Minggu, 17 Maret 2013

Sal (Salman) Khan: Bill Gates Favorite Teacher

Oleh : Muhammad Ilham 

CNN pernah menurunkan berita, "Sal Khan: Bill Gates' favorite teacher". Siapa yang tak kenal Bill Gates, manusia jenius nan kaya sejagad itu. Siapa yang meragukan kepintaran dan kejeniusan penemu Microsoft keturunan Yahudi tersebut ? ... pasti tak ada. "Dunia" bersepakat, Bill Gates itu pintar dan kaya teramat sangat. Tapi, pada Sal (Salman) Khan, Bill Gates merasa perlu untuk "berguru". Siapa Sal Khan ? ... berikut saya kutip tulisan tentang Sal Khan yang dianggap Bill Gates sebagai "Guru Terhebat", dari website CNN dan Tempointeraktif (20-11-2010), berikut : 

Khan bukan jawara Lembah Silikon, seperti Mark Zuckerberg yang menemukan Facebook atau Andy Rubin yang membuat Google bangkit dengan Android. Khan cuma seorang guru. Khan menghabiskan waktunya di sebuah bekas toilet mini yang ia sulap menjadi studio rekaman sekaligus perpustakaan. Ruangan berukuran 1,5 x 2 meter itu adalah think thank yang dia sebut: bgC3. Di ruang sesak inilah Khan menghabiskan waktunya bersama dua komputer, headphone di telinga, kaus tidur dan piyama, menunggu siang sambil membaca buku atau membuat video. “Orang ini luar biasa,” kata Gates dalam surelnya. “Dia mengerjakan banyak hal dengan sumber daya yang amat terbatas.” Mengapa Khan begitu dikagumi Bill Gates? Gates dan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun, Rory, terpana oleh video-video pendidikan bikinan Khan, dari video aljabar sampai biologi. Yang membuat kagum Gates adalah sosok Khan yang meninggalkan dunia gemerlap sebagai manajer investasi beralih menjadi guru yang mendidik jutaan orang lewat video Internet. Di kontrakannya yang sempit di Lembah Silikon itulah dosen digital ini membikin tutorial video. Khan sebenarnya adalah lulusan MBA (master business of administration) Universitas Harvard. Dulu dia manajer keuangan. Tapi hidupnya kini dia serahkan ke dunia pendidikan, yang dia sebut Khan Academy (http://khanacademy.org/). Di Khan Academy itu, dia adalah satu-satunya guru. Dia bisa mengajar apa saja, dari kalkulus, trigonometri, kimia, fisika, biologi, sampai tentang perang Napoleon, dan pelajaran ekonomi dari pabrik cupcake. 

Sejauh ini, dari bekas toilet itu, dia telah menciptakan 1.630 tutorial dan ditonton oleh 70 ribu orang per hari. Angka itu nyaris dua kali lipat jumlah mahasiswa Harvard plus Universitas Sanford. “Jumlah pengunjung tertinggi mencapai 200 ribu orang,” kata Khan. Sebuah kesungguhan dan ketulusan yang membuat banyak orang iri, termasuk Bill Gates.


“Keindahan dari pengajaran Khan adalah konsistensi dia,” ujar Gates. 

Seperti entrepreneur hebat lainnya, Khan terjun di dunia pendidikan tanpa sengaja. Dia lahir dan besar di New Orleans. Khan putra imigran berdarah Bangladesh dan India. Di bangku kuliah, Khan adalah bintang. Dia punya tiga gelar dari universitas ternama di Amerika Serikat: MBA dari Harvard, bachelor of science bidang matematika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), serta bachelor dan master dari MIT untuk bidang kelistrikan. Dia sempat menjadi presiden kelas di MIT. Khan jatuh cinta kepada kegiatan mengajar setelah ia menjadi guru sukarelawan untuk anak-anak Brookline. Ini adalah anak-anak yang mengalami sindrom attention deficit disorder, yang kesulitan memusatkan fokus perhatian. Dia juga tersentuh ketika keponakannya, yang kelas VII, bertanya soal konversi berat dalam kilogram. Khan pun mulai membuat tutorial dengan menggunakan software Yahoo Doodle. Sejak itulah kecanduan mengajar dimulai. Khan mulai membuat tutorial dengan menulis program JavaScript sendiri. Dia bekerja di sela-sela waktu istirahatnya sebagai manajer investasi, di antara waktu main bola. Lalu dia rekam dalam bentuk video dan diunggah ke YouTube. Khan akhirnya benar-benar hidup untuk akademinya setelah mendapat pesangon US$ 1 juta (Rp 9 miliar). Uang itu dia sebut Khan Capital, yang digunakan untuk membiayai hidupnya dengan investasi. Khan berkukuh tak mau mengkomersialkan situsnya. “Saya sudah punya dua mobil Honda, istri yang cantik dan anak yang hebat, serta rumah,” katanya.

_________ Pelajaran berharga dari Khan :
Khan tak pernah miskin dengan kebaikan. Sebab, pengusaha-pengusaha Lembah Silikon pun membanjiri dia dengan donasi. Indonesia butuh orang-orang baik budi dan tidak sombong seperti dia.

Sumber tulisan miring dan foto : 
money.cnn.com & blog.tempointeraktif.com (13-3-2010)

Bertamu a-la Minangkabau



Suasana dan cara bertamu a-la Minangkabau (tempo doeloe) : 
"bakambangkan lapiak, balatakkan siriah"


(c) foto : adyan anwar

Pursuit of Happyness & Fadli al-Maturidiy

Oleh : Muhammad Ilham  

Malam ini, menonton film "Pursuit of Happyness" (dibintangi aktor kawakan, Will Smith dan aktris cilik berbakat, Jaden Smith). Tak perlu saya narasikan, tapi yang pasti, sungguh berharga menjadi seorang ayah. Film yang menyentuh, sungguh teramat menyentuh, seumpama film "John Q" (pemeran : aktor kelas Oscar, Denzel Washington). Dua film ini, teramat penting untuk ditonton. Pesan yang ingin disampaikannya, sama dengan apa yang diiungkapkan Rabindranat Tagore, "kehadiran seorang anak, adalah pesan bahwa Tuhan tak pernah bosan pada manusia".


"Pursuit of Happyness" (c) foto : selnajaya

Setelah menonton film "Pursuit of Happyness" malam ini, saya-pun rindu ayah ! 

"saya pecinta Soekarno dan Khomeini, tapi secara politik, saya adalah pendukung berat PPP .... lihatlah batu cincin saya, warnanya hijau" ..... (demikian, nukilan kata Fadli Senior, suatu ketika menjelang Pemilu 1987)


(Foto : Almarhum) Ayahanda Tercinta : FADLI AL-MATURIDIY, sekitar tahun 1990-an awal.  

Beliau Tukang jahit, dan ia bangga dengan profesi itu. "Membuat orang bahagia karena memakai baju dan celana baru," katanya pada saya. Pernah kuliah (1960-an awal) di Medan, (juga) pernah menjadi Ketua Pemuda Marhaenis Kdi kota ini tahun 1965, tapi sayang "sejarah mengalahkannya", kalau-lah tidak, mungkin beliau sekaliber Sabam Sirait, itu lho .... politisi senior PDIP, ayahnya politisi muda cerdas, Maruarar Sirait. Akibat imbas gejolak politik 1965, tahun 1967, ia pulang ke Air Bangis dan mendirikan "perusahaan" dengan nama "Melarat" Tailor. Kawan-kawannya heran, mengapa harus "melarat". Sampai sekarang, saya yang anaknya ini, juga tak pernah tahu "ashbab" pemberian nama "Melarat" tersebut.   

Ia yang merupakan pengagum "berat" Soekarno dan pengkoleksi buku-buku Putra Fajar ini, selalu ceria dalam kekurangan finansial. Ketawanya lepas-khas-unik, suaranya "bariton-berat" sempama suara Bob Tutupoly dan Broery Marantika yang disukainya. Wajah mirip Karl Marx .... tapi ia lebih suka dipermiripkan dengan salah seorang idolanya yang lain, Khomeini atau Inyiak Djambek. Menjadi "Pembela" habis-habisan PPP (bukan PDI) kala Orde Baru dalam pentas politik kelas kampung bernama Air Bangis.... dan setahu saya, BUTER (Danramil) di Air Bangis "tidak berani" pada ayah saya, karena sang BUTER adalah "konco palangkinnya" sama-sama minum kopi di sebuah kedai. Ketika menjadi aktifis di Kota Medan, Fadli muda pernah punya Pacar orang Aceh dan Anak Polisi (setingkat Kapolres) Kota Medan nan cantik. Dan itu ia ceritakan dengan "lepas" pada saya yang kala itu masih belum bisa membersihkan ingus warna hijau kebiru-biruan. Ia ingin beritahukan kepada saya ...... "jadilah lelaki yang baik, kamu akan dapat wanita baik, itu saja rumusnya !". Saya masih ingat, dengan menghisap rokok kebanggaannya, KAISER, keluaran Padang Sidempuan, sambil menjahit, ia "mendoktrin" saya tentang siapa sebenarnya Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Natsir, Anwar Sadat, Menachen Begin, Aidit, Hamka hingga Lee Kuen Yew.  

Bagi saya .... Ia mahaguru pertama saya yang memperkenalkan Majalah TEMPO (bukan BOBO), Tenggelamnya Kapal van der Wijk, Buku Cindy Adams hingga Biografi NIXON dan KENNEDY, perjuang Khomeini, Khaddafi hingga Guevara. Pada ia-lah untuk kali pertama saya tahu bahwa SOEHARTO jauh lebih kejam dibandingkan Pol Pot .... dan ia ceritakan itu, kala saya menginjak kelas 2 atau 3 SD. Sesuatu hal yang luar biasa untuk kelas kampung. Saya tahu, ia suka rokok DJI SAM SOE, tapi karena "berlangganan" Koran Tempo dan Panji Masyarakat, terpaksa "seleranya" ia turunkan untuk sekedar menikmati Rokok .... KAISER. "Rasa Roti Gabus", katanya. Ia-lah guru "berenang" saya, yang setiap sore, kala usia saya 5 tahun, "memaksa" saya untuk belajar Olah Raga yang menurutnya adalah olah raga yang sebenar-benar "olah raga". Ya ..... Fadli Al-Mathuridi yang setiap pagi selalu mandi sebelum sholat Shubuh di Masjid Pinggir Sungai, yang selalu memutar Channel REUTER dan BBC London setiap pagi dari Radio Butut. 
(I Love You, Pader !!).

Oh ya saya lupa satu lagi. Beliau-lah yang memperkenalkan kepada saya kali pertama, bagaimana enaknya "teh telor".

Jumat, 01 Maret 2013

Schoolscriften "Sijundai"

Oleh : Muhammad Ilham

"..... gadis2 dalam asrama itoe saija liat sedang meratjau, memanjat dinding. mareka itoe terkena tenung sidjoendai, sematjam sihir jang dilakoekan sa' orang anak moeda di sabuah goeboek puntjak goenoeng jang mamoetar gasing jang dari tengkorak manoesia karena tersinggoeng diloedahi sa' orang anak parampoean itoe jang ia nja soeka pada anak parampoean itoe".

