Selasa, 24 Januari 2012

Mengapa Singapura dan Israel Melarang Merokok (Sebuah Catatan Buat Suamiku)

Oleh : Imla W. Ilham (Ibunda Iffa & Malika)

" .......... biarlah tulisan beri pesan/bahwa saya punya cara menyayangimu".

Sebuah penggalan puisi dari seorang kawan, terasa teramat pas kunukilkan buat suami tercinta. Walau bukan perokok berat, saya punya kewajiban untuk menyanyangi tubuhnya, menjaga kesehatannya, dengan cara yang bukan otoriter dan menyalahkan yang keluar dari mulut saya sendiri. Dalam setiap kesempatan, saya selalu menyuguhkan padanya tulisan tentang "hidup sehat tanpa rokok". Saya yakin dan percaya, walau belum berubah secara signifikan, ia tahu, bahwa saya teramat memperhatikannya. Saya berdo'a, semoga dari hari ke hari, ia bisa mengurangi kebiasaan merokoknya. Saya yakin, ikhtiarnya dinilai Allah SWT. sebagai ibadah yang tinggi. Saya juga menyadari, saya hanya bisa bicara karena tak pernah merasakan bagaimana merokok itu sendiri. Abang ..... mari kita baca kembali artikel yang saya kutip dibawah ini tentang kualitas bangsa yang mengharamkan rokok. Senyum dan do'aku buatmu !!


Coba kita melihat ke dua Negara yang dapat disebut memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, Israel misalnya? Dan tentunya Singapura yang menjadi tangan kanan Israel di Asia tenggara saat ini, bukan rahasia lagi jija Singapura merupakan Negara yang sangat dekat dengan Amerika dan Israel. Di Isarel, merokok itu tabu! Mereka memiliki hasil penelitin dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan merusak sel utama yang ada di dalam otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi “gen” atau keturunannya. Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh” atau “dungu”. Walaupun, kalau kita perhatikan, maka penghasil rokok terbesar di Dunia saat ini adalah orang Yahudi! Tetapi yang merokok, bukan orang Yahudi. Mengapa? Inilah yang menjadi Agenda tersembunyi dari Kaum Zionis, masyarakat Non Yahudi di biarkan merokok dengan sepuas-puasnya, sedangkan mereka sebagai produsen rokok tidak memakannya, karena selain mereka tahu bahwa di dalamnya terdapat zat yang merusak sel-sel otak atau kebodohan , selain itu untuk merusak generasi non Yahudi.

Tanpa bermaksud untuk mendramatisasi tentang orang Israel dan atau orang Yahudi, saya ingin berbagi informasi yang saya peroleh dari membaca terjemahan H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru besar berkebangsaan Malaysia) dari
Universitas Massachuset USA tentang penelitian yang dilakukan Dr, Stephen Carr Leon. Penelitian DR Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi dengan meningkatkan konsumsi gizi serta larangan merokok, sedangkan upaya mengkerdilkan bangsa non Yahudi, makanan-makanan perusak termasuk di dalamnya rokok sengaja diciptakan. Negara Singapura sebagai Negara dengan yang memiliki komunitas Yahudi terbesar di Asia Tenggara, di Singapura para perokok diberlakukan sebagai warga negara kelas dua, Semua yang berhubungan dengan perokok akan dipersulit oleh pemerintahnya. Harga rokok 1 pak di Singapura adalah 7 US Dollar bandingkan dengan Indonesia yang hanya berharga 70 sen US Dollar. Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh peneliti Israel, bahwa nikotin hanya akan menghasilkan generasai yang “Bodoh” dan “Dungu”. Dengan mempertahankan ‘cultur” atau “habbit” merokok, apakah memang kita memang ingin melahirkan generasi “Bodoh” dan “Dungu” kelak? Atau sadarkah kita bahwa kita sedang terperangkap dalam grand design Pembodohan dan Pedunguan dengan mendewa-dewakan rokok? Semoga kita semakin sadar bahwa generasi kita kelak dalam ancaman rusaknya moral karena kebodohan dan kedunguan yang sedang diciptakan.

Sumber (tulisan miring) : adi supriadi/2011

Tidak ada komentar: