa pandang agama, etnis, atau partai. Itu sebagai pesan pada semua: jangan pernah coba-coba merobek tenun kebangsaan!. Ketegasan dalam menjerakan perobek tenun kebangsaan membuat setiap orang sadar bahwa memilih kekerasan adalah sama dengan memilih untuk diganjar dengan hukuman yang menjerakan. Ada kepastian konsekuensi. Ingat, Republik ini didirikan oleh para pemberani: berani dirikan Negara yang bhineka. Kita bangga dengan mereka. Kini pengurus negara diuji. Punyakah keberanian untuk menjaga dan merawat kebhinekaan itu secara tanpa syarat? Biarkan kita semua -dan kelak anak cucu kita- bangga bahwa Republik ini tetap dirawat oleh para pemberani.

Sebagai pembanding, saya juga "menghadirkan"  artikel saya yang pernah di publish di sebuah harian lokal tahun lalu tentang "Nasib Kelompok Mayoritas yang Selalu Dicurigai", berikut :

Ibarat kue lapis yang berlapis-lapis, maka proses kedatangan Islam di Indonesia juga berlapis-lapis. Pada lapisan pertama, Islam "datang" melalui pedagang-pedagang. Sedangkan pada lapisan kedua, ditandai adanya sebuah eksistensi politis yang bernama kerajaan seperti di Sumatera Utara - Aceh. Pada lapisan ketiga, perkembangan Islam demikian cepat sebagai bentuk kompetisi dengan Kristen. Sejarah "sepakat" dalam lapisan ketiga ini, persaingan ini dimenangkan oleh Islam. Dalam lapisan ini VOC (Vereeniging de Oost Companig) yang diistilahkan sebagai "negara berjalan" itu ada dan mendirikan Hindia Belanda. Tapi daerah-daerah pinggiran pantai tetap berada dalam kekuasaan orang Islam. Peristiwa demi peristiwa dalam lapisan ketiga ini, tidak bisa dilupakan oleh orang Kristen. Pada lapisan ini pula, usaha Kristenisasi di daerah Jawa dan Indonesia Timur berjalan dengan massif. Persaingan tak terhindarkan. Setidaknya demikian yang terlihat dari berbagai konflik dan perlawanan rakyat daerah vis a vis VOC yang terjadi, nuansa menghadapkan Islam dan Kristen tak terhindarkan.

Sejak lapisan ketiga ini, persaingan terus berlanjut. Dalam masa pergerakan, muncul perdebatan-perdebatan tentang bentuk ideal sebuah negara yang di"imajinasi"kan. Sebagian (mayoritas) berkeinginan mendirikan negara diatas landasan Islam republik, padasisi lain menginginkan bentuk negara nasional. Sejarah kemudian mencatat, bagaimana ini terefleksi dari perdebatan-perdebatan monumental antara Soekarno dengan Mohammad Natsir. Perdebatan yang bersumbu pada Mukaddimah UUD atau biasa dikenal dengan Piagam Jakarta. Piagam Jakarta yang hingga hari ini begitu disesali sebagian ummat Islam Indonesia. Penyesalan terhadap sebuah - dalam bahasa Taufik Abdullah (1999) - kompromi antara negara nasionalis dengan moral religius yang tertulis dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Tak bisa dipungkiri, kompromi ini merupakan bentuk "ketakutan" sebagian kalangan akan Islam politik.

Dalam perkembangan sejarah berikutnya, beberapa gerakan perlawanan terhadap entitas sah negara-bangsa Indonesia terjadi satu per satu. Darul Islam-nya Kartosuwiryo berdiri di Jawa Barat. Kehadiran Darul Islam, sebagaimana yang ditulis Al-Chaidar (2002), menimbulkan mitos bahwa seolah-olah Islam di Indonesia adalah entitas yang menakutkan dan militan. Sebuah generalisasi yang pada hakikatnya terus berkembang hingga masa kini. Padahal Islam di Indonesiaitu tidaklah monolitik. Islam di Indonesia itu bukan hanya tipikal Darul Islam dengan NII-nya itu saja. Islam di Indonesia ada Nahdlatul Ulama, ada Muhammadiyah, ada Perti dan seterusnya. Ketakutan akan militansi Islam ini terus ter/dijaga. Seluruh idiom ataupun labelisasi yang berkaitan dengan Islam di Indonesia, selalu dipandang dengan "curiga". Lihatlah ketika istilah "Kebangkitan Islam" diperkenalkan. Istilah ini juga dilihat sebagai gerakan yang perlu dicurigai, setidaknya demikian yang terasa di akhir rezim Orde Baru. Padahal gerakan kebangkitan Islam ini, merupakan gerakan internasional. Tapi, tetap saja sebagian kalangan merasa takut, terutama dari entitas Kristen Indonesia.

Sejak lapisan ketiga hingga terus terbentuknya republik ini, ketakutan akan Islam politik terus terbina. Pada masa Orde Baru, "cita rasa"nya terasa dengan kental. Orde Baru dipenuhi oleh jargon-jargon politis yang ingin menyampaikan kepada publik bahwa Islam politik pantas untuk "dicurigai". Jargon kanan untuk memetakan Islam, sementara jargon kiri untuk PKI. Bagaimanapun juga, jargon ini merupakan salah satu bentuk grand design kelompok-kelompok non-Islam yang mencurigai kebangkitan Islam politik. Militansi beberapa kelompok Islam masa Orde Lama dijadikan sebagai landasan historis untuk pembenaran, tanpa melihat bahwa entitas Islam Indonesia bukan hanya kelompok garis keras itu saja. Di saat-sata akhir kekuasaan Soeharto, jargon baru dalam ranah politik Indonesia - ijo royo-royo. Refleksi mendekatnya Soeharto dengan Islam, dalam bahasa Emha Ainun Nadjid, religiusitas politik Soeharto. Kondisi ini membuat kelompok Kristen menjadi takut, seakan-akan Islam bagian dari establishment yang otoriter.

Sejarawan Taufik Abdullah suatu ketika pernah menyatakan bahwa itulah nasib dari orang yang mayoritas. Walau berwajah baik, selalu dicurigai. Orang Jawa yang secara demografis dan politis lebih mayoritas, selalu di ejek oleh orang luar Jawa dan seterusnya. Padahal, kata Taufik Abdullah, kalau orang itu sadar dengan keminoritasannya, tentu mereka tidaklah perlu takut pada mayoritas. Dalam ranah psikologi dikenal istilah inferiorityof minority. Ketakutan akan Islam politik lebih disebabkan pada perasaan kurang percaya diri kelompok minoritas. Karena itu, kata kunci yang perlu ditumbuhkembangkan adalah minoritas yang percaya diri, mereka tidak akan takut terhadap mayoritas. Kalangan minoritas Indonesia tidak akan mencurigai Islam politik. Walau gerakan-gerakan Islam garis keras mulai "menaik" di Indonesia pasca Orde Baru, usaha-usaha penghilangan kesan Islam yang "menakutkan", rasanya tidak perlu. Makin diusahakan, akan makin dicurigai. Samalah dengan infotainment, semakin artis tersebut diperbincangkan, mungkin artis itu akan semakin populer dan dicurigai. Biarlah berjalan dengan alamiah.

Persoalannya bukan terletak pada golongan mayoritas, tapi pada golongan minoritas. Islam itu biasa-biasa saja, apalagi Islam di Indonesia yang tidak monolitik. Coba lihat, bagaimana sikap politik antara orang NU dengan Muhammadiyah, antara Al-Washliyah dengan Perti - mereka tidak akan pernah sama. NU dibawah kepemimpinan Gus Dur dan Said Agil Siradj saja, berbeda dalam menyikapi gaya politik SBY. Analisis saja, Muhammadiyah di bawah Dien Syamsuddin dengan Muhammadiyah di bawah Syafii Ma'arif mensikapi perkembangan politik Indonesia, pasti beda. Tapi itu tadi, setiap orang Islam membicarakan masalah politik, selalu merasa menakutkan. Padahal, sebagaimana yang diungkapkan group hip hop Saykoji, "Islam itu indah, Islam itu ramah. Wallahu 'alam bis shawab !.

Minggu, 09 September 2012

Islam Ramah, (Bukan) Islam Marah



Al-'Arifuna hum alladzina yahmiluna al-aqlam wa yaktubuna al-hikmata bil midad adzdzahabi. 
Wal juhala- hum alladzina yahmiluna assuyufa wa yasfikuna biha addima' 
(Imam Sibawaih el-Hasany) 

Orang arif senantiasa membawa pena yang menggoreskan tinta hikmah. 
Orang bodoh senantiasa membawa pedang untuk menumpahkan darah.


Referensi teks : Majalah Ulumul Qur'an Edisi Juni 2012 : 16

Potensi Bom Bunuh Diri (yang) Tak Pernah Padam

Oleh : Muhammad Ilham

" ..... bukan membunuh teroris-nya, tapi menghabisi terorisme !
(Muhammad Ilham Fadli facebook

Fakta sosial harus dijelaskan dengan fakta sosial lainnya
(Emille Durkheim)

M Thorik, perakit bom di Tambora, menyerahkan diri ke Pos Polisi Jembatan Lima, Jakarta Barat, semalam. Diketahui, bom pipa yang dirakit Thorik ditujukan untuk aksi bom bunuh diri yang dijadwalkan hari ini. "Dari hasil pemeriksaan sementara, bom bunuh diri itu untuk dilakukan aksi teror hari ini," kata Karopenmas Polri, Brigjen Pol. Boy Rafli Amar, di Jakarta, Senin (10/9/2012). Aksi bom bunuh diri itu ditujukan empat lokasi, yaitu di Markas Komando Korps Brimob di Kelapa Dua, Depok, Pos Polisi Salemba, Kantor Densus 88/Antiteror, dan Komunitas Budha di Jakarta. Menurut Boy, target terakhir yang masuk dalam rencana aksi Thorik itu dinilai karena Thorik merasa ada ketidakadilan terhadap aksi kekerasan yang dialami umat muslim di Rohingnya, Myanmar. "Terkait isu Rohingya Myanmar, yang menurut yang bersangkutan membuat ketidakadilan," ujar Boy.

Reportase detik.com (10-09-2012) diatas, kembali membuat ranah rasionalitas terkejut, seorang calon human bomber (biasanya disebut : "pengantin") yang menyerahkan diri ke Kepolisian. "Rindu pada anak dan istri yang membuat saya menyerahkan diri", kata M. Thorik, si calon "pengantin" yang gagal tersebut. Seandainya tidak terjadi ledakan yang mendahului rencana, kemungkinan besar, M.Thorik akan menunaikan tugasnya sebagai "pengantin" pada hari ini, 10 September 2012. Mengapa potensi human bombers (pakai "s") tak kunjung padam ? Dalam tradisi agama-agama besar dunia, kematian bukanlah akhir daripada perjalanan hidup seseorang. Hukum kehancuran hanya berlaku pada wujud yang berstruktur secara materi. Karena roh bukanlah materi, maka ia tidak akan terkena pada hukum kehancuran. Konsep dan keyakinan hidup setelah mati ini mendapat tempat yang kokoh dalam tradisi agama-agama besar dunia. Mati bukanlah sebuah terminasi, tetapi garis transisi untuk memulai hidup baru di alam yang baru. Oleh karena itu, mereka yang ketika masih hidup menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah gerbang yang membawanya memasuki kehidupan baru yang jauh lebih indah dengan kebahagian sejati. Itulah yang diyakinkan pada para calon pengebom bunuh diri. Lewat sebuah indoktrinasi, kata Emille Durkheim, mereka diyakinkan bahwa taman Firdaus terhampar setelah mereka mengorbankan diri mereka demi orang lain. Atau dalam bahasa lain, sorga terhampar luas dibalik detonator sehingga kematian akan terasa tidak lebih dari sekedar cubitan. 

Dalam konteks sosiologis, terdapat beberapa faktor yang menjadi ashbabun fenomena human bombers tak pernah padam, diantaranya : 

Pertama, Hopeless atau Kehilangan Harapan. Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh USA Today terhadap anak-anak Palestina menjelaskan bahwa mereka merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan. Mereka merasa hidup mereka tidak berarti lagi. Karena itu tidak ada pilihan lain lagi kecuali melawan dengan berbagai cara. Demikian juga halnya dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Peter O'Gonnor White terhadap komunitas Tamil di Sri Langka. Sri Langka, sebuah negara yang secara genetik dekat dengan Hindustan, akan tetapi mayoritas beragama Budha. Etnis terbesar yang terdapat di negara ini adalah etnis Sinhala (mayoritas) dan Tamil. Etnis terakhir ini merupakan etnis minoritas yang beragama Hindu, dan berada dibawah bayang-bayang diskriminasi sosial politik yang dilakukan oleh etnis Sinhala. Berbagai usaha dilakukan etnis Tamil agar mereka bisa berpisah dari Sri Langka. Akan tetapi, usaha melalui jalur diplomasi dan kerusuhan-kerusuhan sporadis tidak membuahkan hasil. Akibatnya, mereka merasa kehilangan harapan. Maka jalan satu-satunya adalah mentradisikan bom bunuh diri secara simultan dengan harapan timbulnya ekses psikologis dan perhatian dunia.

Kedua, demi orang yang dicintainya orang rela melepaskan hidupnya. Pengorbanan memiliki nilai evolusioner riil manakala orang tua menyelamatkan anaknya karena penyelamatan anaknya akan menjamin kelangsungan hidupnya. Memang orang tua melindungi dan mendidik serta membesarkan anaknya tampa pamrih. Akan tetapi bagaimanapun juga, anak bagi orang tua adalah investasi, baik investasi kelangsungan genetik, ekonomi maupun kedamaian dihari tua. Secara sosiologis, cinta terbesar adalah cinta terhadap agama dan ideologi yang sering dipersonifikasikan dengan konsep fanatisme. Kecintaan terhadap agama mengalahkan kecintaan terhadap yang lain karena agama memiliki daya tarik luar biasa dengan justifikasi normatif religiusnya. Ketiga, Faktor Kepahlawan. Sosiolog Emille Durkheim mengatakan bahwa dalam kasus-kasus yang lebih altruistik, pelaku bunuh diri (baca : pengebom bunuh diri) menyimpulkan bahwa kehidupan mereka yang selamat lebih bernilai dibandingkan dengan kehidupannya sendiri atau bahkan kelangsungan hidup mereka bisa terjamin bila ada yang meninggal. Tipe seperti ini biasa terjadi dalam peran ketika seseorang mengobankan dirinya sendiri dengan harapan bahwa kawan-kawannya akan selamat. Banyak peristiwa-peristiwa tragis kepahlawanan yang pada akhirnya peristiwa itu memberikan inspirasi tentang kepahlawanan (terlepas dari salah atau benarnya). Prosesi "Minum Racun"nya Socrates karena keteguhan akan memegang prinsip justru memberikan inspirasi besar terhadap perjalanan filsafat pemikiran dunia setelahnya. Begitu juga dengan sang ana al haq al Hallaj dan Syekh Siti Jenar.   Kematianku merupakan sebuah inspirasi terhadap perubahan yang lebih besar pada masa yang akan datang". 

Keempat adalah Faktor Kebanggaan Individual-Komunal. Standar kultural dan kepercayaan mungkin membawa seseorang untuk siap melepaskan hidupnya untuk menunjukkan keberanian atau menunjukkan dirinya berarti. Hasil dari tindakan ini adalah terjaminnya keberlangsungan hidup anggota keluarganya. Mereka dapat hidup dengan kebanggaan dan harapan. Faktor budaya sangat memegang peranan yang signifikan dalam melahirkan anggapan ini. Bagi kultur masyarakat Jepang klasik dan Palestina hingga saat sekarang, jiwa altruisme dengan bentuk tindakan bom bunuh diri (dengan embel-embel demi negara dan agama tentunya) justru meninggalkan kebanggaan individual-komunal. Eskapisme merupakan faktor yang kelima. Eskapisme, menurut kajian psikoanalisis, adalah keadaan memasuki alam khayal/hiburan untuk melupakan atau menghindari kenyataan-kenyataan yang tidak menggembirakan. Terkadang kematian dilihat sebagai pilihan terbaik dan terakhir yang amat menyedihkan ataupun kemalangan yang baik. Misalnya, untuk menghindari diri agar tidak ditangkap musuh untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi seperti penyiksaan dan penghinaan, maka diambillah pilihan terakhir untuk melakukan bom bunuh diri.  Keenam adalah psychotic atau kegilaan, dimana ada yang beranggapan bahwa bunuh diri merupakan tindakan terakhir dari episode psychotic (kegilaan) yang merupakan bagian dari ritual supernatural, karena kematian tidak dapat dielakkan atau karena kematian merupakan sesuatu yang sementara sifatnya. Mungkin faktor ini tidak begitu jelas dan pas dalam memahami perilaku terorisme bom bunuh diri. Pada umumnya, hal ini bisa dilihat dari beberapa fenomena aliran-aliran "sempalan" dari sebuah agama yang mapan.  Fanatisme juga menjadi faktor paling signifikan. Fanatisme merupakan sistem kepercayaan yang kaku, keras atau berpandangan sempit, meunrut para penganutnya untuk mengorbankan diri.

Beberapa pernyataan yang dipaparkan diawal tulisan diatas terlihat bagaimana mereka memahami ajaran Islam secara sempit dan parsial. Mereka menganggap pemahaman merekalah yang benar, sehingga tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif pernah mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah orang-orang yang hanya berani mati, akan tetapi tidak berani hidup. Mereka hanya memahami ajaran Islam secara parsial dan menafsirkan ajaran tersebut sesuai dengan kepentingan dan misi ideologi mereka sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Robert N. Bellah di Jepang tentang ajaran Tokugawa memperkuat hal ini. Keberhasilan mencapai tujuan dan menjaga martabat Kaisar Jepang merupakan sebuah doktrin "genealogik" secara kultural bahkan diterima secara taken for granted. Hal inilah yang membuat masyarakat Jepang klasik sangat fanatik terhadap pemahaman dua hal diatas : Keberhasilan dalam mencapai tujuan dan Menjaga martabat tahta Seruni. Apabila mereka merasa gagal, maka jalan yang terbaik adalah bunuh diri. Bedanya antara fanatisme pertama dengan yang kedua adalah kalau yang pertama merupakan pemahaman parsial bukan kultural dan memiliki implikasi terhadap orang yang tidak bersalah. Sedangkan yang kedua merupakan pemahaman kultural yang hanya memiliki implikasi individual. Pengorbanan diri sebagai suatu tindakan kesyahidan religius munculdari suatu kepercayaan terhadap hidup setelah mati atau berdasarkan atas kepercayaan bahwa kematian memberikan suatu kesempatan untuk lahir kemabli di bumi dengan status yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka kematian bukanlah dianggap sebagai sebuah kesia-siaan, tetapi dipandang sebagai kelahiran kembali untuk memulai hidup yang lebih baik dan baru. Dalam konteks ini, sedikit banyaknya motivasi pelaku bom bunuh diri adalah merupakan pelarian dari suasana dan "kompetisi hidup" yang tidak ramah pada mereka dan jalan terbaik agar mereka mencapai ketenangan dan kematian mereka tidak sia-sia adalah dengan jalan tragis ini.

Fenomena terorisme dan bom bunuh diri tersebut merupakan suatu fakta sosial dan bukanlah fenomena individual. Untuk mengantisipasinya, maka harus dicari penyebab yang juga merupakan fakta sosial. Dalam konteks ini, berbagai fenomena terorisme dan bom bunuh diri terjadi karena adanya pemahaman norma-norma religius yang destruktif, perilaku tidak adil dalam realitas sosial dan lain-lain yang bersifat diskriminasi struktural. Oleh karena itu, perlu para "pemegang otoritas" agama (Islam) untuk kembali memikirkan pola dakwah, pendidikan dan pendekatan terhadap transformasi ajaran Islam tersebut kepada ummat Islam itu sendiri, terutama pemahaman-humanis tentang beberapa konsep yang selama ini “menggairahkan” seperti “Jihad”. Pertanyaan logis yang mengedepan di benak kita harus dengan jujur untuk kita jawab yaitu: Mengapa ummat Islam memiliki potensi besar melakukan tindakan teror ? Mengapa para pelaku teroris dan Bom Bunuh Diri di Indonesia tersebut adalah orang-orang yang dekat dengan pondok pesantren dan seterusnya?

Ahmad Syafi’ie Ma’arief (2006) berpendapat bahwa untuk kedepan kurikulum dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya ummat Islam Indonesia, harus menekankan pendekatan yang humanis, hubungan dengan Tuhan juga berkorelasi erat dengan hubungan dengan manusia serta penekanan terhadap ajaran bahwa manusia yang Islami dan disayang oleh Allah SWT. adalah manusia yang menjaga peradaban dan ciptaan Allah. Disamping itu, diskriminasi dan ketimpangan sosial harus sedikit demi sedikit diperbaiki. Keadilan harus ditegakkan, tanpa pandang bulu. Rasa persaudaraan antar ummat beragama perlu dikembangkan dan dianggap perlu, bukan dilestarikan. Sementara itu, Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa terorisme dan perilaku bom bunuh diri bukan budaya masyarakat Indonesia. Namun bila dilihat secara historis, budaya kekerasan ada dalam setiap budaya di Indonesia yang kadang-kadang dijustifikasi oleh ajaran agama (Islam). Kasus Perang Aceh dengan Hikayat Perang Sabil yang termaktub dalam analisis antropologisnya (terdapat dalam buku yang diterbitkan INIS : Nasehat-Nasehat Snouck Hourgronje Jilid I - IX) Snouck Hourgronje memperkuat hal ini. Oleh karena itu, untuk kedepan, disamping menekankan pendekatan humanis terhadap ajaran Islam, kita juga harus menekankan jiwa humanis budaya-budaya di Indonesia. Karena bagaimanapun juga, seperti dalam setiap agama di dunia ini, setiap budaya lahir untuk menjaga dan mengembangkan peradaban ummat manusia. Butuh momentum tersendiri untuk memberikan pesan kepada pemegang otoritas politik Indonesia bahwa kebijakan-kebijakan yang menyudutkan ummat Islam hanya akan melahirkan ummat Islam yang radikal. Wallau 'Alam bi Shawab.

Kamis, 16 Agustus 2012

Mencintai Indonesia dengan Sederhana : Dirgahayu Indonesia


Indonesia... tahun 2014 masih puluhan purnama lagi, 
tapi kegaduhan politik sudah bersimaharajalela. 
Engkau sudah nampak letih. 
Namun apapun itu, biar orang kata saya Chauvinis, namun saya suka akan engkau. 
Satu harapan saya, bila suatu masa kelak, bahtera tak satu kata, kata pisah terus menggema
semoga Husnul Khatimah!




Kesadaran terhadap konsep ke-Indonesia-an itu, 
bermula dari kesadaran rakyat kecil, 
bukan berkembangbiak di kalangan elit.

DIRGAHAYU INDONESIA, 67 tahun.
17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2012

sumber foto : Muhammad Ilham Fadli facebook

Selasa, 14 Agustus 2012

KH. Mustafa Bisri : "Aku Harus Bagaimana ?"


aku pergi tahlil, kau bilang itu amalan jahil
aku baca shalawat burdah, kau bilang itu bid’ah
lalu aku harus bagaimana…?

aku bertawasul dengan baik, kau bilang aku musrik
aku ikut majlis zikir, kau bilang aku kafir
lalu aku harus bagaimana…?

aku shalat pakai lafadz niat, kau bilang aku sesat
aku mengadakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid
lalu aku harus bagaimana…?

aku gemar berziarah, kau bilang aku alap-alap berkah
aku mengadakan selametan, kau bilang aku pemuja setan
lalu aku harus bagaimana…?

aku pergi yasinan, kau bilang itu tak membawa kebaikan
aku ikuti tasawuf sufi, malah kau suruh aku menjauhi

ya sudahlah… aku ikut kalian…

kan ku pakai celana cingkrang, agar kau senang
kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot
kan ku hitamkan jidat, agar dikira ahli ijtihad
aku kan sering menghujat, biar dikira hebat
aku kan sering mencela, biar dikira mulia

ya sudahlah… aku pasrah pada Tuhan yang ku sembah… !!





















(sebuah nukilan kritis berbentuk puisi dari KH. MUSTOFA BISRI anak dari KH. BISRI MUSTOFA - Hadratusyeikh Nahdlatul Ulama. Dianggap sebagai salah seorang ulama besar NU selain, misalnya Ulama-Ulama Langitan. Satu generasi dengan Gus Dur. Termasuk salah satu idola "generasi muda/intelektual muda NU". Hobinya : membaca kitab dan berkumpul dengan seniman dan rakyat biasa)

:: siap sholat Taraweh tadi, saya (ditanya : tepatnya) dikritisi oleh seorang jama'ah bahwa sholat itu pakai kain sarung, bukan celana panjang, karena itu BID'AH. Dan ia mendefenisikan BID'AH sebagai "tidak pernah dilakukan Rasulullah dalam ritual ibadah". Berangkat dari ini, saya kemudian mengatakan, "mari kita beri penguatan makna BID'AH tersebut".

- Orang yang tidak sayang sama istri dan anak-anaknya .... ITU BID'AH (karena Nabi SAW. tidak pernah melakukan ini)
- Orang yang tidak ramah pada tetangganya, ITU BID'AH (karena Nabi SAW. dikenal orang yang ramah, murah senyum lagi menyenangkan hati orang banyak)
- Orang yang tidak mau berbeda pendapat, ITU BID'AH (karena Nabi SAW. yang Ummi tersebut bahkan mau mendengar masukan dan arahan dari sahabat dan anaknya sendiri yang perempuan)
- Dan seterusnya.

Lantas Jama'ah saya tadi berkata, "Itu Bukan Ritual Ibadah, pak!".
Saya jawab, "saya hargai pendapat Bapak, tapi izinkan saya memiliki pendapat ..... Bapak adalah SEKULER, karena ibadah bagi Bapak hanyalah sebatas Sarung dan Celana doank. Padahal, TACIRIK-pun bisa jadi ibadah".
Alhamdulillah beliau tersenyum. Kami-pun minum AQUA gelas di Musholla sambil terus ma ota-ota (sesuatu yang dahulunya - bila meminjam versi Bapak tadi - juga BID'AH).

Terlepas dari apa yang diutarakan di atas, saya hanya ingin mengatakan, "Wallahu a'lam bish shawab".

Sumber foto : lkis.org
Sumber : Muhammad Ilham Fadli Facebook 

Getaran Ka'bah yang Berbentuk Kubus

Oleh : Muhammad Ilham 

"Bayangkan dirimu, kata sosiolog Iran tamatan Sorbonne Ali Shariati, sebagai sebuah partikel besi di dalam sebuah medan magnet, seolah-olah engkau berada diantara berjuta-juta burung putih yang sedan melakukan mikraj". Ali Shariati yang dikenal sebagai ideolog Revolusi Islam Iran ini, benar dan menyentuh. Sebuah partikel besi diantara semesta jutaan partikel besi lainnya, sekor burung putih di antara jutaan burung putih.   Ka'bah, kata Ali Shariati yang satu kelas dengan "si jagal" Polpot kala kuliah di Sorbonne ini, adalah sebuah kebersahajaan, tanda menyerahnya manusia di hadapan sang Azza wa Jalla. Ia hanyalah sebuah kubus tanpa ornamen nan indah, kecuali kaligrafi pada kiswah yang membungkusnya - ia praktis tanpa keelokan, tanpa ornamen, tanpa keinginan menjadi impresif. Ia berdiri begitu saja di halaman dalam Masjidil Haram, dan - sebagaimana kata Muhammad Assad - "tak menyentak". Muhammad Assad, penulis Islam keturunan Yahudi Eropa itu benar. Dalam bukunya Jalan ke Mekkah, sebuah buku nan indah tentang perjalanan hidupnya, Assad mengatakan, "Saya telah menyaksikan di berbagai negeri kaum Muslimin, tempat para tangan seniman besar menciptakan karya yang diilhami, tapi justru dalam kesederhanaan Kubus Ka'bah, yang menyangkal segala keindahan garis dan bentuk, tercermin satu sikap bahwa betapapun indahnya segala apa yang dapat dibuat oleh tangan-tangan manusia, adalah congkak jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan". "Oleh karena itu, kata Assad, semakin sederhana yang dapat disombongkan manusia, merupakan hal yang terbaik yang dapat dibuatnya untuk menyatakan kebesaran Tuhan". 









 
Sumber Foto : google.picture.com (cc) Muhammad Ilham Fadli facebook