Senin, 22 November 2010

Pidato Obama di Universitas Indonesia

Presiden Amerika Barack Obama sekitar pukul 09.30 tadi pagi memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia. Kuliah umum di Balairung Universitas Indonesia tersebut dihadiri sekitar 6.000 orang dari berbagai kalangan. Berikut adalah pidato Presiden Obama yang disalin dari situs resmi gedung putih, whitehouse.gov :

Terima kasih. Terima kasih, terima kasih banyak, terima kasih kepada semuanya. Selamat pagi. (saat mengucapkan kata-kata ini dalam bahasa Indonesia, Obama disambut tepuk tangan meriah). Merupakan hal ini yang indah dan menyenangkan berada di sini, di Universitas Indonesia. Kepada pihak fakultas, staf, dan mahasiswa, dan untuk Dr. Gumilar Rusliwa Somantri, terima kasih banyak atas keramahan Anda. (lagi-lagi peserta kuliah umum bertepuk tangan). Assalamu Alaikum dan salam sejahtera. Terima kasih atas sambutan yang indah ini. Terima kasih kepada masyarakat Jakarta dan terima kasih kepada masyarakat Indonesia. Pulang kampung nih. (Diucapkan dalam Bahasa Indonesia, tepuk tangan bergemuruh lagi) Saya sangat senang karena saya berhasil kembali ke Indonesia dan Michelle bisa datang bersama saya. Kami sempat beberapa kali membatalkan kunjungan sejak awal tahun ini, tapi saya bertekad untuk mengunjungi negara yang sangat berarti bagi saya. Dan sayangnya, kunjungan ini terlalu singkat, tapi saya berharap bisa datang kembali tahun depan ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur. (Tepuk tangan)

Sebelum melanjutkan pidato ini, saya ingin mengajak semuanya untuk mendoakan warga Indonesia yang terkena dampak tsunami baru-baru ini dan letusan gunung berapi, terutama mereka yang telah kehilangan orang yang dicintai, dan mereka yang telah kehilangan segalanya. Dan saya ingin Anda semua tahu bahwa seperti biasa, Amerika Serikat akan berdiri berdampingan berdiri dengan Indonesia dalam menghadapi bencana ini. Dan kami akan senang hati membantu jika diperlukan. Sebagai tetangga, dan keluarga, pasti akan saling membantu sesama pengungsi. Saya tahu bahwa rakyat Indonesia memiliki kekuatan dan ketahanan untuk bisa melewati ini semua. Saya akan mulai sambutan ini dengan pernyataan sederhana: Indonesia bagan dari diri saya. (Tepuk tangan) Saya pertama kali datang ke negara ini ketika ibu saya menikah dengan seorang Indonesia bernama Lolo Soetoro. Dan sebagai anak muda, saya datang ke bagian dunia yang berbeda. Tetapi rakyat Indonesia dengan cepat membuat saya merasa berada di rumah sendiri.

Jakarta sekarang, tampak sangat berbeda dengan dulu. Kota ini penuh dengan bangunan tinggi. Pada tahun 1967, '68, sebagian besar dari Anda belum lahir (Obama mengucapkan ini sambil tertawa), Hotel Indonesia adalah salah satu bangunan tinggi dan hanya ada satu department store besar bernama Sarinah. Itu dia. (Tepuk tangan) Becak dan bemo, bisa kita temukan dengan mudah di sekitar kita. Tidak ada jalan raya besar seperti yang Anda miliki saat ini. Kebanyakan dari mereka jalan di jalan beraspal dan kampung-kampung. Jadi kami pindah ke Menteng Dalam, dimana - (tepuk tangan) - hei, beberapa orang dari Menteng Dalam yang datang ke sini? (Tepuk tangan) Dan kami tinggal di sebuah rumah kecil. Kami memiliki pohon mangga di depan rumah. Dan saya belajar untuk mencintai Indonesia dengan menerbangkan layang-layang dan berjalan di sepanjang pematang sawah dan menangkap capung, membeli sate dan bakso dari pedagang kaki lima. (Tepuk tangan) Saya masih ingat teriakan dari penjualnya. Sate! (Tertawa) Saya ingat itu. Bakso! (Tertawa) Tapi sebagian besar dari semua, saya ingat orang-orang, - orang tua dan wanita yang menyambut kami dengan senyum, anak-anak yang membuat anak asing merasa seperti seorang tetangga dan seorang teman, dan guru yang membantu saya belajar tentang negara ini. Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, dan ratusan bahasa, dan orang-orang dari sejumlah daerah dan kelompok etnis, hal itu membantu saya ketika saya di sini, untuk menghargai hubungan antar manusia dan kemanusiaan dari semua orang. Dan ayah tiri saya, seperti sebagian besar orang Indonesia, dibesarkan oleh seorang Muslim, ia sangat yakin bahwa semua agama layak dihormati. Dan dengan cara ini - (tepuk tangan) - dengan cara ini ia mencerminkan semangat toleransi umat beragama yang diabadikan dalam konstitusi Indonesia, dan tetap menjadi salah satu karakteristik yang inspiratif. (Tepuk tangan).

Saya tinggal di sini selama empat tahun - waktu yang cukup membantu membentuk masa kecil saya. Ada waktu melihat kelahiran adik saya yang luar biasa, Maya, ada waktu yang membuat saya terkesan pada ibu saya karena dia terus kembali ke Indonesia selama 20 tahun berikutnya untuk hidup dan bekerja dan melakukan perjalanan - demi kecintaannya dengan berkesempatan mempromosikan berbagai hal di desa-desa di Indonesia, terutama kesempatan bagi perempuan dan anak-anak. Dan saya sangat tersanjung - (tepuk tangan) - Saya sangat tersanjung ketika Presiden Yudhoyono tadi malam saat makan malam, negara memberikan penghargaan atas nama ibuku, mengakui pekerjaan yang dia lakukan. Dan dia akan sangat bangga, karena ibu saya berpegang pada Indonesia dan sangat dekat dengan orang-orangnya, seumur hidupnya. (Tepuk tangan). Begitu banyak yang berubah dalam empat dasawarsa sejak saya naik pesawat untuk pindah kembali ke Hawaii. Jika Anda meminta saya - atau dari sekolahku saya yang mengenal saya saat itu - Saya tidak berpikir bahwa suatu hari nanti saya akan kembali ke Jakarta sebagai Presiden Amerika Serikat. (Tepuk tangan) Dan bisa berbagi kisah yang luar biasa dari Indonesia selama empat dekade terakhir.

Jakarta, seperti yang pernah saya kenal, telah tumbuh menjadi sebuah kota yang dipenuhi hampir 10 juta orang, dengan gedung pencakar langit seperti Hotel Indonesia, dan berkembang menjadi pusat budaya dan perdagangan. Sementara teman Indonesia saya, dan saya yang dulu berlari-lari dengan kerbau dan kambing - (tertawa) - generasi baru Indonesia termasuk yang paling aktif online di dunia - terhubung melalui telepon seluler dan jaringan sosial. Dan sementara Indonesia sebagai bangsa muda terfokus ke dalam, Indonesia yang berkembang saat ini memainkan peran kunci di Asia Pasifik dan di ekonomi global. (Tepuk tangan). Sekarang, perubahan ini juga meluas ke politik. Ketika ayah tiri saya masih kecil, ia melihat ayahnya sendiri dan kakak meninggalkan rumah untuk berjuang dan mati dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dan aku senang berada di sini pada Hari Pahlawan untuk menghormati sejarah Indonesia yang telah begitu banyak berkorban untuk nama negara besar ini. (Tepuk tangan).

Ketika saya pindah ke Jakarta, tahun 1967, itu adalah masa-masa terjadinya penderitaan dan konflik besar di berbagai bagian negara ini. Dan meskipun ayah tiriku pernah bertugas di Angkatan Darat, kekerasan dan pembunuhan selama pergolakan politik di masa itu, sebagian besar tidak saya ketahui karena itu tak terucapkan oleh keluarga dan teman-teman Indonesia saya. Dalam rumah tangga saya, seperti begitu banyak orang lain di seluruh Indonesia, kenangan itu tak terlihat. Indonesia memiliki kemerdekaannya, tetapi seringkali mereka takut untuk berbicara dan mengeluarkan pikiran mereka tentang berbagai isu-isu. Pada tahun-tahun sejak waktu itu, Indonesia kini bisa melakukan transformasi demokratis yang luar biasa - dari aturan tangan besi menjadi rakyat yang berdaulat. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah menyaksikan dengan harapan dan kekaguman bahwa orang Indonesia berjalan dalam damai saat terjadi pengalihan kekuasaan dan pemilihan langsung pemimpin-pemimpin. Dan sebagaimana halnya sebuah demokrasi, Anda memilih presiden dan legislatif, demokrasi Anda ditopang oleh sebuah masyarakat sipil yang dinamis, partai politik, media massa, dan warga, bergerak bersama dan memastikan bahwa - di Indonesia - tidak akan ada berbalik dari demokrasi.

Bahkan di tanah muda saya ini, saya belajar untuk mencintai Indonesia - bahwa semangat toleransi yang ditulis ke dalam Konstitusi; dilambangkan di masjid-masjid dan gereja dan kuil-kuil yang berdiri berampingan satu sama lain; yang semangatnya terkandung pada Anda semua. (Tepuk tangan) Bhinneka Tunggal Ika - kesatuan dalam keragaman. (Tepuk tangan) Ini adalah dasar dari contoh Indonesia untuk dunia, dan ini mengapa Indonesia akan memainkan peranan penting dalam abad ke-21. Jadi hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai teman, tetapi juga sebagai seorang Presiden yang mencari kemitraan yang dalam dan kekal antara kedua negara kita. (Tepuk tangan) Karena negara-negara yang luas dan beragam; sebagai tetangga di kedua sisi Pasifik, dan di atas semua sebagai demokrasi - Amerika Serikat dan Indonesia terikat bersama oleh kepentingan bersama dan nilai-nilai bersama. Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya mengumumkan kemitraan komprehensif baru antara Amerika Serikat dan Indonesia. Kami meningkatkan hubungan antar pemerintah kita di berbagai daerah, dan - sama pentingnya - kita akan meningkatkan hubungan antara orang-orang kami. Ini adalah kemitraan yang setara, didasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati.

Jadi dengan sisa waktu saya hari ini, saya ingin berbicara tentang kisah Indonesia di hari-hari ketika saya tinggal di sini - sangat penting bagi Amerika Serikat dan ke seluruh dunia. Saya akan fokus pada tiga daerah yang terkait erat, dan fundamental untuk kemajuan manusia - pembangunan, demokrasi dan religi. Pertama, persahabatan antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat memajukan kepentingan bersama dalam pembangunan. Ketika saya pindah ke Indonesia, itu akan sulit membayangkan masa depan di mana kesejahteraan keluarga di Chicago dan Jakarta akan dihubungkan. Tapi ekonomi kita sekarang global, dan Indonesia telah mengalami berbagai hal global: dari shock krisis keuangan Asia di 90, untuk mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan karena peningkatan perdagangan. Apa artinya - dan apa yang kita pelajari dalam krisis ekonomi baru-baru ini - adalah bahwa kita memiliki sumbangsih dalam keberhasilan masing-masing.

Amerika memiliki kepentingan di Indonesia tumbuh dan berkembang, dengan kemakmuran yang secara luas dibagi di antara rakyat Indonesia - karena kelas menengah di Indonesia meningkat berarti pasar baru untuk barang-barang kami, seperti halnya Amerika merupakan pasar untuk barang-barang yang berasal dari Indonesia. Jadi kita berinvestasi lebih di Indonesia, dan ekspor kami telah tumbuh hampir 50 persen, dan kami membuka pintu bagi Amerika dan Indonesia untuk melakukan bisnis dengan satu sama lain. Amerika memiliki kepentingan di Indonesia yang memainkan peran yang sah dalam membentuk ekonomi global. Lewatlah sudah hari-hari ketika tujuh atau delapan negara akan datang bersama untuk menentukan arah pasar global. Itu sebabnya G20 sekarang menjadi pusat kerjasama ekonomi internasional, sehingga negara-negara berkembang seperti Indonesia memiliki suara lebih besar dan juga memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk mengarahkan ekonomi global. Dan melalui kepemimpinannya kelompok anti-korupsi G20, Indonesia harus memimpin di panggung dunia dan dengan contoh dalam merangkul transparansi dan akuntabilitas. (Tepuk tangan).

Amerika memiliki kepentingan di Indonesia yang mengejar pembangunan berkelanjutan, karena cara kita tumbuh akan menentukan kualitas hidup kita dan kesehatan planet kita. Dan itulah sebabnya kami sedang mengembangkan teknologi energi bersih yang dapat kekuatan industri dan melestarikan sumber daya alam Indonesia yang berharga - dan Amerika menyambut kepemimpinan yang kuat di negara Anda dalam upaya global untuk memerangi perubahan iklim.

Di atas segalanya, Amerika memiliki kepentingan dalam keberhasilan masyarakat Indonesia. Di bawah berita utama hari itu, kita harus membangun jembatan antara orang-orang kami, karena keamanan masa depan kita dan kemakmuran bersama. Dan itu persis apa yang kita lakukan - dengan meningkatkan kerjasama antar para ilmuwan dan peneliti, dan dengan bekerja sama untuk mengembangkan kewirausahaan. Dan saya sangat senang bahwa kami telah berkomitmen untuk meningkatkan dua kali lipat jumlah mahasiswa Amerika dan mahasiswa Indonesia belajar di negara masing-masing. (Tepuk tangan) Kita ingin mahasiswa lebih banyak bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Amerika, dan kami ingin lebih banya siswa Amerika untuk datang belajar di negeri ini. (Tepuk tangan) Kami ingin menjalin kerja baru dan pemahaman yang lebih besar antara kaum muda di abad muda. Ini adalah isu-isu yang benar-benar penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Pengembangan, setelah semua, bukan hanya tentang tingkat pertumbuhan dan angka pada neraca. Ini tentang apakah seorang anak bisa belajar keterampilan yang mereka butuhkan untuk membuatnya hidup dalam dunia yang terus berubah. Ini tentang apakah ide yang bagus diperbolehkan untuk tumbuh menjadi bisnis, dan tidak dicekik oleh korupsi. Ini tentang apakah kekuatan-kekuatan yang mengubah Jakarta, saya pernah tahu - teknologi dan perdagangan dan aliran orang dan barang - dapat mengejawantah dalam kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia, untuk semua manusia, kehidupan yang ditandai oleh martabat dan kesempatan. Saat ini, pembangunan tidak terlepas dari peran demokrasi.

Saat ini, kita kadang-kadang mendengar bahwa demokrasi berjalan sejajar dengan kemajuan ekonomi. Ini bukan sebuah argumen baru. Khususnya dalam masa perubahan dan ketidakpastian ekonomi, beberapa orang akan berkata bahwa lebih mudah untuk mengambil jalan pintas untuk pembangunan dengan perdagangan jauh hak manusia untuk kekuasaan negara. Tapi bukan itu yang saya lihat di perjalanan saya ke India, dan itu tidak saya lihat di sini di Indonesia. prestasi Anda menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan memperkuat satu sama lain.

Amerika tidak berbeda. Konstitusi kita sendiri berbicara tentang upaya untuk menempa sebuah "persatuan yang sempurna," dan itu adalah perjalanan yang kami tempuh selama ini. Kami telah mengalami perang saudara dan kami berjuang untuk memperoleh hak yang sama bagi semua warga negara kita. Tapi justru upaya yang telah memungkinkan kita untuk menjadi lebih kuat dan lebih sejahtera, sementara juga menjadi lebih adil dan masyarakat yang lebih bebas. Seperti negara-negara lain yang muncul dari penjajahan pada abad lalu, Indonesia berjuang dan berkorban untuk menentukan nasib Anda. Hari Pahlawan adalah semua tentang - sebuah Indonesia yang dimiliki rakyat Indonesia. Tapi Anda juga yang akhirnya memutuskan bahwa kebebasan tidak berarti mengganti tangan yang kuat dari penjajah yang dengan kuat Anda sendiri. Tentu saja, demokrasi berantakan. Tidak semua orang menyukai hasil setiap pemilu. Namun itu adalah perjalanan yang berharga. Dibutuhkan lembaga-lembaga yang kuat untuk memeriksa kekuatan - konsentrasi kekuasaan. Dibutuhkan pasar terbuka untuk memungkinkan individu untuk berkembang. Dibutuhkan pers bebas dan sistem peradilan yang independen untuk membasmi pelanggaran, dan mendesak akuntabilitas. Dibutuhkan masyarakat yang terbuka dan warga yang aktif untuk menolak ketimpangan dan ketidakadilan.

Ini adalah kekuatan yang akan memajukan Indonesia. Dan dibutuhkan penolakan untuk mentolerir korupsi, sebuah komitmen terhadap transparansi dalam pemerintahan, dan keyakinan bahwa kebebasan orang Indonesia adalah hasil perjuangan rakyat secara bersama-sama. Itu adalah pesan dari orang Indonesia yang sudah mahir cerita demokrasi - dari orang-orang yang berperang dalam Pertempuran Surabaya 55 tahun yang lalu hari ini, untuk para mahasiswa yang berunjuk rasa damai untuk demokrasi pada 1990-an, untuk para pemimpin yang telah melalui jalan damai dalam masa transisi kekuasaan di abad ini. Karena pada akhirnya, itu akan menjadi hak-hak warga negara yang akan menjahit bersama Nusantara yang luar biasa ini, yang membentang dari Sabang sampai Merauke, sebuah desakan - (tepuk tangan) - penekanan bahwa setiap anak yang lahir di negeri ini harus diperlakukan sama, apakah mereka datang dari Jawa atau Aceh; dari Bali atau Papua. (Tepuk tangan) Semua orang Indonesia mempunyai hak yang sama.

Upaya tersebut meluas ke contoh bahwa Indonesia sekarang berperan di luar negeri. Indonesia mengambil inisiatif untuk mendirikan Forum Demokrasi Bali, sebuah forum terbuka bagi negara-negara untuk berbagi pengalaman dan praktek-praktek terbaik dalam mengembangkan demokrasi. Indonesia juga berada di garis depan mendorong untuk lebih memperhatikan hak asasi manusia di ASEAN. Negara-negara Asia Tenggara harus memiliki hak untuk menentukan nasib mereka sendiri, dan Amerika Serikat akan sangat mendukung hak itu. Tetapi orang-orang Asia Tenggara harus memiliki hak untuk menentukan nasib mereka sendiri juga. Dan itulah mengapa kita mengutuk pemilu di Burma baru-baru ini yang tidak bebas dan adil. Itulah sebabnya kami mendukung pemberdayaan masyarakat sipil dalam bekerja dengan mitra di seluruh wilayah ini. Karena tidak ada alasan untuk berhenti menghormati hak asasi manusia dengan batasan-batasan negara manapun. Bergandengan tangan, adalah jalan membangun demokrasi dan nilai-nilai tertentu yang universal. Kemakmuran tanpa kebebasan hanya bentuk lain dari kemiskinan. Karena manusia adalah makhluk sosial - kebebasan Anda mengetahui bahwa pemimpin bertanggung jawab kepada Anda, dan bahwa Anda tidak akan dipenjara karena tidak setuju dengan mereka, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan untuk dapat bekerja dengan bermartabat, kebebasan untuk mempraktekkan iman anda tanpa rasa takut atau dihalang-halangi. Itu adalah nilai-nilai universal yang harus diperhatikan di mana-mana. Sekarang, agama adalah topik terakhir yang ingin saya bicarakan hari ini, dan - seperti demokrasi dan pembangunan - itu adalah hal fundamental di Indonesia.

Seperti negara-negara Asia lain yang saya kunjungi dalam perjalanan ini, Indonesia kental dengan spiritualitas - tempat di mana orang menyembah Allah dalam berbagai cara. Seiring dengan ini keragaman yang kaya, juga rumah bagi penduduk Muslim terbesar di dunia - kebenaran yang saya kenal sebagai seorang anak ketika aku mendengar panggilan doa (azan) di penjuru Jakarta. Sama seperti individu yang tidak didefinisikan semata-mata oleh iman mereka, Indonesia didefinisikan oleh lebih dari populasi Muslim. Tapi kita juga tahu bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan masyarakat Muslim telah terbakar selama bertahun-tahun. Sebagai Presiden, saya telah membuat prioritas untuk mulai memperbaiki hubungan ini. (Tepuk tangan) Sebagai bagian dari upaya itu, saya pergi ke Kairo Juni lalu, dan saya menelepon untuk sebuah awal baru antara Amerika Serikat dan umat Islam di seluruh dunia - satu yang membuat jalan bagi kita untuk bergerak melampaui perbedaan-perbedaan kita. Saya mengatakan hal itu, dan saya akan mengulangi sekarang, bahwa tidak ada satu pidato yang bisa membasmi ketidakpercayaan. Tapi saya percaya itu, dan saya percaya hari ini, bahwa kita memang memiliki pilihan. Kita bisa memilih untuk didefinisikan oleh perbedaan kami, dan menyerah pada kecurigaan dan ketidakpercayaan. Atau kita dapat memilih untuk bekerja keras dan berkomitmen untuk terus mengejar kemajuan. Dan saya bisa menjanjikan pada Anda - tidak peduli apa kemunduran mungkin datang, Amerika Serikat berkomitmen untuk kemajuan manusia. Itulah siapa kita. Itulah yang kami lakukan. Dan itulah yang akan kita lakukan. (Tepuk tangan).

Sekarang, kita tahu juga isu-isu yang telah menimbulkan ketegangan selama bertahun-tahun - dan ini adalah masalah yang saya bahas di Kairo. Dalam 17 bulan yang lalu sejak pidato itu, kami telah membuat beberapa kemajuan, tetapi kami memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Warga sipil di Amerika, di Indonesia dan seluruh dunia masih menjadi target pelaku kekerasan. Saya telah menjelaskan bahwa Amerika tidak, dan tidak akan pernah, berperang dengan Islam. Sebaliknya, kita semua harus bekerja sama untuk mengalahkan al Qaeda dan afiliasinya, yang tidak mengklaim menjadi pemimpin agama apapun --- pasti bukan yang besar, agama dunia seperti Islam. Tetapi mereka yang ingin membangun tidak boleh menyerahkan tanah untuk teroris yang berusaha untuk menghancurkan. Dan ini bukan tugas Amerika saja. Di sini di Indonesia, anda telah membuat kemajuan dalam membasmi ekstremis dan memerangi kekerasan tersebut. Di Afghanistan, kami terus bekerja dengan koalisi negara-negara untuk membangun kapasitas pemerintah Afghanistan untuk mengamankan masa depan dalam membangun perdamaian di negeri yang dilanda perang - damai yang tidak memberikan tempat yang aman bagi ekstremis kekerasan, dan yang memberi harapan bagi rakyat Afghanistan.

Sementara itu, kami telah membuat kemajuan pada salah satu komitmen utama kami - upaya kami untuk mengakhiri perang di Irak. Hampir 100.000 pasukan Amerika sekarang meninggalkan Irak, sejak saya menjadi presiden. (Tepuk tangan) Irak telah mengambil tanggung jawab penuh atas keamanan mereka. Dan kami akan terus mendukung Irak untuk membentuk pemerintahan inklusif, dan kami akan membawa pulang semua tentara kami. Di Timur Tengah, kita menghadapi pasang surut perdamaian, tapi kami akan tetap gigih pengupayakan perdamaian. Israel dan Palestina memulai kembali pembicaraan tetapi tetap ada hambatan. Seharusnya tidak ada hayalan bahwa perdamaian dan keamanan akan datang dengan mudah. Tapi bila ada keraguan: Amerika tidak akan mengampuni upaya untuk hasil yang adil, dan itu adalah demi kepentingan semua pihak yang terlibat - dua negara, Israel dan Palestina, hidup berdampingan dalam damai dan keamanan. Itu adalah tujuan kami. (Tepuk tangan). Taruhannya tinggi dalam menyelesaikan semua masalah ini. Untuk dunia kita telah tumbuh lebih kecil, dan sedangkan kekuatan yang menghubungkan kita telah melepaskan kesempatan dan kekayaan besar, mereka juga memberdayakan orang-orang yang berusaha untuk menggelincirkan kemajuan. Satu bom di pasar bisa melenyapkan hiruk pikuk perdagangan harian. Satu rumor berbisik dapat mengaburkan kebenaran dan menimbulkan kekerasan antara masyarakat yang pernah hidup bersama dalam damai. Di zaman yang serba cepat dan perubahan budaya bertabrakan, apa yang kita miliki sebagai umat manusia terkadang bisa hilang.

Tapi saya percaya bahwa sejarah baik Amerika dan Indonesia harus memberi kita harapan. Ini adalah cerita yang ditulis ke dalam motto nasional kita. Di Amerika Serikat, moto kami adalah E Pluribus Unum - berbeda/plural tapi satu. Bhinneka Tunggal Ika - bersatu dalam keragaman. (Tepuk tangan) Kami adalah dua bangsa, yang memiliki jalan yang berbeda. Namun bangsa kita menunjukkan bahwa ratusan juta orang yang memiliki keyakinan berbeda dapat bersatu dalam kebebasan di bawah satu bendera. Dan kita sekarang membangun kemanusiaan bersama - melalui orang-orang muda yang akan belajar di sekolah masing-masing, melalui pengusaha yang dapat mendatangkan kesejahteraan yang lebih besar, dan melalui kami merangkul nilai-nilai demokrasi yang fundamental dan aspirasi manusia. Sebelum saya datang ke sini, saya mengunjungi masjid Istiqlal - tempat ibadah yang masih dalam pembangunan ketika saya tinggal di Jakarta. Dan saya mengagumi menara yang membumbung tinggi dan kubah yang mengesankan dan ruang ramah. Tapi nama dan sejarah juga berbicara dengan apa yang membuat Indonesia hebat. Istiqlal berarti kemerdekaan, dan konstruksi yang berada di bagian bukti perjuangan bangsa untuk kebebasan. Selain itu, rumah ibadah bagi ribuan Muslim dirancang oleh arsitek Kristen. (Tepuk tangan). Tempat tersebut adalah roh Indonesia. Tempat tersebut adalah pesan filsafat inklusif Indonesia, Pancasila. (Tepuk tangan) Di negara kepulauan yang berisi beberapa ciptaan Allah yang paling indah, pulau di atas samudra bernama perdamaian, orang memilih untuk menyembah Allah sesuka mereka. Islam berkembang, tetapi begitu juga agama lain. Pembangunan diperkuat oleh demokrasil. Tradisi kuno bertahan, bahkan meningkat.

Itu tidak berarti bahwa Indonesia adalah tanpa ketidaksempurnaan. Tidak ada negara yang sempurna. Tetapi di sini kita bisa menemukan kemampuan untuk menjembatani berbagai ras dan wilayah dan agama - dengan kemampuan untuk melihat diri Anda pada orang lain. Sebagai anak dari ras yang berbeda yang datang ke sini dari sebuah negeri yang jauh, saya menemukan semangat dalam sambutannya yang saya terima pada saat pindah ke sini: Selamat Datang. Sebagai seorang Kristen mengunjungi sebuah masjid pada kunjungan kali ini, saya menemukan itu dalam kata-kata seorang pemimpin yang bertanya tentang kunjungan saya dan berkata, "Muslim juga diperbolehkan dalam gereja. Kami adalah pengikut semua Tuhan. " Cahaya ilahi ada dalam kehidupan kita masing-masing. Kita tidak bisa menyerah pada keraguan atau rasa sinis atau putus asa. Cerita dari Indonesia dan Amerika seharusnya membuat kita optimis, karena hal itu mengingatkan kita bahwa sejarah, di samping memajukan manusia, mempererat persatuan dari berbagai bidang, dan bahwa orang di dunia ini dapat hidup bersama dalam damai. Kami, dua negara, akan bekerja sama, dengan iman dan tekad, berbagi kebenaran dengan seluruh umat manusia. Sebagai Penutup saya, saya mengucapkan kepada seluruh rakyat Indonesia: Terima kasih atas...terima kasih. Assalamualaikum. (kalimat ini semuanya diucapkan dalam Bahasa Indonesia) Thank You.

Sabtu, 20 November 2010

"Tukang Pajak" Gayus Halomoan Tambunan

Oleh : Muhammad Ilham

" ... defenisi koruptor, yaitu bila dibawa ke mulut ia akan terasa amat pahit, dimasukkan ke perut, akan membuat sembelit ... "

Kala menidurkan anaknya, pada masa dulu, ibu sering "mendodoikan" anaknya. Biasanya dalam bentuk kisah yang sedikit dinyanyikan, walaupun dengan nada "fals". Saya masih ingat, ketika adik saya yang paling kecil, didodoikan almarhumah ibu saya - biasa juga dengan istilah "didendangkan" - maka yang paling sering saya dengar adalah : "ondeh anak sibiran tulang, bilo lah gadang, jan lupo sumbayang, bilo bakarajo, jujur lah kapado urang lain, bilo ingin kayo, jadilah padagang" (wahai anak, anak nan tersayang, bila kamu sudah besar, jangan lupa sholat, bila bekerja, bekerjalah dengan jujur, dan bila ingin kaya, jadilah pedagang). Ya ... orang tua kita dahulu memahami, berdagang dan berniaga adalah "jalan" logis untuk menjadi kaya. Tak pernah sekalipun orang tua - sejauh yang saya alami kala kecil - menginginkan anaknya miskin, dan tak terdengar orang tua menginginkan anaknya jadi Pegawai Negeri (ambeetenaar kata umak saya). Mereka ingin anaknya kaya, dan jalan itu hanya diperoleh melalui berdagang. Walaupun, Pegawai Negeri merupakan profesi bonafid-elitis, setidaknya bagi masyarakat kampung saya dari dulu hingga sekarang, tapi bagi orang tua dahulu, Pegawai Negeri tak akan pernah membuat anaknya menjadi kaya. Gajinya terukur (ditaka : istilah kampung saya), sementara berdagang, bila pandai, keuntungan akan berlipat ganda (dikunci dengan jujur). Tapi, di Indonesia, Pegawai Negeri bisa kaya-raya-luar biasa. Kalau tak percaya, lihatlah Gayus Halomoan Tambunan.

Gayus Tambunan, pegawai negeri golongan III A di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Ditjen Pajak Kemenkeu), yang baru bekerja selama 10 tahun, ternyata memiliki simpanan uang hampir (tidak kecil kemungkinan) lebih dari Rp 100 miliar di rekeningnya. Tak terbayangkan, mungkin tumpukan uang itu bisa dijadikan springbed. Gaji dan honor Gayus Rp 12,1 juta. Uang Rp 100 miliar di rekening Gayus sama dengan gajinya untuk bekerja selama 1.192,8 tahun! Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, orang nomor satu di negeri ini, kekayaan yang dilaporkannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjelang Pilpres 2009 hanya Rp 7 miliar ! Kekayaan Gayus Tambunan memang sungguh mencengangkan. Stroke kita mendengarnya, kata tetangga saya yang telah bekerja sebagai Pegawai PT. Kereta Api selama 30 tahun, dan tak mampu beli Sepeda Motor Mio yang diidam-idamkan anaknya. Seluk-beluk korupsi yang dilakukan Gayus terkait dengan “budaya instan” yang melanda sebagian pegawai negeri sipil serta pegawai di instansi pemerintah lain yang ingin cepat kaya.

Lantaran kemiskinan yang mereka derita selama ini, tidak sedikit generasi muda pegawai negeri sipil yang terjangkit penyakit “ingin cepat kaya” dengan cara apa pun. Jika itu mereka lakukan melalui cara-cara halal seperti berbisnis atau melipatgandakan uang melalui reksa dana, hal itu merupakan suatu yang wajar walau tidak mungkin dalam 10 tahun seorang pegawai negeri bisa memiliki kekayaan Rp 100 miliar. Alih-alih mereka berusaha meningkatkan kualitas diri dan mengikuti jalur tingkatan jabatan melalui pendidikan dan pengalaman kerja, pegawai negeri sipil semacam Gayus justru melihat kesempatan emas menjadi kaya karena posisinya yang strategis di Direktorat Keberatan dan Banding Ditjen Pajak. Dulu sering kita mendengar dan melihat di beberapa media televisi, bagaimana orang-orang yang bekerja di direktorat tersebut karena secara berapi-api mereka amat pro pada wajib pajak yang katanya terlalu besar membayar pajaknya kepada negara. Kini penulis baru terbuka matanya, bahwa apa yang mereka lakukan tidak semuanya bersifat “altruism” (tanpa pamrih), melainkan “ada udang di balik batu”.

Yang terungkap pada kasus Gayus mungkin hanyalah puncak gunung es. Masih banyak lagi “Gayus-Gayus lain” yang mungkin korupsinya lebih besar atau lebih kecil (tapi bila dibandingkan dengan "hepeng" Gayus, tetap tak kecil). Tak aneh bila kasus ini menjadi guyonan pula di antara teman-teman penulis dengan kalimat : “Kalau orang gak suka bergaul namanya gak gaul. Kalau orang yang sudah lama kerja tapi gak kaya-kaya seperti kamu dan aku, namanya gak Gayus!” Alangkah baiknya jika persoalan korupsi di Ditjen Pajak ini bukan melulu dilihat dari kacamata remunerasi akibat dari reformasi birokrasi di pemerintahan, melainkan juga dari sisi psikologi orang yang bekerja di direktorat tersebut. Selain persoalan “budaya instan” tersebut, ada pula budaya “solider” dalam artian yang negatif. Maksudnya, mereka melakukan itu karena rasa solidaritas sesama pegawai yang kemudian dibagi-bagi kepada sesamanya atau di direktorat lain yang “kering” atau mereka takut dikucilkan oleh teman-temannya karena dianggap tidak solider dan “sok suci”. Negeri ini memang lucu, orang yang suci dan ingin berbuat kebajikan untuk negara kadang justru diasingkan oleh lingkungannya. Penulis yakin tidak sedikit dari mereka yang bekerja di Ditjen Pajak adalah orang-orang yang jujur. Namun nasib mereka justru tidak sebaik orang seperti Gayus, baik dari segi ekonomi, posisi jabatan maupun wilayah kerja. Gayus yang sudah tertangkap basah karena diduga melakukan korupsi dapat saja menjadi pahlawan dalam artian positif. Ia dapat saja membuka segala ketidakberesan yang terjadi di lingkungan tempatnya bekerja demi membersihkan bekas institusinya. Memang dia akan dianggap tidak solider oleh kawan atau atasannya..... Wallahu a'lam !

Foto : FB Muhammad Ilham via NVV.

Dunia Masih Menanti Cerita-mu !

Oleh : Muhammad Ilham

"Verba vallent, scripta mannent ..... pembicaraan akan mudah hilang, sementara tulisan akan tetap abadi .. !".

Sekarang, kata Steven Hannard dalam bukunya yang bertitelkan "Post Guttenberg Galaxy : The Fourth Revolution in Means of Production of Knowledge", seluruh pendukung konstruksi pengetahuan seperti telepon, telegraf dan tulisan serta faximile-fotocopy, menyatu dalam suatu eksplosi yang merupakan big bang kedua (big bang pertama adalah ditemukannya tulisan). Big Bang kedua tersebut adalah internet. Internet, lengkap dengan komunikasi elektromagnetoopis via satelit maupun kabel dan didukung oleh jaringan telepon-telefoni yang telah ada dan juga didukung oleh ratusan satelit di "diluar sana". Ummat manusia dalam tahap revolusi ini, dapat berinteraksi oral maupun dengan teks dengan sangat interaktif, keseluruh penjuru-penghujung-sudut dunia ini, tanpa sedikitpun kehilangan interaktifitasnya maupun "sense of live"nya. Alangkah ruginya, bila manusia tidak memanfaatkan kelebihan capaian otak umat manusia ini. Manusia sebenarnya, kata Steven Hannard, diberi kemudahan untuk mengabadikan "isi otaknya" dalam bentuk teks, yang tidak dirasakan oleh manusia dahulu, dan men-share-kannya kepada orang lain.

Sebuah teks atau tulisan dapat menjadikan penulisnya terus hidup diantara umat manusia walaupun jasadnya sudah berkalang tanah. Ia bisa menjadi penambah amal atau bisa menjadi pengundang dosa yang tiada berkesudahan. Lihatlah buku-buku dan tulisan-tulisan itu tetap hidup dan mampu untuk terus berbicara walau sang penulis sedang diam, atau bahkan telah mati sekalipun. Ide yang dibawa diterima oleh banyak manusia dan menjadi titik sentuh yang sangat kuat bagi banyak orang. Dunia masih terus menyaksikan, betapa Kitab Shahih yang disusun oleh Imam Bukhari telah menjadi landasan kokoh kedua terkuat dalam Islam setelah Al-Quran. Imam Bukhari menghabiskan waktu 16 tahun untuk menyusun koleksi ini dan menghasilkan 2.602 hadits dalam kitabnya (9.802 dengan perulangan). Dunia tak akan lupa, diawali dengan buku Der Judenstaat (Negara Yahudi) yang diterbitkan tahun 1896, Hertzl memaparkan visinya tentang negara masa depan Yahudi. Tahun berikutnya ia kemudian mengetuai Kongres Zionis Dunia pertama mendirikan gerakan politik Zionisme yang bertujuan mendirikan negara Yahudi di Tanah Palestina, dan hingga saat ini melahirkan negara Israel yang bergerak membabi buta lakukan pembantaian. Dunia masih saja bercerita, betapa buku Das Kapital yang membahas teori ekonomi politik secara mendalam dan ditulis oleh Karl Marx dalam bahasa Jerman, menjadi landasan teori kapitalis. Buku ini juga merupakan suatu analisis kritis terhadap kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi, serta kritik terhadap teori-teori lainnya. Jilid pertamanya diterbitkan pada 1867.

Mungkin kita masih ingat dengan apa yang dikatakan oleh sastrawan pemenang Magsaysay Award, Pramodya Ananta Toer, "orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”
. Teruslah menulis, dan tuangkan ide dalam tulisan. Tinggal pilih, apakah kita akan menyerukan kebaikan, atau terus menerus berteriak melantangkan keburukan. Dan dunia pun masih menanti, apa cerita tentang dirimu dan diriku di masa depan nanti.
(/untuk seorang sahabat/)

Referensi : D. Mahayana (1999) & M. Buana (kompasiana/Agustus 2010)

Jumat, 19 November 2010

Pahlawan Sipil dan Pahlawan Militer, Jelas Beda Dong !!

Oleh : Muhammad Ilham

Pernah suatu ketika, sekitar satu-dua tahun yang lalu, seorang dokter perempuan meninggal di pedalaman Papua. Dokter ini baru pulang menjalankan tugasnya menolong seorang perempuan yang melahirkan. Jarak antara rumah dinasnya di sebuah ibu kota kecamatan dengan rumah perempuan yang mau melahirkan tersebut sekitar 5 jam dengan kendaraan. Tentunya pengertian 5 jam tersebut bukan dalam pemahaman jalan yang dilalui di perkotaan atau daerah yang tidak terisolir. Si dokter perempuan yang masih muda ini harus melalui jalan terjal nan buruk. Ini sebenarnya telah sering dilaluinya, melayani lapisan masyarakat, baik yang berdomisili di daerah-daerah yang mudah dijangkau maupun harus melalui "perjuangan" keras menunju sebuah daerah yang membutuhkannya. Ini dilakoninya setelah ia ditetapkan untuk mengabdi di daerah Papua. Kembali ke cerita awal tadi, setelah menolong perempuan di sebuah daerah terisolir di pedalaman Papua, si dokter ini kemudian pulang. Melalui jalan terjal dengan estimasi waktu, lebih kurang 5 jam. Di tengah perjalanan, mungkin karena letih, dokter yang belum bersuami ini, bersama dengan mobil yang dikendarai-nya masuk jurang. Ia meninggal. Beberapa hari kemudian, berbagai media televisi dan cetak mengabadikan keluhurannya dalam menjalankan tugasnya, tepatnya tugas negara. Sebagai abdi negara melayani masyarakat. Ending-nya begitu inspiratif. Sebuah dedikasi yang tulus lagi militan. Si Dokter muda nan cantik ini, dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (saya lupa, apa nama TPU-nya).

Beberapa minggu selang kemudian, seorang prajurit TNI meninggal dalam sebuah latihan menerbangkan pesawat/jet tempur. Pesawat yang diterbangkannya, mungkin karena soak, jatuh. Si prajurit muda ini kemudian meninggal di tempat (artinya, meninggal setelah menghantam daratan). Sebagaimana biasa, beberapa media televisi kemudian memberitakan peristiwa tragis ini. Prajurit muda ini meninggal dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara, latihan menerbangkan pesawat/jet tempur. Saya merasakan, porsi pemberitaan antara kematian dokter muda dan prajurit muda ini relatif seimbang. Tapi ada yang cukup berbeda. Si dokter muda yang meninggal sebagai abdi negara, dimakamkan di TPU, sementara prajurit (pasti militer) ini dimakamkan di Taman Pahlawan (saya lagi-lagi lupa, di Taman Makam Pahlawan mana ia dimakamkan).

Mayoritas Pahlawan berasal dari kalangan militer. Taman Makam Pahlawan Kalibata, misalnya, "dihuni" oleh lebih kurang sekitar 7.000 orang tokoh. Enam ribu diantaranya, lebih kurang, berasal dari kalangan militer. Ini-pun didominasi Angkatan Darat. Dari kalangan sipil hanya berjumlah 1/7-nya. Di antara 1/7 dari kalangan sipil ini, hanya 23 orang yang merupakan Pahlawan Nasional, diantaranya Haji Agus Salim. Di Taman Pahlawan Kalibata ini pula, bersemayam pahlawan "tercepat", yaitu Jenderal Basuki Rahmad (yang kala saya belajar PSPB waktu SD dahulu dianggap sebagai orang yang "menggertak" Sukarno mengeluarkan Supersemar bersama-sama dengan Jenderal Amirmachmud dan Jenderal M. Yusuf). Jenderal Basuki Rahmad dinyatakan Soeharto sebagai pahlawan pada hari kematiannya. Pada era Demokrasi Terpimpin, 36 orang dari 49 pahlawan berasal dari ernis Jawa. Pada masa Orde Baru, dua pahlawan yang "terdorong" diberi label pahlawan oleh rezim Soekarno yaitu Alimin dan Tan Malaka, justru "dicekal". Nama mereka berdua yang dianggap tokoh "kiri" ini tidak ada dalam Buku Riwayat Hidup Pahlawan Nasional yang dipergunakan di sekolah-sekolah. Dan biasanya, para pahlawan yang sering terlihat gagah dalam buku ini adalah pahlawan-pahlawan dengan baju-baju militer (khususnya Angkatan Darat).

Mengapa banyak militer yang menjadi pahlawan ? Mengapa yang banyak "menghuni" Taman Makam Pahlawan selalu didominasi kalangan militer ? Jawabannya terdapat pada defenisi pahlawan itu sendiri sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 33 tahun 1964. Pahlawan, menurut Peraturan Presiden ini, adalah : (a). warga Negara RI yang gugur dalam perjuangan - yang bermutu - dalam membela bangsa dan negara. (b). Warga Negara RI yang berjasa membela bangsa dan negara yang dalam riwayat hidupnya tidak pernah ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai perjuangannya. Kriteria pertama, (pasti) mengacu pada militer, yang kedua pada kalangan sipil. Peluang militer jadi pahlawan lebih banyak seperti yang dikategorisasikan oleh defenisi diatas. Sedangkan bagi kalangan sipil, masih diganjal dengan ketentuan "tidak ternoda", yang ditujukan pada tokoh-tokoh yang terlibat dalam beberapa pemberontakan seumpama PRRI/Permesta bdan lain-lain. Jadi jangan heran, bila Muhammad Natsir yang "curiculum vitae"nya melebihi cum untuk menjadi seorang pahlawan, justru "terseok-seok" mencapai gelar pahlawan tersebut. Itu-pun baru diperolehnya setelah pernah gagal diusulkan oleh banyak komunitas masyarakat. Bandingkan dengan Jenderal Basuki Rahmad diatas, yang tak sampai satu hari memperoleh gelar pahlawan setelah ia meninggal, yang hanya dikenang sebagai "bodyguard" Soeharto dalam mengusahakan Supersemar yang debatable hingga hari ini tersebut. Bandingkan dengan Syafruddin Prawiranegara, Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang hingga hari ini (setahu saya), belum diakui sebagai pahlawan. Padahal PDRI yang mengambil lokasi di "somewhere in the jungle" di daerah Sumatera Barat tersebut dianggap sebagai "penyelemat Republik" sehingga RI tetap eksis walaupun Soekarno-Hatta telah ditangkap Belanda di Yogyakarta. Syafruddin Prawiranegara menjadi Ketua PDRI dan kabinetnya terdiri dari beberapa orang menteri. Meskipun istilah yang digunakan kala itu adalah Ketua, tapi kedudukan dan fungsinya sama dengan Presiden. Karena ini pulalah, sejarawan Asvi warman Adam dan beberapa sejarawan lainnya menganggap bahwa Susilo Bambang Yudhoyono bukan Presiden RI yang ke-6, tapi yang ke-8 (Soekarno, Syafruddin Prawiranegara, Mr. Asaat, Soeharto, Bj. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan SBY).

Persyaratan untuk memperoleh "kapling" di Taman Makam Pahlawan, selain dari Pahlawan Nasional, adalah orang yang pernah mendapatkan tanda jasa seperti Bintang Republik Indonesia, Bintang Mahaputra, Bintang Gerilya, Bintang Utama, Bintang Kartika Eka Paksi (Angkatan Darat), Bintang Swa Bhuana (Angkatan Udara), Bintang Jalasena Utama (Angkatan Laut) dan Bintang Bhayangkara (Polisi). Selain faktor politik, tersebab inilah, daftar "penghuni" Taman Makam Pahlawan didominasi militer. Dan si dokter muda yang dedikatif didaerah pedalaman Papua, meninggal karena menjalankan tugas negara dan kemanusiaan, "belum pantas" mendapatkan "kapling" di Taman Makam Pahlawan, karena ia sipil. Titik.

Referensi - Asvi Warman Adam (2006)

Kamis, 18 November 2010

Sejarah Inspiratif, bukan Apologia : "Dari Peradaban Islam Masa Lalu"

Oleh : Muhammad Ilham

Mempelajari mengapa "masa dulu" itu bisa sedemikian maju. Bukan, selalu "berfantasi" dan ber-apologia bahwa kita pernah memiliki "masa dulu". Kalau hanya sebatas ini, lebih baik kita menjadi fosil.

Bukan apologia, tapi sejarah "sepakat", bahwa pada abad ke-12 M., Eropa mulai belajar dari peradaban Islam. Tercatat, beberapa nama tokoh Eropa masa itu, menjadi "murid intelektual" peradaban Islam sebutlah seperti pendeta terkenal Gerbert d'Aurillac yang kemudian menjadi Paus. Lalu ada nama Adelard of Bath yang kemudian mempelopori gerakan keilmuan di Inggris. Ia dianggap sebagai ilmuan Inggris pertama, menterjemahkan buku matematika Al-Khawarizmi. Lalu ada Gerard of Cremoda yang menterjemahkan buku astronomi karya Al-Zarqaly, yang kemudian menjadi karya astronomi paling akurat Eropa masa itu. Lalu siapa yang tak kenal dengan Ibnu Khaldun. Tak hanya dikenal sebagai ahli sejarah dunia dan sosiologi, ia juga tajam dalam analisa ekonomi. Muqaddimah menjadi salah satu "mahakarya"nya yang selalu jadi sebutan hingga sekarang. Tak salah, jika kemudian Adam Smith, sang Bapak Kapitalisme dunia dalam bukunya yang (asli) menjadi "kitab suci para kaum kapitalis", Nation of Wealth mencantumkan Ibnu Khaldun sebagai inspirator. Lalu pandanglah angka "Nol". Angka ini memiliki daya "pembeda" signifikan dalam deretan dan kumpulan angka-angka. Siapa penemunya ?. Ada yang mengatakan, angka Nol ditemukan tradisi-peradaban lembah Sungai Indus India. Tapi, mayoritas ahli sejarah Eropa dan dunia mengakui bahwa angka Nol merupakan kreasi dari ahli matematika muslim, Al-Khawarizmi namanya. Di gerbang masuk Universitas Paris Perancis, terpahat nama dan wajah Ibnu Sina. Karyanya Al-Qanun (the Cannon) menjadi rujukan kedokteran dunia hampir 700 tahun lamanya.

Bila abad 21 M. ini, orang mengenal Harvard, Cambridge, MIT, Sorbonne dan Stanford sebagai pusat/univesitas ternama di planet bumi nan bulat ini, maka pada beberapa abad yang lalu, dunia mengenal tradisi peradaban Islam Damaskus (Dinasti Umayyah), Baghdad (Dinasti Abbasiyah) dan tradisi Islam Spanyol (Cordoba) sebagai "avant garde". Dinasti Abbasiyah menyulap Baghdad menjadi menjadi metropolis dunia, lalu di Spanyol, Cordoba, Toledo dan Malaga menjadi Cahaya Paeradaban Eropa. Henry Lucas, sejarawan Eropa klasik mengatakan bahwa kekhalifahan Abbasiyah barangkali merupakan periode yang makmur dalam sejarah ummat manusia pada masa itu. Baghdad tak hanya menjadi cahaya ilmu, tapi juga pusat perekonomian. Kota yang diapit Sungai Eufrat dan Tigris ini menjadi penghubung pusat-pusat ekonomi lainnya. baghdad bak pemilik Jalur Sutera (silk road). Baghdad, Bashrah dan Iskandariyah di Mesir seperti Tokyo, New York dan London di zaman sekarang.(ni kata Lucas, bukan kata saya). Mereka mengembangkan kertas dari China, berdagang sampai ke Nusantara, membangun industri dan pertanian.

Sementara Islam di Andalusia-pun ilmiah. Saking cintanya dengan ilmu, salah seorang khalifahnya, Al Hakam II, memiliki perpustakaan pribadi 400.000 koleksi buku (belum apa-apa dibandingkan dengan perpustakaan Hassanal Bolkiah yang kaya raya itu apatah lagi dibandingkan dengan perpustakaan pribadi Obama atau SBY). Pada masanya, Cordoba maju pesat. Kertas dan buku merupakan salah satu kunci kemajuannya. Dari peradaban Cordoba inilah kemudian lahir ilmuan besar seperti Ibnu Rusyd yang ahli filsafat, An-Nafis si penemu sirkulasi darah, Ibnu Haitam yang dikenal sebagai bapak optik, Ar-Razi penemu cacar, Al-Farabi si ahli musik, Al-Battani yang pakar astronomi, Ibnu Batuta penjelajah dunia dan ahli geografi, dan mungkin begitu banyak lagi yang pantas untuk diketengahkan. Marshal GS. Hodgson beserta William M. Watt, pernah menginventarisir nama-nama ilmuan yang berasal dari tradisi peradaban Islam klasik yang hingga hari ini, nama mereka masih dirujuk dan disebut oleh kalangan ilmuan dalam bidang mereka masing-masing. Peter Jenning, dalam bukunya yang terkenal - "Beauty of Learning" - secara terbuka mengakui peradaban Islam "masa dulu" memiliki potensi besar bagi pencerahan dan kemajuan ummat manusia. Sebuah pengakuan yang berbasis data dan tentunya, tulus. Tapi ada yang cukup membuat kita termenung, "masa dulu". Hanya "masa dulu". Cerita manis diatas-pun juga "masa dulu". Biarlah itu menjadi masa lalu. Tugas kita sekarang, terutama umat Islam masa kini, untuk me-renaisance-kan peradaban. Sebetapapun kecil yang bisa kita lakukan. Mempelajari mengapa "masa dulu" itu bisa sedemikian maju. Bukan, selalu "berfantasi" dan ber-apologia bahwa kita pernah memiliki "masa dulu". Kalau hanya sebatas ini, lebih baik kita menjadi fosil.

:: (artikel lengkap telah diterbitkan dalam Jurnal KHAZANAH Vol. I/Nomor 3 : Januari-Juni 2010)

Kitab dibantah Kitab, Mengharumkan Tradisi Tulis

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

/orang lain merampas bunga/biarlah aku memetik kuntum .. !!

"Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja, sebab dengan buku pikiranku tetap bebas-merdeka" (Mohammad Hatta)

Teringat kita dengan ucapan Syekh Muhammad Djamil Djambek : Kitab dibantah dengan kitab. Dan itu ia kemukakan pada akhir kolonial Belanda bercokol di nusantara. Sebuah "sikap" intelektual yang sangat inspiratif. Ulama "modernis" Minangkabau ini ingin mengajarkan bahwa tradisi tulis harus terus ditumbuhkembangkan. Sebetapapun sebuah tulisan sungguh menyakitkan, harus dibalas dengan tulisan. Buku versus buku. Karena ini pulalah mungkin, penyair Kahlil Gibran suatu ketika pernah berkata, "Jangan kau tangisi hilangnya harus mawar di taman, tapi tangisilah kehilangan tradisi menanam mawar itu". Bukan harumnya, tapi tradisi untuk menciptakan keharuman itu. Dari mana datangnya harum, bila kita tak menanam sumber harum tersebut ?. Indonesia, dibangun oleh banyak sekali orang, yang beberapa di antara mereka adalah para pecinta buku, para pemamah buku dan para penulis buku.

Banyak sekali fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hal itu. Saya akan langsung ingat kutipan Hatta yang sangat terkenal yang sudah saya sebutkan di awal tulisan ini : "Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja, sebab dengan buku pikiranku tetap bebas." Hatta, lewat kutipannya itu, tampak benar sebagai orang yang sangat mencintai dan menghargai buku. Jika ingatan saya tidak berkhianat, kutipan itu muncul dalam buku Memoir yang ditulis Hatta sendiri. Kutipan itu muncul dalam konteks ketika Hatta sedang mengisahkan hari-harinya yang sepi di tanah buangan di Digul pada 1934, yang lantas berlanjut di pulau Ende pada 1936. Saya kira orang tak cukup alasan untuk menyebut kutipan itu tak lebih sebagai sok pamer. Bukti konkrit dari kutipan Hatta itu bisa kita temukan dalam buku Alam Pikiran Yunani. Buku itu ditulis selama pembuangan Hatta di Digul yang berlanjut di Ende. Hatta memang memutuskan untuk menghabiskan waktu pembuangannya dengan melakukan studi mendalam ihwal filsafat Yunani klasik. Untuk keperluan itu, Hatta meminta bantuan kawan-kawannya di Batavia untuk mengirimkan buku-buku yang ia butuhkan yang sudah ia kumpulkan sedari ia sendiri masih berada di Belanda. Tiga peti besar datang sewaktu Hatta sedang berada di Digul. Satu peti buku menyusul sewaktu Hatta sudah berada di pulau Ende.

Bagi para intelektual yang banyak melakukan aktivitas politik, pengasingan justru menjadi momentum terbaik untuk lebih memerkaya batin dan memertajam perspektif. Bagi orang seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, atau Gramsci hingga Jamaluddin al-Afghani, pengasingan dan pemenjaraan dihayati tak ubahnya sebagai laku yogi. Laiknya seorang empu keris, waktu yang lapang, tenaga yang penuh dan laku batin yang khidmat, digunakan untuk menempa-lipat bahan baku keris yang beratnya puluhan kilo menjadi keris yang siap pakai dengan bobot hanya ratusan gram saja. Penjara, dengan menggunakan analogi empu keris, adalah tempat terbaik bagi para intelektual untuk menempa-lipat bahan baku yang dimilikinya untuk dijadikan ratusan helai tulisan yang punya pamor cemerlang. Maka, begitu kurun pengasingan itu usai terlewati, ketajaman perspektif, kedalaman batin serta kekukuhan keyakinan menjadi modal berharga untuk melanjutkan jalan hidup yang dengan sesadarnya diabdikan untuk hidup dan kehidupan banyak orang. Bersamaan dengan Hatta menulis Alam Pikiran Yunani, Sjahrir dari hari ke hari menuliskan catatan ihwal banyak pokok yang ia minati, dari soal kebudayaan, politik, seni, kesusastraan, psikologi massa hingga ekonomi politik. Catatan-catatan itu ia kirimkan dalam bentuk surat kepada istrinya di Belanda, Maria Duchateau. Surat-surat inilah yang kelak terbit dalam bentuk buku dengan judul Indonesische Overpeinzingen (dalam edisi Indonesia berjudul Rantau dan Perjuangan yang diterjemahkan oleh HB Jassin dan dikatapengantari oleh Charles Wolf Jr.). Saya tidak ragu untuk menyebut karya ini sebagai salah satu renungan kebudayaan cemerlang yang pernah ditulis oleh seorang anak bangsa. Buku ini dipenuhi oleh refleksi dan komentar Sjahrir atas pelbagai gagasan kebudayaan yang serius. Kita akan menjumpai bagaimana Sjahrir membelejeti pokok pikiran sekaligus kepribadian Johan Huizinga dengan Ortega y Gasset. Berkali-kali Sjahrir bercerita bagaimana impresinya atas karya-karya Nietzsche, Dante, Dostoyevski hingga Benedotte Croce. Sjahrir mampu menjelaskan seperti apa "hubungan darah" antara satu filsuf dengan filsuf yang lain.

Dari pembacaan yang lebih detail ketimbang sebelumnya, Sjahrir lebih punya kecenderungan memihak pragmatisme yang menjadi khas pemikiran di Britania Raya ketimbang rasionalisme Prancis atau romantisme Jerman. Sjahrir memang lebih dekat dengan Julian Huxley, John Stuart Mill atau Gustav Meyer dari Britania ketimbang Kant, Hegel, dan Goethe dari Jerman atau Andre Malraux dan Rosseau dari Prancis. Orang yang sama ini pula yang dalam pekik perang kemerdekaan, persis saat pertempuran 10 November di Surabaya baru saja dimulai, masih sempat-sempatnya menerbitkan buku yang berjudul Perjuangan Kita. Perjuangan Kita memang buku yang relatif tipis, tapi ini bukan buku sembarangan. Beberapa karib dekat Sjahrir menyebut pamflet itu menunjukkan cara berpikir Sjahrir yang ternyata begitu dekat dengan Mao Tse Tung sehingga bahkan ada yang berpikir kalau dua orang itu sempat bertemu. Franklin Weinstein, sarjana Amerika yang menulis disertasi seputar kaum elit Indonesia, menyebut Perjoeangan Kita sering dibandingkan dengan On New Democracy-nya Mao dan bahkan rakyat di dunia komunis menerima Perjoeangan Kita sebagai sumbangan yang setaraf dengan sumbangan Mao. Seorang sejarawan yang mengkaji politik Indonesia pasca proklamasi nyaris mustahil melewatkan Perjuangan Kita. Pamflet politik Sjahrir ini amat membantu menjelaskan bagaimana garis perjuangan Republik menghadapi tekanan politik, ekonomi dan militer Belanda yang berniat kembali menduduki koloni terbesarnya ini.

Sejumlah ilmuwan yang mengkaji politik Indonesia pada periode 1945-1949, semisal Ben Anderson dan George Kahin, punya kesimpulan yang nyaris sama kendati dengan impresi yang berbeda, Perjuangan untuk keluar dari jepitan Belanda nyaris sepenuhnya bergerak di sepanjang garis yang dirumuskan Perjuangan Kita. Buku Perjuangan Kita inilah yang memaksa seorang penulis tangguh lainnya untuk menulis dan menerbitkan buku tandingan berjudul Moeslihat. Penulisnya adalah Tan Malaka. Tan Malaka, saya kira, harus masuk dalam deret teratas para penulis Indonesia yang paling tangguh dan prolifik. Produktivitas dan stamina orang ini betul-betul tanpa tanding. Saya bahkan berani bilang, hanya kematian yang bisa menghentikannya menulis. Penjara, pengasingan, pembuangan dan penyakit akut tak akan pernah mampu membuatnya berhenti menulis. Coba anda bayangkan, di tengah situasi yang begitu berbahaya pada masa kekuasaan Jepang, Tan Malaka masih mampu menerbitkan sebuah buku dahsyat berjudul Madilog. Tan Malaka menulis Madilog dalam situasi yang sangat terbatas, tanpa buku-buku acuan, yang seluruh kutipan diambil dari ingatannya belaka, dan dalam persembunyian penuh marabahaya yang memaksanya menulis Madilog dengan huruf-huruf yang sangat kecil. Madilog adalah suara modern dari seorang Asia, seorang Timur, yang juga diperuntukkan bagi bangsa Asia, bangsa Timur, persisnya bangsa dan rakyat Indonesia yang masih diselimuti pola pikir mitis dan irasional. Madilog berbicara nyaris tentang semua aspek kehidupan, dari mulai filsafat, ekonomi, kebudayaan, sosiologi, sejarah hingga sains modern, yang meliputi dari matematika, kimia, fisika hingga astronomi. Dengan menulis Madilog, tampak benar betapa Tan Malaka sedang berambisi menguraikan keyakinan filsafat, politik dan ideologisnya secara terus terang, terbuka, dan komprehensif. Ini pekerjaan yang tak sepele dan terbilang langka dalam tradisi intelektual Indonesia.

Sejarah Indonesia juga mengenal kisah buku yang tragis dari seorang Amir Sjarifuddin. Amir adalah Perdana Menteri kedua dalam sejarah Indonesia. Dia naik sebagai Perdana Menteri menggantikan Soetan Sjahrir. Amir bukan orang baru dalam pergerakan nasional. Namanya sudah meroket sejak ia aktf di Gerindo. Dia ikut aktif membangun gerakan anti-Jepang pada masa Jepang sendiri sedang berkuasa di Indonesia. Sayangnya Amir tertangkap dan divonis mati oleh pengadilan militer Jepang. Hanya atas intervensi Soekarno dan Hatta sajalah Amir diampuni. Sebagai Perdana Menteri Amir tak banyak berbuat. Perundingan Renville memaksa dirinya lengser dari kekuasaan. Sejak itulah Amir makin bergerak ke "kiri", terutama setelah Moesso datang kembali ke Indonesia pada Agustus 1945. Kenyataan itulah yang membuat namanya tersangkut dalam peristiwa Madiun 1948. Beberapa jam sebelum di ekseskusi mati di Solo, Amir sempat mampir di Jogjakarta. Dalam pengawalan yang sangat ketat, Amir duduk sendirian di Stasiun Tugu, menunggu kedatangan kereta yang akan membawanya ke Solo untuk ditembak mati. Ketika perwira yang bertugas menjaganya bertanya apakah membutuhkan sesuatu, Amir tidak meminta makan, minum, pakaian, atau apa pun. Permintaan terakhirnya adalah meminta buku. Maka disodorkanlah buku Romeo and Juliet karangan William Shakespeare, satu-satunya buku yang dibawa oleh perwira yang menjaganya (bahkan seorang perwira dalam situasi perang masih sempat-sempatnya membawa buku!). Dikisahkan, Amir menghabiskan waktunya di Stasiun Tugu dengan buku di tangannya. Ketika kereta yang akan membawanya ke Solo untuk dieksekusi mati datang, Amir langsung naik ke gerbong yang sengaja dikosongkan. Ketika kereta bergerak ke arah timur dengan perlahan, tampak jelas ratusan orang berjubel di sepanjang rel ingin menyaksikan wajah mantan Perdana Menteri mereka yang hendak dihukum mati. Amir, dikisahkan oleh Soe Hok Gie, tetap tenang dan penuh khidmat membaca buku Romeo and Juliet yang sedang berada di tangannya.

