Jumat, 25 Desember 2009

Perempuan Perkasa dalam "Dekapan" Sejarah : Antara Rohana Koedoes dan Keumala Hayati

Oleh : Muhammad Ilham

Mungkin artikel ini terlambat saya posting. Sehingga "substansi" tulisan kehilangan momentum. Tapi bak kata "secondan-hidup" eksistensialist Jean-Paul Sartre, Simione de Beavoir, "tulisan tak pernah kehilangan momentum, momentum-lah terkadang yang tidak pernah ditulis". Ribet, tapi pas. Demikian halnya dengan artikel ini, bercerita tentang perempuan. Harusnya bukan bulan ini, walau bulan ini adalah bulan apresiasi terhadap IBU. Sementara, saya ingin bercerita tentang PEREMPUAN ...... sang EMPU yang tegar dalam sejarah. Tapi sayang, banyak para Empu ini yang tidak terekam dengan baik dalam layar sejarah. Ah ..... betul juga ungkapan Massima Haina, wanita pemikir Tunisia, "layar sejarah hanya merekam laki-laki".

Indonesia mengenal tokoh-tokoh "Empu" tegar, namun tak mendapat porsi memadai dalam catatan sejarah. Sebutlah, Roehana Koedoes. Ia tak selalu muncul di layar radar sejarah. Atau, kalaupun ada yang mencatat, keberadaan catatannya sangat terbatas, atau terselip entah di mana. Siapa Roehana Koeddoes? Dalam pengantar bukunya yang berjudul Roehana Koeddoes: Perempuan Sumatera Barat (2001), Fitriyanti menuliskan demikian: "Di awal abad ke-19, di mana sekitar hampir 99 persen perempuan di Tanah Melayu masih buta huruf, hidup di tengah ajaran agama dan adat istiadat dengan penafsiran yang sempit dan cenderung picik, serba mengekang kemajuan perempuan, terpuruk dalam kebodohan, Roehana kecil sudah mengajari teman-temannya bermain sambil membaca di usia 8 tahun pada tahun 1892." Lalu: "Jatuh bangun memperjuangkan nasib kaum perempuan, mengalami berbagai benturan sosial dengan pemuka adat, agama, dan masyarakat umum, Roehana dipuji dan dikagumi tetapi sekaligus difitnah dan dicaci-maki sehingga terpaksa meninggalkan kampung halamannya." Roehana, seperti disebutkan dalam subjudul buku yang sama tapi edisi yang diterbitkan empat tahun kemudian, adalah perempuan yang pernah menjadi wartawan pada masa hidupnya. Berdasarkan catatan yang tersedia, tak ada perempuan lain yang menjalani profesi yang sama sebelum itu, atau pada masa yang sama; dengan kata lain, dialah perempuan pertama yang berprofesi sebagai wartawan. Dia tak pernah bersekolah formal. Tapi dia mengerjakan sesuatu yang tak remeh bagi kaumnya, dan karena itu juga bagi bangsanya, walau luput masuk ke dalam buku sejarah dengan gegap gempita.

Perempuan lain bisa disebut juga, sebagai contoh: Keumala Hayati atau Malahayati. Pada masa kekuasaan Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil di abad 16, persisnya selama 17 tahun antara 1589 dan 1604, Malahayati adalah panglima yang memimpin armada kerajaan. Pasukannya terdiri atas sekurang-sekurangnya seribu Inong Balee, pasukan yang terdiri atas para janda prajurit. Jabatan itu bukanlah hiasan belaka. Sebuah laporan dari masa itu menyebutkan armada di bawah pimpinan Malahayati berkekuatan 100 kapal perang bersenjata meriam. Sebagian dari kapal-kapal itu mampu mengangkut 400-500 orang. Ini termasuk armada yang terkuat di Asia Tenggara kala itu. Malahayati-lah, atas perintah Sultan, yang menyerbu armada kapal dagang bersenjata dari Belanda pimpinan Cornelis de Houtman dan Frederijk de Houtman pada 1599. Sultan Aceh merasa kepercayaannya dikhianati oleh dua bersaudara ini, yang memanipulasi perdagangan, mengacau, dan menghasut.

Dua perempuan, dua macam perjuangan di medan laga, apa pun rupa medan laga itu, tidak selalu berupa perang. Tapi sesungguhnya mereka tak sendiri. Masih ada sejumlah perempuan lain, barangkali banyak, seperti mereka. Belum lagi yang masih absen dari berbagai wujud catatan historis dan hanya diketahui (atau malah hanya diingat) di lingkungan lokal. Dengan mereka itu, pastilah beragam pula rupa pertarungannya. Perjuangan, pergulatan, atau pertarungan mereka itu sesungguhnya sulit untuk diabaikan, atau dianggap biasa saja. Roehana memimpin Oetoesan Melajoe, koran khusus perempuan di Padang. Melalui tulisan-tulisan di koran yang terbit pertama kali pada 10 Juli 1912 ini, beraneka macam, kebanyakan menekankan pentingnya perempuan menempuh pendidikan, Roehana berusaha memberikan pencerahan bagi kaumnya. Dan dia melakukannya tatkala belum ada seorang pun perempuan yang mendahuluinya.

Tetapi kepeloporan seperti itu, yang bisa terjadi di mana saja, selalu menghadapi halangan yang kukuh. Secara tak langsung, apa yang dia lakukan telah menggoyahkan peraturan adat yang sudah mapan. Apalagi, "Saya terutama sekali menulis mengenai segi keagamaan dan keharusan adat Minangkabau, khususnya Kotogadang, yang mengubah sikap mereka mengenai perempuan," katanya. Yang menjadikan Roehana terlihat menonjol adalah keteguhan hatinya betapapun tekanan yang mesti dihadapi luar biasa. Roehana sebenarnya beruntung. Juga Malahayati. Atau perempuan-perempuan lain yang telah mendapatkan tempat dalam sejarah, sekalipun mungkin belum sepadan dengan apa yang mereka lakukan; sebagian dari mereka pun bisa dibaca riwayatnya dalam buku. Walau begitu, mesti diakui bahwa pengetahuan mengenai mereka belum sepenuhnya tersiar luas. Dan kenyataannya, setiap kali orang bicara mengenai perempuan dan kepeloporan atau kepahlawanan, nama yang selalu disebut ya itu-itu juga.

Demi menyebarkan pengetahuan yang telah ada itu diperlukan lebih banyak lagi tindakan. Pada saat yang sama, usaha yang lebih keras juga merupakan keniscayaan demi memberi "kesempatan sejarah" bagi mereka yang kebetulan namanya belum terdengar, atau malah hanya terdengar dan belum ada satu dokumentasi pun yang merekam perjuangan mereka. Kita memerlukan lebih banyak warga di "kampung para perempuan perkasa" demi menunjukkan kenyataan penting: bahwa di negeri ini, di masa lalu yang gelap pun, ada perempuan yang telah sadar akan hak-haknya dan karenanya, dengan melawan segenap resistensi tradisi, adat, dan agama, berusaha memberikan penerangan bagi kaumnya. Kenyataan itu seharusnya bisa menjadi dasar bagi tegaknya kesempatan yang lebih baik yang lebih luas bagi perempuan di masa modern ini.

Kamis, 24 Desember 2009

Bukan Hanya Sekedar Non-Aktif

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam beberapa hari belakangan ini, saya berusaha "keras" untuk memahami dunia yang bukan "ranah" ilmu saya, yaitu ekonomi. Sebagai seorang yang bergelut dalam ilmu sejarah dan sosiologi politik, beberapa istilah yang muncul belakangan ini berkaitan dengan kasus Bank Century (BC) seperti "sistemik" dan "Bail-Out" hanya saya pahami dalam tataran konseptual tanpa ada dasar kontekstual. Memang saya pernah mengajar "Pendekatan Sejarah Ekonomi" di kampus saya dan "Pengaruh Politik dalam Sistem Ekonomi" di sebuah Perguruan Tinggi swasta, tapi tetap yang saya pahami masih dalam tataran filosofis-normatif saja. Karena itulah, dalam beberapa hari terakhir ini, saya sangat menikmati "perdebatan akademik" diantara pengamat-akademisi ekonomi di berbagai media. Dan, "perdebatan politik" berkaitan dengan BC, biasanya saya anggap "angin lalu", karena untuk kasus ini saya dari awal telah "berburuk sangka", dunia politik adalah "Bargaining" - tawar menawar, apalagi untuk kasus BC.

Beberapa pertanyaan yang muncul berkaitan dengan BC belakangan ini setidaknya membuat seorang Sri Mulyani "dihabisi" oleh orang-orang yang terkadang tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan. Termasuk beberapa teman dan mahasiswa saya. Bagi mereka, kasus BC adalah "kesalahan" Sri Mulyani + Boediono. Mereka korupsi, biasanya itu simpulan awal dan akhir. Ketika ditanya, konteks sistemik dan Bail-out itu, mereka hanya mengetahui dari lontaran-lontaran "panas" politisi-politisi Senayan, dan bagi mereka itu-lah yang benar. Bagi saya, kebenaran di luar ranah ilmu saya, itu bukan kebenaran bagi saya. Karena itulah, memahami kasus BC, referensi saya adalah mereka yang betul-betul "dipercayai" selama ini sebagai ilmuan atau ekonomo berintegritas di Indonesia. Lucu, bila saya harus mendengar defenisi para politisi yang begitu "bernafsu". Saya berusaha memahami konteks kasus Bank Century tersebut dari beberapa pendapat ekonom berintegritas, dan beberapa pertanyaan terutama tentang konteks sistemik dan Bail-out itu, walaupun terkesan subjektif, setidaknya saya bisa belajar untuk "berfikir jernih" dan tidak terbawa "nafsu" para politisi di Senayan sana.

Bagi saya kasus BC (sebagaimana yang saya "tangkap" dan pahami) bisa dilihat latar-nya dengan sebuah analogi. Ada sebuah analogi yang baik sekali dari Menteri Keuangan Sri Mulyani: di sebuah perkampungan yang amat padat, terjadi kebakaran. Kebetulan pemilik rumah tersebut adalah orang yang jahat. Kita bisa saja membiarkan rumah itu terbakar, tetapi akibatnya rumah di sekitarnya akan ikut terbakar, dan seluruh perkampungan akan terbakar. Maka kita tak bisa mengambil risiko—siapa pun pemilik rumah tersebut—kita harus memadamkan apinya. Bukan untuk menolong dia, tetapi untuk menyelamatkan seluruh kampung. Dan ini tak hanya terjadi dengan Century di Indonesia. Lalu apakah benar ini sistemik? Bukankah faktanya krisis perbankan tak terjadi? Bagaimana jika waktu itu tidak dilakukan bailout? Sayangnya, kita tidak bisa tahu persis apakah karena bail out maka krisis perbankan tidak terjadi, atau memang situasi krisis tidak parah sehingga tidak perlu dilakukan bailout. Jika dua argumen mengenai soal yang sama datang dengan kesimpulan yang berbeda, mana yang paling mendekati ”kebenaran relatif”?