(Schoolscriften, A. Wahab, "boeah tangan dari Padang", Perempoean Bergerak, 16 Juli 1919 : Arsip-fotocopi di PDIKM)


(c) perekacipta

Sekarang "Sijundai" boleh dikatakan hampir punah. Karena dulu, ranah dan jangkauan yang tak luas, membuat seorang laki-laki, bila ditolak seorang perempuan, ia akan merasa tersudut, apalagi diludahi. Dan, sijundai akan "bermain". Tapi pada masa kini, bila seorang anak muda ditolak seorang perempuan, ia akan berkata, "kumbang tak seekor, kuntum tak setangkai, dunia ini luas, banyak nan cantik lagi kamek". Ranah jangkauan telah semakin luas. SIJUNDAI mungkin jadi "catatan sejarah". hehehe.

(sekitar awal tahun 1980-an, di kampung saya, saya terakhir melihat wanita kena SIJUNDAI. ia berlarian sepanjang jalan, menjerit-jerit dengan rambut tergerai. setelah itu, tak pernah terdengar lagi .......... sampai hari ini).

Pram (yang) Bermula di Boekittinggi


Salah satu bacaan favorit saya, "Panggil Aku Kartini" .... (tapi) terbitan terbaru, dengan kulit baru (Hasta Mitra, 2000). Dan, ternyata, buku yang menjadi salah satu "magnum opus" Pram ini, untuk kali pertama, justru diterbitkan di Boekittinggi. "Cetar !!" 


 Penerbit NV. Nusantara-Bukittinggi:  1962 (sampul belakang cacat) 


Penerbit Hasta Mitra Jakarta: 2000 

sumber foto : edmon marcell

Catatan Bening Cak Nun

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Banyak orang berpikir rumit tentang Islam, padahal Islam itu simpel. Selain mengajarkan hal-hal yang ghaib, Islam juga mengajarkan ilmu biologi, kimia, fisika, astronomi, matematika, kebudayaan, lingkungan (bagaimana memperlakukan sehelai rumput dan seekor semut), hukum ekonomi, etika jual beli (di pasar, baik arti sempit atau luas), pemerintahan, demokrasi, etika sosial, bahkan sampai etika bersenggama pun diajarkan. Anda menyingkirkan batu di jalan, ya itu Islam. Anda mencangkul dan mengayuh becak sambil berucap Alhamdulillah atau Allohu Akbar, ya itulah Islam. Islam bukan hanya berujud dalam simbol seperti : peci, sorban, dahi hitam, tasbih, jubah, dst, namun ajaran-ajaran konkret yang siapapun, pasti dapat melakukannya.
(Cak Nun : Suara Merdeka, 9 Januari 2013)

___ Malam ini, selepas sholat Isya di Musholla, seorang kawan bertanya, "Pak Ilham, saya jarang ke musholla, sholat berjamaah. padahal sholat berjamaah di masjid besar pahalanya di sisi Tuhan. selalu saya pulang malam, maklum, saya berdagang di pasar raya, tanpa anak buah. menghidupi anak saya yang lima". Saya jawab, sekenanya (maklum, rinai mulai turun), "pak, kualitas dan kuantitas ibadahmu di mata Tuhan, sangat besar. ibadah itu bukan di musholla saja, di pasar raya sana, sambil membayangkan anak bapak yang lima, bapak telah menjaga amanah Tuhan dengan baik ..... tapi jangan terlampau lena".


Sebagai penutup, saya kutip lagi Cak Nun (Suara Merdeka, 24 Desember 2012) :

Karenanya, Rasululloh pernah mengingatkan tentang keseimbangan antara “pasar dan masjid”. Jika kamu terlalu lama di pasar (dalam arti luas), segeralah kembali ke masjid, sebab pasar akan membawamu ke arah materialistis. Ketika ke masjid, maka nurani dan akalmu akan didinginkan bahwa kelak semua materi itu tidak akan kau bawa mati. Materi akan dapat dibawa mati jika mampu ditransformasikan menjadi energi, cahaya atau nur, atau dalam bahasa agamanya “diamal-salehkan” uang dan hartamu hanya dapat dibawa mati jika diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kebaikan bersama.



 


Referensi : Cak Nun (cc. Suara Merdeka)
Foto (c) heningrumahhati & sitonga 

Afifa Ilham dan Tan Malaka

Oleh : Muhammad Ilham 

kala bulan bulat penuh, pada tiga malam yang lalu, pada dua setelah :

(1). Setelah pulang dari mengaji di Musholla dan menyerap materi kaji tentang baik-buruk, kiri-kanan dan seterusnya. (2). Setelah ibunya mengatakan bahwa Tan Malaka adalah pejuang dan pahlawan Indonesia dari kelompok kiri.

(1) dan (2) digabungkannya, jadilah kemudian ia bertanya pada saya : 
"Ayah, Tan Malaka itu Jelek ... ya ?". 
 
"Memangnya mengapa ?", tanya saya sambil menyeruput teh manis yang tak hangat betul.


"Kata guru ngaji, apabila kita menerima catatan amal nantinya di akhirat dari tangan kiri, berarti kita akan masuk neraka. Tadi ibu bilang, Tan Malaka yang gambarnya ada di kamar belakang itu berasal dari kelompok kiri", jawabnya. 
 

Saya (kemudian) diam, dan dalam hati saya (hanya) bergumam, "tak harus saya jelaskan tentang pertanyaannya itu !". 

Lalu saya ambil tustel dan berkata, "Iffa, selalu yang Kiri untuk membersihkan kotoran. Mari kita berfoto di depan-nya !". 


Afifa Ilham, putri sulung terkasih saya
Tak juara kelas
Tapi pintar dari kacamata saya
Penyenang hati, pelipur lara
Penyuka belimbing yang ditanam ibundanya di samping rumah
Saya sayang padannya
Teramat nian

Sabtu, 02 Februari 2013

Harapan, Politisi dan Wanda Hamidah (yang) Keturunan Arab

Oleh : Muhammad Ilham

Tulisan ini, merupakan Catatan (Note) saya dua tahun lalu. Saya publish kembali, ketika dalam diskusi malam kemaren dengan beberapa kawan, terselip "kegalauan" dan ketidakpercayaan mereka pada yang namanya politisi dan dunia mereka - "politik". "Ilham, kembali komplek kita ramai dikunjungi calon-calon politisi, menawarkan harapan, janji dan setelah mereka nantinya menang atau kalah ..... ya, menang atau kalah, mereka kemudian pergi !".

Bolehkah kita berharap ? Tentu tak salah, bahkan dianjurkan. Bukankah Imam Al-Ghazali justru menempatkan formula "cemas" dan "harap" dalam nukilan-nukilan teosofinya berkenaan dengan ibadah. Demikian juga, misalnya penyair klasik Cina Lut Szun pernah mengatakan bahwa :

Harapan itu ibarat jalan di dalam rimba/ 
Pada awalnya tak ada/
/tapi karena sering dilalui/ 
Akhirnya/
/jalan itu ada dengan sendirinya/.



Demikian juga harapan kita tentang dunia politik yang diisi para politisi (itu sudah pasti, karena tidak mungkin diisi oleh seniman !). Dunia politik dan politisi, bagaimanapun juga, adalah sebuah keniscayaan demokrasi. Namun melihat tingkah polah para politisi belakangan ini, setidaknya sebagaimana yang dipublish berbagai media massa, korupsi dan hedonisme yang berkembang pada badan-tubuh-jiwa mereka, membuat publik justru menganggap dunia politik dan politisi sebagai public enemy, untuk tidak mengatakan benalu. Mungkin publik over generalize, namun publik juga tidak bisa disalahkan. Ekspektasi publik terhadap dunia politik dan para politisi ini begitu besar. Karena itu tidaklah salah bila hedonisme yang menjangkiti para politisi tersebut membuat publik merasa dibodohi dan dipecundangi. Kasihan memang orang yang masuk dunia politik. Tak semua politisi itu yang busuk, pasti ada yang berhati bening dan berjiwa waras. Namun karena dunia politik adalah dunia tawar menawar - yang terefleksi dari "diktum keramat" mbah Harold Lasswel, "who get what how and when", maka mau tidak mau, kepentingan publik harus dikesampingkan ketika berbenturan dengan kepentingan kelompok-partai. Banyak politisi berhati bening tidak sanggupmenolak "pakem" ini. Karena bagaimanapun juga, ketika seseorang ingin terjun di dunia politik, maka ia harus siap bergelut dengan dunia kebusukan. Kalau berhasil, dia akan menjadi politisi yang disegani kawan maupun lawan. Politik itu busuk, kata "rakyat bawah-pinggiran". Iya memang, bila kita dasarkan pada realita yang terlihat. Karena itu sebaiknya dipisahkan saja antara agama dan politik seperti di Barat. Jelas, terukur dan gentle. Kalau tidak, kasihan agama yang selalu di"tunggangi" oleh politisi-politik. 

Politisi seharusnya tidak menjadi bagian utama dalam membiarkan masyarakat mempraktekkan pola berpolitik yang merusak, seperti money politic. Praktek jual beli suara hanya akan menjauhkan cita-cita indonesia menjadi lebih baik. Seorang calon yang menangnya dengan cara membayar, pasti yang dipikirkan pertama kali bagaimana mengembalikan modalnya, bukan bagaimana memperbaiki nasib rakyatnya. Politisi yang ingin memperbaiki negeri ini dengan setulus hati, agar tak mengajari rakyat dengan politik transaksional. Karena itu pula, Majelis Ulama Indonesia (pernah tahun 2009, walau tak jadi) yang berencana mengeluarkan fatwa haram Golput, idealnya justru mengeluarkan fatwa super "haram" bagi masyarakat untuk memilih politisi bermasalah dan mempraktekkan politik transaksional. Saya rasa, itu jauh lebih mendidik dan memiliki pengaruh besar dalam meniti harapan Indonesia yang lebih baik. Bagaimanapun juga, harapan ini harus terus kita pelihara !!

_____________ Ah, malam tadi, kami sepakat bila Wanda Hamidah mencalonkan diri jadi anggota DPR-RI nantinya dari PAN pada Pemilu 2014 yang akan datang, kami tak akan pilih ...... "haram jadah". Tapi sore tadi, sepulang dari kampus, kawan-kawan saya berkabarberita pada saya bahwa nanti mereka justru memilih si Wanda keturunan Arab ini. "Salah kami ilham, ruponyoa inyo negatif, bahkan jadi Duta BNN pulo, tambah pulo inyo jando ..... keh keh keh". Yang pertama dan kedua, nampaknya rasional, sedangkan yang ketiga, libido kawan saya sedang tak terkendali".
 _____________ Saya tak tahu, apakah ada kaitan artikel di atas dengan alinea dibawah.

sumber foto : muslimpolitician.com   

Perspektif

Oleh : Muhammad Ilham

Gadamer mengatakan bahwa "jangan cari arti kata-kata, tapi pahami bagaimana kata-kata itu difungsikan !"  
(Gadamer, cf. Komaruddin Hidayat, 1999: iv).


