Sabtu, 13 November 2010

Hatta, Syahrir dan Tan Malaka : "Hulunya Sama, Hilirnya Bercabang"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tiga Minang itu berdiri tegak di simpang jalan bercabang. Mereka kukuh dengan ideologi masing-masing. Tapi hari ini kemana orang-orang Minang itu ?

Tan Malaka, Hatta dan Sjahrir pun bukan milik orang Minang. Mereka tak pantas dimiliki oleh mereka yang justru mengkerdilkan para pendiri bangsanya dan meninggikan kesukuannya yang entah untuk apa ! (Devi Kurnia A.)

Jika dibandingkan dengan Sjahrir, Hatta dengan Tan Malaka, maka bisa ditarik satu kesimpulan subjektif bahwa hanya Tan Malaka yang paling banyak berbicara tentang Minangkabau di dalam karyanya. Sjahrir sepanjang hidupnya hanya menulis dua buku, sejauh yang saya tahu, dan itupun tak membahas tentang Minangkabau. Bahkan, konon kabarnya, Sjahrir sudah menanggalkan keminangannya sehingga ia tak mau disebut sebagai orang Minang namun anehnya ia masih memakai kata Sutan di depan namanya. Hatta, yang lebih intens dalam menulis ketimbang Sjahrir, juga bukan orang Minang jika itu ditarik dari garis Ibu. Hatta tak pernah memiliki gelar adat — berbeda dengan Sjahrir dan Tan Malaka — yang memang dilakukan suatu upacara resmi dalam pemberian gelar adat tersebut. Hatta adalah orang yang paling necis dan yang paling disiplin dalam menerapkan mimesis Eropa. Mereka bertiga lahir dan tumbuh besar di Sumatera Barat. Tan Malaka di Payakumbuh, Sjahrir di Padang Panjang dan Hatta di Bukit Tinggi. Mereka sama-sama memperoleh didikan Islam yang kuat semasa kecilnya. Mereka bertiga pun sama-sama bersekolah di Belanda dengan jurusan yang berbeda namun memiliki satu kesamaan; mereka sama-sama jatuh cinta terhadap marxisme. Mereka sama-sama paham bahwa melalui marxisme mereka bisa membuka simpul-simpul penjajahan Belanda selama ini. Hanya hulunya saja yang sama tapi semakin ke hilir mereka semakin bercabang.

Hatta, sosok kalem, serius dan religius ini adalah yang paling lurus jalan hidupnya—selurus pilihan hidupnya kepada ekonomi kerakyatan. Sjahrir, si penggila pesta nan senang bercanda, ini lebih memilih jalur sosialis diplomatis sebagai pilihan politiknya. Tan Malaka, si misterius dengan puluhan nama samaran ini, lebih radikal lagi : baginya konfrontasi jauh lebih penting daripada diplomasi ala Sjahrir. Ya, tiga tokoh Minang ini adalah tiga tokoh republik yang paling signifikan sekaligus saling berlawanan. Hatta dan Sjahrir adalah teman dekat selama di Belanda, di partai, di pemerintahan dan di pengasingan. Sedang Tan Malaka, yang jauh lebih tua, dianggap senior dalam beberapa hal. Tapi itu tak membuat Hatta gentar. Tan Malaka ketika di Belanda pernah dibantah oleh Hatta terkait dengan pilihan ekonomi untuk Indonesia merdeka. Di sanalah untuk pertama kalinya Hatta menawarkan konsep koperasi yang kemudian ia terapkan di Indonesia hingga hari ini. Sjahrir, pasca proklamasi, pernah menelikung Hatta sehingga beliau mengeluarkan Maklumat X yang akhirnya membuat Sjahrir menjadi Perdana Menteri pertama di Indonesia—hal yang bertentangan dengan UUD 45 yang merubah sistem presidential menjadi parlementer. Inilah kudeta sunyi Sjahrir terhadap Soekarno. Tan Malaka bersama Persatuan Perjuangan—organisasi politik yang ia bentuk bersama Jend. Soedirman—adalah yang paling menekan kabinet Sjahrir di awal republik terbentuk. Bagi Tan Malaka, Merdeka 100% itu mutlak harus diperjuangkan bukan dengan jalan diplomasi melainkan konfrontasi. Diplomasi boleh dijalankan tapi dengan syarat Belanda mesti angkat kaki terlebih dahulu dari negeri ini. Sejarah kemudian mencatat bahwa setiap diplomasi yang dibentuk Sjahrir selalu membawa kegagalan bagi republik.

Tiga minang ini saling mengagumi masing-masing namun juga saling menjatuhkan masing-masing—secara sadar dan tak sadar—secara tersembunyi maupun terang-terangan. Menjelang proklamasi santer beredar di kalangan pemuda siapa yang pantas memimpin negeri ini. Ada tiga pasangan yang dianggap layak memimpin republik kala itu; Soekarno-Hatta, Sjahrir-Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka-Soedirman. Ketiga pasangan itu ada satu orang Minang di dalamnya. Inilah yang selalu membuatku bangga dilahirkan di ranah minang—walau aku bukan orang minang yang mesti tahu kato nan ampek. Orang minang ditakdirkan untuk tidak bisa tidak memikirkan republik ini sedari awal dan kuharap hingga akhir. Itulah kutukan bagi orang Minang. Tan Malaka adalah orang yang sangat Minangsentris, setidaknya bila kita telusuri karya-karyanya. Ia selalu meninggi-ninggikan Minangkabau dalam setiap tulisannya—walaupun orang Minang hari ini banyak yang tak mau mengenal dirinya.

Di dalam Madilog, Tan Malaka bermimpi bahwa masa depan Indonesia bukan di Jawa melainkan di Sumatera yang inginkan itu berada di poros Bonjol-Malaka sebagai poros yang strategis dan ekonomis. Konsep Indonesia Raya yang ia inginkan itu adalah Nusantara; bukan saja yang bekas jajahan Belanda. Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand hingga Australia ingin ia gabungkan menjadi satu kawasan multiregional yang berdaulat dan sama besar dengan dua blok yang tengah bertikai kala itu dengan nama Aslia. Asia Australia. Inilah Indonesia Asli bagi Tan Malaka. Mungkin bisa dibandingkan dengan konsep Bamantara-nya Sutan Takdir Alisjahbana yang baru saja mendapat Bintang Mahaputra dari Presiden SBY. Tan Malaka ingin mengubah semboyan kolonial yang mengatakan “Maluku masa lalu, Jawa masa kini dan Sumatera masa depan” menjadi “Sumatera adalah pioneer, Jawa masa sekarang dan kelak semuanya akan kembali ke Sumatera”. Ada kepercayaan diri yang luar biasa dari pernyataan itu. Namun sayang, apa yang ia cita-citakan itu belumlah terwujud hingga hari ini. Konsep Aslia ini kemudian diaplikasikan Adam Malik—wakil presiden Soeharto pertama yang berasal dari Partai Murba; partainya Tan Malaka—ke dalam ASEAN. Indonesia Raya yang dinyanyikan setiap upacara bendera dan acara olahraga lintas negara itu memiliki makna mendalam bagi Tan Malaka. Ia memimpikan satu negara industri modern yang besar, yang mampu menghidupi segenap tumpah darahnya dan mampu berdiri sejajar dengan dua blok lainnya yang saling bertentangan.

Bagi Tan Malaka, anjing yang sama besar takkan saling menggigit. Indonesia Raya bukan sekedar lagu kenegaraan biasa saja, tapi ada setiap cita di setiap liriknya—yang digubah WR Supratman dari buku Massa Actie-nya Tan Malaka—lagu itu adalah sebuah mimpi untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang besar karena bagi Tan Malaka bangsa ini layak menjadi besar. Bukan karena korupsi tapi karena prestasi. Tan Malaka adalah seorang pemimpi. Ia mengutarakan setiap mimpi besarnya di dalam karya-karyanya. Ia mendesain Republik Indonesia lebih dulu daripada Soekarno dan Hatta menentukan seperti apa konsep negara ini. Bahkan secara tak sadar Soekarno menobatkan Tan Malaka sebagai mentor politiknya. Pernah suatu ketika selepas proklamasi, Soekarno memberikan semacam mandat—yang kemudian dikenal dengan sebutan Testamen Politik—kepada Tan Malaka. Soekarno meminta Tan Malaka menggantikannya sebagai presiden jika dirinya tak sanggup lagi memimpin negeri ini; dalam artian Soekarno ditawan atau dibunuh dalam peperangan. Maka adalah Hatta yang menolak testamen ini. Ia marah kepada Soekarno yang telah memutuskan sepihak saja. Hatta lalu menambah tiga nama lain selain Tan Malaka.

Tiga orang Minang ini selalu meruncing di dalam pilihan ideologinya. Mereka tak hanya berdialektika di dalam segala hal namun mampu menunjukkan bahwa mereka berkualitas dalam berdialektika. Mereka saling menjaga keotentikan satu sama lain. Satu kecerdasan yang hilang bagi orang-orang Minang hari ini. Hanya Muhammad Fahmi saja yang berbeda, lihat saja komentarya yang sangat brilian dan berkelas. Sjahrir telah menghilangkan keminangannya karena ia sudah merasa menjadi sesuatu yang besar ketimbang meninggikan rasnya. Hatta pun demikian. Sebagaimana Agus Salim—yang menyuruh setiap anak laki-lakinya untuk tak menikah dengan perempuan Minang—menentang adat Minang terutama segi matrilinealisme yang hingga hari ini masih diterapkan di minangkabau, maka Hatta dan Sjahrir pun tak mau menikah dengan gadis Minang. Sjahrir menikah dengan orang Belanda lalu menikahi sekretarisnya. Hatta menikahi gadis Jawa. Sebagian besar tokoh Minang tak mau untuk menikahi gadis Minang. Mereka pada umumnya menolak matrilinealisme. Sepertinya tak ada gerakan feminisme di Sumatera Barat karena hanya kaum patriarki ini saja yang selalu mendemo kedudukan perempuan di ranah Minang. Tiga kali sejarah konsesi di Minangkabau selalu saja dimenangkan kaum adat dan kaum agama mesti puas diri dengan itu. Adat adalah agama asli Minangkabau yang hingga hari ini masih menang terhadap kaum agama. Realitasnya seperti itu. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah Kalimat yang belum selesai. Syarak Mangato Adat Mamakai adalah kalimat yang entah kenapa sering dihilangkan oleh kaum adat tentu saja. Merantau adalah cara kaum patriarki ini untuk lari dari tekanan matrilinealisme dan menikahi perempuan yang bukan orang Minang. Itulah kemenangan mereka tampaknya.

::  (c) Devi Kurnia. A (diskusi via FB)

Jumat, 12 November 2010

Tan Malaka (Lagi) : "Muslim Merah Minangkabau"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tapi ada satu yang mengganjal, jangan-jangan Madilog kita berbeda? Kemana pula kan kucari "Matematika Idiologi Logika" itu wahai Cutaik?
Tan Malaka itu komunis. Komunis itu atheis. Atheis itu tak bertuhan. Itulah komentar umum yang kudapat. Aku pun mulai percaya tentang ketidakpercayaan Tan Malaka akan adanya Tuhan saat itu. Untuk lebih jelasnya aku kemudian mewawancarai Mestika Zed — salah seorang dosen sejarah di kampus Air Tawar — penulis buku “Pemberontakan Komunis Silungkang 1927”. Aku tentu menanyainya terlebih dahulu kenapa provinsi Sumatera Barat bisa menjadi provinsi terbesar di Indonesia yang mempraktikkan komunisme kala itu. Setelah itu baru aku menanyakan Tan Malaka yang memiliki peran besar dalam komunisme tanah air.

“Apakah benar Tan Malaka itu atheis, Pak
?” tanyaku. Pak Mestika Zed terdiam lalu menjawab, “Saya bukan orang yang paling berkompeten untuk menjawab itu. Ada orang yang jauh lebih paham tentang Tan Malaka ketimbang saya. Kamu pergilah ke Mesjid Al Azhar sana, lalu setelah itu temui salah seorang khatib di sana. Namanya Buya Mas’oed. Ia jauh lebih paham tentang Tan Malaka ketimbang saya. Setelah dari sana baru kamu ke sini lagi menemui saya.” Aku pun pergi. Di salah satu ruang kecil di Mesjid Al Azhar, yang kini sedang dirombak dan akan dipindahkan itu, aku duduk di lantai dan Buya Mas’oed di depanku. Beberapa anak murid keluar masuk ruangan itu untuk menanyakan bacaan Qur’an. Ia tengah mengajar ketika aku datang. Lalu ia pun menyelesaikan dulu pengajarannya dan kemudian kembali lagi ke kamarnya yang kecil itu namun penuh dengan buku. “Anda ini siapa dan ada keperluan apa?” tanyanya. “Aku ingin meneliti tentang Tan Malaka dan tadi Pak Mestika menyuruhku ke sini untuk menemui Bapak,” lalu beliau mencatat namaku di secarik kertas. “Apa yang ingin adik ketahui tentang Tan Malaka?” tanyanya sembari tersenyum. “Hampir sebagian besar orang mengatakan Tan Malaka itu komunis sementara pemahaman awam selama ini adalah komunis itu identik dengan atheis. Bagaimana menurut Bapak?” aku menyodorkan muncung handycam-ku ke mukanya. “Tan Malaka adalah seorang muslim yang tegas dan konsisten dengan jalan pendiriannya terutama dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.” Sontak aku terkejut kala itu. Tan Malaka muslim?
“Tan Malaka terlahir dengan nama Ibrahim di Suliki, nagari Pandam Gadang, Payakumbuh dan dia dididik di dalam lingkungan Islam yang ketat. Ketika remaja ia kemudian diberikan gelar adat Datuk Tan Malaka. Ia adalah orang ketiga di dalam ranji Koto Piliang yang mendapat gelar itu. Ia bersekolah di Kweekschool atau lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Raja di Bukit Tinggi. Setelah itu ia melanjutkan ke Sekolah Guru di Belanda atas dukungan dana dari Angku Fonds—semacam Yayasan Para Ninik Mamak—dan bantuan dana dari Horensma gurunya di Bukit Tinggi. Hari ini mana ada ninik mamak yang peduli dengan pendidikan anak kemenakannya? Di Belanda itulah Tan Malaka mulai berkenalan dengan bacaan-bacaan kiri. Ia mulai membaca Nietzsche yang mengatakan Tuhan telah mati, teori evolusi Darwin hingga ke Das Capital-nya Karl Marx—nabi kaum komunis sedunia. Tan Malaka mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang salah di negerinya—tempat di mana Belanda telah menjajah bangsanya selama berabad lamanya. Ia mulai berpikir dan mempertanyakan konsep-konsep kolonialisasi. Semakin ia membaca mengenai Marxisme semakin ia paham tabiat dan watak dari kolonialisme Eropa—terutama terhadap bangsa-bangsa Timur yang bodoh.”

“Lalu apakah Tan Malaka keluar dari Islam atau apa yang terjadi sesungguhnya?” “Jangan terburu-buru men-judge seseorang kafir atau atheis, anak muda. Seorang muslim yang menuduh sesama muslim itu kafir sungguh adalah kafir itu sendiri.” Aku terdiam. “Apa yang dilakukan Tan Malaka sepulang dari Belanda ke Indonesia—selain membuat sekolah—adalah merangkul kaum muslim tertindas. Ia bergabung ke dalam Syarikat Islam yang kemudian terbagi dua menjadi putih dan merah. Tan Malaka memilih yang merah dan kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia. Jadi satu hal yang harus diinsyafi adalah PKI lahir dari satu organisasi muslim terbesar saat itu. Tan Malaka berusaha mencegah perpecahan ini karena baginya Islam adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan merebut kemerdekaan.” “Lalu apa yang terjadi?” “Tan Malaka tak mampu mencegahnya. Idenya ditentang oleh Agus Salim dan Abdul Muis. Ketiga orang ini adalah orang Minang.” “Ada apa dengan orang Minang?” “Tan Malaka ketika dia ke Rusia tahun 1922, mengatakan bahwa sesungguhnya Rusia belum sepenuhnya menjadi Negara Komunis.”

“Loh, kenapa begitu?” “Karena baginya komunisme sebenarnya adalah komunisme ala Minangkabau. Komunisme yang tak pernah mengenal konsep penjara. Komunisme—yang kependekan dari komunalisme—di mana moda produksi bukan dikuasai oleh individu tapi dikuasai, dikelola, diproduksi, dikonsumsi, didistribusi oleh kaum itu sendiri. Tak ada kaya ataupun miskin. Semua derita ditanggung bersama. Rumah Gadang pun dibangun dengan semangat kebersamaan bukan karena faktor uang. Di situlah ruang filsafat bisa berkembang dengan pesat dan pendidikan menjadi bagian terpenting. Inilah komunisme asli Minangkabau yang sangat dibanggakan Tan Malaka. Setelah Belanda datang, semua itu kemudian mulai terkikis dan hilang hingga hari ini.” Aku semakin bingung dengan Tan Malaka, komunis kok beragama? Susah bagiku untuk mencerna ini. “Lalu hubungan Islam dengan Tan Malaka apa Buya?” “Bagiku Tan Malaka tidak hanya seorang pemikir muslim tapi ia juga bertindak untuk mencapai apa cita-citanya yaitu Indonesia yang merdeka dan berdaulat atas dirinya sendiri. Buya membaca hampir seluruh karyanya dan Buya tak menemukan di bagian mana yang mengatakan bahwa ia atheis. Bahwa ia komunis iya, tapi jika masalah atheis sudah tentu itu tidak. Bahkan seorang Buya Hamka pun tak percaya Tan Malaka itu atheis sehingga dia mau memberi kata pengantar di buku Tan Malaka yang berjudul “Islam dalam Tinjauan Madilog”. Semakin aku bingung. Aku pun beranjak pergi karena Buya Mas’oed hendak kembali mengajar.

“Tan Malaka melakukan banyak hal untuk kaum muslim terjajah di mana saja dia berada. Di Indonesia, Malaysia, Rusia, Filipina hingga Thailand. Konsep Pan-Islamisme-nya dulu coba kamu bandingkanlah dengan konsep Hizbut Thahrir hari ini. Jauh sekali bedanya. Oh iya, satu hal lagi yang penting adalah Tan Malaka pernah aktif di PKI namun kemudian keluar karena tak sejalan dengan pendiriannya. Kemudian Tan Malaka jadi musuh PKI nomor wahid,” ujarnya sembari berlalu. Ah, sukses Buya satu ini membuat kepalaku pusing. Tapi satu hal yang akhirnya aku tahu bahwa Sumatera Barat adalah gudangnya kaum komunis. Lalu apakah mereka semua itu atheis? Ataukah hanya Tan Malaka saja yang atheis?

Kembali ke hari ini. Aku paham kenapa temanku Cutaik tetap bersikukuh mempertahankan pendiriannya bahwa Tan Malaka itu atheis—dan seperti atheis yang lain maka ia layak untuk dibenci dan disingkirkan tentu berdasar pemahaman pemeluk monotheis. Namun jika aku boleh memberi saran sekali-sekali tanyakanlah pada Buya Mas’oed itu tentang keatheisan Tan Malaka. Karena sepertinya cara persuasiku belum cukup berhasil. Mungkin Buya Mas’oed bisa lebih gamblang menjelaskan keislaman Tan Malaka yang entah kenapa tak pernah dibahas peneliti asing. Bagi mereka tak penting apakah Tan Malaka itu mengaji atau shalat. Aku pun mulai mencari buku tentang Sumatera Barat tahun 1920an—tahun di mana Marxisme beredar luas di provinsi ini. Aku pun berhasil menemukan satu buku yang kemudian merubah hidupku. Buku itu ditulis Audrey Kahin yang berjudul “Dari Pemberontakan ke Integrasi; Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998”. Ini buku wajib buat anak muda Minang hari ini untuk mengetahui jatuh bangun mereka selama ini. Audrey mengatakan bahwa republik ini didirikan oleh sebagian besar mereka yang terlahir dari provinsi ini. Provinsi ini adalah provinsi yang tingkat dinamisitasnya saat tinggi terutama di saat penjajahan Belanda. Beragam pemberontakan terjadi, seperti Perang Kamang hingga Pemberontakan Silungkang. Sehingga tersiar kabar bahwa provinsi ini adalah negeri para pemberontak di mata Belanda. Tak hanya di jaman Belanda saja provinsi ini memberontak, setelah merdeka pun mereka memberontak kepada kaum Republiken atas nama PRRI. Di sinilah hipotesis Audrey di mulai, kenapa provinsi paling cemerlang di Nusantara ini justru menjadi provinsi paling terbelakang setelah Penumpasan PRRI dilakukan? Dan apa yang ia temukan sungguh membukakan mataku kenapa provinsi tempatku dilahirkan itu menjadi seperti ini hari ini.

Temanku Cutaik itu juga berasal dari Bukit Tinggi—tempat di mana Hatta dilahirkan, tempat di mana Tan Malaka, Marah Rusli dan AH Nasution bersekolah, tempat di mana markas PDRI berada. Perlu teman-teman ketahui bahwa PRRI lahir sebagai bentuk ketidakpuasan daerah terhadap pusat sehingga—selain mengembalikan dwitunggal SoekarnoHattadan membubarkan PKI—keterciptaan semacam otonomi daerah di daerah luar Jawa. Hal lain yang juga cukup signifikan adalah krisis komando di Angkatan Darat yang merupakan kritik terhadap kepemimpinan AH Nasution. Satu ultimatum diberikan kemudian kepada Pusat. Kabinet Djuanda diserang kebijakannya. Achmad Husein kemudian mengumunkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958 yang kemudian dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara—yang sepuluh tahun sebelumnya juga memimpin PDRI. Sehari sesudah itu Pusat berang dan menyerang Painan, Padang dan Bukit Tinggi pada tanggal 21 dan 22 Februari. Nasution kemudian memerintahkan Ahmad Yani untuk memimpin penyerangan ke Sumatera Barat yang kemudian dikenal dengan nama “Operasi 17 Agustus” di bulan April. 17 April kota Padang dibom dari Kapal Perang Indonesia. Solok dihabisi tanggal 21 April dan esoknya Sijunjung. Padang Panjang baru bisa dicapai tanggal 1 Mei dan tak lama kemudian Bukit Tinggi—kota di mana pusat pemberontakan berada. Tanggal 5 Mei Bukit Tinggi berhasil dikuasai. TNI—dibantu ormas-ormas PKI—berhasil menangkap para pemberontak.

Sjafruddin dan M. Natsir—dua pemimpin PRRI—bingung dengan cepatnya penumpasan ini. Kenapa Republik ini bisa lebih cepat menghabisi bangsanya sendiri ketimbang ketika melawan asing? Tapi dua orang itu belum mau menyerah. Sementara ribuan sudah yang meninggal akibat penyerangan Pusat tersebut. Nasution mengakui bahwa jumlah yang meninggal mencapai 22ribu orang namun banyak yang menyangsikan itu hingga ke angka 40ribuan. Di bulan Agustus, Sjafruddin akhirnya menyerah sementara Natsir masih bersembunyi di hutan. Setelah mengetahui temannya Djambek dibunuh oleh PKI yang turut membantu TNI menumpas PRRI barulah kemudian Natsir menyerah di bulan September. Inilah era di mana orang Sumatera Barat mulai merasa dirinya sebagai warga negara kelas dua. Sumatera Barat menjadi provinsi yang mengalami kehancuran mental setelah itu. Inilah masa di mana TNI dan PKI masih menjadi ‘sahabat’.

Di awal tahun 60an terjadilah diaspora luar biasa dari Sumatera Barat ke Jawa—terutama Jakarta. Ada perasaan terhina untuk tetap berada di Sumatera Barat. Para orang tua mulai menamai anak-anak mereka dengan nama Jawa—Irwan Prayitno misalnya—karena takut akan dibunuh oleh tentara dari Jawa. Tak ada lagi penerbitan bermutu setelah itu. Tak ada lagi sekolah-sekolah bermutu. Tak ada lagi yang mampu dibanggakan. Semuanya hilang setelah itu. Sumatera Barat dengan segala kebesarannya di masa lalu itu kini telah tiada. Orang Minang adalah orang yang tak menang. Kalah. Lalu lihatlah hari ini jalan Ahmad Yani begitu besarnya di kota Padang—entah di Bukit Tinggi—dan bandingkanlah dengan jalan Tan Malaka. Orang yang telah meluluh lantakkan Sumatera Barat dalam waktu sangat cepat itu kemudian tewas dibunuh gerombolan PKI yang sebelumnya membantunya menumpas rakyat Sumatera Barat. Bahkan Letkol Untung pun berdinas di Sumatera Barat sebelum dipindah ke Jakarta untuk menjadi Cakrabirawa. Angka puluhan ribu itu seakan hanya statistik belaka ketika pemerintah membunuhi rakyatnya sendiri. Bahkan tsunami Aceh ataupun Mentawai tak mencapai angka puluhan ribu seperti itu. Keganasan manusia ternyata melebihi keganasan bencana alam. Orang minang hari ini seperti kabau yang telah dicucuk hidungnya sehingga bisa diatur sedemikian rupa. Mereka menjadi anak bawang saja. Menjadi anak manis ORBA. Lalu sebagai kaum yang kalah, bisakah Anda melihat porsi Sumatera Barat di buku sejarah nasional? Sumatera Barat tak lebih sebagai pemberontak yang kalah di mata pusat oleh karena itu tak ada tempatnya di buku sejarah—sama seperti Tan Malaka.

Akhirnya aku tak mau lagi peduli pembicaraan tentang Tan Malaka—yang mengajari anak-anak mengaji di Thailand--itu komunis atau tidak, Tan Malaka—yang paling kesal diganggu ketika shalat dan menulis—itu atheis atau tidak, aku sudah tak peduli. Aku lebih benci kepada mereka yang mengakui keislamannya tapi membunuh sesama saudaranya sendiri dengan mengatasnamakan agama. Aku lebih benci ormas-ormas Islam yang menghancurkan tempat prostitusi tapi tak mau tanggap pada korupsi. Aku kini lebih terpukau pada Gayus Tambunan—PNS muslim idola camer Gol IIIA—yang mampu mengobrak abrik law enforcements di negeri ini hanya dengan dana tak terbatas yang ia punya dari departemen yang memakai slogan “Apa Kata Dunia” itu. Inilah idola baru kaum media hari ini. Semua tentang Gayus jauh lebih mempesona.

Oleh karena itu jika dialektika ini masih ingin dibahas maka aku akan berkata sama seperti yang kukatakan kepada mahasiswa IAIN yang ngotot mengatakan Tan Malaka itu atheis; “apa yang sudah Anda lakukan di umur Anda sekarang ini? Hari ini ketika orang-orang Israel membunuhi orang Palestina kalian hanya berdemo di sini—di jejalanan kota. Tan Malaka ketika sebagian Muslim di Rusia dibunuhi dia berjalan sendirian ke Rusia untuk membela kaum Muslim di sana. Sudah berapa buku yang Anda hasilkan di umur Anda? Tan Malaka di umur yang sama dengan Anda sudah menghasilkan buku bernas yang wajib dibaca sebelum lagu Indonesia Raya itu tercipta. Apa yang Anda lakukan ketika Imam Bonjol orang yang paling menginginkan kemurnian Islam itu—yang juga telah membunuh puluhan ribu rakyat Tapanuli itu—dibuatkan patung atas namanya. Apa yang kalian lakukan wahai mahasiswa Imam Bonjol? Apa yang telah kalian lakukan untuk agamamu dan bangsamu?” Mahasiswa IAIN itu tak menjawab pertanyaanku itu tapi entah dengan temanku nanti. Tapi yang jelas komentar Muhammad Fahmi telah menunjukkan seperti apa kualitas dirinya. Sekian dulu, jika ini masih kurang persuasif dan realistis maka akan ada edisi selanjutnya. Untuk Cutaik jangan baca Madilog yang di halaman pertama saja—baca hingga habis baru komentar lagi dan jangan lupa temui Buya Mas’oed karena Buya Hamka tak bisa lagi diwawancarai.

:: Catatan Pinggir ILHAM .... saya bukanlah pengagum fanatik seorang anak manusia bernama TAN MALAKA, tetapi ia adalah salah seorang putra terbaik Minangkabau dan bangsa "Sumpah Palapa"-nya Gajah Mada ini. Seluruh denyut nadi kehidupannya,dipeersembakan buat bangsa yang hari ini kita nikmati. Tapi sayang, karena sejarah kita rasa "nano-nano", membuat Tan Malaka "dipinggirkan" dan hanya seumpama catatan kaki. Berkaca dari Tan, banyak lagi yang "sejenis" beliau dimarginalkan oleh sejarah. Bagaimana kita menjadi bangsa besar, bila diskriminatif terhadap mereka yang "membuat sejarah". SELAMAT HARI PAHLAWAN ... !! Pada kalian, entah tercatat oleh sejarah entah tidak, pada kalian kami berhutang !!

:: (Sebagaimana yang di-narasi-kan Devy Kurnia A. dalam diskusi/note FB (09-11-2010)

Senin, 08 November 2010

Tan Malaka - Pahlawan atau Grand Homme ?

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Waktu akan lebih jujur untuk berkata/tidak sekarang, mungkin nanti/tapi itu pasti (Taufik Ismail)

Ibrahim Tan Malaka, si putra Pandan Gadang Suliki, diangkat Soekarno sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Kepres RI No. 53. Kepres ini ditandatangani Soekarno pada tanggal 28 Maret 1963. Tradisi pengangkatan seseorang untuk menjadi pahlawan ini sendiri dimulai sejak tahun 1959 dengan Abdul Muis sebagai orang pertama yang dinobatkan sebagai pahlawan di Indonesia. Semenjak itu hingga tahun ini daftar pahlawan kita terus bertambah. Soekarno—yang baru dijadikan pahlawan 16 tahun sesudah kematiannya—mengatakan bahwa ‘bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya’ dan itu seakan mesti menjadi suatu teguran bagi rezim Orde Baru yang telah menghilangkan nama Tan Malaka di buku sejarah resmi pemerintah. Tan Malaka tidak pernah hadir di dalam buku sejarah tapi gelar kepahlawannya tidak pernah dicabut. Tan Malaka menjadi pahlawan tanpa makam. Pada tanggal 14 April 2010, puluhan mahasiswa dari beberapa universitas terkemuka di Sumatera Barat memancangkan plang jalan Tan Malaka yang terletak di samping RRI di kota Padang. Sudah beberapa tahun jalan Tan Malaka—yang sebelah menyebelah dengan jalan Abdul Muis—dibiarkan pemerintah tanpa plang nama. Ini adalah suatu bentuk kepedulian mahasiswa untuk memunculkan kembali nama dan peran Tan Malaka khususnya di provinsi di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Namun kondisi ini menjadi semakin miris dikarenakan sebagian besar anak muda Sumatera Barat tidak kenal dengan siapa itu Tan Malaka.

Tan Malaka, jika lahir di Prancis maka ia akan diberikan satu gelar terhormat atasnya yaitu Grand Homme. Gelar ini sebagai pembeda untuk sebutan pahlawan sejenis di negara lain. Jika pahlawan dimaknai peranannya hanya untuk negeri itu sendiri maka Grand Homme adalah bukti pengabdiannya di ranah internasional. Nama-nama seperti Voltaire, Jim Morrison, Oscar Wilde, Victor Hugo hingga Marrie Currie adalah nama-nama yang diabdikan di berbagai Panthéon di Prancis—pekuburan terhormat untuk mereka. Mereka adalah politisi, pemusik, sastrawan, budayawan hingga ilmuwan yang buah karyanya terus berpengaruh besar hingga hari ini. Hari ini Taman Makam Pahlawan kita hanya didominasi oleh kaum militer belaka. Lalu ketika wacana menjadikan Soeharto dan Gus Dur sebagai pahlawan mulai mencuat beberapa waktu terakhir, apakah ini bukan saat yang tepat untuk kita bersama-sama mulai memikirkan ulang pemaknaan kita akan arti dari kata pahlawan itu sendiri? Oleh karena itu dalam peringatan Hari Pahlawan tahun ini sudah saatnya kita mulai melihat sejarah secara objektif dan arif bijaksana sehingga pemaknaan kita akan konsep kepahlawanan tidak menjadi sedemikian sempitnya. Sudah saatnya republik ini mempunyai panthéon-nya sendiri.

:: Referensi (c) : Devy KA., artikel ini dimuat di Haluan, 9 November 2010

Minggu, 07 November 2010

Pentingkah Indonesia Bagi Barrack Hussein OBAMA ?

Oleh : Muhammad Ilham

Tak ada makan siang yang "gratis" ! (No Name) .... Who Get What How and When (Harold Laswell : 1981)

Euforia kedatangan Obama mulai kembali menjangkiti Indonesia. Setelah terundur dua kali rencana kedatangannya ke Indonesia, kedatangan Obama kali ini (9 Nopember) kembali menyedot perhatian publik ditengah-tengah "malapetaka-musibah" yang tidak berhenti di negeri tercinta ini. Beberapa analisis dalam melihat kedatangan Obama ke Indonesia mulai bermunculan kembali. Mulai dari menganggap kedatangan Obama sebagai kedatangan "anak hilang" hingga over-confident beberapa pengamat yang menganggap kedatangan si Hussein Barrack ini sebagai refleksi begitu strategisnya Indonesia di mata negara Paman Sam tersebut. Pertanyaannya : "Apakah Indonesia dianggap penting oleh Amerika Serikat?". Menarik menyimak tulisan Prof Wiliam Liddle, tgl 3/11/2010 yang dimuat dirubrik Harian kompas. Kejujuran beliau memaknai kunjungan Obama ke Indonesia, dan prioritas pemerintahan AS saat ini, membuat kita harus tahu diri agar tidak terlalu banyak berharap. Hasil pemilu terakhir membuktikan kecerdasan pemilih AS yang membuat ke seimbangan baru, dengan menangnya partai Republik pada pemilu sela, sudah cukup untuk menjadi mayoritas di DPR dengan 230 kursi dari total 435 kursi DPR, setelah mendapat tambahan sekitar 69 kursi.

Kekalahan partai Demokrat, disebabkan frustasi-nya rakyat AS atas krisis yang belum dapat dilalui. Ketersediaan lapangan kerja yang terbatas, tingkat pengangguran yang tinggi, membuat harapan (ekspektasi) yang tinggi terhadap Obama berlahan mulai hilang. Kebijakan-kebijakan Obama yang populis dari jaminan kesehatan, sampai dana talangan Milyaran $ bagi korporasi besar, tidak membuat rakyat AS merasa puas, karena yang paling dibutuhkan ketersediaan lapangan kerja. Tidak heran bila Obama berkunjung ke Asia adalah dengan motif ekonomi, di awali dengan kunjungan ke India, menghasilkan kontrak 10 milyar US Dollar, “Kerja sama ini bakal membuka 54.000 lowongan kerja baru di negara saya,” begitu kata Obama di depan pertemuan para pengusaha Amerika dan India di Mumbai. Tidak heran di India, Obama berkunjung selama 3 hari, sementara di Indonesia, datang pada tanggal 9 november dan tanggal 10 november lansung menuju ke Korsel. Jadi dapat kita pahami, Obama perlu bergerak cepat agar ekonominya negaranya cepat pulih, dengan mencari mitra Negara yang tepat, agar cepat bangkit dari krisis, selain India, menurut William Liddle, adalah negara Cina yang dapat membantu perekonomian Amerika di Asia. Soal peran politik, Prof. William Lidde juga menjelaskan, Indonesia bukanlah posisi Indonesia terletak jauh di bawah posisi Amerika dalam percaturan politik global masa kini. Di panggung dunia, Indonesia belum menjadi pemain sedang, apalagi besar. Lebih terperinci, sumber daya politik yang dimiliki Indonesia dan bisa dimanfaatkan untuk membantu atau melawan Amerika, tentu demi mengajukan kepentingan Indonesia sendiri, masih sangat sedikit dibandingkan dengan negara-negara lain. Kenyataan itu berarti bahwa Indonesia gampang dilupakan atau dikesampingkan pemain lain.

Saya kira pendapat ini benar dan kita tidak usah harus malu, mengakui segala kelemahan negara kita, agar kita pandai menempatkan diri dan tidak besar kepala akan capaian ekonomi dan peran politik Indonesia baik regional dan internasional. Kita tahu AS banyak persoalan yang harus mereka tuntaskan, dari perang Irak, Afganistan dan Timur Tengah, baik itu terkait dengan Israel Palestina, Iran dan mitra strategis amerika lainnya termasuk Arab Saudi, sebagai suplayer minyak terbesar ke AS. Di kawasan Asean saja, penghormatan Negara tetangga kita terutama Malaysia dan Singapura, adalah semu, penuh "keberpura-puraan", mereka hanya mengiyakan kepentingan Indonesia ketika itu tidak merugikan mereka, pada saat kita membutuhkan bantuan kepada Negara tetangga, baik itu soal kesejahteraan TKI kita di Malaysia, maupun soal koruptor yang berlindung di Singapura, mereka tak mau memenuhi permintaan Negara kita. Apalagi bila kita berbicara dalam konteks yang lebih luas, baik itu Asia maupun dunia. Inilah makna tulisan sang professor, bahwa Indonesia gampang dilupakan dan dikesampingkan pemain lain. Sehingga wajar Obama harus berpikir realisistis dan pragmatis demi kepentingan Bangsanya, bukan hanya romantisme masa lalu, bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari hidupnya. Kondisi ini tidak lantas harus membuat kita berkecil hati, melihat bangsa sendiri dari sudut pandang orang lain, adalah bagian dari introspeksi bagi bangsa ini, ditengah bencana yang terus melanda bumi pertiwi, ternyata kebersamaan kita muncul, rasa kepedulian atas nasib saudara kita tidak pernah lemah, ini sebuah momentum untuk membangkitkan nasionalisme .

Kita punya modal kuat, dari sumberdaya alam dan rasa ikatan nasionalisme yang selalu teruji pada setiap ada musibah besar melanda negeri, dari pengamen sampai rakyat biasa, dari pekerja sampai para guru, berlomba memberikan bantuan walau hanya sekedarnya. Saya kira para pemimpin tinggal memoles ini, dengan memberikan tauladan, baik itu perkataan dan perbuatan, keberpihakan bukan kata-kata, tapi perbuatan, hukum bukan hanya diatas kertas, tapi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak memanpaatkan kesempatan bagi para pejabat dan DPR/D untuk bersenang-senang dan memperkaya diri sendiri atau kelompok, apalagi ditengah derita rakyatnya, kekayaan alam yang melimpah bukan hanya milik korporasi asing atau konglomerat, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia. Dengan inilah bangsa lain akan menghargai kita.

:: Sumber : Sobron H (kompasiana)/William Liddle (kompas)

Hulagu Khan

Oleh : Muhammad Ilham

Pasukan tangguh, jago perang dari gurun nan tandus, penuh kutu dan tidak memahami makna mandi. Pada mereka, pusat peradaban dunia - dinasti Abbasiyah - hancur. Buku-buku, mahakarya intelektual masa itu, mereka bakar dan buang, kulitnya mereka buat jadi penambal sepatu.

Hulagu Khan, nama yang sangat familiar bagi yang membaca kehancuran peradaban Islam Abbasiyah. Benarlah yang dikatakan Philip K. Hitti dan Fernand Braudel, "hanya Muhammad SAW. yang tidak, semua semua aktor sejarah yang lahir dalam belaian gurun tandus, akan memiliki kecenderungan barbar, ganas dan alot dalam peperangan". Bila diletakkan "pada zamannya", apa yang dikatakan Hitti dan Braudel, bisa diterima. Hulagu Khan yang merupakan "cucu genetik-biologis" Jenghis Khan, hidup dalam lingkungan stepa dan gurun tandus (Mongolia dan Dobi). Dalam sejarah, penaklukkan yang dilakukan oleh Jenghis Khan dan anak-cucunya, bisa dikategorikan sebagai penaklukan yang membuat bulu kuduk merinding - setidaknya demikian yang terbaca dari buku-buku sejarah. Bahkan, Timur Leng (pendiri dinasti Timurid) yang tersohor itu, dikenal sebagai petarung tangguh yang "kejam disatu sisi, sentimentil disisi lain", kata sejarawan Harold Lamb. "Sipincang dari Timur" (julukan bagi Timur Leng) yang muslim ini pernah membuat tugu dari ratusan kepala orang-orang taklukannya, di sebuah daerah di Asia Tengah. Ia ibarat Hajjaj, yang dicatat sejarah sebagai "tangan kanan" salah seorang khalifah Dinasti Ummayah paling kejam. "Beringas dan gemar membunuh, tapi sangat kontemplatif kala menghadap Tuhan pada malam hari," kata Ira M. Lapidus.

Dan Hulagu Khan, juga meninggalkan cerita-cerita yang "menyeramkan". Kala Baghdad (dinasti Abbasiyah) ditaklukkan tahun 1258. Tepian sungai Tigris itu menampakkan pemandangan ganjil. Dari dataran sekelilingnya, kecemerlangan kota tampak jelas. Gedung-gedung megah bertaburan tertata secara rapi. Saat itu, hampir tidak ada kota di dunia segemerlap Baghdad. Namun ribuan tenda mendadak bermunculan di luar kota. Itulah tenda pemimpin Mongol, Hulagu Khan, beserta 200-an ribu pasukannya. Sejarah mencatat, Khalifah Al-Mu'tashim dan para pembesar Kekhalifahan Abbasiyah dengan senang hati menemui Hulagu. Ia membawa berbagai macam hadiah. Hulagu menerima mereka dengan dingin. Ia memenggal kepala khalifah dan seluruh pengikutnya satu per satu. Hulagu kemudian memerintahkan pasukannya untuk meratakan Baghdad dengan tanah. Bukan hanya istana dan gedung-gedung kerajaan saja. Namun juga rumah penduduk, masjid, serta madrasah, universitas dan perpustakaan. Kemegahan Baghdad habis tanpa bekas. Seluruh warga tewas dibantai, kecuali yang sempat lari menyelamatkan diri. Peristiwa ini merupakan salah satu penghancuran terbesar kebudayaan masyarakat Islam yang telah berkembang selama lebih 6 (enam) abad. Hulagu tetap tinggal di tendanya. Ia sepenuhnya mewakili karakter masyarakatnya, bangsa Mongol, saat itu yang sangat sederhana namun brutal. Mulanya bangsa itu adalah kelompok-kelompok kecil pemburu dan penggembala di padang stepa di utara Cina hingga Siberia.

Mereka mempercayai sebagai keturunan Alanja Khan yang mempunyai dua anak kembar, Tatar dan Mongol. Adalah Yasugi Bahadur Khan yang diyakini sebagai pemersatu kelompok-kelompok Mongol. Setelah meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya, Temujin yang berusia 13 tahun. Pada 1206, Temujin mendapat gelar Jenghis Khan. Ia membangun pasukan laki-laki dan pertempuan dalam kelompok 10, 200, serta 1.000 orang yang masing-masing dipimpin oleh seorang komandan. Dengan pasukannya itu, ia menaklukkan Cina dan menguasai sepenuhnya Asia Tengah. Kota-kota indah seperti Samarkand, Bukhara dihancurkan sama sekali. Penduduk dibantai habis-habisan. Sultan Ala Al-Din mencoba menghadang gerak pasukan itu di Bukhara. Ia tewas dalam pertempuran. Jalal Al-Din, anaknya, terpaksa lari ke India. Jenghis Khan mewariskan semangat berpetualang dan kebrutalan itu pada anak cucunya. Keempat anaknya, Juchi, Chagatai, Ogotai dan Tuli melanjutkan petualangan tersebut, menjarah wilayah-wilayah Islam.

Salah seorang cucu Jenghis, kemudian malah membangun armada laut yang melakukan ekspedisi militer hingga wilayah Nusantara, sehingga melahirkan insiden Tarik - Jawa Timur, yang melahirkan kerajaan Majapahit. Chagatai menguasai wikayah Ferghana hingga Azerbaijan. Saudaranya, Tuli menduduki Khurasan. Saat itu, kerajaan Islam terpecah belah dan tak mempunyai kekuatan berarti. Sangat mudah bagi pasukan Mongol -yang menghormat matahari terbit-untuk menaklukkan mereka. Sebelum meninggal pada 1256, Tuli sudah menguasai sebagian wilayah Irak. Hulagu tinggal melanjutkannya untuk menaklukkan Baghdad. Damaskus, Yordania, Nablus dan Gaza dengan mudah dikuasai pasukan Hulagu. Mereka mengincar Mesir yang dikuasai kesultanan Mamluk. Panglima Kitbugha mengirim utusan ke Mesir yang meminta Sultan Qutuz menyerah. Utusan Qitbhuga malah dibunuh. Di 'Ain Jalut, Sultan Qutuz bersama panglima Baybars memimpin sendiri pasukannya bertempur melawan pasukan Hulagu. Untuk pertama kalinya, pasukan Mongol dapat ditaklukkan.


Kekuasaan Mongol dilanjutkan oleh anak cucu Hulagu, yang dikenal dengan sebutan dinasti Ilkhan. Abaga, anak Hulagu, memeluk Krtisten. Penggantinya, Ahmad Teguder (1282-1284) masuk Islam, namun dibunuh oleh Arghun, raja keempat yang bertindak kejam terhadap orang-orang Islam. Posisi umat Islam membaik di masa raja ke tujuh Ikhan, Mahmud Ghazan (1295-1304). Ia sempat menganut ajaran Budha sebelum beralih ke Islam. Ghazan tertarik pada masalah peradaban. Ia membangun perguruan tinggi untuk mazhab Syafii serta Hanafi, observatorium, perpustakaan, bahkan juga padepokan atau semacam biara buat kaum sufi. Ia meninggal dalam usia 32 tahun, dan digantikan Muhammad Khudabanda Uljeitu (1304-1317), seorang penganut Syi'ah garis keras. Sultan terakhir dari Dinasti Ilkhan adalah Abu Sa'id (1317-1335). Kekuasaannya hancur setelah terjadi bencana kelaparan hebat akibat serangan badai dan hujan es. Kekuasaan pun terpecah belah, sampai kemudian dihancurkan oleh Timur Lenk, penakluk brutal lainnya yang juga keturunan Mongol. Serbuan Jenghis Khan hingga Hulagu Khan benar-benar membuat masyarakat Islam harus membangun kehidupan baru dari tingkat yang paling dasar. Tidak ada lagi wujud peradaban yang tersisa dari wilayah Asia Tengah, Selatan hingga Timur Tengah. Dinasti Mamluk mampu mempertahankan wilayah Mesir. Dari Mesirlah, kemudian peradaban Islam dibangun kembali.

Sumber : Ira M. Lapidus (1998), Hodgson (1997), Abdul L.Talib (2007) dan Hitti (1982)
:: Bahan kuliah tambahan buat mahasiswa saya mengenai "Titik Balik Peradaban Dunia" di Kelas Sejarah Peradaban Eropa.

Kamis, 04 November 2010

Ketika Tembok Cina Selesai Didirikan, Kemanakah Para Budak (di)Sembunyi(kan) ?

Oleh : Muhammad Ilham

"Ketika tembok Cina selesai didirikan, kemanakah para pekerja bersembunyi atau disembunyikan ?", demikian kata Ernst Bloch. Namun, Ernst Bloch telah menjawabnya. Tembok Cina sejatinya dibuat oleh para pekerja (baca: budak), tapi justru nama Shih Huang-Ti yang tercatat dalam tinta emas sejarah karena “masterpiece” dunia ini.

"Ketika tembok Cina selesai didirikan, kemanakah para pekerja bersembunyi atau disembunyikan ?", demikian kata Ernst Bloch. Untuk logika pertanyaan yang sama, akan timbul gugatan, kemanakah para mahasiswa bersembunyi atau disembunyikan setelah Suharto beserta rezimnya runtuh ? Kemanakah orang-orang yang dengan idealisme adiluhung mau secara tegar dihabiskan oleh ganas-garangnya Pembuangan Digul? Kemanakah mereka yang selama ini berjuang dengan “hati”, namun karena berbeda prinsip politik, mereka akhirnya dijadikan kambing hitam sejarah ?. Pertanyaan-demi pertanyaan akan terus bergulir. Namun, Ernst Bloch telah menjawabnya. Tembok Cina sejatinya dibuat oleh para pekerja (baca: budak), tapi justru nama Shih Huang-Ti yang tercatat dalam tinta emas sejarah karena “masterpiece” dunia ini. Berapa ribu budak menjadi “martir sejarah” hanya demi ambisi Fir’aun dengan proyek mercusuarnya, piramida. Suharto dan rezimnya telah jatuh, namun nama reformasi justru identik dengan segelintir orang. Terkadang, sejarah butuh tumbal untuk merubah arah geraknya.

Gerakan-gerakan nativis, ratu adil dan gerakan-gerakan yang dikompori oleh komunis yang nyata-nyata membuat daya dan energi kolonial Belanda “letih”, justru tidak diapresiasi secara proporsional oleh sejarah. Siapa yang kenal dengan Chalid Salim ? Adik “old-man greatest” H. Agus Salim ini, oleh Takashi Shiraisi, dianggap sebagai pribadi konsekuen. Chalid yang menghabiskan masa-masa produktif intelektualnya menggeluti komunis-sosialis, menjadi salah satu penghuni Digul pada tahun 1920-an s/d 1930-an. Masa itu, Digul adalah “daerah hantu pembuangan” yang ditakuti oleh para pejuang Indonesia. Bersama-sama teman-temannya, Chalid yang diakhir hidupnya menganut agama Nasrani (dan ini disyukuri oleh kakaknya Agus Salim karena selama ini Chalid memproklamirkan dirinya sebagai atheis), menghabiskan hari-harinya di daerah zona 3 Digul.
Ketika itu, Pembuangan Digul oleh Belanda dibagi atas 3 zona. Zona 1 untuk para digulis (orang buangan) yang setelah dibuang ke Digul memperlihatkan kompromi dan bisa “dibina” oleh kolonial Belanda. Mereka ini diberi insentif untuk biaya hidup. Zona 2 bagi digulis yang dianggap “abu-abu”, antara melawan dan kompromi. Zona 3 merupakan zona bagi digulis yang nyata-nyata melawan kepada Belanda. Mereka tidak diberi biaya hidup. Survival in the fittest nyata terjadi di Zona 3 tersebut. Di Zona 3 ini, para digulis banyak berasal dari Minangkabau, diantaranya Hatta, Syahrir dan Chalid Salim. Tapi sayang, Chalid Salim hilang entah kemana dari catatan sejarah. Sejarah pada akhirnya, meminjam istilah dedengkot mazhab Frankfurt-Juergen Habermass, adalah sejarah yang dikondisikan oleh pemegang hegemoni. Justifikasi intelektual yang mencari pegangan ke masa lampau sangat jelas terlihat dalam perjalanan panjang sejarah "anak bangsa" Indonesia. Kita sebagai bangsa yang merdeka, senantiasa berhadapan dengan ketentuan-ketentuan politik dan ekonomi-global yang tidak dapat dikendalikan, bahkan cenderung tidak disadari seperti yang dikatakan oleh Adam Smith -- "tangan-tangan yang tak terlihat".

Ada perasan hanyut dalam arus global itu dan obat untuk menstabilkan semua itu adalah masa lampau yang diharapkan dan dapat menjamin konsensus dan kemapanan. Pandangan seperti ini dikenal dengan istilah historisisme, sebuah pandangan yang mengabaikan sama sekali sejarah sebagai suatu perubahan dan dengan demikian menutup mata bagi kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik yang bisa diupayakan untuk masa yang akan datang
.

Sederhana yang ingin saya sampaikan dalam tulisan di atas ........ Saat sekarang ini, banyak diantara masyarakat Indonesia mulai melupakan sejarah dan track seseorang ....... sekali lagi : ketika menilai seseorang, lihatlah life-track
-nya.

Referensi : Takashi Shiraishi (2004)

Senin, 01 November 2010

Memahami Kearifan MITOS

Oleh : Muhammad Ilham

Mitos "dibodohkan" orang modern karena orang modern "memitoskan" kemodern-an mereka (Ali Shariati)

Jangan cari arti teks, tapi pahami bagaimana teks itu difungsikan... ! (Gadamer)

Mungkin karena takdir, Mentawai berada di daerah administratif Sumatera Barat. Karena takdir ini pulalah, hujan badai yang tidak bisa diprediksi dan terkesan fluktuatif (kadang panas, kadang mendung, kadang hujan lebat plus petir ... sering pula lampu mati) dikorelasikan sebagian orang dengan "masih banyaknya" mayat-mayat saudara-saudara kita di Sipora-Mentawai yang masih belum ditemukan. "Laut dan langit masih ngamuk, karena mayat masih banyak belum ditemukan. Padang dan sekitarnya masuk daerah Sumatera Barat, Mentawai juga Sumatera Barat, maka cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini harus kita tempatkan dalam hubungan itu.!". Sebagian orang meyakini, sebagian tidak. Pengetahuan turun-temurun dari nenek moyang sebagai alasan bagi yang meyakini, mitos yang tidak terukur bagi yang menolak. "Sudah banyak contoh selama ini", kata kawan saya yang meyakini ada hubungan antara respon alam dengan mayat yang masih belum ditemukan. "Sudah diprediksi secara terukur oleh BMKG jauh sebelum gempa-tsunamy terjadi, bahwa cuaca akan ekstrim pendapat kalian adalah mitos", kata kawan saya yang lain. Akhirnya, (selalu) perdebatan itu "dimenangkan" oleh kawan saya yang "memitoskan" BMKG dan parameter ilmiah. Di lain waktu, ketika ada alternatif lain yang ditawarkan oleh kawan saya yang lain pula, bahwa cuaca ekstrim, tsunamy dan gempa karena "Tuhan sudah mulai bosan" - meminjam istilah Ebiet G. Ade, kawan saya yang "me-mitos-kan" parameter ilmiah tersebut, juga mengatakan itu mitos. "Hukum alam yang berlaku", katanya. Saya tidak ingin mengomentari perdebatan ini lebih jauh, karena sangat paradigmatik dan debatable. Saya hanya tergelitik ketika perdebatan ini "menyudutkan" mitos (atau entah apapun-lah namanya). Menganggap mitos sebagai sesuatu yang tidak ilmiah, tidak terukur dan tidak bisa memberikan signal untuk menjaga peradaban dan ummat manusia ini. Seandainyalah mitos tak berguna (fungsional), mengapa ia selalu ada dalam "denyut nadi" perjalanan sejarah ummat manusia ?. Karena fungsional-lah, maka ia menstruktur. Karena ada kearifan dibalik mitos itulah, maka tradisi mitos itu hadir.

Terkadang kita sering menertawakan "nenek moyang". Mitos yang lahir dalam dunia dan masa "antah barantah", zaman dahulu-kala (sudah dahulu ditambah kala lagi) dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna, a-historis, merendahkan akal, membuat "dunia" tertawa dan seterusnya, yang pada dasarnya ingin mengatakan : "mengapa nenek moyang kita dahulu tidak seperti SPA - Socrates, Plato dan Aristoteles - yang meninggalkan warisan "pola asah logika", bukan mitos yang membuat logika tidak pernah matching ?". Mitos yang oleh C.A. van Peursen (Strategie van-de Cultuur, 1981) dianggap sebuah cerita yang hanya memberikan pedoman dan arah tertentu, dan biasanya universal, kepada sekelompok orang. Inti-inti cerita itu berbicara mengenai lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman manusia: kebaikan dan kejahatan, kehidupan-kematian, dosa dan penyucian, perkawinan-kesuburan, dan kehidupan setelah mati. Mitos, bagi van Peursen, bukan hanya sebuah dongeng, ia merupakan rumah pengetahuan bermasyarakat yang di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan. Sampai di sini pengertian mitos masih berbicara dalam salah satu bagian dari kearifan lokal suatu masyarakat dengan berbagai ekspresinya. Peradaban bergeser, maka makna kata dari mitos pun terdegradasi. Definisinya jauh telah berubah dari apa yang dulu coba disandingkan untuk membungkusnya. Ia tereduksi menjadi pengertian yang maknanya sama dengan kata “bohong”, “khayalan”, “asbun”, “bullshit”, dan kata-kata lain yang menghancurkan keingintahuan kita untuk mendalaminya. Ia menutup bentuk-bentuk kearifan lokal dan tradisi masyarakat nusantara yang sarat akan nilai dan filosofi. Ia telah terjatuh dalam sebuah himpunan .... tak berguna!.

Capaian manusia modern, yang terefleksi dari majunya ilmu (sains) mengganti capaian-capaian pengetahuan dan kearifan lokal seumpama mitos. Semua hal diuji guna mendapatkan kebenaran berdasarkan metode dan tatacara yang telah ditentukan secara ilmiah atau keilmuan. Dan tentu saja, bagi sains, “mitos” di nusantara “tidak dapat diuji” kebenarannya. Sains mengingkari nilai kepercayaan dan kearifan tradisi yang sesungguhnya mempunyai tempatnya sendiri. Padahal, tak semua hal—apalagi yang bersifat nonmaterial—bisa dipahami oleh sains. Sains tak mampu mengejar nilai kearifan (sains belum dapat menguji kebenarannya). Dalam perspektif simbolik, “mitos” di nusantara, memiliki fungsi sebagai bagian dari interaksi simbolik, baik ketika berbicara mengenai sejarah, informasi penting, pengetahuan tentang suatu hal, dan fungsi-fungsi lainnya. Nilai kepercayaan, kearifan, dan ekspresi-ekspresi tradisi nyatanya lahir dari latar belakang budaya yang kuat. Ia menciptakan suatu bentuk interaksi, di mana antara satu dengan lainnya berbicara dalam tataran simbolik, berbicara dalam kode-kode alam, ketika— inilah yang hebat — manusia masih menempatkan alam dan bagiannya (gunung, lautan, hewan, tetumbuhan) di atas eksistensi ke-manusia-annya, ketika manusia belum menjadi penakluk bumi yang sangar lagi hingar-bingar.

Ketika masih kecil, ada sebuah mitos yang sangat sering didengar bahwa di setiap pohon yang ada mata airnya ditunggui makhluk halus. Ini mitos untuk menyampaikan ajaran bahwa menghargai lingkungan hidup mutlak diperlukan untuk kelestarian sumber air. Apalagi fungsi pohon adalah tempat pelindung air agar bumi tidak terlalu panas dan menguapkan air ke angkasa. Kita sering diingatkan agar jangan pipis sembarang tempat, karena setiap tempat ada penjaga-nya. Harus minta izin terlebih dahulu, walau tidak pada manusia. Karena banyak orang yang menangkap ini sebagai mitos, maka banyak sudut-sudut bangunan di muka bumi ini yang berbau aring. Nenek moyang kita dahulu pada dasarnya ingin mengajarkan, minta izin itu penting, bukan hanya pada manusia, pada "makhluk lain" dan binatang, juga mutlak dilakukan, karena bumi ini bukan hanya dihuni oleh manusia saja. Dan karena tidak minta izin pada alam (dengan mempelajari apakah layak ditebang atau tidak), akhirnya banjir dan longsor sering terjadi.

Nenek moyang kita lebih arif dan luas dalam memahami segala sesuatu. Itu artinya mereka lebih cerdas dari kita yang secara apriori beranggapan bahwa mitos adalah sesuatu yang tidak perlu dan bahkan secara frontal menuduh sebagai musyrik, bidah, khurofat, takhayul terhadap sebuah mitos. Kenapa tuduhan ini terjadi? Ini berawal dari ketika Logika (logos) "dituhankan". Mitos versus logos yang akhirnya dimenangkan oleh logos. Mitos kemudian dijauhkan dari wacana ilmu pengetahuan modern saat ini. Termasuk yang menyingkirkan peran mitos adalah berkembangnya penafsiran terhadap agama secara “modern.” Padahal, Ali Shariati ketika membedah Imam Mahdi dalam perspektif Syi'ah mengatakan bahwa apabila agama yang dipahami melulu dengan rasio atau akal, justeru memiskinkan hakekat agama itu sendiri. Agama tidak lebih dipahami sebagai benda, yang bisa dianalisa, dipotret, dipotong-potong oleh pisau bedah ilmu dan kemudian hanya diletakkan di laboratorium-laboratorium universitas. Agama dalam pengertian seperti ini tidak akan berkembang sebagai jalan dan petunjuk hidup manusia yang bercahaya terang benderang yang menerangi eksistensi manusia. Agama pun mengalami reduksi makna besar-besaran .... (wallahu'alam, semoga saya salah)

:: terinspirasi dari diskusi diantara kawan-kawan kampus .. !

Pahlawan itu Integritas, Bukan (selalu) dari "Haru Biru" Peperangan

Oleh : Muhammad Ilham

"Dia tak lasak seperti sungai di gunung, tapi tak dalam. Dia tak berada di puncak yang tinggi, tapi menampung. Dia tahu bahwa sumber airnya adalah air yang datang dari jauh di pedalaman, sebuah telaga tak bermula dari air yang tergenang setelah kebetulan hujan” (Tao)

Al Pacino, sang aktor watak Hollywood secara filosofis dalam sebuah filmnya mendefenisikan siapa sebenarnya pahlawan itu? Pahlawan adalah manusia yang memiliki integritas dan menjadi inspirasi terbaik bagi zaman ketika dan setelah ia hidup. Sangat filosofis. Ada tiga kata yang perlu digarisbawahi disini. Manusia, Integritas dan Inspirator. Pahlawan bukan malaikat. Pahlawan adalah manusia. Hidupnya dipenuhi dengan perspektif. Suatu perspektif tidak akan pernah diterima secara bulat-menyeluruh. Ia terikat dengan zaman. Karena itu, terkadang kita tidak adil melihat seorang anak manusia dari perspektif kita atau “kekinian”. Parahnya lagi, tanpa menggunakan parameter yang jelas. Siapa yang bisa menjamin Sukarno adalah manusia yang sempurna, apalagi dilihat dari perspektif sekarang. Mengapa kita marah-bergejolak ketika ada yang “menggugat” kepahlawanan Imam Bonjol ? Siapa yang meragukan dedikasi total Tan Malaka terhadap Indonesia, walaupun oleh Rudolf Mrazek dan Harry Poetze, sang putra Pandan Gadang Suliki ini dianggap pernah berusaha “mengkudeta” supremasi ketokohan Sukarno-Hatta. Meniti episode demi episode kehidupan Tan Malaka, sungguh sangat menggairahkan. Mungkin, beliulah satu-satunya orang Asia Tenggara yang tercatat dalam Manifesto Politbiro Komunis Rusia sebagai salah seorang inspirator ideologi sosialis-komunis Asia.

Beliau dianggap jauh lebih besar dibandingkan Mao Tse Tung maupun "Paman" Ho Chi Minh si "pahlawan legendaris Dien Binh Phu" itu. Seluruh hidupnya dipenuhi oleh aura revolusioner demi martabat Indonesia. Sebagaimana halnya Muhammad Hatta, Tan Malaka adalah makhluk Tuhan yang cool pada wanita, karena beliau terlampau hot untuk berjuang demi Indonesia. Ibrahim Datuk Tan Malaka yang dikagumi orang Filiphina ini, mati secara tragis ditangan bangsanya sendiri. Padahal ditangan bangsa lain – ketika ditangkap oleh orang Belanda maupun ketika ditangkap di Filiphina dan Tiongkok – beliau selamat. Tapi sayang, Tan Malaka adalah “manusia” (manusia dalam tanda kutip). Sejarah hidupnya tidaklah konstan. Ketika sesuatu tidak sesuai dengan apa yang menjadi prinsipnya, ia melawan. Itulah konstanta Tan Malaka. Untung Tan Malaka diberi gelar Pahlawan pada masa Soekarno. Bila ia tak tertembak, dan hidup terus sampai Orde Baru, mungkin kita tidak akan mengenal ada Jalan Tan Malaka (walupun jalan-jalan Tan Malaka tak pernah diberikan untuk jalan-jalan protokol) saat sekarang ini. Dijamin : Tan Malaka tak akan menjadi pahlawan. Padahal, sebagaimana halnya Muhammad Natsir, garansi akademik dan kontribusi positif rasanya telah melebihi cum.

Siapa yang tidak kenal DN. Aidit ? Dipa Nusantara Aidit atau Danu Nusantara Aidit atau Dja’far Nawawi Aidit atau apalah namanya. Bersama-sama dengan “teman-teman mudanya”, seperti Soekarni dan Chairul Saleh, anak muda kelahiran Bangka Belitung dari ayah yang merupakan keturunan Maninjau ini, menculik Sukarno Hatta dan “memaksa” Dwi Tunggal ini memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Melalui biduk “ideologi komunis” beliau mengaktualisasikan potensi politiknya. Dalam usia yang relatif “hijau”, 27 tahun, ia mengambil alih kepemimpinan PKI dari Muso. Bersama dia, ada Lukman yang 30 tahun, Sudisman 31 tahun dan Nyoto 25 tahun. Dalam bukunya Indonesian Communism under Soekarno, Rex Mortimer mengatakan bahwa Aidit adalah figur yang menjunjung idealismenya, dan “miskin” dengan bumbu-bumbu politik seperti yang familiar terjadi pada saat sekarang yaitu uang dan seks. Sejarah menunjukkan bahwa Aidit kemudian “terjerambab” dalam kesalahan pilihan ideologis. Kemudian, ia bukan pahlawan. Kemudian ia terhina. Kemudian ia seakan-akan bukan bahagian dari “kita”. Ini bukan profokatif dan saya tak memiliki kepentingan politis apapun terhadap Aidit dan “anak cucu” ideologisnya. Saya pun tak memiliki referensi yang bisa meyakinkan saya untuk kagum pada Aidit. Tapi setidaknya, itulah yang namanya ketidakdilan sejarah (baca: sejarah versi pemegang kekuasaan).

google.picture.com
Dalam pergulatan sejarah pemikiran Islam akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 masehi, Minangkabau pernah memiliki seorang Datuk, namanya Datuk Batuah – lengkapnya Ahmad Chatib gelar Haji Datuk Batuah. Orang Koto Laweh ini, pada masa itu sangat mencengangkan dan sekaligus mencemaskan. Melalui media massa yang didirikannya – Pemandangan Islam dan Djago Djago – Datuk Batuah memaklumkan diri sebagai “orang komunis”. Persoalannya, bukan pilihan politiknya itu. Persoalannya adalah Datuk Batuah yang haji itu adalah murid ulama ternama Haji Rasul alias Inyiak Dotor, ayahanda ulama legendaris HAMKA. Beliau sendiri sampai awal tahun 1923 berprofesi sebagai guru dan menjadi pengurus Thawalib Padangpanjang, Batusangkar dan Bukittinggi. Dalam sejarah, nama Datuk Batuah bukanlah nama yang bagus dikalangan pergerakan Islam, hingga kini. Padahal, kontribusi pencerahan yang dirintis oleh Datuk Batuah dengan Pemandangan Islam dan Djago Djago sungguh sangat luar biasa. Konon, pada masa ini, ada tiga media massa paling berpengaruh di Hindia Belanda, dua diantaranya terdapat di Minangkabau …… Pemandangan Islam dan Djago Djago. Bahkan, Ruth Mc Vey dalam Zabukunya The Rise of Indonesian Communism dan Takashi Shiraishi dalam bukunya Zaman Bergerak mengatakan bahwa Datuk Batuah dan Haji Misbach (yang ini tokoh Islam “kiri” Surakarta), sangat dihormati oleh kolonial Belanda bukan karena mereka “penjilat” akan tetapi idealisme mereka yang sangat tinggi untuk mencerahkan lingkungan masyarakat dan bangsanya. Coba lihat ending film The Lion of Desert, film biografi kepahlawanan Ahmad Mochtar (yang ini pahlawan Libya melawan Italia yang dibintangi Antony Quinn), dengan senyuman bahkan sempat bercanda dengan seorang anak kecil, dengan kepala tegak penuh martabat, Ahmad Mochtar menuju tiang gantungan yang telah dipersiapkan oleh Italia di bawah Mussolini. Diantara euforia pimpinan militer Italia menyaksikan kematian tragis musuh bebuyutan mereka tersebut, ada seorang elit militer Italia kala itu terpana-terpukau dan berlinangan air matanya melihat Ahmad Mochtar “kembali ke haribaan Tuhan”. Bukan kematian tragisnya yang membuat sang tentara menangis, tapi keyakinan dan idealisme Ahmad Mochtar-lah yang dikaguminya. Dalam keadaan yang bisa “menjilat”, beliau justru “pergi” karena membela keyakinannya.

Gelar Pahlawan bukan berarti menjadi garansi untuk menjadi referensi bagi generasi berikut tentang arti kepemimpinan dan keluhuran budi. Tao, sang filsuf Cina Klasik mengatakan : “Seorang pemimpin yang baik adalah ibarat sebuah danau. Dia tak lasak seperti sungai di gunung, tapi tak dalam. Dia tak berada di puncak yang tinggi, tapi menampung. Dia tahu bahwa sumber airnya adalah air yang datang dari jauh di pedalaman, sebuah telaga tak bermula dari air yang tergenang setelah kebetulan hujan”. Karena itu, kepemimpinan dan figur yang baik itu bukan ditentukan atau dinilai dari keberanian bertindak. Kepemimpinan yang baik terjadi ketika sebuah tindakan merupakan bagian dari hidup yang utuh yang mengaktualisasikan diri …. Good leadership concist of doing less being more, setidaknya demikian nasehat Ahlan Ahmad Sahlan (diplomat Dinasti Abbasiyah yang diperankan oleh Antonio Banderas) dalam film The 13th Centuries Warrior.

Rasanya, tokoh-tokoh diatas dan begitu banyak aktor-aktor sejarah Indonesia lainnya adalah orang yang memiliki integritas. Integritas itulah yang pahlawan, bukan “haru biru” peperangan. Dari integritas itulah generasi berikutnya mampu mendapatkan “pelajaran berarti” agar yang namanya Pahlawan tersebut memiliki makna. Natsir, dan Datuk Batuah dan lain-lain adalah orang-orang yang pantas dan harus kita hormati dan hargai bukan karena mereka tidak dijadikan Pahlawan versi pemerintah sebagaimana kita juga kita menghormati Muhammad Hatta, Agus Salim dan lain-lain bukan karena gelar pahlawan mereka. Integritas dan totalitas perjuangan mereka yang memang akan terus kita kagumi. Karena itulah warisan paling berharga dari mereka. Sudah sepantasnya kita memandang putra-putra terbaik sejarah Indonesia dengan cara itu. Karena nilai-nilai substantif dari kepahlawanan itu bukan dari tampilan heroisme ataupun kepiluan episode pengorbanan hidupnya, akan tetapi pada kekuatannya untuk mempertahankan nilai-nilai integritasnya. Selamat memasuki bulan para Pahlawan !

:: Artikel ini pernah diterbitkan di PADANG EKSPRES, Minggu, 11 November 2008

P.a.h.l.a.w.a.n

Oleh : Muhammad Ilham

(Artikel ini pernah diterbitkan PADANG EKSPRES, Minggu, 10 November 2008. Memasuki bulan Nopember, bulan para "pahlawan", setidaknya artikel ini terasa aktual kembali. Konteks tulisannya sebelum Natsir ditahbiskan jadi Pahlawan).

Asvi Warman Adam, sejarawan urang awak tamatan EHESS Perancis ini suatu waktu pernah menjawab secara tegas pertanyaan yang terus bergelayut dalam memori historis masyarakat Sumatera Barat : “Mengapa Muhammad Natsir belum diberi label Pahlawan ?”. Asvi bilang, Muhammad Natsir merupakan tokoh historis panutan, tapi sayang, beliau memiliki kesalahan politis – “Muhammad Natsir seorang pemberontak”. Kemudian, ragam pendapat bermunculan. Asvi mengecilkan peranan Natsir dalam belantara sejarah Indonesia. Asvi tidak berangkat dari rasa empati dan seterusnya. Bahkan kita “menangisi” mengapa orang Sumatera Barat sekaliber Asvi – yang notabenenya memiliki otoritas keilmuan untuk “meluruskan” anggapan Natsir sebagai pemberontak tersebut – justru terkesan tidak membela. Asvi bahkan dianggap sebagai orang Minangkabau yang mengecilkan tokoh besar Minangkabau, “anak tak mau membesarkan ayah”. Kontroversi Asvi ini kemudian juga berlanjut ketika salah seorang jurnalis-birokrat juga menulis dan memberikan perbandingan : “Pahlawan : Mana yang lebih pantas Natsir dibandingkan Fatmawati yang hanya menjahit sang saka merah putih ?” Sebuah komparasi historis yang kehilangan konteks.

Saya teringat, ketika itu bulan September 2007. Pemprov Sumbar mengundang beberapa pakar sejarah (diantaranya Taufik Abdullah dan Anhar Gonggong). Gawe ketika itu – Seminar untuk “kembali” mengusulkan Natsir jadi pahlawan. “Kembali” karena usulan pertama ditolak. Dari awal dan akhir seminar, semua sepakat, kontribusi Natsir jauh lebih besar dari cacat politiknya. Salah satu otak pemberontakan PRRI yang dianggap sebagai cacat politik tersebut, pada prinsipnya bisa dilihat dari latar belakang penyebabnya, tentunya dengan diperkuat data-data sejarah. Ketika itu, saya dan mungkin semua yang hadir hampir sepakat, tak ada lagi alasan rasional untuk tetap menolak Natsir memberikan label pahlawan. Peluh, keringat, nilai-nilai luhur, kemanusiaannya dan nilai-nilai adiluhung yang diberikan oleh Natsir bagi “peradaban sejarah Indonesia” ini, rasanya jauh “menggunung” dibandingkan “onggokan kecil” cacat politiknya. Tapi nyatanya, “kembali” Natsir ditolak. Majalah Tempo bahkan dalam tahun ini mengeluarkan edisi khusus untuk mengenang Natsir. Natsir dijulang. Sabak dan air mata berlinangan, kita baca riwayat hidup Natsir sebagaimana air mata juga berlinangan ketika kita baca Riwayat Hidup Ali bin Abi Thalib karangan sejarawan Yahudi, George Jordac. Kita tak menyamakan Natsir dengan Ali, tapi setidaknya episode kehidupan mereka yang sangat kontributif bagi ummat manusia, tidak diapresiasi oleh sejarah. Indonesia (baca: pemerintah Indonesia) menganggap Natsir bukan Pahlawan. Beliau yang bersahaja ini tetap dianggap sebagai pemberontak.

Setiap pemberontakan, apabila sudah ada komitmen untuk bersatu, apapun latar belakangnya, dianggap subversif. Itu diktum yang sudah menjadi hukum dalam dunia politik. Mengapa Kahar Muzakkar memberontak ? J. Soumokil melawan, Dewan Banteng karengkang, Buya Daud Beureuh marah pada Soekarno yang dianggapnya munafik, Hasan Tiro dan Ahmad Zaini serta Malik Mahmud mendirikan GAM dan masuk hutan Aceh dan lari ke Swedia dan seterusnya, Natsir serta Syafruddin Prawiranegara dan Soemitro Djojohadikusumo masuk dalam lingkaran “PRRI” dan seterusnya? Justifikasi historis tak diperlukan. Dalam dunia politik, mereka pemberontak. Kita tidak tahu, kapan gelar pahlawan akan diberikan kepada mereka. Mungkin nanti atau tidak sama sekali. Padahal, ada alasan-alasan “rasional” untuk setidaknya kita bisa memahami latar belakang mengapa mereka berseberangan dengan pemegang tampuk politik masanya. Mungkin “ketidakpuasan” atau alasan koreksi terhadap kebijakan pusat yang tak adil.

Tapi sudahlah, jelang 17 Agustus dan 10 Nopember selalu ada Pahlawan-Pahlawan baru dalam “belantara politik Indonesia”. 10 November menjadi hari “keramat” untuk para Pahlawan. Selalu ada pahlawan yang “datang”, walaupun terkadang pahlawan itu (di)muncul(kan) belakangan. Benarkah kita butuh Pahlawan ? Tokoh-tokoh yang termasyhur, para pemimpin rakyat dan komandan pasukan ? Jika masa lampau dengan label kepahlawanan macam itu yang akan kita kenang, barangkali sejarah kita cukup selesai dengan serangkaian hidup orang-orang besar. Bukan itu sebenarnya yang kita butuhkan. Pahlawan adalah domain politik. Sejarah tidak pernah satu kalipun memberikan label pahlawan. Sejarah hanya mengenal “aktor sejarah”. Aktor-aktor tersebutlah, pada prinsipnya yang akan memberikan “warna” sejarah. Warna yang diterima pada masanya, tapi kemudian ditolak pada masa generasi setelah ia lewat. Dan mungkin, warna itu diterima secara bergairah kembali dua atau tiga generasi berikutnya.

Soeharto, Pahlawan, Pemberontakan Silungkang dan "Nano-Nano"

Oleh : Muhammad Ilham

"Indonesia" lebih dulu hadir dalam kesadaran rakyat kecil ... !!

"Ketika Piramida selesai berdiri, kemanakah para budak di/tersembunyikan, mengapa Fir'aun yang tercatat dalam sejarah ?"

Sejarawan Anhar Gonggong dan politisi partai Golkar Chaeruman Harahap berdebat. Kedua tokoh (akademisi dan politisi) ini nampaknya sejalan di "intonasi" suara, bertolak belakang dalam pendapat. Satu Gonggong yang berasal dari Sulawesi Selatan, sementara si-Harahap dari Sumatera Utara (tak terbayangkan bila bukan si-marga Harahap lawan Gonggong, tapi marga Radjagukguk). Mereka sama-sama memiliki kedekatan aksentuasi intonasi yang mirip, keras. Maklum, satu Bugis yang satu lagi Batak. Tapi mereka berbeda tentang "Apakah Soeharto layak jadi Pahlawan Nasional?". Dan perdebatan itu, saya tonton malam ini di TV One, televisi-nya Ical Bakrie sang Ketua Umum Golkar itu. Sudah dapat diprediksi, Chaeruman Harahap yang politisi Golkar keukeuh mengatakan Soeharto layak jadi Pahlawan Nasional, berbanding terbalik dengan Anhar Gonggong. Saya tak ingin memaparkan hangat-nya debat tersebut. Namun yang pasti, jong bugis menolak dengan rekomendasi fakta historis, sementara jong batak melihat dalam kacamata politis. Pada saat melihat debat ini, saya teringat dengan Pemberontakan Silungkang.

Mungkin kita tak begitu kenal dengan sosok yang bernama Abdul Muluk. Dia menjadi Pemimpin Redaksi Panas dan Suara Tambang, sebuah media buruh tambang Ombilin. Mengingat nama media Panas, teringat saya dengan Djago-Djago-nya Datuak Batuah. Unik, membara dan menyadarkan, walau nasib Panas tak sebagus Djago-Djago yang dianggap Ruth Mc. Vey sebagai satu diantara tiga media massa paling berpengaruh di nusantara tahun 1920-an. Media massa Panas hampir tak pernah dikenal, mungkin karena "panas", sehingga ia dibakar sejarah. Abdul Muluk menjadi tokoh Sarikat Rakyat yang kemudian membawanya sebagai salah seorang tokoh kunci pemberontakan Silungkang 1 Januari 1927 - sebuah pemberontakan yang ia nilai sendiri sebagai sebuah kegagalan. Ia kemudian ditangkap, disiksa dan dihukum penjara, 12 tahun plus kerja paksa. Pemerontakan yang diawali tepat pukul 12 malam, Gedung Societet Sawah Lunto di bom granat dari lemper. Para pembesar Belanda kala itu sedang berdansa malam tahun baru. Setelah "penaklukan" Gedung Societet ini berhasil dilakukan, besoknya, penduduk dan buruh tambang Ombilin mengadakan rapat raksasa - menuntut kemerdekaan. Ini semua dalam strategi mereka, akan memberikan inspirasi bagi munculnya gerakan yang sama di daerah-daerah lain. Tapi sayang, Abdul Muluk cs terjerambab. Tapi munculnya tuntutan kemerdekaan dalam rapat raksasa, satu tahun sebelum Sumpah Pemuda, sangat-lah fenomenal.

Kita tidak tahu apa arti "Indonesia" dan kemerdekaan bagi rakyat yang melakukan pemberontakan 1927 ini. Tapi, kawan Abdul Muluk yang lain, Kamaruddin alias Manggulung bersama dengan Sampono Kayo dan Ibrahim dijatuhi hukuman gantung. Dalam pledoinya, mereka mengatakan "terus terang" motif pemberontakan mereka - hasrat untuk merdeka. Satu tahun sebelum Sumpah Pemuda. Mereka meminta untuk di hukum gantung di pasar Silungkang, daerahnya mereka sendiri. Menghadapi kematiannya, Kamaruddin masih tetap imajinatif, menuntut agar dagingnya diiris-iris dan dikirimkan kepada Ratu Belanda, Wilhelmina. Bak Omar Muchtar " Lion of Desert from Libya" , Kamaruddin menolak menutup mata bahkan mengejek ulama yang menuntun jalan jelang sakaratul maut sebagai orang yang telah mengkhianati Islam. Lewat "Indonesia", sebuah konsep yang mungkin belum dikenalnya dengan jelas, Kamaruddin membagi dua, yang "tunduk" dan yang "menentang" penjajahan.

"Indonesia", sebagai sebuah konsep abstrak bagi sebagian besar masyarakat Nusantara, tetaplah sebuah misteri. Tapi pada 1930, dua tahun setelah Sumpah Pemuda, konsep ini membakar Penjara Glodok, tempat Abdul Muluk - kawan Kamaruddin - di hukum kurungan dan kerja paksa. Abdul Muluk bersama kawan-kawan dalam penjara, menghapal diam-diam lagu Indonesai Raya, setelah mereka mendapat bocoran hasil Sumpah Pemuda. Di bawah pimpinan Sulaiman Labai, tokoh Pemberontakan Silungkang lainnya, Sumpah Pemuda mereka bacakan dan lagu Indonesia Raya pun mereka gemakan serentak di sel masing-masing. Mereka kemudian dicambuk dan diasingkan ke dalam sel gelap, konon dengan kaki dan tangan terantai. Sungguh, dinding penjara dan dinding kolonialisme yang lebih luas di luar, tak mampu menahan gerak ekspansif konsep itu kedalam kesadaran wong cilik Silungkang dan tahanan politik lainnya. Tak seorang pun mengetahui dengan pasti, kapan "Indonesia" lahir. Muluk, yang miskin dan pengelana, hanya menjanjikan oleh-oleh pada orang tuanya dalam bentuk kata - "kemerdekaan", dan bukan harta benda. Tahun 1920-an dan 1930-an, Indonesia dan kemerdekaan lebih merupakan obsesi di kalangan rakyat. Adakah di antara para pemimpin pada awal Agustus 1945 berfikir bahwa "Indonesia" akan lahir dalam bentuk revolusi ?

Kisah Muluk, Kamaruddin dan Pemberontakan Silungkang memberikan kesaksian bahwa "Indonesia" lebih dulu hadir dalam kesadaran rakyat kecil. Kalau tidak, bagaimana revolusi bisa berjalan serentak dimana-mana pada tahun 1945-1949? Nyatanya, "Indonesia" bagi Muluk dan Kamaruddin tetaplah sebuh misteri. Demang yang menangkap dan menyiksa mereka pada tahun 1927 pasca pemberontakan telah naik pangkat menjadi hoofd mantri politie. Dan, ketika "Indonesia", yang diperjuangkan para pemberontak itu lahir, sang Demang menjadi salah satu residen di Sumatera Tengah. Dalam jabatan itu, pastilah ia menjadi pendukung Soekarno, tokoh yang sebelumnya dicaci makai dan diejek. Sejarah terkadang terasa "asin" - untuk tidak mengatakan "nano-nano".

Saya tak tahu, apakah ada hubungan antara perdebatan Gonggong dan Harahap diatas dengan peristiwa pemberontakan Silungkang. Lebih baik saya menonton "Bukan Empat Mata"-nya Tukul ..... dan Channel-pun saya tukar .. !.

Referensi : Avi Warman Adam (2009)

Dari Buku "Soeharto - The Life and Legacy of Indonesia’s Second President"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

"Thus, It is not true, that the first two presidents had contradicted each other, they had in truth, supplemented and complemented each other".

Adalah tidak benar jika kedua Presiden itu (Presiden Soekarno dan Soeharto) saling berlawanan. Keduanya merupakan suplemen dan komplemen satu dengan lainnya, tulis Retnowati Abdulgani Knapp dalam buku Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia’s Second President. Buku itu banyak mengungkap bagaimana kedua presiden berperan dalam sejarah Indonesia. Banyak persamaan antara Bung Karno dan Pak Harto dalam menyikapi masalah-masalah kenegaraan. Mengapa dikesankan berbeda, bahkanberlawanan? Pak Harto tidak bermimpi menjadi presiden, bahkan sadar, dirinya tidak memiliki kapasitas sebagai presiden. Karena itu, saat Pak Harto didesak untuk mengambil alih kekuasaan oleh sebagian pendukungnya yang dikatakan irrational, PakHarto tegas menolak dukungan itu. Dalam filosofi Jawa, yang dipegang teguh Pak Harto, jabatan/ kekuasaan, apalagi jabatan Presiden, hanya bisa diperoleh jika orang itu dikaruniai "wahyu". Wahyu tidak perlu diturunkan kepadanya, tetapi bisa kepada orang yang dekat dengannya. Dalam hal kepresidenan Pak Harto, wahyu itu mungkin diturunkan kepada Ibu Tien Soeharto (wallahu a'lam ?) Karena itu, setelah Ibu Tien wafat, Pak Harto tidak dapat lagi mempertahankan kekuasaannya.

Kedua presiden mempunyai mimpi yang sama, yaitu bagaimana mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bung Karno mewujudkan mimpi lewat upaya memerdekakan rakyat dari penjajah. Pak Harto ingin mewujudkan mimpi dengan cara sederhana, mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Perbedaan latar belakang dan lingkungan, baik nasional maupun global, membedakan jalan mewujudkan mimpinya. Bung Karno berjuang sejak masa penjajahan sehingga untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat harus dimulai dengan membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Setelah merdeka, Bung Karno mengalami kondisi perang dingin, antara blok Barat dan Timur, di mana pertentangan ideologi amat mewarnai kondisi nasional dan global. Pak Harto tampil saat perang dingin sudah mereda, bahkan pengaruh komunisme internasional sudah meredup. Keduanya dilahirkan pada waktu yang tepat dalam perspektif sejarah Indonesia.

Bung Karno dan pak Harto menghargai demokrasi. Namun, keduanya tidak setuju kebebasan yang begitu luas. Demokrasi harus disesuaikan dengan keadaan setempat. Karena itu, Bung Karno memperkenalkan "Demokrasi Terpimpin" dan Pak Harto mengenalkan "Demokrasi Pancasila". Keduanya bersumber pada Pancasila/UUD 1945. Hal ini terlepas kedua model demokrasi itu dikatakan sebagai otoritarian, setidaknya, sentralistis. Keduanya amat menghormati pendahulunya, orangtua, sesuai dengan budaya Jawa. "Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai pahlawannya," kata Bung Karno. Pak Harto mengamalkannya melalui ajaran mikul dhuwur mendhem jero. Hal itu tercermin dari sikap Pak Harto yang menolak mengadili Bung Karno dan mengabadikan nama kedua proklamator tersebut pada Bandara Internasional Cengkareng. Keduanya mengalami nasib sama. Meski mendapat penghargaan yang amat tinggi, Bung Karno diangkat sebagai presiden seumur hidup (1963) serta Pak Harto menjadi Bapak Pembangunan dan jenderal bintang lima, keduanya jatuh dimulai dari demo mahasiswa.

Akan tetapi, di saat kritis, di masa transisi itu, keduanya masih mampu bersikap sebagai negarawan, dengan cara menghindarkan pertumpahan darah sesama anak bangsa, secara konstitusional, dengan caranya sendiri. Terakhir, keduanya terserempet isu korupsi. Keterbatasan negara dalam memenuhi anggaran untuk melaksanakan cita-cita revolusi telah melahirkan dana nonbudgeter bernama "Dana Revolusi". Untuk menutup kekurangan anggaran negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, Pak Harto mendirikan berbagai yayasan. Baik "Dana Revolusi" maupun "Dana Yayasan" tidak dipersoalkan, bahkan dianggap baik saat keduanya masih menjadi Presiden. Namun, keduanya dianggap aib saat keduanya tidak menjabat presiden. Perbedaan pokok di antara keduanya adalah sikap terhadap komunisme. Pak Harto tegas anti- komunis. Karena itu, PKI harus dibubarkan pasca-G30S sebab PKI dianggap dibelakangnya. Retnowati menuliskan perbedaan pandangan keduanya melalui percakapan antara Bung Karno dan Pak Harto. Meski berbeda pandangan, keduanya mempunyai alasan yang bersumber pada kepentingan nasional. Karena itu, keduanya tidak bisa dipertemukan. Perbedaan inilah yang mengantar Pak Harto menjadi Presiden kedua Republik Indonesia.

Sumber: http://kompas.com/kompas-cetak/0704/25/opini/3482193.htm