Saya kehabisan tenaga dan waktu kalau harus mengisahkan satu demi satu fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hubungan yang intens antara Indonesia dengan buku. Betapa banyak. Betapa melimpah. Salah satu anugerah yang bisa dinikmati para pecinta buku negeri ini adalah kenyataan di mana mereka berhayat di sebuah negeri yang kemerdekaannya diusahakan oleh orang-orang yang begitu mencintai buku. Sebagai para pecinta buku, mereka mewariskan banyak sekali buku yang mereka tulis sendiri. Dalam bayangan saya, membaca kembali warisan-warisan tak ternilai yang ditinggalkan para pendiri republik ini adalah salah satu cara terbaik mengkhidmati kemerdekaan yang diusahakan sekuat tenaga oleh orang-orang yang begitu mencintai buku dan menuliskan apa pun yang mereka anggap perlu untuk ditulis, tanpa pandang kapan waktunya dan di mana tempatnya. Politik dan gagasan, bagi mereka, adalah dua keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Sebab, politik tanpa gagasan hanya menjadi gerak sempoyongan orang-orang kebingungan. Sementara gagasan tanpa politik (baca: pergerakan) tak ubahnya kepala yang gentayangan tanpa kaki yang menjejak bumi. Dari buku ke buku, sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Sayangnya, itu Indonesia zaman dulu. Hari ini, ada Profesor Sejarah yang bangga ikut-ikutan membakar buku sejarah. Memalukan!

Sumber utama : (c) politikana/kalangwan/09/2009; M. Hatta (1979); Tan Malaka (1999a, 1999b); Agustus (Tempo & Kompas Edisi Hari Pahlawan - 2005). Foto (Hatta di perpustakaan pribadi, Tan Malaka sedang membaca - sumber : www.google.picture)

Rabu, 17 November 2010

Haji dan Kubus Bernama KA'BAH

Oleh : Muhammad Ilham

/Dipintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling" (Chairil Anwar)

Bacalah buku Perjalanan Haji-nya Ali Shariati, kita akan dibawa kepada kerendahhatian. "Bayangkan dirimu, kata sosiolog Iran tamatan Sorbonne ini, sebagai sebuah partikel besi di dalam sebuah medan magnet, seolah-olah engkau berada diantara berjuta-juta burung putih yang sedan melakukan mikraj". Ali Shariati yang dikenal sebagai ideolog Revolusi Islam Iran ini, benar dan menyentuh. Sebuah partikel besi diantara semesta jutaan partikel besi lainnya, sekor burung putih di antara jutaan burung putih. Lalu, siapakah saya ? siapakah kami ? dan siapakah kita ?. Ali Shariati dalam buku "kecil" nan fenomenal tentang hakikat azali perjalanan haji tersebut mendekonstruksi kepongahan sebuah konsep, "massa". Haji bukanlah sekedar massa. Haji ibarat penggalan sajak Rainer M. Rilke, "Tuhan, arti-Mu adalah kerendahhatian". "Massa" bagaikan kata ajaib dalam sebuah mantra perjuangan. Ia diberi tempat khusus. Paham totaliter seperti fasisme dan komunisme meletakkan sang "massa" selalu benar dan ditakdirkan untuk pada akhirnya menang. Sebuah kesombongan dan ketakaburan. Maka, Ali Shariati menggugat kesombongan "massa" itu. Kita tak bisa menyamakan gerak ribuan jamaah yang mengelilingi Ka'bah dengan "massa" dalam pengertian totaliter. Sebab ibadat Haji yang diikuti oleh "massa", pada asasnya adalah sebuah sujud, merendahkan hati dan jiwa dihadapan sang Maha Pencipta.

Ka'bah, kata Ali Shariati yang satu kelas dengan "si jagal" Polpot kala kuliah di Sorbonne ini, adalah sebuah kebersahajaan, tanda menyerahnya manusia di hadapan sang Azza wa Jalla. Ia hanyalah sebuah kubus tanpa ornamen nan indah, kecuali kaligrafi pada kiswah yang membungkusnya - ia praktis tanpa keelokan, tanpa ornamen, tanpa keinginan menjadi impresif. Ia berdiri begitu saja di halaman dalam Masjidil Haram, dan - sebagaimana kata Muhammad Assad - "tak menyentak". Muhammad Assad, penulis Islam keturunan Yahudi Eropa itu benar. Dalam bukunya Jalan ke Mekkah, sebuah buku nan indah tentang perjalanan hidupnya, Assad mengatakan, "Saya telah menyaksikan di berbagai negeri kaum Muslimin, tempat para tangan seniman besar menciptakan karya yang diilhami, tapi justru dalam kesederhanaan Kubus Ka'bah, yang menyangkal segala keindahan garis dan bentuk, tercermin satu sikap bahwa betapapun indahnya segala apa yang dapat dibuat oleh tangan-tangan manusia, adalah congkak jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan". "Oleh karena itu, kata Assad, semakin sederhana yang dapat disombongkan manusia, merupakan hal yang terbaik yang dapat dibuatnya untuk menyatakan kebesaran Tuhan".

Buku Ali Shariati dan Muhammad Asad ini ingin mengajarkan kepada kita tentang "kesederhanaan" haji dan ka'bah. Ka'bah adalah sebuah "pulau tenang", karena pembangun pertama tanda ini tahu, ambisi kita untuk kemegahan, kekerasan hati untuk keunggulan, hanya akan pucat pasi pada detik kita menyadari posisi kita yang sesungguhnya. Kubus yang bernama Ka'bah dan selalu dikunjunggi "massa" setiap perayaan Haji adalah produk kesadaran itu, sebuah pernyataan kerendahhatian. Karena yang akan dikunjungi itu adalah Ka'bah dalam setiap Haji, sudah sepantasnyalah kita meletakkan satu ukuran "mabrur" yaitu kerendahhatian. Karena setiap sholat yang "lima putaran" sehari semalam, kita menghadap dan tertuju pada Kubus yang bernama Ka'bah, sudah selayaknyalah kita yang sholat ini selalu tertuju pula pada kerendahhatian.

:: Kepada seorang sahabat saya yang berangkat menuju Tanah Suci menunaikan Rukun Islam Kelima. Hanya ini yang bisa saya "posting" kepadamu sebagai do'a dari saya. Semoga buku Ali Shariati dan Muhammad Assad yang saya berikan padamu, selalu kamu baca di Pesawat jelang sampai ke Mekkah. Semoga mabrur, dan do'akan saya agar secepatnya kesana. Rinduku pada Ka'bah semoga tertunai dalam waktu yang tak terlalu lama. Daku selalu berdo'a pada mu Ya Allah Robbi Izzati, perkenankanlah !

Inspired : Ali Shariati (1995), G. Mohammad (1987), Muhammad Assad (1989)

Bandit Revolusioner

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949/Penulis : Robert Cribb/Tebal: 304 hlm + xvi/Penerbit: Masup Jakarta/Terbitan: Pertama dalam bahasa Indonesia, 2010

Bandit, demikian dikatakan Robert Cribb dalam- buku ini, merupakan fenomena lama dari kehidupan sosial di Jawa. Namun di sini ia menelaah fenomena itu dari berbagai sudut pandang yang tidak dilandasi pemahaman hitam dan putih. Telaah terhadap bandit di Jawa juga pernah dilakukan oleh Suhartono, sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, dalam buku-nya Bandit-Bandit Pedesaan, Studi Historis 1850 1942 di Jawa (1995). Buku setebal 304 halaman ini menyodorkan serangkaian fakta tentang ambiguitas hubungan antara negara dan kaum kriminal pada masa revolusi. Para bandit yang semula lekat dengan dunia kejahatan tiba tiba menjadi terhormat karena berperan dalam revolusi. Semangat revolusioner pun meresap ke dalam diri para bandit, sehingga mereka, yang semula dianggap apolitis, mendadak hadir sebagai satu golong-an pemuda memiliki kesadaran politik relatif baik. Cribb mencatat pada mulanya gerakan bandit yang beraksi sporadis acap kali bersandar pada tujuan yang serba tak jelas. Camat Nata, misalnya, membunuh seorang mandor perkebunan swasta di Kranji dan menjadikan istri sang mandor sebagai simpanannya. "Mereka lebih merupakan kaum oportunis daripada pejuang revolusi sosial," demikian kata Cribb di halaman 66. Rencana aksi politik justru datang dari para juragan yang sebenarnya tak begitu menyukai keadaan yang serba kacau. Para juragan itu menjadi obyek eksploitasi baik pada masa Belanda maupun masa Jepang. Mereka tak segan membalas dendam. Haji Darip dari Klender, misalnya, pendiri Barisan Rakyat Indonesia yang menguasai jalur lalu lintas di Jakarta bagian barat. Dia memadukan kriminalitas dan patriotisme hanya dengan menjarah orang orang berkulit terang seperti Cina, Eurasia, dan Eropa atau mereka yang berkulit gelap seperti Ambon dan Timor.

Obyek jarahan ini merupakan representasi dari apa yang mereka definisikan sebagai musuh rakyat Indonesia. Cribb memberikan perhatian yang cukup besar pada Angkatan Pemuda Indonesia (API), yang didirikan para pemuda Asrama Menteng 31. API berhasil menarik banyak pengikut, khususnya kelompok kelompok pemuda kurang berpendidikan. Organisasi ini juga menerbitkan manifesto, menyeru rakyat Indonesia untuk menguasai senjata, kantor kantor, dan bisnis Jepang. Seruan yang merupakan manifestasi isi proklamasi kemerdekaan 17 Agustus (bahwa "pemindahan kekuasaan dilakukan dalam tempo yang sesingkat singkatnya") itu disiarkan radio yang terus berpindah pindah-untuk menghindari penggerebekan tentara Jepang. Anggota API memelopori pengambilalihan gedung perkantoran, jaringan kereta api dan trem, dan sejumlah institusi publik maupun swasta. Dunia hitam Jakarta, demikian Cribb memberikan nama pada kelompok kelompok bandit, setidaknya bagian yang berkesadaran politik, adalah elemen alamiah pengikut API (halaman 81). Salah satu orang yang kemudian bergabung dalam API adalah Imam Syafe'i atau lebih dikenal sebagai Bang Pi'ie, pentolan paling berkuasa di wilayah Pasar Senen.

Seiring dengan kekalahan Jepang dan masuknya Inggris yang diberi mandat melepaskan tawanan perang Jepang dan menjaga ke-amanan di Indonesia, beberapa gelintir tentara KNIL sebelum perang kembali menghimpun kekuatan. Mereka merekrut orang Ambon dan Cina untuk melindungi warga Belanda yang baru saja dibebaskan dari kamp interniran dan sering menjadi sasaran kelompok dunia hitam. Pasukan itulah yang kembali menguasai keadaan dan menjadikan para juragan patron para bandit tak leluasa bergerak karena kontrol atas wilayah mereka dikuasai pasukan bentukan Belanda. Fokus Cribb pun beralih kepada Lasykar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) sebagai bagian dari reorientasi API. Seiring dengan terdesaknya LRJR ke pinggir-an Jakarta (Ommelanden), gabungan laskar itu menjalin kontak dengan Haji Darip dan beberapa pemimpin bandit lainnya (halaman 101). Kesatuan laskar itu juga bekerja sama dengan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi yang dibentuk intelijen kantor Peng-hubung Angkatan Laut Jepang. Dalam beberapa hal LRJR memang mirip Badan Pemberontakan Republik Indonesia di Surabaya yang menggelorakan semangat bertempur melawan Inggris. Melalui LRJR, aksi para bandit atau jago yang tak menentu motivasinya terlegitimasi dengan kuat. Kepentingan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan alasan keuntungan pribadi bercampur baur dalam selubung patriotisme. Warga kulit putih dan asing lainnya selalu menjadi sasaran "perjuangan", betapapun mereka itu warga sipil nonkombatan yang sering dirugikan oleh keadaan revolusi. Sjahrir dalam brosurnya, "Perjuangan Kita", mengkritik kegiatan anarkistis itu karena merugikan perjuangan Indonesia. Namun Tan Malaka dalam brosurnya "Moeslihat" justru menyebut aksi itulah modal utama untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Cribb kemudian menyimpulkan bahwa koalisi strategis antara kelompok dunia hitam di Jakarta dan kelompok nasionalis muda radikal merupakan hasil yang tidak biasa. Sebagian disebabkan kesamaan sikap menentang Belanda dan sebagian lagi karena adanya unsur timbal balik.

Para nasionalis, sebagaimana pula dikemukakan Ibrahim Isa, dilihat sebagai kelompok masyarakat Indonesia yang memiliki keahlian bertarung dan nyali besar. Sementara itu, para bandit memandang koalisi mereka dengan kaum nasionalis merupakan kesempatan untuk menaikkan derajat hidup, dari semula di lembah hitam ke tempat yang lebih dihargai masyarakat. Kerja sama itu juga bentuk dari longgarnya penegakan hukum dari sebuah republik yang baru lahir. Maka, ketika pemerintah republik yang baru ini mulai mengkonsolidasi kekuatan dan hukum ditegakkan, perlahan mereka yang berperan besar dalam revolusi itu tersisihkan dari kancah pergerakan politik. Di masa selanjutnya hubungan bandit dan kekuasaan diwarnai oleh "love and hate". Pada periode tertentu, semisal masa Orde Baru, bandit atau preman digunakan segelintir aktor penguasa untuk melakukan tindakan onar demi memperkuat kekuasaannya. Dalam insiden Lapangan Banteng pada 1982, umpamanya, ketika preman digunakan Ali Moertopo untuk menurunkan simpati rakyat yang mulai menguat terhadap PPP dalam kampanye pemilu tahun itu. Namun tak lama kemudian pemerintah melancarkan perang terhadap preman, yang dikenal sebagai penembakan misterius. Saran : buku ini bagus untuk dibaca !!

:: Sumber : Bonnie T.-Tempo/11-2010

Des Alwi : Seonggok Sejarah dalam Miniatur yang Padat

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

"Des Alwi adalah seonggok sejarah Indonesia dalam miniatur yang padat, juga berwarna-warni" (Catatan Pinggir : Goenawan Mohammad)

Bila kita membaca memoir Bung Hatta, kita akan menjumpai nama Des Alwi. Demikian juga halnya dengan riwayat hidup "si Bung Kecil" Sutan Syahrir, nama Des Alwi pasti disinggung, terutama yang berkaitan dengan Banda Neira, sebuah tempat dimana Bung Hatta dan Syahrir pernah dibuang ke daerah ini. Dan, Des Alwi adalah putra Bandar Naira. Tidak salah kemudian, Des Alwi diangkat sebagai anak angkat bung Hatta dan bung Syahrir. Ia menyimpan banyak dokumentasi sejarah bangsa baik berupa naskah, film termasuk dokumentasi tentang Bung Hatta, perjuangan arek-arek Surabaya (10 November 1945) yang saat itu beliau berumur 19 tahun. Koleksi beliau banyak yang tidak di punyai oleh negara. Beliau yang juga saksi sejarah terbunuhnya Jenderal Mallaby di Surabaya ini telah meninggal dunia pada Jumat (12/11) sekitar pukul 05.00 WIB di Jakarta. Di bawah ini, untuk mengenai beliau, saya ketik ulang sebuah Catatan Pinggir dari Goenawan Mohammad tentang putra Bandarneira ini.

Jika kita lihat lelaki ini duduk di bawah pohon ketapang berumur 100 tahun yang menaungi halaman hotelnya di Bandaneira, jika kita ingat sosok yang tambun tinggi itu sudah ada di tempat itu pada 1936 dan, sebagai anak kecil, melihat Hatta dan Syahrir jadi orang buangan yang turun dari kapal dengan paras pucat, kita bisa iri kepadanya, begitu banyak yang telah dilihatnya, begitu beragam pengalamannya, begitu pas ia di pulau Maluku itu. Begitu "Indonesia". Des Alwi seperti Bandaneira, elemen yang sering tak diingat, tapi saksi penting dari riwayat Indonesia-dalam hal ini Indonesia sebagai sebuah perjalanan kemerdekaan. "Di sini," kata Rizal Mallarangeng, yang telah dua kali ke Bandaneira dengan rasa kagum kepada para perintis kemerdekaan yang dibuang ke pulau itu, "bermula apa yang kemudian menjadikan Indonesia." Dia benar: di sini berawal kolonialisme dan antitesisnya.

Kita bisa baca, di Banda-lah pada 1529 usaha kolonisasi Eropa dipatahkan; di sini kontingen orang Portugis terus-menerus diserang hingga mereka batal membangun sebuah benteng. Hampir seabad kemudian, pada 1609, ketika sepasukan Belanda mencoba memperkuat Benteng Nassau, para pemimpin Banda, disebut "orang kaya", membunuh laksamana asing itu dengan segenap stafnya. Banda mencatat konflik seperti itu sampai ke dalam abad ke-20, para penentang VOC (kemudian Hindia Belanda) diasingkan ke sini silih berganti. Kita tahu sebabnya, pada mulanya adalah rempah-rempah, terutama pala, yang di dunia hanya ditemukan di Banda, yang menggerakkan perdagangan internasional paling awal, seperti minyak bumi di zaman ini. Dan bersama perdagangan, datang peradaban. Juga kebiadaban. Sebelum orang Portugis masuk ke Maluku di abad ke-16, letak Banda yang kaya rempah itu dirahasiakan para saudagar Arab (atau "Mur") yang membawa barang berharga itu ke Eropa. Kemudian penakluk dari Semenanjung Iberia masuk, kemudian Belanda dan Inggris. Perjalanan jauh dan berbahaya, tapi mereka selalu datang. Untuk laba yang 300 kali lipat dari jual-beli pala, bahkan yang bengis siap dihadapi dan diberlakukan. Di Bandaneira ada sebuah monumen kecil. Di Parigi Rante itu ada sebuah sumur di sepetak halaman. Di sanalah, 8 Mei 1621, seregu samurai Jepang didatangkan Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Jenderal VOC yang terkenal itu) ke Neira. Mereka disewa untuk menyembelih 40 orang pemuka masyarakat Banda yang menolak klaim Belanda dalam monopoli niaga pala. Tubuh ke-40 orang itu dicincang, kepala mereka dipancangkan di deretan tiang. Di dinding di belakang perigi itu juga tertulis sederet nama orang dari pelbagai penjuru Nusantara yang dibuang ke pulau itu sejak abad ke-19, dari Pontianak, Yogya, Kutaraja, Cirebon, Serang, Blitar. Di abad ke-20 ada nama yang kini lebih dikenal : Cipto Mangunkusumo, Iwa Kusumasumantri, Hatta, Syahrir.

Tak akan mengherankan bila dari kepulauan ini sejarah tampak berbeda, kita tak akan mengatakan bahwa yang berlangsung selama lebih dari 350 tahun di Nusantara adalah 350 tahun penjajahan. Dari Banda kita jadi tahu, sejarah Nusantara adalah 500 tahun perlawanan. Dan Des Alwi, yang lahir 7 November 1927 di Neira dan sejak kecil mengenal Cipto, Hatta, dan Syahrir-orang-orang hukuman yang mengubah hidup Des - mungkin saksi terakhir dari rangkaian perjuangan panjang itu. Saya menyadari itu ketika sore itu saya dan beberapa teman duduk di dekatnya, mendengarkan ceritanya, di petak atap Benteng Belgica yang berumur 400 tahun. Seakan-akan di sore itu, sejumlah abad bertemu. Benteng yang menjulang hitam di bukit ini dibangun Belanda pada 1611. Letaknya dipilih pada posisi yang bisa mengawasi seantero selat dan laut. Sejak didirikan, empat menara pengintainya menyaksikan armada-armada Eropa datang, meriam-meriam ditembakkan, destruksi dan pembunuhan berkecamuk, 200 orang Belanda dihabisi pasukan Inggris di Pulau Ai pada 1615, ratusan orang Inggris dibantai Belanda sebagai pembalasan. Dari sini pula tampak kapal-kapal Inggris meninggalkan Pulau Run setelah pulau itu ditukar-guling dengan Pulau Manhattan milik Belanda di New York pada 1667. Tapi seratus tahun lebih kemudian, pada 1810, marinir Inggris merebut Benteng Belgica.

Abad demi abad, energi dicurahkan, dan uang diperebutkan dengan gigih dan ganas hingga dunia berubah. Kekuasaan pun tegak dan runtuh, kemerdekaan ditindas atau dilahirkan. Hari mulai gelap ketika Des berkisah tentang kemerdekaan yang dicoba digagalkan tapi dilahirkan kembali, Indonesia yang tak mudah. Des bukan sejarawan, bukan pula pelaku utama, tapi-dan ini lebih menarik-ia saksi yang terlibat. Jika kita baca bukunya yang baru, Friends and Exiles, yang diterbitkan Cornell University, kita dapatkan bukan saja kisah kelahiran Indonesia, tapi juga kisah seorang yang "menjadi Indonesia", sejak dari darah dan dagingnya, sampai dengan ketika ia terlibat, sengaja atau tidak, dalam peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang dan membentuk tanah airnya. Des Alwi Baadila-yang orang tuanya berdarah Cina dan "Mur" (nama "Baadila" ditemukan di Maroko dan Spanyol), yang masa kecilnya dibentuk Hatta dan Syahrir, yang masa mudanya ikut bertempur dan terluka di Surabaya 10 November 1945-adalah contoh bahwa Indonesia "men-jadi" dengan riwayat seperti pantai pulau-pulau Banda, kekerasan bisa meletup, tapi inilah negeri yang tak merasa perlu memberi batas mutlak tentang "luar" dan "asing". Kecuali ketika yang "luar" dan "asing" itu menegaskan diri dengan senjata dan pemaksaan. Dan kita melawan. Selamat Jalan Om Des. Anda inspiratif !!

:: Sumber - Catatan Pinggir/19 Oktober 2009

Senin, 15 November 2010

Postur dan Wajah - Sebuah Tulisan Tak Berujung

Oleh : Muhammad Ilham

Timur Leng itu pincang, sesuai dengan namanya - Si Pincang dari Timur - tapi, penguasa Samarkand yang muslim ini, menggetarkan lawan-lawannya (Harold Lamb)

Puja-puji nampaknya belum berhenti pada Obama. Ia magnitude. "Pulang Kampung, Sate, Baso" yang spontan diucapkan si-Barrack Hussein kala Kuliah Umum di Kampus UI ini, meninggalkan kesan mendalam, bagi hampir semua kalangan. Termasuk sahabat saya, sepulang sholat Isya di musholla sebentar tadi. Baginya, "Om BlackBerry" ini (si-Berry Hitam - panggilan kala kecil) sungguh mengasyikkan. Teman saya yang - kalaulah boleh saya memetakannya - masuk dalam kategori "pembenci Amerika Serikat paling abadi" ini, terhipnotis dengan style Anak Menteng yang "Pulang Kampung" itu. "Ganteng sekali saya lihat Obama itu", katanya spontan. "Mana yang paling ganteng dibandingkan dengan Yusril Ihza Mahendra atau Andi Malarangeng", kata teman saya yang lain. "Oh, jauh lebih ganteng si Obama, seperti peragawan," katanya lagi sambil meninggikan suaranya. "Sasek ang ma, ganti kaco mato tu bisuak !". Dan mereka-pun terlibat debat hanya masalah "perwajahan". Saya hanya ketawa, sambil menutup debat mereka dengan, "seandainya saya jadi Presiden Amerika Serikat, mungkin saya jauh lebih ganteng, istri saya jauh lebih anggun dibandingkan Michelle Obama ... prikitiew !". Kami-pun terbahak dan berjalan bercabang, menuju rumah masing-masing.

Jabatan memang "ditakdirkan" tidak memiliki sangkut paut dengan wajah dan postur. Saya kebetulan menyukai membaca biografi orang-orang terkenal yang pernah di"catat" sejarah. Cobalah lihat, Ho Chi Minh yang biasa dipanggil dengan "Paman Ho", ia bermata sayu dan melihat posturnya, hanya satu yang akan terlintas dibenak kita : "Ia kurang gizi". Tapi, Paman Ho ini mampu membabat habis pasukan Perancis di Dien Bien Phu dan memberi malu Amerika Serikat. Untuk membayar malunya ini, Amerika Serikat "terpaksa" memproduk film sejenis Rambo. Paman Ho bisa jadi kepala negara. Mata sayu dan postur kurang gizi-nya itu, justru membuat ia menggetarkan rakyat Vietnam. Namanya diabadikan, Ho Chi Minh City. Di sisi lain, Soekarno yang pancaran matanya yang bisa jadi binar sehingga sulit orang mengadu pandang, bisa juga jadi Presiden. Lalu, lihat John Fritzgerald Kennedy, Presiden Amerika Serikat paling muda dalam sejarah panjang Amerika Serikat, dengan sisiran rambut yang mengingatkan orang pada pemain band, yang wajahnya membuat Marlyn Monroe selalu mengirimkan bunga - juga bisa jadi Presiden. Lalu bandingkan dengan Nikita Kruschev, musuh terdepan Kennedy ini memiliki tubuh tambun-bulat dan berkepala bundar, kelihatan seperti petani Ukraina. Ia yang pernah membuka dan memukul-mukul sepatunya dalam Sidang Umum PBB ini karena marah pada kebijakan politik luar negeri Kennedy, bisa menjadi orang masyhur. Kruschev yang menjadi pemimpin negara pertama mengucapkan belasungkawa dengan sesegukan atas meninggalnya Kennedy tersebut, dengan postur tubuh yang tak seganteng Kennedy, bisa menjadi Perdana Menteri Uni Sovyet paling cemerlang dan brillyan.

Lihatlah juga Pandit Javaharlal Nehru. Ayah Indira Gandhi dan kakek Rajiv Gandhi ini dikenal ganteng seperti Amitabh Bachan. Badannya semampai dan senantiasa menyelipkan sekuntum mawar merah di bajunya. Sementara penggantinya Lal Bahadur Shastri, berperawakan mungil mirip - bak kata seorang kolomnis - seperti kasir toko kelontong India. Toh, mereka berdua juga sama-sama pernah meraih posisi Perdana Menteri India. Pandang pula texture tubuh Gamal Abdel Nasser yang tinggi besar. Jari jemarinya besar seumpama pisang batu, toh digantikan oleh seorang keling yang bertubuh kecil dan setengah botak bernama Anwar Sadat. Mereka berdua, tercatat sebagai Presiden yang lama dan berpengaruh pada masa mereka. Atau lihatlah Norodhom Sihanouk, raja Kambodja yang memiliki istri terkenal cantik, Putri Monica namanya. Konon, Soekarno yang sahabat Sihanouk, bila berjumpa dengan Putri Monica, selalu rajin mengerlingkan matanya pada Putri ini. Sihanouk orangnya pendek, tingginya hanya "seleher" Soekarno, suaranya nyaring seperti penjual obat, tapi mampu menjadi raja berfikiran moderat Kambodja. Ada anekdot tentang Sihanouk yang senantiasa bersuara nyaring dan dan nyerocos bila bicara, istrinya Monica menjawab, "Kambodja itu penduduknya cuma enam juta, lengang, karena itu, Sihanouk harus bersuara nyaring, bila tidak negeri akan senyap". Ah .. ada-ada saja. Di China, ada Perdana Menteri ganteng, namanya Chou En-Lai. Alisnya tebal dan berair muka merah jambu. Kegantengannya tak bisa dikalahkan Chow Yun-Fat, Jeet Lee, Jacky Chen apatah lagi Stephen Chow. Wajah Chou En-Lai memancarkan inteligensi tinggi. Namun penggantinya, Chen Yi, kebalikannya, bermuka China kebanyakan, bahkan sepintas lalu tampak seperti buruh angkat pelabuhan, sering memakai singlet dan suka angkat kaki di kursi. Konon, ia jarang mandi dan menyisir rambut. China pernah merasakan dipimpin oleh dua orang kontradiktif ini. Dan contoh ini akan semakin banyak, bila dirunut satu per satu.

Di Indonesia, lihatlah Abdurrahman Wahid. Wajah dan posturnya tidak membuat kita "nyaman". Tubuhnya gempal, berkaca mata tebal, bisa tidur dimana saja, bisa menjadi Ketua NU paling berpengaruh dan Presiden paling kontroversial Indonesia. Memiliki kemampuan humor yang tinggi dan pribadi yang sulit ditebak. Terkesan enjoy. Lalu, Habiebie nan mungil, dengan suara mirip Sihanouk, bila bicara selalu panjang-lebar (sudah panjang, lebar lagi). Konon, karena "cerdasnya", sehingga semua yang ada dalam file otaknya ingin keluar semua. Bandingkan pula dengan SBY nan tinggi besar, postur militer tegap. Selalu menjaga penampilan, "pencitraan" istilah orang sekarang dan selalu ingin perfeksionis sehingga terkesan peragu dan banyak kalkulasi. Walau matanya sekarang memiliki kantong (konon, karena jarang tidur), SBY selalu terlihat gagah, rapi, hensem kata orang Malaysia, kalau tak percaya, tanya pada Ruhut Poltak Sitompul, si raja minyak dari Medan. "Rudy" Habibie nan mungil dan terkadang melanggar protokoler dalam berbagai acara, spontan, bicara ceplas ceplos dan terkadang ekspressif (kadang-kadang tertawa lepas, bahkan ngakak). SBY terkesan prosedural, bicaranya tertata rapi-sistematis dan serius ..... mereka bertiga - Gus Dur, Habibie, SBY - juga pernah/masih menjadi Presiden Indonesia.

Napoleon Bonaparte itu pendek, Hirohito kurus dengan tatapan mata nanar, Mussolini gendut-tambun botak. Konon, Alexander Agung sang penguasa Macedonia memiliki tubuh atletis dengan dagu yang lancip, Jenderal Mc. Arthur dirindukan banyak orang pasca Perang Dunia ke-II karena kegagahannya dan Che Guevara sang petualang Marxis dari Cuba sangat macho. Mereka semua berhasil bukan karena wajah dan postur. Tapi, karena - istilah Tukul Arwana - kristalisasi keringat. Bila-lah, seandainya wajah dan postur menjadi parameter jabatan, maka akan bermunculanlah Audisi Pencari Wajah dan Postur di berbagai TV Swasta, kerjasama Supermi atau Indomie dengan KPU/KPUD. Sayang, Mbah Maridjan "telah pergi". Kalau ia masih tetap hidup, mungkin ia adalah salah satu sample dari bentuk pengaruh yang bukan bermula dari wajah dan postur, tapi dari roso.! Ah .... entah kemana perginya .... (dan saya pun menonton KLANTINK dalam acara Opera van Java off Road tadi. Klantink yang nDeso, bisa lebih menarik dibandingkan group-group Band "anak mama".

Foto : Obama - Ho Chi Minh - Nehru - SBY (sumber : cnn.com)

Timur Lenk - "Si Pincang dari Timur"

Oleh : Muhammad Ilham

"Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini, maka di bumi seharusnya hanya ada satu raja" (Timur Lenk)

Namanya Timur Lenk. Si Timur Pincang. Ia anak Taragai, Kepala Suku Barlas di wilayah Uzbekistan kini. Sang ayah kabarnya keturunan Karachar Noyan -menteri dan kerabat Jagatai, anak Jenghis Khan. Namun Timur Lenk sendiri sering disebut sebagai keturunan Jenghis Khan. Secara resmi keturunan Mongol ini telah memeluk Islam. Sejarawan Harold Lamb memperkirakan ia lahir pada 25 Sya'ban 736 Hijriah, atau 8 April 1336 Masehi. Sejak kecil, keberaniannya nampak luar biasa. Pada usia 12 tahun, ia telah terlibat dalam sejumlah pertempuran. Ketika ayahnya wafat, Timur bergabung dengan pasukan Gubernur Tansoxiana, Amir Qaghazan, sampai gubernur itu meninggal. Serbuan pasukan Tughluq Temur Khan melambungkan nama Timur Lenk. Ia bertempur sampai mengundang perhatian Tughluq. Ia direkrut Tughluq menjadi pasukannya, namun kemudian memberontak setelah Tugluq mengangkat anaknya, Ilyas Khoja sebagai Gubernur Samarkand dan hanya menjadikan Timur sebagai wazir. Timur bergabung dengan Amir Husain -cucu Qaghazan.

Tughulq dan Ilyas Khoja tewas dalam pertempuran. Kemudian Timur malah membunuh Amir Husain yang juga iparnya sendiri. Pada 10 April 1370, ia mengangkat dirinya sebagai penguasa tunggal. "Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini, maka di bumi seharusnya hanya ada satu raja." Demikian semboyannya. Sejak itu, Timur menebar maut sebagaimana dilakukan Hulagu seabad sebelumnya. Khurasan, Afghan, Persia, Kurdistan dikuasainya. Di Sabwazar, Afghanistan, ia membangun menara terbuat dari 2000 mayat dibalut dengan lumpur. Pada 1395, ia menyerbu Moskow. Lalu balik lagi ke Timur ke India -tempat ia konon membantai 80 ribu tawanannya. Kebiadaban terus ditebarkan. Pusat-pusat peradaban Islam dihancurkannya kecuali Samarkand. Di tempat ini, ia malah membangun kota dengan mendatangkan batu dari Delhi, India, dengan diangkut oleh gajah. Di Aleppo, Syria, Timur Lenk membangun piramida dari sekitar 20 ribu kepala manusia. Di Baghdad, sebanyak itu pula penduduk yang dibantainya. Di Armenia, 4000 tentara musuh dikubur hidup-hidup. Sekolah dan masjid-masjid di sekitar Irak dihancurkan. Masjid Umayah di Damaskus dihancurkannya sehingga tinggal dinding. Tak terhitung lagi jumlah korban Timur Lenk. Timur juga menggempur dua kesultanan penting. Yakni kesultanan Usmani di Turki serta Mamluk di Mesir. Dalam pertempuran melawan Timur Lenk, Usmani dipimpin sendiri oleh Sultan Bayazid I. Erthugul, anak Bayazid, tewas. Dalam pertempuran berikutnya, perang di Ankara 1404, Bayazid bahkan tertawan dan meninggal sebagai tawanan. Di Takrit -kota kelahiran Salahuddin Al-Ayyubi-Timur Lenk juga membangun piramida manusia. Dinasti Mamluk di Mesir tak luput dari ancamannya. Apalagi Sultan Malik Zahir Barquq melindungi penguasa Baghdad yang melarikan diri, Sultan Ahmad Jalair. Namun, seperti menghadapi Hulagu sebelumnya, Mesir akhirnya luput dari serangan Timur.

Serangan Timur Lenk benar-benar menghancurkan peradaban Islam. Praktis hanya Mesir yang selamat. Baghdad yang belum pulih akibat serangan Hulagu Khan dulu, kini remuk kembali. Tak puas menjarah ke Barat, Timur Lenk kemudian mengincar Cina di timur. Padahal saat itu, ia telah berusia 71 tahun. Saat hendak melakukan invasi itu, Timur Lenk sakit dan meninggal pada 1404. Dua orang anaknya, Muhammad Jehanekir (sebagian menyebutnya : Jehanggir - "sang pengenggam dunia") dan Khalil bertempur hebat memperebutkan kursi sang ayah. Khalil (1404-1404) menang, namun dikudeta oleh saudaranya yang lain, Syakh Rukh (1405-1447). Syakh Rukh dan anaknya, Ulugh Bey (1447-1449) memimpin negaranya dengan baik. Ilmu pengetahuan kembali berkembang. Namun tidak lama. Pada 1469, kekuasaan keluarga Timur Lenk itu ambruk. Timur adalah salah seorang pemimpin paling brutal dalam sejarah. Sepak terjangnya menghancurkan masyarakat Islam habis-habisan. Namun, ironisnya, Timur Lenk adalah seorang muslim. Kabarnya, ia berpaham Syi'ah namun dekat dengan tarekat Naqsabandiyah. Dalam kehidupan sehari-hari, ia seperti menghormati para ulama. Dikabarkan ia dengan sangat hormat menerima sejarawan besar Ibnu Khaldun yang ditugasi Sultan Faraj untuk berunding. Apapun, noda hitam telah terlalu banyak ditorehkan Timur Lenk. Terlalu banyak merah darah yang telah dibanjirkannya. Namun, ia adalah bagian dari sejarah peradaban Islam itu sendiri, like and dislike. !

Foto : salah satu peninggalan kerajaan Timurid di Samarkand (sumber foto : CW. Bosworth)