"Satu Ikan dengan dua libido" (c) Tony Hirsch cc. Muhammad Ilham Fadli facebook

Dunia ini dipenuhi oleh perspektif. Jangan memvonis, perspektif orang bisa kita samakan dengan perspektif kita. Filosof Hobsbawn (pernah) mengatakan, "hanya tukang jahit yang objektif, karena ia selalu memperbaharui ukuran, setiap kita datang untuk mengupah baju atau celana. Sementara yang lain, selalu menggunakan ukuran dulu untuk sekarang ".


c) foto : http://thedali.org

Jumat, 18 Januari 2013

Negeri "Berjuta" Marga

Oleh : Muhammad Ilham 

Salah satu yang menjadi daya tarik bagi saya ketika “berjalan-jalan” ke perkampungan-perkampungan di daerah Sumatera Utara, khususnya perkampungan yang menjadi “enclave” Batak (baik Batak-Mandailing, Toba, Sipirok, Dairi, Simalungun dan Karo), adalah menambah kosakata “marga-marga” orang Batak dalam khazanah saya. Orang Batak, sebagaimana halnya etnik Manado selalu mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama kecil. Menurut Elfitra (2002), orang Jawa dan Sunda lumayan ketat dalam memberi nama anak, sehingga nama-nama mereka memiliki kekhasan tersendiri. Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa langsung dikenali status sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan atau rakyat biasa. Nama depan “Andi” jelas berasal dari kaum ningrat Sulawesi Selatan, khususnya etnik Bugis. Jadi Andi Mallarangeng yang sudah "dicekal" KPK itu, ternyata turunan bangsawan, sama dengan penyanyi legendaris Andi Meriem Matalatta. Demikian juga halnya dengan kelompok masyarakat adat lain : Badui, Dayak, Sakai, Nias atau Mentawai, masing-masing memiliki karakter tersendiri yang mudah dikenali (addressed). Namun tak ada yang “seketat” orang Batak dan Manado dalam memberi nama dengan kualifikasi addressed tersebut. Manado-Kawanua, misalnya, kita mengenal clan seumpama Tambayong, Pondaag (jadi ingat Pance Pondaag), Mangindaan (marganya Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi EE. Mangindaan), Rumangkang dan seterusnya. Nah, bagi saya, nama-nama orang Batak (dalam hal ini, marga-nya) adalah sesuatu yang teramat kaya-variatif, representasi yang jelas dan kadang-kadang unik bila didengar oleh telinga. Karena itulah, bila saya melakukan perjalanan ke Sumatera Utara, maka mata saya selalu akan mencari nama-nama orang Batak yang (baik) tertera di papan pengumuman, di depan pintu rumah ataupun di kertas-kertas Koran.  

Ketika memulai perjalanan melewati kabupaten Mandailing-Natal terus ke Tapanuli Selatan, nama-nama marga yang sering terbaca oleh saya di papan pengumuman masjid (nama-nama pengurus masjid ataupun khatib masjid ketika singgah untuk sholat dan istirahat) adalah Nasution (marga-nya Jenderal A. Nasution dan Adnan Buyung Nasution), Lubis (jadi ingat dengan Perwira berpengaruh yang menjadi salah satu otak PRRI - Kolonel Zulkifli Lubis ..... kalau sekarang, Lubis melekat dalam kosakata publik karena advokat senior Todung Mulya Lubis dan Indra Sahnun Lubis ...... 2 tahun lalu, Kadiv. Humas Polri juga bermarga Lubis - Brigjen. Zainuri Lubis), Hasibuan, Rangkuti (marganya sastrawan-penyair kondang, Hamsad Rangkuti), Pane (ingat pada Sanusi dan Armijn Pane), Pohan, Pulungan, Tanjung (marganya Akbar tanjung dan Faisal Tanjung ........ dan owner TransTV-TransCorp, Chairul Tanjung), dan Dongoran. Ketika memasuki daerah Tapanuli Tengah dan Utara lanjut ke Toba Samosir, biasanya di setiap rumah warga, khususnya di perkampungan, akan terpampang papan nama (kecil) di atas pintu masuk rumah mereka. Nama kepala keluarga. Dan yang paling ditonjolkan adalah nama marga. Begitulah, ketika masuk daerah Sibolga menuju Barus dan Dolok Sanggul terus ke Pakkat …….. saya menikmati “kekayaan-ragam” nama-nama marga. Ada Simanjutak (biasanya sering ditulis M. Simanjuntak atau L. Simanjutak dan seterusnya ……. M dan L, ada juga W ataupun K … tapi selalu disingkat, sementara marga ditulis lengkap), Silalahi (tokoh nasional bermarga Silalahi, sekarang ini, diantaranya TB - Tahi Bonar - Silalahi), Situmeang, Simarmata, Sitompul (marganya si Poltak yang didepak dari Demokrat), Silitonga (pasti ingat dengan penyanyi terkenal era 70-an Eddy Silitonga), Silindung, Singarimbun (jadi ingat sosiolog kenamaan UGM – Prof. Masri Singarimbun …. dan “si – si” yang lain, termasuk Sidabutar, Sitanggang, Sitorus dan Simbolon. Hutasoit (dulu pada era Soharto ada Menteri bermarga Hutasoit - JE. Hutasoit), Hutasuhut, Hutagalung (siapa yang tak kenal Charles Hutagalung, penyanyi bersuara tenor idola ayah saya ... coy), Hutapea (marganya si flamboyan Hotman Paris Hutapea), Hutajulu, Hutahaean, Hutabarat (pasti ingat dengan penyanyi bersuara merdu, Victor Hutabarat) dan “huta-huta” lainnya seperti Hutauruk (dulu ada penyanyi wanita terkenal, Bornok Hutauruk) dan Hutagaol (Huta Timur tak saya jumpai, apalagi Huta Selatan apatah lagi Huta Tenggara). Melewati Dolok Sanggul terus ke Siborong-Borong menuju Parapat, saya catat beberapa nama marga yang lain (setidaknya yang saya lihat/tertulis di pinggir jalan). Ada Panggabean (jadi ingat dengan “orang kuat” zaman Soeharto, Maraden Panggabean yang Jenderal itu), Panjaitan (marga-nya Donal Izaac/DI. Panjaitan yang patungnya ada di Balige), Tampubolon, Pardede (dulu ada klub bola terkenal, Pardedetex yang owner-nya pengusaha terkenal Batak era 70-an TD. Pardede), Pangaribuan (marga advokat dan tokoh HAM,  Luhut Pangaribuan), Gultom, Nainggolan, Tambunan (marga-nya Gayus), Sinaga (jadi ingat dengan Cyrus Sinaga), Girsang, Damanik, Manik.

Ketika melewati daerah menjelang Medan terus ke Sipirok, saya mencatat beberapa marga yang cukup “familiar” kita dengar. Ada Siregar, ada Batubara (marganya mantan menteri Cosmas Batubara), Harahap dan seterusnya. Ketika akan memasuki daerah Karo (Batak Karo) ……. Nama-nama marga-nya semakin “enak didengar”. Ada Perangin-Angin, Sembiring (mungkin Menkominfo Tiffatul Sembiring adalah orang Karo), Bangun (ingat : actor laga Indonesia angkatan Barry Prima, Advent Bangun), Ginting dan seterusnya.

Saya tak sempat mencatat nama-nama marga yang lain. Saya yakin dan percaya, masih puluhan lagi yang belum terbaca oleh saya. Tapi ada satu marga yang dalam perjalanan bulan Desember 2012 lalu yang selalu saya cari-cari, tapi tak ketemu, yaitu marga RAJAGUKGUK. Marga seorang pakar hokum tata Negara, Prof. Erman Rajagukguk. Saya membayangkan (sambil tersenyum), bila dua pakar dari dua daerah berbeda dipertemukan di sebuah forum seminar, yang satu Prof. Erman RAJAGUKGUK, yang satunya lagi sejarawan terkenal asal Makasar, Prof. Anhar GONGGONG. Tentulah, akan menjadi moment nan “unik”……………… (yang terakhir ini, just kidding, tanpa bermaksud melecehkan). 

Rumah Makan Padang Bercita Rasa "Lain"

Oleh : Muhammad Ilham 

(c) wikipedia.com
Lewat kota Medan antara Tebing Tinggi dan Asahan, seperti biasa, mobil yang kami tumpangi berhenti di rumah makan. Tidak cukup besar, juga tak terlalu kecil. Sederhana. Nampaknya rumah makan ini, ada "aura" Minangkabau, buktinya, ketika memesan makanan, ada yang (mampu) berbahasa Minangkabau dengan aksentuasi-langgam Batak. Saya tak ingin mengomentari cita rasa makanannya. Karena perut lapar, "telur puyuh dimasak dengan air biasapun, enak, "kata salah seorang mahasiswa saya. Saya lebih tertarik mengetengahkan "cita rasa" yang lain. Rupanya, rumah makan yang ada "aura" Minangkabau ini, menjadikan wanita sebagai pelayannya. Bukan itu saja, para wanita ini, justru menggunakan pakaian ketat-bahenol. Salah seorang diantaranya, teramat menonjol. Berdiri di ruangan tengah agak ke dapur, sambil mencuci piring. Wajahnya cantik dengan tekstur tubuh a-la Dewi Persik dan (sedikit) Julia Peres. Pokoknya, posisinya tepat. Jadi fokus orang yang makan. Tak henti-hentinya, seorang mahasiswa saya berguman, "alah maak jang, mati tegak lah awak", katanya sambil menyuap nasi yang menurutnya tak enak, tapi jadi SODAP karena ada "cita rasa" yang lain. Cita rasa mata yang "hijrah" ke lidah. 

Saya teringat dengan Mochtar Naim. Dalam sebuah penelitiannya tentang Rumah Makan Padang (saya pernah baca sekilas ketika observasi arsip ke PDIKM Padang Panjang sekitar pertengahan bulan Oktober 2012 yang lalu), sosiolog yang mantan anggota DPD RI ini dengan tegas mengatakan, "rumah makan Minang atawa rumah makan Padang, tidak menggunakan tenaga kerja wanita". Lelaki Minangkabau, menurut Mochtar Naim, melihat wanita yang bekerja di rumah makan, akan teringat dengan ibunya hingga menimbulkan perasaan kasihan. Namun lebih dari itu, kehadiran wanita di rumah makan, akan membuat pemikiran laki-laki yang makan menjadi "pecah", pemikiran bermacam-macam akan muncul berkelindan. Padahal, rumah makan bagi laki-laki Minang, hanyalah untuk makan tok.

_____ ketika jadi mahasiswa dahulunya, saya sering makan di beberapa rumah makan di kota Padang, khususnya rumah makan "harga miring". Dan, pelayannya, semuanya laki-laki. Orang pun datang ke rumah makan, hanya untuk makan. Belakangan ini, beberapa rumah makan yang saya jumpai, justru hanya menggunakan laki-laki sebagai kasir dan penjaga pintu depan saja. Pelayannya kebanyakan wanita. Ketika nasi diletakkan, ia kemudian berjalan membelakang ...... dan pemikiran kita-pun "pecah" jadinya. (Ternyata) Mochtar Naim ..... betul !

_____ Tadi, saya memeriksa laporan catatan perjalanan beberapa orang mahasiswa saya yang berjenis kelamin laki-laki. Dan, kesan yang sangat mengezutkan bagi mereka adalah, "rumah makan Minang dengan wanita montok berpakaian ketat sebagai pelayannya". Dan saya tak menganggap mereka "gatal" ataupun freudian. Bagi saya, mereka sangat detail melihat sebuah komparasi budaya !!

"Membaca" Barus dan Hamzah al-Fansuri

Oleh : Muhammad Ilham

"Hamzah di negeri Melayu, Tempatnya kapur di dalam kayu..."
(Abdul Hadi WM, 1997: iii)


“Membaca” Barus, mengingatkan kita pada sosok ulama sufi, Hamzah al-Fansuri. Hamzah al-Fansuri teramat mencintai Barus. Dalam Syair Perahu, dan Syair Dagang, Hamzah yang bergelar ujung Fansur = Barus ini menukilkan kalam : "Hamzah ini asalnya Fansuri, Mendapat wujud di tanah Shahrnawi, Beroleh khilafat ilmu yang ’ali, Daripada ’Abd al-Qadir Jilani... ! (tentang syair Hamzah al-Fansuri dan hubungannya dengan Barus, lihat Abdul Hadi WM, 1997). Barus menjadi “legenda” tersendiri dalam sejarah. Dicatat-disebut Hamka sebagai tempat persinggahan awal Islam di Nusantara (abad ke-7 M.), dinukilkan Christinne Dobbin sebagai kota pelabuhan ternama di era abad ke 16-17. Semua itu karena Barus menjadi penghasil kayu kamper (kamfer atau al-kafur dalam bahasa Arab) terdapat dalam banyak sumber asli Arab, Persia, dan China dalam berbagai buku perjalanan, botani, kedokteran, dan pengobatan. Menurut Hasan Muarrif Ambary (1998 : 77-78), kapur, yang dalam bahasa Latin disebut camphora, merupakan bagian dalam (inti) kayu kamfer yang padat berisi minyak yang harum. Salah seorang intelektual Arab, Al-Kindi menyebutkan kapur barus sebagai salah satu unsur penting untuk membuat wangi-wangian. 

Sekitar abad ke-8, kapur barus merupakan salah satu dari lima rempah dasar dalam ilmu kedokteran Arab dan Persia. Empat unsur yang lain adalah kesturi, ambar abu-abu, kayu gaharu, dan safran. Pada zaman Abbasiyah, hanya orang kaya dan para pemimpin saja yang menggunakan pewangi dari air kapur barus untuk cuci tangan selepas perjamuan makan. Ibnu Sina atau yang dalam literatur Eropa dikenal sebagai Avicena, dalam bukunya yang terkenal tentang ensiklopedia pengobatan dan obat-obatan, yaitu Al Qanun Fi al-Tib, mencatat manfaat kamfer sebagai obat penenang dan mendinginkan suhu badan yang tinggi. Kamfer juga dipakai sebelum dan sesudah pembedahan, sebagai obat liver, obat diare, sakit kepala, mimisan, dan sariawan. Kapur barus juga dipakai untuk memandikan jenazah sebelum dikuburkan. Variasi penggunaan kapur barus ini menyebabkan nilai jualnya sangat tinggi. Kita tidak akan lagi menemukan kejayaan Islam masa lalu dalam bentuk peradaban hidup. Ia ibarat Cordoba dan Granada Spanyol, hanya tinggalan material yang member pesan bahwa dulunya, Islam pernah menapakkan kejayaan. Mayoritas penduduk Desa Penanggahan, tempat dimana Situs Papan Tinggi berada, mayoritas – untuk tidak mengatakan keseluruhan, adalah Non-Muslim. 

Dalam sejarah disebutkan, warga Muslim lebih memilih tinggal dekat laut, sementara warga non-Muslim memilih berada di perkampungan untuk memudahkan mereka bertanam maupun memelihara ternak. Situs Papan Tinggi adalah situs tinggalan arkeologis berupa makam. Untuk menuju makam tersebut, “dipastikan” keringat akan bercucuran. Anak tangga menuju makam Syech Mahmud, yang membawa syiar Islam pertama di Indonesia tersebut berjumlah hampir 900 anak tangga. Bayangkan ! …… saya dan beberapa mahasiswa saya, teramat kelelahan menapak satu demi satu anak tangga tersebut. Makam Syech Mahmud tersebut di perkirakan sekitar tujuh meter lebih. Di batu nisan yang terbuat dari batu cadas itu, nama Syech Mahmud Fil Hadratul Maut yang ditahrikhkan pada tahun 34 H sampai 44 H yang berarti hidup pada masa Umar Bin Khattab sebagai khalifah (cf : Khilal Syauqi, lc., MA). Tidak diketahui bagaimana caranya batu cadas itu bisa sampai di ketinggian ini. “Barus” yang dicatat Dobbin dan dirindudendamkan Hamka itu, telah pupus. Saat ini hanya tinggalan arkeologis Papan Tinggi dan Makam Mahligai yang menjadi bukti bahwa negeri yang dicintai Hamzah al-Fansuri ini pernah menjadi Venecia-nya Sumatera. 

Referensi : Abdul Hadi WM. (1997) & Hasan Muarrif Ambary (1998)

"Simbolisasi" Agama dalam Politik


Oleh : Muhammad Ilham

Kota saya, sudah mulai banyak dipenuhi baliho para "calon", entah itu calon Walikota ataupun calon legislator yang akan mengadu peruntungan tahun 2013 dan 214 yang akan datang. Seperti biasa, pesan-pesan normatif keagamaan dalam baliho-baliho tersebut - apalagi bila berkaitan dengan moment keagamaan - sangat mengemuka. Dalam konteks ini, teringat oleh saya pengalaman seorang kawan dari teman saya, tahun 2009 yang lalu.  Ada seorang teman dari kawan saya yang kebetulan "nyaleg" waktu Pemilu Legislatif 2009 yang lalu. Teman dari kawan saya ini dikenal sebagai "urang pasa", sering duduk dikedai, hobi main koa dan sangat "pa-ota". Ketika jadi Caleg, praktis ia tak pernah lagi ke kedai memegang kartu Koa. Fotonya di baliho kampanye bergandeng dengan gambar masjid, dan ia memakai baju koko-berkopiah. Dibawahnya bertuliskan : "Mari Kita Kembali ke Surau, Mari Semarakkan Masjid, Hindari Maksiat". Ketika ia dinyatakan gagal jadi anggota legislatif, ia kembali ke habitat-nya, Kedai dan Koa. Sambil bergurau, kawan-kawannya-pun menyindirnya memanfaatkan simbol-simbol agama. Dengan santai ia-pun bilang, di dunia ini tiga daya tarik politik : "Uang, Wanita dan Simbol Agama". Yang pertama, sulit bagi saya, yang kedua tidak mungkin kita lakukan di ranah Minang, yang ketiga lebih memungkinkan. Oke ... putar kartu Koa-nya, kita main .... dan azan berkumandang, ia tidak mau ke Surau .... Coki ! 

(Tulisan dibawah, terinspirasi dari dialog saya dengan seorang kawan di FB)

(c) kompasiana.com
Seandainya Sumatera Barat memiliki ulama kharismatis, mungkin saat-saat sekarang, sang ulama akan kewalahan menerima kunjungan para Calon Kepala Daerah, untuk sekedar bersilaturrahmi. Seandainyalah, Sumatera Barat tidak ”dikuasai” Muhammadiyah, tapi dipengaruhi oleh NU-Tradisionalis, maka saat-saat sekarang ini, akan banyak kunjungan Calon Kepala Daerah ke maqam-maqam ulama kharismatik. Begitu menariknya simbol-simbol agama dalam ranah politik, membuat seluruh pasangan Calon Kepala Daerah, setidaknya yang terlihat di baliho pinggir jalan – merasa perlu untuk memakai simbol-simbol agama : ”Surau, Asmaul Husna, gambar Masjid, Kopiah Haji, Baju Koko dan memamerkan gelar Haji”. Hampir pasti, tak ada Calon Kepala Daerah yang memakai simbol-simbol ”grass-root”. Begitu kuat daya tarik simbol-simbol agama dalam politik, sehingga tidak pula mengherankan apabila (ketika jadi Gubernur) Fauzi Bowo ”kewalahan” menghadapi politisasi kasus Maqam Mbah Priok, Pasangan Jokowi, Basuki "Ahok" Tjahaya Purnama merasa kewalahan menghadapi serangan rasis (baca : agama) terhadap dirinya,  bahkan 2 tahun yang lalu  Julia Perez yang ”bahenol-monotok” tersebut seakan-akan layu untuk maju jadi Bupati Pacitan ketika ”Pasal Zina” dihembuskan Mentri Dalam Negeri.

Agama sebagai sebuah fakta kultural dan historis memiliki dua dimensi utama: yaitu dimensi simbolis-mitis dan sosiologis. Dimensi simbolis-mitis mengandung arti bahwa agama merupakan sebuah struktur makna (meaning structure) yang berada di ranah abstrak dan keberadaannya terlepas dari ruang dan waktu. Melalui struktur makna tersebut maka mode pemahaman diri (mode of self-understanding) digagas dan diciptakan melalui berbagai kegiatan penafsiran (hermeneutics) atas ajaran. Dalam kegiatan ini termasuk penciptaan dan penafsiran atas simbol-simbol dan metafor yang ada untuk kemudian dirumuskan serta diterapkan dalam tindakan aktual. Karena sifatnya yang abstrak dan sangat tergantung pada kemampuan tafsir itulah maka ajaran agama pada hakekatnya terbuka untuk diperdebatkan, apalagi ditambah adanya kenyataan adanya konteks sosiologis dan dimensi historis yang akan menjadi batas dan bingkainya. Pemahaman terhadap ajaran agama, dengan demikian, tidak mungkin tunggal atau monolitik. Munculnya berbagai macam aliran atau mazhab (schools of thought) sebenarnya merupakan hal yang wajar dan sah-sah belaka. Ketika agama dan pemeluknya berada dalam konteks politik, maka peran dan fungsi sosial dan politik agama pun akan sangat dipengaruhi oleh dialektika antara dimensi simbolis-mitis dan sosiologis-historis. Pada suatu konteks historis tertentu agama bisa saja begitu hegemonik sehingga sakan-akan menjadi satu-satunya alat untuk menjelaskan realitas atau merupakan kekuatan ideolologis yang tak tertandingi dalam  masyarakat. Namun pada konteks yang lain posisi seperti ini dapat saja terdesak ataupun mengalami pergeseran-pergeseran dan bahkan bisa lebih jauh : agama dianggap kehilangan relevansinya sebagai alat penjelas realitas tersebut. Sejarah ummat manusia, jika dilihat dari perspektif perkembangan agama, adalah rangkaian perubahan-perubahan yang terjadi dalam peran dan fungsi agama dalam konteks sosiologis ummat manusia.

Dalam kajian antropologi politik, peranan agama dan simbol-simbol supranatural di dalam politik memainkan arti penting. Agama pun bisa dijadikan landasan bagi struktur, landasan kepercayaan, atau sumber tradisi yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Namun, pilihan paling lazim adalah menjadikan agama sebagai alat legitimasi oleh para elite yang berkuasa atau kekuatan yang mengejar kekuasaan (ini yang dikritisi para kalangan Marxian). Pemakaian” ayat, dalil, atau ungkapan yang dinisbatkan pada agama tertentu sebenarnya identik dengan kemunculan kiai atau tokoh lain yang merepresentasikan agama. Kemunculan simbol-simbol tadi telah mengandung pesan, lebih dari makna yang terkandung dalam substansi yang sebenarnya. Tidak heran bila kosakata silaturahmi lebih sering digunakan ketimbang pertemuan politik.Membebaskan panggung politik dari anasir-anasir agama tidak semudah yang dibayangkan kelompok yang menganut paham pemisahan agama dan politik. Bahkan, bagi sebagian kalangan, memisahkan agama dan wilayah politik bukan saja sulit, tapi dipandang tidak perlu. 

Fakta mengungkapkan, bagi sebagian pemilih di tanah air dikotomi tua – muda tidak begitu penting. Demikian juga dikotomi sipil - militer sudah melonggar. Namun dikotomi Islam - non-Islam masih dipandang sensitif dan penting dipertimbangkan sebagai variabel penting keputusan untuk memilih. Bagi sebagian kelompok, bila menerapkan sistem politik menurut kaidah agama dipandang belum mungkin, makamengambil anasir-anasir agama untuk diformulasikan ke dalam kaidah hukum dan politik sudah dianggap cukup. Adaptasi ajaran politik pun terjadi di sepanjang garis keyakinan agama. Keputusan untuk memilih melibatkan variabel yang kompleks. Diperlukan sentuhan personal untuk merebut dukungan. Lebih-lebih dalam situasi ekonomi yang mencekik, kandidat yang bisa memberi harapan bagi perbaikan yang dirasakanakan lebih diapresiasi. 

Referensi : Kuntowijoyo (1994)

Cecak dan Empat "Tetek" : Catatan Kearifan Budaya Lokal

Oleh : Muhammad Ilham 

Apalah “mantagi”cecak ? Makhluk yang selalu saya “tembak” bersama dengan teman-teman masa kecil sewaktu di masjid. “Membunuh seekor cecak, sama artinya membunuh sekian orang kafir”, demikian doktrin bodoh yang saya terima waktu dulu, sebelum saya akil baligh, sebelum memiliki kemampuan untuk membantah guru-guru mengaji saya. Guru-guru mengaji saya itu, saya fikir juga tak salah. Mereka mewarisi “pengajian” sejenis dari guru-guru mereka dulunya. “Cecak-lah yang menunjukkan persembunyian Rasulullah ketika putra Abdullah dan Aminah ini melakukan perjalanan hijrah dari Mekkah menuju Madinah bersama sahabatnya Abu Bakar ash-Shiddiq. Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di sebuah gua agar tak diketahui kafir Qureys. Persembunyian Rasul yang ummi ini hampir diketahui kafir Qureys karena cecak berbunyi, untunglah ada laba-laba yang membuat sarang, sehingga kafir Qureys merasa yakin, didalam gua tidak ada manusia”, demikian kata salah seorang guru mengaji saya dulunya. Dan, dendam kesumat saya berkecambah. Di bulan puasa, saya teramat rajin “menembak” cicak-cicak di dinding dengan senjata panah yang terbuat dari lidi runcing di ujung, ditarik dengan karet yang sangat elastis. Setiap cecak yang tertembak-mati, saya dan teman-teman berteriak girang, seakan-akan kami seumpama “mujahidin”. Demikianlah. Perilaku “bodoh” ini berlangsung untuk beberapa saat, hingga almarhum ayah saya berkata, “tak ada yang sia-sia diciptakan Tuhan di muka bumi ini nak. Mungkin cecak lebih berharga bagi manusia, dibandingkan kamu. Coba lihat, berapa nyamuk yang dimakan cecak. Ketika kamu membunuh satu ekor cecak, maka semakin berkecambah jumlah nyamuk di sekeliling kita”, kata ayah saya sambil menghisap rokok Kaiser setelah berbuka puasa. Dan saya (teramat) ingat dengan ucapan ayah saya ini. Saya tak protes pada guru mengaji saya. Namun yang pasti, setiap bertemu cecak, dalam hati saya selalu “minta maaf” …. Hehehe. Pada dua anak perempuan saya, saya selalu katakan, “walau terkesan menjijikkan bagi sebagian orang, cecak adalah makhluk Tuhan yang tugasnya jelas, yaitu memangsa nyamuk, nyamuk yang selalu menggigit kalian jelang lena tidur”. Saya juga tak pernah menceritakan pada mereka, kisah “bodoh” bunyi cecak di mulut gua kala nabi dan Abu Bakar bersembunyi. Saya ingin pemahaman yang “ramah” pada mereka tentang cecak, walau menurut saya tak memiliki “mantagi”.

Dan, di Tomok pulau Samosir, saya mendapatkan “mantagi” makhluk yang bernama cecak ini. Dalam kajian antropologi, dikenal adanya konsep “key-culture” dalam bentuk simbol. Biasa-nya ini dinisbatkan pada warna, seumpama warna kuning bagi orang Melayu, merah untuk orang Cina, paduan kuning-merah-hitam bagi orang Minangkabau dan seterusnya. Simbol itu juga dipersonifikasikan dengan binatang. Bila kerbau menjadi salah satu simbolisme “key-culture” Minangkabau, babi bagi masyarakat Papua dan Mentawai, kuda bagi orang Lombok dan Sumbawa, Naga untuk etnik Tionghoa, ular pada sub etnik tertentu di India …. maka cecak menjadi pilihan orang Batak. Lihatlah, simbolisasi cecak selalu dietakkan di depan rumah adat Batak, pada tiang-tiang upacara ataupun pada bangunan-bangunan estetik-kultural etnik asal Ruhut Sitompul ini. Ketika kali pertama saya berkunjung ke Tomok tahun 2000, melihat bangunan megalitik Ompu Sidabutar-Naibatu Sidabutar-Anting Malela, saya tertawa-tawa melihat “pilihan” orang Batak jatuh pada cecak untuk mempersonifikasikan nilai-nilai “key-culture” mereka. “Inilah binatang yang sering saya tembak dahulu”, guman saya dalam hati. Namun tawa saya ini berubah menjadi kekaguman ketika saya berdiskusi panjang dengan para tetua adat Batak di pulau Samosir (Tomok dan Ambarita), ataupun di Balige dan beberapa daerah “asli” di Tapanuli Tengah serta Tapanuli Utara.

“Mengapa harus cecak, ompung?”, tanya saya pada Marulin Sipahutar, orang pertama yang saya jumpai tahun 2000 tersebut.

“Saya yakin, itu adalah pertanyaan yang akan kau tanyakan”, jawabnya. Aksentuasinya mengingatkan saya dengan Nagabonar, tokoh idola saya, apalagi ketika ia selalu memanggil saya dengan KAU. “Dengarkan, baik-baik”, katanya sambil memperbaiki letak ulosnya.

“Kau tahu Bill Clinton ? Kau tahu SBY ? Kau tahu Maradona ? Tahukah kau Mike Tyson ?”, tanyanya pada saya.

“Ahhh, tahulah ompung, masak saya tak tahu”, jawab saya dengan bingung karena tak mengerti arah dan tujuan pertanyaannya.

“Mereka punya rumah kan ?. Di rumah Clinton, SBY, Maradona dan Mike Tyson pasti ada cecak. Seperti juga, cecak ada di rumah tukang becak, tukang angkat di pelabuhan, di rumah kenek mobil, sopir angkot hingga sopir taxi, di rumah bintang film Hollywood hingga di rumah pengamen, dari rumah gedung hingga rumah reyot, bahkan rumah yang belum jadi sekalipun ….. cecak pasti ada”, jawabnya bersemangat. Skak Ster.

(Saya-pun mulai terpana. Jawaban yang yang telah mulai menemui titik terang)
“Orang Batak itu harus seperti cecak. Dimanapun mereka berada, mereka harus bisa menyesuaikan diri. Jangan main-main kau dengan filosifi cecak ini, walau ia binatang yang terkesan dilecehkan, tapi ia satu-satunya binatang yang dibangunan apapun didunia ini, ia pasti ditemukn !”, cetusnya kembali sambil menawarkan saya rokok Gudang Garam Merah yang masih terngaga. Terngaga, kagum dengan “makna-filosofis” binatang yang selalu saya tembak waktu kecil itu.

Apa yang diterangkan Marulin bermarga Sipahutar ini membuat saya teringat dengan sosiolog besar peletak dasar grand theory fungsional dalam tradisi ilmu sosiologi, yaitu Talcott Parson. Parson mengatakan bahwa tingkat kemajuan sebuah komunitas sosial sangat dipengaruhi oleh daya adaptif yang dimiliki oleh pendukung komunitas sosial tersebut. Semakin mereka mudah beradaptasi, semakin tinggi potensi mereka untuk dinamis dan terbuka (dua prasyarat komunitas sosial yang diidentikkan dengan masyarakat maju). Saya juga teringat dengan analisis antropolog (muslim) Akbar S. Ahmed yang mengatakan bahwa peradaban Islam di Spanyol sangat maju pada zamannya dikarenakan kemampuan adaptif yang tinggi dari para pendukung peradaban tersebut. Cecak ternyata memiliki “matagi” !!

