Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2013

Inklusivisme dan Simbolisme yang "Membumi"


Sebuah rapat umum yang dilaksanakan Sarekat Islam (biasa disingkat dengan SI). SI yang merupakan "kelanjutan" dari Sarekat Dagang Islam ini dianggap dalam sejarah sebagai Organisasi Politik Pertama di Indonesia. Mayoritas anggotanya adalah para pedagang batik muslim dan buruh kereta api. Elit organisasi ini merupakan tokoh-tokoh Islam terkemuka di daerah mereka masing-masing. Tak saya komentari lebih lanjut tapak-historis organisasi ini. Sejarawan Jepang, Takashi Shiraishi (1999) menjelaskan dengan menarik dalam bukunya dengan judul yang terkesan garang, "Zaman Bergerak". Bagi saya yang paling menarik adalah ..... tak terlihat para elit SI ini menggunakan jubah ataupun jenggot lebat. Mereka justru terlihat "membumi".



(c : rumli adnan)
c: ulil abshar abdalla fb.

Minggu, 25 November 2012

Fatwa Sesat di Balik Penyerangan Hari Asyura


Muhammad Ilham memandang gelombang aksi anarkis terhadap kelompok sempalan Islam dipicu oleh fatwa sesat sepihak yang muncul beberapa tahun belakangan. Intelektual muda Minangkabau ini menilai fatwa sesat terhadap sesama mazhab Islam itu muncul baru sekitar sepuluh tahunan terakhir. "Ini tidak ada preseden sejarahnya," tutur Ketjur Sejarah Kebudayaan Islam IAIN Padang Itu. Bagi dosen Politik Islam ini, para ulama dahulu seperti HAMKA tidak pernah mengeluarkan fatwa sesat terhadap Ahmadiyah, apalagi Syiah. Menurutnya, fatwa sesat terhadap Syiah muncul belakangan karena ulama terkooptasi politik penguasa.

Siang hari bolong di gedung kecil nan sempit sebuah kampus negeri terkemuka di Makassar, beberapa anak melantunkan lagu duka.Tepat di depannya, barisan Ibu-ibu yang berdiri menangis tersendu-sendu mendengar lagu yang menceritakan perjuangan Imam Husein di padang nan gersang bernama Karbala. Siang ini, tepat 1373 tahun yang lalu, Imam Husein menghembuskan nafas terakhir diterjang anak panah, tombak dan senjata tajam lainnya dari berbagai arah. Bersama keluarga dan segelintir pengikutnya, cucu Rasulullah Saw itu menunaikan tugasnya membela ajaran Islam yang dibajak oleh penguasa lalim. Putra Singa Arab ini memilih mati syahid, dari pada harus berbaiat kepada penguasa durjana yang menggunakan simbol-simbol agama untuk menindas orang lain. Dari mulut Husein terucap, "Ya Allah, terimalah pengorbanan kecil ini." Di tengah suasana khidmat itu, tiba-tiba datang segelintir orang berjenggot dengan pakaian putih-putih mengacaukan konsentrasi peserta yang siap mendengarkan ceramah . Dengan nada sangar para penyerobot itu memicu kegaduhan. Suara keras memekakan telinga bergema, "Allahu Akbar, Bubarkan Syiah!!." Seruan itu disambut damai dengan lantunan salawat yang dikomando sang penceramah yang baru beberapa menit menyampaikan pidatonya. 

Di depan anak-anak dan perempuan yang mulai diamankan panitia supaya menjauh dari massa penyerang, salah seorang pria berjenggot dengan raut muka bengis merebut microphone dan berteriak menyebut syiah sesat dengan klaim sepihak, fatwa MUI yang sudah kadaluarsa dan validitasnya dipersoalkan banyak kalangan ulama dan intelektual sendiri. Batapa tidak, berbagai pertemuan nasional dan internasional telah menyatakan bahwa Syiah bagian dari Islam. Misalnya, Deklarasi Amman (9/11/2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara, menegaskan bahwa mazhab Syiah (Ja'fari dan Zaidi) sebagai bagian dari Islam. Di luar gedung, massa yang hendak mengikuti acara dihalau oleh gerombolan bermotor lengkap dengan helm dan pentungan. Akhirnya acara mengenang perjuangan Imam Husein membela Islam dari kooptasi penguasa zalim itu terpaksa diakhiri, meski baru berjalan 25 menitan. Peristiwa Karbala terulang dalam bentuk lain, kekerasan kembali dilancarkan atas nama agama oleh segelintir orang untuk menghentikan acara keagamaan pihak lain. Sehari sebelumnya, oknum massa dari ormas Islam tertentu itu nyaris menggagalkan peringatan Asyura yang digelar di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar. Situs Detik melaporkan, sekitar seratus anggota Front Pembela Islam (FPI) Sulawesi Selatan menyatroni gedung Graha Pena, Jumat (23/11/2012) sekitar pukul 22.30. namun aksi mereka berhasil dihalau oleh seratusan anggota Polsek Panakukang dan Satuan Brimob Polda Sulsel yang bersenjata lengkap. Tampaknya, apapun acara yang dilakukan oleh orang yang berbeda dengan keyakinan mereka harus diberangus. Bagi mereka persatuan adalah penyeragaman. Dan jika berbeda harus dimusnahkan. Bahkan seminar persatuan umat Islam yang berlangsung tiga pekan lalu di Jantung Indonesia Timur itu nyaris bernasib serupa. 

Sekitar sebulan lalu, aksi-aksi anarkis yang hampir serupa terjadi di sebuah kampus Islam negeri Jawa Timur. Dialog tentang Syiah dihentikan setengah jalan, gara-gara provokasi seorang oknum tokoh yang dikenal paling getol menyebarkan virus-virus anti persatuan Islam di seantero pulau Jawa. Oknum ini pulalah yang memprovokasi lahirnya fatwa sesat sepihak terhadap syiah. Sejarawan Muslim, Muhammad Ilham memandang gelombang aksi anarkis terhadap kelompok sempalan Islam dipicu oleh fatwa sesat sepihak yang muncul beberapa tahun belakangan. Intelektual muda Minangkabau ini menilai fatwa sesat terhadap sesama mazhab Islam itu muncul baru sekitar sepuluh tahunan terakhir. "Ini tidak ada preseden sejarahnya," tutur Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam IAIN Padang Itu. Bagi dosen Politik Islam ini, para ulama dahulu seperti HAMKA tidak pernah mengeluarkan fatwa sesat terhadap Ahmadiyah, apalagi Syiah. Menurutnya, fatwa sesat terhadap Syiah muncul belakangan karena ulama terkooptasi oleh politik penguasa. "Ada kepentingan  parpol yang menjual isu penyesatan ini," pungkasnya. (IRIB Indonesia/Purkon Hidayat)

KLIK : http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/fatwa-sesat-di-balik-penyerangan-hari-asyura?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-1%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_m7UK&p_p_lifecycle=0&p_p_state=normal&p_p_mode=view&p_p_col_id=column-1&p_p_col_count=3

Kamis, 01 November 2012

Kehangatan Agama

Oleh : Muhammad Ilham 

Dalam banyak hal, agama telah "bermetamorfosis" menjadi sejumlah ritus, upacara bahkan entertain. Dalam bahasa metafora Nabi Mulia Baginda Muhammad putra tersayang Abdullah, "masjid-masjid mereka ramai tetapi kosong dari petunjuk". Kesalehan tidak jarang justru digunakan untuk menyembunyikan keangkuhan dan menutupi penyelewengan. Bahkan, publik tak bisa dibohongi bahwa lembaga-lembaga agama menjadi lembaga-lembaga yang memberlakukan kasih dan "kehangatan" agama hanya sebagai komoditas. Teks-teks kitab suci digunakan sebagai amunisi untuk "menembaki" orang-orang yang dianggap sesat. Sebagaimana halnya politik, agama pada akhirnya telah kehilangan "kehangatan". "Agama, kata Baginda Nabi Muhammad SAW., adalah kecintaan dan kehangatan yang tulus. Tak ada agama kalau sudah kehilangan kecintaan dan kehangatan yang tulus tersebut". Wallahu A'lam bish Shawab. 

Dan, masjid senantiasa bertambah, dengan segala corak rona dan rupa. Mendecak kagum kita melihatnya. Semoga bertambah pula "kehangatan" dan "petunjuk" yang dihadirkannya. 

 _______ Si bungsu protes, sudah tiga maghrib saya tak menemaninya ke musholla.

Selasa, 25 September 2012

Buku Putih Mazhab Syi'ah

Oleh : Muhammad Ilham

Hari ini (25/9/2012) pukul 13.05 tadi, saya mendapat buku yang amat aktual, "Buku Putih Mazhab Syi'ah" (tenkiu ... adinda Rifdi).  Semoga, menjadi nilai ibadah bagi yang bermurah hati mengirimkannya kepada saya secara gratis. Semakin membaca dari "dalam", semakin kita berempati, santun dalam memahami - (yang) bukan berarti mendukung atau menolak secara "membabi-buta". Dengan membaca dari sumber "dalam" dan "otoritatif", setidaknya membuat saya teringat dengan anjuran Raja Ali Haji :


Sumber Foto : Pribadi (scan)


 /beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus/
dengan segores kalam jadi tersarung/ 
(Raja Ali Haji : dalam Mukaddimah Kitab Bustan al Katibin

Suka dengan kalimat pembuka dalam buku ini : "Islam menghukumi yang zahir, dan tidak menghukumi bathin seseorang. Kita dilarang menghukumi orang berdasarkan niatnya, melainkan harus berdasarkan sikap dan pernyataan yang keluar atau terlahir secara nyata dari diri sendiri".  (Al-Islam yahkumu bizh-zhawahir).

Dalam konteks di atas, secara pribadi saya mengambil "posisi" : saya hanya ingin katakan (bahwa) saya seorang muslim yang mengakui kepelbagaian aliran pandangan dan mazhab. Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni), Syiah, Wahabi-Salafiah, Sufi adalah saudara kita seagama. Kita menyembah Allah SWT. dan memiliki nabi yang mulia "Muhammad SAW", Rasulullah junjungan ummat. Kita juga wajar saling meminjam kebaikan atau kekuatan sesama muslim, demi memantapkan ummah. Musuh kita hari ini adalah kebodohan, kemiskinan dan kurangnya solidaritas dan soliditas sesama Muslim.

Emeraldi Chatra, dalam group facebook Nabiyyah mengatakan : Benci membenci antara Sunni-Syiah itu sebenarnya fenomena Timur Tengah. Disanalah pada lebih kurang 14 abad silam terjadi sengketa berdarah yang memakan korban ribuan umat Islam, yang kemudian memberkas sangat dalam dan jadi dendam kesumat hingga saat ini. Sunni-Syiah di Indonesia tidak punya sejarah berdarah seperti itu. Ketika mula-mula masuk ke Indonesia Syiah tidak menimbulkan gesekan yang berarti dengan pribumi yang masih beragama pagan atau Hindu/Budha. Ketika Syiah kehilangan pamor dan digantikan oleh Sunni gesekan yang berarti juga tidak terjadi. Transformasi berjalan dengan mulus. Namun, aura kebencian dan hasut menghasut yang terjadi di Timur Tengah kemudian diekspor ke Indonesia melalui berbagai bacaan.

Kini juga melalui situs internet. Kaum Sunni dan Syiah di Indonesia pun mulai terpengaruh dan melupakan ukhuwah mereka selama berabad-abad. Gesekan makin lama makin panas. Haruskah kita mengimpor kebodohan? Apakah tidak ada yang lain yang lebih baik untuk diimpor selain kebencian dan caci maki yang tak berakar di negeri kita sendiri?

Jumat, 21 September 2012

Orang Lain Merampas Bunga, (Biarlah) Saya Memetik Kuntum

Oleh : Muhammad Ilham

"Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja, sebab dengan buku pikiranku tetap bebas-merdeka" (Mohammad Hatta)


 

Teringat kita dengan ucapan Syekh Muhammad Djamil Djambek : Kitab dibantah dengan kitab. Dan itu ia kemukakan pada akhir kolonial Belanda bercokol di nusantara. Sebuah "sikap" intelektual yang sangat inspiratif. Ulama "modernis" Minangkabau ini ingin mengajarkan bahwa tradisi tulis harus terus ditumbuh kembangkan. Sebetapapun sebuah tulisan sungguh menyakitkan, harus dibalas dengan tulisan. Buku versus buku. Karena ini pulalah mungkin, penyair Kahlil Gibran suatu ketika pernah berkata, "Jangan kau tangisi hilangnya harus mawar di taman, tapi tangisilah kehilangan tradisi menanam mawar itu". Bukan harumnya, tapi tradisi untuk menciptakan keharuman itu. Dari mana datangnya harum, bila kita tak menanam sumber harum tersebut ?. 

sumber foto : Rain

Minggu, 09 September 2012

Islam Ramah, (Bukan) Islam Marah



Al-'Arifuna hum alladzina yahmiluna al-aqlam wa yaktubuna al-hikmata bil midad adzdzahabi. 
Wal juhala- hum alladzina yahmiluna assuyufa wa yasfikuna biha addima' 
(Imam Sibawaih el-Hasany) 

Orang arif senantiasa membawa pena yang menggoreskan tinta hikmah. 
Orang bodoh senantiasa membawa pedang untuk menumpahkan darah.


Referensi teks : Majalah Ulumul Qur'an Edisi Juni 2012 : 16

Selasa, 14 Agustus 2012

KH. Mustafa Bisri : "Aku Harus Bagaimana ?"


aku pergi tahlil, kau bilang itu amalan jahil
aku baca shalawat burdah, kau bilang itu bid’ah
lalu aku harus bagaimana…?

aku bertawasul dengan baik, kau bilang aku musrik
aku ikut majlis zikir, kau bilang aku kafir
lalu aku harus bagaimana…?

aku shalat pakai lafadz niat, kau bilang aku sesat
aku mengadakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid
lalu aku harus bagaimana…?

aku gemar berziarah, kau bilang aku alap-alap berkah
aku mengadakan selametan, kau bilang aku pemuja setan
lalu aku harus bagaimana…?

aku pergi yasinan, kau bilang itu tak membawa kebaikan
aku ikuti tasawuf sufi, malah kau suruh aku menjauhi

ya sudahlah… aku ikut kalian…

kan ku pakai celana cingkrang, agar kau senang
kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot
kan ku hitamkan jidat, agar dikira ahli ijtihad
aku kan sering menghujat, biar dikira hebat
aku kan sering mencela, biar dikira mulia

ya sudahlah… aku pasrah pada Tuhan yang ku sembah… !!





















(sebuah nukilan kritis berbentuk puisi dari KH. MUSTOFA BISRI anak dari KH. BISRI MUSTOFA - Hadratusyeikh Nahdlatul Ulama. Dianggap sebagai salah seorang ulama besar NU selain, misalnya Ulama-Ulama Langitan. Satu generasi dengan Gus Dur. Termasuk salah satu idola "generasi muda/intelektual muda NU". Hobinya : membaca kitab dan berkumpul dengan seniman dan rakyat biasa)

:: siap sholat Taraweh tadi, saya (ditanya : tepatnya) dikritisi oleh seorang jama'ah bahwa sholat itu pakai kain sarung, bukan celana panjang, karena itu BID'AH. Dan ia mendefenisikan BID'AH sebagai "tidak pernah dilakukan Rasulullah dalam ritual ibadah". Berangkat dari ini, saya kemudian mengatakan, "mari kita beri penguatan makna BID'AH tersebut".

- Orang yang tidak sayang sama istri dan anak-anaknya .... ITU BID'AH (karena Nabi SAW. tidak pernah melakukan ini)
- Orang yang tidak ramah pada tetangganya, ITU BID'AH (karena Nabi SAW. dikenal orang yang ramah, murah senyum lagi menyenangkan hati orang banyak)
- Orang yang tidak mau berbeda pendapat, ITU BID'AH (karena Nabi SAW. yang Ummi tersebut bahkan mau mendengar masukan dan arahan dari sahabat dan anaknya sendiri yang perempuan)
- Dan seterusnya.

Lantas Jama'ah saya tadi berkata, "Itu Bukan Ritual Ibadah, pak!".
Saya jawab, "saya hargai pendapat Bapak, tapi izinkan saya memiliki pendapat ..... Bapak adalah SEKULER, karena ibadah bagi Bapak hanyalah sebatas Sarung dan Celana doank. Padahal, TACIRIK-pun bisa jadi ibadah".
Alhamdulillah beliau tersenyum. Kami-pun minum AQUA gelas di Musholla sambil terus ma ota-ota (sesuatu yang dahulunya - bila meminjam versi Bapak tadi - juga BID'AH).

Terlepas dari apa yang diutarakan di atas, saya hanya ingin mengatakan, "Wallahu a'lam bish shawab".

Sumber foto : lkis.org
Sumber : Muhammad Ilham Fadli Facebook 

Senin, 23 Juli 2012

Agus Salim, Ivan Illich dan Desholling Society

Oleh : Muhammad Ilham

Filosof  IVAN ILLICH beberapa belas tahun terdahulu, pernah memproklamirkan, "saya tak percaya institusi pendidikan", katanya dalam Deschooling Society.  Dan, bagi siapa yang pernah membaca buku SERATUS TAHUN HAJI AGUS SALIM, akan mengatakan bahwa Ivan Illich bukanlah yang pertama. Haji Agus Salim yang diberi gelar sebagai "Diplomat Ulung Hidup Melarat" oleh Indonesianist Avant Garde - George Mc. Turnan Kahin - tidak pernah menyekolahkan anaknya di sekolah formal. "Semua yang saya butuhkan untuk hidup ini saya dapatkan di luar bangku sekolah," kata Bibsy Agus Salim (foto bawah). Mungkin kita berbeda pendapat dengan Agus Salim yang dikagumi oleh RA. Kartini ini, tapi ketika membaca buku di atas, Agus Salim nampaknya tidak ingin berharap banyak kepada institusi pendidikan. Beliau yang banyak menguasai bahasa asing tersebut ingin menegaskan : "Jangan Terlampau Bebankan Pendidikan Anak pada Institusi Pendidikan. Keluarga-lah yang Utama".    

Foto : Bibsy Agus Salim yang memiliki nama SITI ASIA (tak memiliki riwayat pendidikan formal). Demikian juga dengan adiknya CHIDDIQ ISLAM.    

::: terinspirasi dari "kegundahan" seorang kawan, ketika bercengkerama di kedai, "saya sudah menghabiskan banyak uang untuk memberikan les pada anak saya, memasukkannya di sekolah swasta cukup baik, mengantarkannya mengaji di TPA cukup baik (pula) ..... tapi, mengapa anak saya ini tidak bisa dibentuk dengan baik oleh sekolah dan TPA-nya?".

Selasa, 17 Juli 2012

Iman Sebagai Suluh


Berjalan menjelajah dan memperlakukan keyakinan ideologis (atau : "iman") 
Sebagai suluh bukan sebagai benteng


(Abdurrahman Wahid @ Gus Dur : 1999)

Sumber Foto : lkis.org

Sabtu, 07 Juli 2012

Indahnya Jadi Manusia : "Bernas dari Rumi"


Jalaluddin RUMI, menukilkan :

Lihatlah yang terdalam
Jangan kau seperti Iblis,
Hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam.
Lihatlah di balik lumpur,
Beratus-ratus ribu taman yang indah!


Sumber : Abdul Hadi WM cc. Muhammad Ilham Fadli FB

Rabu, 04 Juli 2012

Arti Penting Sejarah Bagi Pramoedya Ananta Toer

Ditulis ulang : Muhammad Ilham 

Bagaimana Pramoedya Ananta Toer melihat arti penting sejarah? Bagi sastrawan penulis buku fenomenal tetralogi Bumi Manusia ini, sejarah selalu memberikan pencerahan dalam memahami kehidupan kekinian. Arah langkah hari ini ternyata merupakan dampak dari proses penjang sejarah masa lalu. Berikut tulisan dari Pidato Pramoedya Ananta Toer pada peluncuran ulang Media Kerja Budaya, 14 Juli 1999 di Aula Perpustakaan Nasional, yang masih relevan bagi perenungan akan arti penting sejarah.   

Para hadirin yang terhormat, sebetulnya apa yang saya katakan dalam 10 tahun ini sudah sering saya katakan secara lisan. Sekarang saya sampaikan lagi secara lisan. Pertamakali tentang negara kita adalah negara maritim terdiri dari belasan ribu pulau tetapi mengapa diduduki oleh Angkatan Darat. Dari bupati kadang-kadang sampai kepala desa. Mengapa ini bisa terjadi. Ini adalah kesalahan historis. Kesalahan lain dengan kekeliruan. Kesalahan berasal dari sudah dari otak, kalau keliru itu adalah salah dalam pelaksanaan teknis. Kenapa terjadi kesalahan ini? Dalam abad ke 16 Indonesia dikuasai oleh Portugis. Portugis menamakan Indonesia, India Portugis. Portugis dihalau Belanda, menamakan Indonesia, Hindia Belanda. Kenapa kata Hindia dipergunakan? Karena dalam abad ke 16 itu dunia Barat mencari rempah-rempah. Dan rempah-rempah itu mereknya Hindia. Padahal asalnya dari Maluku dan Aceh (Sumatra) itu sebabnya terbawa-bawa terus nama India dan sampai sekarang pun kita belum pernah mengkoreksinya, nanti akan menyambung.  Pada waktu Belanda menguasai Indonesia menjadi kekuasaan maritim di dunia. VOC ini, Serikat Dagang Belanda yang membangun imperium maritim terbesar di dunia dengan ibukotanya Batavia. Dan Batavia ini menyebabkan lahirnya Java-centrisme, semua diukur untuk kepentingan Jawa. Jadi VOC itu mengirimkan pembunuh keluar Jawa untuk menundukkan luar Jawa. Dari Luar Jawa membawa harta di bawa ke Jawa. Ini Perbuatan VOC. Tetapi kemudian VOC bangkrut, kapal-kapalnya pada tenggelam karena korupsi para pejabat, dengan mengangkuti barang-barang berlebihan. Bangkrut VOC, kemudian muncul pemerintah Hindia Belanda, karena sudah tidak mempunyai kekuasaan laut lagi. Pertahanan Hindia Belanda itu didasarkan pada pada pertahanan Darat. Dan pertahanan Darat dipertahankan sistemnya pada sekarang ini. Padahal sistem pertahanan Indonesia harus pertahananan laut. Salah satu bukti kelemahan pertahanan Darat untuk negara maritim. 

Pada tahun 1812, waktu Hindia Belanda dikurung oleh Inggris dari laut, dalam beberapa hari angkat tangan. Waktu diserang oleh Jepang pada 1942 dalam beberapa hari juga angkat tangan. Jadi kalau itu diteruskan sampai sekarang, itu bukan lagi kekeliruan, tetapi kesalahan. Persoalannya adalah keberanian untuk mengkoreksi kesalahan. Keberanian tidaknya itu terserah kepada angkatan muda yang belum terpakukan pada sebuah sistem. Sekarang ini kekeliruan pada waktu Hindia Belanda melaksanakan politik etik, yakni politk balas budi kepada Hindia, timbul organisasi-organisasi pribumi, di Belanda pun muncul organisasi mahasiswa dan terpelajar yang dipelopori oleh Sutan Kasayangan jumlahnya sangat sedikit. Karena yang terbanyak ke Belanda dari Indonesia adalah babu dan jongos. Ada organisasi kecil, sangat kecil. Makin banyak pelajar yang kesana dan kemudian buangan Indische Party, lantas timbul perhimpunan Indonesia. Dengan munculnya Perhimpunan Indonesia itu, pemuda dan buangan ini menemukan tanah air dan nation-nya. Bukan tanah air dan nation yang konkrit tetapi masih fiktif dan ini dinamakan Indonesia. Pada waktu itu nama Indonesia sedang populer. Dipopulerkan oleh Adolf Bastian orang Jerman. Sebetulnya yang menemukan nama ini orang Inggris, tetapi sekarang ini Saya lupa namanya sorry ya!. Disini terdapat kekeliruan, bukan kesalahan. Karena nama Indonesia itu kepulauan Hindia. Bastian menggunakan kata Indonesia itu untuk etnographi. Karena itu pada persiapan kemerdekaan bagaimana wilayah dan penduduk Indonesia. Orang yang waktu ikut perhimpunan Indonesia adalah ras melayu, itu sesuai dengan ajaran Bastian. Jadi Maluku segala tidak masuk Indonesia, tetapi Malaya, Singapura masuk Indonesia. Tetapi ini dibantah oleh grup lain yang mengatakan Indonesia bukan persoalan etnographi, tetapi persoalan kesamaan dalam penjajahan, yaitu wilayah bekas Hindia Belanda, yang terakhir menang. Jadi nama Indonesia masih terbawa. Dan partai permulaan itu adalah PKI pada tahun 1923, setelah itu partai semua menggunakan nama Indonesia. Sebelumnya PKI namanya Partai Komunis en Hindia. Jadi di sini ada kekeliruan menggunakan nama Indonesia. Zaman Majapahit namanya Nusantara. Zaman Singasari lebih tua lagi Dipantara, Nusantara di antara dua benua. Jadi ada keberanian mengkoreksi atau tidak? Terserah. 

Kembali lagi kita ke masa lewat. Mengapa Belanda yang begitu kecil bisa menguasai Indonesia? Luas wilayahnya tidak lebih besar dari Jawa Barat. Karena politik kolonial Belanda adalah politik parternalisme. Karena Belanda itu pedagang, maka golongan menengah itu dibasmi. Golongan menengah pada waktu itu praktis terdiri atas pemilik kapal dan pedagang antar pulau dan internasional. Kapal-kapal mereka dihancurkan oleh kapal meriam Belanda di laut. Mereka terdesak ke pelabuhan-pelabuhan, terdesak terus ke pedalaman sampai kembali menjadi petani. Dan golongan menengah yang kosong ini diisi oleh orang-orang Tionghoa, itu history. Dalam politik paternalisme kolonial perkawinan antara kolonialisme dan feodalisme. Produk perkawinan itu begitu mendalamnya menghancurkan golongan menengah pribumi. Produk perkawinan antara kolonialisme dan feodalisme, adalah satu kelas khusus dalam masyarakat kelas ini pada zamannya dinamai priyayi. Priyayi ini yang melahirkan kemudian birokrasi kolonial. Karena sudah asal-usulnya demikian maka kita bisa menduga mentalnya demikian. Politik paternalisme ini merasuk dalam-dalam kehidupan, sehingga orang memanggil satu-samalain itu bapak atau saudara, padahal itu panggilan, sapaan yang hipokrit. Tidak ada hubungan apa-apa. Mengapa mesti memanggil bapak, memangnya sudah kawin sama dengan ibunya. Untuk mengguunting putus partenalisme itu, Bung Karno pernah menciptakan kata sapaan Bung. Dengan kata Bung orang yang dihadapi dianggap mandiri. Jadi sebaliknya kita menilai kembali penemuan Bung Karno, karena dengan sapaan itu orang dianggap mandiri. Pada waktu di Buru saya pernah dipanggil oleh Sersan Karo-Karo, ia berkata “bapak sudah tua, sudah saya anggap orang tua sendiri, lalu bak-buk saya dipukul.” Saya ikut jengkel dengan persoalan paternalistik ini, karena sudah ikut mengalami pahitnya. Jadi, tadi saya sudah katakan Jawa sentrisme, VOC, kemudian Hindia Belanda juga mengirim pembunuh-pembunuhnya dari Jawa ke luar Jawa untuk mendudukkan luar Jawa, dan dari luar Jawa mengambil kekayaan ke Jawa. Pola ini berlangsung sampai sekarang. Itu sebabnya Bung Karno pernah berencana memindahkan Ibukota ke Palangkaraya. Tapi sebelum bisa melaksanakan muncullah yang namanya Harto. 

Saya pernah menerima seorang pustakawan Universitas Cornell nama Ben Abel, dia itu orang Dayak dari Palangkaraya. Saya tanya bagaimana hutan Palangkaraya, karena menurut Semaoen, pemikir perpindahan Ibukota ke Palangkaraya. Saya tanya ke Pak Semaoen, “Biayanya apa?” Pak Semaoen menjawab “Gampang saja untuk Indonesia, hutan Palangkaraya.” Tapi Ben Abel yang datang ke rumah. Saya tanya, “Bagaimana hutan Palangkaraya?” Jawabnya “Gundul, sudah habis semua.” Jadi hutannya habis ibukotanya tidak jadi pindah. Demikianlah kisah sedikit tentang Orde Baru. Sekarang terjadi gerakan separatis. Ada Aceh Merdeka, Papua Merdeka, segala macam Merdeka. Apa sebabnya demikian? Ini masih tetap dalam suatu kesalahan yang memenage Indonesia sebagai negara maritim oleh pendudukan Angkatan Darat. Kalau dimanage sebagai negara maritim, laut akan menghubungkan satu pulau ke pulau lainnya. Tapi dengan pendudukan Angkatan Darat memisahkan dari pulau satu dengan pulau lainnya. Ini salah satu kesalahan besar yang memudahkan terjadi disintegrasi Indonesia. Dan kemudian ini tugas angkatan muda untuk membenahi semua ini. Ada keberaniaan untuk membenahi jangan belagak pikun ya? Saya sendiri tidak setuju dengan federasi, tetapi otonomi luas, seperti juga diperingati Bung Karno “sekarang ini adalah abad campur tangan asing dan federasi memudahkan campur tangan asing”. Apalagi tidak dimanage sebagai negara maritim, Saya masih pas dengan negara kesatuan, ya terserah itu pendapat pribadi Saya. Sekarang tentang demokrasi. Masalah kita adalah masalah demokrasi. Sumbernya adalah revolusi Perancis, seluruh dunia menimba dari revolusi Perancis, seluruh negara Barat negara-negara demokrasi. Tetapi apa yang diperbuat oleh negara-negara demokrasi di luar negerinya, penjajahan dan penghisapan. Jadi Demokrasi Barat tidak sepenuhnya demokratis. Itu baru demokratis kepentingan. Sebab dalam 300 tahun lamanya negara-negara Utara menjadi makmur karena dimakmurkan oleh negara-negara Selatan. Saya dalam keliling belakangan ini, melihat betapa indahnya hutan di Amerika Serikat dan Kanada, hutan dan kota berpeluk-pelukkan. Tapi apa yang diperbuat Amerika dan Kanad, hutan Indonesia dilumat menjadi kertas, bubur kertas. Banyak pembunuhan terjadi. Pembunuhan massal 1965-66, pembunuhan sampai sekarang ini dikecam juga oleh negara-negara Utara, tetapi siapa yang memasok senjata yang memungkinkan pembunuhan juga dari Utara.

Bagaimana kita harus mengatakan? Itu sebabnya pada angkatan muda Saya serukan supaya siap-siap memasuki millenium ketiga dan mengubah kehidupan dan hubungan luar-negeri lebih manusiawi, buka seperti sekarang. Itu tugas angkatan muda sekarang, jangan pura-pura goblok. Karena demokrasi di Indonesia kalau bisa meraih kedaulatan manusia, kedaulatan pribadi. Karena kita ini masih hidup dalam budaya panutan. Budaya panutan itu biar satu orang yang berfikir yang lain ikut saja. Jadi belum dimulai budaya individual, masih budaya kelompok. Soekarno pernah mengatakan “setiap kemajuan diraih bukan oleh kelompok tetapi oleh individu” itu Soekarno mengatakan. Dan sebagai contoh budaya panutan ini, kita mengenal Suwardi Soerjaningrat menguba namanya Ki Hadjar Dewantara, bukan maksudnya merendahkan beliau, tetapi memproklamasikan diri pendeta perantara para dewa. Ini adalah budaya panutan. Jadi dia memproklamasikan diri untuk dianut oleh orang lain. Tetapi jeleknya budaya panutan kalau dalam keadaan kritis sang panutan hanya menjawab yang mengikuti yang menanggung. Itu jeleknya.  Jadi ini supaya ditumbuhkan budaya individu, bukan budaya panutan, saya kira cukup jelas toh. Dan sekarang dalam kehidupan kita ini pertentangan Timur-Barat sudah tidak ada yang ada sekarang adalah Utara-Selatan. Ini saya minta menjadi pikiran, dan dicarikan jalan keluar, supaya hubungan Utara-Selatan lebih manusiawi, bukan seperti sekarang ini. 

Saya kira cukup sekian dulu. 
Terimakasih Banyak 

sumber : www.radix.net

Senin, 25 Juni 2012

Islam Manakah yang (Paling) Baik ?


Catatan Ayahanda buat Iffa dan Malika Ilham, hari ini :


Ada seorang bertanya kepada Nabi Saw.
“Islam manakah yang paling baik ?”
Nabi saw menjawab : 
“kamu memberi makan dan memberikan kedamaian (salam) 
kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal

(Hadits Imam Bukhari Kitab 2 Bab 19 No.27)

Kelak mereka akan turut merasakan
Begitu beragamnya dunia dan sejarah mendefenisikan Islam
Kelak mereka akan bingung ketika mendengar :
 Inilah Islam murni
Inilah Islam (paling) murni
Inilah Islam (paling) utama
Inilah Islam (paling) asli
Tapi jarang orang mengatakan :
Manakah Islam yang paling baik ?

Islam itu membaikkan
Bukan memurnikan ataupun meng-asli-kan



Sumber foto : Tony Hirsch

Jumat, 01 Juni 2012

Dua Syari'at Utama



Sejak zaman Nabi Adam dan Hawa (as), 
Tuhan hanya memberi dua syariat utama kepada manusia yaitu : 
"Mencintai Tuhan" dan "Mencintai sesama makhluk."

Inspired : Chen Cen Muthahari
Sumber foto : blog.its.ac.id

"Kertas Buram" Ahmad Wahib



Sumber : insist.com

Sabtu, 26 Mei 2012

Membincangkan Marxisme

(Empat Artikel yang terbit di Harian Umum Padang Ekspres dan Harian Singgalang berkaitan dengan : "Haruskah Ajaran Komunisme diajarkan di Sekolah?".  Artikel Muhammad Ilham, Heru Joni Putra, Novellia Musda dan Deddy Arsya) 

Muhammad Ilham (Harian Singgalang)
 
Dalam pergulatan sejarah pemikiran Islam akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 Masehi, Minangkabau pernah memiliki seorang Datuk, namanya Datuk Batuah – lengkapnya Ahmad Chatib gelar Haji Datuk Batuah. Orang Koto Laweh ini, pada masa itu sangat mencengangkan dan sekaligus mencemaskan. Persoalannya adalah Datuk Batuah yang haji itu adalah murid ulama ternama Haji Rasul alias Inyiak Dotor, ayahanda ulama legendaris Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Beliau sendiri sampai awal tahun 1923 berprofesi sebagai guru dan menjadi pengurus Thawalib Padangpanjang, Batusangkar dan Bukittinggi. Dalam sejarah, nama Datuk Batuah bukanlah nama yang bagus dikalangan pergerakan Islam, hingga kini. Sejarah mencatat Haji Datuk Batuah membawa dan, menyebarkan paham komunis diaerah tersebut. Pada tahun 1923 ia menanamkan ajaran komunis di kalangan pelajar-pelajar dan guru-guru muda Sumatera Thawalib Padang Panjang. Sumatera Thawalib adalah suatu lembaga pendidikan yang dimiliki oleh kalangan pembaharu Islam di Sumatera Barat dengan Inyiak Dotor sebagai “pilar” utamanya. Haji Batuah merupakan salah seorang pengajarnya. 

