Senin, 10 Oktober 2011

DPR (seumpama) Orang di Pinggir Jalan

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Anggota DPR bak orang di pinggir jalan saja. Saat rapat konsultasi dengan KPK, Senin (3/10), mereka berteriak seolah berada di luar pagar kekuasaan legislatif. Contohnya, Ketua Komisi III DPR Benny K Harman dari Partai Demokrat menyebut KPK sebagai teroris baru. Padahal, eksistensi KPK tidak jatuh dari langit, tetapi diatur undang-undang yang dibuat DPR. Benny juga mempertanyakan permintaan anggaran yang dibutuhkan kejaksaan yang tidak dipenuhi, seakan anggaran itu dirampok KPK. Padahal, DPR yang punya hak bujet, bukan orang di pinggir jalan. Contoh lain, Wakil Ketua Komisi III Azis Syamsuddin dari Partai Golkar mencecar KPK atas pemeriksaan pimpinan Badan Anggaran DPR. Ia mempersoalkan perbedaan pemeriksaan sebagai saksi dengan permintaan klarifikasi. Padahal, DPR sendiri yang memberi KPK wewenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat. Dalam hal yang meresahkan masyarakat, tidak soal apakah KPK melakukan pemeriksaan sebagai saksi atau hanya permintaan klarifikasi. Begitulah, DPR yang bikin undang-undang dan memberi wewenang yang begitu luas kepada KPK, DPR pula yang mencak-mencak ketika undang-undang itu diterapkan.

Contoh paling hebat ialah Wakil Ketua Komisi III Fahri Hamzah dari Partai Keadilan Sejahtera. Ia tidak percaya di dalam demokrasi ada lembaga superbodi. Lah, siapa yang kasih kewenangan superbodi kepada KPK kalau bukan DPR melalui Undang-undang No 30 Tahun 2002? Fahri bahkan menyatakan agar KPK dibubarkan. Siapakah yang berhak mencabut undang-undang? KPK tidak diatur dalam konstitusi. Kalau lembaga pemerintah yang menangani korupsi telah berfungsi secara efektif dan efisien dalam memberantas korupsi, DPR bisa membubarkan KPK. Logika tersebut termaktub di dalam undang-undang tentang KPK. Jelas sekali Benny, Azis, dan Fahri geram dengan KPK. Jika mereka ingin membubarkan KPK, bubarkanlah lewat undang-undang. Bersikaplah layaknya anggota parlemen sejati, bukan parlemen jalanan yang berteriak-teriak dari luar pagar. Pertanyaannya, apakah teriakan mereka itu juga teriakan Partai Demokrat, Partai Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera? Jika suara mereka bukan suara partai, seharusnya partai menindak mereka. Namun, sampai sekarang partai berkilah suara mereka merupakan suara pribadi. Padahal, tidak ada anggota DPR sebagai pribadi, dari calon independen, tetapi sebagai orang partai. Sebuah silat lidah yang juga dari pinggir jalan.

(c) editorial/mediaindonesia.com
Foto : anaktk.com

Kamis, 06 Oktober 2011

Haji dan Kubus Bernama KA'BAH

Oleh : Muhammad Ilham

/Dipintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling"
(Chairil Anwar)

Bacalah buku Perjalanan Haji-nya Ali Shariati, kita akan dibawa kepada kerendahhatian. "Bayangkan dirimu, kata sosiolog Iran tamatan Sorbonne ini, sebagai sebuah partikel besi di dalam sebuah medan magnet, seolah-olah engkau berada diantara berjuta-juta burung putih yang sedan melakukan mikraj". Ali Shariati yang dikenal sebagai ideolog Revolusi Islam Iran ini, benar dan menyentuh. Sebuah partikel besi diantara semesta jutaan partikel besi lainnya, sekor burung putih di antara jutaan burung putih. Lalu, siapakah saya ? siapakah kami ? dan siapakah kita ?. Ali Shariati dalam buku "kecil" nan fenomenal tentang hakikat azali perjalanan haji tersebut mendekonstruksi kepongahan sebuah konsep, "massa". Haji bukanlah sekedar massa. Haji ibarat penggalan sajak Rainer M. Rilke, "Tuhan, arti-Mu adalah kerendahhatian". "Massa" bagaikan kata ajaib dalam sebuah mantra perjuangan. Ia diberi tempat khusus. Paham totaliter seperti fasisme dan komunisme meletakkan sang "massa" selalu benar dan ditakdirkan untuk pada akhirnya menang. Sebuah kesombongan dan ketakaburan. Maka, Ali Shariati menggugat kesombongan "massa" itu. Kita tak bisa menyamakan gerak ribuan jamaah yang mengelilingi Ka'bah dengan "massa" dalam pengertian totaliter. Sebab ibadat Haji yang diikuti oleh "massa", pada asasnya adalah sebuah sujud, merendahkan hati dan jiwa dihadapan sang Maha Pencipta.

Ka'bah, kata Ali Shariati yang satu kelas dengan "si jagal" Polpot kala kuliah di Sorbonne ini, adalah sebuah kebersahajaan, tanda menyerahnya manusia di hadapan sang Azza wa Jalla. Ia hanyalah sebuah kubus tanpa ornamen nan indah, kecuali kaligrafi pada kiswah yang membungkusnya - ia praktis tanpa keelokan, tanpa ornamen, tanpa keinginan menjadi impresif. Ia berdiri begitu saja di halaman dalam Masjidil Haram, dan - sebagaimana kata Muhammad Assad - "tak menyentak". Muhammad Assad, penulis Islam keturunan Yahudi Eropa itu benar. Dalam bukunya Jalan ke Mekkah, sebuah buku nan indah tentang perjalanan hidupnya, Assad mengatakan, "Saya telah menyaksikan di berbagai negeri kaum Muslimin, tempat para tangan seniman besar menciptakan karya yang diilhami, tapi justru dalam kesederhanaan Kubus Ka'bah, yang menyangkal segala keindahan garis dan bentuk, tercermin satu sikap bahwa betapapun indahnya segala apa yang dapat dibuat oleh tangan-tangan manusia, adalah congkak jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan". "Oleh karena itu, kata Assad, semakin sederhana yang dapat disombongkan manusia, merupakan hal yang terbaik yang dapat dibuatnya untuk menyatakan kebesaran Tuhan".




Buat seorang sahabat yang berangkat haji/besok pagi/
do'akan yang terbaik bagi saya disana !!


Inspired : Ali Shariati (1997), Goenawan Mohammad (2000)

Sabtu, 01 Oktober 2011

G(empa) 30 S : "Ustad, Maksiat dan Gempa serta Bugil"

Oleh : Muhammad Ilham

Untuk mengenang (kembali) "efek" gempa yang meluluhlantakkan Kota Padang, bukan hanya fisik-infrastruktur kota, tapi efek psikologis masyarakat jauh lebih terasa secara nyata. Artikel ini (satu diantara 5 artikel) pernah diposting pada tanggal 2 Oktober 2009 di kompasiana.com. Semata-mata bersifat pengulangan, untuk mengingatkan kembali pada G/30S (baca: Gempa 30 September) Sumatera Barat yang teramat "fenomenal" itu.

Margareth Marcus atawa "Mariam Jameelah" (murid kesayangan Abul A'la Al-Maududi) suatu ketika pernah mengatakan bahwa "memisahkan faktor transedental dengan kejadian-kejadian alam merupakan bentuk sekularisme paling mengkhawatirkan, namun menganggap fenomena alam bukan merupakan tanda-tanda Tuhan, justru jauh lebih mengkhawatirkan". Saya sederhanakan : ... "apabila terjadi kecelakaan, lantas kita menganggap itu merupakan kesalahan manusia semata tanpa ada takdir Tuhan disana, maka itu adalah bentuk sekularisme yang mengkhawatirkan ...... namun justru lebih mengkhawatirkan apabila kecelakaan itu kita anggap sebagai takdir Tuhan semata, tanpa melihat kesalahan yang dilakukan oleh seseorang sehingga ia celaka karena tidak membaca tanda-tanda alam (rambu-rambu lalu lintas, misalnya).

Beberapa tahun yang lalu (kalau saya tidak salah tahun 2007), menjelang Ramadhan terjadi gempa yang cukup keras di Kota Padang. Satu hari jelang puasa, jam 17.00 sore, kira-kira. Hari dan saat itu, warga Padang sedang melaksanakan "tradisi kultural-teologis" a-la Minangkabau, Balimau. Ketika banyak warga sedang mandi Balimau di beberapa sungai dan tempat pemandian di Kota Padang, gempa "berdangdut". Semua orang berhamburan. Walau hanya sebentar, tapi gempa ini justru menjadi topik ceramah para pendakwah pada bulan Ramadhan kala itu, terutama di Kota Padang ................ dan itu termasuk saya yang kebetulan mengisi beberapa jadwal ceramah Ramadhan di beberapa masjid dan musholla di Kota Padang. Bila saya tak ada jadwal ceramah, biasanya saya pergi ke beberapa Masjid untuk sekedar "belajar tambahan" dari beberapa muballigh yang kebetulan ceramah di Masjid yang saya kunjungi untuk taraweh. Hampir secara keseluruhan, topik ceramah yang saya dengar berkaitan dengan gempa ......... para muballigh ini nampaknya menyadari hal-hal aktual, kala itu. Akan tetapi, kemampuan para muballigh ini merespon topik katual ini tidak diiringi oleh kearifan dalam melihat kompleksitas faktor yang melatarbelakangi gempa tersebut. Fakta sosial "Balimau" justru dijadikan sebagai penyebab an-sich terjadinya gempa. "Tahukah bapak, ibu saudara sekalian, gempa yang terjadi satu hari jelang puasa kemaren, merupakan laknat Allah karena kita masih memegang tradisi Balimau .......... seluruh laki-laki dan perempuan bercampur baur, hanya untuk mandi di seluruh sungai di Kota Padang", demikian setidaknya simpulan dan hujatan para muballigh yang saya dengar. Para muballih tersebut harusnya belajar antropologi, bahwa tradisi Balimau itu sudah menjadi tradisi-kultural Minangkabau sejak awal Islam masuk di ranah "rumah bagonjong". Walaupun secara normatif-teologis, kita harus meyakini bahwa fenomena alam merupakan sebuah takdir ............ ia memiliki qadar dan ukuran, apabila tiba masa qadar atau ukurannya, maka fenomena tersebut akan terjadi.