“Lalu, apa hubungannya dengan gambar nan sensual itu, ompung ?”, tanya saya sambil menunjuk replica PAYUDARA yang jumlahnya empat buah.
Gambar yang membuat fantasi saya liar entah kemana. Apalagi bentuknya yang “pas-montok” ….. tanpa silicon.
Si Ompung ini ketawa terbahak-bahak.
“Tempat kau menyusu ini, ucok!”, jawabnya pada saya.
“Ya, saya tahu. Tapi mengapa cecak mengahadap replica payudara ini ? Apalagi jumlahnya empat buah pula. Setahu saya, jumlahnya dua. Montoknya, bolehlah, tapi kalau jumlahnya empat …. alamaaak jang, pening aku melihatnya”, kata saya. Kembali si ompung ini terbahak.
“Tetek ini, jumlahnya memang empat. (ia menggunakan istilah “tetek” untuk menyebutkan payudara”). Tapi jangan kau bayangkan wanita Batak dulu, teteknya empat pula. Ini maknanya banyak, ucok”, katanya.
“Apa kira-kira maknanya tu ompung”, tanya saya dengan tak sabar.
“Orang Batak, yang digambarkan dengan cecak itu, harus menjadi manusia yang mudah beradaptasi, di negeri manapun di dunia ini. Mereka harus menjadi orang berguna dengan segala ragam profesi. Tapi jangan lupa, mereka punya ibu yang digambarkan dengan tetek. Ibu genetic dan ibu budaya. Intinya, sejauh-jauh cecak merantau, jangan lupa pada kampong halaman mereka, ataupun pada ibu mereka”, terangnya pada saya yang terngaga kembali.
“lalu, kok harus empat jumlah tetek itu, ompung”, Tanya saya kembali.
“hahahahaha, tandanya orang Batak harus menghargai wanita yang subur. Untuk menghargai wanita yang subur itu, maka digambarkan dengan empat buah tetek!”, jawabnya dengan membelalakkan mata (mungkin ia ingat istrinya di rumah).
Sejurus, kami berdua-pun tertawa.
“Ada satu lagi makna nya Ucok”, katanya setengah berteriak.
“Apa itu ompung?”, Tanya saya setengah berteriak pula.
“Empat buah tetek itu menggambarkan empat penjuru mata angin. Cecak yang merantau, di seluruh penjuru mata angin …. harus ingat tetek …. Eh, salah, maksud saya, ibu dan kampong halamannya”, katanya.
(Kami berdua-pun kembali tertawa). Kemudian, saya memandang cecak dan “tetek” yang empat buah tadi. Apa yang ada dalam pemikiran kami berdua, tentulah berbeda. Tahun 2000, kala saya masih bujangan, melihat gambar ini, membuat saya “entah mengapa gituuu !”. Tapi yang pasti, penjelasan Ompung Marulin Sipahutar tadi, membuat saya semakin menyesali perilaku saya waktu kecil dahulu.

Horaaaaas !
Dan saya selalu merindukan terus berkunjung ke Tomok dan Ambarita.
Akhir tahun 2012 yang lalu, adalah kunjungan riset saya yang ke 5 kalinya. Dan tak pernah membosankan. 
Apalagi melihat cecak …….. dengan tetek yang empat buah itu.

Sabtu, 29 Desember 2012

2013 Menjelang



Izinkan saya pamit  beberapa waktu ke depan, untuk tidak menulis di Blog ini. 
"Allah menciptakan dua mata, dua telinga dan satu mulut, maka banyaklah belajar mendengar", 
kata almarhum Raja Arab Saudi - Faisal.
Saya sudah mulai kurang menyimak dan mendengar. 
Bacaan saya semakin berkurang karena rutinitas kerja yang tak bisa dihindari. 
Tulang sudah menua yang tak bisa dielakkan. Tak kuat lagi "bertenggang", begadang istilah Rhoma Irama. Karena itulah, beberapa waktu ke depan, saya ingin istirahat menulis sambil menambah isi "cingkunat" saya yang  mulai mengering dengan bacaan. Saya juga ingin fokus mempersiapkan beberapa proposal (riset) untuk "puzzle" berikut yang Insya Allah akan saya tapaki.

Selamat menjelang dan memasuki Tahun 2013
Semoga Allah Azza wa Jalla sentiasa menyayangi kita semua

sumber foto : catperku.info

Rabu, 26 Desember 2012

Aceng, Jenderal David Petraeus & Lembaga Perkawinan

Oleh : Muhammad Ilham

Ada dua hal yang kontradiktif : 

(c) luv-islam.com
Pertama, Direktur CIA David Petraeus mundur sebagai pimpinan CIA, sebuah jabatan prestisius-strategis, pimpinan agen mata-mata terdepan AS. Tak ada apa-apanya dibandingkan dengan BIN, KGB ataupun Mossad. Jenderal pintar ini mengatakan (bahwa) ia terlibat perselingkuhan dan mengakui telah melakukan kesalahan fatal. Ia berkata, "setelah 37 tahun menikah, saya melakukan tindakan yang salah dengan terlibat skandal di luar pernikahan. Perilaku seperti itu tidak bisa diterima, baik saya sebagai suami maupun sebagai pimpinan organisasi." Ia kemudian minta maaf masyarakat AS .......... dan pada keluarganya. Obama mengatakan bisa menerima pengunduran diri itu sembari memuji atas karyanya di CIA, dan atas jasanya pernah memimpin tentara AS di Irak dan Afganistan. Fox News memberitakan bahwa dia berselingkuh dengan Paula Broadwell, seorang penulis biografi. Intinya, David Petraeus yang Jenderal itu mundur karena menghargai sebuah lembaga yang bernama perkawinan, dan ia menyadari bahwa secara personal dan status, ia adalah figur publik dan publik referen. Ia tak mau berdebat di tataran legalitas-juridis, tapi ia lebih mengedepankan sesuatu yang "mahal" bernama ETIKA. 

Kedua, Aceng HM. Fikri, Bupati Garut nan fenomenal itu, melalui pengacaranya, tak mau mengundurkan diri atas nama legalitas-yuridis. Menyikapi pernikahan 5 harinya, si Bupati ini menganggap pernikahannya secara agama sah, dan tak berbuat salah menurut kacamata Fiqh Munakahat. Mantan Secondan Dicky Candra yang artis itu, juga mengatakan bahwa pernikahannya dengan remaja putri 18 tahun itu, ibarat "membeli barang". "Kalau tak sesuai dengan Spek-nya, buat apa diteruskan". Sebuah argumen yang CETAR - meminjam istilah Syahrini ... hehehe. Dan dalam acara Indonesia Lawyer Club, saya "terkezzut" (pakai huruf "zz"), beberapa ulama kaliber nasional yang dijadikan narasumber oleh Karni Ilyas pun berkomentar tentang Pernikahan Siri si Aceng. Pendapat ulama-ulama ini, si Aceng yang selalu berkopiah hitam tersebut : Pernikahan Aceng dan Fanny Octara secara Fiqh Munakahat, sah. Jangan diperdebatkan, karena sama denga memperdebatkan ketentuan agama (Islam). Mau "satu jam, atau satu hari" pun, perkawinan tersebut tetap sah. Biasa kok, mau diceraikan Aceng mau tidak, terserah ia. Tak perlu harus minta izin sama atasan atau pimpinannya bila ia ingin poligami dan nikah siri ". Poligami itu, kata seorang Imam Besar Masjid terkenal Indonesia yang dibangun oleh arsitek Batak-Kristen (Frederick Silaban), Masjid Istiqlal, berkata, "Orang yang poligami tersebut adalah orang yang memiliki keberanian. Aceng Fikri adalah orang yang Berani".

___________ Dan, tak satu-pun ulama-ulama gadang itu mempersoalkan "begitu rendahnya wanita" dalam proses Aceng Gate tersebut. Bahkan secara langsung justru menganggap Aceng itu pemberani, orang berpoligami adalah orang "Bagak". Karena Rasulullah juga berpoligami, menurut ulama-ulama yang membuat saya miris-terkezut tersebut. Saya akhirnya berfikir, bukankah orang yang mampu menghargai lembaga perkawinan,menyanyangi anak dan (satu) istrinya dengan baik ..... tidakkah orang itu berani dan jantan ? ...... Tidakkah justru orang seumpama Aceng adalah tipikal manusia Pengecut dan berlindung dibalik nash agama yang ditafsirkan secara parsial ? Harusnya para ulama-ulama dan "pengikut" Aceng itu belajar secara totalitas sejarah nabi Muhammad dalam konteks poligami-nya, bukan "membatasi" episode kehidupan nabi pada fase ia berpoligami. Berapa tahun nabi SAW. Monogami ? Bukankah cukup panjang waktu yang ia lalui bersama Khadidjah seorang ? Bukankah masa-masa panjang "berdua" Muhammad-Khadidjah itu, putra Abdullah tersebut sedang "kuat-subur", masa penuh bergolak ? Lalu, kapan ia berpoligami ? Dengan siapa dan konteks (ashbab)-nya apa ? Urusan Syahwat, nash agama dibawa-dibawa. Urusan Syahwat, argumen legalitas-normatif, dipakai secara mati-matian tanpa melihat untuk apa nash (legalitas-normatif) itu hadir ? Seharusnya Fiqh tidak berhenti di analisis makna nash, tapi juga melihat ujung-nya yaitu ETIKA !!

Tapi sudahlah, saya tak banyak punya pengetahuan tentang Fiqh Munakahat. Ilmu saya dangkal tentang ini. Saya hanya ingat nasehat ibu saya (almarhumah) yang buta huruf pada saya beberapa tahun lalu menjelang ia meninggal.
"Untuk apa orang Sholat, nak ?, " tanyanya.
"Agar etika orang tersebut terjaga. Bukankah ujung dari sholat tersebut mencegah perbuatan keji dan munkar ?", jawabnya
"Untuk apa orang puasa, nak ?, " tanyanya kembali.
"Agar orang merasa kasihan pada orang yang tak punya. Agar kita amanah pada Tuhan", jawabnya kembali.
"Bila kamu nanti menikah, untuk apa menikah itu nak ?," tanyanya pada saya yang terpana.
"Perkawinan itu bukan Ijab Qabul, mahar, wali dan saksi saja nak. Tapi ada ujung dari perkawinan atau pernikahan itu, yaitu menciptakan kedamaian, keluarga yang bahagia, sakinah mawaddah wa rahmah. Perkawinan tidak akan damai bila kamu menyakiti istri dan anak-anakmu nanti. Perkawinan tidak akan indah bila kamu berbohong dan berselingkuh. Bila istri-mu memiliki kekurangan, kamu harus menutupinya. Jangan ketika ia sehat dan cantik, kamu mau. Namun ketika ia berkeriput, kamu tinggalkan. Kesalahan istri kamu pada dasarnya juga kesalahan kamu", jawabnya dengan panjang.

Malam kemaren, sebelum tadi malam, selepas saya menonton dengan istri acara ILC (Nikah Siri : Kasus Aceng), UPIK BANUN saya bertanya waktu mau tidur.
"Bang, bagaimana abang melihat lembaga perkawinan itu ?", katanya.
(Mungkin ia sedikit takut mendengar ulama-ulama "gadang" dalam acara ILC tersebut mengatakan lelaki berpoligami adalah lelaki pemberani .... Hiiiks)

Saya-pun tersenyum dan berkata, "ente dan anak-anak adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan pada saya, dan sombong teramat besar saya pada Tuhan bila, anugerah terindah saya sia-siakan. bagi saya itu makna JANTAN". Titik, dan tak perlu kita bahas argumen ulama-ulama gadang di ILC itu, kata saya sambil memadamkan lampu, dan mulai memasuki "keheningan" tidur.

