Rabu, 11 Mei 2011

Sejarah yang Eksklusif

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Secara tidak sadar sejarawan telah membangun sejarahnya sendiri. Sejarah untuk sejarawan. Kenapa? Karena sejarah ditulis bukan untuk masyarakat awam yang ingin mengetahui dan mengerti masalalunya, namun sejarah ditujukan untuk kepentingan penguasa, kepentingan politik dan para penikmat sejarah [akademik]. Sebagai contoh, dalam pembabakan historiografi Indonesia yang dipaparkan oleh Nina Lubis dalam bukunya Historiografi Indonesia dan Permasalahannya bahwa ada 4 babak dalam penulisan sejarah di Indonesia, (1) zaman Tradisional, sifat historiografi Indonesia bersifat istanacentris (2) zaman Kolonial, Historiografi Indonesia bersifat Eropacentris (3) pada zaman pergerakan-kemerdekaan, Historiografi Indonesia bersifat nasionalis (4) dan pada zaman modern yang dimulai pada tahun 1957, historiografi Indonesia berkembang akibat ditemukannya metode dan metodologi sejarah baru yang mengakibatkan focus historiografi Indonesia semakin meluas, namun tetap terpenjara oleh sejarah orang-orang besar dan politik. Dalam babakan zaman ini, tidak terlihat sejarah orang kebanyakan seperti yang disebutkan oleh Bambang Purwanto. Jarang sekali bahkan tidak ada ditemukannya buku-buku yang membahas tentang anak-anak, remaja, perempuan pada masa colonial maupun pada zaman kemerdekaan. Keberadaan mereka dianggab tidak laku dalam nilai ekonomi. Alhasil, kakulah persejarahan di Indonesia, secara tidak sadar sejarah menjadi ‘eksklusive’, sejarah hanya diminati oleh orang-orang tertentu saja.

Sejarah menjadi milik mereka yang menganggap penting sejarah tanpa menularkan pentingnya sejarah, sejarah menjadi milik mereka yang pernah menyentuh masa penjajahan dan perang kemerdekaan, sejarah menjadi milik penguasa untuk legitimasi kekuasaan, sejarah menjadi alat kepentingan politik dan sejarah tentunya milik sejarawan sebagai penulisnya. Ahirnya, seharusnya sejarah milik siapa? Bagaimana dengan mereka yang bukan jurusan sejarah?, bagaimana dengan mereka yang masih anak-anak, remaja? Patutkah kita mempersalahkan mereka dengan ‘ketidaktahuan’ mereka akan sejarahnya? Dengan tawaran metode dan metodologi yang beragam sekarang ini, saatnya sifat eksklusive sejarah menjadi inklusive. Cerita masa lalu harusnya milik semua orang baik secara isi, bahasa maupun tujuan. Artinya sejarah bukan milik penguasa, politik, akademisi, penikmat sejarah lagi, tetapi sejarah milik segenap lapisan masyarakat dengan tawaran bahasa yang mudah dimegerti dan tentu saja dengan topik-topik yang berkaitan dengan ‘orang kebanyakan’. Sehingga tidak menutup kemungkinan jika dimasa yang akan datang akan ada specialisasi sejarah anak-anak dan spesialisasi yang lain-lain.

(c) Iska Purba. Artikel ini menjadi basis dari diskusi di FB Muhammad ilham via Inbox (33 komentar di Inbox). Tidak dipublish.

Memikir Ulang Regionalisme : Kisah Tragis Gerakan Desentralisasi di Sumatera Barat

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Sejak bergulirnya reformasi yang dimulai tahun 1998, kata ”regionalisme” dan ”reformasi” mengalami peluberan makna serta membanjiri wacana sosial-politik Indonesia. Saking populernya, di sebuah warung tenda di Jakarta saya pernah menikmati sajian ”Nasi Goreng Reformasi”. Ini sangat kontras dengan zaman Orde Baru (1967-1998) di mana kata ”otonomi daerah”, ”desentralisasi”, dan ”reformasi” sangat langka terdengar dan tabu diucapkan. Mereka yang coba-coba menyosialisasikannya dalam wacana publik bisa mendapat bahaya. Kata-kata itu mungkin termasuk lema-lema yang ditulis dengan tinta merah dalam kamus politik Indonesia pada waktu itu. Eforia reformasi dan regionalisme itu tampaknya juga melanda dunia akademik kita. Banyak kajian mengenai efek regionalisasi politik Indonesia yang sudah dihasilkan, baik oleh peneliti dalam negeri maupun asing. Fokusnya sering mengenai signifikansi sosio-politik dan ekonomi desentralisasi politik Indonesia pasca-Orde Baru atau penyebab kegagalan reformasi Indonesia. Sayangnya, publikasi kontemporer yang membahas regionalisme dan desentralisasi di Indonesia dari perspektif historis agak jarang ditemukan. Ini dapat dipahami karena kekuasaan rezim Soekarno dan rezim Soeharto yang merentang selama 40 tahun lebih telah membuat masyarakat Indonesia, termasuk komunitas kampus, cuai pada wacana dan kata desentralisasi beserta seluruh cognate-nya. Karya Gusti Asnan ini mengisi kelangkaan studi historis mengenai regionalisme dan desentralisasi politik Indonesia. Lingkup buku ini adalah dinamika politik Sumatera Barat pada dasawarsa 1950-an. Menurut Gusti Asnan, selama ini belum ada kajian historis yang komprehensif menyangkut Sumatera Barat pada periode 1950-an, padahal dekade ini ”dapat dikatakan sebagai salah satu episode yang paling dinamis dalam perjalanan sejarah Sumatera Barat” (hal xx).

Kajian-kajian sebelumnya lebih sering memberikan penekanan pada peristiwa PRRI yang telah menimbulkan stigma berkepanjangan dalam diri masyarakat Minangkabau. Didahului gambaran umum mengenai geopolitik Sumatera Barat sebelum tahun 1950, buku ini menyorot dinamika sosio-politik Sumatera Tengah—yang kemudian merucut menjadi Sumatera Barat—sepanjang dekade 1950-an dan dampaknya pada tahun 1960-an. Secara umum pembahasan Gusti Asnan—dosen Jurusan Sejarah Universitas Andalas dan doktor lulusan Universität Bremen, Jerman—dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama membicarakan Sumatera Barat antara 1950-1956, yang membahas berbagai respons politis masyarakat Minangkabau menyusul terbentuknya Republik Indonesia Serikat tahun 1949. Bagian kedua membicarakan dua aspek penting sebagai hubungan sebab-akibat yang terjadi sepanjang periode 1956-1958 di Sumatera Tengah, yaitu munculnya ide desentralisasi dan demokrasi akibat praktik politik rezim Soekarno yang semakin sentralistis yang akhirnya bermuara pada meletusnya ”Pemberontakan” PRRI tahun 1958. Bagian ketiga membicarakan perubahan sosial-politik Sumatera Tengah pasca-”Pemberontakan” PRRI: pembentukan Provinsi Sumatera Barat akibat pemekaran Provinsi Sumatera Tengah sebagai cerminan konsolidasi politik pemerintah pusat serta menguatnya peran militer di segala lini dalam administrasi pemerintahan di daerah ini. Provinsi ”pembangkang” Nama Sumatera Barat adalah terjemahan dari istilah yang diberikan VOC, Sumatra’s Westkust.

Selama kekuasaan kolonialis Belanda, wilayah administratif Sumatra’s Westkust berubah-ubah, sebagai respons terhadap dinamika sosial politik daerah ini. Mayoritas etnis Minangkabau yang mendiami wilayah ini sangat sulit diatur dan sering memberontak kepada Belanda, seperti Perang Paderi (1803-1837), Pemberontakan Pajak (1908), dan Pemberontakan Komunis Silungkang (1927). Ini mungkin terkait dengan karakter budaya etnis Minangkabau yang menganut Islam dan sistem matrilineal serta mempraktikkan sistem geopolitik tradisional yang demokratis yang disebut nagari. Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Sumatera Barat berstatus sebagai salah satu dari 10 karesidenan dalam Provinsi Sumatera (hal 17). Tahun 1948 Provinsi Sumatera dimekarkan menjadi tiga provinsi: Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Karesidenan Sumatera Barat, bersama Riau dan Jambi, menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Tengah dengan gubernur pertamanya M Nasrun. Pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Republik Indonesia tahun 1949 disambut di Sumatera Barat dengan berbagai respons, yang merefleksikan kegelisahan primordial etnik Minangkabau. Partai-partai bermunculan, mengikut perkembangan di pusat (Jakarta). Dewan Banteng, misalnya, merepresentasikan kaum militer. Sementara di kalangan sipil muncul pula kelompok-kelompok politik, seperti kaum penghulu, kaum ulama, kaum perempuan, dan pemuda dan mahasiswa. Pada awalnya, partai-partai dan organisasi sipil yang beragam itu mendukung konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dipimpin dwitunggal Soekarno-Hatta. Namun, memasuki paruh kedua 1950-an muncul sentimen kedaerahan di Sumatera Barat, yang langsung atau tidak dipengaruhi oleh perkembangan politik di tingkat pusat. Yang paling fenomenal adalah Partai Adat Rakyat yang mengusung semangat provinsialis Minangkabau. Belakangan partai yang didukung Kaum Penghulu ini menjadi semakin daerahsentris dan menyokong haluan politik Dewan Banteng yang mulai ”melawan” Soekarno. Klimaks ketidakpatuhan kepada pemerintah pusat adalah meletusnya ”Pemberontakan” PRRI yang dipimpin Ahmad Husein. Soekarno mengirim pasukan ke Sumatera Tengah—yang di kalangan orang Minang terkenal dengan nama ”tantara pusek” (tentara pusat)—untuk memadamkan aksi separatis itu. Gerakan PRRI berhasil dipadamkan secara represif. Banyak korban berjatuhan di kalangan orang Minang dan ”tantara pusek” sendiri.

Inilah lembaran hitam kedua dalam sejarah Minangkabau setelah Perang Paderi (1803-1837). Gusti Asnan berpendapat bahwa Gerakan PRRI memang sebuah aksi makar yang direncanakan dengan matang, yang tujuannya memang ingin membentuk negara dalam negara (hal 192). Ini berbeda dengan pendapat kebanyakan sejarawan Sumatera Barat dan masyarakat Minang pada umumnya, bahwa PRRI adalah gerakan koreksi terhadap pemerintah pusat yang tidak demokratis dan menerapkan kebijakan pembangunan yang terpusat di Jawa (bandingkan misalnya dengan Mestika Zed & Hasril Chaniago. Ahmad Husein: Perlawanan Seorang Pejuang. Jakarta: Sinar Harapan, 2001). Walau bagaimanapun, anomali sejarah Sumatera Barat itu terasa belum mendapat penjelasan tuntas dalam buku ini. Apa sebabnya intelektual Minang yang sejak zaman prakemerdekaan setia mendukung konsep NKRI tiba-tiba berbalik arah pada tahun 1950-an? Apakah misalnya konflik Dwitunggal yang mengakibatkan mundurnya Bung Hatta sebagai wakil presiden tahun 1956 ikut meningkatkan kritisisme warga Sumatera Barat terhadap pemerintah pusat? Hal ini perlu diperhitungkan mengingat Mohammad Hatta adalah ikon Minangkabau di pentas nasional pada masa itu adalah tokoh intelektual yang sangat dihormati masyarakat Minangkabau. Usai ”Pemberontakan” PRRI, Sumatera Barat menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian ekstra pemerintah pusat. Struktur pemerintahan Sumatera Barat—setelah dimekarkan dari Provinsi Sumatera Tengah—sangat kuat dipengaruhi militer. Namun figur-figur politisi sipil tetap berasal dari kalangan orang Minang sendiri, mengingat reputasi etnis ini dalam bidang intelektual dan pendidikan ”modern” warisan Belanda (Elizabeth E Graves, 1971).

Belakangan, Orde Baru berhasil ”menjinakkan” Sumatera Barat. Selama masa Orde Baru, Partai Golkar sering menang telak di provinsi yang diberi label ”pembangkang” oleh pemerintahan Presiden Soekarno ini (hal 244). Historiografi Indonesia Buku ini adalah salah satu karya sejarah yang cukup lengkap yang mencoba melihat sejarah Indonesia sebagaimana dilihat orang daerah. Dengan memberikan gambaran menyeluruh mengenai dinamika sosial-politik Sumatera Barat sepanjang dasawarsa 1950-an, buku ini berhasil mengungkapkan berbagai pemikiran warga Sumatera Barat yang melihat diri dan posisi mereka dalam NKRI yang masih berusia muda. Pendekatan yang dipakai penulis berangkat dari sudut pandang daerah, bukan dari sudut pandang pusat (Jakarta) sebagaimana kecenderungan umum penulisan historiografi Indonesia sampai pertengahan 1980-an. Dengan pendekatan itu, buku ini tidak saja berhasil menggambarkan dinamika hubungan pusat-daerah dalam pengertian Jawa (Jakarta)-Sumatera Tengah (Bukittinggi), tetapi juga dinamika hubungan pusat-daerah dalam konteks regional, yaitu antara Sumatera Barat yang identik dengan etnis Minang dan daerah-daerah lain dalam wilayah Provinsi Sumatera Tengah (Riau, Jambi, dan Kerinci). Pemekaran Provinsi Sumatera Tengah, langsung atau tidak, didorong oleh ketidakpuasan daerah-daerah terhadap kebijakan politik yang disetel dari Padang dan Bukittinggi, selain juga sebagai politik divide et impera pemerintah pusat untuk membonsai dominasi politik etnis Minangkabau yang suka ”memberontak” itu di tingkat regional (hal 219-240). Tanpa berpraduga bahwa penulisnya antidemokrasi, buku ini menyimpulkan bahwa gerakan otonomi daerah yang dilakukan Sumatera Barat pada dekade 1950-an secara umum lebih banyak negatifnya. Gerakan itu dijawab oleh pemerintah pusat dengan menghadirkan lebih banyak unsur militer dalam pemerintahan di daerah ini. Satu-satunya makna positif dari gerakan tersebut adalah penyegeraan realisasi pembentukan Provinsi Riau dan Jambi, serta pembentukan Kabupaten Kerinci (hal 241). Judul buku ini seolah memperingatkan bahwa desentralisasi politik Indonesia yang kini telah dikeluarkan dari kotak pandora menyusul reformasi politik negeri ini harus dijalankan dengan ekstra hati-hati, yang menuntut kedewasaan pemerintah daerah maupun pusat. Jika tidak, anarkisme sosial-politiklah yang akan terjadi, seperti kisah tragis gerakan desentralisasi di Sumatera Barat tahun 1950-an.

ISBN : 978-979-461-640-6
Dimensi : 16 x 24
Jenis Cover : soft cover
Berat Buku : 400
Jenis Kertas : HVS

Sumber : Kompas, Minggu, 2 Maret 2008. (c)Suryadi Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië, Universiteit Leiden, Belanda

Senin, 09 Mei 2011

Tan Malaka Memikirkan Indonesia (1)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Bila revolusi dalam sejarahnya dikatakan acapkali “memakan anaknya sendiri”, maka itu ungkapan, mengena benar untuk Tan Malaka. Sosok yang rekam jejaknya nyata, ada, namun kemudian seakan memitos karena dihilangkan/ditiadakan dalam sejarah pembentukan dan perkembangan republik ini. Setelah masa reformasi sosoknya mengemuka kembali. Ada yang masih mengidentikannya sebagai seorang komunis –dipahami awam sebagai negatif; bahkan sebaliknya, ia dikultuskan melalui berbagai ekspresi budaya pop berupa kaus, pin, dan pamflet (mungkin bisa saja kelak nyaris senasib dengan si ikon revolusi dari Amerika Latin, Ernesto ‘Che’ Guevara). Pada masa kolonial Belanda, Tan Malaka dikenal sebagai pedagog, pemikir, hingga petualang politik yang menjadi ancaman serius bagi politik kolonialisme. Tan pun diburu oleh agen-agen spionase di dalam dan luar negeri. Dan hingga selepas masa revolusi, sekalipun Tan telah tiada, jati dirinya malah tenggelam (baca juga: ditenggelamkan) dalam masa pemerintahan Orde Lama (Orla) hingga Orde Baru (Orba). Fakta-fakta seputar avonturisasi pemikiran dan politiknya sejak masa pergerakan nasional hingga masa revolusi menguap dalam buku-buku pelajaran sejarah. Wajar, nama Tan Malaka pun menjadi tabu dibaca apalagi untuk lebih diketahui.

Selibat pengalaman pribadi yang pernah bersentuhan dengan dunia penyuntingan naskah-naskah pelajaran sejarah, hanya sedikit saja nama Tan Malaka didapati dalam materi pergerakan nasional Indonesia; itupun paling hanya di seputar hubungannya dengan ISDV, PKI, dan peristiwa pemberontakan 1926. Pada materi pendudukan Jepang hingga kemerdekaan, namanya langka/nyaris tak banyak ditemukan. Padahal hingga 1949 (tahun Tan dieksekusi), perannya dalam upaya menggapai kemerdekaan hingga jejaknya dalam masa revolusi sangatlah penting. Hingga masa reformasi pun tabu itu masih hidup. Buktinya saja warta belakangan ini seputar pelarangan Opera Tan Malaka yang diputar di stasiun televisi lokal (di Batu, Kediri, dan Sumenep) yang mana “disarankan” untuk tidak ditonton. Agaknya alasan klise : Tan komunis. Premisnya, jika ia dibaca dan ditonton, dicemaskan ideologi kiri itu kembali berkembang di Indonesia. Kenyataan yang sebetulnya kontras dengan pemikiran anti-dogmatis Tan terhadap ideologi apapun itu. Pemikirannya inilah yang menjadi asas ideal Tan mengonsepsi kebangsaan Indonesia sebagaimana terbaca dalam karya-karyanya. Wajar jika Muhammad Yamin (1990) menjulukinya sebagai : “Bapak Republik Indonesia”.

Nama Ibrahim Datuk Tan Malaka atau Tan Malaka memang tertelan oleh kebesaran nama seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir yang lebih dikenal sebagai founding fathers republik ini. Tan yang terlahir di Minangkabau – sebagaimana dikatakan sahabatnya Djamaludin Tamin – pada Juni 1897, dari segi usia lebih tua dari Soekarno (lahir 1901), Hatta (1902), dan Sjahrir (1909). Begitupun dengan kiprahnya berorganisasi dan kisah petualangan politiknya malang-melintang di dalam dan –lebih banyak dihabiskan– di luar negeri itu, membuat kisah Tan lebih menarik perhatian Hasbullah Parindurie untuk menuangkannya dalam cerita bersambung bertajuk Spionnage Dienst dalam surat kabar Pewarta Deli sepanjang Juli – September 1934. Cerita bersambung itu pun dibukukan dalam tajuk Patjar Merah Indonesia; novel yang berkisah kehidupan (setengah) nyata Tan di Thailand, Singapura, Kamboja, dan Hongkong sepanjang 1930 – 1932. Sebegitu rawannya jika bersentuhan dengan Tan termasuk membaca tulisan-tulisannya yang agitatif, membuat Hasbullah mesti menyamarkan nama Tan Malaka dengan nama-nama Vichitra, Tan Min Kha, dan Patjar Merah. Hasbullah sendiri membuat pseudonim untuk dirinya selaku penulis novel tersebut dengan nama Matu Mona. Meski Soekarno, Hatta, dan Sjahrir sama-sama merasakan dibui dan menjadi eksil karena terjerat hukum politik pemerintah kolonial Belanda, perjuangan politik Tan memang paling dramatik. Sebagai avonturir di Hindia dan mancanegara, ia merasakan hidup dari penjara ke penjara. Itulah yang membuat Hasbullah terpikat meromankan perjuangan politik Tan.

Sebagai seorang Minang, Tan kecil hidup dalam dan ditanamkan nilai-nilai tradisi Islam yang kuat. Selepas menamatkan Kweekschool pada 1913, kemudian ia melanjutkan studinya ke Haarlem, Belanda. Di Belanda itulah Tan mulai mengenal dunia politik (baca: sosialisme). Sekembalinya ke Hindia pada 1919, ia mulai menerapkan pengetahuan politiknya untuk menghadapi Pemerintah Kolonial Belanda. Tan mulai menapaki dunia politik di Hindia. Diskusi-diskusinya dengan Semaun (wakil ketua Indische Sociaal Democratische Vereeniging) seputar pergerakan revolusioner menginspirasinya untuk melawan kolonialisme di Hindia Belanda. Cara yang dilakukannya adalah mengorganisasi para pemuda, memberi pendidikan politik bagi anggota Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Islam (SI). Pendidikan lebih diutamakan Tan ketimbang bernafsu mengumpulkan massa, sebagaimana dikatakannya dalam Dari Pendara ke Pendara (jilid I, 2000), bahwa : “mengajari anak-anak Indonesia saya anggap pekerjaan tersuci dan terpenting.” Pergerakannya di ranah pendidikan dilakoninya sejak menjadi guru bagi anak-anak buruh di perkebunan teh Belanda di Deli, lalu diteruskan pada 1921 dengan mendidik anak-anak anggota SI di Semarang. Pendidikan bagi Tan adalah pemberi jalan bagi para muridnya untuk mendapatkan : pekerjaan di lingkungan kapitalisme, kebebasan mendirikan perkumpulan-perkumpulan, dan perbaikan nasib hidup. Tan memandang pendidikan sebagai jalan bagi kemerdekaan jiwa-jiwa orang Indonesia untuk menggapai kemerdekaan bangsanya. Hal menarik dari Tan adalah tidak taklidnya ia terhadap nilai suatu ideologi tertentu sebagai sarananya untuk menggapai kemerdekaan yang dicita-citakannya. Gelagat mental dan pemikirannya boleh dikatakan terbangun dari alam pikiran akan nilai dan tradisi Islam masa kecilnya. Maka itu, menginjak usia 50 tahun dengan pengetahuan isi kepalanya yang makin memejal, pandangan kritis Tan atas ideologi perjuangannya tersirat dalam Islam dalam Tinjauan Madilog (2000 [1948]).

Menjadi realistis jika membaca pandangan Tan atas Pan-Islamisme yang menyeruak di dunia Islam yang menurutnya suatu kesempatan untuk dikolaborasikan dengan komunisme melawan kezaliman dan kelaliman kolonialisme. Hanya saja, pandangannya acap tak sejalan dengan rekan-rekan komunisnya. Tak heran jika dalam sebuah tulisannya, Alfian (1977) menajukinya Tan Malaka Pejuang Revolusioner yang Kesepian. Meski lebih sebagai seorang berwatak soliter, aktivitasnya yang berupaya menggabungkan komunis dengan Islam tetap menjadi ancaman serius bagi pemerintah Hindia Belanda yang lalu menangkap dan mengasingkannya ke Belanda pada 1922. Sejak itulah petualangan politik Tan dimulai di Eropa. Kecakapan Tan berideologi dan berpolitik teruji dengan nyarisnya ia menjadi calon kuat anggota parlemen Partai Komunis Belanda. Tan bahkan juga ditunjuk sebagai wakil Komunis Internasional (Komintern) untuk kawasan Asia Timur. Sejak 1923 – 1925 Tan berpindah ke Kanton dan di sana ia menuntaskan bukunya Naar Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia, 1924). Posisinya yang penting di Komintern dimanfaatkan benar oleh Tan dalam kongres Komunis Internasional untuk memberikan advis bagi para peserta kongres akan pentingnya kerjasama komunisme dengan Islam dalam menghadapi kapitalisme kolonial. Meski mendapat aplaus meriah, namun gagasannya tak didukung kongres. Sama halnya dengan reaksi rekan-rekan komunisnya di Indonesia tatkala Tan tidak sejalan dengan rencana gerakan tahun 1926; tahun yang bertepatan tatkala Tan yang tengah berada di Singapura menulis buku Massa Actie. Dalam perhitungan politik Tan, gerakan itu belumlah memadai jika baru sebatas berlandas pada situasi revolusioner, soliditas kepemimpinan PKI dan massa yang mendukungnya, serta program-program revolusi. Tan mengatakan gerakan itu sebagai tindakan abortif yang diramalkan berbuah kegagalan, sebagaiman dalam Massa Actie (Aksi Massa [2000])-nya dikatakan: “selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan ‘putch’ atau anarkisme, hal itu ‘hanyalah impian seorang yang lagi demam. Dan pengembangan keyakinan itu di antara rakyat merupakan satu perbuatan yang menyesatkan, sengaja atau tidak.”

Maka itu Tan memutuskan hubungan dengan tokoh-tokoh sentral PKI: Sardjono, Musso, dan Alimin yang melalui Keputusan Prambanan merekayasa rencana gerakan. Alhasil, kalkulasi Tan atas gerakan 1926 terbukti sebagai prematur yang hasilnya : “bunuh diri” bagi pergerakan nasional. Pemerintah kolonial dengan mudahnya memadamkan gerakan itu serta menangkap dan menahan para penggiat politik, meskipun nyatanya tidak semua adalah elemen PKI. Tak sedikit yang diasingkan ke Digul. Pun tak sedikit pula yang disiksa dan dibunuh. Kecewa atas kepandiran rencana tokoh-tokoh PKI yang berbuah kelumpuhan seluruh pergerakan nasional, membuat Tan yang ketika Juni 1927 tengah berada di Thailand mendirikan Partai Repoeblik Indonesia (Pari) bersama sahabatnya Djamaluddin Tamin dan Soebakat. Lagi-lagi konsepsi “Repoeblik Indonesia” menyembul, menegaskan kembali gagasan Tan sebagaimana tertera dalam bukunya yang terbit tiga tahun sebelumnya (baca: Naar Republiek Indonesia). Penerawangan Tan atas masa depan Indonesia melalui buah pikirnya ini mendahului para calon pendiri Republik Indonesia yang saat itu masih berpilin di tataran organisasi, belum mengonsepsikan secara terang-terangan istilah “Republiek Indonesia.” Dus, wajar saja Muhammad Yamin (1990) menjulukinya “Bapak Republik Indonesiadan memisalkan Tan tak ubahnya Thomas Jefferson dan George Washington merancang Republik Amerika Serikat atau Andrés Bonafacio dan Jose Rizal meramalkan Philipina sebelum revolusi di negara itu pecah. Selama kurun 1927 – 1942 Tan berpindah-pindah, dari Filipina, Shanghai, Hongkong, Pulau Amoy, Burma, dan Malaysia. Setelah 1942 barulah Tan kembali ke Indonesia dengan sebagian besar hayatnya dihabiskan di Pulau Jawa. Sebagai seorang pelarian politik, Tan juga incognito ulung yang mengoleksi berbagai nama: Elias Fuentes, Estahislu Rivera, Hasan Gozali, Ossario, Oong Soong Lee, Tan Ho Seng, Ramli Hussein, dan Ilyas Hussen; pun dengan beragam profesi (wartawan, guru, hingga kerani). Tan bukan berarti tenang selepas 20 tahun ia meninggalkan Indonesia dengan banyak malang-melintang di dunia politik mancanegara. Kegelisahannya atas nasib perjuangan kemerdekaan Indonesia belum bisa pupus, sebagaimana pemikirannya tertuangkan dalam Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika). Sebuah karya filsafat yang dikerjakannya di sebuah gubuk di Rawajati, Jakarta, terhitung delapan bulan, 720 jam, atau kira-kira tiga jam sehari (15 Juli 1942 – medio tahun 1943).

Sumber : (c) Fadly Rahman/2011. Photo : tempo.com

Tan Malaka Memikirkan Indonesia (2)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Madilog adalah cara berpikir Tan yang menautkan ilmu bukti melalui penyesuaian dengan akar kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan mondial. Tidak sepenuhnya memang Tan menyelisihi filsafat materialisme yang sebatas menganggap materi dan kenyataan menampak (fisikiah) sebagai yang ada dan utama; namun dalam Madilog, Tan menekankan bukti (meliputi budi, kesatuan, pikiran, dan inderawi) sebagai yang utama. Bukti merupakan fakta. Adapun fakta menjadi fondasinya ilmu bukti. Melalui Madilog, Tan bukan cuma memikirkan realita Indonesia pada masa hidupnya. Namun layaknya seorang futuris, ia membenturkan kontemplasi filsafatnya ini untuk masa depan Indonesia. Dan gagasan dalam Madilog-nya menerap dan jalin-menjalin sebagai sebuah pola yang konsisten dan konsekwen (ilmiah dan Indonesia sentris) melalui karya-karya lainnya yang secara holistik memikirkan berbagai permasalahahan Indonesia berikut implementasinya. Maka boleh dibilang pemikirannya tidak lekang dimakan jaman. Avonturisasi politiknya di mancanegara selalu licin. Tapi ironis, di tanah airnya sendiri Tan justru tetap bergerak secara klandestin. Tak banyak diketahui dalam buku-buku pelajaran sejarah bahwa Tan-lah yang menggerakkan massa untuk menggelar rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945. Soekarno mengagumi pemikiran Tan yang banyak menginspirasi perjuangan Revolusi Kemerdekaan.

Dalam salah satu artikel Kisruh Ahli Waris Obor Revolusi yang dimuat Majalah Tempo edisi khusus Tan Malaka (2008), disebutkan begitu kagumnya dengan pemikiran Tan Malaka, Soekarno pernah membuat sebuah testamen ahli waris revolusi untuk Tan jika terjadi sesuatu pada diri Soekarno - Hatta. Ketika masa Revolusi Kemerdekaan, Tan lebih memilih jalannya sendiri membentuk Persatuan Perjuangan (PP) pada 1 Januari 1946 untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan sekutu. Namun niatnya disalahartikan sebagai sebentuk jalan mengkudeta Soekarno – Hatta. Tan dibui, berpindah-pindah di penjara Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga lepas pada September 1948 sejalan dengan tuntasnya naskah Dari Pendjara ke Pendjara yang ia tulis. Sebagai responsnya atas situasi politik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati (1947) dan Renville (1948), Tan merintis Partai Murba pada November 1948. Tan –lagi-lagi– dituding mengkudeta pemerintah. Pada 21 Februari 1949 akhirnya Tan tewas di tangan orang sebangsanya sendiri dan di tanah airnya sendiri. Sejatinya, sejarah tentang seorang tokoh pendiri bangsa lazimnya menyampaikan pesan-pesan moral dan edukasi untuk generasi sesudahnya. Tapi bukanlah sejarah namanya jika kepentingan atas masa lalu sarat juga dengan kepentingan-kepentingan politis yang memungkinkan citra tokoh itu untuk dibelokkan, dikaburkan, bahkan dihilangkan. Asa hidup di alam kemerdekaan berupa keterbukaan dan kejujuran mengungkapkan masa lalu pun kadang terhadang oleh narasi-narasi besar (grand narratives [baca: negara]). Sebagaimana hal itu didapati dari sepinya jejak pemikiran Tan Malaka dalam buku-buku pelajaran sejarah seputar gagasannya mewujudkan republik ini. Sebagai sosok pejuang sekaligus pemikir yang lain dari keumuman eksponen pergerakan nasional, jalan hidup Tan yang asing dan banyak mengasing itu pun membuat Matu Mona mengiaskan dalam karya Patjar Merah Indonesia­-nya dengan julukan mysteryman. Senyata dengan jejak kehidupannya yang asing dan banyak mengasing. Dan dalam penulisan sejarah Indonesia modern, memori kolektif masyarakat Indonesia –khususnya siswa-siswa sekolah– terhadap sosok Tan Malaka tidaklah sebagus dibandingkan terhadap Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Konteks bagus itu pun tak lebih hanya sebatas mengenal nama, kedudukan, dan momen seputar sang tokoh.