Berawal dari Sumatera Thawalib Padang Panjang, paham komunis akhirnya menyebar ke berbagai daerah Sumatera Barat dibawa oleh para lulusan sekolah tersebut ke daerah asalnya. Penyebaran ini terutama dilakukan di kalangan petani. Oleh masyarakat setempat ajaran komunis ini disebut “ilmu kominih” (Schrieke, 1960: 155). Ilmu ini menggabungkan ajaran Islam dengan ide anti penjajahan Belanda, anti imperialisme-anti kapitalisme dan ajaran Marxis. Pada akhir tahun 1923 Datuk Batuah, bersama-sama dengan Nazar Zaenuddin (sebagian mengatakan Natar Zaenuddin) mendirikan pusat Komunikasi Islam di Padang panjang. Melalui media massa – Pemandangan Islam dan Djago Djago – Datuk Batuah memaklumkan diri sebagai “orang komunis”. Datuk Batuah menerbitkan harian “Pemandangan Islam” dan dan Nazar Zaenuddin menerbitkan “Djago-Djago” (Djago-Djago bukan berkonotasi fisik atau kuat-hebat, jagoan - namun lebih berkonotasi "pengingat" untuk tidak terhanyut dengan keadaan yang ada, tidak pasrah dan seterusnya). Lembaga Pusat Komunikasi Islam dan kedua harian tersebut digunakan sebagai media penyiaran paham komunis. Padahal, kontribusi pencerahan yang dirintis oleh Datuk Batuah dengan Pemandangan Islam dan Djago Djago sungguh sangat luar biasa. Konon, pada masa ini, ada tiga media massa paling berpengaruh di Hindia Belanda, dua diantaranya terdapat di Minangkabau …… Pemandangan Islam dan Djago Djago. Bahkan, Ruth Mc Vey dalam bukunya The Rise of Indonesian Communism dan Takashi Shiraishi dalam bukunya Zaman Bergerak mengatakan bahwa Datuk Batuah dan Haji Misbach (yang ini tokoh Islam “kiri” Surakarta), sangat dihormati oleh kolonial Belanda bukan karena mereka “penjilat” akan tetapi idealisme mereka yang sangat tinggi untuk mencerahkan lingkungan masyarakat dan bangsanya.

Pada pagi 11 Nopember 1923 Datuk Batuah dan Nazar Zaenuddin ditangkap pemerintah kolonial Belanda. Segera setelah itu pusat propaganda komunis berpindah ke Padang ( Schreike, 1960: 60). Pucuk kepemimpinan PKI Sumatera Barat kemudian di ambil alih oleh Sutan Said Ali. Sejarah Datuak Batuah kemudian "terhenti" dan dibuang (diasingkan) bersama Natar Zaenuddin ke Tanah Merah - Boven Digoel, sebuah tempat pembuangan tokoh-tokoh pergerakan yang dianggap kolonial Belanda berpotensi mengganggu stabilitas politik yang mereka bangun. Digoel diibaratkan seperti Gullag-nya Uni Sovyet era Joseph Stalin, sebagaimana yang pernah dinukilkan oleh Alexander Solzhenitsyn dalam The Gulag Archipelago. Sejarawan Jepang, Takashi Shiraishi pernah mendeskripsikan Digoel atau Tanah Merah, dengan “penceritaan” yang menggentarkan. Begitu seramnya Digul, publik Belanda menyebut tempat interniran di tanah jajahan itu sebagai kuburan. Sekali didigulkan, orang seperti menandatangani kontrak kematian. Di daerah ini, kata Shiraishi, "Banyak yang hancur mentalnya karena putus asa." Di daerah ini pulalah, Datuak Batuah kemudian ”redup”. Ahmad Chatib yang bergelar Haji Datuk Batuah sampai hari ini, "seakan-akan" tidak ditangkap oleh layar sejarah sebagai aktor sejarah kontributif dan inspiratif. Terkadang sejarah selalu "bersimpang dua" - meminjam istilah filosof muslim, Hassan Hanafi. 

Heru Joni Putra (Harian Padang Ekspres)

"Adalah hasrat kekayaan, bukan hasrat pengetahuan, yang mendorong peningkatan kemampuan teknologi terus dilakukan dan bagaimana pemasaran produk tersebut di masyarakat.” Jean Francois Lyotard 
Mungkinkah kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah memasukkan pengenalan dan pemahaman lebih lanjut mengenai Marxisme? Tentu ada alasannya mengapa saya menggunakan kata “mungkin” untuk mengawali pertanyaan tersebut. Sebab bisa saja hal itu menjadi tidak mungkin sama sekali bila kita mengingat bahwa pemerintah Orde Baru telah menjadikan Marxisme sebagai ideologi yang dilarang, meskipun bila kaji ulang, akan tampak bahwa pemerintah Orde Baru, dalam hal ini Soeharto, terlalu terburu-buru menyimpulkan itu semua. Dan mungkin saja Marxisme bisa dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional bila pemerintah sekarang mau membuka diri dan meninjau kembali kesalahan-kesalahan yang sepatutnya tak perlu diteruskan dari pemerintahan Soeharto itu. Salah satu kesalahan Soeharto adalah ketika ia tak ingin membedakan antara Marxisme dan Komunisme. Memang, Karl Marx pernah menyebut Komunisme, tetapi Komunisme yang kita kenal semalam ini adalah hasil interpretasi Lenin terhadap Marxisme atau lebih sering disebut Marxisme-Leninisme. Jadi, ketakutan yang sengaja diciptakan Soeharto sebenarnya pada Marxisme-Leninisme, bukan pada Marxisme. Dalam hal ini saya ingin mengulang apa yang sudah seringkali diingat orang-orang sebelum saya, bahwa Marxisme semenjak zaman Karl Marx sampai sekarang ini semakin banyak perbedaannya dengan Marxisme-Leninisme. Keduanya memang menggunakan kata “Marxisme” tetapi sebagaimana ideologi lainnya—sebagaimana juga Pancasila, ada banyak tafsir terhadapnya, bahkan butuh perbaikan di sana-sini. Kita tentu mengenal Louis Althuser, Antonio Gramsci, Terry Eagleton, atau Zizek, dan masih banyak lainnya. Mereka adalah tokoh-tokoh Marxis yang memahami Marxisme secara terbuka. Saya melihat bahwa mereka melakukan penyegaran terhadap pemikiran-pemikiran Karl Marx. Penyegaran terhadap pemikiran Marx tentu saja patut dilakukan mengingat adanya masalah-masalah baru yang terjadisekarang yang tidak begitu berdengung pada zaman Karl Marx. Sekarang kita tak bisa melihat permasalahan, baik itu secara ekonomi, politik, maupun sosial-budaya, hanya sebagai pertentangan antara kaum buruh dan borjuis. Sebab ada gejala-gejala lain yang membuat kita mesti menggunakan pendekatan maupun aspek-aspek lain untuk melawan dengan Marxisme, sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi. Maka, bagi saya, sangat tolol sekali bila kita pada hari ini memahami Marxisme sebagaimana Soeharto untuk meruntuhkan Soekarno dan melakukan itu semua untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaannya sampai 32 tahun.

Untuk apa sebenarnya Marxisme bagi anak sekolah, bagi siswa setingkat SMP, SMA, dan bahkan mahasiswa? Agar tidak terpengaruh oleh kapitalisme adalah jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan yang sangat bagus tersebut. Para moralis, mesti memahami seberapa besar dampak kapitalisme terhadap kehancuran moral bangsa. Para politikus mesti mau berpikir tentang seberapa kuat pengaruh kapitalis terhadap gagalnya kata “partai politik” menjadi kata yang menyenangkan di telinga msyarakat banyak. Para budayawan, mesti kembali membicarakan seberapa dahsyatnya dampak kapitalisme terhadap ketidakpedulian masyarakat terhadap isu-isu kebudayaan. Dan terutama, para pengajar mesti mengerti bahwa kapitalisme menjadi sebab mengapa tingkat pendidikan kita masih rendah. Pokoknya, siapapun kita, sudah sepatutnya kita kembali berpikir serius tentang bahaya kapitalisme. Dan apapun profesi kita, dampak jelas dari kapitaslime adalah ketika segala-galanya diukur dengan seberapa uang yang kita punya dan seberapa banyak kita membeli barang-barang yang sebenarnya tidak menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan kita. Sebab landasan dalam sistem ekonomi kapitalis adalah bagaimana mendapatkan untung yang sebesar-besarnya dengan mempengaruhi masyarakat agar membeli sebanyak-banyaknya dan seterus-menerusnya. Salah satu contoh agar orang terus membeli barang mereka adalah dengan cara mengeluarkan barang tertentu hanya dengan satu keunggulan. Dan bila ingin mendapatkan keunggulan lain, bisa dengan membeli barang keluaran selanjutnya. Begitu seterusnya.

Dan salah satu korban dari penipuan terselubung yang dilakukan kapitalis adalah siswa SMP dan SMA yang notabene sangat mudah terpengaruh. Kita bisa melihat lewat iklan-iklan di televisi bagaimana perusahaan di Indonesia pada umumnya yang bermental kapitalisme melakukan apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai “manipulasi tanda-tanda.” Perusahaan-perusahaan tersebut menciptakan iklan yang membuat kita seakan-akan kita memang butuh dan harus membeli barang yang mereka tawarkan. Mereka memanipulasi kita dengan tanda-tanda, dengan simbol-simbol yang dekat dengan kehidupan kita. Sehingga kita pun merasa bahwa apa yang mereka iklankan dengan menggunakan orang-orang terkenal itu memang perlu kita miliki sekarang juga. Maka terjadilah keadaan di mana sebuah keluarga tidak mempunyai beras untuk dimasak tetapi uang untuk membayar kredit motor ada. Atau anak sekolah yang tak punya uang untuk membeli buku tapi untuk membeli pulsa blackberry ada. Atau sebuah universitas yang tak memiliki anggaran untuk memperbaiki pustaka tetapi uang untuk mendatangkan para kapitalis berceramah tentang cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya selalu ada. Ada seseorang yang tak punya uang untuk berbagi, tetapi untuk membeli barang merek terkenal ada. Apakah Anda yakin bahwa perusahaan tersebut peduli dengan itu semua? Meskipun tadi saya mengatakan bahwa siswa sekolah menjadi target utama kapitalis, tetapi yang terjadi malah semakin ironis ketika mahasiswa yang seringkali disebut sebagai agen perubahan justru tidak membawa perubahan dan malah ikut terseret arus yang dibawa kapitalisme. Kapitalisme telah membuat mahasiswa memiliki dua dunia. Dua kampus dan dunia kampung. Kampus adakalanya menjadi show room, tempat memamerkan motor dan mobil-mobil mewah. Kampus menjadi panggung fashion show, tempat memamerkan pakaian-pakaian terbaru, dan seterusnya. Sedangkan kampung menjadi tempat untuk mengadu bila tak ada lagi uang untuk membeli barang-barang terbaru, tak peduli apakah dengan cara meminjam uang orang lain, menjual sawah, atau memakai uang yang disimpan-simpan orang tua untuk keperluan mendadak di kemudian hari misalnya. Dari berbagai contoh tersebut, untuk sementara, kita tentu bisa menyimpulkan jawaban sendiri tentang mengapa marxisme dengan segala perkembangannya sangat perlu dimasukkan ke dalam kukikulum pendidikan nasional.

Saya memaklumi bila sebagian kecil orang mungkin akan menolak untuk memasukkan Marxisme ke dalam kurikulum pendidikan, dengan alasan bahwa mata pelajaran agama telah lama mengajarkan bagaimana siksaan untuk orang-orang yang serakah seperti kapitalis. Atau mungkin sebagian kecil orang lainnya akan mengatakan bahwa mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, Kewarganegaraan, atau Filsafat Pancasila telah mengajarkan tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga bahaya kapitalime bisa dibentengi dengan pancasila. Dan saya kira masih banyak bantahan lain agar Marxisme tak usah dimasukkan ke dalam kurikulum. Tanpa bermaksud merendahkan mata pelajaran agama dan Pancasila, saya memang merasa perlu mendukung untuk memasukkan Marxisme ke dalam kurikulum, karena Marxisme secara lebih khusus bisa membahas mengenai bahaya kapitalisme (tingkat lanjut). Sedangkan mata pelajaran agama dan pancasila mempunyai begitu banyak pembahasan. Tentu saja, kita butuh penerapan terhadap ilmu-ilmu agama maupun pancasila. Artinya, Marxisme pada hakikatnya ikut membantu mata pelajaran agama dan pancasila dalam membahas mengenai sifat serakah dan ketidakadilan sosial yang telah diciptakan oleh sistim ekonomi kapitalime. Semoga dengan menjadikan Marxisme sebagai salah satu mata pelajaran, baik sebagai pelajaran wajib, pilihan maupun ekstrakurikuler, maka kita berharap semoga contoh dari dampak kapitalisme yang sudah saya sebutkan di atas tadi bisa dipahami semenjak dini. Saya berharap semoga nanti hubungan kita dengan orang lain tidak ditentukan oleh barang-barang apa saja yang sanggup kita beli, seperti yang sering kita rasakan akhir-akhir ini. 

Novelia Musda (Harian Padang Ekspres)

Benar kata Heru bahwa di Indonesia kian hari segala sesuatu makin diukur dengan uang dan apa pun dikomersialisasikan kadang tak peduli batas halal haram. Anak-anak muda berorientasi materi dengan tak memperhatikan batas-batas kemampuan. Utang jadi budaya demi gaya hidup, pandangan hidup kian dangkal dan individualistis. Ini terjadi karena serbuan produk-produk dan mentalitas kapitalis yang punya kepentingan bagaimana orang-orang makin tergantung kepadanya. Supaya masyarakat tak tambah rusak, bahaya-bahaya sedemikian musti dicegah dengan melakukan kiat-kiat tertentu. Yang menjadi persoalan adalah apakah Marxisme dapat diharapkan mencerahkan generasi muda untuk mengatasi dampak kemajuan zaman sedemikian? Marxisme memang tidak identik dengan komunisme dan gerakan revolusioner. Banyak analisisnya tentang bahaya kapitalisme serta teori tentang pertentangan kelas yang berguna. Akan tetapi, ada hal-hal negatif dalam paham tersebut membuatnya hanya parsial benar, tapi secara keseluruhan keliru. Hal ini serupa kasusnya dengan eksistensialisme, ala Sartre dan Heidegger, yang humanis tapi sukses menggiring orang dalam keputus-asaan tak tersembuhkan. Karena doktrin tersebut secara prinsip keliru, walau secara parsial berisi kebenaran, mempelajarinya jadi hal tak perlu. Seperti kata Fritjhof Schuon (dalam artikelnya Letter on Existensialism) ,” Truths are to be found in all the philosophers, and above all half-truths, but these truths are flanked with errors and inconsistencies…no need for them. “ Setidaknya ada tiga hal negatif pada Marxisme jika dipelajari atau jadi pandangan hidup oleh kaum muda. Karena keterbatasan tempat, hanya hal-hal umum dan konklusif saja dikemukakan.

Pertama, Marxisme menggiring kepada materialisme. Marxisme secara sederhana adalah ajaran Karl Marx. Karl Marx merupakan seorang Yahudi yang kecewa berat dengan bapaknya yang pindah agama dari Yahudi ke agama Kristen supaya secara finansial dan sosial hidupnya lebih mudah. Salah satunya karena pertarungan batin ini dia memilih jadi ateis. Setiap ateis jika berdakwah akan mendakwahkan materialisme. Namun, bukan berarti setiap yang menganut Marxisme akan jadi ateis atau materialis. Marxisme hanya satu pintunya, tetapi bisa jadi pintu yang mudah dilalui menuju ke sana. Kedua, Marxisme memiskinkan spiritualitas manusia. Karena Karl Marx menganggap agama hanya candu dan Tuhan sebagai proyeksi impian manusia, secara langsung Marxisme menggerogoti keimanan seseorang. Yang dipedulikan Marxisme hanyalah supaya semua manusia secara adil dan damai menikmati kebutuhan-kebutuhan tubuh. Bahwa mereka beragama ini atau itu tidak penting. Yang dinomor satukan hanya kebutuhan jasmaniah dan psikologis. Padahal, yang menjadi nilai lebih pada diri manusia adalah spiritualitasnya, ke-ilahi-an yang ditanamkan dalam dirinya. Yang menjadi tujuan hidup manusia bukan memuaskan hasrat tapi melampaui hasrat dengan membina spiritualitas atau rohaninya. Ketiga, Marxisme mendorong timbulnya paham-paham turunan berbahaya (komunisme, Leninisme, Maoisme) dan bila telah kuat bisa memicu aksi-aski yang bisa membahayakan masyarakat. Banyak sudah contoh terjadi bahwa jika suatu paham sedang tidak digemari masyarakat, atau dipandang mengancam, atau pendeknya posisinya sedang lemah, paham itu akan mendakwahkan hal-hal yang sifatnya kompromistis dan lunak. Hal ini hanya selubung. Pelan-pelan, jika para penganutnya telah cukup kuat, maka kebijakan pun berubah. Yang dituntut bukan sekadar pengakuan, tapi pembenaran. Mulailah dilakukan paksaan demi paksaan dalam beragam bentuk agar paham tersebut jadi satu-satunya yang dianut dan diakui sebagai satu-satunya yang benar. Agaknya sejarah Rusia, China, Korea Utara dan Kuba sudah cukup menunjukkan.