Dalam risalahnya yang berjudul The Methodology of Positive Economics, pemenang Nobel Ekonomi Milton Friedman menulis: teori atau model tidak bisa disimpulkan benar hanya karena model itu konsisten dengan bukti empiris, namun teori atau model dapat dikatakan salah—atau belum membuktikan kebenarannya—jika ia tidak konsisten dengan bukti empirisnya. Dalam kasus Bank Century ada dua fakta empiris: pertama, ada bailout, dan kedua: tidak ada krisis perbankan. Amat naif bila kita menyimpulkan bahwa karena bailout terhadap Century, krisis perbankan tidak terjadi. Sangat mungkin situasi perbankan yang aman disebabkan juga oleh faktor lain. Artinya, penyelamatan Century punya probabi­litas untuk benar dan sekaligus juga salah. Artinya pula, kondisi perbankan yang aman mungkin disebabkan oleh penyelamatan Century, tetapi bukan pasti karena itu. Namun, yang jelas: tidak ada bukti empiris bahwa dengan menutup atau tidak memberikan bailout kepada Century, krisis perbankan tidak terjadi. Karena faktanya: peme­rintah tidak pernah menutup Bank Century, dan krisis perbankan tidak terjadi. Karena itu, argumen bahwa kalau toh Century tidak di-bail out, ekonomi Indonesia akan selamat, tidak punya bukti empirisnya.

Lalu bagaimana soal aliran dana? Atau soal penyalahgunaan? Jawabannya sederhana: buktikan saja melalui data PPATK dan penyidikan KPK. Jika memang ada bukti dan kesalahan: hukum saja mereka yang bertanggung jawab. Siapa pun dia. Apa pun posisinya. Tetapi soal menjadi lain jika ia masuk ranah politik. Di sini terbuka semua kemungkinan, termasuk pengadilan terhadap kebijakan, termasuk kemungkinan mendapatkan jabatan. Jika kebijakan bisa diadili, tak ada orang yang berani mengambil risiko kebijakan. Lalu, kalau terjadi guncangan di sektor keuangan lagi—dengan risiko sistemik atau terkenanya sektor perbankan—apakah pemerintah dan Bank Indonesia berani mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menenangkan sektor keuangan?

Jadi, ini bukanlah sekadar soal mempertahankan Boediono dan Sri Mulyani. Ini adalah soal yang lebih besar: membela nasib Indonesia. Apakah karena persoalan politik, nasib rakyat harus dikorbankan? Siapa yang dibela? Kepentingan rakyat atau jabatan? Saya tak pandai menjawabnya. Kekisruhan dan keserakahan politik membuat kita lupa tentang nilai. Tentang integritas. Padahal kita tahu, negeri ini tak dibangun oleh keserakahan. Tak dibangun oleh perebutan kekuasaan. Ia dibangun oleh niat baik, ia dibangun oleh jutaan orang yang setiap hari bergulat untuk selangkah lebih baik. Ia dibangun oleh integritas, seperti rekam jejak Boediono dan Sri Mulyani selama ini. Integritas mungkin tak lebih kuat daripada kekuasaan, tetapi ia lebih tinggi. Sejarah menulis: republik ini dibangun oleh orang yang bisa bersikap, walau itu tak populer, walau itu tak ramai dijejaki orang.

Putu Setia : "Kamu Kenal Sri Mulyani ?" (Sekali Lagi tentang Sri Mulyani)

Re-write : Muhammad Ilham

PUTU SETIA, sastrawan besar Indonesia asal Bali suatu ketika dipanggil oleh sahabatnya, Romo Imam. "Kamu kenal Sri Mulyani?", tanya Romo Imam pada Putu. Ketika saya (Putu Setia) jawab tidak, Romo tampak kecewa. Romo lalu menyebut sejumlah nama. Kwik Kian Gie, Bambang Soesatyo, Maruarar Sirait, Aburizal Bakrie, dan banyak lagi. "Semuanya tidak saya kenal Romo, saya kan rakyat kecil, mana kenal tokoh besar itu," jawab saya. Dengan nada kecewa, Romo berkata: "Kamu kurang bergaul, padahal saya ingin membicarakan Sri Mulyani dalam kasus Bank Century." Saya berusaha membelokkan perbincangan. "Urusan Bank Century ruwet, kita bicara Ibu Sri dalam kaitan Hari Ibu saja," kata saya. Romo seperti tersinggung: "Itu keliru besar. Kasus Century masalah sederhana yang diruwetkan karena banyak pihak memiliki target masing-masing."

Romo menjelaskan dengan analogi rumah terbakar, padahal saya mengharapkan analogi Profesor Kodok, seperti yang dilansir Kwik. Saat itu, kata Romo, ada rumah terbakar di sebuah kompleks di kawasan kampung besar. Untuk memadamkan rumah itu, perlu disemprot air dan zat kimia yang membutuhkan biaya mahal. Uang ada, karena setiap rumah di kompleks itu sudah urunan untuk musibah tak terduga seperti ini. Bukan uang milik kampung. Badan otorita kompleks mengadakan rapat darurat. Ada dua pendapat, biarkan rumah itu terbakar sendiri, dan tak perlu biaya untuk memadamkan api. Pendapat lain, semprot segera, toh uang ada, karena bisa berdampak sistemik, api merambat ke rumah yang lainnya. Jika itu terjadi, bukan hanya warga kompleks yang menanggung akibatnya, tapi juga warga kampung. Keputusan harus diambil cepat. Berdasarkan analisis saat itu, rumah harus disemprot. Jadi masih ada fondasinya dan dibangun rumah baru. Pemilik rumah itu nanti harus mengembalikan uang hasil iuran itu, karena memang sifatnya bantuan sementara.

"Sri Mulyani mengambil keputusan itu dengan cepat," kata Romo. Kalau sekarang ada yang mencela pengambilan keputusan itu, kata Romo, itu sangat tak adil. Karena pencelanya berbicara saat kondisi aman tenteram. Pengambilan keputusan cepat saat keadaan emergency sering disebut "judi yang dibenarkan". Andaikata Sri Mulyani memutuskan membiarkan rumah itu terbakar, lalu api merembet ke mana-mana, bayangkan celaan macam apa pula yang diterimanya.

"Tapi nyatanya api tak merembet, Romo," saya memotong. "Kamu ikutan tolol," jawab Romo. "Kamu berbicara dalam konteks situasi sekarang yang aman."

Saya diam, takut kena "semprot". Kemudian Romo bicara lagi, jika aliran biaya menyemprot rumah itu dipersoalkan, nah, itu bagus, jangan Sri Mulyani yang dihujat. Kan tak mungkin Ibu Sri turun langsung memeriksa, berapa aliran uang untuk beli air, beli selang, dan sebagainya. Kalau di situ ada korupsi, ya, tindak di situ. Juga jangan sok pahlawan kesorean, selalu bilang: uang rakyat raib. Uang ini memang diperuntukkan bagi keadaan emergency semacam itu untuk para anggotanya yang kemudian akan dikembalikan lagi. Ya, kalau disebut uang negara atau uang rakyat, itu perdebatan para kusir delman, memangnya ada organisasi silat menerbitkan uang? Semua uang, ya, dikeluarkan negara, tapi ada "hak milik" yang melekat pada orang atau paguyuban.

"Kamu kenal Marsillam Simanjuntak?" tiba-tiba Romo bertanya tentang orang lagi. "Kalau dia saya kenal, karena Marsillam orang besar yang menghormati martabat saya sebagai orang kecil," jawab saya. "Sejauh mana kenal?" Saya jawab: "Sampai saya mengenali suaranya di telepon meski beliau sering bercanda. Karena itu, dalam rekaman yang kini beredar, saya yakin Sri Mulyani berbicara dengan Marsillam, bukan Robert Tantular."

Sumber : Majalah Tempo Edisi Minggu ke-3 Desember 2009

Sabtu, 19 Desember 2009

Melanggengkan Kekuasaan Versi Antonio Gramschi

Oleh : Muhammad Ilham


ANTONIO GRAMSCHI, seorang filosof berkebangsaan Italia, suatu waktu pernah mengatakan bahwa kekuasaan itu bisa dilanggengkan dengan dua cara. Cara pertama melalui tindakan kekerasan, dan bersifat memaksa. Cara kedua adalah membujuk, dan ini bersifat lunak. Menurut Gramschi yang dikenal awalnya sebagai seorang Marxian (namun di akhir masa-masa "petualangan" intelektualnya, Grmaschi justru mengkritik pandangan Marxisme), perangkat keras yang memaksa itu dilaksanakan oleh lembaga-lembaga seperti institusi hukum, polisi dan penjara. Sedangkan yang lunak dan membujuk, dilaksanakan dalam pranata-pranata kehidupan swasta seperti kehidupan keagamaan, keluarga, pendidikan dan sebagainya. Gramschi yang mengakhiri hidupnya dalam penjara ini mengatakan bahwa perangkat keras yang bersifat memaksa dilaksanakan oleh negara (state), dan yang lunak-membujuk dilakukan oleh civil society.

Bila kekuasan dicapai dengan cara mengandalkan kekuatan memaksa semata, maka yang tercapai adalah domination (dominasi). Dalam konteks ini, akan tercipta stabilitas dan keamanan, tidak ada gejolak atau oposisi karena rakyat dikondisikan untuk bungkam. Apabila rakyat membangkang (bahkan mengkritik), maka "diamankan". Tindakan memaksa dengan kekerasan ini sangat mutlak diperlukan oleh penguasa (mungkin Gramschi, dalam konteks ini, terinspirasi dari Niccolo Machiavelli). Tetapi dominasi semacam ini, bagi Gramschi tidak akan mampu melanggengkan kekuasaan. Maka, untuk melanggengkan kekuasan tersebut, menurut Gramschi, dominasi harus dilengkapi dan lama kelamaan digantikan oleh hegemoni. Konsep hegemoni yang dipopulerkan oleh Gramschi tahun 1926 ini adalah adalah suatu konsep pelanggengan kekuasaan dengan pengabsahan. Bila hegemoni tercapai, penguasa tidak perlu terus menerus menindas karena yang tertindas akan pasrah terhadap status quo. Mereka terbujuk untuk tidak lagi melihat ketimpangan yang merugikan mereka sendiri. Atau melihatnya sebagai sesuatu yang wajar, alamiah, bahkan adil sesuai dengan kehendak Illahi.

Tentu saja, mencapai kekuasaan yang hegemonis (membuat yang tertindas merasa bahagia ditindas) jauh lebih sulit ketimbang sekadar mencapai dominasi (penindasan yang keji). Namun, bagi Gramschi, hegemoni bisa terbentuk lewat berbagai cara dan dalam berbagai ranah kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa disadari, terkesan tidak serius, tidak angker dan tidak bersifat politis. Misalnya melalui kesenian, keagamaan, kebudayaan dan keluarga. Hegemoni memberi kebebasan dan toleransi bagi keberagaman, tentunya hingga dalam batas-batas yang dapat dikendalikan penguasa. Dengan demikian, kaum tertindas diharapkan merasa senangdan berharap masih akan ada perbaikan walau masih dikuasai. Hegemoni bukan hanya bersifat mengalah terhadap tuntutan musuh, tetapi juga menahan diri untuk tidak semata-mata memperjuangkan kepentingan sendiri secara vulgar. "Kemasan" adalah kata kuncinya. Kepentingan sendiri dibungkus dengan aneka kepentingan lain, sehingga tampil seakan-akan mewakili kepentingan umum(misalnya : kepentingan nasional atau kepentingan rakyat) ...... Bagaimana dengan kondisi politik Indonesia akhir-akhir ini ?. Begitu banyak yang mengobral "atas nama kepentingan rakyat", "kasus ini mewakili suara rakyat" ... dan seterusnya.

Kamis, 17 Desember 2009

Timur Lenk : "Si Pincang Dari Timur"

Oleh : Muhammad Ilham

Namanya Timur Lenk atawa Tamerleng. Si Timur Pincang. Ia anak Taragai, Kepala Suku Barlas di wilayah Uzbekistan kini. Sang ayah kabarnya keturunan Karachar Noyan -menteri dan kerabat Jagatai, anak Jenghis Khan. Namun Timur Lenk sendiri sering disebut sebagai keturunan Jenghis Khan. Secara resmi keturunan Mongol ini telah memeluk Islam. Diperkirakan ia lahir pada 25 Sya'ban 736 Hijriah, atau 8 April 1336 Masehi. Sejak kecil, keberaniannya nampak luar biasa. Pada usia 12 tahun, ia telah terlibat dalam sejumlah pertempuran. Ketika ayahnya wafat, Timur bergabung dengan pasukan Gubernur Tansoxiana, Amir Qaghazan, sampai gubernur itu meninggal. Serbuan pasukan Tughluq Temur Khan melambungkan nama Timur Lenk. Ia bertempur sampai mengundang perhatian Tughluq. Ia direkrut Tughluq menjadi pasukannya, namun kemudian memberontak setelah Tugluq mengangkat anaknya, Ilyas Khoja sebagai Gubernur Samarkand dan hanya menjadikan Timur sebagai wazir. Timur bergabung dengan Amir Husain -cucu Qaghazan.

Tughulq dan Ilyas Khoja tewas dalam pertempuran. Kemudian Timur malah membunuh Amir Husain yang juga iparnya sendiri. Pada 10 April 1370, ia mengangkat dirinya sebagai penguasa tunggal. "Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini, maka di bumi seharusnya hanya ada satu raja." Demikian semboyannya. Sejak itu, Timur menebar maut sebagaimana dilakukan Hulagu seabad sebelumnya. Khurasan, Afghan, Persia , Kurdistan dikuasainya. Di Sabwazar, Afghanistan, ia membangun menara terbuat dari 2000 mayat dibalut dengan lumpur. Pada 1395, ia menyerbu Moskow. Lalu balik lagi ke Timur ke India -tempat ia konon membantai 80 ribu tawanannya. Kebiadaban terus ditebarkan. Pusat-pusat peradaban Islam dihancurkannya kecuali Samarkand. Di tempat ini, ia malah membangun kota dengan mendatangkan batu dari Delhi, India, dengan diangkut oleh gajah.

Di Aleppo, Syria, Timur Lenk membangun piramida dari sekitar 20 ribu kepala manusia. Di Baghdad, sebanyak itu pula penduduk yang dibantainya. Di Armenia, 4000 tentara musuh dikubur hidup-hidup. Sekolah dan masjid-masjid di sekitar Irak dihancurkan. Masjid Umayah di Damaskus dihancurkannya sehingga tinggal dinding. Tak terhitung lagi jumlah korban Timur Lenk. Timur juga menggempur dua kesultanan penting. Yakni kesultanan Usmani di Turki serta Mamluk di Mesir. Dalam pertempuran melawan Timur Lenk, Usmani dipimpin sendiri oleh Sultan Bayazid I. Erthugul, anak Bayazid, tewas. Dalam pertempuran berikutnya, perang di Ankara 1404, Bayazid bahkan tertawan dan meninggal sebagai tawanan. Di Takrit -kota kelahiran Salahuddin Al-Ayyubi-Timur Lenk juga membangun piramida manusia. Dinasti Mamluk di Mesir tak luput dari ancamannya. Apalagi Sultan Malik Zahir Barquq melindungi penguasa Baghdad yang melarikan diri, Sultan Ahmad Jalair. Namun, seperti menghadapi Hulagu sebelumnya, Mesir akhirnya luput dari serangan Timur.

Serangan Timur Lenk benar-benar menghancurkan peradaban Islam. Praktis hanya Mesir yang selamat. Baghdad yang belum pulih akibat serangan Hulagu Khan dulu, kini remuk kembali. Tak puas menjarah ke Barat, Timur Lenk kemudian mengincar Cina di timur. Padahal saat itu, ia telah berusia 71 tahun. Saat hendak melakukan invasi itu, Timur Lenk sakit dan meninggal pada 1404. Dua orang anaknya, Muhammad Jehanekir dan Khalil bertempur hebat memperebutkan kursi sang ayah. Khalil (1404-1404) menang, namun dikudeta oleh saudaranya yang lain, Syakh Rukh (1405-1447). Syakh Rukh dan anaknya, Ulugh Bey (1447-1449) memimpin negaranya dengan baik. Ilmu pengetahuan kembali berkembang. Namun tidak lama. Pada 1469, kekuasaan keluarga Timur Lenk itu ambruk. Timur adalah salah seorang pemimpin paling brutal dalam sejarah. Sepak terjangnya menghancurkan masyarakat Islam habis-habisan. Namun, ironisnya, Timur Lenk adalah seorang muslim. Kabarnya, ia berpaham Syi'ah namun dekat dengan tarekat Naqsabandiyah. Dalam kehidupan sehari-hari, ia seperti menghormati para ulama. Dikabarkan ia dengan sangat hormat menerima sejarawan besar Ibnu Khaldun yang ditugasi Sultan Faraj untuk berunding. Apapun, noda hitam telah terlalu banyak ditorehkan Timur Lenk. Terlalu banyak merah darah yang telah dibanjirkannya.

Rabu, 16 Desember 2009

Kekaguman Seorang Guru TK Terhadap Pramoedya Ananta Toer

Oleh : Muhammad Ilham

Ada seorang guru TK, awalnya ia hanya perempuan biasa dan memiliki "selera" biasa-biasa saja. Tidak begitu suka politik, sejarah, ekonomi, apatah lagi yang namanya sejarah-sastra. Namun karena "soulmate" (baca: suaminya) memiliki hobby baca, terutama sastra "menggerakkan", maka mulai-lah ia yang hanya guru TK ini menjadi perempuan biasa penyuka sastrawan, salah satunya sang "maestro-sastra" Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. (Artikel ini juga saya persembahkan "untuk dibaca" oleh mahasiswa saya yang memiliki interest terhadap posisi sastrawan dalam sejarah bangsa).

Berikut petikan "catatannya" tentang pengarang Tetralogi (ada yang bilang Katrologi) "Bumi Manusia".

Saya berusia 21 tahun, seorang Guru pada sebuah Taman Kanak-kanak di Yogyakarta. Saya pengagum karya-karya Pramoedya. Sebelumnya saya tidak begitu mengenal beliau. Siapa Pramoedya, dari mana dia berasal, tokoh penulis seperti apa dia? Kekaguman saya pada beliau berawal ketika saya bertemu dengan seseorang yang sekarang menjadi suami saya. Karena dia tahu saya hobi membaca, dia menawarkan salah satu novel karya Pramoedya. Sejak itulah saya mulai mengenal sosok Pramoedya dan bersentuhan dengan karya-karyanya. Novel Pramoedya yang pertama kali saya baca berjudul “Gadis Pantai”. Mulanya saya kurang tertarik dan tak berminat, karena saya lebih suka membaca roman percintaan dan buku fiksi anak-anak. Sedangkan karya Pramoedya lebih bernuansa sejarah perjuangan Indonesia dan berbau politik. Tetapi, saat mulai membaca “Gadis Pantai”, saya seakan-akan seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya seolah menyelami alur cerita dalam Gadis Pantai yang disuguhkan Pramoedya secara mengalir itu. Saya seakan-akan melihat kejadian dalam cerita itu dari dekat, dalam imajinasi saya seolah-olah berada di tempat yang diceritakan dalam novel. Itulah salah satu kelihaian Pramoedya, mampu menghipnotis para pembaca melalui karyanya.

Menyusul kemudian “Tetralogi Buru” yang mengobati dahaga saya akan karya-karya Pramoedya. Sampai akhirnya saya jadi ketagihan membaca buku-buku Pramoedya yang lain. Membaca novel-novel Pramoedya seperti terbawa arus yang mengalir lembut dalam cerita, sungguh ini benar-benar luar biasa. Sebenarnya belum begitu banyak karya Pramoedya yang saya baca, karena banyak buku yang sulit saya dapatkan. Selain itu banyak karya Pramoedya yang belum diterbitkan kembali. Padahal saya ingin membaca karya-karya lainnya. Membahas karya Pramoedya, memang tak ada habisnya. Selalu ada topik menarik yang bisa dibicarakan tentang setiap karyanya. Saya selalu terpesona dengan cara Pramoedya melukiskan jalan cerita. Membuat saya benar-benar hanyut dalam dunia rekaannya. Salah satu contohnya adalah bagaimana dia menggambarkan persetubuhan antara Annelies dan Minke dalam “Bumi Manusia”, sungguh bersahaja, tidak vulgar. Keindahan alam yang diamati dan dilalui tokoh saat melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain juga begitu elok. Sehingga membuat saya penasaran dengan apa yang akan terjadi dalam lembar-lembar selanjutnya, saat tokoh dalam cerita tiba di tempat tujuan. Saat cerita memasuki suasana tegang, saya ikut-ikutan tegang. Ketika suasana sedih, saya juga larut dalam kesedihan, mata saya pun tak terasa jadi berkaca-kaca. Seolah-olah saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita.

Dan yang lebih hebat lagi, Pramoedya menuliskan kisah masa lalu Indonesia dalam kurun waktu antara tahun sekian hingga sekian. Dia seakan-akan memberitahukan apa yang terjadi saat itu dengan bumbu rekaan jalan cerita yang semakin sayang kalau dilewatkan. Saya sungguh salut dengan Pramoedya. Sebab, kata Pramoedya sendiri, dia sebenarnya SMP saja tidak selesai. Tapi pada kenyataannya, Pramoedya bisa menulis lusinan karya sastra yang mendunia, tanpa harus menjadi seorang sarjana sastra. Hal ini selalu membuat saya bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang yang tidak lulus SMP dan tidak menuntut ilmu di bidang tulis-menulis bisa menghasilkan karya yang membesarkan namanya sampai ke manca negara. Ternyata ketekunannya dan ketelitiannya dalam mengkliping dan riset data merupakan salah satu kunci keberhasilan Pramoedya menulis karya-karyanya yang luar biasa. Dan satu lagi yang membuat saya hampir tidak percaya, ternyata Pramoedya pernah menjadi staf pengajar Fakultas Sastra di Universitas Res Publica.

Dari sini saya dapat mengambil hikmah bahwa syarat utama untuk bisa menghasilkan karya yang berkualitas adalah ketekunan, kemauan, dan kerja keras seperti yang sudah dicontohkan oleh Pramoedya. Untuk menjadi seorang penulis tidak harus melalui jenjang pendidikan tinggi. Kalau Inggris punya J.K. Rowling, Indonesia punya Pramoedya Ananta Toer. Dan saya kira tak ada salahnya menyandingkan Pramoedya dengan penulis-penulis besar dari negara lain. Saya pribadi merasa bangga karena Indonesia punya putra bangsa seperti Pramoedya yang karya dan namanya mendunia. Semangat juang Pramoedya yang ditularkan lewat tulisan-tulisannya, sungguh memberi inspirasi dan motivasi untuk belajar lebih giat lagi dalam menghasilkan karya, seperti yang saya tekuni saat ini, menulis cerita anak, sesuai dengan bidang yang saya geluti. Dengan begitu saya bisa menularkan semangat, kerja keras, dan dedikasi tinggi, serta semua hal yang diperjuangkan oleh Pramoedya kepada anak-anak, dengan tulisan dan dongeng.

* Esei ini merupakan salah satu dari puluhan tulisan yang dipublikasikan dalam buku berjudul PRAMOEDYA ANANTA TOER, 1000 WAJAH PRAM DALAM KATA DAN SKETSA, yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara, 2009.

Minggu, 13 Desember 2009

Kontroversi Patung Obama : "Budaya Rendah Diri"

Oleh : Muhammad Ilham

Inilah bentuk paling “telanjang” dari inferioritas sebagian kalangan masyarakat Indonesia. Entah ide siapa, pembuatan patung “Blackberry” menuai kontroversial. Patung Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama yang berada di Taman Menteng (konon pemilihan tempat ini dilatarbelakangi klaim Obama yang mengangap dirinya Anak Menteng) mulai mendapat kecaman dari masyarakat. Melalu situs jejaring sosial Facebook, per tanggal 13 Desember 2009, mereka yang mendukung untuk menurunkan patung Obama telah mencapai 965 orang. Penggagas grup “Anti Patung Obama” bernama Heru Nugroho mengatakan, visi dan misi pembangunan patung Barack Obama dianggap tidak jelas dan tidak memiliki manfaat bagi masyarakat.. Sebagaimana yang dilansir oleh detik.com, Heru mengatakan bahwa Barack Obama memang pernah menjalani masa kecil di sebuah rumah di Menteng, Jakarta Pusat. Tapi dia bukan siapa-siapa bagi sejarah bangsa Indonesia.

Jujur kita katakan, tidak ada kontribusi yang penting dari Obama untuk bangsa Indonesia, apalagi khususnya bagi masyarakat Jakarta, dimana patung Obama didirikan. Untuk konteks Jakarta, masih banyak pahlawan bangsa ini yang lebih inspiratif dan dianggap layak mendapatkan penghargaan, seperti Ali Sadikin dan sejumlah tokoh kebudayaan seperti Benyamin S. Sementara saat peresmian patung senilai Rp 100 juta pada Kamis 10 Desembar 2009 lalu itu, Walikota Jakarta Pusat, Silviana Murni mengatakan, Obama dapat menjadi inspirasi yang baik bagi pemuda (pemuda siapa ? ...... Hicks). Patung Obama ini dibuat berdasarkan foto tokoh itu semasa kecil yang sedang bermain kupu-kupu. Patung ini terbuat dari bahan perunggu dengan tinggi dua meter dan berada di tegah-tangah taman dengan berat 30 kilogram. Perancangnya adalah Edi Chaniago, seorang seniman patung Ancol. Pembangunan patung ini sendiri digagas oleh lembaga Friends of Obama. Obama kecil dalam patung itu terlihat mengunakan sepatu, celana pendek, kaos dan sedang asik bermainan dengan kupu-kupu. Pada bagian bahan patung tertuliskan "Si kecil bermain bersama ibunya di daerah Menteng ini. Dia tumbuh dewasa dan menjadi Presiden Amerika Serikat ke 44 dan penerima Nobel Perdamaian. -Barack Obama- Dalam peresmian itu, hadir perwakilan dari Duta Besar Amerika Serikat dan sejumlah tokoh yang menjadi donatur dalam pembuatan patung ini, seperti Mien R Uno, Hasyim Joyo Hadikusumo dan Surya Paloh. Hadir pula ratusan siswa dan guru SDN Menteng 01, Besuki, dan teman-teman semasa kecil Obama.

Tapi sudahlah ............ saya masih ingat kata salah seorang teman saya, ”sampai hari ini, saya sulit mencerna dengan logika waras saya, sejauhmana kontribusi Obama buat perdamaian dunia, setahu saya ia hanya ”muda sedikit” dari George W. Bush pada rasa haus terhadap perang. Pembiaran Obama terhadap pencaplokan Masjidil Al-Aqsa dan pengiriman tambahan pasukan perang ke Afghanistan justru membuat logika saya terbalik ketika dihadapkan pada kenyataan : ”mengapa Obama menang Hadiah Nobel Perdamaian ?”, kata teman saya yang pada awalnya fans berat Obama ini. Nah ketika saya menyodorkan realitas ”tambahan” peresmian patung Obama di Jakarta tersebut, teman saya ini menjawab dengan ketus, ”mengapa tak sekalian buat patung Madonna atau Michael Jackson, kapan perlu logo Play Boy sekalian”.

Insert : Foto Patung Obama (www.detik.com)

Sabtu, 12 Desember 2009

Ketika Sukarno Berbicara Tentang Keperawanan

Oleh : Muhammad Ilham

Setiap tokoh memiliki "rumor"nya sendiri, demikian kata Goenawan Muhammad. Dan biasanya, rumor yang paling diminati adalah rumor dalam "ranah" seks serta perempuan. Hitler, misalnya, adalah tipikal personal yang dalam sejarah sangat ditakuti, namun memiliki kesetiaan tingkat tinggi terhadap "teman kumpul kebo-nya" Eva Brauun. Bahkan konon, sebelum bunuh diri bersama ketika NAZI diambang kehancuran, mereka masih melewati petualangan seks di atas meja. Karl Marx memiliki rumor yang tidak kalah seru-nya, memiliki anak di luar nikah .... dan kemudian tidak di-acuhkan-nya. Marx "mengangkangi" ide-nya sendiri, keberpihakan terhadap kaum tertindas. Marx menindas orang tertindas dan melindas ide yang dibangunnya. Demikian juga rumor JFK, jangan ditanya lagi. Presiden pintar-flamboyan ini adalah "penikmat" wanita cantik. Mungkin karena telah merdeka cukup lama, maka kisah-kisah yang berbau wanita pada Presiden-Presiden Amerika Serikat cukup berwarna-warni - sejak George Wahinton hingga Bill Clinton. Butuh sebuah catatan ensiklopedis menceritakan kisah-kisah asmara Presiden-Presiden Amerika tersebut. Kisah cinta, seks dan segala bumbu-bumbu petualangannya, juga banyak ditemui dari kisah hidup "orang-orang besar", dari Raja-Ratu-Kaisar-Sultan hingga Entertainer dan Pebisnis. Sehingga tidak salah apabila seorang penggerak Post-Modernisme "Michael Foucault" merasa perlu menulis salah satu buku tentang "Seks dan Kekuasaan" (telah diterjemahkan ke dalam edisi bahasa Indonesia). Bagi Foucault, segala pernak-pernik seks dan percintaan bagi orang-orang yang dekat dengan kekuasaan (baca : politik) merupakan sesuatu yang asyik untuk dibicarakan. Walaupun sebenarnya, petualangan tersebut terkadang juga terjadi pada masyarakat biasa, bahkan lebih bombastis, namun faktor implikasi yang ditimbulkannya membuat kisah seks dan percintaan menjadi lebih "berbobot" ketika itu menyangkut para pemegang kekuasaan.

Demikian juga dengan Sukarno, putra "Sang Fajar". Presiden orator dan flamboyan ini merupakan penikmat lukisan erotik dan pengagum wanita cantik. Track-nya yang memiliki istri lebih dari 4 (empat) orang - dari yang lebih tua dari dirinya hingga seusia anaknya - setidaknya membuktikan anggapannya sebagai pemuja wanita cantik. Selain dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia, serta orator ulung di negeri ini, ternyata Bung Karno memiliki “keahlian” lain. Keahlian yang satu ini agak tabu dibicarakan, yakni ‘cara menentukan keperawanan gadis dari penampilan luar”. Dari buku “In Memoriam” karya Rosihan Anwar, terungkap cara Presiden Soekarno menentukan gadis yang masih perawan. Rosihan Anwar adalah seorang jurnalis yang sudah kritis ketika era pemerintahan Soekarno.

“Tahukah kamu bagaimana cara memastikan apakah seorang gadis pada penglihatan luar masih perawan atau tidak?”tanya Bung Karno.
“Tidak tahu Bung,”Jawab Rosihan Anwar
“Begini… Jika kamu tarik een denkbeeldige recthe li jin (suatu garis imaginer yang lurus) di atas dada si gadis, dari pertengahan lengan yang satu ke lengan yang lain, lalu kamu tentukan pada penglihatan dari luar saja dimana letaknya ujung-ujung payudaranya (pentil), diatas garis atau bawahnya, maka kamu akan bisa berkata, jika dibawah garis dia tidak lagi perawan,tapi jika dia tetap masih perawan.”

Penjelasan : Lengan kita terdiri dua bagian, lengan bagian atas dan lengan bagian bawah. Dan yang dimaksud dengan membagi garis pertengahan adalah garis pertengahan lengan atas. Perkirakan garis tengah antara lengan atas tersebut, lalu tariklah garis khayal antara pertengahan lengan atas lengan kanan ke lengan kiri. Bila garis khayal berada di bawah ‘pentil’ payudara, maka menurut perhitungan Bung Karno, gadis tersebut masih perawan. Namun, bila ‘pentil’ payudara berada di bawah pentil, maka gadis tersebut tidak perawan.

Konon (namanya saja KONON, belum tentu benar) waktu saya kecil (1980-an), beredar juga rumor dalam masyarakat bahwa Sukarno memiliki "Kaca Mata Ajaib", bisa melihat lekak-lekuk tubuh seorang perempuan. Tembus pandang, begitulah kira-kira. Aah, Sukarno ada-ada saja.

Rabu, 09 Desember 2009

Subjektifitasku Terhadap Sri Mulyani

Oleh : Muhammad Ilham

Hati kecil saya “menangis” ketika foto Sri Mulyani dirobah dan dibakakar oleh para demonstan (yang mungkin tidak mengerti untuk apa mereka demonstrasi) seperti Vampir dengan gigi panjang dan dua tanduk menakutkan. Hati kecil saya “menangis” karena Sri Mulyani pernah menolak keinginan Abu Rizal Bakrie untuk menjadikan Tragedi Lumpur Lapindo sebagai tanggung Jawab pemerintah (dan bukan tanggung jawab PT. Minarak yang merupakan “anak kandung” PT. Bakrie) karena berpotensi menghacurkan ekonomi Negara, namun kemudian setelah Aburizal Bakrie jadi Ketua Golkar, Sri Mulyani dijadikan Target untuk dijatuhkan …… Padahal banyak politisi DPR dari Golkar yang terlibat suap Pemilihan Deputi Gubernur BI, justru dibiarkan Aburizal. Hati kecil saya “menangis” ketika Sri Mulyani di ”setting” sebagai musuh bangsa oleh DPR-RI yang konon dimotori oleh PDI-P dan Partai Golkar via Pansus Angket, karena konon – sekali lagi konon – Aburizal Bakri “dendam” pada Sri Mulyani dan Budiono karena Sri Mulyani pernah suatu waktu menolak keinginan Aburizal Bakrioe untuk mengambil sebuah kebijakan agar saham perusahaannya tidak jatuh ….. dan Sri Mulyani tidak mau karena justru melanggar regulasi nasional.

Hati kecil saya masih berharap mudah-mudahan hasil pemeriksaan investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas kasus Bank Century itu tidak seluruhnya benar. Sebab, kalau memang tidak ada yang salah, akibatnya akan sangat dramatis: kita bisa kehilangan menteri keuangan yang sangat kita banggakan. Seorang menteri, Sri Mulyani, yang reputasinya begitu hebat. Baik di dunia internasional maupun dalam mengendalikan keuangan negara. Secara internasional dia terpilih sebagai menteri keuangan terbaik di dunia dua tahun berturut-turut. Di dalam negeri dia dikenal sebagai menteri pertama yang berani mereformasi birokrasi di departemennya. Juga menteri yang sangat ketat mengendalikan anggaran negara. Bahkan, dialah satu-satunya menteri yang berani minta berhenti ketika ada gelagat pemerintah akan membela seorang konglomerat yang dia anggap tidak seharusnya dibela.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada yang tiba-tiba mengatakan: kesimpulan BPK itu diperoleh dengan cara kerja yang kurang benar. Maka kita tidak akan kehilangan menteri keuangan yang pandainya bukan main itu. Pandai dalam ilmunya, pandai dalam menjelaskan pikirannya, dan pintar bersilat kata. Saya melihat kecepatan berpikirnya sama dengan kecepatan bicaranya. Kalau lagi melihat cara dia mengemukakan pikiran, seolah-olah otak dan bibirnya berada di tempat yang sama.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada orang yang tiba-tiba menemukan data bahwa BPK telah salah ketik. Maka, kita tidak akan kehilangan menteri yang mampu rapat dua hari dua malam nonstop untuk menyelamatkan keuangan negara. Rapat itu tidak boleh berhenti karena lengah sedikit berakibat pada kebangkrutan ekonomi nasional. Rapat itu tentu melelahkan karena angka-angkalah yang akan terus berseliweran. Angka-angka yang rumit: kurs, suku bunga, devisa, likuiditas, rush, neraca perdagangan, stimulus, dan seterusnya. Angak-angka itu saling bertentangan, tapi menteri tidak boleh memilih salah satunya. Dia harus membuat keputusan yang harus memenangkan semua angka yang saling merugikan itu. Padahal, dia baru saja tiba dari Washington, AS, untuk berbicara di forum KTT G-20 yang amat penting itu. Di Washington dia tahu bahayanya ekonomi dunia. Tapi, dia mampu memikirkan keuangan internasional sekaligus keuangan nasional dalam waktu yang sama di belahan dunia yang berbeda. Dia harus menghadiri KTT G-20 di Washington saat itu saat rupiah tiba-tiba melonjak menjadi Rp 12.000 per dolar AS. Dia harus tampil cool di forum dunia yang Singapura pun tidak boleh ikut di dalamnya itu sambil tegang bagaimana harus mengendalikan rupiah yang sudah membuat warga negara Indonesia panik semuanya. Dialah menteri yang datang ke Washington hanya untuk mengemukakan pikiran briliannya dan harus langsung kembali ke tanah air pada hari yang sama untuk mencurahkan perhatian pada ekonomi yang hampir bangkrut itu.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada orang yang mengatakan bukan dia yang harus bertanggung jawab. Tapi, ada pihak lainlah yang harus mendapat hukuman. Kalau tidak, kita akan kehilangan seorang menteri yang di saat ibu kandungnya, Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko, sedang sakit keras menjelang ajalnya, dia tidak bisa menengok sekejap pun. Dia memilih mencurahkan segala pikiran, tenaga, dan emosinya untuk menyelamatkan ekonomi bangsa ini. Dia tidak bisa menjenguk ibu kandungnya yang jaraknya hanya 45 menit penerbangan di Semarang sana. Dia harus mencucurkan air mata untuk dua kesedihan sekaligus: kesedihan karena ibundanya berada di detik-detik akhir hidupnya dan kesedihan melihat negara dalam bibir kehancuran ekonomi. Dua-duanya tidak bisa ditinggal sedetik pun. Rupiah lagi terus bergerak hancur dan detak jatung ibunya juga lagi terus melemah. Dan, Sri Mulyani memilih menunggui rupiah demi nyawa jutaan orang Indonesia.

Maka hati kecil saya masih berharap ada data di kemudian hari bahwa kebijaksanaan itu sendiri tidak salah. Sebab, sebuah kebijaksanaan bisa diperdebatkan salah benarnya. Saya masih berharap yang salah itu dalam pelaksanaan kebijaksanaannya. Yakni, saat mendistribusikan uangnya yang Rp 6,7 triliun itu. Dan saya sangat-sangat yakin dia tidak mendapatkan bagian serupiah pun. Maka saya sangat bersedih karena sampai hari ini belum ada satu pihak pun yang berhasil mengatakan bahwa hasil pemeriksaan BPK itu salah. Belum ada yang membantah bahwa hasil pemeriksaan BPK itu keliru. Semua masih mengatakan, hasil pemeriksaan BPK itu menunjukkan bahwa dia bersalah dalam mengambil keputusan. Dan hukum harus ditegakkan.

Insert : Foto Sri Mulyani - www.newyorktimes.com

(Mayoritas tulisan ini terinspirasi/rewrite dari Artikel Dahlan Iskan)

Rabu, 02 Desember 2009

Meski "Gaduh" ...... Demokrasi Tetap Pilihan Terbaik

Oleh : Muhammad Ilham

Mantan Presiden Rumania yang sastrawan, Vaclac Havel, pernah mengatakan bahwa sistem demokrasi berawal dari sistem nilai yang dianut oleh elit-nya. Pembelajaran politik yang baik, menurut Havel, ditentukan secara signifikan oleh kemampuan elit memberikan pembelajaran poolitik yang demokratis kepada rakyat. Dalam konteks ini, terlepas dari kekurangannya, seorang SBY bagi saya adalah figur politisi yang memiliki komitmen tinggi terhadap pembelajaran politik kepada rakyat. Pada masa Presiden kelahiran Pacitan inilah, beberapa kejadian sosial-politik yang cukup "menyentak" dan mungkin tidak terbayangkan selama ini .... justru terjadi. Ketika nama baiknya dicemarkan, menantu Sarwo Edhi Wibowo ini menggunakan "jalur resmi" dengan melaporkan si pencemar nama baiknya itu ke pihak penegak hukum .... tanpa intervensi. Kejadian fenomenal "rekaman Mahkamah Konstitusi" yang ibarat Kotak Pandora, justru bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia secara luas pada masa beliau. Demikian juga dengan statemennya tentang Kasus Century untuk dibuka secara "terang benderang" dan memberikan keleluasaan bagi DPR untuk mengoptimalkan hak angket, semakin memperkuat komitmen seorang SBY untuk memberikan pembelajaran politik kepada masyarakat Indonesia bahwa demokrasi itu perlu dan harus terus "dihidupi" (walaupun terkadang ini sering dipandang sinis oleh lawan politiknya sebagai bentuk pencitraan). 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia versi Majalah Times ini juga memberikan sebuah pembelajaran bijak : "setiap kita punya wilayah kerja" ...... sehingga ia tidak mau mencampuri atau menintervensi urusan yang bukan dalam ranahnya ..... walaupun pada akhirnya ada kasus-kasus tertentu, ia justru mengenyampingkan hal ini karena pertimbangan suasana bathin masyarakat (tapi tetap dalam konteks dan koridor konstitusionalis).

Tapi, seorang SBY terkadang juga merasa gundah dengan demokrasi a-la Indonesia belakangan ini. Akan tetapi kegundahan tersebut baginya adalah sebuah dinamika dalam proses pembelajaran demokrasi. Meski hingar-bingar, Demokrasi adalah pilihan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada. Demokrasi dalam arti dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. "Kalau saya ditanya, demokrasi ini kadang-kadang gaduh, lihat negara lain tidak terlalu gaduh, pembangunan bagus, contohnya Tiongkok dan negara-negara lain," ujar SBY. "Apa tepat kalau pilihan kita demokrasi? Saya mengatakan di berbagai kesempatan, dibandingkan dengan pilihan yang lain, saya tetap menganggap demokrasi itu pilihan yang baik," ujar SBY dalam silaturahmi dengan para Gubernur se-Indonesia.

Menurut SBY, demokrasi dalam arti rakyat kita memilih siapa-siapa yang diberi mandat untuk memimpin baik di tingkat kabupaten, kota, nasional. "Demokrasi dalam arti kebebasan diberi ruang, termasuk kebebasan pers, hak asasi manusia dan sebagainya. Itu demokrasi. Sekarang kita sudah berada dalam tahapan seperti itu. Bahkan beberapa presiden dan perdana menteri mengatakan bahwa freedom di Indonesia itu tumbuh cepat, lebih cepat pertumbuhannya daripada negara-negara lain. Kita merasakan 15 tahun yang lalu dibanding dengan sekarang ini," kata SBY.
Oleh karena itu, lanjut SBY, demokrasi yang hendak kita bangun dan mantapkan dalam reformasi gelombang kedua ini adalah demokrasi di mana nilai dasar demokrasi yaitu freedom itu mesti berjalan bersama-sama dengan aturan dan pranata hukum. Kedua duanya diperlukan.

"Kalau kebebasan kurang, defisit. Rules-nya berlebihan, surplus. Menjadi negara peraturan tidak hidup, sebaliknya kalau freedom berlebihan, absolut , tidak ada aturan akan jadi anarki. Yang kita perlukan adalah demokrasi yang sehat, tetapi juga ada hak dan kewajiban, hak dan tanggung jawab.
Mari kita dorong demokrasi kita lebih bermartabat," kata Presiden SBY.

Selasa, 01 Desember 2009

Transisi Demokrasi

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam tradisi ilmu politik, ada empat variabel untuk menentukan apakah negara tersebut menjalani masa transisi secara damai atau anarkis bahkan "berdarah". Pertama, Watak Civil Society. Konsep ini mengacu kepada kemampuan, dinamika dan kemampuan organisasi kemasyarakatan. Dalam masyarakat transisi, civil society-nya penuh dengan dinamika. Masyarakatnya terlibat secara emosional dengan persoalan-persoalan publik. Namun, Civil Society ini memiliki dua karakter yaitu karakter demokratis dan karakter sekterian-parokial-primordial. Karakter pertama "dihidupi" oleh aura dan nilai-nilai penghargaan terhadap pluralisme, kesediaan berkompromi untuk mewujudkan platform bersama yang demokratis serta timbulnya iklim kritik-terbuka dan transparan. Sementara yang kedua, dimotivasi oleh semangat fanatisme ideologi atau agama, anti-pluralisme, menginginkan previlese (baca: hak-hak khusus) bagi suatu kelompok dan anti kritik. Di antara kedua karakter civil society tersebut, hanya berkarakter demokratis yang memiliki kontribusi pada penyelenggaraan transisi secara damai.

Kedua, efektifitas pemerintah dalam mewujudkan atau mengimplementasikan kebijakannya. Pemerintah merupakan satu-satunya "organ" yang sah-legal untuk bertindak mengatasnamakan masyarakat secara keseluruhan. Memiliki daya paksa. Pemerintah yang efektif sangat mudah mempengaruhi kondisi politik secara nasional. Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang dipercaya oleh masyarakatnya. Pemerintah jenis ini dapat mempengaruhi transisi ke demokrasi secara damai. Sebaliknya, pemerintahan yang lemah dan kehilangan legitimasi, maka kebijakan-kebijakan mereka akan mudah dinilai dan ditafsirkan oleh kelompok politik lain sebagai upaya manipulatif. Dengan sendirinya, kebijakan-kebijakan tersebut bukannya diikuti, malah dilawan. Pemerintah jenis ini berpotensi membawa negara ke arah anarki.

Ketiga, Political Society. Konsep ini mengacu kepada aturan main yang menjadi mekanisme kompetisi politik antar aktor dan organisasi politik. Aturan main politik sangat penting. Dalam masyarakat politik ini, juga terdiri dari dua karakter yaitu masyarakat politik harmoni dan masyarakat politik terdisintegrasi. Masyarakat politik yang harmoni akan mudah menerima kemenangan atau kekalahan dalam sebuah kompetisi politik. Penyebabnya, karena mereka yakin dan percaya akan sifat adil dan jujur dari kompetisi. Pihak yang kalah merasa kalah secara fair dan bukan merasa dicurangi oleh sebuah sistem atau aturan main yang manipulatif. Masyarakat tipikal ini memiliki kontribusi bagi terciptanya transisi damai. Sedangkan masyarakat politik yang terdisintegrasi sangatlah rawan. Kekalahan dan kemenangan sangat sulit diterima dengan lapang dada. Bukan karena faktor kebesaran jiwa para aktor politik, akan tetapi lebih disebabkan kepada rasa dizalimi oleh aturan main yang manipulatif. Bahkan, konflik tidak akan menyusut setelah terselenggaranya kompetisi politik melalui pemilu, justru konflik semakin rawan dan menakutkan. Tipikal ini dengan cepat akan membawa negara ke dalam anarki yang berkepanjangan.

Dan yang Keempat, soal kondisi ekonomi. Memang harus diakui, bahwa ekonomi bukanlah satu-satu soal, namun memiliki peranan yang sangat signifikan karena berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan pokok dan tersedianya lapangan pekerjaan. Perekonomian yang tumbuh akan memberikan kesejahteraan yang lebih kepada masyarakatnya. Kepuasan publik akan meningkat. Kepuasan publik yang meningkat akan berkorelasi positif dengan kemampuan pemerintah membawa masyarakat menuju demokrasi damai. Sebaliknya, ekonomi yang memburuk justru menimbulkan ketidakpuasan. Masyarakat akan menjadi rumput kering yang akan mudah terbakar untuk melawan dan marah secara massal. Krisis ekonomi akan mudah menyulut anarki berkepanjangan.

Pertanyaannya : "Bila diperhatikan variabel-variabel di atas, apakah Indonesia masa reformasi ini bisa atau berpotensi melakukan transisi secara damai ?"

Sabtu, 28 November 2009

Merantau : "Genuine Tradition of Minangkabau"

Oleh : Muhammad Ilham

Tersebutlah kisah bahwa sebelumnya raja dipercayai sebagai pemimpin yang tidak mempunyai keturunan sampai dia mati terbunuh. Namun di malam ketika raja terbunuh itu gundiknya meminum air mani raja sehingga dia mengandung dan melahirkan Raja Kecil. Setelah Raja Kecil lahir dia tidak diakui langsung sebagai seorang Pangeran yang akan melanjutkan silsilah kerajaan tetapi dia harus membuktikan kesatriaannya dengan mengembara dan kemudian kembali menakhlukkan kerajaan. Cerita yang banyak berkembang di tengah-tengah masyarakat itu sebenarnya dihadirkan untuk mengukuhkan keberadaan raja, peneliti-peneliti asing tentang melayu tidak mengakuinya sebagai sebuah sejarah sebagaimana rakyat setempat mempercayainya” (Secara umum, bagian ini dikutip dari “Raja Melawar”, melayuonline.com).

Merantau kalau ditelusuri akar sejarahnya akan bermuara pada kebudayaan nomaden nenek moyang manusia dalam mempertahankan hidup. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan umum masyarakat Minangkabau bahwa tidak ada manusia asli di bumi ini yang hadir mambasuik (muncul) dari bumi. Semua manusia dipercayai berasal dari Adam dan kemudian menjadi pengembara keseluruh penjuru dunia seiring perkembangan biakan manusia itu. Masyarakat Minangkabau menganggab manusia asal atau pribumi hanyalah orang yang pertama menduduki tempat itu. Orang yang pertama datang dan bermukim dari pengembaraan panjangnya. Tardisi hidup berpindah-pindah itu kemudian dalam kehidupan baru menjelma dalam bentuk tradisi merantau. Maka tersebutlah orang-orang sukses itu kerena dia merantau. Berani menghadang hidup keras dan memenangkan pertarungan dalam mengalahkan segala rintangan yang menghadang. Nama-nama perantau sukses itu diabadikan orang dan menjadi buah bibir oleh anak muda di kampung halamannya. Maka tersebut perantau-perantau itu sebagian kecilnya adalah Malewar dan Raja Kecil.

Kehadiran Raja Kecil yang penuh mitos sebenarnya untuk mengukuhkan kekuasaannya dan menarik mayarakat untuk mendukungnya. Hal ini sama dengan banyak tokoh yang menyejarah seperti Bundo Kanduang, Iskandar Zulkarnain, Ken Arok, bahkan pemimpin-peminpin masa kini yang garis keturunannya tidak lepas dari orang-orang hebat. Dalam hal ini mitos dapat berfungsi untuk mengukuhkan jati diri seorang pemimpin dan hal ini sangat penting sekali dalam perantauan banyak orang. Timothy P. Bernard dalam tesisnya untuk meraih Master of Arts pada The College of Art and Science of Ohio University Amerika Serikat, (Maret 1991: 22) berkomentar tentang kesuksesan Raja Kecil dalam memamfaatkan mitos sebagai pendukung kesuksesan dalam merantau. Ia menyebutkan bahwa: “Mitos dalam Sejarah Melayu menghidangkan sebuah piagam bagi sistem politik dan inilah yang dimanipulasi Raja Kecil untuk mencapai tujuannya menguasai Johor. Kemampuannya mempengaruhi keadaan melalui motif-motif mitos oleh sarjana barat berkembang menjadi historiografi. Oleh karena pertentangan mitos dengan sejarah nampaknya tetap menjadi permasalahan dalam kajian teks-teks Melayu tradisional, muncul permasalahan pemahaman mengapa ia berbentuk demikian.”


Dengan demikian teranglah bagi kita bahwa tradisi merantau yang mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Minangkabau bukan hanya tradisi “kemaren sore” atau tradisi baru karena telah “sempit” (susah) hidup di negeri sendiri. Tetapi merantau bagi masyarakat Minangkabau dipandang sebagai sebuah cara untuk berkembangnya manusia di dunia dan tradisi ini telah ada semenjak leluhur nenek moyangnya. Seperti Maharaja Diraja anak Iskandar Zulkarnain yang merantau ke negeri yang kemudian bernama Minangkabau ini atau seperti merantaunya Malewar dan Raja Kecil ke tanah Melayu.
Budaya merantau memang merupakan suatu budaya rumpun Melayu yang bersifat dinamis dan positif. Budaya ini berperanan dalam membina dan memajukan setiap individu, keluarga dan masyarakat. Ia bukan saja penting untuk mempertingkatkan mutu kehidupan peribadi seseorang, bahkan juga masyarakat, kerana sifatnya yang banyak membantu mereka kearah hidup yang lebih terjamin. Kalau dahulu merantau bagi masyarakat Minangkabau hanyalah kebudayaan laki-laki, namun kini merantau tidak lagi identik dengan laki-laki sahaja. Kini kaum perempuan juga sudah banyak yang merantau sama ada untuk tujuan ekonomi atau pendidikan. Kedua-duanya bermatlamat untuk merobah nasib.

Misi budaya orang Minangkabau telah membentuk corak dan strategi kehidupan mereka di perantauan. Oleh kerana alam rantau sebagai “dunia kedua”, ia hanya bersifat sementara. Belajar dan bekerja bagi mereka di rantau adalah untuk memenuhi misi budaya, iaitu untuk memperkaya alam Minangkabau. Hakekat kerja dalam konteks ini tidak hanya sekedar mencari nafkah untuk mempertahankan hidup (survive) di rantau, tetapi harus menghasilkan sesuatu yang akan dipersembahkan ke kampung halaman, termasuk ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, terdapat sistem yang saling berkaitan dan saling mendorong antara kampung dengan rantau. Untuk dapat hidup dan bertahan, Minangkabau memerlukan rantau. Rantau Bukan hanya sumber dan medan laga untuk mencari penghidupan, tetapi juga sumber untuk mendapatkan inspirasi dan ide-ide baru. Pemikiran-pemikiran dan ide-ide baru tersalur melalui saluran merantau. Setiap perantau yang pulang memberikan effek-effek demonstratif terhadap yang di rumah dengan memberikan gambaran-gambaran yang indah dari kehidupan di rantau. Setiap yang pulang adalah juga “agent of change”, unsur pembaharu. Supaya berfungsi, merantau melembaga. Merantau dijadikan sebagai “rite de passage” bagi membuktikan kedewasaan.

(*) Terima kasih pada Uni Nelmawarni ..... Disertasi dijadikan inspirasi tulisan ini

Jumat, 27 November 2009

Minangkabau : Pusat Naskah Islam Klasik Nusantara

Oleh : Muhammad Ilham

Tradisi penulisan, penyalinan dan persebaran naskah-naskah keagamaan di dunia Melayu-Indonesia memiliki keterkaitan dan berkorelasi dengan proses Islamisasi yang terjadi (Uka Tjandrasasmita, 1999:201). Umumnya naskah-naskah tersebut ditulis untuk kepentingan transmisi pengetahuan keIslaman yang terjadi di pelbagai institusi keagamaan, seperti pesantren, surau, dayah, rangkang dan lain-lain (Hasan Muarrif Ambary, 1995: 166). Dalam kalangan masyarakat Minangkabau, tradisi penulisan dan persebaran naskah-naskah keagamaan ini dapat dipastikan dilakukan secara terus menerus (kontiniu), seiring dengan terus berlangsungnya perkembangan dan persebaran Islam. Mayoritas para ahli sejarah atau sejarawan sepakat bahwa Islam di wilayah nusantara, berkembang sejak awalnya dengan corak atau style tasauf (Azyumardi Azra, 1996; Hamka, 1983; Hasan Muarrif Ambary, 1995; Dennys Lombard, 1999), maka naskah-naskah keagamaan yang muncul-pun mayoritas memuat pembahasan-pembahasan mengenai tasauf, baik yang ditulis oleh para penganut tareqat Syattariyah maupun Naqsyabandiyah, dengan segala devian tareqatnya.

Seperti yang terjadi di wilayah lain di dunia Melayu-Indonesia, tradisi pernaskahan dikalangan masyarakat Minangkabau mengandung sebuah ”kearifan lokal” (local-wisdom) yang sedemikian kaya dan telah menarik perhatian banyak orang untuk melihat serta mengetahui nilai-nilai kebudayaan Minangkabau yang terkandung didalamnya (Oman Fathurrahman, 2000: 34). Kearifan lokal dalam hal ini tentu saja mencakup hal yang sangat luas, yang terkandung dalam naskah-naskah yang ditulis seperti tradisi keber-agama-an, keragaman pemahaman dan berbagai pilihan solusi dalam upaya pemecahan masalah-masalah kultural dan lain-lain, baik yang bersifat teks maupun konteksnya. Di daerah Minangkabau, baik dalam konteks kultural maupun geografis, tradisi penulisan dan kemudian persebaran naskah-naskah keagamaan ini dapat dipastikan terjadi secara terus menerus, seiring dengan terus berlangsungnya perkembangan dan persebaran ajaran Islam. Karena Islam sejak awalnya berkembang dengan corak atau pendekatan tasauf, maka naskah-naskah keagamaan yang muncul-pun mayoritas mengandung pembahasan tentang tasauf, baik yang diamalkan oleh penganut tareqat Syattariyah maupun Naqsyabandiyah. Uniknya, sebagaimana yang dikatakan oleh Zurniati (2005: 9-11), di Minangkabau perkembangan dan persebaran Islam yang bercorak tareqat ini terjadi secara sistematis melalui surau-surau.

Jadi tidaklah mengherankan apabila pembahasan mengenai sejarah Islam di Minangkabau, surau menempati posisi yang signifikan, termasuk didalamnya ketika membahas tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah Islam. Dalam bahasa Oman Fathurrahman (2000: 36), surau-surau di Minangkabau dapat dianggap sebagai ”skriptorium” naskah, tempat dimana aktifitas penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaan berlangsung. Hal ini justru menguntungkan dalam proses penyelidikan, karena pola persebaran naskah-naskah keagamaan melalui surau-surau di Minangkabau ini membuat keberadaan naskah-naskah tersebut mudah ditelusuri, karena mayoritas surau-surau tersebut hingga saat sekarang masih banyak dijumpai. Kendatipun kondisi dan fungsinya tidak seperti pada awal perkembangannya sebagai centre of excellence keilmuan Islam. Berbeda dengan apa yang terjadi di wilayah lain di Indonesia, tradisi penulisan naskah-naskah keagamaan di Minangkabau ini tampaknya masih berlangsung hingga saat sekarang, walaupun dengan intensitas yang berbeda. Sejumlah naskah-naskah Syattariyah periode akhir abad ke-20 Masehi yang dijumpai, merupakan salah satu betapa tradisi tersebut masih terus berlangsung seiring dengan masih mengakar dan terus berkembangnya Islam tareqat, khususnya tareqat Syattariyah dan Naqsyabandiyah di Minangkabau ini.

Mempertimbangkan persebaran-persebaran tareqat-tareqat Syattariyah dan Naqsyabandiah di Minangkabau yang demikian intensif, serta memperhatikan fungsi naskah-naskah keagamaan sebagai media untuk mentransmisikan berbagai ajaran tareqat tersebut, dan juga berdasarkan kepada beberapa beberapa asumsi dasar dari para peneliti-peneliti terdahulu yang cukup intens mengkaji permasalahan naskah-naskah Islam Minangkabau, maka bisa diasumsikan bahwa naskah-naskah keagamaan (Islam) di Minangkabau ini terdapat dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk melakukan proses inventarisasi dan identifikasi naskah-naskah ini, bahkan bila memungkinkan, dilanjutkan dengan proses penelaahan akademik terhadap makna kontent teks dalam upaya pengayaan epistimologi keilmuan pernaskahan.

Dalam konteks Sumatera Barat, perkembangan dan persebaran Islam yang bercorak tareqat-tasauf ini secara sistematis melalui surau-surau. Tidaklah mengherankan kemudian, jika sejauh menyangkut telaah atas berbagai hal yang berkaitan dengan Islam periode awal di Sumatera Barat, peran surau sangatlah signifikan (Azyumardi Azra, 1988 dan 2003), termasuk ketika masuk dalam pembahasan tentang tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaannya. Pada dasarnya, pola persebaran naskah-naskah keagamaan melalui surau-surau di Sumatera Barat ini pada gilirannya sangat mempermudah upaya penelusuran keberadaan naskah-naskah tersebut, karena surau-surau itu sendiri hingga sekarang masih banyak dijumpai. Akan tetapi dalam kenyataannya, upaya untuk mengetahui keberadaan naskah-naskah keagamaan tersebut, apalagi membaca dan memahami secara akademik-epistimologis dan memanfaatkannya, seringkali menemui hambatan, baik naskah-naskahnya yang dikeramatkan hingga tidak boleh diakses oleh sembarang orang maupun karena naskah-naskah tersebut telah rusak dimakan oleh usia. Tentu saja, upaya identifikasi dan inventarisasi atas naskah-naskah tersebut telah pernah dilakukan, terutama naskah-naskah Islam Minangkabau yang berada di luar negeri, lebih khususnya lagi di Belanda. Sejumlah katalog yang pernah ditulis, kendati tidak semuanya dikhususkan pada naskah-naskah keagamaan Islam saja, melainkan juga naskah-naskah lainnya seperti sastra dan lain-lain. Naskah-naskah yang pernah diteliti seperti yang dilakukan oleh van Ronkel (1921) yang mencatat tidak kurang daripada 257 naskah dengan judul tersimpan di Perpustakaan Universiti Leiden (Chambert-Loir & Oman Fathurrahman, 1999: 173-176). Disamping itu, ada juga penelitian yang dilakukan oleh Teuku Iskandar (1999) yang juga mencantumkan kembali naskah-naskah Minangkabau yang pernah dicatat oleh van Ronkel diatas dengan beberapa tambahan koleksi baru.

Sementara itu, naskah-naskah yang ada di Minangkabau yang pernah diteliti oleh beberapa peneliti diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Ali Hj. Wan Mamat (1995) yang melakukan pendokumentasian naskah-naskah Melayu di Sumatera Selatan dan Jawa Barat yang juga menyebut beberapa naskah Melayu di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang. Sedangkan Wibisono dkk. (1989) menyelidiki tentang naskah-naskah keagamaan Islam Minangkabau di beberapa masjid dalam perspektif arkeologis. Disamping itu, beberapa orang peneliti daripada Fakulasi Adab IAIN Imam Bonjol Padang (Rusdi Ramli dkk., 1997) dan dari Universitas Andalas Padang (Muhammad Yusuf dkk., 2001) memberikan informasi tambahan keberadaan naskah-naskah keagamaan secara ”grand tour”, walaupun tidak semua naskah boleh teridentifikasi. Menurut Ramli dkk. serta Yusuf dkk., ada beberapa daerah di Minangkabau yang merupakan ”enclave” naskah-naskah Islam Minangkabau diantaranya Kampung Lubuk Gunung Gadut 50 Kota, Taram 50 Kota, Batipuh Padang Panjang, Bingkudu IV Angkat Canduang, Tiaka Payakumbuh, Kuranji Padang, Pariangan Batusangkar, Pauh IX Padang, dan Kurai XIII Bukittinggi. Umumnya naskah-naskah tersebut berada ditangan personal. Sedangkan surau-surau yang masih menyimpan naskah-naskah Islam Minangkabau tersebut diantaranya surau Bintungan Tinggi nan Sabaris Pariaman, surau Tigo Jorong nagari Kudu Gantiang Barat kec. V Koto Kampuang Dalam Pariaman, surau Tandikek Pariaman, surau Padang Japang kenagarian VII Koto Tagalo kec. Guguak 50 Kota, surau Balingka kec. IV Koto Agam serta surau Batang Kabuang dan Surau Paseban di Koto Tangah Padang.

Diasumsikan masih banyak lagi naskah-naskah yang bertebaran di berbagai daerah baik yang bersifat person maupun institusi-surau. Apalagi bila diperhatikan bahwa persebaran naskah-naskah tersebut baru fokus pada beberapa daerah saja seperti sekitar daerah Kabupaten 50 Kota/Payakumbuh, Padang Pariaman, Kota Padang, Batusangkar dan Tanah Datar. Sementara itu, daerah-daerah lain masih belum teridentifikasi naskah-naskah Islam Minangkabau ini.

Ketika Hukum Tak Berpihak

Oleh : Muhammad Ilham

Ada rasa nelangsa dan bosan di hati saya, ketika menonton TV akhir-akhir ini. Sebuah tontonan aplikasi hukum yang ”vulgar” .......... mulai dari kasus Bibit-Chandra, kriminalisasi KPK, ”pengakuan-fenomenal” Williardi Wizard dalam kasus Antasari Azhar, ”kekebalan” Anggodo Widjoyo, ”eksklusifnya” saksi Rhani Juliani, ”ketoprak” kasus Bank Century, ”dagelan” Kasus Suap Pemilihan Deputi BI dan sejenisnya yang membuat gigi saya sedikit ”aus” karena geregetan, sebuah dagelan yang tidak bisa saya cerna secara logika rasional saya (mungkin saya ”dianggap gila” oleh para penegak hukum yang selalu menuhankan ”logika-formal-yuridis” dan mengenyampingkan nurani dan suasan bathin sosial). Disisi lain ....... tragedi hukum orang kecil kembali kembali membuat saya seakan-akan ingin ”membakar” Indonesia. Karena kelaparan, secara sosiologis ini adalah kesalahan struktural – kemiskinan karena negara tak bisa mengatasi kemiskinan tersebut), ada yang mencuri satu karung buah seharga Rp. 10.000,- dan kemudian satu keluarga ini diproses dengan ”gagah berani” dan mempraktekkan jargon Jusuf Kalla dengan baik – ”lebih cepat-lebih baik” oleh pihak penegak hukum. Tuntutan hukuman 2 hingga 5 tahun-pun disandangkan oleh para penegak hukum pada mereka. Ada yang mengambil buah semangka (karena ada link dengan aparat hukum) si pengambil buah Semangka ini dijebloskan dalam tahanan plus gigi rontok akibat pukulan si penegak hukum (dan lucunya ...... pukulan ”tanpa lawan” ini tidak dianggap sebagai pelanggaran hukum). Konon, si penegak hukum minta Rp. 1 Juta untuk uang ”damai” – dan ini kemudian tidak diakui oleh si penegak hukum dengan berbagai dalih yang ujung-ujungnya ......... mana buktinya ? (Tapi saya berani bertaruh ....... Tanyalah pada ”manusia Indonesia” dari Sabang sampai Merauke, mana yang berbohong ..... jawabannya 100 % PASTI si penegak hukum). Kasus Nenek Minah adalah salah satu contoh kasus paling ”memiriskan”.

Tiga biji kakao telah memasukan ibu Minah ke dalam penjara. Dengan segala kesederhanaannya, ibu Minah menerima putusan yang disampaikan oleh majelis hakim. Ironis memang, tapi itulah hukum. Hukum memang tidak kenal kaya atau miskin, besar atau kecil, kota atau desa, laki atau perempuan. Hukum hanyalah untuk hukum, ia bersifat universal. Tak bu Minah, bukan juga Anggoro Widjoyo, atau yang lainnya. Semua orang memang harus patuh dan tunduk pada hukum. Namun demikian, sebuah kejadian melawan hukum harus juga memperhatikan faktor sosio-antropologisnya. Untuk kasus besar yang memberikan dampak sangat besar, tentu tak bisa diabaikan. Tapi, bagi kasus yang hanya melibatkan tiga butir kakao haruskah berurusan dengan pengadilan. Apakah kesalahan seperti itu tak bisakah dimaafkan. Bukankah pencurian tiga buah kakao, apalagi buah tersebut tidak sempat dibawa pulang harus di meja hijaukan ? Tak bisakah perkara tersebut diselesaikan dengan cara kekeluargaan, apalagi motif pencurian tersebut hanya untuk dijadikan bibit. Atas perbuatannya itu, pengadilan menghukum bu Minah 1,5 bulan. Dengan segala kepasrahaannya, bu Minah menerima hukuman tersebut.

Ada satu pelajaran menarik yang patut kita ambil dari kasus ini, bu Minah mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada perusahaan kakao tersebut. Hal ini sangat jarang sekali terjadi dilakukan oleh para petinggi kita yang sudah jelas berbuat salah. Para petinggi tersebut yang umumnya pemimpin, selalu berusaha mengelak tuduhan yang diberikan. Walapun sudah jelas-jelas mereka yang bersalah. Namun, dengan segala daya upaya mereka mengelanui hukum dan aparat penegak hukum agar mereka terbebas dari jeratan hukum. Sebuah contoh yang sangat memalukan dari para pemimpin kita. Hukum adalah hukum, dan kesalahan tetap kesalahan. Sekecil apapun kesalahan itu harus diselesaikan secara hukum. Demikian pula dengan tindakan pencurian. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah balasan hukum adalah menghukum. Apakah cara-cara penyelesaian kekeluargaan juga bukan termasuk penyelesaian hukum ? Kita memang tidak membela tindakan pencurian yang dilakukan oleh Bu Minah tapi proses yang dilakukan oleh penegak hukum haruskan selalu berakhir dengan pengadilan. Tidak bisakah penyelesaian kasus seperti yang dialami oleh bu Minah dilakukan dengan cara-cara yang lebih sederhana dan mudah, serta tidak harus dilimpahkan ke pengadilan.

Mungkin maksud perusahaan tersebut untuk member pelajaran kepada masyarakat yang lain, bahwa dengan mencuri kakao tiga bijipun mereka bisa dihukum. Betul memang, tapi kita juga perlu bertanya, apakah selama ini perusahaan tersebut telah membina masayarakat disekitarnya ? Apakah kejadian tersebut telah terjadi berulang kali, atau bahkan kebun perusahaan tersebut hancur lebur karena dicuri masyarakat ? Tragedi buah kakao yang menghukum bu Minah memang menjadi pelajaran bagi penegakkan hukum di negeri ini. Dengan proses yang demikian cepat, diharapkan semua perkara hukum di negeri kita ini dapat dilakukan secara adil. Jangan hanya keadilan itu berlaku bagi orang kecil atau orang besar saja. Tapi diharapkan semua proses hukum harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kasus ini merupakan contoh bagi aparat penegak hukum, bahwa sebesar dan seberat apapun sebuah kasus tidak boleh di rekayasa demi kepentingan pribadi dan golongannya.

Ohhh Tuhan Robbi Izzati .......... kutuklah orang yang mempermainkan hukum lebih dari kutukan ibu Malin Kundang, letakkanlah mereka di neraka Paling Jahanam !

Sabtu, 21 November 2009

Dari Film "KIAMAT 2012"

Oleh : Muhammad Ilham

Hingga tulisan ini diposting, saya belum pernah menonton film ”2012” secara utuh. Film yang telah diharamkan Majelis Ulama Indonesia (?) ini, menjadi perbincangan hangat. Inilah satu-satunya film yang belakangan ini menarik minat dan analisis dari hampir seluruh masyarakat dari berbagai strata sosial. Anak muda yang biasanya suka bicara film-film melankolik-platonik, sudah ”riuh-rendah” mengagumi film besutan Roland Emmerich, sutradara berdarah Jerman ini, tanpa mau terikat dan dipusingkan oleh pertimbangan-pertimbangan teologis. Kalangan intelektual-pun mulai ”terbelah” antara kekaguman kreasi anak manusia dengan kekhawatiran akan gugatan norma teologis. Tapi sudahlah, bagi saya bukan zamannya untuk haram-haraman.

Bagi saya, itu adalah tantangan. Kehadiran film 2012 adalah sebuah Sunatullah yang harus direspon dengan baik oleh ”kita” yang mengaku orang muslim. Memvonis bahwa film 2012 meracuni dan menggugat sendi aqidah, justru bisa menjadi counter-produktif. Orang justru akan makin penasaran dengan film tersebut. Buktinya, ketika MUI mengomentari film 2012 dengan wacana ”haram”, justru pada pemutaran perdananya, penonton tak hanya antre di gedung bioskop. Mereka rela menunggu giliran mendapatkan tiketnya. Hampir semua gedung bioskop di Jakarta yang memutar film ini panen penonton. "Pemberitahuan. Tiket Pertunjukan Flm 2012 untuk Hari Ini Sudah Habis,” begitu bunyi pengumuman di loket XXI Djakarta Theatre, Jalan M.H. Thamrin, Jarta Pusat (seperti yang dilansir oleh RCTI). Tak hanya di Indonesia, bahkan di belahan dunia lain pun Film Kiamat 2012 yang dibintangi John Cussack ini menyihir banyak orang. Film itu mengantongi pendapatan sebesar USD 225 juta dari penjualan tiket di seluruh dunia. Angka itu, menurut Contactmusic, Senin 16 November 2009, sudah melebihi biaya produksinya yang USD 200 juta.

”Gempa maha hebat mengoyak kulit bumi. Jembatan putus, jalan terbalik. Gedung-gedung pencakar langit runtuh bak istana pasir. Dari perut taman Yellowstone, Wyoming, Amerika, muncrat jutaan kubik lahar berterbangan seperti bola api. Gelombang laut ganas menggulung daratan hingga ke Himalaya. Gunung-gunung merapi meletus. Bumi yang sudah berusia 4 miliar tahun ini pun tergambar bak rongsokan. Kiamat !!”. Film ini sebenarnya mencoba melahirkan kiamat menurut ramalan Suku Maya yang kalendernya berakhir pada 2012. Menjadi heboh karena bertepatan dengan badai matahari yang ditaksir terjadi pada tahun yang sama. Sejumlah ramalan lain juga dicocok-cocokkan agar sejalan dengan tahun ini. Sebelum film ini muncul, publik sebetulnya telah heboh oleh buku pengetahuan populer berjudul Investigasi Akhir Zaman 2012, karya Lawrence E. Joseph. Dia Ketua Dewan Direksi Aerospace Consulting Corporation, New Mexico, Amerika Serikat. Pada bukunya, terjalin unsur ramalan Suku Maya itu dengan pelbagai penelitian ilmiah soal astronomi. Diantaranya, cocok pula dengan perkiraan badai matahari dan sejumlah bencana yang telah terjadi di bumi. Meski terkesan agak ragu, dia meramalkan akan terjadi bencana besar yang meluluhlantakkan bumi pada 2012.

Alkisah, sekitar tahun 250-925 M, hiduplah Suku Maya, di sepanjang pantai utara Semenanjung Yucatan, Meksiko. Mereka terkenal cerdas. Ilmu astronominya kompleks dan akurat. Semua itu terlihat dalam 20 bentuk kalendernya. Lawrance dalam bukunya itu menyebutkan kalender bangsa Maya ini mencatat pergerakan matahari, bulan, planet, masa panen, siklus kehamilan wanita, hingga siklus serangga. Dan jangka waktunya, dari 260 hari hingga 5.200 tahun lebih. Misalnya, kalender 260 hari ini mewakili kehamilan wanita dan juga jumlah hari planet Venus terbit pada pagi hari setiap tahunnya. Sedangkan 5.200 tahun adalah kalender panjang suku Maya. Periode ini disebut satu matahari, tahun surya. Perhitungan satu tahun di suku Maya hanyalah 360 hari, sisanya dianggap di luar waktu. Jadi satu tahun surya, adalah 5.125 tahun. Pergantian tahun matahari inilah yang dianggap akhir zaman. Menurut perhitungan suku Maya, sekarang ini adalah masuk tahun keempat matahari. Jadi mereka sudah melewati tiga tahun matahari. Mengawali tahun matahari dianggap sebagai kelahiran, jadi ada darah dan penderitaan. Tahun keempat matahari ini dimulai sejak 0.0.0.1 (13 Agustus 3114 sebelum masehi). Artinya masa matahari ini hanya bersisa tiga tahun lagi. Bangsa Maya menuliskan 13.0.0.0 (21 Desember 2012). Di akhir tahun matahari, suku Maya percaya, sebagai hari berakhirnya peradaban umat manusia.

Dua penganut agama besar di dunia seperti Islam dan Kristen tak berani membenarkan jadwal kiamat itu. Bahwa di akhir zaman nanti alam semesta hancur, mereka tak membantahnya. Menurut ajaran Islam, soal kiamat berpedoman kepada Al-Quran, dan hadis Rasulullah SAW. “Al-Quran menyebutkan, kiamat adalah ilmu dan ketentuan Allah, tak satupun manusia mengetahuinya, bahkan termasuk Rasulullah dan malaikat.” kata Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Aminudin Yakub. “ Umat Kristen juga percaya dengan kiamat. Menurut Pastur Setyo Wiboyo, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, dalam perspektif Kristiani sudah jelas bahwa Yesus mengatakan tidak ada satu orangpun yang tahu mengenai kapan dan bagaimana kiamat itu. “Malaikat juga tidak tahu, putra atau Yesus sendiri juga tidak tahu. Jadi yang tahu hanya Allah Bapa,” katanya. Tapi sudahlah ............. alangkah lebih baiknya, film di-counter dengan film sejenis atau diskusi yang lebih akademik dengan bungkusan teologis. Kehadiran ”film” Rambo dan sejenisnya, setidaknya bisa memberi pelajaran bagi kita. Terlepas film Rambo merupakan salah satu bentuk justifikasi paling vulgar dari kekalahan Amerika Serikat dari Vietnam, namun film Rambo dan sejenisnya mampu mempengaruhi opini masyarakat (setidaknya : yang menonton), bahwa Amerika Serikat tetap unggul. Hicks.

Insert : Bilboard Film 2012 dan Kalender Suku Maya (Foto : www.okezone.com)

Kamis, 19 November 2009

Seandainya Jusuf Kalla Ada

Oleh : Muhammad Ilham

Sebagai Presiden yang konstitusionalis, saya respek terhadap SBY. Mungkin sebagai anak bangsa, baru kali ini saya "bangga" dengan iklim demokrasi yang sangat demokratis terjadi di negara besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Siapa yang bilang orang Islam tidak bisa melahirkan sistem sosial politik yang demokratis ?. Pemutaran Rekaman "fenomenal-menghentakkan" di Mahkamah Konstitusi, merupakan salah satu indikator bagaimana bebas dan transparannya iklim demokrasi Indonesia - ditonton dan didengar oleh seluruh rakyat Indonesia. Amerika Serikat yang mengaku sebagai kampiun demokrasi, dalam sejarahnya belum pernah menyelenggarakan "event" ala Mahkamah Konstitusi kemaren. Demikian juga, ketika Rekomendasi Tim 8 diserahkan oleh Adnan Buyung Nasution cs. kepada SBY ........ SBY justru meminta agar Tim 8 mempublikasikannya kepada publik, padahal beliau belum membaca dan menelaahnya. Padahal sebelum Rekomendasi Tim 8 ini rampung, berbagai statement dari anggota Tim 8 di berbagai media massa banyak dikecam oleh berbagai pihak, "ini bukan konsumsi publik", demikian alasan mereka. Tapi justru SBY mempertegas bahwa publik justru harus lebih dahulu tahu dibandingkan beliau. Ada proses pembelajaran demokrasi disini.

Namun, kekaguman saya pada SBY "tercederai" oleh ketidakmampuannya memanfaatkan momentum untuk bersikap tegas. Konstitusionalis sangat bagus ........ namun, etika dan nurani keadilan justru diatas segala-galanya. Dalam bahasa politik Islam, Ijtihad Politik-pun dalam kondisi tertentu harus dilakukan apabila berkaitan dengan kepentingan publik. Seorang pemimpin dipilih, apalagi dipilih secara langsung, tentu saja untuk tujuan melayani pemilihnya. Itulah moralitas tertinggi yang harus dipegang seorang pemimpin. Karena itu, pejabat publik harus siap didorong-dorong oleh pemilihnya untuk melaksanakan kehendak pemilihnya. Jika pejabat tidak siap didorong-dorong untuk menjalankan keinginan pemilihnya, tidak ada lagi legitimasi baginya menempati posisi itu.

Dia harus secara sukarela minggir karena tidak lagi mampu melaksanakan keinginan pemilihnya. Dalam pemilihan umum, seorang calon pejabat publik mendorong-dorong pemilih untuk memilihnya. Dia menebar berbagai janji melaksanakan segala hal yang menjadi keinginan rakyat. Karena itu, tatkala rakyat menagih janji dan mendorongnya melaksanakan keinginan rakyat, jangan menamengi diri dengan intervensi. Rekomendasi Tim 8 disusun secara runtut dengan fakta yang sudah diverifikasi serta dilengkapi aturan hukum yang menjadi landasannya. Sebenarnya Presiden tinggal melaksanakan. Presiden Yudhoyono seperti sendirian menghadapi situasi pelik ini. Berbeda dengan lima tahun silam ketika Jusuf Kalla menjadi wakil presiden. JK selalu pasang badan ketika pemerintah diserang dari berbagai penjuru mata angin.