Jumat, 08 Juni 2012

HAMKA : "Ketika Ulama Tidak Bisa Dibeli"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham  

(c)   dikutip dari buku “Mengenang 100 tahun HAMKA”  

Surat itu pendek. Ditulis oleh Hamka dan ditujukan pada Menteri Agama RI Letjen. H. Alamsyah Ratuperwiranegara. Tertanggal 21 Mei 1981, isinya pemberitahuan bahwa sesuai dengan ucapan yang disampaikannya pada pertemuan Menteri Agama dengan pimpinan MUI pada 23 April, Hamka telah meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum Majeiis Ulama Indonesia (MUI). Buat banyak orang pengunduran diri Hamka sebagai Ketua Umum MUI mengagetkan. Timbul bermacam dugaan tentang alasan dan latar belakangnya. Agaknya sadar akan kemungkinan percik gelombang yang ditimbulkannya, pemerintah dalam pernyataannya mengharapkan agar mundurnya Hamka “jangan sampai dipergunakan golongan tertentu untuk merusak kesatuan dan persatuan bangsa, apalagi merusak umat lslam sendiri.”  Kenapa Hamka mengundurkan diri? Hamka sendiri  mengungkapkan pada pers, pengunduran dirinya disebabkan oleh fatwa MUI 7 Maret 1981. Fatwa yang dibuat Komisi Fatwa MUI tersebut pokok isinya mengharapkan umat Islam mengikuti upacara Natal, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa. Menurut K.H.M. Syukri Ghozali, Ketua Komisi Fatwa MUI, fatwa tersebut sebetulnya dibuat untuk menentukan langkah bagi Departemen Agama dalam hal umat Islam. “Jadi seharusnya memang tidak perlu bocor keluar,” katanya.    

Fatwa ini kemudian dikirim pada 27 Maret pada pengurus MUI di daerah-daerah. Bagaimanapun, harian Pelita 5 Mei 1981 memuat fatwa tersebut, yang mengutipnya dari Buletin Majelis Ulama no. 3/April 1981. Buletin yang dicetak 300 eksemplar ternyata juga beredar pada mereka yang bukan pengurus MUI. Yang menarik, sehari setelah tersiarnya fatwa itu, dimuat pula surat pencabutan kembali beredarnya fatwa tersebut. Surat keputusan bertanggal 30 April 1981 itu ditandatangani oleh Prof. Dr. Hamka dan H. Burhani Tjokrohandoko selaku Ketua Umum dan Sekretaris Umum MUI. Menurut SK yang sama, pada dasarnya menghadiri perayaan antar agama adalah wajar, terkecuali yang bersifat peribadatan, antara lain Misa, Kebaktian dan sejenisnya. Bagi seorang Islam tidak ada halangan untuk semata-mata hadir dalam rangka menghormati undangan pemeluk agama lain dalam upacara yang bersifat seremonial, bukan ritual. Tapi bila itu soalnya, kenapa heboh? Rupanya “bocor”nya Fatwa MUI 7 Maret itu konon sempat menyudutkan Menteri Agama Alamsyah. Hingga, menurut sebuah sumber, dalam pertemuannya dengan pimpinan MUI di Departemen Agama 23 April, Alamsyah sempat menyatakan bersedia berhenti sebagai Menteri. Kejengkelan Menteri Agama agaknya beralasan juga. Sebab rupanya di samping atas desakan masyarakat, fatwa itu juga dibuat atas permintaan Departemen Agama. “Menteri Agama secara resmi memang meminta fatwa itu yang selanjutnya akan dibicarakan dulu dengan pihak agama lain. Kemudian sebelum disebarluaskan Menteri akan membuat dulu petunjuk pelaksanaannya,” kata E.Z. Muttaqien, salah satu Ketua MUI. Ternyata fatwa itu keburu bocor dan heboh pun mulai. Melihat keadaan Menteri itu, Hamka kemudian minta iin berbicara dan berkata, menurut seorang yang hadir, “Tidak tepat kalau saudara Menteri yang harus berhenti. Itu berarti gunung yang harus runtuh.” Kemudian inilah yang terjadi: Hamka yang mengundurkan diri. “Tidak logis apabila Menteri Agama yang berhenti. Sayalah yang bertanggungjawab atas beredarnya fatwa tersebut …. Jadi sayalah yang mesti berhenti,” kata Hamka pada Pelita pekan lalu. Tapi dalam penjelasannya yang dimuat majalah Panji Masyarakat 20 Mei 1981, Hamka juga mengakui adanya “kesalahpahaman” antara pimpinan MUI dan Menteri Agama karena tersiarnya fatwa itu. 

Kepada TEMPO Hamka mengaku sangat gundah sejak peredaran fatwa itu dicabut. “Gemetar tangan saya waktu harus mencabutnya. Orang-orang tentu akan memandang saya ini syaithan. Para ulama di luar negeri tentu semua heran. Alangkah bobroknya saya ini, bukan?” kata Hamka. Alasan itu agaknya yang mendorong lmam Masjid Al Azhar ini menulis penjelasan, secara pribadi, awal Mei lalu. Di situ Buya menerangkan: surat pencabutan MUI 30 April itu “tidaklah mempengaruhi sedikit juga tentang kesahan (nilai/kekuatan hukum) isi fatwa tersebut, secara utuh dan menyeluruh.” HAMKA juga menjelaskan, fatwa itu diolah dan ditetapkan oleh Komisi Fatwa MUI bersama ahli-ahli agama dari ormas-ormas Islam dan lembaga-lembaga Islam tingkat nasional — termasuk Muhammadiyah, NU, SI, Majelis Dakwah Islam Golkar. Buya Hamka tercatat sebagai ketua MUI pertama sejak tahun 1975. Keteguhannya memegang prinsip yang diyakini membuat semua orang menyeganinya. Pada zamam pemerintah Soekarno, Buya Hamka berani mengeluarkan fatwa haram menikah lagi bagi Presiden Soekarno. Otomatis fatwa itu membuat sang Presiden berang ’kebakaran jenggot’. Tidak hanya berhenti di situ saja, Buya Hamka juga terus-terusan mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI waktu itu. Maka, wajar saja kalau akhirnya dia dijebloskan ke penjara oleh Soekarno. Bahkan majalah yang dibentuknya ”Panji Masyarat” pernah dibredel Soekarno karena menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul ”Demokrasi Kita” yang terkenal itu. Tulisan itu berisi kritikan tajam terhadap konsep Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno. Ketika tidak lagi disibukkan dengan urusan-urusan politik, hari-hari Buya Hamka lebih banyak diisi dengan kuliah subuh di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan. Ketika menjadi Ketua MUI, Buya Hamka meminta agar anggota Majelis Ulama tidak digaji. Permintaan yang lain: ia akan dibolehkan mundur, bila nanti ternyata sudah tidak ada kesesuaian dengan dirinya dalam hal kerjasama antara pemerintah dan ulama. Mohammad Roem, dalam buku Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka, menyebut masalah gaji itu sebagai bagian dari “politik Hamka menghadapi pembentukan Majelis Ulama”. Ulama mubaligh ini, menurut Roem, kuat sekali menyimpan gambaran “ulama yang tidak bisa dibeli“. Walaupun gaji sebenarnya tidak usah selalu menunjuk pada pembelian, kepercayaan diri ulama sendiri agaknya memang diperlukan. 

Tak ada lagi Buya Hamka. orang tak akan menantikan khotbahnya di Masjid Al Azhar. Tak akan mendengarkan suaranya yang serak itu lagi, pada malam tarawih, pada kuliah pagi, pada pengajian subuh lewat RRI — untuk seluruh Indonesia. Suara yang sangat dikenal itu akan tak ada lagi. Selama-lamanya. Ulama sangat penting itu berpulang “di hari baik bulan baik”, hari Jum’at 21 Ramadhan (24 Juli), “ketika bulan puasa masuk tahap ketiga” atau tahap lailatul qadar, menurut pengertian orang santri. Memang menunjukkan keutamaan: ribuan orang yang mengiring jenazahnya ke pemakaman, dan yang keluar ke pinggir-pinggir jalan, boleh dikatakan semuanya orangorang yang berpuasa dan baru turun dari sembahyang Jum’at. Entah apa yang menggertak mereka itu: dalam waktu hanya empat jam, dan tanpa sempat disiarkan koran (meninggal pukul 10.30, dan diberangkatkan ke pemakaman pukul – 14.30), ribuan para pelayat memenuhi jalan dan pekuburan dengan kendaraan yang macet panjang di daerah Kebayoran Lama dan Tanah Kusir. Hamka memang sudah hampir tidak berarti “golongan” agama. Juga tidak hanya seorang “kiai”. Barangkali memang inilah ulama pertama yang dipunyai Indonesia, yang sangat paham “hidup di luar masjid”.   

Abdul Malik (bin Abdul) Karim Amrullah, HAMKA, dilahirkan di Negeri Sungai Batang, di sebuah rumah di pinggir Danau Maninjau yang molek di tanah Minangkabau. “Nama ibuku Shafiyah,” katanya dalam bukunya Kenang-kenangan Hidup. “Beliau meninggal pada usia masih muda, sekitar 42 tahun. Beliau dianugerahi Tuhan sepuluh orang putra. Lima dengan ayahku dan lima pula dengan suaminya yang kedua. Ibuku cantik! . . . ” la sangat memuja ibunya — sebagaimana juga istrinya yang pertama, nanti, Siti Raham. Ayahnya, yang ia kagumi, hanya sebentar-sebentar tampak menyelinap dalam hidup intelektualnya –meski dengan pengaruh sangat kuat. Haji Rasul, nama asli sang ayah, adalah orang pribumi pertama yang mendapat gelar doktor honoris causa — dari Universitas Al Azhar, Kairo, tempat ia sendiri belakangan juga mendapat gelar yang sama di tahun 1958 –dan pemimpin pesantren Sumatra Thawalib yang masyhur di Padangpanjang. Kenang-kenangan masa kecil inilah yang, bagi siapa yang membaca buku-bukunya, termasuk Ayahku, membentuk jiwa anak muda yang bengal namun lembut itu. Si Malik itu seorang jagoan kecil dulu. Belajar silat, belajar iniitu, kemudian lari ke Jawa dan berguru pada H.O.S. Tjokroaminoto dan Suryopranoto, ikut pergerakan, lari ke Mekah — dan akan tinggal di sana kalau saja tidak dinasihati Haji Agus Salim untuk pulang. Dan jangan lupa: pemuda ini juga bercinta — di kapal, misalnya, meski akhirnya tak jadi kawin. Ia sendiri mengakui sifat-sifatnya yang dulu: kecuali pemarah, pantang tersinggung dan perajuk, “juga lekas jatuh hati kepada gadis-gadis” . . . Memang sangat manusiawi. Ia memang akhirnya menjadi seperti yang dicita-citakan ayahnya: mengganti kedudukannya sebagai ulama, seperti juga neneknya dan ayah neneknya.   

Tapi bahwa ia tak seperti mereka, terlihat misalnya dari sikap Buya kepada poligami: Hamka termasuk ulama yang tidak merestuinya. Kenang-kenangannya masa bocah, dari sebuah keluarga yang pecah, yang berpoligami dan bercerai, rupanya cukup tajam untuk menggugah jiwa halusnya. Kenang-kenangan itulah, bersama dengan penghayatannya kepada adat Minangkabau, yang menjadi modal pokok roman-romannya yang memeras air mata: Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal van der Wijk, Si Sabariah, Dijemput Mamaknya, Merantau ke Deli, dan kumpulan cerpen Di Dalam Lembah Kehidupan. Hamka bukan sekedar “ulama yang bersastra”. Ia ulama, dan ia pengarang. Hanya segi sastra itu makin mundur ke belakang sejalan dengan usianya yang menua, maupun tugas-tugasnya yang menjadi makin formal agama. Ketika ia menulis tafsir Qur’annya yang 30 jilid, yang diberinya judul dengan nama masjid yang dicintainya, Al Azhar, kemampuan kepengarangan itu tidak lahir dalam wujud bahasa yang disengaja indah Namun orang toh tahu bahwa caranya bertutur betapapun berbeda. Tafsir itu sendiri dikerjakannya di penjara rezim Soekarno. Ia ditangkap persis ketika sedang memberi pengajian ‘. Kepada seratusan ibu-ibu di bulan Ramadhan. Pengalaman itu ada terasa menerbitkan rasa pahit juga. Namun bahwa Hamka. “mudah memaafkan dan menyesuaikan diri”, terlihat dari misalnya pergaulannya dengan keluarga Bung Karno — Nyonya Fatmawati terutama — yang sangat baik sampai akhir hayat. Ulama ini memang memenuhi fungsi pemimpin rohani yang paling pokok jadi pelayan. Asal jangan ditekan, dan jangan dibeli. Kata-katanya enam bulan lalu, ketika jilid terakhir tafsir itu selesai dicetak, merupakan salah satu firasat. “Nampaknya, tugas yang menjadi beban selama ini selesai. Tinggal lagi kini menunggu panggilan llahi . . . ” Dan panggilan itu pun datang kini. “Kita kehilangan seorang ulama besar. Kita kehilangan seorang pemikir besar. Kita kehilangan seorang sastrawan besar, ” komentar Menteri Agama Alamsyah, ketika melepas jenazah almarhum di pekuburan. E.Z. Muttaqien, salah seorang ketua Majelis Ulama Indonesia sekarang ini mengakui: “Akhir-akhir ini beban Buya Hamka memang sangat berat. Kesehatannya tidak memungkinkannya lagi memikul beban itu.”  

Puisi ini ditulis Buya Hamka pada tanggal 13 November 1957 setelah mendengar pidato M. Natsir yang mengurai kelemahan system kehidupan buatan manusia dan dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar Negara RI.  

Kepada Saudaraku M. Natsir
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu……!
(dikutip dari buku “Mengenang 100 tahun HAMKA”)

Sajak berikut merupakan rangkaian dari sajak berbalas dari M Natsir pada Buya Hamka yang sebelumnya menyusun sajak untuk M Natsir yang berjudul “Kepada saudaraku M Natsir”.

DAFTAR
Saudaraku Hamka,
Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama…
Kadang-kadang,
Di tengah-tengah si pongah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,
Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam ”Daftar”.
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,
Yang biasa bersenandung itu,
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.
Aku tersentak,
Darahku berdebar,
Air mataku menyenak,
Girang, diliputi syukur
Pancangkan !
Pancangkan olehmu, wahai Bilal !
Pancangkan Pandji-pandji Kalimah Tauhid,
Walau karihal kafirun…
Berjuta kawan sefaham bersiap masuk
Kedalam ”daftarmu” … *
Saudaramu,
Tempat, 23 Mei 1959


(cc) Suka Sejarah Blog/Foto : google.picture.com/panjimas

HAMKA dalam Konteks Sosio Kultural Melayu

Oleh : Tim Peneliti Fak. Adab IAIN Padang
(in-clude Muhammad Ilham)

A.      Latar Belakang Masalah

Hamka merupakan sosok  intelektual yang unik. Keunikannya terletak pada suatu kenyataan, meskipun ia produk lembaga pendidikan tradisional, namun memiliki wawasan generalistik dan modern. Dilihat dari sudut keilmuan Melayu, Hamka, terlahir dari sebuah estafet keberlangsungan tradisi intelektual Melayu klasik yang mengalami masa “keemasan” dalam lapangan ilmu pengetahuan pada abad 17 dan 18 M.[1] Keberadaannya merupan sebuah kontiniuitas intelektual Melayu yang sudah tidak ada lagi di zaman modern ini. Kemampuannya berkomunikasi sesuai dengan nafas kemelayuan  baik melalui bahasa lisan maupun tulisan telah menempatkan dirinya pada kedudukan khusus dalam sejarah intelektual Islam di kawasan rumpun Melayu. Bukan hanya karena beliau banyak menulis buku-buku sejarah, khususnya sejarah Islam di nusantara termasuk biografi, melainkan lebih dari itu pemikiran Hamka telah dapat mengisi kekosongan khazanah peradaban Islam di nusantara. Kemasyhuran pemikiran dan intelektualitasnya melampaui batas tanah air bahkan menyebar sampai ke negeri-negeri Islam baik di kawasan rumpun Melayu maupun Timur Tengah. Dalam konteks ini Hamka dapat dikatakan sebagai pewaris dan penyambung estafet intelektual Islam Melayu klasik.  

Di sisi lain, Hamka merupakan sosok intelektual (modernis) yang senantiasa concern  melihat berbagai persoalan umat dan melalui berbagai macam karya tulisnya, Hamka berupaya melakukan “pencerahan” kelesuan dinamika intelektual dan pemahaman keagamaan umat Islam. Orientasi pemikirannya bukan hanya berkisar pada persoalan-persoalan keislaman semata akan tetapi juga berkaitan dengan persoalan-persoalan kehidupan sosial kemasyarakatan. Keseluruhan karya-karya Hamka dikemas melalui pendekatan keislaman.[2] Sebuah pendekatan keilmuan yang jarang dilakukan oleh para ilmuwan pada zamannya. 

Sepanjang hidupnya Hamka telah menulis lebih dari 118 buku,[3]  belum termasuk tulisan-tulisannya yang dimuat di majalah-majalah dan surat kabar-surat kabar. Karya-karyanya meliputi berbagai macam disiplin ilmu seperti sastra, sejarah, filsafat, tafsir, tasawuf,  dan lain-lain. Dari karya-karya tersebut tergambar betapa luas dan dalamnya pengetahuan Hamka tentang ilmu-ilmu keislaman. Karenanya tidaklah mengherankan jika pemikiran-pemikran Hamka sering dianalisa dan diteliti oleh para ilmuwan dan akademisi keislaman baik di Indonesia maupun di semenanjung Malaya. Melalui berbagai analisa terhadap karya-karya tersebut pantaslah kiranya, Hamka mendapatkan julukan sejarawan,[4] sastrawan,[5] wartawan, mufassir,[6] sufi,[7]  dan lain-lain sebagainya.   

Di Indonesia, studi ilmiah tentang Hamka sebagai seorang intelektual yang produktif dan sumbangannya bagi kemajuan khazanah intelektual Islam di Indonesia telah banyak dilakukan oleh kalangan akademisi baik ditinjau dari pemikirannya dalam bidang tafsir, sejarah, tasawuf, pendidikan dan lain-lain.[8] Ini menunjukan bahwa jaringan intelektual Hamka ternyata sangat mempengaruhi tradisi keilmuanIslam di Indonesia. Eksistensinya sebagai seorang ulama besar yang intelek dan intelektual yang ulama semakin lama semakin  dirasakan.  Di sisi lain penelitian dan studi tentang sumbangan pemikiran dan jaringan intelektual Hamka terhadap kemajuan intelektual Islam di kawasan rumpun Melayu, khususnya Indonesia dan Malaysia terasa agak kurang dilakukan. Pada hal seperti yang telah disebutkan di atas bahwa jaringan intelektual Hamka bukan hanya terbatas  di Indonesia saja akan tetapi juga merambah ke kawasan negara-negara rumpun Melayu khususnya Malaysia dan Singapura bahkan sampai ke Timur Tengah.  Di Malaysia, buku-buku karya Hamka beredar secara luas dan mendapat tempat di kalangan masyarakat Melayu. Bahkan beberapa di antaranya dijadikan sebagai rujukan dan buku teks pada beberapa lembaga pendidikan. Beberapa karya tersebut telah dicetak ulang di Kuala Lumpur. Bagi orang-orang Melayu, Hamka adalah putra besar alam Melayu yang tampil  pada saat umat mengalami kegawatan menangani pelbagai persoalan berat yang diakibatkan oleh penjajah dan proses pembaratan. 

Sebagai seorang ilmuwan pemikir, Hamka, memberikan perhatian serius terhadap isu-isu kemelayuan dan keislaman. Sebagai seorang putra Melayu, Hamka sangat mencintai seluruh bumi Melayu  tanpa dihalangi oleh batas-batas wilayah. Sebagai seorang yang mempunyai kesadaran sejarah dan budaya, Hamka, tidak dapat melepaskan pola pikirnya dari ikatan kemelayuan yang serumpun seagama, serantau sebudaya.[9] Tingginya penghargaan masyarakat Melayu terhadap pemikiran Hamka, telah mengantarkan dirinya sebagai sosk yang dikagumi dan dicintai oleh berbagai kalangan. Atas dasar intelektualitasnya yang brilyan itulah kemudian kalangan ilmuwan dan akademisi Malaysia, menganugrahi Hamka penghargaan Doctor Honoris Causa  dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974.   Atas dasar hubungan itulah pentingnya diangkat peneltian ini, sehingga sumbangan Hamka dalam menyatukan tradisi intelektual rumpun Melayu berdasarkan kesamaan agama dan budaya dapat ditelusuri lebih jauh sehingga memberikan sumbangan berharga bagi upaya memperkaya khazanah kepustakaan Islam di kedua negara serumpun.

B.      Rumusan dan Batasan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas, maka persoalan pokok dalam penelitian ini adalah  Kenapa jaringan intelektual Hamka dapat mengaplikasikan Islam dalam konteks sosial budaya Melayu.
Agar penelitian ini lebih terarah, maka persoalan pokok tersebut dapat dikembangkan kepada beberapa rumusan masalah. Dengan rumusan ini diharapkan memberikan gambaran yang jelas terhadap pokok persoalan dalam penelitian ini, yakni: pertama, Faktor kultural Minangkabau mana yang mempengaruhi intelektual Hamka ? . Kedua, Apa faktor penyebab pemikiran Hamka dapat diterima di negara rumpun Melayu, khususnya Malaysia ?

C.      Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian tidak hanya mendeskripsikan tentang tokoh dan peristiwa yang terjadi sehubungan dengan perkembangan intelektual Islam dalam kontek sosio budaya rumpun Melayu, akan tetapi juga menelaah bagaimana dan apa sebabnya peristiwa itu terjadi. Selain itu, penelitian ini juga berupaya menggali dan mengungkapkan fakta dengan penjelasan berdasarkan suatu analisis yang bersandar kepada prosedur kerja penelitian sejarah. Melalui cara itu diharapkan akan dapat diungkap kembali berbagai realita sosial budaya dalam hubungan dengan sejarah intelektual di kawasan rumpun Melayu. 

Manfaat penelitian, pertama, diharapkan dapat menambah dan melengkapi khazanah kepustakaan Islam khususnya tentang Hamka sebagai seorang ulama besar, intelektual dan sejarawan yang pernah dimiliki oleh Alam Melayu. Kedua, sebagai sumbangan ilmiah bagi pemahaman Islam dalam konteks sosio budaya secara umum dan hubungannya dengan kemajuan tradisi intelektual di Alam Melayu, baik dalam bentuk pengayaan informasi faktual maupun sebagai sumbangan pengetahuan teoritis atau  metodologis.

D.      Tinjauan Pustaka

Kajian tentang perkembangan Islam dalam konteks sosio budaya di Alam Melayu dapat dilihat dari pelabagai persfektif, yakni berkaitan tokoh, lembaga dan struktur-struktur yang menjadi subyek dan obyek kajian. Penelitian ini menitikberatkan pembahasannya tentang aktivitas intelektual Hamka dalam mewarnai kehidupan keislaman di kawasan rumpun Melayu. Studi ilmiah tentang Hamka dan sumbangannya dalam tradisi keilmuan Islam khususnya di Indonesia telah banyak dilakukan kalangan akademisi. Beberapa di antaranya dapat dilihat,  misalnya karya Muhammad Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990. Ditulis pertama kali dalam bentuk desertasi dengan judul yang sama.  Buku ini lebih menyoroti tentang pemikiran Hamka dalam bidang tafsir sebagaimana yang terdapat di dalam tafsir al-Azhar. Buku lain yang tidak kalah pentingnya memuat tentang rihlah kehidupan Hamka adalah karya Rusydi Hamka di bawah judul, Pribadi dan Martabat Buya Prof. DR. Hamka, diterbitkan oleh Pustaka Panjimas Jakarta tahun 1983. Buku ini lebih banyak memaparkan tentang riwayat hidup ringkas dan aktivitas karir Hamka.  Penelitian lain adalah hasil karya Wilaela di bawah judul “Posisi Hamka dalam Historiografi Islam di Indonesia (Kajian Ayahku dan Antara Fakta dan Khayal Tuangku Rao)”, Tesis,  Padang: PPS IAIN Imam Bonjol, 1997. Tulisan ini menitikberatkan kajiannya kepada peranan dan posisi  dan metode yang dipakai Hamka di dalam penulisan sejarah Islam di Indonesia, khusus  yang tertuang  di dalam buku Ayahku  dan Antara Fakta dan Hayal Tuangku Rao. Karya Nasir Tamara, (eds.), Hamka di Mata Hati Umat, Jakarta: Sinar Harapan, 1983, sangat pantas dijadikan sebagai rujukan penelitian ini karena memuat tentang tulisan para tokoh dan sahabat Hamka tentang peranan Hamka di dalam pencerahan pemikiran umat. Lukmanul Hakim dalam penelitiannya yang berjudul “ Buku Sejarah Umat Islam Karya Hamka (Suatu Telaah Historiografi)”, Tesis,  Padang: PPS IAIN Imam Bonjol, 2004. Juga dapat dijadikan sebagai refrensi penelitian ini. Tulisan Mestika Zed, “ Hamka dan Studi Islam di Indonesia”, Historia: Jurnal Pendidikan sejarah,  No 3, Vol. II, Juni  2001, juga dapat dijadikan sebagai pedoman dan sangat membantu pemetaan pemikiran Hamka tentang sejarah Islam di Indonesia. Tulisan lain yang juga dapat dijadikan rujukan penelitian ini adalah karya Azyumardi Azra,  “Hamka: Rihlah Kehidupan dan Kelembagaan” dalam Azyumardi Azra, Hitoriografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas dan Aktor Sejarah, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002.  


(Proposal lengkap, Daftar Pustaka dan "lampiran" footnote, tidak dipublish) 
Sumber foto : google.picture.com/cc. panjimas

Rancangan Kerjasama Sama Penelitian dengan Kerajaan Brunei Darussalam


Oleh : Yulizal Yunus & Muhammad Ilham (et.al)

Kawasan Budaya Melayu adalah salah satu kawasan perkembangan budaya Islam diantara kawasan kawasan besar budaya Islam seperti Arab, Irak, Turki dan Afrika Hitam. Pertumbuhan dan perkembangan Islam di kawasan ini telah mempertemukan Islam dengan tradisi-tradisi lokal yang beragam, namun dalam pertumbuhannya telah melahirkan dinamika yang spesifik, terutama dalam perkembangan tradisi keilmuan Perkembangan Tradisi keilmuan (intelektual) dan socio-cultural  di kawasan rumpun Melayu secara historis pada dasarnya telah berlangsung lama semenjak masuk dan berkembangnya Islam di wilayah ini. Selama lebih dari empat abad tradisi keilmuan dan perkembangan sosial budaya menghiasi perjalanan hidup masyarakat Melayu-Nusantara. Penyebutan Rumpun Melayu-Nusantara, menurut Azyumardi Azra, lebih didasarkan pada kesamaan aspek Socio-cultural dan sistem religi (Islam) yang bekembang dan dianut oleh masyarakat yang hidup di negara-negara kawasan Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, sebagian Philipina, Thailand, Vietnam, Kamboja dan sebagian masyarakat Islam Afrika Selatan dan Bengladesh (Azra, 1999). 

Kenyataan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa nilai-nilai ajaran Islam (the spirit of Islam) sudah merupakan akar budaya bangsa-bangsa rumpun Melayu.  Bahkan dalam tataran yang lebih luas, the spirit of Islam tersebut mampu diperankan sebagai etos pembangunan. Oleh karenanya sebutan Melayu lebih identik dengan Islam. Ketika wilayah-wilayah rumpun Melayu (Nusantara) dikuasasi oleh negara-negara Barat (Inggris, Belanda, dan Portugis), kejayaan dan kekuatan politik Melayu-Islam dan segenap tradisi keilmuan serta socio-cultural mulai mengalami kemunduran. Satu demi satu kesulthanan Islam yang ada di lingkungan Melayu Nusantara jatuh di bawah kekuasaan penjajah. Bahkan akhir dari intervensi Barat menjadikan rumpun Melayu terpecah kepada beberapa negara nasional, di mana antara satu sama lain telah dibatasi oleh garis demarkasi yang tidak boleh dilanggar. Akibatnya spirit ke-Melayu-an seakan-akan telah hilang. Pengalaman sejarah yang pahit ini secara politis sangat merugikan bangsa-bangsa Melayu. Kekuatan bangsa Melayu yang pada masa lalu terjalin kuat, kini pecah. Bahkan dalam percaturan politik internasional agak terpinggirkan. 

Oleh karena itu berbagai langkah untuk menghimpun kembali kekuatan bangsa-bangsa Melayu, terutama Indonesia dan Brunei Darussalam dalam berbagai bidang (terutama bidang sosio cultural dan tradisi keilmuan) sangat mungkin dilakukan. Kreatifitas penelitian dan misi kebudayaan adalah salah satu upaya menggali tradisi sejarah yang pernah berkembang pada masa lalu, perlu dipererat. Ini sangat diperlukan, karena bangsa-bangsa rumpun Melayu dihadapkan kepada persaingan global, terutama dengan negara-negara Barat non-Muslim yang sangat kompetitif terutama dalam hal kemajuan teknologi. Amir Syakib Arsalan, salah seorang intelektual Muslim Mesir, melalui bukunya yang berjudul : Limaza taakhkhara al-muslimuun, wa limaza taqadam ghairuhum (1939), seakan-akan memberikan spirit berarti bagi membangkitkan kesadaran umat Islam tak terkecuali Muslim rumpun Melayu, agar mampu menggapai kemajuan yang saat ini berkembang sangat pesat. 

Bertitik tolak dari kenyataan tersebut di atas, maka Lembaga Penelitian IAIN Imam Bonjol Padang mengajukan tawaran kerjasama dengan kerjaan Brunei Darussalam dan mana-mana pertubuhan di bawah naungan Kerajaan (seumpama Universiti Brunei Darussalam atau Institut Pengajian Islam Omar Ali Saifuddin) untuk menggali kemajuan tradisi intelektual dan sosial budaya yang pernah dicapai oleh bangsa-bangsa Melayu-Nusantara masa lalu melalui sebuah jaringan penelitian. Mempererat hubungan silaturrahmi dan bertukar pikiran diantara cendikiawan, intelektual, ilmuan dan budayawan dua bangsa serumpun. Mengungkapkan kemajuan tradisi intelektual dan tradisi budaya yang pernah berkembang di antara kedua bangsa serumpun, terutama antara Minangkabau dan Brunei Darussalam. Menggali dan mengumpulkan data keilmuan dan sosial budaya (persamaan dan perbedaan) yang berkembang di antara kedua bangsa serumpun, kemudian disosialisasikan dan dijadikan sebagai acuan untuk mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan. Terjalinnya hubungan yang erat antara insan akademik kedua bangsa serumpun (Minangkabau dan Brunei Darussalam) dalam upaya menggali tradisi budaya dan tradisi keilmuan, sehingga kekayaan intelektual dan kultural masyarakat Melayu masa lalu dapat dikenali oleh generasi masa kini dan masa datang. Tema pokok penelitian ini adalah : 

“Mencari Akar Identitas Budaya Melayu Islam : Studi Komparasi  Realitas Budaya di Minangkabau dan Brunei Darussalam”. 

Untuk tema pokok tersebut di atas, dirancangkan beberapa topik sebagai berikut : 

Pemikiran Syekh Thaher Jalaluddin Al-Falaki dan Pembaharuan Pemikiran Islam di Minangkabau dan Malaysia (in-clude Brunei Darussalam Awal Abad XX). 

Tulisan Jawi (Arab Melayu) dan Tradisi Intelektual di Rumpun Melayu-Nusantara :  Studi tentang Peranan Tulisan Jawi dalam Perkembangan Islam dan Tradisi Keilmuan di Brunei Darussalam dan Minangkabau. 

Diktum  Adat Basandi Syara’ , Akar Tradisi Sosio Kultural Melayu-Islam (Kajian Antropo-Historis Brunei Darussalam dan Minangkabau). 

Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA) dan Pengaruh Pemikirannya di Brunei Darussalam. 

Topik-topik di atas adalah beberapa alternatif yang masing-masing dapat dikembangkan ke dalam proposal lengkap, serta akan di tambah dan diubah-suaikan sejalan dengan tema pokok penelitian, setelah didapatkan persepakatan kerjasama Kerajaan Brunei Darussalam/Pertubuhan Pendidikan Tinggi Islam di Brunei Darussalam, pada masa yang akan datang. 

(Proposal lengkap, tidak dipublish)

Sumber foto : jppn.com

Selasa, 05 Juni 2012

Indonesia


Indonesia !!
Saya orang biasa
Bukan pahlawan ataupun turunannya
Tapi saya ingin berkata dengan sederhana
I Love You, So Much
Walau "basahmu" belumlah kering.


 
Foto : google.picture.com

Senin, 04 Juni 2012

Agus Salim (yang) Inspiratif

Oleh : Muhammad Ilham
 
Tentang Agus Salim, selalu menarik dan inspiratif untuk dikisahkan.  Sekarang para pejabat selalu bersolek, pake baju necis dan berlagak alim, umroh dan naik haji berkali-kali tapi tak paham menyejahterakan rakyat. Para pemimpin agama berpakaian agama bak orang suci dan menggunakan simbol-simbol keagamaan seraya teriak-teriak mengumandangkan kebencian. Tapi lihatlah Haji Agus Salim, pakaiannya sederhana, bahkan robek, rumahnya di gang sempit yang becek, hidupnya tidak bermewah-mewah, puasanya rajin, referensi bukunya ribuan, intelektualnya luar biasa, ia bisa banyak bahasa asing, kecerdasannya banyak dikagumi, KeIslamannya amat zuhud. 

Bisakah keIslaman kita seperti Haji Agus Salim, yang berguna untuk bangsa dan agama kita, tampa banyak tingkah, tidak mengomersialisasikan agama dan menyebarkan kebaikan.



Berikut, penggalan kisah tentang Agus Salim dan Mohammad Roem yang mengisi waktu mereka di kolam renang (kiriman seorang kawan) :
 
‘Ajo, Pak Salim, naek keatas papan lontjatan (sprinkplank)….”
’Ah, soedah toea sdr. Roem.......” kata Pak Salim, sambil tersenjoem dan mengeloes-eloes djenggotnja.

Tentoe, Pak Salim tida dapet lagi
melontjat seperti Esther Williams. Tapi.....pelan-pelan dia mendekati aer, dan sampai dipinggir bak, kakinja doeloe jang dimasoekan kedalem aer. Dia mao rasakan dingin atau tidak kemoedian baroe badanja.

....Diharie liboer, hari Minggoe atawa hari laennja, begitoelah pekerdjaan orang terkemuka itoe. Dan dihari itoe marika loepa kepada politiek. Besoek soedah segar kembali dan politiek dapet dilanjoetkan”.


( Sunday Courier, Tahoen 1 No. 3)
 
Referensi : Anton DHN

Memperkenalkan Mama Theresa

Oleh : Muhammad Ilham 

Saya (akan) mendongengkan kisah hidup Mama Theresa kepada anak-anak saya.  (selain Fatimah Az-Zahra, yang sangat saya kagumi, sulit mencari figur wanita inspiratif non-mitologik, dalam khazanah sejarah Islam. Islam yang saya fahami adalah Islam yang menghargai wanita. Tapi sayang, budaya tempat berkecambahnya Islam tidak memberikan "ruang" lebih sebagaimana halnya "ruang" bagi laki-laki. sehingga tak salah kemudian bila sulit menjumpai wanita-wanita inspiratif, seumpama Mama Theresia, dalam sejarah Islam. kalau-pun ada, banyak yang bernuansa mitologik). 

Pagi tadi saya membaca time.com (murid-murid sekolah di sebuah sekolah khusus wanita Afghanistan, keracunan. diasumsikan racun melalui asap, disebarkan oleh kelompok Taliban yang tidak menginginkan kaum wanita sekolah. bukan ajaran Islamnya, tapi tafsiran dan kultur yang membentuk tafsiran itu. gara-gara ini, salah satunya, "mama Theresia" tak ada muncul di ranah peradaban Islam mutakhir). Semoga saya salah !!


Sumber foto : time.com

Bung Hatta yang Gentleman

Ditulis ulang : Muhammad Ilham  

Banyak orang mengira termasuk hampir semua sejarawan bahwa mundurnya Hatta di tahun 1956 adalah ketidakcocokannya dengan Bung Karno. Tapi sebenarnya tidak, Hatta tidak pernah memusuhi secara serius Sukarno, Hatta sama sekali tidak ada masalah pada tahun 1956 dengan Sukarno atau keputusan-keputusan politik besar. Pembubaran Konstituante justru dilakukan setelah Hatta mundur, pemberontakan-pemberontakan di daerah tidak ada hubungannya dengan Bung Hatta, bahkan setelah tahun 1956 beberapa pemberontakan daerah awalnya adalah mosi tidak percaya kepada Djakarta karena dikira Djakarta menyingkirkan Hatta, padahal tidak. Dalam beberapa titik penting sejarah di masa lalu, Sukarno amat pasif dalam melakukan keputusan-keputusan politik. Hampir semua keputusan ditangani Hatta. Keputusan yang terkenal adalah Maklumat X 1945 soal liberalisasi pembentukan partai-partai politik. Dalam soal itu Sukarno kerap mengeluh ia dilangkahi Hatta. Dalam revolusi Sukarno ingin adanya Partai tunggal, tapi setelah fait accompli Hatta, partai menjadi terlalu banyak dan kerap menimbulkan friksi politik besar, puncaknya adalah perang Solo yang berakhir pada geger Madiun 1948. Akhir Tahun 1948, Belanda menerjunkan puluhan ribu tentara mereka serentak ke kota-kota penting di Indonesia. Di muka dunia Internasional aksi itu dikatakan "Aksi Polisionil" karena Belanda masih menganggap Indonesia adalah wilayah dalam negeri Belanda. Sementara pihak Indonesia menyatakan itu adalah "Agresi Militer yang kedua" setelah sebelumnya terjadi tahun 1947, Indonesia menuduh inilah yang disebut ekspansi militer sebuah Negara kepada Negara lain seperti hal-nya Hitler menginvasi Polandia. Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim dan pemimpin-pemimpin lain di Yogya ditangkapi. Militer Republikein lari ke gunung-gunung mereka menolak untuk ditangkap, pihak Militer praksis dipegang Jenderal Sudirman yang sudah rusak paru-parunya untuk menembus lebat hutan di Jawa Tengah dan Timur melakukan konsolidasi pasukan. 

Saat itu Tan Malaka sudah berhitung, “Kekuatan Belanda tinggal sedikit lagi, saya tahu benar watak orang Belanda. Dia tidak akan melakukan kekuatan besar-besaran bila tidak putus asa. Saya perkirakan perang paling lama akan berlangsung selama 2 tahun lagi, sementara Amerika Serikat dan Sovjet Uni masih pusing soal Eropa setelah selesainya Hitler dibunuh” Belanda berlagak gagah dimana-mana, tank-tank Sherman berkeliling ke segenap penjuru kota dan membangun pencitraan bahwa Hindia Belanda dalam waktu dekat akan berdiri kembali. Ternyata terbukti dengan serangan militer yang sporadis dari militer Indonesia pasukan Belanda keteter dimana-mana. Serangan Umum di Yogya dan Serangan umum di Solo membuat Belanda keliatan kelemahannya. Tapi tidak bagi kelompok pro perundingan. Di tahun 1945 ada perbedaan antara Pemuda-Pemuda Djakarta dengan Djawa Tengah dan Djawa Timur. Pemuda-pemuda Djawa Tengah dan Timur memutuskan tidak mau berunding dengan pihak Djepang soal merebut gudang senjata, mereka langsung perang dan rakyat mengepung gudang. Senjata-senjata banyak didapatkan, bahkan di Surabaya kelengkapan militernya akibat merebut gudang senjata mampu secara jantan menghadapi Inggris, dan sejarah mencatat : ‘Hanya di Surabaya-lah Inggris kalah perang’. Di Djawa Tengah juga begitu, tidak ada perundingan gudang-gudang senjata harus direbut. Perebutan senjata ini nyaris tak menimbulkan korban, bahkan Kapten Suharto (kelak jadi Letkol Suharto) berhasil merebut gudang senjata di Kotabaru dan pasukannya memiliki alat kelengkapan militer paling kuat. Di Djakarta lain lagi ceritanya, keputusan saat itu adalah perundingan untuk merebut gudang senjata, akibatnya fatal. Puluhan tokoh pemuda mati dalam perang saat perundingan berlangsung bertele-tele, Daan Mogot dan tragedi dua anak Margono Djojohadikusumo : Subianto dan Sujono di Serpong Januari 1946. Akibat perundingan inilah pemuda-pemuda Djakarta terlalu lemah dibandingkan rekannya yang di Djawa Tengah dan Djawa Timur. 

Begitu juga dengan pemikiran memperpendek perang revolusi 1945. Tan Malaka berpikir apabila perang diperpendek dengan perundingan maka yang terjadi adalah ‘Revolusi melahirkan bangsa yang lembek’. Tan Malaka ingin dilakukan perang total karena dengan hanya perang total-lah “Semua royan-royan revolusi bisa melahirkan rasa persatuan yang amat kuat diantara rakyat Indonesia, rakyat akan paham tujuan besar bangsa Indonesia liwat kesakitan-kesakitan perang revolusi”. Tapi kabar di Yogya begitu menyakitkan hati Tan Malaka. Para pemimpin tidak mau tempur mati-matian di hutan-hutan, tidak membangun perlawanan revolusinya. Di tahun 1948 terlihat sekali para pemimpin yang lahir dari dunia pergerakan Intelektual tidak terlatih untuk melakukan perang di hutan-hutan seperti yang dilakukan bekas anak buah Tan Malaka, Ho Chi Minh dari Vietnam. Tan Malaka sudah memperkirakan “Kalau pemimpin ditangkap tak lain tak bukan, ujung-ujungnya adalah Perundingan”. Generaal Sudirman, adalah pengikut Tan Malaka yang paling setia. Ia orang yang paling mendukung program-program Tan Malaka. Saat pertempuran di Solo terjadi, Sudirman menunggu apa kata Tan Malaka. Saat rapat Persatuan Perjuangan, Sudirman-lah yang membuka pidato rapat, lalu ketika Tan Malaka meneriakkan “Merdeka 100%” maka Sudirman berdiri dan bertepuk tangan seraya bersumpah akan memerdekakan Indonesia, total…setotal-totalnya. 

Sukarno sendiri saat itu sudah terjebak pada sistem pemerintahannya yang ia bentuk. Bila ia ke hutan, maka ia akan berhitung ‘siapa yang pegang komando’ bisa saja nanti kelompok Tan Malaka yang bisa drive dirinya. Sukarno selama perang revolusi menyerahkan keputusan ke Hatta, dan Hatta selamanya satu napas dengan Sjahrir lalu terjadilah keputusan yang paling amat dibenci Tan Malaka “Berunding dengan Belanda”.  Perundingan KMB di Den Haag akhir tahun 1949, merupakan penghinaan bagi kelompok Tan Malaka. Di Koran-koran terjadi eforia KMB, rakyat seakan-akan gembira menerima keputusan perundingan, dikiranya KMB adalah kemenangan Republik, dikiranya KMB adalah berhasilnya perang. KMB justru adalah ‘Pertanda Indonesia Kalah Perang’ karena dimanapun dalam hukum perang Internasional ‘pihak yang kalah perang harus membayar ganti rugi akibat peperangan’ seperti Jerman yang kalah perang pada Perang Dunia Pertama, membayar dengan ‘Klausa Perjanjian Versailles’ dan Jepang yang kalah perang dengan Amerika Serikat harus menerima pendudukan pasukan Amerika Serikat di Jepang juga Jepang dilarang memiliki pasukan militernya sendiri. Indonesia harus membayar 4.6 Milyar Gulden ganti rugi perang. ‘Jadi logikanya Indonesia harus membayar bangsa asing yang membunuhi bangsanya sendiri’. Akibat perjanjian inilah yang amat lama tidak menjadi bahan perdebatan di muka-muka publik karena para tokoh kharismatis terlibat dalam perundingan ini. Ukuran dana 4,6 milyar gulden itu amat besar dengan nominal pada jaman itu, sebagai perbandingan : di tahun 1950 Amerika Serikat pernah menawari pembangunan jalan besar (Highway Standard) di sepanjang pulau Sumatera dengan konsesi masuknya mobil Ford ke Indonesia sebagai satu-satunya mobil yang bisa masuk ke Indonesia selama 10 tahun. Nilai jalan itu adalah 6 juta dollar, tapi usulan itu ditolak karena akan memberlakukan sistem monopoli. Jadi seandainya 4,6 milyar gulden itu tidak dikembalikan maka 200 kali highway standard bisa dibangun diseluruh wilayah Indonesia. 

Setelah terjadi perundingan, Sudirman menolak turun gunung. “Kalau saya turun gunung berarti saya gembira akan kekalahan pasukan TNI”. Generaal Sudirman menolak turun gunung karena ia tahu, perundingan berarti kalah perang. Selama ini banyak di buku sejarah, seakan-akan Sudirman menolak turun gunung karena marah pada Sukarno, padahal bukan. Orang-orang di masa lalu tidak dangkal hatinya, mereka tidak peduli dengan konflik personal. Generaal Sudirman menolak turun gunung karena alasan prinsipil, ia tidak mau kalah perang. “Tapi pada akhirnya” persatuan diatas segala-galanya, pertaruhannya kalau Sudirman menolak turun gunung makan yang akan terjadi adalah perang saudara. Setiap orang tahu pada saat itu, Sukarno yang selalu jadi kartu pegangan orang Indonesia, rakyat akan terjebak pada perang saudara yang tidak mereka mengerti. Sudirman mengalah demi persatuan. Sudirman turun gunung, tapi Tan Malaka ditembak mati di Jawa Timur. Inilah tragedi revolusi. Beberapa kelompok pasukan Tan Malaka menolak turun gunung, yang paling terkenal adalah Chaerul Saleh. Chaerul ini yang pegang pasukan Bambu Runtjing. Ia terus melawan tentara resmi dan menolak perundingan, pasukan Chaerul Saleh menyerang pos-pos militer TNI di Sukabumi dan wilayah lain di Djawa Barat sebagai aksi bentuk penolakannya terhadap KMB. Bahkan sampai pada tahun 1952 pasukan Chaerul Saleh terus bertempur dengan pihak militer. Inilah yang membuat Nasution marah. Kebenaran kelompok Tan Malaka akhirnya terbukti pada tahun 1950-an ke atas. Di Vietnam, mereka menolak kalah dari Perancis dan melakukan perang total, di tahun 1952 Perancis angkat kaki dari Vietnam dengan menyisakan ratusan ribu serdadu berkalang tanah di Vietnam. Lalu Amerika Serikat datang dan merebut Vietnam dua puluh tiga tahun kemudian 1975, Amerika Serikat hengkang dari Vietnam dengan rasa malu, tentaranya berlarian ke helikopter seperti tentara pengecut menyelamatkan diri saat pasukan Ho Chi Minh masuk ke kota Saigon. Begitu juga dengan pasukan Mao yang berhasil menghantam kelompok Kuo Min Tang sampai ke Taiwan padahal pasukan Kuo Min Tang didukung Amerika Serikat. Dan saat ini di tahun 2011 kita menyaksikan seluruh Negara Eropa Barat mengemis pada RRC karena krisis ekonomi yang mereka alami. 

Inilah yang dimaui Tan Malaka, fase pertama dalam pembentukan Negara atau bangsa yang terjajah adalah perang total. Dalam perang total akan terjadi situasi baru, pemahaman-pemahaman baru, alam sadar baru, dan yang terpenting arah sejarah menjadi lebih jelas tidak lembek. Terbukti benar di tahun 1950-an perang Korea meletus. Harga-harga komoditi naik : timah, minyak bumi, kopra, karet dll naik. Kejadian ini mirip dengan boom minyak tahun 1973 yang kemudian dijadikan landasan rejeki Suharto di masa Orde Baru untuk membiayai kekuasaannya. Kenaikan luar biasa harga-harga akibat perang Korea 1950-an ini tidak bisa dinikmati rakyat Indonesia karena Indonesia harus bayar hutang perang kepada pihak Belanda. Yang kaya tetaplah perusahaan-perusahaan besar milik Belanda macam Lindeteves atau Borsumij Wehry. Kejadian ini membuat marah anggota Parlemen Komisi A, mereka memanggil Menteri Perekonomian saat itu Prof.Sumitro Djojohadikusumo. Sumitro menjawab “Kita sudah terikat perjanjian dengan Belanda”. Kelompok sisa-sisa Tan Malaka yang saat itu bergabung dalam Partai Murba marah besar ‘Wah, kalau begini caranya kita harus buat mosi tidak percaya terhadap KMB”. Perjuangan menyusun Mosi tidak percaya ini bukan soal mudah. Kelompok Partai Murba yang dipimpin Maruto Nitimihardjo harus berkelahi kesana kemari untuk meyakinkan mosi tidak percayanya. Untuk memulai mosi ini Maruto mendatangi Hatta lalu Maruto bicara “Masih kurang saja Belanda mengambil dari kita”. Seraya berkata pasrah Hatta berkata “Karena saya yang menandatangani perjanjian KMB itu, saya persilahkan saudara Maruto untuk melanjutkan apa maunya, saya siap menerima segala konsekuensinya”. 

Hampir lima tahun Maruto melakukan pendekatan-pendekatan politik ke semua pihak untuk menolak hasil KMB dan menyatakan mosi tidak percaya. Akhirnya mayoritas anggota Parlemen menyetujui untuk melakukan mosi tidak percaya, apalagi setelah Pemilu 1955 Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mendukung apa mau Partai Murba. “Mosi tidak percaya pada KMB”. Melihat perkembangan mosi itu Hatta secara gentlemen berkata “Saya akan mundur” Saat itu Maruto mendatangi Hatta di kantornya di Merdeka Selatan. Hatta lama memandangi wajah Maruto, dan ia mengeluarkan air mata lalu memeluk Maruto. Setelah pertemuan itu datanglah surat dari Hatta : “Surat Pengunduran Diri”. Surat pengunduran itu menjadi heboh dimana-mana, bahkan Sukarni Ketua Umum Murba, Partai yang jadi pelopor mosi tidak percaya itu berkata singkat sambil mau nangis : “Wah, Bung Hatta terlalu gentleman”. Mundurnya Hatta membuat pihak banyak kalang kabut. Achmad Subardjo yang saat itu jadi Duta Besar di Swiss berkata kepada beberapa orang “Sesungguhnya dulu di tahun 1945 terjadi apa namanya Gentleman Agreement Four, mirip Amerika Serikat pada awal Revolusinya di tahun 1776. Seperti perjanjian antara Washington, Jefferson, Madison dan Franklin untuk bergantian menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, walaupun Franklin tidak menjabat tapi tiga orang menjabat bergiliran. Itulah yang terjadi, nah empat orang yang akan bergiliran jadi Presiden saat itu adalah : Sukarno, Iwa Kusumasumantri, Achmad Soebardjo dan Hatta sendiri. Tapi itu tidak terlaksana toh, malah keluar Testamen Tan Malaka”….. 

Sukarno berdiam diri saja, ia sudah tahu arah sejarah akhirnya kelompok Tan Malaka yang menang dan benar melihat keadaan. Kemerdekaan 100% adalah tujuan terbesar bangsa ini, lalu dengan inspirasi dari Tan Malaka, Sukarno menjalankan program-program politiknya tapi siapakah yang bisa menggantikan Hatta? Kelompok PSI mengajukan Subandrio, yang pada akhirnya Bandrio malah merapat ke PKI. Sementara Murba harus menarik Maruto Nitimihardjo dan Sukarni sebagai lobbying ke Pemerintah, karena Maruto dianggap Sukarno selalu melawan, sementara Sukarni setiap ketemu Sukarno selalu berantem. Akhirnya Murba memanggil Chaerul Saleh yang di Jerman Barat untuk mendampingi Sukarno. Dan pada akhirnya sejarah memberi tahu pada kita, ketika Sukarno dikalahkan saat menjalankan agenda Tan Malaka dengan bahasa-bahasa Sukarno yang ia namakan Trisakti, Berdikari, Pantja Azimat Revolusi, Gesuri, Vivere Pericoloso lalu Gestapu 65 terjadi, Sukarno diinternir di Wisma Yaso, Subandrio diseret ke penjara, Chaerul Saleh kabarnya mati di WC Tahanan Militer dan membuat Sukarni di depan jenasah Chaerul Saleh ngamuk-ngamuk kepada Adam Malik karena tak bisa memberikan pertolongan sama sekali kepada Cherul Saleh. 

Referensi : (c) Anton DHN

Sabtu, 02 Juni 2012

2 Juni 2012, 115 tahun Tan Malaka

Oleh : Muhammad Ilham

Waktu akan lebih jujur untuk berkata/tidak sekarang, mungkin nanti/tapi itu pasti 
(Taufik Ismail)

2 Juni 2012, 115 tahun Tan Malaka. Sebagai figur inspiratif, Tan Malaka terus "hidup". Bukan untuk dimitoskan. Berutung Tan, karena ia terus dikritisi. Dengan itu, namanya terus diperbincangkan. Tanda ia orang besar. Pahlawan bagi Tan, menurut saya, sangat kecil dan reduktif. Lebih tepat, Ia aktor sejarah. Mari kita "dengar" apa yang diungkapkan sejarawan Asvi Warman Adam : “Sejak orde baru, namanya (Tan Malaka) dihapus dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah. Gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut. Tetapi dalam buku teks sejarah ia tidak boleh disebut. Atau menurut istilah seorang peneliti departemen sosial, Tan Malaka menjadi “off the record’ dalam sejarah Orde Baru”.   

Adalah Rudolf Mrazek yang mengukir Tan Malaka lewat bukunya “Tan Malaka a Political Personality’s Structure of Experience”, Kemudian Harry Poeze telah mengabadikan Tan Malaka lewat bukunya setebal 2194 halaman dan berharga 99,90 euro. “Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolution 1945-1949.” Dan menjelang tahun 1980-an, terjadilah arus balik penulisan sejarah Tan Malaka terutama di Eropa, Mulai dari Belanda dengan karya Harry Poeze, sampai ke Australia yang ditulis oleh Helen Jarvis. Penulisan sejarah Tan Malaka di luar negeri ini menjadi bukti bahwa Tan Malaka bercahaya di negeri orang, dan diredupkan di negeri-Nya sendiri. “Apakah Tan Malaka pahlawan Indonesia? Sebab terlalu besar mengangapnya menjadi pahlawan dari bangsa yang menganggapnya kecil ?