Napak Tilas periodesasi kiprah Tan Malaka (sumber : tempo.com)/perbesar : klik gambar

Jejak pemikiran para tokoh pendiri bangsa sebagai hal yang lebih hakiki untuk diteladani justru menguap dalam teks-teks pelajaran sejarah yang diproduksi untuk kepentingan pendidikan nasional. Meski begitu, dalam wacana sejarah selama beberapa dasawarsa terakhir ada pergeseran nilai terkait subjek, perspektif, dan pendekatan masa lalu yang menjauhi narasi-narasi besar. Pergeseran itu dimaklumi juga terjadi karena ketidakpuasan terhadap narasi besar dalam mengendalikan dan memproduksi teks-teks sejarah. Ketika teks tidak berbunyi sebab ada yang ter/di-sembunyikan, maka medium seni visual (seperti fotografi, film, dan teater) menjadi alternatif menggali hakikat dan pemahaman masa lalu melalui pendekatan subaltern (Nordholt & Steijlen [2007]; rujuk juga Nordholt, Purwanto, & Saptari [2007]). Jelas ini menjadi penting sebagai sebentuk penyi(ng)kapan terhadap narasi besar dalam menarasikan masa lalu, yang mana salah satunya menyangkut citra tokoh semisal Tan Malaka ini.

Setidaknya patut disyukuri adanya ikhtiar menempatkan Tan Malaka berdasarkan sejarah dalam konteksnya (historicizing history), selain melalui teater juga film sebagai alternatif yang baik untuk membangunkan masyarakat dari amnesia sejarah. Saya tidak ada hasrat berlebih untuk terlalu menyoalkan masih ditemukan kelemahan historical mindedness dalam film karya kawan-kawan dari Institut Kesenian Jakarta tersebut. Tapi dengan menyisipkan beberapa perkataan yang lekat dengan cerminan jiwa dan pemikiran Tan Malaka dalam mengecam taklid buta dan fanatisme sempit terhadap ideologi atau kepercayaan apapun dalam fragmen-fragmen film tersebut, telah menyambung lidah “bapak republik” itu untuk mengedukasi mental dan sikap rakyat Indonesia yang hidup pada alam kekinian. Misalnya perkataan Tan (adalah pola pikir madilognya [rujuk juga perkataan ini dalam Alfian. 1977]) di hadapan anak-anak kecil yang diajari berhitung: “Akuilah dengan hati bersih bahwa kalian dapat belajar dari orang Barat. tapi jangan sekali-kali kalian meniru dari orang Barat. Kalian harus menjadi murid-murid dari Timur yang cerdas…

Secara generis, perkataan itu sebetulnya akan terus patut dan layak dipakai kapanpun sebagai pandangan dan kedudukan bangsa Indonesia untuk menilai, menghadapi, dan terlibat dalam kumparan masalah nasional dan dunia. Tidak terjerembab dalam banalitas hubungan kebudayaan Barat dan Timur serta punya prinsip dalam menghadapi benturan peradaban antarkedua kutub tersebut. Relasi ideal antara Barat dan Timur memang menjadi salah satu pokok pemikiran Tan Malaka. Seperti halnya juga Sutan Sjahrir atau Sutan Takdir Alisjahbana, Tan Malaka –seperti halnya Sjahrir– agaknya gelisah juga dengan tabiat dan sikap kaum bumiputra yang mana satu pihak begitu mengagungkan adiluhungnya dominasi Barat secara taklid sehingga tanpa disadarinya merendahkan diri sendiri sebagai seorang Indonesia. Pihak lain terpenjara dalam kekolotan alam pikiran Timur yang masih dikuasai mitos dan menolak sama sekali segala hal berbau Barat sebagai yang dinilai sesat dan menyesatkan. Permasalahan itu pun kini masih hadir dalam wajah baru, tapi esensinya tak banyak berubah jika menyelami dalam-dalam perkataan Tan Malaka tersebut. Sejarah yang memihak untuk Tan Malaka jelas melebihi apresiasi pemerintah yang pada 1963 sebatas memberinya gelar pahlawan kemerdekaan nasional. Menghadirkan kembali gagasan-gagasan jenialnya tentang Indonesia, tentunya jauh lebih penting melebihi gelar kepahlawanan. Pemikirannya yang mengajarkan: anti-dogmatisme, berpikir kritis, anti-kekerasan sebagai siasatnya melawan kezaliman dan kebodohan pada masa hidupnya, amatlah patut direnungkan untuk memikirkan Indonesia yang saat ini mendambakan integrasi bangsa. Dan jelas, dengan mengubur pemikirannya sama saja ibarat mengubur kebangsaan Indonesia yang masih berlanjut ini.

Sumber : (c) Fadly Rahman/2011.

Sabtu, 07 Mei 2011

Neo-Liberalisme, Boediono, Aburizal Bakrie dan Elly Kasim

Oleh : Muhammad Ilham

Elly Kasim, penyanyi Minang yang tetap cantik di usianya yang menua itu, dahulu pernah bersenandung, "bilo takuik dilamun ombak, jan barumah di tapi pantai" (bila takut dihantam ombak, jangan mendirikan rumah di tepi pantai). Mengingat senandung ini, teringatlah saya dengan Aburizal Bakrie yang super-kaya serta Boediono yang wakil presiden SBY itu. Ketika si-Ical, demikian biasanya beliau dipanggil dengan akrab, belum menjabat sebagai ketua umum salah satu Partai Politik terbesar di republik ini (Partai Golkar), geliat bisnis dan aktifitas sosial pemilik TV One dan ANTeve ini tidak pernah diungkit-ungkit. Bahkan ia disanjung-puja sebagai pengusaha pribumi yang mampu bersaing dengan pengusaha "mata sipit". Kalau-lah pemilik Bakrie Pasaman Plantation ini bukan ketua umum Partai Golkar (dipastikan) posisi Nirwan Bakrie di organisasi PSSI tidak akan diutak-atik, dan besar kemungkinan kesalahan Nurdin Halid akan "dimaafkan". Tapi mereka memiliki kesalahan fatal, Nirwan Bakrie adalah adik kandung Ical Bakrie, sementara Nurdin Halid "tangan kanan" Nirwan dan Ical Bakrie. Saya yakin, seandainya Aburizal Bakrie bukan ketua partai Golkar (lagi), Lapindo-Gate di Sidoarjo akan "senyap". Ical salah, mengapa ia mau berdiri di puncak gunung politik. Anginnya banyak.

Demikian juga dengan Boediono. Ekonom Universitas Gadjah Mada nan kalem ini "dicap" manusia "penjaga" Neo-Liberal di republik ini. Sebuah kata yang secara massif baru muncul satu dua tahun belakangan ini. Pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, dicap sebagai Neo-Liberal (secara massif-terstruktur) setelah SBY (Demokrat) dipastikan memilih Boediono untuk mendampinginya sebagai Cawapres dari kalangan profesional. Keputusan ini diambil SBY karena apabila Budiona menjadi Cawapresnya kemungkinan adanya resistensi sangat kecil dan dengan memilih Boediono, SBY ingin lebih menguatkan ekonomi Indonesia, jika ia terpilih lagi. Banyak partai-partai dan masyarakat yang setuju dan pro Boediono sebagai Cawapres mendampingi SBY, tetapi banyak pula yang kontra dengannya. Tak masalah bagi mereka yang pro, tapi bagi mereka yang kontra terhadap Boediono, pasti banyak alasan mengapa mereka kontra terhadapnya. Salah satunya yaitu karena Boediono seorang yang berasal dari non-partai (profesional), tidak terlalu islami, dan yang paling kritis yaitu ia seorang Neo-Liberal (antek IMF), kebanyakan yang kontra dengan Boediono kerena ia seorang Neo-Liberal adalah para aktivis dan dari kalangan LSM. Alasan kenapa Boediono dikatakan sebagai Neo-Liberal karena ia lulusan Business Economics, Wharton School, University of Pennsylvania, AS dengan gelar Doctor of Philosophy. Apakah karena ia lulusan AS yang notabene negara liberal?

Tak sampai disitu Track Record di bidang ekonomi yang juga membawanya menjadi Internal Auditor Bank Of Amerika cabang Jakarta tahun 1969-1970, itu yang membuat masyarakat yang menolak Boediono sebagai Cawapres mendampingi SBY, mereka menilai karena ia pernah bekerja d Bank asing, langsung mencapnya sebagai antek asing yang pahamnya (pasti) Neo-Liberal. Ada pula yang mengatakan karena Boediono seorang Neo-Liberal, maka ia tidak islami (hehe ... mudahnya mereka memberi ukuran terhadap urusan private manusia dengan Tuhannya). Padahal dulu Boediono pernah menjadi Gubernur pengganti Bank Pembangunan Islam untuk Indonesia sekitar tahun 1993-1998. Sebagaimana halnya Aburizal Bakrie, mengapa untuk Boediono, (orang-orang) tidak mempermasalahkan ketika ia naik sebagai Gubernur BI, padahal BI merupakan regulator bagi perekonomian kita. Neoliberal merupakan paham pembaharuan dari liberalisme dan teman-temannya (kapitalisme dan globalisme) semuanya ini menganut sistem ekonomi yang kekuatannya ada pada modal individu (swasta). Mungkin karena masyarakat Indonesia yang masih berkutat pada kemiskinan itulah yang menyebabkan paham ini sulit diterapkan di Indonesia. Mereka takut dengan naiknya Boediono sebagai Cawapres nantinya bukan memajukan ekonomi kerakyatan tetapi hanya akan memperkuat daya cengkram kaum-kaum liberal. Ekonomi pasar bebas memang belum cocok diterapkan di Indonesia, masih perlu campur tangan pemerintah untuk mengontrol jalannya perekonomian yang berusaha agar tetap berpihak pada kaum proletar. Sebenarnya paham neoliberal masih banyak cabang dan rantingnya, dan untuk Indonesia mungkin ada cabang atau ranting dari liberalisme yang cocok diterapkan apabila kita ini pintar memadukan antara ekonomi kerakyatan dengan ekonomi “ala” barat itu. Balik lagi, apakah salah Boediono seorang Neoliberal? jawabannya tidak, karena itu sebuah pilihan dan merupakan hak. Tetapi sekali lagi masyarakat punya penilaian dan bukti sendiri-sendiri untuk memberikan suatu citra dan nilai terhadap itu semua. Ah, Elly Kasim, senandung mu sangat inspiratif, "bilo takuik dilamun ombak, jan barumah di tapi pantai".

Referensi : Nurul/Kompas/Media Indonesia/Wikipedia. Photo : www.msn.com

Tragedi 9/11 dan Pasca Tewasnya Osama ben Laden

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Siapa dalang dari tragedi 9/11? Ada banyak orang menduga-duga siapa dalang dari tragedi 9/11. Versi pertama, tentu versi-nya Amerika Serikat, the government of the United States of America. Menurut versi ini, Osama bin Laden dan Al-Qaeda bertanggung jawab atas serangan terror tersebut. Osama bin Laden adalah dalang dari tragedi 9/11. Versi kedua adalah bahwa tragedi 9/11 adalah buah karya orang Amerika sendiri, suatu home ground creation. The Bush Regime Engineered 9/11. Ini adalah konspirasi, seperti halnya “Raid on Pearl Harbor yang mengawali dan membuka kunci keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II. Setelah tragedi 9/11, Pemerintahan George Walker Bush segera menuduh dan menetapkan Osama bin Laden dan Al Qaeda sebagai dalang peristiwa tersebut dan harus diadili. Malam itu juga (11 September 2001) George W. Bush berpidato : “The search is under way for those who are behind these evil acts. I’ve directed the full resources of our intelligence and law enforcement communities to find those responsible and to bring them to justice. We will make no distinction between the terrorist who committed these acts and those who harbor them” (emphasis added). Bahasa Indonesia-nya : Pengejaran sedang dijalankan kepada mereka yang berada di balik layar perbuatan-perbuatan jahat ini. Saya telah memimpin langsung semua sumber intelijen kita dan aparat penegak hukum untuk menemukan mereka yang bertanggung jawab dan membawa mereka ke pengadilan. Kita tidak akan membedakan antara terroris yang melakukan perbuatan jahat ini dan mereka yang melindungi para terrorist. Amerika Serikat menuduh Osama bin Laden sebagai dalang, kemudian ternyatalah Amerika juga menuduh pemerintahan Taliban di Afghanistan melindungi Osama bin Laden. Berdasarkan doktrin ‘tidak akan membedakan terrorist dan mereka yang melindungi terrorist’, kemudian George Walker Bush menyampaikan sebuah ultimatum kepada Rezim Taliban di Afghanistan untuk menyerahkan Osama bin Laden, atau akan menghadapi serangan Amerika Serikat. Pada sisi yang lain, Rezim Talibab meminta sebuah bukti jika memang Osama bin Laden terlibat dalam tragedi 9/11. Dan jika memang ada bukti, Talibab mengajukan diri untuk membentuk suatu Pengadilan Islam untuk mengadili Osama bin Laden.

Amerika Serikat tidak mau memberikan bukti apapun, dan Taliban pun sama sekali tidak menggubris ultimatum Amerika Serikat itu. Maka hasilnya Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya melancar serangan, menginvasi Afghanistan, dan akhirnya menggulingkan Rezim Taliban. Dan mulai itu, maka kita sekarang memgenal dengan apa yang disebut The Global War on Terrorism atau Perang Global Melawan Terrrorisme. Saat perang di Afghanistan di mulai tanggal 7 Oktober 2001, George W. Bush berpidato : “Today we focus on Afghanistan but the battle is broader. Every nation has a choice to make. In this conflict, there’s no neutral ground. If any government sponsors the outlaws and killer of innocents, they have become outlaws and murderers, themselves. And they will take that lonely path at their own peril”. Bahasa Indonesia-nya : Hari ini kita fokus di Afghanistan, tapi perang (Global Melawan Terrorisme) adalah lebih luas. Setiap bangsa mempunyai pilihan untuk diputuskan. Dalam konflik ini (lebih tepat: Amerika dkk melawan mereka yang dianggap terrorist), tidak ada wilayah yang netral alias tidak memihak. Jika ada pemerintahan yang mendukung penjahat dan pembunuh orang-orang yang tidak berdosa, maka pemerintahan tersebut telah menjadi penjahat dan pembunuh. Dan pemerintahan tersebut akan mengambil jalan yang sunyi dan terkucil itu dalam resiko mereka sendiri. Osama bin Laden adalah Pembunuh dan Rezim Taliban melindunginya, maka Osama bin Laden dan Rezim Talibab adalah sama-sama pembunuh. Begitulah cara befikirnya Amerika Serikat, Amerikanse Denken. Hal ini, Perang Global Melawan Terrorisme dijadikan pembenaran politik luar negri Amerika Serikat yang expansionist (melebarkan kekuasan) dan aggressionist (menyerang daerah lain), sekaligus subversive (menggulingkan pemerintahan yang sah di daerah lain).

Dalam Perang Global Melawan Terrorisme Amerika Serikat mempunyai beberapa target, objectives, yang hendak di capai, yaitu : (1). Mengalahkan (menangkap atau membunuh) para terrorists seperti Osama bin Laden, Abu Musab al-Zarqawi dan menghancurkan organisasi mereka.(2). Mengidentifikasi, menglokasikan, dan menghancurkan para terrorists bersama organisasi mereka. (3). Menolak sokongan, bantuan, dan perlindungan bagi para teroris. Hal-hal itulah yang telah menjadi alasan bagi Amerika Serikat beserta sekutunya untuk mengirimkan tentara dan kemudian membunuhi rakyat tidak berdosa di Afghanistan dan dan Irak. Ketika menyerang Irak, kemudain menggulingkan Rezim Saddam Hussein, dan akhirnya menggantung Saddam Hussein, Amerika beserta sekutunya beralasan bahwa Saddam Hussein mempunyai “weapon of mass destruction” (WMD) alias senjata pemusnah massal. Namun ternyatalah bahwa itu hanyalah Bohong Belaka, Saddam Hussein tidak punya WMD. Dan kebohongan itu telah diakui oleh Amerika Serikat, tetapi hanya diakui sebagai ‘laporan intelijen yang tidak akurat’. Sudah diakui bahwa Saddam Hussein tidak punya senjata pemusnah massal, Osama bin Laden dan banyak tokoh Al Qaeda serta Taliban, (dikatakan) telah tewas terbunuh oleh rudal dan peluru pasukan Amerika Serikat.

Amerika Serikat berserta seluruh sekutu dan antek-anteknya sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap menduduki Afghanistan dan Irak. Geoge W. Bush menyatakan Irak tidak punya WMD dan kemudian Barrack Hussein Obama menyatakan Osama bin Laden telah tewas. Ditembak oleh kesatuan elite yang paling elite dari Navy Sea, Air , and Land/Navy SEALs yaitu kesatuan elite : ‘Naval Special Warfare Development Group’ atau lebih populer dengan sebutan SEALs Team Six (ST6). “Orang seperti Osama tidak terlahir sebagai seorang terrorist, tetapi dia diciptakan oleh kemiskinan, kesenjangan, dan diskriminasi. Penyebab semua ini adalah ketidakadilan politik, penyangkalan hak-hak warga di bawah pendudukan asing.” Oleh karena itu, ketidakadilan, penindasan, kemiskinan, dan penjajahan harus dihilangkan dari muka bumi. Penjajahan Gaya Baru harus dihapuskan dari seluruh muka dunia karena berlawanan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Awaslah itu Kolonialisme-Imperialisme musuh dunia yang mau memperbudak kita dengan sesuka hatinya! Itu Amerika Kita Setrika! Itu Inggris Kita Linggis! (Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno Pemimpin Besar Revolusi)

Sumber tulisan : Kompasiana/ade indonesia. Photos : time.com

Jumat, 06 Mei 2011

Kala "si Pemalu" Osama bin Laden Jatuh Cinta : "Growing Up Bin Laden"

Oleh : Muhammad Ilham

Sebagaimana halnya Tan Malaka nan misterius, sisi wanita Osama juga menarik untuk dibedah. Bila Tan Malaka tidak pernah "berujung" di Tuan Qadi, maka Osama adalah "petualang cinta" yang flamboyan, walau tetap misterius. Ketika keinginan untuk merekonstruksi perjalanan sejarah Tan Malaka beberapa waktu lalu, maka kuburan Tan Malaka, yang disinyalir, berada di Selopanggung dibongkar. Untuk mengetahui keabsahan "mayat" (Tan Malaka) tersebut, tes DNA merupakan suatu hal yang logis pada zaman sekarang ini. DNA kemenakan kemenakan Tan Malaka si Ibrahim ini-pun diambil. Entah apa hasilnya, hingga sekarang wallahu a'lam. Tan Malaka hanya punya kemenakan. Itu pun untung, saudaranya punya anak. Bila tidak, putus sudah hirarkis genetiknya. Karena itu, mungkin, Osama jauh lebih beruntung. Bin Laden ini punya 26 anak, sehingga tingkat probabilitas mencari sample DNA pasca kematiannya jauh lebih mudah. Tapi yang jelas, kemisteriusan Tan Malaka dan Obama .... eh Osama, tetap meninggalkan bumbu-bumbu asmara yang teramat menarik untuk dikupas. Walau Tan Malaka terkesan "kering", tapi kekeringan interaksi dengan wanita, justru membuat Tan Malaka dianggap sebagai laki-laki Platonik. Ia hanya kenal dua atau tiga wanita, tapi romansa mereka terasa "menggigit" untuk dikisahkan. Pada sisi lain, Osama yang memiliki istri beberapa orang dan anak yang banyak itu, juga meninggalkan kisah menarik sebagaimana yang dinukilkan dalam buku 'Growing Up Bin Laden', yang memotret sisi manusiawi dan pribadi Osama ini. Buku ditulis oleh Najwa bersama putra keempatnya, Omar bin Laden, dan Jean Sasson, penulis terkenal New York Times. Buku ini diterbitkan pada 2009 oleh St Martin's Press New York. Di Indonesia, buku ini bertebal 543 halaman yang diterbitkan Literati pada April 2010.

Dalam buku ini dikisahkan bagaimana Ghaneem, sepupu dan istri pertama Osama bin Laden, menghabiskan masa anak-anak hingga remaja bersama Osama. Benih-benih cinta tumbuh di antara mereka. Najwa yang suka penampilan, kelembutan dan karakter kuat Osama sempat dibikin gregetan dengan sifat Osama. "Aku tak yakin apa yang terjadi, tapi aku tahu bahwa aku dan Osama memiliki hubungan istimewa. Walaupun tak pernah mengatakan apa pun, mata cokelatnya akan bersinar senang setiap kali aku memasuki ruangan. Aku bergetar dengan sukacita saat aku menyadari perhatian intensnya," tulis Najwa dalam buku 'Growing Up bin Laden' halaman 16. Dari cara Osama memandangnya, Najwa mengerti dan yakin Osama menyukainya. Dan dalam budaya di tempat Najwa tinggal, Latakia, Suriah, menikah muda adalah hal yang lazim. Gejolak hati Najwa remaja menariknya untuk berpikir menikah dengan Osama. Namun saat-saat pendekatan ini, Osama dinilai Najwa terlalu pemalu dan santun. Padahal, Najwa ingin Osama mendekati orang tuanya untuk membicarakan pernikahan. Tak pelak, sifat Osama ini membuat Najwa gusar dan gregetan. "Tapi, Osama tetap bersikeras dengan sikap santunnya! Bahkan, ketika dia punya kesempatan berbincang-bincang denganku, dia terlihat sulit mengekspresikan dirinya. Aku ingat menatapnya lembut, mulai berpikir bahwa sepupuku ini lebih pemalu daripada 'perawan di balik cadar'," tulis Najwa di halaman 20. Akhirnya, keberanian Osama yang diharapkan Najwa muncul juga. Saat itu Najwa berusia 14 tahun, dan Osama, 15 tahun. Ibu Osama yang juga bibi Najwa, Allia, senang dengan rencana pertunangan itu karena akan membuat kedua keluarga semakin dekat. Namun, ibu Najwa sempat membujuk agar Najwa tak menikah dengan sepupunya itu. Bukan karena tak suka dengan Osama, melainkan karena tak ingin Najwa pindah begitu jauh, dari Suriah ke Arab Saudi. "Najwa, tolong jangan menyetujui pernikahan ini. Aku ingin kamu tinggal di dekatku, Nak. Jika kamu pergi ke Arab Saudi, pertemuan kita akan sejarang perhiasan yang mahal," kata ibu Najwa. Najwa pun menatap ibunya sejenak. Najwa, gadis yang selalu teguh kala memutuskan sesuatu itu akhirnya menjawab,"Ini hidupku, Ibu. Aku yang memutuskan. Aku mencintainya. Aku akan menikah dengannya".

Dan, Najwa dan Osama pun menikah pada tahun 1974, Najwa berusia 15 menjelang 16 tahun dan Osama berusia 17 tahun. Mengenakan gaun pengantin putih dan rambut indah tertata rapi, Najwa ingin tampil secantik mungkin di hadapan pasangan hidupnya. Najwa sadar, pria yang dicintainya itu memiliki keyakinan konservatif. Maka, pernikahan pun sederhana saja. Para tamu yang lelaki dan perempuan ditempatkan di tempat terpisah. Hidangan berlimpah dengan menu Suriah pun disajikan: daging panggang, gandum giling dengan daging merpati, daun pohon anggur dan kibbe. "Semua yang meriah dilarang. Tak ada musisi yang memainkan alat musik atau menyanyikan lagu. Mereka yang gemar menari diinstruksikan untuk tetap diam. Gelak tawa dan gurau canda tidak dianjurkan. Kegiatan malam itu hanya terbatas dengan basa-basi," kenang Najwa. Kendati demikian, Najwa bahagia. Dari ekspresi manis wajah Osama, Najwa tahu, Osama senang dan puas dengan pilihannya. "Malam itu berlangsung bagaikan mimpi: aku adalah wanita yang menikah dengan lelaki yang kucintai," kata Najwa.

Referensi : sebagian dari artikel ini termasuk foto, bersumber dari www.detik.com/nograhany widhi

Rabu, 04 Mei 2011

Di Abbotabad Pakistan, Osama bin Laden ... "berhenti"

Oleh : Muhammad Ilham


Osama bin Laden .... tewas !, setidaknya demikian Breaking News Metro TV dan TV One hari ini. Osama the end, Obama number One, demikian rilis cnn.com. Osama yang merupakan putra sekian dari 50 (?) orang putra taipan Arab Saudi - Mohammad Laden ini tewas dalam persembunyiannya di Kota Abbottabad, Pakistan. Konon, di kota ini pula tertangkapnya gembong teroris Al Qaeda "putra" Nusantara - Umar Patek - awal tahun ini. Osama tewas dalam operasi rahasia yang dilancarkan pasukan elit Angkatan Laut AS, Navy SEAL. Penyerangan itu dilakukan terhadap sebuah bangunan besar di Kota Abbotabad, sekitar 100 kilometer sebelah utara Islamabad. Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama telah mengumumkan kematian Osama dalam pidatonya di Gedung Putih pada Minggu, 1 Mei malam waktu setempat. Dikatakan Obama, dengan kematian Osama, keadilan telah ditegakkan. "Musuh kita bukan Islam, sekali lagi bukan Islam", kata "anak menteng" ini dalam pidato yang juga disiar ulang oleh Metro TV sore tadi. Terlepas setuju atau tidak dengan pidato Obama, yang jelas kematian Obama .... eh Osama ini, telah menaikkan rating electoral Obama di mata publik Amerika Serikat. Euforia publik Amerika Serikat begitu kentara sebagaimana yang acap kali ditampilkan oleh beberapa TV swasta tanah air. Beberapa sekutu Amerika Serikat seperti Australia, Inggris dan Perancis juga memberikan apresiasi terhadap tewasnya pemimpin Al-Qaeda ini. Tapi, ada juga yang menganggap kematian Osama sebagai duka cita dalam. Hamas, contohnya. Kelompok Hamas mengutuk pembunuhan pemimpin jaringan teroris Al Qaeda itu. "Kami menganggap ini sebagai kelanjutan kebijakan Amerika yang didasarkan pada penekanan dan pertumpahan darah muslim dan Arab," cetus Ismail Haniyeh, pimpinan pemerintahan Hamas di Jalur Gaza seperti diberitakan Reuters, Senin (2/5/2011). Haniyeh menekankan adanya perbedaan doktrin antara Al Qaeda dan Hamas. Namun petinggi Hamas itu tetap menyebut Osama sebagai pejuang suci Arab. "Kami mengutuk pembunuhan pejuang suci Arab tersebut," tegasnya.

Mohammad Laden - "sang Ayah" Osama - taipan Arab Saudi

Osama (lingkaran merah) bersama 22 orang saudaranya kala berlibur ke Swedia 1971

Afghanistan, 1984 - "turning point" Osama bin Laden

rating electoral Obama si Barack Hussein ini "menaik" pasca abbotabad tragedy


Dibawah ini, saya kutip kembali artikel saya yang pernah saya posting tentang Osama - "seorang perantau".

Ada perbandingan menarik antara Osama bin Laden dengan para pejuang-pejuang yang merantau dari negeri mereka sendiri. Belasan teroris yang menghantam Amerika pada 11 September itu, selain berpendidikan tinggi dan bermotif politik dan ideologis kuat, semuanya adalah perantau. Mereka pernah bermukim lama di negeri orang. Teroris atau bukan, para perantau cenderung membawa misi politik. Seringkali mereka membuat sejarah ketika mereka berkelana, atau berkelana untuk membuat sejarah. Tan Malaka, misalnya, yang diangkat anak oleh seorang pejabat Belanda dan disekolahkan di Haarlem, terbuai oleh Marxisme pada 1920an, giat di Eropa, lalu keliling Asia. Dia adalah orang Indonesia pertama yang menguak bab sejarah untuk negeri lain: di Filipina dia memperkenalkan Marxisme. Ada pula yang membawa ide-ide chauvenis, otoriter dan semi-fasis, seperti Soepomo dan Ki Hajar Dewantara sekembali dari Belanda pada 1920an, atau Sarloth Sar (Pol Pot) dan Khieu Samphan, dua mahasiswa Kamboja yang sepulang dari Perancis menjadi arsitek negara-teror Khmer Merah pada 1970-an. Sementara di belahan dunia lain, Che Guevara mengembara dari tanah airnya, Bolivia, untuk berevolusi di Kuba dan Afrika. Perantauan, meski ragam, punya daya, ilham, tekad, dan dinamika tersendiri. Perjalanan diaspora (istilah ini aslinya bagi kaum Yahudi ketika tersebar di Eropa) adalah fenomena sui generis, masing-masing mengisyaratkan suatu momentum zaman. Tak bisa disamaratakan di segala ruang dan waktu. Kancah, pendeknya, bukan sekedar ajang geografis. Ketika sebuah cita-cita dilekatkan padanya, dia bermakna suatu cause. Usamah dan sejenisnya, dengan 'LSM' Yayasan Al-Qaida, seharusnya juga memiliki cause yang jelas. Ternyata, tidak. Usamah, alias Mister Bean versi teroris ini, mengaku berjuang untuk Islam - mungkin, maksudnya demi kehidupan Arab yang Islami. Tetapi para pakar Timur Tengah menunjuk bahwa nama agama itu disandang oleh Usamah ke mana-mana, keluar masuk goa, bak menyandang jubah untuk menjadikannya magnit politik untuk menggalang ummat. Apa pun jubah itu, Osamah bermimpi mewujudkan cita-cita kuno yang telah di-jubah-kannya, tapi tak pernah memberi batasan apa dan di mana jubah itu ingin diwujudkannya. Orang tak tahu dia berjuang untuk apa, siapa, dan negeri apa. Dia pun tak merasa perlu memberi acuan geografis atau negara mana pun. Boleh jadi, dia tak punya cause yang jelas. Dengan kata lain, perbedaan antara perantau Usamah dan sejenisnya di satu pihak, dan perantau-pejuang sejenis Tan Malaka di lain pihak, bukan sekedar siapa teroris dan siapa pejuang. Setiap protagonis tentu akan berkata kepada lawannya bahwa teroris-mu adalah pejuang-ku. Kita tahu, teror juga adalah sebuah sarana dari kekuasaan negara. Dan terbukti, kekerasan politik yang paling besar dan efektif, selalu bersumber dari lembaga negara (Holocaust-nya Hitler, Gulag-nya Stalin, Orde Baru-nya Suharto). Untuk itulah, kemudian, Amerika Serikat menteror rakyat Afganistan dengan bom, untuk memburu Osamah dan Al-Qaida. Kadang, teror negara berubah. Dia tak perlu selalu monopoli negara, tapi bisa menjadi simbiose, perkawinan kepentingan, dari sejumlah unsur kekuasaan negara dan sekelompok warga masyarakat. Contohnya, tentu saja, Osamah bin Ladin dan Al-Qaida-nya. Dia berubah jadi Islamis dan teroris global ketika dia bekerja-sama dan disponsori oleh dinas intelejen militer Pakistan I.S.I, rejim Taliban dan unsur-unsur Saudi dan dinas intelejen Amerika CIA pada 1980-an, lalu berbalik melawan Amerika dan Saudi pada saat Saudi menjadi pangkalan Amerika untuk menggempur Irak awal 1990-an.

Osamah, seperti Tan Malaka, adalah seorang Muslim yang giat membangun jaringan politik global dimanapun dia berada. Bedanya, Osamah sejak berhenti mabuk, berubah jadi Islamis, lalu ketika pasukan Soviet terusir dari Afganistan pada 1989, Usamah menganggap perjuangan itu sebagai kemenangan "Islam" yang pertama terhadap "Barat", setelah "Islam" terus menerus kalah dan kalah selama berabad-abad. Sejak itu, baginya, kemenangan "Islam" harus diglobalkan tanpa pandang bulu sikon dan konteks. Jadi, cause-nya serampangan. Tan Malaka, pada jaman yang berbeda, menjadi pejuang global ketika menginsyafi kebangkitan bangsa-bangsa Asia di pentas dunia awal 1900an. Dia seorang Muslim yang tidak fanatik, seorang kosmopolit yang menguasai bahasa-bahasa Eropa, Cina dan Tagalog, seorang Marxis yang memahami sejarah dan masyarakat, tetapi, pertama-tama, dia adalah seorang pejuang anti-imperialis global, yang membangun jaringan politik di Eropa, Shanghai, Bangkok, Manila dan di Jawa. Cause-nya gamblang.Jangankan dibanding dengan Tan Malaka, bahkan dengan Khomeiny pun, pola Usamah amat berbeda dan terbelakang. Khomeiny punya target yang spesifik (Iran), Osamah tidak. Ketika Ayatullah Ruhullah Khomeini meninggalkan pengasingannya di Perancis pada 1979 dan kembali ke Iran, negerinya sudah bergelora revolusi Islam-Iran yang dipimpin oleh kaum Mullah dan kelas-kelas menengah, untuk melawan rezim Syah Pahlevi yang despotik. Khomeini tidak menyulut api di rantau lantas otomatis terjadi kebakaran besar. Osamah memutar-balik logika itu seolah-olah dia, atau siapa pun, bisa menyalakan revolusi di mana saja tanpa perlu suatu momentum revolusioner. Itulah sebabnya, Osamah dan gerakannya hanya akan membuat teror dan kerusuhan, tetapi tak akan mampu memotori suatu perlawanan rakyat. Walhasil, perbedaan yang paling bermakna -- bagi Osamah dan sejenisnya, adalah kancah itu tak membutuhkan batasan dan acuan geografis, jangka waktu, program sosial, atau apapun. Cause-nya tak jelas. Baginya, jubah itu bisa diwujudkan di mana saja dan kapan saja. Artinya, konsepnya itu anti-historis dan anti-sosiologis. Dan metode untuk mencapainya, jaringan teror, tak bersosok dan tak beridentitas.

Osamah bukan-lah seorang nasionalis. Dia melangkah lebih jauh lagi, dengan berpretensi universal dan membajak sebuah agama untuk menggelar suatu perjuangandemi perubahan besar, tanpa menetapkan tujuan, target sosial, dan batasan ruangnya. Dengan transformasi wacana ini, dan dengan menggebrak adidaya di kandang sendiri pada 11 September, para terorisnya Osamah menggedor sejarah, untuk menyampaikan pesan tentang sebuah cita-cita yang anti-historis. Mereka berangkat dari kategori berpikir bipolar yang sederhana : kami versus mereka, dan memakai metode jaringan teror tak bersosok (invisible). Sebagai pelaku politik diaspora, Osamah cum suis telah jauh melampaui Tan Malaka pada 1920-an dan para perantau nasionalis Sikh atau Irlandia pada 1980-an. Kaum diaspora, dengan ragam misinya, sejak mula sudah bermain global. Osamah cuma menambahnya dengan mengglobalkan teror. Sementara penguasa di Amerika Serikat memperluas daftar teroris yang resmi dicurigai. Dan di Eropa, yang kini berpenduduk migran Muslim sekitar 10 jutaan, organisasi organisasi kaum diaspora makin diamati. Ulah Osamah cum suis, jelas, dampaknya besar dan berbahaya bagi demokrasi dan pluralisme, tetapi juga bisa menjadi dalih bagi penguasa negara mana pun untuk menekan hak-hak sipil warganya.

Referensi : detik.com/reuter.com/cnn.com/mailinglist.yahoo.com. Photos : al-jazeera.com/times.com

Rumusan Kongres Kebudayaan dan Apresiasi Budaya 2006

Sebuah "catatan" kontributif yang "tertinggal"





Sumber : dokumen pribadi (scanner)

Selasa, 03 Mei 2011

Agama dan Ranah Politik

Oleh : Muhammad Ilham

Agama sebagai sebuah fakta historis memiliki dua dimensi utama, dimensi simbolis-mistik dan sosiologis. Dimensi simbolis-mitis mengandung arti bahwa agama merupakan sebuah struktur makna (meaning structure) yang berada di ranah abstrak dan keberadaannya terlepas dari ruang dan waktu. Melalui struktur makna tersebut maka mode pemahaman diri (mode of self-understanding) digagas dan diciptakan melalui berbagai kegiatan penafsiran (hermeneutics) atas ajaran. Dalam kegiatan ini termasuk penciptaan dan penafsiran atas simbol-simbol dan metafor yang ada untuk kemudian dirumuskan serta diterapkan dalam tindakan aktual. Karena sifatnya yang abstrak dan sangat tergantung pada kemampuan tafsir itulah maka ajaran agama pada hakekatnya terbuka untuk diperdebatkan, apalagi ditambah adanya kenyataan adanya konteks sosiologis dan dimensi historis yang akan menjadi batas dan bingkainya. Pemahaman terhadap ajaran agama, dengan demikian, tidak mungkin tunggal atau monolitik. Munculnya berbagai macam aliran atau mazhab (schools of thought) sebenarnya merupakan hal yang wajar dan sah-sah belaka. Ketika agama dan pemeluknya berada dalam konteks politik, maka peran dan fungsi sosial dan politik agama pun akan sangat dipengaruhi oleh dialektika antara dimensi simbolis-mitis dan sosiologis-historis. Pada suatu konteks historis tertentu agama bisa saja begitu hegemonik sehingga sakan-akan menjadi satu-satunya alat untuk menjelaskan realitas atau merupakan kekuatan ideolologis yang tak tertandingi dalam masyarakat. Namun pada konteks yang lain posisi seperti ini dapat saja terdesak ataupun mengalami pergeseran-pergeseran dan bahkan bisa lebih jauh : agama dianggap kehilangan relevansinya sebagai alat penjelas realitas tersebut. Sejarah ummat manusia, jika dilihat dari perspektif perkembangan agama, adalah rangkaian perubahan-perubahan yang terjadi dalam peran dan fungsi agama dalam konteks sosiologis ummat manusia.

Dalam kajian antropologi politik, peranan agama dan simbol-simbol supranatural di dalam politik memainkan arti penting. Agama pun bisa dijadikan landasan bagi struktur, landasan kepercayaan, atau sumber tradisi yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Namun, pilihan paling lazim adalah menjadikan agama sebagai alat legitimasi oleh para elite yang berkuasa atau kekuatan yang mengejar kekuasaan (ini yang dikritisi para kalangan Marxian). Pemakaian” ayat, dalil, atau ungkapan yang dinisbatkan pada agama tertentu sebenarnya identik dengan kemunculan kiai atau tokoh lain yang merepresentasikan agama. Kemunculan simbol-simbol tadi telah mengandung pesan, lebih dari makna yang terkandung dalam substansi yang sebenarnya. Tidak heran bila kosakata silaturahmi lebih sering digunakan ketimbang pertemuan politik. Membebaskan panggung politik dari anasir-anasir agama tidak semudah yang dibayangkan kelompok yang menganut paham pemisahan agama dan politik. Bahkan, bagi sebagian kalangan, memisahkan agama dan wilayah politik bukan saja sulit, tapi dipandang tidak perlu. Fakta mengungkapkan, dalam pemilihan umum, bagi sebagian pemilih di tanah air dikotomi tua – muda tidak begitu penting. Demikian juga dikotomi sipil - militer sudah melonggar. Namun dikotomi Islam - non-Islam masih dipandang sensitif dan penting dipertimbangkan sebagai variabel penting keputusan untuk memilih. Bagi sebagian kelompok, bila menerapkan sistem politik menurut kaidah agama dipandang belum mungkin, maka mengambil anasir-anasir agama untuk diformulasikan ke dalam kaidah hukum dan politik sudah dianggap cukup. Adaptasi ajaran politik pun terjadi di sepanjang garis keyakinan agama. Keputusan untuk memilih melibatkan variabel yang kompleks. Diperlukan sentuhan personal untuk merebut dukungan. Lebih-lebih dalam situasi ekonomi yang mencekik, para politisi yang "siap-siap" menatap 2014 yang akan datang, bila bisa memberi harapan bagi perbaikan yang dirasakan oleh publik, akan lebih diapresiasi.

Photo : viralpoiltics.com

Obama - Osama dan Negara Islam Indonesia

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Osama adalah sasaran utama perang terhadap terorisme. Sejak tragedi 11 September 2001, hampir sepuluh tahun yang lalu, Osama diburu di banyak negara. Sasaran terpenting adalah Afghanistan, basis kelompok Taliban yang dibantu oleh suku-suku di Afghanistan dan Pakistan. Osama terbunuh di Pakistan, satu dari sedikit negara yang memiliki kekuatan nuklir. Perang terhadap terorisme telah menjadi agenda tetap dari setiap kepala negara Amerika Serikat, beserta sekutu-sekutunya, baik di timur maupun di barat. Tidak terkecuali di Indonesia. Indonesia menjadi mata rantai yang penting melawan terorisme, sekaligus korban yang paling tak berdaya ketika bom meledak di Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002. Karena itu juga, Indonesia memiliki pasukan khusus, yakni Densus 88 yang ditugaskan memerangi terorisme. Pelan, namun pasti, jaringan terorisme di Indonesia berhasil disibak. Para aktornya ditanggap, ditahan, diadili, sebagian dihukum mati.

Belakangan, pers Indonesia secara intensif memberitakan kehadiran (kembali) kelompok yang disebut Negara Islam Indonesia (NII). Kelompok yang namanya terkenal di kalangan mahasiswa ini, disinyalir menjadi aktif lagi setelah penculikan sejumlah perempuan. Ketika perempuan itu berhasil ditemukan, mereka kehilangan ingatan. Ada istilah "cuci otak"yang dipakai, ketika perempuan-perempuan itu menjadi linglung. Program cuci otak itu tentulah berbeda dengan banyak program "hipnotis" yang ditayangkan televisi dengan rating bagus. Pesta pora pers Indonesia tentang NII ini menjadi alas bagi kehadiran berita tentang kematian Osama bin Laden. Banyak perspektif yang dihadirkan, dengan narasumber siapa saja. Namun, sebagaimana dengan berita penting lainnya, selalu saja muncul sikap pro dan kontra, terutama kalau kita baca pelbagai blog yang tersedia di internet. Apapun persoalan yang menjadi trending topic di Indonesia sekarang, pastilah disertai dengan sikap pro dan kontranya. Yang jelas, aktor politik nomor satu di dunia Barack Obama-lah yang kemudian menjadi kunci dari persoalan terorisme ini. Di tengah serangan bencana alam yang melanda sejumlah negara bagian Amerika Serikat, Obama kini tampil ke muka sebagai satu tokoh sukses dalam perburuan Osama. Di era Presiden Barack Obama dan Wakil Presiden Joe Biden-lah Amerika Serikat berhasil melenyapkan musuh nomor satu rakyat Amerika Serikat itu. Tidak heran kalau sebagian rakyat Amerika menggelar pesta menyambut hasil perang melawan terorisme itu.

Bagaimana dengan NII? Sampai kini Amerika Serikat belum lagi bersuara. Tapi pastilah kawat-kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia secara rutin mengirimkan informasi menyangkut "perang Indonesia melawan NII" itu. Terorisme di negara manapun, apalagi dengan keikutsertaan kata "Islam", pastilah mendapatkan perhatian dari Amerika Serikat. Sebagai satu-satunya negara super power dewasa ini, Amerika Serikat mustahil untuk dicegah untuk menghidupkan mesin perang di negara manapun di dunia. Kecuali ada hal-hal yang lebih besar lagi yang menunjukkan kegagalan Presiden Barack Obama, atau kehadiran tokoh alternatif diluar Sarah Palin, Obama akan menaiki kursi kepresidenan di Amerika Serikat untuk kedua kalinya dalam pemilu 2012 nanti. Indonesia, mau tidak mau, suka tidak suka, juga akan tetap menjadi bagian dari mata rantai perlawanan terhadap jaringan terorisme itu. Sekalipun kelompok NII belum masuk kategori jaringan teroris, kecuali terorisme "otak" dan ekonomi, lambat laun apabila pemerintah Indonesia tidak berhasil mengurangi dampaknya, kelompok NII ini akan masuk ke dalam daftar kelompok terorisme internasional yang ditetapkan di Amerika Serikat. Osama bin Laden dipastikan terbunuh. Di sisi lain, pengaruh Barack Obama semakin kuat. Dan lagi, Indonesia berada dalam bayang-bayangnya... ! Tak bisa dibantah !

Sumber : indrapiliang.com/html

Senin, 02 Mei 2011

Ayman al-Zawahri : "Putra Mahkota" Osama bin Laden

Ditulis ulang : Muhammad Ilham


Tewasnya Osama bin Laden lantas menimbulkan spekulasi siapa pemimpin Al-Qaeda selanjutnya. Namun dari sejumlah anak buah Osama, Ayman al-Zawahri-lah yang diprediksi kuat akan mengambil alih jabatan tertinggi Al-Qaeda itu. Seperti diberitakan Reuters, Senin (2/5/2011), Zawahri adalah seorang dokter dan ahli bedah kelahiran Mesir. Selama ini ia adalah orang kedua di Al-Qaeda setelah Osama. Zawahri juga dikenal sebagai otak di belakang Osama dan jaringannya selama ini. Dia juga pernah beberapa kali menampilkan wajahnya ke publik saat mencela AS dan sekutunya dalam video. Dalam pantauan terakhir oleh SITE Intelligence Group bulan lalu, Zawahri mendesak umat Muslim untuk memerangi NATO dan pasukan AS di Libya. "Saya ingin langsung memberikan perhatian kepada saudara-saudara Muslim di Libya, Tunisia, Aljazair dan negara-negara Islam lainnya, bahwa jika pasukan AS dan NATO masuk ke Libya, lalu ke tetangga mereka di Mesir dan Tunisia dan Aljazair dan negara Muslim lainnya, kita seharusnya bangkit dan melawan baik tentara bayaran Khadafi maupun NATO," ujar Zawahri.

Lahir dari keluarga kelas atas di Kairo, pria 50-an tahun itu adalah orang kedua setelah Osama yang menjadi teroris paling dicari oleh FBI. Baik Osama dan Zawahri terhindar dari penangkapan ketika pasukan AS menumbangkan pemerintahan Taliban akhir 2001, setelah peristiwa 9/11. Berkacamata, berambut dan berjenggot abu-abu, Zawahri menonjol saat November 2008. Saat itu ia menyerang presiden AS terpilih Barack Obama dengan sebutan 'negro murahan', sebuah celaan rasial pada 1960-an oleh pemimpin Muslim AS, Malcolm X untuk menggambarkan budak hitam yang loyal kepada bos kulit putihnya. Dalam video berikutnya September 2009, Zawahri kembali menyerang Obama dengan mengatakan dia tidak berbeda dengan pendahulunya, George W. Bush. "Amerika telah datang dengan wajah baru... Telah ditanamkan tanda salib yang sama oleh Bush dan pendahulunya. Obama terpaksa melakukan kebijakan pendahulunya dengan berbohong dan menjual ilusi," kata Zawahri, memakai jubah putih dan sorban. Seperti Osama, Zawahri telah lama bersembunyi di perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Video terakhir Zawahri bersama Osama disiarkan oleh Al-jazeera pada 10 September 2003. Video itu menggambarkan mereka sedang berjalan di pegunungan, menyerukan untuk jihad dan memuji pembajak pesawat dalam 9/11.

Sumber : detik.com/berita/html. Photo : al-jazeera.com

Ketika Osama bin Laden "Berpesan"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Dalam perlariannya, Osama bin Laden kerap menyampaikan pesan ke publik lewat rekaman suara dan video. Tercatat lebih dari 60 pesan yang disiarkan pimpinan Al-Qaeda itu dan anak buahnya. Berikut adalah pesan-pesan utama yang disampaikan Osama sejak tahun 2001 pasca tragedi 9/11, seperti dilansir Aljazeera, Senin (2/5/2011).

25 Maret 2010: Osama dalam sebuah rekaman suara mengancam akan membunuh setiap warga AS yang menjadi tawanannya, jika Khalid Sheikh Mohammed, salah satu otak 9/11, dieksekusi. "Hari di mana AS mengambil keputusan itu (mengeksekusi Mohammed dan yang lainnya), itu akan membuat kami mengambil keputusan untuk mengeksekusi siapa pun yang kami tangkap."

24 Januari 2010: Al-Jazeera memperoleh sebuah rekaman suara yang diakui Osama bin Laden. Di dalam rekaman itu, Osama mengklaim bertanggung jawab atas gagalnya serangan terhadap pesawat AS pada 25 Desember 2009. "Pesan yang ingin saya sampaikan ke Anda lewat pesawat dari pahlawan Omar Farouk [Abdulmutallab], menegaskan kembali pesan sebelumnya bahwa pahlawan dalam 9/11 saya sampaikan kepadamu." Dia memperingatkan akan ada lebih banyak serangan lagi kecuali AS menemukan solusi dari situasi Palestina.

25 September 2009: Osama meminta negara Eropa menarik pasukannya dari Afghanistan lewat rekaman suara. Dia mengatakan, negara Eropa sedang mengorbankan manusia dan uang dalam sebuah perang tidak adil yang dipimpin AS. Rekaman suara, yang dirilis di internet dengan gambar latar Osama, itu terdapat subtitle berbahasa Jerman dan Inggris. Pesan ini disampaikan dua hari sebelum pemilu di Jerman.

14 September 2009: Osama mengatakan Presiden AS Barack Obama, tidak punya kekuatan untuk menghentikan perang di Afghanistan dan Irak. Osama meperingatkan warga AS tentang kedekatan pemerintahannya dengan Israel. Dia mengatakan, ini waktu bagi mereka untuk membebaskan diri dari cengkraman neo-konservatif dan lobi Israel. "Alasan perselisihan kami dengan Anda adalah dukungan Anda kepada sekutu Anda, Israel, yang menduduki tanah kami Palestina."

3 Juni 2009: Osama berbicara lewat sebuah pesan suara bahwa Obama telah menanam benih "dendam dan kebencian terhadap Amerika" di dunia Muslim dan memperingatkan orang Amerika untuk mempersiapkan konsekuensinya.

14 Maret 2009: Dalam sebuah rekaman suara, Osama menuduh pemimpin moderat Arab atas rencana bersama Barat untuk melawan muslim. Pemimpin tersebut juga dituduh Osama terlibat bersama Israel dalam 22 hari penyerangan ke Gaza.

14 Januari 2009: Osama dalam sebuah pesan suara, menyerukan sebuah jihad baru untuk mengakhiri perang Israel di Gaza. Osama juga menyerukan kepada umat Muslim untuk mendukung warga Gaza dan tidak bersandar kepada pemimpin Arab "yang mayoritas mereka besekutu dengan koalisi 'Crusader-Zionist'"

18 Mei 2008: Dalam sebuah rekaman suara yang diposting di internet, Osama mendesak umat Muslim untuk menghancurkan Israel, yang memimpin blokade Hamas, mengontrol Jalur Gaza dan melawan pemerintahan Saudi yang berhubungan dengan Israel.

16 Mei 2008: Osama, dalam sebuah pesan suara yang diposting di internet, menyebut 'orang Barat' dan menyerukan perang terhadap Israel untuk dilanjutkan. Dia mengatakan, konflik Israel-Palestina adalah jantung peperangan Muslim dan Barat.

19 Maret 2008: Dalam sebuah rekaman suara, Osama mengancam Uni Eropa dengan hukuman berat atas kartun Nabi Muhammad. Dia juga mengatakan, jalan terbaik bagi Muslim untuk menolong Palestina adalah mendukung warga Irak melawan pemerintahnya dan pasukan AS.

29 November 2007: Osama mendesak negara-negara Eropa untuk mengakhiri pesekutuannya dengan pasukan AS di Afghanistan.

7 September 2007: Osama menampakkan diri dalam video pertamanya dalam kurun waktu hampir 3 tahun untuk memperingati 6 tahun serangan 9/11 di AS. Dalam pesannya kepada publik AS, dia mengancam untuk mengeskalasi perang di Irak dan mengatakan AS sangat rentan, lepas dari kekuatan ekonomi dan militernya.

23 Mei 2006: Dalam rekaman suara yang diposting di internet, Osama mengatakan dia mengotaki serangan 9/11 dan bahwa Zacarias Moussaoui, yang dihukum karena serangan itu, bukan bagian dari kelompoknya.

19 Januari 2006: Dalam sebuah pesan suara, Osama mengancam akan melakukan serangan baru melawan AS, namun ia menawarkan AS sebuah syarat "gencatan senjata jangka panjang." Rekaman itu muncul setelah lebih pemimpin Al-Qaeda itu berdiam diri.

15 April 2004: Osama menyampaikan sebuah pesan kepada negara-negara Eropa dan mengatakan, "Saya menghadirkan sebuah inisiasi rekonsiliasi... untuk menghentikan operasi melawan semua negara-negara (Eropa) jika mereka berjanji tidak agresif terhadap umat Muslim."

18 Oktober 2003: Osama berbicara lantang melawan perang Irak dalam sebuah rekaman suara. Dia mengatakan, "Kami akan terus melawan kamu dan akan melaksanakan operasi kesyahidan." "Kami berhak untuk membalas ... melawan semua negara yang mengambil bagian dalam perang [Irak] yang tidak adil, yaitu Inggris, Spanyol, Australia, Polandia, Jepang dan Italia".

9 September 2002: Dalam rekaman suara, Osama membangkitkan serangan di New York dan Washington. "Kita berbicara tentang orang-orang yang mengubah arah sejarah dan membersihkan kotoran ... penguasa berbahaya dan bawahan mereka".

27 Desember 2001: Dalam sebuah rekaman suara, Osama mengatakan: "Terorisme terhadap Amerika patut dipuji karena merupakan respons terhadap ketidakadilan, yang ditujukan untuk memaksa Amerika menghentikan dukungannya kepada Israel, yang membunuh orang-orang kita".

7 Oktober 2001: Osama mengklaim, "Amerika telah dihajar oleh Allah pada titik yang paling rentan, menghancurkan, terima kasih Tuhan, bangunannya yang paling bergengsi." Osama mengatakan dalam sebuah rekaman suara tentang serangan 9/11.













Sumber : detik.com/berita/html & Al-Jazeera.com. Photos : aljazeera.com (cc) times.com