Minggu, 13 November 2011

Negara dan Hak Menggunakan Kekerasan

Oleh : Muhammad Ilham

"Tindak kekerasan selalu menjadi benih terciptanya sebentuk kesatuan politik"
(Ernst Renan)

Ketika beberapa daerah melakukan aktifitas yang beraroma subversif, katakanlah misalnya seperti di Papua belakangan ini, adilkah kita mengatakan bahwa penduduk lokal lagi jelata sebagai "pelaku utama" dari semua kerusuhan yang terjadi ? Lalu ketika negara Iran yang dianggap (sebagai) "negara biasa" melawan negara yang (dianggap) "super-negara", lantas negara "super-negara" dan para sekutunya menganggap Iran yang berasal dari komunitas "negara biasa" salah, tindak pantas melawan dan tidak boleh memiliki teknologi nuklir (walau mereka sebenarnya adalah negara produsen senjata nuklir itu sendiri). Bagaimana kita memahami konsep abstrak dari negara ? Apakah makhluk yang bernama negara ? Negara punya Presiden, punya bendera, punya rakyat, punya lagu kebangsaan dan juga punya pahlawan. Bila hanya sebatas ini, tak beda tampaknya dengan klub bola seumpama AC Milan, Real Madrid, Barcelona ataupun Manchester United. Silvio Berlusconi (PM Italia yang sekarang lagi dipusingkan dengan krisis ekonomi internal dan Eropa) juga seorang Presiden - Presiden AC. Milan. Klub bola fenomenal ini juga memiliki bendera, bahkan bendera mereka jauh lebih mendunia dibandingkan - katakanlah bendera Merah Putih. AC. Milan juga punya "rakyat", fans istilahnya yang dalam kosakata persebakbolaan dunia sering disebut Milanisti, bahkan mereka teramat fanatik. Lagu kebangsaan ? .... AC. Milan punya lagu yang menggetar-menggelorakan. Apakah AC. Milan punya pahlawan ?. Jangan ditanya, banyak. San Siro, adalah salah satu nama pahlawan mereka yang diabadikan menjadi nama stadion AC. Milan nan megah (kata orang, karena saya belum pernah ke sana). Bila Franco Baresi, Ruud Gulllit ataupun Marco van Basten meninggal dunia, saya yakin, mereka akan di-SK-kan menjadi Pahlawan AC. Milan. Demikian juga dengan FC. Barcelona, Manchester United atau Real Madrid. Klub-klub bola ini hampir mirip dengan defenisi sederhana dari negara. Lionel Messi, Eric Cantona dan Zinedine Zidane mungkin (nantinya) akan menjadi pahlawan Barcelona, MU dan Real Madrid yang akan paling sering dikenang. Persis pahlawan-pahlawan di sebuah negara, ada yang sering disebut, ada yang tidak, bahkan ada yang dianggap - dalam bahasa kampung saya - mantimun bungkuak, masuk hitungan, tapi tak berbilang.

Negara memang tak sesederhana entitas klub bola. Dahulu, Max Weber pernah memberikan defenisi tentang negara. "Negara adalah lembaga sosial, kata Weber, yang memiliki hak monopoli untuk menggunakan senjata dan melakukan tindakan kekerasan (termasuk membunuh) secara absah, didalam wilayah kedaulatannya". Weber ingin memperjelas, ada perbedaan negara dengan kelompok preman jalanan ataupun komunitas beragama. Defenisi yang dikemukakan Weber ini, teramat jarang dikutip oleh buku-buku "negara". Oleh karena itu, ketika Papua bergolak, banyak yang beranggapan bahwa anarkisme yang terjadi merupakan letusan frustrasi emosional dari masyarakat jelata, yang rasa keadilannya dilukai secara bertubi-tubi. Lalu banyak diantara kita (mungkin juga termasuk saya) yang membela dan mengabsahkan kekerasan, tetapi tetap menerima dan mengukuhkan tuduhan umum terhadap rakyat jelata lokal sebagai tersangka pelaku kekerasan tersebut. Masyarakat umumnya sudah begitu terbiasa berfikir bahwa negara memiliki aparatur hukum dan keamanan yang tupoksi-nya untuk "mengamankan" masyarakat. Negara kemudian dikenali sebagai sosok yang paling bermusuhan dengan pencuri, maling, perampok, pemberontak dan kelompok-kelompok pengacau keamanan. Dalam pemahaman ini, negara pada akhirnya dipahami sebagai pihak yang dirugikan bila dalam masyarakat terjadi kekerasan dan kerusuhan. Karena itu pula, negara Iran misalnya, dikondisikan oleh negara super kuat sebagai negara "sumbu setan" kata George W. Bush, "teroris" menurut Hillary Clinton atawa "negara yang dipimpin teroris gila" versi seorang senator AS asal Texas. Mereka tersebut seakan-akan menganggap diri mereka dan dunia sebagai korban terorisme dan tak mungkin menjadi pelaku atau penyebab utama dari terorisme itu sendiri.

Ernest Renan, ilmuan-filosof asal Perancis pernah berkata : "Tindak kekerasan selalu menjadi benih terciptanya sebentuk kesatuan politik". Sejarah kolonial Hindia Belanda yang penuh dengan kekerasan tersebut telah mampu melahirkan teori Indonesia. Saya tak bisa membayangkan bila Belanda tak menjajah Indonesia dahulu, atau hanya fokus di pulau Jawa saja, maka bisa saja, saya harus menggunakan pasport bila ke ke pulau Jawa. Demikian juga dengan pertumpahan darah tahun 1965-1966 memberikan justifikasi berdirinya rezim Orde Baru. Pembunuhan pengikut komunisme dan "anak cucu ideologisnya" menjadi bagian kekerasan kemanusiaan yang dilakukan sebuah atas nama negara untuk membentuk sebuah justified kebersatuan dan kebersamaan. Demikian juga halnya dengan kekerasan demi kekerasan yang terjadi pada tahun 1998 (yang embrionya sudah mulai sebelum tahun ini), menjadi landasan berdirinya era yang (entah siapa memberinya) bernama reformasi. Apapun yang terjadi di Papua dan (mungkin nantinya) di daerah lainnya, sudah sepantasnya kita tak melupakan defenisi negara menurut Weber di atas.

Foto : cartoon.com

Kereta Api dan Parameter Budaya Bangsa

Oleh : Muhammad Ilham

Saya pernah membaca sebuah novel karangan sastrawan Perancis, kalau tak salah namanya Jean-Paul Sartre. Ia pernah menuliskan sebuah kalimat : "Bila ingin melihat bagaimana negara memberlakukan rakyatnya, lihatlah Kereta Api-nya. Bila ingin melihat budaya negara itu, lihatlah bagaimana masyarakatnya memperlakukan Kereta Api".



Kereta Api Cepat Metro Milik Dubai

Kereta Api Cepat TGV Milik Perancis

Kereta Api Cepat AVE Milik Spanyol

Kereta Api Shinkansen Milik Jepang

Kereta Api KTX Milik Korea

Kereta Api THSR Milik Taiwan

Kereta Api (saya tak tahu merk-nya) .... ada di Pakistan

Kereta Api (saya tak tahu merk-nya) .... ada di India

Nah, ini Indonesia punya ...hehehehe

Bukan karena tidak cinta tanah air, karena bagaimanapun juga, saya masuk dalam bagian itu. Tapi otokritik (termasuk mengkritik diri sendiri) dalam menggunakan alat transportasi umum, adalah bentuk kecintaan saya terhadap bangsa dan negara ini.

Sumber Photo : beberapa situs yang "dilayari" dalam /www.google.com/

Sabtu, 12 November 2011

Soekarno : "Mengapa Aku jadi Sasaran Kesalahpahaman ?"

Oleh : Muhammad Ilham

Walau kita bisa bersepakat mengatakan Soekarno itu flamboyan, tapi masa remajanya bukan dihiasi oleh pacaran. Soekarno mendekam di kamar dengan Das Kapital. Karena itulah mungkin, Soekarno selalu mengatakan : “Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa aku jadi sasaran dari demikian banyak salah pengertian" (Bambang Widjanarko, 1986: 77)


"Membincangan Soekarno, terkadang sering membuat kita salah duga", setidaknya Cyndi Adams pernah suatu masa berkata demikian. Dan Putra Sang Fajar ini seringkali kita identikkan dengan sesuatu yang sebenarnya tidak menjadi pilihannya. Dianggap sebagai "pelindung komunis", bahkan bagian dari komunis itu sendiri. Padahal, bila dilihat garis sejarah yang dilalui putra tersayang Ida Ayu Rai ini, karena kecintaan luar biasanya terhadap konsep "kesatuan" Indonesia, ia menjadi figur yang sadar sejarah. Sebuah kesadaran sejarah yang mengakui entitas pembentuk negara-bangsa yang dicintainya ini. Entitas riil dimana gerakan Islam, kalangan nasionalis dan kaum Marxis menjadi kontributor lahirnya bangsa "Sumpah Palapa" ini. Bagi Bung Karno, gerakan Islam, Nasionalis, dan kaum Marxis punya tujuan sama : melawan kapitalisme dan imperialisme. Pada tahun 1960, ia "proklamirkan" Nasakom. Tiga kekuatan politik yang diwakili oleh PNI, Nahdlatul Ulama sebagai kelompok agama, dan Partai Komunis Indonesia (PKI), "disatukannya". Sebuah fantasi yang sebenarnya telah dipupuk Sokarno sejak ia masih muda. Ia merangkul tiga kekuatan politik itu. “Nasakom adalah jiwa yang berisi tiga kekuatan tempat kami berdiri tegak.” kata Bung Karno. “Lagi pula, banyak orang komunis yang tulang belulangnya berserakan di kuburan tak dikenal di Digoel . Mereka pejuang kemerdekaan yang ulung,” Bung Karno meyakinkan.

Lebih dari itu, Bung Karno juga gandrung kepayang terhadap persatuan Indonesia. Baginya, persatuan Indonesia adalah conditio sine qua non – syarat mutlak – bagi tegak dan jayanya Indonesia. Hal ini ditegaskan dalam Pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Di hadapan anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), ia memaparkan lima sila yang disodorkannya sebagai dasar negera Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang beritikan tentang persatuan ia tempatkan di urutan pertama dari Pancasila. “Saya ingin menunjukan bahwa Indonesia adalah satu kesatuan yang memilputi semua orang yang tinggal dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya lantang. Soekarno mengakui menyerap ideologi dari berbagai sumber. Dari neneknya ia belajar kebudayaan Jawa dan Mistik. Ketika Soekarno masih berusia sekitar lima hingga enam tahun, ia punya kekuatan supranatural. “Kakek dan neneknya mengatakan, aku mempunyai kekuatan gaib,” kata Soekarno. Setiap kali ada tetangganya yang sakit, Soekarno kecil diminta neneknya untuk menyembuhkannya.


Soekarno dan Presiden Uni Sovyet, Nikita Kruschev

Didepan ibunda tercita, Ida Ayu Rai


Bersama-sama dengan Kepala Negara pencetus Gerakan Non-Blok
(Jawaharlal Nehru, Gamal Abdel Nasser dan Josep Broz Tito)


“Dengan lidahku aku menjilati bagian yang dirasakan sakit. Anehnya, orang sakit itu sembuh,” kata Soekarno. Kekuatan gaib Soekarno itu, mehilang saat dia menemukan kekuatan pidatonya di depan rakyat. Sejak saat itu, lidah sakti Bung Karno menyihir orang lewat pidatonya. Pada tahun 1928, seminggu sekali ia keliling kota Bandung berpidato. “Aku memekik-mekik kepada ratusan rakyat yang menyebut di tanah lapang,” katanya. Saat berpidato Soekarno juga mampu mensintesakan ilmu modern dengan kebudayaan rakyat. Hasilnya berupa pesan-pesan dan pengharapan yang hidup dapat diserap oleh rakyat kecil. “Inilah yang disebut orang dengan istilah Soekarnoisme,” kata Bung Karno. Ketampanan dan kecerdasannya dikagumi banyak. Tak pelak lagi, ada sebagain orang memitoskan Soekarno sebagai Ratu Adil dengan julukan Heru Cokro.Kehadiran Soekarno diyakini akan menyelamatkan bangsanya dari cengkaraman penjajah. Mitos Ratu Adil ini sempat disoal oleh Hakim kolonial Belanda yang mengadili Soekarno di Landraad, Bandung tahun 1930. Pada kesempatan itu, Soekarno memaparkan, soal mitos Ratu Adil itu bukanlah bikinannya. Bukan pulan ciptaan “kaum pergerakan.” “Tetapi, karena hati rakyat dalam menangis mengharap pertolongan,” kata Bung Karno.

Bung Karno, menganal politik sejak masih berusia belasan tahun, saat Sokarno belajar HBS (Sekolah Menengah zaman Belanda), di Surabaya. Pada waktu itu, ia indekos di rumah tokoh peregrakan nasional. Haji Omar said (HOS) Cokroaminto. Ia menggumi pula gaya pidato KH Ahmad Dahlan yang saat itu kerap berkunjung ke sana. “Dari Pak Cokro aku belajar Islam dan Sosialisme. Aku menghirup lebih banyak lagi persoalan politik dan nasionalisme dari kawannya yang datang ke rumah itu,” kata Soekarno. Pada waktu itu, tokoh pergerakan nasisonal seperti Douwes Dekker, Tjipto Mangukusumo, Sneevleit, dan Husni Thamrin, sering bertandang di rumah Cokroaminoto di Jalan Paneleh. Mereka mengadakan diskusi yang membahas berbagai persaolan bangsanya. Di rumah itu Soekarno juga bergaul dengan Alimin, Muso, dan Kartosuwiryo, pemuda indekosan di sana yang kemudian menjadi pelaku sejarah. Bahkan, Bung Karno menyebut Kartosuwriyo yang kemudian memimpin pemberontakan DI/TII ini sebagai teman makan dan temam mimpinya. “Pak Alimin dan Pak Muso sering bertindak sebagai guruku dalam politik,” kata Soekarno. Dua orang ini kemudian berlayar ke Rusia, belajar komunisme, lalu mendirikan PKI. Muso kembali ke tanah air beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan, dan memimpin pemberontakan PKI di Madiun 1948. Alimin tak terlalu terlibat. Muso tewas dalam pemberontakan itu. Alimin selamat. Bung Karno kerap membesuk Alimim yang sakit-sakitan di hari tuanya. Tapi sikap Bung Karno kepada mantan gurunya itu mendapat kecaman dari lawan politiknya. “Surat kabar pun menulis : ”Hee.. lihat Soekarno mengunjungi komunis,” ujar Bung Karno mengisahkan sikap pers. Bung Karno juga mengaku memperdalam persolaan nasionalisme dan ekonomi dari Sun Yat Sen pendiri Gerakan Nasionalis Cina yang menerbitkan buku San Min Chu-I. Ia menambah renungan dari Karl Marx dengan pandangan Thomas Jefferson, tokoh besar dalam sejarah Amerika Serikat. Ketika para remaja seusianya masih asyik berpacaran, Soekarno mendekam di kamar dengan Das Kapital. “Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa aku jadi sasaran dari demikian banyak salah pengertian.”

Bersama John Fritzgerald Kennedy


Dengan Chou En-Lai

Dengan Ernesto Che Guevarra



Dengan John F. Kennedy dan Gerald Ford


Referensi : Cyndi Adams (1981), Bambang W. (1986), Hedi Lugito (2001). Foto : www.google.picture.om/kaskus & kombes.com

Rabu, 09 November 2011

(Siapa) "Jenderal" Nagabonar, (Siapa) "Jenderal" Mariam : Selamat Hari Para Pahlawan !

Oleh : Muhammad Ilham

(Artikel ini telah dipublish/diterbitkan oleh Republika dalam Rubrik Opini, 12/11/2011)

Beberapa tahun lalu, Asvi Warman Adam, sejarawan urang awak tamatan EHESS Perancis ini suatu waktu pernah menjawab secara tegas pertanyaan yang terus bergelayut dalam memori historis masyarakat Sumatera Barat : “Mengapa Muhammad Natsir belum diberi label Pahlawan ?”. Asvi bilang, Muhammad Natsir merupakan tokoh historis panutan, tapi sayang, beliau memiliki kesalahan politis – “Muhammad Natsir seorang pemberontak”. Kemudian, ragam pendapat bermunculan. Asvi mengecilkan peranan Natsir dalam belantara sejarah Indonesia. Asvi tidak berangkat dari rasa empati dan seterusnya. Bahkan kita “menangisi” mengapa orang Sumatera Barat sekaliber Asvi – yang notabenenya memiliki otoritas keilmuan untuk “meluruskan” anggapan Natsir sebagai pemberontak tersebut – justru terkesan tidak membela. Asvi bahkan dianggap sebagai orang Minangkabau yang mengecilkan tokoh besar Minangkabau, “anak tak mau membesarkan ayah”. Kontroversi Asvi ini kemudian juga berlanjut ketika salah seorang jurnalis-birokrat juga menulis dan memberikan perbandingan : “Pahlawan : Mana yang lebih pantas Natsir dibandingkan Fatmawati yang hanya menjahit sang saka merah putih ?” Sebuah komparasi historis yang kehilangan konteks.

Saya teringat, ketika itu bulan September 2007. Pemprov Sumbar mengundang beberapa pakar sejarah (diantaranya Taufik Abdullah dan Anhar Gonggong). Gawe ketika itu – Seminar untuk “kembali” mengusulkan Natsir jadi pahlawan. “Kembali” karena usulan pertama ditolak. Dari awal dan akhir seminar, semua sepakat, kontribusi Natsir jauh lebih besar dari cacat politiknya. Salah satu otak pemberontakan PRRI yang dianggap sebagai cacat politik tersebut, pada prinsipnya bisa dilihat dari latar belakang penyebabnya, tentunya dengan diperkuat data-data sejarah. Ketika itu, saya dan mungkin semua yang hadir hampir sepakat, tak ada lagi alasan rasional untuk tetap menolak Natsir memberikan label pahlawan. Peluh, keringat, nilai-nilai luhur, kemanusiaannya dan nilai-nilai adiluhung yang diberikan oleh Natsir bagi “peradaban sejarah Indonesia” ini, rasanya jauh “menggunung” dibandingkan “onggokan kecil” cacat politiknya. Tapi nyatanya, “kembali” Natsir ditolak. Majalah Tempo bahkan dalam tahun ini mengeluarkan edisi khusus untuk mengenang Natsir. Natsir dijulang. Sabak dan air mata berlinangan, kita baca riwayat hidup Natsir sebagaimana air mata juga berlinangan ketika kita baca Riwayat Hidup Ali bin Abi Thalib karangan sejarawan Yahudi, George Jordac. Kita tak menyamakan Natsir dengan Ali, tapi setidaknya episode kehidupan mereka yang sangat kontributif bagi ummat manusia, tidak diapresiasi oleh sejarah. Indonesia (baca: pemerintah Indonesia) menganggap Natsir bukan Pahlawan. Beliau yang bersahaja ini tetap dianggap sebagai pemberontak. Tapi itu beberapa tahun lalu. Tiga tahun kemaren, putra Alahan Panjang ini, sudah didaulat masuk kelas "ksatria" bangsa .... Pahlawan. Walau teramat terlambat dan walau stigma pemberontak tetap (di)hidupkan. Tapi bagi saya, biarlah ini mengalir. "Le Historia me absolvera", kata Castro, si brewok Cuba itu. Biarlah sejarah yang menjadi penentu, siapa gading siapa pualam, siapa pahlawan dan siapa pecundang ..... atau, siapa Nagabonar dan siapa pula Mariam.

Setiap pemberontakan, apabila sudah ada komitmen untuk bersatu, apapun latar belakangnya, dianggap subversif. Itu diktum yang sudah menjadi hukum dalam dunia politik. Mengapa Kahar Muzakkar memberontak ? J. Soumokil melawan, Dewan Banteng karengkang, Buya Daud Beureuh marah pada Soekarno yang dianggapnya munafik, Hasan Tiro dan Ahmad Zaini serta Malik Mahmud mendirikan GAM dan masuk hutan Aceh dan lari ke Swedia dan seterusnya, Natsir serta Syafruddin Prawiranegara dan Soemitro Djojohadikusumo masuk dalam lingkaran “PRRI” dan seterusnya? Justifikasi historis tak diperlukan. Dalam dunia politik, mereka pemberontak. Kita tidak tahu, kapan gelar pahlawan akan diberikan kepada mereka. Mungkin nanti atau tidak sama sekali. Padahal, ada alasan-alasan “rasional” untuk setidaknya kita bisa memahami latar belakang mengapa mereka berseberangan dengan pemegang tampuk politik masanya. Mungkin “ketidakpuasan” atau alasan koreksi terhadap kebijakan pusat yang tak adil. Tapi sudahlah, jelang 17 Agustus dan 10 Nopember selalu ada Pahlawan-Pahlawan baru dalam “belantara politik Indonesia”. 10 November menjadi hari “keramat” untuk para Pahlawan. Selalu ada pahlawan yang “datang”, walaupun terkadang pahlawan itu (di)muncul(kan) belakangan. Benarkah kita butuh Pahlawan ? Tokoh-tokoh yang termasyhur, para pemimpin rakyat dan komandan pasukan ? Jika masa lampau dengan label kepahlawanan macam itu yang akan kita kenang, barangkali sejarah kita cukup selesai dengan serangkaian hidup orang-orang besar. Bukan itu sebenarnya yang kita butuhkan. Pahlawan adalah domain politik. Sejarah tidak pernah satu kalipun memberikan label pahlawan. Sejarah hanya mengenal “aktor sejarah”. Aktor-aktor tersebutlah, pada prinsipnya yang akan memberikan “warna” sejarah. Warna yang diterima pada masanya, tapi kemudian ditolak pada masa generasi setelah ia lewat. Dan mungkin, warna itu diterima secara bergairah kembali dua atau tiga generasi berikutnya.

Foto : librarything.com

Selasa, 08 November 2011

Di Footnote Sejarah : Syafruddin Prawiranegara dan Amir Syarifuddin

Oleh : Muhammad Ilham

(Artikel ini telah dipublish di rubrik Opini Harian Padang Ekspres/11 Nopember 2011)

Jelang tanggal 10 Nopember 2011, tanggal "keramat" dimana setiap tahun, bertambahlah jumlah pahlawan bangsa. Tahun ini, Indonesia secara resmi memiliki tujuh pahlawan baru. Mereka adalah almarhun Mr. Syafruddin Prawiranegara, almarhum DR. KH. Idam Chalid, almarhum Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal Buya Hamka. Beberapa tahun lalu, "sampai juga Muhammad Natsir jadi pahlawan", kata teman saya suatu waktu. Ia tampak letih - untuk mengatakan geram - mengapa "manusia besar" seumpama Natsir belum juga menjadi pahlawan Indonesia. Saya tak ambil pusing, mau diakui atau tidak, karena pahlawan itu bagi saya ada dua jenis, Pahlawan dan "Pahlawan" (tanda kutip). Tadi pagi, teman saya-pun gembira-riang, karena "dua jagoannya", Syafruddin Prawiranegara dan Buya Hamka masuk kelompok para pahlawan pula. (Sekali lagi), saya juga tak ambil pusing, karena mereka bertiga sudah menjadi pahlawan di mata saya. Kehidupan mereka penuh cahaya inspiratif yang membuat mata saya berbinar cerah membaca penggalan-penggalan hidupnya. Sesuatu yang hampir - untuk mengatakan tidak ada - figur seperti mereka. Terkhusus Syafruddin Prawiranegara yang boleh dikatakan "terlambat" diakui negara sebagai Pahlawan (bukan dalam tanda kutip), apa yang dilakukan pemerintahan SBY tahun ini, pada dasarnya sedang sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini muncul : "apakah pahlawan dari kalangan sipil harus melalui fit and propertest yang teramat sulit, dibandingkan kalangan militer ?". Padahal jasanya, sudah diakui secara akademik, walau bukan secara politik. Karena pengakuan politik, pada dasarnya lebih cenderung menyangkut yang namanya "selera". Selera itu bermacam tipe, ada yang rasa asin, manis, pahit bahkan ada koloborasi semua rasa, nano-nano istilahnya. Dan, Syafruddin Prawiranegara, sebagaimana halnya Muhammad Natsir, sudah diakui secara akademik,dengan pendekatan dan teori apapun jua (kecuali pendekatan politik).

"Mr. Syafruddin Prawiranegara adalah Presiden Indonesia yang terlupakan", demikian kata pembuka dari Sandra Malakiano. Mantan presenter Metro TV cantik dengan balutan jilbab yang juga istri pengamat politik Eep Saifullah Fatah ini menjadi pembawa acara peringatan 1 abad Syafruddin Prawiranegara (1911-2011) di Gedung Chandra Bank Indonesia (Kompas/29-3-2011). Tidakkah cukup sebagai "penyelamat Republik" membuat Syafruddin Prawiranegara yang (konon) telah diajukan hingga 2 kali kepada pemerintah untuk dijadikan sebagai pahlawan ? Tidakkah cukup, misalnya, track life beliau yang "luar biasa" sebagai anggota Badan Pekerja KNIP (1945), yang bertugas mempersiapkan garis besar haluan negara RI sebelum merdeka. Sebagai Menteri Keuangan pertama RI (1946), dan Menteri Kemakmuran (1947). Setelah PDRI yang diketuainya menyerahkan mandat, ia sempat diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri pada tahun 1949. Ia kembali diangkat menjadi Menkeu di kabinet Hatta pada Maret 1950 dan menelurkan kebijakan yang cukup terkenal saat itu, yakni pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas (Gunting Sjafruddin). Ia-lah juga Gubernur Bank Indonesia yang pertama tahun 1951. Tapi karena pilihan ideologis - bisa juga kita katakan nilai-nilai prinsipil politis yang dipegangnya - Syafruddin kemudian memilih bergabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang juga berbasis di Sumatera, sebuah gerakan untuk menentang kebijakan presiden Soekarno. Gara-gara sikapnya yang berlawanan tersebut, ia sempat dipenjarakan oleh Soekarno tanpa proses pengadilan. Dan sikap "subversif"nya ini, jasa-jasa inspiratif Syafruddin Prawiranegara seakan-akan hilang. Kehidupannya seakan-akan dipenggal pada PRRI saja (walau masalah PRRI bisa diperdebatkan logika politiknya). Akumulasi kehidupan beliau yang mencerahkan, dedikatif dan kontributif tersebut dianggap hilang karena penggalan pendek waktu yang bernama PRRI - pemberontakan-subversif.

Mayoritas Pahlawan berasal dari kalangan militer. Taman Makam Pahlawan Kalibata, misalnya, "dihuni" oleh lebih kurang sekitar 7.000 orang tokoh. Enam ribu diantaranya, lebih kurang, berasal dari kalangan militer. Ini-pun didominasi Angkatan Darat. Dari kalangan sipil hanya berjumlah 1/7-nya. Di antara 1/7 dari kalangan sipil ini, hanya 23 orang yang merupakan Pahlawan Nasional, diantaranya Haji Agus Salim. Di Taman Pahlawan Kalibata ini pula, bersemayam pahlawan "tercepat", yaitu Jenderal Basuki Rahmad (yang kala saya belajar PSPB waktu SD dahulu dianggap sebagai orang yang "menggertak" Sukarno mengeluarkan Supersemar bersama-sama dengan Jenderal Amirmachmud dan Jenderal M. Yusuf). Jenderal Basuki Rahmad dinyatakan Soeharto sebagai pahlawan pada hari kematiannya. Pada era Demokrasi Terpimpin, 36 orang dari 49 pahlawan berasal dari ernis Jawa. Pada masa Orde Baru, dua pahlawan yang "terdorong" diberi label pahlawan oleh rezim Soekarno yaitu Alimin dan Tan Malaka, justru "dicekal". Nama mereka berdua yang dianggap tokoh "kiri" ini tidak ada dalam Buku Riwayat Hidup Pahlawan Nasional yang dipergunakan di sekolah-sekolah. Dan biasanya, para pahlawan yang sering terlihat gagah dalam buku ini adalah pahlawan-pahlawan dengan baju-baju militer (khususnya Angkatan Darat).