"Storia me Absolvera", kata si Brewok Fidel Castro. Biarlah perjalanan waktu yang "membebaskan" dan menilai siapa aku. Untuk Tan, ungkapan ini nampaknya pas.


Sumber foto : kaltimonline.com

Terima kasih bang Dale Sadli (saya gunakan bahasa beliau sebagai judul tulisan)

Chairul Saleh : "Entah Dimana Ia Dicatat"

Oleh : Muhammad Ilham

Ketika Tembok Cina selesai berdiri, kemanakah para budak di (ter)sembunyikan, mengapa justru Shih Huang Ti yang direkam sejarah ? .......... ketika Piramida selesai dibangun, kemanakah para budak dihilangkan, mengapa justru Firaun yang dicatat dalam sejarah ? (Ernst Bloch)

Ada satu "event" yang paling implikatif dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia, yaitu peristiwa Rengasdengklok. Ketika membicarakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, maka Rengasdengklok akan selalu disinggung. Rengasdengklok seumpama "Bukik Marapalam" ketika membicarakan sejarah konflik dan asimilasi adat dan agama (Islam) di Minangkabau, seperti daerah Dien Bhin Pu ketika membahas ketokohan Ho Chi Minh di Vietnam atau seperti daerah Semanggi ketika mengupas seputar lahirnya era reformasi di Indonesia. Rengasdengklok dijadikan salah satu titik terpenting dalam merangkai narasi sejarah proklamasi Indonesia karena daerah ini menjadi tempat penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda yang dipimpin oleh Chairul Saleh dari Menteng 31 terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa atau lebih tepatnya diamankan ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi.

Dalam catatan sejarah dijelaskan bahwa Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka. Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta. Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya "diambil") dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor Laut Dr. Kandeler. Dan ..... sejarah menukilkan : Proklamasi Indonesia bersumbu pada Soekarno Hatta, Pemuda, Menteng 31 dan Rengasdengklok. Sejarah tidak "lupa" atau "melupakan diri" terhadap figur Soekarno-Hatta (walau untuk kasus Soekarno, terajadi reduksi ketokohan pada era Soeharto), demikian juga dengan daerah yang bernama Rengasdengklok dan Menteng 31. Setidaknya buku-buku sejarah yang diajarkan selalu mengekspose fakta-fakta di atas. Namun ada satu yang terkesan ambigue, yaitu Pemuda. Sejarah hanya mencatat bahwa Pemuda-lah yang memiliki kontribusi "menculik" dan memaksa Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Sejarah (terutama yang diajarkan dan "dipaksakan" oleh rezim Orde Baru) tidak berani mengelaboreasi lebih detail, siapa-siapa saja "pemimpin" pemuda dan yang menjadi inspirator "penculikan" Soekarno-Hatta. Jadi jangan heran, apabila banyak orang Indonesia yang hanya berkutat pada kesimpulan, hanya pemuda yang memiliki kontribusi tersebut tanpa memiliki kemampuan elaboratif untuk menerangkan dan memahami siapa tokoh dari kelompok sosial yang bernama "pemuda" itu. Hal ini tidak bisa dipungkiri, memang telah terjadi "peminggiran" sejarah terhadap figur-figur sentral peristiwa Rengasdengklok tersebut. Peminggiran ini terjadi secara signifikan dan massif ketika Orde Baru memegang kekuasaan politik Indonesia. Sebagai rezim yang "alergi" dengan komunisme dan sosialisme serta Soekarnoisme, maka figur-figur yang berada dalam "konsorsium" ini, sebetapapun kontributifnya mereka, maka rezim akan "meminggirkan" mereka, bahkan terkadang menghilangkan mereka dalam catatan sejarah, salah satunya Chairul Saleh. Chairul Saleh, pemuda pintar yang memimpin kawan-kawan muda lainnya menculik Soekarno dan memaksa memproklamirkan kemerdekaan RI, tidak disebut-sebut dalam catatan sejarah. Ia dilebur dalam sebuah konsep yang bernama "pemuda".


Nama lengkapnya Chairul Saleh Datuk Paduko Rajo, lahir 13 September 1916 di Sawahlunto (Sumatera Barat). Sebagai anak dokter, dia mendapatkan pendidikan terbaik, siswa sekolah dasar ELS Bukittinggi kemudian melanjutkan di HBS Medan. Menurut kesaksian BM Diah, "Di Medan, hampir setiap hari saya berpapasan dengan orang muda yang bersepeda. Pemuda itu tampan, badannya berisi dan caranya mengayuh sepeda seperti atlet terlatih. "Saya mengenal Chairul waktu saya jadi mahasiswa RHS. Pada waktu itu dia Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia," kata Subadio Sastrosatomo sambil melanjutkan, "Kesan saya, dia selalu memonopoli semangat nasionalisme, sebab dia menilai mahasiswa yang tidak menjadi anggota PPPI bukan nasionalis. Sebagai mahasiswa RHS, jalannya, gayanya selalu menunjukan, ini lho nasionalis." Sementara SKTrimurti, tokoh wanita pejuang melukiskan, "...penilaian saya, Chairul selalu kurang ajar" (Tempo, Agustus 2007). Maklum, dia tokoh pemuda dan selalu berjiwa muda. Bahwa Chairul tokoh pemuda yang konsisten dalam kata dan tindakannya, nampak menjelang runtuhnya kekuasaan Jepang. Ia mengajak teman-temannya menentang kaum tua yang masih percaya kepada ketulusan sikap Jepang, membantu persiapan kemerdekaan Indonesia. Ia menolak ikut keanggotaan Badan Persiapan Usaha Pencarian Kemerdekaan Indonesia. Ia juga berada di balik aksi penculikan Soekarno-Hatta sehari menjelang proklamasi kemerdekaan. Sumbangan terbesar Chairul mungkin pada keberaniannya mempertahankan pendapat saat perumusan Naskah Proklamasi. Bung Karno, yang (mungkin) mengacu kepada penyusunan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, meminta semua hadirin bertanggung jawab, karena itu mereka harus mencantumkan tanda tangan. Sebaliknya, Chairul dengan tegas menentang. Ia berpendapat, sebagian dari hadirin adalah pegawai Jepang. Bagaimana mungkin, mereka ikut menandatangani proklamasi? Apa sumbangan mereka kepada perjuangan kemerdekaan. Chairul ngotot mempertahankan pendapatnya. Ia tidak mau berkompromi. Kenekatannya saat itu dalam mempertahankan keyakinan mungkin malahan bisa menggagalkan pembacaan proklamasi. Akhirnya, Bung Karno menyerah. Naskah proklamasi, atas nama bangsa Indonesia, (hanya) ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta. Pada sisi lain, selaku penentang Konferensi Meja Bundar, Chairul kembali masuk hutan, begitu kedaulatan Indonesia diserahkan. Ia memimpin laskar rakyat dan berjuang melawan Republik Indonesia Serikat. Tahun 1950 Chairul ditangkap Kolonel Nasution, dipenjarakan dan kemudian dibuang ke luar negeri. Dia muncul kembali di Tanah Air, persis ketika Bung Karno sedang menata pemerintahan dengan prinsip Demokrasi Terpimpin. Kali ini, Chairul dengan sadar menjadi pendukung gigih Presiden Soekarno. Sebaliknya, Bung Karno yang saat itu sedang memperluas basis dukungan politik, memerlukan dukungan massa pemuda yang dikuasai Chairul. Bintang Chairul melesat. Diangkat jadi Menteri Veteran, lalu Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan sampai akhirnya, Wakil Perdana Menteri III. Kecuali itu, jabatan politiknya melonjak, dari Ketua Angkatan 45 diangkat selaku Ketua MPRS.

Dari sekian jejaknya, masyarakat masa kini mungkin tak tahu tekad Chairul membela prinsip negara kepulauan. Konsepsinya mengenai Wawasan Nusantara, di mana batas teritorial secara sepihak ditentukan 12 mil laut (agar semua laut yang ada di antara pulau-pulau jadi wilayah teritorial) langsung diberlakukan pemerintah Indonesia tanggal 13 Desember 1957. Pemikiran Chairul ini baru bisa disahkan tahun 1982 dalam konvensi internasional tentang Hukum Laut di Montego Bay, Jamaika. "Perjuangan tersebut memakan waktu 25 tahun. Saya beruntung mendapat dorongan dari Uda Chairul Saleh. Dari tidak ada sampai tercipta dan diterimanya konsepsi Wawasan Nusantara, sekaligus diterimanya konsepsi baru kita ini," kata Prof Dr Mochtar Kusuma Atmadja mengenang keteladanan Chairul. Tapi, sejarah sering menyeret seseorang ke arah lain. Pada masa Orde Lama, massa komunis dengan gegap gempita menuding Chairul gembong kapitalis birokrat yang harus dilenyapkan. Namun, dalam masa pancaroba kebangkitan Orde Baru, dia malahan masuk tahanan karena dianggap pendukung Soekarno. Meskipun telanjur mati dalam tahanan (8 Februari 1967) dan tidak sempat diajukan ke depan sidang pengadilan, "...yang dapat saya beritahukan, Bung Chairul tidak terlibat G30S/PKI," begitu pernyataan Panglima TNI-AD Jenderal Soeharto, ketika secara pribadi mengirimkan ucapan bela sungkawa kepada istri Chairul Saleh.

Pertanyaannya kini, sebagai politikus ulung yang pasti membaca tanda-tanda zaman, mengapa dia tidak mau pindah posisi ketika fajar kebangkitan Orde Baru muncul di cakrawala? Mengapa dia tidak sebagaimana Adam Malik, rekannya sesama tokoh Murba, melakukannya? Mengapa Chairul tidak menjadi tikus-tikus yang berebut meninggalkan kapal karam, seperti kelakuan rekan-rekannya semasa regim Soekarno mulai nampak menyurut? Analisis tentang ini dengan indah dilukiskan oleh Mochtar Lubis. "...tak ubahnya seperti pahlawan Yunani kuno, melakukan apa yang mereka yakini harus mereka lakukan, karena itulah suratan hidup yang ditentukan para dewata. Mereka tahu yang menanti adalah nista dan maut. Namun, dalam tragedi yang mereka masuki dengan kesadaran, mereka mencapai kebesaran yang tidak sempat diraih semasa (mereka) masih hidup." "... di mata saya, sebagai seorang sahabat, dia tampil sebagai tokoh pahlawan tragis," kenang Mochtar Lubis (Tempo, Agustus 2007). Chairul Saleh dengan penuh kesadaran melangkah menjalani nasib yang dipilihnya, karena itulah kewajiban yang harus dilaksanakan. Inilah puncak tragedi seorang pejuang kemerdekaan yang sangat memilukan.

Referensi : Tempo, Agustus 2007/Foto : hispanically.com

Geisha Soekarno

Ditulis ulang : Muhammad Ilham 

"Salah besar kalau Soekarno suka melirik wanita cantik, yang benar, Soekarno menatap dengan kedua bulatan matanya" (Soekarno) 

“Stop Impor Bini Muda!”. Kata-kata di poster itu sangat jelas ditujukan kepada Presiden Soekarno. Seperti sudah umum diketahui, selain memiliki istri-istri pribumi, Soekarno pun mengambil seorang geisha bernama Naoko Nemoto menjadi pendamping hidupnya. Namun rupanya Naoko Nemoto bukanlah perempuan Jepang pertama yang hadir dalam hidup Bung Karno. Menurut Anusapati yang menukil pernyataan seorang penulis Jepang bernama Nishimura, empat tahun sebelum menikahi Naoko, Si Bung ternyata pernah menjalin cerita cinta dengan seorang gadis Jepang yang lain. Namanya Sakiko Tanase. “Ia adalah seorang model fesyen,”tulis Nishimura dalam The Concept of Power in Javanese Culture (1975). Perjumpaan pertama kali Bung Karno dengan Sakiko terjadi di Kyoto. Begitu berkenalan, nampak sekali Si Bung sudah merasa tertarik dengan sang geisha. Sinyal cinta sang presiden rupanya ditangkap secara manis oleh Kinoshita, sebuah perusahaan Jepang yang memiliki kepentingan menanamkan investasi di Indonesia saat itu. Lantas, jadilah Sakiko ‘dibawa’ oleh Grup Kinoshita sebagai bagian dari lobi bisnis tingkat tinggi di Indonesia. Ternyata Soekarno memang benar-benar jatuh cinta kepada Sakiko. Dan pada suatu hari di penghujung 1958, didatangkanlah Sakiko ke Indonesia, sebagai “pengajar anak-anak ekspatriat Jepang” di Jakarta. Namun aslinya, menurut Nishimura, Sakiko sebenarnya dijadikan sebagai salah satu nyonya rumah bagi Soekarno. Lengkap dengan nama Indonesianya : Ny.Basuki. 

Entah bagaimana, hubungan SS (Soekarno-Sakiko), tak berlangsung lama. Diperkirakan itu terjadi karena setahun kemudian, saat mengunjungi Jepang untuk kesekian kali, Soekarno jatuh cinta kembali kepada seorang perempuan Jepang berusia 19 tahun yang tentunya jauh lebih cantik. Dialah Naoko Nemoto, seorang geisha yang menjadi andalan lobi tingkat tinggi Grup Tonichi untuk memuluskan jalur bisnis di Indonesia. Sekembali dari Jepang, Soekarno mengundang Naoko Nemoto untuk berlibur ke Indonesia. Tahun 1959, tepatnya di hari keempat belas dalam bulan September, Naoko dengan suka cita datang ke Indonesia. Menurut penulis CM Chow, Naoko datang tidak sendiri, ia didampingi oleh dua geisha cantik lainnya. “Mereka ditempatkan di dalam rumah yang disediakan secara khusus oleh perusahaan Tonichi di Jakarta, “tulis CM Chow dalam Autobiography as told to Atoh Matsuda (1981). Lalu bagaimana nasib Sakiko setela dicuekan oleh Soekarno? Entah merasa dirinya “terbuang” atau mungkin ada masalah lain, diberitakan dua minggu usai kunjungan cinta Naoko itu, Sakiko Tanase memilih mengakhiri hidupnya. Demi mendengar kabar menyedihkan itu, Soekarno katanya sempat shock dan berurai air mata. Tapi, umumnya lelaki di dunia, duka itu bisa terhapus seketika. Obatnya? Apalagi jika bukan Naoko yang tiga tahun setelah kejadian itu, akhirnya dinikahi secara resmi oleh Soekarno. Kelak nama gadis Jepang kedua-nya itu ia rubah menjadi lebih me-nusantara : Ratna Sari Dewi.

Referensi (c) : Hendi Johari/Hendijo

Jumat, 01 Juni 2012

Dua Syari'at Utama



Sejak zaman Nabi Adam dan Hawa (as), 
Tuhan hanya memberi dua syariat utama kepada manusia yaitu : 
"Mencintai Tuhan" dan "Mencintai sesama makhluk."

Inspired : Chen Cen Muthahari
Sumber foto : blog.its.ac.id

"Kertas Buram" Ahmad Wahib



Sumber : insist.com

Kala Batu Bicara

Oleh : Muhammad Ilham

Seandainya-lah batu bisa bersuara, begitu panjang riwayat yang akan kita tulis ... !
(Rabindranath Tagore)

Kala Brainwood, seorang arkeolog Amerika yang punya dedikasi dan kesungguhan keilmuan luar biasa (dibidangnya), menemukan beberapa peninggalan-peninggalan arkeologi di situs sekitar lembah Mesopotamia, dunia menjadi "terperangah". Orang menjadi tahu, dulu, di lembah ini, pernah terdapat peradaban tinggi dengan segala maha karya-nya. Sejarah Sumeria, Assiria dan figur-figur besar seperti Hammurabi yang dikenal dengan "masterpiece"-nya Kodeks Hukum yang tersohor itu (bahkan dimasukkan sebagai satu-satunya prasasti paling tua yang mengakui Hak Asasai Manusia), sang "Kaizer" Nebukadnezar - terekonstruksi. Hampir seluruh data yang ditemukan arkeologi ini berupa data-data "diam" yang tak tertulis. Data-data ini kemudian "berbicara", bahwa dalam konteks zaman yang sangat klasik (5000 SM.), negeri di lembah dua sungai ini, pernah menjadi pusaran - centrum - peradaban dunia, pada masanya. Data-data megalit dalam bentuk lumpur yang telah membatu, menyibak kebanggaan historis negeri ini, hingga sekarang.

Karena Brainwood, mereka punya sejarah yang "berbicara" sehingga kini. Ketika masih berkuasa, Syah Reza Pahlevi misalnya, menjadi raja yang punya rasa romantisme sejarah hingga begitu bangga memakai simbol-simbol Cyrus Agung. Demikian juga Saddam Hussein kala masih digdaya, selalu menganggap dirinya sebagai "penyambung lidah" Nebukadnezar. Mereka pantas dan sah secara historis untuk bangga dengan sejarah mereka. Seandainyalah, Brainwood dan data-data megalit (batu tua, biasanya agak besar) yang ditemukannya tidak "berbicara", mungkin rakyat Iran dan Irak tidak akan bisa "bertengadah muka" sekedar untuk mengatakan bahwa dalam satu episode panjang sejarah ummat manusia, mereka pernah punya peradaban tinggi yang bisa menjadi referensi dan identitas historis mereka. Tak ada yang sia-sia dalam penciptaan Allah SWT, apapun bentuk dan "rona" ciptaan-Nya. Karena itu pula, tak ada yang sia-sia dalam disiplin ilmu, semuanya memiliki kontribusi dalam memberikan identitas, penyadaran, dan kebahagiaan ummat manusia. Karena itu jugalah, ajaran normatif agama (Islam) dan agama-agama lainnya, mengajarkan untuk tidak sombong dan menganggap diri lebih dari yang lain, karena setiap orang, siapapun dia, memiliki nilai lebih dan kurang, demikian juga suatu disiplin ilmu, memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri yang bila diintegrasikan, saling melengkapi. Jadi, dengan ini, saya ingin menjawab pertanyaan seorang kawan yang selalu ketawa dan sinis melihat kesungguhan dan kerja ilmiah kawan-kawan lain yang bergelut dalam bidang arkeologi - ilmu yang "mencintai" batu-batu atau bahan material tua.

Sumber foto : www.time.com