Senin, 20 September 2010

Bahasa Melayu Juga "Diangkut" ke Belanda

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Apa yang dibawa oleh orang Belanda ke negerinya selama lebih dari 350 tahun menjajah Indonesia? Orang mungkin akan langsung menjawab: berbagai jenis hasil bumi dan hasil tambang dari negeri kita.

Memang demikianlah halnya. Selama zaman kolonial Indonesia telah dijadikan sebagai ‘gabus tempat mengapung’ oleh Belanda, terutama saat mereka mengalami kesulitan ekonomi. Bila kita ke Belanda sekarang dan melihat banyak gedung-gedung klasik yang interiornya memakai kayu-kayu kuat yang tahan lama, maka kita dapat menduga bahwa kayu-kayu itu dulu diambil dari hutan-hutan Indonesia. Tapi kita mungkin lupa bahwa ada yang bersifat non material yang juga banyak diambil orang Belanda dari bumi Indonesia: yaitu (unsur) bahasa Melayu (sekarang bahasa Indonesia). Ada ratusan kosakata Melayu yang pernah menjadi bagian dari khazanah kosakata bahasa Belanda, dan banyak di antaranya yang masih bertahan sampai sekarang di mulut orang Belanda. Nicoline van der Sijs pernah mendatanya dalam Leenwoordenboek: de invloed van andere talen op het Nederlands (Kamus pinjaman: pengaruh bahasa-bahasa lain dalam bahasa Belanda) ( Den Haag: Sdu Uitgevers, 1996). Kata pinjaman dari bahasa Melayu dalam bahasa Belanda mencakup berbagai konsep: mengenai kuliner, hewan, musik, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya. Selama masa penjajahan Belanda di Indonesia, banyak terjadi kawin campur antara orang Belanda dan penduduk pribumi, baik secara resmi maupun melalui sistem per-nyai-an. Faktor perkawinan campur ini merupakan salah satu jalan bagi masuknya kosakata Melayu ke dalam bahasa Belanda.

Dulu ada ungkapan di Belanda: “
Beladjar bahasa dalam klamboe”. Maksudnya: untuk mempelajari bahasa Melayu orang Belanda mengawini perempuan Melayu. Jadi, ia memakai ‘kamus hidup’ untuk belajar bahasa Melayu.
Sampai sekarang ‘taktik’ ini masih sering dipraktekkan oleh beberapa Indonesianist asal Belanda.
Ambil contoh kosakata yang terkait dengan makanan: kata-kata seperti kropoeks, sambal, martabak, teloer mata sappi, saté kambing, agar-agar dan tjendol – contoh ini bisa diperbanyak – sudah menjadi bagian dari leksikon bahasa Belanda. Di Belanda kuliner Indonesia memang sangat disukai, khususnya di kalangan indo (orang-orang Belanda yang berdarah Indonesia). Untuk buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan, kata-kata seperti djeroek, doerian, kapok (kapuk), lombok, nangka, ramboetan, mangoe (mangga), djati, bamboe, alang-alang, rotan, waringin (beringin) – untuk sekedar menyebut contoh – juga sudah menjadi bagian dari khazanah kosakata bahasa Belanda. Dulu para pejabat Belanda, mulai dari Gubernur Jendral sampai Tuan Kortroleur, suka sekali pergi berburu binatang. Umumnya orang Belanda juga suka meneliti alam Nusantara. Maka tak salah jika banyak nama hewan (termasuk jenis-jenis ikan) dalam bahasa Melayu juga menjadi kata pinjaman dalam bahasa Belanda, sebutlah misalnya ajam (ayam), babi, badak, banteng, kantjiel, kaketoe (kakatua), karbouw (kerbau), kalong, tjitjak, oerang-oetan, (ikan) doejoeng dan kaalkop (kakap).

Beberapa kosakata bahasa Melayu yang terkait dengan konsep geografi tradisional juga menjadi kata pinjaman dalam bahasa Belanda, seperti
doesoen, kampoeng, negorij (negeri) dan rimboe (rimba). Demikian juga halnya kata ladang, sawa (sawah) dan gejala alam seperti bandjir.
Kata-kata yang terkait dengan pekerjaan seperti tandil, mandoer, koeli, baboe, sinjo, toean dan njonja juga menjadi kata pinjaman dalam bahasa Belanda. Demikian juga halnya kata-kata yang mengodifikasikan sistem pemerintahan tradisional, khususnya di Jawa, seperti kata adipati, penghoeloe, pangeran, raden, ratoe dan keraton. Kosakata Melayu yang terkait dengan musik dan seni pertunjukan juga banyak dipinjam oleh bahasa Belanda: seperti angkloeng, gamelan, gong, wajang (wayang), krontjong, dalang, tandak dan nontonnen (menonton). Beberapa jenis senjata tradisional Nusantara juga akrab di lidah orang Belanda, seperti blatie (pisau belati), kris (keris) dan kelewang.

Dulu Militer Belanda menggunakan banyak kosakata bahsa Melayu untuk berkomunikasi dengan penduduk pribumi Indonesia, yang kemudian banyak yang diadopsi ke dalam bahasa Belanda. Demikianlah umpamanya, kata
ambil, apa, ajo, awas!, ada, bagoes, baik, banjak, barangkali, begini, brapa (berapa), bersih, betoel (-betoel), binatang, boeng (bung), dimana, djalannen (berjalan), goedang, habis, lekas, lihatten (lihat), mataglap (mata gelap), oeroessan (urusan), amok (amuk), moeloet, panas, perkara, slamat, sobat, soerat, dan orang toetoepan (residivis) sudah menjadi bagian dari khazanah kosakata bahasa Belanda. Pendek kata, banyak kosakata Melayu sudah memperkaya leksikon bahasa Belanda. Karena keterbatasan ruang, cukuplah saya tambahkan beberapa kosakata lagi, seperti aloen-aloen, bale-bale, goena-goena, kakoes, mandiën (mandi), djimat, rampok, sado, kartjangsaus (kuah kacang), kammer ketjil (WC), kontol, snapan (senapan), tjoelikken (culik) dan kassian (kasihan).

Demikianlah, dalam bahasa Belanda kita misalnya sering mendengar kalimat (garis bawah oleh Suryadi): “
Maak niet zo’n riboet” (Jangan bikin ribut); “Mag ik een portie saté kambing bestellen? (Boleh saya pesan satu porsi sate kambing?); “De commandant wild at telegram getoetoept hebben” (Komandan ingin telegram itu segera dikirim).
Ternyata kolonialisme Belanda di Indonesia telah memperkaya kosakata bahasa Belanda sendiri. Orang Belanda meminjam kosakata Melayu jauh lebih banyak dari orang Inggris yang seringnya hanya tahu kata amock (amuk). Nah, mijnheer, tak jadi masalah kalau kosakata bahasa Melayu ‘dicuri’ oleh orang Belanda. Sebab bahasa tidak akan jadi rusak atau berkurang walau banyak kosakatanya diambil oleh bahasa lain


@ Suryadi Sunuri dari Harian Padang Ekspres, Minggu, 29 Agustus 2010/gambar : google.com

Tidak ada komentar: