Selasa, 07 September 2010

Pahlawan yang Diinginkan, Bukan Dibutuhkan

Oleh : Muhammad Ilham

“Cukup banyak, ya cukup banyak putra terbaik Minangkabau yang disembunyikan – untuk tidak mengatakan dilenyapkan dalam layar sejarah”, setidaknya demikian kata sejarawan Takashi Shiraishi.

Sejarawan “spesialis” gerakan kiri Indonesia ini mencatat beberapa nama orang Minangkabau yang memiliki kontribusi besar dalam menentukan arah bangsa Indonesia ini, akan tetapi kontribusi itu direduksi. Ada Tan Malaka, ada Mr. Asa’at, Chalid Salim dan Muhammad Natsir – untuk menyebut beberapa nama diantaranya. Asvi Warman Adam, sejarawan urang awak tamatan EHESS Perancis ini suatu waktu pernah menjawab secara tegas pertanyaan yang terus bergelayut dalam memori historis masyarakat Sumatera Barat : “Mengapa Muhammad Natsir terlambat diberi label Pahlawan dan mengapa pula, Tan Malaka diakui dengan “ragu-ragu” (tanda kutip) sebagai pahlawan ?”. Asvi bilang, Tan Malaka dan Muhammad Natsir merupakan tokoh historis panutan, yang satu bercita rasa ideologis, yang satu lagi moralis. Tapi sayang, mereka berdua memiliki kesalahan politis – Ibrahim yang bergelar Tan Malaka itu dianggap tokoh histories komunism Indonesia, sementara Muhammad Natsir seorang pemberontak.

Tan Malaka telah mengalami sebuah ”kecelakaan” sejarah. Dalam bahasa Minangkabau, Tan Malaka tadorong diberi label sebagai pahlawan pada masa rezim Soekarno. Bila seandainya, Tan Malaka tidak ”berakhir” di Selopanggung, tapi disuatu masa setelah kejatuhan Soekarno, maka putra Pandan Gadang Suliki ini, tidak akan dicatat sebagai pahlawan. Karena gelar Pahlawan adalah sebuah gelar ”keramat” yang tidak bisa direvisi ulang, jadilah kemudian pria yang pernah jatuh cinta pada Syarifah Nawawi ini, ”terpaksa” diakui rezim Soeharto sebagai pahlawan yang ”diam-diam”. Tan Malaka (dan juga Mr. Asaat) agaknya lebih beruntung dibandingkan dengan Muhammad Natsir, apalagi bila dibandingkan dengan Chalid Salim. Berceritalah saya sedikit tentang Muhammad Natsir. Saya teringat, ketika itu bulan September 2007. Pemprov Sumbar mengundang beberapa pakar sejarah (diantaranya Taufik Abdullah dan Anhar Gonggong). Gawe ketika itu – Seminar untuk “kembali” mengusulkan Natsir jadi pahlawan. “Kembali” karena usulan pertama ditolak. Dari awal dan akhir seminar, semua sepakat, kontribusi Natsir jauh lebih besar dari cacat politiknya.

Salah satu otak pemberontakan PRRI yang dianggap sebagai cacat politik tersebut, pada prinsipnya bisa dilihat dari latar belakang penyebabnya, tentunya dengan diperkuat data-data sejarah. Ketika itu, saya dan mungkin semua yang hadir hampir sepakat, tak ada lagi alasan rasional untuk tetap menolak Natsir memberikan label pahlawan. Peluh, keringat, nilai-nilai luhur, kemanusiaannya dan nilai-nilai adiluhung yang diberikan oleh Natsir bagi “peradaban sejarah Indonesia” ini, rasanya jauh “menggunung” dibandingkan “onggokan kecil” cacat politiknya. Tapi nyatanya, “sungguh sulit” meletakkan Natsir pada posisi sebagai seorang pahlawan. Majalah Tempo bahkan mengeluarkan edisi khusus untuk mengenang Natsir. Natsir dijulang. Indonesia (baca: pemerintah Indonesia) terlampau "berhati-hati" menganggap Natsir sebagai Pahlawan. Beliau yang bersahaja ini tetap dianggap sebagai pemberontak. Dan ketika Natsir telah diberi label Pahlawan, tetap "sayup-sayup" Natsir sebagai pemberontak, masih terdengar. Setidaknya kala orang bercerita tentang PRRI, dan memposisikan PRRI sebagai pemberontakan, bukan sebagai koreksi. Lihatlah setiap tanggal 17 Agustus, kita kembali disuguhi oleh pahlawan-pahlawan baru, yang kala kita belajar sejarah sejak zaman Sekolah dasar hingga sekarang, pahlawan-pahlawan baru itu, terasa asing bagi kita. Tapi itulah negara, butuh akan pahlawan. 

Foto : diolah dari google.picture.com (cc: luv.islam.com)


Senin, 06 September 2010

Kebajikan dari Bung Karno dan Pak Dirman (9 Agustus 1949)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Adakah pejabat dan jenderal kita, bahkan hingga kepada abdi negara terendah pangkat dan golongannya sekalipun (sipil/militer/polri) yang mengesampingkan kepentingan dan kebutuhan pribadinya, demi sang Merah Putih? .... Patriot sejati itu, sungguh sungguh tidak lagi memikirkan nasib dirinya sendiri. Yang dipikirkan adalah, dunia luar mengetahui bahwa NKRI dan TNI masih ada, bahkan sanggup melakukan perlawanan. Saking cinta kepada negerinya, Pak Dirman tidak sempat lagi mengurus kebutuhan pribadinya, termasuk seragam resmi sebagai seorang jenderal besar.

Bacalah buku "Jenderal Soedirman : Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia - Kisah Seorang Pengawal". Buku tidak akan pernah "mati". Didalamnya ada bahan pembelajaran apapun bentuknya. Sebuah penuntun hidup, kehidupan dan sejarah penghidupan manusia. Apapun bukunya, didalamnya terdapat bekas yang "ditapakkan" oleh penulisnya Sebuah buku yang melukiskan perjuangan seorang patriot sejati bangsa ini. Bapak Tentara kita, Panglima Besar Jendral Sudirman. Bukan sebuah biografi, hanya sepenggal saja yang direkam. Perekam sejarah sepenggal perjalanan Pak Dirman itu hanyalah seorang pengawal. Pengawal dalam setiap langkah, gerak dan sepak terjang serta pemikiran Pak Dirman dalam rentang waktu yang tidak panjang. Adalah (alm) Let. Jen (Purn) Tjokropranolo. Yang kelak dikemudian hari (pernah) menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Tapi saya tidak akan menuliskan mengenai sang penulis buku Pak Dirman ini. Bukan juga mengenai perjalanan pak Dirman, diawal membangun Tentara Republik ini. Pun pula bukan mengenai synopsis buku ini. Saya hanya mencoba memaknai selembar dua lembar lampirannya. Sebuah lampiran dalam buku, yang selalu menggoda saya untuk memaknainya secara mendalam pada menjelang Hari Nasional kita Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Mempelajari dan memaknai perjalanan hidup pak Dirman sungguh sangat mengasyikkan. Mengharu biru, penuh suka cita dan tentu didalamnya sarat akan pelajaran hidup, kisah dan romantisme kepahlawan utamanya bagi perjalan bangsa ini kedepan. Kalau sebuah buku saja sarat akan makna yang mendalam, benarkah jika bagian dari lembar demi lembar buku ini juga sama bermaknanya? Tentu jawaban saya ; iya, benar adanya. Hanya selembar surat dari surat surat lainnya, yang menjadi bahan lampiran buku ini. Sepucuk surat untuk Pak Dirman. Tapi lembar inilah, yang senantiasa dan selalu menggoda saya untuk hanyut dalam isi dan makna surat yang tentu kala itu menjadi sangat penting bagi penerimanya, Pak Dirman. Bagi anak bangsa ini, apalagi kini, rasanya makna yang termaktub dalam isi surat ini, sangat sangat-lah penting. Mungkin, bagi para “penjahat bangsa” ini saja dianggapnya hanya selembar surat tak bermakna. Tapi terserahlah, saya toh bukan termasuk Penjahat Bangsa.

Surat tulisan tangan asli Bung Karno itu tertanggal 9 Agustus 1949 (tepat 60 tahun yang lalu). Bukan sebuah surat perintah, bukan surat resmi kenegaraan. Hanya surat pribadi yang mengunakan kop/kertas surat kepresidenan.
Kurang lebih bunyi surat tersebut adalah :
=======
Presiden
Republik Indonesia

JM (Jang Mulia) Panglima Besar
Saudaraku,
Hari Nasional 17 Agustus sudah mendekat. Saja kira saudara ta’ mempunyai lagi uniform jang bagus. Maka bersama ini saja kirim bahan untuk uniform baru.
Haraplah terima sebagai tanda persaudaraan.
Merdeka !
(tanda tangan Soekarno)
9/8 ‘49
=======

Menilik dan mempelajari surat dari Bung Karno kepada Pak Dirman, sungguh rasanya hati ini menangis. Empat tahun setelah Proklamasi kita pada 17 Agustus 1945, Panglima Besar, Jenderal Tentara kita, ternyata tidak memiliki seragam resmi yang bagus (layak) dikenakan oleh seorang Pemimpin TNI. Apalagi menjelang peringatan HUT Republik Indonesia ke-4 kala itu. Memang, negeri kita masa itu tengah dan masih bergolak karena agresi militer Belanda, sehingga Ibu Kota Negara dan seluruh perangkatnya-pun dipindah ke Jogyakarta. Suasana yang masih carut marut itu, rupanya menjadi perhatian khusus seorang panglima perang, tanpa mempedulikan kepentingan dirinya sendiri. Seperti kita tahu, Pak Dirman bahkan dengan paru – parunya yang tinggal sebelah, dan dalam kondisi sakit parah masih mampu memimpin perang gerilya. Tak tanggung tanggung, beserta segenap pengawalnya beliau rela naik turun gunung, masuk keluar hutan, menyusuri kampung ke pelosok desa, hingga kota. Dari Jogyakarta, ke wilayah Jawa Timur, hingga kembali lagi ke Jogyakarta semua dilakukan demi mempertahankan kedaulatan NKRI. Dengan berjalan kaki, yang berujung Pak Dirman harus ditandu, karena sakitnya.

Terbayangkan, sekitar seminggu lagi (kala itu), upacara kenegaraan Hari Nasional 17 Agustus 1949, Bung Karno mendapati Jenderal perangnya tanpa uniform yang layak pakai. Maka dikirimkannya sepucuk surat (pengantar) kepada Pak Dirman beserta selembar kain untuk kemudian dijahit dan bisa dikenakan saat hari besar Nasional itu. Bung Karno, memang sosok yang sangat sangat memperhatikan penampilan, termasuk busana yang dikenakannya. Pada jamannya, bahkan Bung Karno dikenal juga sebagai trendsetter model pakaian pejabat (sipil juga militer) dinegeri ini. Betapa Bung Karno dengan jas dan busana kenegaraan-nya sungguh mencerminkan bahwa dirinya adalah pribadi yang sangat memperhatikan penampilan diri. Sebagai negeri yang baru merdeka (usia 4 tahun) kala itu, Bung karno tidak ingin Panglima Perangnya terlihat kusam dengan busana yang tak layak pakai juga untuk seorang Jenderal Besar. Maka, dengan rasa persaudaraan yang amat besar pula, dengan rasa hormat dan penuh kasih sayang dihadiahkannya bahan kain untuk Pak Dirman. Pak Dirman, tentu sangat gagah dan berwibawa kala peringatan HUT RI ke-4 pada 17 Agustus 1949 itu. Angan ini pun melayang kepada masa kini. Adakah pejabat dan jenderal kita, bahkan hingga kepada abdi negara terendah pangkat dan golongannya sekalipun (sipil/militer/polri) yang mengesampingkan kepentingan dan kebutuhan pribadinya, demi sang Merah Putih? .... dan Saya, Anda, kita semua termasuk yang mana????