_______ Ujung FIQH adalah Etika, demikian kata almarhumah UMAK saya. Sehingga tak salah, bila perdebatan masalah Nikah Siri, Aceng dan Poligami di ILC, tak memberikan "inspirasi". Jenderal David Petraeus mengedepankan Etika, bukan formal-legalistik. Sementara (belajar dari kasus Aceng), nampaknya kita lebih menyukai berada pada tataran Fiqh, ujungnya-outputnya (baca : Etika), kita kesampingkan. Padahal, karena Etika itulah Rasul di utus ke muka bumi ini. Simpulan saya, "pengajian" almarhumah umak saya yang buta huruf itu jauh lebih ber-ETIKA dibandingkan ulama-ulama gadang yang, menurut saya, tercermin "syahwat tersembunyi". Buktinya, ketika ditanya Karni Ilyas, mengapa harus poligami ? .... jawab mereka umumnya sama, "daripada berzina, kan lebih baik poligami ? (standar mereka hanya-lah Zina). Memangnya nabi berpoligami karena, "daripada berzina ?".

:: Sekali lagi, kita semua terserah berpendapat.

Walaupun agamaku memberikan daya tawar tinggi padaku yang berjenis kelamin laki-laki, namun yakinlah, saya ingin meneladani Baginda Yang Mulia, Muhammad SAW. Beliau yang rajin berolah raga (tentunya olah fisik masa itu : berkuda dan memanah) dan mempraktekkan hidup sehat tersebut, tak memberikan contoh bahwa Khadijah-lah yang harus meminta maaf padanya terlebih dahulu. Muhammad SAW. yang rajin meminum susu kambing itu justru memuliakan wanita. Bukan menganggap wanita sebagai "mainan" dan assesoris "freudian" kelelakiannya.

Referensi : Foxnews (cc : ABCNews) cc. detik.com

Pramoedya Ananta Toer : "Saya Bukan Nelson Mandela"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham 

(c) nasional-list
Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan. Dia berharap saya menerima permintaan maaf yang diungkapkan presiden Abdurrahman Wahid, seperti Mandela memaafkan rezim kulit putih yang telah menindas bangsanya, bahkan memenjarakannya. Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia. Di Afrika Selatan penindasan dan diskriminasi dilakukan oleh kulit putih terhadap kulit hitam. Putih melawan hitam, seperti Belanda melawan Indonesia. Mudah. Apa yang terjadi di Indonesia tidak sesederhana itu: kulit cokat menindas kulit coklat. Lebih dari itu, saya menganggap permintaan maaf Gus Dur dan idenya tentang rekonsiliasi cuma basa basi. Dan gampang amat meminta maaf setelah semuanya yang terjadi itu. Saya tidak memerlukan basa basi. Gus Dur pertama-tama harus menjelaskan dia berbicara atas nama siapa. Mengapa harus dia yang mengatakannya? Kalau dia mewakili suatu kelompok, NU misalnya, kenapa dia berbicara sebagai presiden? Dan jika dia bicara sebagai presiden, kenapa lembaga-lembaga negara dilewatinya begitu saja? Sekalipun dalam kapasitasnya sebagai presiden, Gus Dur tidak bisa meminta maaf. Negara ini mempunya lembaga-lembaga perwakilan, dan biarkan lembaga negara seperti DPR dan MPR mengatakannya. Bukan Gus Dur yang harus mengatakan itu. Yang saya inginkan adalah tegaknya hukum dan keadilan di Indonesia. Orang seperti saya menderita karena tiadanya hukum dan keadilan. Saya kira masalah ini urusan negara, menyangkut DPR dan MPR, tetapi mereka tidak bicara apa-apa. Itu sebabnya saya menganggapnya sebagai basa basi.

Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia. Buku-buku saya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah lanjutan di Amerika, tapi di Indonesia dilarang. Hak saya sebagai pengarang selama 43 tahun dirampas habis. Saya menghabiskan hampir separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan, dan penganiayaan. Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Salah satu anak saya pernah melerai perkelahian di sekolah, tapi ketika tahu bapaknya tapol justru dikeroyok. Istri saya berjualan untuk bertahan hidup, tapi selalu direcoki setelah tahu saya tapol. Bahkan sampai ketua RT tidak mau membuatkan KTP. Rumah saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki militer, sampai sekarang. Buku dan naskah karya-karya saya dibakar. Basa basi baik saja, tapi hanya basa basi. Selanjutnya mau apa? Maukah negara mengganti kerugian orang-orang seperti saya? Negara mungkin harus berutang lagi untuk menebus mengganti semua yang saya miliki. Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hukum. Semuanya mesti lewat hukum. Jadikan itu keputusan DPR dan MPR. Tidak bisa begitu saja basa basi minta maaf.

Tidak pernah ada pengadilan terhadap saya sebelum dijebloskan ke Buru. Semua menganggap saya sebagai barang mainan. Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya dikeroyok habis-habisan, sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi justru menangkap saya. Ketika dibebaskan 14 tahun lalu, saya menerima surat keterangan bahwa saya tidak terlibat G30S-PKI. Namun, setelah itu tidak ada tindakan apa-apa. Dalam buku saya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” yang terbit pada 1990 juga terdapat daftar 40 tapol yang dibunuh Angkatan Darat. Tapi tidak pernah pula ada tindakan. Saya sudah kehilangan kepercayaan. Saya tidak percaya Gus Dur. Dia, seperti juga Goenawan Mohamad, adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim. Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme. Mereka semua ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang saya alami. Mereka ikut bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan Orba. Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi. Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh darah jantung. Basa basi tak lagi bisa menghibur saya.

Sumber :  [nasional-list] Pramoedya Ananta Toer: "Saya Bukan Nelson Mandela"

Kamis, 20 Desember 2012

Harga Diri dan Magnitude Soekarno

Oleh : Muhammad Ilham

Bangsa yang tidak percaya diri untuk tegak mandiri, tidak percaya pada kekuatannya sendiri, menjadi bangsa penjiplak, maka bangsa itu tidak bisa menjadi bangsa merdeka !  
(Pidato HUT Proklamasi, 1963) 

Biarlah foto-foto ini "berbicara", bagaimana seorang "Putra Fajar" menjadi magnet bagi kawan dan lawannya di dunia internasional. Memang banyak orang mengatakan, bahwa Soekarno adalah Presiden ultra-flamboyan - dalam bentuk lain dari "pencitraan" - tapi harga diri dan kemandirian merupakan kata kunci dari perjuangannya. Ia merasakan derita dan mengeluarkan "peluh keringat" untuk sebuah bangsa bernama Indonesia. Ia dan bangsanya tak ingin jadi "pinggiran", ia ingin jadi "ingatan" orang banyak, menjadi "magnet" bagi pemimpin dunia lainnya. Dan, Indonesia berawal dari harga diri yang tercabik dan dihinakan oleh yang namanya kolonialisme - buah dari "kapitalisme", karena itulah, "muka tengadah" arah kedepan sambil tertunduk melihat "masa lalu" menjadi icon pemikiran putra tersayang Idayu Agus Rai ini.


(c) historia-online.com

Presiden Sukarno berdiri berdampingan dengan 4 pemimpin negara Non Blok setelah mereka selesai mengadakan pertemuan. Dari kiri kekanan : Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Bung Karno, dan Tito (Presiden Yugoslavia).  Kelima pemimpin negara non blok ini mengadakan pertemuan yang menghasilkan seruan kepada Presiden AS, Eisenhower (Presiden AS) dan Perdana Menteri "Uni Soviet"/Rusia, Nikita Khruschev, 
agar mereka melakukan perundingan diplomasi kembali 
(Foto: 29 September 1960).

Kamis, 13 Desember 2012

Habibie itu Pengkhianat, (Bahkan) "The Dog of Imperialism"

Oleh : Muhammad Ilham

(c) kompasiana.com
Belakangan ini, media massa dan media elektronik mendapat berita empuk berkaitan dengan statement seorang (mantan) menteri Malaysia yang mengatakan Bacharuddin Joesoef (BJ) Habibie - mantan Presiden Indonesia ketiga - sebagai pengkhianat bangsa Indonesia. Bahkan Presiden dengan mata bak bola pingpong ini dianggap sebagai budak kaum imperialis. Koran Republika, misalnya menjadikan berita ini sebagai headline (tanggal 10/12 dan 11/12-2012). Pemerintah Malaysia, menurut Republika,  untuk kesekian kalinya melecahkan bangsa Indonesia. Setelah tidak pernah serius menyelesaikan kasus tenaga kerja Indonesia (TKI), kali ini mereka menghina presiden Republik Indonesia ketiga, BJ Habibie. Dalam tulisan opini yang dikutip Utusan Malaysia (kemudian dihapus), awal pekan ini, Menteri Penerangan Malaysia Tan Sri Zainuddin Maidin menuding, Habibie sebagai pengkhianat bangsa. Itu lantaran semasa menjabat presiden, Indonesia harus kehilangan Timor Timur (sekarang Timor Leste). Bahkan, dengan kasarnya Zainuddin menyebut, lengsernya Habibie yang merupakan pemerintahan tersingkat dan jatuh dalam kehinaan. "Habibie sebagai 'The Dog of Imperialism' serta pengkhianat bangsa Indonesia. (Habibie) adalah ibarat gunting dalam lipatan ketika pemerintahan Soeharto," demikian pernyataan Zainuddin. 

Meski dalam tulisan itu, ia menekankan hal itu merupakan pandangan pribadi, bukan pemerintah, sontak saja sepertinya kontroversi bakal memanaskan hubungan kedua negara. Kedatangan Habibie ke Selangor, Malaysia atas undangan Anwar Ibrahim. Wakil presiden di era Soeharto itu memberi pidato akademik di Dewan Pro Canselor Universiti Selangor (Unisel) Shah Alam Selangor. Pemerintah Malaysia menyoroti kedatangan Habibie ke Malaysia yang di undang Partai Keadilan Rakyat (PKR). Itu lantaran PKR dikenal sebagai partai oposisi yang dipimpin mantan deputi perdana menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim.

Dan ketika wartawan/reporter TV One mewawancarai Zainuddin Maidin yang bergelar Tan Sri, apakah beliau ingin mengkoreksi pernyataannya di salah satu media massa, akbar istilah negara Cik puna Siti Norhaliza, Zainuddin Maidin yang biasa dipanggil ZAM ini tak bersedia minta maaf.  Bagi saya tidak masalah,  karena bagaimanapun juga, itu bukan pendapat resmi pemerintah Malaysia. Masyarakat Indonesia-pun tak perlu bereaksi berlebihan. Lebih baik opini dibalas dengan opini, itu jauh lebih elegant dan smart. Namun yang saya cengangkan adalah ketika si-ZAM ini mengungkapkan kepada si reporter TV One tersebut bahwa beliau sangat mengagumi Soekarno dan Soeharto. Soeharto tidak masalah, ia (bahkan) dianggap oleh Mahathir Mohammad sebagai sahabat sekaligus guru. Tapi Soekarno ? ......... contradictio. Nampaknya, si-ZAM harus kembali membaca buku sejarah.

Biografer Cindy Adams, pernah menukilkan beberapa paragraf tentang Soekarno - begini :

(c) historia-online

Seorang tokoh pernah berkata, kata Cindy Adams dalam bukunya tersebut, bahwa :

"Jika beliau (maksudnya : Soekarno) berteriak karena terinjak dan teraniaya harga dirinya sebagai presiden dan kepala negara, maka Sukarno adalah presiden paling berani yang pernah hidup di atas bumi ini". "Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!", atau Go to hell with your aid. Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malaya itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu".

Kebencian Soekarno terhadap Malaysia, besar sekali. Kalau si ZAM belajar sejarah, ia akan tahu, bahwa Soekarno pada masa pemerintahannya, pernah ingin menghajar Malaysia. Dan, mengapa Tan Sri Zainuddin Maidin itu justru underestimate dengan Habibie, padahal Habibie tak pernah melontarkan kata-kata profokatif terhadap pemerintahan dan elit politik Malaysia. Mengapa harus Habibie ? Habibie bahkan terkesan soft pada Malaysia ketika beliau menjadi Presiden ? ................................ Nampaknya analisis dari Zaenal A. Budiono/detik.com (15/12/2012) ada benarnya :

detiknews.com - The dog of imperialism. Frasa inilah yang akhir-akhir ini membuat panas kuping sejumlah elit di Indonesia. Gara-garanya, kalimat itu ditujukan untuk mantan Presiden RI ke-3, Baharudin Jusuf Habibie. Penulisnya adalah Tan Sri Zainudin Maidin, mantan Menteri Penerangan Malaysia. Walaupun tulisan Maidin bukan sikap resmi Kuala Lumpur, tetap saja frasa tersebut terlalu kasar sebagai bahasa diplomasi. Apalagi ditilik dari rekam jejak hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, riak-riak selalu menyertai, mulai dari isu TKI, Sipadan-Ligitan, Ambalat, hingga reog. Maka jangan heran jika orang Indonesia sangat sensitif jika ada komentar miring dari jirannya itu. Terkait kedatangan Habibie di Malaysia, itu atas undangan tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim. Beliau didaulat untuk memberikan ceramah di Universiti Selangor. Namun sepertinya hal tersebut tak mendapat restu pemerintah setempat yang dikuasai UMNO. Anwar selama ini dianggap sebagai tokoh reformis Malaysia yang “menganggu” status quo. Beragam cara digunakan pihak penguasa untuk menekan Anwar. Mulai dari isu rekening miliaran ringgit hingga yang menghebohkan soal sodomi. Namun pada akhirnya pengadilan Malaysia membebaskan Anwar karena tak terbukti. Momen kebebasan Anwar makin menyiutkan nyali penguasa Malaysia. Anwar diramal akan menjadi ikon baru demokrasi Malaysia yang hingga kini berjalan bak siput—terlalu lamban. Di sisi lain, kalangan muda dan kelas menengah Malaysia mulai mendukung Anwar. Mereka tak mau dibodohi oleh rejim yang terlalu takut dengan demokrasi. Lebih-lebih, hubungan Anwar dengan sejumlah tokoh reformis Indonesia dikenal dekat. Ia bersahabat baik dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan bahkan menjadi komentator saat Presiden SBY masuk dalam Time 100, tahun 2006 silam. Anwar juga dekat dengan Amien Rais, Gus Dur dan tokoh-tokoh penting Indonesia lainnya. Suasana demikian tak ia temui di Malaysia, dimana antar tokoh pemerintah dan oposisi bisa berdikusi bersama, saling kritik dan tukar pendapat atas nama demokrasi.

Di Indonesia sendiri, partai-partai oposisi bebas mengundang tokoh-tokoh dari luar negeri, menggelar diskusi, kritik, bahkan demonstrasi. Semua disikapi sebagai bagian dari keniscayaan demokrasi. Pada akhirnya iklim yang demikian, akan membuat bangsa ini dewasa dan siap dengan perbedaan. Kembali ke Anwar, salah satu tokoh penting lain yang tak pernah lupa dikunjungi Anwar saat di Jakarta adalah BJ Habibie. Mengapa Anwar dan Partai Keadilan Rakyat Malaysia (PKR) dekat dengan Indonesia? Mereka sadar bahwa kekolotan politik yang anti demokrasi tak akan bisa bertahan lama. Malaysia sekarang boleh mengklaim ekonomi mereka stabil dan terus tumbuh. Namun itu bukan jaminan stabilitas. Kelas menengah dan kalangan terdidik di sana juga memiliki hak-hak politik yang harus diberi saluran. Maka dua kali demonstrasi besar berujung kerusuhan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tak semua klaim tersebut liear dengan realita. Di sisi lain, Indonesia yang sempat terpuruk pasca reformasi—dan berkomitmen menggelar demokrasi—kini terus menunjukkan performance positif dalam ekonomi. Indonesia kini adalah negara dengan GDP nomor 16 di dunia, yakni sebesar US $ 800 Milyar. Makanya kita sekarang masuk kelompok G-20, forum strategis yang menentukan arah pembangunan ekonomi dunia. Indonesia juga sedikit dari negara yang ekonominya terus tumbuh di tengah ketidakpastian global. Saat ini pertumbuhan kita mencapai 6,5%, jauh di atas Malaysia. Investment grade Indonesia pun—yang diberikan R&I, Moddy’s dan Fitch—terus membaik dan bahkan masuk kategori "layak investasi". Tak hanya di bidang ekonomi, Indonesia juga dipandang sebagai "cermin demokrasi" bagi negara-negara berkembang. Keberadaan Bali Democracy Forum (BDF) yang setiap tahunnya menjadi ajang sharing demokrasi negara-negara non Barat membuktikan kita menjadi kutub baru demokrasi Asia. Bahkan tahun 2012 ini, BDF dihadiri 14 pemimpin tertinggi (kepala Negara) dan 43 delegasi lainnya. 


Penasbihan Indonesia sebagai negara demokrasi sudah muncul bebeapa tahun lalu, ketika Freedom House menyamakan level demokrasi Indonesia dengan negara-negara Barat yang demokrasinya sudah maju. The point is, Indonesia yang awalnya tertatih, dimana ekonominya terpuruk di awal-awal reformasi, kini mampu bangkit dan tumbuh dengan menerapkan demokrasi. Hal ini juga sekaligus antitesa bagi sebagian kalangan yang percaya demokrasi di dunia ketiga (negara berkembang) berlawanan dengan kinerja ekonomi. Mengenai isu Timor Timur yang diangkat Maidin, ia seakan “buta” sejarah Indonesia. Sebagai mantan menteri, seharusnya ia tahu bahwa kasus Timor Timur tak sesederhana tuduhannya kepada Habibie yang ia sebut sebagai “pengkhianat”. Rakyat Indonesia menjadi saksi bagaimana Habibie berani membuka pintu bagi demokrasi di Indonesia. Sejak itu era otoritarian orde baru yang mencekam dapat diakhiri. Lepasnya Timor Timur pada 1999 lebih disebabkan tiga hal, pertama, sejarah Timor sendiri yang berbeda dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Kedua, kegagalan pendekatan keamanan ala orde baru yang otoriter. Ketiga, kemungkinan adanya “intervensi” dalam jajak pendapat, dimana penghitungan dilakukan di New York, dan bukan di Dili ataupun Jakarta. Jadi Habibie di sini hanya ketiban tanggung jawab untuk memimpin Indonesia di tengah keterpurukan ekonomi dan keterbukaan politik sekaligus. Sebuah era yang sangat tidak mudah. Rakyat Timor Leste kini juga melihat Indonesia sebagai negara sahabat. Kedua pemimpin negara sepakat menyelesaikan problem masa lalu melalui dialog dan rekonsiliasi. 


Para pengusaha Indonesia juga banyak masuk ke Timor Leste untuk membantu derap ekonomi negara baru tersebut. Tak ada dendam, tak ada permusuhan. Bahkan Xanana Guamao dan Ramos Horta, dua pemimpin Timor berkali-kali datang ke Jakarta dan Bali untuk membangun hubungan baik. Presiden SBY saat melawat ke Dili pertengahan tahun ini disambut sebagai “tamu agung” dengan perayaan besar di sepanjang jalan. Ini menunjukkan bahwa demokrasi dan dialog bisa menjadi elemen soft power yang menentukan dalam diplomasi modern. Jika demikian keadannya, dapat disimpulkan bahwa tuduhan Maidin benar-benar lucu dan ahistoris. Atau ada agenda lain? Mungkin saja. Sebab kalau kita cermati lebih dalam, serangan Maidin sejatinya bukan ke Habibie. Mantan Presiden ketiga Indonesia itu hanya dijadikan media untuk menyerang lawan politiknya di dalam negeri yang paling tangguh: Anwar Ibrahim. Sebagaimana di atas, Anwar tak mudah ditundukkan dengan berbagai cara, bahkan sekarang popularitasnya terus menanjak. Apalagi setelah “serangan isu sodomi” tak terbukti. Anwar sendiri mengatakan bahwa artikel Maidin tersebut menunjukkan bahwa UMNO sangat panik. Kedatangan Habibie demikian dikhawatirkan akan mampu memompa semangat perlawanan para pemuda dan mahasiswa Malaysia. Ia juga menyamakan rejim UMNO dengan orde baru yang tumbang di Indonesia. Akankah ini tanda bahwa UMNO akan tumbang? Rakyat Malaysia yang bisa menjawabnya. Sementara di pusat keramaian Jakarta, sejumlah remaja dan orang tua tengah berkumpul untuk mengantri tiket. Mereka tak sabar menyaksikan film yang diprediksi akan “meledak” di pasaran di akhir tahun ini. Sebuah cerita tentang tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Tak melulu cerita heroik, tapi justru tentang perjalanan cinta, kesetiaan dan pengorbanan anak manusia. “Habibie dan Ainun”, itulah judul film yang tengah happening di Indonesia saat ini. Film tentang betapa idealnya hubungan Habibie dan istrinya Ainun hingga ajal memisahkan keduanya. Di lantai lobi XXI Premiere, kritik Maidin tak banyak “dianggap sesuatu” oleh kaum muda Indonesia. Mereka tetap ramai mengantri. Mereka melihat Habibie sebagai sosok yang berjasa besar dalam pembangunan dan perubahan Indonesia. Bapak teknologi, Bapak demokrasi. "Ah Maidin… kemana aja selama ini hingga tak tahu reputasi BJ Habibie".

_________ Ini bukan tulisan bertendensi provokatif. Saya hanya mengkomparasi dan mengkonfirmasi fakta sejarah.