Kamis, 18 Juli 2013

Malala Yousafzai : Nominem Nobelis 2013

One child
One teacher
One pen and one book
........... can change the world.
Education is the only solution.
Education First !
(Malala Yousafzai  nominem Nobelis 2013)

Siapa Malala Yousafzai ?
Berikut AFP, Sabtu (13/7/2013) : 

(c) time
Sosok remaja Pakistan Malala Yousafzai dikenal sebagai gadis remaja yang selamat dari penembakan kelompok Taliban, yang tidak suka melihatnya sekolah. Namun Malala bangkit dan bersumpah dirinya tidak akan bisa dibungkam. Malala Yousufzai dikenal namanya setelah berani menentang Taliban di saat Pemerintah Pakistan tidak memiliki kendali terhadap kelompok militan tersebut. Remaja perempuan yang masih bersekolah itu, aktif mendukung pendidikan untuk perempuan di Pakistan. Penembakan terhadap Malala terjadi ketika seorang pria bersenjata naik ke atas bus yang membawa anak-anak dari rumah menuju sekolah di Lembah Swat, pada Oktober 2012 silam. Tiba-tiba pria itu melepaskan tembakan ke arah Malala di bagian kepala dan lehernya. Pelaku pun melepaskan tembakan ke arah remaja lainnya di dalam bus tersebut. Setelah dirawat di Inggris, kondisi Malala akhirnya berangsur sembuh.  Setelah sembuh, Malala makin aktif menyuarakan pentingnya pendidikan untuk perempuan, khususnya di Pakistan. Dirinya pun diundang berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jumat 12 April. Dalam pidatonya, Malala akan terus melawan diskriminasi terhadap perempuan.

"Mereka (Taliban) berpikir sebuah peluru akan membungkam kami, tetapi mereka gagal," tegas Malala, seperti dikutip AFP, Sabtu (13/7/2013).

"Para teroris berpikir mereka akan mampu mengubah tujuan hidup dan menghentikan ambisi saya. Tetapi tidak ada yang berubah dalam hidup saya, kecuali kelemahan, ketakutan dan keputusasaan, semuanya sudah mati. Kekuatan dan keberanian lahir kembali," lanjutnya.

Berpidato tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-16, Malala mengaku dirinya tidak punya dendam pribadi dengan Taliban dan kelompok militan lainnya. Dia bahkan tidak membenci pelaku yang telah menyarangkan peluru di kepalanya.

"Saya menginginkan pendidikan untuk putra dan putri dari kelompok Taliban serta kelompok esktrimis lainnya. Saya bahkan tidak membenci Taliban yang telah menembak saya. Meskipun ada pistol ditangan, saya tidak akan menembaknya," tuturnya.
  

Jumat, 12 Juli 2013

Dikotomi yang Mencederai Persaudaraan Muslim

Oleh : Muhammad Ilham 

Seandainya rezim Bashaar al-Assad tidak dekat dengan Iran, tentunya Arab Saudi dan Mesir tidak menganggap putra Hafeez al-Assad tersebut wajib diperangi. Tapi ia sahabat sejati Iran yang Syi'ah dan Heezbollah yang juga Syi'ah, sehingga pada akhirnya, sesama saudara muslimnya (Mesir, Arab Saudi dan Turki serta negara aristokrat-absolut teluk lainnya) menempatkan negara yang dulu dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW. sebagai Damsyik ini, sebagai "out-group". Sementara NATO dan Israel, justru kebalikannya. Teruslah kalian berperang, berperanglah terus. Ketika manusia di belahan dunia lain sedang membangun peradaban, berusaha melahirkan para pemenang Nobel, mewujudkan mimpi manusia untuk hidup di luar angkasa, memikirkan ozon yang demi kepentingan generasi mendatang, berlomba-lomba membahagiakan manusia dengan capaian-capaian tinggi dan ulung dalam bidang teknologi ...... pada sisi lain negeri-negeri "kelahiran" pada Nabi ini sedang berlomba untuk membeli senjata negara-negara "pusat peradaban modern" untuk dihabiskan dan dimuntahkan kedalam tubuh sesama saudara muslim mereka. Teruslah berperang, berperanglah terus ....... !!

(Ketika saya masih Sekolah Dasar dahulu, saya paling suka memandang foto seorang aristokrat Arab Saudi yang pendek-tambun di majalah Tempo milik ayah saya. Sang aristokrat itu bernama Adnan Khasogi. Ia flamboyan, dekat dengan wanita-wanita cantik dan berprofesi sebagai Pialang Senjata. Ia pernah berkata (kira-kira begini) : "Timur Tengah merupakan pasar persenjataan paling potensial untuk jangka waktu yang tidak bisa dipastikan, tapi yang jelas, untuk jangka waktu yang lama". 

Ketika menonton ILC beberapa malam yang lalu, teringat saya dengan novel AROK-DEDES-nya Pramoedya Ananta Toer. "Mengapa Ken Dedes mau menikah dengan Ken Arok yang telah membunuh suaminya (baca : Tunggul Ametung)?". Padahal Tunggul Ametung satu kasta dengan Ken Dedes, sementara Ken Arok berasal dari kasta Sudra ?. (Rupanya), bagi Ken Dedes, menikah dengan Tunggul Ametung yang satu kasta dengannya merupakan "aib" karena berbeda aliran. Bagi Dedes, biar menikah dan "berdamai" dengan "lain kasta" dibandingklan dengan beda aliran, walau satu kasta. "Kisah" ini (walau butuh verifikasi), terasa memiliki "benang merah" dengan apa yang berlaku dengan realitas Sunni-Syi'ah sebagaimana yang terefleksi dalam acara ILC tersebut.

Tulisan ini, kemudian saya posting di Facebook Muhammad Ilham Fadli, untuk mengkritisi sebuah artikel IST (cc : http://international.okezone.com), tentang "Mesir : Izinkan Warganya untuk Berperang di Suriah" : 

Pejabat senior di kantor Presiden Mesir mengatakan, seluruh warga diizinkan untuk bergabung dalam peperangan di Suriah. Warga-warga itu tidak akan dihukum sepulangnya mereka dari Suriah. "Hak bepergian akan terus terbuka untuk seluruh warga Mesir," ujar salah satu penasihat Presiden Mesir Khaled al-Qazzaz, ketika menanggapi pertanyaan seputar konflik Suriah dan sikap warga Mesir atas peristiwa itu, demikian seperti diberitakan Associated Press, Jumat (14/6/2013). Qazzaz menegaskan, Pemerintah Mesir tidak khawatir akan munculnya radikalisasi warga Mesir setelah mereka pulang dari Suriah. Meski militansi kian berkembang di Semenanjung Sinai kian meningkat, Mesir belum menganggapnya sebagai ancaman. "Kami tidak memandang hal itu sebagai ancaman. Kami bisa mengontrol situasi di Sinai, Mujahidin itu tidak akan kembali," papar Qazzaz. Sebelumnya, salah satu ulama Sunni Mesir Yusuf Qardawi turut menyerukan warga agar mendukung oposisi Suriah dengan tenaganya. Ulama itu berupaya untuk menekan kekuatan Hizbullah yang membantu pasukan Presiden Bashar al-Assad. "Semuanya yang memiliki keahlian dan pernah mendapat pelatihan untuk membunuh, diwajibkan untuk pergi (ke Suriah)," ujar Qardawi. Namun dorongan-dorongan itu dinilai akan semakin meningkatkan eskalasi perang saudara di Suriah. Kelompok bersenjata asing justru akan memainkan peranan yang sangat besar dalam konflik tersebut. Sejauh ini, Mesir belum tahu berapa jumlah warganya yang berperang di Suriah. Warga-warga yang berperang umumnya adalah anggota dari kelompok Salafi.

Kembalikan putihnya sang Dwi Warna

Ditulis ulang : Muhammad Ilham
(c) Kafeel Yamin

(c) erepublik.com
Suatu saat saya menerima kiriman tautan-tautan dari seorang fesbuker yang tak saya kenal, ke inbox. Tautan-tautan itu terhubung kepada  situs-situs yang mempromosikan Aceh merdeka, di penuhi foto-foto para  demonstran di Eropa yang membawa spanduk menuntut berpisah dari NKRI. “Aceh mau pisah dari NKRI?” tanya saya, yang langsung dia jawab: “Tak ada bukti hitam diatas putih (Referendum) kalau Aceh bersatu dengan  NKRI. Aceh bisa hidup tanpa NKRI tapi NKRI tdk bisa hidup tanpa Aceh.” Saya bilang Juga tidak ada bukti hitam di atas putih kalau Sumatra Utara, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Timur, Bali, bersatu dengan NKRI. Tapi faktanya bersatu karena kehendak bersama. Tidak semua integritas nasional ditentukan oleh referendum. Negara-negara bagian di AS masuk The United States of America tidak melalui referendum, tapi kehendak bersama semua negara bagian.

Saya bilang anda itu hidup dengan pikiran negatif. Aceh sekarang sudah merdeka. Semua kekuasaan pemda dipegang orang Aceh. Royalti perusahaan-perusahaan masuk ke pemda Aceh. Orang Aceh sebagai individu pun lebih merdeka daripada anda yang dipenjara oleh pikiran sendiri.

Orang Aceh bisa pergi ke daerah-daerah lain di Indonesia untuk mengembangkan usaha. Anak-anak bisa sekolah. Pendeknya, tak ada yang menghambat orang Aceh untuk maju dan berkembang.

Sebagaian orang Papua berpikir sama: Pepera itu tidak sah. Papua bukan bagian dari NKRI. Sejarah, budaya, ras, berbeda dengan ‘NKRI’. Dan yang mereka maksud NKRI itu Jawa. Mereka ‘berjuang’ untuk lepas dari NKRI yang penjajah dan penindas.

Papua sekarang adalah kawasan paling merdeka dan otonom. Seluruh pejabat provinsi, kabupaten, anggota DPRD adalah orang Papua. Dana Otsus [Otonomi Khusus] Papua paling besar: 30 trilyun rupiah per tahun, sementara jumlah penduduknya paling sedikit: tak sampai 3 juta. Tapi kebanyakan dari dana-dana itu dikorupsi orang Papua sendiri.

Seorang Papua berkomentar: “Di seluruh dunia, kelompok minoritas yang berambut kriting seperti kita ini, orang papua yg paling maju dan paling hebat. jadi harus disyukuri..”

Tentu, yang mengembangkan sikap dan cara pandang negatif ini bukan hanya orang Aceh atau Papua, juga orang-orang dari negara ‘maju’: Australia, New Zealand, Belanda, Inggris, Swedia, Amerika. Mereka menggosok-gosok kaum pribumi supaya lepas dari negaranya dan mereka bantu mencari dukungan internasional.
Padahal, dengan cara pandang itu, orang-orang kulit putih harus angkat kaki dari benua Amerika, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan. Itu semua penjarahan yang sangat telanjang. Genosida asli. Bahkan di Tasmania, Selatan Australia, seluruh penduduk asli Tasmania dibantai habis. Punah sama sekali. Prinsip-prinsip dasar dan konvensi Hak Asasi Manusia bisa berlaku surut. Dan kalo itu dilakukan, perang dan konflik tak berkesudahan.
Bagaimana dengan kelompok keagamaan? Sama: ada kelompok Islam yang ‘berjuang’ mendirikan kekhalifahan di Indonesia. Mereka pun mengembangkan sikap negatif: NKRI itu sekuler, Pancasila itu batil, pemerintah itu togut. Pokok jahat bin biadab.

Saya tanya salah seorang dari mereka: “coba sebutkan satu saja perintah Allah dan Rasul-Nya yang tak bisa dilaksanakan di Indonesia.”

Tidak ada. Semua orang bisa melaksanakan ajaran agamanya dengan leluasa. Tentu buka ajaran Islam bila mendesakkan syari’ah jadi hukum negara, karena Allah dan rasul-Nya melarang pemaksaan dalam agama.
Ada juga kelompok Nasrani yang selalu merasa ‘dimusuhi’ di mana-mana di Indonesia ini, terutama oleh kelompok Islam yang radikal, yang jumlahnya tak sampai 20persen dari ummat Islam Indonesia keseluruhan.
Bila di tempat permukiman kaum Islam radikal didirikan gereja, hampir  bisa dipastikan menimbulkan konflik — apalagi bila dipaksakan.

Bila yang demikian terjadi, mereka beranggapan bahwa ‘ummat Islam’ menentang pendirian gereja, tidak toleran. Padahal,  berkali-kali lipat pendirian gereja berjalan mulus tanpa konflik.
Ironisnya, agama yang menekankan sikap positif dan toleran justru sering menjadi sumber sikap bermusuhan dan kebencian.

Ironisnya lagi, kekerasan berdasarkan agama itu sering timbul antar kelompok dalam satu agama: seperti syi’ah dan sunni, wahabi dan syi’ah. Bahkan dalam satu gereja HKBP jama’ah saling berseteru.

Mayoritas kita kehilangan sikap positif dan kemampuan bersyukur. Betapa banyak yang ‘wajib’ disyukuri dari Indonesia, tapi kita hanya tertarik kepada yang negatif-negatifnya. Kita pun kehilangan kemampuan menghargai prestasi para pendahulu, kita lebih pandai mengorek-orek kesalahan dan cacat mereka. Soekarno bagi Soeharto adalah ‘penyelewengan dari Pancasila dan UUD-45’, Soeharto bagi kaum reformis adalah tiran penindas dan pembunuh; dan seterusnya. Setiap ganti kekuasaan, penguasa baru menghabisi program-program penguasa sebelumnya, termasuk yang baik-baik.

Padahal, tak ada yang sempurna dalam sejarah.
Bukan berarti NKRI sekarang sudah sempurna, tapi ia harus dibangun, dibenahi, dire-orientasi di atas kebersihan dan kesucian jiwa. Utopis ya?

Merahnya darah NKRI bertumpu di atas putihnya kalbu manusia Indonesia. Warna putih itu kini agak kelam, dia harus dibersihkan kembali. Dan…tetaplah NKRI.

Inklusivisme dan Simbolisme yang "Membumi"


Sebuah rapat umum yang dilaksanakan Sarekat Islam (biasa disingkat dengan SI). SI yang merupakan "kelanjutan" dari Sarekat Dagang Islam ini dianggap dalam sejarah sebagai Organisasi Politik Pertama di Indonesia. Mayoritas anggotanya adalah para pedagang batik muslim dan buruh kereta api. Elit organisasi ini merupakan tokoh-tokoh Islam terkemuka di daerah mereka masing-masing. Tak saya komentari lebih lanjut tapak-historis organisasi ini. Sejarawan Jepang, Takashi Shiraishi (1999) menjelaskan dengan menarik dalam bukunya dengan judul yang terkesan garang, "Zaman Bergerak". Bagi saya yang paling menarik adalah ..... tak terlihat para elit SI ini menggunakan jubah ataupun jenggot lebat. Mereka justru terlihat "membumi".



(c : rumli adnan)
c: ulil abshar abdalla fb.

Nelson "Statesman" Mandela

Oleh : Muhammad Ilham 

Nelson Mandela @ Madiba, siapa yang tak kenal dengan beliau. Tokoh anti apartheid dan  mantan Presiden Afrika Selatan  yang menjadi icon perlawanan diskriminasi ras ini  adalah contoh terbaik politisi (politician) yang mampu bermetamorfosis dengan paripurna menjadi seorang negarawan (statesman). Mandela mengajarkan bahwa seorang politisi itu bukanlah seorang insan yang pendendam, hedonis dan munafik atas nama ideologi ataupun agama. 

Melihat "catatan hidup" Mandela, saya kemudian teringat dengan teoritisi ilmu politik, Samuel P. Huntington (1993 : 77) yang mengatakan bahwa demokrasi tak akan pernah mencapai paripurna jika para politikusnya gagal bertransformasi menjadi seorang negarawan. Point-nya, melihat dinamika dan praktek demokrasi di Indonesia belakangan ini - yang teramat sulit, untuk tidak mengatakan tidak ada negarawan seumpama Mandela - rasanya demokrasi masih dalam tahap "jualan politik" ataupun "eksperimen trial and error". Padahal, Indonesia pernah dalam sejarah mempraktekkan demokrasi secara paripurna, walau dalam waktu yang tak terlalu lama, ketika para negarawan-negarawan seperti Mohammad Hatta, St. Syahrir, IJ. Kasimo, Agus Salim, Mohammad Natsir dan lain-lain mewarnai pentas politik Indonesia. Mereka ini, bisa dikatakan sama, bahkan lebih dibandingkan dengan Nelson Mandela. 


wallpaperschould.com

Sabtu, 01 Juni 2013

Arok - Dedes dan Mantagi Wanita dalam Politik

Oleh : Muhammad Ilham

Karena melihat ada sinar di paha putih mulus Ken Dedes
membuat Ken Arok yang sudra itu,  kelak menjadi raja besar di tanah Jawa 
(Pramoedya Ananta Toer : Arok-Dedes)

(c) sierraekspresmedia.com
Karena faktor wanita (dalam bahasa Minangkabau : padusi)  menjadi salah satu faktor kontributif dalam merubah alur gerak sejarah, membuat "mbah" Postmodernisme Michael Foucault merasa perlu untuk menulis buku : "Seks dan Sejarah”. Julius Caesar menjadi besar sekaligus terjerambab dalam sejarah dan diakhiri oleh pengkhianatan Brutus, bermula-tersebabkan oleh Cleopatra, yang berjenis kelamin wanita. Tontonlah film Sparta, dengan lakon-nya aktor ganteng berwajah kotak - Bradd Pitt - menjadi haru biru karena perebutan wanita. Dalam film-film imajiner Hollywood, berlaku hukum bahwa tak ada yang bisa mengalahkan Superman, Batman, Spiderman .... apalagi Hulk. Urat takut mereka sudah putus. Tapi para aktor super-hero imajiner ini, menjadi "kalah" oleh wanita. Presiden Afrika Selatan, Zuma suatu ketika pernah mengatakan, "saya tak bisa membuat sejarah, sebelum mendapatkan senyum wanita" .... dan akhirnya Zuma yang berusia tujuh puluh tahun ini, memiliki istri hingga 5 (entah 6) orang. Pemerintah Afrika Selatan menjadi pusing 7 x 7 keliling karena membiayai beli mikc-up perempuan-perempuan cantik di sekeliling Zuma. Presiden flamboyan AS, John Fritgerald Kennedy, dicatat sejarah sebagai salah seorang Presiden AS yang paling berhasil, tapi ia punya catatan sensual yang terus mengikuti kisah Presiden "berlabel" JFK ini, "Marlyn Monroe bunuh diri, diindikasikan karena patah hati cintanya ditolak JFK". Presiden AS yang lain, Bill Clinton, berjasa mempopulerkan istilah "impeachment" kepada publik dunia karena faktor wanita - Monica Lewinsky. Kalaulah bukan karena Maria Eva, besar kemungkinan politisi Golkar, Yahya Zaini berpotensi menjadi Menteri Agama. Tapi sayang, video "semlehoy" mereka, membuat mantan ketua PB. HMI harus mengakhiri karir politiknya. Sama halnya yang berlaku pada Antasari Azhar. Ketika karir-nya menjulang tinggi-gemilang hingga ke bintang, mantan Ketua KPK berkumis tebal  ini harus terjerambab tak bangkit lagi ..... bermula dan tersebabkan wanita mungil, Rani.  

Wanita, kata Foucault, sebagaimana halnya faktor lingkungan dan ekonomi, sering membuat alur sejarah tak berjalan "normal". Havelock Ellis yang digelari oleh Foucault sebagai "Darwinnya Ilmu Sejarah Asmara" menganggap wanita sering membuat sejarah berubah dari “alur resmi” atau “alur yang harus semestinya”. Mengikuti sejarah asmara tokoh-tokoh terkenal sepanjang zaman, membuat kita bisa memahami mengapa ada beberapa kalangan sejarawan menempatkan seks sebagai salah satu faktor pemicu perubahan sejarah. Dalam setiap abad, diberbagai tempat dan dalam berbagai strata sosial, kisah-kisah petualangan orang besar tidak bisa dilepaskan dari “peran” wanita (baca: asmara). Sejarah Peradaban Islam juga demikian. Bacalah secara objektif, sejarah para Sultan pasca Khulafaurrasyidin, wanita menjadi “cerita menarik sekaligus memiriskan”. Harem, sebuah “konsep sensualitas-erotik” kerajaan Turki Utsmany, menjadi catatan sejarah bagaimana wanita menjadi bahagian penting dalam kehidupan para Sultan (dan ini menjadi keheranan saya ........ salah satu organisasi yang mengusung konsep Khilafah justru menjadikan sistem kekhlaifahan Turki ini menjadi referensi mereka untuk mengaktualisasikan "imagine-society" mereka). Cerita 1001 malam Dinasti Abbasiyah, Selat Bhosporus yang menjadi kuburan ratusan para selir Sultan, hingga jumlah istri dan selir para Sultan “ummat Islam” mutakhir. Konon, Sultan Kuwait, Sultan Sabah al-Nahayan memiliki ratusan selir, dan seterusnya, dan seterusnya. Intinya, intrik politik, dalam peradaban ummat manusia ini, mulai dari “zaman batu” hingga zaman “Fathanah”, sejak masa "Cleopatra" hingga "Maharani Suciyono", kehadiran wanita menjadi salah satu penentu jalannya gerak sejarah. Karena wanita-lah, beberapa politisi potensial Indonesia harus melalui alur sejarah mereka yang "yang seharusnya tidak mereka alami".   

:: Malam ini, menikmati festivalisasi "Wanita-Wanita di sekitar Daging Sapi" (TVOne). Ketika melihat foto Darin Mumtazah, seorang PREN saya berkata, "mancimpua !" .... sambil menelan ludah, jakunnya pun turun naik.
:: saya minta maaf, tak ada niat sedikitpun "menyudutkan" makhluk Tuhan bernama wanita. Orang yang saya cintai di dunia ini, ibunda almarhumah, istri nan ayu serta anak-anak yang manis, mereka adalah wanita. Apa yang terjadi pada wanita, juga berlaku secara sama pada Laki-Laki.

referensi : Foucault (1998: terjemahan); youtube (film Cleopatra dan film Sparta)

Minggu, 17 Maret 2013

Sal (Salman) Khan: Bill Gates Favorite Teacher

Oleh : Muhammad Ilham 

CNN pernah menurunkan berita, "Sal Khan: Bill Gates' favorite teacher". Siapa yang tak kenal Bill Gates, manusia jenius nan kaya sejagad itu. Siapa yang meragukan kepintaran dan kejeniusan penemu Microsoft keturunan Yahudi tersebut ? ... pasti tak ada. "Dunia" bersepakat, Bill Gates itu pintar dan kaya teramat sangat. Tapi, pada Sal (Salman) Khan, Bill Gates merasa perlu untuk "berguru". Siapa Sal Khan ? ... berikut saya kutip tulisan tentang Sal Khan yang dianggap Bill Gates sebagai "Guru Terhebat", dari website CNN dan Tempointeraktif (20-11-2010), berikut : 

Khan bukan jawara Lembah Silikon, seperti Mark Zuckerberg yang menemukan Facebook atau Andy Rubin yang membuat Google bangkit dengan Android. Khan cuma seorang guru. Khan menghabiskan waktunya di sebuah bekas toilet mini yang ia sulap menjadi studio rekaman sekaligus perpustakaan. Ruangan berukuran 1,5 x 2 meter itu adalah think thank yang dia sebut: bgC3. Di ruang sesak inilah Khan menghabiskan waktunya bersama dua komputer, headphone di telinga, kaus tidur dan piyama, menunggu siang sambil membaca buku atau membuat video. “Orang ini luar biasa,” kata Gates dalam surelnya. “Dia mengerjakan banyak hal dengan sumber daya yang amat terbatas.” Mengapa Khan begitu dikagumi Bill Gates? Gates dan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun, Rory, terpana oleh video-video pendidikan bikinan Khan, dari video aljabar sampai biologi. Yang membuat kagum Gates adalah sosok Khan yang meninggalkan dunia gemerlap sebagai manajer investasi beralih menjadi guru yang mendidik jutaan orang lewat video Internet. Di kontrakannya yang sempit di Lembah Silikon itulah dosen digital ini membikin tutorial video. Khan sebenarnya adalah lulusan MBA (master business of administration) Universitas Harvard. Dulu dia manajer keuangan. Tapi hidupnya kini dia serahkan ke dunia pendidikan, yang dia sebut Khan Academy (http://khanacademy.org/). Di Khan Academy itu, dia adalah satu-satunya guru. Dia bisa mengajar apa saja, dari kalkulus, trigonometri, kimia, fisika, biologi, sampai tentang perang Napoleon, dan pelajaran ekonomi dari pabrik cupcake. 

Sejauh ini, dari bekas toilet itu, dia telah menciptakan 1.630 tutorial dan ditonton oleh 70 ribu orang per hari. Angka itu nyaris dua kali lipat jumlah mahasiswa Harvard plus Universitas Sanford. “Jumlah pengunjung tertinggi mencapai 200 ribu orang,” kata Khan. Sebuah kesungguhan dan ketulusan yang membuat banyak orang iri, termasuk Bill Gates.


“Keindahan dari pengajaran Khan adalah konsistensi dia,” ujar Gates. 

Seperti entrepreneur hebat lainnya, Khan terjun di dunia pendidikan tanpa sengaja. Dia lahir dan besar di New Orleans. Khan putra imigran berdarah Bangladesh dan India. Di bangku kuliah, Khan adalah bintang. Dia punya tiga gelar dari universitas ternama di Amerika Serikat: MBA dari Harvard, bachelor of science bidang matematika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), serta bachelor dan master dari MIT untuk bidang kelistrikan. Dia sempat menjadi presiden kelas di MIT. Khan jatuh cinta kepada kegiatan mengajar setelah ia menjadi guru sukarelawan untuk anak-anak Brookline. Ini adalah anak-anak yang mengalami sindrom attention deficit disorder, yang kesulitan memusatkan fokus perhatian. Dia juga tersentuh ketika keponakannya, yang kelas VII, bertanya soal konversi berat dalam kilogram. Khan pun mulai membuat tutorial dengan menggunakan software Yahoo Doodle. Sejak itulah kecanduan mengajar dimulai. Khan mulai membuat tutorial dengan menulis program JavaScript sendiri. Dia bekerja di sela-sela waktu istirahatnya sebagai manajer investasi, di antara waktu main bola. Lalu dia rekam dalam bentuk video dan diunggah ke YouTube. Khan akhirnya benar-benar hidup untuk akademinya setelah mendapat pesangon US$ 1 juta (Rp 9 miliar). Uang itu dia sebut Khan Capital, yang digunakan untuk membiayai hidupnya dengan investasi. Khan berkukuh tak mau mengkomersialkan situsnya. “Saya sudah punya dua mobil Honda, istri yang cantik dan anak yang hebat, serta rumah,” katanya.

_________ Pelajaran berharga dari Khan :
Khan tak pernah miskin dengan kebaikan. Sebab, pengusaha-pengusaha Lembah Silikon pun membanjiri dia dengan donasi. Indonesia butuh orang-orang baik budi dan tidak sombong seperti dia.

Sumber tulisan miring dan foto : 
money.cnn.com & blog.tempointeraktif.com (13-3-2010)

Bertamu a-la Minangkabau



Suasana dan cara bertamu a-la Minangkabau (tempo doeloe) : 
"bakambangkan lapiak, balatakkan siriah"


(c) foto : adyan anwar

Pursuit of Happyness & Fadli al-Maturidiy

Oleh : Muhammad Ilham  

Malam ini, menonton film "Pursuit of Happyness" (dibintangi aktor kawakan, Will Smith dan aktris cilik berbakat, Jaden Smith). Tak perlu saya narasikan, tapi yang pasti, sungguh berharga menjadi seorang ayah. Film yang menyentuh, sungguh teramat menyentuh, seumpama film "John Q" (pemeran : aktor kelas Oscar, Denzel Washington). Dua film ini, teramat penting untuk ditonton. Pesan yang ingin disampaikannya, sama dengan apa yang diiungkapkan Rabindranat Tagore, "kehadiran seorang anak, adalah pesan bahwa Tuhan tak pernah bosan pada manusia".


"Pursuit of Happyness" (c) foto : selnajaya

Setelah menonton film "Pursuit of Happyness" malam ini, saya-pun rindu ayah ! 

"saya pecinta Soekarno dan Khomeini, tapi secara politik, saya adalah pendukung berat PPP .... lihatlah batu cincin saya, warnanya hijau" ..... (demikian, nukilan kata Fadli Senior, suatu ketika menjelang Pemilu 1987)


(Foto : Almarhum) Ayahanda Tercinta : FADLI AL-MATURIDIY, sekitar tahun 1990-an awal.  

Beliau Tukang jahit, dan ia bangga dengan profesi itu. "Membuat orang bahagia karena memakai baju dan celana baru," katanya pada saya. Pernah kuliah (1960-an awal) di Medan, (juga) pernah menjadi Ketua Pemuda Marhaenis Kdi kota ini tahun 1965, tapi sayang "sejarah mengalahkannya", kalau-lah tidak, mungkin beliau sekaliber Sabam Sirait, itu lho .... politisi senior PDIP, ayahnya politisi muda cerdas, Maruarar Sirait. Akibat imbas gejolak politik 1965, tahun 1967, ia pulang ke Air Bangis dan mendirikan "perusahaan" dengan nama "Melarat" Tailor. Kawan-kawannya heran, mengapa harus "melarat". Sampai sekarang, saya yang anaknya ini, juga tak pernah tahu "ashbab" pemberian nama "Melarat" tersebut.   

Ia yang merupakan pengagum "berat" Soekarno dan pengkoleksi buku-buku Putra Fajar ini, selalu ceria dalam kekurangan finansial. Ketawanya lepas-khas-unik, suaranya "bariton-berat" sempama suara Bob Tutupoly dan Broery Marantika yang disukainya. Wajah mirip Karl Marx .... tapi ia lebih suka dipermiripkan dengan salah seorang idolanya yang lain, Khomeini atau Inyiak Djambek. Menjadi "Pembela" habis-habisan PPP (bukan PDI) kala Orde Baru dalam pentas politik kelas kampung bernama Air Bangis.... dan setahu saya, BUTER (Danramil) di Air Bangis "tidak berani" pada ayah saya, karena sang BUTER adalah "konco palangkinnya" sama-sama minum kopi di sebuah kedai. Ketika menjadi aktifis di Kota Medan, Fadli muda pernah punya Pacar orang Aceh dan Anak Polisi (setingkat Kapolres) Kota Medan nan cantik. Dan itu ia ceritakan dengan "lepas" pada saya yang kala itu masih belum bisa membersihkan ingus warna hijau kebiru-biruan. Ia ingin beritahukan kepada saya ...... "jadilah lelaki yang baik, kamu akan dapat wanita baik, itu saja rumusnya !". Saya masih ingat, dengan menghisap rokok kebanggaannya, KAISER, keluaran Padang Sidempuan, sambil menjahit, ia "mendoktrin" saya tentang siapa sebenarnya Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Natsir, Anwar Sadat, Menachen Begin, Aidit, Hamka hingga Lee Kuen Yew.  

Bagi saya .... Ia mahaguru pertama saya yang memperkenalkan Majalah TEMPO (bukan BOBO), Tenggelamnya Kapal van der Wijk, Buku Cindy Adams hingga Biografi NIXON dan KENNEDY, perjuang Khomeini, Khaddafi hingga Guevara. Pada ia-lah untuk kali pertama saya tahu bahwa SOEHARTO jauh lebih kejam dibandingkan Pol Pot .... dan ia ceritakan itu, kala saya menginjak kelas 2 atau 3 SD. Sesuatu hal yang luar biasa untuk kelas kampung. Saya tahu, ia suka rokok DJI SAM SOE, tapi karena "berlangganan" Koran Tempo dan Panji Masyarakat, terpaksa "seleranya" ia turunkan untuk sekedar menikmati Rokok .... KAISER. "Rasa Roti Gabus", katanya. Ia-lah guru "berenang" saya, yang setiap sore, kala usia saya 5 tahun, "memaksa" saya untuk belajar Olah Raga yang menurutnya adalah olah raga yang sebenar-benar "olah raga". Ya ..... Fadli Al-Mathuridi yang setiap pagi selalu mandi sebelum sholat Shubuh di Masjid Pinggir Sungai, yang selalu memutar Channel REUTER dan BBC London setiap pagi dari Radio Butut. 
(I Love You, Pader !!).

Oh ya saya lupa satu lagi. Beliau-lah yang memperkenalkan kepada saya kali pertama, bagaimana enaknya "teh telor".

Jumat, 01 Maret 2013

Schoolscriften "Sijundai"

Oleh : Muhammad Ilham

"..... gadis2 dalam asrama itoe saija liat sedang meratjau, memanjat dinding. mareka itoe terkena tenung sidjoendai, sematjam sihir jang dilakoekan sa' orang anak moeda di sabuah goeboek puntjak goenoeng jang mamoetar gasing jang dari tengkorak manoesia karena tersinggoeng diloedahi sa' orang anak parampoean itoe jang ia nja soeka pada anak parampoean itoe".

(Schoolscriften, A. Wahab, "boeah tangan dari Padang", Perempoean Bergerak, 16 Juli 1919 : Arsip-fotocopi di PDIKM)


(c) perekacipta

Sekarang "Sijundai" boleh dikatakan hampir punah. Karena dulu, ranah dan jangkauan yang tak luas, membuat seorang laki-laki, bila ditolak seorang perempuan, ia akan merasa tersudut, apalagi diludahi. Dan, sijundai akan "bermain". Tapi pada masa kini, bila seorang anak muda ditolak seorang perempuan, ia akan berkata, "kumbang tak seekor, kuntum tak setangkai, dunia ini luas, banyak nan cantik lagi kamek". Ranah jangkauan telah semakin luas. SIJUNDAI mungkin jadi "catatan sejarah". hehehe.

(sekitar awal tahun 1980-an, di kampung saya, saya terakhir melihat wanita kena SIJUNDAI. ia berlarian sepanjang jalan, menjerit-jerit dengan rambut tergerai. setelah itu, tak pernah terdengar lagi .......... sampai hari ini).

Pram (yang) Bermula di Boekittinggi


Salah satu bacaan favorit saya, "Panggil Aku Kartini" .... (tapi) terbitan terbaru, dengan kulit baru (Hasta Mitra, 2000). Dan, ternyata, buku yang menjadi salah satu "magnum opus" Pram ini, untuk kali pertama, justru diterbitkan di Boekittinggi. "Cetar !!" 


 Penerbit NV. Nusantara-Bukittinggi:  1962 (sampul belakang cacat) 


Penerbit Hasta Mitra Jakarta: 2000 

sumber foto : edmon marcell

Catatan Bening Cak Nun

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Banyak orang berpikir rumit tentang Islam, padahal Islam itu simpel. Selain mengajarkan hal-hal yang ghaib, Islam juga mengajarkan ilmu biologi, kimia, fisika, astronomi, matematika, kebudayaan, lingkungan (bagaimana memperlakukan sehelai rumput dan seekor semut), hukum ekonomi, etika jual beli (di pasar, baik arti sempit atau luas), pemerintahan, demokrasi, etika sosial, bahkan sampai etika bersenggama pun diajarkan. Anda menyingkirkan batu di jalan, ya itu Islam. Anda mencangkul dan mengayuh becak sambil berucap Alhamdulillah atau Allohu Akbar, ya itulah Islam. Islam bukan hanya berujud dalam simbol seperti : peci, sorban, dahi hitam, tasbih, jubah, dst, namun ajaran-ajaran konkret yang siapapun, pasti dapat melakukannya.
(Cak Nun : Suara Merdeka, 9 Januari 2013)

___ Malam ini, selepas sholat Isya di Musholla, seorang kawan bertanya, "Pak Ilham, saya jarang ke musholla, sholat berjamaah. padahal sholat berjamaah di masjid besar pahalanya di sisi Tuhan. selalu saya pulang malam, maklum, saya berdagang di pasar raya, tanpa anak buah. menghidupi anak saya yang lima". Saya jawab, sekenanya (maklum, rinai mulai turun), "pak, kualitas dan kuantitas ibadahmu di mata Tuhan, sangat besar. ibadah itu bukan di musholla saja, di pasar raya sana, sambil membayangkan anak bapak yang lima, bapak telah menjaga amanah Tuhan dengan baik ..... tapi jangan terlampau lena".


Sebagai penutup, saya kutip lagi Cak Nun (Suara Merdeka, 24 Desember 2012) :

Karenanya, Rasululloh pernah mengingatkan tentang keseimbangan antara “pasar dan masjid”. Jika kamu terlalu lama di pasar (dalam arti luas), segeralah kembali ke masjid, sebab pasar akan membawamu ke arah materialistis. Ketika ke masjid, maka nurani dan akalmu akan didinginkan bahwa kelak semua materi itu tidak akan kau bawa mati. Materi akan dapat dibawa mati jika mampu ditransformasikan menjadi energi, cahaya atau nur, atau dalam bahasa agamanya “diamal-salehkan” uang dan hartamu hanya dapat dibawa mati jika diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kebaikan bersama.



 


Referensi : Cak Nun (cc. Suara Merdeka)
Foto (c) heningrumahhati & sitonga 

Afifa Ilham dan Tan Malaka

Oleh : Muhammad Ilham 

kala bulan bulat penuh, pada tiga malam yang lalu, pada dua setelah :

(1). Setelah pulang dari mengaji di Musholla dan menyerap materi kaji tentang baik-buruk, kiri-kanan dan seterusnya. (2). Setelah ibunya mengatakan bahwa Tan Malaka adalah pejuang dan pahlawan Indonesia dari kelompok kiri.

(1) dan (2) digabungkannya, jadilah kemudian ia bertanya pada saya : 
"Ayah, Tan Malaka itu Jelek ... ya ?". 
 
"Memangnya mengapa ?", tanya saya sambil menyeruput teh manis yang tak hangat betul.


"Kata guru ngaji, apabila kita menerima catatan amal nantinya di akhirat dari tangan kiri, berarti kita akan masuk neraka. Tadi ibu bilang, Tan Malaka yang gambarnya ada di kamar belakang itu berasal dari kelompok kiri", jawabnya. 
 

Saya (kemudian) diam, dan dalam hati saya (hanya) bergumam, "tak harus saya jelaskan tentang pertanyaannya itu !". 

Lalu saya ambil tustel dan berkata, "Iffa, selalu yang Kiri untuk membersihkan kotoran. Mari kita berfoto di depan-nya !". 


Afifa Ilham, putri sulung terkasih saya
Tak juara kelas
Tapi pintar dari kacamata saya
Penyenang hati, pelipur lara
Penyuka belimbing yang ditanam ibundanya di samping rumah
Saya sayang padannya
Teramat nian

Sabtu, 02 Februari 2013

Harapan, Politisi dan Wanda Hamidah (yang) Keturunan Arab

Oleh : Muhammad Ilham

Tulisan ini, merupakan Catatan (Note) saya dua tahun lalu. Saya publish kembali, ketika dalam diskusi malam kemaren dengan beberapa kawan, terselip "kegalauan" dan ketidakpercayaan mereka pada yang namanya politisi dan dunia mereka - "politik". "Ilham, kembali komplek kita ramai dikunjungi calon-calon politisi, menawarkan harapan, janji dan setelah mereka nantinya menang atau kalah ..... ya, menang atau kalah, mereka kemudian pergi !".

Bolehkah kita berharap ? Tentu tak salah, bahkan dianjurkan. Bukankah Imam Al-Ghazali justru menempatkan formula "cemas" dan "harap" dalam nukilan-nukilan teosofinya berkenaan dengan ibadah. Demikian juga, misalnya penyair klasik Cina Lut Szun pernah mengatakan bahwa :

Harapan itu ibarat jalan di dalam rimba/ 
Pada awalnya tak ada/
/tapi karena sering dilalui/ 
Akhirnya/
/jalan itu ada dengan sendirinya/.



Demikian juga harapan kita tentang dunia politik yang diisi para politisi (itu sudah pasti, karena tidak mungkin diisi oleh seniman !). Dunia politik dan politisi, bagaimanapun juga, adalah sebuah keniscayaan demokrasi. Namun melihat tingkah polah para politisi belakangan ini, setidaknya sebagaimana yang dipublish berbagai media massa, korupsi dan hedonisme yang berkembang pada badan-tubuh-jiwa mereka, membuat publik justru menganggap dunia politik dan politisi sebagai public enemy, untuk tidak mengatakan benalu. Mungkin publik over generalize, namun publik juga tidak bisa disalahkan. Ekspektasi publik terhadap dunia politik dan para politisi ini begitu besar. Karena itu tidaklah salah bila hedonisme yang menjangkiti para politisi tersebut membuat publik merasa dibodohi dan dipecundangi. Kasihan memang orang yang masuk dunia politik. Tak semua politisi itu yang busuk, pasti ada yang berhati bening dan berjiwa waras. Namun karena dunia politik adalah dunia tawar menawar - yang terefleksi dari "diktum keramat" mbah Harold Lasswel, "who get what how and when", maka mau tidak mau, kepentingan publik harus dikesampingkan ketika berbenturan dengan kepentingan kelompok-partai. Banyak politisi berhati bening tidak sanggupmenolak "pakem" ini. Karena bagaimanapun juga, ketika seseorang ingin terjun di dunia politik, maka ia harus siap bergelut dengan dunia kebusukan. Kalau berhasil, dia akan menjadi politisi yang disegani kawan maupun lawan. Politik itu busuk, kata "rakyat bawah-pinggiran". Iya memang, bila kita dasarkan pada realita yang terlihat. Karena itu sebaiknya dipisahkan saja antara agama dan politik seperti di Barat. Jelas, terukur dan gentle. Kalau tidak, kasihan agama yang selalu di"tunggangi" oleh politisi-politik. 

Politisi seharusnya tidak menjadi bagian utama dalam membiarkan masyarakat mempraktekkan pola berpolitik yang merusak, seperti money politic. Praktek jual beli suara hanya akan menjauhkan cita-cita indonesia menjadi lebih baik. Seorang calon yang menangnya dengan cara membayar, pasti yang dipikirkan pertama kali bagaimana mengembalikan modalnya, bukan bagaimana memperbaiki nasib rakyatnya. Politisi yang ingin memperbaiki negeri ini dengan setulus hati, agar tak mengajari rakyat dengan politik transaksional. Karena itu pula, Majelis Ulama Indonesia (pernah tahun 2009, walau tak jadi) yang berencana mengeluarkan fatwa haram Golput, idealnya justru mengeluarkan fatwa super "haram" bagi masyarakat untuk memilih politisi bermasalah dan mempraktekkan politik transaksional. Saya rasa, itu jauh lebih mendidik dan memiliki pengaruh besar dalam meniti harapan Indonesia yang lebih baik. Bagaimanapun juga, harapan ini harus terus kita pelihara !!

_____________ Ah, malam tadi, kami sepakat bila Wanda Hamidah mencalonkan diri jadi anggota DPR-RI nantinya dari PAN pada Pemilu 2014 yang akan datang, kami tak akan pilih ...... "haram jadah". Tapi sore tadi, sepulang dari kampus, kawan-kawan saya berkabarberita pada saya bahwa nanti mereka justru memilih si Wanda keturunan Arab ini. "Salah kami ilham, ruponyoa inyo negatif, bahkan jadi Duta BNN pulo, tambah pulo inyo jando ..... keh keh keh". Yang pertama dan kedua, nampaknya rasional, sedangkan yang ketiga, libido kawan saya sedang tak terkendali".
 _____________ Saya tak tahu, apakah ada kaitan artikel di atas dengan alinea dibawah.

sumber foto : muslimpolitician.com   

Perspektif

Oleh : Muhammad Ilham

Gadamer mengatakan bahwa "jangan cari arti kata-kata, tapi pahami bagaimana kata-kata itu difungsikan !"  
(Gadamer, cf. Komaruddin Hidayat, 1999: iv).


"Satu Ikan dengan dua libido" (c) Tony Hirsch cc. Muhammad Ilham Fadli facebook

Dunia ini dipenuhi oleh perspektif. Jangan memvonis, perspektif orang bisa kita samakan dengan perspektif kita. Filosof Hobsbawn (pernah) mengatakan, "hanya tukang jahit yang objektif, karena ia selalu memperbaharui ukuran, setiap kita datang untuk mengupah baju atau celana. Sementara yang lain, selalu menggunakan ukuran dulu untuk sekarang ".


c) foto : http://thedali.org

Jumat, 18 Januari 2013

Negeri "Berjuta" Marga

Oleh : Muhammad Ilham 

Salah satu yang menjadi daya tarik bagi saya ketika “berjalan-jalan” ke perkampungan-perkampungan di daerah Sumatera Utara, khususnya perkampungan yang menjadi “enclave” Batak (baik Batak-Mandailing, Toba, Sipirok, Dairi, Simalungun dan Karo), adalah menambah kosakata “marga-marga” orang Batak dalam khazanah saya. Orang Batak, sebagaimana halnya etnik Manado selalu mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama kecil. Menurut Elfitra (2002), orang Jawa dan Sunda lumayan ketat dalam memberi nama anak, sehingga nama-nama mereka memiliki kekhasan tersendiri. Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa langsung dikenali status sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan atau rakyat biasa. Nama depan “Andi” jelas berasal dari kaum ningrat Sulawesi Selatan, khususnya etnik Bugis. Jadi Andi Mallarangeng yang sudah "dicekal" KPK itu, ternyata turunan bangsawan, sama dengan penyanyi legendaris Andi Meriem Matalatta. Demikian juga halnya dengan kelompok masyarakat adat lain : Badui, Dayak, Sakai, Nias atau Mentawai, masing-masing memiliki karakter tersendiri yang mudah dikenali (addressed). Namun tak ada yang “seketat” orang Batak dan Manado dalam memberi nama dengan kualifikasi addressed tersebut. Manado-Kawanua, misalnya, kita mengenal clan seumpama Tambayong, Pondaag (jadi ingat Pance Pondaag), Mangindaan (marganya Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi EE. Mangindaan), Rumangkang dan seterusnya. Nah, bagi saya, nama-nama orang Batak (dalam hal ini, marga-nya) adalah sesuatu yang teramat kaya-variatif, representasi yang jelas dan kadang-kadang unik bila didengar oleh telinga. Karena itulah, bila saya melakukan perjalanan ke Sumatera Utara, maka mata saya selalu akan mencari nama-nama orang Batak yang (baik) tertera di papan pengumuman, di depan pintu rumah ataupun di kertas-kertas Koran.  

Ketika memulai perjalanan melewati kabupaten Mandailing-Natal terus ke Tapanuli Selatan, nama-nama marga yang sering terbaca oleh saya di papan pengumuman masjid (nama-nama pengurus masjid ataupun khatib masjid ketika singgah untuk sholat dan istirahat) adalah Nasution (marga-nya Jenderal A. Nasution dan Adnan Buyung Nasution), Lubis (jadi ingat dengan Perwira berpengaruh yang menjadi salah satu otak PRRI - Kolonel Zulkifli Lubis ..... kalau sekarang, Lubis melekat dalam kosakata publik karena advokat senior Todung Mulya Lubis dan Indra Sahnun Lubis ...... 2 tahun lalu, Kadiv. Humas Polri juga bermarga Lubis - Brigjen. Zainuri Lubis), Hasibuan, Rangkuti (marganya sastrawan-penyair kondang, Hamsad Rangkuti), Pane (ingat pada Sanusi dan Armijn Pane), Pohan, Pulungan, Tanjung (marganya Akbar tanjung dan Faisal Tanjung ........ dan owner TransTV-TransCorp, Chairul Tanjung), dan Dongoran. Ketika memasuki daerah Tapanuli Tengah dan Utara lanjut ke Toba Samosir, biasanya di setiap rumah warga, khususnya di perkampungan, akan terpampang papan nama (kecil) di atas pintu masuk rumah mereka. Nama kepala keluarga. Dan yang paling ditonjolkan adalah nama marga. Begitulah, ketika masuk daerah Sibolga menuju Barus dan Dolok Sanggul terus ke Pakkat …….. saya menikmati “kekayaan-ragam” nama-nama marga. Ada Simanjutak (biasanya sering ditulis M. Simanjuntak atau L. Simanjutak dan seterusnya ……. M dan L, ada juga W ataupun K … tapi selalu disingkat, sementara marga ditulis lengkap), Silalahi (tokoh nasional bermarga Silalahi, sekarang ini, diantaranya TB - Tahi Bonar - Silalahi), Situmeang, Simarmata, Sitompul (marganya si Poltak yang didepak dari Demokrat), Silitonga (pasti ingat dengan penyanyi terkenal era 70-an Eddy Silitonga), Silindung, Singarimbun (jadi ingat sosiolog kenamaan UGM – Prof. Masri Singarimbun …. dan “si – si” yang lain, termasuk Sidabutar, Sitanggang, Sitorus dan Simbolon. Hutasoit (dulu pada era Soharto ada Menteri bermarga Hutasoit - JE. Hutasoit), Hutasuhut, Hutagalung (siapa yang tak kenal Charles Hutagalung, penyanyi bersuara tenor idola ayah saya ... coy), Hutapea (marganya si flamboyan Hotman Paris Hutapea), Hutajulu, Hutahaean, Hutabarat (pasti ingat dengan penyanyi bersuara merdu, Victor Hutabarat) dan “huta-huta” lainnya seperti Hutauruk (dulu ada penyanyi wanita terkenal, Bornok Hutauruk) dan Hutagaol (Huta Timur tak saya jumpai, apalagi Huta Selatan apatah lagi Huta Tenggara). Melewati Dolok Sanggul terus ke Siborong-Borong menuju Parapat, saya catat beberapa nama marga yang lain (setidaknya yang saya lihat/tertulis di pinggir jalan). Ada Panggabean (jadi ingat dengan “orang kuat” zaman Soeharto, Maraden Panggabean yang Jenderal itu), Panjaitan (marga-nya Donal Izaac/DI. Panjaitan yang patungnya ada di Balige), Tampubolon, Pardede (dulu ada klub bola terkenal, Pardedetex yang owner-nya pengusaha terkenal Batak era 70-an TD. Pardede), Pangaribuan (marga advokat dan tokoh HAM,  Luhut Pangaribuan), Gultom, Nainggolan, Tambunan (marga-nya Gayus), Sinaga (jadi ingat dengan Cyrus Sinaga), Girsang, Damanik, Manik.

Ketika melewati daerah menjelang Medan terus ke Sipirok, saya mencatat beberapa marga yang cukup “familiar” kita dengar. Ada Siregar, ada Batubara (marganya mantan menteri Cosmas Batubara), Harahap dan seterusnya. Ketika akan memasuki daerah Karo (Batak Karo) ……. Nama-nama marga-nya semakin “enak didengar”. Ada Perangin-Angin, Sembiring (mungkin Menkominfo Tiffatul Sembiring adalah orang Karo), Bangun (ingat : actor laga Indonesia angkatan Barry Prima, Advent Bangun), Ginting dan seterusnya.

Saya tak sempat mencatat nama-nama marga yang lain. Saya yakin dan percaya, masih puluhan lagi yang belum terbaca oleh saya. Tapi ada satu marga yang dalam perjalanan bulan Desember 2012 lalu yang selalu saya cari-cari, tapi tak ketemu, yaitu marga RAJAGUKGUK. Marga seorang pakar hokum tata Negara, Prof. Erman Rajagukguk. Saya membayangkan (sambil tersenyum), bila dua pakar dari dua daerah berbeda dipertemukan di sebuah forum seminar, yang satu Prof. Erman RAJAGUKGUK, yang satunya lagi sejarawan terkenal asal Makasar, Prof. Anhar GONGGONG. Tentulah, akan menjadi moment nan “unik”……………… (yang terakhir ini, just kidding, tanpa bermaksud melecehkan). 

Rumah Makan Padang Bercita Rasa "Lain"

Oleh : Muhammad Ilham 

(c) wikipedia.com
Lewat kota Medan antara Tebing Tinggi dan Asahan, seperti biasa, mobil yang kami tumpangi berhenti di rumah makan. Tidak cukup besar, juga tak terlalu kecil. Sederhana. Nampaknya rumah makan ini, ada "aura" Minangkabau, buktinya, ketika memesan makanan, ada yang (mampu) berbahasa Minangkabau dengan aksentuasi-langgam Batak. Saya tak ingin mengomentari cita rasa makanannya. Karena perut lapar, "telur puyuh dimasak dengan air biasapun, enak, "kata salah seorang mahasiswa saya. Saya lebih tertarik mengetengahkan "cita rasa" yang lain. Rupanya, rumah makan yang ada "aura" Minangkabau ini, menjadikan wanita sebagai pelayannya. Bukan itu saja, para wanita ini, justru menggunakan pakaian ketat-bahenol. Salah seorang diantaranya, teramat menonjol. Berdiri di ruangan tengah agak ke dapur, sambil mencuci piring. Wajahnya cantik dengan tekstur tubuh a-la Dewi Persik dan (sedikit) Julia Peres. Pokoknya, posisinya tepat. Jadi fokus orang yang makan. Tak henti-hentinya, seorang mahasiswa saya berguman, "alah maak jang, mati tegak lah awak", katanya sambil menyuap nasi yang menurutnya tak enak, tapi jadi SODAP karena ada "cita rasa" yang lain. Cita rasa mata yang "hijrah" ke lidah. 

Saya teringat dengan Mochtar Naim. Dalam sebuah penelitiannya tentang Rumah Makan Padang (saya pernah baca sekilas ketika observasi arsip ke PDIKM Padang Panjang sekitar pertengahan bulan Oktober 2012 yang lalu), sosiolog yang mantan anggota DPD RI ini dengan tegas mengatakan, "rumah makan Minang atawa rumah makan Padang, tidak menggunakan tenaga kerja wanita". Lelaki Minangkabau, menurut Mochtar Naim, melihat wanita yang bekerja di rumah makan, akan teringat dengan ibunya hingga menimbulkan perasaan kasihan. Namun lebih dari itu, kehadiran wanita di rumah makan, akan membuat pemikiran laki-laki yang makan menjadi "pecah", pemikiran bermacam-macam akan muncul berkelindan. Padahal, rumah makan bagi laki-laki Minang, hanyalah untuk makan tok.

_____ ketika jadi mahasiswa dahulunya, saya sering makan di beberapa rumah makan di kota Padang, khususnya rumah makan "harga miring". Dan, pelayannya, semuanya laki-laki. Orang pun datang ke rumah makan, hanya untuk makan. Belakangan ini, beberapa rumah makan yang saya jumpai, justru hanya menggunakan laki-laki sebagai kasir dan penjaga pintu depan saja. Pelayannya kebanyakan wanita. Ketika nasi diletakkan, ia kemudian berjalan membelakang ...... dan pemikiran kita-pun "pecah" jadinya. (Ternyata) Mochtar Naim ..... betul !

_____ Tadi, saya memeriksa laporan catatan perjalanan beberapa orang mahasiswa saya yang berjenis kelamin laki-laki. Dan, kesan yang sangat mengezutkan bagi mereka adalah, "rumah makan Minang dengan wanita montok berpakaian ketat sebagai pelayannya". Dan saya tak menganggap mereka "gatal" ataupun freudian. Bagi saya, mereka sangat detail melihat sebuah komparasi budaya !!

"Membaca" Barus dan Hamzah al-Fansuri

Oleh : Muhammad Ilham

"Hamzah di negeri Melayu, Tempatnya kapur di dalam kayu..."
(Abdul Hadi WM, 1997: iii)


“Membaca” Barus, mengingatkan kita pada sosok ulama sufi, Hamzah al-Fansuri. Hamzah al-Fansuri teramat mencintai Barus. Dalam Syair Perahu, dan Syair Dagang, Hamzah yang bergelar ujung Fansur = Barus ini menukilkan kalam : "Hamzah ini asalnya Fansuri, Mendapat wujud di tanah Shahrnawi, Beroleh khilafat ilmu yang ’ali, Daripada ’Abd al-Qadir Jilani... ! (tentang syair Hamzah al-Fansuri dan hubungannya dengan Barus, lihat Abdul Hadi WM, 1997). Barus menjadi “legenda” tersendiri dalam sejarah. Dicatat-disebut Hamka sebagai tempat persinggahan awal Islam di Nusantara (abad ke-7 M.), dinukilkan Christinne Dobbin sebagai kota pelabuhan ternama di era abad ke 16-17. Semua itu karena Barus menjadi penghasil kayu kamper (kamfer atau al-kafur dalam bahasa Arab) terdapat dalam banyak sumber asli Arab, Persia, dan China dalam berbagai buku perjalanan, botani, kedokteran, dan pengobatan. Menurut Hasan Muarrif Ambary (1998 : 77-78), kapur, yang dalam bahasa Latin disebut camphora, merupakan bagian dalam (inti) kayu kamfer yang padat berisi minyak yang harum. Salah seorang intelektual Arab, Al-Kindi menyebutkan kapur barus sebagai salah satu unsur penting untuk membuat wangi-wangian. 

Sekitar abad ke-8, kapur barus merupakan salah satu dari lima rempah dasar dalam ilmu kedokteran Arab dan Persia. Empat unsur yang lain adalah kesturi, ambar abu-abu, kayu gaharu, dan safran. Pada zaman Abbasiyah, hanya orang kaya dan para pemimpin saja yang menggunakan pewangi dari air kapur barus untuk cuci tangan selepas perjamuan makan. Ibnu Sina atau yang dalam literatur Eropa dikenal sebagai Avicena, dalam bukunya yang terkenal tentang ensiklopedia pengobatan dan obat-obatan, yaitu Al Qanun Fi al-Tib, mencatat manfaat kamfer sebagai obat penenang dan mendinginkan suhu badan yang tinggi. Kamfer juga dipakai sebelum dan sesudah pembedahan, sebagai obat liver, obat diare, sakit kepala, mimisan, dan sariawan. Kapur barus juga dipakai untuk memandikan jenazah sebelum dikuburkan. Variasi penggunaan kapur barus ini menyebabkan nilai jualnya sangat tinggi. Kita tidak akan lagi menemukan kejayaan Islam masa lalu dalam bentuk peradaban hidup. Ia ibarat Cordoba dan Granada Spanyol, hanya tinggalan material yang member pesan bahwa dulunya, Islam pernah menapakkan kejayaan. Mayoritas penduduk Desa Penanggahan, tempat dimana Situs Papan Tinggi berada, mayoritas – untuk tidak mengatakan keseluruhan, adalah Non-Muslim. 

Dalam sejarah disebutkan, warga Muslim lebih memilih tinggal dekat laut, sementara warga non-Muslim memilih berada di perkampungan untuk memudahkan mereka bertanam maupun memelihara ternak. Situs Papan Tinggi adalah situs tinggalan arkeologis berupa makam. Untuk menuju makam tersebut, “dipastikan” keringat akan bercucuran. Anak tangga menuju makam Syech Mahmud, yang membawa syiar Islam pertama di Indonesia tersebut berjumlah hampir 900 anak tangga. Bayangkan ! …… saya dan beberapa mahasiswa saya, teramat kelelahan menapak satu demi satu anak tangga tersebut. Makam Syech Mahmud tersebut di perkirakan sekitar tujuh meter lebih. Di batu nisan yang terbuat dari batu cadas itu, nama Syech Mahmud Fil Hadratul Maut yang ditahrikhkan pada tahun 34 H sampai 44 H yang berarti hidup pada masa Umar Bin Khattab sebagai khalifah (cf : Khilal Syauqi, lc., MA). Tidak diketahui bagaimana caranya batu cadas itu bisa sampai di ketinggian ini. “Barus” yang dicatat Dobbin dan dirindudendamkan Hamka itu, telah pupus. Saat ini hanya tinggalan arkeologis Papan Tinggi dan Makam Mahligai yang menjadi bukti bahwa negeri yang dicintai Hamzah al-Fansuri ini pernah menjadi Venecia-nya Sumatera. 

Referensi : Abdul Hadi WM. (1997) & Hasan Muarrif Ambary (1998)

"Simbolisasi" Agama dalam Politik


Oleh : Muhammad Ilham

Kota saya, sudah mulai banyak dipenuhi baliho para "calon", entah itu calon Walikota ataupun calon legislator yang akan mengadu peruntungan tahun 2013 dan 214 yang akan datang. Seperti biasa, pesan-pesan normatif keagamaan dalam baliho-baliho tersebut - apalagi bila berkaitan dengan moment keagamaan - sangat mengemuka. Dalam konteks ini, teringat oleh saya pengalaman seorang kawan dari teman saya, tahun 2009 yang lalu.  Ada seorang teman dari kawan saya yang kebetulan "nyaleg" waktu Pemilu Legislatif 2009 yang lalu. Teman dari kawan saya ini dikenal sebagai "urang pasa", sering duduk dikedai, hobi main koa dan sangat "pa-ota". Ketika jadi Caleg, praktis ia tak pernah lagi ke kedai memegang kartu Koa. Fotonya di baliho kampanye bergandeng dengan gambar masjid, dan ia memakai baju koko-berkopiah. Dibawahnya bertuliskan : "Mari Kita Kembali ke Surau, Mari Semarakkan Masjid, Hindari Maksiat". Ketika ia dinyatakan gagal jadi anggota legislatif, ia kembali ke habitat-nya, Kedai dan Koa. Sambil bergurau, kawan-kawannya-pun menyindirnya memanfaatkan simbol-simbol agama. Dengan santai ia-pun bilang, di dunia ini tiga daya tarik politik : "Uang, Wanita dan Simbol Agama". Yang pertama, sulit bagi saya, yang kedua tidak mungkin kita lakukan di ranah Minang, yang ketiga lebih memungkinkan. Oke ... putar kartu Koa-nya, kita main .... dan azan berkumandang, ia tidak mau ke Surau .... Coki ! 

(Tulisan dibawah, terinspirasi dari dialog saya dengan seorang kawan di FB)

(c) kompasiana.com
Seandainya Sumatera Barat memiliki ulama kharismatis, mungkin saat-saat sekarang, sang ulama akan kewalahan menerima kunjungan para Calon Kepala Daerah, untuk sekedar bersilaturrahmi. Seandainyalah, Sumatera Barat tidak ”dikuasai” Muhammadiyah, tapi dipengaruhi oleh NU-Tradisionalis, maka saat-saat sekarang ini, akan banyak kunjungan Calon Kepala Daerah ke maqam-maqam ulama kharismatik. Begitu menariknya simbol-simbol agama dalam ranah politik, membuat seluruh pasangan Calon Kepala Daerah, setidaknya yang terlihat di baliho pinggir jalan – merasa perlu untuk memakai simbol-simbol agama : ”Surau, Asmaul Husna, gambar Masjid, Kopiah Haji, Baju Koko dan memamerkan gelar Haji”. Hampir pasti, tak ada Calon Kepala Daerah yang memakai simbol-simbol ”grass-root”. Begitu kuat daya tarik simbol-simbol agama dalam politik, sehingga tidak pula mengherankan apabila (ketika jadi Gubernur) Fauzi Bowo ”kewalahan” menghadapi politisasi kasus Maqam Mbah Priok, Pasangan Jokowi, Basuki "Ahok" Tjahaya Purnama merasa kewalahan menghadapi serangan rasis (baca : agama) terhadap dirinya,  bahkan 2 tahun yang lalu  Julia Perez yang ”bahenol-monotok” tersebut seakan-akan layu untuk maju jadi Bupati Pacitan ketika ”Pasal Zina” dihembuskan Mentri Dalam Negeri.

Agama sebagai sebuah fakta kultural dan historis memiliki dua dimensi utama: yaitu dimensi simbolis-mitis dan sosiologis. Dimensi simbolis-mitis mengandung arti bahwa agama merupakan sebuah struktur makna (meaning structure) yang berada di ranah abstrak dan keberadaannya terlepas dari ruang dan waktu. Melalui struktur makna tersebut maka mode pemahaman diri (mode of self-understanding) digagas dan diciptakan melalui berbagai kegiatan penafsiran (hermeneutics) atas ajaran. Dalam kegiatan ini termasuk penciptaan dan penafsiran atas simbol-simbol dan metafor yang ada untuk kemudian dirumuskan serta diterapkan dalam tindakan aktual. Karena sifatnya yang abstrak dan sangat tergantung pada kemampuan tafsir itulah maka ajaran agama pada hakekatnya terbuka untuk diperdebatkan, apalagi ditambah adanya kenyataan adanya konteks sosiologis dan dimensi historis yang akan menjadi batas dan bingkainya. Pemahaman terhadap ajaran agama, dengan demikian, tidak mungkin tunggal atau monolitik. Munculnya berbagai macam aliran atau mazhab (schools of thought) sebenarnya merupakan hal yang wajar dan sah-sah belaka. Ketika agama dan pemeluknya berada dalam konteks politik, maka peran dan fungsi sosial dan politik agama pun akan sangat dipengaruhi oleh dialektika antara dimensi simbolis-mitis dan sosiologis-historis. Pada suatu konteks historis tertentu agama bisa saja begitu hegemonik sehingga sakan-akan menjadi satu-satunya alat untuk menjelaskan realitas atau merupakan kekuatan ideolologis yang tak tertandingi dalam  masyarakat. Namun pada konteks yang lain posisi seperti ini dapat saja terdesak ataupun mengalami pergeseran-pergeseran dan bahkan bisa lebih jauh : agama dianggap kehilangan relevansinya sebagai alat penjelas realitas tersebut. Sejarah ummat manusia, jika dilihat dari perspektif perkembangan agama, adalah rangkaian perubahan-perubahan yang terjadi dalam peran dan fungsi agama dalam konteks sosiologis ummat manusia.

Dalam kajian antropologi politik, peranan agama dan simbol-simbol supranatural di dalam politik memainkan arti penting. Agama pun bisa dijadikan landasan bagi struktur, landasan kepercayaan, atau sumber tradisi yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Namun, pilihan paling lazim adalah menjadikan agama sebagai alat legitimasi oleh para elite yang berkuasa atau kekuatan yang mengejar kekuasaan (ini yang dikritisi para kalangan Marxian). Pemakaian” ayat, dalil, atau ungkapan yang dinisbatkan pada agama tertentu sebenarnya identik dengan kemunculan kiai atau tokoh lain yang merepresentasikan agama. Kemunculan simbol-simbol tadi telah mengandung pesan, lebih dari makna yang terkandung dalam substansi yang sebenarnya. Tidak heran bila kosakata silaturahmi lebih sering digunakan ketimbang pertemuan politik.Membebaskan panggung politik dari anasir-anasir agama tidak semudah yang dibayangkan kelompok yang menganut paham pemisahan agama dan politik. Bahkan, bagi sebagian kalangan, memisahkan agama dan wilayah politik bukan saja sulit, tapi dipandang tidak perlu. 

Fakta mengungkapkan, bagi sebagian pemilih di tanah air dikotomi tua – muda tidak begitu penting. Demikian juga dikotomi sipil - militer sudah melonggar. Namun dikotomi Islam - non-Islam masih dipandang sensitif dan penting dipertimbangkan sebagai variabel penting keputusan untuk memilih. Bagi sebagian kelompok, bila menerapkan sistem politik menurut kaidah agama dipandang belum mungkin, makamengambil anasir-anasir agama untuk diformulasikan ke dalam kaidah hukum dan politik sudah dianggap cukup. Adaptasi ajaran politik pun terjadi di sepanjang garis keyakinan agama. Keputusan untuk memilih melibatkan variabel yang kompleks. Diperlukan sentuhan personal untuk merebut dukungan. Lebih-lebih dalam situasi ekonomi yang mencekik, kandidat yang bisa memberi harapan bagi perbaikan yang dirasakanakan lebih diapresiasi. 

Referensi : Kuntowijoyo (1994)

Cecak dan Empat "Tetek" : Catatan Kearifan Budaya Lokal

Oleh : Muhammad Ilham 

Apalah “mantagi”cecak ? Makhluk yang selalu saya “tembak” bersama dengan teman-teman masa kecil sewaktu di masjid. “Membunuh seekor cecak, sama artinya membunuh sekian orang kafir”, demikian doktrin bodoh yang saya terima waktu dulu, sebelum saya akil baligh, sebelum memiliki kemampuan untuk membantah guru-guru mengaji saya. Guru-guru mengaji saya itu, saya fikir juga tak salah. Mereka mewarisi “pengajian” sejenis dari guru-guru mereka dulunya. “Cecak-lah yang menunjukkan persembunyian Rasulullah ketika putra Abdullah dan Aminah ini melakukan perjalanan hijrah dari Mekkah menuju Madinah bersama sahabatnya Abu Bakar ash-Shiddiq. Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di sebuah gua agar tak diketahui kafir Qureys. Persembunyian Rasul yang ummi ini hampir diketahui kafir Qureys karena cecak berbunyi, untunglah ada laba-laba yang membuat sarang, sehingga kafir Qureys merasa yakin, didalam gua tidak ada manusia”, demikian kata salah seorang guru mengaji saya dulunya. Dan, dendam kesumat saya berkecambah. Di bulan puasa, saya teramat rajin “menembak” cicak-cicak di dinding dengan senjata panah yang terbuat dari lidi runcing di ujung, ditarik dengan karet yang sangat elastis. Setiap cecak yang tertembak-mati, saya dan teman-teman berteriak girang, seakan-akan kami seumpama “mujahidin”. Demikianlah. Perilaku “bodoh” ini berlangsung untuk beberapa saat, hingga almarhum ayah saya berkata, “tak ada yang sia-sia diciptakan Tuhan di muka bumi ini nak. Mungkin cecak lebih berharga bagi manusia, dibandingkan kamu. Coba lihat, berapa nyamuk yang dimakan cecak. Ketika kamu membunuh satu ekor cecak, maka semakin berkecambah jumlah nyamuk di sekeliling kita”, kata ayah saya sambil menghisap rokok Kaiser setelah berbuka puasa. Dan saya (teramat) ingat dengan ucapan ayah saya ini. Saya tak protes pada guru mengaji saya. Namun yang pasti, setiap bertemu cecak, dalam hati saya selalu “minta maaf” …. Hehehe. Pada dua anak perempuan saya, saya selalu katakan, “walau terkesan menjijikkan bagi sebagian orang, cecak adalah makhluk Tuhan yang tugasnya jelas, yaitu memangsa nyamuk, nyamuk yang selalu menggigit kalian jelang lena tidur”. Saya juga tak pernah menceritakan pada mereka, kisah “bodoh” bunyi cecak di mulut gua kala nabi dan Abu Bakar bersembunyi. Saya ingin pemahaman yang “ramah” pada mereka tentang cecak, walau menurut saya tak memiliki “mantagi”.

Dan, di Tomok pulau Samosir, saya mendapatkan “mantagi” makhluk yang bernama cecak ini. Dalam kajian antropologi, dikenal adanya konsep “key-culture” dalam bentuk simbol. Biasa-nya ini dinisbatkan pada warna, seumpama warna kuning bagi orang Melayu, merah untuk orang Cina, paduan kuning-merah-hitam bagi orang Minangkabau dan seterusnya. Simbol itu juga dipersonifikasikan dengan binatang. Bila kerbau menjadi salah satu simbolisme “key-culture” Minangkabau, babi bagi masyarakat Papua dan Mentawai, kuda bagi orang Lombok dan Sumbawa, Naga untuk etnik Tionghoa, ular pada sub etnik tertentu di India …. maka cecak menjadi pilihan orang Batak. Lihatlah, simbolisasi cecak selalu dietakkan di depan rumah adat Batak, pada tiang-tiang upacara ataupun pada bangunan-bangunan estetik-kultural etnik asal Ruhut Sitompul ini. Ketika kali pertama saya berkunjung ke Tomok tahun 2000, melihat bangunan megalitik Ompu Sidabutar-Naibatu Sidabutar-Anting Malela, saya tertawa-tawa melihat “pilihan” orang Batak jatuh pada cecak untuk mempersonifikasikan nilai-nilai “key-culture” mereka. “Inilah binatang yang sering saya tembak dahulu”, guman saya dalam hati. Namun tawa saya ini berubah menjadi kekaguman ketika saya berdiskusi panjang dengan para tetua adat Batak di pulau Samosir (Tomok dan Ambarita), ataupun di Balige dan beberapa daerah “asli” di Tapanuli Tengah serta Tapanuli Utara.

“Mengapa harus cecak, ompung?”, tanya saya pada Marulin Sipahutar, orang pertama yang saya jumpai tahun 2000 tersebut.

“Saya yakin, itu adalah pertanyaan yang akan kau tanyakan”, jawabnya. Aksentuasinya mengingatkan saya dengan Nagabonar, tokoh idola saya, apalagi ketika ia selalu memanggil saya dengan KAU. “Dengarkan, baik-baik”, katanya sambil memperbaiki letak ulosnya.

“Kau tahu Bill Clinton ? Kau tahu SBY ? Kau tahu Maradona ? Tahukah kau Mike Tyson ?”, tanyanya pada saya.

“Ahhh, tahulah ompung, masak saya tak tahu”, jawab saya dengan bingung karena tak mengerti arah dan tujuan pertanyaannya.

“Mereka punya rumah kan ?. Di rumah Clinton, SBY, Maradona dan Mike Tyson pasti ada cecak. Seperti juga, cecak ada di rumah tukang becak, tukang angkat di pelabuhan, di rumah kenek mobil, sopir angkot hingga sopir taxi, di rumah bintang film Hollywood hingga di rumah pengamen, dari rumah gedung hingga rumah reyot, bahkan rumah yang belum jadi sekalipun ….. cecak pasti ada”, jawabnya bersemangat. Skak Ster.

(Saya-pun mulai terpana. Jawaban yang yang telah mulai menemui titik terang)
“Orang Batak itu harus seperti cecak. Dimanapun mereka berada, mereka harus bisa menyesuaikan diri. Jangan main-main kau dengan filosifi cecak ini, walau ia binatang yang terkesan dilecehkan, tapi ia satu-satunya binatang yang dibangunan apapun didunia ini, ia pasti ditemukn !”, cetusnya kembali sambil menawarkan saya rokok Gudang Garam Merah yang masih terngaga. Terngaga, kagum dengan “makna-filosofis” binatang yang selalu saya tembak waktu kecil itu.

Apa yang diterangkan Marulin bermarga Sipahutar ini membuat saya teringat dengan sosiolog besar peletak dasar grand theory fungsional dalam tradisi ilmu sosiologi, yaitu Talcott Parson. Parson mengatakan bahwa tingkat kemajuan sebuah komunitas sosial sangat dipengaruhi oleh daya adaptif yang dimiliki oleh pendukung komunitas sosial tersebut. Semakin mereka mudah beradaptasi, semakin tinggi potensi mereka untuk dinamis dan terbuka (dua prasyarat komunitas sosial yang diidentikkan dengan masyarakat maju). Saya juga teringat dengan analisis antropolog (muslim) Akbar S. Ahmed yang mengatakan bahwa peradaban Islam di Spanyol sangat maju pada zamannya dikarenakan kemampuan adaptif yang tinggi dari para pendukung peradaban tersebut. Cecak ternyata memiliki “matagi” !!

“Lalu, apa hubungannya dengan gambar nan sensual itu, ompung ?”, tanya saya sambil menunjuk replica PAYUDARA yang jumlahnya empat buah.
Gambar yang membuat fantasi saya liar entah kemana. Apalagi bentuknya yang “pas-montok” ….. tanpa silicon.
Si Ompung ini ketawa terbahak-bahak.
“Tempat kau menyusu ini, ucok!”, jawabnya pada saya.
“Ya, saya tahu. Tapi mengapa cecak mengahadap replica payudara ini ? Apalagi jumlahnya empat buah pula. Setahu saya, jumlahnya dua. Montoknya, bolehlah, tapi kalau jumlahnya empat …. alamaaak jang, pening aku melihatnya”, kata saya. Kembali si ompung ini terbahak.
“Tetek ini, jumlahnya memang empat. (ia menggunakan istilah “tetek” untuk menyebutkan payudara”). Tapi jangan kau bayangkan wanita Batak dulu, teteknya empat pula. Ini maknanya banyak, ucok”, katanya.
“Apa kira-kira maknanya tu ompung”, tanya saya dengan tak sabar.
“Orang Batak, yang digambarkan dengan cecak itu, harus menjadi manusia yang mudah beradaptasi, di negeri manapun di dunia ini. Mereka harus menjadi orang berguna dengan segala ragam profesi. Tapi jangan lupa, mereka punya ibu yang digambarkan dengan tetek. Ibu genetic dan ibu budaya. Intinya, sejauh-jauh cecak merantau, jangan lupa pada kampong halaman mereka, ataupun pada ibu mereka”, terangnya pada saya yang terngaga kembali.
“lalu, kok harus empat jumlah tetek itu, ompung”, Tanya saya kembali.
“hahahahaha, tandanya orang Batak harus menghargai wanita yang subur. Untuk menghargai wanita yang subur itu, maka digambarkan dengan empat buah tetek!”, jawabnya dengan membelalakkan mata (mungkin ia ingat istrinya di rumah).
Sejurus, kami berdua-pun tertawa.
“Ada satu lagi makna nya Ucok”, katanya setengah berteriak.
“Apa itu ompung?”, Tanya saya setengah berteriak pula.
“Empat buah tetek itu menggambarkan empat penjuru mata angin. Cecak yang merantau, di seluruh penjuru mata angin …. harus ingat tetek …. Eh, salah, maksud saya, ibu dan kampong halamannya”, katanya.
(Kami berdua-pun kembali tertawa). Kemudian, saya memandang cecak dan “tetek” yang empat buah tadi. Apa yang ada dalam pemikiran kami berdua, tentulah berbeda. Tahun 2000, kala saya masih bujangan, melihat gambar ini, membuat saya “entah mengapa gituuu !”. Tapi yang pasti, penjelasan Ompung Marulin Sipahutar tadi, membuat saya semakin menyesali perilaku saya waktu kecil dahulu.

Horaaaaas !
Dan saya selalu merindukan terus berkunjung ke Tomok dan Ambarita.
Akhir tahun 2012 yang lalu, adalah kunjungan riset saya yang ke 5 kalinya. Dan tak pernah membosankan. 
Apalagi melihat cecak …….. dengan tetek yang empat buah itu.