Sumber : dari diskusi FB dengan substansi diskusi serta tulisan dari FB Bentang Waktu (cahjengkol.multiply)

Pidato Lengkap SBY Soal Malaysia

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Presiden SBY telah menyampaikan sikap resmi Indonesia terrkait hubungan Indonesia-Malaysia yang memanas. Berikut ini adalah isi pidato yang dibacakan SBY di Markas TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9/2010).

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera untuk kita semua, Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air yang saya cintai dan saya banggakan.

Malam ini, saya ingin memberikan penjelasan kepada rakyat Indonesia mengenai hubungan Indonesia – Malaysia. Marilah kita mengawalinya dengan melihat perkembangan dan dinamika hubungan kedua negara, salah satu hubungan bilateral Indonesia yang paling penting. Hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki cakupan yang luas, yang semuanya berkaitan dengan kepentingan nasional, kepentingan rakyat kita. Pertama, Indonesia dan Malaysia mempunyai hubungan sejarah, budaya dan kekerabatan yang sangat erat - dan mungkin yang paling erat dibanding negara-negara lain, dan sudah terjalin selama ratusan tahun. Kita mempunyai tanggung jawab sejarah, untuk memelihara dan melanjutkan tali persaudaraan ini. Kedua, hubungan Indonesia dan Malaysia adalah pilar penting dalam keluarga besar ASEAN. ASEAN bisa tumbuh pesat selama empat dekade terakhir ini, antara lain karena kokohnya pondasi hubungan bilateral Indonesia - Malaysia. Ketiga, ada sekitar (2) juta saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia – di perusahaan, di pertanian, dan di berbagai lapangan pekerjaan. Ini adalah jumlah tenaga kerja Indonesia yang terbesar di luar negeri. Tentu saja keberadaan tenaga kerja Indonesia di Malaysia membawa keuntungan bersama, baik bagi Indonesia maupun Malaysia.

Sementara itu, sekitar 13,000 pelajar dan mahasiswa Indonesia belajar di Malaysia, dan 6,000 mahasiswa Malaysia belajar di Indonesia. Ini merupakan asset bangsa yang harus terus kita bina bersama, dan juga modal kemitraan di masa depan. Wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia adalah ketiga terbesar dengan jumlah 1,18 juta orang, dari total 6,3 juta wisatawan mancanegara. Investasi Malaysia di Indonesia 5 tahun terakhir (2005-2009) adalah 285 proyek investasi, berjumlah US$ 1.2 miliar, dan investasi Indonesia di Malaysia berjumlah US$ 534 juta. Jumlah perdagangan kedua negara telah mencapai US$ 11,4 Miliar pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia – Malaysia sungguh kuat. Namun, hubungan yang khusus ini juga sangat kompleks. Hubungan ini tidak bebas dari masalah dan tantangan. Ada semacam dalil diplomasi, bahwa semakin dekat dan erat hubungan dua negara, semakin banyak masalah yang dihadapi. Contoh masalah dan tantangan yang kita hadapi adalah menyangkut tenaga –kerja Indonesia di Malaysia. Kita tahu bahwa keberadaan 2 juta tenaga kerja Indonesia di Malaysia, disamping memberikan manfaat bersama, juga memunculkan kasus-kasus di lapangan yang harus terus kita kelola. Oleh karena itulah, sejak awal, saya berupaya keras untuk memperjuangkan hak-hak Tenaga Kerja Indonesia, antara lain menyangkut gaji dan waktu libur; memberikan perlindungan hukum, dan mendirikan sekolah bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia. Dalam kunjungan saya yang terakhir ke Malaysia, kita telah berhasil mencapai kesepakatan, mengenai pemberian dan perlindungan Hak bagi tenaga kerja kita di Malaysia.

Berkaitan dengan permasalahan hukum yang dihadapi oleh tenaga kerja Indonesia di Malaysia, pemerintah aktif melakukan langkah-langkah pendampingan dan advokasi hukum, untuk memastikan saudara-saudara kita mendapatkan keadilan yang sebenar-benarnya. Selain masalah TKI dan perlindungan WNI, kita juga kerap menjumpai masalah yang terkait dengan perbatasan kedua negara. Masalah ini memerlukan pengelolaan yang serius dari kedua belah pihak. Karena itulah, menyadari kepentingan bersama ini, saya dan Perdana Menteri Malaysia sering berkomunikasi secara langsung, di samping forum konsultasi tahunan yang kami lakukan, untuk memastikan bahwa isu-isu bilateral ini dapat kita kelola dan carikan jalan keluarnya dengan baik.

Saudara-saudara sekalian,

Akhir-akhir ini, hubungan Indonesia Malaysia kembali diuji dengan terjadinya insiden di seputar perairan Pulau Bintan pada tanggal 13 Agustus 2010 yang lalu. Berhubung insiden ini menjadikan perhatian yang luas dari kalangan masyarakat Indonesia, pada kesempatan ini, saya ingin memberikan penjelasan tentang duduk persoalan yang sesungguhnya, dan langkah-langkah tindakan yang diambil oleh pemerintah kita. Sejak saya menerima laporan mengenai insiden ini tanggal 14 Agustus 2010 pagi, saya langsung memberikan berbagai instruksi. Pertama, saya minta agar ketiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan segera dikembalikan dalam keadaan selamat. Kedua, saya juga memerintahkan untuk mengusut tuntas apa yang sebenarnya terjadi dalam insiden tersebut. Segera setelah itu, Menko Polhukam dan Menteri Luar Negeri melakukan tindakan-tindakan cepat, untuk mengelola penanganan insiden tersebut dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Terhadap insiden ini, kita semua sangat prihatin, dan saya ingin agar masalah ini segera di selesaikan secara tuntas, dengan mengutamakan langkah-langkah diplomasi. Saya ingin mengatakan bahwa sejak terjadinya kasus ini pemerintah telah bertindak. Sistempun telah bekerja.

Saya juga menekankan bahwa masalah seperti ini harus diselesaikan secara cepat, tegas dan tepat, karena berkaitan dengan kepentingan nasional kita. Memelihara hubungan baik dengan negara sahabat, apalagi dengan Malaysia, sangat penting. Tetapi, tentu kita tidak bisa mengabaikan kepentingan nasional, apalagi jika menyangkut kedaulatan dan keutuhan NKRI. Dalam kaitan ini, saya telah mengirim surat kepada Perdana Menteri Malaysia, yang intinya menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas terjadinya insiden tersebut. Saya juga mendorong agar proses perundingan batas maritim dapat dipercepat dan dituntaskan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri telah memanggil Duta Besar Malaysia di Jakarta untuk menyampaikan nota protes. Menteri Luar Negeri juga telah melakukan komunikasi intensif dengan Menteri Luar Negeri Malaysia. Dalam perkembangannya, alhamdulillah, ke-3 petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan itu kini telah kembali ke tanah air. Berkaitan dengan ketiga petugas KKP tersebut, Pemerintah Indonesia menerima informasi tentang perlakuan yang tidak patut yang dialami oleh mereka. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia meminta penjelasan atas kebenaran informasi itu. Melalui jalur diplomasi, diperoleh informasi bahwa Pemerintah Malaysia saat ini sedang melakukan investigasi atas masalah perlakukan terhadap tiga petugas KKP tersebut.

Saudara-saudara,

Yang jelas, di masa depan, insiden seperti ini harus kita cegah, agar tidak terus menimbulkan permasalahan di antara kedua negara. Upaya ini bisa kita lakukan dengan cara segera menuntaskan perundingan batas wilayah di antara Malaysia dan Indonesia, serta bentuk-bentuk koordinasi dan kerjasama di antara kedua belah pihak, dengan semangat untuk tetap memelihara hubungan baik kedua bangsa. Perihal penanganan terhadap 7 nelayan Malaysia yang memasuki wilayah perairan Indonesia, kepada mereka telah diambil tindakan-tindakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Setelah prosesnya selesai mereka kita kembalikan ke Malaysia, sebagaimana kelaziman yang berlaku di lingkungan ASEAN selama ini. Perlu diketahui, dalam kasus yang sama, banyak nelayan Indonesia yang diduga memasuki wilayah perairan negara sahabat, juga dikembalikan ke negeri kita.

Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air, Belajar dari pengalaman ini, pemerintah Indonesia berpendapat bahwa solusi yang paling tepat untuk mencegah dan mengatasi insiden-insiden serupa adalah, dengan cara segera menuntaskan perundingan batas wilayah antara Indonesia dan Malaysia. Perundingan ini menyangkut batas wilayah darat dan batas wilayah maritim, termasuk di wilayah selat Singapura, dan perairan Sulawesi, atau perairan Ambalat. Indonesia berpendapat bahwa perundingan menyangkut batas wilayah ini dapat kita percepat dan kita efektifkan pelaksanaannya. Semuanya ini berangkat dari niat dan tujuan yang baik, agar insiden-insiden serupa yang akan mengganggu hubungan baik kedua bangsa dapat kita cegah dan tiadakan. Saya sungguh menggaris-bawahi, sekali lagi, agar proses perundingan yang akan segera diteruskan oleh kedua pemerintah benar-benar menghasilkan capaian yang nyata.

Saudara-saudara, Kedaulatan Negara dan keutuhan wilayah adalah kepentingan nasional yang sangat vital. Pemerintah juga sangat memahami kepentingan itu, dan terus bekerja secara sungguh-sungguh untuk menjaga dan menegakkannya. Namun demikian, tidak semua permasalahan yang muncul dalam hubungan dengan negara sahabat selalu terkait dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah. Oleh karena itu, kita harus bisa menilai dengan tepat setiap masalah yang muncul, agar penyelesaiannyapun menjadi tepat pula. Meskipun demikian, sekecil apapun permasalahan yang muncul dalam hubungan bilateral, akan tetap kita selesaikan demi menunjang kepentingan nasional kita. Kita harus senantiasa menjaga citra dan jatidiri kita sebagai bangsa yang bermartabat dalam menjalin hubungan internasional, tanpa kehilangan prinsip dasar politik luar negeri yang bebas dan aktif, dan yang diabdikan untuk kepentingan bangsa kita.

Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, saya juga merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat Indonesia. Saya sungguh mengerti keprihatinan, kepedulian, bahkan emosi yang saudara-saudara rasakan. Dan apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang dan ke depan ini, sesungguhnya juga cerminan dari keprihatinan kita semua. Saya juga mengajak untuk menjauhi tindakan-tindakan yang berlebihan, seperti aksi-aksi kekerasan, karena hanya akan menambah masalah yang ada. Kekerasan sering memicu terjadinya kekerasan yang lain. Harapan untuk menyelesaikan masalah ini dengan serius dan tepat, tanpa disertai aksi-aksi yang destruktif, juga saya terima dari saudara-saudara kita rakyat Indonesia yang saat ini berada di Malaysia.

Saudara-saudara sekalian, Cara kita menangani hubungan Indonesia – Malaysia akan disimak dan diikuti oleh negara-negara sahabat di kawasan Asia, bahkan oleh dunia internasional. Selama ini sebagai Pendiri ASEAN, Indonesia sering dijadikan panutan di dalam menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi di kawasan, maupun di belahan bumi yang lain. Oleh karena itu, marilah seraya kita tetap memperjuang-kan kepentingan nasional kita, karakter dan peran internasional Indonesia yang konstruktif, dan dengan semangat untuk memelihara perdamaian, terus dapat kita jaga.

Terakhir, insiden yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia baru-baru ini akan kita tuntaskan penyelesaiannya. Indonesia akan terus mendorong Malaysia untuk benar-benar menyelesaikan perundingan batas wilayah yang sering memicu terjadinya insiden dan ketegangan. Dengan demikian, dengan dapat dicegahnya ketegangan dan benturan-benturan yang tidak perlu, saya yakin permasalahan, hubungan baik dan kerjasama bilateral antara Indonesia –Malaysia akan berkembang lebih besar lagi. Ke depan dalam hubungan antar bangsa yang lebih luas, kita harus terus menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah kita, dan terus membangun diri menjadi negara yang maju, sejahtera, dan bermartabat, dengan tetap menjaga hubungan baik dan kerjasama dengan negara-negara sahabat.
Sekian. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Sumber : detik.com & metrotvnews.com

Kamis, 02 September 2010

TKI Indonesia dalam Analisis Pars Pro Toto

Oleh : Muhammad Ilham

Cerita Tenaga Kerja Indonesia (selanjutnya baca TKI) di Malaysia – dan mungkin juga di negara lain – adalah cerita pergulatan keringat dan pertaruhan harga diri bangsa. Keinginan untuk memperbaiki kehidupan dan kuatnya “lambaian ringgit” membuat TKI menjadi cerita menarik di Malaysia.

Hampir dua juta jiwa (yang tercatat !) TKI asal Indonesia mengadu nasib di seluruh pelosok Semenanjung Malaysia, mulai dari Johor hingga Kedah serta Sabah hingga Sarawak. Para TKI ini – bersama-sama dengan tenaga kerja asal Cina, India dan Birma serta Pakistan dan Bangladesh – menjadi entitas tersendiri di negara kerajaan yang berpenduduk lebih kurang 22 juta jiwa ini. Namun entitas TKI jauh lebih mencolok dibandingkan tenaga kerja dari negara-negara lain. Sehingga tidaklah salah apabila dalam perbendaharaan kosa kata masyarakat Malaysia ada kata yang sangat populer yaitu “Indon”, sebuah kata yang menunjukkan entitas orang Indonesia di Malaysia, spesifiknya para TKI – disamping kata “Bangla” untuk menunjukkan entitas tenaga kerja dari Bangladesh.

Di kawasan-kawasan tertentu seperti Kajang, Port Klang, Gombak, Cheras, Klang, Johor Bahru, Seremban, Hulu Langat, Port Dickson, Kuala Lumpur, Melaka, dan Sungai Petani, kata indon adalah kata populer dan sangat familiar. Tak diketahui proses lahirnya kata indon ini. Apakah demi efisiensi atau ejekan, seperti halnya neger untuk negro, sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Tapi yang jelas, ketika saya mulai kuliah di UKM bulan September tahun lalu, penyelia (pembimbing) saya lengkap memanggil nama negara asal saya dengan kata “Indonesia” dan tak pernah sekalipun saya dengar mereka menghilangkan huruf “esia”, sementara itu panggilan indon selalu saya terima ketika saya berbelanja di beberapa sudut kota Kuala Lumpur. Kata indon bahkan untuk diskusi-diskusi lepas yang saya lakukan dengan berbagai kalangan masyarakat Malaysia baik yang beretnis Melayu, India maupun Cina selalu diidentikkan dengan sisi negatif. Nasionalisme saya merasa tertantang.

Benarlah kata Hannah Arendt (1988: 174) bahwa kadang-kadang nasionalisme muncul seketika dikala eksistensi simbol negara terlecehkan oleh entitas out group kita. Tapi apa nak mau dikate, cerita negatif tentang TKI belakangan ini di berbagai media massa Malaysia kembali menguatkan panggilan “Indon” identik dengan panggilan bernada ejekan. Kekerasan sosial seperti kasus-kasus pemerkosaan (bahasa Malaysia : rogol), jenayah dan pembunuhan selalu di blowup oleh media massa tempatan dan hampir selalu kejahatan tersebut bersumber dan melibatkan para TKI. Bahkan terkadang timbul prejudice bahwa pemberitaan berbagai media massa Malaysia terhadap kejahatan yang melibatkan para TKI terkesan sebagai sebuah grand disain – atau bisa saja character assasination – untuk membentuk opini bahwa TKI identik dengan kejahatan dan ketidakdisplinan. Padahal bila kita jujur melihat frekuensi kejahatan yang terjadi di Malaysia selain melibatkan para TKI, penduduk tempatan juga banyak yang melakukan kejahatan sosial. Kasus terakhir yang cukup fenomenal adalah penangkapan gank Mamak (mamak adalah panggilan bagi India muslim Malaysia) yang memiliki spesialisasi perampokan nasabah bank dan rumah-rumah mewah. Akan tetapi, kasus-kasus kejahatan yang melibatkan para TKI akhir-akhir ini justru menyedot perhatian dan opini masyarakat Malaysia sehingga di tengah-tengah masyarakat timbul anggapan pars pro toto.

Pars pro toto adalah sebuah kesalahan dalam mengambil kesimpulan dimana kasus yang kecil dianggap mewakili entitas kasus tersebut dalam skala besar. Kasus-kasus kejahatan yang terjadi dan disebabkan oleh para segelintir TKI, karena pemberitaan berbagai media massa, mengkondisikan timbulnya opini bahwa sebagian besar para TKI memiliki potensi besar untuk melahirkan kejahatan sosial. Sering ungkapan terbentuk : kalau tak karena orang Indon, tak kan dadah ade di Malaysia. Hal ini juga terjadi di Indonesia ketika orang-orang Nigeria banyak yang tertangkap dengan satu modus yang sama, mengedarkan heroin. Pars pro toto akhirnya juga timbul dalam benak masyarakat Indonesia. Padahal kalau kita mau jujur, tak semua orang Nigeria yang “mengadu nasib” di luar negara mereka, berkelakukan seperti itu. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Persoalan akan timbul dan masuk kedalam wilayah penggerogotan “harga diri bangsa” ketika pars pro toto terjadi. “Segelintir sangat kecil” para TKI yang berbuat salah justru menyebabkan para TKI lain harus menanggung beban “nama buruk”. Rasa kata indon tak lagi menunjukkan identitas sebuah bangsa, tapi justru identik dengan negative streotype.

Foto : salah satu "bedeng" para pekerja Indonesia (biasa disebut dengan : "orang kontrek") di salah satu binaan/pembangunan apartment di Selangor DE. Ada anekdot tentang TKI Indonesia yang dianggap "gesit" oleh orang Malaysia, begini : "disetiap pembangunan apartmen atau bangunan tinggi. lihatlah dibelakang bangunan tersebut, pasti akan ada kebun ubi. Biasanya, setiap pagi, para "orang kontrek" ini makan ubi, dan .... setelah itu, mereka bisa memanjat belasan tingkat". Sebuah anekdot untuk "mengakui" kegesitan para TKI Indonesia.

Timor Timur - Monumen Kejeniusan Soeharto

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Timor, maksudnya Timor Timur, memang sangat penting artinya bagi Soeharto pribadi dan rezimnya. Timor Timur adalah lambang kesetiaan Soeharto dan rezimnya terhadap negara super power Amerika Serikat. Dalam cakupan yang lebih sempit, sejarah nasional, Timor Timur adalah piala kebanggaan Soeharto untuk mengimbangi prestasi patriotis Bung Karno, yang berhasil menyatukan Papua ke dalam dekapan negara dan bangsa Indonesia.

Alangkah cepatnya bangsa ini lupa. Rasanya baru kemarin, anak-anak sekolah di seluruh negeri ini didoktrin mengenai propinsi ke-27. Mengenai saudara-saudara sebangsa yang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dan, rasanya masih segar dalam ingatan, betapa Soeharto tampak bangga dan tersenyum sumringah, ketika meresmikan pabrik mobil nasional (mobnas) milik putra kandungnya, Tommy Hutomo Mandalaputra. Timor, itulah nama yang diberikan Soeharto untuk merek mobnas yang sejatinya buatan Korsel itu. Pemberian nama itu sebenarnya mengherankan, karena menyimpang dari kecenderungan sang diktator pada masa itu. Kita tahu, Soeharto pada dekade terakhir kekuasaannya sudah semakin mirip seorang raja, dengan nuansa budaya Jawa Tengah yang kental—termasuk pakai Primbon saat mengambil kebijakan kenegaraan yang penting. Contohnya pesawat komuter CN-235, produk kebanggan industri pesawat terbang Nurtanio, oleh Soeharto diberi nama Tetuko. Nah, kenapa mobnas yang kontroversial itu diberinya nama Timor ?

Di sisi lain, Timor Timur seperti halnya Aceh adalah alat yang pas untuk siasat cerdik Soeharto, membuat tentara sibuk dalam jangka waktu cukup panjang, agar jangan terulang kembali kejadian moncong tank diarahkan ke Istana Negara—seperti dialami Bung Karno. Namun bagi rakyat Indonesia, Timor Timur adalah bukti “kejeniusan” Soeharto yang tak terlupakan. Dia korbankan ratusan trilyun rupiah, hasil keringat bangsa ini, untuk petualangan yang dungu dan sia-sia, di wilayah tandus yang hanya cocok ditanami kopi itu. Dan, Soeharto hanya duduk manis seperti penonton, ketika puluhan ribu tentara kita terpaksa mundur dari wilayah Timor Timur, dengan label sebagai tentara pendudukan yang kalah. Soeharto tak mengatakan sepatah kata pun, sekadar untuk menghibur puluhan ribu tentara kita yang terpaksa keluar dari propinsi ke-27 itu dengan hati yang hancur dan harga diri terluka, karena tak diijinkan bertempur dan mati demi mempertahankan Merah Putih tetap berkibar di Timor Timur. Puluhan ribu tentara kita terpaksa mundur dari tanah yang diyakininya sebagai bagian dari Tanah Tumpah Darahnya, bagian dari wilayah negaranya yang berdaulat seperti dinyatakan dalam Keputusan MPR. Bukankah itu pengalaman yang benar-benar menyakitkan bagi puluhan ribu laki-laki yang memang dilatih untuk tugas suci itu, untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI ? Bukankah hari itu, sesungguhnya dan sejujurnya, adalah hari kekalahan kita sebagai sebuah bangsa ?

Bolehkah kita melupakannya begitu saja ? Pada dekade 90-an kita menyaksikan perubahan situasi dunia yang dramatis. Negara super power Uni Soviet runtuh dari dalam, menyusul kemudian Tembok Berlin dirubuhkan. Itu menandai berakhirnya era Perang Dingin yang sudah berlangsung hampir 40 tahun, yaitu persaingan ideologis Blok Barat (AS dan sekutu-sekutunya) dengan Blok Timur (Uni Soviet) . Tetapi Soeharto, yang memang kurang cakap urusan politik dan diplomasi internasional, tidak mengantisipasi sama sekali dampak perubahan global tersebut. Anak petani asal Kemusuk itu masih juga menggertak rakyat mengenai ancaman kembalinya komunis. Masih tetap represif terhadap kelompok-kelompok yang kritis mengoreksi kepemimpinannya yang makin korup, nepotis dan menyakiti rakyat. Dan masih pula mengandalkan bedil dan penjara untuk mengendalikan Timor Timur. Soeharto tidak mengantisipasi, bahwa konsekuensi logis dari perubahan situasi politik global adalah berubahnya strategi Amerika Serikat dalam mempertahankan hegemoninya di seluruh dunia. Pendek kata, AS tidak lagi menganggap komunis sebagai ancaman, sehingga para peminpin anti-komunis seperti Soeharto tidak dibutuhkan lagi sebagai sekutu. Khusus mengenai Timor Timur, AS menunjukkan sinyal melepaskan dukungannya, melalui pemberlakuan embargo senjata terhadap Indonesia. Embargo tersebut adalah tamparan buat Soeharto, sekaligus menurunkan wibawanya di mata para jenderal ABRI. Sebagai pembanding, di kala perang merebut Irian Barat dari Belanda, Soekarno mampu mengatasi embargo semacam itu. Dengan kelihaiannya berdiplomasi, presiden pertama RI itu mendapatkan suplai persenjataan berat dari Uni Soviet.

Tapi sebenarnya, pesan paling penting yang disampaikan Pentagon melalui pemberlakukan embargo itu adalah menarik dukungan yang telah diberikan selama 30 tahun terhadap rezim Soeharto. Orang Medan menyebutnya pekong alias pecah kongsi. Dan sejarah membuktikan, setiap diktator yang tak didukung lagi oleh AS pasti jatuh. Contoh paling menonjol kejatuhan Shah Iran Reza Pahlevi dan diktator Filipina Ferdinand Marcos. Perubahan sikap AS tentu menyakitkan bagi Soeharto, yang sejak hari pertama menjadi penguasa Indonesia selalu bersikap sebagai “keponakan” yang patuh terhadap Paman Sam. Tak terhitung banyaknya kebijakan Soeharto yang mencekik rakyat Indonesia, termasuk mengizinkan kaum kapitalis barat menguras habis kekayaan alam negeri ini, asalkan dia bisa menyenangkan AS. Krisis kedele yang terjadi baru-baru ini adalah akibat kepatuhan Soeharto kepada AS, lewat kebijakan yang menyebabkan Indonesia tergantung pada impor kedele dari negara koboi itu.

Pencaplokan Timor Timur juga merupakan servis Soeharto untuk Gedung Putih. Awalnya tahun 1974, Menlu AS Henry Kissinger diam-diam menemui Soeharto di Cendana, dengan sebuah perintah singkat : Indonesia harus kuasai Timor Timur sekarang juga. Pesan itu disertai peringatan QQC, agar Indonesia mencaplok Timor Timur dengan Quick, Quiet and Clear. Lakukan dengan cepat, jangan berisik dan beres. Ternyata rezim Soeharto mengerjakannya dengan LRS : Lama, Ribut dan Sadis; termasuk pembunuhan beberapa wartawan asing yang membuat dunia internasional marah. Tekanan terhadap Soeharto makin bertambah, karena sejumlah jenderal Angkatan Darat mulai berani mengkritik perilaku anak-anak Soeharto yang terlalu tamak dalam mencari uang, dengan memanfaatkan kekuasaan bapaknya sebagai presiden. Para jenderal itu bahkan mulai menyarankan secara halus, agar demokratisasi mulai dijalankan, dan proses mundurnya Soeharto dari panggung kekuasaan harus segera dipersiapkan. Soeharto merespon imbauan para jenderal itu sebagai tanda-tanda pembangkangan. Tapi karena tidak berani menindak para jenderal itu, dia berpaling mencari dukungan dari kalangan politik Islam, dengan mengangkat Habibie sebagai operator yang kemudian membentuk ICMI. Pertarungan politik inilah yang membuat kebijakan pemerintah mengenai Timor Timur diwarnai dualisme. Kalangan militer menghendaki kucuran dana untuk pembangunan propinsi itu ditingkatkan, sebaliknya kalangan sipil yang dipimpin Habibie lebih memprioritaskan proyek-proyek populis untuk memobilisasi dukungan rakyat miskin, dan juga prioritas industri pesawatnya yang terkenal boros itu.

Aneksasi Timor Timur yang dilakukan rezim Soeharto adalah petualangan yang dungu, mahal dan dan sia-sia. Pengorbanan nyawa ribuan putra-putra bangsa. Hasil keringat ratusan juta penduduk, dikorbankan untuk membangun dusun-dusun primitif di Timtim menjadi kota-kota dan desa-desa modern. Anak-anak mereka yang buta huruf dididik sampai menjadi sarjana. Tapi apa imbalannya bagi rakyat Indonesia ? Cuma satu kata : PENJAJAH. Suka atau tidak, itulah kenyataanya. Kita semua, Bangsa Indonesia, akan selalu dikenang oleh rakyat Timor Leste sebagai PENJAJAH. Sungguh ironis dan menyedihkan. Dengan semua yang telah dikorbankan oleh rakyat Indonesia demi kemajuan Timor Timur, dengan semua kata-kata agung dan indah “kemerdekaan adalah hak segala bangsa” yang tertulis dalam Mukadimah UUD 45; dengan segala keberanian dan kepioniran Bung Karno mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah di Asia dan Afrika, dengan pidato Bung Karno “Mankind is One” yang sangat menggetarkan Sidang Umum PBB, ternyata kita adalah bangsa PENJAJAH. Kita tidak menaruh dendam pada rakyat Timor Timur, hanya lantaran “saudara-saudara sebangsa” itu tak sudi hidup bersama dengan kita, di bawah panji Merah Putih. Sebaliknya kita harus memuji, dengan memilih merdeka mereka telah membebaskan diri dari sejarah kita yang gelap dan berlumur darah, dan dari beban utang luar negeri yang tidak bakal lunas sampai tujuh turunan. MERDEKA!

:: Disarikan dari diskusi via Facebook (c) Robert Manurung/Foto Suharto dan Peta Timor Timur dari www.google.com

Sabtu, 28 Agustus 2010

Ketegangan Indonesia - Malaysia : "Dari Wawancara Datuk Seri Anwar Ibrahim"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Agar rakyat Indonesia mengerti, di Malaysia masih ada yang mencintai saudara serumpun (Anwar Ibrahim)

Apa sebenarnya yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia? Mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim menilai, ketegangan terjadi saat ini sudah akut. Ini adalah sebuah bentuk akumulasi dari berbagai permasalahan yang berlarut. “Sudah sampai pada tingkat massa, ini sudah tidak sehat,” kata Anwar Ibrahim. Menurut dia, betapapun ketegangan itu ada dan terjadi, kepentingan dua bangsa tak boleh dikorbankan. Lalu, mengapa kedua negeri serumpun ini akan merugi jika konflik berlarut? Berikut petikan wawancara Anwar Ibrahim :

Hubungan Indonesia-Malaysia makin panas. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Saya berpendapat, bahwa tension [ketegangan] sudah berlarut-larut, dari soal budaya hingga soal TKI. Dan kini soal sempadan [batas wilayah], juga marine [kelautan]. Saya mendesak pimpinan dua negara berunding menangani masalah itu, karena ini sudah sampai pada tingkat massa, ini sudah tidak sehat. Karena betapapun ketegangan itu ada, kepentingan negara yang sangat strategis tak boleh dikorbankan.

Sikap Anda soal pelemparan kotoran ke kantor Kedutaan Besar Malaysia?

Kedua rakyat [baik Malaysia dan Indonesia] tidak mendukung pendirian arogan itu. Pelemparan najis itu tidak wajar. Sekedar mengemukakan pandangan, memprotes, itu ya biasa dalam negara demokrasi. Walaupun di sini [di Malaysia] kurang mengerti, sebab di sini dilarang semua protes-protes. Mereka Yang disenangi pemerintah bisa, yang tidak, lain, dilarang semua, berbeda. Sudah diketahui saya punya pandangan yang relatif intim dengan Indonesia. Di sini disinggung seolah saya senang dengan sikap itu [Bendera], tapi tidak benar. Bagi saya soal hubungan dua negara harus mengatasi kepentingan politik fraksi. Yang malang, pimpinan negara agak slow menangani, dibiarkan gitu makanya parah. Ini persoalan yang harus ditangani dengan rujuk fakta. Kepala negara, wakil, atau pimpinan penting utama harus segera menangani. Soal sempadan, TKI, ini soal lama, saya ingat terus. Dalam hubungan dulu dengan Pak Habibie [Presiden RI, BJ Habibie] saya direct call dengan Pak Habibie, harus begitu.

Apa persepsi warga Malaysia terhadap konflik ini?

Belum merebak. Cuma ada satu pihak, media main sentimen soal isu najis sebagai isu besar meski hanya melibatkan sejumlah kecil orang di Indonesia. Saya juga melihat di koran, dari liputan televisi, banyak yang tidak senang dengan itu. Saya sebagai sahabat sejati Indonesia, saya pun berfikir demikian. Sebab, kalau konflik ini diteruskan, hanya menguntungkan buat yang arogan.

Siapa pihak arogan yang dimaksud?

Kalangan yang tidak senang atau yang mengambil suatu penilaian tidak baik, atau tidak senang dengan hubungan baik dua negara.

Konflik sudah lama terjadi, bukan kali ini saja. Apa sebenarnya persoalan dasar antara Indonesia-Malaysia?

Saya tekankan, ini isu panjang, horizontal. Terutama isu soal TKI, itu sentral. Bahwa TKI harus diperlakukan baik, ada political will. Persepsi orang Indonesia saya tahu benar, bahwa pimpinan atau elit Malaysia selalu arogan. Ini terkungkung kenyataan, [kondisi] di sini tidak juga membantu. Akhirnya timbul reaksi yang memicu ketegangan. Panjang ceritanya, tapi pokoknya, pimpinan harus segera bertindak. Bukan berperang tapi untuk runding. Untuk media massa, Indonesia yang menganut demokrasi, aturan media bebas. Di sini liputan media dikontrol pemerintah, lain. Perbedaan boleh [bisa], tapi kali ini yang bisa kita selesaikan, kita selesaikan.

Apa yang harus dilakukan rakyat untuk menyikapi isu sensitif ini?

Pandangan saya tidak sama dengan pemerintah, pandangan saya berbeda dan kritis. Pesan saya kepada rakyat Indonesia, tunduklah pada hukum. Kalau ada pelanggaran, harus konsisten, negara harus menyelesaikannya. Supaya rakyat Indonesia mengerti, ada kalangan [di Malaysia] yang mencintai saudara serumpun. Mereka bisa protes, itu hak demokrasi, tapi kawal tata susila. Ini pernyataan orang yang simpati dengan Indonesia. Kalau Anda lihat di sini, tiap kali disinggung, baik di parlemen di luar parlemen–Anwar ini tidak nasionalis, dikatakan pro sana pro sini, saya tidak peduli, karena pendirian saya [soal Indonesia] konsisten. Di kalangan UMNO, dikatakan saya senang [jika ada konflik], provokator. Buat saya ya itu politik murahan.

Sikap Anda yang simpati pada Indonesia dipermasalahkan?

Ya, secara terbuka oleh banyak menteri, parlemen, juga masyarakat luas. Saya mewakili pandangan yang mau Indonesia dan Malaysia lebih akrab. Kita dulu amat membutuhkan Indonesia. Saya masih ingat perundingan dengan Pak Harto, "Pak tolong pak soal ini, kita merayu ke negeri jiran, banyak kawan berikan". Penghinaan terhadap bendera Malaysia justru akan digunakan [oleh pihak lain], yang rugi kan rakyat, seperti kami yang menghendaki demokrasi. Mereka akan bilang,”itu kamu mau demokrasi, demokrasi itu bakar bendera.” Padahal itu tidak benar. Itu digunakan tangan tertentu untuk ‘memukul’ kami.

Beredar spekulasi ada kepentingan politik menggunakan isu ini sebagai alat. Misalnya kekuatan politik di Indonesia, atau di Malaysia yang popularitasnya sedang turun. Benarkah?

Ada juga tafsiran itu, ada kesan soal internal --mereka sengaja mengabdikan ini seolah ada serangan, gugat. Saya lihat mainan spirit, survival Melayu yang keterlaluan, rasis. Isu ini dieksploitasi, termasuk isu konflik dengan Indonesia. Tapi saya tidak mendapat keterangan atau informasi soal yang jelas soal itu. Yang mampu saya katakan, bahwa media UMNO sengaja mengaktifkan isu ini. Namun apapun, yang terpenting, kepentingan dua negara jauh lebih penting. Ini yang saya tekankan.

:: Ditulis ulang dari VIVAnews/27 Agustus 2010 - Foto dari www.google.com dan Ilham FB

Kamis, 19 Agustus 2010

"Penggalan" Thesis Tan Malaka (10 Juni 1946)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Colombus tidak akan sampai ke Amerika, kalau Ia bergantung pada pengetahuan yang sudah pasti, yang sudah di uji kebenarannya saja. Dia akan berbalik setengah pelayaran setelah menemui mara bahaya, kalau Ia cuma bergantung kepada teorinya ahli bumi Toscanelli saja.


Seorang nakhoda yang berpengalaman cukup, yang mengemudikan kapal, yang kuat dan baru juga mesti menentukan keadaan pelayaran lebih dahulu sebelum bertolak dari pelabuhan. Taufan yang mengancam di waktu depan, bisa menyebabkan kapal itu menunda perjalanannya atau juga memukul kembali atau membelokkan pelayarannya ke kiri-kanannya bahkan juga memukul kembali ataupun menenggelamkan kapal itu. Syukurlah kalau nachodanya berpengalaman lama serta mengetahui karang dan gerakan udara dilautan yang di tempuh, kini ataupun di hari depan. Tetapi tiadalah dunia akan mendapat kemajuan seperti sekarang, kalau semua nachoda tidak mau berangkat sebelum keadaan udara laut dan cuaca sungguh di ketahui lebih dahulu.

Semangat adventure, mencoba-coba sesuatu yang mengandung bahaya mautpun mesti dilakukan. Berbahagialah suatu negara dan masyarakatnya yang mempunyai semangat adventure itu. Memang lebih dari 50% kemajuan masyarakat kita di tebus oleh jiwa yang bersemangat adventure itu, dalam semua lapangan hidup, politik, ekonomi, militer, bahkan semua cabang ilmu. Dalam revolusi Indonesia sekarang banyak jalan yang belum kita ketahui. Semua jalan masih kedepan asinglah buat kita. Berjalan ke depan berarti adventure, percobaan yang mungkin membawa maut. Perjalanan yang pasti cuma perjalanan ke belakang, yakni kembali kejalan yang kita jalani 350 tahun belakangan ini. Artinya ini kembali mencari jalan penjajahan, kembali menjadi budak jajahan…..berkhianat, kepada turunan sekarang dan anak cucu. Inilah saja sekarang jalan yang pasti terang.

Bahwasanya perjalanan masyarakat kita terutama berarti perjalanan politik ekonomi sebagai garis besarnya. Garis besar dalam politik-ekonomi kita sebagai raitnya masyarakat Indonesia, dalam dunia penuh pertentangan ini, mungkin bertentangan dengan garis besarnya politik-ekonomi negara lain ialah negara kapitalis. Mungkin garis besar kita terpaksa memutar dari garis besar politik-ekonominya negara lain, mungkin mem-viaduci atau menyelundupi kebawah satu terowongan. Bagaimanapun juga ahli politik ekonomilah yang berhak menentukan garis besar dalam perjalanan politik-ekonomi masyarakat Indonesia dalam revolusi sekarang ini.

Timbulnya satu golongan yang bangga menamai dirinya "acedemice" di Indonesia ini sudah mulai memonopoli semua pengetahuan yang berdasarkan ilmu. Di Philipina dan Hindustan, memang percobaan memonopoli itu sudah memperlihatkan hasilnya. Disana sudah masuk betul paham diantara segolongan rakyat, bahwa umpamanya yang memimpin politik itu harusnya satu Mr dan memimpin ekonomi itu mesti suatu Dr dalam ekonomi. Kalau kita ikuti logika semacam itu, jadinya seorang leek bukan bertitel tidak boleh meraba-raba ilmu. Selanjutnya pula seorang Drs (yang baru 75% atau 75 ½% Dr) dalam ekonomi mestinya takluk pula pada seorang Profesor dalam ekonomi. Jadi menurut pikiran pasar "The men on the street" dengan logika semacam ini kalau seorang Drs (ekonomi) umpamanya menulis 3 buku, maka sorang Dr (ekonomi) mesti sekurangnya menulis 4 buku dan satu Profesor jauh lebih banyak dari yang di belakang ini. Dilaksanakan di Indonesia ini, kalau ahli ekonomi kita yang sudah "diakui" itu ialah Drs Moh. Hatta menulis setengah lusin buku tentang ekonomi, maka Dr Samsi mestinya menulis sekurangnya 9 buku dan Prof. Sunario Kolopaking selusin ataupun lebih. Dalam hal politik para Mr-lah yang mesti memimpin politik kita sekarang, ialah menurut logika pasar tadi juga. Tetapi apakah bukti yang kita lihat?

Sedangkan Drs (75% atau 75 ½% Dr) Moh. Hatta menulis lebih setengah lusin, Dr Samsi dan Prof. Sunario Kolopaking sedikit sekali kelihatan buah penanya. Sedangkan di dunia politik Mr Iwa Koesoema Soemantri umpamanya sedikit terdengar suaranya dan cuma dalam kalangan P.B.I-nya saja, tetapi warganegaranya sejawat kita Mr Slamet, sudah sampai suaranya ke "Sri" Ratu dan seluruh rakyat Nederland serta dunia Imperialis lainnya. Demikianlah kalau kita ikuti paham yang di masukkan oleh Imperialisme Barat. Menurut paham itu kalau diambil akibatnya, maka yang bertitel itulah saja yang berhak merundingkan dan memimpin perkara ini atau itu. Yang tidak mepunyai "cap" dari sekolah akademi Barat itu menurut kehendak mereka janganlah di percayai. Tidak ada yang lebih dikenal oleh penyakit ke-akademinya itu daripada sosial science, termasuk ilmu masyarakat itu pula.

Kita membenarkan sama sekali keperluan latihan akademi dalam ilmu seperti kimia, listrik, dan tehnik. Tetapi inipun tidak berarti bahwa yang ulung dan berhak bersuara dalam ilmu semacam itu mestinya hanya keluaran akademi saja. Cukuplah disini disebutkan bahwa pembikin beberapa teori yang amat berharga dalam hal listrik di jaman listrik ini seperti Michael Faraday Cuma keluaran sekolah sebenggol (rendah) saja. Thomas Edison, penemu (inventor) listrik diusir oleh gurunya dari kelas satu atau dua di sekolah rendah tadi pula karena…..bodoh. Penuh contoh lain-lain dalam ilmu seperti tersebut diatas: tehnik, kimia, matematika ataupun BIOLOGY. Banyak ilmu yang dijalani dan teori penting yang dibentuk oleh hokum akademicia. Sebaliknya banyak pula contoh yang membuktikan bahwa akademici itu Cuma tukang hafal saja, tukang "catut" ilmu orang lain saja. Semuanya membuktikan bahwa "title" itu Cuma satu surat "pas" saja dalam dunia kecerdasan, bukanlah kecerdasan sendiri! Apalagi dalam ilmu masyarakat, seperti politik dan ekonomi.

(c) Madilog/Penerbit Murba Jakarta

Selasa, 17 Agustus 2010

Kenalkan, Nama Saya Sekarmadji Maridjan KARTOSOEWIRJO

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Ayahnya adalah, menurut Van Dijk, "mantri penjual candu, seorang perantara dalam jaringan distribusi candu siap pakai yang dikontrol dan diusahakan pemerintah". Dan sekolahnya pun sekuler : Inlandsche School der Tweede Klasse, HIS, ELS, dan kemudian NIAS-sekolah dokter Jawa. Menariknya, warna nonsantri itu tidak muncul dalam pembicaraan mengenai Kartosoewirjo. Sebaliknya, figur ini justru dikenal sebagai bagian penting dari pergerakan Islam, khususnya dalam kaitannya dengan gagasan dan eksperimen negara Islam.

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah tokoh menarik. Dari segi nama, penilaian subyektif saya mengatakan figur ini tidak memiliki Islamic credential yang kuat. Demikian pula jika dilihat dari sisi penampilan. Potret dirinya, seperti tampak dalam buku Cornelis van Dijk yang berjudul Darul Islam, tidak mengesankan sebagai santri dalam perspektif Clifford Geertz. Foto itu bahkan lebih tampak berkarakter abangan. Kesan "nonsantri" ini diperkuat dengan asal-usul sosialnya yang berspektrum priayi-abangan. Di Indonesia, wacana dan karya kesarjanaan tentang negara Islam sering dikaitkan dengan aspirasi ideologis dan politis "golongan agama"-yang kemudian bermetamorfosis menjadi partai Islam. Ini karena mereka, sebagaimana tecermin dalam perdebatan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (1945) dan Sidang Konstituante (1956-1957), ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Meski demikian, Kartosoewirjolah yang berasal-usul sosial nonsantri itu, yang menyatakan sikap politiknya secara lebih tegas: memaklumkan berdirinya Negara Islam Indonesia melalui gerakan Darul Islam. Sementara golongan agama atau partai Islam "hanya" berani mengusulkan Islam sebagai dasar negara, Kartosoewirjo tanpa ragu memilih mendeklarasikan negara Islam.

Terlepas dari soal nama, penampilan, dan asal-usul keluarga yang "bukan santri", kehidupan Kartosoewirjo tidak kosong dari warna Islam. Setidaknya dia pernah dekat dengan H.O.S. Tjokroaminoto-bapak penggerak nasionalisme Indonesia melalui Sarekat Islam. Berbeda dengan Soekarno atau Semaoen-Darsono yang juga menjadikan Tjokroaminoto sebagai mentor, Kartosoewirjo bahkan pernah bergabung dengan PSII dan Masyumi. Dia juga melatih pemuda-pemuda dalam lembaga Suffah yang dibangunnya. Atas dasar itu dapatlah dikatakan bahwa Islamic credential yang disandang Kartosoewirjo lebih bersifat institusional daripada substansial. Kartosoewirjo barangkali memang tidak memiliki pengetahuan tentang Islam sedalam Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, atau Isa Anshari. Lagi-lagi menurut Van Dijk, substansi Islam diperolehnya secara otodidak melalui buku-buku berbahasa Belanda, yang dia dapatkan dari kiai-kiai Malangbong, seperti Yusuf Tauziri dan Ardiwisastra-mertuanya.

Barangkali sadar akan hal ini, yaitu keterbatasan mengenai keluasan dan kedalaman Islam, Kartosoewirjo tidak bersedia membuang waktu untuk menggali dasar-dasar teologi tentang perlunya negara Islam. Dan memang, Negara Islam Indonesia yang dia proklamasikan pada 7 Agustus 1949 lebih merupakan reaksi politis daripada agama atas situasi yang berkembang waktu itu. Deliar Noer, misalnya, percaya bahwa gerakan Darul Islam muncul karena Kartosoewirjo-yang ketika itu "memimpin sebagian kekuatan bersenjata umat di daerah Jawa Barat"-tidak setuju dengan Persetujuan Renville. Inti persetujuan itu adalah ditariknya kekuatan bersenjata Indonesia, termasuk Hizbullah dan Sabilillah, dari daerah yang dianggap dikuasai Belanda. Tapi sebenarnya, di luar Persetujuan Renville, ada faktor lain yang menyebabkan kelahiran Negara Islam Indonesia, seperti berdirinya Negara Pasundan ciptaan Belanda pada Maret 1948 dan-ini barangkali yang paling menentukan-jatuhnya pemerintahan RI di Yogyakarta pada Desember 1948 karena aksi polisional Belanda.

Dalam konteks seperti itu, kental warna kebencian terhadap kolonialisme Belanda dalam kaitannya dengan berdirinya Negara Islam Indonesia. Bahwa kemudian Kartosoewirjo memberi makna jihad dalam reaksinya terhadap perkembangan keadaan, hal itu merupakan sesuatu yang lumrah. Gagasan mengenai jihad memberikan dimensi lain, nilai tambah, dalam perang melawan Belanda-walaupun harus pula disadari, dalam tradisi masyarakat agraris yang masih sangat tradisional, belum tentu pemahaman tentang jihad memiliki kedalaman makna teologis. Bisa saja jihad dimengerti dalam konteks mesianistik-menghadirkan juru selamat yang diridhoi Tuhan. Bukankah, sekali lagi menurut Van Dijk, Kartosoewirjo juga dilukiskan sebagai pemimpin yang memiliki kekuatan mistik, lengkap dengan keris dan pedangnya-Ki Dongkol dan Ki Rompang? Tentu, kualitas yang dimiliki Kartosoewirjo tidak unik, tidak hanya ada pada dirinya sendiri. Sejak awal abad ke-20 sampai sekarang, pejuang negara Islam tidak selalu berasal dari kalangan muslim yang-dalam kerangka antropologis masyarakat Indonesia-disebut santri. Di belahan dunia lain, pejuang negara Islam itu ada yang berasal-usul seperti Kartosoewirjo, setidaknya jebolan perguruan tinggi sekuler, bukan madrasah. Ini artinya, seperti tampak dalam sejarah pergerakan Darul Islam di Indonesia, gagasan mengenai negara Islam tidak mesti muncul karena kesadaran keagamaan. Ide itu bisa juga lahir sebagai respons atas perkembangan keadaan.

:: (c) Bakhtiar Effendi/Ditulis ulang dari "Edisi Khusus Kartosoewirjo" Majalah Tempo/Agustus 2010

Jumat, 13 Agustus 2010

Wawancara Shigetada Nishijima - Saksi Perumusan Naskah Proklamasi

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Menjelang proklamasi kemerdekaan, Nishijima banyak membantu para pemuda, antara lain Adam Malik, Sukarni, Chairul Saleh, Elkana Lumban Tobing, B.M. Diah, Wikana, Pandu, dan lain-lain.

Nishijima adalah pribadi yang menarik. Dia seorang yang periang, ingatannya masih cemerlang, suaranya lantang, fasih berbahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda. Sebelum pendudukan Jepang, Nishijima tinggal di Jakarta, kemudian pindah ke Bandung sebagai pegawai di Toko Jepang, Chiyoda. Karena pergaulannya yang erat dengan para pemuda pejuang Indonesia menjelang pendudukan Jepang, pemerintah colonial Belanda menangkap Nishijima. Dia mendekam di kamp tahanan politik berpenghuni kira-kira 500 orang di Garut. Di antara tahanan itu ada Adam Malik, Asmara Hadi, S.K. Trimurti, dan lain-lain. Pada masa pendudukan Jepang, tangan kanan sekaligus penerjemah Laksamana Tadashi Maeda. Laksamana Tadashi Maeda dan Shigetada Nishijima telah sepakat, bertekad bulat untuk tidak menceritakan kepada Sekutu tentang keterlibatan mereka dalam perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu. Alasannya antara lain untuk melindungi nama baik Republik Indonesia. Terlebih, Sekutu sudah mencium keterlibatan pihak Jepang. Sekutu menuduh bahwa Proklamasi itu adalah rekayasa pihak Jepang.

Berikut wawancara Basyral Hamidy Harahap dengan Shigetada Nishijima 10 Oktober 2000 di Meguro-ku, Tokyo.

Pak Nishijima, bagaimana sikap Laksamana Tadashi Maeda dan Pak Nishijima sendiri menghadapi tuduhan Sekutu tentang keterlibatan pihak Jepang dalam perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 16 Agustus 1945?


Terus terang, Laksamana Muda T. Maeda dan saya berusaha sekeras-kerasnya untuk menjaga nama baik Republik Indonesia, agar jangan sampai Belanda bias mengecap RI itu sebagai bikinan Jepang. Pada akhir bulan Desember 1946, E.S. Pohan sebagai war crime's suspect, dipindahkan dari salah satu tempat ke penjara Gang Tengah. Dia dimasukkan ke double sel yang tadinya ditempati Tuan T. Maeda. Kemudian Tuan T. Maeda dipindahkan ke dalam sel saya. Memang ini adalah kesalahan dari pihak pengurus penjara. Karena Tuan T. Maeda dan saya masih belum diperiksa mengenai rapat dan kejadian di rumah Tuan T. Maeda. Kami berdua merasa amat senang. Kami berunding betul-betul sampai mana boleh terus terang dan mana harus tinggal diam saja mengenai perumusan naskah proklamasi.Karena pada waktu itu Belanda berusaha keras untuk mengecap Republik sebagai bikinan Jepang. Karena apa? Karena tanggalnya ditulis '05. '05 artinya artinya tahun Jepang, bukan '45. Biarpun pemeriksa berturut-turut empat hari menekan saya sampai akhirnya mengeluarkan air kencing berdarah, saya tetap tidak mengaku. Umur saya waktu itu hamper 36 tahun dan masih bisa tahan.

Siapa saja yang duduk di meja bundar ketika merumuskan naskah Proklamasi itu?


(Sambil menggambarkan suasana di ruangan itu Nishijima berkisah). Di sini duduk Tuan Maeda, Tuan Sukarno, Tuan Hatta, Mr. Subarjo, saya sendiri, Tuan Yoshizumi, dan S. Miyoshi dari Angkatan Darat. Kami membicarakan bagaimana teks proklamasi. Pemuda ada di luar, antara lain Sukarni, Chairul Saleh dan yang lainnya. Pemuda meminta agar supaya teks itu bunyinya keras, artinya hebat. Padahal saya sendiri sebagai pihak Jepang, apalagi saya tahu sedikitnya international law bahwa jika pihak Jepang mengakui dan menyetujui teks itu, kita akan dimarahi oleh Sekutu. Jadi kata-kata itu harus dirumuskan. Sehingga ada perubahan-perubahan. Perubahan itu, tentang kata penyerahan, dikasihkan, atau diserahkan. Itu tidak bisa. Perebutan juga kita tidak mau mengakuinya. Sehingga di sini diadakan pemindahan kekuasaan. Sukarno sendiri menulis diselenggarakan. Pihak Indonesia tidak mengakui bahwa itu dicampuri oleh Jepang.

Apakah Pak Nishijima pernah menulis tentang peristiwa perumusan naskah Proklamasi itu?


Saya dan saudara Koichi Kishi sudah menerbitkan buku tentang pendudukan Jepang di Indonesia dalam bahasa Jepang berjudul Indonesia niokeru Nihon Gunsei no Kenkyu yang diterbitkan pada bulan Mei 1959. Soal perumusan juga tertera di dalam buku itu. Tidak kurang dari 100 tulisan ditambah televise BBC London dan NHK Tokyo yang menyiarkan keterlibatan saya dalam perumusan naskah Proklamasi.

Bagaimana pendapat Pak Nishijima tentang sikap pihak Indonesia yang tidak mengakui keterlibatan Jepang dalam penyusunan naskah Proklamasi itu?

Saya memahami perasaan pihak Indonesia bahwa soal proklamasi itu betul-betul peristiwa bersejarah. Jadi mereka tidak mau mengakui bahwa orang Jepang campur tangan dalam hal itu.

Bagaimana reaksi pemimpin-pemimpin Indonesia terhadap klarifikasi Pak Nishijima bahwa sebenarnya pihak Jepang mengambil bagian dalam perumusan Proklamasi itu?

Sampai sekarang saya tidak menerima "bantahan secara terbuka" dari pihak Indonesia, baik dari pelaku-pelaku maupun pemuda-pemuda atau pemimpin-pemimpin yang mengintip. Ada, Nyonya Satsuki Mishima, alamat 1-28-16, Bukomotomachi, Amagasaki-shi, telepon 064-31-2509. Dialah yang menyediakan makan sahur bagi Bung Karno dan Bung Hatta. Saya Tanya kepadanya tentang berapa orang Jepang duduk di meja bundar bersama-sama Bung Karno, Drs. Hatta dan Mr.Subarjo. Dia menjawab tegas bahwa ada Laksamana T. Maeda, T. Yoshizumi, S. Nishijima, dan S. Miyoshi dari Angkatan Darat.

Sejauh mana Pak Nishijima mengenal Bung Karno, Bung Hatta, Adam Malik, dan Ahmad Subarjo?


Saya mengenal Bung Karno dan Bung Hatta di Jakarta. Ketika itu pemuda begitu berkobar. Sehingga saya menjadi pengantara. Ketika itu saya sudah kenal baik sama Bung Karno dan Bung Hatta. Saya bersama-sama pergi ke Makassar pada masa perang. Jadi ketika itu saya terpaksa menjadi pengantara pemuda, Karni, dan Chairul Saleh. Bung Karno juga baik sekali sama saya. Adam Malik melihat saya sebagai saudara. Saya juga menganggap dia sebagai saudara. Dia bekas pejuang. Jadi saya menghargai betul.Mr. Subarjo adalah sahabat baik saya. Dia menulis surat kepada saya pada tanggal 18 Oktober 1954. Subarjo antara lain menulis, "Percayalah bahwa sampai mati saya tak akan lupa teman-teman di Jepang yang dengan hati suci dan sungguh-sungguh membantu kami dalam melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Hanya orang sedikit saja yang tahu menahu akan seluk-beluknya di sekitar Proklamasi. Dan, sudah barang biasa dalam sejarah dunia bahwa di belakang kejadian-kejadian yang sangat penting masih terbenam beberapa faktor-faktor yang tak diketahui oleh umum. Seperti dalam Proclamation of Independence daripada Amerika Serikat, baru saja belakangan hari ini diketahui bahwa bukan Thomas Jefferson yang merancangkannya, tetapi seorang bernama Thomas Paine yang menulis beberapa buku ilmu filsafat, seperti The Rights of Man. Baru 150 tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Amerika, orang mulai mengetahui bahwaThomas Paine itu yang merancangkan kata-kata Declaration of Independence itu.

Maka dari itu, penting sekali kalau orang-orang seperti Tuan yang tahu betul seluk-beluknya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia menulis feitennya (faktanya, penulis). Terserah kepada historicus yang akan dating untuk menulis dengan cara obyektif dan perasaan tanggung jawab terhadap kebenaran, bagaimana terjadinya Proklamasi kita iti." Itu yang ditulis Subarjo. Adam Malik sendiri pernah mengatakan kepada saya, 22 Desember 1976 di Hotel Takanawa Prince, Tokyo, "Saya dengar dari Sdr. Sukarni almarhum bahwa Sdr. Nishijima ikut serta merumuskan naskah proklamasi, dan saya mengerti sikap saudara yang menutup hal itu terhadap Belanda untuk menolong Republik," kata Adam Malik. Bung Karno juga mengakui bahwa orang-orang Jepang secara pribadi tidak sedikit yang ikut berjuang bersama-sama bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Untuk menghargai jasa-jasa mereka, khususnya Ichiki Tatsuo dan Yoshizumi Tomegoro, pada tanggal 15 Februari 1958, ketika Bung Karno berada di Tokyo menyerahkan kepada saya teks sebuah prasasti untuk disimpan di biara Buddha Shei Shoji di Minatoku, Tokyo.

Sumber : Basyral Hamidy Harahap, Sekretaris Yayasan Adam Malik, Kompas 16 Agustus 2001 via Rofal ZepPelin's

Selasa, 10 Agustus 2010

Merantau : "Genuine Tradition of Minangkabau"

Oleh : Muhammad Ilham

Artikel ini merupakan Makalah Pengantar penulis untuk Jurnal Tabuah (Ta'limat Budaya, Agama dan Sejarah Islam) Volume XIV Nomor 1 Tahun 2009/2010 yang diterbitkan oleh FIBA IAIN Padang.

Tersebutlah kisah bahwa sebelumnya raja dipercayai sebagai pemimpin yang tidak mempunyai keturunan sampai dia mati terbunuh. Namun di malam ketika raja terbunuh itu gundiknya meminum air mani raja sehingga dia mengandung dan melahirkan Raja Kecil. Setelah Raja Kecil lahir dia tidak diakui langsung sebagai seorang Pangeran yang akan melanjutkan silsilah kerajaan tetapi dia harus membuktikan kesatriaannya dengan mengembara dan kemudian kembali menakhlukkan kerajaan. Cerita yang banyak berkembang di tengah-tengah masyarakat itu sebenarnya dihadirkan untuk mengukuhkan keberadaan raja, peneliti-peneliti asing tentang melayu tidak mengakuinya sebagai sebuah sejarah sebagaimana rakyat setempat mempercayainya” (Secara umum, bagian ini dikutip dari “Raja Melawar”, melayuonline.com). Mereka (peneliti asing seperti C.C. Brown, C.C. Berg, Leonard Y Andaya, Virginia Matheson, Merle C Ricklefs, dan lain-lain) lebih mempercayai sebagai “omong besar” atau cerita yang dilebih-lebihkan. Walaupun mereka menyebutnya sebagai sejarah seperti Sejarah Johor, Sejarah Melayu, dan Sejarah Patani. Hal ini berkaitan dengan tradisi lisan masyarakat dalam mewariskan sejarahnya dan tradisi bercerita seperti bakaba di Minangkabau.

Lalu apa kaitannya dengan tradisi merantau yang konon kabarnya menjadi salah satu ciri orang Minang? Merantau, walau istilah baru, tidak selama kisah raja-raja Minangkabau yang memerintah di negeri orang itu, tetapi dalam berbagai kurun waktu tetap hadir dengan berbagai nama atau istilah yang ditempelkan kepada tradisi hijrah ke negeri lain untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik itu.
Merantau kalau ditelusuri akar sejarahnya akan bermuara pada kebudayaan nomaden nenek moyang manusia dalam mempertahankan hidup. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan umum masyarakat Minangkabau bahwa tidak ada manusia asli di bumi ini yang hadir mambasuik (muncul) dari bumi. Semua manusia dipercayai berasal dari Adam dan kemudian menjadi pengembara keseluruh penjuru dunia seiring perkembangan biakan manusia itu.

Masyarakat Minangkabau menganggab manusia asal atau pribumi hanyalah orang yang pertama menduduki tempat itu. Orang yang pertama datang dan bermukim dari pengembaraan panjangnya. Tardisi hidup berpindah-pindah itu kemudian dalam kehidupan baru menjelma dalam bentuk tradisi merantau. Maka tersebutlah orang-orang sukses itu kerena dia merantau. Berani menghadang hidup keras dan memenangkan pertarungan dalam mengalahkan segala rintangan yang menghadang. Nama-nama perantau sukses itu diabadikan orang dan menjadi buah bibir oleh anak muda di kampung halamannya. Maka tersebut perantau-perantau itu sebagian kecilnya adalah Malewar dan Raja Kecil.
Kehadiran Raja Kecil yang penuh mitos sebenarnya untuk mengukuhkan kekuasaannya dan menarik mayarakat untuk mendukungnya. Hal ini sama dengan banyak tokoh yang menyejarah seperti Bundo Kanduang, Iskandar Zulkarnain, Ken Arok, bahkan pemimpin-peminpin masa kini yang garis keturunannya tidak lepas dari orang-orang hebat. Dalam hal ini mitos dapat berfungsi untuk mengukuhkan jati diri seorang pemimpin dan hal ini sangat penting sekali dalam perantauan banyak orang.

Timothy P. Bernard dalam tesisnya untuk meraih Master of Arts pada The College of Art and Science of Ohio University Amerika Serikat, (Maret 1991: 22) berkomentar tentang kesuksesan Raja Kecil dalam memamfaatkan mitos sebagai pendukung kesuksesan dalam merantau. Ia menyebutkan bahwa:
“Mitos dalam Sejarah Melayu menghidangkan sebuah piagam bagi sistem politik dan inilah yang dimanipulasi Raja Kecil untuk mencapai tujuannya menguasai Johor. Kemampuannya mempengaruhi keadaan melalui motif-motif mitos oleh sarjana barat berkembang menjadi historiografi. Oleh karena pertentangan mitos dengan sejarah nampaknya tetap menjadi permasalahan dalam kajian teks-teks Melayu tradisional, muncul permasalahan pemahaman mengapa ia berbentuk demikian.”

Dengan demikian teranglah bagi kita bahwa tradisi merantau yang mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Minangkabau bukan hanya tradisi “kemaren sore” atau tradisi baru karena telah “sempit” (susah) hidup di negeri sendiri. Tetapi merantau bagi masyarakat Minangkabau dipandang sebagai sebuah cara untuk berkembangnya manusia di dunia dan tradisi ini telah ada semenjak leluhur nenek moyangnya. Seperti Maharaja Diraja anak Iskandar Zulkarnain yang merantau ke negeri yang kemudian bernama Minangkabau ini atau seperti merantaunya Malewar dan Raja Kecil ke tanah Melayu.


Dalam konteks diataslah – edisi Jurnal Tabuah kali ini menurunkan artikel kunci, dalam hal ini Nelmawarni melalui artikelnya tentang Merantau. Kandidat Ph.D Sejarah Sosial di FSSK Universiti Kebangsaan Malaysia ini berusaha membedah faktor-faktor mengapa masyarakat Minangkabau menjadikan merantau sebagai “genuine tradition”-nya. “Walaupun tak baru, namun jalan harus selalu ditempuh”, demikian Tolstoy. Walaupun tulisan Nelmawarni yang dijadikan sebagai tulisan kunci TABUAH kali ini (karena tradisi ini sudah banyak ditulis para pakar), namun setidaknya, tulisan Nelmawarni tersebut berusaha melengkapi sisi-sisi “kosong” yang selama ini tidak terlengkapi oleh penulis-penulis atau peneliti tentang Merantau terdahahulu.
Terlepas dari plus-minus artikel-artikel dalam TABUAH Volume XIV Nomor 1 ini, keinginan untuk mentradisikan serta menumbuhkembangkan budaya tulis (sebagaimana yang menjadi spirit intelektualisme Islam Minangkabau), tetap terus dijaga. Semoga kehadiran TABUAH Volume XIV Nomor 1 ini bermanfaat dan menjadi bahagian “kecil” dari usaha besar menjaga peradaban ummat Islam.

Menjaga Bulir-Bulir Bernas Peradaban Islam : Sebuah Pengantar

Oleh : Muhammad Ilham

Artikel ini merupakan Makalah Pengantar penulis untuk Jurnal Internasional Fikr wa Adab Volume 5 Nomor 9 Tahun 2009/2010 yang diterbitkan olehJabatan Pengajian Agama dan Tamaddun Islam Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia, Selangor Darul Ehsan Malaysia dan FIBA IAIN Padang.

Peradaban ummat Islam pada masa dahulu pernah menjadi peradaban avant garde. Sumbu dan pusat sejarah terdepan ummat manusia pada masanya. Dan sejarah membuktikan, posisi terdepan peradaban ummat Islam tersebut muncul dengan gagah-berkualitas karena peradaban tersebut mampu menjadi wadah untuk bersemai dan berseminya bulir-bulir bernas intelektual, tanpa sekat, tanpa batas primordialisme maupun egoisme sektoral. Pada masa ini, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh sang filosof Muhammad Iqbal dalam khudi-nya bahwa peradaban Islam betul-betul merupakan peradaban universal dan tidak hanya terpaku kepada latar belakang munculnya ilmu tersebut. Pada masa tradisi Cordoba dan tradisi Baghdad, ilmu tidak memiliki nasionalisme. Sejak zaman Rasulullah SAW., peradaban Islam berkembang terus menerus sejalan dengan perkembangan pemikiran dan meluasnya wilayah teritorial kekuasaan politik ummat Islam. Salah satu letak keunikan peradaban Islam yang berpusat pada al-Qur’an tersebut adalah keberanian dan kedinamisannya untuk keluar dari “relung sunyi habitat sosial mereka” dan kemudian menyerbu untuk keluar dari keterbelakangan kebudayaan bangsa Arab yang hidup dan terisolir di “belantara” gurun-gurun pasir tandus-gersang dan kemudian mengambil apa yang yang dapat diambil dari peradaban-peradaban tua yang telah menyejarah dan berevolusi selama ribuan tahun.

Dari Persia dan Byzantium, diambil bermacam-macam gaya upacara dan estetika-seni. Dari India, matematik dan ilmu perbintangan. Dari negeri “para dewa” Yunani, diambil antara lain filsafat dan logika. Dalam khazanah intelektual Islam, unsur-unsur yang diperoleh dari peradaban lain tersebut tidak hanya ditiru an sich tetapi ada improvisasi, ada pengembangan dan kemudian diberi perspektif dan aura keIslaman. Perkembangan peradaban ummat Islam yang paling menarik antara abad ke-VII hingga XIII Masehi tersebut adalah bagaimana peradaban dan agama yang berasal dari bangsa Arab di gurun pasir yang miskin lagi terpencil itu, seolah-olah tahu sekali bahwa yang pertama sekali harus direbutnya adalah ilmu pengetahuan.
Pada saat ini sangat kentara sekali kegairahan para elit dan anggota-anggotanya mengumpulkan bermacam-macam ilmu pengetahuan, dari berbagai disiplin ilmu dari berbagai negara manapun juga. Banyak muslim pilihan pada masa ini yang melakukan perjalanan intelektual, keluar dari habitat teritorial mereka. Perjalanan intelektual tersebut melahirkan catatan-catatan ilmiah berdasarkan pengamatan empirik. Catatan-catatan ini kemudian disampaikan pada muslim lainnya. Buku-buku berkualitas diterjemahkan secara massif kedalam bahasa Arab. Perguruan tinggi dan institusi intelektual lainnya di pusat-pusat agama dan politik Islam seperti Cordoba Spanyol, Baghdad dan Cairo menjadi sentra pemikiran dan penyelidikan bergengsi dan bermartabat pada zamannya.

Dibelahan peradaban Islam Timur Tengah, ilmu pengetahuan berhasil berkembang pada masa Khalifah Al-Mansur, harun al-Rasyid dan al-Makmum. Pada masa al-Mansur amat berkembang ilmu bahasa dan kesusasteraan. Proyek penterjemahan dilakukan secara besar-besaran, terutama dari bahasa Pesia, India dan Yunani. Pada masa al-Mansur ini hidup Ibnu al-Muqaffa, pakar bahasa Arab dan Persia. Beliaulah yang menterjemahkan buku monumental Kalilah wa Deminah yang memuncak dalam cerita Seribu Satu Malam (1001 Malam). Ia juga menterjemahkan buku Shah Namah yang memuat cerita-cerita raja dan pahlawan-pahlawan Iran. Dibawah kepemimpinan al-Mansur yang liberal, faham rasionalisme muktazilah mendapat kesempatan untuk berkembang. Pada masa ini juga sarjana-sarjana Islam berkesempatan menyusun Hadits dan hukum Islam secara baik. Imam Abu Hanifah menyelesaikan sistem hukumnya pada masa kekuasaan al-Mansur, sedangkan Imam Maliki dan Syafei pada masa Harun al-Rasyid. Sedangkan dibawah al-Makmum dikenal adanya institusi yang menampung begitu banyak buku yang disebut dengan Baitul Hikmah. Di perpustakaan yang kaya dengan buku ini – konon koleksinya mendekati bahkan mungkin lebih 400.000 jilid buku – bekerja sarjana-sarjana dari berbagai ragam bangsa dan agama.