Pada dasarnya memang Marxisme bisa diartikan sebagai satu dari banyak teori ekonomi. Namun, sejarah membuktikan banyak orang mengambil inspirasi darinya untuk menciptakan paham-paham turunan yang berbahaya di tengah masyarakat. Ini menunjukkan hal tersebut bukan sekadar teori ekonomi, tapi bisa menggiring kepada ideologi. Ideologi bisa jadi pengganti agama. Lagipula, sudah banyak pendapat yang menunjukkan kegagalan Marxisme sebagai teori dan praktik. Suatu doktrin yang salah dilihat dari buahnya. Doktrin yang salah umurnya juga biasanya singkat. Sekarang Marxisme boleh jadi menarik bagi banyak orang terutama bagi yang belum mengenalnya, bagi yang suka mencoba-coba, bagi yang bosan dengan status quo dan mendapati tantangan baru yang menarik. Akan tetapi, siapa menjamin doktrin ini akan laku 100 tahun lagi. Pemikiran Karl Marx itu kalaupun ada yang benar hanya karena bersandar pada situasi dan kondisi pada zamannya atau kondisi yang serupa. Jika keadaan berubah, maka galeh-nya tak laku lagi. Juga mungkin ada yang keberatan dan mengatakan seseorang bisa sekaligus tetap saleh secara religius dan menganut Marxisme dalam hidupnya. Atau bahwa dengan Marxisme orang bisa sadar bahaya hedonisme dan kapitalisme sehingga mendorong bersikap zuhud. Orang bisa juga keberatan dengan mengatakan bahwa paham Marxisme telah menghasilkan orang-orang besar dan idealis baik skala internasional maupun seperti Tan Malaka. Hal ini memang bisa saja terjadi seperti juga banyak contoh di mana seorang yang saleh pandangan hidupnya salah dan perilakunya sektarian. Karl Marx yang mendakwahkan Marxisme adalah seorang Yahudi ateis dan sekuler. Akan tetapi, kapitalisme kontemporer justru banyak dikecimpungi oleh Yahudi-Yahudi juga yang berkontribusi signifikan di balik kebijakan ekonomi IMF, bank dunia Amerika Serikat dan lainnya. Tak jarang kritikan terhadap kapitalis dari kaum Marxis malah membuat kapitalisme semakin kuat. Sekali lagi ini sudah indikasi yang cukup bahwa apa pun yang datang dari Yahudi ateis dan sekuler musti serius diwaspadai meski dari pemikir besar dan humanis sekalipun.

Pencarian sebab meningkatnya materialisme praktis pada generasi muda Indonesia zaman sekarang pun pertama sekali mungkin bukan pada kapitalisme, tapi sederhananya pada kelemahan-kelemahan kita. Kelemahan ini bersumber dari mentalitas yang salah berupa kedisiplinan batin yang kurang serta ketidaksetiaan terhadap tradisi. Akibat kelemahan ini, kepentingan asing mudah masuk dan paham-paham berbahaya dari Barat dan Timur melenggang gembira. Hal ini juga berdampak pada meningkatnya ketergantungan pada bantuan asing (utang dan bantuan lain) serta kerentanan terhadap perubahan-perubahan luar (seperti naiknya harga minyak dunia). Walhasil, pemuda dan pelajar Indonesia tidak butuh satu lagi pelajaran teori. Cukup mereka saja yang mencari dan membaca sendiri Das Kapital kalau mereka mau tanpa harus diajarkan di sekolah. Lagiupula, kepala mereka sudah kusut dengan teori dan bombardir tugas-tugas. Hal teoritis sudah saatnya dikurangi. Pelajaran yang bersifat praktik dan keahlian (teknik, bahasa asing dan seni) yang perlu ditambah agar mereka tidak hanya sibuk bergaya dan berwacana serta berpuas diri dalam kebanggaan yang hampa. 

Deddy Arsya (Harian Padang Ekspres)

Menumpang pada marxisme sama seperti menumpang pada biduk bocor. Ibarat diri akan karam. Di Sumatera Barat, sejak Magas memperkenalkan ideologi marxisme sebagai ideologi pembebasan dari penderitaan penjajahan, ideologi itu tidak pernah bisa diterima secara utuh oleh masyarakat. Marxisme mulai dapat berterima secara signifikan setelah bertranformasi ke dalam berbagai bentuk ideologi lain, termasuk berafiliasi dengan Islam seperti yang dicobakan oleh Datoek Batoeah. Pada 1920an itu, misalnya, beberapa orang di Minangkabau bahkan juga mencobakan memasukkan pelajaran marxisme ke kalangan pelajar sekolah menengah. Pelajar Sumatera Tawalib pada periode itu banyak yang gandrung pada ideologi ini, apalagi gurunya Datoek Batoeah juga seorang marxis yang hampir fanatik. Akan tetapi, penentangan dengan giat dilancarkan dari banyak kalangan, baik dari kalangan pelajar sendiri, maupun dari kalangan gurunya, terutama yang paling keras adalah Haji Abdul Karim Amarullah. Jika sekarang ideologi itu (betapa pun baiknya ideologi ini tampaknya, yang telah bertransformasi menjadi neo-marxis sekalipun) hendak dimasukkan lagi ke sekolah, bahkan menjadi salah satu mata pelajaran pula, kita hanya mengulang sejarah yang nyata telah jelas hasilnya. Kita hanya akan menuai penentangan demi penentangan. Masyarakat di mana pun, memang mudah antipati terhadap yang asing. Masyarakat kebudayaan paling sulit melepaskan yang lama ketimbang menerima yang baru. Maka dari itu, kita sesungguhnya tidak perlu mencari jauh-jauh ke perbendaharaan asing. Apalagi bersandar pada ideologi yang tidak bisa lagi diandalkan sebagai penyelemat. Idigium orang Minangkabau  lainnya tentang kerja seperti itu sama dengan “bataduah di bawah batang aua” (berteduh di bawah batang aur). Batang aur jika dilihat dari jauh memang nampak rimbun dan meneduhkan, tetapi ketika kita telah berada di bawahnya, kita ternyata tetap basah. Belum lagi, ular dan kala biasanya banyak bersarang di rumpunnya yang siap menggigit dan memantak kita.

Musda bisa jadi benar, mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah sudah banyak, bahkan sudah lebih dari cukup, apalagi ditambah pula dengan les-les yang tidak berkeruncingan. Bikin ruwet otak. Jangankan untuk menjernihkan, memasukkan marxisme malah akan membikin semakin kusut akal. Cukup-lah orang-orang kampus saja yang belajar itu, mahasiswa filsafat saja yang menyuntuk-nyuntukkan diri terhadap itu. Kalau pun pelajar kita ingin pula terlibat belajar marxisme, biarlah kesadaran mereka sendiri yang membuat mereka mempelajarinya. Sementara untuk menangkal kerakusan, hedonisme, hasrat konsumtif, kita memang lebih dari cukup hanya memanfaatkan yang telah ada saja. Misalnya, mengoptimalkan pelajaran agama, budi pekerja, atau BAM. Heru mungkin tidak sepenuhnya hendak memasukkan marxisme sebagai bagian dari pelajaran di sekolah, baik sebagai pelajaran inti maupun pelajaran ekstrakurikuler. Saya menganggap tulisannya adalah sebuah sentilan belaka bagi dunia pendidikan kita. Tulisan Heru, di sisi ini, bisa menjadi refleksi bagi kita bahwa kadang kita memang patut putus asa memandang dunia pendidikan hari ini. Di sekolah diajarkan pendidikan agama, pendidikan budi pekerti, pendidikan BAM, dan pendidikan untuk pembangunan moral lainnya. Namun,  yang diajarkan di sekolah itu tidak berhasil menjadi nilai-nilai yang siap dipraktikkan. Para pelajar tetap saja sulit menjadi sederhana. Pelajaran budi pekerti dekat dengan hapalan demi untuk memenuhi jawaban ujian. Ironis jika kata ‘budi’ harus didefinisikan, pengertian tenggang rasa mesti dihapalkan. BAM juga tidak beranjak dari tataran teoritis yang berupa hapalan pula, tidak berpijak pada konteks zaman, lepas dari realitas. Di buku pelajaran bicara soal mamak, dunia sekarang tak butuh mamak lagi. Bicara tentang pusaka, pusaka sudah tergadai di mana-mana.  Pelajaran agama juga begitu, tak jauh berbeda. Dalam konteks seperti inilah tulisan Heru lahir, sebagai sebuah usulan untuk mencari praksis yang lain ketika yang praksis yang ada dianggap tidak lagi ampuh menyelesaikan masalah kita.Tulisan Heru menjadi semacam kritik untuk memperbaiki pengajaran moral di sekolah. Meneruskan Heru, barangkali, untuk zaman kita yang dikuasai benda-benda seperti sekarang, bukan marxisme (yang malah justru berafiliasi pada materi) yang menjadi penangkalnya.

Kita bisa mantapkan pelajaran agama, dengan dimodifikasi menjadi lebih berafilisasi ke pengajaran untuk zuhud. Pelajaran agama mestinya tidak lagi bertumpu pada pembelajaran yang ritualistik.Hidup sederhanya juga ibadah, juga sesuatu yang harus dipelajari dan dilatih. Melawan diri sendiri untuk tidak memperturutkan hasrat membeli juga sebuah jihad. Rakus adalah dosa besar. Hak kita akan benda-benda hanyalah apa yang menjadi kebutuhan kita. Di luar itu, tidak. Dan lain sebagainya.  Tidakkah dalam Islam, semangat revolusioner dalam melawan kerakusan juga tidak kalah besar ketimbang marxisme. Islam bilang, “celakah para pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya”. Narasi Islam yang seperti itu jika dikontekstualisasikan jelas merujuk sebagai kecaman pada kapitalisme, kepada kerakusan manusia. Orang Minangkabau juga tidak mentoleril kerakusan, bahkan mengutuknya. Ada kata ‘akok’, yang berarti semuanya ingin dipunyai, rakus. Kita tidak boleh ‘akok’. Terminologi ini jelas berkonotasi buruk, sangat buruk dalam masyarakat kita.

Mencari Tuhan-Tuhan Digital

Ditulis ulang : Muhammad Ilham
(c) Yasraf Amir Piliang 

Perkembangan sebagai salah satu bentuk pencapaian mutakhir teknologi informasi-telah membawa perubahan yang besar pada berbagai sisi kehidupan manusia, termasuk sisi kehidupan spiritualitas dan keberagamaan.Meskipun sangat banyak manfaat yang ditawarkannya terhadap kehidupan spiritualitas,cyberspace pada kenyataannya penuh dengan paradoks-paradoks spiritualitas. Paradoks antara fungsinya sebagai media komunikasi keagamaan atau ia sebagai ''agama'' itu sendiri; antara kegunaannya sebagai penyalur daya spiritualitas atau ia sebagai ''spiritualitas'' itu sendiri; antara hakikatnya sebagai ''pengingat kesucian'' Tuhan atau ia sebagai ''Tuhan'' itu sendiri. Buku Jeff Zaleski, Spiritualitas Cyberspace: Bagaimana Teknologi Komputer Mempengaruhi Kehidupan Keberagaman Manusia (Penerbit Mizan 1999), dengan sangat memikat menggambarkan panorama cyberspace yang penuh dengan paradoks spiritualitas tersebut: paradoks antara realitas/fantasi, tubuh/jiwa, daging/roh, Tuhan/manusia. Di dalam bingkai paradoks tersebut, perbincangan mengenai ''spiritualitas'' cyberspace tidak dapat dilepaskan dari kerangka atau asumsi-asumsi filosofis di balik penciptaan dunia maya tersebut.

Dengan demikian, berbagai persoalan mendasar dan hakiki yang menyangkut hubungan antara dunia teknologi (informasi), manusia dan Tuhan dapat terungkap. Perkembangan cyberspace sebagai sebuah ''realitas baru'', tidak dapat dipisahkan dari bagaimana ia diberikan ''fondasi nilai-nilai'' (filosofis, religius, etis, kultural) oleh para ''pemikir cyberspace''. Ada berbagai asumsi filosofis yang dikembangkan yang, bila digeneralisasi, dapat dijelaskan melalui sebuah konsep yang disebut ''titik nol filsafat'' (philosophical zero). Meskipun istilah ini tidak digunakan secara eksplisit oleh para cyberist (para pemikir cyberspace), melainkan oleh kelompok ''futuris-suprahumanis'', ia dapat merepresentasikan pandangan para Net-Religionist pada umumnya. Inti dari pemikiran filsafat tersebut, yang ditulis Hamilton di dalam God-Man: Our Final Evolution (1998), adalah ''pengingkaran'' terhadap segala bentuk kekuatan di luar ''kekuatan'' yang ada di dalam diri manusia itu sendiri, khususnya apa yang disebut ''mistisisme'' (fetish, dewa, Tuhan) dan ''master'' (negara, raja, demokrasi). Ia adalah filsafat (atau pseudo-filsafat) tentang devaluasi semua nilai (ketuhanan, politik, kebangsaaan) yang menghambat eksistensi dan ''aktualisasi diri total'' manusia.

Agama, dalam hal ini, dianggap hanya menciptakan manusia, yang sangat bergantung pada ''otoritas'' di luar dirinya, yang menjadikannya tidak punya kebebasan untuk mengembangkan potensi dirinya yang sejati. Maka, ketika manusia dilepaskan dari ''tirani otoritas Tuhan'' atau kekuatan luar lainnya, ia akan menemukan potensinya sendiri yang luar biasa, yang berasal dari kekuatan, pikiran. Dalam upaya membangun ''mentalitas Tuhan" tersebut, para cyberist dihantui oleh berbagai bentuk fobia yang kemudian menjelma menjadi berbagai bentuk 'pengingkaran'.

Pertama, logo-phobia, yaitu fobia terhadap kehadiran ''kebenaran tertinggi'' (logos) atau ''kekuatan maha'' (Tuhan). Dalam hal ini, Tuhan dianggap tak lebih dari sebuah ''ilusi semu'', yang hanya menciptakan ''kesadaran palsu''tentang kekuatan di luar manusia. Agama yang ''nyata'' (yang tidak palsu), bagi mereka adalah evolusionisme, yang fondasinya adalah asumsi-asumsi klasik humanisme tentang kekuasaan manusia. Sebagaimana dikatakan Timothy Leary, seorang cyberist, di dalam Chaos and Cyber Culture (1994): "God is not a tribal father, nor a feudal lord, nor an engineer-manager of universe. There is no God (in singular) except you at the moment. There are as many Gods (in the plural) as can imagined. Call them whatever you want. There are free agents like you and me".  

Kedua, body-phobia, yaitu fobia terhadap ''tubuh'' atau ''daging'', yang selama ini dianggap tak lebih dari semacam ''dunia samsara'', yang telah memenjarakan roh dan jiwa di dalam tembok-tembok keterbatasan materinya. Salah satu keterbatasan tubuh adalah pada ketidakmampuannya mengakses dunia transenden atau metafisika dunia platonis. Sebaliknya, di dalam cyberspace, segala keterbatasan tubuh dan daging tersebut dapat diatasi. Di dalamnya, manusia-tanpa perlu membawa totalitas tubuhnya- dapat ''hidup'' di dalam dunia transenden tersebut. Asumsi bahwa manusia dapat masuk ke dalam dunia transenden tanpa perlu membawa tubuh ini sangat penting untuk menjelaskan mengapa para cyberist sangat percaya bahwa cyberspace adalah satu bentuk baru ''spiritualitas''. Sebab, bila yang disebut sebagai ''pengalaman spiritual'' (mistis, ekstase) adalah pengalaman ketika ''roh'' mengembara meninggalkan ''jasad, tubuh'', cyberspace adalah salah satu tempat pengembaraan roh tersebut.

Ketiga, master-phobia, fobia terhadap segala bentuk lembaga kekuasaan (seperti negara). Cyberspace adalah semacam ''saluran antarpikiran'' yang melibatkan begitu banyak orang secara global. Di dalam hubungan antarmanusia secara global tersebut diperlukan pengaturan (sosial, ekonomi, moral, etika), yang selama ini menjadi urusan institusi negara. Akan tetapi, pengaturan oleh negara hanya akan membatasi ''kebebasan'' di dalam cyberspace.  

Keempat, death-phobia, berupa ketakutan akan kematian, sehingga mendorong ''pengingkaran terhadap kematian'' itu sendiri. Ide dasarnya adalah, bila kita dapat menciptakan ''kesadaran'' (atau ''simulasi kesadaran'') pada komputer, peluang untuk memindahkan kesadaran dan pikiran manusia ke dalamnya terbuka, sehingga kesadaran tersebut terhindar dari kematian.

Sumber foto : flickr.com

Minggu, 13 Mei 2012

M.K. Mahatma Gandhi


Tak Gagah seperti Amitabh Bachan, Ameer Khan,  ataupun Raaj Kapoor 
Apatah lagi bila dibandingkan dengan Shah Rukh Khan. 
Tapi dibalik keringkihan tubuhnya 
Mohandas Karamachand  Mahatma Gandhi mengajarkan pada kita 
untuk bagaimana bersikap secara "Gagah" itu, 
seperti kata bijaknya : 

" Mereka tidak dapat mengambil harga diri kita kalau kita tidak memberikannya kepada mereka.  Dan ... Tidak ada orang yang dapat menyakitiku tanpa izinku".


 Sumber foto : indiapost.com

Selasa, 01 Mei 2012

Ketika Benci Membutakan


Makhluk-makhluk tertentu tak bisa melihat disiang hari, sementara yang lain buta di malam hari. 
Sedangkan orang yang memiliki kadar kebencian tinggi, 
tidak dapat melihat apapun dengan jelas, 
baik Siang maupun Malam hari !

(Amitabh Bachan saya lupa judul fim dimana ungkapan ini diungkapkan beliau). 



Amitabh Bachan (sumber foto : mahiram.com) 


Ungkapan Amitabh Bachan diatas, menjadi "benang merah" bagi saya, ketika pagi ini saya membaca salah satu penggalan buku Edward Said tentang "Kebencian Etnik" : 

Orang Yahudi dan orang Arab Palestina sebenarnya banyak diantara mereka berhubungan sehari-hari, saling memandang pihak lain dari sudut yang harus berbeda. Demikian parahnya, rasa benci diantara mereka, sehingga jika ada sedikit saja persamaan diantara mereka, maka itu harus dianggap sebagai perbedaan 
(Edward Said, 1997 : 77)

Jumat, 20 April 2012

Al Pacino : "Politik Tak Selamanya Luhur"


Di parlemen yang demokratis, tak ada hal yang bisa diputuskan sepihak. 
Kompromi senantiasa terjadi. Aku memberikan X kepadamu, kamu memberikan Y kepadaku. 
Tentu saja ada akal sehat dan rasa keadilan yang bekerja di sana 
tapi juga kepentingan ...... yang tak selamanya luhur "  

(Al Pacino dalam Film "The God Father")


Sumber foto : listal.com