Mengapa banyak militer yang menjadi pahlawan ? Mengapa yang banyak "menghuni" Taman Makam Pahlawan selalu didominasi kalangan militer ? Jawabannya terdapat pada defenisi pahlawan itu sendiri sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 33 tahun 1964. Pahlawan, menurut Peraturan Presiden ini, adalah : (a). warga Negara RI yang gugur dalam perjuangan - yang bermutu - dalam membela bangsa dan negara. (b). Warga Negara RI yang berjasa membela bangsa dan negara yang dalam riwayat hidupnya tidak pernah ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai perjuangannya. Kriteria pertama, (pasti) mengacu pada militer, yang kedua pada kalangan sipil. Peluang militer jadi pahlawan lebih banyak seperti yang dikategorisasikan oleh defenisi diatas. Sedangkan bagi kalangan sipil, masih diganjal dengan ketentuan "tidak ternoda", yang ditujukan pada tokoh-tokoh yang terlibat dalam beberapa pemberontakan seumpama PRRI/Permesta bdan lain-lain. Jadi jangan heran, bila Muhammad Natsir yang "curiculum vitae"nya melebihi cum untuk menjadi seorang pahlawan, justru "terseok-seok" mencapai gelar pahlawan tersebut. Itu-pun baru diperolehnya setelah pernah gagal diusulkan oleh banyak komunitas masyarakat. Bandingkan dengan Jenderal Basuki Rahmad diatas, yang tak sampai satu hari memperoleh gelar pahlawan setelah ia meninggal, yang hanya dikenang sebagai "bodyguard" Soeharto dalam mengusahakan Supersemar yang debatable hingga hari ini tersebut. Bandingkan dengan Syafruddin Prawiranegara, dianggap terlambat diakui sebagai pahlawan. Padahal PDRI yang mengambil lokasi di "somewhere in the jungle" di daerah Sumatera Barat tersebut dianggap sebagai "penyelemat Republik" sehingga RI tetap eksis walaupun Soekarno-Hatta telah ditangkap Belanda di Yogyakarta. Syafruddin Prawiranegara menjadi Ketua PDRI dan kabinetnya terdiri dari beberapa orang menteri. Meskipun istilah yang digunakan kala itu adalah Ketua, tapi kedudukan dan fungsinya sama dengan Presiden. Karena ini pulalah, sejarawan Asvi warman Adam dan beberapa sejarawan lainnya menganggap bahwa Susilo Bambang Yudhoyono bukan Presiden RI yang ke-6, tapi yang ke-8 (Soekarno, Syafruddin Prawiranegara, Mr. Asaat, Soeharto, Bj. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan SBY). Persyaratan untuk memperoleh "kapling" di Taman Makam Pahlawan, selain dari Pahlawan Nasional, adalah orang yang pernah mendapatkan tanda jasa seperti Bintang Republik Indonesia, Bintang Mahaputra, Bintang Gerilya, Bintang Utama, Bintang Kartika Eka Paksi (Angkatan Darat), Bintang Swa Bhuana (Angkatan Udara), Bintang Jalasena Utama (Angkatan Laut) dan Bintang Bhayangkara (Polisi). Selain faktor politik, tersebab inilah, daftar "penghuni" Taman Makam Pahlawan didominasi militer.

(Hanya) Footnote Sejarah :

Hari ini saya menjadi ingat dengan Amir Syarifuddin. Sosok yang kuat mempertahankan prinsip-ideologinya ini hanya menjadi "footnote sejarah". Bila melihat album, mata kita akan terfokus lebih dulu kepada tokoh yang kita kenal baik. Setiap provinsi merasa mesti memiliki pahlawan. Tidak cukup daerah tingkat I, kabupaten pun berlomba mengusulkan pahlawan mereka. Ini terutama terjadi pada masa akhir Orde Baru. Setelah era reformasi, perlombaan ini menyurut. Pahlawan yang berjumlah seratusan orang itu seakan memiliki kelas. Ada yang sering disebut, ada pula yang tak pernah disinggung dalam pidato ataupun pelajaran sekolah. Amir Syarifuddin, termasuk kategori yang tak disebut, mungkin sudah dilupakan. Kalau di kota Padang, kala kita bertanya secara acak pada mahasiswa (terutama IAIN), "kenalkah kalian dengan Amir Syarifuddin ?", maka mereka akan menjawab, "kenal, mantan Rektor IAIN Padang dan Ketua MUI Sumbar !". Kebetulan IAIN Padang dan MUI Sumbar pernah dipimpin "sosok genius" bernama Prof. Amir Syarifuddin. Tapi bukan Amir Syarifuddin yang rektor atau Ketua MUI ini. Atau paling banter, bagi mahasiswa yang (sedikit) melek politik akan menjawab: Amir Syarifuddin Menteri Hukum dan HAM hasil reshuffle kabinet kemaren. Eh ... salah, itu Amir Syamsuddin. Amir Syarifuddin yang "kita ceritakan" adalah ia yang "entah berada dimana" dalam belantara sejarah anak bangsa (baca : sejarah formal).

Amir berasal dari keluarga Batak Islam bercampur Kristen. Kakeknya, Ephraim, adalah seorang jaksa beragama Kristen. Ayahnya, Soripada, juga menjadi jaksa dan beralih ke agama Islam ketika menikah dengan seorang gadis Batak muslim. Amir Sjarifuddin Harahap merupakan Perdana Menteri RI yang dieksekusi bangsanya sendiri tanpa proses hukum. Pada 19 Desember 1948 tengah malam di Desa Ngaliyan, Solo, sebanyak 20 orang penduduk desa disuruh tentara menggali lubang sedalam 1,7 meter. Amir - berpiyama putih-biru, bercelana panjang warna hijau dan membawa buntelan sarung - bertanya kepada kapten yang ada di situ, "Saya ini mau diapakan?" Amir Sjarifuddin bersama 10 orang lainnya ditembak satu per satu. Konon, menjelang ia dieksekusi, Amir Syarifuddin masih sempat untuk terus membaca buku. Tanggalnya masih dipersoalkan apakah 27 Mei atau 27 April, tapi yang jelas ia lahir seabad silam di Medan. Amir Sjarifuddin (dan Sjahrir) adalah tokoh yang berjasa mempertahankan eksistensi negara Indonesia pada awal kemerdekaan. Pada 1945 sampai Januari 1948 keduanya menjadi perdana menteri. Mereka diangkat untuk menangkis tuduhan Belanda bahwa pemerintah Indonesia adalah boneka Tokyo karena Soekarno-Hatta berkolaborasi dengan "saudara tua dari Negeri Matahari Terbit". Sjahrir dan Amir berjuang di bawah tanah semasa pendudukan Jepang. Ir Setiadi Reksoprojo, 86 tahun, Menteri Penerangan dalam kabinet Amir Sjarifuddin pada 1947, memberikan kesaksian 13 halaman tulisan tangan kepada saya yang menjelaskan jasa Amir dalam mengefektifkan angkatan bersenjata Indonesia. Sejak November 1945 sampai Januari 1948, Amir Sjarifuddin berturut-turut menjadi Menteri Keamanan Rakyat/Menteri Pertahanan. Saat itu Indonesia berhasil membantu pemulangan ribuan pasukan Jepang dan internir Belanda.

Pada awal masa kemerdekaan, unsur tentara terdiri dari berbagai kelompok terlatih (eks didikan Belanda/Jepang) dan laskar. Dalam masa transisi, menurut Amir diperlukan Tentara Masyarakat. Tentara itu juga butuh pendidikan politik. Pandangan ini bertentangan dengan Hatta, yang melakukan rasionalisasi tentara dari 400 ribu menjadi 60 ribu. Perbedaan kebijakan itu antara lain yang di lapangan memicu timbulnya Peristiwa Madiun 1948, tempat Amir menjadi salah seorang korbannya. Jenjang karier Amir menarik karena berkebalikan dengan yang sering terjadi sekarang. Ia ditahan Jepang dan masih mendekam di penjara Malang sampai 1 Oktober 1945 sebelum dibebaskan dan diberangkatkan ke Jakarta untuk dilantik menjadi Menteri Penerangan. Amir sempat menempuh pendidikan sekolah menengah di Negeri Belanda mengikuti jejak saudara sepupunya, T.S.G Mulia. Pada 1931 ia aktif dalam Partai Indonesia (Partindo), yang didirikan Bung Karno. Kemudian ketika tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir diasingkan Belanda dari Pulau Jawa, Amir menggagas Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Organisasi ini cukup maju dalam mendefinisikan kewarganegaraan berdasarkan kediaman (tempat lahir), bukan ras. Rekan Amir dalam organisasi ini adalah Dr A.K. Gani, yang tahun ini diusulkan sebagai pahlawan nasional. Pada 1938-1941 Amir menjadi redaktur majalah sastra Poedjangga Baroe. Selanjutnya, Amir juga aktif pada GAPI (Gabungan Politik Indonesia) bersama M.H. Thamrin.

Amir Sjarifuddin adalah seorang pemimpin yang memiliki prinsip seperti dikisahkan Fransisca Fanggidae (82 tahun, kini eksil di Belanda), yang ikut dalam pelarian pada 1948. Di suatu desa, anak buahnya mengambil buah kelapa milik warga, Amir mengeluar kan tembakan peringatan dan memarahi mereka. "Tentara harus melayani rakyat, bukan mengambil kepunyaan rakyat," ujarnya. Dari empat tokoh nasional yang menduduki jabatan tertinggi (presiden, wakil presiden, dan perdana menteri) yang pertama di Indonesia, tiga orang (Soekarno, Hatta, dan Sjahrir) menjadi pahlawan nasional. Sedangkan yang satu lagi, jangankan diberi bintang jasa, biografinya pun tidak boleh beredar semasa Orde Baru. Pada 1984 penerbit Sinar Harapan sempat mencetak tesis Frederick Djara Wellem di Sekolah Tinggi Theologi Jakarta berjudul "Amir Sjarifuddin, Pergumulan Imannya dalam Perjuangan Kemerdekaan". Namun, buku tersebut terpaksa dimusnahkan karena Jaksa Agung tidak berkenan. Dalam sejarah Indonesia, Amir Sjarifuddin tak hanya dibuang dan dilupakan, tapi juga tidak diakui. Kalaupun ada dalam perbincangan, ia berada di footnote !!

Referensi : Asvi Warman Adam (2010). Foto : www.google.picture.com/cintaindonesia/html

Akhir Saddam Hussein, Osama bin Laden dan Moammar Khaddafi

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Peristiwa peledakan gedung WTC (World Trade Center atau Menara Kembar), 11 September 2001, pelakunya sering dihubungkan dengan orang yang beragama Islam (Muslim). Kini, citra Muslim di mata dunia identik dengan kekejaman, kebencian, kekerasan, dan kekacauan. Apalagi para pemimpin Muslim (orang yang beragama Islam) kerap dibenci, diejek, dikutuk, dan dituduh diktator serta otoriter. Seperti dicontohkan Akbar S Ahmed, antropolog Muslim dan dosen di Amerika Serikat, para pemimpin Muslim kerap dikaitkan dengan tokoh-tokoh jahat dalam karya Walt Disney; misalnya nama Khomeini (tokoh revolusi Iran) diubah menjadi "Kho Maniac (gila)", Kadafi (presiden Libya) menjadi "Wacky (aneh) Kaddafi", dan Arafat (presiden otoritas Palestina dan pemimpin PLO) menjadi "Yucky (jijik) Arafat". Semua itu, menjadi alasan (dalih) pembenaran buat negara Barat; Amerika, Inggris, Perancis, Itali, dan NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau OTAN dalam bahasa Prancis (l'Organisation du Traite de l'Atlantique Nord) untuk menyerang (invansi militer) negara yang mayoritas berpenduduk Muslim, seperti Afganistan, Irak, dan Libya. Kendatipun, misalnya Barack Hussein Obama, setelah dilantik menjadi presiden Amerika Serikat (AS) dan berkunjung ke Mesir serta berpidato secara empatik mengenai Islam dan kaum Muslim. Perbuatan Obama terhadap pemimpin Islam, seperti membuang jasad Osama bin Laden ke laut, rencana Amerika memveto hak Palestina menjadi anggota PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), dan terakhir keterlibatan Amerika dan NATO mendukung oposisi Libya, yang akhirnya membunuh presiden Muammar Khadafi.

Menunjukkan dan menjadi bukti, tindakan Obama tidak sesuai dengan isi pidatonya waktu di Mesir, tahun 2009. Perlakuan seperti itu adalah sikap zalim (melampaui batas) dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh seorang presiden dan sekutunya, terutama jika ditilik dari pengamatan (cara pandang) seorang Muslim. Sewaktu runtuhnya gedung WTC, beberapa televisi Barat memberitakan sekelompok Muslim di beberapa negara Muslim bergembira dan bersorak-sorai menyaksikan gendung WTC roboh. Oleh banyak pengamat dan analis Barat, kegembiraan sebagian masyarakat Muslim itu disimpulkan sebagai bahan (argumentasi) bahwa Islam terorisme dan benci Barat; Amerika. Penulis Amerika lain, semisal Robert Spencer mengatakan pemerintahan dan tokoh Muslim tidak mengecam peristiwa peledakan gedung WTC menjadi bukti lain bahwa doktrin Islam sarat dengan kekerasan. Lalu, apa yang terjadi di Barat, Amerika dan Sekutunya, saat Saddam Hussein (mantan presiden Irak), Osama bin Laden (Pemimpin Al-Qaida), dan Muammar Kadafi (presiden Libya) dibunuh? Banyak warga negara Barat (Amerika dan sekutunya) menyambut kematian para pemimpin yang beragama Islam itu dengan gembira serta menenteng bendera negaranya (Barat) sebagai simbol kemenangan. Tidak ketinggalan, para tokoh dunia pun memberi komentar lega setelah kematian tiga pemimpin Muslim (Saddam, Osama, dan Khadafi) itu, khususnya Khadafi. Presiden AS Barack Obama mengatakan, "Peristiwa tewasnya Khadafi menunjukkan betapa hebatnya serangan yang dilakukan NATO".

Menlu AS, Hillary Clinton, girang. "Wow..! Khadafi ditangkap". Kata Hillary, sesaat membaca pesan singkat melalui ponselnya, Kamis (20/10/2011). "Libya bisa bergerak maju dari permasalahan jika Muammar Khadafi dibunuh," tutur Hillary. Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon berkomentar, "Hal ini, awal Libya yang baru". Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy menilai, "Kematian pemimpin otoriter Khadafi membuka lembaran baru bagi rakyat Libya dan menandakan dimulainya proses demokrasi". Presiden Rusia, Dmitry Medvedev juga berkomentar, "Rakyat Libya harus menentukan nasib mereka sendiri pasca Khadafi". Menteri Luar Negeri Italia, Franco Frattini, mengatakan, "Jika benar Khadafi tewas, ini kemenangan besar bagi rakyat Libya". Negara Barat, terutama NATO benar-benar bersatu, satu kata untuk memusuhi, mengecam, bahkan membunuh orang yang dianggap menjadi musuh bersama (sekutu) mereka. Bahkan, komentar dan kutukan (perlakuan) mereka terhadap yang sudah mati, tetap sama. Hanya Presiden Venezuela, Hugo Chavez, sahabat Khadafi yang tetap setia dan menyatakan kemarahannya atas kematian pemimpin Libya, Muammar Khadafi. Ia berpendapat, Khadafi adalah seorang pejuang yang rela berkorban sampai titik darah penghabisan. "Mereka (NATO) membunuh Khadafi. Kita akan mengingat seluruh kehidupan Khadafi sebagai seorang pejuang besar, seorang revolusioner dan martir," kata Chavez. Dan Uni Afrika yang selama ini akrab dengan Khadafi memilih bungkam atau tidak berkomentar ihwal tewasnya Khadafi.

Sekarang, bagaimana tanggapan kita, sebagai Muslim saat menyaksikan, mendengar, atau membaca di surat kabar tentang kematian para pemimpin Muslim, seperti Saddam Hussein, Osama bin Laden, dan Muammar Khadafi yang tidak manusiawi? Kita sering memilih sikap diam, tidak berkomentar, atau menyimpannya dalam hati. Sebagaimana halnya yang ditunjukkan sebagian besar para pemimpin/kepala negara Muslim, memilih bungkam, tidak berkomentar. Mungkin, karena ada kekhawatiran jika menunjukkan empati terhadap kematian Saddam, Osama, dan Kadafi, takut dicap otoriter dan pro (memihak) fundamentalisme atau terorisme. Singkatnya, kita waswas dicap musuh Barat dan antidemokrasi. Terlepas, dari setuju atau tidaknya kita dengan sistem/pola/gaya kepemimpinan Saddam Hussein (mantan presiden Irak), Osama bin Laden (pimpinan organisasi Al-Qaida), dan Muammar Khadafi (presiden Libya). Mestinya, sebagai orang Muslim (sesama Muslim), para pemimpin Muslim tetap harus dikoreksi dan dinasihati saat khilaf, sebagaimana dianjurkan dalam Al-Quran, Surah Al-Asri; saling menasihati dalam kebenaran. Atau kalau mereka terbukti bersalah, mesti melalui proses hukum yang adil, bukan dengan jalan membunuh secara brutal.

Malang, nasib tiga pemimpin (Saddam, Osama, dan Khadafi) diperlakukan secara sewenang-wenang, tanpa melalui jalur hukum yang berkeadilan. Bukan hanya kematian mereka yang tragis, melainkan juga cara memperlakukan jasad (tubuh) mereka yang sudah tidak bernyawa. Nyawa Saddam Hussein misalnya berakhir di tiang gantungan setelah mengikuti proses hukum yang cacat dan dikendalikan pihak pemerintah Irak dan sekutunya. Lalu, Osama bin Laden diciduk dan dibunuh pada malam hari di Pakistan, melalui operasi rahasia militer (Navy SEAL) Amerika. Anehnya, jasad Osama dibuang ke laut karena menurut pihak Amerika, tidak ada negara yang bersedia menerima pemakaman Osama di darat, termasuk Arab Saudi, asal negara Osama. Terkini, Muammar Khadafi setelah ditangkap, ditembak, dipukuli, bahkan dikeroyok tentara oposisi. Padahal, sebelum kematiaannya, Khadafi memohon pada para penangkapnya, "Anakku, tolong jangan bunuh aku"!. Sebagaimana Khadafi menyurati Barack Obama, dengan sebutan, "Anakku"! Ternyata, permintaan presiden yang memerintah Libya selama empat puluh dua tahun itu tidak digubris oleh anak bangsanya sendiri, apalagi Obama. Khadafi telah tewas. Kini, tinggal pemakamannya pada suatu daerah (tempat) yang dirahasiakan. Haruskah, begitu cara kita memperlakukan para pemimpin Muslim atau bangsa, bagaimanapun, sedikit–banyaknya, mereka telah berupaya membuat sejarah bangsanya yang berdaulat dan berkelanjutan?. Bukankah membunuh mereka secara keji atau memberi izin pihak lain ikut campur dalam urusan negara kita, justru kian menunjukkan atau mempertontonkan pada dunia betapa buruknya potret masyarakat kita sebagai Muslim?

(c) detik.com/Ahmad Arif

Minggu, 06 November 2011

Isu Nuklir dalam Konteks Iran vs Israel

Oleh : Muhammad Ilham

(Artikel ini telah dipublish/diterbitkan di Detik.com/2 Nopember 2011)

"Israel akan menyerang Iran, " demikian headline beberapa surat kabar di berbagai belahan dunia belakangan ini. Dan Amerika Serikat yang lagi "berduka" karena diterimanya Palestina menjadi anggota UNESCO, mendukung keinginan pemerintah Isreal dibawah PM. Benjamin Netanyahu tersebut, walau tentunya tidak melalui pernyataan resmi dari "anak menteng" Obama. Namun dunia mafhum, bahkan teramat paham, Amerika Serikat-lah yang memberikan garansi besar untuk menyerang negara kaum Mullah itu. Bagaimanapun juga, Amerika Serikat memiliki kepentingan politis dan ekonomis di Timur Tengah. Dan hanya Israel yang dianggap loyalist Amerika Serikat di kawasan ini (demikian juga sebaliknya, Amerika Serikat juga loyalist Israel). Hubungan dua negara ini bukan hanya bersifat simbiosis mutualisme ekonomis dan politis semata, tapi sudah menjadi hubungan "genetik-politik". Beda dengan beberapa negara Kesultanan kaya Timur Tengah, seperti Arab Saudi yang juga (dianggap) sebagai loyalis Amerika Serikat. Hubungan mereka - dalam konteks perspektif rasional politik - hanyalah hubungan yang bersifat pragmatisme (ekonomi) politik. "Minyak" dan "tanah" untuk pangkalan senjata, tak lebih tak kurang. Dan, para Sultan di Timur Tengah berkepentingan untuk menjaga kekuasaan-absolut mereka. Sebuah contradictio-interminis dengan semangat demokrasi (semu) yang diusung-usung Amerika Serikat di bumi nan bulat ini. Pada siapa lagi para Sultan ini "bersandar" kalau bukan pada Obama ?.

Jadi tidaklah mengherankan apabila Amerika Serikat (dan NATO, tentunya, plus PBB) menutup mata ketika tentara Arab Saudi membombardir pengunjuk rasa yang ingin menjatuhkan kekuasaan Sultan Al-Khalifa di Bahrain. Sultan Arab Saudi menyediakan tempat (dulunya) untuk menyerang "saudara muslimnya", Saddam Hussein. Tak juga mengherankan pula, belakangan terdapat bocoran kawat diplomatik Inggris bahwa pemerintah Arab Saudi juga mendukung rencana serangan Israel ke Iran, bahkan mereka bersedia menyediakan tempat di negeri asal Rasulullah SAW. ini untuk menyerang Iran, sebuah negera paling demokratis di kawasan Timur Tengah selain Israel. Negara-negara lain di kawasan ini (hingga sekarang) masih ada yang mengenal sistem politik, "wanita tidak boleh jadi politisi", Iran justru pernah menempatkan wanita menjadi wakil Presiden mereka. Ketika negara-negara di daerah kaya minyak ini masih mengenal sistem politik "tanpa pemilu", Iran justru memiliki dinamika pemilu yang teramat menarik dan dinamis. Tapi mengapa semua negara yang banyak orang mengatakan sebagai negara-negara maju, justru menganggap Iran sebagai negara "orang gila" (seperti yang diutarakan Senator AS dari Texas), negara yang dipimpin oleh orang-orang despot, dan ....... "negara setan" ucap mantan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush.

Lalu mengapa Iran ? ..... Bila Khaddafi pantas untuk diturunkan oleh NATO (tentunya dibawah pimpinan Amerika Serikat dan justifikasi politik dari PBB) dikarenakan putra dari suku Tuareq ini memimpin negara kaya minyak, dan ..... tak mau dikontrol negara-negara yang (katanya) maju tersebut. Maka Iran, sejak Syah Reza Pahlevi dijatuhkan tahun 1979 dalam Revolusi Islam Islam dibawah pimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini, menjadi negara Timur Tengah yang selalu menegaskan posisi mereka secara jelas : Israel dan "keturunan-keturunannya" adalah musuh mereka. Titik. Sejak Iran dipimpin oleh Presiden Bani Sadr, Ali Raja'i, Rafsanjani, Khatami hingga Mahmoud Ahmadinedjad, posisi jelas-tegas tersebut tak pernah beranjak. Tentunya, hal ini membuat Israel dan Amerika Serikat menjadi "paranoid". Iran bukanlah Suriah/Syiria yang juga "karengkang", tapi negara pimpinan klan Al-Assad itu hanyalah negara yang tidak kaya dan (sekaligus) tidak pintar. Libanon ? .... sudah diporakporandakan Israel. Apalagi Mesir yang setiap tahun masih menjadi pelanggan setia IMF dan subsidi Amerika Serikat. Aljazair dan Tunisia ? Mereka masih disibukkan mencari format terbaik sistem politik negara mereka. Dan toh pun, mereka tak kaya amat. Minyak tidak ditakdirkan "singgah" di negara belahan atas benua Afrika ini. Negara-negara Teluk-kaya minyak lainnya seperti Oman, UEA, Kuwait dan Bahrain (tentunya dibawah komando Arab Saudi), hanyalah negara-negara "boneka barbie" Anglo-Saxon. Tapi Iran, beda. Mereka, seperti halnya Libya, juga kaya dengan minyak. Orang-orang Iran, memiliki "trah-genetik" lain dibandingkan negara Arab. Mereka keturunan Persia. Peradaban mereka dahulunya agung. Bahkan sejarah mencatat, Persia merupakan satu dari dua negara adikuasa pada zamannya, selain Romawi. Sehingga tidaklah mengherankan apabila Iran memiliki kebanggaan historis dan referensi sendiri, (serta) diperkaya dengan militansi teologis Syi'ah yang menggetarkan dalam sejarah. Buktinya, Saddam Hussein terpaksa mengeluarkan "bendera putih" dalam Perang 10 tahun Irak-Iran. Padahal Iran pada waktu itu masih sedang melakukan konsolidasi internal pasca kejatuhan Syah Reza Pahlevi. Kekayaan historis dan militansi inilah yang kemudian melahirkan kemandirian untuk tidak mau diinjak-injak negara lain. Dengan ditopang sumber daya manusia Iran yang masuk kategori pintar-pintar, Iran tumbuh dan berkembang menjadi negara yang kuat dan memiliki pengaruh besar di kawasan Timur Tengah. Intelektual mereka merupakan intelektual "papan atas". Saintis yang mereka miliki, masuk kategori nobel. Bahkan secara berseloroh, seorang teman saya pernah mengatakan : "bila tak ada Iran, tentunya dunia Islam modern sekarang masih dianggap negara-negara Barat sedang belajar alif ba ta". Karena itulah mungkin, Iran memiliki kepercayaan diri membangun kekuatan militer mereka melalui putra-putra terbaik mereka sendiri (dengan tentunya diback up Rusia). Proggres kekuatan militer Iran sekarang , menurut reuters, begitu menakutkan Amerika Serikat, terutama Israel. Ditambah lagi dengan proyek pengembangkan nuklir yang mereka lakukan, membuat Amerika Serikat dan Israel merasa perlu untuk menyerang instalasi nuklir Iran, dengan dalih "untuk perdamaian dunia". Ditambah tentunya dengan diktum : "yang boleh memiliki nuklir itu hanyalah kami, bukan anda".





