Minggu, 10 Juli 2011

Pahlawan dan Ideologi “Merah" dalam Historiografi Orde Baru dan Pasca Orde Baru

Oleh : Muhammad Ilham

(Makalah lengkap diterbitan dalam Jurnal Humaniora/Edisi Mei-Juni 2011)

Pengantar

Harus saya akui, teramat sulit untuk menukilkan kalam – meminjam istilah Raja Ali Haji - berkaitan dengan historiografi Orde Baru yang dikomparasikan dengan historiografi era pasca keruntuhan rezim yang dibangun oleh Soeharto tersebut. Kesulitan terletak pada beberapa hal, diantaranya masa Orde Baru yang relatif cukup panjang (1966-1998). Dengan time-dimention temporal tersebut, diasumsikan sangat (bahkan teramat banyak) karya-karya sejarah yang diterbitkan, dengan isu yang teramat beragam, dan oleh berbagai penulis dari berbagai “aliran”. Kemudian, kesulitan lain adalah faktor subjektifitas dan politisasi sejarah. Bagaimanapun juga, hingga hari ini, “gugatan” – untuk tidak menyebut kebencian - terhadap penulisan sejarah a-la Orde Baru masih belum bisa dihilangkan dalam ranah publik, khususnya diantara akademisi (baca: sejarawan). Buku-buku sejarah yang diterbitkan pada era Orde Baru, masih banyak yang “dicurigai” sebagai karya “pesanan” dan justifikasi politik. Saya berasumsi, tidak semua karya sejarah pada masa Orde Baru layak dicurigai, karena masih banyak karya yang netral dan tidak terkontaminasi untuk sekedar memberikan pembenaran terhadap rezim Orde Baru tersebut, walau sebenarnya, karya-karya sejarah jenis ini pada masa Orde Baru (melalui “tangan” Kejaksaan Agung) [1] tidak terdistribusi dengan baik di ranah publik. Pada sisi lain, tentunya tidak berarti karya-karya sejarah yang dilahirkan pada masa pasca Orde Baru cenderung netral dan objektif. Banyak juga karya-karya sejarah yang dilahirkan pada era ini terjebak pada subjektifitas ideologis, sekedar “menghantam” politisasi sejarah pada masa Orde Baru. Jadi tidaklah mengherankan apabila Gadamer mengatakan : “jangan kamu cari arti kata-kata, tapi pahami bagaimana kata-kata tersebut difungsikan”. Intinya, setiap karya sejarah, terlepas netral ataupun subjektif-ideologis, merupakan “kreasi zamannya” – atau dalam istilah Bennedicto Croce sebagai storia e storia contemporania, memahami kebenaran sejarah itu sebagai reaksi zamannya.

Dalam konteks diatas, maka dalam makalah ini saya lebih memfokuskan kepada komparasi historiografi dalam hal mainstream (arus/topik umum) penulisan sejarah. Bukan pada penilaian objektifitas dan subjektifitas masing-masing karya sejarah pada dua era berbeda ini. Pada masa Orde Baru, mainstream umum penulisan sejarah, cenderung “berseragam” – meminjam istilah Asvi Warman Adam[2] – untuk mengatakan bagaimana peran militer teramat dominan. Sedangkan pada masa pasca Orde Baru, sebagaimana halnya spirit reformasi – karya-karya sejarah cenderung “bebas”. Kejaksaan Agung tidak “segarang” masa Orde Baru dalam menyaring buku-buku yang diterbitkan. Diktum “Buku dilawan dengan Buku”, pada masa ini lebih dikedepankan.
Untuk itu, dalam makalah ini, saya membagi dalam beberapa bagian, diantaranya : konteks aksiologis sejarah ditulis, mainstream historiografi Orde Baru dan pasca Orde Baru serta konsep kepahlawanan yang militeristik.

Untuk Apa Sejarah Ditulis ?

Untuk apa dan untuk siapa sejarah ditulis ?”. Teringatlah saya dengan Bennedict R.O’ Gonnor Anderson[3] yang telah memperbaiki tesis dan asumsi dominant selama ini yang berkembang – khususnya sejarah versi Orde Baru – tentang penyebab dan aktor Gerakan 30 September 1965. Beberapa versi selama ini mengatakan bahwa penyebab dan aktor Gerakan 30 September 1965 tersebut adalah Ketua CC PKI ketika Gerakan 30 September 1965 terjadi.[4] DN merupakan singkatan dari Dipa Nusantara.[5] Kembali ke Anderson. Melalui Cornell Paper’s-nya, Anderson secara tidak langsung telah merevisi G 30 S/PKI menjadi G 30 S saja. Anderson mengatakan bahwa penyebab terjadinya gerakan tersebut bukan disebabkan oleh faktor tunggal, tapi cukup komprehensif karena analisis sejarah diseputar gerakan tersebut harus memasukkan faktor keterlibatan CIA, konflik internal Angkatan Darat dan peta politik global serta regional. Karya Anderson dan beberapa karya sejarah lain yang berkaitan dengan gerakan 30 September 1965 tersebut dipahami dalam konteks untuk memperbaiki “mainstream” yang selama ini berkembang.

Sulit memang menganggap semua karya sejarah akan bersikap objektif. Karena subjektifiyas itu merupakan kondisi objektif dalam penulisan sejarah. Standar keilmiahan sebuah disiplin ilmu, secara umum biasanya diukur dari cara kerja (metodologi) disiplin ilmu itu sendiri yang mengacu kepada metode-metode baku sehingga hasil dari kerja ilmiahnya akan dinilai sebagai sesuatu yang objektif, sebagaimana halnya pada disiplin-disiplin ilmu lainnya – eksak, khususnya. Disiplin ilmu sejarah memiliki kaedah-kaedah metode penelitian tersendiri sehingga dikatakan sebagai disiplin ilmu yang objektif. Ungkapan nan “klasik” Leopold van Ranke bahwa sejarah itu harus dikaji “seperi apa yang sebenarnya ia terjadi” memberikan pondasi awal ke-objetifitasan disiplin ilmu sejarah itu sendiri. J.B. Burry[6] misalnya mengatakan bahwa “sejarah itu sains, ia memiliki metode sendiri, tak lebih tak kurang”, kembali mempertegas bahwa ilmu sejarah bisa objektif karena metode sendiri. Karena memiliki metode sendiri, maka kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan dengan merujuk kepada metode yang dimilikinya. Karena memiliki metode sendiri, maka pola kerja dalam sebuah penelitian serta penulisan bisa dianggap sama dikalangan sejarawan di seluruh dunia. Dalam konteks inilah, objektif ilmu sejarah tersebut dipahami.

Bila ada perdebatan-perdebatan dari sebuah karya sejarah, biasanya berawal dari teknik analisi dimana teori-teori/paradigma/pendekatan dari si penulis sejarah/sejarawan tersebut “bermain”. Karena ini pula, hasil sebuah penelitian/tulisan sejarah terkadang berbeda-beda. Tapi, hampir semua disiplin ilmu, khususnya ilmu sosial, perbedaan-perbedaan tersebut selalu bersumber dari paradigma/pendekatan yang digunakan. Berangkat dari pemahaman ini, maka kerapkali kita menemukan beberapa karya sejarah dengan tema yang sama justru menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Karena seringkali karya sejarah tersebut menghasilkan simpulan yang berbeda, timbul anggapan bahwa karya sejarah tersebut dalam proses rekonstruksinya, tidak objektif. Padahal, perbedaan kesimpulan yang didapatkan bukan karena metode penelitian yang berbeda. Metode-nya sama, akan tetapi pendekatan yang digunakan berbeda. Banyak karya sejarah, untuk kasus-kasus yang sama, memperkuat hal ini. Kasus tragedi 30 September 1965 juga bisa kita lihat dalam konteks ini. Hermawan Sulistyo[7] melihat konflik pertanahan/agraria sebagai penyebab terjadinya pembunuhan besar-besaran terhadap eks-PKI dan Gerwani di wilayah Jawa Timur, sedangkan Asvi Warman Adam[8] justru melihat pembunuhan tersebut dari pendekatan Tipe Ideal-nya Weber, dimana eksistensi kepemimpinan kharismatik Kiai “tereduksi” oleh pengaruh PKI yang mengedepankan semangat “egaliterianisme” dan anti borjuis (termasuk borjuisasi agama). Untuk kasus yang sama, simpulannya berbeda. Tapi, rekonstruksi sejarah ini dianggap objektif karena mengikuti prosedur kerja baku yang dikenal dalam epistimologi sejarah.[9]

Kita masih ingat dengan ungkapan filosof - sejarawan Italia, Bennedicto Croce yang pernah mengeluarkan ungkapan terkenal : “storia e storia contemporanea”. Artinya kira-kira, sejarah yang benar-benar sejarah adalah sejarah kekinian. Ungkapan ini bisa dipahami dalam dua perspektif. Pertama, Croce ingin mengatakan bahwa penulisan sejarah yang baik haruslah berangkat dari kondisi atau realitas kekinian yang untuk kemudian dicari “akar”nya kedalam “relung panjang sejarah” – meminjam istilah Taufik Abdullah. Pemahaman kedua, Croce ingin menjelaskan posisinya dalam melihat sejarah. Baginya sejarah tersebut sangat terikat dengan konteks masanya yang diistilahkannya sebagai contemporanea – kekinian atau ke-masa-an. Intinya adalah, penulisan sejarah, nilai objektifitasnya tersebut sangat terikat dengan ruang dan waktu. Pemahaman orang terhadap suatu fenomena sejarah pada suatu era, akan berbeda dengan era yang lain.[10].
Dalam penulisan sejarah, ada kesan subjektif yang pada umumnya menimbulkan penulisan yang bias atau berat sebelah. Memang, kecenderungan untuk lumrah terjadi karena seorang sejarawan yang dalam bahasa sosiologi-nya : “seorang manusia individu, ia adalah gejala sosial, hasil proses dari masyarakatnya” dan dalam kedudukan seperti itulah, ia berusaha untuk mendekati sejarah/merekonstruksi sejarah itu sendiri yang pada prinsipnya hanya terjadi satu kali atau einmalig tersebut. Tentu, subjektifitas sangat sulit untuk dihindarinya. Bahkan, subjektifitas sejarawan itu sendiri juga sebuah entitas objektif dalam penulisan sejarah. Ketika ia mulai memilih judul dan pendekatan yang (akan) digunakannya, maka, subjektifitas tersebut telah “masuk” dan bermain. Oleh karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan subjektifitas, tidak bisa dihindari.

Namun yang tidak boleh dilakukan adalah subjektifitas dalam pengertian mengebiri data, memalsukan dokumen dan menyesuaikan dokumen-dokumen yang ada agar sesuai dengan “tuntutan” yang ada. Inilah yang dinamakan dengan subjektifitas ekstrem. Buku Babon Sejarah Nasional Indonesia yang “dimotori”oleh Nugroho Notosusanto, sebagai contoh, adalah salah satu bentuk “pemerkosaan dokumen” agar sejarah yang ditulis tersebut mengkisahkan peran besar Orde Baru, marginalisasi peran sipil, hegemoni dan keunggulan militer (dalam hal ini : Angkatan Darat) dan kesalahan yang “melulu” harus ditimpakan pada Soekarno dan PKI dibalik terjadinya Gerakan 30 September 1965. Peran histories Nugroho Notosusanto ini dibuka secara gamblang oleh Katherine Mac. Gregory (pembahasan lebih lanjut, lihat dibawah) yang membongkar habis “kepalsuan”Nugroho Notosusanto serta bagaimana Nugroho ini “memilah-milah” dokumen yang seharusnya masuk dalam bagian analisis, justru disisihkan karena berpotensi merendahkan peran histories Suharto, Orde Baru dan militer. Karena itu pulalah Chaterine memberi judul bukunya dengan “Ketika Sejarah Berseragam”. Cukup banyak buku-buku sejarah yang ditulis dengan memalsukan berbagai dokumen agar penulisan sejarah tersebut bisa sesuai dengan kehendak yang memesan (biasanya pemerintah).[11]

Ketika Sejarah “Berseragam”


Dalam beberapa minggu ini, saya begitu tertarik "kembali" (dalam tanda kutip : artinya, sudah lama tidak tertarik) tentang sejarah militer di Indonesia, khususnya militer di era Orde Baru. Kembali saya baca Harold Crouch[12], TB. Simatupang[13], karya-karya tentang “Perang Gerilya”-nya AH. Nasution dan Yahya Muhaimin serta Katherina Mc. Gregory, termasuk "catatan kritis" Bambang Purwanto dan Asvi warman Adam. Saya tak berkisah banyak tentang hegemoni militer - meminjam istilah Juergen Habermas - selama Orde Baru. Hegemoni yang ditafsirkan sebagai kekuatan yang masuk dalam segala lini kehidupan manusia Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Termasuk dalam hal ini penulisan sejarah, yang oleh Asvi Warman Adam dan Harold Crouch, "sejarah Orde Baru adalah sejarah versi militer". Diantara buku-buku diatas, buku Katharine E. McGregor - Ketika Sejarah Berseragam - sangat menarik. Pasca Orde Baru banyak kajian yang menyoroti keterlibatan kaum militer dalam berbagai ranah kehidupan kenegaraan bangsa ini. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari menguatnya peran militer pasca 1965 yang bermetamorfosa menjadi kekuatan yang menggurita dalam setiap sektor kehidupan, sehingga ada yang mengatakan bahwa pada masa Orde Baru militer Indonesia tak ubahnya seperti, sebuah negara dalam negara.
Dominasi militer tidak hanya tampak physically, tetapi juga mempunyai peranan yang kuat untuk mengontruksi alam bawah sadar massa rakyat Indonesia, sehingga yang terjadi, ingatan kolektif massa rakyat menjadi terkendalikan oleh nalar militer yang kemudian mempengaruhi tindak laku sebagian massa rakyat untuk menciptakan bayangan diri sebagai “mirip-mirip” kaum militer.

Katharine E. McGregor sebagai penulis buku ini melakukan kajian mendalam tentang bagaimana nalar pikir dikonstruksikan oleh persepsi-persepsi kesejarahan dari beberapa kelompok inti yang mempunyai wilayah kerja untuk memproduksi ingatan sejarah versi penguasa, yang didalamnya berkelit kelindan antara kepentingan ideologis patriotik dan pelanggengan mitos-mitos kekuasaan militer. Melalui pengkajian simbol-simbol dan penelurusan mitos-mitos wiracarita yang diciptakan, penulis buku ini relatif berhasil untuk melakukan pembongkaran dominasi historiografi yang selama Orde Baru telah menjadi narasi resmi. Buku yang berjudul asli History in Uniform : Military Ideology and the Construction of Indonesia’s Past ini hadir di hadapan pembaca Indonesia sebagai upaya untuk melacak bagaimana tafsir sejarah diciptakan dan membongkar kepentingan-kepentingan yang ada di baliknya, dan tentu saja supaya kita menjadi belajar dari sejarah yang selama ini hanya menciptakan dendam untuk dinegasikan dengan kepentingan bangsa yang lebih beradab dan manusiawi. Publik Indonesia bisa membaca karya berbobot ini, sehingga bisa melakukan refleksi atas mitos-mitos yang diciptakan di masa lalu. Dibawah ini, saya kutipkan pendapat beberapa pendapat tentang buku ini.


Ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama masa Orde Baru Suharto adalah sentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan sejarah militer dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer. Pada akhirnya versi militer tentang kejadian di tahun 1965 mendominasi historiografi periode tersebut dan melegitimasi naiknya rezim Orde Baru.
Jika rezim sebelumnya membangun sejarah Indonesia sebagai hasil dari perbenturan antara kolonialisme dan imperialisme melawan nasionalisme Indonesia dengan Soekarno sebagai pusat, maka Orde Baru melihat sejarah Indonesia sebagai hasil dari perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan menempatkan militer sebagai faktor penentu. Orde Baru hanya menggantikan Soekarno dengan militer, sementara itu para penentang Pancasila khususnya komunisme dan Islam ekstrimis telah menggantikan posisi kolonialisme dan imperialisme sebagai kambing hitam.Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang selama ini sebenarnya kita telah memiliki "jawaban" nya sendiri, khususnya yang berkaitan dengan dominasi militer (baca : ABRI) pada masa Orde Baru, diantaranya : ABRI merupakan institusi yang sangat sistematis, loyalis dan cerdas (bahkan hal ini juga "diamini" hingga sekarang oleh publik). Kemudian, ketika kita membaca buku Ketika Sejarah Berseragam tersebut, kita juga akan tahu bahwa sejarah akan berbahaya bila berada "ditangan" militer (walaupun di tangan "politisi" juga demikian). Selanjutnya, sejarah berbasiskan senjata, amat sangat ampuh untuk memupuk nasionalisme. Namun terlepas dari semua itu, sejarah haruslah dipaparkan apa adanya. Dalam bahasa Edmund Husserl, "harus dikembalikan kepada posisi awal perustiwa itu terjadi". Maka dari sana akan kita ketahui, apa sebenarnya motif yang melatarbelakanginya. Sejarah harus "ditelanjangi", dan Katherine nampaknya menelanjangi sejarah militer Indonesia masa Orde Baru. Ini bermanfaat bagi perjalanan bangsa ke depan. Dan inilah keberkahan orde reformasi, buku-buku sejenis Katherine ini begitu massif didistribusikan dan didiskusikan di berbagai tempat oleh berbagai kalangan. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada era Orde Baru.


[1] Pembahasan mengenai peranan Kejaksaan Agung (termasuk Departemen Penerangan) pada masa Orde Baru dalam menyaring, melarang bahkan membreidel pendistribusian buku-buku sejarah serta majalah/koran, lihat Laporan Khusus Majalah GATRA edisi Agustus 1999/Minggu ke-3.

[2] Asvi Warman Adam, Menguak Misteri Sejarah, Jakarta: Gramedia, 2010, hal. Vi

[3] Ibid., hal. 91

[4] Diantaranya Sekretariat Negara Republik Indonesia, Buku Putih G 30 S, Jakarta: Setneg RI, 1993; William E. Liddle, Cultural and Class Politics in New Order Indonesia, Singapore: Institute of Southeast Asia Studies, 1977; Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, Kudeta Gerakan 30 September 1965, Djakarta: Pembimbing, 1968; Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Jilid VI, Jakarta: Balai Pustaka, 1998; Bernard Dahm, Sukarno and the Struggle of Indonesia Independence, Ithaca: Cornell Univ. Press, 1969; Soegiarso Soerojo, Siapa Menabur Angfin Akan Menuai Badai, Jakarta: Sinar Harapan, 1989 – untuk menyebut berapa buku diantaranya. Diantara buku-buku yang “bersberangan” dengan teori G 30 S/PKI (pakai : PKI) tersebut adalah Anderson yang dikenal dengan Cornell Papers-nya tersebut. Karya Anderson ini tidak dibolehkan oleh Kejaksaan Agung pada masa Orde Baru untuk dipublikasikan-didistribusikan kepada publik.

[5] Ada juga beberapa versi lain yang mengatakan bahwa DN adalah singkatan dari Danu Nusantara. Sebenarnya, DN merupakan singkatan dari Dja’far Nawawi Aidit. Karena Dja’far Nawawi terkesan “religius”, maka Aidit menggantinya dengan Dipa Nusantara/Danu Nusantara, sebagaimana halnya dengan tokoh komunis Sumatera Barat Chalid Salim (adik Haji Agus Salim) yang mengganti label namanya dengan Chalid Xalim. Tapi sudahlah, setiap orang berhak “mengkreasi” namanya.

[6] Wan Rahman Wan Latief, Sejarah dan Pensejarahan, Bangi, Selangor DE.: Universiti Kebangsaan Malaysia Press, 2003, hal. 118

[7] Hermawan Sulistyo, Pembunuhan di Ladang Tebu, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hal. 36

[8] Asvi Warman Adam, “Meluruskan Pemahaman Sejarah September 1965” dalam Kompas 20 September 2003 dalam www.kompas.com/ (diunggah tanggal 7 Juli 2011

[9] Simpulan berbeda, karena pendekatannya berbeda. Untuk hal yang sama, dalam proses bimbingan skripsi, saya pernah mengalami hal serupa. Membimbing beberapa orang mahasiswa mengenai kasus yang sama, namun dilihat dari perspektif/pendekatan yang berbeda. Skripsi pertama tentang “Dinamika Fungsi Rumah Adat” yang dilihat dari pendekatan sosiologi antropologi (secara general). Mahasiswa bersangkutan melihat perubahan fungsi-fungsi rumah adapt tersebut dalam spectrum waktu dengan mengedepankan teori structural fungsional. Sementara mahasiswa yang lain justru melihat “Dinamika Fungsi Rumah Adat” tersebut dari perspektif arkeologis. Mahasiswa tersebut melihat perubahan-perubahan fungsi dari meaning (pemaknaan) dari tinggalan-tinggalan material yang ada di Rumah Adat itu. Simpulannya, terjadi perbedaan signifikan diantara dua skripsi ini. Akan tetapi, metode yang mereka gunakan sama sebagaimana yang dikenal dalam ilmu sejarah, bagi saya, penelitian mereka tetap objektif karena memiliki parameter untuk bisa dipertanggungjawabkan.

[10] Ketika sebuah kalimat tertera dalam sebuah arsip yang dicatat pada era 1910-an : ”Anak-anak di Air Bangis berjalan di tepian soengai pada senja hari pergi sumbajang dan mengadji ke langgar dan poelang tidak pernah laroet malam sehingganja sumbajang isa’ (Isya: pen.) hanja diikoeti oleh orang-prang tua sahaja” (Lihat HAA. Haars, Hikajat Perang : Catatan 1st the Luittenant der Infanteri, Batavia: G. Golf and Co., 1897. Buku dalam bentuk PDF Penulis dapatkan dari kiriman seorang kawan dari Leiden Universitet Belanda). Kalimat “miring” akan berbeda pemahamannya bila ditafsirkan pada masa sekarang. Senja pada masa itu akan dipahami dalam durasi waktu pukul 4 – 5 sore, sedangkan larut malam dimaknai sebelum sholat Isya (lebih kurang pukul 8 malam). Bila hal tersebut ditafsirkan menurut “kacamata” sekarang, maka senja itu adalah pukul 6 – 7 malam, sedangkan larut malam diatas pukul 10 malam. Demikian juga dengan konsepsi poligami, misalnya. Banyak karya-karya sejarah, khususnya yang berkaitan dengan biografi ulama yang berkaitan dengan praktek poligami. Misalnya penggalan kalimat berikut : Syekh Halaban yang dianggap sebagai ulama kharismatik. Dengan potensi kepemimpinan seperti ini, sangatlah mudah bagi Syekh Halaban untuk memiliki istri banyak, bahkan para orang tua berlomba-lomba untuk “menyodorkan” anak mereka menjadi istri Syekh yang juga guru dari ulama tradisional Minangkabau terkenal – Syekh Inyiak Canduang” (Tim Peneliti FIBA, 2007). Konsepsi poligami dalam kalangan masyarakat pada masa-masa tersebut diatas adalah suatu kondisi sosial yang fungsional, baik bagi masyarakat maupun bagi elit agama itu sendiri. Nilai-nilai dan fungsi ini hanya bisa diletakkan pada era itu. Ini tidak akan bisa kita tempatkan pada masa-masa A’a Gym ataupun Zainuddin MZ. Apa yang dikemukakan diatas juga secara “gamblang” pernah dikemukakan dengan baik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-sejarahnya yang bertitelkan “Gadis Pantai”. Dengan begitu bagusnya Pram menarasikan bagaimana seorang ulama begitu dikonstruksikan oleh realitas sosial dalam strata yang demikian tinggi. Walau bukan dalam bentuk karya sejarah “sebagaimana mestinya”, akan tetapi novel-sejarah ini setidaknya mampu memberikan kepada kita gambaran yang terjadi pada era awal 1900-an, khususnya di Pantai Selatan Jawa. Bila kita membaca Gadis Pantai ini dengan kaca mata kita sekarang, maka akan kita simpulkan : “ulama yang maniac seks, ulama yang suka daun-daun muda dan ulama yang sangat otoriter serta ulama yang sombong-pongah dengan keulamaannya”. Begitu juga dengan narasi berikut ini : “Sebagaimana anak muda kampoeng lainnja, tentunja Ridjal amat senang sekali bisa berkawan dengan kakak sepoepoenja jang manis itu. Namanya Halimah. Tapi sajang, ianja akan berkahwin dengan seorang saudagar kaja dari Bangkahulu, saudagar jang juga ulama karena baru pulang dari tanah Mekkah. Halimah yang baroe beroemoer 14 tahun, akan berkahwin beberapa minggoe lagi” (Muhammad Radjab, Masa Kecil di Kampung, 1938). Tentu, bila Syekh Puji hidup pada masa Ridjal ini hidup, ia akan dapat memperistri “anak dibawah umur”. Bila Syekh Puji juga hidup pada masa diatas tersebut, tentu juga ia tidak akan dikenakan sanksi mengawini anak-anak usia dibawah umur. Tapi sayang, Syekh Puji hidup pada masa sekarang. Dan karena itu, alangkah juga naifnya bila kita melihat fenomena diatas dalam pemahaman kacama kita saat ini pula. Karena itu pulalah, Croce dan kawan-kawannya beranggapan bahwa kebenaran sejarah (tepatnya : objektifitas sejarah itu) sangat bersifat relatif.

[11] Di Negara-negara otoriter seperti Korea Utara, Irak pada masa Saddam Hussein, Protocol Zion dalam menjustifikasi “duka-lara” sejarah bangsa Yahudi – merupakan beberapa contoh subjektifitas ekstrim dalam penulisan sejarah. Interpretasi dari penulis merupakan bentuk subjektifitas yang tidak bisa dihindari. Subjektifitas jenis ini bisa diminimalisir dengan latihan dan kepatuhan akan metode yang ada. Akan tetapi, subjektifitas dengan “memalsukan” dokumen-dokumen yang ada agar menguntungkan pihak tertentu, itulah subjektifitas yang tidak dibolehkan. Dan ini tidak membutuhkan latihan ataupun kepatuhan ketat terhadap metode penelitian, karena seorang Prof. Doktor “botak” sekalipun, bisa “terjebak” dan mau “dijebak” dalam subjektifitas ekstrem ini.

[12] Harold Crouch, Militer dalam Politik Indonesia, terjemahan, Jakarta: Sinar Harapan Press, 2000.

[13] TB. Simatupang, “Militer dalam Ketatanegaraan Indonesia”, dalam Prisma Edisi XVI/1982.

LEBANON : "Kuntum Mawar dari Tuhan"

Oleh : Muhammad Ilham

Adalah penyair legendaris dunia Arab yang berasal dari Lebanon, Gibran Kahlil Gibran, pernah dengan bangga mengatakan Lebanon adalah "sekuntum mawar yang diletakkan Tuhan di bumi". Lebanon, sebuah negara kecil yang memiliki jumlah penduduk lebih kurang 3.500.000 jiwa (2001) merupakan negara yang memiliki panorama indah sehingga dunia menggelari negara asal Gibran ini dengan Paris van Arab. Tapi sayang, sejak timbulnya ketidakstabilan politik yang bermula pada tahun 1970, Lebanon menjadi negara "luka yang hancur koyak moyak serta merobah pandangan dunia dari negeri mawar menjadi negeri duri yang penuh dengan bom", setidaknya demikian bunyi penggalan puisi salah seorang penyair Malaysia dalam suatu acara bedah buku Gibran di pelataran UKMalaysia beberapa waktu lalu. Dengan memiliki luas 4.015 km², luas Lebanon lebih kecil dari negara Jordania dan separuh dari luas negara Israel, namun lebih besar dari negara Palestina.2 Keempat negara kecil ini (Lebanon, Jordania, Israel dan Palestina) merupakan daerah penting dan memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam mempengaruhi peta politik Timur Tengah bahkan dunia. Bersama-sama dengan Syiria, wilayah-wilayah ini dikenal sebagai Syam pada zaman Rasulullah SAW. Bersama dengan Mesir, Iraq dan Arab Saudi, mereka merupakan negeri-negeri para nabi. Disinilah bertemu berbagai agama, termasuk agama Yahudi, Kristen dan Islam. Yerusalem yang terdapat di wilayah ini, di Palestina yang sekarang dikuasai oleh Israel, merupakan kota penting dalam sejarah agama tiga agama Samawi diatas. Di kota ini terdapat bangunan-bangunan sakral, masjid al-Aqsha yang merupakan salah satu masjid suci ummat Islam, gereja Sepulchre dan Golgotta Rock yang merupakan situs religius ummat Kristen dimana Yesus Kristus disalib dan Dinding Ratapan yang merupakan bangunan suci ummat Yahudi.3 Sehingga tidaklah mengherankan apabila Yerusalem menjadi daerah yang selalu diperebutkan dan menjadi daerah pusaran konflik di Timur Tengah. Setiap terjadi konflik dalam memperebutkan Yerusalem, maka ke empat wilayah diatas : Jordania, Palestina, Israel dan Lebanon, merupakan daerah yang paling merasakan nuansa konflik itu.

Pada zaman Rasulullah SAW. Wilayah-wilayah ini merupakan bahagian dari Imperium Romawi atau Bizantium. Namun pada masa dinasti Muawiyah yang berpusat di Damsyik (ibukota negara Syiria sekarang), Yerusalem berada dibawah kekuasaan klan Umayyah ini. Pihak Kristen kemudian mencoba untuk merampas kembali Yerusalem melalui serial Perang Salib (the Crusades) yang memakan masa ratusan tahun. Mereka kemudian berhasil menaklukkan Yerusalem dan membangun beberapa kerajaan Kristen di beberapa tempat di wilayah itu. Barat menamakan daerah-daerah taklukan tersebut dengan Levant dan kehadiran orang Kristen yang banyak terdapat disekitar wilayah Lebanon hari ini. Kesan Perang Salib cukup besar bagi dunia Eropa karena mampu membuka dan meretas kemajuan peradaban Barat yang selama ini terkungkung dalam kekuasaan gereja Katholik yang otoriter. Melalui interaksi Perang Salib ini, dunia barat menyerap pemikiran tradisi klasik Yunani dan Romawi yang selama ini dipelajari, dimodifikasi dan diperkaya oleh tradisi intelektual Islam. Mulai dari sinilah berawal Renaisans di Italia, Einleightment di Eropa secara umum dan akhirnya Revolusi Industri di Inggris yang menjadi dasar pada peradaban dunia Barat (terutama Eropa) pada hari ini.

Yerusalem kembali ke tangan Islam pada masa Sulthan Salahuddin al-Ayyubi berkuasa di Mesir. Perjuangan dan penghormatan Salahuddin terhadap etika humanisme dalam peperangan bisa dilihat dalam film yang belakangan ini menjadi bahan perbincangan dan pujian hangat di dunia, Kingdom of Heaven. Yerusalem kemudian di kuasai oleh Dinasti Utsmaniyah ketika Konstantinopel tumbang. Wilayah-wilayah yang dikenali sebagai Lebanon, Jordania, Israel dan Palestina merupakan daerah yang dikuasi oleh Dinasti yang berpusat di Istambul Turki ini. Ketika Dinasti Uthmaniyah tumbang dan dominasi Barat muncul di daerah ini, Perancis menguasai Syiria yang didalamnya termasuk yang kini dikenali sebagai Lebanon. Perancis kemudian memisahkan Lebanon atas Syiria pada 1 September 1920. Ia kemudian menjadi wilayah protektorat Perancis dari tahun 1921 hingga 1941. Lebanon kemudian menjadi satu-satunya wilayah Kristen di Asia Barat dan dikalangan negara Arab. Pada masa ini, Kristen merupakan agama mayoritas yang dipeluk penduduk Lebanon dan melalui Perjanjian Nasional tahun 1943, semua jawatan umum dibagikan antara komunitas yang menjadi entitas riil agama di Lebanon yaitu Sunni, Syiah, Druze dan Kristen. Kristen sebagai agama mayoritas menguasai negara itu bukan hanya dalam bidang politik tetapi juga dalam bidang ekonomi. Tetapi pada tahun 1970, demografi penduduk Lebanon mulai berobah. Kristen tidak lagi menjadi mayoritas. Pada masa ini, komposisi penduduk adalah lebih kurang 70% Islam dan 30% Kristen. Orang Islam, khususnya mazhab Syiah -- golongan yang termarginalisasikan dalam politik dan ekonomi Lebanon -- mulai menuntut persamaan hak. Dari sinilah mulai berawal Perang Saudara yang dahsyat dan ketidakstabilan politik di Lebanon dari tahun 1970 hingga 1990. Perang saudara di Lebanon ini tidak hanya merupakan pertikaian antara orang Islam dan Kristen semata-mata. Ini karena ada orang Kristen yang berpihak kepada kelompok Islam, dan sebaliknya. Perang saudara ini lebih kepada pertikaian antara faksi-faksi yang berkuasa yang melibatkan kekuatan-kekuatan lain bukan saja pada tingkat regional, tetapi juga mempengaruhi konstelasi politik dunia.

Pada tingkat regional, ia melibatkan pasukan gerilyawan dan pelarian Palestina yang diusir oleh pemerintah Jordania dan terpaksa mendirikan kamp-kamp di Beirut. Dengan kehadiran para pelarian dan gerilyawan Palestina yang umumnya merupakan anggota dan simpatisan PLO (Palestinean Liberation Organization) membuat pihak Israel terpancing untuk menyerang Beirut dengan alasan keamanan internal negara mereka. Akibatnya, Israel berusaha untuk menaklukkan lebanon bahkan hingga membunuh begitu banyak pengungsi Palestina di kamp Shabra dan Shatila6 dengan memakai perpanjangan tangan pasukan Falangis (sebuah faksi militer Kristen Lebanon yang sangat membenci orang-orang Palestina). Perancis juga turut memasuki Lebanon untuk membela orang Kristen disana. Syiria juga terpaksa membantu sekutu-sekutu mereka disana. Iran yang baru selesai melakukan transisi politik melalui Revolusi Islam pada tahun 1979 turut membantu mazhab Syiah melalui Amal dan Hizbullah. Pada sisi lain, Amerika Serikat juga turut terlibat. Negara Adi Kuasa ini mengirim tentara laut mereka ke Lebanon. Sementara itu, Uni Sovyet yang menjadi sekutu Syiria turut membantu secara tidak langsung. Keadaan di Lebanon begitu kompleks karena banyak kekuatan-kekuatan asing yang terlibat sementara negara ini menjadi strategis karena ia dilihat sebagai kunci terhadap keselamatan Israel. Bagi AS, keselamatan Israel adalah segala-galanya. Sebagai satu-satunya negara Arab yang memiliki jumlah orang Kristen yang cukup banyak, Lebanon menjadi begitu istimewa bagi Eropa, malah ada yang melihatnya sebagai pewaris historis kerajaan-kerajaan salib pada zaman silam. Syiria yang begitu intens hingga sekarang dalam mempengaruhi sistem politik Lebanon, masuk kenegara ini pada tahun 1976 atas undangan Presiden Lebanon pada masa itu, Franjieh. Undangan ini kemudian mengawali keterlibatan besar Syiria atas Lebanon. Syiria kemudian menempatkan 30.000 anggota tentaranya untuk menjaga kestabilan politik dan keamanan. Sejak mulai saat itu, ketergantungan Lebanon terhadap Syiria makin tinggi. Selama dibawah pengawasan Syiria inilah, untuk pertama sekali Lebanon mengadakan pemilu pada bulan Mei 1998. Pengaruh Syiria dan Kestabilan politik dan keamanan ini cukup lama dinikmati oleh negara Palestina hingga terjadinya pembunuhan bekas PM Lebanon, Rafik Hariri, seorang Sunni kharismatik yang menentang keberadaan Syiria di Lebanon. Akibatnya dari pembunuhan ini, terjadi demonstrasi besar-besaran menuntut pengunduran tentara Syiria dari Lebanon. Mereka menentang Presiden Emille Lahoud yang didukung oleh Syiria.

Akibat tekanan dari rakyat Lebanon yang menganggap Syiria berada dibelakang pembunuhan PM Rafik Hariri serta harapan dari berbagai negara-negara Arab, akhirnya Syiria menarik tentaranya dari Lebanon. Negara ini kemudian mengadakan pemilihan umum pada bulan Juni 2005 yang lalu. Hasil pemilihan umum ini menunjukkan sebuah fenomena politik yang cukup menarik dimana disamping terjadinya kerjasama antara kelompok Islam dengan Kristen, juga terjadi kerjasama antara kelompok yang pro-Syiria dengan kelompok yang anti-Syiria. Dalam pemilu bulan Juni yang lalu, Lebanon menyaksikan persekutuan antara faksi yang diketuai oleh Saad Hariri, anak Rafik Hariri, yang menentang kehadiran Syiria dengan faksi pro-Syiria yang diketuai oleh Suleiman Franjieh, cucu Franjieh yang mengundang Syiria pada tahun 1976. Parlemen Lebanon mempunyai 128 kursi dengan masing-masing separuh diperuntukkan untuk kelompok Kristen dan Islam. Dalam pilihan raya baru lalu terlihat secara jelas bahwa kelompok pimpinan Hariri iaitu oposisi yang anti-Syiria memperoleh 28 dari 78 kursi parlemen yang diperebutkan. Hasil ini untuk pertama sekalunya setelah Perang Saudara, kelompok yang anti-Syiria mendapat kursi yang cukup signifikan. Sementara itu, pihak pro-Syiria memperoleh 21 kursi. Di sebelah selatan Lebanon, kelompok Hizbullah dan Amal mendapat 35 kursi. Mereka umumnya adalah pro-Syiria akan tetapi mampu bekerjasama dengan baik dengan yang anti-Syiria. Fenomena politik di Lebanon, selepas terbunuhnya Rafik Hariri dan ditariknya pasukan Syiria, menunjukkan sesuatu yang menarik sekali dimana kelompok yang anti Syiria mampu bekerjasama dengan yang pro-Syiria. Sesuatu yang selama ini tidak akan mungkin terwujud selama ini. Rupanya masyarakat Lebanon menyadari bahwa mereka telah lelah dalam konflik politik yang berkepanjangan dan mereka sudah merasa mampu menjaga kedaulatan politik negara mereka tanpa berada dibawah naungan dan bayang-bayang Syiria.

Referensi : wikipedia/Riza Shihbudi (1998)

"Islam Politik" (yang) Dicurigai

Oleh : Muhammad Ilham

/Bulan yang bundar/melukis denah masa depan/tombak dan bunga/berdampingan bagai mempelai/ (Zawawi Imron)

Ibarat kue lapis yang berlapis-lapis, maka proses kedatangan Islam di Indonesia juga berlapis-lapis. Pada lapisan pertama, Islam "datang" melalui pedagang-pedagang. Sedangkan pada lapisan kedua, ditandai adanya sebuah eksistensi politis yang bernama kerajaan seperti di Sumatera Utara - Aceh. Pada lapisan ketiga, perkembangan Islam demikian cepat sebagai bentuk kompetisi dengan Kristen. Sejarah "sepakat" dalam lapisan ketiga ini, persaingan ini dimenangkan oleh Islam. Dalam lapisan ini VOC (Vereeniging de Oost Compagnie) yang diistilahkan sebagai "negara berjalan" itu ada dan mendirikan Hindia Belanda. Tapi daerah-daerah pinggiran pantai tetap berada dalam kekuasaan orang Islam. Peristiwa demi peristiwa dalam lapisan ketiga ini, tidak bisa dilupakan oleh orang Kristen. Pada lapisan ini pula, usaha Kristenisasi di daerah Jawa dan Indonesia Timur berjalan dengan massif. Persaingan tak terhindarkan. Setidaknya demikian yang terlihat dari berbagai konflik dan perlawanan rakyat daerah vis a vis VOC yang terjadi, nuansa menghadapkan Islam dan Kristen tak terhindarkan. Sejak lapisan ketiga ini, persaingan terus berlanjut. Dalam masa pergerakan, muncul perdebatan-perdebatan tentang bentuk ideal sebuah negara yang di"imajinasi"kan. Sebagian (mayoritas) berkeinginan mendirikan negara diatas landasan Islam republik, padasisi lain menginginkan bentuk negara nasional. Sejarah kemudian mencatat, bagaimana ini terefleksi dari perdebatan-perdebatan monumental antara Soekarno dengan Mohammad Natsir. Perdebatan yang bersumbu pada Mukaddimah UUD atau biasa dikenal dengan Piagam Jakarta. Piagam Jakarta yang hingga hari ini begitu disesali sebagian ummat Islam Indonesia. Penyesalan terhadap sebuah - dalam bahasa Taufik Abdullah (1999) - kompromi antara negara nasionalis dengan moral religius yang tertulis dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Tak bisa dipungkiri, kompromi ini merupakan bentuk "ketakutan" sebagian kalangan akan Islam politik.

Dalam perkembangan sejarah berikutnya, beberapa gerakan perlawanan terhadap entitas sah negara-bangsa Indonesia terjadi satu per satu. Darul Islam-nya Kartosuwiryo berdiri di Jawa Barat. Kehadiran Darul Islam, sebagaimana yang ditulis Al-Chaidar (2002), menimbulkan mitos bahwa seolah-olah Islam di Indonesia adalah entitas yang menakutkan dan militan. Sebuah generalisasi yang pada hakikatnya terus berkembang hingga masa kini. Padahal Islam di Indonesiaitu tidaklah monolitik. Islam di Indonesia itu bukan hanya tipikal Darul Islam dengan NII-nya itu saja. Islam di Indonesia ada Nahdlatul Ulama, ada Muhammadiyah, ada Perti dan seterusnya. Ketakutan akan militansi Islam ini terus ter/dijaga. Seluruh idiom ataupun labelisasi yang berkaitan dengan Islam di Indonesia, selalu dipandang dengan "curiga". Lihatlah ketika istilah "Kebangkitan Islam" diperkenalkan. Istilah ini juga dilihat sebagai gerakan yang perlu dicurigai, setidaknya demikian yang terasa di akhir rezim Orde Baru. Padahal gerakan kebangkitan Islam ini, merupakan gerakan internasional. Tapi, tetap saja sebagian kalangan merasa takut, terutama dari entitas Kristen Indonesia.

Sejak lapisan ketiga hingga terus terbentuknya republik ini, ketakutan akan Islam politik terus terbina. Pada masa Orde Baru, "cita rasa"nya terasa dengan kental. Orde Baru dipenuhi oleh jargon-jargon politis yang ingin menyampaikan kepada publik bahwa Islam politik pantas untuk "dicurigai". Jargon kanan untuk memetakan Islam, sementara jargon kiri untuk PKI. Bagaimanapun juga, jargon ini merupakan salah satu bentuk grand design kelompok-kelompok non-Islam yang mencurigai kebangkitan Islam politik. Militansi beberapa kelompok Islam masa Orde Lama dijadikan sebagai landasan historis untuk pembenaran, tanpa melihat bahwa entitas Islam Indonesia bukan hanya kelompok garis keras itu saja. Di saat-sata akhir kekuasaan Soeharto, jargon baru dalam ranah politik Indonesia - ijo royo-royo. Refleksi mendekatnya Soeharto dengan Islam, dalam bahasa Emha Ainun Nadjid, religiusitas politik Soeharto. Kondisi ini membuat kelompok Kristen menjadi takut, seakan-akan Islam bagian dari establishment yang otoriter.

Sejarawan Taufik Abdullah suatu ketika pernah menyatakan bahwa itulah nasib dari orang yang mayoritas. Walau berwajah baik, selalu dicurigai. Orang Jawa yang secara demografis dan politis lebih mayoritas, selalu di ejek oleh orang luar Jawa dan seterusnya. Padahal, kata Taufik Abdullah, kalau orang itu sadar dengan keminoritasannya, tentu mereka tidaklah perlu takut pada mayoritas. Dalam ranah psikologi dikenal istilah inferiorityof minority. Ketakutan akan Islam politik lebih disebabkan pada perasaan kurang percaya diri kelompok minoritas. Karena itu, kata kunci yang perlu ditumbuhkembangkan adalah minoritas yang percaya diri, mereka tidak akan takut terhadap mayoritas. Kalangan minoritas Indonesia tidak akan mencurigai Islam politik. Walau gerakan-gerakan Islam garis keras mulai "menaik" di Indonesia pasca Orde Baru, usaha-usaha penghilangan kesan Islam yang "menakutkan", rasanya tidak perlu. Makin diusahakan, akan makin dicurigai. Samalah dengan infotainment, semakin artis tersebut diperbincangkan, mungkin artis itu akan semakin populer dan dicurigai. Biarlah berjalan dengan alamiah. Persoalannya bukan terletak pada golongan mayoritas, tapi pada golongan minoritas. Islam itu biasa-biasa saja, apalagi Islam di Indonesia yang tidak monolitik. Coba lihat, bagaimana sikap politik antara orang NU dengan Muhammadiyah, antara Al-Washliyah dengan Perti - mereka tidak akan pernah sama. NU dibawah kepemimpinan Gus Dur dan Said Agil Siradj saja, berbeda dalam menyikapi gaya politik SBY. Analisis saja, Muhammadiyah di bawah Dien Syamsuddin dengan Muhammadiyah di bawah Syafii Ma'arif mensikapi perkembangan politik Indonesia, pasti beda. Tapi itu tadi, setiap orang Islam membicarakan masalah politik, selalu merasa menakutkan. Padahal, sebagaimana yang diungkapkan group hip hop Saykoji, "Islam itu indah, Islam itu ramah. Wallahu 'alam !.

Kamis, 07 Juli 2011

Hikajat Popoeler Tan Malaka : "Pacar Merah Indonesia"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Sungai Brantas, Kediri, Jawa Timur, 19 Februari 1948. Di sinilah Tan Malaka tamat riwayat. Tak banyak penggalan fisik dari tokoh legendaris ini. Jauh dari “kemewahan” fotografis ala Bung Karno (yang memiliki ribuan koleksi foto dalam berbagai momen). Seorang pejuang kiri nasionalis yang radikal ini, yang bernama lengkap Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka, hanya menyisakan sedikit saja kenangan dalam bentuk fisik. Kita kini bahkan harus menikmati foto klasik hitam putih itu-itu melulu —-demi menggambarkan raut muka Tan Malaka. Di novel ini, tegas-tegas menggambarkan Tan Malaka sebagai seorang messiah (Ratu Adil, yang sakti mandraguna). Kala itu, Indonesia bergeliat dengan sebuah era yang disebut oleh sejarawan Taufik Abdullah sebagai A Decade of Ideology. Semangat zaman (zeitgeist) kental dengan nuansa pergumulan ideologi dan api pembebasan —dari cengkraman kumpeni. Penyerapan dan transfer ideologi sedemikian marak (termasuk dari dunia Eropa dan dunia Islam). Sederetan tokoh ideolog (corong pengobar ideologi) berlahiran. Seperti H.O.S Tjokraminoto, Akhmad Dahlan, Bung Karno, Hatta, Semaun, Sneevilt, dan sudah pasti Tan Malaka sendiri.

Namun, lebih dari nama-nama tadi, hanya Tan Malaka yang nyaris dimitoskan di saat itu juga (era 30-an). Terbukti dari novel ini. Berjudul Patjar Merah Indonesia, karangan Matu Mona, yang terbit pertama kali di Tahun 1939, dan diterbitkan kembali oleh Penerbit Beranda di Tahun 2001 (buku jilid I) dan di Tahun 2010 (buku jilid II). Lepas dari muatan fiktif di buku ini, bahwa setidaknya Novel ini memperkuat asumsi yang patut kita angkat kembali. Betapapun ideologi barat berdatangan, tetapi tetap saja butuh domestifikasi, alias penjinakan dan adaptasi, agar sesuai dengan alam pikir masyarakat Indonesia. Masyarakat politik Indonesia waktu itu tak sepenuhnya bisa mengikuti pakem ideologi dari luar yang kental dengan rasionalisme, materialism, pragmatisme, nasionalisme, liberalisme, atau komunisme sekalipun. Sebab, keyakinan-keyakinan mistis bin takhyul masih sangat dominan. Tan Malaka sekalipun, tak bisa bebas dari kultur seperti ini. Ia dipuja karena peran-perannya yang rahasia. Kalau memakai bahasa gaul sekarang, maka sosok Tan Malaka sungguh seksi (penuh daya tarik). Bukankah benar tesis dari Ruth McVey, bahwa para pengobar komunisme zaman itu, tak benar-benar disiplin menerapkan Marxisme Leninisme yang anti takhyul (dan bahkan tak percaya Tuhan)? Mereka justru ringan saja mencampur-baurkan komunisme dengan ajaran-ajaran khas Jawa dan Sunda (seperti kasus Banten). Tan Malaka sendiri, seperti terurai dalam buku Pemikiran Politik Tan Malaka, karya Safrizal Rambe (Pustaka Pelajar, Februari 2003), tak pernah menafikan gejala “irasionalitas” di masyarakat Indonesia. Menurut Tan Malaka, basis filsafat materialism yang menafikan segala sesuatu yang tidak konkret, tidaklah cocok diterapkan di Indonesia. Karena bagaimanapun, sebagai fakta sosial, irasionalisme dan takhyul di Indonesia itu ada. Dari sini, menjadi kuatlah bukti (atau klaim) dari penerbit novel ini, bahwa di zamannya, Novel Patjar Merah Indonesia, yang mencampur-baurkan mitos dan kenyataan tentang Tan Malaka ini sangat laris, terbit berkali-kali, terjual ribuan copy.

Buku ini terdiri dari dua jilid. Mengisahkan petualangan tokoh-tokoh PKI di pembuangan, seperti Tan Malaka (yang hadir dengan berbagai nama tergantung di mana ia tinggal), Semaun (Semaunov), Alimin (Aliminsky), Musso (Paul Mussotte), Darsono (Darsonov), Soebakat (Tjo Beng Kiat), dan lain-lain. Mereka terus berjuang melawan imperialism, baik di Indonesia, Asia, Arab, dan juga Eropa. Tokoh utamanya, yaitu Patjar Merah (alias Tan Malaka), dikisahkan sangat lihai memakai ilmu-ilmu gaib, berkali-kali lolos dari sergapan para intel di manapun ia berada. Secara dramatik, kisah Tan Malaka terurai detil. Mulai dari kedatangannya di negeri Siam (Thailand), menjalin romantika asmara dengan Madmoseille Ninon yang cantik jelita. Alur kemudian berpindah-pindah. Disertai dengan adegan-adegan spionase, pengkhianatan, dinas rahasia, peran ganda, dan unsur ketegangan. Di jilid satu, narasi seperti ini sangat dominan. Sementara di jilid II, pembaca di bawa ke perantauan orang-orang seperti Semaunov, Darsonov, Paul Mussotte, dan Aliminsky. Tetapi ada petikan menarik. Bahwa ketika Musso dan Darsono diburu kaum fasis Nazi (yang saat itu mencekam Jerman, Italia, Perancis, dan Spanyol), keduanya singgah dan mencari penyelamatan di dalam masjjid. Lantas terurailah percakapan dari kedua orang itu, tentang kesaktian masing-masing yang diajarkan guru-guru mereka di kampung, oleh para Kyai tempat mereka mengaji. Sungguh sebuah narasi yang nyaris konyol, bila ditubrukkan dengan wawasan publik Indonesia, yang mengecak nama-nama tersebut sebagai atheis… !

Sebagai catatan akhir, tak mudah memperlakukan posisi buku ini. Lantaran layak berada dalam kategori apapun. Meski fiktif, tetapi latar dan konteks kejadian terekam dalam dokumen sejarah. Penulisnya pun juga adalah tokoh pergerakan (sempat menjadi tahanan Polisi Rahasia Belanda). Konon, penulis buku ini yang bernama asli Hasbullah Parindoerie), adalah praktisi jurnalistik yang sangat intelektual, dan mengaku pernah bertemu secara langsung dengan Tan Malaka di Singapura. Penulis buku ini pula yang memperkenalkan kosa kata “wartawan” dalam khasanah Bahasa Indonesia. Paling penting, justru melahap setiap petikan fakta yang bertabur di setiap lembar halaman. Misalnya tentang negeri Siam, Filipina zaman baheula. Atau tentang pergulatan batin Tan Malaka. Atau juga tentang sejarah dunia di masa itu. Selain keunikan istilah yang laku sebagai bahasa intelektual di Indonesia tempo doeloe.
Namun bukan berarti Tan Malaka mewariskan catatan kering. Lebih dari sekedar cukup, bahkan melimpah: buku-buku, pamphlet, brosur, memoir, surat-surat pribadi, hingga Roman (atau Novel) bertebaran di mana-mana. Kiprah mantan Ketua PKI di tahun 20-an ini teramat lekat dengan arsip dan dokumen sejarah. Sumber-sumber berserak di segala pihak, baik kawan maupun lawan. Tak ayal, jika kemudian sosoknya bertabur dengan mitos, legenda, dan juga tanpa kecuali: fiksi.
Informasi Detil Buku:
Judul: Patjar Merah Indonesia (Edisi I dan II)
Penulis: Matu Mona (Hasbullah Parindoerie)
Penerbit: Beranda, Juni 2010 (terbit pertama kali Tahun 1936).
Tebal: Jilid I (271 halaman) dan Jilid II (228 halaman)
ISBN: 978-979-16030-3-1

Sumber : Koleksi Resensi Buku (c) Endi Biaro

Senin, 04 Juli 2011

SBY, JFK dan Keberanian Bertindak

Oleh : Muhammad Ilham

Kalau jadi sahabat, jadilah sahabat yang setia dan bila jadi lawan,
janganlah jadi lawan yang pengecut.
(Robert "Bob" Kennedy)

Ada perbedaan signifikan antara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan John Fritzgerald Kennedy (JFK). Keberanian mengambil alih tanggung jawab. Memang tidak adil membandingkan antara dua presiden, JFK dan SBY, yang ganteng serta bersisiran rambut rapi a-la beatles ini. Zaman dan tantangan mereka berdua, jelas berbeda. Tapi melihat "gonjang-ganjing" kasus korupsi di tanah air belakangan ini, mengingatkan saya kepada keberanian bertindak dari JFK ketika anak buahnya tidak memiliki kemampuan menyelesaikan suatu masalah. Kasus Nazaruddin (Sesmenpora Gate) misalnya, yang menyerempet the ruling party "milik" SBY dan berkorelasi dengan "ketentraman"politik nasional, tidak disikapi dengan tegas oleh kakak ipar Jenderal (Art.) Pramono Edhi Wibowo (Kepala Staf Angkatan Darat yang baru) tersebut. Padahal, sejatinya SBY memiliki kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat. Janji concern terhadap pemberantasan korupsi justru hanya jualan politik. KPK dipermainkan Nazaruddin (plus) pengacaranya si-Otto Cornelis Kaligis itu. Elit Partai Demokrat saling sikut menyikut, saling counter-attack. Rakyat jadi bingung. Mengapa SBY membiarkan hal ini terjadi ? Padahal, SBY bisa "menjewer" Nazaruddin dan memerintahkan "anak-anak ideologisnya" untuk memaksa jemput atau bahkan menangkap (katakanlah demikian) mantan Bendaharawan Partai Poltak ... eh Partai Politik berlambang bintang Mercy ini. Terlepas si Nazaruddin ini saksi ataupun tersangka.

Nampaknya SBY harus belajar pada JFK, walau sekali lagi, ini terkesan a-historis. JFK dikenal sebagai orang yang menaruh hormat kepada orang-orang yang berani bertindak. Ketika ia jadi Presiden Amerika Serikat, termuda lewat Pemilu sepanjang sejarah negara ini, ia mengambil keputusan-keputusan berani, terlepas apakah ada yang setuju atau tidak. Ini terlihat dari peristiwa fenomenal, peristiwa Teluk Babi. Ia mengambil oper jadi tanggung jawabnya sendiri ketika anak buahnya yang dilaih CIA gagal mendarat di Teluk Babi Kuba, walau proyek ini sebenarnya sudah dirancang sebelum JFK jadi Presiden. JFK taklari dari tanggung jawab. Ia tak mau terlibat dalam diskusi yang membingungkan publik, membiarkan anak buahnya saling sikut-sikutan akibat kegagalan pendaratan tersebut. Presiden ganteng ini dengan berani mengancam Uni Sovyet agar membongkar missile-nya di Kuba. Rakyat Amerika Serikat pantas khawatir dengan keberadaan misil-misil tersebut. Kuba yang berada di "teras"negara Paman Sam ini bisa menjadi tempat strategis bagi Uni Sovyet "menyapu"Amerika Serikat dari muka bumi. Sebuah gertaka yang teramat berani. Padahal Presiden Uni Sovyet kala itu - Nikita Kruschev - juga dikenal sebagai Presiden pemberani negara yang dijuluki Tirai Bambu ini. Dunia tegang. Dunia berada diambang perang besar. Tapi Kruschev mengalah. Misil-misil dikembalikan ke Uni Sovyet. Buah dari keberanian JFK dalam bertindak, mengambilalih tanggung jawab dan tidakmembiarkan rakyatnya menjadi bingung disuguhi tontonan saling menyalahkan dari elit politik mereka.

Dunia juga mencatat keberanian JFK ketika merombak jalan dan garis politik negara Amerika Serikat yang selalu memberikan bantuan senjata kepada negara-negara berkembang demi membendung komunisme. Ia lebih sukamemberikan bantuan ekonomi agar taraf hidup menjadi layak, karena baginya senjata tak mampu menyelesaikan masalah. Dan memang pada akhirnya JFK terbunuh. Tapi sejarah mencatat, JFK merupakan politisi berpendirian teguh dan berani bertindak. Karena ini pula, kawan maupun lawannya menaruh hormat. Nikita Kruschev yang dianggap seteru abadi Amerika Serikat pada era JFK, merasa perlu menjadi orang pertama yang menyatakan duka cita terdalam. Di pagi buta yang dingin, Kruschev mengunjungi Kedubes Amerika Serikat di Moscow, menyatakan rasa belasungkawa selepas mendengar JFK tewas. Apa yang berlaku pada JFK, juga terlihat pada adiknya, Robert "Bob" Kennedy. Ketika Bob ini menjabat sebagai Jaksa Agung, ia datang ke Indonesia di utus kakaknya untuk menjadi penengah Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Diadakannya KTT di Tokyo antara Presiden Indonesia Soekarno (kelak, anaknya Megawati Soekarnoputri juga jadi Presiden Indonesia), Presiden Macapagal Arroyo dari Filiphina (kelak anaknya, Gloria Macapagal Arroyo mengikuti jejaknya juga) dan Tengku Abdurrahman dari Malaysia, menjadi berhasil dilakukan berkat (salah satunya) kreasi-diplomatik dari Bob Kennedy. Dan untuk ini, Bob Kennedy mendapat lemparan telur busuk di Universitas Indonesia ketika ia berkunjung ke Universitas terkenal Indonesia ini. Selepas "mendapat" lemparan telur busuk dan pulang ke Amerika, Bob menulis buku kecil yang menunjukkan profil seorang pemberani, (kalau tak salah) buku tersebut berjudul Just Friend and Brave Enemy. "Kalau jadi sahabat, jadilah sahabat yang setia dan bila jadi lawan, janganlah jadi lawan yang pengecut. Bila kamu jadi pemimpin, jangan biarkan permasalahan ditanggung anak buahmu, sementara kamu memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya". Ah, seandainya SBY itu JFK atau Bob Kennedy, tentu tak banyak kebingungan politik yang dipertontonkan. "Iyalah bang, masak abang bandingkan JFK dengan SBY, itu sama saja membandingkan Marlyn Monroe dengan Ibu Ani Yudhoyono, beda tempat dan zaman dong!", celetuk istri saya. Aha, perumpamaan yang pas. Pintar istri saya ini, bukan Jacklyn Kennedy yang dibandingkannya dengan Ani Yudhoyono. Eureka... !, nampaknya, ada yang lebih bagus dari SBY dibandingkan JFK. SBY teramat setia pada istri dan keluarga, beda dengan JFK yang sering "menyelinapkan" Marlyn Monroe ke Gedung Putih.

(Catatan : Tanggal 2 Juli 2011 yang lalu, SBY telah memerintahkan untuk menangkap Nazaruddin)

Sumber foto : www. duniabebas.com

"Fashion" Moammer Qaddafi

Oleh : Muhammad Ilham

Amerika Serikat dan Rusia sama saja, yang satu imperialis, lainnya atheis
(Moammer Qaddafi).

Terlepas suka atau tidak suka terhadap Moammer Qaddafi, tapi apa yang berlaku padanya saat ini, sungguh membuat kita teringat dengan dialog antara Alexander Agung dari Macedonia dengan seorang nelayan (kecil). "Mengapa kamu mengambil ikan di laut kekuasaan saya", kata Alexander putra Philipus ini. "Karena kamu kuat dan merampok serta menjarah lautan ini, maka kamu dianggap pahlawan. Sedangkan saya hanya mengambil sedikit untuk menopang kehidupan harian, saya dicap sebagai penjahat", kata nelayan (kecil) tersebut. Dan hari ini, NATO (dengan ujung tombaknya : Amerika Serikat) ibarat Alexander Agung, sedangkan Qaddafi seperti nelayan (kecil).

Di Timur Tengah, tak ada yang mengalahkan lamanya Qaddafi berkuasa, tak Husni Mubarak ataupun Ben Ali serta pemimpin negara Arab lainnya seperti Yaman ataupun Aljazair. Libya bukan negara baik dalam praktek demokrasi. Tapi riak Jasmine Revolution dan Egypt Revolution seakan tak "bergema" di Libya. Tapi kita tidak tahu, setidaknya kala artikel ini ditulis, hembusan Tunisia dan Mesir telah mejadi pemicu konflik horizontal di Libya. Atas nama demokrasi, Obama (cc) NATO yang kental dengan "kepentingan minyak" dan para pemberontak di Libya menyerang Qaddafi. Awalnya hitungan hari, namun minggu yang mendekati bulan, Qaddafi tetap tak "kalah", walau ia diserang dari empat penjuru mata angin. Qaddafi memang "sempoyongan", tapi ia belum rebah.













Sumber photo's : times.com

Jumat, 01 Juli 2011

Resiko Orang Besar : "Karena Memang Terkadang Seseorang Dinilai Salah oleh Zamannya"

Oleh : Muhammad Ilham

Karena memang, terkadang seseorang dinilai salah oleh zamannya.
(Frantz Fanon)

"Matanya bulat seindah bola pingpong, memancarkan kebeningannya dalam berfikir", demikian penggalan kalimat pujian (mungkin meminjam sebagian syair Iwan Fals : "mata indah bola pingpong") pada Bacharuddin Joesoef Habibie (BJ. Habibie) pada era 1996-1997. Tersebab matanya "membelalak" bulat-menarik, sehingga mata Habibie dianggap seumpama bola pingpong. Menteri beberapa periode pada masa Orde Baru ini dijulang-puji setinggi langit. Teknokrat jebolan Aanchen Universitet Jerman yang bergelar "Mr. Crack" ini dianggap sebagai figur muslim "borjuis" panutan dan dibanggakan. Suami Ainun "si mata indah" Besari juga dipandang kaum muslim Indonesia sebagai orang yang mampu "menghijaukan" ranah politik Indonesia era 1990-an. Pokoknya, ayah Ilham dan Tareq Habibie, walau badannya pendek, tapi otaknya cemerlang, bening sebening bola matanya. Bahkan penyanyi balada Iwan Fals merasa perlu untuk menulis satu bait dalam lagunya Guru Omar Bakrie : ....... lahirkan otak orang seperti otak Habibie. Habibie bahkan ditahbiskan sebagai "orang paling berpengaruh" di lingkaran Soeharto pasca kematian ibu Tien. Putra Mahkota Politik Soeharto, demikian kata indonesianist William Liddle di jelang Pemilu 1998. Pada era ini, perbincangan terpusat pada Habibie. Kecuali bagi yang iri-dengki, khususnya kalangan militer (maklum Habibie berasal dari kalangan sipil), hampir tak ada cela founding father Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) tersebut. Tapi, "mata indah bola pingpong" Habibie ini (kemudian) kehilangan kebeningan pada era 1999-an, seketika ia menjadi Presiden RI setelah lengser keprabon-nya Soeharto. Habibie yang dijulang tinggi pada masa Orde Baru, justru dipojokkan dari segala mata angin. "Bola matanya" yang bak bola pingpong diplesetkan jadi pemikiran bulat yang tak punya ujung pangkal. Bulat, memang tak bersegi. Mana pangkal, mana ujung tak dijumpai. Dan, kebeningan Habibie selama ini berubah drastis menjadi figur yang tidak menarik lagi bagi lawan politiknya. Habibie yang dianggap sebagai Presiden RI pembuka "kran" demokrasi ini, dituding-hina. Ia salah, mengapa Habibie jadi Presiden.

Lalu, Abdurrahman Wahid yang juga (ikut) menyerang Habibie dengan anekdot "Gila"nya yang terkenal itu: "Soekarno gila perempuan, Soeharto gila harta, Habibie gila beneran dan saya - maksudnya Abdurrahman Wahid - justru pemilihnya yang gila" juga diserang hingga ke lobang privasinya kala anak emas Nahdhatul Ulama ini jadi Presiden RI. Padahal, pasca Habibie, pada pundak Abdurrahman Wahid inilah, diharapkan Indonesia modern terlahirkan secara demokratis. Melalui improvisasi Poros Tengah-nya Amien Rais, Gus Dur naik tahta. Tapi sayang, oleh Amien Rais pula, ia disuruh keluar dari istana dan digantikan oleh Megawati Soekarno Putri. Megawati yang "manis-kemayu" itu, dicintai dan dianggap representasi "makhluk terzalimi" oleh rezim politik Orde Baru (include didalamnya rezim Habibie). Dengan otoritas-genetik yang dimilikinya, Megawati binti Soekarno ini dianggap sebagai sosok yang pas memimpin Indonesia pasca reformasi. Tapi apa nyana, seketika "soulmate" Taufik Kiemas ini jadi Presiden RI, hantaman kiri-kanan berdatangan. Dianggap sebagai Cut Nya' Dien yang pendiam seribu basa. Ia-lah yang dianggap oleh berbagai media kala ia berkuasa sebagai Presiden RI paling pelit dalam sejarah, pelit bicara. (Mbak) Mega tak sempat menikmati kekuasaan paruh kedua. Ia dikalahkan anak buahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Pemilihan Presiden Langsung pertama dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia.

Banyak harapan diletakkan pada pundak putra Pacitan ini. Presiden yang dianggap gagah, pintar dan kharismatik ini "melayari" dua paruh kekuasaannya. Sebagaimana halnya Habibie, Megawati dan Gus Dur, maka SBY yang menantu bekas Komandan RPKAD nan terkenal itu - Sarwo Edhie Wibowo - juga merasakan bagaimana "pahitnya" jadi Presiden RI. Tak ada celah yang tidak luput dari serangan. Apapun yang dilakukan oleh SBY, pencitraan dan tindakan lamban, menjadi dua kata yang dilekatkan pada mantan Menkopolhukam masa Megawati Soekarnoputri ini. "Maju kena mundur kena", harus dinikmati SBY. Banyak kebijakan dan tindakannya selalu dilihat pada posisi berseberangan. Ketika ia tidak mensikapi apa yang dikatakan oleh para elit Partai Demokrat - partai yang didirikannya - tentang calon Presiden dari Partai berlambang bintang mercy ini adalah Ani Yudhoyono yang nota bene adalah istrinya, banyak pengamat yang mengatakan diamnya SBY sebagai tindakan politik yang tak etis. Diamnya tersebut berarti SBY setuju. Ini artinya, SBY menyetujui politik dinasti sebagaimana yang terjadi di India, Korea Utara ataupun di negara-negara non-monarkis Timur Tengah dan Afrika Utara sana. Namun kala SBY mengatakan bahwa 2014 nanti, ia dan keluarganya (anak dan istrinya) tidak ikut mencalonkan diri menjadi calon Presiden, bermunculan pula tanggapan para pengamat : "SBY tak demokratis dan melanggar undang-undang, karena menghambat hak asasi manusia untuk dicalonkan jadi Presiden", kata seorang pengamat politik yang "teramat" rajin menganalisis gerak-gerik politik SBY. Namanya saja pengamat, (serasa) jauh lebih pintar dari pemain. Maju kena mundur kena. Diam dianggap lamban, cepat dianggap ceroboh dan intervensi. Padahal, di awal tahun 2004, SBY digadang-gadangkan seperti "Imam Mahdi" bagi Indonesia.

Betapapun hebatnya seorang pemimpin, pasti ada celah-celah tertentu yang enak untuk dikecam. Bila ia sukses di satu bidang, dibidang lain ia akan "ditembak". Dan biasanya, kesuksesan besar dan kelebihan utama seseorang itu akan abih tandeh oleh secuil kesalahannya. Jangankan Habibie, Mega, Abdurrahman Wahid ataupun SBY, tokoh besar se"gadang" Soekarno dan Gamal Abdel Nasser juga tak luput dari hal sedemikian. Soekarno, misalnya. Siapa yang meragukan kebesaran dan ketokohannya. Pemersatu bangsa, proklamator, tokoh bangsa, pejuang kemerdekaan tanah air sejak muda, penggali Pancasila ...... tapi (masih ) teramat sering kita mendengar tentang "kegenitannya". Bahkan - meminjam istilah tokoh posmo Jean Bauddrillard - Soekarno dianggap "megalomania", orang yang gemar serba besar dan serba cemerlang. Bahkan Cindy Adams, penulis biografi Soekarno, pernah mempertanyakan (sekaligus menjawab sendiri), mengapa Soekarno begitu suka menggunakan berbagai lambang dan logo kebesaran di dadanya. "Pasti terlihat gagah dan jumawa", kata Cindy Adams. Soekarno-pun meng-iyakannya. Ditengah "megalomania"nya ini, sejarah mencatat rakyat masih susah. Tapi kenyataannya, ketika "Putra Fajar" ini meninggal dunia, ia tidak meninggalkan kekayaan buat keluarganya. Walau gosip tentang kekayaannya yang "tertanam" di negeri antah berantah (hingga) kini masih terus dijaga oleh sebagain orang. Soekarno yang "besar" itu (tetap) terus disalahpahami.

Kemudian ambillah contoh Gamal Abdel Nasser. Walau Nasser dianggap sebagai tokoh pemersatu bangsa Arab yang dikenal teramat susah untuk bersatu (bahkan Ibnu Khaldun menganggap orang Arab hanya bisa disatukan oleh Nabi yang berasal dari Arab saja), walau Nasser dianggap orang besar yang berhasil membabat feodalisme dan mendirikan masyarakat yang demokratis dan sosialis, walaupun ia hidup dengan amat sederhana dan tidak korup, yang lebih suka tinggal di tempat/barak perwira dibandingkan di istana, betapapun beliau sudah mampumembawa Mesir sebagai bangsa yang disegani dan diperhitungkan dalam konstelasi politik dunia pada masanya, tapi - sebagaimana halnya Soekarno, masih tetap saja ada suara-suara sinis mengenai dirinya. Desas desus yang menyindirnya sebagai pemimpin otoriter dan tidak becus. Ada anekdot tentang ktidaksukaan orang Mesir terhadap Nasser yang dikagumi Khaddafi ini. Anekdot yang pernah saya baca dalam sebuah kolom kolumnis Mahbub Junaidi di Harian Kompas kala saya masih di SMP. Anekdot yang menunjukkan ketidaksukaan sebagian orang Mesir (mungkin tidak sebagian, tapi sebagian kecil) pada Nasser. Mesir dibawah Nasser dianggap sebagai negeri "berbudaya ntel", tertutup dan sok gawat. Ekonomi pasar bebas menjadi tidak bisa berkutik karena tangan-tangan negara amat kuat mencengkeram. Kaum kapitalis dalam negeri terjepit karena Nasser menginginkan masyarakat yang sosialis. Untuk memperoleh barang-barang kebutuhan harian, orang terpaksa mengantre. Akibat dari hidup serba antre ini, ada orang yang menjadi gusar.

"Apa kalau mau beli pisau orang harus antre?", tanyanya suatu ketika.
"Oh, kalau sekedar pisau, tak perlu mengantre" jawab temannya.

Maka orang ini segera membeli sebilah pisau belati di pasar dan langsung bergegas menuju kediaman Preside Nasser. Di pintu gerbang ia dihadang oleh pengawal.

"Apa maksud saudara ke tempat Presiden Nasser!"
"Saya mau membunuhnya. Ia sudah bikin susah hidup saya dan semua orang Mesir".
"Oh, itu bisa saja. Tapi saudara harus antre !", kata pengawal.

Ternyata antrean orang yang ingin (berniat) membunuh Nasser cukup panjang. Karena tak tahan dengan antrean yang pan jang tersebut, ia kemudian pulang .... dan tidur !.

Saya yakin, anekdot tersebut bukanlah mencerminkan keadaan Mesir sesungguhnya dalam bersikap terhadap orang sebesar Nasser. Ketidaksenangan orang terhadap seseorang, adalah sesuatu yang lumrah, dan bisa terjadi pada siapa saja. Menghadapi gerakan sosialis Arab yang dilancarkan Gamal Abdel Nasser, sikap progressif revolusioner yang ditunjukkannya merupakan refleksi terhadap sikap anti-Israel yang tidak kenal kompromi, sudah barang tentu menumbuhkan rasa tidak senang lawan-lawan politiknya. Mereka inilah yang kemudian memanfaatkan "kondisi-kondisi" dalam negeri untuk menyebarkan anekdot seperti diatas. Intinya, semua pemimpin dan orang besar, mau tidak mau, harus menerima resiko macam itu. Historia vitae magistra, kata Bennedicto Croce. Biarlah sejarah yang akan menjadi saksi, apakh orang-orang seperti Soekarno atau Nasser itu seorang oportunis yang korup dan memikirkan dirinya sendiri, atau seorang pemimpin yang mampu memaksa orang lain untuk menghormati negerinya dengan sikap tegar tanpa menunduk-runduk pada "kekuatan lain". Biarlah sejarah pula yang nantinya akan "menilai" siapa sebenarnya Habibie dengan bola "mata pingpong"nya, apakah makna "gila"nya Gus Dur ataupun "diam emas"nya Megawati serta politik akomodasi dan penuh perhitungan SBY. Karena memang, kata Frantz Fanon, terkadang seseorang dinilai salah oleh zamannya. Dan, tak salah memang kemudian, bila Soeharto dirindukan orang pada masa sekarang. Tak kecil kemungkinan, Megawati atau SBY dibaca dengan penuh gairah pada masa cucu-cicit kita kelak.

Melampaui Dendam Sejarah

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Dalam konteks psiko-sejarah bangsa kita mewarisi terlalu banyak dendam sejarah, xenophobia, dan mental inferior, yang sudah akut. Dibutuhkan keberanian tersendiri untuk mengurai, mengakui dengan jujur, dan membangun satu kesepahaman baru tentang Indonesia selanjutnya. Seringkali kita memilih sikap tidak mengungkap cerita sejarah yang dibungkam, demi untuk menjaga keutuhan bangsa. Padahal cara itu tidak selamanya benar. Bagaimanapun pahitnya, fakta-fakta sejarah adalah pelajaran sangat penting untuk angkatan berikut. Sejarah ”sesungguhnya” sering ditentukan oleh kuasa dan tafsir apa yang kita pakai untuk membacanya lagi. Kasus tragedi 1965-1966, adalah sebagai contoh terbaik diantara - tentunya - begitu banyak contoh-contoh yang lain. Adu cerita dan buku putih tentang siapa benar-siapa salah, hanya akan mengaburkan pelajaran utama dari peristiwa waktu itu. Tuduh-menuduh bahwa PKI melakukan kudeta, Soeharto yang merancang kudeta, Soekarno di kudeta, atau bahkan Soekarno sendiri mengkudeta dirinya, adalah argumen sejarah tanpa ujung dan hanya memicu perdebatan kontroversial berulang. Sedang jika menggunakan optik geostrategi maka akan terlihat gambar terang bahwa hampir seluruh (untuk tidak menyebut semua) komponen strategis Indonesia masuk dalam perangkap raksasa dari perang dingin antara blok barat (AS) dan blok timur (Uni Soviet).

China dan Rusia waktu itu saling berebut posisi sebagai kiblat utama komunisme di Asia. PKI yang awalnya sangat taat dengan pola-pola komintern di Rusia, lalu berbelok menggunakan banyak metode revolusi China ala Mao. Elit-elit PKI tidak setangguh Ho Chi Minh yang berhasil membuat siasat tepat atas konflik politis China versus Rusia. PKI akhirnya menjadi unit politik nasional yang labil dalam menentukan garis anutan. Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh blok Barat dengan menggunakan program IMET (internasional military education and training) merekrut perwira angkatan darat ditambah aktifis politik anti-Soekarno untuk merancang satu peralihan kekuasaan. Sudah waktunya kita untuk sama-sama mengakui bahwa dilevel teknis, bisa saja pihak tertentu disebut sebagai pelaku. Tapi sejujurnya sebagai satu bangsa, kita semua (PKI, TNI, Mahasiswa, Ormas Keagamaan) adalah korban dari permainan politik global. Blok barat dan blok timur melihat Indonesia sebagai front depan yang harus direbut dan diposisikan sebagai negara pinggiran penyagga gerak internasional mereka. Siapapun yang ambil untung menumpuk kekayaan dari peristiwa ini, adalah cerita tentang manusia picik, rakus dan gila kuasa.

Setiap dendam yang kita warisi, adalah perangkap bagi seluruh anak bangsa. Dendam etnik, dendam bias agama, dendam politik wilayah, dendam gunung atas pantai, dendam desa pada kota, dan dendam rakyat pada penguasa. Mayoritas akar masalah adalah problem struktural politik-ekonomi, lalu berdampak sistematis atas cara pandang dan mental sosial masyarakat. Berakar pada politik transmigrasi Belanda yang diduplikasi oleh Orde Baru, ditambah dengan ketimpangan struktur sosial-ekonomi atas masyarakat lokal. Dari sini lahirlah ”dendam orang dayak pada madura”, dan ujungnya konflik kekerasan. Kini, kebalikan orang madura menyimpan dendam pada orang dayak. Buah dari skenario global, mutasi konflik vertikal ke horisontal, dan provokasi politisi lokal, melahirkan kekerasan komunal di Poso dan Ambon yang bias agama. Kini, meski konflik telah mereda, namun dibutuhkan satu integrasi metode besar-besaran untuk menjahit lagi kembali cita-cita bersama sebagai satu bangsa. Dendam politik wilayah lebih banyak lagi. Tema ini tidak hanya pada logika Jawa-Luar Jawa atau Indonesia Barat-Indonesia timur, tapi telah merambah hingga ketingkat lokal. Pemekaran wilayah dijadikan medium untuk menterjemahkan ini. Etnopolitik dan semangat chauvinisme adalah bukti. Pembangunan yang terkonsentrasi pada wilayah tertentu, hingga komposisi dan distribusi kekuasaan timpang jadi argumen utama.

Pemahaman yang tepat atas pemberontakan DI-TII, PRRI, Permesta, dan banyak peristiwa lain perlu di dudukkan secara proporsional. Lepas dari tafsir tunggal dan tidak terjebak oleh keinginan untuk ”menistakan” tiap pihak terlibat. Kita masih melihat sikap ”berat hati” dari sejumlah elit militer dan purnawirawan TNI-Polri untuk mau mengakui kekeliruan politik militer selama masa orde baru dan menimbulkan korban ditingkat rakyat mulai dari Aceh sampai Papua. Meski selintas seperti tanpa arti, tapi kesediaan Abdurrahman Wahid (Gusdur) untuk meminta maaf atas keterlibatan sejumlah organisasi dibawah payung NU dalam ”sikap berlebihan” saat operasi penumpasan PKI, patut untuk menjadi contoh bagi semua pihak yang benar-benar merasa diri dan kelompoknya sebagai patriot dan nasionalis sejati. Satu hal paling urgen adalah dendam rakyat pada penguasa. Dalam sikap paling pasif dan hipokrisi menyedihkan, sesungguhnya rakyat Indonesia faham jika mereka hanya dijadikan umpan dan korban dari satu permainan politik tingkat tinggi selama puluhan tahun. Mereka mungkin tidak mampu menyusun satu rangkaian epistemologi sistematis menjelaskan keterjebakan yang dialami selama ini. Tapi naluri politik serta daya sensitifitas psikologis akan memberi pelajaran cukup, bahwa kelicikan harus dibalas dengan kelicikan. Dua efek yang akan muncul jika elit politik terus memelihara manipulasi dan hegemoni politik mereka atas rakyat adalah: satu, lahirnya pragmatisme politik dan sikap oportunis ekstrim. Kedua, ledakan massa bersifat destruktif dan mendorong situasi menjadi chaos tak terpimpin sama sekali. Untuk menjadi bangsa yang kuat, dalam spirit nusantara, maka segala bentuk dendam sejarah haruslah dikelola dengan baik dan ditransformasi menjadi energi gerak untuk menata kehidupan nasional seluruh rakyat. Seolah lupa atau bahkan mengidap amnesia sejarah dan memaksa agar abai atas fakta-fakta bukanlah sikap seorang negarawan. Tetapi berlama-lama dalam ”kemarahan historis” yang makin termoderasi oleh banyaknya ”tangan tak jelas” terlibat seolah benar-benar ingin mengungkap sejarah sedang sejatinya hanya soal eksistensi institusional, juga bukan sikap bijak. Kita butuh ketegasan dan pengakuan, sekaligus ke-awas-an tingkat tinggi, agar tak jatuh tertimpa tangga pula.

Sumber : A. Gafur/kompasiana. Foto : www.suaramerdeka.com

Sepeda Onthel Sepeda Cinta

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Galih dan Ratna adalah dua sejoli. Sepeda onthel menjadi saksi cinta mereka yang terlarang. Sayangnya, cinta Galih dan Ratna berakhir duka. Galih menikah dengan Marlina, saudara kembar Ratna. Kisah asmara itu hanyalah fiksi, terekam dengan apik dalam film Gita Cinta dari SMA, adaptasi dari novel Eddy D. Iskandar. Pada 26 Juni lalu, Ratna lain justru berbahagia. Ratna Sri Handayani dan Dimas Sapto Romadhon, keduanya pecinta sepeda onthel, menikah. Pernikahan mereka dirayakan dengan cara unik: diarak keliling kota oleh ratusan onthelis dari klub Vheesink Ontel Club (VOC), yang bermarkas di Jakarta Barat. Sepeda Onthel memang lagi naik daun. Meski tua, ia tetap dicinta. Berbagai perkumpulan pun bermunculan di berbagai daerah. Karena animo itu, Bentara Budaya Yogyakarta mengadakan pameran onthel bertajuk “Pameran Pit Onthel 2010-Indische Fietsen” pada 22-30 Juni lalu. Buku ini merupakan pengembangan dari katalog yang disusun untuk pameran tersebut. Penemu sepeda sebagai Laufmaschine atau running machine, yaitu alat dengan dua roda yang bergerak, adalah Baron Karl von Drais de Sauerbrun dari Jerman pada 1817. Sepeda berangka dan berjeruji kayu ini belum menggunakan pedal, namun sudah beroda logam, memiliki tempat duduk dan setir, serta dapat dikemudikan dengan sebuah palang yang disambungkan dengan roda depan. Pengendaranya harus menjejakkan kaki ke tanah untuk membuatnya bergerak. Temuan ini merupakan penyempurnaan dari mainan dengan dua roda “tak stabil” yang ditemukan Comte Mede de Sivrac, orang Prancis, pada 1790. Sepeda karya Karl Drais ini disebut draisienne atau hobby horse (sepeda kuda-kudaan) karena modelnya perpaduan antara sepeda dan kereta kuda. Karl Drais memperoleh hak paten.

Penemuan sepeda tak bisa dilepaskan dari meletusnya Gunung Tambora, setidaknya menurut tulisan wartawan Mick Hamer dalam majalah sains dan teknologi terbitan Inggris, New Scientist, tanggal 29 Januari 2005. Pada 5 April 1815, Gunung Tambora yang berada di pulau Sumbawa mulai bergejolak. Sepekan kemudian ia memuntahkan isi perutnya dengan letusan spektakuler hingga bulan Juli. Ini adalah erupsi terbesar yang dicatat sejarah, menewaskan hingga 92.000 orang dan menyemburkan begitu banyak abu di atmosfer. Letusan itu memicu pemanasan global, suhu bumi meningkat tiga derajat celsius. Di Eropa, tahun 1816 disebut sebagai tahun tanpa musim panas. Di beberapa tempat turun hujan salju, langit terus-menerus gelap, panen gagal, dan Eropa memasuki tahun-tahun buruk. Cuaca buruk membuat transportasi, yang biasanya mengandalkan kuda dan angkutan air, menjadi tidak nyaman. Bahkan banyak kuda disembelih karena cadangan makanan menipis dan para pemilik kuda kesulitan mencari pakan kuda. Saat itulah Karl Drais membuat alat sederhana beroda dua yang kemudian diberi nama draisienne. Sepeda kemudian mengalami pengembangan. Kirkpatrick Macmillan, seorang pandai besi Skotlandia, melakukan inovasi dengan membuat sepeda berpedal pada 1839. Bentuknya memang terlihat janggal: roda depan lebih besar ketimbang roda belakang, dengan alasan menjaga keseimbangan pengemudi. Selanjutnya, pada 1860-an, ayah-anak Pierre dan Ernest Michaux, seorang pandai besi Prancis, menemukan pemberat engkol yang menstabilkan laju sepeda.

Pada 1862, ketika Pierre Lallement sedang mengerjakan kereta bayi (baby stroller) di Nancy, Prancis, dia melihat orang mengendarai draisienne. Dia memodifikasi apa yang telah dilihatnya dengan menambahkan transmisi terdiri dari mekanisme engkol berputar dan pedal yang melekat pada roda depan serta pelek untuk memperkuat roda. Dia pindah ke Paris setahun kemudian dan menjadi karyawan Ernest Michaux untuk waktu singkat. Pada 1865, dia pindah ke Amerika dan mematenkan temuannya. Namun keamanan dan kenyamanan berkendara tetap belum didapatkan. Goyangan dan guncangan sering membuat pengendara sakit pinggang, sehingga sepeda Lallement ini dijuluki boneshaker (pengocok tulang). Dua dasawarsa kemudian sepeda lebih nyaman dikendarai. Roda depan dikendalikan dengan sebuah engkol di bawah pusat roda yang dihubungkan dengan rantai dan susunan gir. Berbagai merek dan bentuk sepeda dari negara-negara Eropa pun bermunculan, disusul kemudian sepeda China dan Jepang. Pada 1880-an sepeda roda tiga populer karena dianggap lebih aman digunakan perempuan dan lelaki yang kakinya terlalu pendek. Tren sepeda roda dua kembali muncul setelah pabrik sepeda didirikan kali pertama oleh seorang penemu asal Inggris James Starley dan Josiah Turner di Conventry, Inggris, pada 1886. Starley dijuluki sebagai “bapak industri sepeda”. Sepeda roda dua kian mendunia setelah penemu asal Skotlandia John Boyd Dunlop menemukan teknologi ban angin pada 1888. Dunlop mempelajari pneumatik, studi dan penerapan penggunaan gas bertekanan untuk efek gerak mekanik. Pada 1887, dia mengembangkan pneumatik praktis pertama atau ban karet untuk sepeda roda tiga anaknya, yang kemudian diuji dan mendapatkan hak paten.

Sepeda masuk Indonesia sebagai alat transportasi sekira tahun 1910. Sepeda awal digunakan oleh pegawai kolonial dan bangsawan, misionaris, dan saudagar kaya. Militer Belanda juga menggunakan sepeda untuk patroli. Hindia Belanda otomatis menjadi pasar tujuan sepeda Belanda. Merek yang diminati antara lain Fongers, Batavus, Sparta, dan Gazelle. Baru beberapa tahun kemudian muncul sepeda buatan Inggris seperti Humber, Phillips, dan Raleigh, serta merek asal Jerman, Göricke dan Fahrrad. Merek-merek tersebut hadir pada masa tenang pasca-Perang Dunia I. Kantor-kantor dagang Eropa memasarkan sepeda di kota-kota besar seperti Batavia, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Banjarmasin, dan Makassar. Hal ini diketahui melalui sejumlah iklan enamel –iklan yang terbuat dari pelat besi bercat enamel– merek sepeda terkenal seperti Fahrrad, Opel, Batavus, Gazelle, dan Releigh, yang tersebar di seluruh Indonesia sekira tahun 1930-1939. Sepeda merupakan barang mewah. Harga sepeda seperti Gazelle sangat mahal, hampir sama dengan 1 ons emas. Karena itu masyarakat biasa hanya mampu membeli sepeda bekas atau menunggu harganya turun. Kedatangan Jepang pada 1942 mengakhiri kejayaan sepeda-sepada Eropa. Jepang melarang penggunaan sepeda buatan Eropa dan para pemiliknya pun tidak mendapatkan suku cadang seperti ban dan onderdil. Beberapa merek Jepang antara lain Bike Pals, Club, Milton, Oryx, Prima, Wee Bee, dan Woodcock, berseliweran pada 1960-an. Bahkan sepeda rakitan dalam negeri seperti merek Banteng, Garuda, dan Dwi Warna dari Semarang, Bandung, dan Surabaya ikut meramaikan pasar sepeda. Buku katalog onthel ini memuat riwayat merek-merek Belanda, Inggris, dan Amerika –sayangnya, tak ada uraian mengenai merek Jerman dan Jepang, juga rakitan dalam negeri. Anda juga bisa menemukan bermacam onderdil, aksesoris, iklan, dan koleksi onthel klub Podjok (Paguyuban Onthel Djogjakarta). Sebagai tambahan, buku ini memuat dua kisah pengguna onthel, yaitu Pak Samidjo dan Mbah Tris; dua cerita pendek karya J. Lameijn dan Oesman yang diambil dari Matahari Terbit (1946) serta karya K. St. Pamoentjak dan M.I. Halim dalam Tjenderawasih III (1965).Sindhunata membuka buku ini dengan puisi: “Sepeda onthel sepeda Jawa, saksi mata bagi kita, kota ini pernah bersemi dengan cinta.” Ya, seperti cinta yang bersemi di hati Dimas dan Ratna, pecinta sepeda onthel.

Sumber : H.I. Isnaeni/Historia-online








Foto : rara handayani/(cc) muhammad ilham FB - Padang Unto Club