Rabu, 14 April 2010

Dari Diskusi dan Pemutaran Film Dokumenter "Selopanggung" (Tan Malaka)

Oleh : Muhammad Ilham

Rasanya, membicarakan Tan Malaka, seakan-akan tak pernah kehabisan bahan. Putra Pandan Gadang Suliki ini, terlalu menarik untuk diperbincangkan. Dalam balutan fisik yang sakit-sakitan, ia mampu melahirkan inspirasi intelektual dan pergerakan, sesuatu yang sulit ditemukan pada aktor besar sejarah Indonesia lainnya. Kehidupan yang berpetualang, zigzag lagi misterius serta "terkesan dingin terhadap prestise dan wanita", Tan Malaka menjadi sosok yang paling menarik untuk dibedah, dikupas dan dikiritisi. Sayang, kebesaran kontribusinya bagi arah pembentukan bangsa ini serta pemikirannya yang jauh melintasi zamannya, justru berakhir tragis. Kematian yang "ditangisi" sejarah. Namanya kemudian menjadi "of the record" dan dipinggirkan dalam layar sejarah. Jasa besar-nya justru dikerdilkan, termasuk oleh pemilik rahim-nya, orang Minangkabau sendiri. Dalam konteks inilah, pada hari Rabu tanggal 14 April 2010, komunitas Pecinta Tan Malaka dari Jakarta melakukan persinggahan terakhir Road Show-nya ke beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia, tepatnya di IAIN Padang. Diskusi berlangsung sangat "hangat-bergairah" yang dihadiri hampir 800 peserta (mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Kota Padang). Bersama-sama dengan Prof.DR. Zulhasri Nasir dan Devy SP. (Sutradara dari IKJ), dilakukan diskusi dan pemutaran film "Selopanggung", sebuah nama yang diasumsikan para Tan Malaikaist (Harry Poetze, Rudolf Mrazek, Herly Javis maupun Ted Sprague) sebagai tempat singgah "terakhir" Tan Malaka di dunia fana ini, ia di eksekusi oleh instrumen negara yang ia perjuangakan dengan peluh, keringat dan badan ringkih. Tragis !!

Dalam kegiatan ini, Prof. DR. Zulhasri Nasir (Guru Besar Universitas Indonesia, Pengarang Buku : "Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau) bersama dengan Prof. DR. Mestika Zed (Guru Besar-Sejarawan UNP) dan Muhammad Ilham (Dosen Sejarah IAIN Padang) serta Muhammad Nasir (PK. Magistra) bertindak sebagai pembicara-narasumber. Dalam paparan, Muhammad Ilham menekankan bahwa Tan Malaka adalah Pahlawan Off the Record, "orang besar" yang dikecilkan dan dipinggirkan karena pilihan "takdir" ideologi. Sejarah adalah milik pemenang yang berarti mereka juga punya peran sebagai penguasa. Ceritanya bisa dikarang, dilegitimasi, dan diajarkan di sekolah-sekolah sesuai keinginan para pemenang yang serakah ini. Dan dalam kenyataannya sejarah manipulatif lahir, karena tidak ada kesadaran kritis dari masyarakatnya. Dalam konteks inilah kita menyadari bahwa sejarah “kiri” adalah sejarah yang dilupakan. Sejarah “kiri” adalah cerita kecil yang tak dirangkai bersama-sama dengan cerita besar yang dominan, sehingga sejarah kita bukanlah sejarah yang utuh. Cerita besar yang dominan hanya berisikan ketakutan, kekejaman, kebusukan orang “kiri”. Orang “kiri” memang telah dicap sebagai “pemberontak”. Pemberontakan itu tak dimaknai sesuai dengan kapasitas definitifnya. Perlawanan PKI pada pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1926 tidak dimaknai sebagai upaya mengusir kolonialisme. Sebagai tokoh kiri, pemikiran Tan Malaka pasca-reformasi mulai bercahaya di tengah masyarakat hedonis-kapitalis kontemporer. Pemikirannya memberikan ingatan sosial, bahwa Indonesia dulu memiliki tokoh besar yang tak kalah hebatnya dengan filsof, ilmuwan, dan teknokrat barat. Tak hanya sebagai aktivis pergerakan, ahli perang, penguasa bahasa. Gagasan besar lahir dari pikiran-pikiran Tan, membuka optimisme sebagai intelektual besar yang berasal dari “warga Indonesia”.
Sebagai seorang intelektual, Tan Malakal-ah yang menginspirasi berdirinya Negara “Republik Indonesia’. Rumusan naskah akademik Naar de 'Republiek Indonesia' (1925) yang muncul dari gejolak pemikiran sang intelektual yang memimpikan kemerdekaan Indonesia ―negeri tempat ia dilahirkan dan dibesarkan―yang seutuhnya. Buku yang lahir sebagai reaksi kapitalisme Indonesia yang saat itu dipengaruhi oleh kapitalisme kolonial Belanda, mendorong adanya pembangunan bidang ekonomi. Pembangunan ekonomi, dalam pemikiran Tan Malaka harus lebih dikedepankan ketimbang politik. Kemandirian ekonomi merupakan modal utama yang mendesak untuk mensejahterakan masyarakat. Ekonomi harus dibangun melalui memperbanyak koperasi, menasionalisasi perusahaan, bank, pabrik, berikut pemberdayaan potensi tenaga kerja. Setelah ekonomi membaik, keluar dari krisis, politik dengan sendirinya akan berkembang. Tumbuh kembangnya perkumpulan, serikat, komunitas, dan terimplementasinya hak sosial, ekonomi, dan politik. Tan Malaka memiliki mimpi. Dalam mimpi Republik Tan, proyek emansipasi pendidikan masyarakat Indonesia juga menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan. Situasi kolonial membuat hanya beberapa gelintir saja warga Indonesia yang mampu membaca dan menulis. Kebodohan hanya akan memperkuat kedudukan imperialisme Belanda untuk mengeksploitasi sumber daya nasional.
Dalam konteks pendidikan inilah, Tan tampil sebagai sosok yang tak hanya menyarankan, melainkan telah mencontohkannya. Kerja keras dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, membuatnya haus belajar. Dalam kondisi pengejaran, Tan tetap membaca dan menulis. Bahkan dalam penangkapannya, Tan melahirkan buku “Dari Penjara ke Penjara”. Republik dalam benak Tan haruslah menginisiasi kesesuaian konsep negara dengan susunan sosial ekonominya. Republik itu tak hanya Negara yang dipimpin oleh warganya sendiri―bukan dipimpin oleh penjajah, melainkan berdiri kokoh secara defensif untuk melindungi segenap masyarakatnya. Indonesia dengan keragaman kebudayaan dan lautan yang memisahkan berbagai pulau, dalam pandangan Tan hanya dapat dipersatukan dalam konsep Republik Indonesia Merdeka. Kondisi inilah yang membuat pluralisme Indonesia sangat rentan terkena terpaan politik devide et empera Belanda. Sebab itulah Republik yang mempersatukan berbagai keragaman ini harus terbangun kokoh di tanah Indonesia. Dengan republik impian Tan inilah, ilmu pengetahuan tidak ditimbun oleh negara-negara penjajah, melainkan dapat dipergunakan oleh kemakmuran bangsa. Republik Indonesia itu mencerminkan terlaksananya tranformasi pendidikan, kebersatuan dari keberagaman masyarakat, dan pelaksanaan cita bangsa. Kecintaan Tan Malaka pada ilmu pengetahuan terbukti dalam magnum opusnya “Madilog”, dimana ia menjelaskan posisi “cara berpikir” ilmiah dan filosofis. Dengan memanfaatkan perkembangan tekno-sains untuk menjawab persoalan ontologism dan epistemik.

Sementara itu, pembicara yang lain - Muhammad Nasir yang dikenal sebagai aktifis Magistra mengatakan bahwa popularitas bukanlah tujuan utama dari asesmen yang dilakukan di atas. Tetapi melalui upaya tersebut diharapkan gambaran singkat tentang profil pahlawan asal Minangkabau atau Sumatera Barat di mata “kaumnya” sendiri. Apalagi Pasca Orde Baru dan menggebu-gebunya semangat otonomi daerah, Sumatera Barat tidak ketinggalan mengacungkan beberapa nama yang dianggap pantas menjadi “Pahlawan Nasional”. Misalnya, setelah kisah sukses mengajukan Muhammad Natsir agar di-SK-kan sebagai pahlawan nasional, selanjutnya Sumatera Barat juga memperjuangkan HAMKA, Roehana Kuddus, Sutan Alam Bagagarsyah dan yang lainnya sebagai pahlawan nasional. Perjuangan mempahlawankan orang besar asal Minangkabau bukanlah sebuah kesalahan. Justru merupakan langkah maju untuk memperbaiki historiografi nasional Indonesia, mengapresiasi gerakan lokal dalam perjuangan kemerdekaan dan untuk kebenaran sejarah itu sendiri. Tetapi di samping itu patut juga dipertimbangkan esensi dan dampak yang logis dari mempahlawankan seseorang. Kepahlawanan merupakan penggalan cerita sukses perjuangan. Ada banyak manfaat yang akan diperoleh dari pahlawan, di antaranya ide-ide besar, semangat perjuangan dan patriotisme, pesan-pesan perjuangan dan bengkalai kerja yang mesti dilanjutkan. Kepahlawanan Tan Malaka meniscayakan kerja besar etnis Minangkabau untuk masa mendatang. Tak terbayangkan jika generasi sekarang hanya bisa mengaku berjasa dengan hanya memperjuangkan seseorang menjadi pahlawan lalu menjajakannya sebagai cerita sukses yang dijual dalam kampanye pilkada tetapi tidak mengambil semangat dan ajaran orang yang dipahlawankan itu, maka bisa-bisa generasi sekarang “ketulahan” istilah pahlawan itu sendiri karena pahlawan telah menjadi “idol” melebihi “hero”. Tak akan maju-maju. Cerita kepahlawanan saat ini sejatinya diupayakan lahir dari tindakan nyata para penyelenggara negara. Pembacaan yang tepat dan tindakan yang tepat sangat dibutuhkan untuk mengatasi amburadulnya masa depan negara Indonesia yang justru jauh dari cita-cita “merdeka 100%”-nya Tan Malaka. Suatu yang patut direnungkan dari pernyataan Tan Malaka bahwa rakyat dan kebudayaannya itu merdeka, bahkan negarapun tak boleh menjajahnya.

Kematian Tan Malaka memang masih simpang siur. Menjelang tes DNA Tan Malaka selesai, sementara ini ia boleh dianggap hilang tak tentu rimbanya, mati tak tahu kuburnya. Selopanggung, tempat yang akhir-akhir ini sering disebut sebagai kuburan Tan Malaka bolehlah dianggap sebagai tempat di mana tulang belulangnya ditanam. Selain itu tugas berat sedang menanti kita, yaitu mencari kebenaran tentang sebab musabab kematiannya. Tetapi di mana “Maqam” selayaknya bagi Tan Malaka di hati orang Indonesia dan Minangkabau khususnya lebih patut dipikirkan. Perlukah meletakkan seseorang di posisi kanan, kiri, tengah dan sebagainya dalam konteks gerakan kemerdekaan Indonesia? Ada yang menjawab penting dengan alasan agar kita lebih mudah mengenali seorang tokoh melalui kecendrungan politik dan ideologinya. Ada juga yang menganggap tidak penting, karena pemosisian itu justru akan menzalimi dan menenggelamkan ketokohan seseorang.

Agaknya, kedua opini di atas ada benarnya dan bisa diterima. Alasan pertama menjadi penting mengingat peminggiran alasan ini berakibat kaburnya cara pandang generasi yang dibesarkan historigrafi “sekolahan” sehingga hanya dapat mengenali tokoh-tokoh dari kulit luarnya saja. Akhirnya apresiasi terhadap ketokohan seseorang berkurang karena tidak ada cita rasa istimewa yang diperdapat melalui pengetahuannya tentang seorang tokoh. Tentang alasan kedua, agaknya dipengaruhi oleh trauma amburadulnya historiografi nasional –terutama orde baru- yang menghapuskan beberapa tokoh hanya karena berhaluan kiri, ekstrim kanan dan sebagainya. Termasuk Tan Malaka yang sedang dibincang ini. Karena generasi sekarang dibesarkan ingatannya oleh historiografi yang zalim, maka sepantasnya pula ingatan itu diperiksa kembali melalui pembacaan intensif terhadap karya-karya besar Tan Malaka yang untuk saat ini tidak begitu sulit diperoleh. Booming buku Tan Malaka rasanya sudah cukup memadai untuk memeriksa kembali ingatan tersebut. Belum lagi ketersediaan bahan digital di internet. Oleh sebab itu maqam yang paling logis untuk Tan Malaka saat ini adalah di dunia akademis. Karya-karya Tan Malaka dari dahulu hingga sekarang mungkin saja telah diterapkan aktivis pergerakan pemuda sebagai buku “how to” perjuangan. Tetapi sepertinya itu belum cukup, karena dunia akademis kitapun masih alergi menjadikan karya Tan Malaka yang sarat muatan akademis sebagai referensi. Terakhir ini saya telah memeriksa beberapa silabus matakuliah filsafat umum dan filsafat ilmu namun tidak ada buku Tan Malaka di sana, misalnya, Madilog yang beberapa bagiannya merupakan subtopik dari mata kuliah tersebut.

Bak kata kawan saya, Muhammad Nasir "Salo"Setiap orang Minang yang berniat hendak turun di Jalan Tan Malaka akan selalu menyebut “Tan Malaka, Kiri!” ... Ado Tan Malaka?, kata sang sopir. Tan Malaka, kiri! ... Tan Malaka, pinggir! ... Tan Malaka ciek!. Bukan hanya itu, semua pahlawan yang dijadikan nama jalan selalu saja dicap “Kiri” ::::::: dan, di Selopanggung, Tan Malaka putra Pandan Gadang Suliki yang diakui oleh Komintern Internasional sebagai "orang paling berpengaruh di Asia" pada zamannya, dikuburkan, setelah dieksekusi. Selopanggung menjadi saksi bisu, bahwa terkadang sejarah tidak selalu berpihak pada "pahlawan yang sebenarnya".

(Setelah diskusi dan pemutaran film berlangsung, rombongan dari Jakarta beserta perwakilan mahasiswa se-Kota Padang memancangkan Plank Merk Jalan Tan Malaka di samping RRI Padang .......... bukan untuk mengkultuskan, tapi sekedar mengingatkan bahwa "rahim" Minangkabau pernah melahirkan orang besar se-kaliber Tan Malaka)

Senin, 12 April 2010

Calon yang Rakus (Cerita Ringan Pilkada Sumbar)

Oleh : Muhammad Ilham

Sumatera Barat dan mungkin juga di daerah lain, ”epidemi” deman Eleksi Politik (dalam hal ini : Pilkada) mulai terasa. Sebagaimana halnya tahun 2009 yang lalu (Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden), maka jelang Pilkada Juni 2010 yang akan datang, meman Eleksi Politik (dalam hal ini "rah lain, "enarik sekali melihat “kesan-kesan” yang kita tangkap pada masa jelang Pilkada tersebut. Setelah hampir satu tahun, publik tidak lagi disuguhi janji-janji dan seribu satu harapan, sekarang publik dihadapkan lagi pada seruan (appeal) berupa harapan dan janji tersebut. Lihatlah spanduk, baliho ataupun sticker dan ragam jenis instrumen sosialisasi lainnya. “Calon Gubernur dan Wabup yang Terbukti Membuat Perubahan”, “Mari Babaliak ka Surau”, “Calon Bupati dan Wabup yang akan Sejahterakan Rakyat”, ”Menciptakan Masyarakat Madani”, ”Calon yang Layak Memimpin” dan seterusnya dan seterusnya yang pada prinsipnya membuat kita mengklaim mereka “panduto raya”. Dalam kondisi ini, timbul indentifikasi antara kepentingan rakyat dan kepentingan sang calon. Sedapat-dapatnya, sang caleg menciptakan kesan berfikir menurut jalan rakyat. Tapi apapun yang dilakukan oleh para calon belakangan ini, wajar-wajar saja. Sosialisasi yang berhasil, menurut sosiologi politik, adalah yang mampu mengadakan “political engineering” – suatu penyiasatan politik untuk mencapai tujuan politik dan mewujudkan kemauan politik tertentu, dengan cara menciptakan suatu kerangka berfikir menurut kerangka acuan kelompok.

“Historia Vitae Magistra”, kata Bennedicto Croce. Sejarah memberi pengalaman. Pengalaman historis bangsa kita, memberikan pelajaran yang sama. Kolonialisme yang ingin ditumbangkan melahirkan kondisi kerangka berfikir yang sama dalam benak setiap anak bangsa kala itu. Indonesia merdeka pun menjelma. Kemudian, lahir sejumlah kelompok dan partai politik. Kemudian saling gontok-gontokan. Kemudian, terjadi instabilitas. Kemudian, kemudian dan kemudian. Menjadi pertanyaan : “Mengapakah orang-orang yang tadinya demikian bersatu padu, dalam waktu yang tak lama berselang, menjadi amat terpecah belah?”. Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang barangkali membuat rakyat menjadi masygul dan kritis menghadapi seruan politik dalam berbagai kampanye. Persatuan kepentingan dengan mereka dikerahkan sehabis-habisnya tatkala suara atau tenaganya dibutuhkan untuk mensukseskan suatu perjuangan politik. Tetapi begitu perjuangan mulai memperlihatkan hasilnya, mereka cenderung tidak diutamakan lagi, sekurang-kurangnya tak lagi sehebat ketika lagi berjuang. Ungkapan “Calon Gubernur dan Wabup yang Terbukti Membuat Perubahan”, “Mari Babaliak ka Surau”, “Calon Bupati dan Wabup yang akan Sejahterakan Rakyat”, ”Calon yang Layak Memimpin” menjadi kehilangan makna.

Kalau dulu, jelang Pemilihan Legislatif, saya pernah mendengar nyanyian anak-anak yang baru pulang dari Didikan Subuh : Berakit-rakit ke hulu/berenang-renang ke tepian/bersakit-sakit dahulu/bersenang-senang sendirian/. Saya lihat kemudian, rupanya mereka bernyanyi menghadap pada baliho gambar seorang Caleg yang terletak dekat musholla. Setelah nyanyi, mereka pun ketawa dan salah seorang nyeletuk, “Calegnyo bencong, lai laki-laki tapi bibianyo bagincu” (Rupanya ada beberapa caleg kala itu yang ingin tampil sempurna, lalu mensiasati foto-nya yang sebenarnya tidak gagah-berwibawa menjadi gagah-berwibawa, dan salah satunya adalah tampilan bibir yang tebal-hitam dari sang caleg "direkaya-digital" dengan menipiskah dan memerahkan bibir, seperti tampilan banci-waria-bencong). Beberapa hari ini, saya mendengar celetukan dari beberapa orang anak-anak yang berdiri di depan baliho seorang Calon Gubernur : ”Haaa ..... mancalon pulo baliak, apak ko kan baru tahun patang mancalon, kini mancalon pulo .... iyo rakuih bapak ko maa ?” (Translate : ”Bapak ini kembali lagi mencalonkan diri, padahal tahun kemaren, si Bapak ini sudah mencalonkan diri .... Rakus betul Bapak ini!). Rupanya, si anak masih merekam dalam memori mereka gambar seorang calon Gubernur yang kebetulan juga Walikota yang (baru) terpilih tahun 2009 yang lalu. Rupanya, sang Walikota ini ingin menaikkan ”derajatnya” jadi Gubernur. Dan ..... anak-anak yang lugu ”menjudge”nya sebagai insan yang rakus. Anak-anak terkadang menyuarakan nurani terdalam, beda dengan kita yang cenderung berdiplomatis.

Komunisme dan Pan-Islamisme Menurut Tan Malaka

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922. Menentang thesis yang didraf oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, tetapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Belanda oleh pihak otoritas koloni. Setelah proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945, dia kembali ke Indonesia untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dia menjadi ketua Partai Murba (Partai Proletar)), yang dibentuk pada tahun 1948 untuk mengorganisir kelas pekerja oposisi terhadap Soekarno. Bulan Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.


Kamerad! Setelah mendengar pidato-pidato Jenderal Zinoviev, Jenderal Radek dan kamerad-kamerad Eropa lainnya, serta berkenaan dengan pentingnya, untuk kita di Timur juga, masalah front persatuan, saya pikir saya harus angkat bicara, atas nama Partai Komunis Jawa, untuk jutaan rakyat tertindas di Timur. Saya harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua jenderal tersebut. Mungkin Jenderal Zinoviev tidak memikirkan mengenai sebuah front persatuan di Jawa; mungkin front persatuan kita adalah sesuatu yang berbeda. Tetapi keputusan dari Kongres Komunis Internasional Kedua secara praktis berarti bahwa kita harus membentuk sebuah front persatuan dengan kubu nasionalisme revolusioner. Karena, seperti yang harus kita akui, pembentukan sebuah front bersatu juga perlu di negara kita, front persatuan kita tidak bisa dibentuk dengan kaum Sosial Demokrat tetapi harus dengan kaum nasionalis revolusioner. Namun taktik yang digunakan oleh kaum nasionalis seringkali berbeda dengan taktik kita; sebagai contoh, taktik pemboikotan dan perjuangan pembebasan kaum Muslim, Pan-Islamisme. Dua hal inilah yang secara khusus saya pertimbangkan, sehingga saya bertanya begini. Pertama, apakah kita akan mendukung gerakan boikot atau tidak? Kedua, apakah kita akan mendukung Pan-Islamisme, ya atau tidak? Bila ya, seberapa jauh kita akan terlibat?
Metode boikot, harus saya akui, bukanlah sebuah metode Komunis, tapi hal itu adalah salah satu senjata paling tajam yang tersedia pada situasi penaklukan politik-militer di Timur. Dalam dua tahun terakhir kita telah menyaksikan keberhasilan aksi boikot rakyat Mesir 1919 melawan imperialisme Inggris, dan lagi boikot besar oleh Cina di akhir tahun 1919 dan awal tahun 1920. Gerakan boikot terbaru terjadi di India Inggris. Kita bisa melihat bahwa dalam beberapa tahun kedepan bentuk-bentuk pemboikotan lain akan digunakan di timur. Kita tahu bahwa ini bukan metode kita; ini adalah sebuah metode borjuis kecil, satu metode kepunyaan kaum borjuis nasionalis. Lebih jauh kita bisa mengatakan; bahwa pemboikotan berarti dukungan terhadap kapitalisme domestik; tetapi kita juga telah menyaksikan bahwa setelah gerakan boikot di India, kini ada 1800 pemimpin yang dipenjara, bahwa pemboikotan telah membangkitkan sebuah atmosfer yang sangat revolusioner, dan gerakan boikot ini telah memaksa pemerintahan Inggris untuk meminta bantuan militer kepada Jepang, untuk menjaga-jaga kalau gerakan ini akan berkembang menjadi sebuah pemeberontakan bersenjata. Kita juga tahu bahwa para pemimpin Mahommedan di India – Dr. Kirchief, Hasret Mahoni dan Ali bersaudara – pada kenyataannya adalah kaum nasionalis; kita tidak melihat sebuah pemberontakan ketika Gandhi dipenjara. Tapi rakyat di India sangat paham seperti halnya setiap kaum revolusioner disana: bahwa sebuah pemberontakan lokal hanya akan berahir dalam kekalahan, karena kita tidak punya senjata atau militer lainnya di sana, oleh karena itu masalah gerakan boikot akan, sekarang atau di hari depan, menjadi sebuah masalah yang mendesak bagi kita kaum Komunis. Baik di India maupun Jawa kita sadar bahwa banyak kaum Komunis yang cenderung ingin memproklamirkan sebuah gerakan boikot di Jawa, mungkin karena ide-ide Komunis yang berasal dari Rusia telah lama dilupakan, atau mungkin ada semacam pelepasan mood Komunis yang besar di India yang bisa menentang semua gerakan. Bagaimanapun juga kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah kita akan mendukung taktik ini, ya atau tidak? Dan seberapa jauh kita akan mendukung?
Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda dimana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner. Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam juga melakukan agitasii pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.
Namun pada tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah. [Ketua: Waktu anda telah habis] Saya datang dari Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan selama empat puluh hari ..... [Tepuk Tangan] ...... Para anggota Sarekat Islam percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kita di perut mereka, untuk menggunakan sebuah ekspresi yang popular, tetapi di hati mereka mereka masih bersama Sarekat Islam, dengan surga mereka. Karena surga adalah sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada mereka. Karena itulah, mereka memboikot pertemuan-peretemuan kita dan kita tidak bisa melanjutkan propaganda kita lagi. Sejak awal tahun lalu kita telah bekerja untuk membangun kembali hubungan kita dengan Sarekat Islam. Pada kongres kami bulan Desember tahun lalu kita mengatakan bahwa Muslim di Kaukasus dan negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Uni Soviet dan berjuang melawan kapitalisme internasional, memahami agama mereka dengan lebih baik, kami juga mengatakan bahwa, jika mereka ingin membuat sebuah propaganda mengenai agama mereka, mereka bisa melakukan ini, meskipun mereka tidak boleh melakukannya di dalam pertemuan-pertemuan tetapi di masjid-masjid.
Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim - ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim [Tepuk Tangan Meriah], karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! [Tepuk Tangan Meriah] Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami. Ketika sebuah pemogokan umum terjadi pada bulan Maret tahun lalu, para pekerja Muslim membutuhkan kami, karena kami memiliki pekerja kereta api di bawah kepemimpinan kami. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerjasama dengan kami, jadi Anda harus menolong kami juga. Tentu saja kami mendatangi mereka, dan berkata: Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi Dia telah mengatakan bahwa di dunia ini pekerja kereta api adalah lebih berkuasa! [Tepuk Tangan Meriah] Pekerja kereta api adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini. [Tertawa]
Tapi ini tidak menyelesaikan masalah kita, jika kita pecah lagi dengan mereka kita bisa yakin bahwa para agen pemerintah akan berada di sana lagi dengan argumen Pan-Islamisme mereka. Jadi masalah Pan-Islamisme adalah sebuah masalah yang sangat mendadak. Tapi sekarang pertama-tama kita harus paham benar apa arti sesungguhnya dari kata Pan-Islamisme. Dulu, ini mempunyai sebuah makna historis dan berarti bahwa Islam harus menaklukkan seluruh dunia, pedang di tangan, dan ini harus dilakukan di bawah kepemimpinan seorang Khalifah [Pemimpin dari Negara Islam – Ed.], dan Sang Khalifah haruslah keturunan Arab. 400 tahun setelah meninggalnya Muhammad, kaum muslim terpisah menjadi tiga Negara besar dan oleh karena itu Perang Suci ini telah kehilangan arti pentingnya bagi semua dunia Islam. Hilang artinya bahwa, atas nama Tuhan, Khalifah dan agama Islam harus menaklukkan dunia, karena Khalifah Spanyol mengatakan, aku adalah benar-benar Khalifah sesungguhnya, aku harus membawa panji [Islam], dan Khalifah Mesir mengatakan hal yang sama, serta Khalifah Baghdad berkata, Aku adalah Khalifah yang sebenarnya, karena aku berasal dari suku Arab Quraish.
Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki arti sebenarnya, tapi kini dalam prakteknya memiliki sebuah arti yang benar-benar berbeda. Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia. Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini? Saya akhiri pidato saya. [Tepuk Tangan Meriah]
(c) sumber dari Ted Sprague : 2009

Islam dalam Tinjauan MADILOG Tan Malaka (1948)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tulisan ini merupakan pendapat Tan Malaka @ Ibrahim Sutan Malaka tentang Islam dalam karya monumentalnya "Madilog". Pada awalnya dicetak oleh Penerbit Widjaja, Jakarta: 1951 dan kemudian di edit ulang oleh Ted Sprague (Februari 2008).


Pengantar Penerbit
Telah lebih dari setahun lamanya kopi ini tesimpan dalam almari, karena terhalang oleh kesukaran kertas, apalagi mengingat tebalnya lebih kurang 200 halaman dari kertas ukuran besar serta ditek dengan mesin tulis Hermes baby, dan kalau dijadikan buku menurut ukuran yang sekarang ini, mungkin mencapai 500 halaman, sedang niat hendak menerbitkan sekaligus. Nasehat tuan HAJI ILJAS JACOB-lah yang membuka perhatian untuk menerbitkan dengan jalan beransur-ansur ini. MADILOG, berasal dan melalui jembatan keledai, yaitu MA terialisme, DI alektika, LOG-ika ! "Saya tidak menyangka akan sampai begitu dalam dan luas pengetahuan TAN MALAKA, sehingga saya sebagai Jurist dipimpinnya pula ke lapangan filsafat hukum, lebih berisi dan lanjut dari pada yang saya pelajari di sekolah hakim", demikian ucapnya seorang Akademisi yang jujur setelah membaca kopi Madilog !
Islam dalam Kacamata Tan Malaka
Sumber yang saya peroleh buat Agama Islam, inilah yang hidup. Seperti saya sudah lintaskan lebih dahulu dalam buku ini, saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Pada ketika sejarahnya Islam buat bangsa Indonesia masih boleh dikatakan pagi, diantara keluarga tadi sudah lahir seorang Alim Ulama, yang sampai sekarang dianggap keramat! Ibu Bapa saya keduanya taat dan orang takut kepada Allah dan jalankan sabda Nabi. Saya saksikan ibu saya sakit menentang malaikat maut menyebut "Djuz Yasin" berkali-kali dan sebagian besar dari AL-Qur’an, diluar kepala. Orang kabarkan bapak saya didapati pingsan setelah badannya dalam air. Dia mau menjawat air sembahyang, sedang menjalankan terikat, setelah bangun sadar, dia bilang dia berjumpa dengan saya yang pada waktu itu di negeri Belanda. Masih kecil sekali saya sudah bisa tafsirkan Al-Qur’an, dan dijadikan guru muda. Sang Ibu menceritakan Adam dan Hawa dan Nabi Yusuf. Tiada acap diceritakannya pemuka, piatu Muhammad bin Abdullah, entah karena apa, mata saya terus basah mendengarnya. Bahasa Arab terus sampai sekarang saya anggap sempurna, kaya, merdu jitu dan mulia. Pengaruhnya pada bahasa Indonesia pada zaman lampau bukan sedikit. Cangkokan bahasa Arab pada bahasa Indonesia baik diteruskan, karena lebih cocok pada lidah kita, asal betul-betul mengadakan pengertian baru, yang tiada terbentuk pada kata Indonesia umum atau lokal, seperti perkataan akal, fikir dsb. Saya sendiri tiada sempat meneruskan pelajaran bahasa Arab yang saya pelajari berpuluh tahun yang silam dengan cara surau yang sederhana itu tentulah sekarang sudah melayang sama sekali. Tetapi semua perhubungan dengan Islam dan Arab dahulu di Eropa, pasti mengambil perhatian saya. Dengan mengikat pinggang lebih erat, saya ketika di Negeri Belanda membeli sejarah dunia berjilid-jilid salinan bahasa Jerman ke Belanda, karena di dalamnya ada sejarah Islam dan Arab dituliskan degan lebih sempurna dari yang sudah-sudah.
Meskipun banjir ombak asik dalam senubari saja di masa usia pancaroba dilondong hanyutkan sampai sekarang terus dihilirkan oleh kejadian "1917" perhatian saya tehadap Islam terus berjalan. Pengertian yang masih saya ingat dari tafsir Qur’an itu, tentulah tiada berarti lagi. Yang tinggal dibawah lantai kesadaran (subconciousness) ialah kesan semata-mata. Tetapi terjemahan Qur’an ke dalam bahasa Belanda dahulu beberapa kali saya tamatkan, semua buku dan diktatnya Almarhum Snouck Hurgroaje tentang Islam sudah saya baca. Baru ini di Singapura saya baca lagi terjemahan Islam ke bahasa Inggris oleh "Sales dan ahli timur Maulana Ali Almarhum". Dengan begitu tiadalah pula saya maksudkan bahwa semua sumber itu sudah cukup buat me-obor Islam dan sejarah. Ahli sejarah Barat, Arab dan Tionghoa memang berlipat ganda lebih bisa dipercayai dari pada Ahli sejarah Hindu. Begitulah sejarah masyarakat dengan kemajuan pesawat dan ekonominya dibelakangkan kalau tiada dilupakan sama sekali. Jangan pula dilupakan, bahwa sejarah politik yang semacam itu di-tinggal-kan; tiada berseluk-beluk dan dipelantunkan dengan sejarah politik, ekonomi, dan kelasnya masyarakat. Jadi sejarah semacam itu, walaupun sejarah politik saja adalah pincang sekali. Tiada mengherankan kalau dalam pembacaan, saya tiada mendapati sejarah yang teratur selangkah demi selangkah, tentangan masyarakat, politik, ekonomi, dan tehnik Arab, tidak saja sebelum dan ketika Muhammad SAW mengembangkan Agama Islam, tetapi juga di dalam tempo dibelakangnya, lebih dari 1300 tahun sampai sekarang. Tidak saja di tanah Arab tempat asalnya agama Islam dan negara berkelilingnya, tetapi juga ditempat mengembangnya seperti Siria, Mesir, Spanyol, Irak, Iran, (Mesopotamia), India dan Indonesia. Dalam Negara asalnya Agama Islam tumbuh dan berdahan, mendapat bentuk dan corak baru dan bentuk corak ini tentulah langsung atau menukar mempengaruhi pokok asalnya di Arabia. Teristimewa pula karena semua bangsa dari semua agama acap berkumpul di Mekah.
Sejarah Islam berurat dan diairi oleh masyarakat politik, ekonomi dan pesawat Arab asli dan akhirnya bertukar bentuk dan corak pada iklim keadaan baru di luar daerah asli, menurut pengetahuan saya masih belum ditulis. Pekerjaan semacam itu bukanlah pekerjaan sembarang ahli, boleh jadi sekali bukan pekerjaan seorang ahli yang tersambil, melainkan pekerjaan beberapa ahli yang bergabung dalam tempo yang lama, boleh jadi pula bukti yang berhubungan dengan beberapa perkara sama sekali tiada bisa diperoleh lagi. Bagaimana juga buku seperti Foundation of Christianity buat Islam masih belum lahir. Berhubung dengan keterangan diatas maka sejarah-Islam dalam lebih kurang 1200 tahun sesudahnya Muhammad SAW yakni sejarah yang condong pada politik seperti pengangkatan Imam baru, menurut dan menurutkan partai Ali atau meneruskan pilihan yang demokratis seperti pengangkatan Abubakar, Umar, dan Usma; perbedaan mazhabnya Imam Syafi’I, Hanafi, Hambali dan Maliki satu aliran Islam ke arah kegaiban (systisisme) pada satu fatihah (Imam Gazali) dan kenyataan (rationalisme), sampai ketiadaannya Tuhan-Tuhan (atheisme), pada lain pihak (moetazaliten); pergerakan Islam yang baru kita kenal sekarang seperti Wahabi, Muhammadiya dan Ahmadiyah; semuanya ini mesti diseluk dengan sejarahnya politik, ekonomi, seperti bumi dan pesawat masyarakat Muslimin di Eropa Selatan, Afrika, Asia Barat dan Tengah diluar maksudnya buku ini dan diluar kekuasaan kesempatan saya. Maksud tulisan saya yang ringkas ini tentulah bukan buat pengganti buku yang masih ditulis itu, maksudnya cuma buat petunjuk (suggestion). Saya bagaimana juga tak lebih berlaku dari pada itu karena kekurangan bahan bukti, lagi pula pokok perkara yang berhubungan dengan Islam, ialah ke Esaan Tuhan, sudah termasuk boleh dikatakan hampir sama sekali pada tulisan yang baru lalu.
Muhamad SAW mengakui sahnya kitab Yahudi dan Kristen. Muhammad SAW mengakui Tuhannya Nabi Ibrahim dan Musa. Tetapi Tuhannya Nabi Ibrahim dan Musa menurut Muhammad SAW itu mesti dibersihkan dari pemalsuan Yahudi dan Kristen dibelakang hari. Memang masyarakat Arab asli membutuhkan ke-Esaan pemimpin sekurang-kurangnya sama dengan kebutuhan yang dirasa oleh Nabi Musa dan daud. Pada Muhammad SAW, bangsa Arab yang terdiri dari beberapa suku, dan menyembah bermacam-macam berhala itu mengharapkan pimpinan. Peperangan saudara yang kejam keji tiada putus-putusnya berlaku. Bangsa Arab teguh tegap, berdarah panas, pada negara yang sebagian besar terdiri dari gurun pasir dan gunung batu, kurus kering, sejuk tajam di musim dingin, panas terik di musim panas, susah gelisah mengadakan nafkah hidup sehari-hari. Perampokan dan pembunuhan adalah pekerjaan lazim sekali. Perniagaan ke lain negara dan dalam negarapun mesti dikawal dengan prajurit yang siap sedia menentang musuh ialah penyamun Badui yang rakus garang. Saudagar pada masa itu sama juga dengan serdadu, makin ramai penduduk Arab dan memang sudah ramai, makin sengit seru pertarungan suku dan suku. Makin banyak lelaki yang mati makin banyak pula kelebihan perempuan. Tiada mengherankan kalau mendapat anak perempuan dianggap sebagai malapetaka oleh rumah tangga Arab asli itu, apa lagi rumah tangga yang tak berpunya. Perempuan sudah terlampau banyak dan perempuan pada masyarakat semacam itu bukanlah makhluk yang bisa mencari nafkah diluar rumah tangga, melainkan dianggap satu makhluk penambah mulut makan. Jadi penambah kemiskinan. Kalau perempuan banyak, dibunuh. Beruntunglah perempuan kalau ada lelaki yang mampu mengawininya mengangkat dia jadi isteri yang ketiga ataupun kesekian puluh. Ditengah masyarkat semacam itu lahirlah Muhammad bin Abdullah, walaupun sukunya suku kuraisy dianggap suku tertinggi di kota Mekkah, tiadalah ia seorang anak yang dimanjakan oleh ibu bapa yang mampu. Dia malang atau memang beruntung kematian ibu bapa menjadi anak piatu dan dipelihara oleh paman Abdul Mutalib. Dari kecil sudah mengenal susah melarat di tengah-tengah masyarakat saling sengketa dan gelap gelita. Buah pikiran kita menyaksikan masyarakat semacam itu dan dalam keadaan semacam itu bisa timbul paham peragai dan bumi seperti Muhammad bin Abdullah. Tetapi memang intan itu bisa diselimuti tetapi tak bisa dicampur lebur dengan lumpur.
Makin riuh rendah bunyi sengketa dan sentak senjata disekelilingnya makin tenang teduh pikiran pemuka ini menghadapi sesuatu kesusahan atau permusahan. Lawan dan kawan sekarangpun terlampau banyak memajukan hal, bahwa Muhammad SAW seorang Nabi. Huru hara tiada bisa disangkal, tetapi tiadalah hormat saja yang memberi petunjuk, ilham dan kiasan kepada manusia. Mata yang nyalang, telinga yang nyaring, serta otak yang cemerlang di tengah-tengah masyarakat itu sendiri lebih lekas menyampaikan seseorang pada hakekat tentang pergaulan hidup manusia dari pada buku bertimbun-timbun diluar masyarakat. Pemuda Muhammad dilatih dan tersepuh oleh masyarakat Arab sendiri, undang langsung yang saling seteru dan gelap gelita itu. Entah karena wajah parasnya, entah karena perawakan peragainya dengan langsung, entah karena cerdik kepandaiannya, entah karena semuanya, janda orang kaya Chadijah berusia 40 tahun akhirnya menjatuhkan hati dan kepercayaan pada pemuda 15 tahun lebih muda ini, sesudah berjasa bertahun-tahun. Bertahun-tahun Muhammad bin Abdullah melayani perniagaan buat janda Chadijah. Sekaranglah baru diperoleh tempat dan tempoh mengheningkan pikiran membanding mengiaskan, mencocokkan, menyeluk belukan persoaan yang bertimbun-timbun jatuhnya pada pikiran yang acap terbang mealyang seperti terdapat dalam bangsa Arab, seperti tergambar dalam cerita 1001 malam itu. Tetapi Arab bukannya Hindu. Pikiran melayang itu selalu kembali ke tanah. Penerbangan bolak-balik di antara awang-awang dengan daratan itu bisa berhasil, bukanlah satu scientist seperti Newton tahu pendapat seperti Edison mesti bisa terbang dengan pikirannya ? Tetapi mereka terbang dengan benda yang nyata menurut undang-undang yang pasti pula.
Pada tempat yang sunyi senyap bermacam-macam di gunung diluar Mekah timbullah berkali-kali persoalan. Langit Arabia tiada diliputi awan pada malam itu, kalau diterangi oleh bulan dan bintangnya mesti menarik perhatian seseorang yang sungguh (serious, ernstig). Tak heran kalau pemuda Muhammad didesak oleh persoalan sebagai siapakah yang mengemudikan jalannya bulan dan jutaan bintang ini, yang tetap teratur ini. Siapakah yang menjatuhkan hujan yang memberi hidupnya tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia itu ? Apakah asalnya dan akhirnya manusia ini ? Tiadakah ada buat mempersatukan bangsaku, memperlihatkan seteru sengketa dan menerangi gelap gulita itu : mengangkat bangsaku jadi obor dunia ? Newton dan Edison diberi pusaka oleh para scientist almarhum berupa perkakas dan teori berupa laboratorium dan undang perhitungan. Tetapi pemuda Muhammad hidup lebih dari 1300 tahun yang silam. Undang apakah tentang peredaran bintang atau perhubungan hawa uap dan hujan atau undang tentang kodrat, paduan dan pisahan jasmani dan rohani yang sudah diketahui ? Ahli Yunani pun belum sampai kesana, kalau ada paham yang miring kesana belum tentu paham itu sampai ke telinga Muhammad bin Abdullah. Demikianlah Muhammad bin Abdullah mesti mencoba jawab dengan banding membanding pengalaman dan pengetahuannya pada mana jauh lebih tinggi, dari pada yang dikenal oleh bangsanya dikelilingnya.
Berkali-kali sudah perdagangan dilakukan (dengan karavan kalifah) ke Siria, barangkali juga sampai ke Mesir, ke Arabia Selatan tak mustahil sampai ke Mesopotamia. Cantumkanlah d imata pembaca seorang pemuda pendiam, mata sering melayang tinggi tetapi cepat bisa menaksir barang dan uang dimukannya, kening lebar dan tinggi menandakan kecondongan pikiran pada filsafat, tetapi juga menyaring apa yang praktis bisa dijalankan. Bibir yang menandakan kemauan keras dan juga mahir lancar kalau berkata, perawakan sedang, liat cepat tahan tangkas dan berkali-kali dalam perjalanan jauh berbahaya mendapat latihan dalam perjuangan. Penghilatan pada puluhan negara dan negeri biadab setengah adab dan pekerjaan tawar menawar dengan saudagar bermacam-macam bangsa dan bahasa; percakapan dengan lawan kawan, tua muda dalam usia pancaroba dipuluhan negara dan negeri itu, semua itu mendidik penyair dan pemimpin pembesar negara dan Nabi. Huruf dan sekolah tak bisa memberi bahan hidup semacam itu, tetapi bahan hidup semacam itu bsa memberi kesempatan pada Muhammad bin Abdullah menimbulkan huruf dan sekolah baru. Tidak semuanya orang bersekolah, bisa menjadi pemimpin Tuhan, tetapi buat seseorang pemimpin Tuhan tiadalah sekoah saja jalan buat menyampaikan maksudnya buat melaksanakan sifatnya. Dunia Arab berpenduduk sedang ramainya terus menerus bertarung diantara suku dan sukunya, belum pernah dijajah dijahanamkan bangsa Asing, sedikit dikenal oleh dunia luarnya, sudah sampai ke tingkat persatuan satu bangsa satu bahasa dan satu pemimpin. Tiadalah sekali mengherankan kalau Muhammad bin Abdullah tertarik oleh tuhan Esanya, Nabi Ibrahim, Musa dan Daud. Disini Tuhan itu lebih terang ke Esaan-nya pada pertaruangan lahir batin yang seru sengit yang mesti dijalankan dengan jasmani dan rohani yang mesti dipimpin oleh satu kemauan, maka kesangsian atas ke Esaannya Tuhan, pemimpin yang Maha Tahu dan Maha Tahu itu bisa menewaskan si petarung, Satu Tuhan itulah yang dibutuhkan oleh Arabia. Ketika Muhammad bin Abdullah yang buta huruf itu cuma sedikti tahu tentang agama Kristen, dikatakan oleh mereka bahwa Muhammad bin Abdullah mendapat pengetahuan itu dari mulutnya monikkan atau rahib dan setengah ulama Kristen. Mereka lupakan keterangan mereka sendiri bahwa Muhammad bin Abdullah sesudah memasuki gereja Katholik di Asia Barat ia berkata :"Ini cuma rumah berhala lain". Sekarang pun pada abad kedua puluh ini kalau orang memasuki gereja Katholik di Ruslan atau Rome, di Jerman atau di Indonesia, kalau orang melihat patungnya nabi Isa dan ibunya maryam yang dipuja dan tak mengherankan kalau orang netral mendapat kesan seperti kesan memasuki rumah berhala Hindu atau Budha. Buat Muhammad SAW Tuhan semata-mata rohani. Tuhan yang semata-mata rohani yang tiada dipatungkan lagi itu baru didapat sesudah Luther dan Calvin. Jadi sesudah lebih kurang 1500 tahun Nabi Isa lahir atau sesudah 900 tahun nabi Muhammad wafat. Dalam gereja Protestan kita tak lihat lagi patung yang seolah-olah mencoba mempengaruhi manusia dengan perasaan belaka; kasihan pada nabi Isa yang tergantung dipakukan tangannya pada palang gantungan itu oleh musuhnya Yahudi Jahanam itu. Jadi pada Protestant nyata pengaruh Islam buat seseorang yang tiada digelapi oleh dogma (kepercayaan) agamanya sendiri. dengan Yahudi Muhammad bin Abdullah menganggap Tuhan itu semata-mata rohani dan berada dimana-mana. Seseorang Muslim bisa bersambung langsung dengan Dia, tiada perlu memakai kasta Rabbi atau pendeta sebagai perantaraan atau sebagai tengkulak. Kelangsungan perhubungan manusia dan Tuhan itulah yang menjadi salah satu perkara buat Protestant umumnya, Cromwell dan tentaranya khususnya ketika berperang dengan partai Katholik dan raja-raja Katolik. Ini terjadi juga sesudah lebih kurang seribu enam ratus lima puluh (1650) tahun sesudah Nabi Isa wafat atau lebih kurang 1000 tahun sesudah Nabi Muhammad wafat. Pun disini nyata buat orang yang berpikiran objectief (tenang) pengaruhnya Islam atau Nasrani seperti juga pada Yahudi.
Jadi agamanya Nabi Isa dan Nabi Musa dijalankan pada masa perjalannya nabi Muhammad bin Abdullah di Asia Barat itu tiadalah diambil bulat mentah dengan tiada kritik semata-mata. Tidak saja Muhammad bin Adullah mengambil pokok besarnya agama Yahudi dan Kristen, tetapi pada kemudian harinya Yahudi dan Nasrani walaupun resminya tak mau mengaku terus terang mengambil sifat baru dari Islam. Demikianlah pada Muhammad SAW "ketunggalan" Tuhan itu ke Esaan Tuhan itu sampai ke puncak tak ada kesangsian seperti melekat pada agama Nasrani pada masa Muhamad SAW. Tentangan, terhadap agama Nasrani itu dikeraskan dan dijelaskan pada satu Juz yang pendek, tetapi dianggap terpenting sekali oleh Muslimin: bahwa Tuhan tunggal tak memperanakkan (Nabi Isa) dan tidak diperanakan (Qul huallahuahad …………….dsb). Karena Muhammad SAW yang mendapatkan ilham tentangan ke Esaan Tuhan yang sempurna dan kesamaan manusia dan manusia lain terhadap Tuhan itu yang masih belum terang benderang buat semua bangsa Yahudi pada zaman nabi Ibrahim, lebih-lebih pada masa Nabi Sulaiman dan kemudiannya tiada terang pula pada Kristen, Katholik, Anatolia atau Rumawi di masa Muhammad SAW, tentulah semestinya Muhammad SAW Nabi yang terbesar dan terakhir but monotheisme, kalau Albert Einstein menyempurnakan teori relativity maka orang tiada berkeberatan menamainya teori itu teori Einstein. Adakah ke Esaan yang lebih pasti dan persamaan manusia dan manusia terhadap Tuhan lebih nyata dari pada agama Islamnya Muhammad SAW ? Juga Nabi Isa mengakui dirinya anak Tuhan dimuka Rabbi dan mengakui dirinya Rajanya Yahudi buat negara 1000 tahun dimuka Pilatus ? Adakah salahnya kalau Muhammad SAW mengaku pesuruh rasulnya tuhan yang terakhir dan terbesar ?
Kepercayaan pada Allah sebagai Tuhannya yang Esa Muhammad sebagai rasulnya dan persamaannya manusia terhadap Tuhan, belum cukup buat mempersatukan sekalian suku Arab yang saling seteru sengketa dan peperangan terus menerus itu. Malah hal itu menimbulkan ejekan kebencian dan caci makian terhadap Muhammad yang oleh penduduk Mekah diketahui sebagai anaknya Adullah dan Aminah. Sama siapakah mereka Arab yang galak ganas itu akan takut dan apakah dunianya berbuat baik di dunia ini kalau sesudah mati semua perkara perhubungan dengan manusia itu berhenti sama sekali? Malah lebih baik jadi orang kuat, kebal, piawai pendekar, berani, jahat, perampok atau apa saja asal bisa dapatkan harta buat kesenangan, perempuan buat permainan dan laki-laki buat hamba sahaya. Di dunia fana inilah mesti dicari puncak kesenangan dengan mendapatkan puncak kekayaan dan kekuasaan, baik dengan jalan halal atau haram. Demikian satu pemikir luhur merasa perlu keterusannya hidup. Tidak didunia fana ini melainkan pada dunia baka pada akhirat. Dengan begitu perlu pula ada jiwa terkhusus yang bertiang dalam jasmani kita. Jasmani dan jiwa itulah kelak sesudah hari kiamat akan dibangunkan kembali dari matinya. Jasmani dan jiwa yang hidup kembali itu akan ditimbang kebaikan dan keburukannya, yang berdosa akan masuk api neraka dan yang saleh akan masuk surga dikerubungi oleh nikmat tak terhingga banyaknya ragam dan lazatnya ditempat permai damai di antara puteri bidadari cantik molek dan manis bagus parasnya, ratusan ribuan banyaknya yang taat saleh, terutama yang mati sahid akan mendapat upah yang kekal dan luhur itu. Kalau kita peramati gurun pasir dan gunung batu Arabia, peramati wataknya Badui sekarang dan gambarkan orang Arab dan Badui semasa nabi Muhammad maka surganya orang Islam itu surga yang tidak sejuk dingin seperti Nirwananya Budha atau suci seperti surganya nabi Isa, maka surga Islam itu kuat seperti kutup Utara menarik jarum pedoman, sebelum sampai ke surga djanatunna’im itu, sesudah Muhammad SAW wafat. Arabia dan Badui yang sudah bersatu itu mendapatkan surga dunia di Siriya, Mesir, Spanyol, Iran dan India. Banjirnya para calon syahid yang mengalir dari Arabia. Tuhan itu ialah Allah dan Muhammad itu ialah Rasulnya. Tiada satu negara dan bangsapun beratus tahun bisa tahan. Begitu cocok surga Islam dan mati sahid dengan masyarakat dan peragai Arab. Allah itu menurut Logika tentulah tiada bisa "Maha Kuasa" kalau tidak segenap umat manusia, segenap jam dan detik dapat menentukan nasib manusia. Segenap detik dia bisa perhatikan matahari berjalan, bintang dan bumi beredar, setiap detikpun tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia di matikan, sebaliknya manusia janganlah takut menghadapi mara bahaya apapun juga, kalau Tuhan Yang Maha Kuasa itu belum lagi memanggil. Di dunia Islam, hal ini dinamai takdir Tuhan. Di dunia barat hal ini dikenal sebagai pre-destination. Calvin bapaknya Mahzap Protestant pada abad ke 17 juga mengemukakan hal ini. Oliver Cromwell dan tentaranya di Inggris diakui paling nekat tunggang oleh sejarah Barat, juga mengikut kepercayaan ini, pun disini tak bisa dibantah pengaruhnya Islam pada dunia Kristen.
Memang pemikir yang ulung consequent yang mengesakan Tuhan mesti mengesakan kekuasaannya Tuhan itu. Kalau seketika satu saja kekuasaan dikurangi dipindahkan pada anaknya seperti pada nabi Isa, (anaknya Tuhan) atau Maryam, dan sedetik saja kekuasaan si Atom itu bisa dipegang diluar Tuhan dengan tidak izinnya Tuhan, maka kekuasaan Tuhan itu tiada absolute sempurna lagi. Walaupun si Atom dalam sedetik kalau bisa dikurangi maka kesempurnaannya dikurangi pula bukan? Itulah maka saya anggap bahwa Agama Monotheisme nabi Muhammad yang paling consequent terus lurus. Maka itulah sebabnya menurut logika maka Muhammad yang terbesar diantara nabinya monotheisme. Kaum Kristen boleh memajukan kedudukan, tingginya kaum ibu maka tingginya kasih sayang dan ta’at setia pada dasar sebagai pusaka dari Nabi Isa.
Tetapi pada masyarakat Arab dimana perempuan tak bisa diangkat ke tempat yang lebih tinggi dari yang dilakukan oleh Muhammad SAW. Tak sedikit ahli sejarah Barat yang mengakui hal ini kalau lama dibelakang wafatnya Nabi Muhammad perempuan dikudungi, dibungkus atau ditimbun-timbunkan ke dalam haramnya Sultan atau Muslim kaya raya buat melepaskan nafsu lelaki, maka itu adalah berhubungan rapat pula dengan keadaan masyarakat Arab. Perkara kasih sayang Muhammad SAW juga seperti nabi Isa berhak mempunyai. Nabi Muhammad berada dalam masyarakat sebesarnya, sebagai pemimpin propaganda, pertarungan peperangan dan masyarakat. Sedangkan nabi Isa tinggal melayang diatas langit propaganda saja tak mengatur peperangan ekonomi, politik ataupun sosial. Sebab itu lebih gampang memegang dasar kasih sayang itu. Tetapi Muhammad dengan memaafkan yang dahulunya mau menewaskan jiwanya, mengubah musuhnya itu menjadi pengikut, hambanya dianggapnya saudara kandungnya, bukankah pula kaum Kristen sendiri yang mendapat kedudukan tinggi sekali dibawah itu dengan kaum Nasrani dibawah Rumawi yang berkebudayaan tertinggi pada zaman purbakala itu. Begitu juga dengan teguh tegap memegang dasar itu nabi Muhammad tiada ketinggalan. Ketika seluruh Mekah memusuhi, mengancam jiwanya, dan dalam keadaan begitu menewaskan harta dan pangkat kalau memperhatikan propagandannya nabi Muhammad bersabda: Walaupun di sebelah kiri ada bintang dan di sebelah kanan ada matahari yang melarang, saya mesti meneruskah suruhan Tuhan.
Tetapi semua perkara ini yakni kedudukan kaum isteri dalam masyarakat, belas kasihan kepada semua manusia, taat setia pada dasar sendiri itu, ada lebih rapat berhubungan dengan masyarakat politik ekonomi, pesawat dan iklim dari pada dengan kepercayaan semata-mata, hal ini adalah diluar maksud tulisan ini. Yang dimajukan disini ialah perkara kepercayaan pada ke Tuhanan umumnya dan ke Esaan Tuhan itu terkhususnya. Sekali lagi disoalkan disini, bahwa pada Islam ke Esaan itu tentangan banyak dan sifatnya sampai ke puncak. Sebab itu pula maka pertentangan dengan ilmu pasti umumnya, madilog terkhususnya sampai ke puncak pula. Pada permulaan buku ini perkara itu sudah dilaksanakan Maha Keesaan Dewa Rah. Pembaca dipersilahkan membaca bagian itu sekali lagi. Sarinya tulisan itu kalau diperhubungkan dengan keesaan Tuhan ialah kalau seperseribu detik saja Yang Maha Kuasa itu membatalkan bumi kita ini menarik matahari dan meletus serta hancur luluhlah kita ke jurusan matahari yang panas terik itu. Kalau sekiranya seperseribu satu detik saja Yang Maha Kuasa itu bisa membatalkan undang tolak tariknya sekalian bintang matahari dan bumi di Alam Raya ini seperti semua kereta diperhentikan dalam satu kota pada satu saat, maka kita manusia, hewan dan benda yang sekarang lekat pada bumi ini akan tarikan bumi akan terpelanting ke awang-awang terus menerus terbangnya.

Sabtu, 10 April 2010

P.a.j.a.k

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam film sejarah perjuangan masyarakat Skotlandia yang dibintangi oleh Mell Gibson, Braveheart, ada sebuah penggalan dialog : "Siapakah Raja dan siapakah bandit ? ... kedua-duanya sama-sama selalu menodong rakyat untuk mendapatkan uang dan pajak, termasuk dengan jalan kekerasan dan represif. Penggalan dialog ini setidaknya mengingatkan kepada kita, bahwa sejak zaman "negara-tradisional" (yang dipersonifikasikan oleh raja), usaha negara untuk menghimpun dana lewat pajak, merupakan sesuatu yang sangat penting. Bila kita baca sejarah kerajaan-kerajaan tradisional masa lampau, begitu kuatnya usaha negara (kerajaan) tersebut mengumpulkan dana lewat pajak sehingga menimbulkan kesan kuat dalam masyarakat bahwa tugas negara (kerajaan) hanyalah satu : "mengumpulkan pajak". Dengan menggunakan perspektif historis, dapat dilihat perbedaan hakekat dan fungsi pajak pada kerajaan-kerajaan tradisional dan berbagai kesatuan politik masa lampau dengan negara-negara modern masa sekarang. Dalam kerajaan-kerajaan tradisional, pajak dianggap sebagai sebuah kewajiban yang dipaksakan, sewenang-wenang dan karena itu mereka sering menentangnya dalam berbagai bentuk gerakan protes ataupun perlawanan fisik. Bahkan untuk kasus kolonialisme di Hindia Belanda, sejarah mencatat begitu banyak perlawanan rakyat bermula atau tersebabkan oleh pajak (biasa diistilahkan dengan belasting). Gerakan perlawanan masyarakat ini sangat terasa sepanjang abad 18 dan 19 M. ketika pemerintah kolonial Belanda mulai melakukan intervensi ekonomi dan politik ke dalam masyarakat tradisional Indonesia, terutama di Jawa (pernah dibahas secara elaboratif oleh sejarawan seperti H.J. de Graaft, Takashi Shiraishi dan Ongho Kham).

Dalam masyarakat tradisional (baca : kerajaan tradisional, termasuk zaman kolonial), pada prinsipnya masyarakat merasakan manfaat dari pungutan pajak yang dilakukan oleh negara (kerajaan), seumpama perlindungan terhadap keamanan, pembiayaan pemelihaaan bagunan-bangunan keagamaan dan seterusnya. Namun, karena tidak adanya birokrasi yang baik menyebabkan tanggungjawab keuangan dari kerajaan tradisional tersebut tidak memuaskan masyarakat, bahkan masyarakat sangat merasakan disparitas kesejahteraan yang ekstrim. Penyelewengan-penyelewengan merupakan cerita biasa dalam kerajaan-kerajaan tradisioanal bersangkutan dengan pajak ini. Tidak semua pajak yang dikumpulkan dari masyarkat digunakan untuk kepentingan negara atau rakyat. Bahkan seringkali sejarah mencatat, pajak yang dikumpulkan dari masyarakat tersebut justru digunakan untuk membangun istana raja nan mewah, memperbesar kemegahan raja dan dinastinya. Tentu ini menimbulkan protes kuat dari masyarakat sebagaimana yang digambarkan oleh sejarawan-sejarawan di atas. Revolusi Inggris pada abad ke 17 M., misalnya, merupakan refleksi dari ketidakpuasan masyarakat terhadap penggunaan uang oleh raja untuk membiayai kehidupan "foya-foya" di istana. Contoh lain, di China pada masa dinasti Ching (dinasti terakhir), pajak juga menjadi (salah satu) pemicu runtuhnya tradisi dinasti yang panjang di China. Karena dinasti Ching sering mengalami kekalahan dalam peperangan dengan Barat dan Jepang, maka pihak kerajaan mengambil kesimpulan bahwa permasalahan substansial dari kekalahan tersebut adalah karena peralatan militer yang sudah terbelakang. Maka diambil kebijakan untuk mengumpulkan pajak secara massif dari masyarakat dengan tujuan memodernisasi peralatan militer. Namun ketika pajak telah terkumpul dalam jumlah yang cukup banyak, uang pajak ini diselewengkan oleh ibu suri. Alih-alih memodernisasi peralatan militer Dinasti Ching, justru yang terjadi adalah ibu suri membangun sebuah istana nan-megah dari marmer disebuah danau yang asri. Tentu kebijakan ibu suri ini menimbulkan kemarahan rakyat yang berlanjut dengan gerakan ANTI PAJAK. Konsekuensinya, dinasti tidak lagi memiliki sumber pemasukan dan hal ini kemudian berakibat kepada "daya tahan" militer dinasti Ching yang makin lama makin keropos ..... (rasanya, apa yang terjadi belakangan ini, rumah-rumah nan mewah para pejabat dan pegawai pajak dengan gerakan ANTI PAJAK yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, bisa ditempatkan dalam konteks ini).

Pada masa kerajaan tradisional dan masa kolonialisme, rakyat menganggap pajak merupakan suatu kewajiban yang dipaksakan, maka pada negara-negara modern dewasa ini, terdapat konsepsi lain tentang hakekat dan fungsi pajak. Pajak tidak lagi dipandang sebagai paksaan, melainkan bersifat kewajiban-kewajiban warga terhadap negara dan negara terhadap masyarakat (simbiosis mutualis). Dalam masyarakat modern, terdapat kesadaran ataupun sikap rasional bahwa pajak yang dikumpulkan negara ini penting untuk melindungi kepentingan masyarakat secara umum. Kesediaan warga negara untuk membayar pajak secara sukarela dalam negara-negara modern yang demokratis karena terdapat sebuah konsensus mutlak bahwa si pembayar pajak dapat mengontrol dan mempengaruhi proses penggunaan dana yang berasal dari pajak, sesuatu yang tidak didapatkan pada masa kerajaan-kerajaan tradisional atau masa kolonialisme. Mereka bisa memprotes bila menganggap negara mempergunakan dana pajak untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang tidak berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat, apalagi protes massif karena penggunaan dana pajak yang menguntungkan segelintir orang, sebagaimana yang terlihat di Indonesia belakangan ini.

Kamis, 08 April 2010

Batak dan "Dunia" Advokat

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam dunia kepengacaraan (lawyer/advocat), ada pameo yang berbunyi : "jika anda mempunyai perkara hukum di pengadilan serahkan kepada orang Batak, mereka akan sanggup menggorengnya hingga tuntas.” Tak dapat dipungkiri, kehandalan orang Batak dalam dunia peradilan terlebih di bidang kepengacaraan di negeri ini, begitu dominan dan mendapat pengakuan lisan dari etnis manapun di nusantara ini. Setiap ada kasus hukum, mulai dari kasus biasa saja yang melibatkan orang "luar biasa" atau kasus mega-skandal yang melibatkan orang "biasa", pengacara dari etnik Batak akan muncul. Hampir tak ada kasus-kasus hukum di Indonesia yang tidak ditangani oleh pengacara dari negeri Sisingamangaraja ini. Kasus hukum yang "menyerempet" ke ranah politik, mereka "muncul", kasus pembunuhan tingkat tinggi, mereka "datang" melakukan pembelaan. Ketika terjadi kasus hukum yang menyerempet koruptor hingga rakyat kecil, kembali pengacara Batak menghiasi media massa nasional. Bahkan, kasus perceraian, perselingkuhan dan "tetek-bengek" selebritis Indonesia, pengacara-pengacara dari negeri Tapian Nauli ini kembali disebut.

Siapa yang tak kenal dengan Adnan Buyung Nasution - mantan jaksa yang menjadi advokat handal ini sejak kecil sudah kelihatan berbakat aktivis. Pernah menjadi anggota DPR/MPR tapi direcall. Sempat menganggur satu tahun sebelum membuka kantor pengacara (advokat) dan membentuk Lembaga Bantuan Hukum Jakarta yang kemudian menjadi YLBHI dan dikenal sebagai lokomotif demokrasi. Disamping si-Abang Adnan Buyung Nasution yang fenomenal ini, "Rahim" Batak juga melahirkan Pengacara besar sekaliber Todung Mulya Lubis yang tampan dan kaya. Bang Todung (begitu ia dipanggil sebagaimana panggilan publik pada "mentornya" Adnan Buyung Nasution), Todung Mulya Lubis bukannya bermain mata dengan artis-artis cantik. Malah membela (Si) Marsinah, buruh wanita yang di mata rezim militeristis Suharto harus mati dan didiamkan. Dia besar karena perjuangannya membela hak-hak asasi manusia dari mereka yang tertindas. Sikap hidup seperti itu membuat Todung menjadi sebuah paradoks. Semestinya dia hidup gemerlap sebagaima kehidupan yang selalu diasosiakan film-film murah atau sinetron. Todung jauh dari gambaran hidup seperti itu. Dia tidak terbawa arus yang melambung dalam kemewahan. Dan, hingga sekarang, Bang Todung dikenal sebagai beberapa pengacara - diantara sedikit - yang dikenal dengan konsistensi dan komitmennya dalam menegakkan hukum dan Hak Asasi Manusia. Di samping dua pengacara "besar" di atas, kita juga mengenal beberapa pengacara "papan atas" yang juga se-daerah dengan bang Buyung dan Todung. Indra Sahnun Lubis yang semarga dengan bang Todung, dikenal sebagai pengacara yang banyak menangani kasus-kasus besar dan menyedot perhatian publik. Terakhir, ia membela Anggoro dan Anggodo yang menjadi "kotak Pandora" kasus hukum Indonesia tahun 2009 lalu. Demikian juga dengan Hotma Sitompul dan Juniver Girsang yang berada di garis depan dalam membela kasus mantan Ketua KPK Antasari Azhar. Lalu, siapa yang tidak kenal Ruhut Sitompul SH. Pria kelahiran Medan 24 Maret 1954 ini beberapa bulan belakangan ini menyedot perhatian publik, hingga Metro TV selalu memberitakan tingkah polah "Si Poltak Raja Minyak Medan" ini dengan satu scene berita tiap hari, terutama sejak kasus Century-Gate bergulir. Pria berkucir dan eksentrik ini merupakan pengacara kondang sebelum terpilih menjadi wakil rakyat DPR-RI dari Partai Demokrat. Sementara itu, Hotman Paris Hutapea selalu muncul menangani kasus-kasus yang "menyerempet" ranah selebritis-entertainment. Kasus yang cukup fenomenal dan melambungkan namanya ketika pengacara berbadan besar menangani kasus "Bollywood" Manohara. Beberapa nama pengacara di atas yang berasal dari etnik Batak, mungkin hanya sebagian kecil dari dominasi orang Batak di dunia advokat. Sebutlah beberapa nama lain di antaranya seperti Otto Hasibuan yang merupakan ketua salah satu organisasi kepengacaraan terkenal di Indonesia, ada Junimart Girsang dan Yan Apul H. Girsang (Yan Apul dikenal sebagai pengacara terkenal di era 80-an dan 90-an) dan termasuk pengacara yang belakangan ini sangat disorot publik karena diduga sebagai dalang rekayasa dalam kasus Gayus-Gate, Haposan Hutagalung. Beberapa nama pengacara lainnya yang berasal dari etnik Batak sangat mudah diingat karena selalu mencantumkan nama marga di belakang nama awal mereka.


Bagaimanapun juga, dunia advokat identik dengan orang Batak. Benar tidaknya ungkapan ini berpulang pada penilaian masing-masing, namun fakta menunjukkan hegemoni pengacara Batak di pengadilan nasional begitu kental sulit dibantah. Tak heran bila para pengacara Batak mendapat julukan Pendekar Pencak Kata. Profesi pengacara memang banyak jadi pilihan hidup orang Batak, di perantauan. Namun untuk meraih popularitas nama besar seorang pengacara tidaklah segampang membalikkan tangan. Selain harus mahir menguasai ilmu hukum juga ditentukan banyak factor seperti ketekunan dan kesabaran. Kepiawaian beracara dan memenangkan kasus-kasus pelik menjadi salah satu penentu melambungnya seorang pengacara. Selain kasus-kasus pelik, eksistensi kantor pengacara yang strategis juga menjadi indicator lain dalam mendongkrak nama ketika harus memberikan bantuan hukum maksimal atas kasus perkaranya. Dan biasanya, pengacara Batak meraih popularitas setelah memiliki kantor sendiri dan sering muncul di pemberitaan media.
Kalau ditanya kaitan pengacara dengan Batak, umumnya orang-orang mudah sekali mengaitkan keduanya. Jawabnya antara lain, pengacara banyak orang Batak. Orang Batak cocok jadi pengacara. Dalam konteks ilmu antropologi, bisa ditarik sedikit benang merah, rupa-rupanya advokat punya sedikit akar dalam kultur Batak. Tetapi yang paling penting, barangkali, budaya Batak yang egaliter membuka peluang untuk kebiasaan mengemukakan pandangan, mempertahankannya, bila mungkin bersilat lidah. Dalam budaya yang sentralistik hal ini tidak terlalu terbuka. Raja (sultan) bicara, habis perkara. Sebutan ‘raja’ dalam budaya Batak tidak dimaksudkan untuk menunjuk pada sesuatu kekuasaan yang penuh dan tunggal. Di setiap desa ada raja yang harus berhubungan dengan desa lain dalam kedudukan setara. Raja tidak boleh mengambil keputusan penting sendirian saja.

Setelah orang Batak migrasi keluar tanah Batak, khususnya ke pulau Jawa maka terbuka peluang untuk sekolah ke jenjang paling tinggi. Cita-cita orangtua Batak adalah agar anaknya bisa menjadi pegawai pemerintah (ambtenaar), guru atau menjadi pendeta. Ini sudah luarbiasa kalau tercapai. Karena kelihatan keren. Hanya segelintir yang mampu masuk sekolah tinggi, antara lain militer dan teknik di Bandung. Sekolah hukum hanya ada di Batavia (Rechtshoogeschool). Orang Batak pertama yang menggondol gelar sarjana hukum antara lain, Mr.Todung Sutan Gunung Mulia Harahap (namanya diabadikan jadi Penerbit dan Toko buku Kristen Gunung Mulia) dan Mr. Amir Syarifuddin Harahap (pernah menjadi Perdana Menteri). Keduanya tidak berprofesi advokat.
Sebenarnya fakta menunjukkan tidak terlalu banyak orang Batak berprofesi sebagai pengacara kalau dari persentase. Tetapi suaranya yang vokal diberbagai kesempatan dan media membuatnya lebih kelihatan. Nampaknya pengacara Batak memiliki potensi ini. Dan ..... entitas Batak dalam dunia kepengacaraan merupakan suatu fenomena yang unik sekaligus (harus) menimbulkan rasa iri etnik lainnya.

:::::: (terinspirasi dari SMS seorang kawan yang berbunyi : "Three Musketers Kasus Markus Pajak - Gayus TAMBUNAN, Haposan HUTAGALUNG dan Cirus SINAGA. Ilham, mereka merusak kebanggaanku sebagai orang Batak").
Belimbing Padang, 8 April 2010 pukul 23.10 WIB.

Selasa, 06 April 2010

Potret Kehidupan Wanita Ber-Poliandri

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Adalah sebuah daerah terpencil di perbatasan China dan Tibet, tinggal sekelompok masyarakat etnik minoritas penganut matriakh dan sekaligus pelaku poliandri yang legal dan sah, suku minoritas tersebut adalah suku Mosuo, yang merupakan suku dari minoritas etnik Naxi, yang juga adalah salah satu dari 55 suku minoritas di China. Sampai sekarang sistem matriakal masih dipraktekkan di suku tersebut. Suku terasing ini tinggal di sekitar wilayah danau Lugu kira-kira 2,700 meter di atas permukaan laut. Danau yang maha indah dan masih sangat perawan ini dikelilingi oleh hutan lebat dan gunung-gunung. Masyarakat yang merupakan tight knit community masih berpegang teguh adat turun temurun selama ribuan tahun. Penduduk Mosuo juga merupakan penganut salah satu sekte agama Budha yang menganggap Lama sebagai pimpinan tertinggi. Lamaism. Peran Lama sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Yang menarik di suku Mosuo adalah peran utama kaum wanita. Peran perempuan di suku Mosuo ini sangat erat dan kental, wanita berperan sebagai kepala rumah tangga yang mengatur segala tetek bengek urusan domestik. Biasanya di setiap keluarga terdiri dari sepuluh anggota, walau tidak jarang satu keluarga terdiri dari 20 atau 30 orang.

Salah satu cahaya yang masuk ke dalam rumah berada di sebuah kamar khusus dimana sebuah perapian selalu menyala dan sebuah altar pemujaan berada. Altar berupa batu ini merupakan simbol leluhur sebuah keluarga. Dipercaya arwah para leluhur masih menempati batu tersebut sehingga api harus tetap menyala untuk menghangatkan mereka para arwah. Api yang dibiarkan terus menyala juga sebagai lambang kesejahteraan suatu keluarga. Kehidupan perkawinan suku Mosuo sangat menarik dan langka, dan saking langkanya, menarik banyak minat para peneliti dari berbagai belahan dunia dan sekitar dua dekade terakhir membuat nama Mosuo menjadi terkenal di seluruh dunia. Daerah mereka yang perawan nan alami, kini mulai banyak dikunjungi turis dari Amerika, Eropa, dan juga negara-negara Asia lainnya juga masyarkat China sendiri. Perempuan Mosuo masih memegang tradisi turun temurun mereka, salah satunya adalah dalam hal perkawinan, ada tiga jenis perkawinan, yang pertama sistem Axia yang berarti visiting marriage, kedua adalah : axia cohabitation dan yang terakhir adalah monogamy. Sang kepala keluarga merupakan wanita yang sangat dihormati dan dituakan oleh segenap anggota keluarga. Seluruh keputusan yang berurusan dengan keluarga di tangan sang ibu kepala rumah tangga. Jumlah keseluruhan masyarakat suku Mosuo sekitar 50 ribu orang dan semua tinggal di sekitar danau Lugu. Rumah suku Mosuo sanggat khas dan hampir di setiap rumah mereka menyediakan ruangan khusus sebagai balai pertemuan keluarga atau juga berfungsi untuk ritual-ritual agama. Rata-rata rumah suku Mosuo beratap rendah dan tidak ada ventilasi sama sekali sehingga memberi kesan sangat akrab dan keintiman antar keluarga sangat terjaga .

Monogamy hanya ada di masyarakat urban suku mosuo artinya mereka yang melakukan pernikahan dengan sistem monogamy adalah mereka yang sudah terpengaruh oleh kaum urban yang datang ke daerah tersebut. Sementara itu, etnik-etnik Mosuo lainnya masih mempraktekkan pernikahan Axia marriage terutama di daerah Yongning dan danau Lugu. Perkawinan Axia adalah perkawinan yang bersifat bebas tanpa ikatan. Kaum lelaki Mosuo menyebut para perempuan mereka Axia yang berarti : teman intim dan para perempuan menyebut kaum lelaki atau kekasih sebagai Azhu. Mereka tidak terikat dengan perkawinan seperti pasangan-pasangan di belahan bumi manapun, namun mereka tetap tinggal di rumah sendiri dan biasanya di rumah ibu mereka, sepanjang hayat. Setiap gadis yang sudah dianggap akil balig biasanya mempunyai seorang Azhu. Mereka mempunyai kamar tersendiri dimana sang kekasih bisa berkunjung setiap saat. Kunjungan rahasia ini dilakukan saat malam hari. Dan keesokan harinya di pagi yang masih buta sang kekasih harus meninggalkan rumah sang gadis. Jika seorang gadis sudah mulai bosan dan tidak ingin melanjutkan hubungan dengan kekasihnya, sebagai tanda penolakan, dia akan menutup pintu kamarnya atau pintu jendela, dan kekasihnya begitu tahu si gadis menutup pintu, akan berhenti mengunjunginya.

Di sini tidak ada ikatan apapun, semua bebas merdeka. Hubungan lebih bersifat mutual dan kasih sayang, keinginan atau hasrat seorang perempuan sangat dihormati. Jika hasil dari cohabitation ini menghasilkan anak, maka anak tersebut akan menjadi milik keluarga sang ibu dan mewarisi nama keluarga si ibu. Anak ini dibesarkan dan di asuh oleh keluarga besar si gadis dan tidak diperkenalkan dengan ayah kandungnya sampai menjelang upacara akil baliq. Upacara akil balig seorang gadis dilangsungkan ketika seorang anak mencapai usia 13 tahun , dan ritual ini dilakukan saat tahun baru. Di hari yang istimewa ini sang gadis diberi pakaian nan indah dan dihias secantik mungkin, dan juga dihiasi perhiasan-perhiasan tradisional. Upacara ini menandai bahwa seorang gadis sudah dewasa. Dengan kata lain, sang gadis sudah boleh memiliki seorang Azhu atau kekasih. Sebanyak yang dia inginkan...bebas memilih tanpa bebas moral apapun. Tradisi kuno masyarakat matriakhal di China ini, sangat menarik bagi kaum wisatawan asing, karena dianggap unik dan langka. Terlebih adat istiadat yang menyangkut hubungan antara lelaki dan perempuan Mosuo yang dianggap sangat promiscious, Khususnya bagian dimana para perempuan Mosuo bebas memilih pasangan dan berganti-ganti pasangan seksual, ironisnya daya tarik inilah yang sering disalah gunakan para turis yang ingin mencoba-coba to experience its apparent promiscuity. Suku mosuo dipercaya sudah tinggal di perbatasan Tibet ini mampu menjaga adat istiadat turun temurun selama ribuan tahun. Ketika sebagian besar masyarakat di China menyia-siakan anak perempuan, Mosuo menempatkan perempuan di kursi tertinggi.

Di China yang berlaku pomeo "it is better to have a dog than a daughter", dan dimana perempuan diperlakukan sebagai masyarakt kelas dua, di Mosuo berlaku sebaliknya. Bahkan mereka bisa berganti-ganti pasangan setiap malam. Dan this is a palce where women rule the world. Seorang perempuan Mosuo bebas menentukan apakah pasangannya akan langgeng selamanya,atau hanya beberapa tahun, atau beberapa bulan, atau juga hanya beberapa hari atau bahkan hanya semalam saja. Ketika seorang gadis sudah menjalani upacara akil balik, dia akan diberikan sebuah kamar terpisah. Dan ketika malam telah turun, dia akan siap menerima kunjungan sang kekasih, Dulu dengan bahasa isyarat seperti 'meremas' khusus salah satu jari-jari di permukaan tangan menunjukkan bahwa lelaki tersebut boleh mengunjungi sang gadis. Kaum lelaki suku ini yang perannya lebih pasive dari perempuan, tugas nya adalah mencari ikan di danau Lugu. Urusan domestik lainnya adalah urusan perempuan. Menurut pengakuan salah seorang nelayan Ai Le Shan Ma 38 tahun, hubungan walking marriage seperti ini mengurangi stress perkawinan. Sehingga perkawinan model walking marriage sangat menguntungkan. Masih menurut pengakuan Shan Ma, dia atau lelaki Mosuo lainnya cukup happy hanya bisa mengunjungi sang 'istri' pada malam hari, dia bisa datang kapan saja sesuai dengan suasana hatinya. Semua bebas tanpa beban. Jika terjadi ketidak cocokan antar pasangan, tiada sakit hati, masing-masing akan mencari pasangan lainnya. Mosuo tidak mengenal istilah zina, anak haram, perawan, janda, rasa cemburu , single mother ataupun monogami. Alasan cukup simple, istilah ini memang tidak ada dan diada-adakan. "Danau Lugu merupakan tanah of free love", tulis seorang explorer Russia Peter Goullart dalam bukunya : Forgotten Kingdom. Ketika sebuah karavan Tibet lewat, di sebuah desa, para perempuan Mosuo secara bisik-bisik mulai menentukan lelaki mana yang akan dipilih untuk menemani malam yang dingin. Ibu dan anak akan menjamu tamu dan menari untuk menghibur tamu. Setelah itu sang matriakh yang dianggap sesepuh akan menyuruh lelaki tersebut untuk memilih perempuan mana yang akan menjadi kekasihnya malam itu.

Dewasa ini, bukan lagi karavan yang di harapkan melainkan para turis. Dan rupanya sensasi inilah yang menarik para wisatwan untuk datang ke Danau Lugu. Semenjak daerah ini menjadi obyek wisata banyak wisatawan China datang ke Mosuo selain menikmati keindahan alam juga berharap bisa dipilih oleh salah stau gadis Mosuo untuk menemani dinginnya malam secara gratis tis. Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri juga kehadiran turis ke Danau Lugu membantu perekonomian masyarakat Mosuo. Seperti daerah-daerah turis lainnya, lambat laun keindahan Danau Lugu tercemar dengan banyaknya turis yang datang, mereka membuang sampah sembarangan. Dan pesona keindahan Danau Lugu semakin pudar dengan arus komersialisasi tempat ini. "By the lake I see piles of plastic bags and beer bottles. I can hardly bear to go home." Demikian menurut pengakuan seorang entertainer dunia Yang Erche Namu. Wanita asli suku Mosuo. Namu seorang bekas model dan seorang entertainer yang berdomosili di Beijing adalah produk Danau Lugu asli. Namu yang memulai karirnya sebagai pemenang kontes nyanyi nasional di China, namanya kemduianberkibar di dunia hiburan dunia, terlebih setelah dia berkarier sebagai model. Namu yang pernah tinggal di berbagai dunia seperti New York, San Fransisco dan Canada saat ini menikah dengan salah seorang diplomat Norwegia. Konon Namu terang-terangan pernah melamar presiden Perancis Nicholas Sarvosky sebelum Nicholas menikah dengan Carla Bruni, dalam bukunya Leaving Mother Lake Namu secara apik dan terkesan lugu, menceritakan secara detail mistik adat istiadat Musuo termasuk upacara akil baliq nya dan saat pertama menantikan sang Azhu, walau kemudian dia menolak Azhu dari lelaki Mosuo, "I don't like them, they smell so bad," alasannya. Karirnya sebagai model, penyanyi dan entertainer dimulai dari desanya di dekat Danau Lugu. Namu dengan kecantikannya yang khas dan eksotik, adalah merupakan sosok yang membuat Mosuo menjadi terkenal dan membuat banyak orang yang penasaran.

Bagaimanapun juga kultur masyarakat Mosuo yang seringkali di cap sebagai tempat dimana para perempuan melakukan free sex dan dianggap legal, faktor ini sering di-high light oleh para operator tourism dan agen wisata untuk menarik para wisatawan khususnya kaum Adam untuk mengunjungi Danau Lugu. Tidak dapat dipungkiri seperti di setiap aspek turisme selalu ada segelintir orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan salah satunya adalah menjadikan sebagai ajang prostitusi, dan Danau Lugu tidak lepas dari masalah ini, walau ironisnya para prostitute tersebut sebenarnya bukan gadis Mosuo asli namun tidak lebih merupakan kaum pendatang yang berlaku seolah-olah mereka adalah gadis Mosuo. Selain masyarakat Mosuo, ada lagi suku minortitas yang mempraktekkan Polyandry, antara lain yaitu suku Nyinba, sebuah suku ber-etnik Tibet dan berlokasi di Barat daya Nepal. Suku Nyinba mempraktekkan fraternal polyandry. Setiap lelaki yang mempunyai saudara laki-laki menikah secara poliandry dengan perempuan yang sama dan walau demikian hubungan antar saudara tidak menjadi terganggu. Konsep cemburu tidak dikenal. Hanya ikatan kebersamaan total dan rela berbagi. Ladog, salah satu komuniti Tibet yang tergolong suku yang makmur, para perempuan umumnya menikah dengan lelaki bersaudara. Walau demikian di Ladog, 34.6% perempuan menikah secara monogamy. Dan sekitar beberapa persen yang menikah dengan beberapa lelaki dalam satu keluarga. Dalam sebuah film dokumenter Tribe, yang mengupas suku ini, mereka mengaku tidak ada rasa cemburu dan selalu mengalah, jika sang adik atau sang kakak tidak dapat giliran dari sang istri. They have no problem with that. Bahkan, tidak jarang seorang perempuan mempunyai tiga suami yang semua nya adalah kakak beradik dari keluarga yang sama. Aneh...??

Disadur dari beberapa sumber, diantaranya :
http://sociologyindex.com/polyandry.htm - http://en.wikipedia.org/wiki/Yang_Erche_Namu - http://www.chinaculture.org/gb/en_curiosity/2004-05/11/content_47041_4.htm

Kamis, 01 April 2010

Melihat HAMKA dalam Tiga Variabel

Oleh : Muhammad Ilham

"Saya seperti Kue Bika .... terpanggang atas dan bawah" (Satire Hamka kala ia didaulat berpidato waktu pengangkatannya jadi Ketua Majelis Ulama Indonesia)

Dalam tradisi ilmu antropologi dan sosiologi dikenal adanya pendekatan approach model (model penghampiran), menghampiri seorang tokoh dalam konteks "kehadirannya". Bila hal ini dilakukan terhadap figur seorang Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), maka pertanyaan yang mengemuka adalah : "Seandainya HAMKA bukan anak Dr.H. Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul, apakah ia bisakita pahami seperti sekarang ini?". Mengutip David Learner yang memperkenalkan pendekatan ini, maka asumsi dasarnya tidak hanya terbatas pada terdapatnya hubungan genealogis antara anak dan ayah yang memiliki pengaruh tertentu terhadap perkembangan seseorang. Paling tidak, dari "garis keturunan" ayahnya, maka HAMKA berasal dari keturunan "menengah". Konsep "menengah" tidak dipahami sebagai suatu keluarga atau masyarakat yang berasal dari strata sosial ekonomi (sebagaimana halnya yang dipahami dalam sosiologi sebagai sektor primer), tapi untuk kasus HAMKA lebih kepada sektor "jasa" (tertier), dalam hal ini kelas "menengah" yang dipahami dari "jasa" intelektual, edukasi dan dakwah. Dengan demikian, maka HAMKA agak berbeda dengan anak-anak yang lahir pada waktu itu. Lingkungan HAMKA kala ia lahir dan tumbuh berkembang memungkinkan ia untuk memaksimalkannya secara kreatif dan optimal. Perkembangan inilah yang kemudian menuntun perkembangan pribadinya hingga tua. "Faktor Anak" dari Inyiak Rasul merupakan variabel penting lainnya dalam kehidupan HAMKA. Sang ayah, Inyiak Rasul, merupakan sistem lingkungan dimana sang Ayah menjadi faktor pembentuk lingkungan tertentu yang sangat mempengaruhi kesadaran intelektual HAMKA dan masyarakat sekitarnya, sebagaimana yang ditulis HAMKA dalam bukunya yang "unik-fenomenal", Ayahku. Kehadiran Inyiak Rasul dalam masyarakat Minangkabau kala itu telah melahirkan dan menstimulus lahirnya dinamika-dinamika tertentu. Konflik-konflik pemikiran "kaum muda-kaum tua" - sebagaimana yang dikatakan oleh Taufik Abdullah dan Deliar Noer - hampir secara keseluruhan dimotori oleh ayah HAMKA.

Dalam situasi dan peran sosial ayahnya seperti inilah, HAMKA dibesarkan. Dan sudah barang tentu, bila Inyiak Rasul menginginkan HAMKA, anaknya, menjadi orang besar pula. Inyiak Rasul menginginkan HAMKA "menghampiri" peran dan status sosialnya. Karena itulah, dalam buku-nya Kenang-Kenangan, HAMKA mendeskripsikan "kegirangan" ayahnya ketika HAMKA lahir. Segera setelah HAMKA lahir dan mendengar tangisan melengking, Inyiak Rasul terkejut dari pembaringan dan serentak berkata : ..... "Sepuluh Tahun!!". Ini kemudian membuat nenek HAMKA bertanya pada Inyiak Rasul, "Apa maksud 10 tahun itu guru mengaji ?" (nampaknya, mertua Inyiak Rasul, orang tua dari ibu HAMKA memanggil Inyiak Rasul dengan "guru-mengaji", bukan ananda atau Angku - panggilan "guru mengaji" merupakan panggilan penghormatan yang beraurakan profesional). Inyiak Rasul menjawab bahwa HAMKA dalam umur 10 tahun diharapkan dapat belajar di Mekkah. Mekkah kala itu menjadi "kiblat" prestisius pencerahan intelektual, khususnya bagi orang Minangkabau. Harapan ini dikemukakan oleh Inyiak Rasul agar HAMKA dapat mengikuti jejak intelektual "leluhurnya" yang dikenal alim. Dan memang, meskipun HAMKA dalam usia 10 tahun tak belajar di Mekkah, tapi oleh ayahnya, HAMKA di "godok" di Madrasah Thawalib", suatu institusi dan sistem pendidikan yang tersohor kala itu di Nusantara (bahkan Asia Tenggara). Madrasah Thawalib merupakan eksperimen terbaik dari Inyiak Rasul.

Apabila situasi sang ayah merupakan salah satu faktor dalam membentuk perkembangan intelektual HAMKA, maka faktor lainnya adalah lembaga asimilasi "adat-Islam". Lembaga ini mempercepat atau meletakkan dasar-dasar situasional bagi HAMKA untuk berkembang. Islam yang datang dari Aceh ke Minangkabau (via-Ulakan), tidaklah menghapus adat istiadat yang telah berkembang sebelumnya. Bahkan menurut HAMKA (termasuk Tan Malaka), adat Minangkabau yang disusun oleh Islam atau dipakai oleh Islam untuk melancarkan kehendaknya, mengatur masyarakat Minangkabau dengan alat yang telah tersedia padanya. Termasuk didalamnya mekanisme pengaturan harta pusaka suku yang turun temurun menurut jalur keibuan (matriarkal). Oleh karena itu, HAMKA menilai bahwa Islam di Minangkabau bukanlah tempelan dalam adat, melainkan suatu susunan Islam yang dibuat menurut pandangan Minangkabau. Dalam situasi "adat-Islam" yang telah terasimilasikan dalam bentuknya yang sedemikian rupa-lah yang menyebabkan proses sosialisasi nilai-nilai Islam berjalan lancar kedalam diri HAMKA. Sebab, disamping masyarakat telah bertingkah laku sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam, juga dalam masyarakat semacam itulah akan tumbuh berkembangnya dengan potensial lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam jumlah yang sangat besar menjadi sesuatu hal yang tidak mustahil. Peran sosial serta harapan ayah HAMKA terhadap dirinya diperkuat dengan situasi kemasyarakatan semacam itu.

Namun, dalam konteks pendekatan "penghampiran", maka dua variabel tersebut diatas belum cukup melahirkan seorang HAMKA. Faktor-faktor lain juga harus diperhitungkan. Sebagaimana Rudolf Mrazek dan Harry Poetsze memperhatikan faktor determinisme geografis dan kampung halaman lahirnya Tan Malaka dalam membentuk kepribadian Tan Malaka, maka situasi kampung halaman tempat dimana HAMKA dilahirkan juga menjadi variabel yang cukup berpengaruh. Hal ini terefleksi dalam buku Kenang-Kenangan Jilid I. HAMKA, dalam buku ini, mengakui betapa kampung halamannya mempengaruhi pembentukan pribadinya. HAMKA yang anak ulama besarini dilahirkan di tepi danau Maninjau, di Tanah Sirah Sungai Batang. Alam yang indah, sejuk dan inspiratif ini memberikan dan merangsang daya imaginasi seorang HAMKA. HAMKA menulis : "Tidak mengapa ! anak itu pun duduk dengan sabarnya memandang danau, memandang biduk, memandang awan, memandang sawah yang baru dibajak di seberang lubuk dihadapan rumahnya, mendengar kicau murai, kokok ayam berderai". "Anak" dalam penceritaan diatas tak lain tak bukan adalah personifikasi HAMKA sendiri, ketika mengalami kesendirian ditinggal pengasuhnya, sementara neneknya (yang biasa dipanggilnya dengan "anduang") pergi ke sawah, sedangkan ayah HAMKA (Inyiak Rasul) dan ibunya ada di Padang Panjang, memenuhi permintaan masyarakat untuk mengajar disana. Ketiga variabel diataslah yang mempengaruhi perkembangan intelektual dan daya imaginasi serta kepribadian HAMKA. Untuk "menghampiri" ketokohan HAMKA, variabel-variable ini harus dilihat sebagai sesuatu yang saling berinteraksi dan memperkuat satu sama lain. Dan HAMKA berada "ditengah-tengahnya". Peran sosial dan harapan Inyiak Rasul bertemu dengan lingkungan ke-Islaman yang telah melembaga dan terintegrasi dalam masyarakat. Sementara lingkungan alam memberikan kontribusi menumbuhkembangkan daya imaginasinya serta memperkuat daya kreasi dan penerimaannya terhadap peran sosial ayahnya yang ulama besar itu.

Pahlawan dan Kepahlawanan

Oleh : Muhammad Ilham

Setiap pemberontakan, apabila sudah ada komitmen untuk bersatu, apapun latar belakangnya, dianggap subversif. Itu diktum yang sudah menjadi hukum dalam dunia politik. Mengapa Kahar Muzakkar memberontak ? J. Soumokil melawan, Dewan Banteng karengkang, Buya Daud Beureuh marah pada Soekarno yang dianggapnya munafik, Hasan Tiro dan Ahmad Zaini serta Malik Mahmud mendirikan GAM dan masuk hutan Aceh dan lari ke Swedia dan seterusnya, Natsir serta Syafruddin Prawiranegara dan Soemitro Djojohadikusumo masuk dalam lingkaran “PRRI” dan seterusnya? Justifikasi historis tak diperlukan. Dalam dunia politik, mereka pemberontak. Kita tidak tahu, kapan gelar pahlawan akan diberikan kepada mereka. Mungkin nanti atau tidak sama sekali. Padahal, ada alasan-alasan “rasional” untuk setidaknya kita bisa memahami latar belakang mengapa mereka berseberangan dengan pemegang tampuk politik masanya. Mungkin “ketidakpuasan” atau alasan koreksi terhadap kebijakan pusat yang tak adil.

Tapi sudahlah, jelang 17 Agustus selalu ada Pahlawan-Pahlawan baru dalam “belantara politik Indonesia”. 10 November menjadi hari “keramat” untuk para Pahlawan. Selalu ada pahlawan yang “datang”, walaupun terkadang pahlawan itu (di)muncul(kan) belakangan. Benarkah kita butuh Pahlawan ? Tokoh-tokoh yang termasyhur, para pemimpin rakyat dan komandan pasukan ? Jika masa lampau dengan label kepahlawanan macam itu yang akan kita kenang, barangkali sejarah kita cukup selesai dengan serangkaian hidup orang-orang besar. Bukan itu sebenarnya yang kita butuhkan. Pahlawan adalah domain politik. Sejarah tidak pernah satu kalipun memberikan label pahlawan. Sejarah hanya mengenal “aktor sejarah”. Aktor-aktor tersebutlah, pada prinsipnya yang akan memberikan “warna” sejarah. Warna yang diterima pada masanya, tapi kemudian ditolak pada masa generasi setelah ia lewat. Dan mungkin, warna itu diterima secara bergairah kembali dua atau tiga generasi berikutnya. Pahlawan bukan malaikat. Pahlawan adalah manusia. Hidupnya dipenuhi dengan perspektif. Suatu perspektif tidak akan pernah diterima secara bulat-menyeluruh. Ia terikat dengan zaman. Karena itu, terkadang kita tidak adil melihat seorang anak manusia dari perspektif kita atau “kekinian”. Parahnya lagi, tanpa menggunakan parameter yang jelas. Siapa yang bisa menjamin Sukarno adalah manusia yang sempurna, apalagi dilihat dari perspektif sekarang.

Mengapa kita marah-bergejolak ketika ada yang “menggugat” kepahlawanan Imam Bonjol ? Siapa yang meragukan dedikasi total Tan Malaka terhadap Indonesia, walaupun oleh Rudolf Mrazek dan Poetze, sang putra Pandan Gadang Suliki ini dianggap pernah berusaha “mengkudeta” supremasi ketokohan Sukarno-Hatta. Siapa yang tidak kenal DN. Aidit ? Dipa Nusantara Aidit atau Danu Nusantara Aidit atau Dja’far Nawawi Aidit atau apalah namanya. Bersama-sama dengan “teman-teman mudanya”, seperti Soekarni dan Chairul Saleh, anak muda kelahiran Bangka Belitung dari ayah yang merupakan keturunan Maninjau ini, menculik Sukarno Hatta dan “memaksa” Dwi Tunggal ini memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Melalui biduk “ideologi komunis” beliau mengaktualisasikan potensi politiknya. Dalam usia yang relatif “hijau”, 27 tahun, ia mengambil alih kepemimpinan PKI dari Muso. Bersama dia, ada Lukman yang 30 tahun, Sudisman 31 tahun dan Nyoto 25 tahun. Dalam bukunya Indonesian Communism under Soekarno, Rex Mortimer mengatakan bahwa Aidit adalah figur yang menjunjung idealismenya, dan “miskin” dengan bumbu-bumbu politik seperti yang familiar terjadi pada sat sekarang yaitu uang dan seks. Sejarah menunjukkan bahwa Aidit kemudian “terjerambab” dalam kesalahan pilihan ideologis. Kemudian, ia bukan pahlawan. Kemudian ia terhina. Kemudian ia seakan-akan bukan bahagian dari “kita”. Ini bukan profokatif dan saya tak memiliki kepentingan politis apapun terhadap Aidit dan “anak cucu” ideologisnya. Saya pun tak memiliki referensi yang bisa meyakinkan saya untuk kagum pada Aidit. Tapi setidaknya, itulah yang namanya ketidakdilan sejarah (baca: sejarah versi pemegang kekuasaan).

Coba lihat ending film The Lion of Desert, film biografi kepahlawanan Ahmad Mochtar (yang ini pahlawan Libya melawan Italia yang dibintangi Antony Quinn), dengan senyuman bahkan sempat bercanda dengan seorang anak kecil, dengan kepala tegak penuh martabat, Ahmad Mochtar menuju tiang gantungan yang telah dipersiapkan oleh Italia di bawah hegemoni politik sang megalomaniac “Benneditto Mussolini”. Diantara euforia pimpinan militer Italia menyaksikan kematian tragis musuh bebuyutan mereka tersebut, ada seorang elit militer Italia kala itu terpana-terpukau dan berlinangan air matanya melihat Ahmad Mochtar “kembali ke haribaan Tuhan”. Bukan kematian tragisnya yang membuat sang tentara menangis, tapi keyakinan dan idealisme Ahmad Mochtar-lah yang dikaguminya. Dalam keadaan yang bisa “menjilat”, beliau justru “pergi” karena membela keyakinannya. Karena itu, kepemimpinan dan figur yang baik itu bukan ditentukan atau dinilai dari keberanian bertindak. Kepemimpinan yang baik terjadi ketika sebuah tindakan merupakan bagian dari hidup yang utuh yang mengaktualisasikan diri …. Good leadership concist of doing less being more, setidaknya demikian nasehat Ahlan Ahmad Sahlan (diplomat Dinasti Abbasiyah yang diperankan oleh Antonio Banderas) dalam film The 13th Centuries Warrior.

Rasanya, tokoh-tokoh diatas dan begitu banyak aktor-aktor sejarah Indonesia lainnya adalah orang yang memiliki integritas. Integritas itulah yang pahlawan, bukan “haru biru” peperangan. Dari integritas itulah generasi berikutnya mampu mendapatkan “pelajaran berarti” agar yang namanya Pahlawan tersebut memiliki makna. Natsir, dan Datuk Batuah dan lain-lain adalah orang-orang yang pantas dan harus kita hormati dan hargai bukan karena mereka tidak dijadikan Pahlawan versi pemerintah sebagaimana kita juga kita menghormati Muhammad Hatta, Agus Salim dan lain-lain bukan karena gelar pahlawan mereka. Integritas dan totalitas perjuangan mereka yang memang akan terus kita kagumi. Karena itulah warisan paling berharga dari mereka. Sudah sepantasnya kita memandang putra-putra terbaik sejarah Indonesia dengan cara itu. Karena nilai-nilai substantif dari kepahlawanan itu bukan dari tampilan heroisme ataupun kepiluan episode pengorbanan hidupnya, akan tetapi pada kekuatannya untuk mempertahankan nilai-nilai integritasnya Sebuah catatan akhir, Tao - sang filsuf Cina Klasik mengatakan : “Seorang pemimpin yang baik adalah ibarat sebuah danau. Dia tak lasak seperti sungai di gunung, tapi tak dalam. Dia tak berada di puncak yang tinggi, tapi menampung. Dia tahu bahwa sumber airnya adalah air yang datang dari jauh di pedalaman, sebuah telaga tak bermula dari air yang tergenang setelah kebetulan hujan”.

(Artikel ini pernah diterbitkan di Padang Ekspres, 11 Nopember 2009)