Minggu, 11 Oktober 2009

G 30 S (Baca : Gempa Tiga Puluh September) : "Ustad, Maksiat dan Gempa serta Bugil"

Oleh : Muhammad Ilham

Margareth Marcus atawa "Mariam Jameelah" (murid kesayangan Abul A'la Al-Maududi) suatu ketika pernah mengatakan bahwa "memisahkan faktor transedental dengan kejadian-kejadian alam merupakan bentuk sekularisme paling mengkhawatirkan, namun menganggap fenomena alam bukan merupakan tanda-tanda Tuhan, justru jauh lebih mengkhawatirkan". Saya sederhanakan : ... "apabila terjadi kecelakaan, lantas kita menganggap itu merupakan kesalahan manusia semata tanpa ada takdir Tuhan disana, maka itu adalah bentuk sekularisme yang mengkhawatirkan ...... namun justru lebih mengkhawatirkan apabila kecelakaan itu kita anggap sebagai takdir Tuhan semata, tanpa melihat kesalahan yang dilakukan oleh seseorang sehingga ia celaka karena tidak membaca tanda-tanda alam (rambu-rambu lalu lintas, misalnya).

Beberapa tahun yang lalu (kalau saya tidak salah tahun 2007), menjelang Ramadhan terjadi gempa yang cukup keras di Kota Padang. Satu hari jelang puasa, jam 17.00 sore, kira-kira. Hari dan saat itu, warga Padang sedang melaksanakan "tradisi kultural-teologis" a-la Minangkabau, Balimau. Ketika banyak warga sedang mandi Balimau di beberapa sungai dan tempat pemandian di Kota Padang, gempa "berdangdut". Semua orang berhamburan. Walau hanya sebentar, tapi gempa ini justru menjadi topik ceramah para pendakwah pada bulan Ramadhan kala itu, terutama di Kota Padang ................ dan itu termasuk saya yang kebetulan mengisi beberapa jadwal ceramah Ramadhan di beberapa masjid dan musholla di Kota Padang. Bila saya tak ada jadwal ceramah, biasanya saya pergi ke beberapa Masjid untuk sekedar "belajar tambahan" dari beberapa muballigh yang kebetulan ceramah di Masjid yang saya kunjungi untuk taraweh. Hampir secara keseluruhan, topik ceramah yang saya dengar berkaitan dengan gempa ......... para muballigh ini nampaknya menyadari hal-hal aktual, kala itu. Akan tetapi, kemampuan para muballigh ini merespon topik katual ini tidak diiringi oleh kearifan dalam melihat kompleksitas faktor yang melatarbelakangi gempa tersebut. Fakta sosial "Balimau" justru dijadikan sebagai penyebab an-sich terjadinya gempa. "Tahukah bapak, ibu saudara sekalian, gempa yang terjadi satu hari jelang puasa kemaren, merupakan laknat Allah karena kita masih memegang tradisi Balimau .......... seluruh laki-laki dan perempuan bercampur baur, hanya untuk mandi di seluruh sungai di Kota Padang", demikian setidaknya simpulan dan hujatan para muballigh yang saya dengar. Para muballih tersebut harusnya belajar antropologi, bahwa tradisi Balimau itu sudah menjadi tradisi-kultural Minangkabau sejak awal Islam masuk di ranah "rumah bagonjong". Walaupun secara normatif-teologis, kita harus meyakini bahwa fenomena alam merupakan sebuah takdir ............ ia memiliki qadar dan ukuran, apabila tiba masa qadar atau ukurannya, maka fenomena tersebut akan terjadi.

Pasca gempa 30 September 2009 yang lalu, sudah dua khutbah Jum'at yang saya lalui, sehingga tulisan ini dibuat. Khutbah pertama, kebetulan saya menjadi khatib di Masjid di salah satu daerah "pinggiran" di Kota Padang. Khutbah Jum'at berikutnya, saya sholat di salah satu masjid di pusat Kota Padang, sebagai makmum. Dalam khutbahnya, sang khatib yang kebetulan merupakan salah seorang khatib kondang di Kota Padang, kembali mengulang kekhawatiran Maryam Jameelah di atas. "Penyebab gempa di Kota Padang dan Padang Pariaman, Bapak-Bapak saudara sekalian, karena perbuatan maksiat yang telah merajalela di daerah kita ini", demikian intro dan analisis si khatib tersebut dengan lantang. Kemudian beliau mulai mengeluarkan data-data yang dikutipnya dari opini dan pemberitaan media massa tentang maraknya perbuatan maksiat (terutama jumlah wanita tuna susila @ poyok yang dari waktu ke waktu menunjukkan grafik peningkatan ditangkap oleh Polisi Pamong Praja) dan seterusnya dan sebagainya ........... kemudian disimpulkan : Inilah penyebab gempa. Saya lihat jamaah masjid hanya melongo (entah kagum atau heran), tapi yang jelas terdengar celetukan salah seorang jamaah yang duduk disamping saya, "kalera, manyalahan se pande-nyo, salasai khutbah ko inyo dapek pitih, nan awak pulang karumah indak punyo bareh" (baca : bullshit, ustad ini hanya pandai menyalahkan dan mengkritik saja tanpa memberikan jalan keluar terbaik, setelah khutbah ini, ia dapat uang honor sebagai khatib, sementara kita tidak memiliki beras di rumah). Saya ketawa dalam hati. Saya tahu, jamaah yang berceletuk tersebut mengerti bahwa tidak boleh berbicara ketika khatib naik mimbar, apatah lagi mengeluarkan kata-kata kotor. Di akhir khutbah, sang khatib menutup khutbahnya dengan sebuah renungan, bunyinya kira-kira begini : "Bapak-bapak, saudara-saudara sekalian, pada waktu evakuasi gempa, banyak ditemukan di salah satu hotel, orang-orang yang telah mati dalam kondisi pakaian setengah bugil dan hanya layak dipakai di kamar mandi atau mau bersetubuh ............. ini menjadi bukti bahwa kita yang mengundang gempa karena banyaknya perbuatan maksiat di sekeliling kita, seperti yang telah terjadi di salah satu hotel di kota Padang ini," demikian kata sang khatib. Terdengar lagi celetukan jamaah yang duduk di samping saya tadi, "iko ustad paniang ma, jalehlah banyak ditamuan mayat bapakaian renang di hotel Ambacang tu, namonyo ajo sadang baranang, ma lo ka mungkin bapakaian jas atau daster urang mandi ........... dalang ustad ko mah" (Ustad ini tidak memiliki analisa, sudah jelas banyak ditemukan orang mati dengan pakaian setengah bugil, maklum mayat-mayat yang ditemukan tersebut berada di kolam renang hotel Ambacang, masak orang berenang menggunakan pakaian jas ataupun daster). Saya berdiri, kemudian pergi ke tempat wudhu' ........... berwudhu' dan melepaskan tawa yang tertahan.

(Insert : Kondisi Hotel Ambacang Pasca Gempa 30 September 2009)

Jumat, 09 Oktober 2009

G 30 S/15.16 WIB (Baca : Gempa 30 September) Pukul 15.16 Sore

30 September 2009, hari itu hari Rabu, sore dengan cuaca yang sungguh sangat bersahabat. Kebetulan, hari itu saya agak cepat pulang dari kampus (sekitar 'ashar : biasanya saya betah hingga senja menjelang, walau tak ada jadwal ngajar sore). Saya sedang menunggu istri di sekolah tempatnya mengajar, sambil ber-SMS ria dengan salah seorang teman "paling gokil" yang saya kenal - Buana Mustika, "nyong Air Bangis" yang bekerja di pabrik bengkel kepunyaan negeri "sakura" di Jakarta. Tak sampai satu menit, Kota Padang, Padang Pariaman dan sekitarnya tanggal 30 September 2009 yang lalu ................ luluh lantak. 7,6 Skala Richter memberikan kontribusi terhadap kematian memiriskan ratusan anak manusia dan ratusan lagi tertimbun tanpa tahu apakah bisa ditemukan. Sungguh banyak yang ingin saya ceritakan tentang "pengalaman empirik" langsung saya seketika gempa berlangsung. Waktu gempa sedang "berdangdut", saya persis berdiri di sebuah gedung Perguruan Tinggi Swasta 4 tingkat ................... dan pada hari ke-lima evakuasi, di gedung ini telah dikeluarkan 32 mayat. Saya merasakan langsung kepanikan seorang suami pada istrinya, kepanikan seorang ayah terhadap anak-anaknya dan air mata seorang dosen-pensyarah melihat kampus tercintanya "hampir tak berfungsi" karena gempa. Saya juga merasakan hilangnya rasionalitas anak manusia sesaat setelah gempa terjadi. Dan.... saya juga merasakan bagaimana "malunya saya sebagai orang Minang" dan "malunya saya pada teman-teman non-Islam". Saya ingin mencurahkan semua ini dalam 30 (tiga puluh tulisan) .................... dan akan saya posting dalam beberapa hari ke depan. Produktifitas saya belakangan ini hampir mennurun, maklum lampu baru 1 hari ini hidup di rumah saya, sementara di kantor-kampus tempat saya mengajar, hingga hari ini, lampu masih "pudua'.

Jumat, 11 September 2009

Surat dari Warga Negara Malaysia : "Mengapa Kita Harus Saling Membenci ?"

Apa kabar ? Saya Fazlee dari Malaysia. Saya rasa terpanggil untuk menulis kepada Saudara (maksudnya : jurnalis vivanews.com) sejak terbaca artikel saudara di sebuah laman web. Isu demonstrasi jalanan, pembakaran bendera Malaysia dan lain-lain sering terjadi apabila sesuatu isu berlaku. Di sini saya mempertikaikan media Indonesia yang sering membakar semangat memberontak dan tidak bersabar dalam menyelesaikan sesuatu isu. Sebelum ini, pernah terjadi isu-isu seperti di Ambalat dan wasit daripada Indonesia yang dipukul pihak Polis di Malaysia tentang isu pembantu rumah.

Harus diingat bahwa isu-isu ini bukan hanya berlaku di pihak Indonesia. Pihak kami juga pernah diperlakukan sedemikian. Di Malaysia terlalu ramai rakyat Indonesia mencari rezeki dan menyumbang tenaga mereka untuk memakmurkan Malaysia. Tetapi kebanjiran rakyat Indonesia juga mengundang kadar jenayah (baca: kriminalitas) yang tinggi seperti pembunuhan, rompakan malah pembantu rumah yang mencuri barangan majikan. Saya tidak katakan yang orang Malaysia tidak melakukan jenayah, kami juga mempunyai penjenayah yang ramai di sini. Tetapi kami tidak pernah membesarkan isu-isu ini. Bagi kami bukan negara penyebabnya, tetapi individu-individu yang pendek akal dalam menangani isu-isu tersebut. Jadi, saya rasakan yang rakyat Indonesia harus bertolak ansur dan mencari jalan penyelesaian secara damai, bukan dengan demonstrasi jalanan. Lagipun kita serumpun, kenapa perlu benci-membenci seperti begitu?

Sekian, terima kasih
Fazlee Rahman

(narasi dikutip dari www.vivanews.com/8 September 2009)

Minggu, 06 September 2009

Penjualan (Baca : Pencurian) Naskah Klasik Islam Melayu-Minangkabau

Oleh : Muhammad Ilham

Antropolog Levi Strauss mengatakan bahwa budaya tidak terbatas soal di mana letaknya. Namun, ketika, naskah-naskah kuno Islam (Melayu ataupun Minangkabau) dijual ke negara lain, khususnya ke Malaysia, persoalannya justru menciderai hakikat budaya itu sendiri. Penjualan naskah-naskah kuno Islam beberapa tahu belakangan ini, harus disikapi serius oleh pemerintah dan budayawan Indonesia. Hanya dalam hitungan lima tahun terakhir, sudah 60 naskah Melayu kuno Indonesia berpindah tangan ke Malaysia. Padahal naskah Melayu itu dibuat sekitar tahun 1800-an. Negara tetangga itu masih akan terus memburu dokumen cagar budaya Indonesia. Bagaimanapun naskah Melayu kuno itu menjadi kekeyaan tersendiri buat bangsa Indonesia. Pemerintah pusat dan daerah harus melindungi naskah-naskah dari jarahan orang luar. Caranya tentulah, pemerintah harus membeli dari masyarakat yang jika memang mereka memperjual belikannya. Terjadinya penjualan naskah ini ke Malaysia, tidak terlepas dari minimnya perhatian pemerintah Indonesia soal kebudayaan itu sendiri. Ini dapat dilihat, ketika pemerintah telah memisahkan kebudayaan dari pendidikan itu sendiri.

Naskah Melayu kuno itu akan menjadi barang berharga yang memiliki nilai sejarah tinggi. Naskah itu nantinya akan menjadi bahan penelitian dari seluruh akademisi dan budayawan dari belahan dunia. Maka, dengan adanya perburuan naskah kono Melayu itu, nantinya Malaysia akan menjadi pusat penelitian sastra Melayu satu-satunya di dunia. Malaysia, begitu ngotot dengan naskah melayu kuno itu karena mereka akan memperkuat identitas melayunya. Seperti slogan mereka Trully Asia, Malaysia bener-bener ingin mewujudkan negeri tersebut sebagai pusat melayu di dunia.

Seperti yang kita ketahui, lagu rasa sayange, reok, batik, kini dipatenkan menjadi karya anak bangsa Malaysia. Sebentar lagi, naskah Melayu kuno yang mereka beli dari Kepri, juga akan menjadi hak paten milik mereka. Lantas bangsa kita ini akan tetap menjadi penonton pada hasil karyanya sendiri yang sudah dimiliki bangsa lain. Naskah yang kini sudah berpindah tangan itu, antara lain, sejumlah syair, hikayat, catatan harian, Al Quran kuno yang semuanya bertuliskan tangan pada abad 19 lalu. Para pemburu naskah Melayu ini dilakukan warga Malaysia baik dari mahasiswa maupun para akedemisi. Mereka membeli dari masyarakat di Pulau Lingga, Bintan, dan Pulau Penyengat di Kepri, dan beberapa kasus yang terjadi di Sumatera Barat. Kini 60 naskah Melayu itu dengan mudah dijumpai di Pustaka Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Malaka serta museum pemerintah Malaysia. Naskah bertuliskan melayu arab itu, bakal menjadi dokomen sejarah soal akar sastra Melayu di dunia.

Rindu Dendam Indonesia - Malaysia : "Suatu Malam disaat Menjual Durian" (Bagian 4 dari 4 Tulisan)

Oleh : Muhammad Ilham

Malam Minggu, sekitar bulan Agustus 2005. Saya diajak oleh Bpk. Zainal bin Khaidir (penjual buah di Hulu Langat yang berasal dari Pesisir Selatan) berniaga buah di "pasar malam" dekat Taman Alam Jaya Cheras, Selangor. Sebelumnya, pada pagi hari (tepatnya : dinihari), saya bersama Bpk. Zainal membeli durian ke Jelebu (Jelebu ini pernah disinggung oleh Mochtar Naim dalam karya masterpiece-nya "Merantau" sebagai salah satu perkampongan komunitas perantau Minangkabau di Malaysia. Di Jelebu ini pula, ada ulama terkenal Malaysia kelahiran Padang - Almh. Syekh Ahmad Jelebu). Siangnya, setelah durian dibeli di daerah Jelebu dan sekitarnya, saya dan Bpk. Zainal membersihkan dan mengatur tempat buah-buahan di van selain durian seperti lengkeng, cempedak rimba, rambutan dan lain-lain. Siap 'Ashar, kami mandi. Setelah sholat dan makan, van dihidupkan ........... selanjutnya, saya dan Bpk. Zainal menuju Pasar Malam di dekat Taman Alam Jaya Cheras. Pasar Malam dekat Taman Alam Jaya Cheras cup ramai. Maklum, malam minggu. Taman (kalau di Indonesia : Perumahan atau Komplek Perumahan), merupakan Taman yang cukup bonafid. Di samping Taman ini, ada 5 - 6 buah Flat yang dihuni oleh orang Malaysia keturunan Cina, India dan pekerja dari berbagai negara seperti Indonesia, Banglades dan Myanmar. Karena jumlah Flat yang cukup banyak dan dekat pula dengan Komplek Perumahan, maka "pasar malam"-nya selalu hidup dan ramai. Bpk. Zainal sering berniaga buah-buahan di daerah ini.

Malam itu, setelah barang dagangan digelar, lampu dihidupkan (dengan menggunakan genset), kehidupan dan kompetisi untuk "survival in the fittest" dalam dunia niaga, mulai menggeliat. Bpk. Zainal dan saya kemudian secara bergantian pergi ke surau dekat pasar malam, Sholat Maghrib. Ketika Bpk. Zainal pergi sholat, saya berusaha menyibukkan diri untuk "belajar" menjadi peniaga ulung. Ketika sedang asyik-asyiknya "in-action", datang peniaga buah orang Malaysia keturunan Cina. Ia menggelar dagangan buahnya, persis tepat disamping kami mengelar dagangan. Saya berusaha tersenyum seadanya. Si Cina Malaysia ini, hanya diam ..... "tak ramah tampaknya", guman saya. Lampu neon-nya jauh lebih terang dari kami. Buahnya-pun jauh lebih banyak dari buah-buahan yang kami koleksi. Saya terus melongo melihat gayanya yang terkesan "over-acting" di depan saya. Beberapa saat kemudian, Si Cina Malaysia ini mengeluarkan "alat pengeras" suara dan mulai "tesszzzzzzzzzzzting" : "alo...alo.....alo, bapak, encik, puan, mali kemali, ini ada dulian bagus, dulian ai o ai (maksudnya durian jenis 101 : sering dibaca ai o ai), kena pilih, bagus-bagus". Saya diam dan sedikit menggerutu karena "kalah frekuensi" dari Si Cina Malaysia ini. Melihat saya diam, Si Cina Malaysia ini makin semangat mempromisikan dagangannya : "dulian saya ini jauh lebih bagus dalipada dulian-dulian mana-mana saja". Waaah, ia nampaknya mulai menyindir kami, karena memang waktu itu yang menjual durian di pasar malam itu, selain Si Cina Malaysia ini, yaa kami. Bpk. Zainal datang, selanjutnya menyuruh saya untuk gantian sholat Maghrib. Sebelum saya pergi ke surau, dalam bahasa Minang, saya ceritakan "introduction of provocative" yang dilakukan oleh peniaga Cina Malaysia tadi. Bpk. Zainal hanya berujar, "pergi saja sholat dulu, ini persoalan kecil". Selanjutnya saya pergi ke Surau di samping Taman Alam Jaya. Surau-nya kecil, tapi sangat bersih dan harum. Setelah selesai Sholat Maghrib, saya buru-buru menuju "markas jual beli" kami. Tak sabar rasanya ingin melihat perang kata-kata antara Bpk. Zainal dengan Si Cina Malaysia berlangsung. Ketika saya sampai di tempat dagangan buah-buahan kami digelar, saya melihat sudah banyak "pasien" Bpk. Zainal dan Si Cina Malaysia ini .......... saling menawar duran dan buah-buahan lain. Si Cina Malaysia dengan mikropon dan lampu yang lebih terang, Bpk. Zainal dengan "air ludah" tanpa mikropon. Saling sindir-pun mulai berlangsung.

Si Cina Malaysia : bapak-bapak, encik-encik, puan-puan, lebih baik kita beli dulian olang Malaysia. Duitnya untuk olang Malaysia. Kalau kita beli buah-buahan olang Malaysia, belalti kita memperkaya olang Malaysia.

Bpk. Zainal : (tak menanggapi ...... terus melayani pembeli tanpa bersuara)

Si Cina Malaysia : Jom (maksudnya : Ayo) mali beli buah-buahan saya, olang Malaysia. Jangan beli buah-buahan olang lain. Meleka hanya cali duit di Malaysia, nanti dibawanya pulang ke negala meleka. Jom encik puan, belilah dulian ai o ai, dulian pahang dan dulian thailand. Bagus-bagus lha.

Bpk. Zainal : (tak menanggapi ...... terus melayani pembeli tanpa bersuara)

Si Cina Malaysia agak mulai kesal melihat lebih banyak orang membeli buah-buahan dengan Bpk. Zainal. Kebetulan, para pembeli tersebut mayoritas langganan Bpk. Zainal dan memang style Bpk. Zainal jauh lebih bersahabat dibandingkan si Cina Malaysia ini. Melihat hal ini, si Cina Malaysia tersebut, makin "panas"

Si Cina Malaysia
: mengapa kita halus beli pada olang lain. Belilah sama olang Malaysia. Olang lain itu tak punya duit, meleka miskin di negala meleka, kalena itulah meleka datang kengala kita, mau ambil duit kita.

(Bpk. Zainal mulai tak enak hati dan berguman pada saya, "ko ndak bana ilham, alah bakalabihan bana ma ............ caliak dek wang mak tahu bana sia si Zainal ko :Ini tidak benar Ilham, sudah berlebihan betul, lihatlah sama ilham bagaimana kualitas si Zainal ini). Bpk. Zainal kemudian berdiri sambil memegang buah durian, melihat si Cina Malaysia, dan mulai bicara .....

Bpk. Zainal : encik puan, saye ni bukan orang miskin. Saya dah dari kecik merantau. Kemaren saya niaga di Singapura, besok saya mungkin nak balik lagi ke Singapura. Niaga ini bukan untuk cari duit bagi saye. Ini hobby. Duit bagi saya tak kisah. Tanah saya di Indonesia luas. Memang saya suka merantau, tapi bukan untuk cari duit. Makan saya nasi Padang, minum saya teh telo, bukan roti canai dan teh tarik. Saya tak mungkin tipu encik puan dalam niaga ini, karena memang saya tak mau cari untung banyak sangat, saya niaga karena hobby".

Memakan Nasi Padang dan Minum Teh Telur dianggap sebagai refleksi "high-class" karena kualitas dan harganya yang cukup tinggi dan mahal, berbanding terbalik dengan Roti Canai dan Teh Tarik yang dianggap oleh orang Malaysia sebagai "makanan tradisional-popular dan familiar" di tenagh-tengah masyarakat. Disamping mudah dijumpai, harganyapun sangat murah -- setidaknya untuk ukuran orang Malaysia.

(Si Cina Malaysia diam ........... para pembeli mulai banyak transaksi dengan kami. Saya sampai kewalahan melayani mereka, sementara Bpk. Zainal terus dan terus menyerocos. Setiap Cina Malaysia bicara, Bpk. Zainal pasti bisa menangkisnya dengan telak. Akhirnya ........... Si Cina Malaysia ini menutup dagangannya malam itu, sambil menggerutu dalam bahasa yang tidak saya mengerti (mungkin bahasa mandarin), Si Cina Malaysia ini mengemas buah-buahan dagangannya satu persatu, mematikan mikropon dan genset, menghidupkan mesin van, dan selanjutnya ................ pergi dengan wajah yang tidak "bersahabat" ketika saya sapa kembali. Karena kompetitor sudah pergi, maka kemudian mudah ditebak : dagangan kami habis-ludes. Bpk. Zainal ketawa sambil berkata, "Awak lo nan kan di ukuanyo, kalo samo-samo manngaleh, manggaleh sajolah, indak kan digaduah-gaduah ndo, ko ndak, nenek moyang wak pulo nan kan diukuanya". (Saya pula yang ditantangnya - maksudnya ditantang peniaga Cina Malaysia tadi. Kalau sama-sama berniaga, kita sama-sama menjaga etika. Ini tidak, kampung halaman dan harga diri kita pula nan disebut-sebutnya).

Ketika kami mau pulang, timbul kekhawatiran pada diri saya. Ada ketakutan Si Cina Malaysia tadi akan datang kembali dengan membawa teman-temannya, "memberi pelajaran" pada kami. Perasaan ini lumrah, karena saya beranggapan bahwa Si Cina Malaysia pasti merasa bahwa ia adalah pribumi, sementara kami adalah pendatang. Si Cina Malaysia ini pasti merasa terhina karena dikalahkan oleh pendatang. Hal ini kemudian saya utarakan pada Bpk. Zainal. Sambil menaikkan genset ke van yang sudah kosong karena buahan-buahan sudah "abih-tandeh" dibeli konsumen, Bpk. Zainal berkata, "Ilham, ini Malaysia .... tak sama dengan Indonesia. Kalau kasus tadi terjadi di Indonesia, mungkin kita akan dipukul dan diusir, tidak boleh berniaga karena kita pendatang. Di Malaysia tak akan pernah terjadi. Inilah enaknya berniaga di Malaysia". Saya diam .......... dan memang, hari-hari berikutnya Si Cina Malaysia ini tidak datang dengan kawan-kawannya untuk menggertak kami. Justru, ia mencari lokasi lain, menyingkir karena mengakui kelebihan Bpk. Zainal sebagai presenter buah-buahan terbaik, setidaknya dibandingkan dengan dirinya.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya bertanya pada Bpk. Zainal, "Pak, betul niaga ini hobby bapak, kenapa tidak manfaatkan saja tanah yang luas dikampung daripada merantau ke Malaysia?". Bapak Zainal terbahak-bahak dan berkata, "terpaksa ilham, kerja nggak ada lagi, jadi terpaksa berniaga. Tanah di kampung lah habis, maka merantau inilah jalan terbaik". Padeeek !!!!!!

Jumat, 04 September 2009

Rindu Dendam Indonesia - Malaysia : "Lebih Baik Hujan Emas di Negeri Orang daripada Hujan Batu di Negeri Sendiri" (Bagian 3 dari 4 Tulisan)

Oleh : Muhammad Ilham

Ada pertanyaan yang terus bergelayut dalam benak saya : "Mengapa para TKI (baca : pahlawan devisa Indonesia), terkadang ditangkap karena faktor dokumen yang tidak lengkap, terkadang dihina, disakiti, diusir dan disabat (dirotan) ...... namun mereka tetap betah di Malaysia untuk "berimprovisasi hidup" dan ingin kembali lagi ke negeri Hang Tuah ini, bila dipulangkan ke Indonesia?". Diantara banyak faktor yang menyebababkan hal di atas terjadi, faktor EKONOMI merupakan faktor super-signifikan. Namun, ada faktor-faktor "kecil" yang justru membuat para TKI tersebut menjadi "at-home" di Malaysia. Untuk melihat faktor-faktor "kecil" tapi signifikan tersebut, saya akan bercerita tentang dua cerita ringan berdasarkan pengalaman emipirik saya yang pantas untuk diceritakan.

Cerita Pertama. Namanya Dasril, asal Pesisir Selatan. Saya lupa-lupa ingat (meminjam istilah KuburanBand), dimana kampung kecilnya di Pesisir Selatan. Tapi yang pasti, waktu pertama sekali saya mengenalnya, ia masih bujangan, dan ketika saya berinteraksi selama lebih kurang 2-3 bulan pada tahun 2005 pertengahan, ia berumur 28 tahun, kurang lebih. Berdomisili (dalam bahasa Malaysia : "bermastautin") di Hulu Langat, Selangor. Pekerjaannya di Malaysia, 3 jenis : menyadap getah, berniaga buah dan menjaga kebun orang Melayu. Ia masuk ke Malaysia sejak tahun 1999, mengikuti kakaknya yang telah memiliki IC Biru. Selama rentang 6 tahun tersebut (1999-2005), Dasril sudah dua kali masuk penjara, tertangkap karena "kosong" (istilah tidak memiliki dokumen), satu kali di sabat (dipukul dengan rotan ke arah daging pinggul bagian atas, dan biasanya setelah disabat tersebut, butuh 3 hari untuk tidur menelungkup) dan dua kali di usir. Ia pernah lari ke hutan, sendirian sambil menghuni satu kebun orang Melayu yang simpati padanya. Saya pernah dibawanya ke kebun (tepatnya : hutan belantara) tersebut, sungguh lengang dan mirip dengan suasana yang diceritakan Pramudya Ananta Toer tentang pulau Buru). Disinilah waktu dulu, Dasril hidup kayak "Rambo", makan buah-buahan dan sesekali dikirimkan beras oleh temannya orang Melayu yang simpati padanya. Temannya yang orang Melayu ini tidak begitu leluasa berkirim makanan pada Dasril karena takut ketahuan oleh Rela (semacam Tim Pol PP a-la Indonesia yang bertugas menswipping TKI Illegal). Apabila ketahuan, konsekuensinya jelas : masuk lokap @ penjara. Walaupun kondisi seperti ini, Dasril tetap bertahan dan tidak ingin pulang ke Indonesia. Ketika keluar kebijakan "pemutihan" pada awal pemerintahan PM Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, Dasril keluar dari "pertapaannya", dan kemudian memanfatkan momentum ini untuk menyelesaikan administrasi-dokumen. Ia kembali ke Indonesia, untuk beberapa bulan. Setelah itu, ia masuk kembali ke Malaysia. Atas jaminan kakak dan kawan melayu-nya, ia memperoleh visa untuk berniaga buah dan menyadap karet.

Ketika saya tanyakan, mengapa tekadnya begitu kuat untuk tetap bertahan di Malaysia, bahkan mau "bertapa" di hutan belantara dan pinggulnya masih terlihat jejak bekas sabat-rotan (dan, konon katanya kawannya, "burungnya" sulit untuk hidup dan berpotensi impoten, mungkin karena "hempasan kuat" rotan waktu disabat). Saya bahkan memberikan argumentasi-logis bahwa selama 6 tahun beliau berniaga dengan "onak duri kehidupannya", toh Ringgit-pun tak diperolehnya dalam jumlah banyak, bahkan mungkin ia merugi. Lebih baik pulang ke Indonesia, berniaga di Padang atau Pesisir Selatan atau di Jakarta atau dimana saja, mungkin uang banyak yang bisa dikumpulkannya. Dasril menjawab, "disamping lambaian ringgit yang luar biasa, ketenangan berniaga dan berusaha di Malaysia jauh lebih aman dibandingkan di Indonesia ....... asal dokumen lengkap. Dalam berniaga, di Malaysia, bila dokumen lengkap, kita tak punya musuh. Di sini tak ada "orang bagak", preman yang minta uang, harus melapor ke sana ke mari jelang berniaga dan seterusnya. Berniaga di kampung orang Cina atau orang India, berdekatan dengan mereka bahkan bersaing dengan mereka tidak akan membuat kita khawatir. Tidak akan ada kata-kata : "pergi......... kamu orang Indonesia, ini wilayah peniaga India atau Cina, tidak boleh berniaga di sini. Di Indonesia, saya jamin kata Dasril, saya yang orang Pesisir Selatan akan kesulitan berniaga di daerah orang Pariaman apatah lagi kalau tidak melapor pada "orang bagak". Ringgit ............ nanti akan bisa terkumpulkan. Namun, suasana batin yang tenang-lah yang ingin dicari Dasril. Ia telah belajar, dokumen sebagai bentuk penghormatan. Orang akan memberlakukannya dengan hormat, apabila dokumennya lengkap. Ketika dokumen telah "ditaklukkannya", Dasril mulai merasakan bagaimana "nikmatnya" berniaga di Malaysia...... ia tidak mengenal pungutan liar, orang bagak, preman, kecemburuan etnik (orang pribumi-pendatang) dan pencurian. Bahkan, ia pernah menghardik orang Melayu asli di perkampungan Melayu di Sungai Lui Hulu Langat karena menghina profesi dan negaranya. Orang Melayu ini minta maaf dan tak pernah lagi mendengar : "hei kamu orang Indon, tak boleh berniaga di Malaysia". Ini yang dianggapnya tidak akan pernah didapatkannya bila berniaga di Indonesia. Sekarang, saya tidak tahu dimana Dasril berada. Tapi dua tahun yang lalu, saya dapat kabar dari kawan-kawan perantau Pesisir Selatan di Selangor bahwa Dasril berada di Pahang. Ia nomaden, mengikuti ritme musim durian. Konon ...... ia telah punya istri, orang Bangladesh (biasanya orang Malaysia menyebut dengan istilah orang Bangla dan konon, menjelang nikah ia mengobati "burungnya" sama orang India), muslimah-cantik dan telah punya Van (mobil khas untuk berniaga buah). Alhamdulillah, ia telah mapan. Mungkin ia telah melupakan Indonesia. Ia tidak mau tahu dengan nasionalisme, Ambalat apalagi cerita melankolik Manohara. Ia lebih mau tahu dengan kepastian dan kehormatan kehidupannya. Dan untuk itu, mungkin ia merasa bahwa ia lebih bisa "hidup" dan hormat ketika ia hidup di Malaysia.

Cerita Kedua. Karena menghemat biaya dan agak sedikit "takut terbang", saya biasanya naik Feri ke Malaysia, dari Padang - Dumai - Malaka - Kuala Lumpur. Disamping biaya lebih murah, tapi meletihkan, menggunakan transportasi mobil dan feri tersebut justru memberikan pengetahuan-pencerahan bagi saya melihat secara empirik bagaimana orang diperlakukan dan memperlakukan seseorang. Tak luput dengan para TKI. Dalam setiap perjalanan dengan feri, pasti saya akan mencari TKI untuk sekedar ber-"curhat" dan belajar dari mereka. Dari bolak-baliknya saya Malaysia-Indonesia via Feri Dumai-Malaka, ada satu hal yang sangat membuat saya trenyuh. Umumnya, para TKI yang pulang dan pergi via Feri Dumai-Malaka ini, akan merasa deg-degan melewati imigrasi Indonesia (dalam hal ini imigrasi Dumai) dibandingkan dengan imigrasi (imigresen) Malaysia di Malaka. Simpulan dari percakapan saya dengan para TKI sewaktu berada di feri Dumai-Malaka tersebut, bahwa para TKI telah menstrukturkan sebuah "image" dan berlaku sebuah teori : "bila dokumen lengkap, maka imigresen di Malaka akan aman, walau ketika "masuk" maupun "keluar". Bila dokumen kita lengkap, apalagi ketika kita kembali dari Malaysia, maka kita belum tentu aman di imigrasi Dumai".

Indonesia ........................... mungkin cerita diatas bisa memberikan kita pencerahan. Nasionalisme sejati itu adalah sebuah ideologi yang diejawantahkan oleh negara untuk mampu memberikan kepastian "kehidupan" bagi warganya. Kalau tidak, nasionalisme itu ibarat "candu" seperti yang dikatakan oleh Jacquess Derrida (mungkin ia meniru tipologi Marx : "Agama adalah Candu") - meninabobokkan karena ketidakmampuan mengatasi persoalan yang lebih substansial.

Rindu Dendam Indonesia - Malaysia : "Kenalkan, Nama Saya Zainal bin Khaidir" (Bagian 2 dari 4 Tulisan)

Oleh : Muhammad Ilham

(Pernah dipublikasikan dalam Harian Umum HALUAN, 25 Januari 2005). Namanya Zainal bin Khaidir. Kira-kira berusia 50 tahun. Asal Bayang Pesisir Selatan. Mulai masuk secara legal ke Malaysia pada tahun 1983. Dua tahun sebelumnya, pak Zainal berjualan obat dengan ma ota di Singapura. Sekarang menetap secara permanen di Sungai Serai Hulu Langat Kajang. Radius 4 kilometer, mulai dari Suntex Batu 9 hingga Jelebu (Jelebu pernah disinggung oleh Mochtar Naim dalam bukunya Merantau sebagai daerah yang banyak didiami oleh migran Minangkabau tapi sekarang tidak ada lagi bahkan daerah ini identik dengan seorang politisi Malaysia yang memiliki darah Minangkabau, DR. Rais Yatim) yang mayoritas didiami etnis Cina totok Malaysia, pak Zainal cukup dikenal. Beliau bersama dengan anak-anaknya telah menjadi warga negara Malaysia penuh, sementara istrinya belum. Sehari-hari berprofesi sebagai penjual buah sehingga “Zainal si Penjual Buah” lebih dikenal dibandingkan dengan Zainal bin Khaidir. Untuk ukuran masyarakat Indonesia di Malaysia, kehidupan pak Zainal lumayan bagus. Satu buah van dan satu buah truk buah dimiliki serta satu kepastian hukum yang sekarang banyak diidam-idamkan para TKI yaitu pengakuan sebagai “Warga Negara Malaysia”.

Pengakuan sebagai WN Malaysia dengan sendirinya mengangkat strata masyarakat pendatang di Malaysia. Walaupun tidak ada konsensi sosial tersendiri, tetapi dalam realitas sosial masyarakat pendatang Indonesia di Malaysia terdapat empat kelas. Kelas paling tinggi adalah pendatang Indonesia yang telah diakui sebagai WN Malaysia. Umumnya mereka telah “masuk” ke Malaysia sebelum tahun 1980-an. Ketika seseorang telah diakui sebagai WN Malaysia, maka jaminan pendidikan dan jaminan sosial mereka terjamin. Disamping diberi kemudahan dalam berniaga dan memiliki hak-hak politik, anak-anak WN Malaysia asal Indonesia diberi kesempatan sama dengan komunitas Melayu, India dan Cina Malaysia di bidang pendidikan. Mulai dari Tadika (Taman Kanak-Kanak) hingga Perguruan Tinggi, biaya pendidikan mereka dipermudah oleh kerajaan dengan jalan memberikan pinjaman biaya pendidikan. Pinjaman ini dikembalikan dalam prosentase yang rendah dan dalam rentang waktu yang sangat panjang, ketika si anak telah mulai bekerja. Mereka umumnya bangga dengan status kewarganegaraan Malaysia mereka. Pada tingkatan anak-anak, Indonesia bagi mereka hanyalah cerita nenek moyang. Sedangkan bagi orang tua mereka Indonesia adalah “tetap tanah air mereka”. Bahkan menurut beberapa kajian departemen Sosiologi Universitas Kebangsaan Malaysia, latar belakang para pendatang Indonesia menjadi WN Malaysia lebih dikarenakan pertimbangan pragmatisme-ekonomi (walaupun untuk kasus Aceh lebih disebabkan karena faktor keamanan) sehingga tidaklah mengherankan apabila pemerintah Kerajaan Malaysia sekarang ini sangat “luar biasa” sulit memberikan status WN bagi para pendatang yang telah memenuhi syarat administrasi. Tajuk Koran Berita Malaysia bulan Desember 2005 yang lalu mengatakan bahwa persoalan terbesar Malaysia adalah bagaimana memupuk nasionalisme dan sense of belonging diantara tiga puak besar : Melayu, Cina dan India. Pemberian status WN bagi pendatang asing justru menambah problem tersendiri bagi pemupukan nasionalisme itu sendiri. Laporan dari kajian departemen Sosiologi UKM setidaknya menunjukkan kekhawatiran pemerintah kerajaan Malaysia tersebut.

Kelas kedua adalah para pendatang Indonesia yang memperoleh IC (identity card) Merah. IC atau KTP bagi kita di Indonesia, di Malaysia terdapat dua jenis yaitu IC Biru dan IC Merah. IC Biru merupakan kartu identitas khusus bagi mereka yang telah menjadi Warga Negara Malaysia. Pemegang IC Biru ini berhak mendapatkan kemudahan sosial, ekonomi dan politik. Sementara itu, pemegang IC Merah hanya diperbolehkan untuk menikmati kemudahan ekonomi seperti boleh bekerja dan berdagang, sedangkan untuk memiliki rumah melalui developer, meminjam uang di Bank dan memilih dalam Pemilihan Umum (Pilihan Raya dalam bahasa Malaysia) tidak diperbolehkan. Umumnya, pendatang Indonesia yang memiliki IC Merah ini cukup banyak. Mereka datang ke Malaysia selepas tahun-tahun 1980-an. Biasanya pemegang IC Merah masih menganggap diri mereka sebagai Warga Negara Indonesia. Keinginan untuk memiliki status WN Malaysia umumnya hanya mereka harapkan pada anak-anak mereka yang lahir dan besar di Malaysia. Pemberian IC Merah ini merupakan alternatif bagi pemerintah kerajaan Malaysia bagi mereka yang telah memenuhi syarat untuk menjadi WN Malaysia. Teman-teman saya di Malaysia sering mengistilahkan pemegang IC Merah sebagai “warga negara antara”. Sama halnya dengan pemegang IC Biru, pemegang IC Merah relatif tenang dalam menjalani kehidupan mereka di Malaysia.

Sedangkan kelas ketiga adalah para pendatang yang memegang izin tinggal atau Permit. Umumnya mereka ini adalah para pekerja kontrak dan pembantu rumah tangga. Setiap tahun mereka memperbaharui izin tinggal mereka dengan membayar uang sesuai dengan "level" kerja mereka. Istri pak Zainal bin Khaidir misalnya, setiap tahun harus membayar RM. 3000 (tiga ribu ringgit Malaysia). Kalikan saja dengan Rp. 2.500,-/ringgit.

Rindu Dendam Indonesia - Malaysia : Nasionalisme dari Makmal Komputer (Bagian 1 dari 4 Tulisan)

Oleh : Muhammad Ilham

Saya masih ingat, ketika itu tahun 2005 pertengahan. Ketika itu, hubungan Indonesia-Malaysia sedang memanas. Dan ketika itu, isu Ambalat menempati rating tertinggi dalam pemberitaan media massa Indonesia. Waktu itu saya sedang “hinggap” dan “singgah” untuk berkontemplasi ilmu (Post Graduate) disebuah Perguruan Tinggi di Malaysia, yang menurut saya merupakan Perguruan Tinggi “ramah” lagi “intelek” – Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Waktu itu, saya masih ingat, jam 09.00 pagi, lebih kurang. Seperti biasa, sebelum saya masuk kelas Bahasa Melayu, saya masih menyempatkan diri untuk masuk ke Makmal Komputer – untuk sekedar browsing atawa chatting. Dari Senen hingga Juma’t, hal ini biasa saya lakukan, bahkan sering. Untuk tahun 2005, memanfaatkan sarana computer + internet dengan gratis (dalam bahasa Malaysia, baca : percuma), adalah sesuatu yang langka bagi saya dan “kami” pelajar Indonesia kala itu. Internet di Indonesia, walaupun itu di kampus, untuk tahun 2005 masih membayar 2.000 – 3.000/jam. Karena itulah, pada jam-jam perkuliahan, Makmal Komputer Universiti Kebangsaan Malaysia tersebut banyak “dihinggapi” oleh pelajar/graduan Indonesia – dan ada beberapa orang graduan Malaysia dan negara lain. Tapi tetap, graduan Indonesia menjadi “pemakai percuma” terbanyak. Logis, graduan Indonesia banyak yang kere-kere, apalagi saya. Karena itu pulalah, saya selalu berangkat pagi-pagi dari tempat tinggal saya di Batu 13,5 Sungai Serai Hulu Langat Selangor – sebuah kampong yang mayoritas dihuni oleh orang Minangkabau, terutama yang berasal dari Pesisir Selatan. Sebuah kampong yang “identik” dengan peniaga buah dan ice cream. Mereka akan menjual buah, terutama durian, ketika sedang musim. Dinihari mereka akan pergi ke Pahang ataupun Jelebu untuk membeli buah durian dari kebun tekong Cina atau Tok Melayu. Sorenya mereka akan menyebar ke Pasar-Pasar Malam di berbagai Flat di sekitar Selangor ataupun Kuala Lumpur. Apabila musim buah sudah mulai berakhir, maka mereka akan beralih menjadi peniaga ice cream.

Naik bus ke Batu 9 Suntex, sambung lagi ke Bandar Kajang, terus naik lagi bus ke Bandar Baru Bangi UKM dengan sopirnya mayoritas orang India. Asyik melihat mereka. Saya masih ingat, nama seorang supir Bus orang ke Bandar Baru Bangi ini ....... orang India Malaysia bernama Thiagaraj A/L Subramaniam. Saya awalnya heran, apa maksud : "A/L". Hampir satu minggu saya menerka-nerka. Akhirnya, saya bisa memecahkan misteri Antonim "A/L" tersebut dari informasi seorang penambal sepatu di sudut Kedai Satay Kajang ..... A/L kataya kependekan dari "Anak Laki-Laki". Ohhhhh ..... berarti Thiagaraj BIN Subramaniam. Thiagaraj selalu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika saya ajak ia bicara dalam perjalanan dari Bandar Kajang ke Bandar Baru Bangi. Setiap ia menggeleng-gelengkan kepalanya, saya teringat Aamir Khan dan Shah Rukh Khan ... itu lho, aktor Bollywood yang selalu menggeleng-gelengkan kepalanya bila bicara. Sayang, Thiagaraj tak senasib dengan Aamir Khan dan Shah Rukh Khan, baik dari ekonomi apatah lagi dari sudut "tampang" muka. Tak ketemu. Biasanya ketika turun di Bandar Baru Bangi, saya akan sedikit berlari-lari menuju kampus UKM yang asri lagi bersih …… dengan tujuan Makmal Komputer + Internet yang bias dipakai secara “percuma” tersebut. Saya takut terlambat.

Kembali lagi ke cerita di atas, jam 09.00 pagi, lebih kurang. Saya masuk ke Makmal dengan sedikit kecewa. Rupanya, dua bilik (baca: ruangan) makmal computer tersebut sudah penuh diisi oleh “pemakai percuma”. Hampir 2/3 graduan Indonesia, selebihnya graduan Malaysia. Suasana saya lihat kala itu agak sedikit lain. Biasanya graduan Indonesia agak terkesan santai, namun kali ini saya menangkap ada “aura”panas pada mereka. Hampir semua graduan Indonesia serius membuka internet. Saya lihat, situs yang mereka buka hamper sama : detik dot com dan liputan enam dot com (hee..he… bertele-tele). Sementara graduan Malaysia …….. santai sambil sesekali bercerita dengan teman-teman di sebelah mereka. Saya hanya berdiri …………….. sambil sesekali berharap kiranya ada satu orang yang keluar dari Makmal tersebut, dan hal ini akan membuat penantian saya untuk menjadi “pemakai percuma” bias diakhiri. Tapi, hamper satu jam saya berdiri, tak satupun dari “pemakai percuma” ini mengakhiri “petualangan dunia maya” mereka. Sambil terus berdiri dan sedikit menggerutu, suasana Makmal kemudian dikejutkan dengan terikan salah seorang dari “pemakai percuma” tersebut, “Bila Malaysia memulai, Indonesia mengakhiri”…………… mari pertahankan Ambalat, mari perangi Malaysia”. Ada aura nasionalisme sedang bertumbuh dalam ruangan tersebut. Saya buru-buru menghampiri salah seorang teman dan berusaha untuk mencari “latar belakang” teriakan teman yang berteriak tadi. Rupanya ………….. detik dot com dan liputan enam dot com mengutip pernyataan dari Panglima TNI Jenderal (TNI) Endriartono Sutarto yang menyatakan siap perang dengan Malaysia demi mempertahankan Ambalat. Seketika saya-pun berujar ….. “haaaaaaaaaa padek, bagak, lanyau”, dengan rona wajah cerah-merah seperti wajah Hitler ketika marah pada Yahudi dalam pidato penuh emosional di Austwitz.

Namun, lambat laun akhirnya saya sadar bahwa saya berada di negara dimana kegeraman itu tertuju, saya dan teman-teman berada di ruangan yang sama dengan teman-teman dari negara dimana kegeraman tersebut dilandakan. Saya tengok ke teman-teman graduan Malaysia yang tidak begitu banyak di ruangan tersebut, saya pandangi wajah mereka …… hanya sekedar untuk melihat reaksi yang mereka berikan. Mereka tersenyum, tetap santai main internet sambil sesekali bercerita lepas dengan teman mereka tentang hal yang “tidak saya ketahui”, tapi bukan tentang “kami” apatah lagi tentang Ambalat. Sementara teman-teman saya, para “pemakai percuma” graduan Indonesia tersebut, terus berciloteh dengan hembusan kata-kata pembangkit nasionalisme. Ada sedikit rasa segan dan silau saya pada graduan Malaysia kala itu. Kami ini seperti Muhammad Hatta, Syahrir, Nazir Sutan Pamuntjak dkk. yang melawan dan menghembuskan nasionalisme-keIndonesiaan dari jantung penjajah – mereka berteriak dari Rotterdam, bukan dari Bandung atau Bengkulu a-la Sukarno.