Sementara itu di Mesir, Dinasti Fathimiyah juga terdapat perpustakaan besar yang memuat lebih kurang 200.000 buku dan mayoritas tentang ilmu Yunani klasik, tata bahasa, lexikografi, hadits, sejarah, kimia dan biografi raja-raja. Dinasti ini memberikan otonomi khusus bagi Cairo untuk mendirikan Universitas Al-Azhar yang kesohor itu. Lebih penting lagi, Khalifah al-Hakim mendirikan sentra ahli-ahli hukum yang dinamakan Darul Hikmah. Kegemilangan yang sama juga terjadi di Spanyol. Emir Abdurrahman III dikenal sebagai penguasa Islam yang memiliki tingkat apresiasi tinggi terhadap ilmu pengetahuan disamping hobbinya pada musik. Beliau meletakkan iklim da tradisi kondunsif untuk penulisan dan penterjemahan buku-buku kedokteran, filsafat da mistisisme. Hal ini kemudian diteruskan oleh putera-puteranya yang menjadikan Cordoba menjadi sentral ilmu pengetahuan ungulan pada masanya. Pakar sejarah Timur Tengah Klasik, Philip K. Hitti mengatakan bahwa pada masa ini, sebahagian istana dikosongkan dan dijadikan tempat bekerja sehingga disana hanya ditemui juru penyalin dan juru penjilid. Luar biasa. Diperkirakan jumlah buku mencapai 400.000 buah buku. Universitas Cordoba menjadi universitas terkenal dan bermutu. Pendidikan tidak dikenakan pajak. Cerita manis ini akhirnya berhenti hingga abad ke-XIII Masehi. Selanjutnya, apresiasi terhadap rasio mulai redup. Perdebatan serius antara al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, antara Sunni dan Muktazilah, membuat kebebasan berfikir dan melakukan pengayaan ilmu pengetahuan mulai meredup seiring dengan kejatuhan kekuasaan Islam dan munculnya tradisi glamour pada penguasa yang tidak respek terhadap pengembagan intelektual. Bersama-sama dengan hilangnya semangat pemikiran dan penyelidikan ilmu yang menjadi ciri khas kebesaran dan kemajuan Islam selama enam abad masa-masa keemasannya, maka kegairahan untuk memajukan ilmu mulai berkurang dari posisi tawar golongan sarjana mulai menurun.


Malahan dibeberapa tempat seperti Baghdad, perpusatakaannya habis dibakar, dirampas dan dimusnahkan oleh Tentara Tartar – ”Petarung jempolan buta huruf yang penuh dengan kutu dan tidak mengerti betul pentingnya arti mandi apatah lagi arti buku”, demikian kata Goenawan Muhammad dalam salah satu Catatan Pinggir-nya. Tentara Tartar, "penguasa Gurun Gobi" demikian ratap Iqbal, telah melahirkan peristiwa tragis paling memiriskan dalam sejarah intelektual Islam. Nasib perpustakaan Fathimiyah di Cairo adalah contoh terbaik perubahan mentalitas dalam kejatuhan peradaban Islam. Perampasan yang pertama terjadi pada waktu berjangkitnya kelaparan dan anarkhisme yang menghancurkan kerajaan Khalifah Musanjadid. Beribu buku-buku berharga tentang keindahan kaligrafi, ditinggalkan kepada Budak. Konon, kata sejarawan Thomas Marzuk (2000), para Budak tersebut membuka kulit-kulit buku itu untuk dijadikan sepatu. Banyak buku-buku yang dilemparkan ke Sungai Nil sebagaimana halnya buku-buku Dinasti Abbasiyah yang dibuang tentara Tartar ke Sungai Eufrat dan Tigris, sehingga warna sungai ”berubah hitam karena tinta”.
Sebahagian buku diselamatkan. Dan akhirnya, tahun 1122, Darul Hikmah ditutup.

Memperhatikan dan membandingkan sifat peradaban Islam di zaman keemasannya dengan peradaban modern dalam beberapa abad belakangan ini, tidak mengherankan banyak orang Islam yang berpendapat bahwa kemajuan dunia modern ini pada hakikatnya adalah kemajuan yang dikehendaki agama Islam seperti yang terjadi pada abad ke VII – XIII Masehi.
Pada hakikatnya, orang Eropa-lah yang melanjutkan spirit Intelektual Islam. Mungkin ini terkesan bertendensi apologis dan romatisme sejarah. Tapi tidak salah bila kita bersikap dengan dua episode sejarah diatas. Peradaban Islam maju ketika tradisi intelektual berkembang tanpa memandang dari mana ilmu tersebut berasal.

Dalam konteks diataslah, spirit tematik artikel-artikel dalam Jurnal Fikr wa Adab Volume 5 Nomor 9 ini hadir. Beberapa artikel dari Drs. Irhash A. Shamad, M.Hum, Dr. Zamri Arifin, Zanarita Abdul Malik, Prof. Dr. Maidir Harun dan Drs. Yulizal Yunus, M.Si bisa kita tempatkan. Artikel-artikel tersebut memberikan pencerahan historis kepada kita bahwa peradaban Islam pada masa dahulu telah mampu memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban dunia, baik aspek ilmu pengetahuan maupun kesusasteraan…… dan kehadirannya hingga hari ini pantas untuk kita hayati dan terus dikembangkan. Sementara itu, Hetti Waluati Triana, Ph.D., Lisna Sandora, M.Pd. dan Suci Humairah, MA memperkenalkan sebuah studi kasus linguistic, threshold reality budaya, sejarah sosial dan sejarah hukum adat. Setidaknya, kehadiran dua artikel yang sangat bagus tersebut bisa memberikan komparasi antropologis bagi perhubungan akademik dua hala (Melayu-Minangkabau) untuk masa yang akan datang.

Senin, 09 Agustus 2010

Way in the Jugle : Pengantar Fikr Wa Adab

Oleh : Muhammad Ilham

Artikel ini merupakan Makalah Pengantar penulis untuk Jurnal Internasional Fikr wa Adab Volume 5 Nomor 7 Tahun 2008/2009 yang diterbitkan olehJabatan Pengajian Agama dan Tamaddun Islam Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia, Selangor Darul Ehsan Malaysia dan FIBA IAIN Padang.

Filosof Cina Klasik, Lut Szun suatu ketika pernah memberikan pencerahan tentang makna sebuah harapan. Baginya harapan adalah way in the jungle – jalan di dalam rimba. Pada awalnya jalan tersebut tidak ada, akan tetapi karena sering dilalui, maka jalan tersebut ada dengan sendirinya. Banyak harapan tertumpah bagi Fikr wa Adab. Harapan yang terkadang terkesan ”muluk-muluk”, ”mendahului waktu” atau tidak menghargai sebuah proses. Harapan untuk menjadikan Fikr wa Adab sebagai jurnal berkualitas internasional yang kelak bisa dijadikan rujukan keilmuan – setidaknya bagi kajian sastra dan peradaban Islam. Sebuah harapan yang sangat idealistis, tapi tidak kecil kemungkinan bisa diraih.

”Jalan” di rimba itu terus dijalani oleh waktu dan proses. Sudah sekian edisi, perhubungan dan kerjasama dua hala ini (antara Fakultas Ilmu Budaya – Adab IAIN Imam Bonjol Padang dengan Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia) dibina. Fikr wa Adab sudah mulai tampak ”jalannya”. Tapi mungkin harapan yang ideal tersebut, belum tercapai. Akan tetapi, proses untuk ”melalui” jalan tersebut terus dilalui agar harapan yang terkesan ideal-utopis bisa diwujudkan. Lut Szun telah memberikan perumpamaan yang baik bagi harapan semua pihak terhadap Fikr wa Adab. Kehadiran Fikr wa Adab edisi kali ini merupakan sebuah proses untuk terus memperbaiki jalan Fikr wa Adab ke arah yang lebih sempurna. Tak ada perubahan dramatis baik dari aspek ”kerabat pelaksana teknis” ataupun mainstream tulisan. Namun setidaknya, telah mulai ditata perbaikan-perbaikan terutama mainstream tulisannya ataupun layout-tampilan perwajahan. Semua ini dilakukan dalam kerangka perbaikan berketerusan agar harapan ideal diatas bisa dicapai. Waktu dalam proses-lah yang akan memberikan ”vonis”. Akan tetapi, ikhtiar atau usaha menjadi sebuah keharusan. Karena ikhtiar tersebutlah – meminjam istilah Kahlil Gibran – yang sebenar-benarnya takdir. Waktu dan proses adalah tempat bersemainya sebuah ikhtiar.


Dalam edisi kali ini, tulisan Usman Hamid dan Badali Muhammad Hasyim tentang Islam Hadhari merupakan tulisan pembuka. Usman dan Badali berusaha melihat aspek nilai-nilai ideologis dari icon ideologis-politik berbasis ideologis agama (baca: Islam) dari Perdana Menteri Abdullah Haji Ahmad Badawi ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bogdan Mitchel, setiap pemimpin membawa icon ideologis. Maka Islam Hadhari merupakan icon-nya Pak Lah, sebagaimana halnya Islam Hijau-nya Muammar Qaddhafi atau Api Islam-nya Soekarno. Dalam tulisan tersebut, Usman dan Badali berusaha melihat dan menterjemahkan nilai-nilai Islam Hadhari bagi kondisi dan tuntutan sosial-temporal dunia Melayu.
Sementara itu, Irhash A. Shamad memberikan kesimpulan bahwa perkembangan aliran tarikat Syathariyah dari pesisir barat ke wilayah pedalaman Minangkabau telah melahirkan suatu sintesis baru akibat pertemuannya dengan aliran tarikat Naqsyabandiah yang telah lebih dahulu mendasari budaya masyarakat setempat. Sintesis ini dapat dilihat pada akhir abad ke-18, di mana surau-surau di wilayah Agam memainkan peranan dalam melahirkan gagasan-gagasan kemasyarakatan yang berdasarkan syar’iyyah. Kemudian latar belakang kultural masyarakat di wilayah pedalaman yang lebih dekat dengan pusat adat Minangkabau telah menempatkan golongan agama berseberangan dengan golongan adat. Ini pada gilirannya telah melahirkan dinamika tersendiri yang memperkaya substansi ajaran sufistik pedalaman dan sekaligus menjadi fenomena kesejarahan yang dialektis dan berimplikasi pada gagasan-gagasan awal pembaharuan Islam di Minangkabau. Kesimpulan yang diberikan oleh Irhash ini merupakan hasil penelitian beliau tentang Dinamika Sufisme di Minangkabau.

Kajian Biografis dilakukan oleh dua orang penulis yaitu kajian biografis Abdul Qahir al-Jurjani dalam kedudukannya sebagai salah satu pilar “epistimologis” ilmu Balaghah menjadi kunci pembahasan yang dikemukakan oleh
Arnisma Agus dan posisi serta peran historis Khalid bin Walid dalam sejarah Islam menjadi pembahasan yang diangkatkan oleh Saifullah SA. Terlepas dari kualitas dan ragam tulisan, namun bila dilihat dari edisi-edisi Fikr wa Adab, mainstream tulisan dan perwajahan-layout. Semoga kedepan Fikr wa Adab akan terus berbenah. sebelum ini, sudah terdapat “pola” yang cukup bagus terutama yang menyangkut