Senin, 06 Desember 2010

Tuhan : Dari Nietsczhe hingga Al-Adawiyah

Oleh : Muhammad Ilham

" ... dipintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling ! (Chairil Anwar)

(Tulisan ini tak terlalu panjang). Sejarah mencatat, manusia tidak hanya memuja Tuhan seumpama Al-Adawiyah, tapi juga memperolok-olokkan Tuhan, menjadikan Tuhan sebagai lelucon yang tak berbalas, bahkan "membunuh"-Nya. Coba kita lihat filosof-seniman yang dikenal "tidak waras" Gunter Grass, dengan enteng mengatakan : " Saat Tuhan masih duduk di bangku Sekolah Dasar di surga sana, Tuhan pernah memiliki gagasan untuk menciptakan dunia bersama teman sekolahnya, Iblis yang berbakat". Lalu ini kemudian ditingkahi oleh William Friedrich Nietsche, yang dekat akhir hayatnya "gila" dalam bukunya The Spoken of Zarathustra (telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia) : "Nietzche membunuh Tuhan yang masih kanak-kanak tadi dan mengumumkan ke seluruh dunia bahwa, "Tuhan sudah Mati!". Dan Tak lama sesudah itu, Nietzche pun wafat. Untuk memperingati kematian Nietsche itu, maka pada sampul depan sebuah jurnal filsafat tertulis, "Nietzche sudah mati!" tertanda, Tuhan. Masya Allah !!. Dalam pengembaraan alam pikiran, ada intisari fundamental yang ditujukan pada diri manusia yaitu bertanya. Saat belajar mengenal Tuhan, hanya ada dua konsekuensi yang dikenalkan : surga dan neraka, pahala dan dosa, baik dan buruk serta anonim dan antonim lainnya. Pengenalan tatanan itu hanya bentuk dari ancaman, reward dan punishment yang diberlakukan, sebagaimana majikan terhadap buruh dan peniadaan kontemplasi.

Namun perjalanan mengenal Tuhan tidak akan pernah berhenti pada titik itu, hingga Gunter Grass dan Nietzche lebih memilih untuk menantang, mengolok-olok, bahkan membunuh Tuhan. Pengembaraan terus berlanjut dan perjalanan mengenal Tuhan akan terus berlangsung dalam sejarah peradaban manusia. Namun tetap tak pernah ada kata yang bisa mewakili jawaban itu, meskipun muncul dari orang yang pintar merangkai kata dan pandai menyusun syair.
Jawaban itu bukan rangkaian kata yang tersusun rapi. Ia menyejukkan jiwa seperti udara pagi di pegunungan. Jawaban itu ada di sini, di dalam hati. Seperti jawaban Rabi’ah Al Adawiyah : Ya Tuhanku/Jika aku menyembah-Mu karena takut Neraka-Mu/Maka bakarlah aku di dalamnya/ Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu/Maka haramkan tempat itu bagiku / Tapi jika aku menyembah-Mu karena mengharap cinta-Mu/Jangan Kau enggan palingkan wajah-Mu dariku.

Sumber : Faridhuddin Athar (1999), Jalaluddin Rumi (2000), Nietszhe (2001), Ali Shariati (1997)

Minggu, 05 Desember 2010

Strategi (Canggih) SBY dalam Kasus Keistimewaan Yogyakarta

Oleh : Muhammad Ilham

" .... politik itu strategi komunikasi, tak selamanya Jenderal pergi ke medan laga ... " (Eisenhower)

" ... keep your friend close but your enemy closer !" (Pepatah Inggris)

Sebagaimana yang telah dijanjikan SBY, maka pada Kamis (2/12/2010) kemaren, SBY berpidato - klarifikasi, tepatnya, berkaitan dengan polemik Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pidato SBY kemarin itu sangat normatif dan mencari aman. SBY mencoba menurunkan tensi ketegangan pasca pernyatan 26 November lalu yang terkesan membenturkan monarki dan demokrasi. Dia kemarin mencoba menyenangkan semua pihak dengan mengambangkan sikap politik terkait RUU Keistimewaan Yogya. Dalam pidato dia membedakan sikap personal dan pemerintah. Secara personal, dia setuju kepala pemerintahan ditetapkan, tapi di sisi lain menunggu kesepakan pemerintah via Kemendagri dan DPR. Pesan Djoko Suyanto (Menkopolhukam) lebih "clear" di mana ingin mencari alternatif dengan menempatkan raja sebagai kepala daerah, tapi kepala pemerintahannya dipilih. SBY mengambangkan itu dan mempersilakan anak buahnya bersikap lebih tegas sebelum (draf) dinaikkan ke DPR. Sikap pemerintah jangka panjang dinyatakan oleh Mendagri dan Menkopolhukam. Ini strategi canggih untuk melempar bola panas melalui anak buah. SBY membuat center of attraction tidak lagi di dirinya tapi di Menteri Dalam Negeri (Gamawan Fauzi) dan Menteri Kordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Djoko Suyanto).

Anak buah bersama DPR yang kemudian membawa bola panas. SBY ingin cari aman. Seharusnya ini dilakukan sejak awal kalau mau cari aman, tapi sekarang "nasi sudah menjadi bubur". Kemarin dia mencoba mengambangkan dengan mengajukan anak buahnya membawa kontroversi ke DPR. Bila dilihat secara jernih, usulan RUU ini mengakomodasi sebagian besar ide tim Universitas Gadjah Mada UGM. Kalau kita baca monograf UGM dengan RUU pemerintah, sebagian besar sama. Banyak pengamat yang berpendapat bahwa ini jalan tengah yang baik. Kalau Sultan dan Paku Alam diletakkan di atas dan punya kemampuan untuk memveto, dikhawatirkan kalau veto dilakukan secara "overdosis" maka kinerja pemerintah jadi sering terganggu. Karena itu veto harus digunakan sesuai kadar. Selain itu kalau misalnya Sultan ditempatkan sebagai Parardhya maka kehilangan hak politik. Ini mencederai hak Sultan, karena tidak bisa maju dalam pemilihan meskipun punya kewenangan simbolik luar biasa.

Dalam pidatonya, SBY mengingatkan bahwa Sulthan pernah minta mengundurkan diri jadi Gubernur DIY. Ini bahasa yang sangat halus yang ingin digiringkan SBY bahwa Sultan sebagai gubernur karena kebesaran hati SBY yang bersedia memperpanjang (jabatan gubernur). Ini pesan yang sangat halus kepada Sultan dan masyarakat Yogya, bahwa SBY sangat perhatian dan berbesar hati dengan perpanjangan kepada Sultan. SBY memperpanjang sampai RUU kelar. Bisa dimaknai 'jangan macam-macam karena ada "utang budi'. Dan mungkin pesan ini sampai. Lagi-lagi pidato kemarin khas SBY untuk membalik keadaan yang awalnya menyudutkan dirinya. Apa yang disampaikan SBY pada 26 November lalu merupakan strategi politik yang salah. Pidato yang disampaikan kemarin mengambang, normatif, tidak jelas. Lalu malamnya diikuti penyematan penghargaan bagi Sultan. Ini tipikal SBY untuk menggaet simpati bukan hanya Sultan tapi juga masyarakat Yogya, sehingga momentum disesuaikan.

Inspired : Burhanuddin Muhtadi/detik.com & Metro TV

Keteladanan dari Van LITH

Oleh : Muhammad Ilham

van LITH, demikian nama akhir seorang pastor Belanda yang ditempatkan di Tanah Jajahan Hindia Belanda (baca: Indonesia), kurun waktu 1920-an hingga awal 1930-an. Walaupun "anak kandung" kolonial Belanda, ia anti dengan kebijakan Belanda yang kolonialis. Van Lith bersikap santun pada anak negeri. Walaupun ia ditugaskan menyebarkan ajaran Kristiani-Katholik ditengah-tengah penduduk pribumi yang mayoritas beragama Islam dan abangan, namun ia amat toleran dan menentang sikap menindas penjajah kolonial. Karena itulah, tercatat dalam sejarah kolonial Belanda di Hindia Belanda, Van Lith menandatangani dua nota minoritas yang menuntut perwakilan minoritas (dalam hal ini : perwakilan masyarakat Islam sebagai komunitas mayoritas) di dalam satu dewan. Dengan segala resiko, ia kemudian menentang peran mayoritas orang-orang Belanda yang minoritas tersebut di dalam volksraad (Dewan Rakyat) yang akan dibentuk.

Karena sikap Pastor yang mengedepankan nilai-nilai demokrasi-kemanusiaan tanpa disekat oleh ego primordialisme dan ideologi, ia kemudian amat sangat disegani. Hubungannya dengan tokoh-tokoh Islam kala itu juga baik. Dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam, ia memiliki hubungan sosial dan politik yang bagus dan saling menghargai. Ketika akan diadakan pemilihan untuk keanggotaan Volksraad - terjadi sebuah peristiwa sejarah yang cukup membuat kita merenung ..... Van Lith, seorang Pastor dan pemimpin Katholik justru dicalonkan oleh Partai Sarekat Islam. Peristiwa pencalonan pastor Van Lith ini menjadi anggota Volksraad oleh Partai Sarekat Islam Serang, dalam konteks interaksionisme-simbolik memiliki makna simbolis-historis yang amat penting. Tak terbayangkan oleh kita sekarang bahwa didalam situasi masyarakat tahun 1920-an, seorang Pastor dicalonkan untuk mewakili organisasi politik ummat Islam di sebuah lembaga politik yang memiliki posisi dan daya tawar strategis-penting di dalam sistem pemerintahan kolonial Belanda. Sejarah kemudian mencatat .... Van Lith lebih sering "menyuarakan" kepentingan masyarakat Islam dibandingkan ke-egoan-nya untuk menjalankan misi Pastoralnya dan misi nasionalisme-nya. Sebuah teladan dari orang yang bernama .... Van LITH.

Ceracau (Konon)

Oleh : Muhammad Ilham

Konon, istana Versailes Perancis nan megah itu, pertama sekali dibangun sekitar abad ke-18, tidak terdapat satu-pun WC di seluruh kamar dan sudut istana, kamar mandi hanya sedikit yang itu digunakan bersama-sama. Sementara, berdasarkan tinggalan arkeologis, empat ribu tahun lalu, masyarakat di Lembah Sugai Indus sudah mengenal WC. Konon, Presiden terkenal Amerika Serikat yang dianggap rasionalis-pragmatis - Benjamin Franklin - merupakan anggota Helfire Club yang memiliki kegandrungan melaksanakan pesta-pesta untuk mengundang setan. Konon, Mussolini yang dianggap pintar luar biasa oleh kaum fasis dunia ternyata pernah diusir gurunya karena menusuk pantat temannya dengan pisau. Edward Kennedy, senator Amerika Serikat dengan otak gilang gemintang, adik Presiden flamboyan JFK itu, pernah dikeluarkan dari Harvard karena ketahuan menyontek kala ujian. Konon, Presiden Amerika Serikat Lindon Baines Johnson yang pendiam-baby face tersebut bukanlah "remaja" yang baik kala berumur belasan tahun, pernah kabur selama 2 tahun dan tidak pulang-pulang ke rumah. Konon, Raja Mogut dari Siam (Thailand : sekarang), mempunyai bini 9.000 orang dan gundik, juga salah seorang Sulthan Turki Utsmany pernah "melempar" gundik-gundiknya dalam puluhan "goni" ke Selat Bhosporus. Konon, Ratu Zingua dari Angola pernah mempunyai harem lelaki dan kemudian memenggal kepala mereka setelah melakukan hubungan cinta.

Dan konon, sampul konstitusi Perancis terdiri dari kulit bangsawan yang di"kuliti" saat terjadinya revolusi. Konon, pendeta wanita pada kuil Indian purba suka melakukan hubungan seks dengan para pemuja dan kemudian memungut bayaran untuk kas kuil. Lelaki suku Tuareg di Sahara memakai cadar, sementara wanitanya justru tampak muka dan buah dadanya. Cassanova, konon, pernah hampir menikahi anak perempuannya, karena ketahuan oleh ibu si perempuan ini, maka Cassanova mengurungkan pernikahan tersebut. Konon, Raja Mataram Islam, Amangkurat I "mempergilirkan" gundiknya buat sang anak, Amangkurat II. Konon, Raja Henry VI membuka sidang parlemen Inggris ketika umurnya 3 tahun, dan si-Henry ini terus menangis meraung-raung selagi sidang berlangsung. Konon, ada satu suku di Angola yang membuat rumah mereka dari tahi sapi dengan campuran tahi manusia, dan mereka sangat menikmati "parfum" itu. Konon, pendiri Singapura Lee Kuen Yew tidak pernah absen membawa termos yang (selalu) berisi teh panas kemanapun ia pergi. Konon, Idi Amin si penguasa Uganda dikenal "canibal", memakan beberapa daging lawan-lawan politiknya. Daging-daging itu disimpannya dalam kulkas. Konon, Idi Amin ini tak tamat Sekolah Dasar.

Ternyata, banyak yang aneh-aneh bila ber-konon-konon, walaupun "berita" ini tidak dibuat-buat. Tapi bila, Gayus yang pegawai pajak itu memiliki uang "rampokan" lebih dari 100 milyar, itu bukan konon lagi. Saya tak tahu, apa hubungan tulisan diatas dengan Gayus yang "cengar-cengir" setiap sidang berlangsung dengan wajah "tanpa dosanya". Namun yang pasti, beberapa puluh tahun ke depan, akan ada kalimat, (konon), pegawai kecil di Indonesia (asal bekerja di Pajak dan institusi lain yang "dicurigai") bisa memiliki kekayaan 100 Milyar lebih, walau ia hanya golongan III A dengan masa kerja 5 tahunan. Seandainya-lah, ya .. seandainya, saya memiliki anak laki-laki, saya (takut) memberinya nama dengan Gayus Lumbuun .. eh, salah, Gayus Halomoan. Takut, bila ia dewasa nanti, ia akan terbebani dengan (konon). Hehe.

Foto : Kubisme Pablo Picasso (google.com)

Progress Malika Asy-Syifa Ilham @ Adek !!

Oleh : Muhammad Ilham

"Setiap anak dilahirkan dengan membawa pesan, bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia", kata Rabindranath Tagore. Karena itu, Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.



Malika As-Syifa atau Adek, hari ini, 20 Nopember 2010, kala kamu bangun pagi tadi, ayah ucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke-5. Ayah juga berterima kasih, bahwa kamu selalu dan senantiasa mengingatkan ayah tentang semua hal yang menurut kamu tak baik ayah lakukan, tentunya dalam bahasa anak-anak seusiamu. Kritik dan protes pada ayah, sungguh bermakna. Dan ayah ingin, hal tersebut terus kamu lakukan sepanjang usiamu dan usia ayah. Selagi kita hidup, anakku, ayah akan selalu mengingat bahwa kamu adalah amanah yang harus ayah jaga dari sang Robbi Illahi, Tuhan Yang Maha Kasih, Allah SWT. Ayah akan terus belajar menjadi seorang ayah sebagaimana Rasulullah menjadi ayah bagi anaknya, Fatimah. Ayah juga akan ingat, apa yang disampaikan Kahlil Gibran :


Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
...mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.


Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu, belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui. Nak, bacalah sejarah Nabi-nabi dan Rasul, serta temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah. Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun, bahkan di hadapan Allah, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan-Nya, hingga saat usia ayah yang sudah 36 tahun ini. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan. Inilah usaha terberatku, Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Allah.

Nak, Ayahmu barangkali tak kan pernah bisa menjadi orang kaya. Jadi, pandai-pandailah menempatkan dirimu sebagai anak orang biasa. Ayah barangkali tak selalu mampu menyediakan pangan terbaik, tapi jangan terlalu khawatir Nak, itu tak berarti ayah tak selalu berusaha penuhi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembangmu. Percayalah, banyak orang hebat di dunia ini yang terlahir, tumbuh, dan berkembang, hanya dengan mengkonsumsi penganan sederhana. Nak, kelak ayahmu barangkali tidak bisa menyekolahkanmu di sekolah-sekolah unggulan, tapi jangan terlalu risau, Sekolah unggulan bukanlah jaminan untuk bisa menjadi orang baik kelak. Percayalah, banyak orang mencapai kejayaan hidupnya tanpa bersekolah disekolah-sekolah unggulan nan mahal itu. Nak, kelak ayah barangkali tak mampu penuhi kebutuhan mu untuk gaul, tapi jangan ragu Nak, banyak orang-orang rendah hati di luar sana yang dengan tulus mau berteman denganmu, meski kamu tak punya modal untuk dicap gaul. Nak, kelak andai kamu merasa tak memiliki intelejensi di atas rata-rata, jangan terlalu cemas akan masa depanmu. Yakinlah, dengan tekad dan keuletan, masa depan gemilang tak mustahil tetap dapat kamu raih - tapi ingat Nak, kamu tak akan mampu tanpa do'a. Nak, andai kelak banyak orang meremehkan kamu atas apa yang cuma mampu kamu raih dan lakukan, tak usah bersedih Nak, Sepanjang hidup, Ayah juga mengalami banyak perlakuan tidak simpatik, diremehkan bahkan dilecehkan, Tapi yakinlah Nak, Semua itu tak akan mempengaruhi rencana Tuhan atas dirimu, Sejuta pelecehan manusia atas dirimu, tak akan mampu mengalahkan kuasa Tuhan jika Dia ingin memuliakan kalian. Maka dari itu Nak, cuma pada Nya respek tertinggi perlu kamu berikan. Nak, tak perlu gamang menjalani kehidupan, tak perlu terlalu risau dengan segala atribut dunia yang barangkali tidak akan pernah bisa kamu miliki, karena kamu hanya butuh hati yang bersih dan hasrat yang kuat untuk mengarungi anugrah kehidupan ini. Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dariNya, aku akan ikhlas, karena seperti itulah aku di dunia. Tapi kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya...... (Dengan IFA, kakakmu, selalulah kompak berdua !).

:: Mari kita rayakan dengan sederhana. Ayah janji, ayah akan selalu menjadi ayah dan kawan yang baik buat-mu, sampai "menutup mata".

Malika Asy-Syifa kala berusia 4 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 3 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 2 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 1 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 6 bulan

:: Kutulis ini dengan harapan, kelak tulisan ini bisa menjadi "warisan" baginya untuk dibaca dan diceritakan pada anak cucunya, kala saya dan ibundanya telah menghadap Tuhan Sang Pemilik Insan, kala tulang-tulang kami berdua telah memfosil.

Jumat, 03 Desember 2010

Ikhtiar Negara Islam Indonesia

Oleh : Muhammad Ilham

Ada kesaman gerakan (baca: pembangkangan) politik Islam waktu itu, yaitu situasi frustrasi, frustasi pribadi, komunal ataupun ideologis dengan mengusung satu term yaitu :”Daerah lawan Pusat” dan “Kelompok kita (Islam berdasarkan penafsiran mereka) melawan kelompok mereka”.

