Rabu, 05 Mei 2010

IA yang bernama SRI MULYANI

Oleh : Muhammad Ilham

(Hari ini, seluruh media massa tanah air memberitakan Sri Mulyani mundur jadi Menteri Keuangan per tanggal 1 Juni 2010 yang akan datang, dan Menteri wanita Smart ini "diminta" mengisi pos baru-nya yang telah lama "dielus-elus" oleh World Bank, sebuah posisi strategis dan "mencorong", jadi Managing Director World Bank. Posisi yang rasanya seperti "mukjizat" bagi bangsa seumpama Indonesia. Nanti, Sri akan memantau regulasi dan pertumbuhan ekonomi 70 negara di kawasan Amerika Latin dan Asia dari tempatnya di Washinton DC. Menteri Keuangan Terbaik Dunia ini, adalah sedikit diantara sangat sedikit anak bangsa yang memiliki kepintaran dan kinerja serta integritasluar biasa. Ia "disayangi" di luar negeri dengan nama yang sangat harum, tapi di caci maki oleh politisi-politisi kampret (buktinya : setelah SBY merestui Sri Mulyani mundur jadi Menkeu, beberapa Partai Politik yang selama ini "keras" terhadap Sri Mulyani seperti Golkar, PDI-P dan PKS "ramai-ramai" berwacana siapa pengganti Sri Mulyani versi mereka. Mereka lupa, bahwa publik tidak sedang terjangkiti amnesia (penyakit lupa) sebagaimana halnya penyakit yang diderita oleh Nunun Nurbaeti, istri politisi PKS Adang Daradjatun yang dianggap sebagai "perantara" suap anggota DPR-RI yang mayoritas dari PDI-P melalui "Travel cequegate". Nunun bahkan dianggap mengalahkan ratu suap, Arthalita Suryani. Yaa, publik tidak bodoh dan diam, publik merekam dalam memori mereka, siapa yang kampret, busuk .... siapa yang betul-betul profesional. Ketika isu Neo-Liberal di"bebankan" pada Sri Mulyani (dan Beodiono), ternyata, ketika Sri Mulyani (mau) mundur, justru yang terjadi adalah Partai-Partai yang getol menggunakan istilah Neo-Liberal justru ramai-ramai "menaikkan" tokoh-tokoh yang juga dikategorikan Neo-Liberal. Karena itu, bak kata Sejarawan (yang saya lupa) : "mari kita lawan amnesia sejarah". Jangan lupa-kah peristiwa sekarang untuk menjadi pedoman pada Pemilihan Umum 2014 yang akan datang. Historia vitae Magistra !!

Artikel ini pernah saya publish beberapa bulan yang lalu, namun menjadi aktual kembali hari ini !)


Hati kecil saya “menangis” ketika foto Sri Mulyani dirobah dan dibakar oleh para demonstran (yang mungkin tidak mengerti untuk apa mereka demonstrasi) seperti Vampir dengan gigi panjang dan dua tanduk menakutkan. Hati kecil saya “menangis” karena Sri Mulyani pernah menolak keinginan Abu Rizal Bakrie untuk menjadikan Tragedi Lumpur Lapindo sebagai tanggung Jawab pemerintah (dan bukan tanggung jawab PT. Minarak yang merupakan “anak kandung” PT. Bakrie) karena berpotensi menghacurkan ekonomi Negara, namun kemudian setelah Aburizal Bakrie jadi Ketua Golkar, Sri Mulyani dijadikan Target untuk dijatuhkan …… Padahal banyak politisi DPR dari Golkar yang terlibat suap Pemilihan Deputi Gubernur BI, justru dibiarkan Aburizal. Hati kecil saya “menangis” ketika Sri Mulyani di ”setting” sebagai musuh bangsa oleh DPR-RI yang konon dimotori oleh PDI-P dan Partai Golkar via Pansus Angket, karena konon – sekali lagi konon – Aburizal Bakri “dendam” pada Sri Mulyani dan Budiono karena Sri Mulyani pernah suatu waktu menolak keinginan Aburizal Bakrioe untuk mengambil sebuah kebijakan agar saham perusahaannya tidak jatuh ….. dan Sri Mulyani tidak mau karena justru melanggar regulasi nasional.

Hati kecil saya masih berharap mudah-mudahan hasil pemeriksaan investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas kasus Bank Century itu tidak seluruhnya benar. Sebab, kalau memang tidak ada yang salah, akibatnya akan sangat dramatis: kita bisa kehilangan menteri keuangan yang sangat kita banggakan. Seorang menteri, Sri Mulyani, yang reputasinya begitu hebat. Baik di dunia internasional maupun dalam mengendalikan keuangan negara. Secara internasional dia terpilih sebagai menteri keuangan terbaik di dunia dua tahun berturut-turut. Di dalam negeri dia dikenal sebagai menteri pertama yang berani mereformasi birokrasi di departemennya. Juga menteri yang sangat ketat mengendalikan anggaran negara. Bahkan, dialah satu-satunya menteri yang berani minta berhenti ketika ada gelagat pemerintah akan membela seorang konglomerat yang dia anggap tidak seharusnya dibela.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada yang tiba-tiba mengatakan: kesimpulan BPK itu diperoleh dengan cara kerja yang kurang benar. Maka kita tidak akan kehilangan menteri keuangan yang pandainya bukan main itu. Pandai dalam ilmunya, pandai dalam menjelaskan pikirannya, dan pintar bersilat kata. Saya melihat kecepatan berpikirnya sama dengan kecepatan bicaranya. Kalau lagi melihat cara dia mengemukakan pikiran, seolah-olah otak dan bibirnya berada di tempat yang sama.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada orang yang tiba-tiba menemukan data bahwa BPK telah salah ketik. Maka, kita tidak akan kehilangan menteri yang mampu rapat dua hari dua malam nonstop untuk menyelamatkan keuangan negara. Rapat itu tidak boleh berhenti karena lengah sedikit berakibat pada kebangkrutan ekonomi nasional. Rapat itu tentu melelahkan karena angka-angkalah yang akan terus berseliweran. Angka-angka yang rumit: kurs, suku bunga, devisa, likuiditas, rush, neraca perdagangan, stimulus, dan seterusnya. Angak-angka itu saling bertentangan, tapi menteri tidak boleh memilih salah satunya. Dia harus membuat keputusan yang harus memenangkan semua angka yang saling merugikan itu. Padahal, dia baru saja tiba dari Washington, AS, untuk berbicara di forum KTT G-20 yang amat penting itu. Di Washington dia tahu bahayanya ekonomi dunia. Tapi, dia mampu memikirkan keuangan internasional sekaligus keuangan nasional dalam waktu yang sama di belahan dunia yang berbeda. Dia harus menghadiri KTT G-20 di Washington saat itu saat rupiah tiba-tiba melonjak menjadi Rp 12.000 per dolar AS. Dia harus tampil cool di forum dunia yang Singapura pun tidak boleh ikut di dalamnya itu sambil tegang bagaimana harus mengendalikan rupiah yang sudah membuat warga negara Indonesia panik semuanya. Dialah menteri yang datang ke Washington hanya untuk mengemukakan pikiran briliannya dan harus langsung kembali ke tanah air pada hari yang sama untuk mencurahkan perhatian pada ekonomi yang hampir bangkrut itu.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada orang yang mengatakan bukan dia yang harus bertanggung jawab. Tapi, ada pihak lainlah yang harus mendapat hukuman. Kalau tidak, kita akan kehilangan seorang menteri yang di saat ibu kandungnya, Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko, sedang sakit keras menjelang ajalnya, dia tidak bisa menengok sekejap pun. Dia memilih mencurahkan segala pikiran, tenaga, dan emosinya untuk menyelamatkan ekonomi bangsa ini. Dia tidak bisa menjenguk ibu kandungnya yang jaraknya hanya 45 menit penerbangan di Semarang sana. Dia harus mencucurkan air mata untuk dua kesedihan sekaligus: kesedihan karena ibundanya berada di detik-detik akhir hidupnya dan kesedihan melihat negara dalam bibir kehancuran ekonomi. Dua-duanya tidak bisa ditinggal sedetik pun. Rupiah lagi terus bergerak hancur dan detak jatung ibunya juga lagi terus melemah. Dan, Sri Mulyani memilih menunggui rupiah demi nyawa jutaan orang Indonesia.

Maka hati kecil saya masih berharap ada data di kemudian hari bahwa kebijaksanaan itu sendiri tidak salah. Sebab, sebuah kebijaksanaan bisa diperdebatkan salah benarnya. Saya masih berharap yang salah itu dalam pelaksanaan kebijaksanaannya. Yakni, saat mendistribusikan uangnya yang Rp 6,7 triliun itu. Dan saya sangat-sangat yakin dia tidak mendapatkan bagian serupiah pun. Maka saya sangat bersedih karena sampai hari ini belum ada satu pihak pun yang berhasil mengatakan bahwa hasil pemeriksaan BPK itu salah. Belum ada yang membantah bahwa hasil pemeriksaan BPK itu keliru. Semua masih mengatakan, hasil pemeriksaan BPK itu menunjukkan bahwa dia bersalah dalam mengambil keputusan. Dan hukum harus ditegakkan.

Insert : Foto Sri Mulyani - www.newyorktimes.com

(Mayoritas tulisan ini terinspirasi/rewrite dari Artikel Dahlan Iskan)

Tidak ada komentar: