Sabtu, 17 September 2011

Perspektif Teori Muncul dan Bertahannya Dinasti Abbasiyah (1)

Oleh : Yulniza & Muhammad Ilham

Berakhirnya Dinasti Umayyah pada tahun 123 H./750 M. telah mengantarkan Dinasti Abbasiyah untuk naik ke panggung kekuasaan. Dinasti Umayyah selama masa pemerintahannya memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas membentang dari negeri Sindh hingga ke Spanyol. Dinasti ini telah mencapai tingkat kemajuan yang cukup tinggi pada masanya dalam bidang ekonomi, pendidikan-keilmuan, militer dan lain-lain. Meskipun pemerin-tahan Dinasti Umayyahdipatuhi oleh sebagian besar masyarakat yang takluk dibawah kekuasaannya, akan tetapi tidak sedikitpun Dinasti ini memperoleh apresiasi dari masyarakat. Itulah sebabnya, belum sampai satu abad Dinasti Umayyah berada di panggung sejarah, akhirnya digantikan oleh Dinasti Abbasiyah. Munculnya Dinasti Abbasiyah dalam sejarah peradaban Islam, telah membawa perobahan yang cukup signifikan dan radikal dalam catatan sejarah Islam. Hal ini tidak hanya sekedar pergantian kekuasaan saja, akan tetapi lebih dari itu adalah pergantian struktur social dan ideology. Karena itu, mayoritas ahli sejarah menilai bahwa kebangkitan Dinasti Abbasiyah merupakan suatu revolusi, seperti yang dikemukakan oleh Richard N. Frye[1] dalam artikelnya yang bertitelkan The Abbasid Conspiracy and Modern Revolutionary Theory yang menyatakan bahwa cirri-ciri yang menyertai kebangkitan Dinasti Abbasiyah sama dengan cirri-ciri yang menyertai revolusi di berbagai Negara di dunia modern saat sekarang ini. Frye menggunakan teori Anatomi Revolusi (Revolution Anatomy of Theory) yang dikembangkan oleh Crane Brinton[2] ketika mengamati empat revolusi besar dalam sejarah peradaban ummat manusia yaitu revolusi Industri di Inggris, revolusi Amerika, revolusi Perancis dan revolusi Rusia.Menurut Frye, paling tidak terdapat empat persamaan yaitu :

1. Bahwa pada masa sebelum revolusi, ideology yang berkuasa mendapat kritik yang keras dari masyarakat yang disebabkan oleh kekecewaan dan penderitaan masyarakat yang ditimbulkan oleh ketimpangan-ketimpangan dari ideology yang berkuasa itu.

2. Mekanisme pemerintahannya tidak efisien karena kelalaiannya dalam beradaptasi terhadap perkem-bangan dan perubahan-perubahan zaman yang terjadi secara dinamis.

3. Terjadinya penyeberangan kaum intelektual dari kondisi awal yaitu mendukung ideology penguasa kepada wawasan baru yang ditawarkan.

4. Bahwa revolusi itu pada umumnya bukan hanya dipelopori dan digerakkan oleh orang-orang lemah dan dan kaum bawahan, melainkan juga dipelopori dan digerakkan oleh kaum penguasa yang karena hal-hal tertentu merasa tidak puas dengan system yang ada atau system yang berjalan.

Sementara itu, Bernard Lewis[3] juga menggunakan istilah revolusi ketika menguraikan kebangkitan Dinasti Abbasiyah dalam bukunya The Arab in History. Ia mengatakan :

Penggantian Dinasti Umayyah oleh Dinasti Abbasiyah adalah lebih dari sekedar pergantian Dinasti atau kekuasan, melainkan suatu revolusi yang memiliki arti penting sebagai titik balik dalam sejarah Islam sebagaimana pentingnya revolusi Perancis dan revolusi Rusia. Bahwa kebangkitan Dinasti Abbasiyah bukanlah hasil dari suatu kudeta, melainkan hasil dari suatu usaha yang panjang dan memakan waktu yang lama dengan menggabungkan berbagai kepentingan golongan masyarakat kepada tujuan yang sama, yaitu menumbangkan Dinasti Umayyah, meskipun segera setelah revolusi itu berhasil dilaksanakan, mereka pun mulai tercerai berai”.

Berkaitan dengan sebab kebangkitan Dinasti Abbasiyah ini, para ahli sejarah mengemukakan beberapa teori yang masing-masing menitikberatkan kepada salah satu aspek sebab utama dari kebangkitan Dinasti Abbasiyah tersebut. Dalam hal ini paling tidak terdapat empat teori[4] yang dikemukakan yaitu :

1. Teori Faksionalisme Rasial atau Teori Pengelompok-kan Kebangsaan. Teori ini mengatakan bahwa Dinasti Umayyah pada dasarnya adalah kerajaan Arab yang mengutamakan kepentingan-kepentingan orang Arab dan melalaikan kepentingan-kepentingan orang-orang non-Arab. Atas perlakuan diskriminatif pihak penguasa, orang-orang Mawali merasa kecewa dan menggalang kekuatan untuk menggulingkan Dinasti Umayyahyang berpusat di Damaskus. Atas dasar itulah, menurut teori inijatuhnya Dinasti Umayyah merupakan kejatuhan kerajaan dan kepentingan Arab dan bangkitnya Dinasti Abbasuyah merupakan kebangkitan bagi orang-orang Persia.

2. Teori Faksionalisme Sektarian atau Teori Pengelompo kkan Golongan Atas Dasar Paham Keagamaan.Teori ini menerangkan bahwa kaum Syiah selamanya adalah lawan dari Dinasti Umayyah yang dianggap telah merampas kekuasaan dari tangan ‘Ali bin Abi Thalib. Keturunan Ali adalah orang-orang yang paling berhak. Keberhasilan Dinasti Abbasiyah dalam menggulingkan Dinasti Umayyah, dari perspektif teori ini adalah karena koalisi mereka dengan kelompok Syiah.

3. Teori Faksionalisme Kesukuan. Menurutv teori ini bahwa persaingan antara suku Arab a-la zaman Jahiliyyah sebenarnya terus berlangsung dan hidup kembali pada masa Dinasti Umayyah. Dua suku yang selalu bertentangan antara satu dengan yang lainnya yaitu suku Mudhariyah bagi orang-orang Arab yang dating dari sebelah utara dan suku Yamaniyah bagi orang-orang Arab yang berasal dari sebelah selatan. Menurut teori ini, setiap khalifah dari Dinasti Umayyah didukung oleh salah satu dari dua suku besar ini. Jika salah satu suku mendukung salah satu khalifah, maka suku yang lain akan memposisikan diri mereka sebagai oposisi. Maka potensi pertentangan antar dua suku ini terus membesar dan berkesinambungan serta menyebar ke daerah-daerah wilayah kekuasaan Dinasti Ummayah lainnya. Teori ini mengatakan bahwa kemenangan Dinasti Abbasiyah sebagai modal territorial pertama bagi pemerintahannya adalah akibat hasil dari manipulasi atas pertentangan dua suku tersebut.

4. Teori yang Menekankan Kepada Ketidakadilan Ekonomi dan Disparitas Regional. Teori ini mengatakan bahwa orang Arab dari Syiria mendapat perlakuan khusus dan mendapat keuntungan-keuntungan tertentu dari Dinasti Umayyah seperti memperoleh keringanan pajak dan hak-hak pengelolaan tanah di wilayah-wilayah yang baru ditaklukan. Sedangkan orang-orang Arab yang berasal dari sebelah Timur, khususnya Khurasan tidak memperoleh perlakuan atau hak-hak khusus tersebut. Mereka harus membayar pajak cukup tinggi. Dengan demikian, timbul kekecewaan di kalangan kelompok Arab ini pun akhirnya terakumulasi dari waktu ke waktu, dan pada akhirnya menjadi kekuatan atau potensi yang potensial dalam menumbangkan Dinasti Umayyah dengan alas an diskriminasi social.

Dari keempat teori tersebut akan terlihat dengan jelas bagaimana Dinasti Abbasiyah bias bangkit dan berhasil mengalahkan Dinasti Umayyah. Usaha-usaha Dinasti Abbasiyah untuk menduduki jabatan khalifah tersebut sebenarnya sudah pernah dimulainya jauh sebelum masa al-Saffah yaitu semenjak kakeknya ‘Ali bin ‘Abdullah bin al-‘Abbas bin ‘Abd al-Muthalib mulai menunjukkan ambisi politik mereka. Pada masa ini, ‘Ali bin ‘Abdullah sering berkunjung ke istana Dinasti Umayyah di Damaskus, terutama pada masa pemerintahan ‘Abd al-Malik bin Marwan. Pada masa pemerintahan khalifah Walib bin ‘Abd al-Malik, ambisi politik ‘Ali bin ‘Abdullah mulai tercium oleh kalangan istana Dinasti Umayyah sehingga Walid bin Abd al-Malik berusaha mencari alas an untuk menindak ‘Ali bin Abdullah. Tiga kali ‘Ali bin Abdullah terkena hukuman pukul. Pertama sekali ketika beliau mengawini janda Abdul Malik. Perbuatan ini dianggap oleh khalifah Marwan sebagai manifestasi penghinaan terhadap ayahnya. Kemudian yang kedua ketika beliau dicurigai melakukan kegiatan politik anti Dinasti Umayyah. Sedangkan yang ketiga, ketika ‘Ali bin Abdullah dituduh membunuh saudaranya Salid bin Abdulllah bin Abbas. Untuk kasus dan tuduhan yang ketiga ini, beliau diusir dari Damaskus dan kemudian tinggal di Humaimah hingga akhir hayatnya.[5]

Setelah ‘Ali bin Abdullah meninggal dunia, cita-cita politiknya diteruskan oleh putranya yang bernama Muhammad. Pada masa Muhammad inilah Bani Abbas resmi berkoalisi dengan Syiah, bahkan menyatakan dirinya sebagai imam dalam kelompok tersebut – imam dari kelompok garis non-Fathimah. Ahli sejarah mengatakan bahwa Syiah dari garis Fathimah ini moderat dan mau berkoalisi dengan Dinasti Umayyah sekalipun mereka harus menyembunyikan rasa kebencian mereka kepada Dinasti Ummayah ini. Namun ada juga yang konfrontatif langsung seperti halnya pemberontakan kaum Syiah yaitu pemberontakan al-Mukhtar pada tahun 685 M. Berkoalisi dengan Syiah ini akan mempermudah Bani Abbas dalam menambah kuantitas pengikut gerakan mereka. Ini juga sekaligus memberikan legitimasi dan justifikasi yang bersifat doktriner tentang pentingnya meruntuhkan kekuasaan Dinasti Umayyah dan menyerahkan jabatan khalifah kepada ahlul bait dimana Abbasiyah bernaung dibawahnya. Namun sampai masa itu, gerakan Bani Abbas masih bersifat Clandesten (gerakan bawah tanah). Simbol dan slogan yang digunakan belum lagi menggunakan bendera dan slogan Abbasiyah, tetapi masih menggunakan bendera ahlul bait atau al-Ridha Muhammad. Dibawah kepemimpinan Muhammad bin ‘Ali ini, mereka berusaha meluaskan pengaruhnya ke bahagian timur wilayah Islam. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Thabari bahwa pada tahun 100 H., Muhammad bin ‘Ali mengirimkan Maisara ke Irak untuk menjajaki dan merekrut pengikut baru bagi gerakannya. Maisara dengan mudah mendapat dukungan dari orang-orang Kuffah. Dari Kuffah ini, kemudian ia mengirimkan tiga orang dari penduduk Kuffah ke Khurasan untuk meluaskan pengaruh gerakan Abbasiyah. Di Khurasan, ketiga orang ini kemudian membentuk Komite yang terdiri dari 12 orang yang dikenal dengan nama Nuqabaa. Dari Komite 12 ini kemudian dibentuk lagi Komite yang lebih besar yang terdiri dari 70 orang.[6]. Mekanisme yang demikian itu menyebabkan Bani Abbasiyah memutuskan Khurasan sebagai pusat kegiatan propagandanya. Muhammad bin ‘Ali memilih Khurasan tersebut didasarkan atas beberapa pertimbangan. Kuffah tidak dipilih karena dalam pandangan Muhammad bin ‘Ali orang-orangnya hanya mau mengikuti ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Bashrah juga tidak dimasukkan kedalam prioritas karena penduduknya banyak yang menaruh simpati kepada khalifah Utsman bin Affan yang juga merupakan keturunan dari Dinasti Umayyah. Jazirah Arab tidak dipilih karena kebanyakan penduduknya merupakan pengikut Khawarij. Demikian juga dengan Damaskus yang berada dibawah pengaruh Dinasti Umayyah. Sedangkan Mekkah dan Medinah tidak dipilih karena Muhammad bin ‘Ali beranggapan bahwa masyarakatnya masih mengidolakan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, tetapi tidak dengan ahlul bait. Sedangkan Mesir dianggap dekat dan menjadi sekutu Damaskus. Afrika dianggap jauh secara geografis ditambah lagi dengan tipikal penduduknya yang nomaden dan memiliki kecenderungan tidak menyukai gerakan yang berbau suku Arab, apapun namanya.

Oleh karena itu, satu-satunya daerah yang ditetapkan dan dianggap strategis dari berbagai sudut pertimbangan adalah Khurasan yang terleyak jauh disebelah timur. Selain pertimbangan geografis, Khurasan juga memiliki keuntungan social lainnya terutama bagi arah gerakan. Masyarakat Khurasan tidak anti dan alergi dengan gerakan-gerakan yang berkonotasi suku Arab, bahkan sebagian masyarakatnya berkebangsaan Arab. Disamping itu, penduduk Khurasan merupakan penduduk yang bertipikal berani, kuat fisiknya, tegap dan tinggi, konsisten dan tidak mudah terpengaruh dengan rayuan-rayuan politik. Keuntungan lainnya adalah masyarakat Khurasan memiliki kekecewaan-kekecewaan terhadap Dinasti Umayyah karena kebijakan pajak kharaj yang dirasakan oleh masyarakat Khurasan sangat memberatkan.[7] Muhammad bin ‘Ali meninggal dunia pada tahun 742 M. dan sebelum beliau meninggal tersebut ia telah menunjuk anaknya yang bernama Ibrahim sebagai penggantinya. Di tangan Ibrahim inilah kelak gerakan Abbasiyah bersifat terbuka dan memperoleh perkembangan yang maju. Pada tahun 743 M. Ibrahim menunjuk dan mengirim Abu Muslim al-Khurasani untuk memimpin perjuangan di Khurasan. Ia sukses dalam melaksanakan tugasnya dan mendapat kepercayaan dari Ibrahim. Dalam waktu tidak kurang dari sebulan, tentara Abu Muslim telah bertambah menjadi 7000 orang.[8] Gerakan yang diproklamasikan oleh Abu Muslim ini tidak menyebut-nyebut nama Baji Abbas. Nama yang dibawanya adalah Ridha min Ahlul Bait dan bendera yang digunakan adalah warna hitam. Oleh karena itu, dalam beberapa catatan sejarah mereka sering disebut dengan sebutan al-Suda (orang-orang yang berpakaian hitam). Warna hitam tersebut menurut sebahagian ahli sejarah adalah untuk melambang suasana berkabung, dalam artian merupakan refleksi dari gerakan rakyat tertindas. Tetapi sebahagian ahli sejarah warna hitam tersebut adalah bentuk usaha untuk mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang sewaktu berperang sering berpakaian hitam dan membawa bendera hitam. Bahkan ada pula yang berpendapat bahwa bendera hitam tersebut bukanlah pilihan Abu Muslim, melainkan perintah dari Imam Ibrahim bin Muhammad di Humaima. Sedangkan tujuan gerakan yang diproklamasikan itu adalah untuk menegakkan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah SAW.[9]

Walaupun jumlah tentara Abu Muslim terus bertambah, tetapi gerakan atau perlawanan bersenjata belum bisa dilakukan karena kekuatan tersebut masih dianggap belum cukup memadai. Sementara itu, Abu Muslim terus berusaha memperkuat posisinya di Khurasan. Setelah merasa kuat, beliau kemudian mengirim sebahagian tentaranya ke berbagai kota di sekitar daerah Khurasan. Umumnya kedatangan tentara Abu Muslim tidak mendapat perlawanan yang cukup resisten. Satu-satunya kesulitan yang dihadapi oleh pasukan Abul Muslim adalah ketika hendak menguasai kota Balkh dan Tirmidh. Tapi akhirnya kedua kota ini tetap bisa mereka taklukkan. Ketika Abu Muslim masih sibuk dan terkonsentrasi melakukan konsolidasi di Khurasan, beliau menunjuk Abu Jahm bin Attiya sebagai penghubung politik dengan kekuatan gerakan yang dipimpin oleh Abu Salamah di Kuffah. Karena pendukungnya kebanyakan orang Syiah yang mempunyai keyakinan bahwa Negara harus dipimpin oleh seorang imam, dan memiliki otoritas keduniaan dan otoritas keagamaan. Akhirnya mereka segera mengangkat Ibrahim bin Muhammad sebagai imam. Hal ini kemudian tercium oleh Dinasti Umayyah. Imam Ibrahim bin Muhammad kemudian ditangkap dari Humaima dan ditahan di Harat. Ketika beliau tertangkap, Ibrahim bin Muhammad menyuruh anggota keluarganya untuk pindah ke Kuffah karena disana gerakan telah menguasai keadaan. Beliau meninggal dalam penjara pada tahun 132 H. tepatnya pada bulan Agustus 749 M. Namun mayoritas orang berpendapat bahwa beliau meninggal karena dibunuh. Ada sumber yang mengatakan bahwa sebelum meninggal dunia, Imam Ibrahim bin Muhammad sempat berwasiat supaya jabatannya sebagai imam digantikan oleh saudaranya Abu al-Abbas ‘Abdullah bin Muhammad. Tetapi ada sumber yang menyangkal pendapat ini.

Kurang lebih dua bulan lamanya setelah Ibrahim bin Muhammad meninggal dunia, maka anggota gerakan mengambil kebijakan dengan mengangkat Abu ‘Abbas bin Abdullah bin Muhammad sebagai pemimpin. Abul Abbas menerima dengan senang hati. Tahun 122 H./749 M. Abul Abbas dibawa ke masjid Kuffah dan secara resmi kemudian diumumkan sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah. Dengan dibai’atnya Abul Abbas sebagai khalifah, belum berarti gerakan ini sudah selesai karena kekuasaan mereka baru mencakup Khurasan dan Irak. Sedangkan di Damaskus masih berdiri Dinasti Umayyah dibawah pimpinan khalifah Marwan bin Muhammad. Karena itu, prioritas dan langkah pertama yang dilakukan oleh Abul Abbas adalah mengirim pasukannya ke Damaskus untuk menghadapi tentara khalifah Marwan bin Muhammad. Pertempuran antara pasukan Abbasiyah dengan pasukan Umayyah terjadi di tepi sungai Zab yang terletak antara Mosul dan Ibriel pada bulan Januari 750 M./123 H. Dalam pertempuran yang sengit tersebut, pasukan Dinasti Umayyah dibawah pimpinan khalifah Marwan bin Muhammad mengalami kekalahan total. Marwan dan tentaranya yang masih tersisa berusaha melarikan diri dengan menyeberangi sungai Tigris menuju Harran, kemudian pindah ke Damaskus dan terus ke Mesir. Di Mesir inilah khalifah Marwan bin Muhammad mati terbunuh, tepatnya pada awal Agustus 750 M./ 123 H. Dengan terbunuhnya Marwan bin Muhammad, maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Umayyah dan kemudian secara resmi dalam sejarah berdirilah Dinasti Abbasiyah dengan Abu al-‘Abbas bin Muhammad sebagai khalifahnya yang pertama.[10]

:: Telah dipublikasikan di Jurnal Khazanah Edisi 2/ Juli-Desember 2010


[1] Richard N. Frye, “The Abbasid Conspiracy And Modern Revolutionary Theory” dalam Indo-Iranica, hal. 9-14. Artikel ini bahagian dari buku Richard N. Frye, Islamic Iran and Central Asia : 7th-12th Centuries, London: Varioum Reprints, 1979.

[2] Crane Brinton, The Anatomy of Revolution, New York and London: Basic Book Io., 1964.

[3] Bernard Lewis, Bangsa Arab Dalam Lintasan Sejarah, terj., Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1984, hal. 76

[4] Dikutip bebas dari M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam Dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998, hal. 86-89

[5] Farouk Umar, Tabi’ah al-Da’wa al-Abbasiyah : Dirasat Tahliliyah li Wajihat al-Thurah al-Abbasiyah wa Tassiraatihaa, Beirut: Dar el-Irsyad, 1970, hal. 61-62

[6] Muhammad bin Ja’far al-Thabari, Tarikh al-Umam wa Mulk, Kairo: Mathba’ah Istiqomah, 1939, hal. 316-317

[7] Farouk Umar, The Abbasid Chaliphate, Baghdad: The National Printing and Publishing Company, 1969, hal. 69-70

[8] Abu Muslim al-Khurasani merupakan salah seorang pemimpin propaganda Dinasti Abbasiyah. Secara detail, tidak diketahui asal usulnya. Namun yang pasti, beberapa data sejarah menyatakan bahwa beliau bukanlah keturunan Bani Hasyim, bahkan bukan Arab. Diketahui beliau merupakan Mawali asal Iran. Nama aslinya adalah Abdurrahman sedangkan nama Abu Muslim al-Khurasani tersebut diberikan oleh Ibrahim. Lihat Atho’ Mudzhar, Pendekatan ……, hal. 105; Hassan A. Mahmud dan A. Ibrahim Syarif, Al-A’lam al-Islami fi al-‘Ashri al-Abbasi, Beirut: Dar al-Fikr, 1977, hal. 9

[9] MA. Shaban, The Abbasid.., hal. 158

[10] Zainal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Ummatnya, Jakarta: Bulan Bintang, 1977, hal. 27

Perspektif Teori Muncul dan Bertahannya Dinasti Abbasiyah (2)

Oleh : Yulniza & Muhammad Ilham

Walaupun masa jayanya tidak begitu lama, tetapi Dinasti Abbasiyah masih dapat bertahan selama lebih kurang 600 tahun. Sebuah prestasi yang cukup mengesankan. Ada beberapa hal yang menyebabkan Dinasti Abbasiyah ini memiliki daya tahan yang cukup luar biasa selama waktu yang demikian panjang tersebut. Faktor-faktornya antara lain :

Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan ummat Islam. Biasanya hadits ini akan dipegang teguh. Begitu juga halnya dengan hadits al-aimmatun min quraisyin. Hadits ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses keberlangsungan Dinasti Abbasiyah dalam lintasan sejarah peradaban ummat manusia. Selama berabad-abad lamanya, para ulama dan ummat Islam meyakini bahwa kepala negara (khalifah) haruslah berasal dari suku Quraisy, sebab menurut mereka hadits ini dalam posisi harus diamalkan. Ibn Hajar al-Atsqalani (w. 852 H./1449 M.) telah membahas kandungan hadits tersebut secara panjang lebar. Ia mengatakan bahwa tidak ada seorang ulama-pun kecuali dari kalangan Muktazilah dan Khawarij yang membolehkan jabatan kepala negara (khalifah) diduduki oleh orang yang tidak berasal dari suku Quraisy. Dijelaskan juga, bahwa dalam sejarah Islam telah ada penguasa yang menyebut diri mereka sebagai khalifah dan mereka tidak berasal dari suku Quraisy. Maka menurut pandangan ulama sebutan khalifah tersebut tidak dapat diartikan sebagai kepala negara (al-imamah al-uzhma),[1] karena mereka bukan berasal dari suku Quraisy. Berhubungan dengan hal ini, maka al-Qurthubi (w. 671 H./1273 M.) menyebutkan bahwa kepala negara disyariatkan harus dari suku Qurays. Sekiranya, menurut al-Qurthubi, suatu saat tinggal satu orang saja, maka yang satu orang tersebutlah yang berhak sebagai kepala negara.[2] Ungkapan-ungkapan tersebut sebenarnya telah pernah dimunculkan oleh al-Mawardi (364-450 H./ 975-1059 M.) yang merupakan salah seorang ulama pemikir paling berpengaruh pada masa Dinasti Abbasiyah. Dalam tulisannya, al-Mawardi tetap mempertahankan kepala negara dari suku Quraisy, termasuk juga para wazir tawfidh dan para pembantunya. Hak prerogatif bagi suku Quraisy didasarkan atas hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa : “pemimpin itu harus berasal dari suku Quraisy” dan hadits lainnya : “Sesungguhnya orang-orang Quraisy itu pemegang amanah”. Ungkapan-ungkapan hadits tersebut diterima oleh semua pihak baik ulama maupun masyarakat, tidak ada yang meragukan kebenaran nya dan tidak ada yang menyanggahnya.[3]

Pemahaman secara tekstual hadits tersebut dan yang sepemahaman dengannya dalam sejarah Islam telah menjadi pendapat umum para ulama dan kaum muslimin serta menjadi landasan normatif bagi pemegang kekuasaan selama berabad-abad. Dalam perkembangan sejarah Dinasti Abbasiyah, walaupun khalifahnya lemah, sementara dinasti-dinasti kecil berdiri dan memiliki kekuatan untuk merebut jabatan khalifah seperti Dinasti Seljuk
[4] dan Dinasti Buwaihi[5], akan tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk merebut jabatan khalifah. Salah satu sebabnya adalah karena mereka merasa bahwa mereka bukan berasal dari suku Quraisy dan mereka yakin bahwa mereka tidak berhak untuk jabatan khalifah tersebut. Pemahaman hadits secara tekstual itulah yang menyebabkan kemudian Dinasti Abbasiyah dapat bertahan lama sampai datangnya serangan Mongol. Setelah berlangsung pemahaman tekstual selama berabad-abad terhadap hadits tersebut, maka muncullah seorang ulama yang mempelopori pemahaman hadits tersebut secara kontekstual. Dia adalah Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa hak kepemimpinan bukanlah terletak pada suku Quraisy, melainkan pada kemampuan dan kewibawaannya. Pada masa Nabi Muhammad SAW orang-orang yang memenuhi syarat sebagai pemimpin dan dipatuhi oleh masyarakatnya adalah dari suku Quraisy. Apabila pada suatu waktu ada orang yang bukan berasal dari suku Quraisy namun memiliki kewibawaan dalam memimpin, maka orang tersebut bisa diangkat sebagai pemimpin atau kepala negara (khalifah).[6] Apabila kandungan hadits diatas dihubungkan dengan fungsi kenabian Nabi Muhammad SAW., maka dapatlah dinyatakan bahwa pada waktu nabi Muhammad SAW mengeluarkan hadits tersebut, posisi beliau adalah kepala negara yang menjadi indikasi antara lain adalah ketetapan yang bersifat primordial yaitu sifat yang mengutamakan suku Quraisy. Hal ini bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an yang mengatakan bahwa yang paling utama disisi Allah adalah yang paling taqwa (QS. Al-Hujurat : 13). Mengutamakan suku Qurays bukanlah ajaran dasar dari ajaran agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW., karena hadits tersebut hanyalah ajaran yang bersifat temporal. Namun terlepas dari perdebatan pemahaman, baik perspektif tekstual maupun kontekstual, namun yang jelas hadits ini telah memberikan daya normatif ketahanan Dinasti Abbasiyah sehingga mampu bertahan dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Dis-integrasi dalam bidang politik sebenarnya telah dimulai pada masa akhir pemerintahan Dinasti Umayyah. Namun, bila berbicara tentang politik dalam lintasan sejarah Islam akan terlihat perbedaan yang cukup signifikan antara pemerintahan Dinasti Umayyah dengan pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Hal ini dapat dilihat, bahwa wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah dari masa awal berdirinya hingga masa keruntuhannya cenderung sama – untuk tidak mengatakan cenderung bertambah luas. Sementara pada Dinasti Abbasiyah, hal yang dialami oleh Dinasti Umayyah tidaklah sama. Karena pada masa Dinasti Abbasiyah, wilayah kekuasaannya memeiliki kecenderungan terpecah-pecah dibawah pemerintahan dinasti-dinasti kecil. Disamping itu, kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini tidak pernah diakui di Spanyol dan Afrika Utara, kecuali Mesir. Akan tetapi, pengakuan Mesir tersebut tidak berlangsung lama. Hal ini terbukti dengan berdirinya Dinasti Fathimiyah yang memiliki khalifah sendiri yang sekaligus merupakan tandingan bagi khalifah Abbasiyah.
[7] Bahkan dalam kenyataannya dapat dilihat bahwa banyak daerah-daerah yang tidak dapat dikuasai oleh Dinasti Abbasiyah. Secara nyata, wilayah-wilayah tersebut berada dibawah kekuasaan para gubernur wilayah yang bersangkutan. Hubungannya dengan pemerintah pusat (khalifah) tidak hanya ditandai dengan pembayaran upeti, tetapi juga dengan menyebutkan nama khalifah dalam setiap sholat Jumat dan di dalam mata uang yang beredar.

Ada anggapan yang mengatakan bahwa khalifah Dinasti Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi-propinsi tersebut, seperti pembayaran upeti. Alasan yang dikemukakan adalah khalifah tidak memiliki kekuasaan dan kekuataan yang cukup kuat untuk membuat mereka tunduk dan para penguasa Dinasti Abbasiyah lebih menitikberatkan pemerintahan nya pada pembinaan dan pengembangan peradaban dan kebuda-yaan dari pada ekspansi wilayah. Akibat kebijaksanaan yang dijalankan oleh Dinasti Abbasiyah dengan lebih mengutamakan kepada pengembangan dan pembinaan peradaban tersebut menyebabkan munculnya beberapa dinasti kecil. Pada satu sisi, kemunculan dinasti-dinasti kecil ini memberikan potensi yang potensial dalam menngkondisikan kelemahan bagi pemerintahan Dinasti Abbasiyah, sementara pada sisi lain justru hal ini memperlambat runtuhnya Dinasti Abbasiyah. Hal ini disebabkan karena mereka turut membantu dinasti ini dalam menghadapi segala bentuk ancaman yang datang menyerang pusat kekuasaannya.

Kekuatan lain yang dimaksud dalam buku ini adalah kekuatan di luar Bani Abbasiyah yang berasal dari suku Quraisy. Akibat adanya landasan normatif agama Islam—dalam hal ini hadits yang mengutamakan suku Quraisy sebagai pemimpin – maka hal ini memperkuat posisi kekhalifahan Abbasiyah untuk bertahan dalam waktu yang lama. Tidak adanya dinasti dari suku Quraisy selain dinasti Abbasiyah membuat kekhalifahan Abbasiyah memiliki keleluasaan dalam “memonopili justifikasi normatif keagamaan” tersebut. Potensi ini kemudian ditambah lagi dengan kepatuhan beberapa kekuatan-kekuatan lainnya (maksudnya dinasti-dinasti Islam lainnya yang secara kekuasaan dan kekuatan militer berpotensi besar bisa mengalahkan dinasti Abbasiyah), namun karena kepatuhan terhadap hadits tersebut, maka dinasti-dinasti yang berasal dari non-Qurays ini merasa terpanggil untuk mempertahankan eksistensi Dinasti Abbasiyah karena panggilan dan justifikasi keagamaan. Tidak bisa dibayangkan apabila ada kekuatan lain (dalam hal ini Dinasti lain dari Bani Quraisy, maka kekuasaan Dinasti Abbasiyah memiliki potensi besar untuk dapat bertahan dalam masa yang demikian panjang tersebut.

Sebagai epilog, dapat disimpulkan bahwa keyakinan terhadap hadits yang menyatakan bahwa ada “nilai lebih” pada suku Quraisy untuk menjadi kepala negara (dalam hal ini khalifah) membuat hal ini menjadi faktor paling potensial dalam mempertahankan eksistensi Dinasti Abbasiyah dalam waktu yang sangat lama. Justifikasi-normatif keagamaan ini memiliki daya besar untuk menimbulkan rasa fanatik bagi ummat Islam. Disamping itu, jabatan khalifah dianggap sesuatu yang sakral. Dua hal ini menjadi suatu faktor yang paling signifikan dalam melihat daya tahan politik Dinasti Abbasiyah. Justifikasi terhadap hadits dan sakralisasi jabatan kepala negara (khalifah) yang juga dijustifikasi secara normatif oleh ajaran Islam. Sementara itu, munculnya dinasti-dinasti kecil telah memberikan kontribusi besar bagi Dinasti Abbasiyah. Pada masa inilah pemberontakan-pemberontakan yang potensial melemahkan kewibawaan Baghdad, bisa diatasi oleh dinasti-dinasti kecil ini. Disamping itu, dinasti-dinasti kecil ini mayoritas adalah dinasti-dinasti yang memiliki apresiasi yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Tidaklah mengherankan apabila Dinasti Abbasiyah dikenal dalam sejarah sebagai salah satu Dinasti besar yang mampu melahirkan capaian-capaian peradaban dan ilmu pengetahuan paling unggul untuk masanya dalam sejarah peradaban Islam. Namun, bila kita jujur terhadap sejarah, semua ini tidak terlepas dari kontribusi dinasti-dinasti kecil tersebut. Disamping justifikasi normatif agama tentang nilai plus suku Quraisy menjadi khalifah dan sakralisasi jabatan kepala negara, daya tahan Dinasti Abbasiyah juga disebabkan karena tidak adanya kekuatan lain yang muncul “sebanding” dengan kekuatan Dinasti Abbasiyah. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan yang sama-sama berasal dari suku Qurays.


[1] Ahmad ibn ‘Ali ibn Hajar al-Atsqalani, Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, Juz IV., tt.: dar al-Fikr wa Maktabah al-Salafiyah, t.th., hal. 526-536

[2] Ahmad ibn ‘Ali ibn Hajar al-Atsqalani, Fath ……, hal. 118

[3] Al-Mawardi, Al-Ahkam ……, hal. 4-5

[4] Dinasti ini berasal dari kabilah kecil keturunan Turki yaitu kabilah Qunud yang didirikan oleh Tughril Beq, salah seorang keturunan Saljuk ibn Tuqaq pada tahun 429 H./1036 M. Dalam perkembangan selanjutnya, para penguasa Dinasti Seljuk memasuki kota Baghdad setelah berhasil mengalahkan kekuatan Dinasti Buwaihi. Ditangan mereka, posisi khalifah agak lebih baik dibandingkan pada masa Buwaihi, paling tidak, kewibawaan khalifah dalam bidang agama dikembalikan. Akan tetapi dalam bidang politik, mereka tetap menguasai khalifah.

[5] Dinasti ini didirikan oleh tiga orang bersaudara yaitu ‘Ali bin Buwaihi, Hasan bin Buwaihi dan Ahmad bin Buwaihi. Tiga orang bersaudara ini kemudian diangkat jadi amir al-umara, kepada mereka diberikan gelar Muiz ad-Daulah untuk Ahmad, Imad al-Daulah untuk Ali dan Rukn al-Daulah untuk Hassan. Ditangan mereka, khalifah Dinasti Abbasiyah tidak lebih dari sekedar boneka yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa.

[6] Ibnu Khaldun, The Muqaddimah ….., hal. 242

[7] Sir William Muir, The Caliphate : Its Rise, Decline an Fall, New York: AMS Press Inc., 1975, hal. 430

Jumat, 16 September 2011

Migran Minangkabau di Semenanjung Negaranya Siti Nurhaliza

Oleh : Muhammad Ilham

Migrasi, atau dalam bahasa lain – merantau, merupakan fenomena sosial yang dilegitimasi oleh asas normatif kultural Minangkabau (karatau madang daulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dikampuang baguno alun). Merantau merupakan konsep spesifik sosiologis kultural (specific concept of culture sociologic), khas Indonesia (Melayu-Minangkabau) yang secara sosiologis mengandung enam unsur pokok (lebih lanjut lihat Mochtar Naim, 1984: 2-3. Secara sosiologis, merantau adalah relatively moving away from one geographical location to another (David Lee, 2001: 62). Fenomena migrasi atau (khasnya : merantau) tidak terlepas dari berbagai motivasi. Secara sosiologis antropologis, merantau memiliki motivasi ekonomi (lihat Brinley Thomas, 1989: 55), ekonomi yang membudaya (culturized economic) (lihat Mochtar Naim, 1984: 48), resistensi ekonomi dan budaya (culture and economic resistention ) (lihat Mochtar Naim, 1984 : 72; Kartini Syahrir, 1988 : 77) dan resistensi politik (political resistention) (lihat Mochtar Naim, 1984 : 93; Tamrin Amal Tomagola, 1994: 38).

Secara umum, merantau dalam perspektif historis, sosiologis dan kultural Minangkabau dilatarbelakangi oleh motivasi perbaikan ekonomi dan resistensi budaya. Tujuan merantau secara sosiologis selalu berdasarkan kepada pertimbangan ekonomi, dimana tujuan utama adalah pusat-pusat sirkulasi ekonomi (Kartini Syahrir, 1988: 12) dan tujuan yang berdasarkan kepada pertimbangan asosiasi klan ataupun etnis (Brinley Thomas, 1989: 92). Kota-kota besar, pusat-pusat perdagangan dan link-link spatial (lihat Kartini Syahrir, 1988) yang dibangun oleh etnis Minangkabau merupakan tujuan orang-orang Minangkabau merantau, baik didalam negeri maupun diluar negeri. Tradisi merantau di Malaysia diasumsikan telah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda (Mochtar Naim, 1984 : 77; Tamrin Amal Tomagola, 1994: 14; Wan Syahibuddin Wan Idris, 1999: 37-61). Motivasi utama pada masa itu adalah motivasi adanya resistensi politik (Mochtar Naim, 1984: 104). Setelah kemerdekaan, motivasi merantau beralih kepada motivasi ekonomi dan ini berlanjut hingga saat sekarang. Link-Link Spatial merupakan salah satu faktor dan motivasi terpenting orang minangkabau merantau ke Malaysia pasca kemerdekaan. Sehingga tidak mengherankan apabila perantau-perantau Minang membentuk enclave-enclave Malaysia. Talcott Parsonn (1989: 77) mengatakan bahwa social enclave terbentuk karena perwujudan proteksi dan aktualisasi nilai-nilai budaya. Di Malaysia banyak ditemukan enclave-enclaveLink Spatial. Timbulnya kelas-kelas dalam lingkungan sosial Minangkabau. Perantau yang sudah dianggap sebagai WN Malaysia merupakan kelas tertinggi, sedangkan yang telah memiliki IC (identity Card) dianggap lebih berkelas dibandingkan perantau yang hanya memiliki visa apalagi yang dianggap sebagai TKI Illegal. Konsekuensi dari semua ini, terjadinya distorsi nasionalisme di beberapa kelas Minangkabau.

Kehadiran secara historis Migran Minangkabau di Malaysia, secara substantif dimotivasi oleh kesempatan kerja yang lebih luas dan fleksibel di Malaysia. Reward dan nilai tukar uang yang tinggi dibandingkan dengan reward dan nilai uang Rupiah yang berada dibawah Malaysia, memberikan potensi kehilangan nilai-nilai eksistensi manusia, termasuk didalamnya memiliki potensi kehilangan rasa nasionalisme terhadap Indonesia. Secara asumtif hal ini terlihat dari timbulnya “rasa berutang budi” secara ekonomi serta “rasa kecewa para buruh Migran Muslim Minangkabau” terhadap pemerintah Indonesia yang tidak memperhatikan keselamatan dan keberlangsungan hidup mereka di Malaysia. Artinya, para Migran Muslim Minangkabau ini justru melihat beberapa kasus kekerasan terhadap Migran-Migran Indonesia pada umumnya belakangan ini justru lebih disebabkan karena “daya tawar” politik pemerintah Indonesia lemah dibandingkan Malaysia. Sementara, Malaysia memberikan peluang kerja yang cukup – terlepas dari berbagai kasus yang berada di dalamnya – asal ketentuan administrasi antar negara dipenuhi. Opini yang terbentuk didalam negeri (baca: Indonesia) yang melihat kerajaan Malaysia sebagai sesuatu yang “telah berubah” dari masa-masa sebelumnya terhadap saudara serumpunnya (baca: Indonesia), justru tidak dianggap urgen oleh Migran Indonesia, khususnya Migran Muslim Minangkabau. Mereka justru – secara kuantitatif – masuk ke Malaysia dalam jumlah yang terus bertambah. Di satu sisi, mereka merasa sebagai orang Indonesia, namun disisi lain, mereka justru beranggapan bahwa kehidupan mereka hanya bisa berlangsung di Malaysia, dengan segala resiko yang harus mereka hadapi. Dalam konteks fenomena diatas, kesempatan kerja mampu mengalahkan rasa nasionalisme yang dipupuk secara dini dalam sistem kehidupan bernegara Indonesia. Perlakuan buruk yang diterima oleh Migran Muslim Minangkabau di Malaysia justru dianggap sebagai konsekuensi logis dari “ketidakpatuhan” mereka dan kurangnya “daya tawar” pemerintah Indonesia terhadap Malaysia.

Dalam penelitian ini, atau fokus permasalahan yang ingin dijawab merupakan elaborasi dari dua konsep kunci yaitu “Lapangan Kerja” dan “Nasionalisme”. Lapangan Kerja bertumpu pada pertanyaan tentang Motivasi kerja di Malaysia yang telah terbentuk di Selangor DE. Berdasarkan kesempatan kerja yang telah mereka (maksudnya : Migran Muslim Minangkabau) peroleh. Sedangkan Nasionalisme bertumpu pada pertanyaan mengenai persepsi Migran Muslim Minangkabau terhadap nasionalisme (ke-Indonesia-an) yang didalamnya include tentang dinamika persepsi mereka tentang pemerintah Indonesia Malaysia serta apakah timbul reduksi atau re-persepsi nasionalisme di kalangan Migran Muslim Minangkabau di dan Malaysia.

:: Merupakan Draft Tentatif Proposal Penelitian Kompetitif Terpadu. Diposting hanya sebagian kecil dari Proposal lengkap. (c) Muhammad Ilham

Masa Depan Hubungan Bilateral Mesir-Israel

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Jatuhnya rezim Mubarak dan tewasnya lima tentara perbatasan Mesir (18/8/11) membuat masa depan hubungan Israel-Mesir yang sebelumnya ”sangat dekat” menjadi pertanyaan besar. Persepsi dan sentimen negatif sebagian masyarakat Mesir terhadap Israel semakin terlihat jelas. Tewasnya lima tentara Mesir yang diduga akibat terjangan peluru operasi militer Israel segera direspons secara keras oleh para pemimpin sipil maupun militer, dan ditanggapi secara keras oleh rakyat dan pemuda Mesir. Tuntutan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Israel yang mulai menguat pascarevolusi 25 Januari kini semakin memperoleh momentum emasnya setelah kerusuhan di depan kompleks Kedutaan Mesir di Giza, Kairo. Hubungan kedua negara sekarang mencapai titik terburuk selama 30 tahun terakhir. Bagi Mesir, mengubah hubungan dengan Israel bukanlah perkara sederhana. Di samping recovery stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan pascarevolusi masih jauh dari berhasil, Mesir harus mempertimbangkan berbagai implikasi yang sangat mungkin timbul akibat perubahan sikapnya terhadap Israel. Terlebih lagi kedekatan itu diikat oleh perjanjian internasional dengan level agreement.

Di tengah beratnya kondisi ekonomi saat ini, Mesir tentu sangat mem butuhkan bantuan keuangan dari AS, negara-negara Eropa, dan negara-negara Teluk yang selama ini mengalir deras kepada mereka. Bantuan itu merupakan ”imbalan” perdamaiannya dengan Israel dan dukungannya terhadap AS melawan Saddam Hussein, kekuatan-kekuatan poros Iran, dan gerakan radikal di kawasan. Siapa pun yang memerintah Mesir tentu mengerti betapa besar nilai bantuan itu di tengah situasi yang belum menentu seperti sekarang. Pemutusan hubungan dengan Israel, apalagi diikuti permusuhan dengannya, jelas berpengaruh besar terhadap keberlangsungan bantuan tersebut. Iran dan kekuatan-kekuatan yang berada di porosnya jelas tidak memiliki kemampuan finansial sebagaimana negara-negara di atas andaikata Mesir ingin mengubah haluan politik luar negerinya. Di tengah situasi politik dan militer di kawasan yang memanas, kendati euforia anti-Israel membuncah di kalangan rakyatnya, pemerintah Mesir tampaknya juga enggan terseret lagi ke arena perang yang destruktif. Pengalaman Mesir berperang melawan Israel pada 1948 hingga 1973 menyadarkan mereka akan akibat-akibat perang. Perang bukan hanya menghancurkan mesin-mesin militer, tapi juga menghancurkan kehidupan, peradaban, dan masa depan. Pemerintah dan sebagian rakyat Mesir sangat sadar bahwa perang telah membuat mereka menderita, miskin, kehilangan sanak saudara dan kebersamaan, serta hanya mewariskan dendam. Mesir sangat kecil kemungkinan untuk kembali pada posisi itu lagi. Apalagi, kini persenjataan Israel semakin kuat dan diyakini telah berkapasitas nuklir.

Perubahan secara ekstrem hubungan Mesir-Israel dalam waktu dekat ini mungkin tidak terjadi, apalagi Mesir saat ini di bawah pemerintahan transisi. Meski demikian, isu hubungan dengan Israel hampir bisa dipastikan menjadi salah satu tema paling menonjol dalam pemilu Mesir sekitar dua bulan ke depan. Kecurigaan mengenai peran Israel dalam berbagai kerusuhan di Mesir, tindak spionase, dan upaya-upaya ”membelokkan” arah revolusi akan menjadi bunga-bunga kampanye yang menarik massa. Fundamental Sebaliknya, Israel memandang hubungan baik dengan Mesir adalah kepentingan fundamental negara dan bangsa yang sulit memperoleh sekutu kawasan tersebut. Karena itu, mereka berupaya keras dan sekuat tenaga mempertahankan hubungan dekat itu. Tel Aviv tampak sekali tidak mau terpancing dengan reaksi keras Mesir terhadap kematian lima tentaranya. Mereka juga berupaya hati-hati mengomentari peristiwa di kedutaan mereka di Kairo. Ada pejabat Israel yang menyatakan bahwa itu adalah upaya pihak eksternal untuk mengeruhkan hubungan Mesir-Israel. Sikap itu tentu masuk akal karena hubungan perdamaian dengan Mesir bukan hanya berkaitan dengan kerja sama ekonomi, terutama impor gas alam, namun juga berkaitan erat dengan eksistensi dan masa depan mereka di kawasan. Bagaimana mereka akan terus bertahan hidup sementara mereka dikepung musuh dari segala arah.

Perdamaian dengan Mesir adalah harapan mereka untuk dapat hidup normal dengan bangsa-bangsa di kawasan, kendati entah kapan itu terwujud. Israel juga sadar dengan kekuatan dan pengaruh Mesir baik di Timur Tengah, dunia Islam, bahkan di negara-negara Barat. Faktanya, ketika Mesir berhenti berperang dengan Israel, tidak ada lagi negara Arab yang berani melakukan ofensif terbuka terhadap negara itu. Bahkan, ketika Gaza dibombardir dan Lebanon Selatan diserang dengan segenap tragedi kemanusiaannya, tak satu pun negara Arab yang terjun ke arena perang, apalagi berani pasang badan. Kepentingan Israel lain adalah hubungan baik dengan Mesir akan menjadi jembatan Israel untuk membangun hubungan normal dengan negara-negara Arab, Afrika, dan dunia Islam. Jelas, Tel Aviv dan masyarakat Israel sangat kecewa dengan respons reaktif rakyat Mesir. Namun, mereka jelas tidak akan mengorbankan hubungan strategis itu hanya demi sebuah pembalasan emosional.

Sumber : (c) I. Burdah/Padang Ekspres/September 2011
Foto : abcnews.com

Kamis, 15 September 2011

Mutiara Cemerlang Peradaban Islam

Oleh : Muhammad Ilham

Artikel ini merupakan penggalan dari makalah Penulis (Pengantar Ketua Redaksi) dalam Jurnal Khazanah Fakultas Adab-Ilmu Budaya Islam IAIN Padang Vol. 1 No. 5/Januari-Juni 2011.

Ada diktum sederhana dalam sejarah, bila anda membaca sejarah peradaban-perdaban bangsa di dunia, anda akan temukan sebab kemajuan dan kehancuran sebuah peradaban. Kuncinya adalah belajar. Kecepatan belajar dari kesalahan dan mempelajari kesuksesan out-group adalah point dalam menentukan nasib sebuah bangsa - bak kata Ibnu Khaldun - akan memimpin, tertinggal atau terhapus dalam sejarah. Peradaban Mongol, misalnya, pernah sempat muncul dalam lembaran sejarah peradaban dunia, bahkan "menggetarkan". Tapi kemudian peradaban yang founding father- nya Jengis Khan ini, lenyap-terhapus dalam sejarah. Peradaban Indian dengan Aztek, Inca dan Maya itu, pernah berkilauan dalam lembaran sejarah peradaban ummat manusia. Tapi hari ini hanya tinggal nama. Bahkan ada pula peradaban canggih pada masanya yang terdengar oleh kita, tapi jejaknya hingga hari ini susah untuk ditemukan. Pada akhirnya, peradaban yang (dikatakan) canggih pada masanya tersebut hanyalah berakhir pada mitos. Inti dari semua itu adalah, kecepatan dan semangat belajar pendukung peradaban bersangkutan, menjadi hal penting dalam menjamin apakah peradaban tersebut akan terus brkembang atau kemudian, hanya jadi catatan manis lembaran sejarah. Peradaban Islam, Barat dan Jepang dianggap sebagai 3 peradaban dengan kemampuan dan kecepatan belajar yang amat tinggi. Peradaban Islam, misalnya, tidak hanya ada karena tuntunan semata dari Allah SWT. lewat Nabi dan kitab suci. Tapi lebih dari itu, peradaban ini mampu menjadi estafet, penyelamat dan filter dari peradaban-peradaban besar sebelumya seperti peradaban Romawi dan Yunani Klasik. Peradaban Barat-pun demikian juga adanya. Mereka tak hanya dianggap sebagai "pewaris sah" peradaban Romawi dan Yunani, tapi mereka juga dipandang sebagai peradaban yang menerima tongkat estafet kejayaan Islam yang (mulai) memudar. Sementara itu Peradaban Jepang, memang belum bisa disebut meneruskan estafet dari peradaban Barat. Tapi meskipun demikian, peradaban Jepang ini dianggap sebagai simbol semangat belajar yang luar biasa. Bahkan Jepang dianggap sebagai trigger bagi munculnya - dalam istilah John Naisbitt (1995) - the next civilization, Asia Timur.

Pada abad ke-7 M., ketika dunia sedang berada dalam bahasa Philip K. Hitti (1982) - Dark Ages - Abad-Abad Kegelapan (khususnya kegelapan terhadap apresiasi terhadap potensi intelektualisme dan humanisme), di semenanjung Arab muncul "harapan" dari seorang buta huruf tapi jenius, Muhammad SAW. Ia dilantik "langit" untuk memimpin perubahan dunia. Muhammad SAW. tidak hanya dianggap sukses dalam menyebarkan agama, ia juga memimpin sebuah peradaban, demikian kata Michael H. Hart (1981) dalam 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Sampai abad ke-16, menara peradaban Islam makin menjulang terang ke seantero dunia. Peradan ini bermula dari Mekkah dan Madinah. Muhammad SAW. memimpin dan merubah bangsa yang (pada awalnya) suka berperang menjadi bangsa yang tangguh dan smart. Ia memimpin otak-otak cemerlang bangsa Arab yang hanya butuh sedikit polesan dan lecutan motivasi untuk melejit. Orang-orang Arab ini tidak hanya duduk melingkari sang Nabi untuk mendengar tuturan kata-katanya. Mereka tak hanya merekamnya dengan sempurna di otak mereka (al-Qur'an dan Hadits), tapi juga mempraktekkan ilmu yang mereka dapatkan. Karena itu, dalam masa yang tak terlalu lama, nabi Muhammad SAW. telah menguasai jazirah Arab sebelum ia wafat. Nabi melihat masa depan peradaban Islam dari wajah para sahabat-sahabatnya. Para sahabat-sahabat ini telah dimotivasi oleh nabi Muhammad SAW. untuk mengajar-belajar dan terus mengajar-belajar. Bangsa Arab kemudian tak hanya betul-betul kuat dari olah fisik dan persenjataan, mereka juga dibekali motivasi penguasaan ilmu dan motivasi iman yang tinggi. Tak mengherankan apabila belum sampai setengah abad, mereka sudah berhadap-hadapan dengan "negara super power" kala itu, Romawi dan Persia. Benderang agama sekaligus semangat ilmu bak kecepatan cahaya, segera menjalar ke seluruh negeri yang ditaklukkan.

Empat khalifat pasca nabi Muhammad SAW. yang dikenal dengan istilah Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib) tidak hanya meneruskan keimanan (dalam hal ini : Islam sebagai din), tapi mereka juga belajar dan mengajarkan bagaimana mengelola negara yang teramat luas. Dinasti Umayyah kemudian melanjutkan kesuksesan Khulafaur Rasyidin ini dengan meletakkan pondasi pemerintahan yang kuat dan ilmu yang cemerlang. Pondasi tradisi ilmiah ini kemudian disempurnakan pada masa Dinasti Abbasiyah. Maka tak mengherankan apabila banyak lahir ilmuan-ilmuan sekaligus ulama-ulama pada masa-masa tersebut. Dinasti Abbasiyah menyulap Baghdad menjadi metropolis Asia, pada masanya. Sementera itu, Dinasti Umayyah juga menjadikan kota-kota di Spanyol seperti Andalusia, Cordoba dan Toledo serta Malaga menjadi "bintang gemerlap" di Eropa. Sejarawan Hendri S. Lucas mengatakan bahwa kekhalifahan Abbasiyah barangkali merupakan periode yang paling makmur dalam sejarah peradaban ummat manusia, bahkan hingga hari ini .... Ini kata Lucas, bukan kata saya. Baghdad bukan hanya menjadi centrum ilmu pengetahuan, tapi juga menjadi pusat ekonomi, penghubung pusat-pusat ekonomi lainnya. Baghdad bak pemilik silk road, Jalur Sutera. Kata Lucas, Baghdad-Bashrar-Iskandariyah Mesir seumpama New York-Tokyo-London pada aman sekarang. Peradaban ini mengembankan kertas yang mereka pelajari dari peradaban Cina, berdagang sampai ke Nusantara, membangun perindustrian dan pertanian. Bahkan pada masa ini, para petani telah menggunakan sistem silang, irigasi, kanal, dan pupuk penyubur tanah.

Islam di Andalusia-pun tak kalah ilmiah. Bahkan saking cintanya terhadap ilmu pengetahuan, salah seorang khalifahnya, Al-Hakam II, dikenal sebagai khalifah yang memiliki perpustakaan pribadi dengan 400.000 koleksi buku. Ia mendorong penterjemahan dan pencarian buku-buku terbaik. Pada masa itu pula, Cordoba tak kalah maju dibandingkan dengan Baghdad. Kertas dan buku adalah salah satu kunci kemajuannya. Dari tradisi Baghdad dan Andalusia ini, lahir ilmuan-ilmuan besar yang nama mereka hari ini masih dianggap otoritatif seperti Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat, An-Nafis untuk ilmu kedokteran (sirkulasi darah), Ibnu Haitam yang dianggap sebagai Bapak Ilmu Optik, si penemu obat cacar Ar-Razi, Al-Farabi filosof yang ahli musik, Al-Battani si ahli astronomi, Ibnu Batuta yang dipandang sebagai ahli ilmu bumi serta penjelajah dunia yang populer, Al-Khawarizmi yang dianggap sebagai matematikus penemu angka nol, dan Ibnu Sina yang wajahnya terpahat di gerbang masuk Universitas Paris Perancis. Ibnu Sina (Avissena) melahirkan buku Al-Qanuun (The Cannon) yang menjadi rujukan ilmu kedokteran dunia hampir 700 tahun lamanya karena tak tergantikan. Demikian juga dengan Ibnu Khaldun sang bapak Ilmu Sosial. Khusus Ibnu Khaldun, karena masterpiece-nya Mukaddimah begitu otoritatif dalam kajian ilmu sosial (bahkan hingga sekarang), tak salah kemudian, Adam Smith, "mbah" Kapitalisme dalam bukunya Nation of Wealth yang asli mencantumkan nama Ibnu Khaldun sebagai inspiratornya.

:: Rasanya cerita-cerita manis peradaban diatas, bisa ditulis menjadi panjang-terbentang. Tapi point yang bisa kita petik adalah, peradaban tersebut menjadi besar, karena pendukung-pendukung peradaban memiliki kecepatan belajar dari kesalahan dan mempelajari kesuksesan out-group untuk mengembangkan potensi diri mereka.

Koran Tanpa Kertas

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

CEO sekaligus penerbit The New York Times, Arthur Sulzberger Jr mengungkapkan bahwa korannya tidak akan terbit lagi. Dia akan konsentrasi ke edisi online. Dalam beberapa tahun terakhir sirkulasi koran di Amerika Serikat turun terus sekitar 27 persen per tahun. Demikian kita kutip sebagian artikel di majalah Info Kita, majalah spesial untuk para pensiunan Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Penulisnya Budiarto Shambazy (BAS), putera Amir Shambazy dan ibunya Eli, asal nagari Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. BAS melanjutkan tulisannya: Menurut jajak pendapat Pew Research Centre Juli 2010 sekitar 64 persen responden di Amerika Serikat yakin koran dan media cetak lainnya akan punah tahun 2050. Mereka yakin pada tahun tersebut – sekitar 40 tahun lagi – masyarakat memasuki dunia tanpa kertas (paperless future). Berarti eksistensi kertas sebagai media tradisional, makin terancam. Meski begitu, berita sebagai produk tetap akan laris dilahap pembaca. Penerbit koran memerlukan berbagai inovasi untuk bertahan hidup antara lain dengan membangun platforms lain seperti media elektronik ataupun online. Ada asumsi peranan media tradisional berkurang drastis karena diambil alih media sosial seperti Twitter atau Facebook. Jika ingin tetap bertahan, koran dan media cetak lainnya mesti menyajikan berita yang berkualitas. Ia hanya multidimensional mendalam, mengandung analisa mencerahkan open ended dan menggiring opini masyarakat, pemahaman duduk perkara sesungguhnya dari sebuah peristiwa. Satu hal lagi yang tak kalah penting visualisasi yang lebih dari biasa dengan foto-foto istimewa, grafik-grafik menarikdari sajian data terinci. Semua hanya bisa dilakukan dengan lay-out koran mutakhir.

Itulah yang dilakukan koran-koran terkemuka Amerika Serikat. Meskipun bisnis media cetak cenderung merugi, tapi pers di negeri Paman Sam menjadi sumber kecemburuan dunia, karena memiliki: Pertama, misi yang kuat (sense of mission) untuk membayar kepentingan umum. Kedua, secara prinsipil mampu mempertahankan kemerdekaan editorial sekalipun mengalami tekanan dari kekuasaan dunia bisnis dan penerbit. Ketiga, kemerdekaan pers dilindungi oleh konstitusi. Kemerdekaan pers itulah yang sejak tahun 1919 menfungsionalkan pers sebagai pertama sumber berita. Kedua. bagian dari eksperimentasi untuk melayani kepentingan umum, dan ketiga mengawal demokrasi. Warga Amerika Serikat tetap membutuhkan pers yang merdeka dan independen di era globalisasi. Untuk menghadapi tantangan di abad ke-21, pers punya “alat pelindung” yakni jurisprudensi dalam bentuk keputusan-hukum/konsitusional berbagai kebijakan publik yang bertujuan meningkatkan kinerja wartawan dari kultur profesionalisme. Dengan kata lain, sebenarnya kehidupan pers di negara demokrasi juga appliable di negara demokrai lainnya, termasuk Indonesia. Empat sistem pers ini amat berkaitan dengan hubungan yang saling mempengaruhi antara media massa dengan kekuasaan. Sistem yang otoriter dari komunis Uni Sovyet memanipulasi media untuk alat propoganda. Sedang sistem yang libertarian menyanjikan pers ala Barat. Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang tetap menganut sistem yang bertanggung-jawab sosial dengan sejumlah varian/kombinasi yang diambil dari sistem otoriter.

Di setiap negara demokratis, media disebut sebagai the fourth estate, pilar kekuatan yang keempat setelah kekuasaan/absolut pemerintahan, the ruling elite dan masyarakat umum. Setiap kekuatan (power) memanfaatkan media melalui cara-cara kursif maupun persuasif dalam rangka diseminasi kebijakan-kebijakan publik kepada rakyat. Power tidak lagi dimonopoli pemerintah, the ruling elite, masyarakat umum dan media saja. Aktor-aktor bukan negara, seperti lembaga internasional (PBB), Uni Eropa atau berbagai LSM internasional, entitas bisnis, mulai dari MNC (multi national corporation) sampai SME (small and medium enterprises), institut-institut politik (parpol, gerilyawan, pemberontak, kelompok terorisme, tokoh informal atau berbagai LSM lokal maupun komunitas-komunitas kecil (misalnya koperasi atau kelompok petani/nelayan) semakin membutuhkan media. Sebaliknya media sebagai industri raksa juga membutuhkan pemberitaan mengenai peranan aktor-aktor bukan negara tersebut. Ruang publik menjadi tempat pertemuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan masing-masing yang saling menguntungkan. Setiap pihak berhak atas ruang publik yang terbuka lebar dan tersedia setiap saat dalam mencapai tujuan masing-masing. Di ruang publik berlaku pameo who gets what, when and how. Pada dasarnya setiap pihak yang berkompetisi di ruang pulik ingin bersama-sama menciptakan perimbangan kekuatan yang harmonis, stabil dan jinak. Era reformasi mencabut aturan SIUP (Surat Izin Usaha Izin Penerbitan) yang tidak demokratis. Namun masih didapat berbagai bentuk pembatasan atau kontrol oleh pemerintah terhadap pers yang berkaitan dengan isu-isu sensitif seperti hubungan antar agama, pornografi, dan sebagainya. Kehidupan media Indonesia diatur dengan UU Nomor 40/1999. Pasal 9 Ayat 1 mengatakan setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers, dan ayat 2 mengatakan setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum. Pasal 4 ayat 2 menegaskan “terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran pembreidelan atau pelarangan penyiaran”. Tanggung-jawab sosial pers tercermin dari pasal 5 ayat 1 yang mengatakan pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini, dengan menghormati norma agama, dan rasa kesusilaan masyarakat serta praduga tidak bersalah.

Sumber/referensi : (c) Martias Doesky Pandu/Padang Ekspres September 2011
Foto : www.bcpiweb.com

Minggu, 04 September 2011

Hilangnya Kehangatan Institusional

Oleh : Muhammad Ilham

Masjid-masjid mereka ramai, tapi kosong dari petunjuk !
(Baginda Muhammad SAW.)

"Kita memiliki sistem politik yang cukup maju dibandingkan negara-negara lain, tapi mengapa tiap hari kita menyaksikan diberbagai sudut negeri membahana ketidakpuasan publik terhadap sistem pemerintah kita ? ..... Beberapa tahun terakhir ini, kita memiliki Presiden yang hampir tiap hari dicaci maki, apapun yang dikerjakannya, selalu dilihat dari sudut yang tidak positif ? ..... Dari waktu ke waktu, infrastruktur pendidikan senantiasa mengarah kepada kemajuan, kurikulum seakan-akan terus disempurnakan, tapi mengapa produk pendidikan tidak seramah tempo doeloe yang nyata-nyata tidak sesempurna sekarang, setidaknya dari aspek infrastruktur dan sistem-nya?", demikian pertanyaan runtut dari seorang kawan saya, sepulang dari musholla, (tentunya) sambil duduk-duduk di kedai dengan minuman favorit, "Teh Pucuk Harum". Teh yang membuat kita "berkejar-kejar" dengan ulat bulu. Diskusi kami begitu hangat. Tentunya tidak sehangat pengamat-pengamat politik "jagoan" di beberapa TV belakangan ini. Diskusi yang boleh "sekehendak hati" memberikan analisis. Maklum, mayoritas kapasitas pesertanya sulit untuk memahami istilah politik pencitraan, surat palsu Mahkamah Konstitusi dan beberapa istilah yang lagi "trend" dalam jagad politik Indonesia belakangan ini. Mereka lebih mudah memahami : "mengapa Malaysia dan Singapura jauh lebih maju dibandingkan Indonesia atau mengapa Sri Mulyani makin lama semakin cantik". Ah .... bingung kan ?

Tapi sudahlah, kembali ke pertanyaan runtut kawan saya tadi. (Sejumlah) pertanyaan yang jawabannya membuat saya teringat dengan cendekiawan Celia Haddon. Haddon (1990: 67) pernah berkata : "Banyak energi dan dana telah dihabiskan untuk membiayai pembangunan gedung pendidikan, kelas-kelas yang representatif dan metode pengajaran yang selalu di up-date. Tapi, sebagian besar ternyata sia-sia. Gedung, ukuran sekolah, perbedaan administrasi dan sistemnya tidak berpengaruh pada kualitas lulusan". Mengapa hal ini terjadi ? Haddon melihat bahwa ada "hal lain" yang sebenarnya tidak begitu menonjol, tapi sangat penting dan sering luput untuk dihadirkan, yaitu "kehangatan institusional". "Kehangatan institusional" itu bukanlah suasana sekolah yang terletak pada bentuk luar bangunan ataupun organisasi yang mempengaruhi murid. Ia terletak pada suasana pada moril keseluruhan guru yang bersedia memberikan waktu ekstra dan perhatian tambahan kepada siswanya, yang menekankan dorongan dan puji-pujian bukan caci-makian". Dalam konteks Haddon ini, kita bisa memotret apa yang terjadi dalam ranah politik, bahkan ranah praktek keagamaan. Dalam ilmu politik, struktur politik pada dasarnya dibangun untuk menegakkan demokrasi. Semua ahli politik, sepakat dengan hal ini. Tetapi lihatlah, para penguasa dipilih dengan (umumnya) memanipulasi simbol-simbol politik serta informasi. Dan (sekali lagi) lihatlah, panggung politik jadi panggung sandiwara yang tidak menghibur. Seakan-akan publik "tak tahu", padahal mereka cerdas. Para penguasa masuk dalam panggung politik dengan membawa sejumlah janji-janji. Publik dilihat sebagai angka-angka. Pemimpin, dalam bahasa Buya Syafii Ma'arif, bukan lagi memimpin, tapi memerintah.

Sementara itu agama juga telah "bermetamorfosis" menjadi sejumlah ritus, upacara bahkan entertain. Dalam bahasa metafora Nabi Mulia Baginda Muhammad putra tersayang Abdullah, "masjid-masjid mereka ramai tetapi kosong dari petunjuk". Kesalehan tidak jarang justru digunakan untuk menyembunyikan keangkuhan dan menutupi penyelewengan. Bahkan, publik tak bisa dibohongi - setidaknya demikian yang saya "tangkap" dari diskusi di kedai malam ini - bahwa lembaga-lembaga agama menjadi lembaga-lembaga yang memberlakukan kasih dan "kehangatan" agama hanya sebagai komoditas. Teks-teks kitab suci digunakan sebagai amunisi untuk "menembaki" orang-orang yang dianggap sesat. Sebagaimana halnya politik, agama pada akhirnya telah kehilangan "kehangatan". "Agama, kata Baginda Nabi Muhammad SAW., adalah kecintaan dan kehangatan yang tulus. Tak ada agama kalau sudah kehilangan kecintaan dan kehangatan yang tulus tersebut". Wallahu A'lam bish Shawab. (Setelah) letih berdiskusi mengenai ini, kami-pun mulai ma-ota-ota ringan. Tentang bola kaki Indonesia yang tak maju-maju, muballigh pop, istri Nazaruddin yang cantik-ciamik, celotehan Sujiwo Tedjo tentang "aura" ibu Ani Yudhoyono dan entah apa lagi.



Foto : americangallery.com

Umar Patek, Al-Qaeda & Terorisme

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Keberadaan Umar Patek, salah seorang tokoh teroris dari Indonesia yang ditangkap intelijen Pakistan ISS pada 25 Januari 2011 di Abottabat masih mengundang tanda tanya. Beberapa pejabat dan pengamat mengatakan Umar Patek alias Umar Kecil alias Umar Arab alias Abu Syekh alias Zacky itu diduga akan bertemu dengan Osama bin Laden yang akhirnya kemudian diketahui berada di kota yang sama dan akhirnya disergap Navy Seals hingga tewas. Pejabat intelijen AS saat itu meragukan Umar Patek yang berada di Abottabad akan bertemu dengan Osama. Walau dia tokoh teroris kelas atas yang berasal dari Indonesia, dan kepalanya dihargai sebesar USD 1 juta, penulispun sejak awal ragu Umar mampu bertemu dan mendapat clearance berhubungan dengan tokoh tertingggi Al Qaeda tersebut yang disembunyikan dengan security tingkat tinggi. Osama menjadi ikon teroris internasional, musuh bebuyutan AS nomor satu dan terus diburu karena dituduh bertanggung jawab atas serangan di WTC 911. Jaringan Al Qaeda selama 10 tahunan mampu menyembunyikan tokoh yang paling berpengaruh dan menakutkan itu dari kejaran intelijen AS. Teka teki seputar keberadaan Umar Patek di Pakistan agak terungkap setelah CIA berhasil membunuh tokoh nomor dua Al-Qaeda, Atiyah Abd al-Rahman pada hari Senin 22 Agustus 2011 di Waziristan, wilayah barat laut Pakistan. Dia termasuk yang tewas dalam sebuah serangan pesawat tanpa awak. Atiyah, ahli bahan peledak, dan berumur sekitar 38 tahun diketahui sebagai tokoh penting kedua di Al Qaeda sejak 2006. Dia pada masa lalu adalah penghubung utama organisasi Al-Qaeda di Irak dan Iran, serta kelompok Salafis Aljazair. Pada bulan Januari, jaringan Aljazair berubah nama menjadi Al-Qaeda Maghreb Islam.

Posisi Atiyah yang demikian tinggi dan penting pada organisasi Al Qaeda diketahui CIA setelah Navy Seals Six Team melakukan penyerangan ke persembunyian Osama di Abottabad. File yang ditemukan di kediaman Osama menyebutkan peran Atiyah adalah tokoh operasional paling penting yang dipercaya oleh Osama bin Laden. Keberadaan Atiyah di Waziristan adalah dalam rangka memimpin sisa-sisa Al-Qaeda, dan dia bertindak sebagai penghubung penting antara jajaran yang lebih rendah dari organisasi Al Qaeda dan pemimpin tertinggi, termasuk Osama bin Laden sebelum kematiannya pada bulan Mei lalu. Seperti diberitakan, Umar Patek saat akan ditangkap sedang berhubungan dengan Shehzad Tahir, anggota Al Qaeda (Afiliasi Asia Tenggara) yang saat ditangkap sedang menjemput dua militan dari Prancis, yang baru tiba di Lahore. Mereka merencanakan akan bergerak bersama-sama menuju ke Warziristan. Keberadaan mereka sudah tercium intelijen Pakistan, dan ketiganya kemudian ditangkap. Setelah itu baru Umar Patek disergap. Jadi sangat besar kemungkinan adanya upaya Umar Patek sebagai perwakilan jaringan terorisme di Indonesia yang sedang melakukan setting ulang dalam membangun hubungan dengan Al Qaeda melalui Atiyah Abd al-Rahman tersebut. Dengan tewasnya Atiyah, menurut pejabat intelijen AS adalah pukulan besar bagi kelompok teroris. Kekuatan dan kemampuan Al Qaeda untuk beroperasi secara internasional dinilai terus menurun. Menhan AS Leon Panetta mengatakan kemenangan akan dicapai apabila mereka terus berhasil dalam melakukan serangan-serangan serupa.

Dalam siaran persnya Leon Panetta mengatakan, "Now is the moment, following what happened with bin Laden, to put maximum pressure on them. Because I do believe that if we continue this effort we can really cripple al-Qaida as a major threat." Akan tetapi ada yang perlu diingat oleh Menhan Panetta dan otoritas intelijen AS, bahwa perang antara AS dengan Al-Qaeda nampaknya akan terus berlangsung, walaupun serangan langsung ke mainland AS tampaknya agak sulit dilakukan Al Qaeda. Perang dan balas dendam kemungkinan justru akan terjadi di negara ketiga, seperti ancaman yang dilakukan dan telah dibuktikan oleh jaringan Al-Qaeda di Irak yang menyatakan akan menyerang 100 sasaran sejak pertengahan puasa Ramadhan sebagai balas dendam kematian Osama bin Laden. Keberadaan Umar Patek, salah seorang tokoh teroris dari Indonesia yang ditangkap intelijen Pakistan ISS pada 25 Januari 2011 di Abottabat masih mengundang tanda tanya. Beberapa pejabat dan pengamat mengatakan Umar Patek alias Umar Kecil alias Umar Arab alias Abu Syekh alias Zacky itu diduga akan bertemu dengan Osama bin Laden yang akhirnya kemudian diketahui berada di kota yang sama dan akhirnya disergap Navy Seals hingga tewas. Pejabat intelijen AS saat itu meragukan Umar Patek yang berada di Abottabad akan bertemu dengan Osama. Walau dia tokoh teroris kelas atas yang berasal dari Indonesia, dan kepalanya dihargai sebesar USD 1 juta, penulispun sejak awal ragu Umar mampu bertemu dan mendapat clearance berhubungan dengan tokoh tertingggi Al Qaeda tersebut yang disembunyikan dengan security tingkat tinggi. Osama menjadi ikon teroris internasional, musuh bebuyutan AS nomor satu dan terus diburu karena dituduh bertanggung jawab atas serangan di WTC 911. Jaringan Al Qaeda selama 10 tahunan mampu menyembunyikan tokoh yang paling berpengaruh dan menakutkan itu dari kejaran intelijen AS.

Teka teki seputar keberadaan Umar Patek di Pakistan agak terungkap setelah CIA berhasil membunuh tokoh nomor dua Al-Qaeda, Atiyah Abd al-Rahman pada hari Senin 22 Agustus 2011 di Waziristan, wilayah barat laut Pakistan. Dia termasuk yang tewas dalam sebuah serangan pesawat tanpa awak. Atiyah, ahli bahan peledak, dan berumur sekitar 38 tahun diketahui sebagai tokoh penting kedua di Al Qaeda sejak 2006. Dia pada masa lalu adalah penghubung utama organisasi Al-Qaeda di Irak dan Iran, serta kelompok Salafis Aljazair. Pada bulan Januari, jaringan Aljazair berubah nama menjadi Al-Qaeda Maghreb Islam. Posisi Atiyah yang demikian tinggi dan penting pada organisasi Al Qaeda diketahui CIA setelah Navy Seals Six Team melakukan penyerangan ke persembunyian Osama di Abottabad. File yang ditemukan di kediaman Osama menyebutkan peran Atiyah adalah tokoh operasional paling penting yang dipercaya oleh Osama bin Laden. Keberadaan Atiyah di Waziristan adalah dalam rangka memimpin sisa-sisa Al-Qaeda, dan dia bertindak sebagai penghubung penting antara jajaran yang lebih rendah dari organisasi Al Qaeda dan pemimpin tertinggi, termasuk Osama bin Laden sebelum kematiannya pada bulan Mei lalu.

Seperti diberitakan, Umar Patek saat akan ditangkap sedang berhubungan dengan Shehzad Tahir, anggota Al Qaeda (Afiliasi Asia Tenggara) yang saat ditangkap sedang menjemput dua militan dari Prancis, yang baru tiba di Lahore. Mereka merencanakan akan bergerak bersama-sama menuju ke Warziristan. Keberadaan mereka sudah tercium intelijen Pakistan, dan ketiganya kemudian ditangkap. Setelah itu baru Umar Patek disergap. Jadi sangat besar kemungkinan adanya upaya Umar Patek sebagai perwakilan jaringan terorisme di Indonesia yang sedang melakukan setting ulang dalam membangun hubungan dengan Al Qaeda melalui Atiyah Abd al-Rahman tersebut. Dengan tewasnya Atiyah, menurut pejabat intelijen AS adalah pukulan besar bagi kelompok teroris. Kekuatan dan kemampuan Al Qaeda untuk beroperasi secara internasional dinilai terus menurun. Menhan AS Leon Panetta mengatakan kemenangan akan dicapai apabila mereka terus berhasil dalam melakukan serangan-serangan serupa.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita tidak bisa terus tinggal diam dan menanti munculnya serangan teror. Keberadaan Umar Patek di Pakistan yang menunjukkan kemungkinan setting ulang dukungan Al Qaeda ke teroris Indonesia perlu didalami. Memang kaitan keduanya baru merupakan sebuah indikasi, tetapi inilah indikasi analisa logik yang perlu didalami. Dalam beberapa serangan bom besar di Indonesia, serangan yang didukung Al Qaeda pada masa lalu kelasnya jelas berbeda dengan serangan teror lokal dengan bom sekelas molotov atau bom gendong gotri. Keberadaan dan eksistensi Amerika di Indonesia cukup bisa mengundang Al Qaeda datang ke negeri ini, karena memang disini sudah ada jaringan yang anti AS. Teroris pernah menyerang kepentingan dan simbol AS serta sekutunya sejak 2002 s/d 2009 dalam beberapa serangan bom bunuh diri. Terorisme jangan dilupakan, mereka bisa surut dan melakukan konsolidasi. Mereka mampu bersabar untuk menyerang sebuah target dan menunjukkan eksistensinya. Jarak waktu serangan bom Bali-2 pada 2005 hingga serangan terhadap JW Marriott-2 dan Ritz Carlton pada 2009 sekitar 3,5 tahun. Jadi apabila kita kurang waspada, meng-underestimate mereka, maka kita harus siap menerima kenyataan suatu saat bukan tidak mungkin akan terdengar lagi suara 'bum', dan kemudian beberapa dari kita menangis dan seperti biasa saling menyalahkan.

Sumber : P. Ramelan/detik.com. Foto : jppn.com