Teoritisi Sosiologi Konflik, Lewis Coser mengatakan bahwa konflik infra-struktur merupakan representasi dari friksi suprastruktur. Berbagai pemberontakan dan upaya dis-integrasi yang disemangati oleh “komunitas dan atau ideologi keIslaman”, haruslah diamati dari konteks sejarah politiknya. Proses kelahiran Indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang penuh dengan dinamika, membuat demokrasi tak bisa dilihat secara mulus-utuh. Kadang-kadang terasa ada jarak antara percaturan politik dikalangan politisi tingkat atas dan kelompok-kelompok-kelompok yang sesungguhnya diwakili di tingkat bawah. Maka, berbagai bentuk pertentangan yang muncul dalam panggung sejarah seringkali merefleksikan perbedaan kelompok elit, bahkan perbedaan pendapat pribadi-pribadi. Dalam konteks konflik dan gagasan pembentukan negara Islam Indonesia, dapat diabstraksikan kedalam empat fase utama. , yaitu : Fase dimana ideolog negara Islam tak berjarak dari rakyat. Merupakan ujung tombak sebuah “revolusi sosial” untuk mencapai kemerdekaan. Terdapat usaha-usaha kompromi dalam mencari kesepakatan diantara kelompok-kelompok yang berbeda paham, dalam pembentukan bangsa dan haluan-arah bangsa. Fase yang dikenal dalam sejarah pergerakan Indonesia sebagai fase menyusun tata demokrasi dan pemerintahan. Tercatat dalam sejarah, fase ini “riuh-rendah” dengan berbagai perpecahan karena perbedaan paham-golongan, disamping tentunya “who get what how and when (meminjam istilah Lasswell) – jatah kursi atau kedudukan. Fase ini penuh dengan dinamika tantangan, khususnya karena perubahan konstitusi negara dari Republik ke Republik Serikat dan kembali lagi ke Republik dan terus berjalan ke Demokrasi Liberal-Parlementer dan berakhir dengan munculnya Dekrit Presiden 1959 – kembali ke UUD 1945 – tapi dibayangi oleh SOB yang tak sesuai dengan spirit UUD 1945. Fase ketiga ini dikenal dengan masa demokrasi terpimpin (1959-1965), dan Fase ke empat (1965-1998).

Karena makalah ini merupakan “rekam-sejarah” untuk refleksi pada masa sekarang (harusnya : fase kelima yaitu fase pasca Orde Baru), maka pembahasan mengenai fase kelima tidak dijadikan sebagai “dasar” analisis lanjutan. Kesamaan dalam menggunakan terminologi negara Islam memberikan satu benang merah bahwa terdapat kesaman gagasan antara usulan partai-partai Islam (khususnya Masyumi), DI/TII dan Gerakan Imran (pada masa fase ke empat). Sejarah politik Indonesia mencatat bahwa setiap tahapan atau fase, karena terikat dengan konteks historis-sosiologis, punya watak dan warna tersendiri. Masalah negara Islam pada fase pertama tercatat disekitar upaya “improvisasi” dalam pencarian dasar negara yang akan dibentuk. Di masa pra-kemerdekaan, Pancasila belum ditetapkan sebagai dasar negara. Kelompok Islam yang diwakili para ulama termasuk elemen signifikan dalam mempersiapkan kemerdekaan RI. Sejak masa Jepang, para ulama dipercayai dalam sektor politik baik di badan-badan pemerintahan pusat, maupun jabatan-jabatan bupati seperti Cuo Sang In dan Syu Sangi Kai. (hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Belanda yang lebih mempercayai “pemimpin lokal berbasis genetic-kebangsawanan). Maka tak mengherankan apabila ulama memiliki peran besar dalam merumuskan dasar negara. Dan ketika mereka duduk di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), mereka mengajukan rumusan berdasarkan persepsi mereka : “Negara Berdasarkan Islam”.

Namun para ulama bukan satu-satu kelompok terkuat pada waktu itu karena ada kelompok lain yang dipersonifikasikan kepada kelompok Sukarno Hatta. Kelompok ini mengajukan Pancasila. Dan, kedua kutub ini bertemu di PPKI. Kompromi-pun mulai dicari. Kesepakatan dicapai pada tanggal 22 Juni 1945, yang tercatat sebagai rumuisan Panitia 9 dan dikenal sebagai Piagam Jakarta – Pancasila diterima sebagai dasar negara dan tuntutan para ulama masuk dalam Preambule (Pembukaan) UUD. Namun, konsensus dan kompromi dua kelompok besar ini tidak serta merta diterima oleh semua pihak, terutama kelompok minoritas kristen dari wilayah Indonesia Timur. Kendati mereka tak mengajukan rumusan, tetapi mereka tak mau “dirugikan”. Lewat perwakilannya, Mr. Latuharhary dan Angkatan Laut Jepang yang menguasai Indonesia Timur kala itu, mengajukan keberatan adanya kalimat : “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Keberatan ini diajukan secara resmi oleh perwira Angkatan Laut Jepang pada tanggal 17 Agustus 1945 sore, lewat Bung Hatta. Kemudian, keesokan harinya, keberatan ini disampaikan oleh Hatta kepada para ulama. Entah kebetulan sejarah atau “history accident”, mendesaknya waktu membuat para ulama menerima keberatan tersebut – entah ikhlas atau tidak. Maka Rumusan Piagam Jakarta-pun berubah karena 7 kata “Islam-politik” ter/dihapus.

Masalah Islam sebagai dasar negara kemudian muncul kembali dalam sidang-sidang konstituante, khususnya sejak akhir tahun 1956, di fase kedua ketika yang berlaku lagi bukan UUD 1945 tetapi UUDS 1950. tanggal 22 April 1959, Presiden Sukarno meminta Konstituante memberlakukan kembali UUD 1945. Fraksi-fraksi Islam setuju dengan meminta agar kata-kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” disertai dengan 7 kata-kata yang hilang sebelumnya. Secara politis, ini merupakan bentuk kompromi politik “win-win solution” karena dasar negara tetap Pancasila. Deadlock. Konstituante mengalami jalan buntu, Sukarno akhirnya “mengambil peran sejarah” – membubarkan Konstituante, 5 Juli 1959. Ideologi Islam via parlementaria akhirnya kandas. Sebelumnya, pada tahun 1949, Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo membentuk negara Islam Indonesia di Jawa Barat. Berawal dari sebuah pembangkangan. Pada tahun 1948, Jawa Barat berdasarkan Perjanjian Renville harus dikosongkan dari TNI. Sekitar 35.000 pasukan TNI kemudia hijrah ke Yogya. Pasukan Hisbullah dan Sabilillah tak menaati perintah dan tetap tinggal menjaga Jawa Barat yang telah dikosongkan oleh militer. Alasan Kartosuwirjo : memegang instruksi Panglima Jenderal Sudirman. “Entry history” ini memang kontroversial. Tentara Kartosuwirjo otomatis menguasai Jawa Barat, dengan nama Darul Islam. Kemudian, bentrokan terjadi ketika TNI kembali ke Jawa Barat. Pertempuran berlangsung bertahun-tahun, berlanjut dan terus terjadi hingga pemberontakan berikutnya. Lalu pada tahun 1952, Batalyon 423 (?) dan 426 TNI yang melakukan desersi di Jawa Tengah memberontak pula, yang kemudian diikuti oleh gerakan Islam garis keras di Kebumen dan Tegal serta Brebes. Keseluruhan gerakan ini kemudian membentuk NII dan bergabung dengan NII Jawa Barat dibawah Kartosuwirjo.

Pemberontakan juga pecah di Aceh dibawah pimpinan ulama kharismatis, Abuya Daud Beureuh. Pemberontakan ini merupakan pemberontakan “kemesraan yang dikecewakan”. Diturunkannya Aceh dari status Daerah Istimewa menjadi hanya sebuah Keresidenan dibawah Propinsi Sumatera Utara, membuat Abuya Daud menganggap Sukarno munafik. Tahun 1953, Abuya Daud mengeluarkan maklumat bergabung dengan NII dibawah Kartosuwirjo. Sebelumnya, tahun 1951, Kahar Muzakkar memberontak di Sulawesi Selatan. Kesepakatan para sejarawan mengatakan bahwa pemberontakan Kahar Muzakkar ini dilandasi oleh ambisi Kahar yang tak terpenuhi – menjadi pimpinan APRIS di Sulawesi. Kahar menghembuskan rasa kesukuan, kemudian menyatakan Sulawesi Selatan menjadi bagian dari NII. Masih di Sulawesi Selatan juga, pada tahun yang sama, Andi Azis, anggota APRIS bekas KNIL, memberontak di Ujung Pandang. Peristiwa ini menyebabkan PM Negara (Federal) Indonesia Timur Ir. PD. Diapari meletakkan jabatan karena tindakan Andi Azis ini. Hampir semua pemberontakan makan waktu yang panjang. Kahar Muzakkar baru bisa ditumpas pada tahun 1965. Dalam kurun waktu itu pula, berbagai pemberontakan bermunculan seperti pemberontakan Mr. Dr. Christian Robert Dteven Soumoukil, bekas Jaksa Agung NIT di Ambon. Kericuhan di pemerintahan pusat, termasuk pertentangan dalam tubuh TNI, ikut pula membuahkan pemberontakan. Tahun 1958, Ahmad Hussein memproklamasikan PRRI dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri. Tak lama kemudian, Ahmad Hussein bersama-sama dengan Kolonel Simbolon dan Kolonel Zulkifli Lubis dipecat yang pada akhirnya “mengkristalisasikan” niat mereka untuk melawan pusat.Kemudian, berdekatan dengan PRRI, terbentuk pula Permesta di Sulawesi Utara. Selain berpangkal pada kericuhan di tubuh angkatan bersenjata, juga akibat “akrobat politik” partai politik tertentu yang berhasrat melemahkan infrastruktur TNI. Sejarah kemudian mencatat, perlawanan dengan mengusung ideologi Islam (ulama di PPKI dan Konstituante, Daud Beureuh, Kartosuwirdjo, PRRI, Kahar Muzakkar) akhirnya kandas.

Awal Orde Baru, praktis isu negara Islam menjadi isu “haram”. Namun pada fase keempat ini, muncul anak muda yang bernama Imron dan temannya Salman Hafidz. Ia bermaksud mendirikan Dewan Revolusi Islam Indonesia (jauh sebelum Revolusi Islam Iran, artinya : isu ini betul-betul orisinil). Dengan kharisma yang dimilikinya, Imran membentuk pasukan dan anggotanya dibaiat. Dari berbagai kegiatan profokatif-destruktifnya, sejarah mencatat dua moment spektakuler (untuk konteks masa itu) yang dilakukannya yaitu Penyerangan Kosekta 8606 (?) Cicendo dan pembajakan pesawat terbang Garuda Woyla DC-9. Pembajakan ini akhirnya bisa digagalkan di Bandara Don Muang Thailand (Jenderal (Purn.) Lumbertus Benny Murdany dan Jenderal (Purn.) Sintong Panjaitan merupakan dua orang petinggi militer yang “naik namanya” dengan kasus pembajakan ini). Gerakan Imran gagal. Ia bersama temannya Salman Hafidz, oleh rezim Orde Baru, di hukum mati. DI Jilid II – “reinkarnasi Kartosuwirjo” – tamat. Ada kesaman gerakan (baca: pembangkangan) politik Islam waktu itu, yaitu situasi frustrasi, frustasi pribadi, komunal ataupun ideologis dengan mengusung satu term yaitu :”Daerah lawan Pusat” dan “Kelompok kita (Islam berdasarkan penafsiran mereka) melawan kelompok mereka”. Mungkin hanya pemberontakan PKI Madiun yang benar-benar digerakkan oleh motof ideologi dengan segala teori perlawanannya. Pada golongan frustrasi, seperti pada Imran di fase keempat tersebut, Islam ( menurut penafsiran mereka) memang boleh jadi sebagai penggerak. Tapi Islam, bila dihitung-hitung, hanyalah sekedar “alat cantik” ditangan Karosuwirjo yang konon klenik tersebut. Daud Beureuh di Aceh, memang seorang ulama. Toh, faktor Aceh lebih menentukan karena Abuya Daud memang dikenal sebagai Bapa Aceh.

Rabu, 01 Desember 2010

Misi Religius Nabi Muhammad dalam "Rekaman" Papirus

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Sejumlah ilmuwan kritis mengklaim, Muhammad tidak pernah ada. Dan Islam adalah ajaran yang muncul berabad-abad kemudian. Namun, setelah meneliti teks-teks papirus berbahasa Arab, Petra Sijpesteijn dari Universiteit Leiden membuktikan sebaliknya.

Bagaimana Islam muncul dan apa yang terjadi pada periode awal sejarah Islam? Sebelumnya, ilmuwan yang ingin tahu soal itu harus merujuk kepada versi sejarah Islam resmi yang baru disusun sekitar 200 tahun setelah Muhammad meninggal. Baru akhir-akhir ini muncul ketertarikan terhadap sumber-sumber yang lebih objektif, walaupun lebih sulit diakses - seperti koin, inskripsi dan teks-teks papirus. Terutama teks papirus amat penting, kata Petra Sijpesteijn, guru besar bahasa Arab di Universiteit Leiden. "Papirus adalah satu-satunya sumber kontemporer mengenai 200 tahun pertama sejarah Islam." Sijpesteijn adalah salah satu dari sedikit ahli (bahasa)Arab dengan spesialisasi dalam bidang penelitian teks-teks papirus berbahasa Arab. Belum lama ini ia menerima satu juta euro dari Lembaga Penelitian Eropa untuk meneruskan penelitiannya. Papirus adalah sejenis kertas kuno yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari : mencatat transaksi komersial, korespondensi pribadi, dan semacamnya.

Ribuan teks papirus ditemukan terkubur pasir di Mesir dan wilayah-wilayah Timur Tengah lainnya. Menurut Sijpesteijn, teks-teks ini biasanya sulit dimengerti, karena sebagian sudah hancur atau dibuat dengan tulisan yang sulit dibaca dan berbahasa dialek setempat. "Namun siapa pun yang bisa membacanya, punya akses meneliti kehidupan sehari-hari masyarakat Arab di periode awal islam." Ilmu papirologi Arab masih amat muda. Baru sedikit dari ratusan ribu teks yang dipelajari. Toh sekarang, penganut islam sudah bisa menarik napas lega : menurut Sijpesteijn, data-data yang ditemukan mengkonfirmasi cukup banyak sumber resmi Islam. Sijpesteijn tak setuju dengan sekelompok kolega yang dijuluki para 'revisionis.' Mereka mengklaim bahwa nabi Muhammad tidak pernah ada. Orang-orang Arab sebenarnya cuma kelompok tak terorganisir yang kebetulan berhasil menguasai setengah dunia. Dan Islam diduga baru diciptakan dua ratus tahun kemudian di Irak. "Teks-teks papirus menunjukkan bahwa serangan tentara Arab dilakukan dengan cermat dan terorganisir. Orang Arab melihat diri sendiri sebagai penakluk dengan misi religius. Mereka ternyata juga punya pandangan religius - mereka menjalankan dan menjaga elemen-elemen penting islam yang nantinya juga dimiliki dan diyakini muslim pada abad-abad selanjutnya." Begitulah, menurut Sijpesteijn, tak lama setelah Muhammad meninggal, muncul perintah haji dan zakat. Ia juga menemukan papirus dari tahun 725 yang menyebutkan baik nabi Muhammad maupun Islam.

Toh penemuannya tetap mengancam keyakinan sebagian muslim modern mengenai sejarah Islam. Dari sumber-sumbernya, misalnya, diketahui bahwa kemenangan Arab bukanlah sesuatu yang mengejutkan dan unik seperti dikisahkan buku-buku sejarah islam. Faktanya, tak banyak orang menyadari kemenangan Arab. "Di Mesir dan Suriah, misal nya, hampir tak ada yang berubah pasca kemenangan Arab. Hanya saja, pejabat-pejabat tertinggi mereka digantikan oleh orang Arab. Perlu waktu berabad-abad sebelum pengaruh bahasa Arab dan islam menyebar di masyarakat luas." Teks-teks papirus ini juga menyangkal gagasan banyak muslim modern bahwa Muhammad menyebarkan islam sebagai agama 'siap-pakai.' "Dari teks-teks ini terlihat bahwa islam perlahan-lahan berproses menemukan bentuknya pada abad-abad awal. Waktu itu, banyak sekali perdebatan mengenai makna menjadi seorang muslim." Juga ditemukan papirus yang menuliskan, ada perdebatan apakah zakat harus diwajibkan oleh negara atau cukup disumbangkan secara sukarela. "Pertanyaan besarnya : apa makna islam untuk orang-orang pada tahun 700? Apakah waktu itu sudah ada lima rukun islam dan perintah naik haji seperti yang kita kenal sekarang?"

Sumber : Radio Nederland Wereldomroed/Foto : teks papirus

Bagi Sri Mulyani, Aburizal Bakrie (Pantas) Cacat !!

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Wanita Indonesia itu/bukan tipikal Dharma Wanita
Apatah lagi tipikal ibu PKK
Wanita Indonesia adalah Rohana Kudus dan Siti Manggopoh
Martina Tiahahu ataupun Dewi Sartika
(Puisi seorang sahabat)

".... Korupsi (di Indonesia) seumpama lingkaran setan dan partai politik berada di titik pusatnya ... !!"

"Who get what how and when", demikian kata Harold Lasswel. Ini terasa bila menyorot lingkaran setan korupsi dengan partai politik sebagai titik pusatnya. Pansus Century, Aburizal bakri dan Sri Mulyani menjadi bukti dari semua itu. Sedari awal, kala Pansur Century dibentuk, banyak yang mengatakan, Pansus ini hanyalah "angek-angek cirik ayam", "malakik nan diati dapek, saluang taruih diambuihkan", tak serius, hanya sampai apa yang diinginkan didapatkan. Dari awal-awal, banyak pengamat sudah memprediksi sejak Pansus pertama bersidang, bahwa setelah Sri Mulyani dicopot dari jabatan Menteri Keuangan, maka sasaran Pansus sudah selesai dan kader Golkar di Pansus dilarang vokal lagi, termasuk kader PKS. Sri Mulyani dianggap memulai pertempuran setelah menyampaikan pandangannya bahwa Golkar tidak akan bersikap fair kepadanya. Tudingan Sri Mulyani dijawab Golkar dengan pembeberan rekaman pembicaraan Menteri Keuangan tersebut dengan Robert Tantular, meski akhirnya dibantah langsung oleh Sekretaris KSSK Raden Pardede. Ingat, ini dikemukakan pertama sekali oleh politisi Golkar Bambang Susatyo, yang sampai hari ini tidak pernah meminta maaf bahwa ia salah memberikan informasi yang terkesan menuduh.

Mundurnya Sri Mulyani bisa jadi karena adanya kompromi politik yang harus mengorbankan Sri Mulyani sebagai tumbal. Bisa jadi juga Sri Mulyani berkorban untuk atasannya. Tapi saya rasa tidak, karena menilik dari pidato perpisahannya di Departemen Keuangan jelang berangkat ke posisinya yang baru di World Bank, secara tegas Sri Mulyani mengatakan : "pemimpin yang baik tidak akan pernah mengorbankan anak buahnya". SBY-kah ?. Sri Mulyani bisa jadi merasa muak pula terhadap perilaku partai politik yang sebenarnya sadar bahwa Menkeu/Ketua KSSK ini hanya menjalankan perintah atasannya, namun belagak tidak tahu dan hanya menyasar dirinya. Partai politik (parpol) tidak ada satu pun yang berani menyasar Presiden SBY sebagai penanggungjawab atas skandal Century. Parpol pun meniadakan fakta-fakta hukum dengan alasan politik yang sungguh tidak masuk akal bahwa semuanya sekali lagi seharusnya ada Presiden atau Wapres saat itu yang harus bertanggungjawab. Sayangnya, media massa juga terlena dengan permainan parpol utamanya Golkar yang memang hanya menyasar Sri Mulyani atas dasar pribadi ketua umum Golkar yang diduga tidak menyukai Sri Mulyani. Media cetak misalnya tidak pernah menulis dan memperhatikan apakah bosnya Golkar (Aburizal Bakrie) telah membayar tunggakan pajak perusahaannya atau tidak. Sehingga, wajar apabila kini ada penilaian bahwa mundurnya Sri Mulyani identik dengan kemenangan Golkar.

Apa sebenarnya asal mula yang menjadi pemicu konflik antara Ical dengan Sri Mulyani? Diambil dari Referensi ‘Summary Audit Investigatif BPK atas Lumpur Lapindo’ dan ‘Audit Investigasi BPK atas Lumpur Lapindo’ maka mengindikasi terjadi pelanggaran prosedur dan peraturan mulai dari proses tender, peralatan teknis hingga prosedur teknis pengeboran sumur-sumur minyak di Sidoarjo. Fakta yang lebih meyakinkan adalah dokumen serta pernyataan Arifin Panigoro sebagai pemilik perusahaan operator pengeboran sumur PT Lumpur Lapindo yang mengaku PT Lapindo telah melakukan pelanggaran atas SOP serta tidak mau melaksanakan tindaka preventif. Karena penyebab utama terjadi sumburan lumpur di Sidoardjo adalah aktivitas pengeboran, maka pihak yang bertanggungjawab adalah PT Lapindo Brantas sebagaimana diatur dalam UU 23/1997 dan PP 27/1999 (detik.com). Meskipun sudah cukup jelas penyebab dan siapa penanggungjawabnya, namun alih-alih Presiden SBY mengeluarkan Per.Pres 14 tahun 2007 jo Per.Pres 48/2008, yang mana pemerintah (dengan anggaran rakyat) membantu biaya lumpur Lapindo yang disebabkan oleh kesalahan manusia mengundang bencana. Terbitnya peraturan presiden tersebut sangat merugikan uang negara. Dalam kurun 3 tahun, 795 miliar APBN dikucurkan untuk membantu kelalaian pengeboran Lapindo selama 2007-2009. Rinciannya sebagai berikut : Rp 114 miliar pada 2007, Rp 513 miliar pada 2008, dan 168 miliar pada 2009. [LKPP 2007, LKPP 2008 dan UU APBN P 2009]. Baca juga : Jusuf Kalla dan 3 Tahun Lumpur Lapindo. Dalam kasus lumpur Lapindo, saya sepakat dengan Bu Sri Mulyani yang menginginkan “Perusahaan Bakrielah (Lapindo) yang bertanggung atas biaya penanggulangan lumpur Lapindo, bukan negara”.

Kesalahan kedua Bakrie dimata Sri Mulyani adalah karena adanya usaha pemerintah SBY-JK dalam mengintervensi penjualan saham PT Bumi Resource Tbk yang notabene adalah milik keluarga Bakrie. Pada Oktober 2008 silam, bersamaan krisis finansial dunia, saham-saham perusahaan nasional di BEI jatuh bebas tidak terkendali. Saham BUMI yang 3 bulan sebelumnya mencapai Rp 7000 per saham, anjlok dibawah Rp 1000 per saham. Tapi, pihak otoritas saham tiba-tiba menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham bumi yang diduga adanya tekanan Bakrie melalui pemerintah SBY-JK. Sri Mulyani yang ikut membidani masalah keuangan berang. Sri meminta pencabutan penghentian sementara perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk pada 7 Oktober 2008. Atas kasus ini, beredar kabar bahwa Menkeu Sri Mulyani sempat "mengancam" mengundurkan diri jika saham Bakrie masih disuspensi.

Kesalahan ketiga Bakrie dimata Sri Mulyani adalah kasus royalti batubara yang ditunggak oleh perusahaan Bakrie (berbeda-beda menurut versi Menkeu, BPK dan ICW).Kesalahan ketiga Bakrie dimata Sri Mulyani adalah pembakangan royalti batubara yang dilakukan perusahaan batubara, yang sebagian diantaranya adalah perusahaan milik Bakrie. Sri Mulyani tidak habis berpikir, mengapa ada perusahaan yang berani menghindari pajak/royalti dan bahkan menunggak bertahun-tahun. Sedikitnya 2-5 triliun Tidak hanya sampai disitu, SM juga membuat keputusan pencekalan terhadap sejumlah petinggi perusahaan batu bara Bakrie. Kesalahan keempat Bakrie dimata Sri Mulyani adalah rencana Bakrie menguasai saham 14% PT Newmont Nusa Tenggara. Mengingat potensi yang besar dari Newmont, Sri Mulyani menolak keinginan Bakrie membeli 14 persen saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara. Saat menjabat pelaksana tugas Menko Perekonomian, Sri Mulyani meminta agar seluruh saham dibestasi Newmont dibeli oleh perusahaan negara. Meski begitu, ketika jabatan Menteri Koordinator Perekonomian berpindah ke Hatta Rajasa, melalui Multicapital akhirnya Bakrie bisa mendapatkan 75 persen dari 14 persen saham Newmont. Keinginan Bakrie terwujud walau tak sampai 100 persen. Tentu saja, tunggakan pajak di atas sudah ada yang diselesaikan oleh Ical. Paparan tersebut di atas hanya sekedar memutar kembali tentang faktor apa sebenarnya yang menjadi pemicu awal konflik antara Ical dan Sri Mulyani.

Sri Mulyani Indrawati, menurut saya adalah seorang profesional dan Boediono juga seorang profesional. Keduanya mempuyai persepsi yang sama tentang Ical. Lihatlah, Golkar dan Ical belakangan ini teramat sangat getol mendukung adanya reshuffle dan ditentang berat oleh Boediono, diduga Boediono mencium hal-hal yang tidak beres dengan reshuffle ini. Nampaknya Boediono mau tidak mau sudah mulai belajar "berpolitik".

Sumber :: beberapa artikel di detik.com/mediaindonesia.com (Foto : google.picture.com)

Magnet Soekarno dalam Pergaulan Internasional

Oleh : Muhammad Ilham

Bangsa yang tidak percaya diri untuk tegak mandiri, tidak percaya pada kekuatannya sendiri, menjadi bangsa penjiplak, maka bangsa itu tidak bisa menjadi bangsa merdeka ! (Pidato HUT Proklamasi, 1963)

Biarlah foto-foto ini "berbicara", bagaimana seorang "Putra Fajar" menjadi magnet bagi kawan dan lawannya di dunia internasional. Memang banyak orang mengatakan, bahwa Soekarno adalah Presiden ultra-flamboyan - dalam bentuk lain dari "pencitraan" - tapi harga diri dan kemandirian merupakan kata kunci dari perjuangannya. Ia merasakan derita dan mengeluarkan "peluh keringat" untuk sebuah bangsa bernama Indonesia. Ia dan bangsanya tak ingin jadi "pinggiran", ia ingin jadi "ingatan" orang banyak, menjadi "magnet" bagi pemimpin dunia lainnya. Dan, Indonesia berawal dari harga diri yang tercabik dan dihinakan oleh yang namanya kolonialisme - buah dari "kapitalisme", karena itulah, "muka tengadah" arah kedepan sambil tertunduk melihat "masa lalu" menjadi icon pemikiran putra tersayang Idayu Agus Rai ini.


Presiden Sukarno baru tiba di bandara Washington DC, AS, pada siang hari. Didampingi oleh wakil presiden AS, Richard Nixon, Bung Karno disambut penuh oleh pasukan AS dengan 21 kali tembakan kehormatan. Bung Karno tiba di Washington dalam rangka kunjungan selama 18 hari di AS atas undangan Presiden AS, David Dwight Eisenhower (Foto: 16 Mei 1956).


Presiden Sukarno dan Presiden AS, Kennedy, duduk bersama di dalam mobil terbuka, sedang melewati pasukan kehormatan di pangkalan Angkatan Udara AS, MD. Bung Karno datang ke AS dalam rangka pembicaraan masalah insiden Kuba (Foto: 24 April 1961).


Presiden Sukarno menjadi tamu kehormatan Kaisar Jepang, Hirohito, dan pangeran Akihito. Bung Karno dijamu makan siang di istana kekaisaran Jepang di Tokyo (Foto: 3 Pebruari 1958).


Presiden Sukarno berdiri berdampingan dengan 4 pemimpin negara Non Blok setelah mereka selesai mengadakan pertemuan. Dari kiri kekanan : Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Bung Karno, dan Tito (Presiden Yugoslavia). Kelima pemimpin negara non blok ini mengadakan pertemuan yang menghasilkan seruan kepada Presiden AS, Eisenhower (Presiden AS) dan Perdana Menteri "Uni Soviet"/Rusia, Nikita Khruschev, agar mereka melakukan perundingan diplomasi kembali (Foto: 29 September 1960).


Presiden Sukarno bersama Perdana Menteri Perancis, Gerard Pompidou (Foto: 1965).


Presiden Sukarno sedang bercakap-cakap dengan Presiden Kuba, Osvaldo Dorticos Torrado (kiri), dan Perdana Menteri Kuba, Fidel Castro (kanan) di Havana, Kuba (Foto: 9 Mei 1960).


Menjadi cover majalah TIMES tahun 1946

Gambar Perangko Negara tetangga yang ada gambar Soekarno

Sumber : www.google.picture.com

Sabtu, 27 November 2010

Amir Syarifuddin (Harahap) : "Ia yang dibuang Sejarah"

Oleh : Muhammad Ilham

Perjalanan hidup para elit politik Indonesia dahulu berbentuk formula "dari penjara ke kabinet", yang terjadi kini pada elite politik adalah "dari kabinet ke penjara" (...... Entah dimana saya baca kutipan ini)

Bila melihat album, mata kita akan terfokus lebih dulu kepada tokoh yang kita kenal baik. Setiap provinsi merasa mesti memiliki pahlawan. Tidak cukup daerah tingkat I, kabupaten pun berlomba mengusulkan pahlawan mereka. Ini terutama terjadi pada masa akhir Orde Baru. Setelah era reformasi, perlombaan ini menyurut. Pahlawan yang berjumlah seratusan orang itu seakan memiliki kelas. Ada yang sering disebut, ada pula yang tak pernah disinggung dalam pidato ataupun pelajaran sekolah. Amir Syarifuddin, termasuk kategori yang tak disebut, mungkin sudah dilupakan. Kalau di kota Padang, kala kita bertanya secara acak pada mahasiswa (terutama IAIN), "kenalkah kalian dengan Amir Syarifuddin ?", maka mereka akan menjawab, "kenal, mantan Rektor IAIN Padang dan Ketua MUI Sumbar !". Kebetulan IAIN Padang dan MUI Sumbar pernah dipimpin "sosok genius" bernama Prof. Amir Syarifuddin. Tapi bukan Amir Syarifuddin yang rektor atau Ketua MUI ini. Amir Syarifuddin yang "kita ceritakan" adalah ia yang "entah berada dimana" dalam belantara sejarah anak bangsa (baca : sejarah formal).

Amir berasal dari keluarga Batak Islam bercampur Kristen. Kakeknya, Ephraim, adalah seorang jaksa beragama Kristen. Ayahnya, Soripada, juga menjadi jaksa dan beralih ke agama Islam ketika menikah dengan seorang gadis Batak muslim. Amir Sjarifuddin Harahap merupakan Perdana Menteri RI yang dieksekusi bangsanya sendiri tanpa proses hukum. Pada 19 Desember 1948 tengah malam di Desa Ngaliyan, Solo, sebanyak 20 orang penduduk desa disuruh tentara menggali lubang sedalam 1,7 meter. Amir - berpiyama putih-biru, bercelana panjang warna hijau dan membawa buntelan sarung - bertanya kepada kapten yang ada di situ, "Saya ini mau diapakan?" Amir Sjarifuddin bersama 10 orang lainnya ditembak satu per satu. Konon, menjelang ia dieksekusi, Amir Syarifuddin masih sempat untuk terus membaca buku. Tanggalnya masih dipersoalkan apakah 27 Mei atau 27 April, tapi yang jelas ia lahir seabad silam di Medan. Amir Sjarifuddin (dan Sjahrir) adalah tokoh yang berjasa mempertahankan eksistensi negara Indonesia pada awal kemerdekaan. Pada 1945 sampai Januari 1948 keduanya menjadi perdana menteri. Mereka diangkat untuk menangkis tuduhan Belanda bahwa pemerintah Indonesia adalah boneka Tokyo karena Soekarno-Hatta berkolaborasi dengan "saudara tua dari Negeri Matahari Terbit". Sjahrir dan Amir berjuang di bawah tanah semasa pendudukan Jepang. Ir Setiadi Reksoprojo, 86 tahun, Menteri Penerangan dalam kabinet Amir Sjarifuddin pada 1947, memberikan kesaksian 13 halaman tulisan tangan kepada saya yang menjelaskan jasa Amir dalam mengefektifkan angkatan bersenjata Indonesia. Sejak November 1945 sampai Januari 1948, Amir Sjarifuddin berturut-turut menjadi Menteri Keamanan Rakyat/Menteri Pertahanan. Saat itu Indonesia berhasil membantu pemulangan ribuan pasukan Jepang dan internir Belanda.

Pada awal masa kemerdekaan, unsur tentara terdiri dari berbagai kelompok terlatih (eks didikan Belanda/Jepang) dan laskar. Dalam masa transisi, menurut Amir diperlukan Tentara Masyarakat. Tentara itu juga butuh pendidikan politik. Pandangan ini bertentangan dengan Hatta, yang melakukan rasionalisasi tentara dari 400 ribu menjadi 60 ribu. Perbedaan kebijakan itu antara lain yang di lapangan memicu timbulnya Peristiwa Madiun 1948, tempat Amir menjadi salah seorang korbannya. Jenjang karier Amir menarik karena berkebalikan dengan yang sering terjadi sekarang. Ia ditahan Jepang dan masih mendekam di penjara Malang sampai 1 Oktober 1945 sebelum dibebaskan dan diberangkatkan ke Jakarta untuk dilantik menjadi Menteri Penerangan. Amir sempat menempuh pendidikan sekolah menengah di Negeri Belanda mengikuti jejak saudara sepupunya, T.S.G Mulia. Pada 1931 ia aktif dalam Partai Indonesia (Partindo), yang didirikan Bung Karno. Kemudian ketika tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir diasingkan Belanda dari Pulau Jawa, Amir menggagas Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Organisasi ini cukup maju dalam mendefinisikan kewarganegaraan berdasarkan kediaman (tempat lahir), bukan ras. Rekan Amir dalam organisasi ini adalah Dr A.K. Gani, yang tahun ini diusulkan sebagai pahlawan nasional. Pada 1938-1941 Amir menjadi redaktur majalah sastra Poedjangga Baroe. Selanjutnya, Amir juga aktif pada GAPI (Gabungan Politik Indonesia) bersama M.H. Thamrin.

Amir Sjarifuddin adalah seorang pemimpin yang memiliki prinsip seperti dikisahkan Fransisca Fanggidae (82 tahun, kini eksil di Belanda), yang ikut dalam pelarian pada 1948. Di suatu desa, anak buahnya mengambil buah kelapa milik warga, Amir mengeluar kan tembakan peringatan dan memarahi mereka. "Tentara harus melayani rakyat, bukan mengambil kepunyaan rakyat," ujarnya. Dari empat tokoh nasional yang menduduki jabatan tertinggi (presiden, wakil presiden, dan perdana menteri) yang pertama di Indonesia, tiga orang (Soekarno, Hatta, dan Sjahrir) menjadi pahlawan nasional. Sedangkan yang satu lagi, jangankan diberi bintang jasa, biografinya pun tidak boleh beredar semasa Orde Baru. Pada 1984 penerbit Sinar Harapan sempat mencetak tesis Frederick Djara Wellem di Sekolah Tinggi Theologi Jakarta berjudul "Amir Sjarifuddin, Pergumulan Imannya dalam Perjuangan Kemerdekaan". Namun, buku tersebut terpaksa dimusnahkan karena Jaksa Agung tidak berkenan. Dalam sejarah Indonesia, Amir Sjarifuddin tak hanya dibuang dan dilupakan, tapi juga tidak diakui !!

Referensi : Asvi Warman Adam (2002 & 2006)

Kamis, 25 November 2010

Obama dan Israel : Sebuah Utopia

Oleh : Muhammad Ilham

“When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel ….." (Obama)

Saya masih ingat bagaimana antusiasnya Imam Besar Masjid Istiqlal menceritakan kefasihan Obama mengucapkan Insya Allah. "Sampai tiga kali lho," kata sang Imam ini dengan mata berbinar dan menunjukkan kekaguman. Berangkat dari inilah, seorang teman saya yang kebetulan sama-sama pulang sholat Isya di Musholla samping rumah, mengatakan bahwa Obama-lah satu-satunya Presiden Amerika Serikat yang berpihak pada Islam. "Yakinlah, Israel pasti ditekannya", kata teman saya tadi dengan mata berbinar-binar seperti binarnya mata si Imam Masjid Istiqlal yang ditontonnya menjelang pergi sholat Isya malam itu. Nampaknya teman saya tadi lupa dengan "Pidato Inaugurasi" Obama pada waktu malam kemenangannya setelah dinyatakan mengalahkan John Mc. Quin - lawannya. Pada waktu inaugurasi kemenangannya tersebut, Obama berpidato, disiarkan secara lengkap oleh berbagai stasiun TV di dunia ini, salah satu TV swasta Indonesia ini, Obama berdiri dengan gagah di atas podium. Dan di depan podium itu, tertera 5 (lima) huruf kapital besar – AIPAC. Seketika, saya ingat buku karangan Paul Findley yang telah diterjemahkan oleh Penerbit Mizan “Mereka Berani Bicara”. Dalam buku ini, Findley mengupas-tuntas pertanyaan : “Mengapa lobi Yahudi-Israel begitu kuat dalam ranah politik Amerika Serikat pasca Perang Dunia ke-2?”.

Findley mengatakan bahwa politik negeri Paman Sam ini tidak bisa berkata “tidak” pada Yahudi-Israel karena sebuah organisasi-publik kemitraan bernama AIPAC (American Israel Public Agency Council). Dalam AIPAC ini berkumpul para ekonom-pialang, politisi dan intelektual Amerika Serikat keturunan Yahudi. Mereka inilah yang dominan mempengaruhi politik Amerika Serikat, mulai dari “pengkondisian calon-calon Presiden hingga kebijakan politik luar negeri. AIPAC kata Findley, adalah bentuk lain dari “Gedung Putih”. Pada tahun 2007, menurut Congressional Research Service, Amerika Serikat telah memberikan bantuan militer pada Israel USD 30 milyar. Konon, AIPAC berperan besar atas bantuan yang spektakuler ini mensikapi pengaruh Iran yang semakin besar di Timur Tengah. Pidato Obama di forum AIPAC menunjukkan kepada kita, Obama tak bisa melepaskan diri dari Yahudi-Israel. Penggalan pidatonya yang mengatakan bahwa Hamas merupakan organisasi teroris dan kebijakan negara Israel harus didukung, memperjelas posisi politik Obama. “When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel …..”. Ketika masih menjadi senator, Obama memiliki voting record pro-Israel. Tahun 2006, beliau menjadi salah seorang sponsor the Palestian Anti Terorism Act yang dalam salah satu item-nya menempatkan Hezbollah sama dengan Al-Qaeda. True Friends of Israel pantas disandang Obama.

Lalu, pantaskah kita mempersalahkan Obama? Pantaskah kita berharap banyak pada Obama ke depan? Findley sebenarnya telah menjawab, bahwa siapapun yang akan menjadi Presiden Amerika Serikat, pengaruh AIPAC sulit untuk dihindari. Penunjukkan Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri kabinet Obama memperjelas pengaruh lobi Yahudi yang luar biasa. Konon, Obama tidak sreg dengan Bill Clinton, suami Hillary. Clinton dan Hillary merupakan sahabat “politik” terdekat dari Benjamin Netanyahu – ultranasionalis Israel. Namun, hampir 1/3 anggota kabinet Obama adalah “kerabat politik” Bill Clinton. Kecil kemungkinan persoalan Palestina bisa terselesaikan dengan baik pada era Obama ke depan. Sangat tidak mungkin Obama melawan arus “pakem” kebijakan politik standar Amerika Serikat, apalagi Obama nyata-nyata telah mendukung Israel sebelum ia jadi Presiden. Persoalan Palestina-Israel, lebih memungkinkan hanya bisa diselesaikan oleh komunitas Timur Tengah, khususnya negara-negara Islam Teluk. Kita tak bisa berharap banyak pada PBB, demikian juga dengan Amerika Serikat, siapapun presidennya. Dalam ilmu politik, antara Israel dan Palestina telah terjadi cyrcle bargaining, siklus tawar-menawar. Siapa yang menunggangi dan ditunggangi, tidak jelas secara konkrit. Apakah Israel yang menunggangi Amerika Serikat atau sebaliknya. Namun yang jelas, hubungan Amerika Serikat dan Israel adalah hubungan simbiosis mutualis, saling menguntungkan. Oleh karena itu, kemauan politik negara-negara Timur Tengah-lah yang lebih rasional dan memungkinkan. Apakah bisa hal ini terjadi? Seandainya mereka kompak, Palestina dari dulu terselesaikan dengan baik, kata mendiang ayah saya yang mengagumi Gamal Abdel Nasser......... Dan yang bisa menyembuhkan Palestina hanyalah kemauan politik negara-negara Islam Timur Tengah. Obama akan terus berjalan dengan garis politik yang tidak bisa dihindarinya, walaupun ada kata-kata Hussein dalam penggalan namanya. Wallahu a'lam bish shawab.

Kemana Saya Harus Pergi untuk Menjadi Pahlawan ?

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

“Nama saya Setan, saya datang untuk berguru. Ajarilah saya menjadi pahlawan.....” (Putu Wijaya)

Bulan november 2010, panggung “hari pahlawan” telah dikudeta oleh Obama hanya karena kata-kata ” sate”, “bakso”, “pulang kampung nih”, “assalamu’alaikum”, “bhineka tunggal ika”, “bemo”, “becak”, “sarinah” dan sebelumnya di jamuan makan malam ada kata “nasi goreng” ” emping”, “krupuk”, serta yang pasti “semua enak”. Kata-kata yang bagi kita-kita adalah “biasa” disulap menjadi “luar biasa”, dan sepertinya kata-kata inilah yang berhak mendapat gelar “pahlawan” dalam panggung teatrikal Obama 18 jam transit di Indonesia tepatnyah Jakarta. Kata-kata yang telah mengalahkan para nomine gelar pahlawan yang salah satunya adalah bapak pembangunan Soeharto. Sepuluh november 2010 di jamuan makan malam, SBY memberikan gelar “pahlawan” pada emaknyah Obama yang disambut oleh Obama dengan perkataan yang menggugah “Indonesia bagian dari diri saya”, … Fantastis … Bombastis … 6000-an penonton menyambutnya dengan tepuk tangan riuh gempita, mengalahkan tepuk tangan “kejujuran” ala realiti show "Uya Memang Kuya"… maka tak salah kalo sastrawan Bali Putu Wijaya bilang : "Indonesia adalah tempat untuk menjadi pahlawan". Hicks.

Teringat di tahun 2006, Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya menggedor penonton di Taman Ismail Marzuki dengan pertunjukan Zetan dengan lakon : “Zetan: Setan Berguru Jadi Pahlawan“, dengan konsep “bertolak dari yang ada” untuk menciptakan tontonan yang menjadi teror mental, sehingga menjadi pengalaman spritual dan pembelajaran untuk mandiri. Kisah bermula dari guru berhenti mengajar, karena bertentangan pendapat dengan pihak sekolah yang hanya berusaha mencetak ijazah. Lalu guru mendirikan pendidikan gratis yang mengajarkan mencintai bangsa, negara, tanah air dan keberagaman. Tetapi bertahun-tahun tidak ada yang mau belajar. Pada suatu malam datang Zetan, minta dididik menjadi pahlawan. “Nama saya Setan, saya datang untuk berguru. Ajarilah saya menjadi pahlawan.” Begitulah si Setan memperkenalkan dirinya. Sang Guru terhenyak keheranan, mengapa Setan yang ingin menjadi pahlawan? Tapi karena tekad si Setan untuk menjadi pahlawan sudah bulat, maka si Lelaki tua itu mengajarkan ilmu kepahlawanan: seorang pahlawan harus rela berkorban, pantang menyerah, membela kaum tertindas, dan tanggguh.

Ia tak muncul dalam penampakan seram. Zetan-memakai “Z”, bukan “S”, meski dari famili yang sama-datang bertamu ke rumah seorang guru. Ia mengendarai sebuah sepeda. Baju dan celananya, alamak…, bak siswa sekolah dasar: putih dan merah. Ia membawa meja lipat segala. Dengan muka kolokan, sembari duduk manis, ia memohon kepada Pak Guru untuk dididik menjadi seorang pahlawan yang sanggup menyeberangkan orang dari neraka ke pintu surga. Sang guru terenyak. Ketemu berapa perkara: setan tiba-tiba ingin berperi-laku baik? Sang guru pun menolak, karena ia hanya mengajar manusia. Tak mau ditampik, Zetan kemudian menunjukkan kekuatannya di atas panggung: mengancam dan menerkam sang guru. Sebuah boneka raksasa serba hitam-sekitar tiga meter tiba-tiba muncul dari balik layar, menegaskan sisi angkara-murka yang dimilikinya. Berbarengan dengan munculnya sang raksasa, musik berdentam keras. Mengagetkan. Bayang-bayang hitam di layar putih di belakang panggung menebalkan daya teror pertunjukan itu pada penonton. Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya menggedor penonton di Taman Ismail Marzuki dengan pertunjukan Zetan. Bayang-bayang raksasa itu menciptakan efek visual yang menekan. Ia yang digerakkan dengan tangkas oleh para pemain di belakangnya mencengkeram, menampar, menerjang. Lalu Zetan kembali ke wajah imutnya, menyampaikan permintaannya sekali lagi : meminta dididik budi pekerti agar bisa menjadi pahlawan. Sang guru- yang bertahun-tahun tak punya murid lantaran dipecat setelah memasukkan pelajaran budi pekerti pada kurikulum sekolah-pun mengabulkannya. Zetan atau setan atau syaiton itulah yang membuat para guru kelimpungan dibuatnya. ”Bagaimana mungkin setan atau syaiton hendak menjadi muridku dan lebih dari itu, kau mau menjadi pahlawan kemanusiaan,” pekik Guru kalang kabut ketika Zetan mendatanginya.

Maka, setelah berbekal budi pekerti, setan pun bertanya, “Ke mana saya harus pergi untuk menjadi pahlawan?“ Sang guru menganjurkan untuk ke Indonesia. “Kalau ada gunung meletus, kalau ada gempa, dan orang-orang datang bukannya menolong tapi menyusahkan, itulah Indonesia. Kalau ada gedung parlemen dengan deretan mobil mewah, itulah Indonesia,” ucap guru. Singkat cerita, Zetan lulus cumlaude dan siap ditugaskan ke sebuah wilayah yang penuh dengan kesemrawutan di dunia bernama Indonesia. Maka si Setan terbakar semangat kepahlawanannya, ia dikirim ke sebuah negeri yang tengah dilanda bencana alam dan kemrosotan kepribadian rakyatnya. Aneh, belum berbuat apapun ia telah dielu-elukan sebagai pahlawan. Mungkin rakyat di negeri itu merindukan sosok seorang pahlawan. Tetapi setelah pulang ke dunianya, ia dibenci temannya sesama setan. Ia dituding sebagai penghianat. Si Setan baik hati itu dihajar beramai-ramai oleh temannya sendiri. Tubuhnya bersimbah darah saat mendatangi gurunya. Si Setan tidak tahu jika menjadi pahlawan harus membayar mahal dengan nyawanya. Ia mati di tangan bangsanya sendiri. Cerita teatrikal Putu Wijaya tentang “Zetan” beberapa tahun lampau ini tentunya kalah pamor dengan panggung “pahlawan” Obama tanggal 10 November 2010. Panggung perayaan “hari pahlawan” yang telah mengangkat kata-kata ” sate”, “bakso”, “becak” dan “bemo” sebagai pahlawan ditahun 2010.

:: Sumber (c) Kopral Cepot/Nopember 2010 - Putu Wijaya (dalam Goenawan Mohammad, 2007)

Selasa, 23 November 2010

Ironi TKI : "Siapa Sebenarnya yang Majikan ?".

Oleh : Muhammad Ilham

" .... bangsa kuli dan kuli bangsa " (Douwes Dekker)

Cerita Tenaga Kerja Indonesia (baca : TKI) seumpama cerita "telenovela", ada kisah bahagia penuh tawa, tapi tak sedikit kita disuguhkan cerita miris-sedih penuh air mata. Sucses story para TKI di negeri seberang, pada dasarnya merupakan inspirasi bagi semua orang, anak bangsa ini, untuk tidak hanya bertepuk dada. Mereka sukses di negeri orang, karena negerinya tak memberikan ranah untuk membuatnya sukses. Demikian juga halnya dengan cerita duka "pahlawan devisa" (ah ... gelar usang !), ketika mereka dinistakan di negeri orang lain, telunjuk juga harus dan mutlak dihadapkan kepada bangsa ini, mereka pergi dan dinistakan di negeri orang karena mereka tak memiliki kesempatan untuk sekedar menaikkan taraf hidup di negeri yang mungkin dibangun "peluh-keringat" orang tua mereka. Berbagai kisah sedih yang dialami oleh TKI dan bagaimana bangsa ini memberikan "solusi" seakan-akan membuat kita nelangsa.

Sumiati dan Kikim Komalasari, memulai kembali "drama usang" penyiksaan TKI di luar negeri. Sumiati seorang pembantu rumah tangga di Arab Saudi asal NTB, digunting bibirnya. Kikim Komalasari dibunuh dengan benda tumpul (ada yang menyebut digorok setelah diperkosa). Mereka "meregang nyawa" dan tersakiti di negeri orang lain. Kebuasan seperti itu bukan sekali ini saja terjadi. Beberapa tahun yang lalu tentu kita masih ingat kemalangan serupa yang menimpa Nirmala Bonet di Malaysia. Masalah yang selalu mengemuka adalah minimnya perlindungan terhadap TKI yang mengakibatkan begitu mudahnya hak-hak asasi mereka dilanggar. Pemerintah dan agen penyalur TKI selalu menjadi kambing hitamnya. Sejauh ini mereka memang kambing hitam yang sesungguhnya, namun ada sesuatu yang nampaknya luput dari perhatian publik. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan esensial melatarbelakangi rentetan kejadian-kejadian serupa ini. Kedudukan pembantu rumah tangga dalam struktur sosial selalu berada di bawah. Mereka dianggap orang dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah. Mereka juga sering dianggap orang yang 'tidak tahu apa-apa', awam, lugu. Pada situasi seperti ini secara alamiah akan terbentuk suatu hubungan majikan-pembantu yang tak ubahnya seperti tuan-budak di abad pertengahan. Jika ditelusur lebih dalam lagi, terdapat kemungkinan adanya norma-norma lokal tertentu yang memberi 'pembenaran' terhadap perilaku ini. Di Arab Saudi tidak jarang kita mendengar bahwa 'pembantu perempuan' sama dengan 'budak' di mana majikan laki-laki memiliki hak menyetubuhinya.

Seperti lazimnya hubungan tuan-budak, tidak ada sehelai pun batas perlakuan yang boleh maupun yang tidak boleh dilakukan seorang tuan kepada budaknya. Budak adalah barang di mana tuannya memiliki hak penuh atasnya. Jika premise ini ditarik dari skala individu tiap-tiap pembantu kepada skala komunitas pembantu dari Indonesia, maka akan nampak bahwa bahwa sesungguhnya gejala yang sama terjadi pada hampir semua, jika tidak dapat dikatakan semua, pembantu rumah tangga Indonesia yang bekerja di luar negeri. Pola hubungan tuan-budak tidak selalu berakhir pada kekerasan fisik. Beberapa atau mungkin banyak di antara mereka diperlakukan sangat baik oleh tuannya. Diberi uang lebih, pakaian, fasilitas kesehatan, dan lain-lain. Perlakuan semacam ini tidak berarti mereka memiliki kedudukan sama dengan tuannya, sebab secara faktualnya kehidupan para budak (pembantu) itu 100% berada di tangan majikan (tuan)nya. Tidak ada daya sedikit pun dari mereka untuk secara leluasa melakukan apa yang mereka rasa ingin atau perlu mereka lakukan. Toh, pada abad pertengahan tidak jarang kita dengar kisah tuan-tuan yang begitu baik pada budak-budaknya.

Dengan demikian, bangsa ini sesungguhnya telah mengalami pelecehan atas kehormatan dan kedaulatannya. Para pembantu itu tidak dapat dipungkiri adalah representasi bangsa yang terbesar jumlahnya di luar negeri. Maka jelaslah, bahwa peristiwa-peristiwa 'kecil' penyiksaan TKI itu sesungguhnya adalah suatu penggalan drama saja dari keseluruhan cerita bahwa bangsa ini tidak memiliki nilai kehormatan di mata bangsa lain. Situasi ini benar-benar diperparah dengan ketidakmampuan pemerintah memberi perlindungan dan pembelaan pada para pembantu itu. Tidak mengherankan jika kemudian kasus-kasus kekerasan terus saja terjadi, sebab ketidakmampuan pemerintah ini memberi pesan yang jelas bahwa keseluruhan bangsa ini sebenarnya sudah takluk pada kekuatan majikan-majikan di luar negeri. Jika para pembantu itu adalah budak dari tiap-tiap majikannya, maka pemerintah Indonesia adalah budak dari pemerintah negara majikan-majikan itu. Titik.

Referensi : beberapa data diambil dari detik.com

Senin, 22 November 2010

Calo Haji Masa Kolonial Belanda

Oleh : Muhammad Ilham

Untuk memperoleh uang banyak dan kedudukan yang tinggi, banyak pula caranya. Salah satunya, calo. Dengan modal fasilitas, koneksitas dan profesi-jabatan, calo menyeruak dalam semua lini kehidupan manusia, mulai dari percaloan tingkat tinggi hingga calo tingkat rendahan. Dari calo pajak yang "mengeruk" keuntungan milyaran bagi sang calo, dan kerugian trilyunan bagi masyarakat hingga calo terminal yang beromzet recehan. Ada calo politik tingkat nasional, hingga calo tingkat RT/RW. Calo itu ada dan bekerja dalam durasi 24 jam satu hari. Ibarat "rasa makanan", calo tak mengenal nasionalisme maupun mempertimbangkan wilayah sacred. Di Gedung DPR, Istana, Departemen hingga masjid juga ada calo. Dan mungkin, hingga berakhirnya dunia ini, calo akan terus eksis, berkembang biak dan bermetamorfosis dalam setiap perjalanan waktu. Pemilu, penyusunan anggaran, mudik hingga haji-pun mengenal percaloan. Pelaksanaan haji, yang masuk dalam wilayah "ibadah-sacred", menjadi gula-gulali bagi para calo, karena pelaksanaan haji (mulai dari proses pendaftaran, pemberangkatan hingga pelaksanaan), uang "berputar" dalam omzet yang demikian banyak. Dalam sejarah, sejak zaman kolonial Belanda, pelaksanaan haji, termasuk "ranah" paling menarik bagi para calo, seperti Laporan Laporan Residen Cirebon tanggal 10 Juli 1893 ini.

Laporan yang dikutip Dien Majid, menyebutkan pengalaman buruk Residen Cirebon ketika melaksanakan haji tahun 1893. Saat membeli tiket, Adiningrat - sang Residen, dilayani oleh W.H. Herklots, adik J.G.M. Herklots. Adiningrat musti membayar f.150 plus premi f. 7,50 per kepala; lebih mahal dari tarif pemerintah sebesar f.110. Padahal di reklamenya, Herklots menawarkan harga lebih murah: “Harga menoempang f.95 satoe orang troes sampai di Djeddah dan anak-anak oemoer dibawah 10 taoen baijar separo harga, anak yang menetek tidak baijar.” Sialnya lagi, menjelang tanggal keberangkatan haji, W.H. Herklots kabur duluan dari Cirebon dan dia berangkat ke Jedah menggunakan kapal De Taroba. J.G.M. Herklots dan teman Arabnya, Syekh Abdul Karim, “penunggu Kabah”, juga menipu pihak berwenang Mekah dan memanfaatkan mereka untuk menjaring jamaah haji yang hendak pulang ke Hindia Belanda. Herklots memakai identitas palsu untuk bisa masuk Mekah, yakni Haji Abdul Hamid, pribumi Hindia Belanda beragama Islam. Identitas baru ini perlu karena orang-orang non-Muslim tak diperkenankan masuk Mekah.

Herklots menggunakan identitas palsu ini untuk mengajukan pinjaman pada Syarif Mekah. Syarif Mekah bersedia memberi pinjaman f.150.000 dengan dua catatan. Pertama, di kantor Herklots ditempatkan dua jurutulis Syarif Mekah, yang bertugas mengawasi kegiatan kongsi, terutama jumlah jamaah. Setiap sore mereka mengambil keuntungan sesuai perjanjian yang disepakati. Kedua, di pihak lain, para syeikh kepercayaan Syarif Mekah membantu Herklots mencari jamaah yang telah selesai menunaikan ibadah haji untuk pulang ke tanah air. Dengan kesepakatan ini Herklots mendapat perlindungan. Dan dengan bantuan para syeikh, dia bisa leluasa menjaring para jamaah yang hendak pulang sementara agen-agen haji lain susah-payah mendapatkannya. Di Mekah, para “Haji Jawa”, sebutan untuk jamaah haji Hindia Belanda, dipaksa naik kapal api dari agen Herklots. Supaya tak pindah ke kapal lain, mereka diwajibkan membayar tiket sejak di Mekah.

Jamaah haji yang telah membayar mahal ini dibuat terlantar saat menunggu tanpa kepastian kapan kapal carteran Herklots dari Batavia datang. Mereka menunggu di tenda-tenda di lapangan terbuka tanpa fasilitas memadai. Para jamaah, yang kehabisan duit itu, mengadukan perlakuan buruk Herklot pada konsulat Belanda di Jedah dan bikin konsulat Belanda geram. Mereka memaksa Herklots mengembalikan uang tiket tanpa harus menunggu kapal carteran. Herklots bersedia mengembalikan separo dari harga tiket, 31 ringgit. Selain keluhan keterlambatan dan penelantaran, banyak jamaah haji mengeluhkan fasilitas kapal pengangkut jamaah. Majid menulis, kapal Samoa yang dipakai Herklots tak dirancang sebagai kapal penumpang. Akibatnya, dek atas dan bawah penuh penumpang dengan ventilasi yang buruk. Banyak penumpang jatuh sakit. Majid juga mengutip kesaksian Sin Tang King, gelar raja muda Padang yang berganti nama menjadi Haji Musa, salah seorang penumpang kapal : “Sampai di Djeddah saja liat ada banjak kapal tetapi tiada kapal boleh kami naik di lain kapal hanja misti masok kapal Samoa, dan kapal lain sewanya tjoema 15 ringgit ada djoega jang 10 ringgit djikaloe orang maoe naik di lain kapal oewang jang telah dibajar di Mekkah itoe ilang sadja. Satoe doewa orang jang ada oewang dia tiada perdoeli ilang oewangnja 37 ringgit itoe dia sewa lain kapal, sebab di kapal Samoa tiada bisa tidoer dan tiada boleh sambahjang karena semoewa orang ada 3.300 (sepandjang chabar orang) djadi bersoesoen sadja kami jang tiada oewang boewat sewa lain kapal...”. Kapal Samoa berangkat menuju Batavia pada 7 Agustus 1893 dan transit semalam di Aden. Setelah berlayar dua hari dari Aden, menurut kesaksian Si Tang Kin, tepat hari Selasa sekira pukul 17.00 Samoa dihajar badai dahsyat. Kapten kapal tak memberi tahu akan datangnya badai sehingga pintu terbuka dan orang-orang di kapal riuh, berhimpit-himpitan dengan peti, hingga ada yang kepalanya pecah, putus kakinya, atau terhempas ke laut. Dalam satu malam, seratusan orang tewas. Mereka dibuang begitu saja ke laut tanpa disembahyangkan atau dikafani.

Referensi : Imam Shofwan (11-2010)/Foto : republika.co.id