Berikut ini saya kutip beberapa laporan surat kabar "teras dunia" tentang rencana Israel menyerang Iran :



Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak sedang mencoba meyakinkan kabinet mereka untuk mendukung serangan atas Iran. Surat kabar Israel, Haaretz memberitakan hal itu dengan mengutip seorang pejabat senior Israel yang dirahasiakan identitasnya. Menurut pejabat tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (2/11/2011), Netanyahu tengah berupaya untuk meraih mayoritas dukungan atas serangan terhadap Iran. Namun saat ini sejumlah menteri Israel terus menentang rencana serangan tersebut. Menurut Haaretz, Netanyahu telah berhasil meyakinkan Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman untuk mendukung serangan yang dimaksudkan untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran tersebut. Namun sejumlah menteri lainnya tetap menentang keras rencana tersebut. Bahkan sebagian lebih memilih agar serangan ke Iran itu dilakukan oleh Amerika Serikat, bukan Israel. Di antara mereka yang terus menentang serangan itu adalah Menteri Dalam Negeri Israel Eli Yishai, Menteri Intelijen Dan Meridor, Menteri Urusan Strategis Moshe Yaalon yang dekat dengan Netanyahu serta Menteri Keuangan Yuval Steinitz. Berita Haaretz ini muncul di tengah merebaknya kembali spekulasi mengenai rencana Israel untuk menyerang Iran. Pada Senin, 31 Oktober lalu, Ehud Barak membantah pemberitaan media yang menyebutkan dirinya dan Netanyahu telah memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap Iran meski mendapat penolakan dari kepala-kepala intelijen dan militer. Pemerintah Israel telah berulang kali mengingatkan bahwa semua opsi masih tetap mungkin jika menyangkut program nuklir Iran. Israel dan sebagian komunitas internasional yakin bahwa Iran diam-diam ingin mengembangka senjata nuklir lewat program nuklirnya. Namun pemerintah Iran bersikeras membantahnya dan menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai, yakni sebagai pembangkit energi untuk rakyat.

Spekulasi serangan Israel ke Iran kian merebak. Namun sikap rakyat Israel terpecah soal apakah negara Yahudi itu harus melancarkan serangan ke Iran untuk menghancurkan program nuklirnya. Dalam survei yang dipublikasikan harian Israel, Haaretz seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (3/11/2011), sebanyak 41 persen responden mendukung serangan tersebut. Angka tersebut berbeda tipis dengan jumlah warga yang menentang serangan ke Iran, yakni sebanyak 39 persen. Survei tersebut menunjukkan bahwa opini warga Israel secara statistik terbagi rata, meskipun sebanyak 20 persen responden mengatakan mereka masih belum memutuskan. Polling tersebut mensurvei 495 orang. Polling itu dilakukan di tengah meningkatnya spekulasi di Israel mengenai kemungkinan serangan militer Israel ke fasilitas nuklir Iran. Sebelumnya pada Rabu, 2 November kemarin, media Haaretz memberitakan bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Ehud Barak tengah menggalang dukungan dari kabinet Israel untuk melancarkan serangan ke Iran.

Sementara itu, saling tuduh antara pemerintah Iran dan Amerika Serikat terus terjadi. Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengaku dirinya punya 100 "dokumen tak terbantahkan" yang membuktikan AS berada di balik aksi-aksi teroris di Iran dan negara-negara lainnya di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan Khamenei setelah Washington menuduh Teheran terlibat dalam plot untuk membunuh Dubes Arab Saudi untuk AS. Tuduhan itu telah dibantah pemerintah Iran. "Kami memiliki dokumen-dokumen yang tak terbantahkan yang menunjukkan Amerika berada di balik tirai teror di Iran dan wilayah ini," kata Khamenei seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (3/11/2011). "Dengan menyampaikan 100 dokumen itu, kami akan mempermalukan Amerika di dunia," katanya lagi. Namun Khamenei tidak menyebutkan kapan dirinya akan menyampaikan dokumen-dokumen tersebut dan kepada siapa dokumen itu akan diserahkan. Bulan lalu, pemerintah AS mengumumkan telah membongkar plot dua warga Iran yang terkait pasukan elit Iran, Garda Revolusioner, guna membunuh Dubes Saudi dengan menaruh bom di sebuah restoran di Washington, AS. Pemerintah Iran membantah keterlibatan dalam plot itu. "Amerika mencoba menekan Iran dan menyelamatkan dirinya dari gerakan Wall Street dan masalah-masalahnya dengan skenario teroris tak masuk akal tersebut," cetus Khamenei dalam pernyataan yang disiarkan televisi. "Mereka ingin menuduh para prajurit dan pejuang paling mulia di Iran dengan terorisme," kata Khamenei.



Last month, the United States said it had uncovered a plot by two men with links to Iran's Revolutionary Guards to assassinate the Saudi envoy by planting a bomb in a Washington restaurant. The Iranian government denies any involvement. "America tried to exert pressure on Iran and rescue itself from the Wall Street movement and its problems by the absurd terrorist scenario," Khamenei said during a televised address to an audience of students. "They want to accuse the most virtuous warriors and fighters in Iran of terrorism. "The course of events have changed in the world and by the grace of God the fight of virtue, with the pioneering of Iran, has started against the pharaoh of hegemony and will continue to its final collapse." Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland mengatakan, tuduhan Khamenei itu tampaknya sebagai reaksi atas kuatnya kasus plot pembunuhan Dubes Saudi. "Saya cuma akan menekankan bahwa tuduhan-tuduhan kami dilakukan di pengadilan AS, dalam dokumen-dokumen yang sekarang terbuka untuk publik dan jelas dan bisa dievaluasi oleh siapapun," tegas Nuland kepada para wartawan di Washington. "Ini cuma retorika lainnya yang dirancang untuk membelokkan perhatian rakyat di Iran dari kegagalan pemerintah Iran untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri," kata Nuland. Sebelumnya Presiden AS Barack Obama telah mengatakan bahwa temuan plot tersebut diharapkan akan mendorong sanksi yang lebih berat terhadap Iran.

Sedangkan Iran, mulai melakukan "siaga satu" atas ancaman Israel itu. Iran saat ini dalam kondisi siaga penuh. Bahkan pemimpin militer Iran Jenderal Hassan Firouzabadi menegaskan, negaranya akan menghukum dan membuat Israel menyesal jika ancaman itu benar-benar dilakukan. "Kami menganggap setiap ancaman -- bahkan ancaman dengan kemungkinan kecil -- sebagai ancaman pasti. Kami saat ini siaga penuh," kata Firouzabadi seperti diberitakan kantor berita Iran, Fars dan dilansir AFP, Kamis (3/11/2011). "Dengan peralatan yang tepat, kami siap menghukum mereka dan membuat mereka menyesal telah melakukan kesalahan," cetusnya lagi.



Dalam konteks diatas, pada akhirnya benar apa yang dikatakan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinedjad :

“Kalau nuklir itu buruk, mengapa anda-anda memilikinya? Kalau nuklir itu baik, mengapa kami tak boleh memiliki?”, demikian kata Presiden Iran - Ahmadinedjad. Dalam kaca mata Amerika, ia selalu buruk, sepertinya Amerika merasa diri negara paling baik sedunia ! Padahal berapa banyak negara dihancurkan oleh Amerika Serikat dengan alasan demokrasi, kalau demokrasi menghancurkan negara lain, apa bedanya dengan anarki?

..... Itu Point-nya !!


Referensi & Foto : reuters.com/AFP News.

Sabtu, 05 November 2011

Selamat Idhul Adha : "Ibadah Haji Membuat Orang Semakin Toleran"

Oleh : Muhammad Ilham

“… Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam,” (QS Ali ‘Imran [3]: 97).

" ... ibadah haji membuat orang semakin toleran" (Asim Hijaz Khawaja)

" ... kau tak bisa dikatakan menimba/jika air yang kaudapat/dari ember ... ! (C. Cahyono)


Haji, menurut Wahbah Zuhaeli dalam bukunya Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh, berarti mengunjungi Kabah untuk melaksanakan beberapa perbuatan tertentu, di tempat-tempat tertentu, dan dalam waktu tertentu pula. Ibadah ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang mampu menjalankannya. Al-Quran menyatakan, “… Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah, Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam,” (QS Ali ‘Imran [3]: 97). Pada tataran fisik, haji mencerminkan suatu perjalanan dan gerakan terarah. Semua aktifitas haji dilambangkan dengan gerak, dari thawaf, sa’i sampai melempar jumroh. Tapi tentu ibadah ini tidak hanya berhenti sebatas gerak. Saat itu, hati dan nalar menemukan peran spiritualitasnya yang paling nyata. Sebagai contoh, ketika melakukan thawaf, badan kita bergerak mengelilingi ka’bah secara sirkular, hati kita bergetar, dan pikiran kita pun sadar akan apa yang kita laksanakan. Ka’bah melambangkan ketetapan (konstansi) dan keabadian Allah, sedangkan manusia yang mengelilinginya melambangkan aktivitas dan transisi makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Suatu aktivitas dan transisi yang terjadi secara terus menerus.

Dr. Ali Syariati dalam bukunya Hajj: Reflection on its Rituals (Refleksi Ritual Faji) mengulas dengan detail makna esensial ritual ibadah haji. Menurut filosof dan intelektual kontemporer asal Iran ini, ibadah haji merupakan ritual yang sarat dengan simbolisasi makna. Dalam buku ini, Ali Syariati mengajak kita untuk menyelami samudera makna ritual haji. Ali Syariati mengatakan bahwa ibadah haji merupakan sebuah langkah maju menuju “pembebasan diri”, bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati, Allah Swt. Menurut Ali Syari’ati, pakaian adalah lambang status yang dapat memicu sikap diskriminasi, keakuan, dan egois. Pakaian telah memecah belah anak-anak Adam, karena itu, kata Ali Syari’ati, pakaian model ibadah ihram bukanlah penghinaan tetapi penggambaran kualitas manusia di hadapan Allah. Ali Syariati mengatakan bahwa pakaian ihram telah menuntun manusia untuk mengubur pandangan yang mengukur keunggulan karena kelas, kedudukan dan ras.

Sedang thawaf merupakan kegiatan ibadah mengelilingi Ka’bah. Di hadapan Ka’bah yang berbentuk kubus ini, kata Ali Syari’ati, para pelaku tawaf akan merenungkan keunikan Ka’bah yang menghadap ke segala arah, yang melambangkan universalitas dan kemutlakan Allah; suatu sifat Allah yang tidak berpihak tetapi merahmati seluruh alam. Dengan thawaf, umat manusia dididik aktif bergaul menjaring komunikasi dengan Allah dan antarmanusia. Selain itu, thawaf juga mendemonstrasikan cara kerja alam semesta. Bagaimana bumi, dan planet-planet di jagat raya ini berotasi dan mengelilingi orbitnya. Thawaf memberi pesan tersirat bahwa apa pun yang dilakukan manusia dalam hidupnya hendaknya selalu menjadikan Allah sebagai porosnya. Hendaknya dalam segala perbuatan Allah menjadi tujuan utama, bukan yang lain. Mengenai sa’i, Ali Syari’ati mengungkapkan bahwa ritual tersebut melambangkan kegigihan dalam berjuang mengarungi tantangan hidup. Sai, yang merupakan rekonstruksi peristiwa Siti Hajar mencari air Zamzam dari Bukit Shafa menuju Marwa, melambangkan figur manusia yang berjuang dari niat yang tulus (shafa), tanpa patah semangat mencapai tujuan (marwa).

Selanjutnya, setiap calon haji harus wukuf di Arafah. Arafah merupakan sebuah padang yang luas. Di tempat ini manusia singgah sebentar (wukuf). Lalu bermalam (mabit) di Muzdalifah dan tinggal di Mina. Arafah berarti pengetahuan dan Mina artinya cinta. Setelah wukuf di Arafah, para jamaah menuju ke Muzdalifah untuk mabit. Wukuf dilakukan pada siang hari, sementara mabit pada malam hari. Siang, demikian kata Syari’ati, melambangkan sebuah hubungan objektif ide-ide dengan fakta yang ada, sedangkan malam melambangkan tahap kesadaran diri dengan lebih banyak melakukan konsentrasi di keheningan malam. Kemudian di Mina, jamaah melempar Jumrah. Ritual haji ini melambangkan bahwa manusia harus senantiasa berjuang melawan bujuk rayu setan yang dengan segala cara berusaha menggelincirkan manusia dari jalan yang Ilahi. Melempar jumrah juga merupakan lambang perlawanan manusia melawan penindasan dan kebiadaban. Intinya, Ali Syariati ingin mengemukakan bahwa ibadah haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang “tampil beda” (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya (haji mabrur). Dan ini adalah kemestian. Kalau tidak, maka ibadah haji tak ubahnya seperti berlibur ke tanah suci di musim haji.

Secara doktrinal, haji adalah ibadah yang sarat nilai-nilai sosial dan kemanusiaan adihulung. Hal ini misalnya tampak pada larangan menyakiti ataupun melakukan aksi-aksi kekerasan, berbuat fasik dan berbantah-bantahan. Dalam sebuah riset bertajuk “Estimating the Impact of the Haj: Religion and Tolerance in Islam’s Global Gathering” yang dilakukan Asim Ijaz Khwaja, guru besar kebijakan masyarakat di Kennedy School of Government, Harvard University, bersama Michael R. Kremer dan David Clingingsmith dari Case Western Reserve University, disimpulkan bahwa ibadah haji membuat orang semakin toleran. Penelitian yang dilakukan selama sekitar 8 bulan pada tahun 2006 ini menemukan fakta bahwa kelompok yang mendapat kesempatan pergi haji mengalami perasaan yang lebih positif terhadap berbagai kelompok etnis dan aliran Islam yang berbeda. Dalam konteks ini, tak salah jika dikatakan bahwa ibadah haji merupakan “sekolah” perdamaian dan toleransi bagi terciptanya perdamaian. Tak hanya perdamaian di internal umat Islam, melainkan juga perdamaian di antara semua keturunan Nabi Adam. Sebab, misi Islam adalah kerahmatan global (rahmatan lil alamin). Jika para jamaah haji mampu menyelami makna ritual haji, tidak hanya ritual fisik belaka, maka mereka akan menjadi “duta-duta” perdamaian yang diharapkan mampu menyebarkan dan mewujudkan perdamaian di daerah masing-masing.

Haji adalah wuquf di Padang Arafah, yang berarti pelajaran paling besar yang akan didapatkan oleh seluruh jamaah haji adalah selama pelaksanaan wuquf, yang merupakan waktu sakral yang memberikan kesempatan kepada semua jamaah haji untuk bisa 'berdialog' dengan Allah, menjalin hubungan mesra dan privat kepada Sang Maha Penentu Segala. Banyak orang beranggapan, wuquf hanya bisa dilaksanakan di Padang Arafah dan pada tanggal 9 Dzulhijjah, pendapat ini tentunya tidak terbantahkan, tetapi yang harus kita fahami adalah bahwa semangat wuquf tidak berhenti ketika kita keluar dari Padang Arafah ataupun setelah tanggal 9 Dzulhijjah. Semua yang dilakukan selama musim haji merupakan sebuah pembelajaran yang semestinya setelah itu akan menjadi kebiasaan kepada siapa saja untuk selalu menciptakan nuansa wuquf kapan dan dimanapun berada. Wallâhu a’lamu bis shâwab!!

Sumber : Al-Qur'an, Asim Ijaz Khwaja (1999), Ali Shariati (1997), CMM (Nop. 2009)


Foto - Foto IBADAH HAJI TEMPO DOELOE
(sumber - syarar.com)

Iran, Israel, Nuklir dan Kepentingan Amerika Serikat di Kawasan Timur Tengah

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Setelah pemberitaan mengenai Khaddafi mulai "melemah", pekan-pekan mendatang bakal menjadi masa paling menegangkan antara Israel dan Iran. Semua itu dipicu oleh isu nuklir Iran. Spekulasi mengenai rencana serangan Israel ke Iran kian santer. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan tengah mencari dukungan kabinet guna melancarkan serangan ke Iran. Serangan tersebut untuk menghancurkan program nuklir republik Islam tersebut. Menghadapi ancaman Israel itu, Iran pun dalam siaga penuh. Konflik mengenai nuklir Iran itu dikhawatirkan akan semakin memuncak dalam pekan-pekan mendatang. Ketegangan itu semakin bertambah dengan rencana publikasi laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam beberapa hari mendatang. Laporan itu disebut-sebut akan mengungkap bukti baru mengenai program senjata nuklir Iran. Konflik soal nuklir Iran yang sudah bertahun-tahun tak terselesaikan itu sudah pasti semakin menapak ke jalan terjal penuh ketegangan. Jika laporan tersebut beredar, Timur Tengah akan selangkah lagi lebih dekat pada konflik yang bakal saling menghancurkan. Sinyal itu sudah tampak dari retorika Israel.

Israel berdalih, program nuklir Iran akan menjadikan negara itu sebagai negara paling berbahaya di dunia. Keberhasilan uji coba rudal Israel beberapa hari lalu menunjukkan, negara Yahudi itu serius dengan ancaman dan ketakutannya pada Iran. Sebab, rudal itu mampu membawa hulu ledak nuklir dan menghantam Iran. Hubungan antara Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi panas. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pernah menyatakan, Israel seharusnya dihapuskan saja dari peta dunia. Namun, situasi keras saat ini memasuki babak frontal. Kali ini, untuk pertama kalinya kedua negara itu saling menantang secara terbuka. Tahun lalu, Iran pernah unjuk kekuatan dengan keberhasilan menguji tembak rudal jarak sedang Shahab-1 dan Shahab-2, rudal jarak jauh Shahab-3 serta rudal Fateh, Tondar, dan Zelzal. Rudal Shahab-3 diklaim mampu mencapai Israel. Uji coba ketika itu direspons dengan retorika keras dari Israel dan Barat. Sementara saat ini, pemimpin Israel juga melakukan langkah-langkah politis di dalam negeri untuk menggalang dukungan legalitas bagi serangan terhadap Iran. Dengan kemampuan nuklir Israel, serangan terhadap Iran akan berdampak sangat merusak kestabilan geopolitik Timur Tengah. Israel sejak 1964 telah memiliki reaktor nuklir di Dimona, Gurun Negev, yang menghasilkan plutonium untuk bahan baku bom atom serta memiliki 200 hulu ledak nuklir.

Ancaman terbuka Israel dikhawatirkan semakin mempercepat kemungkinan terjadinya perang nuklir. Padahal, perang nuklir sekalipun tidak akan menghentikan langkah Iran untuk menguasai teknologi nuklir yang diklaim hanya untuk suplai energi semata. Kemungkinan menahan laju ketegangan kali ini tampaknya sangat tipis karena laporan IAEA yang bakal diedarkan dalam waktu dekat ini akan memuat bukti-bukti paling meyakinkan bahwa program nuklir Iran bertujuan memproduksi senjata nuklir. Ancaman Israel dan eskalasi ketegangan di Timur Tengah kali ini adalah ujian bagi Presiden Barack Obama untuk tidak melibatkan diri dalam konflik ini. Sebaliknya, AS harus mendorong PBB untuk menangani krisis itu jika tidak ingin konflik menjadi ledakan yang menghancurkan perdamaian dunia.

Sumber : suaramerdeka.com