Dari rasa segan, terus menuju rasa takut. Maklum, saya berada di negera dimana teman-teman saya sedang meluapkan kebencian mereka. Akhirnya saya ambil jalan pintas, saya mendekat dengan teman-teman graduan Malaysia – karena saya tak mampu meredamkan “gejolak” teman-teman graduan Indonesia kal itu. Saya ingin memberikan sebuah diskusi empatik dengan para graduan Malaysia di ruangan tersebut dan ingin meyakinkan kepada mereka bahwa “patologi” yang terjadi dalam ruangan Makmal itu hanyalah sekedar bentuk ekspresi spontan tanpa bermaksud menyakiti Negara Malaysia, apatah lagi menyinggung para graduan Malaysia yang ada bersama-sama dengan kami. Tanpa mereka minta, saya mulai memberikan argumentasi pada mereka. Mereka tersenyum, dan menjawab : “kami tak kisah dengan kes Ambalat, kami hanya yakin bahwa kes itu boleh diatasi dengan baik oleh pemimpin-pemimpin kami, sudah ada job dan kami tak mau masuk ke dalam kes itu, biarlah pihak kerajaan Malaysia dan kerajaan Indonesia yang menyelesaikannya”. Saya diam, tak bicara lagi. Saya berdiri, tak nak mencari posisi untuk duduk sebagai “pemakai percuma”, tapi saya berdiri untuk keluar dari Makmal dan terus keluar menuju kafetaria jelang Perpusatakaan Tun Sri Lanang.

Sambil duduk menikmati Teh Tarik dan sedikit nasi dengan sambal yang saya lupa namanya, saya berusaha kembali mencerna kata-kata teman-teman para graduan Malaysia di ruangan Makmal tadi. Ada sebuah kedewasaan tapi juga ada sebuah kepasrahan. Dewasa melihat persoalan bahwa masalah Ambalat tersebut merupakan “persoalan High Politic” – dan mereka ingin sampaikan pesan : sudah ada yang mengurusnya, kita doakan dan dukung saja. Dan nampaknya mereka sangat menghargai teman-teman saya “para pemakai percuma” yang terus menerus mengobarkan rasa sentiment Malaysia di rungan kepunyaan orang Malaysia di tempat yang benama Malaysia. Namun disisi lain, terlihat oleh saya bahwa para graduan Malaysia ini terlampau “mudah” memberikan urusan negara mereka hanya kepada para elit politik negara. Jawaban mereka bahkan terkesan terjadi dekonstruksi-nasionalisme (secara teoritik lebih lanjut lihat teori post-modernisme). Ada kesan apatis, acuh tak acuh, tidak mau tahu dan sedikit takut walaupun hanya untuk “sekedar berbicara tentang kasus yang sensitive" (BERSAMBUNG)

Sabtu, 22 Agustus 2009

Entah Mengapa Malaysia Bukan Dianggap "Saudara Serumpun"

Oleh : Muhammad Ilham

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya siap Pemilihan Presiden, saya bersama dengan beberapa orang teman-teman melakukan survey-semi kualitatif tentang “Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Pemilihan Presiden 8 Juli 2009”. Daerah yang saya ambil sample-nya adalah daerah di sepanjang pantai barat Pasaman Barat. Sebab daerah tersebut adalah daerah dengan rata-rat tingkat pendidikan masyarakat cukup rendah, namun tipikal masyarakat terbuka. Saya tak akan kemukakan analisis mendalam tentang hasil survey tersebut, yang pasti lebih dari 77 % masyarakat mengatakan Pemilihan Presiden barusan “jujur” dan “adil” dan menganggap persoalan DPT adalah sesuatu persoalan yang “tidak mereka pahami dan bukan sesuatu yang penting”. Dalam survey-semi kualitatif itu, “sambil lalu” saya juga menyelipkan satu pertanyaan di luar konteks yaitu pertanyaan dengan nada provokatif : “Negara mana yang saudara anggap sebagai lawan” – dengan metode pertanyaan stimulus tanpa memberikan pengetahuan tentang pertanyaan tersebut pada responden.

Dari 673 responden, didapatkan 3 negara yang dianggap mereka sebagai lawan, 2 negara pertama mudah saya cerna, namun negara yang ketiga cukup menyentakkan ranah rasionalitas saya. Negara Israel mayoritas (51 %) dianggap sebagai lawan. Ditempatkannya Negara Israel sebagai peringkat 1 negara yang dianggap sebagai lawan tersebut memiliki justifikasi metodologis dimana 100 % responden adalah muslim dan media massa (dalam hal TV) bukan lagi menjadi sesuatu yang langka. Pada umumnya, mereka kenal dengan negara Israel (baca: yahudi) sejak kecil .......... artinya, potensi ketidaksukaan tersebut sudah ada sejak mereka belum memiliki suatu alasan argumentatif mengapa mereka harus benci dengan negara "Dinding Ratapan" ini. Negara kedua yang dianggap sebagai lawan adalah Amerika Serikat (37 %) dengan mayoritas respondennya adalah kalangan yang respek dengan gerakan radikal Islam belakangan ini. Bagi mereka, Amerika Serikat adalah negara yang memiliki kontribusi besar terhadap degradasi moral dan kemunduran ummat Islam. Bahkan, ketidaksukaan dengan Amerika Serikat ini juga ada korelasi simetris dengan ketidaksukaan dengan Israel. Sementara itu, selebihnya (12 %) menganggap Malaysia sebagai negara yang harus diposisikan sebagai lawan Indonesia. Simpulan terakhir inilah yang cukup mengejutkan saya. Mayoritas yang menjawab Malaysia sebagai negara yang harus dianggap sebagai lawan tersebut adalah kalangan muda. Ketika stimulus pertanyaan dikembangkan lagi, penyebab kebencian mereka terhadap Malaysia terakumulasi pada 3 kata kunci : “TKI dengan devian Penyiksaan”, “Plagiat” dan “Ambalat”.

Saya belum sempat melakukan analisis lebih mendalam dan mensintesakannya dengan beberapa teori atau hasil penelitian terdahulu. Namun ini menjadi catatan penting bagi dua negara “serumpun” ini. Responden dari kalangan muda yang melihat bahwa Malaysia menjadi negara yang pantas dianggap sebagai “lawan”, cukup menyentakkan kita tentang potensi harapan terciptanya “hubungan ramah mesra” pada masa yang akan datang. Kalangan tua nampaknya tidak lagi ambil pusing dengan romantisisme “Ganyang” a-la Sukarno. Mereka justru lebih melihat Israel dan Amerika Serikat sebagai “lawan”, maklum usia yang tua justru secara psikologis-sosiologis, lebih memiliki kecenderungan untuk memberikan justifikasi yang bernuasakan teologis, "seakan-akan ketidaksukaan terhadap Israel-Yahudi tersebut telah memiliki legalitas-justifikasi teologi keagamaan". Beda dengan kalangan muda yang dekat dengan idiom nasionalisme. Ekspos media tentang plagiat-nya Malaysia seperti kasus “Rasa Sayange”, “Reog Ponorogo” maupun "Batik" dan seterusnya serta drama-melankolik Manohara maupun “penyiksaan TKI” membuat banyak kalangan muda – setidaknya berdasarkan survey tersebut – mengganggap Malaysia lebih berbahaya dibandingkan dengan Negara Yahudi sekalipun.

Saya pribadi justru mendapat kesan positif, dari proses interaksi saya dengan masyarakat Malaysia (terutama Melayu) ketika untuk beberapa waktu “berkontemplasi”, studi Post Graduate di UKM Malaysia. Secara sepintas saya memahami bahwa masyarakat Melayu Malaysia menganggap bahwa masyarakat Indonesia adalah saudara mereka. Tapi entah mengapa, para pemimpin negara Malaysia seakan-akan tidak menyadari atau setidaknya “sejalan” dengan masyarakat mereka (baca: Melayu) – berdasarkan pemahaman subjektif saya selama ini. Buktinya, setelah kasus Ambalat, Rasa Sayange-Reog Ponorogo-Batik dan drama melankolik Manohara serta penyiksaan TKI mulai mereda dan masyarakat Indonesia mulai secara “setapak demi setapak” menganggap Malaysia adalah “(memang) saudara serumpun”, klaim Tari Pendet oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Malaysia dalam brand-icon pariwisata Malaysia baru-baru (walaupun belakangan Embassy Malaysia di Jakarta mengatakan bahwa semua itu bukan kebijakan kerajaan, tapi lebih kepada improvisasi sebuah "Production House"), kembali mempertegas bahwa Malaysia seakan-akan tidak pernah berhenti “memprofokasi”. Apalagi, pembelian (tepatnya : pencurian) naskah-naskah klasik Islam Melayu Indonesia oleh praktisi-ilmuan ataupun "pedagang" Malaysia terus diekspos dalam media massa Indonesia. Keinginan untuk menjadikan Malaysia sebagai "Trully Asia" justru berpotensi mengorbankan "Trully Genetic". Beberapa malam yang lalu, saya menelepon salah seorang responden saya dan menanyakan sikap mereka terhadap kasus "Tari Pendet" yang diekspos besar-besaran oleh akhbar/media massa Indonesia belakangan ini ......... ia mengatakan, "negara Nordin M. Thop dan Dr. Azahari tersebut yang tidak mau serumpun dengan kita, negara Nordin M. Thop dan Dr. Azahari tersebut yang tidak pernah mau tahu dengan "gondoknya" kita ....... negara Nordin M. Thop dan Dr. Azahari tersebut dan seterusnya .... bla....bla. Reaksi saya ......... ketawa dan saya sudah bisa memprediksi jawaban apa yang akan saya dapatkan. Tapi ada satu yang membuat saya heran ..... sang responden tersebut jarang sekali menggunakan istilah negara/rakyat Malaysia (sebagaimana beberapa waktu lalu ketika saya wawancarai). Dalam percakapan telepon tersebut, ia nampaknya lebih suka menggunakan istilah "negara Nordin M. Thop dan Dr. Azahari tersebut". Semoga Allah SWT. memberikan yang terbaik bagi persaudaraan "Trully Genetic" ini.

Senin, 17 Agustus 2009

Naskah Islam Klasik di Minangkabau : Tantangan Epistimologik

Oleh : Muhammad Ilham

(Tulisan ini merupakan "bentuk lain" dari Proposal Penelitian yang ditawarkan pada Lektur Keagamaan Departemen Agama RI ...... masih mentah dan on-track)
Tradisi penulisan, penyalinan dan persebaran naskah-naskah keagamaan di dunia Melayu-Indonesia memiliki keterkaitan dan berkorelasi dengan proses Islamisasi yang terjadi (Uka Tjandrasasmita, 1999:201). Umumnya naskah-naskah tersebut ditulis untuk kepentingan transmisi pengetahuan keIslaman yang terjadi di pelbagai institusi keagamaan, seperti pesantren, surau, dayah, rangkang dan lain-lain (Hasan Muarrif Ambary, 1995: 166). Dalam kalangan masyarakat Minangkabau, tradisi penulisan dan persebaran naskah-naskah keagamaan ini dapat dipastikan dilakukan secara terus menerus (kontiniu), seiring dengan terus berlangsungnya perkembangan dan persebaran Islam. Mayoritas para ahli sejarah atau sejarawan sepakat bahwa Islam di wilayah nusantara, berkembang sejak awalnya dengan corak atau style tasauf (Azyumardi Azra, 1996; Hamka, 1983; Hasan Muarrif Ambary, 1995; Dennys Lombard, 1999), maka naskah-naskah keagamaan yang muncul-pun mayoritas memuat pembahasan-pembahasan mengenai tasauf, baik yang ditulis oleh para penganut tareqat Syattariyah maupun Naqsyabandiyah, dengan segala devian tareqatnya.

Seperti yang terjadi di wilayah lain di dunia Melayu-Indonesia, tradisi pernaskahan dikalangan masyarakat Minangkabau mengandung sebuah ”kearifan lokal” (local-wisdom) yang sedemikian kaya dan telah menarik perhatian banyak orang untuk melihat serta mengetahui nilai-nilai kebudayaan Minangkabau yang terkandung didalamnya (Oman Fathurrahman, 2000: 34). Kearifan lokal dalam hal ini tentu saja mencakup hal yang sangat luas, yang terkandung dalam naskah-naskah yang ditulis seperti tradisi keber-agama-an, keragaman pemahaman dan berbagai pilihan solusi dalam upaya pemecahan masalah-masalah kultural dan lain-lain, baik yang bersifat teks maupun konteksnya. Di daerah Minangkabau, baik dalam konteks kultural maupun geografis, tradisi penulisan dan kemudian persebaran naskah-naskah keagamaan ini dapat dipastikan terjadi secara terus menerus, seiring dengan terus berlangsungnya perkembangan dan persebaran ajaran Islam. Karena Islam sejak awalnya berkembang dengan corak atau pendekatan tasauf, maka naskah-naskah keagamaan yang muncul-pun mayoritas mengandung pembahasan tentang tasauf, baik yang diamalkan oleh penganut tareqat Syattariyah maupun Naqsyabandiyah. Uniknya, sebagaimana yang dikatakan oleh Zurniati (2005: 9-11), di Minangkabau perkembangan dan persebaran Islam yang bercorak tareqat ini terjadi secara sistematis melalui surau-surau.

Jadi tidaklah mengherankan apabila pembahasan mengenai sejarah Islam di Minangkabau, surau menempati posisi yang signifikan, termasuk didalamnya ketika membahas tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah Islam. Dalam bahasa Oman Fathurrahman (2000: 36), surau-surau di Minangkabau dapat dianggap sebagai ”skriptorium” naskah, tempat dimana aktifitas penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaan berlangsung. Hal ini justru menguntungkan dalam proses penyelidikan, karena pola persebaran naskah-naskah keagamaan melalui surau-surau di Minangkabau ini membuat keberadaan naskah-naskah tersebut mudah ditelusuri, karena mayoritas surau-surau tersebut hingga saat sekarang masih banyak dijumpai. Kendatipun kondisi dan fungsinya tidak seperti pada awal perkembangannya sebagai centre of excellence keilmuan Islam.

Berbeda dengan apa yang terjadi di wilayah lain di Indonesia, tradisi penulisan naskah-naskah keagamaan di Minangkabau ini tampaknya masih berlangsung hingga saat sekarang, walaupun dengan intensitas yang berbeda. Sejumlah naskah-naskah Syattariyah periode akhir abad ke-20 Masehi yang dijumpai, merupakan salah satu betapa tradisi tersebut masih terus berlangsung seiring dengan masih mengakar dan terus berkembangnya Islam tareqat, khususnya tareqat Syattariyah dan Naqsyabandiyah di Minangkabau ini.

Mempertimbangkan persebaran-persebaran tareqat-tareqat Syattariyah dan Naqsyabandiah di Minangkabau yang demikian intensif, serta memperhatikan fungsi naskah-naskah keagamaan sebagai media untuk mentransmisikan berbagai ajaran tareqat tersebut, dan juga berdasarkan kepada beberapa beberapa asumsi dasar dari para peneliti-peneliti terdahulu yang cukup intens mengkaji permasalahan naskah-naskah Islam Minangkabau, maka bisa diasumsikan bahwa naskah-naskah keagamaan (Islam) di Minangkabau ini terdapat dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk melakukan proses inventarisasi dan identifikasi naskah-naskah ini, bahkan bila memungkinkan, dilanjutkan dengan proses penelaahan akademik terhadap makna kontent teks dalam upaya pengayaan epistimologi keilmuan pernaskahan.

Dalam konteks Sumatera Barat, perkembangan dan persebaran Islam yang bercorak tareqat-tasauf ini secara sistematis melalui surau-surau. Tidaklah mengherankan kemudian, jika sejauh menyangkut telaah atas berbagai hal yang berkaitan dengan Islam periode awal di Sumatera Barat, peran surau sangatlah signifikan (Azyumardi Azra, 1988 dan 2003), termasuk ketika masuk dalam pembahasan tentang tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaannya. Pada dasarnya, pola persebaran naskah-naskah keagamaan melalui surau-surau di Sumatera Barat ini pada gilirannya sangat mempermudah upaya penelusuran keberadaan naskah-naskah tersebut, karena surau-surau itu sendiri hingga sekarang masih banyak dijumpai. Akan tetapi dalam kenyataannya, upaya untuk mengetahui keberadaan naskah-naskah keagamaan tersebut, apalagi membaca dan memahami secara akademik-epistimologis dan memanfaatkannya, seringkali menemui hambatan, baik naskah-naskahnya yang dikeramatkan hingga tidak boleh diakses oleh sembarang orang maupun karena naskah-naskah tersebut telah rusak dimakan oleh usia. Tentu saja, upaya identifikasi dan inventarisasi atas naskah-naskah tersebut telah pernah dilakukan, terutama naskah-naskah Islam Minangkabau yang berada di luar negeri, lebih khususnya lagi di Belanda. Sejumlah katalog yang pernah ditulis, kendati tidak semuanya dikhususkan pada naskah-naskah keagamaan Islam saja, melainkan juga naskah-naskah lainnya seperti sastra dan lain-lain. Naskah-naskah yang pernah diteliti seperti yang dilakukan oleh van Ronkel (1921) yang mencatat tidak kurang daripada 257 naskah dengan judul tersimpan di Perpustakaan Universiti Leiden (Chambert-Loir & Oman Fathurrahman, 1999: 173-176). Disamping itu, ada juga penelitian yang dilakukan oleh Teuku Iskandar (1999) yang juga mencantumkan kembali naskah-naskah Minangkabau yang pernah dicatat oleh van Ronkel diatas dengan beberapa tambahan koleksi baru.

Sementara itu, naskah-naskah yang ada di Minangkabau yang pernah diteliti oleh beberapa peneliti diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Ali Hj. Wan Mamat (1995) yang melakukan pendokumentasian naskah-naskah Melayu di Sumatera Selatan dan Jawa Barat yang juga menyebut beberapa naskah Melayu di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang. Sedangkan Wibisono dkk. (1989) menyelidiki tentang naskah-naskah keagamaan Islam Minangkabau di beberapa masjid dalam perspektif arkeologis. Disamping itu, beberapa orang peneliti daripada Fakulasi Adab IAIN Imam Bonjol Padang (Rusdi Ramli dkk., 1997) dan dari Universitas Andalas Padang (Muhammad Yusuf dkk., 2001) memberikan informasi tambahan keberadaan naskah-naskah keagamaan secara ”grand tour”, walaupun tidak semua naskah boleh teridentifikasi. Menurut Ramli dkk. serta Yusuf dkk., ada beberapa daerah di Minangkabau yang merupakan ”enclave” naskah-naskah Islam Minangkabau diantaranya Kampung Lubuk Gunung Gadut 50 Kota, Taram 50 Kota, Batipuh Padang Panjang, Bingkudu IV Angkat Canduang, Tiaka Payakumbuh, Kuranji Padang, Pariangan Batusangkar, Pauh IX Padang, dan Kurai XIII Bukittinggi. Umumnya naskah-naskah tersebut berada ditangan personal. Sedangkan surau-surau yang masih menyimpan naskah-naskah Islam Minangkabau tersebut diantaranya surau Bintungan Tinggi nan Sabaris Pariaman, surau Tigo Jorong nagari Kudu Gantiang Barat kec. V Koto Kampuang Dalam Pariaman, surau Tandikek Pariaman, surau Padang Japang kenagarian VII Koto Tagalo kec. Guguak 50 Kota, surau Balingka kec. IV Koto Agam serta surau Batang Kabuang dan Surau Paseban di Koto Tangah Padang.

Diasumsikan masih banyak lagi naskah-naskah yang bertebaran di berbagai daerah baik yang bersifat person maupun institusi-surau. Apalagi bila diperhatikan bahwa persebaran naskah-naskah tersebut baru fokus pada beberapa daerah saja seperti sekitar daerah Kabupaten 50 Kota/Payakumbuh, Padang Pariaman, Kota Padang, Batusangkar dan Tanah Datar. Sementara itu, daerah-daerah lain masih belum teridentifikasi naskah-naskah Islam Minangkabau ini.

Minggu, 16 Agustus 2009

Dirgahayu Indonesia-Ku : Optimisme dan Jembatan Emas

Oleh : Muhammad Ilham

17 Agustus 2009, 64 tahun Indonesia merdeka. Dalam rentang historis yang seharusnya membuat Indonesia harus matang, optimisme kita harus tetap ada dan terus dijaga. Bagaimanapun juga, Indonesia sudah mengarah pada kemantapan. Nilai kejujuran dan keterbukaan sudah mulai terlihat., walaupun terkadang ditingkahi oleh "akrobatik politik tingkat semu". Semua kita harus merasakan bahwa keindonesiaan adalah unsur dalam kepribadian yang mendukung dia dalam memecahkan masalah-masalah bangsa. Rasa keindonesiaan juga harus dirasakan sebagai sesuatu yang positif dan dibanggakan. Sehingga setiap orang Indonesia terdorong untuk memberi yang terbaik bagi bangsanya. Disanalah .... konteks optimisme tersebut diletakkan. Termasuk dalam hal ini adalah masyarakat kecil dan miskin. Rakyat kecil dan miskin ini, harus benar-benar merasakan bahwa negara tempat ia tinggal punya kebijakan yang mendukung kemajuannya. Kemiskinan seharusnya ditempatkan dalam kerangka tantangan berbangsa, bukan sebagai "sesuatu yang fungsional" - sebagaimana yang diyakini oleh mazhab fungsionalisme. Jika mereka tidak merasakan kebijakan pemerintah, yang tidak berpihak kepada mereka, tidak menempatkan kebijakan tersebut untuk mendekatkan mereka dengan ke-Indonesiaan-nya, mereka bisa punya masa depan yang tidak pasti dan kehilangan harapan untuk lebih sejahtera, ini justru berpotensi berbahaya. Motivasinya bisa menjadi kabur, dan bisa terbuka bagi ekstrimisme. Persoalan bangsa kini adalah ketegangan sosio-kultural, regionalisme, dan hubungan masyarakat-negara. Namun, mari tetap kita mulai dengan ras optimisme, mulai dari pencapaian yang telah dihasilkan selama ini kemudian perlihatkan sebuah idealisme dan tantangan yang akan dihadapi ke depan.

Idealisme bangsa, telah dirumuskan dengan sangat baik dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan empat hal. Pertama, keyakinan kemerdekaan adalah hak semua bangsa dan juga karena rahmat Allah. Kedua, ada pandangan kesejarahan: maka, sampailah perjuangan ke pintu gerbang kemerdekaan. Ketiga, penjelasan tujuan Indonesia merdeka, yaitu menjaga tanah dan bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjamin perdamaian dunia. Tahun 1920-an Bung Karno mengatakan dalam pidato ”Indonesia Menggugat”, kemerdekaan adalah jembatan emas. Maksudnya, ketika kita bebas menjalani kehidupan yang kita cita-citakan sesuai landasan ideologis kita sebagai bangsa. Waktu kita umumkan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, jembatan emas itu belum ada. Baru tekad yang kita miliki. Sekutu menyerang. Irian Barat kita kuasai. Dalam delapan tahun berikut, ada tonggak-tonggak jembatan yang jatuh. Demokrasi Terpimpin lewat Dekret Presiden 5 Juli 1959, Indonesia tidak lagi berkedaulatan rakyat. Tak ada pemilu. Bung Karno pegang semua, eksekutif, legislatif, kehakiman. Itu diperbaiki Orde Baru dengan memperjelas pembagian kekuasaan. Namun, ada tonggak yang kurang, yaitu menduduki Timor Timur. Padahal, kemerdekaan hak semua bangsa. Kemudian Reformasi 1998. Kita dapatkan kembali demokrasi. Kedaulatan rakyat kembali. Presiden Habibie berjasa dengan mengadakan Pemilu 1999 sebelum waktunya. Ia juga melakukan dua hal penting: kemerdekaan pers dan otonomi daerah. Jadi, praktis jembatan emas selesai setelah reformasi. Kemudian KH Abdurrahman Wahid menjadi orang pertama yang dipilih sebagai presiden sesuai UUD 1945 oleh MPR. Presiden SBY terpilih oleh pemilu langsung hasil amandemen UUD 1945. Ini terjadi ketika jembatan emas itu sudah dicat, dikasih lampu-lampu.

Menjaga tanah dan bangsa ini, meningkatkan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjamin perdamaian dunia. Tantangannya, apakah semua tujuan itu sudah tercapai? Soal mempertahankan tanah dan bangsa selalu kita lakukan. Dulu kita melawan musuh imperialis, sekarang banyak soal baru, seperti lingkungan, perubahan iklim, narkotika, penyakit seperti flu burung dan flu H1N1. Soal kesejahteraan, tak pernah habis. Itu bagian dinamika kehidupan masyarakat yang terus harus diupayakan tanpa henti. Masalah terberat, mencerdaskan kehidupan bangsa yang belum cerdas juga. Apakah saya cerdas sebagai bangsa ketika saya hidup mewah sementara tetangga mati kelaparan? Kesenjangan sosial itu memancing konflik. DIRGAHAYU INDONESIA ............. I LOVE YOU FULL !!

Senin, 03 Agustus 2009

Buat Emma Yohanna : Anggota DPD RI 2009-2014 Utusan Sumbar

Oleh : Muhammad Ilham
(Dosen-Peneliti IAIN Padang/Direktur Riset LPPBI IAIN Padang/Surveyor Cetro)

(Padang-Today.com dan Situs emmayohannacentre.com) Sejarawan Tsyoshi Kato dan Takashi Shiraishi, suatu waktu pernah mengatakan bahwa Minangkabau adalah "ranah dinamis" yang sudah sejak dahulu memberikan peluang bagi perempuan berkiprah di dunia "laki-laki" -- dunia politik. Bukalah lembaran sejarah, beberapa nama seperti Rasuna Said, Rahmah El-Yunusiyyah dan lain-lain, setidaknya mewakili sebuah zaman yang "ramah" terhadap perempuan di Minangkabau pada masa mereka. Institusi Amai Setia dan jumlah perempuan yang sekolah di Kweek School pada Era 20-an serta lahirnya Diniyyah Putri tahun 1921, kembali mempertegas, bahwa Minangkabau punya sejarah "keberpihakan terhadap perempuan". Dalam tataran ini, Emma Yohanna ........ setidaknya memiliki "track historis" untuk berkiprah ........ dan saya yakin, ia mampu.

Suatu ketika, anggota Fraksi Partai Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat, Angelina Sondakh "yang cantik itu", mengatakan bila kaum perempuan memilih jalan politik, maka harus mampu memainkan peran yang strategis. Dengan begitu, posisinya dapat diperhitungkan lawan-lawannya. Formulanya sangat sederhana : Jika ingin terjun ke politik, harus kuat. Anggota Komisi X itu mengatakan di dunia politik tidak mengenal laki-laki dan perempuan. Itu sebabnya sikap kaum perempuan tidak boleh kalah tegas. Sebab, kata dia, bila mereka tidak menunjukkan ketegasan, posisinya dapat dimanfaatkan orang lain. “Jangan jadi tidak tegas, karena nanti gampang dikibuli,”. Menurut artis itu, terjun ke dunia politik tidak boleh setengah-setengah. “Karena akan dikerjain abis-abisan lawan-lawannya,” kata Angelina "istri Adjie Massaid" yang bermarga Sondakh ini.

Bagaimana karir wanita dalam politik ? Memperbincangkan karir wanita sebagai pemimpin dalam kiprah politik, terlebih lagi di bumi Indonesia, memang masih pendek umurnya. Kita hanya mengenal tokoh macam Cut Nyak Dien, Kristina Martha Tiahahu pada jaman penjajahan. SK Trimurti, Supeni, Maria Ulfah Subadio pada era kemerdekaan. Megawati, Aisyah Amini, Khofifah Indrawati, pada era Orde Baru sampai sekarang. Sementara itu masih banyak lagi tokoh wanita yang terjun atau melibatkan dirinya dalam dunia swasta dan bahkan lembaga swadaya masyarakat. Di dunia Barat yang kehidupan demokrasinya lebih panjang ketimbang di Indonesia, kiprah karir wanita sebagai seorang pemimpin yang kapabel dalam dunia politik juga belum terlalu lama. Di Amerika Serikat, 144 tahun setelah merdeka, hak pilih wanita baru diakui dalam Amandemen Kesembilan Belas. Sementara di Inggris hak wanita baru dipenuhi tahun 1928. Tahun 1917, Jeanette Rankin merupakan wanita pertama yang menjadi Anggota Konggres di Amerika.

Presiden Ronald Reagen tahun 1981 mengangkat Sandra Day O’Connor sebagai Hakim Agung berjenis kelamin wanita. Pada masa itu Ronald Reagen juga menunjuk Jeanne Kirkpatrick, wanita pertama sebagai staf penasihat kebijakan luar negeri. Sementara Presiden Bill Clinton juga menunjuk beberapa wanita untuk menduduki jabatan penting. Janet Reno merupakan wanita pertama sebagai Jaksa Agung. Sedangkan Madeleine Albright adalah wanita pertama yang memangku jabatan Menteri Luar Negeri. Sementara data tahun 1988 menunjukkan, diseluruh dunia hanya ada 14,8% kursi parlemen yang diwakili oleh wanita. Sedang data tahun 1995 kursi parlemen yang diduduki wanita melorot menjadi 11,3%. Negara Swedia merupakan negara dengan komposisi parlemen berjenis kelamin wanita sebesar 40,4 % atau tertinggi di dunia.. Di Indonesia sendiri, wanita yang menduduki kursi DPR selalu tidak lebih dari 2% dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya. Hal ini menandakan bahwa hanya sedikit sekali wanita Indonesia yang mempunyai pengembangan karir di bidang politik. Walaupun secara prosentase jumlah wanita jauh dibanding dengan jumlah laki-laki di kursi parlemen, tidak berarti wanita lantas kehilangan hak untuk menjadi pemimpin. Cory Aquino, Benazir Butto, Margareth Teacher, merupakan wanita-wanita hebat yang menjadi pemimpin pemerintahan di negaranya walaupun parlemen negara mereka mayoritas dikuasai kaum laki-laki.

............... Mario Teguh, dalam setiap Ending "Mario Teguh : Golden Ways" selalu berkata : "realitas seperti ini, kemampuan seperti itu ..... lakukan, selanjutnya perhatikan hasilnya". Realitas historis, kapabilitas dan kualitas Emma sangat mumpuni, kita yakin, ia akan mampu". Selamat (berjuang dan "berjibaku").

Sabtu, 01 Agustus 2009

Bom Bunuh Diri dalam Pemahaman Fakta Sosial

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam tradisi agama-agama besar dunia, kematian bukanlah akhir daripada perjalanan hidup seseorang. Hukum kehancuran hanya berlaku pada wujud yang berstruktur secara materi. Karena roh bukanlah materi, maka ia tidak akan terkena pada hukum kehancuran. Konsep dan keyakinan hidup setelah mati ini mendapat tempat yang kokoh dalam tradisi agama-agama besar dunia. Mati bukanlah sebuah terminasi, tetapi garis transisi untuk memulai hidup baru di alam yang baru. Oleh karena itu, mereka yang ketika masih hidup menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah gerbang yang membawanya memasuki kehidupan baru yang jauh lebih indah dengan kebahagian sejati. Itulah yang diyakinkan pada para calon pengebom bunuh diri. Lewat sebuah indoktrinasi, kata Emille Durkheim, mereka diyakinkan bahwa taman Firdaus terhampar setelah mereka mengorbankan diri mereka demi orang lain. Atau dalam bahasa lain, sorga terhampar luas dibalik detonator sehingga kematian akan terasa tidak lebih dari sekedar cubitan.

Beragam komentar dan pendapat dilontarkan oleh berbagai kalangan untuk menelaah fenomena (sosiologis) ini. Dari beragam pendapat tersebut, tidak didapatkan satu kesimpulan tunggal mengenai penyebab terjadinya fenomena bom bunuh diri ini. Beberapa pertanyaan yang mengedepan antara lain : Mengapa "mereka" mau mengorbankan diri mereka? Nilai-nilai apa yang mereka perjuangkan? Mengapa melibatkan banyak pemuda? Mengapa melibatkan mayoritas orang-orang yang anti-sosial? Mengapa melibatkan Islam garis keras ? Mengapa fenomena ini kemudian merembet ke kawasan yang tidak memiliki akar kultural seperti di Indonesia? Dalam konteks ini, jiwa martyrdom (lebih kurang berarti : kesyahidan) ini menurut John Hamling dalam bukunya The Mind of Suicide terdapat paling kurang ada delapan hal yang mendorong seseorang berani dan mau berkorban, bahkan mengorbankan hidupnya sendiri tanpa mengindahkan nilai-nilai humanis dan luhur agama dan "pakem" rasional yang terdapat dalam tata peradaban ummat manusia modern yaitu :

Pertama, Hopeless atau Kehilangan Harapan. Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh USA Today terhadap anak-anak Palestina menjelaskan bahwa mereka merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan. Mereka merasa hidup mereka tidak berarti lagi. Karena itu tidak ada pilihan lain lagi kecuali melawan dengan berbagai cara. Demikian juga halnya dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Peter O'Gonnor White terhadap komunitas Tamil di Sri Langka. Sri Langka, sebuah negara yang secara genetik dekat dengan Hindustan, akan tetapi mayoritas beragama Budha. Etnis terbesar yang terdapat di negara ini adalah etnis Sinhala (mayoritas) dan Tamil. Etnis terakhir ini merupakan etnis minoritas yang beragama Hindu, dan berada dibawah bayang-bayang diskriminasi sosial politik yang dilakukan oleh etnis Sinhala. Berbagai usaha dilakukan etnis Tamil agar mereka bisa berpisah dari Sri Langka. Akan tetapi, usaha melalui jalur diplomasi dan kerusuhan-kerusuhan sporadis tidak membuahkan hasil. Akibatnya, mereka merasa kehilangan harapan. Maka jalan satu-satunya adalah mentradisikan bom bunuh diri secara simultan dengan harapan timbulnya ekses psikologis dan perhatian dunia.

Begitu juga dengan statement yang pernah diungkapkan oleh ulama muda syiah kharismatis Irak, Moqtada al-Shadr, yang mengatakan bahwa tindakan martyrdom yang dilakukan oleh kelompok perlawanan Irak terhadap Amerika Serikat di Irak bukanlah kesia-siaan, akan tetapi merupakan "jalan yang benar". Demikian juga halnya dengan apa yang dilakukan oleh MNLF di Filiphina ataupun pola diaspora terror (konsep ini bertendensi negatif) yang dilakukan oleh Osama bin Laden. Keputusasaan terhadap ketidakberhasilan membebaskan Arab Saudi dan Timur Tengah dari Amerika Serikat, membuat Osama bin Laden "meluaskan" wilayah operasinya.Sama halnya dengan beberapa pejuang dalam sejarah setiap bangsa di dunia ini, Ia akhirnya merantau, keluar dari "relung sucinya" atau negaranya demi satu tujuan yang makro. Mungkin ini juga yang dilakukan oleh Azhari cs. dan Hambali cs. dan Nordin M. Thop cs. Kedua, demi orang yang dicintainya orang rela melepaskan hidupnya. Pengorbanan memiliki nilai evolusioner riil manakala orang tua menyelamatkan anaknya karena penyelamatan anaknya akan menjamin kelangsungan hidupnya. Memang orang tua melindungi dan mendidik serta membesarkan anaknya tampa pamrih. Akan tetapi bagaimanapun juga, anak bagi orang tua adalah investasi, baik investasi kelangsungan genetik, ekonomi maupun kedamaian dihari tua. Secara sosiologis, cinta terbesar adalah cinta terhadap agama dan ideologi yang sering dipersonifikasikan dengan konsep fanatisme. Kecintaan terhadap agama mengalahkan kecintaan terhadap yang lain karena agama memiliki daya tarik luar biasa dengan justifikasi normatif religiusnya.

Ketiga, Faktor Kepahlawan. Sosiolog Emille Durkheim mengatakan bahwa dalam kasus-kasus yang lebih altruistik, pelaku bunuh diri (baca : pengebom bunuh diri) menyimpulkan bahwa kehidupan mereka yang selamat lebih bernilai dibandingkan dengan kehidupannya sendiri atau bahkan kelangsungan hidup mereka bisa terjamin bila ada yang meninggal. Tipe seperti ini biasa terjadi dalam peran ketika seseorang mengobankan dirinya sendiri dengan harapan bahwa kawan-kawannya akan selamat. Banyak peristiwa-peristiwa tragis kepahlawanan yang pada akhirnya peristiwa itu memberikan inspirasi tentang kepahlawanan (terlepas dari salah atau benarnya). Prosesi "Minum Racun"nya Socrates karena keteguhan akan memegang prinsip justru memberikan inspirasi besar terhadap perjalanan filsafat pemikiran dunia setelahnya. Begitu juga dengan sang ana al haq al Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Mishio Torugawa, seorang petinggi militer Jepang pada masa Perang Dunia II, sebelum melakukan harakiri (bunuh diri bercirikan kultural a-la Jepang) mengatakan bahwa kematiannya merupakan "tumbal" untuk kejayaan Jepang pada masa yang akan datang. Demikian juga yang terlihat dalam peristiwa Puputan yang dilakukan oleh I Gusti Ngurah Rai di Bali dan kematian Robert Walter Monginsidi. Di Filiphina, hal ini bisa terlihat dari Jose Rizal. Kemudian juga terlihat dari apa yang diungkapkan oleh "Singa Padang Pasir" dari Libya Omar Mochtar sebelum menuju tiang gantungan yang dipersiapkan oleh penjajah Italia : "kematianku bukanlah sebuah kekakalahan dan ketakutanku. Kematianku merupakan sebuah inspirasi terhadap perubahan yang lebih besar pada masa yang akan datang".

Keempat adalah Faktor Kebanggaan Individual-Komunal. Standar kultural dan kepercayaan mungkin membawa seseorang untuk siap melepaskan hidupnya untuk menunjukkan keberanian atau menunjukkan dirinya berarti. Hasil dari tindakan ini adalah terjaminnya keberlangsungan hidup anggota keluarganya. Mereka dapat hidup dengan kebanggaan dan harapan. Faktor budaya sangat memegang peranan yang signifikan dalam melahirkan anggapan ini. Bagi kultur masyarakat Jepang klasik dan Palestina hingga saat sekarang, jiwa altruisme dengan bentuk tindakan bom bunuh diri (dengan embel-embel demi negara dan agama tentunya) justru meninggalkan kebanggaan individual-komunal. Eskapisme merupakan faktor yang kelima. Eskapisme, menurut kajian psikoanalisis, adalah keadaan memasuki alam khayal/hiburan untuk melupakan atau menghindari kenyataan-kenyataan yang tidak menggembirakan. Terkadang kematian dilihat sebagai pilihan terbaik dan terakhir yang amat menyedihkan ataupun kemalangan yang baik. Misalnya, untuk menghindari diri agar tidak ditangkap musuh untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi seperti penyiksaan dan penghinaan, maka diambillah pilihan terakhir untuk melakukan bom bunuh diri. Dalam konteks ini, mungkin tidak begitu banyak pelaku bom bunuh diri melakukan tindakan bom bunuh diri karena faktor ini. Tapi kasus DR. Azhari yang kemana-mana selalu membawa bom dalam rompinya bisa dipahami. Sebelumnya, DR. Azahari telah dianggap sebagai Target Operasi Terdepan Pemerintah Indonesia (Bukan lagi Polisi, tapi sudah Pemerintah dan Negara Indonesia). Mungkin menyadari hal ini, daripada ditangkap hidup-hidup -- dan hal ini hampir dilakukan oleh Polisi Indonesia, tapi karena pertimbangan bahwa DR. Azahari diasumsikan membawa bom dalam rompinya sedangkan pada waktu penggerebekan pertama DR. Azahari berada ditengah-tengah masyarakat dan dikhawatirkan banyak korban yang akan tewas apabila DR. Azahari meledakkan dirinya -- DR. Azahari lebih merasa "aman" memakai rompi yang terdapat di dalamnya bom.

Keenam adalah psychotic atau kegilaan, dimana ada yang beranggapan bahwa bunuh diri merupakan tindakan terakhir dari episode psychotic (kegilaan) yang merupakan bagian dari ritual supernatural, karena kematian tidak dapat dielakkan atau karena kematian merupakan sesuatu yang sementara sifatnya. Mungkin faktor ini tidak begitu jelas dan pas dalam memahami perilaku terorisme bom bunuh diri. Pada umumnya, hal ini bisa dilihat dari beberapa fenomena aliran-aliran "sempalan" dari sebuah agama yang mapan seperti fenomena David Koresh di Amerika Serikat dan beberapa peristiwa tragis lainnya yang berakhir dengan ritual bunuh diri para pengikutnya. Dalam kasus Islam di Asia Tenggara, peristiwa dalam skala yang lebih rendah bisa terlihat dari kasus Madi di Sulawesi, Lia Eden di pulau Jawa dan beberapa kelompok (sempalan) lainnya baru-baru ini. Fanatisme juga menjadi faktor paling signifikan. Fanatisme merupakan sistem kepercayaan yang kaku, keras atau berpandangan sempit, meunrut para penganutnya untuk mengorbankan diri. Beberapa pernyataan yang dipaparkan diawal tulisan diatas terlihat bagaimana mereka memahami ajaran Islam secara sempit dan parsial. Mereka menganggap pemahaman merekalah yang benar, sehingga tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif pernah mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah orang-orang yang hanya berani mati, akan tetapi tidak berani hidup. Mereka hanya memahami ajaran Islam secara parsial dan menafsirkan ajaran tersebut sesuai dengan kepentingan dan misi ideologi mereka sendiri. Sayangnya, demikian kata Maarif, pelaku bom bunuh diri tersebut mayoritas adalah mereka yang memiliki pendidikan yang rendah dan tingkat ekonomi yang tidak begitu mapan, sehingga mereka mudah direcoki dengan pemahaman-pemahaman yang salah dan pada akhirnya menimbulkan rasa fanatisme yang tinggi dan anggapan bahwa apa yang mereka lakukan tersebut merupakan sesuatu yang benar dan sesuatu yang harus dilakukan.

Penelitian yang dilakukan oleh Robert N. Bellah di Jepang tentang ajaran Tokugawa memperkuat hal ini. Keberhasilan mencapai tujuan dan menjaga martabat Kaisar Jepang merupakan sebuah doktrin "genealogik" secara kultural bahkan diterima secara taken for granted. Hal inilah yang membuat masyarakat Jepang klasik sangat fanatik terhadap pemahaman dua hal diatas : Keberhasilan dalam mencapai tujuan dan Menjaga martabat tahta Seruni. Apabila mereka merasa gagal, maka jalan yang terbaik adalah bunuh diri. Bedanya antara fanatisme pertama dengan yang kedua adalah kalau yang pertama merupakan pemahaman parsial bukan kultural dan memiliki implikasi terhadap orang yang tidak bersalah. Sedangkan yang kedua merupakan pemahaman kultural yang hanya memiliki implikasi individual.

Pengorbanan diri sebagai suatu tindakan kesyahidan religius munculdari suatu kepercayaan terhadap hidup setelah mati atau berdasarkan atas kepercayaan bahwa kematian memberikan suatu kesempatan untuk lahir kemabli di bumi dengan status yang lebih tinggi (ini bisa dipahami ketika kita melihat kasus Devi Saravati diatas). Dengan demikian, maka kematian bukanlah dianggap sebagai sebuah kesia-siaan, tetapi dipandang sebagai kelahiran kembali untuk memulai hidup yang lebih baik dan baru. Dalam konteks ini, sedikit banyaknya motivasi pelaku bom bunuh diri adalah merupakan pelarian dari suasana dan "kompetisi hidup" yang tidak ramah pada mereka dan jalan terbaik agar mereka mencapai ketenangan dan kematian mereka tidak sia-sia adalah dengan jalan tragis ini.

Fenomena terorisme dan bom bunuh diri tersebut merupakan suatu fakta sosial dan bukanlah fenomena individual. Untuk mengantisipasinya, maka harus dicari penyebab yang juga merupakan fakta sosial. Dalam konteks ini, berbagai fenomena terorisme dan bom bunuh diri terjadi karena adanya pemahaman norma-norma religius yang destruktif, perilaku tidak adil dalam realitas sosial dan lain-lain yang bersifat diskriminasi struktural. Oleh karena itu, perlu para "pemegang otoritas" agama (Islam) untuk kembali memikirkan pola dakwah, pendidikan dan pendekatan terhadap transformasi ajaran Islam tersebut kepada ummat Islam itu sendiri, terutama pemahaman-humanis tentang beberapa konsep yang selama ini “menggairahkan” seperti “Jihad”. Pertanyaan logis yang mengedepan di benak kita harus dengan jujur untuk kita jawab yaitu: Mengapa ummat Islam memiliki potensi besar melakukan tindakan teror ? Mengapa para pelaku teroris dan Bom Bunuh Diri di Indonesia tersebut adalah orang-orang yang dekat dengan pondok pesantren?

Ahmad Syafi’ie Ma’arief berpendapat bahwa untuk kedepan kurikulum dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya ummat Islam Indonesia, harus menekankan pendekatan yang humanis, hubungan dengan Tuhan juga berkorelasi erat dengan hubungan dengan manusia serta penekanan terhadap ajaran bahwa manusia yang Islami dan disayang oleh Allah SWT. adalah manusia yang menjaga peradaban dan ciptaan Allah. Disamping itu, diskriminasi dan ketimpangan sosial harus sedikit demi sedikit diperbaiki. Keadilan harus ditegakkan, tanpa pandang bulu. Rasa persaudaraan antar ummat beragama perlu dikembangkan dan dianggap perlu, bukan dilestarikan. Sementara itu, Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa terorisme dan perilaku bom bunuh diri bukan budaya masyarakat Indonesia. Namun bila dilihat secara historis, budaya kekerasan ada dalam setiap budaya di Indonesia yang kadang-kadang dijustifikasi oleh ajaran agama (Islam). Kasus Perang Aceh dengan Hikayat Perang Sabil yang termaktub dalam analisis antropologisnya (terdapat dalam buku yang diterbitkan INIS : Nasehat-Nasehat Snouck Hourgronje Jilid I - IX) Snouck Hourgronje memperkuat hal ini. Oleh karena itu, untuk kedepan, disamping menekankan pendekatan humanis terhadap ajaran Islam, kita juga harus menekankan jiwa humanis budaya-budaya di Indonesia. Karena bagaimanapun juga, seperti dalam setiap agama di dunia ini, setiap budaya lahir untuk menjaga dan mengembangkan peradaban ummat manusia. Butuh momentum tersendiri untuk memberikan pesan kepada pemegang otoritas politik Indonesia bahwa kebijakan-kebijakan yang menyudutkan ummat Islam hanya akan melahirkan ummat Islam yang radikal. Wallau 'Alam bi Shawab.

Jumat, 17 Juli 2009

Jakarta "Meledak" Lagi

Narasi : Muhammad Ilham
Foto : Posted www.kombes.com

"Jakarta meledak lagi", demikian penggalan nyanyian Kaka "Slank" yang menjadi musik pengiring Breaking News Metro TV. J.W. Marriot dan Ritz Carlton pun menjadi pusat perhatian dunia. Jum'at, pukul 06.46 dan 06.48 menjadi waktu "keramat" yang membuat Indonesia kembali kehilangan kepercayaan dunia. Terorisme Thopian (pengikut Noordin M. Thop), menjadi kesimpulan awal dan terkuat dalam menyimpulkan subjek pelaku dibalik peristiwa ini. Walaupun pernyataan Presiden SBY dan kemudian diperkuat oleh "ompung" Syamsir Siregar (Kepala Badan Intelijen Negara) yang tidak menunjuk kelompok tertentu (baik agama ataupun partai politik), namun nuansa "Islam garis keras" sebagai subjek pelaku sudah menjadi opini yang terbentuk, mulai dari pendapat para pengamat yang "samar-samar" maupun diskusi "kelas" kedai kopi di pelosok negeri. Genderang perang dengan mantra "persumpahan SBY" hari Jum'at lalu, nampaknya memberikan kepada kita sebuah kenyataan bahwa peristiwa tersebut sungguh sangat menyakitkan bagi kita. Proses membangun kepercayaan internasional akhirnya terkesan hampa-tak bermakna.