Pasca gempa, saya sholat di salah satu masjid di pusat Kota Padang, sebagai makmum. Dalam khutbahnya, sang khatib yang kebetulan merupakan salah seorang khatib kondang di Kota Padang, kembali mengulang kekhawatiran Maryam Jameelah di atas. "Penyebab gempa di Kota Padang dan Padang Pariaman, Bapak-Bapak saudara sekalian, karena perbuatan maksiat yang telah merajalela di daerah kita ini", demikian intro dan analisis si khatib tersebut dengan lantang. Kemudian beliau mulai mengeluarkan data-data yang dikutipnya dari opini dan pemberitaan media massa tentang maraknya perbuatan maksiat (terutama jumlah wanita tuna susila @ poyok yang dari waktu ke waktu menunjukkan grafik peningkatan ditangkap oleh Polisi Pamong Praja) dan seterusnya dan sebagainya ........... kemudian disimpulkan : Inilah penyebab gempa. Saya lihat jamaah masjid hanya melongo (entah kagum atau heran), tapi yang jelas terdengar celetukan salah seorang jamaah yang duduk disamping saya, "kalera, manyalahan se pande-nyo, salasai khutbah ko inyo dapek pitih, nan awak pulang karumah indak punyo bareh" (baca : bullshit, ustad ini hanya pandai menyalahkan dan mengkritik saja tanpa memberikan jalan keluar terbaik, setelah khutbah ini, ia dapat uang honor sebagai khatib, sementara kita tidak memiliki beras di rumah). Saya ketawa dalam hati. Saya tahu, jamaah yang berceletuk tersebut mengerti bahwa tidak boleh berbicara ketika khatib naik mimbar, apatah lagi mengeluarkan kata-kata kotor. Di akhir khutbah, sang khatib menutup khutbahnya dengan sebuah renungan, bunyinya kira-kira begini : "Bapak-bapak, saudara-saudara sekalian, pada waktu evakuasi gempa, banyak ditemukan di salah satu hotel, orang-orang yang telah mati dalam kondisi pakaian setengah bugil dan hanya layak dipakai di kamar mandi atau mau bersetubuh ............. ini menjadi bukti bahwa kita yang mengundang gempa karena banyaknya perbuatan maksiat di sekeliling kita, seperti yang telah terjadi di salah satu hotel di kota Padang ini," demikian kata sang khatib. Terdengar lagi celetukan jamaah yang duduk di samping saya tadi, "iko ustad paniang ma, jalehlah banyak ditamuan mayat bapakaian renang di hotel Ambacang tu, namonyo ajo sadang baranang, ma lo ka mungkin bapakaian jas atau daster urang mandi ........... dalang ustad ko mah" (Ustad ini tidak memiliki analisa, sudah jelas banyak ditemukan orang mati dengan pakaian setengah bugil, maklum mayat-mayat yang ditemukan tersebut berada di kolam renang hotel Ambacang, masak orang berenang menggunakan pakaian jas ataupun daster). Saya berdiri, kemudian pergi ke tempat wudhu' ........... (mengulang kembali) berwudhu' dan melepaskan tawa yang tertahan.




Human Bombers: "Dari Kata Pada Bom"

Oleh : Muhammad Ilham


Mari kita mulai dengan "Morning has Broken"nya Cat Steven @ Yusuf Islam



Bertautnya kebencian pada UMMAT "lain".

Berawal dari kata-kata. Pada ujungnya berjumpa : Golok, Bedil dan Bom.

"Nyawa siapa ?" .. (Hanya) nyawa "mereka" atau nyawa "kita".
Dan ... mereka sama sekali tidak mengenal yang namanya Nyawa Manusia.

Islam itu (sejauh yang saya pahami dan selalu didengungkan oleh almarhumah ibunda nan lugu serta almarhum ayah yang kharismatik) adalah rahmatan lil 'alamiin.

(Kembali) Anarkisme atas nama agama terjadi.
Bom bunuh diri Minggu (25/9/2011) di Solo
mengagetkan "Indonesia" (dalam tanda kutip).




Inspired : GM Twitter & Foto : FreakingNews.com



Artikel dibawah ini dalam bentuk tulisan lengkap telah diterbitkan dalam Jurnal Internasional
Fikr wa Adab
Edisi Januari-Juni 2008 serta diterbitkan dalam Proceeding Seminar Internasional Islam dan Humanisme kerjasama IAIN Padang dengan FPI - UKM Malaysia, 2006.
Dalam bentuk artikel-opini, telah diterbitkan dalam detik.com/2010.



Dalam konteks sosiologis, jiwa martyrdom (lebih kurang berarti : kesyahidan), menurut John Hamling dalam bukunya The Mind of Suicide terdapat paling kurang ada delapan hal yang mendorong seseorang berani dan mau berkorban, bahkan mengorbankan hidupnya sendiri tanpa mengindahkan nilai-nilai humanis dan luhur agama dan "pakem" rasional yang terdapat dalam tata peradaban ummat manusia modern yaitu :

Keputusasaan dan Kehilangan Harapan (Hopeless).

Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh USA Today terhadap anak-anak Palestina menjelaskan bahwa mereka merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan. Mereka merasa hidup mereka tidak berarti lagi. Karena itu tidak ada pilihan lain lagi kecuali melawan dengan berbagai cara. Demikian juga halnya dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Peter O'Gonnor White2 terhadap komunitas Tamil di Sri Langka. Sri Langka, sebuah negara yang secara genetik dekat dengan Hindustan, akan tetapi mayoritas beragama Budha. Etnis terbesar yang terdapat di negara ini adalah etnis Sinhala (mayoritas) dan Tamil. Etnis terakhir ini merupakan etnis minoritas yang beragama Hindu, dan berada dibawah bayang-bayang diskriminasi sosial politik yang dilakukan oleh etnis Sinhala. Berbagai usaha dilakukan etnis Tamil agar mereka bisa berpisah dari Sri Langka. Akan tetapi, usaha melalui jalur diplomasi dan kerusuhan-kerusuhan sporadis tidak membuahkan hasil. Akibatnya, mereka merasa kehilangan harapan. Maka jalan satu-satunya adalah mentradisikan bom bunuh diri secara simultan dengan harapan timbulnya ekses psikologis dan perhatian dunia. Menurut White, sejak kecil para pemuda Tamil diajarkan sisi-sisi negatif etnis Sinhala dan "kaburnya" masa depan mereka. Militansi dan jiwa altruisme ditanamkan sedari kecil. Keputuasaan, hampir dalam berbagai kasus, selalu diakhiri dengan prinsip altruisme radikal dan dijustifikasi oleh nilai-nilai agama. Kelompok Radikal HAMAS di Palestina selalu mengatakan bahwa pengorbanan yang dilakukan oleh pemuda Palestina dalam meledakkan diri mereka bukan "kematian mubazir", tapi dalam konteks Islam menurut mereka kematian tersebut adalah syahid.

Cinta dan Investasi

Demi orang yang dicintainya orang rela melepaskan hidupnya. Pengorbanan memiliki nilai evolusioner riil manakala orang tua menyelamatkan anaknya karena penyelamatan anaknya akan menjamin kelangsungan hidupnya. Memang orang tua melindungi dan mendidik serta membesarkan anaknya tampa pamrih. Akan tetapi bagaimanapun juga, anak bagi orang tua adalah investasi, baik investasi kelangsungan genetik, ekonomi maupun kedamaian dihari tua. Secara sosiologis, cinta terbesar adalah cinta terhadap agama dan ideologi yang sering dipersonifikasikan dengan konsep fanatisme. Kecintaan terhadap agama mengalahkan kecintaan terhadap yang lain karena agama memiliki daya tarik luar biasa dengan justifikasi normatif religiusnya.

Faktor Kepahlawanan (heroisme) dan Inspirasi.

Sosiolog Emille Durkheim mengatakan bahwa dalam kasus-kasus yang lebih altruistik, pelaku bunuh diri (baca : pengebom bunuh diri) menyimpulkan bahwa kehidupan mereka yang selamat lebih bernilai dibandingkan dengan kehidupannya sendiri atau bahkan kelangsungan hidup mereka bisa terjamin bila ada yang meninggal. Tipe seperti ini biasa terjadi dalam peran ketika seseorang mengobankan dirinya sendiri dengan harapan bahwa kawan-kawannya akan selamat. Banyak peristiwa-peristiwa tragis kepahlawanan yang pada akhirnya peristiwa itu memberikan inspirasi tentang kepahlawanan (terlepas dari salah atau benarnya). Prosesi "Minum Racun"nya Socrates karena keteguhan akan memegang prinsip justru memberikan inspirasi besar terhadap perjalanan filsafat pemikiran dunia setelahnya. Begitu juga dengan sang ana al haq al Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Di Filiphina, hal ini bisa terlihat dari Jose Rizal. Pada malam sebelum ia ditembak mati, Jose Rizal menulis puisi yang salah satu bait dari puisinya tersebut adalah : "Kematianku untuk Tanah Airku, Kematianku untuk Bangsaku". Kalimat ini kemudian menjadi inspirasi luar biasa bagi perlawanan bangsa Filiphina pasca kematian Jose Rizal. Kemudian juga terlihat dari apa yang diungkapkan oleh "Singa Padang Pasir" dari Libya Omar Mochtar sebelum menuju tiang gantungan yang dipersiapkan oleh penjajah Italia : "kematianku bukanlah sebuah kekakalahan dan ketakutanku. Kematianku merupakan sebuah inspirasi terhadap perubahan yang lebih besar pada masa yang akan datang".

Kebanggaan Individual-Komunal.

Standar kultural dan kepercayaan mungkin membawa seseorang untuk siap melepaskan hidupnya untuk menunjukkan keberanian atau menunjukkan dirinya berarti. Hasil dari tindakan ini adalah terjaminnya keberlangsungan hidup anggota keluarganya. Mereka dapat hidup dengan kebanggaan dan harapan. Faktor budaya sangat memegang peranan yang signifikan dalam melahirkan anggapan ini. Bagi kultur masyarakat Jepang klasik dan Palestina hingga saat sekarang, jiwa altruisme dengan bentuk tindakan bom bunuh diri (dengan embel-embel demi negara dan agama tentunya) justru meninggalkan kebanggaan individual-komunal. Salah seorang wartawan perang CNN terkenal, Peter Arrnet pernah meliput Perang Irak-Iran secara Live pada tahun 1982. Ia pernah melihat salah seorang ibu tua renta berdiri berjam-jam di stasiun kereta api milik tentara Iran. Peter Arrnet menanyakan siapa yang ditunggu oleh ibu tersebut. Si Ibu menjawab, "Saya menantikan anak kedua saya pulang dari front melawan "Yazid" Saddam Hussein, anak pertama saya telah syahid, mati di barisan depan agar pasukan pelapis bisa maju, sekarang saya menunggu dengan bahagia kedatangan anak kedua saya, hidup atau mati. Nanti saya berencana ingin mengirim anak bungsu saya yang sekarang telah berumur 18 tahun, keluarga kami adalah keluarga pejuang dan saya bangga karena rahim saya telah melahirkan para pejuang Iran dan Islam". Bagi kultur dan kondisi kontekstual-temporal Iran pada waktu itu, ini sangat membanggakan.

Eskapisme

Eskapisme, menurut kajian psikoanalisis, adalah keadaan memasuki alam khayal/hiburan untuk melupakan atau menghindari kenyataan-kenyataan yang tidak menggembirakan. Terkadang kematian dilihat sebagai pilihan terbaik dan terakhir yang amat menyedihkan ataupun kemalangan yang baik. Misalnya, untuk menghindari diri agar tidak ditangkap musuh untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi seperti penyiksaan dan penghinaan, maka diambillah pilihan terakhir untuk melakukan bom bunuh diri. Dalam konteks ini, mungkin tidak begitu banyak pelaku bom bunuh diri melakukan tindakan bom bunuh diri karena faktor ini.

Kegilaan

Ada yang beranggapan bahwa bunuh diri merupakan tindakan terakhir dari episode psychotic (kegilaan) yang merupakan bagian dari ritual supernatural, karena kematian tidak dapat dielakkan atau karena kematian merupakan sesuatu yang sementara sifatnya. Mungkin faktor ini tidak begitu jelas dan pas dalam memahami perilaku terorisme bom bunuh diri. Pada umumnya, hal ini bisa dilihat dari beberapa fenomena aliran-aliran "sempalan" dari sebuah agama yang mapan seperti fenomena David Koresh di Amerika Serikat dan beberapa peristiwa tragis lainnya yang berakhir dengan ritual bunuh diri para pengikutnya.

Fanatisme

Fanatisme merupakan sistem kepercayaan yang kaku, keras atau berpandangan sempit, meuntut para penganutnya untuk mengorbankan diri. Beberapa pernyataan yang dipaparkan diawal tulisan diatas terlihat bagaimana mereka memahami ajaran Islam secara sempit dan parsial. Mereka menganggap pemahaman merekalah yang benar, sehingga tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif pernah mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah orang-orang yang hanya berani mati, akan tetapi tidak berani hidup. Mereka hanya memahami ajaran Islam secara parsial dan menafsirkan ajaran tersebut sesuai dengan kepentingan dan misi ideologi mereka sendiri. Sayangnya, demikian kata Maarif, pelaku bom bunuh diri tersebut mayoritas adalah mereka yang memiliki pendidikan yang rendah dan tingkat ekonomi yang tidak begitu mapan, sehingga mereka mudah direcoki dengan pemahaman-pemahaman yang salah dan pada akhirnya menimbulkan rasa fanatisme yang tinggi dan anggapan bahwa apa yang mereka lakukan tersebut merupakan sesuatu yang benar dan sesuatu yang harus dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Robert N. Bellah di Jepang tentang ajaran Tokugawa memperkuat hal ini. Keberhasilan mencapai tujuan dan menjaga martabat Kaisar Jepang merupakan sebuah doktrin "genealogik" secara kultural bahkan diterima secara taken for granted. Hal inilah yang membuat masyarakat Jepang klasik sangat fanatik terhadap pemahaman dua hal diatas : Keberhasilan dalam mencapai tujuan dan Menjaga martabat tahta Seruni. Apabila mereka merasa gagal, maka jalan yang terbaik adalah bunuh diri. Bedanya antara fanatisme pertama dengan yang kedua adalah kalau yang pertama merupakan pemahaman parsial bukan kultural dan memiliki implikasi terhadap orang yang tidak bersalah. Sedangkan yang kedua merupakan pemahaman kultural yang hanya memiliki implikasi individual.

Ketenangan atau Ketenteraman

Pengorbanan diri sebagai suatu tindakan kesyahidan religius munculdari suatu kepercayaan terhadap hidup setelah mati atau berdasarkan atas kepercayaan bahwa kematian memberikan suatu kesempatan untuk lahir kemabli di bumi dengan status yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka kematian bukanlah dianggap sebagai sebuah kesia-siaan, tetapi dipandang sebagai kelahiran kembali untuk memulai hidup yang lebih baik dan baru. Dalam konteks ini, sedikit banyaknya motivasi pelaku bom bunuh diri adalah merupakan pelarian dari suasana dan "kompetisi hidup" yang tidak ramah pada mereka dan jalan terbaik agar mereka mencapai ketenangan dan kematian mereka tidak sia-sia adalah dengan jalan tragis ini.



Foto : waronline.com

Ketika Hitler (Masih) "Hidup"

Oleh : Muhammad Ilham

"Yahudi dan Negro dilarang mampir"
(Penggalan Billboard dalam film Life is Beatiful)

"nyawa siapa ?". Nyawa "mereka" atau Nyawa "kita". Mereka sama sekali tidak mengenal Nyawa Manusia.

Bom bunuh diri pagi tadi (25/9/2011) di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, kembali mengagetkan "Indonesia" (dalam tanda kutip). Saya tak ingin membahas "mengapa hal sedemikian kembali lagi terjadi?". Sudah teramat banyak analisis yang rasional membedah latar belakang kejadian-kejadian sejenis. Saya hanya ingin melihat kejadian ini dan menghubungkannya dengan "pesan" film Life is Beatiful. Film yang mendapat penghargaan di Cannes Film Festival & juga Oscar kembali saya tonton. Film ini diambil dari kisah nyata dengan setting penceritaan gerakan anti Yahudi yg dilancarkan Nazi. Guido Orefice dan putranya Joshua termasuk diantara mereka yg dibawa ke kamp konsentrasi. Guido ingin putranya memandang hidup dengan cara terindah walau apapun situasinya. Guido menunjukkan kepada anaknya bahwa hidup ini indah tergantung bagaimana kita memandangnya. Kehidupan dalam kamp yang mengerikan dan menyedihkan terasa menyenangkan bagi Joshua karena hal itu tidak lebih dari pada permainan. Sungguh, sebuah kisah menyedihkan ditengah "teror" yang bernama Nazi dengan penjaga ruh-nya bernama Hitler. Film ini menggambarkan bagaimana sebuah komunitas (dalam hal ini Yahudi) menjadi korban dari "ganasnya" ideologi Fasisme dan Rasisme-Ultra. Guido dan anaknya bukan siapa-siapa, tapi bagi Hitler, mereka "salah memilih takdir" ..... mereka berasal dari ras Yahudi. Dan untuk .... sebagaimana halnya doktrin Fasisme diatas, "mereka pantas dan sudah seharusnya dimusnahkan", karena pemusnahan itu harus sampai tuntas.

Film ini, sama juga halnya dengan film-film lainnya seumpama Schlinder List kembali memperlihatkan kepada sejarah tentang peran besar dari seorang orator ulung, pribadi menakutkan sekaligus menarik, Hitler. Hitler, lengkapnya Adolf Hitler, lahir di Branau Austria tahun 1889. Waktu Perang Dunia I (1914-1918), Hitler muda masuk Angkatan Perang Jerman. Kekalahan Jerman membuatnya terpukul. Tahun 1899, ia bergabung dengan partai kecil berhaluan kanan di Munich dan kemudian partai ini merubah namanya menjadi Partai Buruh Nasionalis Jerman (NAZI). Dalam tempo dua tahun ia kemudian menjadi pemimpin Jerman yang sungguh sulit mencari tandingannya kala itu. Julukan "Fuehrer" setidaknya memperlihatkan kedigdayaan Hitler ini. Setelah gagal melakukan kudeta yang dikenal dengan The Munich Beer Hall Puts dan melalui lika-liku politik yang dinamis, akhirnya pada bulan Januari 1933, Hitler dalam usia 44 tahun, ia menjadi Kanselir Jerman. Dan kemudian, mulailah Hitler menjalankan keyakinan politik kepemimpinanya, bahwa "matahari" tak boleh dua serta musuh harus dimusnahkan sampai tuntas. Oposisi dilabraknya tanpa proses pengadilan. Musuh politiknya "dihabisi", dan ia kemudian mampu menciptakan kestabilan politik karena ditangannya terpegang kekuatan kediktatoran absolut. Dan rakyat Jerman kala itu mendukung karena kestabilan politik ini berkorelasi dengan kestabilan dan peningkatan ekonomi yang dirasakan rakyat Jerman kala itu. Nafsu "de Fuehrer"nya rasa tak terbendung. Tahun 1936 ia mencaplok Austria, dan ini berarti Hitler mengangkangi Perjanjian Versailles. Tapi Hitler tak bergeming. Ini diperlihatkannya dengan pencaplokan negaralain, Cekoslovakia. Tahun 1940 menjadi tahun "emas" Hitler. Denmark dan Luxemburk dilabraknya. Belanda, Perancis dan Belgia bertekuk lutut tahun ini juga. Sebuah prestasi yang mengejutkan dan membuat banyak orang kala itu terhenyak. Negara-negara utama di Eropa masa itu berada dalam genggaman Hitler. Hanya Inggris yang mampu bertahan mati-matian terhadap serangan udara Jerman yang dikenal dengan sebutan Battle Britain. Hitler tak sanggup menjejakkan kakinya di Ingggris. Tahun 1942, Hitler telah berhasil menguasai sebagian daerah Eropa tanpa pernah sanggup dilakukan oleh siapapun dalam sejarah. Menariknya, selain Eropa, Hitler juga mencaplok Afrika Utara.

Selama berkuasa, Hitler terlibat dalam pembunuhan massal yang tak ada tandingannya dalam sejarah ummat manusia .... mungkin hanya Kaisar Nero yang bisa mendekati keberingasan putra seorang petani Austria ini. Hitler sangat rasialis yang ultra, khususnya terhadap kaum Yahudi yang dibencinya dengan kebencian yang meletup-letup. Dalam awal film Schlinder List terlihat nyata bagaimana kebencian ini diselipkan menjadi sebuah bagian ideologi : "kehancuran ekonomi Jerman, dan orang yang bertanggung jawab terhadap kelaparan orang Jerman adalah orang Yahudi. Mereka merampas peluang kerja kita. Sebagai bangsa Aria, ras paling pilihan di muka bumi ini, tentunya kita tidak mau dihina oleh ras paling rendah dan telah membuat kita menderita, ras bangsa Yahudi". Untuk memenuhi ambisi kebenciannya ini, maka dibuatlaj kamp-kamp konsentrasi sebagaimana yang terlihat dalam dua film di atas. Sejarah kemudian mencatat, lebih kurang enam juta orang dibunuh, mayoritas Yahudi selain Rusia, Gypsi dan Ras-Ras yang dianggapnya sebagai ras rendah serta orang-orang yang dianggapnya berpotensi merusak "peradaban ummat manusia" seperti orang gila dan idiot. Hitler membangun kamp-kamp maut itu dengan organisasi yang cukup rapi dan cermat seakan-akan ia sedang merancang sebuah perusahaan bisnis besar. Data-data tersusun rapi, jumlah ditetapkan dan mayat-mayat secara sistematis dipreteli anggota badannya yang berharga seperti cincin ataupun gigi emas. Bahkan banyak mayat yang dimanfaatkan untuk pabrik sabun. Perbuatan melawan hakikat kemanusiaan dan kebenaran yang tersusun dengan baik dan sistematis serta didukung oleh mayoritas orang, pada gilirannya akan menemui kehancuran. Sejarah mencatat, Fir'aun yang kuat hancur lebur di lautan merah. Dan Hitler, pada musim semi tahun 1945, bersama dengan Eva Braun, pacarnya, bunuh diri dalam kamp pertahanan mereka di Berlin. Tujuh hari kemudian, Jerman-pun menyerah.





Dan ..... hingga hari ini kebencian seorang Hitler masih tetap banyak terjaga di benak kita semua, orang-orang disekeliling kita. Kita terkadang mengutuk seseorang karena "takdir" mereka harus dikutuk. Terkadang kita juga tidak bisa membedakan mana YAHUDI, mana ZIONIS (ME) dan mana Bani ISRAEL. Hitler masih "hidup".
Masalahnya karena mereka hanya melihat : "nyawa siapa". Jawaban yang mereka munculkan adalah : Nyawa "mereka" atau Nyawa "kita". Mereka sama sekali tidak mengenal Nyawa Manusia.
Wallahu 'alam !

Selasa, 27 September 2011

Gelimang Harta (para) Warren Buffet dari Arab

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Namanya Pangeran Al-Walid bin Talal bin Abdul Aziz al-Saud. Tak lain, dia adalah keponakan Raja Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz. Ayahnya, Talal bin Abdul Aziz al-Saud, adalah putra pendiri Kerajaan Saudi. Ibunya, Mona El-Solh, adalah putri perdana menteri pertama Lebanon, Riad El-Sohl. Dilahirkan pada 7 Maret 1955. Dia baru berumur 46 tahun. Al-Walid memulai karier bisnisnya pada 1979 setelah lepas dari bangku kuliah. Forbes mencatat, setidaknya hingga kuartal pertama tahun 2011, nilai kekayaan bersih sang pangeran mencapai US$19.4 miliar (setara Rp127,3 triliun). Ia ditahbiskan sebagai orang terkaya ke-19 sejagat. Istana dan barisan properti miliknya ditaksir bernilai sekitar US$3 miliar. Selain itu, ia punya koleksi perhiasan dengan nilai tak kurang dari US$730 juta. Sejumlah logo perusahaan top dunia, tempat dia menanamkan sahamnya, berjejer di ruang kantornya di Riyadh. Misalnya Citicorp, Motorola, Apple, Disney, Time Warner, dan Newscorp. Tentu, itu hanya beberapa saja, karena ia seakan tak terlihat ingin berhenti berinvestasi. Ketika bulan puasa tiba, ia tampak legawa menggelar acara buka puasa, dan makan malam bersama ratusan undangan. Acara itu berlangsung di ruang terbuka, dengan hamparan karpet yang berfungsi sebagai alas duduk dan ‘meja makan’. Di kanan-kiri singgasananya ada telepon dan televisi satelit, demi memantau perkembangan terakhir politik dan ekonomi dunia. Di akhir acara, ia akan menerima berbagai permohonan dana yang disampaikan lewat surat. Setidaknya, ia menggelontorkan uang sebesar US$1.5 juta (Rp12,8 miliar) sebagai jawaban atas proposal para undangannya.

Pangeran Arab lainnya punya cara istimewa bagaimana menikmati kekayaan. Sheikh Hamad bin Hamdan Al Nahyan, misalnya. Lelaki 63 tahun itu berasal dari keluarga kerajaan Abu Dhabi. Ia punya koleksi 200 mobil, dengan nilai total US$20 juta (Rp170,9 miliar). Itu termasuk tujuh Mercedes 500 SEL bercatkan warna-warna pelangi. Itu sebabnya dia dijuluki Sheikh Pelangi. Untuk menyimpan kendaraannya, ia membangun garasi berbentuk piramida. "Kami tak pernah sekali pun menyimpan uang di bank. Kami selalu menghamburkan uang yang kami dapatkan,” ungkapnya kepada Discovery Channel. Dia memang tak pernah berhenti menarik perhatian. Misalnya, dia mengerjakan proyek mengukir namanya sendiri pada sebuah pulau. Di pasir Al Futaisi, demikian nama pulau itu, Hamad mencetak namanya di hamparan sepanjang 3 kilometer. Tinggi hurufnya sekitar 800 meter. Kata itu, yakni sama dengan namanya – Hamad – lantas dialiri air. Konon, ukiran nama itu bisa ditatap dari luar angkasa. Itu bukan pertama kali dia punya kegilaan terhadap sesuatu “yang besar”, atau “yang maha”. Misalkan, pada awal 1980an, ia pernah merakit truk terbesar di dunia. Modelnya adalah tiruan Dodge Power Wagon produksi Amerika Serikat. Truk rancangannya punya ukuran delapan kali lebih besar dari ukuran Dodge biasa. Bobotnya 50 ton. Di dalamnya, ada empat kamar tidur. Di bak truk itu, ada landasan helikopter. Yang mengagumkan, kendaraan itu bisa dioperasikan.

Walid dan Hamad hanyalah sebagian kecil dari ratusan pangeran kerajaan Arab yang terkenal bergelimang harta. Turut ada di dalam daftar: Muhammad bin Issa al-Jabir, Muhammad al-Amudi, Issam al-Zahid, dan Keluarga Bin Laden, untuk menyebut beberapa nama. Pada 2010 saja, seperti dilansir laman Arabian Business, nilai kekayaan 50 orang terkaya di jazirah Arab mencapai US$245 miliar (sekitar Rp2.000 triliun). Tak semua pundi berisi uang dari minyak, komoditas andalan tanah Arab, di mana Saudi sendiri menyumbang 20 persen cadangan minyak dunia. Rezeki para raja itu juga mengalir dari properti, bisnis konstruksi, investasi di perusahaan multinasional, dan sebagainya. Tapi menjadi kaya tak selamanya juga bernama harum. Yang kadang terdengar di kuping orang banyak adalah pelbagai rahasia di balik tembok istana. Masih terang di ingatan, pada penutupan milenium lalu, ada skandal penyelundupan kokain melibatkan seorang pangeran kerajaan Saudi. Kasus itu luar biasa. Nilai barang haram itu mencapai US$15 juta (atau berkisar Rp128 miliar). Dari Kolombia, negeri dari mana kokain itu diterbangkan dengan Boeing 727 milik pribadi, Pangeran Nayef bin Fawaz al-Shaalan, sang otak di balik penyelundupan, membawanya ke Prancis. Tuduhan lebih gawat pun meruyak. Penyidik dari badan penanggulangan narkotika AS (DEA) menyatakan keuntungan penjualan kokain itu konon akan digunakan sang pangeran membiayai teroris. Tak jelas, tudingan itu terbukti atau tidak. Persidangan Nayef pun berjalan in absentia. Pengadilan menyatakan ia bersalah, dan wajib membayar denda US$100 juta. Tapi di manakah Nayef saat hakim mengetuk palu vonis?

Tak ada tempat senyaman rumah, demikian kata pepatah. Ia telah berada di Saudi, berkat akal-akalan cukup mujarab: kekebalan diplomatik. Sialnya, Prancis tak punya perjanjian ekstradisi dengan Saudi. Nayef pun tak tersentuh jangkauan hukum internasional. Di negeri sendiri, ia sudah pasti kebal hukum. Skandal lain, yang dulunya terdengar lamat-lamat, tiba-tiba menggelegar bak meriam. Akhir tahun lalu, bocoran nota diplomatik AS disebarkan laman WikiLeaks. Dilaporkan soal kegemaran para pangeran Saudi menggelar pesta besar-besaran. Di sana ada obat-obatan terlarang, alkohol, dan tentunya seks massal. Seperti dinukil dari laman The Guardian, para pejabat dari konsulat Jeddah melukiskan pesta Halloween diadakan diam-diam oleh para pemuda berdarah biru itu. Tak ada lagi penghormatan atas segala perbuatan yang dilarang di dalam Islam, ajaran yang jadi pegangan bagi seluruh rakyat Saudi, terutama para anggota kerajaan. Hal ini seturut temuan stasiun televisi ABC tentang gaya hidup berlebih-lebihan para keturunan kerajaan Saudi dalam investigasi mereka di French Riviera. Dalam penelusuran itu, ABC menemui seorang wanita panggilan yang punya koneksi luas ke lingkaran dekat kaum elit, dan berpengaruh Prancis.

Sang sumber menuturkan dalam semalam, para pangeran sanggup menghabiskan sekurangnya US$50 ribu demi menjemput kesenangan dari para wanita panggilan. Abdul Aziz bin Fahd, 38, anak kesayangan almarhum Raja Fahd, adalah salah satu pelanggan utama mereka. Ia tak pernah ragu menghabiskan lebih banyak uang ketika bersama para wanita panggilan. Di Arab Saudi, perilaku semacam itu jelas melanggar hukum, dan dapat diancam hukuman berat. Apalagi jika dilakukan oleh rakyat biasa. Tapi itu tak berlaku bagi anggota kerajaan. “Ketika anda mendengar pelanggar hukum, maka pertanyaannya adalah siapa yang melakukannya,” Mai Yamani, seorang antropologis yang juga anak mantan Menteri Perminyakan, Sheikh Ahmad Zaki Yamani, seperti dikutip dari ABC.Menurutnya, di Saudi berlaku semacam ketentuan tak tertulis: para pangeran Saudi tak tersentuh hukum. Mereka ada di atas hukum. Mereka di luar hukum. Itu sebabnya sanksi hukum seakan muskil dijatuhkan kepada keluarga istana. Tak heran Pangeran Nayef, sang penyelundup kokain itu, bebas berkeliaran di tanah Arab. Aksi protes warga, yang rata-rata berasal dari golongan minoritas Syiah, kadang muncul meningkahi tindak-tanduk keluarga istana. Tapi protes itu seperti teriakan yang menguap di padang pasir. Kebebasan berbicara dibatasi. Tuntutan warga dihadapi secara personal. Aturan agama yang terlalu ortodoks tetap berlaku, dan petugas keamanan bersenjata lengkap kapan pun dapat menindak kaum yang tak diinginkan. Sejauh ini, keluarga kerajaan, yang juga memerintah negeri, mampu menangkis tuntutan reformasi.

Meski begitu, tatkala negara-negara di jazirah Arab itu digoyang oleh gerakan demokrasi, Arab Saudi tak ayal ikut gelisah. Para aktivis pro perubahan lalu menyebarkan di internet tiga petisi reformasi politik radikal. Yang paling serius, satu petisi diteken 1.500 figur, termasuk kaum liberal dan Islamis. Isinya menuntut agar kerajaan menjalankan 12 langkah reformasi menuju sistem monarki konstitusional. Selain itu, terilhami revolusi Mesir, para tokoh itu berkampanye lewat Facebook. Mereka mengundang warga Saudi bergabung dalam “day of rage” pada Maret lalu. Tentu, dengan 39% populasi didominasi anak-anak muda berusia 20-24 tahun—dan celakanya mereka dalam keadaan menganggur, Arab Saudi pantas khawatir. Kerajaan lalu bereaksi. Laman petisi online itu pun diblokir. Seperti dilaporkan The Economist, seorang kiai Syiah ditangkap karena khotbah Jumatnya mendukung monarki konstitusional. Agar keadaan lebih tenang, raja lalu memberikan semacam sogokan kecil, suatu formula standar menghadapi tekanan dari rakyat bawah. Dia mengeluarkan paket bantuan sebesar US$35 juta, berisi subsidi hutang rumah tangga, kredit rumah lebih besar, dan kenaikan gaji sebesar 15% bagi pegawai negeri. Tak hanya di dalam negeri, pemerintah Saudi pun serius menghadapi ancaman ‘revolusi’ di luar wilayahnya. Business Week menulis pada awal Agustus tahun ini, kaum Sunni di Saudi curiga Iran terlalu jauh menebarkan pengaruh ke negara-negara Arab, seperti Bahrain dan Irak. Itu sebabnya, mereka mencoba melemahkan Iran lewat perdangangan minyak. “Sektor perminyakan Iran teramat rapuh. Saatnya mendesak pemerintahan mereka bergabung dalam upaya dunia mewujudkan perdamaian,” Pangeran Turki al-Faisal, mantan kepala badan intelijen Arab Saudi, menegaskan dalam pidatonya. Kini, Arab Saudi juga tengah menyaksikan 24 juta penduduk Yaman dalam keadaan kelaparan, dilengkapi persenjataan berat. Mereka juga cemburu dengan kekayaan negara tetangganya, dan bersiap menyeberangi perbatasan. Jika perang saudara meletus di Yaman, gelombang pengungsi akan menggulung wilayah perbatasan. Para petinggi kerajaan Saudi juga masih bimbang memulangkan Presiden Ali Abdullah Saleh, yang kini memulihkan diri di Riyadh dari cedera serangan bom, ke Sana, ibukota Yaman. Seandainya saat itu tiba, anggota kerajaan patut berdoa agar Kingdom Tower, proyek ambisius dicanangkan Pangeran Walid, telah sempurna. Menara itu akan menjulang tinggi sekitar satu kilometer. Mungkin tempat itu cocok untuk berlindung, sekaligus menjadi menara pengawas.

Tulisan : (c) vivanews.com/sorot
Foto : Pangeran Al-Walid & Tower Walid (www.forbes.com)

Rabu, 21 September 2011

DIGOEL "Tanah Kaum Terbuang", Hatta dan "Kearifan Sejarah"

Oleh : Muhammad Ilham

"Mengapa kita tidak pernah seperti Israel yang selalu menceritakan Holocaust-nya sehingga menumbuhkembangkan spirit kebangsaan mereka ? Mengapa justru untuk Tanah Pembuangan dan kisah sedih para tahanan pada zaman kolonial justru hanya mendapat "porsi" kecil dalam sejarah Indonesia. Atas nama menghilangkan "masa buram" masa lalu, kita justru mereduksi sebuah kearifan paling berharga dalam sejarah anak bangsa" (Diutarakan dalam Sebuah Seminar sekitar Tahun 1999 oleh Entah Siapa)

Membaca Buku “Pembuangan DIGOEL” karangan Takashi Shiraishi, sungguh membawa kita pada “tamasya sejarah” penuh horor, ibarat Gullag-nya Uni Sovyet era Joseph Stalin, sebagaimana yang pernah dinukilkan oleh Alexander Solzhenitsyn dalam The Gulag Archipelago. Guru Besar Universitas Tokyo yang juga mengarang buku “Zaman Bergerak” ini sangat mampu mendeskripsikan settiong geografis Digoel atau Tanah Merah, dengan “penceritaan” yang menggentarkan. Takashi Shiraisi bukan Jonstein Gardner yang membuat fiksi-filsafat ”Dunia Sophie”. Buku ”Pembuangan Digoel” adalah buku kecil, namun ia mampu mendeskripsikan dengan baik-argumentatif berdasarkan kaidah-kaidah metodologi ilmu sejarah tentang dataran terpencil di udik Papua itu dibangun penguasa Hindia Belanda, Gubernur Jenderal De Graeff, pada awal 1927, sebagai tempat buangan tahanan politik, yang dikurung rimba dan paya-paya kaya nyamuk. "Dunia" terdekat yang bisa dijangkau dari Digul kala itu hanyalah Tual, kota pelabuhan kecil di Maluku, yang membutuhkan 50 jam pelayaran dengan kapal motor.

Begitu seramnya Digul, publik Belanda menyebut tempat interniran di tanah jajahan itu sebagai kuburan. Sekali didigulkan, orang seperti menandatangani kontrak kematian. "Persediaan pangan amat terbatas karena lokasinya sukar dicapai," begitu wartawan Van Blankenstein menulis setelah mengunjungi sumber horor tak berkesudahan itu. "Kami menemukan satu pondok kecil beratap seng tanpa dinding, dijejali 14 orang," ujarnya, "Di mana-mana genangan air. Tak dapat disangkal, tempat ini merupakan neraka." Ternyata bukan cuma Van Blankenstein, tapi juga bahkan Hatta, seorang muslim taat yang berpendirian "di atas segala lapangan tanah air, aku hidup, aku gembira" itu, menyebut Digul sebagai "neraka dunia". Tokoh yang tak pernah mengeluh ini memang tak merinci bagaimana kerasnya neraka itu. Ia hanya selalu berpesan agar teman-teman sepembuangan tetap waras, baik pikiran maupun perasaan, agar bisa bertahan. Sesungguhnya, secara fisik Digul tak tampak sebagai kamp kerja paksa yang digerakkan oleh lecutan pecut atau letusan pistol. Tak ada penjaga yang mencangklong senapan mesin. Tidak ada anjing pelacak, tidak ada juga lampu sorot. Bahkan pagar tembok pun tak ada. Jika ada kawat berduri, tempatnya bukan di kamp, melainkan di tangsi militer tempat para penjaga tinggal. Pagar itu bukan untuk mencegah tawanan melarikan diri, tapi kata Shiraishi, "Untuk melindungi tentara dari 'godaan' tawanan." Agaknya, di situlah letak neraka Digul: kebosanan, ketidaktahuan, dan tiadanya kepastian. Di Digul, pertanyaan serupa tak berjawab. Masa depan sama sekali gelap. Tak pernah tercatat dengan pasti berapa banyak korban kubangan kebosanan ini. Tapi, kata Shiraishi, "Banyak yang hancur mentalnya karena putus asa."

Yang bisa dilakukan hanyalah menjaga kesadaran agar tidak gila, agar tak terbunuh rasa bosan. Dalam Lima Belas Tahun Digul, tokoh komunis Chalid Salim menceritakan bagaimana ia mencoba mempertahankan kewarasan dengan mencari-cari kesibukan. Adik kandung tokoh pergerakan Agus Salim itu saban hari berkutat dengan hobinya memburu nyamuk. Kesenangan ini menyita pikiran dan kerinduannya pada gagasan yang semula selalu menggedor hatinya: pulang kampung. Akhirnya, Chalid termasuk satu dari sedikit orang yang selamat dievakuasi dari Digul ketika kamp ini ditutup sebelum serbuan Jepang, 1942. Hatta sendiri mencoba menghancurkan kebosanan dengan membaca saban sore, mengajarkan ilmu ekonomi dan filsafat dua kali sepekan, serta menulis kolom untuk surat kabar Pemandangan sebulan sekali. Sjahrir, raja pesta yang periang itu, mengakalinya dengan gentayangan keliling kamp, menyambangi rumah tawanan yang lain. Hatta memang menyiapkan dirinya hidup 10 tahun di tanah buangan. Tapi untunglah, setelah 10 bulan terbenam di Digul, keduanya dipindahkan ke tempat yang lebih layak yang memang disiapkan untuk tokoh-tokoh intelektual (tentang Chalid Salim dan beberapa Drama Pelarian, pernah dinukilkan oleh sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer dalam esai-sejarahnya "Pembuangan Digoel").

Zaman berganti, dunia banyak berubah, begitu juga di Tanah Merah. Cerita tentang "gelap rimba" sudah jarang terdengar. Digoel nampaknya sudah mulai hilang dari ”layar” sejarah. Tak ada penceritaan sistematis dalam kurikulum ilmu sejarah di segala tingkat sekolah belakangan ini. Padahal, bila tak ”tragedi Digoel” ........ beberapa tokoh nasional, mungkin tidak setegar yang dinukilkan sejarah. Banyak filosofi yang sebenarnya harus ditransfer kepada generasi muda Indonesia bila bercermin dari Digoel. Ada ketabahan, kekuatan untuk memegang prinsip kebenaran sepahit apapun ia, dan satu lagi, idealisme tidak akan tercerabut walaupun kebebasan dan potensi kemanusiaan dihilangkan. Pelajaran sejarah justru lebih banyak ”menghidang”kan cerita perang ...... jadi tidaklah mengherankan apabila banyak orang Indonesia yang tidak mau ”sabar” memegang prinsip dan lebih mengedepankan nilai-nilai anarkisme dengan ”memperkosa” idealisme.

Referensi : Takashi Shiraishi (1999), Pramoedya Ananta Toer (2000)




Paco-Paco jadi Kain




Coba bayangkan, bila Presiden SBY beserta para petinggi Republik nan kita cintai ini melakukan sholat dalam acara Peringatan Hari Besar Islam tingkat Nasional, katakanlah di masjid Istiqlal. Lantas ada anak kecil (entah anak siapa pun jualah) tidur-tiduran di sajadah para "petinggi" negara tersebut ..... apa yang terjadi ? Dijamin : kelenaan dan kenikmatan tidur si anak akan "diganggu". Kalau ia cucu Presiden, pasti dibangunkan dengan sedikit hati-hati dan "dioper" ke belakang. Kalau ia anak atau cucu "orang kebanyakan" yang berkeinginan untuk melihat Presiden SBY serta ingin tidur dekat beliau, dijamin akan "dipelantingkan" kebelakang. Keduanya tetap satu prinsip : "anak tersebut tak diperbolehkan menikmati tidurnya". Tapi lihatlah foto "ringan" kiriman salah seorang sahabat saya di Iran ini. Entah anak siapa ini. Ia menikmati lenanya tidur, di shaf pertama lagi. Dan lihatlah, siapa yang berada di-shaf pertama tersebut ? .... Ada Presiden Iran Mahmoud Ahmadinedjad, (mantan) Presiden Ali Akbar Rafsanjani dan Pemimpin Spritual Iran Ayatollah Ali Khamenei serta pejabat tinggi Iran lainnya. Nyatanya sang anak tetap lena bersama dengan buldozer warna pink-nya.

Ketika Einstein "Menangis"

Oleh : Muhammad Ilham

Suatu ketika, "menangislah" Albert Einstein, "Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sangat sedikit?

Visum (baca : video mesum) selebritis dan visum-visum "jenis" lainnya sangat mudah diperoleh oleh semua lapisan masyarakat, lintas usia dan strata sosial. Teknologi "dunia maya" memudahkan orang untuk "menikmati" hal ini. Banyak yang mengutuki "capaian ilmu pengetahuan teknologi" tersebut, disamping tentunya menyumpahi para pemeran olah raga "gulat" yang tidak pernah kolosal ini. Seringkali kita juga mendengar "khutbah" para penjaga moral yang menyudutkan capaian ilmu-teknologi tersebut dan memberikan solusi untuk "menolak" atau menghambat medium itu untuk digunakan ditengah-tengah ruang publik. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah sunnatullah yang tidak bisa dihambat. Ia mengalir dengan cepat karena potensi otak dan keingintahuan manusia "dititipkan" sang maha pencipta pada homo sapiens. Denghan itu, manusia akan terus selalu mencari invention baru untuk memberikan "kebahagiaan" pada manusia, dengan tentunya implikasi yang ditimbulkannya. Kelahiran media internet, merupakan kumulasi dari berbagai tools capaian manusia dalam sejarah ilmu pengetahuan. Seluruh pendukung konstruksi pengetahuan seperti telepon, telegraf dan tulisan serta faximile-fotocopy, menyatu dalam "makhluk" yang bernama internet. Internet, lengkap dengan komunikasi elektromagnetoopis via satelit maupun kabel dan didukung oleh jaringan telepon-telefoni yang telah ada dan juga didukung oleh ratusan satelit di "diluar sana". Ummat manusia dalam tahap revolusi ini, dapat berinteraksi oral maupun dengan teks dengan sangat interaktif, keseluruh penjuru-penghujung-sudut dunia ini, tanpa sedikitpun kehilangan interaktifitasnya maupun "sense of live"nya.

Karena itu, ruang paling private bagi manusia, bisa ditransformasikan dan menyebar dalam hitungan detik. Dinikmati oleh semua lapisan tanpa ada sekat-sekat yang yang secara mekanik bisa dibatasi. Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan, malah menjadikan manusia sebagai budak-budak mesin. Ya dalam "tangisannya" Einstein yang keturunan Yahudi ini memberikan jawaban sederhana, kita belum lagi belajar bagaimana menggunakan imu pengetahuan dan teknologi secara wajar. Einstein yang dianggapoleh beberapa orang memeluk agama Islam (Syi'ah) diakhir hidupnya ini - wallahu a'lam - memberikan kata kunci - kewajaran. Menggunakan dan mensikapi dengan wajar. Sejarah memperlihatkan, sains dan teknologi tidak serta-merta membawa kebahagiaan dan membuat hidup lebih mudah. Penyelewengan teknologi telah menjungkirbalikkan nilai manfaat itu. Karenanya teknologi secara aksiologis perlu dikendalikan oleh etika manusiawi agar penyesalan Einstein di atas menjadi bermakna. Perlu adanya suatu kearifan teknologi, yakni kearifan bagaimana menggunakan dan mensikapi teknologi secara wajar agar ia membawa berkah, bukan bencana.

Foto : gambaronline.com

Minggu, 18 September 2011

Peristiwa Rawagede : Teks Vonis Pengadilan Den Haag

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Seperti dilansir BBC, Rabu (14/9), pengadilan di Den Haag menyatakan pemerintah Belanda bertanggung jawab atas pembantaian yang dilakukan tentaranya di Rawagede. Dalam agresi militer itu, tentara Belanda membantai seluruh pria Desa Rawagede Karawang Jawa Barat tahun 1947. Aksi ini dilakukan tentara Belanda untuk memberikan tekanan terhadap tentara kemerdekaan Indonsia. BBC menyebutkan pembantaian di Rawagede itu disebut sebagai pembantaian kejam yang terjadi di Jawa Barat saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Tidak ada satu pun tentara yang terlibat dalam pembantaian itu, pernah diproses hukum. Pengadilan mengabulkan sebagian dari tuntutan-tuntutan ahli waris korban pembantaian Rawagede. Tuntutan-tuntutan yayasan (Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda/YKUKB, red) ditolak, karena tidak cukup jelas mereka mewakili kepentingan siapa. Berikut ini teks vonis Pengadilan Negeri Den Haag dengan kode Vonis: BS8793 mengenai perkara tuntutan para ahli waris korban pembantaian Rawagede dalam gugatan hukum melawan Negara (Kerajaan Belanda), diterjemahkan oleh koresponden detikcom di Den Haag. Di bagian bawah ini terlampir teks otentiknya dalam bahasa Belanda, yang diumumkan ke publik di situsweb rechtspraak.nl, sebuah situsweb resmi Yustisi Belanda untuk informasi tentang pengadilan setingkat Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung, serta untuk mempublikasikan vonis-vonis pengadilan semua tingkatan.

Den Haag, 14-9-2011

Pengadilan Negeri (PN) Den Haag hari ini mengeluarkan vonis atas prosedur versus Negara, yang ditempuh oleh sejumlah janda dan seorang anak perempuan dari para korban eksekusi tentara Belanda saat aksi polisionil (Agresi Militer Belanda, red) di Desa Rawagede, Jawa (Indonesia), pada 9 Desember 1947. Ikut hadir selaku sesama penggugat yakni seorang korban selamat dari eksekusi -namun akhirnya meninggal saat prosedur ini berlangsung- dan sebuah yayasan (Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda/YKUKB, red), yang menyatakan antara lain mewakili korban-korban lainnya dari eksekusi Rawagede. Para penggugat menuntut suatu pernyataan hukum bahwa Negara telah melakukan tindakan melawan hukum terhadap para janda dan anggota keluarga lainnya dari para korban eksekusi dan terhadap seorang yang menderita cacat akibat eksekusi. Di samping itu mereka menuntut kompensasi atas kerugian, di mana besarnya masih harus ditentukan lebih lanjut. Para penggugat menyatakan bahwa eksekusi yang dilakukan oleh tentara Belanda adalah melawan hukum, karena hal itu menyangkut orang-orang tak bersenjata yang dieksekusi tanpa melalui proses hukum apapun. Melawan hukum pula menurut para penggugat, bahwa tidak pernah dilakukan penyelidikan (pidana) secara mendalam atas eksekusi itu dan para perwira penanggung jawab tidak pernah dituntut. Negara tidak membantah bahwa eksekusi tersebut melawan hukum, tapi berdalih bahwa tuntutan itu telah kadaluarsa.

Pengadilan mengabulkan sebagian tuntutan-tuntutan itu. Pengadilan menilai bahwa tuntutan berdasarkan eksekusi jika disimpulkan secara cermat-sudah kadaluarsa, namun dalih kadaluarsa oleh Negara terhadap orang-orang yang terlibat langsung, yakni para janda dari orang-orang yang saat itu dieksekusi dan seorang yang selamat dari eksekusi, tidak bisa diterima. Pengadilan telah mempertimbangkan berbagai situasi yang lebih ditekankan pada keseriusan fakta-fakta. Pengadilan juga menganggap penting fakta bahwa tak lama setelah eksekusi Rawagede telah dinyatakanbahwa tindakan itu tidak dibenarkan. Terhadap ahli waris generasi berikutnya (diantaranya anak perempuan korban yang hadir sebagai penggugat) pengadilan menerima dalih Negara tentang perkara kadaluarsa. Mengenai tuntutan terhadap 'tidak melakukan investigasi dan tidak menuntut pelaku eksekusi', pengadilan juga menerima dalih Negara tentang kadaluarsa. Tuntutan-tuntutan yayasan ditolak, karena tidak cukup jelas mereka mewakili kepentingan siapa.

Vonis: BS8793

Pembantaian Rawagede (jongjava.com)

Janda korban pembantaian Rawagede (jppn.com)


Vorderingen nabestaanden van in Rawagedeh gexecuteerde mannen gedeeltelijk toegewezen

Den Haag, 14-9-2011

De rechtbank s-Gravenhage heeft vandaag uitspraak gedaan in de procedure die was aangespannen tegen de Staat door een aantal weduwen en een dochter van mannen die ten tijde van de eerste politionele actie op 9 december 1947 door Nederlandse militairen zijn gexecuteerd in het dorp Rawagedeh te Java (Indonesi). Als mede-eisers traden op een - tijdens de procedure overleden - overlevende van de executies en een Stichting die stelde onder meer de overige getroffenen van de executies te Rawagedeh te vertegenwoordigen.
De eisers vorderden een verklaring voor recht dat de Staat onrechtmatig heeft gehandeld jegens de weduwen en overige familieleden van de gexecuteerde mannen en jegens de man die letsel had opgelopen door de executies. Daarnaast vorderden zij vergoeding van schade, waarvan de hoogte nog nader moet worden bepaald. Eisers voerden aan dat de executies die door Nederlandse militairen zijn uitgevoerd onrechtmatig waren omdat het ging om ongewapende personen die zonder enige vorm van proces zijn gexecuteerd. Bovendien was het volgens eisers onrechtmatig dat geen diepgravend (strafrechtelijk) onderzoek heeft plaatsgevonden naar de gebeurtenissen en dat de verantwoordelijke militairen nooit zijn vervolgd. De Staat bestreed in de procedure niet dat de executies onrechtmatig waren maar beriep zich erop dat de vorderingen zijn verjaard.

De rechtbank heeft de vorderingen gedeeltelijk toegewezen. De rechtbank oordeelde dat de vorderingen op grond van de executies strikt genomen zijn verjaard, maar dat een beroep op verjaring door de Staat jegens de direct betrokkenen, dat wil zeggen de weduwen van de destijds gexecuteerde mannen en de overlevende van de executies, onaanvaardbaar is. De rechtbank heeft daarbij verschillende omstandigheden in aanmerking genomen waarbij veel nadruk is gelegd op de ernst van de feiten. De rechtbank achtte het ook van belang dat kort na de executies reeds is geoordeeld dat deze onaanvaardbaar waren. Jegens de nabestaanden van volgende generaties (waaronder de dochter die als eiser optrad) heeft de rechtbank het beroep van de Staat op verjaring gehonoreerd. Ook ten aanzien van de vorderingen wegens het niet-doen van onderzoek en het niet-vervolgen heeft de rechtbank het beroep van de Staat op verjaring gehonoreerd. De vorderingen van de Stichting zijn afgewezen omdat onvoldoende duidelijk is van wie zij de belangen behartigt.

Uitspraken: BS8793

Sumber : detik.com/BBC

Sabtu, 17 September 2011

Foto yang "Menggerakkan" Roda Sejarah

Oleh : Muhammad Ilham

Inti kekuatan dari pemikiran Karl Marx terletak tersimpulkan pada kalimatnya dalam buku Pengantar Das Kapital : "Kebenaran sebuah teori bukan terletak pada betul atau tidaknya teori tersebut dari aspek ilmu pengetahuan, akan tetapi terletak pada apakah teori itu menggerakkan orang untuk melakukan perubahan atau tidak". Marx sangat pragmatis, teori bukan "seni" menjatuhkan atau meruntuhkan serta memperbaiki teori yang lama, tapi keberadaan teori tersebut harus fungsional bagi manusia. Teori "menggerakkan". Dari teori, maka terjadi perubahan signifikan. Demikian juga halnya dengan foto-foto yang pernah hadir dalam "layar sejarah". Begitu banyak foto, bahkan dengan "cita rasa" seni yang maha artistik ..... namun hanya sedikit dari foto-foto para photografer tersebut yang mampu menstimulus terjadinya perubahan roda sejarah. Biasanya, foto-foto yang berada dalam kategori ini akan diganjar hadiah PULITZER, "nobel"nya photographi dunia. Dibawah ini, ada beberapa foto yang "menggerakkan" tersebut diantara begitu banyak foto yang pernah memenangi hadiah Pulitzer.

Saat Jenderal Nguyen Ngoc Loan, kepala kepolisian Vietnam Selatan mulai menarik pelatuk pistol kearah seorang komandan gerilyawan vietkong, fotografer Associated Press Eddie Adams mulai menekan tombol shutter kameranya. Eddie Adams memperoleh penghargaan jurnalisme tertinggi, Pulitzer, lewat foto yang diambilnya ini. Namun lebih dari itu, foto ini mengubah opini masyarakat Amerika terhadap Perang Vietnam, memicu gerakan anti perang dan menginspirasi lahirnya generasi bunga di Amerika waktu itu. Bagi sang jenderal, foto ini membuatnya menjadi ikon kekejaman dan ejekan serta penolakan selalu menyertainya kemanapun dia pergi sampai akhir hayatnya.

Kevin Carter berangkat ke Sudan dengan niatan untuk mengambil foto pemberontakan yang terjadi. Namun sesampainya disana, justru korban kelaparan-lah yang menarik minatnya. Dijalan dia mendapati seorang bocah perempuan kelaparan merangkak lemah susah payah menuju pusat pembagian makan, berhenti ditengah jalan dan mengumpulkan tenaga. Ditengah kejadian itu, seekor burung bangkai datang dan menunggu bocah tersebut. Carter-pun mengabadikan kejadian tersebut. Foto ini pertama dimuat dikoran New York Times, dan reaksi keras bermunculan mengkritik Carter yang tidak menolong gadis kecil ini. Carter beralasan dia sudah mengusir burung bangkai tersebut sesudah mengambil foto, namun tidak menolong si bocah karena konvensi fotografer yang tidak boleh ikut campur dalam konflik (?). kontroversi terus menghujani Carter, meskipun hadiah Pulitzer dia terima atas karyanya ini. Tahun 1994, Carter ditemukan bunuh diri dengan sengaja mengalirkan gas CO dari knalpot mobil kedalam ruangannya. Dia meninggalkan catatan yang isinya berupa penyesalan dan kesedihan karena tidak menolong si bocah, frustasi akibat terjerat hutang dan kesedihan karena sahabat karibnya tertembak. Foto ini selalu mengingatkan akan tragedi kemanusiaan di Afrika dan tragedi dalam dunia fotografi itu sendiri, keduanya memang tidak bisa dipisahkan.

Demonstrasi sekitar 3000 mahasiswa di Beijing berubah menjadi demosntrasi masal jutaan rakyat Cina, meminta reformasi pemerintahan yang tidak adil. Selama 7 minggu, rakyat dan tentara berhadap-hadapan dan saling mengejek. Saat partai komunis mulai mengerahkan tank untuk membubarkan masa, seorang mahasiswa nekad menghadang laju sebarisan tank, berdiri tegap didepannya sambil memegang tas. Seorang pahlawan lahir. Pahlawan kedua lahir, saat pengemudi tank menolak perintah komandannya untuk melindas mahasiswa tersebut dan memilih berjalan memutarinya. Kejadian ini memang tidak berakhir indah karena pembantaian akhirnya terjadi di lapangan Tiananmen. Karena peristiwa Tiananmen ini pulalah, "orang kuat" Cina kala itu, Deng Xio Ping terpaksa menutup karir politiknya dengan catatan hitam, padahal selama memegang tampuk kekuasaan politik dan menjadi ketua Partai Komunis Cina, kamerad Deng - demikian beliau biasa dipanggil, dikenal sebagai figur yang memiliki andil besar memajukan negara Cina menjadi salah satu super power ekonomi Asia, bahkan dunia. Kamerad Deng-lah yang mengeluarkan pernyataan fenomenal : "Tidak perlu memperdebatkan warna kucing, kalau ia bisa menangkap tikus ... pakai !". Namun sejak itu masyarakat Cina mulai sadar, selalu ada harapan akan kesatuan antara tentara dan rakyatnya.

Referensi foto : magnumpost.com/time.com




Manusia itu (bukan) Kita dan Mereka

Oleh : Muhammad Ilham

Masalahnya karena mereka hanya melihat : "nyawa siapa".
Jawaban yang mereka munculkan adalah : Nyawa "mereka" atau Nyawa "kita".
Mereka sama sekali tidak mengenal Nyawa Manusia.

Ambon "manise" kembali rusuh. Karena ditakutkan "Luka Lama Berdarah Lagi" - meminjam penggalan syair nyanyi dangdut - pihak keamanan bergerak cepat agar eskalasi konflik tak menjalar luas. Walau konflik horizontal juga sering terjadi di daerah lain, tapi Ambon teramat beda. Catatan hisoris daerah asal penyanyi legendaris yang beberapa hari lalu meninggal dunia, Utha Likumahua ini, menjadi potensi besar untuk bergolak menjadi teramat "jauh" dan besar. Ambon "manise" yang kemudian jadi Ambon "menangise" beberapa hari lalu meninggalkan catatan "kelam" kemanusiaan, dalam waktu yang tak terlalu lama, sekian orang meninggal. Terbunuh, tentunya. Begitu mudahnya nyawa melayang sia-sia. Sebagaimana halnya juga yang terjadi di daerah-daerah lain di Nusantara ini. Banyak berita yang termaktub dalam media massa dan televisi, hanya karena persoalan sepele, nyawa mudah tercerabut dari tubuh. Beberapa hari lalu, misalnya, Kota Padang sedikit geger. Seorang "praktisi pasar" (bahasa lain dari Preman yang biasa mangkal di pasar dan terminal) dibunuh dengan hiasan belasan luka bacokan. Persoalannya kembali sepele, pelaku yang berprofesi sebagai sopir angkot merasa direndahkan oleh si korban. Korban marah karena setelah wangi-wangian disemprotkannya ke mobil angkot si pelaku, si pelaku yang konon bernama Al "Barangin" ini tak mau membayar. Adu mulut yang terjadi siang hari, berlanjut dengan pembunuhan pada malam harinya. Demikian setidaknya yang saya baca dari koran pagi beberapa hari lalu. Peristiwa-peristiwa seperti diatas sudah teramat lumrah kita saksikan dan baca. Begitu mudah orang menghilangkan nyawa seseorang.

Saya tak ingin menganalisis patologi sosial ini dari perspektif sosiologis ataupun politik. Dengan perspektif yang teramat kaya dari sosiologi dan ilmu politik, patologi sosial diatas terasa teramat logis untuk dijelaskan. Saya hanya ingin melihat dari perspektif yang ringan-ringan saja. Kebetulan sore tadi anak saya membaca al-Qur'an berikut terjemahannya : "Barang siapa yang membunuh satu jiwa, bukan lantaran suatu jiwa atau pengrusakan di muka bumi, seakan membunuh manusia kesemuanya; dan barangsiapa yang menghidupinya seakan menghidupi manusia kesemuanya" (Q. 5: 32). Sangat indah dan solutif kalam Allah ini memberikan perumpamaan. Ayat ini kemudian mengingatkan saya dengan salah satu film Hollywood - saya lupa judul film tersebut - yang mengkisahkan tentang sebuah degradasi moral, kehidupan Samurai pada masa rezim Tokugawa di era Jepang klasik. Seorang samurai bersama dengan temannya yang tentunya juga samurai, berjalan-jalan ke sebuah desa. Mereka berdiskusi kecil tentang ketajaman pedang (icon seorang samurai) yang mereka miliki masing-masing. Lalu, di depan mereka berjalan seorang petani, penduduk desa yang dilalui samurai dan temannya yang juga samurai ini. Si petani dipanggil. Begitu petani ini datang dan membungkuk di depan samurai ini, si samurai tersebut kemudian mengayunkan pedang ditangannya ke leher petani yang hari itu salah memilih "takdir". Kepala melayang, tubuh menggelimpang. "Ah benar, tajam juga pedang kau ini", kata teman samurai itu sambil berdecak kagum. Merekapun berlalu sambil memandangi pedang berkilatan dalam basuhan darah.

Perbincangan Nabi Ibrahim dan Raja Babilonia, Namrudz, dinukilkan dalam al-Qur'an : "Aku juga (seperti Tuhan) menghidupkan dan mematikan" (Q. 2 : 258). Lalu Nambrudz memanggil dua orang, seorang ia suruh bunuh dan seorang lagi dibiarkan hidup. Namrudz ingin mengatakan kepada Nabi Ibrahim : "Aku bisa membunuh dan membiarkan orang hidup lho !". Samurai dan Namrudz tersebut mungkin tidak pernah mengenal ayat yang sore tadi dibaca oleh anak saya. Tapi cerita begitu mudahnya orang membunuh terus menjalar dan menjulur hingga abad yang dikatakan "modern" danberperikemanusiaan ini. Bahkan jauh mengerikan. Pol Pot, misalnya, meninggalkan catatan horor kemanusiaan dalam sejarah ummat manusia. Ia yang tamatan Sorbonne University Perancis ini membantai lebih kurang dua juta manusia Kambodja. Khmer Merah jadi perpanjangan tangannya. Sekian juta terbunuh pada masa Joseph Stalin dengan Gullag-nya. Sejumlah orang Yahudi mati di kamp-kamp konsentrasi Autswitzh Adolf Hitler. Sekian juta orang lagi raib di kamar-kamar konsentrasi KGB era Uni Sovyet. Berapa orang yang diculik dan dibunuh karena perbedaan ideologis, hampir di berbagai belahan dunia. Berapa yang di dor begitu saja karena faktor politik-ideologis serta ekonomi ? "Barang siapa yang membunuh satu jiwa, demikian dalam al-Qur'an - bukan lantaran suatu jiwa atau pengrusakan di muka bumi .... ". Nampaknya, konsep tentang nyawa bagi para pembunuh, baik sakla besar ataupun kecil, tidaklah sama dengan al-Qur'an. Masalahnya karena mereka hanya melihat : "nyawa siapa". Jawaban yang mereka munculkan adalah : Nyawa "mereka" atau Nyawa "kita". Mereka sama sekali tidak mengenal Nyawa Manusia. Sepertinya mereka itu bukanlah bagian dari manusia itu sendiri. Wallahu a'lam !

Foto : www.jppn.com

Objektifitas dan Paradigmatik Penjelajahan Ilmu

Oleh : Muhammad Ilham

Sungguh tak ada yang objektif dalam proses pencarian kebenaran ilmu, kata sejarawan Taufik Abdullah, tapi justru paradigmatik, termasuk dalam hal ini, ilmu sejarah. Dalam sejarah ilmu pengetahuan, ilmu manusia tersusun dari hal-hal yang sederhana. Contohnya, kalau kita hendak mengetahui manusia, maka kita terlebih dahulu harus mengetahui definisi manusia sehingga kita dapat membedakan antara manusia dari yang lainnya. Pengetahuan kita tentang manusia tersusun dari beberapa hal-hal yang simple yaitu bahwa manusia itu berpikir, berbadan, dan perasa. Akan tetapi, yang menjadi objek kajian para filosof Islam ialah: dari manakah manusia mendapatkan ilmu-ilmu simple tersebut? Dengan metode atau perangkat apakah manusia mendapatkan ilmu-ilmu simple tersebut? Dari sinilah munculnya perbedaan antara filosof-filosof dari zaman Yunani sampai sekarang: antara Plato dan Aristoteles, antara Avessina dan Syuhrawardi, antara kaum paripatetik dan intuitivis, serta antara rasionalis dan empiris. Sementara dalam Islam, sumber ilmu itu diperoleh melalui tiga sumber utama yang banyak dijelaskan oleh Al-Quran, yaitu as-sam‘u, al-basharu, dan al-fuâdu. Ketiga hal ini merepresentasikan tiga akar epistema, yaitu Informasi (al-khabar), Indera (al-hiss), dan Rasio (al-‘aql). Sumber yang reliabel dari kegiatan keilmuan yang berbasis tiga akar ini wujudnya adalah informasi yang valid (naql mushaddaq) atau kajian yang akurat (bahts muhaqqaq). Selain kedua hal ini, yang ada adalah karangan palsu (hadzayân musarwaq). Dan dari semua materi sumber keilmuan yang ada di dunia, meteri yang diberikan oleh Kalâmu’llâh, Sunnatu’r Rasûl, dan Ijmâ‘u’l Ummah adalah yang paling bisa dipertanggungjawabkan. Sebab informasi yang paling valid adalah informasi yang diberikan oleh ketiga sumber ini, dan kajian yang paling akurat adalah juga kajian yang disajikan oleh ketiga sumber ini. Sedangkan di luar tiga sumber ini, semuanya masih mengandung kemungkinan salah informasi, invaliditas pengamatan, atau keluputan penalaran.

Kaitan Ilmu dengan Nilai adalah worldview atau pandangan hidup. Matrik dari worldview sendiri bisa diukur dari apa yang ada dipikiran orang, sebab di dalam worldview terdapat kerangka-kerangka kerja konseptual (framework). Worldview sendiri mempunyai kaitan erat dengan cultural, sains maupun religi, oleh karena itu kita mengenal, misalnya istilah Christianity Worlview, Medieval Worldview, Scientific Worldview, Modern Worldview dan Islamic Worldview. Di Barat orang lebih sreg menerima denominasi berdasarkan istilah worldview ketimbang “agama”. Hegel misalnya, ketika ia membaca teologi Hindu maka ia menyebutnya dengan Indichen Worldview. Nilai-nilai yang dihasilkan dari masing-masing Worldview inilah yang kemudian menjadikan worldview mirip dengan kepercayaan keagamaan yang bersifat individual yang kemudian mengkolektif (Hussel dalam Crisis Of European Sains). Oleh sebab itu, masing-masing peradaban mempunyai karakteristik yang berbeda dengan peradaban lainnya. Pandangan Barat misalnya, yang memandang ilmu yang hanya sebatas modulus sensilibis atau dunia indrawi saja (Hegel & Goethe), ini berbeda dengan pandangan Islam yang memandang luasan worldview itu seluas skala wujud “ru’yatan Islam lil wujud” (SM.
Naquib Al Attas).

Oleh sebab itu Thomas S Kuhn mengungkapkan bahwa sesungguhnya worldview merupakan paradigma yang menyediakan nilai, standart dan metodologi tertentu yang mengikat kuat kerja-kerja saintifik. Disatu sisi inilah worldview merupakan dinamika pemikiran yang positif. Worldview dan paradigma memiliki variable konsep yang terstruktur, yang menjadikannya framework permikiran dan disiplin ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya ilmu menjadi sarat dengan nilai, alias tidak netral dan tidak bebas nilai namun sarat dengan nilai.
Hal ini dibuktikan bahwa peradaban Barat (western worldview) memandang ilmu hanya bersumber sebatas panca indera dan akal (Kant, Hegel, Goethe), maka dengan pandangan ini telah melahirkan berbagai macam faham pemikiran dalam peradapan Barat seperti rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relatifisme, ateisme, agnotisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, materialisme, sosialisme, kapitalisme dan liberalisme. Sementara dalam Islam, al Qur’an dan Sunnah dalam Islam menjadi tolak ukur dalam setiap pandangan, cara berfikir tiap Muslim. Ilmu-ilmu seperti fiqh, hadith, tafsir, falak, tabi’ah, hisab dan sebagainya, adalah derivasi dari konsep wahyu. Ini berarti worldview Qur’an telah menghasilkan framework dan disiplin ilmu yang ekslusif. Orang Barat misalnya, tidak dapat mengadopsi metode ta’dil dan tarjih ilmu hadith, atau mengadopsi ilmu fara’id dalam Islam dan seterusnya. Begitu pula sebaliknya, orang Islam juga tidak bisa terima konsep kebenaran dikotomik; obyektif-subyektif, tidak bisa pula menerima doktrin pan-sexualismenya Frued, doktrin evolusi Darwin dan seterusnya. Sebab, setiap konsep berangkat dari framework dan setiap framework diderivasi dari worldview. Sedang worlview Qur’an berbeda dengan Western Worldview.

Jadi pandangan tentang Ilmu adalah bebas nilai itu sebetulnya tidak tepat. Sebab, pandangan ini muncul dari nilai-nilai dalam worldview barat. Hal ini membuktikan bahwa pandangan tentang Ilmu adalah bebas nilai itu sesungguhnya adalah sebuah Nilai yang dipenggang oleh penganutnya. Inilah yang tanpa disadari oleh para pengusungnya, sebagai sebuah “martil besar” yang meruntuhkan konsep obyektifitas “bebas nilai” yang mereka bangun dan mereka sakralkan. Sehingga Bulant Senay menyebut prinsip “bebas nilai” ini sebagai sebuah self-defeated atau mitos. Sebab konteks-konteks value jugdment dalam “bebas nilai” itu sendiri mengandung kesimpulan-kesimpulan awal yang tidak “bebas nilai”.
Beberapa tulisan yang menjadi ”tulisan utama” dalam KHAZANAH Edisi kali ini lebih difokuskan kepada perdebatan-perdebatan teoritis tentang filsafat ilmu, baik perdebatan teoritis dalam ranah epistimologi ilmu maupun dalam ranah ”persinggungannya” dengan (epistimologi) Islam. Namun, tetap dalam konteks mencari ”kebenaran”. Persoalan ”alat” atau paradigma yang justru berbeda. Namun, dalam konteks memperkaya perspektif, rasanya perdebatan-perdebatan teoritis tersebut memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa tak ada yang objektif dalam proses pencarian kebenaran ilmu, tapi justru paradigmatik.

:: (Penggalan) dari makalah untuk Pengantar Redaksi Jurnal Khazanah Edisi 2/Juni-Desember 2010

Referensi : Naquib al-Attas (1993), Thomas Kuhn (1988), Bustanuddin Agus (2002)