Selasa, 14 Desember 2010

Gender dan Teror Kekuasaan : "Ketika Tubuh Wanita Menjadi Sasaran Tembak" (Bagian 2)

Oleh : Muhammad Ilham

Saya mulai dari potongan berita di vivanews.com, berikut :


“Saya tidak menghambat seseorang, katakanlah Julia Peres ataupun Maria Eva melaksanakan hak-hak konstitusinya. Tapi, saya juga tidak bertentangan dengan konstitusi. Salah satu syarat adalah bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Maka, pasal zina ini adalah refleksi dari itu. Jadi bukan menghambat hak konstitusi seseorang”[1]

Salah satu berkah reformasi adalah “meratanya” kesempatan bagi setiap warga negara untuk menjadi kepala daerah. Asal sesuai dengan kaedah-kaedah dan aturan konstitusi yang ada. Bila pada masa Orde Baru, mimpi untuk menjadi Kepala Daerah, harus diawali dengan masuk “biduk” Golongan Karya (bukan partai Golkar). Demikian juga, bila ingin menjadi Menteri dan Duta Besar serta pejabat BUMN dan seterusnya. Sehingga, pada masa Orde Baru, sulit kita jumpai – untuk mengatakan tidak pernah – ada Kepala Daerah dari kalangan artis. Kepala Daerah pada masa ini sejatinya adalah politisi, politisi Golkar. Kalau-pun ada, biasanya hanya menjadi anggota Parlemen. Itupun boleh dikatakan tidak ada. Kecuali dari Partai Demokrasi Indonesia – Sophan Sophian. Barulah pada tahun 2000-an, bermunculan nama-nama artis yang masuk dalam bursa Calon Kepala Daerah. Ada yang terpilih, ada yang tidak. Ada yang ingin coba-coba, ada yang ingin menaikkan “rating” di dunia keartisannya, ada yang benar-benar serius. Dan sejarah mencatat beberapa nama artis yang bisa menjadi Kepala daerah “produk” era reformasi seperti Rano Karno, Dede Yusuf dan lain-lain. Sedangkan di Senayan, berkibar nama-nama seperti Marissa Haque, Rachel Maryam, H. Qomar “Tiga Sekawan”, Jamal Mirdad, Eko Patrio dan lainnya. Ini kemudian menginspirasi beberapa artis lainnya untuk bersaing dalam pemilihan Kepala Daerah. Akhirnya, public disuguhi tontonan menarik, dimana artis-artis selama tahun 2009-2010, banyak yang mengadu peruntungan untuk (sekedar) menjadi Calon Kepala Daerah. Saya katakan sekedar, karena ada beberapa diantaranya yang gugur dalam proses seleksi. Persoalan financial, saya fikir bukan persoalan bagi artis-artis tersebut. Mereka memiliki uang yang cukup. Maka, Ayu Azhari (yang juga dikenal sebagai artis seksi) mencalonkan diri menjadi Calon Bupati Sukabumi. Majunya Ayu Azhari yang merupakan kakak dari Sarah dan Rahma Azhari (yang dua ini, tak kalah seksinya pula) menjadi perbincangan public di beberapa kesempatan, terutama di jejaring sosial facebook dan twitter. Para fesbukiyah dan twit banyak yang mendukung, banyak yang menolak.

Belum habis perbincangan hangat tentang Ayu Azhari, muncul pula Julia Peres. Ini menjadi lebih heboh. “Pacar” Gastano (pemain bola LI asal Argentina, saya lupa nama lengkapnya) “membusungkan dada” untuk mencalonkan diri jadi Calon Bupati Pacitan, kampungnya Presiden SBY. Tak tanggung-tanggung, Julia Peres menwarakan pada adik sepupu SBY untuk menjadi Wakilnya. Partai Demokrat diincar jadi “biduk” politik. Julia Peres yang dalam dunia keartisan lebih dikenal sebagai artis “bodi semlehoy” ini mulai berpakaian rapi, tapi tetap lekuk-lekuk tubuhnya terlihat. Ia mulai wara-wiri kesana kemari mencari dukungan. Bahkan, ia minta izin pada salah seorang kiai sepuh Nahdatul Ulama. Sang kiai ini-pun dengan gembira mendo’akannya. Sebagaimana halnya Ayu Azhari, public pun terbelah. Ada yang mendukung dengan argument bahwa siapapun sama dimata konstitusi, tapi tak sedikit pula yang menentang dengan alas alasan bintang Film Hantu Jamu Gendong ini tak layak untuk dicontoh, karena memiliki track-life sebagai pengumbar syahwat dibandingkan ide-ide cemerlang. Bahkan di jejaring facebook dan twitter terlihat “modifikasi” foto Julia Peres di berbagai baliho membuat “jakun” anak bujang turun naik. Akhirnya Julia Peres, kandas. Ia kalah dalam proses penjaringan calon. Nampaknya Partai Demokrat tak mau berjudi.


Cerita Ayu Azhari dan Julia Peres pun lanjut dengan episode yang lebih menggemparkan. Belum hilang ingatan public mengenai Video Hot anggota senior Partai Golkar, Yahya Zaini (waktu itu : Ketua Departemen Bidang Agama Partai Golkar/mantan Ketua HMI), “lawan mainnya” dalam video hot itu, Maria Eva, mencalonkan diri pula menjadi Calon Bupati di sebuah Kabupaten di Jawa Barat. Hal ini banyak menimbulkan kontroversi di tengah-tengah public. Maria Eva tetap kukuh mencalonkan diri jadi Calon Kepala Daerah. Tapi sebagaimana halnya Ayu Azhari dan Julia Peres, Maria Eva yang juga dikenal sebagai penyanyi dangdut yang tidak begitu terkenal (lebih dikenal karena affairnya), gagal dalam tahap penjaringan. Tapi, keadaan ini tak hanya terputus sampai di Maria Eva. Sebelumnya, artis Primus Yustisio, Penyanyi Dangdut Ayu Soraya dan lain-lain juga kalah dalam pertarungan. Mungkin hanya Andre “Opera van Java” Taulany yang hingga sekarang masih “berkesempatan” bertarung di Tangerang Selatan.


Saya tak ingin mengomentari fenomena sosiologis munculnya artis-artis dalam ranah politik Indonesia. Serta kemenangan-kekalahan mereka dan seterusnya. Saya hanya ingin menghubungkan dengan lontaran/ide Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi diatas. Pertanyaan kritis yang bisa dimunculkan adalah : “Mengapa tawaran pasal Zina begitu urgen ? Bisakah Mendagri menjamin, calon-calon yang lain bebas dari perzinaan ? Mengapa tawaran tersebut terkesan hanya pada calon wanita ? dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang pada prinsipnya ingi menegaskan bahwa tawaran controversial tersebut, disamping (menurut sebagian kalangan) diskriminatif, juga hanya ditujukan pada maraknya calon-calon artis “semlehoy” dan identik dengan budaya hippies, maju menjadi calon kepala daerah.


Tawaran Gamawan Fauzi ini keluar, kala perbincangan terhadap majunya Julia Peres dan Maria Eva. Bukan kala beberapa artis yang lain maju menjadi calon legislative atau Kepala Daerah, dan menjadi “meredup” kala Andre Taulany masih “bersaing” sekarang ini. Publik pun dengan mudah menilai, tawaran Gamawan Fauzi ini hanyalah ingin menjegal atau memberio warning pada Julia Peres dan Maria Eva. Ia tak memberikan “tawaran” lain, misalnya pada salah seorang Bupati di Sumatera Barat yang terpilih kembali menjadi Bupati, padahal baru selesai “membuang dosa” dalam penjara karena kasus korupsi-nya pada jabatan Bupati periode sebelumnya.
Sekali lagi, ini memperkuat anggapan bahwa kesewenangan kekuasaan selalu merugikan kaum wanita. Padahal, wanita dan laki-laki sama dalam hak konstitusi. Tubuh dan keseksian, menjadi “sasaran” tembak. Memang pemerintah berkewajiban mengarahkan masyarakatnya kepada yang lebih baik, tapi pemegang kekuasaan telah menteror dengan memblow-up dan membentuk opini pada public. Bila ingin konsisten, seharusnya tawaran ini dalam aplikasi merata dan tetap ditawarkan hingga sekarang. Sekali lagi, akhirnya telunjuk mengarah kepada pemegang kekuasaan yang dipegang laki-laki. Akhirnya, “Salah satu syarat adalah bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Maka, pasal zina ini adalah refleksi dari itu”, bagaimana dengan yang nyata-nyata pernah terlibat kriminalitas, bagaimana yang pernah terindikasi shabu-shabu dan seterusnya.

Angelina Sondakh itu cantik. Dengan muka tirus-nya, kita merasa nyaman memandangnya. Semua kita pasti sepakat, apalagi saya. Ditambah lagi, ia smart. Sekarang ia dianggap sebagai representasi artis dengan otak cemerlang dalam jagad perpolitikan Indonesia. Muda, pintar, bekas Putri Indonesia, artis dan suaminya gagah pula – Adjie Massaid. Ada yang bilang, Partai Democrat beruntung memilikinya.[2] Anggie, demikian biasa ia dipanggil, juga dikenal santun dan humanis. Ia masuk dalam politikus muda “Negara demokrat” bersama-sama dengan Anas Urbaningrum, Ibas Yudhoyono dan Adjie Massaid.[3] Mungkin karena cantik, santun dan pintar itu-lah, maka Pimpinan Pusat Partai Demokrat mempercayakan padanya posisi Pelaksana Tugas Harian (Plth.) Ketua Partai Demokrat Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagaimana yang kita ketahui belakangan ini, isu yang paling hangat dalam ranah politik Indonesia adalah (perseteruan) SBY versus Sultan Hamengkubuwono X berkaitan dengan Keistimewaan daerah Yogyakarta. Keistimewaan yang didalam-nya in-clude penetapan Gubernur-Wakil Gubernur secara otomatis bagi Ngarso Dalem Sri Sulthan Hamengkubowono X sebagai Gubernur dan Paku Alam sebagai Wakilnya. Karena pemerintah memiliki perspektif lain tentang konsep penetapan Gubernur/Wakil Gubernur ini, maka konstelasi politik Yogyakarta menjadi panas. Imbasnya antara lain, mundurnya KGPH. Prabukusomo sebagai Ketua Umum Pimpinan Daerah Partai Demokrat DIY. KGPH. Prabukusomo merasa Partai Demokrat adalah “actor utama” penggerogotan dominasi politik Keraton di DIY. Sebagai Ketua Umum Partai penguasa, apalagi Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu legislative di Yogyakarta (2009) mengalahkan Golkar[4], tentunya posisi Ketua Umum Partai Demokrat tersebut sangat prestisius dan memiliki bargaining position signifikan.

Mundurnya KGPH. Prabukusomo sebagai Ketua Umum Pimpinan Daerah Partai Demokrat DIY hanya menimbulkan kontroversi yang tidak begitu lama. Walaupun media massa memblow-upnya, tetap isu ini tidak se-kontroversi, misalnya, isu wikileaks atau kematian mbah Maridjan kemaren. Justru yang menjadi perbincangan hangat di beberapa media massa dan jejaring sosial facebook serta twitter adalah siapa pengganti KGPH. Prabukusomo tersebut. Orang akan biasa-biasa saja, bila pengganti adik Sulthan Hamengkubowono X ini seperti fungsionaris Pimpinan Pusat Partai Demokrat seperti KGPH. Roy Suryo, yang daerah pemilihannya di Yogyakarta, ditambah lagi keturunan keratin. Diskusi menjadi hangat ketika Anggelina Sondakh nan cantik asli Kawanua ini yang menggantikan posisi strategis KGPH. Prabukusomo.

Dari berbagai pendapat yang bermunculan dengan naiknya Anggelina Sondakh sebagai Plth. Pimpinan Daerah Partai Demokrat DIY hampir semuanya menjadikan “kewanitaan” Anggelina Sondakh sebagai “sasaran tembak”. “Kita juga heran, mengapa bung Anas Urbaningrum meletakkan Anggie yang perempuan itu sebagai Plth di DIY. Ia tidak memiliki pengaruh besar. Walaupun dari pusat, ia tidak akan sekharisma KGPH. Prabukusomo yang gesit. Anggie yang wanita tersebut tak akan mampu menggantikan kegesitan KGPH. Prabukusomo”, demikian kata seorang pakar politik dan diamini oleh funsionaris partai lain yang bukan dari Partai Demokrat.[5] Bagi saya, analisisnya ngawur, menyamakan menara pisa dengan petronas, menyamakan pengaruh Fauzi Bahar dengan Eko Patrio di Kota Padang. Saya tidak ingin mencatat dengan kritis argumentasi perdebatan-perdebatan yang berlangsung. Mungkin benar, mungkin saja tidak, tapi yang pasti, pendapat tersebut bernuansa politis. Buktinya, ada fungsionaris partai selain democrat yang berkata sinis. Saya ingin mengatakan, bahwa beberapa hari ini, seandainya otak Anggie sehebat Hillary Clinton atawa Sri Mulyani dan sekharisma Micchele Obama ataupun Begum Khaleda Zia dari Bangladesh, smart seperti Condoleeza Rize atau Margareth “Iron Woman” Thacer dan Nicola Markel, tapi Anggie yang Sondakh ini akan selalu tetap dianggap debatable memimpin Partai Demokrat Daerah Istimawa Yogyakarta, walaupun hanya Pelaksana Tugas Harian yang nota bene­-nya tidak permanen.

Karena ia tak bisa mengalahkan charisma KGPH. Prabukusomo, karena ia “out-groups” DIY dan arena ia adalah seorang wanita. Ya, karena ia seorang wanita. Dan, kewanitaannya itu diblow-up oleh media massa (setidaknya demikian yang terefleksi dari berbagai pendapat di media massa). Yang memblowupnya adalah para elit politik yang kebetulan memiliki kekuasaan, walau berseberangan dengan partai penguasa. Ini diopinikan kepada public yang kemudian menjadi teror (kesewenang-wenangan) terhadap Anggie yang (kebetulan) wanita. Untunglah pengganti Mbah Maridjan almarhum laki-laki, kalau wanita, mungkin ia diperbinangkan dengan kewanitaannya sebagai sasaran tembak. Oleh semua orang dengan dimoderasi pemegang kekuasaan (baik media massa maupun politik).


Saya tidak memberikan kesimpulan yang bersifat teoritis tentang hal-hal diatas. Namun yang pasti adalah, kesewenang-wenangan penguasa dengan mempengaruhi opini public untuk tidak menerima sesuatu hal yang terjadi pada seseorang karena kewanitaannya, sering terjadi dalam sejarah. Kata “wanita” dengan seluruh varian “pembentuk” kewanitaannya seperti kemolekan tubuh, mudahnya bagian tubuh diperlihatkan pada orang lain, karena wanita tak bisa memimpin dan seterusnya, di-blow-up oleh pemegang kekuasaan (bisa media massa, bisa juga pihak otoritatif ataupun elit politik). Blow-up ini merupakan bentuk teror (kesewenang-wenangan) untuk menguntungkan pihak tertentu (dengan tujuan kekuasaan). Harold Laswell, filosof ilmu politik, mengatakan who get what how and when. Tujuan akhir adalah kekuasaan. Bagaimana cara mendapatkannya, maka ada cara. Cara itu pasti mencari kelemahan lawan. Dan tidak fairnya, bila menyangkut wanita, sejarah selalu mencatat, kelemahannya pasti karena kewanitaannya.

Catatan Pendukung
:

  1. Megawati Soekarnoputri, sebelum menjadi Presiden RI, dalam bahasa Tipe Ideal-nya Max Weber, telah memiliki investasi politik. Ia memiliki charisma yang turun karena factor genetic (ascribed, dalam bahasa sosiologinya). Tapi, ketika terjadi persaingan memperoleh kekuasaan, lawan-lawannya, terutama yang berasal dari kalangan agamawan, mencari celah yang tidak fair dengan ungkapan : “arrijaalu qouwwamuuna ‘alan nisaa’. Ini selalu diblow-up oleh lawan-lawan politiknya. Topik itu saja. Topik tersebut membentuk opini bahkan “menteror” masyarakat. Bahkan ada seorang politisi Partai Politik Islam yang antusias memblow-up ini. Siapakah ia ….. kala Gus Dur turun, Megawati jadi Presiden, maka Wakilnya adalah politisi sebelumnya antusias mensosialisasikan arrijaalu qouwwamuuna ‘alan nisaa’. Harold Lasswell, benar.[6]
  1. Nyi Ontosoroh, dalam Tetralogi[7] Pramoedya Ananta Toer, diceritakan sebagai wanita otodidak, simpanan tentara Belanda, mandiri dan tegar. Dalam sebuah percakapan Nyi Ontosoroh ini dengan anak perempuannya yang kebetulan akan menikah dengan Minke (saya ambil saja substansinya), ia berkata : “kamu harus pintar seperti mami. Belajar tentang hidup. Papimu yang laki-laki itu, kerjanya hanya mabuk, tapi karena ia laki-laki, ia dihormati. Mami mu yang lebih pintar dibandingkan papimu itu, masih dianggap hina oleh orang lain. Karena itu, kamu harus terus belajar untuk pintar karena orang melihat kita bukan pada otak kita, tapi karena kita wanita, itu takdir kita. Kamu harus robah, semampu yang kamu bisa”. Sebuah “jiwa zaman” awal abad ke 20 M., mungkin juga sebelumnya.
  1. Sebelum abad ke-15 M., Dennys Lombard[8] dalam bukunya Nusa Jawa Silang Budaya mengatakan bahwa wanita-wanita nusantara banyak yang bekerja di ranah laki-laki. Sebagai panglima perang dan sebagai perompak ataupun pimpinan kelompok. Bila ditelaah variable ajaran normative agama, maka pola stratifikasi agama Hindu memegang peranan penting menyebabkan hal ini terjadi. Bisa saja, perompak dan wanita yang bekerja di “ranah” laki-laki tersebut berasal dari strata rendah yang tak puas dengan realitas sosial, tapi bisa juga dari strata Brahmana dan Ksatria yang memungkinkan wanita berada dalam posisi sosial demikian. Beberapa ratu kerajaan majapahit dan fenomena Ken Dedes memperkuat hal ini. Lalu, datanglah Islam yang dibawa oleh “laki-laki” dari budaya “patriarkhi” – para pedagang Hadramaut ataupun Persia. Akhirnya, atas nama ajaran normative-teologis, dibentuk opini yang disosialisasikan/diindoktrinasi (di-blowup) oleh mereka yang memiliki kuasa (katakanlah : elit agama dan elit politik yang dekat dengan elit agama) bahwa suatu kelompok manusia tak layak untuk memimpin karena ia wanita. Cause dan sasaran tembaknya jelas. Walaupun untuk beberapa kasus seperti di Aceh, ada Sultanah, tapi tetap posisinya seumpama Anggelina Sondakh diatas.
[1] http.://www.detiknews.com/kontroversipasalzina/html. diunggah tanggal 1 Desember 2010
[2] Kepintaran dan track-record Anggelina Sondakh bisa dilihat di http.://www.anggelinasondakh.com/. Tapi sayang, artikel-artikel buah pemikirannya tidak bisa didownload.
[3] Istilah ini saya pinjam dari dialog pakar politik Ikrar Nusabakti di Metro TV pasca kemenangan Anas Urbaningrum jadi Ketua Umum Partai Demokrat.
[4] Padahal Sultan Hamengkubowono X merupakan fungsionaris Partai Golkar, tapi kemenangan fenomenal Partai Demokrat hampir disemua propinsi di Indonesia (kecuali : Sulawesi Selatan, Bali dan Gorontalo) memperlihatkan bagaimana strategisnya posisi ketua umum Partai Demokrat.
[5] Dikutip bebas dari http.://www.detik.com/mengapaanggelinasondakhdianggap taklayak/html (berita tanggal 8 Desember 2010), diungguh tanggal 12 Desember 2010
[6] Disadur dari Muhammad Ilham, Kumpulan Kliping 3 (tidak dipublikasikan)
[7] Lebih lanjut lihat Pramoedya Ananta Toer, Tetralogi Bumi Manusia, Jakarta: Hasta Mitra, 1999
[8] Lebih lanjut lihat Dennys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya (Bagian II), terjemahan, Jakarta: PT. Gramedia, 1999

:: (Makalah yang disampaikan dalam Acara Diskusi Gender, PSW IAIN Padang, Desember 2010)

Kamis, 09 Desember 2010

Agama Tuhan Agama Uang

Oleh : Muhammad Ilham

Money atau uang, (mungkin) berasal dari kata "moneta", sebuah julukan bagi dewa Juno dalam legenda Romawi Kuno yang artinya "dia yang mengingatkan". Di Kuil Moneta inilah, orang Romawi Kuno membuat kepingan logam sebagai alat tukar dalam perdagangan, mengganti alat tukar lama yang berasal dari benda-benda alam.

Dalam tradisi agama, janji akan keselamatan itu lebih bersifat metafisis dan sebagian besar pemenuhannya harus ditunggu di alam akhirat, sedangkan transaksi ekonomi-uang, hasilnya langsung bisa dinikmati dalam waktu yang relatif dekat (K. Hidayat : 2000)

Beberapa malam yang lalu, saya menonton film kolosal Cina di Indosiar. Judulnya saya lupa. Tapi yang jelas, film ber-setting Dinasti Ching ini dibintangi oleh aktor gaek Ti Lung. Saya tak ingin berkisah tentang risalah-cerita film ini. Saya hanya ingin mengutip satu scene dimana Ti Lung yang dalam film ini menjadi pendekar sakti kesayangan Kaisar. Waktu itu, Kaisar ingin membuat mata uang dari logam-metal sebagai alat resmi tukar-menukar di wilayah kekaisaran Ching. Ti Lung - saya tak ingat lagi apa namanya dalam film ini - menyarankan agar mata uang yang dirancang tersebut memuat tiga lambang : lambang emas yang diapit oleh dua tombak. Apa yang disarankan Ti Lung ini bukan tanpa alasan. Dalam perspektif simbolik, hal ini merupakan simbolisasi watak dasar manusia ketika berurusan dengan yang namanya uang. Emas sebagai simbol uang, diapit oleh dua tombak. Tombak pertama menyimbolkan bahwa demi uang, siapapun dimuka bumi ini, selagi ia bernama manusia, ia akan berjuang keras untuk memperolehnya. Bahkan manusia tak akan segan "menggunting dalam lipatan", menusuk teman kala dipandang menghambat keinginannya. Intinya, berburu untuk memperoleh uang tak ubahnya seperti seseorang memasuki medan pertempuran yang selalu siap menghantam musuhnya dengan tombak. Sementara tombak yang kedua, merepresentasikan peperangan dalam bathin. Ti Lung ingin mengatakan bahwa sebelum seseorang mampu melibatkan dirinya dalam peperangan lahiriah, ia terlebih dahulu harus memenangkan peperangan bathin. Karena kemiskinan - sebagaimana yang dikatakan Ali Shariati - sesungguhnya lebih merupakan kondisi bathin, bukan kondisi lahir.

Mengingat kemiskinan merupakan kondisi bathin, maka rasional bila seseorang yang kaya dari segi materi justru miskin mental. Dengan demikian, tidaklah mengherankan, mengapa seorang Gayus Tambunan, rekeningnya bertimbun-timbun yang bila kita perkirakan, tak akan habis sekian turunan. Seandainyalah ia tidak "ketahuan", mungkinan timbunan si-Tambunan ini akan terus ditambahnya, karena ia masih merasa miskin. Tidaklah mengherankan pula, banyak orang yang secara lahiriyah kekayaannya melimpah, namun masih saja ingin mengakumulasikan kekayaannya dengan cara-cara "haram", korupsi dan merampas hak rakyat dan negara. Dalam bahasa "sosiologi uang", mereka ini telah terjangkiti virus love of money its own sake. Mereka ini juga dianggap telah mengkhianati misi "suci" dari keberadaan uang itu sendiri sebagai alat tukar untuk mendukung proses produksi dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Benarlah apa yang dikatakan Voltaire, "bila bicara uang, agama semua orang akan menjadi sama".

Disinilah letak perbedaan mendasar antara efek ajaran agama Tuhan dan agama uang ciptaan manusia. Agama wahyu membentuk kepribadian untuk selalu dan senantiasa bersyukur pada Tuhan. Selalu share, berbagi kasih sayang dengan sesama. Sementara, moralitas dari the religion of money adalah selalu ingin menaklukkan dan mengalahkan orang lain. Seseorang akan merasa bahagia melihat orang lain miskin dan hidup menderita. Pada sisi lain, ia akan merasa menjadi miskin kala melihat orang "lebih" kaya dan hebat. Padahal, agama mengajarkan bahwa kemuliaan itu justru terletak pada rasa empati dengan penderitaan sesama. Maka, yang paling ideal adalah kekayaan materi yang didukung oleh kekayaan bathin, sehingga kekayaan tersebut tidak menjajah pemiliknya, tapi justru yang terjadi adalah kekayaan atau uang tersebut justru melayaninya. Sebagai penutup, pertanyaan logis yang harus dikedepankan adalah : "seandainya-lah pendapatan rata-rata penduduk makin naik - setidaknya demikian klaim pemerintah yang berkuasa -, bahkan banyak diantara pejabat yang kekayaan yang mereka berlipat ganda, lalu mengapa para pejabat yang kaya raya tersebut masih mau korupsi dan mengambil kekayaan rakyat?".

Selamat Tahun Baru Hijriah 1432 H.

Oleh : Muhammad Ilham

Setidaknya sejarah (telah) mencatat dengan baik, bagaimana pertentangan internal jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan tantangan dari "luar". Sejarawan-sosiolog Islam periode awal - Ibnu Khaldun - dalam buku monumentalnya, Muqaddimah, pernah mensinyalir hal ini, dimana kelemahan sebuah komunitas disebabkan oleh konflik internal yang selalu membuat integrasi/soliditas kelompok itu menjadi melemah. Pada saat itulah, "out-siders" akan memporak-porandakan dan menghancurkan kelompok itu. Menghinakan dan merendahkan martabat mereka. Pertentangan kelompok Syi'ah dan Sunni, tercatat dalam sejarah Islam sebagai pertentangan yang (ditakdirkan) begitu abadi. Syi'ah dan Sunni yang merupakan saudara se-iman, justru saling "menjelekkan" dan merendahkan satu sama lain. Karena itu pulalah, "outsiders" Islam menjadi lebih leluasa untuk menghinakan kita.

SELAMAT TAHU BARU HIJRIAH.... Bro semua !

Semoga persaudaraan sesama muslim lebih terekat dengan baik dan abadi sehingga tak ada lagi cerita "miris" saudara-saudara seiman kita yang direndahkan martabatnya oleh "kelompok lain".












Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinedjad (Representasi Syi'ah) dan Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abd al-Aziz (Representasi Sunni). Semoga apa yang diungkapkan Wikileaks yang "menggemparkan" itu : "Raja Arab Saudi Abdullah bin Abd al-Aziz mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran dengan tujuan menghancurkan program nuklir negara itu", tidak benar adanya.


Sumber foto : google.picture.com

Senin, 06 Desember 2010

Tuhan : Dari Nietsczhe hingga Al-Adawiyah

Oleh : Muhammad Ilham

" ... dipintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling ! (Chairil Anwar)

(Tulisan ini tak terlalu panjang). Sejarah mencatat, manusia tidak hanya memuja Tuhan seumpama Al-Adawiyah, tapi juga memperolok-olokkan Tuhan, menjadikan Tuhan sebagai lelucon yang tak berbalas, bahkan "membunuh"-Nya. Coba kita lihat filosof-seniman yang dikenal "tidak waras" Gunter Grass, dengan enteng mengatakan : " Saat Tuhan masih duduk di bangku Sekolah Dasar di surga sana, Tuhan pernah memiliki gagasan untuk menciptakan dunia bersama teman sekolahnya, Iblis yang berbakat". Lalu ini kemudian ditingkahi oleh William Friedrich Nietsche, yang dekat akhir hayatnya "gila" dalam bukunya The Spoken of Zarathustra (telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia) : "Nietzche membunuh Tuhan yang masih kanak-kanak tadi dan mengumumkan ke seluruh dunia bahwa, "Tuhan sudah Mati!". Dan Tak lama sesudah itu, Nietzche pun wafat. Untuk memperingati kematian Nietsche itu, maka pada sampul depan sebuah jurnal filsafat tertulis, "Nietzche sudah mati!" tertanda, Tuhan. Masya Allah !!. Dalam pengembaraan alam pikiran, ada intisari fundamental yang ditujukan pada diri manusia yaitu bertanya. Saat belajar mengenal Tuhan, hanya ada dua konsekuensi yang dikenalkan : surga dan neraka, pahala dan dosa, baik dan buruk serta anonim dan antonim lainnya. Pengenalan tatanan itu hanya bentuk dari ancaman, reward dan punishment yang diberlakukan, sebagaimana majikan terhadap buruh dan peniadaan kontemplasi.

Namun perjalanan mengenal Tuhan tidak akan pernah berhenti pada titik itu, hingga Gunter Grass dan Nietzche lebih memilih untuk menantang, mengolok-olok, bahkan membunuh Tuhan. Pengembaraan terus berlanjut dan perjalanan mengenal Tuhan akan terus berlangsung dalam sejarah peradaban manusia. Namun tetap tak pernah ada kata yang bisa mewakili jawaban itu, meskipun muncul dari orang yang pintar merangkai kata dan pandai menyusun syair.
Jawaban itu bukan rangkaian kata yang tersusun rapi. Ia menyejukkan jiwa seperti udara pagi di pegunungan. Jawaban itu ada di sini, di dalam hati. Seperti jawaban Rabi’ah Al Adawiyah : Ya Tuhanku/Jika aku menyembah-Mu karena takut Neraka-Mu/Maka bakarlah aku di dalamnya/ Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu/Maka haramkan tempat itu bagiku / Tapi jika aku menyembah-Mu karena mengharap cinta-Mu/Jangan Kau enggan palingkan wajah-Mu dariku.

Sumber : Faridhuddin Athar (1999), Jalaluddin Rumi (2000), Nietszhe (2001), Ali Shariati (1997)

Minggu, 05 Desember 2010

Strategi (Canggih) SBY dalam Kasus Keistimewaan Yogyakarta

Oleh : Muhammad Ilham

" .... politik itu strategi komunikasi, tak selamanya Jenderal pergi ke medan laga ... " (Eisenhower)

" ... keep your friend close but your enemy closer !" (Pepatah Inggris)

Sebagaimana yang telah dijanjikan SBY, maka pada Kamis (2/12/2010) kemaren, SBY berpidato - klarifikasi, tepatnya, berkaitan dengan polemik Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pidato SBY kemarin itu sangat normatif dan mencari aman. SBY mencoba menurunkan tensi ketegangan pasca pernyatan 26 November lalu yang terkesan membenturkan monarki dan demokrasi. Dia kemarin mencoba menyenangkan semua pihak dengan mengambangkan sikap politik terkait RUU Keistimewaan Yogya. Dalam pidato dia membedakan sikap personal dan pemerintah. Secara personal, dia setuju kepala pemerintahan ditetapkan, tapi di sisi lain menunggu kesepakan pemerintah via Kemendagri dan DPR. Pesan Djoko Suyanto (Menkopolhukam) lebih "clear" di mana ingin mencari alternatif dengan menempatkan raja sebagai kepala daerah, tapi kepala pemerintahannya dipilih. SBY mengambangkan itu dan mempersilakan anak buahnya bersikap lebih tegas sebelum (draf) dinaikkan ke DPR. Sikap pemerintah jangka panjang dinyatakan oleh Mendagri dan Menkopolhukam. Ini strategi canggih untuk melempar bola panas melalui anak buah. SBY membuat center of attraction tidak lagi di dirinya tapi di Menteri Dalam Negeri (Gamawan Fauzi) dan Menteri Kordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Djoko Suyanto).

Anak buah bersama DPR yang kemudian membawa bola panas. SBY ingin cari aman. Seharusnya ini dilakukan sejak awal kalau mau cari aman, tapi sekarang "nasi sudah menjadi bubur". Kemarin dia mencoba mengambangkan dengan mengajukan anak buahnya membawa kontroversi ke DPR. Bila dilihat secara jernih, usulan RUU ini mengakomodasi sebagian besar ide tim Universitas Gadjah Mada UGM. Kalau kita baca monograf UGM dengan RUU pemerintah, sebagian besar sama. Banyak pengamat yang berpendapat bahwa ini jalan tengah yang baik. Kalau Sultan dan Paku Alam diletakkan di atas dan punya kemampuan untuk memveto, dikhawatirkan kalau veto dilakukan secara "overdosis" maka kinerja pemerintah jadi sering terganggu. Karena itu veto harus digunakan sesuai kadar. Selain itu kalau misalnya Sultan ditempatkan sebagai Parardhya maka kehilangan hak politik. Ini mencederai hak Sultan, karena tidak bisa maju dalam pemilihan meskipun punya kewenangan simbolik luar biasa.

Dalam pidatonya, SBY mengingatkan bahwa Sulthan pernah minta mengundurkan diri jadi Gubernur DIY. Ini bahasa yang sangat halus yang ingin digiringkan SBY bahwa Sultan sebagai gubernur karena kebesaran hati SBY yang bersedia memperpanjang (jabatan gubernur). Ini pesan yang sangat halus kepada Sultan dan masyarakat Yogya, bahwa SBY sangat perhatian dan berbesar hati dengan perpanjangan kepada Sultan. SBY memperpanjang sampai RUU kelar. Bisa dimaknai 'jangan macam-macam karena ada "utang budi'. Dan mungkin pesan ini sampai. Lagi-lagi pidato kemarin khas SBY untuk membalik keadaan yang awalnya menyudutkan dirinya. Apa yang disampaikan SBY pada 26 November lalu merupakan strategi politik yang salah. Pidato yang disampaikan kemarin mengambang, normatif, tidak jelas. Lalu malamnya diikuti penyematan penghargaan bagi Sultan. Ini tipikal SBY untuk menggaet simpati bukan hanya Sultan tapi juga masyarakat Yogya, sehingga momentum disesuaikan.

Inspired : Burhanuddin Muhtadi/detik.com & Metro TV

Keteladanan dari Van LITH

Oleh : Muhammad Ilham

van LITH, demikian nama akhir seorang pastor Belanda yang ditempatkan di Tanah Jajahan Hindia Belanda (baca: Indonesia), kurun waktu 1920-an hingga awal 1930-an. Walaupun "anak kandung" kolonial Belanda, ia anti dengan kebijakan Belanda yang kolonialis. Van Lith bersikap santun pada anak negeri. Walaupun ia ditugaskan menyebarkan ajaran Kristiani-Katholik ditengah-tengah penduduk pribumi yang mayoritas beragama Islam dan abangan, namun ia amat toleran dan menentang sikap menindas penjajah kolonial. Karena itulah, tercatat dalam sejarah kolonial Belanda di Hindia Belanda, Van Lith menandatangani dua nota minoritas yang menuntut perwakilan minoritas (dalam hal ini : perwakilan masyarakat Islam sebagai komunitas mayoritas) di dalam satu dewan. Dengan segala resiko, ia kemudian menentang peran mayoritas orang-orang Belanda yang minoritas tersebut di dalam volksraad (Dewan Rakyat) yang akan dibentuk.

Karena sikap Pastor yang mengedepankan nilai-nilai demokrasi-kemanusiaan tanpa disekat oleh ego primordialisme dan ideologi, ia kemudian amat sangat disegani. Hubungannya dengan tokoh-tokoh Islam kala itu juga baik. Dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam, ia memiliki hubungan sosial dan politik yang bagus dan saling menghargai. Ketika akan diadakan pemilihan untuk keanggotaan Volksraad - terjadi sebuah peristiwa sejarah yang cukup membuat kita merenung ..... Van Lith, seorang Pastor dan pemimpin Katholik justru dicalonkan oleh Partai Sarekat Islam. Peristiwa pencalonan pastor Van Lith ini menjadi anggota Volksraad oleh Partai Sarekat Islam Serang, dalam konteks interaksionisme-simbolik memiliki makna simbolis-historis yang amat penting. Tak terbayangkan oleh kita sekarang bahwa didalam situasi masyarakat tahun 1920-an, seorang Pastor dicalonkan untuk mewakili organisasi politik ummat Islam di sebuah lembaga politik yang memiliki posisi dan daya tawar strategis-penting di dalam sistem pemerintahan kolonial Belanda. Sejarah kemudian mencatat .... Van Lith lebih sering "menyuarakan" kepentingan masyarakat Islam dibandingkan ke-egoan-nya untuk menjalankan misi Pastoralnya dan misi nasionalisme-nya. Sebuah teladan dari orang yang bernama .... Van LITH.

Ceracau (Konon)

Oleh : Muhammad Ilham

Konon, istana Versailes Perancis nan megah itu, pertama sekali dibangun sekitar abad ke-18, tidak terdapat satu-pun WC di seluruh kamar dan sudut istana, kamar mandi hanya sedikit yang itu digunakan bersama-sama. Sementara, berdasarkan tinggalan arkeologis, empat ribu tahun lalu, masyarakat di Lembah Sugai Indus sudah mengenal WC. Konon, Presiden terkenal Amerika Serikat yang dianggap rasionalis-pragmatis - Benjamin Franklin - merupakan anggota Helfire Club yang memiliki kegandrungan melaksanakan pesta-pesta untuk mengundang setan. Konon, Mussolini yang dianggap pintar luar biasa oleh kaum fasis dunia ternyata pernah diusir gurunya karena menusuk pantat temannya dengan pisau. Edward Kennedy, senator Amerika Serikat dengan otak gilang gemintang, adik Presiden flamboyan JFK itu, pernah dikeluarkan dari Harvard karena ketahuan menyontek kala ujian. Konon, Presiden Amerika Serikat Lindon Baines Johnson yang pendiam-baby face tersebut bukanlah "remaja" yang baik kala berumur belasan tahun, pernah kabur selama 2 tahun dan tidak pulang-pulang ke rumah. Konon, Raja Mogut dari Siam (Thailand : sekarang), mempunyai bini 9.000 orang dan gundik, juga salah seorang Sulthan Turki Utsmany pernah "melempar" gundik-gundiknya dalam puluhan "goni" ke Selat Bhosporus. Konon, Ratu Zingua dari Angola pernah mempunyai harem lelaki dan kemudian memenggal kepala mereka setelah melakukan hubungan cinta.

Dan konon, sampul konstitusi Perancis terdiri dari kulit bangsawan yang di"kuliti" saat terjadinya revolusi. Konon, pendeta wanita pada kuil Indian purba suka melakukan hubungan seks dengan para pemuja dan kemudian memungut bayaran untuk kas kuil. Lelaki suku Tuareg di Sahara memakai cadar, sementara wanitanya justru tampak muka dan buah dadanya. Cassanova, konon, pernah hampir menikahi anak perempuannya, karena ketahuan oleh ibu si perempuan ini, maka Cassanova mengurungkan pernikahan tersebut. Konon, Raja Mataram Islam, Amangkurat I "mempergilirkan" gundiknya buat sang anak, Amangkurat II. Konon, Raja Henry VI membuka sidang parlemen Inggris ketika umurnya 3 tahun, dan si-Henry ini terus menangis meraung-raung selagi sidang berlangsung. Konon, ada satu suku di Angola yang membuat rumah mereka dari tahi sapi dengan campuran tahi manusia, dan mereka sangat menikmati "parfum" itu. Konon, pendiri Singapura Lee Kuen Yew tidak pernah absen membawa termos yang (selalu) berisi teh panas kemanapun ia pergi. Konon, Idi Amin si penguasa Uganda dikenal "canibal", memakan beberapa daging lawan-lawan politiknya. Daging-daging itu disimpannya dalam kulkas. Konon, Idi Amin ini tak tamat Sekolah Dasar.

Ternyata, banyak yang aneh-aneh bila ber-konon-konon, walaupun "berita" ini tidak dibuat-buat. Tapi bila, Gayus yang pegawai pajak itu memiliki uang "rampokan" lebih dari 100 milyar, itu bukan konon lagi. Saya tak tahu, apa hubungan tulisan diatas dengan Gayus yang "cengar-cengir" setiap sidang berlangsung dengan wajah "tanpa dosanya". Namun yang pasti, beberapa puluh tahun ke depan, akan ada kalimat, (konon), pegawai kecil di Indonesia (asal bekerja di Pajak dan institusi lain yang "dicurigai") bisa memiliki kekayaan 100 Milyar lebih, walau ia hanya golongan III A dengan masa kerja 5 tahunan. Seandainya-lah, ya .. seandainya, saya memiliki anak laki-laki, saya (takut) memberinya nama dengan Gayus Lumbuun .. eh, salah, Gayus Halomoan. Takut, bila ia dewasa nanti, ia akan terbebani dengan (konon). Hehe.

Foto : Kubisme Pablo Picasso (google.com)

Progress Malika Asy-Syifa Ilham @ Adek !!

Oleh : Muhammad Ilham

"Setiap anak dilahirkan dengan membawa pesan, bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia", kata Rabindranath Tagore. Karena itu, Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.



Malika As-Syifa atau Adek, hari ini, 20 Nopember 2010, kala kamu bangun pagi tadi, ayah ucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke-5. Ayah juga berterima kasih, bahwa kamu selalu dan senantiasa mengingatkan ayah tentang semua hal yang menurut kamu tak baik ayah lakukan, tentunya dalam bahasa anak-anak seusiamu. Kritik dan protes pada ayah, sungguh bermakna. Dan ayah ingin, hal tersebut terus kamu lakukan sepanjang usiamu dan usia ayah. Selagi kita hidup, anakku, ayah akan selalu mengingat bahwa kamu adalah amanah yang harus ayah jaga dari sang Robbi Illahi, Tuhan Yang Maha Kasih, Allah SWT. Ayah akan terus belajar menjadi seorang ayah sebagaimana Rasulullah menjadi ayah bagi anaknya, Fatimah. Ayah juga akan ingat, apa yang disampaikan Kahlil Gibran :


Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
...mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.


Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu, belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui. Nak, bacalah sejarah Nabi-nabi dan Rasul, serta temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah. Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun, bahkan di hadapan Allah, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan-Nya, hingga saat usia ayah yang sudah 36 tahun ini. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan. Inilah usaha terberatku, Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Allah.

Nak, Ayahmu barangkali tak kan pernah bisa menjadi orang kaya. Jadi, pandai-pandailah menempatkan dirimu sebagai anak orang biasa. Ayah barangkali tak selalu mampu menyediakan pangan terbaik, tapi jangan terlalu khawatir Nak, itu tak berarti ayah tak selalu berusaha penuhi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembangmu. Percayalah, banyak orang hebat di dunia ini yang terlahir, tumbuh, dan berkembang, hanya dengan mengkonsumsi penganan sederhana. Nak, kelak ayahmu barangkali tidak bisa menyekolahkanmu di sekolah-sekolah unggulan, tapi jangan terlalu risau, Sekolah unggulan bukanlah jaminan untuk bisa menjadi orang baik kelak. Percayalah, banyak orang mencapai kejayaan hidupnya tanpa bersekolah disekolah-sekolah unggulan nan mahal itu. Nak, kelak ayah barangkali tak mampu penuhi kebutuhan mu untuk gaul, tapi jangan ragu Nak, banyak orang-orang rendah hati di luar sana yang dengan tulus mau berteman denganmu, meski kamu tak punya modal untuk dicap gaul. Nak, kelak andai kamu merasa tak memiliki intelejensi di atas rata-rata, jangan terlalu cemas akan masa depanmu. Yakinlah, dengan tekad dan keuletan, masa depan gemilang tak mustahil tetap dapat kamu raih - tapi ingat Nak, kamu tak akan mampu tanpa do'a. Nak, andai kelak banyak orang meremehkan kamu atas apa yang cuma mampu kamu raih dan lakukan, tak usah bersedih Nak, Sepanjang hidup, Ayah juga mengalami banyak perlakuan tidak simpatik, diremehkan bahkan dilecehkan, Tapi yakinlah Nak, Semua itu tak akan mempengaruhi rencana Tuhan atas dirimu, Sejuta pelecehan manusia atas dirimu, tak akan mampu mengalahkan kuasa Tuhan jika Dia ingin memuliakan kalian. Maka dari itu Nak, cuma pada Nya respek tertinggi perlu kamu berikan. Nak, tak perlu gamang menjalani kehidupan, tak perlu terlalu risau dengan segala atribut dunia yang barangkali tidak akan pernah bisa kamu miliki, karena kamu hanya butuh hati yang bersih dan hasrat yang kuat untuk mengarungi anugrah kehidupan ini. Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dariNya, aku akan ikhlas, karena seperti itulah aku di dunia. Tapi kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya...... (Dengan IFA, kakakmu, selalulah kompak berdua !).

:: Mari kita rayakan dengan sederhana. Ayah janji, ayah akan selalu menjadi ayah dan kawan yang baik buat-mu, sampai "menutup mata".

Malika Asy-Syifa kala berusia 4 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 3 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 2 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 1 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 6 bulan

:: Kutulis ini dengan harapan, kelak tulisan ini bisa menjadi "warisan" baginya untuk dibaca dan diceritakan pada anak cucunya, kala saya dan ibundanya telah menghadap Tuhan Sang Pemilik Insan, kala tulang-tulang kami berdua telah memfosil.

Jumat, 03 Desember 2010

Ikhtiar Negara Islam Indonesia

Oleh : Muhammad Ilham

Ada kesaman gerakan (baca: pembangkangan) politik Islam waktu itu, yaitu situasi frustrasi, frustasi pribadi, komunal ataupun ideologis dengan mengusung satu term yaitu :”Daerah lawan Pusat” dan “Kelompok kita (Islam berdasarkan penafsiran mereka) melawan kelompok mereka”.

Teoritisi Sosiologi Konflik, Lewis Coser mengatakan bahwa konflik infra-struktur merupakan representasi dari friksi suprastruktur. Berbagai pemberontakan dan upaya dis-integrasi yang disemangati oleh “komunitas dan atau ideologi keIslaman”, haruslah diamati dari konteks sejarah politiknya. Proses kelahiran Indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang penuh dengan dinamika, membuat demokrasi tak bisa dilihat secara mulus-utuh. Kadang-kadang terasa ada jarak antara percaturan politik dikalangan politisi tingkat atas dan kelompok-kelompok-kelompok yang sesungguhnya diwakili di tingkat bawah. Maka, berbagai bentuk pertentangan yang muncul dalam panggung sejarah seringkali merefleksikan perbedaan kelompok elit, bahkan perbedaan pendapat pribadi-pribadi. Dalam konteks konflik dan gagasan pembentukan negara Islam Indonesia, dapat diabstraksikan kedalam empat fase utama. , yaitu : Fase dimana ideolog negara Islam tak berjarak dari rakyat. Merupakan ujung tombak sebuah “revolusi sosial” untuk mencapai kemerdekaan. Terdapat usaha-usaha kompromi dalam mencari kesepakatan diantara kelompok-kelompok yang berbeda paham, dalam pembentukan bangsa dan haluan-arah bangsa. Fase yang dikenal dalam sejarah pergerakan Indonesia sebagai fase menyusun tata demokrasi dan pemerintahan. Tercatat dalam sejarah, fase ini “riuh-rendah” dengan berbagai perpecahan karena perbedaan paham-golongan, disamping tentunya “who get what how and when (meminjam istilah Lasswell) – jatah kursi atau kedudukan. Fase ini penuh dengan dinamika tantangan, khususnya karena perubahan konstitusi negara dari Republik ke Republik Serikat dan kembali lagi ke Republik dan terus berjalan ke Demokrasi Liberal-Parlementer dan berakhir dengan munculnya Dekrit Presiden 1959 – kembali ke UUD 1945 – tapi dibayangi oleh SOB yang tak sesuai dengan spirit UUD 1945. Fase ketiga ini dikenal dengan masa demokrasi terpimpin (1959-1965), dan Fase ke empat (1965-1998).

Karena makalah ini merupakan “rekam-sejarah” untuk refleksi pada masa sekarang (harusnya : fase kelima yaitu fase pasca Orde Baru), maka pembahasan mengenai fase kelima tidak dijadikan sebagai “dasar” analisis lanjutan. Kesamaan dalam menggunakan terminologi negara Islam memberikan satu benang merah bahwa terdapat kesaman gagasan antara usulan partai-partai Islam (khususnya Masyumi), DI/TII dan Gerakan Imran (pada masa fase ke empat). Sejarah politik Indonesia mencatat bahwa setiap tahapan atau fase, karena terikat dengan konteks historis-sosiologis, punya watak dan warna tersendiri. Masalah negara Islam pada fase pertama tercatat disekitar upaya “improvisasi” dalam pencarian dasar negara yang akan dibentuk. Di masa pra-kemerdekaan, Pancasila belum ditetapkan sebagai dasar negara. Kelompok Islam yang diwakili para ulama termasuk elemen signifikan dalam mempersiapkan kemerdekaan RI. Sejak masa Jepang, para ulama dipercayai dalam sektor politik baik di badan-badan pemerintahan pusat, maupun jabatan-jabatan bupati seperti Cuo Sang In dan Syu Sangi Kai. (hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Belanda yang lebih mempercayai “pemimpin lokal berbasis genetic-kebangsawanan). Maka tak mengherankan apabila ulama memiliki peran besar dalam merumuskan dasar negara. Dan ketika mereka duduk di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), mereka mengajukan rumusan berdasarkan persepsi mereka : “Negara Berdasarkan Islam”.

Namun para ulama bukan satu-satu kelompok terkuat pada waktu itu karena ada kelompok lain yang dipersonifikasikan kepada kelompok Sukarno Hatta. Kelompok ini mengajukan Pancasila. Dan, kedua kutub ini bertemu di PPKI. Kompromi-pun mulai dicari. Kesepakatan dicapai pada tanggal 22 Juni 1945, yang tercatat sebagai rumuisan Panitia 9 dan dikenal sebagai Piagam Jakarta – Pancasila diterima sebagai dasar negara dan tuntutan para ulama masuk dalam Preambule (Pembukaan) UUD. Namun, konsensus dan kompromi dua kelompok besar ini tidak serta merta diterima oleh semua pihak, terutama kelompok minoritas kristen dari wilayah Indonesia Timur. Kendati mereka tak mengajukan rumusan, tetapi mereka tak mau “dirugikan”. Lewat perwakilannya, Mr. Latuharhary dan Angkatan Laut Jepang yang menguasai Indonesia Timur kala itu, mengajukan keberatan adanya kalimat : “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Keberatan ini diajukan secara resmi oleh perwira Angkatan Laut Jepang pada tanggal 17 Agustus 1945 sore, lewat Bung Hatta. Kemudian, keesokan harinya, keberatan ini disampaikan oleh Hatta kepada para ulama. Entah kebetulan sejarah atau “history accident”, mendesaknya waktu membuat para ulama menerima keberatan tersebut – entah ikhlas atau tidak. Maka Rumusan Piagam Jakarta-pun berubah karena 7 kata “Islam-politik” ter/dihapus.

Masalah Islam sebagai dasar negara kemudian muncul kembali dalam sidang-sidang konstituante, khususnya sejak akhir tahun 1956, di fase kedua ketika yang berlaku lagi bukan UUD 1945 tetapi UUDS 1950. tanggal 22 April 1959, Presiden Sukarno meminta Konstituante memberlakukan kembali UUD 1945. Fraksi-fraksi Islam setuju dengan meminta agar kata-kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” disertai dengan 7 kata-kata yang hilang sebelumnya. Secara politis, ini merupakan bentuk kompromi politik “win-win solution” karena dasar negara tetap Pancasila. Deadlock. Konstituante mengalami jalan buntu, Sukarno akhirnya “mengambil peran sejarah” – membubarkan Konstituante, 5 Juli 1959. Ideologi Islam via parlementaria akhirnya kandas. Sebelumnya, pada tahun 1949, Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo membentuk negara Islam Indonesia di Jawa Barat. Berawal dari sebuah pembangkangan. Pada tahun 1948, Jawa Barat berdasarkan Perjanjian Renville harus dikosongkan dari TNI. Sekitar 35.000 pasukan TNI kemudia hijrah ke Yogya. Pasukan Hisbullah dan Sabilillah tak menaati perintah dan tetap tinggal menjaga Jawa Barat yang telah dikosongkan oleh militer. Alasan Kartosuwirjo : memegang instruksi Panglima Jenderal Sudirman. “Entry history” ini memang kontroversial. Tentara Kartosuwirjo otomatis menguasai Jawa Barat, dengan nama Darul Islam. Kemudian, bentrokan terjadi ketika TNI kembali ke Jawa Barat. Pertempuran berlangsung bertahun-tahun, berlanjut dan terus terjadi hingga pemberontakan berikutnya. Lalu pada tahun 1952, Batalyon 423 (?) dan 426 TNI yang melakukan desersi di Jawa Tengah memberontak pula, yang kemudian diikuti oleh gerakan Islam garis keras di Kebumen dan Tegal serta Brebes. Keseluruhan gerakan ini kemudian membentuk NII dan bergabung dengan NII Jawa Barat dibawah Kartosuwirjo.

Pemberontakan juga pecah di Aceh dibawah pimpinan ulama kharismatis, Abuya Daud Beureuh. Pemberontakan ini merupakan pemberontakan “kemesraan yang dikecewakan”. Diturunkannya Aceh dari status Daerah Istimewa menjadi hanya sebuah Keresidenan dibawah Propinsi Sumatera Utara, membuat Abuya Daud menganggap Sukarno munafik. Tahun 1953, Abuya Daud mengeluarkan maklumat bergabung dengan NII dibawah Kartosuwirjo. Sebelumnya, tahun 1951, Kahar Muzakkar memberontak di Sulawesi Selatan. Kesepakatan para sejarawan mengatakan bahwa pemberontakan Kahar Muzakkar ini dilandasi oleh ambisi Kahar yang tak terpenuhi – menjadi pimpinan APRIS di Sulawesi. Kahar menghembuskan rasa kesukuan, kemudian menyatakan Sulawesi Selatan menjadi bagian dari NII. Masih di Sulawesi Selatan juga, pada tahun yang sama, Andi Azis, anggota APRIS bekas KNIL, memberontak di Ujung Pandang. Peristiwa ini menyebabkan PM Negara (Federal) Indonesia Timur Ir. PD. Diapari meletakkan jabatan karena tindakan Andi Azis ini. Hampir semua pemberontakan makan waktu yang panjang. Kahar Muzakkar baru bisa ditumpas pada tahun 1965. Dalam kurun waktu itu pula, berbagai pemberontakan bermunculan seperti pemberontakan Mr. Dr. Christian Robert Dteven Soumoukil, bekas Jaksa Agung NIT di Ambon. Kericuhan di pemerintahan pusat, termasuk pertentangan dalam tubuh TNI, ikut pula membuahkan pemberontakan. Tahun 1958, Ahmad Hussein memproklamasikan PRRI dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri. Tak lama kemudian, Ahmad Hussein bersama-sama dengan Kolonel Simbolon dan Kolonel Zulkifli Lubis dipecat yang pada akhirnya “mengkristalisasikan” niat mereka untuk melawan pusat.Kemudian, berdekatan dengan PRRI, terbentuk pula Permesta di Sulawesi Utara. Selain berpangkal pada kericuhan di tubuh angkatan bersenjata, juga akibat “akrobat politik” partai politik tertentu yang berhasrat melemahkan infrastruktur TNI. Sejarah kemudian mencatat, perlawanan dengan mengusung ideologi Islam (ulama di PPKI dan Konstituante, Daud Beureuh, Kartosuwirdjo, PRRI, Kahar Muzakkar) akhirnya kandas.

Awal Orde Baru, praktis isu negara Islam menjadi isu “haram”. Namun pada fase keempat ini, muncul anak muda yang bernama Imron dan temannya Salman Hafidz. Ia bermaksud mendirikan Dewan Revolusi Islam Indonesia (jauh sebelum Revolusi Islam Iran, artinya : isu ini betul-betul orisinil). Dengan kharisma yang dimilikinya, Imran membentuk pasukan dan anggotanya dibaiat. Dari berbagai kegiatan profokatif-destruktifnya, sejarah mencatat dua moment spektakuler (untuk konteks masa itu) yang dilakukannya yaitu Penyerangan Kosekta 8606 (?) Cicendo dan pembajakan pesawat terbang Garuda Woyla DC-9. Pembajakan ini akhirnya bisa digagalkan di Bandara Don Muang Thailand (Jenderal (Purn.) Lumbertus Benny Murdany dan Jenderal (Purn.) Sintong Panjaitan merupakan dua orang petinggi militer yang “naik namanya” dengan kasus pembajakan ini). Gerakan Imran gagal. Ia bersama temannya Salman Hafidz, oleh rezim Orde Baru, di hukum mati. DI Jilid II – “reinkarnasi Kartosuwirjo” – tamat. Ada kesaman gerakan (baca: pembangkangan) politik Islam waktu itu, yaitu situasi frustrasi, frustasi pribadi, komunal ataupun ideologis dengan mengusung satu term yaitu :”Daerah lawan Pusat” dan “Kelompok kita (Islam berdasarkan penafsiran mereka) melawan kelompok mereka”. Mungkin hanya pemberontakan PKI Madiun yang benar-benar digerakkan oleh motof ideologi dengan segala teori perlawanannya. Pada golongan frustrasi, seperti pada Imran di fase keempat tersebut, Islam ( menurut penafsiran mereka) memang boleh jadi sebagai penggerak. Tapi Islam, bila dihitung-hitung, hanyalah sekedar “alat cantik” ditangan Karosuwirjo yang konon klenik tersebut. Daud Beureuh di Aceh, memang seorang ulama. Toh, faktor Aceh lebih menentukan karena Abuya Daud memang dikenal sebagai Bapa Aceh.

Rabu, 01 Desember 2010

Misi Religius Nabi Muhammad dalam "Rekaman" Papirus

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Sejumlah ilmuwan kritis mengklaim, Muhammad tidak pernah ada. Dan Islam adalah ajaran yang muncul berabad-abad kemudian. Namun, setelah meneliti teks-teks papirus berbahasa Arab, Petra Sijpesteijn dari Universiteit Leiden membuktikan sebaliknya.

Bagaimana Islam muncul dan apa yang terjadi pada periode awal sejarah Islam? Sebelumnya, ilmuwan yang ingin tahu soal itu harus merujuk kepada versi sejarah Islam resmi yang baru disusun sekitar 200 tahun setelah Muhammad meninggal. Baru akhir-akhir ini muncul ketertarikan terhadap sumber-sumber yang lebih objektif, walaupun lebih sulit diakses - seperti koin, inskripsi dan teks-teks papirus. Terutama teks papirus amat penting, kata Petra Sijpesteijn, guru besar bahasa Arab di Universiteit Leiden. "Papirus adalah satu-satunya sumber kontemporer mengenai 200 tahun pertama sejarah Islam." Sijpesteijn adalah salah satu dari sedikit ahli (bahasa)Arab dengan spesialisasi dalam bidang penelitian teks-teks papirus berbahasa Arab. Belum lama ini ia menerima satu juta euro dari Lembaga Penelitian Eropa untuk meneruskan penelitiannya. Papirus adalah sejenis kertas kuno yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari : mencatat transaksi komersial, korespondensi pribadi, dan semacamnya.

Ribuan teks papirus ditemukan terkubur pasir di Mesir dan wilayah-wilayah Timur Tengah lainnya. Menurut Sijpesteijn, teks-teks ini biasanya sulit dimengerti, karena sebagian sudah hancur atau dibuat dengan tulisan yang sulit dibaca dan berbahasa dialek setempat. "Namun siapa pun yang bisa membacanya, punya akses meneliti kehidupan sehari-hari masyarakat Arab di periode awal islam." Ilmu papirologi Arab masih amat muda. Baru sedikit dari ratusan ribu teks yang dipelajari. Toh sekarang, penganut islam sudah bisa menarik napas lega : menurut Sijpesteijn, data-data yang ditemukan mengkonfirmasi cukup banyak sumber resmi Islam. Sijpesteijn tak setuju dengan sekelompok kolega yang dijuluki para 'revisionis.' Mereka mengklaim bahwa nabi Muhammad tidak pernah ada. Orang-orang Arab sebenarnya cuma kelompok tak terorganisir yang kebetulan berhasil menguasai setengah dunia. Dan Islam diduga baru diciptakan dua ratus tahun kemudian di Irak. "Teks-teks papirus menunjukkan bahwa serangan tentara Arab dilakukan dengan cermat dan terorganisir. Orang Arab melihat diri sendiri sebagai penakluk dengan misi religius. Mereka ternyata juga punya pandangan religius - mereka menjalankan dan menjaga elemen-elemen penting islam yang nantinya juga dimiliki dan diyakini muslim pada abad-abad selanjutnya." Begitulah, menurut Sijpesteijn, tak lama setelah Muhammad meninggal, muncul perintah haji dan zakat. Ia juga menemukan papirus dari tahun 725 yang menyebutkan baik nabi Muhammad maupun Islam.

Toh penemuannya tetap mengancam keyakinan sebagian muslim modern mengenai sejarah Islam. Dari sumber-sumbernya, misalnya, diketahui bahwa kemenangan Arab bukanlah sesuatu yang mengejutkan dan unik seperti dikisahkan buku-buku sejarah islam. Faktanya, tak banyak orang menyadari kemenangan Arab. "Di Mesir dan Suriah, misal nya, hampir tak ada yang berubah pasca kemenangan Arab. Hanya saja, pejabat-pejabat tertinggi mereka digantikan oleh orang Arab. Perlu waktu berabad-abad sebelum pengaruh bahasa Arab dan islam menyebar di masyarakat luas." Teks-teks papirus ini juga menyangkal gagasan banyak muslim modern bahwa Muhammad menyebarkan islam sebagai agama 'siap-pakai.' "Dari teks-teks ini terlihat bahwa islam perlahan-lahan berproses menemukan bentuknya pada abad-abad awal. Waktu itu, banyak sekali perdebatan mengenai makna menjadi seorang muslim." Juga ditemukan papirus yang menuliskan, ada perdebatan apakah zakat harus diwajibkan oleh negara atau cukup disumbangkan secara sukarela. "Pertanyaan besarnya : apa makna islam untuk orang-orang pada tahun 700? Apakah waktu itu sudah ada lima rukun islam dan perintah naik haji seperti yang kita kenal sekarang?"

Sumber : Radio Nederland Wereldomroed/Foto : teks papirus

Bagi Sri Mulyani, Aburizal Bakrie (Pantas) Cacat !!

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Wanita Indonesia itu/bukan tipikal Dharma Wanita
Apatah lagi tipikal ibu PKK
Wanita Indonesia adalah Rohana Kudus dan Siti Manggopoh
Martina Tiahahu ataupun Dewi Sartika
(Puisi seorang sahabat)

".... Korupsi (di Indonesia) seumpama lingkaran setan dan partai politik berada di titik pusatnya ... !!"

"Who get what how and when", demikian kata Harold Lasswel. Ini terasa bila menyorot lingkaran setan korupsi dengan partai politik sebagai titik pusatnya. Pansus Century, Aburizal bakri dan Sri Mulyani menjadi bukti dari semua itu. Sedari awal, kala Pansur Century dibentuk, banyak yang mengatakan, Pansus ini hanyalah "angek-angek cirik ayam", "malakik nan diati dapek, saluang taruih diambuihkan", tak serius, hanya sampai apa yang diinginkan didapatkan. Dari awal-awal, banyak pengamat sudah memprediksi sejak Pansus pertama bersidang, bahwa setelah Sri Mulyani dicopot dari jabatan Menteri Keuangan, maka sasaran Pansus sudah selesai dan kader Golkar di Pansus dilarang vokal lagi, termasuk kader PKS. Sri Mulyani dianggap memulai pertempuran setelah menyampaikan pandangannya bahwa Golkar tidak akan bersikap fair kepadanya. Tudingan Sri Mulyani dijawab Golkar dengan pembeberan rekaman pembicaraan Menteri Keuangan tersebut dengan Robert Tantular, meski akhirnya dibantah langsung oleh Sekretaris KSSK Raden Pardede. Ingat, ini dikemukakan pertama sekali oleh politisi Golkar Bambang Susatyo, yang sampai hari ini tidak pernah meminta maaf bahwa ia salah memberikan informasi yang terkesan menuduh.

Mundurnya Sri Mulyani bisa jadi karena adanya kompromi politik yang harus mengorbankan Sri Mulyani sebagai tumbal. Bisa jadi juga Sri Mulyani berkorban untuk atasannya. Tapi saya rasa tidak, karena menilik dari pidato perpisahannya di Departemen Keuangan jelang berangkat ke posisinya yang baru di World Bank, secara tegas Sri Mulyani mengatakan : "pemimpin yang baik tidak akan pernah mengorbankan anak buahnya". SBY-kah ?. Sri Mulyani bisa jadi merasa muak pula terhadap perilaku partai politik yang sebenarnya sadar bahwa Menkeu/Ketua KSSK ini hanya menjalankan perintah atasannya, namun belagak tidak tahu dan hanya menyasar dirinya. Partai politik (parpol) tidak ada satu pun yang berani menyasar Presiden SBY sebagai penanggungjawab atas skandal Century. Parpol pun meniadakan fakta-fakta hukum dengan alasan politik yang sungguh tidak masuk akal bahwa semuanya sekali lagi seharusnya ada Presiden atau Wapres saat itu yang harus bertanggungjawab. Sayangnya, media massa juga terlena dengan permainan parpol utamanya Golkar yang memang hanya menyasar Sri Mulyani atas dasar pribadi ketua umum Golkar yang diduga tidak menyukai Sri Mulyani. Media cetak misalnya tidak pernah menulis dan memperhatikan apakah bosnya Golkar (Aburizal Bakrie) telah membayar tunggakan pajak perusahaannya atau tidak. Sehingga, wajar apabila kini ada penilaian bahwa mundurnya Sri Mulyani identik dengan kemenangan Golkar.

Apa sebenarnya asal mula yang menjadi pemicu konflik antara Ical dengan Sri Mulyani? Diambil dari Referensi ‘Summary Audit Investigatif BPK atas Lumpur Lapindo’ dan ‘Audit Investigasi BPK atas Lumpur Lapindo’ maka mengindikasi terjadi pelanggaran prosedur dan peraturan mulai dari proses tender, peralatan teknis hingga prosedur teknis pengeboran sumur-sumur minyak di Sidoarjo. Fakta yang lebih meyakinkan adalah dokumen serta pernyataan Arifin Panigoro sebagai pemilik perusahaan operator pengeboran sumur PT Lumpur Lapindo yang mengaku PT Lapindo telah melakukan pelanggaran atas SOP serta tidak mau melaksanakan tindaka preventif. Karena penyebab utama terjadi sumburan lumpur di Sidoardjo adalah aktivitas pengeboran, maka pihak yang bertanggungjawab adalah PT Lapindo Brantas sebagaimana diatur dalam UU 23/1997 dan PP 27/1999 (detik.com). Meskipun sudah cukup jelas penyebab dan siapa penanggungjawabnya, namun alih-alih Presiden SBY mengeluarkan Per.Pres 14 tahun 2007 jo Per.Pres 48/2008, yang mana pemerintah (dengan anggaran rakyat) membantu biaya lumpur Lapindo yang disebabkan oleh kesalahan manusia mengundang bencana. Terbitnya peraturan presiden tersebut sangat merugikan uang negara. Dalam kurun 3 tahun, 795 miliar APBN dikucurkan untuk membantu kelalaian pengeboran Lapindo selama 2007-2009. Rinciannya sebagai berikut : Rp 114 miliar pada 2007, Rp 513 miliar pada 2008, dan 168 miliar pada 2009. [LKPP 2007, LKPP 2008 dan UU APBN P 2009]. Baca juga : Jusuf Kalla dan 3 Tahun Lumpur Lapindo. Dalam kasus lumpur Lapindo, saya sepakat dengan Bu Sri Mulyani yang menginginkan “Perusahaan Bakrielah (Lapindo) yang bertanggung atas biaya penanggulangan lumpur Lapindo, bukan negara”.

Kesalahan kedua Bakrie dimata Sri Mulyani adalah karena adanya usaha pemerintah SBY-JK dalam mengintervensi penjualan saham PT Bumi Resource Tbk yang notabene adalah milik keluarga Bakrie. Pada Oktober 2008 silam, bersamaan krisis finansial dunia, saham-saham perusahaan nasional di BEI jatuh bebas tidak terkendali. Saham BUMI yang 3 bulan sebelumnya mencapai Rp 7000 per saham, anjlok dibawah Rp 1000 per saham. Tapi, pihak otoritas saham tiba-tiba menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham bumi yang diduga adanya tekanan Bakrie melalui pemerintah SBY-JK. Sri Mulyani yang ikut membidani masalah keuangan berang. Sri meminta pencabutan penghentian sementara perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk pada 7 Oktober 2008. Atas kasus ini, beredar kabar bahwa Menkeu Sri Mulyani sempat "mengancam" mengundurkan diri jika saham Bakrie masih disuspensi.

Kesalahan ketiga Bakrie dimata Sri Mulyani adalah kasus royalti batubara yang ditunggak oleh perusahaan Bakrie (berbeda-beda menurut versi Menkeu, BPK dan ICW).Kesalahan ketiga Bakrie dimata Sri Mulyani adalah pembakangan royalti batubara yang dilakukan perusahaan batubara, yang sebagian diantaranya adalah perusahaan milik Bakrie. Sri Mulyani tidak habis berpikir, mengapa ada perusahaan yang berani menghindari pajak/royalti dan bahkan menunggak bertahun-tahun. Sedikitnya 2-5 triliun Tidak hanya sampai disitu, SM juga membuat keputusan pencekalan terhadap sejumlah petinggi perusahaan batu bara Bakrie. Kesalahan keempat Bakrie dimata Sri Mulyani adalah rencana Bakrie menguasai saham 14% PT Newmont Nusa Tenggara. Mengingat potensi yang besar dari Newmont, Sri Mulyani menolak keinginan Bakrie membeli 14 persen saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara. Saat menjabat pelaksana tugas Menko Perekonomian, Sri Mulyani meminta agar seluruh saham dibestasi Newmont dibeli oleh perusahaan negara. Meski begitu, ketika jabatan Menteri Koordinator Perekonomian berpindah ke Hatta Rajasa, melalui Multicapital akhirnya Bakrie bisa mendapatkan 75 persen dari 14 persen saham Newmont. Keinginan Bakrie terwujud walau tak sampai 100 persen. Tentu saja, tunggakan pajak di atas sudah ada yang diselesaikan oleh Ical. Paparan tersebut di atas hanya sekedar memutar kembali tentang faktor apa sebenarnya yang menjadi pemicu awal konflik antara Ical dan Sri Mulyani.

Sri Mulyani Indrawati, menurut saya adalah seorang profesional dan Boediono juga seorang profesional. Keduanya mempuyai persepsi yang sama tentang Ical. Lihatlah, Golkar dan Ical belakangan ini teramat sangat getol mendukung adanya reshuffle dan ditentang berat oleh Boediono, diduga Boediono mencium hal-hal yang tidak beres dengan reshuffle ini. Nampaknya Boediono mau tidak mau sudah mulai belajar "berpolitik".

Sumber :: beberapa artikel di detik.com/mediaindonesia.com (Foto : google.picture.com)

Magnet Soekarno dalam Pergaulan Internasional

Oleh : Muhammad Ilham

Bangsa yang tidak percaya diri untuk tegak mandiri, tidak percaya pada kekuatannya sendiri, menjadi bangsa penjiplak, maka bangsa itu tidak bisa menjadi bangsa merdeka ! (Pidato HUT Proklamasi, 1963)

Biarlah foto-foto ini "berbicara", bagaimana seorang "Putra Fajar" menjadi magnet bagi kawan dan lawannya di dunia internasional. Memang banyak orang mengatakan, bahwa Soekarno adalah Presiden ultra-flamboyan - dalam bentuk lain dari "pencitraan" - tapi harga diri dan kemandirian merupakan kata kunci dari perjuangannya. Ia merasakan derita dan mengeluarkan "peluh keringat" untuk sebuah bangsa bernama Indonesia. Ia dan bangsanya tak ingin jadi "pinggiran", ia ingin jadi "ingatan" orang banyak, menjadi "magnet" bagi pemimpin dunia lainnya. Dan, Indonesia berawal dari harga diri yang tercabik dan dihinakan oleh yang namanya kolonialisme - buah dari "kapitalisme", karena itulah, "muka tengadah" arah kedepan sambil tertunduk melihat "masa lalu" menjadi icon pemikiran putra tersayang Idayu Agus Rai ini.


Presiden Sukarno baru tiba di bandara Washington DC, AS, pada siang hari. Didampingi oleh wakil presiden AS, Richard Nixon, Bung Karno disambut penuh oleh pasukan AS dengan 21 kali tembakan kehormatan. Bung Karno tiba di Washington dalam rangka kunjungan selama 18 hari di AS atas undangan Presiden AS, David Dwight Eisenhower (Foto: 16 Mei 1956).


Presiden Sukarno dan Presiden AS, Kennedy, duduk bersama di dalam mobil terbuka, sedang melewati pasukan kehormatan di pangkalan Angkatan Udara AS, MD. Bung Karno datang ke AS dalam rangka pembicaraan masalah insiden Kuba (Foto: 24 April 1961).


Presiden Sukarno menjadi tamu kehormatan Kaisar Jepang, Hirohito, dan pangeran Akihito. Bung Karno dijamu makan siang di istana kekaisaran Jepang di Tokyo (Foto: 3 Pebruari 1958).


Presiden Sukarno berdiri berdampingan dengan 4 pemimpin negara Non Blok setelah mereka selesai mengadakan pertemuan. Dari kiri kekanan : Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Bung Karno, dan Tito (Presiden Yugoslavia). Kelima pemimpin negara non blok ini mengadakan pertemuan yang menghasilkan seruan kepada Presiden AS, Eisenhower (Presiden AS) dan Perdana Menteri "Uni Soviet"/Rusia, Nikita Khruschev, agar mereka melakukan perundingan diplomasi kembali (Foto: 29 September 1960).


Presiden Sukarno bersama Perdana Menteri Perancis, Gerard Pompidou (Foto: 1965).


Presiden Sukarno sedang bercakap-cakap dengan Presiden Kuba, Osvaldo Dorticos Torrado (kiri), dan Perdana Menteri Kuba, Fidel Castro (kanan) di Havana, Kuba (Foto: 9 Mei 1960).


Menjadi cover majalah TIMES tahun 1946

Gambar Perangko Negara tetangga yang ada gambar Soekarno

Sumber : www.google.picture.com