Minggu, 16 September 2012

Ketika Satu Menjadi Terpecah, (Alamat) Mudah Dihinakan Orang

Oleh : Muhammad Ilham 

Setidaknya sejarah (telah) mencatat dengan baik, bagaimana pertentangan internal jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan tantangan dari "luar". Sejarawan-sosiolog Islam periode awal - Ibnu Khaldun - dalam buku monumentalnya, Muqaddimah, pernah mensinyalir hal ini, dimana kelemahan sebuah komunitas disebabkan oleh konflik internal yang selalu membuat integrasi/ soliditas kelompok itu menjadi melemah. Pada saat itulah, "out-siders" akan memporak-porandakan dan menghancurkan kelompok itu. Menghinakan dan merendahkan martabat mereka. Pertentangan kelompok Syi'ah dan Sunni, tercatat dalam sejarah Islam sebagai pertentangan yang (ditakdirkan) begitu abadi. Syi'ah dan Sunni yang merupakan saudara se-iman, justru saling "menjelekkan" dan merendahkan satu sama lain. Karena itu pulalah, "outsiders" Islam menjadi lebih leluasa untuk menghinakan kita. Semoga persaudaraan sesama muslim lebih terekat dengan baik dan abadi.


Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinedjad (Representasi Syi'ah) dan Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abd al-Aziz (Representasi Sunni). Semoga apa yang diungkapkan Wikileaks yang "menggemparkan" itu : "Raja Arab Saudi Abdullah bin Abd al-Aziz mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran dengan tujuan menghancurkan program nuklir negara itu", tidak benar adanya.

Bergetar & marah-bergejolak, ketika Baginda Nan Mulia Muhammad SAW. putra tersayang Siti Aminah, diperhinakan orang, (namun) teringat pula dengan penggal lagu Maher Zain : 


Marah untuk Rasulullah
Tetapi dengan etiket dan budi pekerti Rasulullah SAW. 

Sumber Foto : tribunnews.com

Tan Malaka : "Kepada Kalian Sahabat"

Ditulis Ulang : Muhammad Ilham

Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada Kemerdekaan yang kalian ciptakan. Aku merasa bahwa Kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku….. Harus aku katakan bahwa kita belum Merdeka, karena Merdeka haruslah 100 persen.  Hari ini aku masih melihat bahwa Kemerdekaan hanyalah milik kaum elit, yang mendadak bahagia menjadi borjuis, suka-cita menjadi ambtenaar….. Kemerdekaan hanyalah milik kalian, bukan milik rakyat. Kita mengalami perjalanan yang salah tentang arti merdeka, dan apabila kalian tidak segera memperbaikinya maka sampai kapanpun bangsa ini tidak akan pernah Merdeka! Hanya para pemimpinnya yang akan mengalami Kemerdekaan, karena hanya mereka Adil Makmur itu dirasakan. Dengarlah Perlawananku ini….. Karena apabila kalian tetap bersikap seperti ini, maka inilah hari terakhir aku datang sebagai seorang sahabat dan saudara. Esok, adalah hari dimana aku akan menjelma menjadi musuh kalian, karena aku akan tetap berjuang untuk Merdeka 100 persen.” -Tan Malaka-

(c) kaum murba Indonesia

Kamis, 13 September 2012

Pelurusan Sejarah tahun 1965


Buku mengenai “Pelurusan Sejarah tahun 1965” dengan berbagai kesimpulan yang diusungnya. Merupakan kesaksian catatan harian Rosihan Anwar “in the mood of diaries at the crucial moment” yang ditulis dengan objektif dan tekun selama 5 tahun (1961-1965), yang menggambarkan prolog permainan segitiga kekuasaan yang semu antara Sukarno - Tentara dan PKI sebelum negeri ini terhempas ke dalam Prahara Besar. Bagi generasi muda bangsa yang waktu itu bau lahir dan generasi sesudahnya yang tidak tahu banyak tentang sejarah dan “aroma semangat zaman waktu itu”, buku ini dipersembahkan.



Rekomendasi : Buku ini sangat layak untuk dibaca (bukan dijadikan koleksi)

Minggu, 09 September 2012

Islam Ramah, (Bukan) Islam Marah



Al-'Arifuna hum alladzina yahmiluna al-aqlam wa yaktubuna al-hikmata bil midad adzdzahabi. 
Wal juhala- hum alladzina yahmiluna assuyufa wa yasfikuna biha addima' 
(Imam Sibawaih el-Hasany) 

Orang arif senantiasa membawa pena yang menggoreskan tinta hikmah. 
Orang bodoh senantiasa membawa pedang untuk menumpahkan darah.


Referensi teks : Majalah Ulumul Qur'an Edisi Juni 2012 : 16

Potensi Bom Bunuh Diri (yang) Tak Pernah Padam

Oleh : Muhammad Ilham

" ..... bukan membunuh teroris-nya, tapi menghabisi terorisme !
(Muhammad Ilham Fadli facebook) 

Fakta sosial harus dijelaskan dengan fakta sosial lainnya
(Emille Durkheim)

M Thorik, perakit bom di Tambora, menyerahkan diri ke Pos Polisi Jembatan Lima, Jakarta Barat, semalam. Diketahui, bom pipa yang dirakit Thorik ditujukan untuk aksi bom bunuh diri yang dijadwalkan hari ini. "Dari hasil pemeriksaan sementara, bom bunuh diri itu untuk dilakukan aksi teror hari ini," kata Karopenmas Polri, Brigjen Pol. Boy Rafli Amar, di Jakarta, Senin (10/9/2012). Aksi bom bunuh diri itu ditujukan empat lokasi, yaitu di Markas Komando Korps Brimob di Kelapa Dua, Depok, Pos Polisi Salemba, Kantor Densus 88/Antiteror, dan Komunitas Budha di Jakarta. Menurut Boy, target terakhir yang masuk dalam rencana aksi Thorik itu dinilai karena Thorik merasa ada ketidakadilan terhadap aksi kekerasan yang dialami umat muslim di Rohingnya, Myanmar. "Terkait isu Rohingya Myanmar, yang menurut yang bersangkutan membuat ketidakadilan," ujar Boy.

Reportase detik.com (10-09-2012) diatas, kembali membuat ranah rasionalitas terkejut, seorang calon human bomber (biasanya disebut : "pengantin") yang menyerahkan diri ke Kepolisian. "Rindu pada anak dan istri yang membuat saya menyerahkan diri", kata M. Thorik, si calon "pengantin" yang gagal tersebut. Seandainya tidak terjadi ledakan yang mendahului rencana, kemungkinan besar, M.Thorik akan menunaikan tugasnya sebagai "pengantin" pada hari ini, 10 September 2012. Mengapa potensi human bombers (pakai "s") tak kunjung padam ? Dalam tradisi agama-agama besar dunia, kematian bukanlah akhir daripada perjalanan hidup seseorang. Hukum kehancuran hanya berlaku pada wujud yang berstruktur secara materi. Karena roh bukanlah materi, maka ia tidak akan terkena pada hukum kehancuran. Konsep dan keyakinan hidup setelah mati ini mendapat tempat yang kokoh dalam tradisi agama-agama besar dunia. Mati bukanlah sebuah terminasi, tetapi garis transisi untuk memulai hidup baru di alam yang baru. Oleh karena itu, mereka yang ketika masih hidup menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah gerbang yang membawanya memasuki kehidupan baru yang jauh lebih indah dengan kebahagian sejati. Itulah yang diyakinkan pada para calon pengebom bunuh diri. Lewat sebuah indoktrinasi, kata Emille Durkheim, mereka diyakinkan bahwa taman Firdaus terhampar setelah mereka mengorbankan diri mereka demi orang lain. Atau dalam bahasa lain, sorga terhampar luas dibalik detonator sehingga kematian akan terasa tidak lebih dari sekedar cubitan. 

Dalam konteks sosiologis, terdapat beberapa faktor yang menjadi ashbabun fenomena human bombers tak pernah padam, diantaranya : 

Pertama, Hopeless atau Kehilangan Harapan. Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh USA Today terhadap anak-anak Palestina menjelaskan bahwa mereka merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan. Mereka merasa hidup mereka tidak berarti lagi. Karena itu tidak ada pilihan lain lagi kecuali melawan dengan berbagai cara. Demikian juga halnya dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Peter O'Gonnor White terhadap komunitas Tamil di Sri Langka. Sri Langka, sebuah negara yang secara genetik dekat dengan Hindustan, akan tetapi mayoritas beragama Budha. Etnis terbesar yang terdapat di negara ini adalah etnis Sinhala (mayoritas) dan Tamil. Etnis terakhir ini merupakan etnis minoritas yang beragama Hindu, dan berada dibawah bayang-bayang diskriminasi sosial politik yang dilakukan oleh etnis Sinhala. Berbagai usaha dilakukan etnis Tamil agar mereka bisa berpisah dari Sri Langka. Akan tetapi, usaha melalui jalur diplomasi dan kerusuhan-kerusuhan sporadis tidak membuahkan hasil. Akibatnya, mereka merasa kehilangan harapan. Maka jalan satu-satunya adalah mentradisikan bom bunuh diri secara simultan dengan harapan timbulnya ekses psikologis dan perhatian dunia.

Kedua, demi orang yang dicintainya orang rela melepaskan hidupnya. Pengorbanan memiliki nilai evolusioner riil manakala orang tua menyelamatkan anaknya karena penyelamatan anaknya akan menjamin kelangsungan hidupnya. Memang orang tua melindungi dan mendidik serta membesarkan anaknya tampa pamrih. Akan tetapi bagaimanapun juga, anak bagi orang tua adalah investasi, baik investasi kelangsungan genetik, ekonomi maupun kedamaian dihari tua. Secara sosiologis, cinta terbesar adalah cinta terhadap agama dan ideologi yang sering dipersonifikasikan dengan konsep fanatisme. Kecintaan terhadap agama mengalahkan kecintaan terhadap yang lain karena agama memiliki daya tarik luar biasa dengan justifikasi normatif religiusnya. Ketiga, Faktor Kepahlawan. Sosiolog Emille Durkheim mengatakan bahwa dalam kasus-kasus yang lebih altruistik, pelaku bunuh diri (baca : pengebom bunuh diri) menyimpulkan bahwa kehidupan mereka yang selamat lebih bernilai dibandingkan dengan kehidupannya sendiri atau bahkan kelangsungan hidup mereka bisa terjamin bila ada yang meninggal. Tipe seperti ini biasa terjadi dalam peran ketika seseorang mengobankan dirinya sendiri dengan harapan bahwa kawan-kawannya akan selamat. Banyak peristiwa-peristiwa tragis kepahlawanan yang pada akhirnya peristiwa itu memberikan inspirasi tentang kepahlawanan (terlepas dari salah atau benarnya). Prosesi "Minum Racun"nya Socrates karena keteguhan akan memegang prinsip justru memberikan inspirasi besar terhadap perjalanan filsafat pemikiran dunia setelahnya. Begitu juga dengan sang ana al haq al Hallaj dan Syekh Siti Jenar.   Kematianku merupakan sebuah inspirasi terhadap perubahan yang lebih besar pada masa yang akan datang". 

Keempat adalah Faktor Kebanggaan Individual-Komunal. Standar kultural dan kepercayaan mungkin membawa seseorang untuk siap melepaskan hidupnya untuk menunjukkan keberanian atau menunjukkan dirinya berarti. Hasil dari tindakan ini adalah terjaminnya keberlangsungan hidup anggota keluarganya. Mereka dapat hidup dengan kebanggaan dan harapan. Faktor budaya sangat memegang peranan yang signifikan dalam melahirkan anggapan ini. Bagi kultur masyarakat Jepang klasik dan Palestina hingga saat sekarang, jiwa altruisme dengan bentuk tindakan bom bunuh diri (dengan embel-embel demi negara dan agama tentunya) justru meninggalkan kebanggaan individual-komunal. Eskapisme merupakan faktor yang kelima. Eskapisme, menurut kajian psikoanalisis, adalah keadaan memasuki alam khayal/hiburan untuk melupakan atau menghindari kenyataan-kenyataan yang tidak menggembirakan. Terkadang kematian dilihat sebagai pilihan terbaik dan terakhir yang amat menyedihkan ataupun kemalangan yang baik. Misalnya, untuk menghindari diri agar tidak ditangkap musuh untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi seperti penyiksaan dan penghinaan, maka diambillah pilihan terakhir untuk melakukan bom bunuh diri.  Keenam adalah psychotic atau kegilaan, dimana ada yang beranggapan bahwa bunuh diri merupakan tindakan terakhir dari episode psychotic (kegilaan) yang merupakan bagian dari ritual supernatural, karena kematian tidak dapat dielakkan atau karena kematian merupakan sesuatu yang sementara sifatnya. Mungkin faktor ini tidak begitu jelas dan pas dalam memahami perilaku terorisme bom bunuh diri. Pada umumnya, hal ini bisa dilihat dari beberapa fenomena aliran-aliran "sempalan" dari sebuah agama yang mapan.  Fanatisme juga menjadi faktor paling signifikan. Fanatisme merupakan sistem kepercayaan yang kaku, keras atau berpandangan sempit, meunrut para penganutnya untuk mengorbankan diri.

Beberapa pernyataan yang dipaparkan diawal tulisan diatas terlihat bagaimana mereka memahami ajaran Islam secara sempit dan parsial. Mereka menganggap pemahaman merekalah yang benar, sehingga tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif pernah mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah orang-orang yang hanya berani mati, akan tetapi tidak berani hidup. Mereka hanya memahami ajaran Islam secara parsial dan menafsirkan ajaran tersebut sesuai dengan kepentingan dan misi ideologi mereka sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Robert N. Bellah di Jepang tentang ajaran Tokugawa memperkuat hal ini. Keberhasilan mencapai tujuan dan menjaga martabat Kaisar Jepang merupakan sebuah doktrin "genealogik" secara kultural bahkan diterima secara taken for granted. Hal inilah yang membuat masyarakat Jepang klasik sangat fanatik terhadap pemahaman dua hal diatas : Keberhasilan dalam mencapai tujuan dan Menjaga martabat tahta Seruni. Apabila mereka merasa gagal, maka jalan yang terbaik adalah bunuh diri. Bedanya antara fanatisme pertama dengan yang kedua adalah kalau yang pertama merupakan pemahaman parsial bukan kultural dan memiliki implikasi terhadap orang yang tidak bersalah. Sedangkan yang kedua merupakan pemahaman kultural yang hanya memiliki implikasi individual. Pengorbanan diri sebagai suatu tindakan kesyahidan religius munculdari suatu kepercayaan terhadap hidup setelah mati atau berdasarkan atas kepercayaan bahwa kematian memberikan suatu kesempatan untuk lahir kemabli di bumi dengan status yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka kematian bukanlah dianggap sebagai sebuah kesia-siaan, tetapi dipandang sebagai kelahiran kembali untuk memulai hidup yang lebih baik dan baru. Dalam konteks ini, sedikit banyaknya motivasi pelaku bom bunuh diri adalah merupakan pelarian dari suasana dan "kompetisi hidup" yang tidak ramah pada mereka dan jalan terbaik agar mereka mencapai ketenangan dan kematian mereka tidak sia-sia adalah dengan jalan tragis ini.

Fenomena terorisme dan bom bunuh diri tersebut merupakan suatu fakta sosial dan bukanlah fenomena individual. Untuk mengantisipasinya, maka harus dicari penyebab yang juga merupakan fakta sosial. Dalam konteks ini, berbagai fenomena terorisme dan bom bunuh diri terjadi karena adanya pemahaman norma-norma religius yang destruktif, perilaku tidak adil dalam realitas sosial dan lain-lain yang bersifat diskriminasi struktural. Oleh karena itu, perlu para "pemegang otoritas" agama (Islam) untuk kembali memikirkan pola dakwah, pendidikan dan pendekatan terhadap transformasi ajaran Islam tersebut kepada ummat Islam itu sendiri, terutama pemahaman-humanis tentang beberapa konsep yang selama ini “menggairahkan” seperti “Jihad”. Pertanyaan logis yang mengedepan di benak kita harus dengan jujur untuk kita jawab yaitu: Mengapa ummat Islam memiliki potensi besar melakukan tindakan teror ? Mengapa para pelaku teroris dan Bom Bunuh Diri di Indonesia tersebut adalah orang-orang yang dekat dengan pondok pesantren dan seterusnya?

Ahmad Syafi’ie Ma’arief (2006) berpendapat bahwa untuk kedepan kurikulum dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya ummat Islam Indonesia, harus menekankan pendekatan yang humanis, hubungan dengan Tuhan juga berkorelasi erat dengan hubungan dengan manusia serta penekanan terhadap ajaran bahwa manusia yang Islami dan disayang oleh Allah SWT. adalah manusia yang menjaga peradaban dan ciptaan Allah. Disamping itu, diskriminasi dan ketimpangan sosial harus sedikit demi sedikit diperbaiki. Keadilan harus ditegakkan, tanpa pandang bulu. Rasa persaudaraan antar ummat beragama perlu dikembangkan dan dianggap perlu, bukan dilestarikan. Sementara itu, Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa terorisme dan perilaku bom bunuh diri bukan budaya masyarakat Indonesia. Namun bila dilihat secara historis, budaya kekerasan ada dalam setiap budaya di Indonesia yang kadang-kadang dijustifikasi oleh ajaran agama (Islam). Kasus Perang Aceh dengan Hikayat Perang Sabil yang termaktub dalam analisis antropologisnya (terdapat dalam buku yang diterbitkan INIS : Nasehat-Nasehat Snouck Hourgronje Jilid I - IX) Snouck Hourgronje memperkuat hal ini. Oleh karena itu, untuk kedepan, disamping menekankan pendekatan humanis terhadap ajaran Islam, kita juga harus menekankan jiwa humanis budaya-budaya di Indonesia. Karena bagaimanapun juga, seperti dalam setiap agama di dunia ini, setiap budaya lahir untuk menjaga dan mengembangkan peradaban ummat manusia. Butuh momentum tersendiri untuk memberikan pesan kepada pemegang otoritas politik Indonesia bahwa kebijakan-kebijakan yang menyudutkan ummat Islam hanya akan melahirkan ummat Islam yang radikal. Wallau 'Alam bi Shawab.

Catatan Si Ayah : "Ayah Meminta Bahu yang Kuat"


Sore tadi ....
si sulung, letih terjatuh dari sepeda.
pedih perih. tangispun ditahan.
ia ingin memberi contoh pada adiknya
si bungsu, letih bertengkar dengan teman sebayanya
ia sedang belajar berdiplomatika
memperlihatkan pada kakaknya bahwa ia bisa
malam ini, mereka berdua tidur .... mendengkur !!
(Sementara itu) Pagi tadi, 
untuk kesekian kalinya, si bungsu Malika Ilham, kala mengantar ia pergi sekolah, 
bertanya : "Ayah, bila ayah meninggal, siapa yang akan mengantar Adek sekolah?"

Diam, saya. Hanya tangan mengusap rambutnya !
mata beningnya memandang mata tua saya yang sabak

Ayah akan jaga sejauh yang dijatah Tuhan
Masa depan kalian panjang
Karena itu bahu ayah harus kuat
Filosof Karen Amstrong pernah bergumam :
 ............ "Jangan meminta beban yang ringan pada Tuhan. Mintalah bahu yang kuat !

Bila suatu masa nanti, 
kita ditakdirkan tidak pernah berjumpa karena memiliki balasan yang berbeda-beda, s
aya tetap merasa bahagia karena mempunyai takdir terindah, 
menjadi ayah kalian berdua !!.

Selamat bobok nak, tak ayah ganggu tidur kalian.
Kedip kecil kemuningku !!


Koleksi Imla W. Ilham


(c) Open Art

Selasa, 04 September 2012

Kesaksian Bapa Saija


Satu dari :
(W.S. Rendra @ Willibrodus SuRendra)




Namanya van LITH

Oleh : Muhammad Ilham 

"ilham, orang Islam wajib mendukung orang Islam untuk menjadi pemimpin. mengapa status anda, selalu membela Ahok ? Apakah anda pendukung Ahok ?" 
SMS seorang kawan, pagi tadi, dan saya jawab : "saya tak kena mengena dengan Ahok, saya tak dalam kapasitas suka dan tidak suka atau mengidolakan Ahok. harap diketahui, saya mengidolakan Jet Lee".

Untuk menjawab pertanyaan kawan saya di atas, saya postinglah satu artikel kecil, bagaimana sebuah Partai Islam dalam sejarah, justru mencalonkan Pastor yang bernama VAN LITH. Berikut :

Van Lith
van LITH, demikian nama akhir seorang pastor Belanda yang ditempatkan di Tanah Jajahan Hindia Belanda (baca: Indonesia), kurun waktu 1920-an hingga awal 1930-an. Walaupun "anak kandung" kolonial Belanda, ia anti dengan kebijakan Belanda yang kolonialis. Van Lith bersikap santun pada anak negeri. Walaupun ia ditugaskan menyebarkan ajaran Kristiani-Katholik ditengah-tengah penduduk pribumi yang mayoritas beragama Islam dan abangan, namun ia amat toleran dan menentang sikap menindas penjajah kolonial. Karena itulah, tercatat dalam sejarah kolonial Belanda di Hindia Belanda, Van Lith menandatangani dua nota minoritas yang menuntut perwakilan minoritas (dalam hal ini : perwakilan masyarakat Islam sebagai komunitas mayoritas) di dalam satu dewan. Dengan segala resiko, ia kemudian menentang peran mayoritas orang-orang Belanda yang minoritas tersebut di dalam volksraad (Dewan Rakyat) yang akan dibentuk.

Karena sikap Pastor yang mengedepankan nilai-nilai demokrasi-kemanusiaan tanpa disekat oleh ego primordialisme dan ideologi, ia kemudian amat sangat disegani. Hubungannya dengan tokoh-tokoh Islam kala itu juga baik. Dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam, ia memiliki hubungan sosial dan politik yang bagus dan saling menghargai. Ketika akan diadakan pemilihan untuk keanggotaan Volksraad - terjadi sebuah peristiwa sejarah yang cukup membuat kita merenung ..... Van Lith, seorang Pastor dan pemimpin Katholik justru dicalonkan oleh Partai Sarekat Islam. Peristiwa pencalonan pastor Van Lith ini menjadi anggota Volksraad oleh Partai Sarekat Islam Serang, dalam konteks interaksionisme-simbolik memiliki makna simbolis-historis yang amat penting. Tak terbayangkan oleh kita sekarang bahwa didalam situasi masyarakat tahun 1920-an, seorang Pastor dicalonkan untuk mewakili organisasi politik ummat Islam di sebuah lembaga politik yang memiliki posisi dan daya tawar strategis-penting di dalam sistem pemerintahan kolonial Belanda. Sejarah kemudian mencatat .... Van Lith lebih sering "menyuarakan" kepentingan masyarakat Islam dibandingkan ke-egoan-nya untuk menjalankan misi Pastoralnya dan misi nasionalisme-nya. Sebuah teladan dari orang yang bernama .... Van LITH.

Berikut diskusi yang penulis lakukan di facebook penulis dengan beberapa sahabat facebooker tentang topik berkenaan (beberapa bagian dipotong) :

Suryadi Sunuri : Menarik, Ilham, mohon izin share.


Dina Y. Sulaeman : Hmmm, menarik sekali. Saya sepakat bahwa pemimpin non-muslim yang nasionalis dan berintegritas tinggi lebih baik daripada muslim tapi koruptor, tapi saya masih belum bisa komen soal Ahok, hehe.. soalnya masih meraba-raba. Ada analisis lain soalnya Bang, soal siapa yang berkepentingan dengan naiknya Joko-Ahok (rivalitas militer, bukan isu agama : isu agama hanya diperalat).

Muhammad Ilham : Yup Dina ...... militer adalah variabel utama dalam analisis ini. Sama halnya dengan "naiknya" Muzakkir Manaf (kombatan GAM) ketika jadi petinggi Aceh dalam Pilkada Aceh beberapa waktu lalu.  Namun herannya, "jentera" agama teramat mau "ditunggangi". Tapi itulah, bak kata Harold Lasswell, "Who get what, how and when", politik butuh tunggangan.

Sudarto  : Mendukung Ahok tentu tidak bisa diartikan mendukung militer, saya secara personal masih anti dengan Prabowo.

Utje Felagona : Jika membaca sejarah van Lith, ada sedikit terang bagaimana H. Agus Salim bisa memahami adiknya Khalid menjadi nasrani, setelah sebelumnya mendekam di tanah merah. jika bisa memilih, lebih mendiang Prabowo dengan dampingan Fadli Zon plus mantan orang-orang "kiri" dibandingkan memilih ipar SBY di 2014. Apakah panser-panser baru hasil lonjakan hutang luar negeri yang baru dibeli itu mau dimanfaatin Prabowo? ......... tentu lebih akan dimanfaatkan oleh calon panglima berikutnya. Pelengkap bagi agenda neo-liberal salah satunya adalah penguatan angkatan bersenjata. tidak hanya dari segi anggaran yang kemudian membuat para serdadu jadi lembek nasionalisme-nya, melainkan juga pengamanan kebijakan.  Prabowo yang kabarnya mulai sakit-sakitan, bisa jadi "penyeimbang" di militer. Karena bagaimanapun para aktivis kiri, tengah maupun kanan, baik di partai atau ormas, belum bisa menjadi penyeimbang militer yang setiap hari olah raga dan latihan dengan ransum tercukupi. 

Kusasi  : Izin share Bang.. ini perlu disebarluaskan !!

Renaldi Sikumbang : Sebagai partai politik kalau Partai Serikat Islam mendukung seseorang (dalam hal ini van Lith) jelas karena pertimbangan politik tapi  sebagai individu Muslim,  Allah menyuruh kita untuk memilih/mendukung sesama muslim, sebagai muslim apakah ayat Alquran akan kita ingkari...  ??

Faisal Zaini Dahlan  : Hmmm...sesederhana itukah "mengkaji" nya ?

Adjie Syakel :  kenapa perlu kajian yang "rumit" kalau bisa "disederhanakan"..? siapapun yang membela kebenaran & menumpas kejahatan,  dialah yang pantas memimpin...  !

Aidia Rahmi : zaman sirambut pirang menjajah indonesia, bangsa indonesia jadi budak di negeri sendiri, disaat sawo matang memimpin negara lebih canggih lagi, jadi budak sampai keluar negeri, siapa tahu simata sipit bisa ekspor Esemka.

Dina Y. Sulaiman  : Maaf baru skrg sempat nyambung lagi. Yang saya tangkap, sepertinya perdebatan publik atas isu ini ada di bbrp wilayah yang berbeda: ada yang mefokuskan diri pada boleh/tdk non muslim jadi pemimpin; ada yang fokus pada dugaan adanya skema kristenisasi kalau seandainya Jokowi-Ahok menang (jadi pointnya: mereka berdua as person memang oke, tapi masalahnya, ada ‘bahaya’ besar di belakangnya), lalu ada yang fokus pada personal Jokowi-Ahok terlepas dari isu agama (apa dan siapa sbnrnya mrk, sekedar bidak dari kekuatan besar lainnya kah?).
Nah, di wilayah yg ketiga ini, kan ada analisis yang menyebutkan adanya rivalitas militer. Kubu Wiranto konon berseteru dg kubu Prabowo sejak lama. Karena kubu Wiranto mengkhawatirkan naiknya kubu Prabowo seiring dg naiknya Jokowi-Ahok, maka digunakanlah isu2 agama untuk menghalang2i keberhasilan pasangan ini. Kalau ditarik lagi ke atasnya, siapa yg berkepentingan dg Wiranto cs, siapa yg merasa perlu Prabowo cs naik?


Muhammad Ilham :  Dina, saya entah mengapa, tidak semuanya setuju bila ditarik pada RIVALITAS MILITER. Bila kita baca buku Harold Crouch (1999) ataupun Katherine Mc. Gregory (2000) dan sedikit analisis MT. Arifin (2004), Rivalitas militer nampaknya "mencuat" pada era Soeharto (Lumbertus Benny Mordani cs) dan (militer "hijau"). Ini kemudian, berlanjut di era Habibie dan terus Gus Dur. Namun, pada masa SBY, rivalitas sudah "terputus". Kekuatan "Wiranto" cs habis - setidaknya terlihat dari parameter yang jelas - Hanura. Sekarang yang mengedepan adalah pertimbangan figur, sebagaimana halnya SBY yang 2004 menjadi "rising-star", melululantakkan kekuatan Wiranto cs dan Prabowo cs di tubuh militer. Sekarang, kekuatan Prabowo dianggap "muncul", maka saya lebih setuju bila diletakkan dalam analisis figur an sich. Bila Prabowo dihadap-hadapkan dengan SBY (setidaknya demikian publish beberapa lembaga survey : dalam artian seandainya SBY dianggap, katakanlah demikian, mencalonkan diri jadi Presiden, walaupun itu tidak mungkin lagi), maka Prabowo tetap tidak bisa mengalahkan SBY. Ini artinya, kekuatan FIGUR-lah yang mengedepan. Wiranto ? ......... bagi saya sudah "habis". Kehadiran JOKOWI, adalah refleksi ketidakpercayaan publik pada jentera demokrasi, katakanlah Partai Politik dan seterusnya. Ia kemudian terejawantahkan ke dalam realitas FIGUR.

Dina Y. Sulaiman  : bukan soal rivalitas militer sih, tapi soal figur Prabowo. Lalu, kalau benar prabowo mendanai Jokowi, pasti ada motifnya kan? "ga ada makan siang gratis", kata orang. Tapi soal antusiasme publik pada Jokowi, saya sepakat sekali, ini refleksi dr muaknya masyarakat atas situasi selama ini. Jokowi skrg kan citranya sangat beda dg para pejabat umumnya.

Muhammad Ilham :  Figur Prabowo .... saya (agak) setuju, bukan rivalitas militernya. Rivalitas di militer telah diputus oleh "masa SBY". Setiap zaman, punya isu. Maka isu pada zaman SBY adalah "Neo-Liberalisme". Pada figur Prabowo dan Megawati, isu ini mendapat tempat. Pada Jokowi dan Ahok pula, momentum menjadi termanfaatkan. Setiap zaman punya isu.  Politic is WHO GET WHAT HOW and WHEN kata si "mbah" Harold Lasswell. Jokowi adalah "message" bagi Prabowo untuk Publik, sekaligus "pencitraannya". 

Dina Y. Sulaiman : oh ok, saya tangkap skrg..poinnya bukan di rivalitas militer.  balik lagi ke 'apa yg bisa dilakukan publik', mnrt bang Ilham gmn? apa berhenti pada informasi kita atas kualitas figur Jokowi, atau tetap mempertimbangkan siapa yg ada di belakangnya? Sebagus apapun kualitas Jokowi, dia sulit bergerak bila ada kekuatan lain yg mengatur langkahnya, ya kan?. 

Muhammad Ilham : Politik itu "Pasar", terserah publik melakukan apa. Jadikan saja, mekanisme politik sebagai mekanisme Punishment-Reward, ajang pemberian simpati dan hukuman. Tentang JOKOWI, samalah dengan Indonesia Lawyer Club - ajang "message" bagi legislator yang berkualifikasi hukum. Mereka bisa menjual "citra" dan "pesan" mereka dalam acara ini. Demikian juga halnya dengan Jokowi. Jokowi adalah "pesan" dan pertaruhan, katakanlah figur Prabowo, sebagaimana halnya Muzakir Manaf (kombatan GAM) yang berhadapan dengan Incumbent Irwandi Yusuf di Aceh (yang juga kombatan GAM). Kemenangan Muzakkir Manaf menaikkan rating Prabowo. Dalam ilmu politik, belum tentu sebuah survey dengan rating tinggi mempengaruhi elektabilitas seseorang, namun, ketika rating tersebut tinggi, ini juga akan mempengaruhi secara psikologis pilihan masyarakat. Ibaratnya sama dengan "jualan kue" di pinggiran jalan yang berjejeran. Bila banyak "rekomendasi" dan pesan yang diberikan beberapa konsumen kepada kita tentang satu kulaitas kue tertentu, tentu kita akan terpengaruh pula untuk memilih kue berkenaan. Dalam konteks ini, kehadiran JOKOWI di backup habis-habisan oleh Prabowo (dan Megawati), setidaknya demikian yang saya tangkap dari ungkapan adik Prabowo - pengusaha Hashim Djojohadikusumo yang disinyalir banyak membantu Jokowi secara finansial.

Dina Y. Sulaiman :  hm..kalau demikian...upaya pencitraan dianggap sangat perlu dong.. kan kebanyakan publik tdk merasa perlu/tdk mampu/tdk berkesempatan terlalu menelisik ke dalam; mrk hanya sempat melihat penampilan luar.

Muhammad Ilham  : Politik itu - kata Tun Abdul Rahman Putera - adalah berniaga. Kalau tidak, manalah mungkin begitu banyak "konsultan dagangnya" - lembaga-lembaga Survey dan Pencitraan.

Dina Y. Sulaiman : meskipun, uniknya, kasus Jokowi ini, dia tdk terlihat melakukan pencitraan (sehingga disebut2 sbg antitesis politik pencitraan), tp justru dg cara itulah citra positifnya terbentuk.  

Muhammad Ilham  : Yang penting, pola who get what how and when, (pasti) jalan. Rivalitas, kedekatan ideologis, kedekatan historis dan seterusnya, hanyalah "bumbu-bumbu" justifikasi terhadap sebuah komitmen politik. (Masihkah ingat Dina) dengan "arrijalu qowwamuuna 'alan nisa'"-nya Hamzah Haz menjelang Pemilihan Presiden 1999/2000 yang lalu. "Pesannya" jelas - Megawati Soekarno Putri yang mengantongi 33 % suara PDI-P di Pemilu 1999. Siapa nyana, kemudian setelah dilengserkannya Gus Dur, Hamzah Haz merasa "adem ayem" dibawah Mbak Mega.  Pencitraan perlu, karena politik adalah "menjual-membeli" (ini hanya pemahaman sederhana). Karena itu, dalam alam demokrasi, dibentuk mekanisme untuk evaluasi atas jual beli tersebut, yaitu ELEKTORAL, untuk memberi simpati atau hukuman.

Dina Y. Sulaiman : kalau begitu sy lebih memilih berdiri dulu di pinggir dan menonton dg seksama, hehe.. selama politik jadi komoditas dan tidak transendental (menjadikan politik sbg upaya menegakkan kalimah Allah), agaknya sulit mendapatkan figur yg benar2 mau memperjuangkan nasib rakyat. Katakanlah Jokowi dari sisi kualitas pribadinya adalah orang baik, tapi kekuatan2 yg harus dilawannya terlalu besar. Menyedihkan sekali.


Muhammad Ilham  : Biarlah ia mengalir dengan sendirinya Dina. Namun yang paling penting (menurut saya) adalah aspek pembelajaran dan pendewasaan politik publik. Siapapun orang nya nanti, tak masalah, tak kisah. Mekanisme "penghukuman"nya sudah ada. Namun, pendewasaan politik publik yang paling utama. "Menunggangi" agama untuk kepentingan politik instan, membuat publik tidak cerdas. Melihat seorang calon dari "takdirnya" dan menjadikan ini isu, juga bukan upaya pendewasaan politik. Saya kira itu pointnya.

Andri Azis  : Makanya begitu Bang, yang satu bernama agama yang satu bernama politik! Agak-agak menye"kuler".

Muhammad Ilham : (sedikit perbandingan empirik personal dari saya) : 
http://ilhamfadli.blogspot.com/2010/04/simbolisasi-agama-dalam-politik.html
 http://ilhamfadli.blogspot.com/2011/05/atas-nama-politik-atas-nama-tuhan.html 

Bismo Gondokusumo : Bijak !

Adjie Syakel : bagi negara saya Indonesia, politik itu hanya ritual lima tahunan, tidak lebih. Selalu saja dianggap penting, padahal hanya penting bagi pemilik kepentingan saja. Selalu saja dianggap bermanfaatn, tapi tetap saja selalu dimanfaatkan. Sistem "rivalitas" politik indonesia yang saya anggap terlalu praktis, mengakibatkan kita susah (baca: teramat susah malah) membedakan kawan dan lawan. Saya masih ingat 8 tahun yang lalu, presiden saya saat ini begitu dipuja2, tapi sekarang tiada daya, dihujat dan dimaki. Pengamat Politik (baca: kita-kita ini) ibarat komentator pada pertandingan sepak bola. Tanpa adanya komentator, pertandingan rasanya tidak seru, tapi tetap saja kita hanya komentator. Solusinya ya kita lihat dan perhatikan saja... Just look and see.. kalau memang mau mengubah nasib bangsa, saya rasa tidak ada cara lain selain masuk ke dalam sistem politik yang sudah carut marut ini... Sekali-sekali rasakan sendiri bagaimana "enaknya" menjadi wakil rakyat, walikota, bupati, gubernur, atau presiden sekalian. 

Dina Y. Sulaiman : wah semakin menarik nih..saya barusan baca dua tulisan di blog bang Ilham.. Di atas saya katakan soal 'menegakkan kalimah Allah', sebenarnya tdk sempit ke masalah penggunaan agama sebagai alat politik, tapi lebih ke nilai2 universal. Allah atau Tuhan kan menyuruh kita berbuat adil, menjauhi korupsi, berani melawan tiran, dan menjadi khalifah di muka bumi (=tidak menjadi budak dari kapitalis asing saya pikir salah satu representasinya) dll. Nah, pemimpin yg mampu menegakkan itu semua yg akan saya dukung, meski non muslim (ini kalimat awal saya dalam diskusi ini). Pengalaman empiris banyak dari kita terkait pemanfaatan simbol agama utk politik saya pikir tidak boleh mengaburkan prinsip bahwa politik itu harusnya transendental (ini istilah yg dipakai Khajeh Nashirudin (buku manajemen politik by kheradmandi). Batasan transendental itu ya itu tadi, memimpin dg membawa+mengamalkan suara Tuhan soal keadilan, kejujuran, keberanian melawan tiran, dll. Dengan kata lain, dlm pandangan saya, perilaku banyak politisi yg menjual agama demi kekuasaan seharusnya tdk membuat kita antipati pada bentuk politisi transendental (divine politics). Terakhir, saya sepakat pada pendapat Abang: Namun yang paling penting adalah aspek pembelajaran dan pendewasaan politik publik. Saya pikir ini pula yg sedang saya lakukan, meski di tataran politik internasional, krn saya pikir, politik nasional kita sangat dipengaruhi oleh politik intl. Seorang presiden yg sangat nasionalis dan membela kesejahteraan rakyatnya pun (contoh, berani menasionalisasi kilang minyak asing) sewaktu2 bisa tewas misterius atau bahkan dibantai ramai2 oleh kekuatan kapitalis intl, macam Qaddafi. Karena itulah perlu dukungan semua unsur bangsa, seperti yg terjadi di Iran, mrk berusaha mandiri kan diembargo dan dikucilkan selama bepuluh tahun. Tapi ketika rakyat dan pemimpinnya mampu bertahan dan hidup prihatin, ya berhasil juga dilewati masa sulit itu. Di sinilah pentingnya proses emansipasi (pembangkitan kesadaran publik) sebagai langkah awal dari sebuah "revolusi", ya kan? Nice discussion Bang !


Yanti My : berhubung saya juga pendukung Jokow-Ahok saat ini, maka weekend ini saya dna seorang teman akan mengunjungi kota Solo, ingin merasakan hasil kerja Pak Jokowi. Saya sangat merindukan suasana kota yang teratur.

Muhammad Ilham : Untuk Dina dan Mbak Yanti saya kutiplah sikit AL-PACINO : Di parlemen yang demokratis, tak ada hal yang bisa diputuskan sepihak. Kompromi senantiasa terjadi. Aku memberikan X kepadamu, kamu memberikan Y kepadaku. Tentu saja ada akal sehat dan rasa keadilan yang bekerja di sana tapi juga kepentingan ...... yang tak selamanya luhur " (Al Pacino dalam Film "The God Father") ........... atau ungkapan pragmatis JUSUF KALLA : “Negosiasi adalah soal penawaran”, kata Kalla, suatu hari saat dia mulai menggarap Aceh.“Kalau tak bisa dapat 1 dengan harga 10, anda bisa tawar dengan harga 15, tapi dapat ...2”. Suatu kali Menteri Hamid pusing oleh banyaknya syarat yang diajukan GAM di meja perundingan di Helsinki. Dia menelepon Kalla di Jakarta. “Pernah mengambil kredit di bank? Apakah kau baca semua syaratnya?”, tanya Kalla.
Seperti halnya bisnis, bagi Kalla, syarat kredit bukan soal pokok.
Yang penting: uang bisa cair, dan bisnis bergulir.
“Hamid, yang penting mereka setuju berada di dalam NKRI.
Yang lain, tak penting,” kata Kalla.
Dialog pun lancar kembali. That is Politic.


Kari Bagindo : saya tak mengenal persis Jokowi -Ahok, kecuali selebar yang telah dikibarkan media massa. namun, sebagai orang indonesia asli beragama islam, saya juga tak kuasa menolak hak konstitusional siapapun yang mencalonkan diri utk pemimpin negeri. biarlah proses "politik praktis" lengkap dengan "wirid dan amalannya" yang memutuskan siapa yang ditakdirkan terpilih. berandai-andai, saya juga tak yakin apakah Jokowi-Ahok jika terpilih nantinya mau bikin sengsara orang Islam, resiko politiknya lebih besar dari yang dibayangkan orang Islam yang mengkhawatirkannya. jadi, saya berlindung saja dibalik konstitusi, seraya berpesan "bisik lah kadangaran, imbau lah kalampauan". hutang di kita yang menyudahan. cukuplah sabda rhoma irama, dan sepatutnya kita memutuskan siapa yg akan dipilih. kalau ada dosa politik dalam pemilihan ini, minta ampun kita pada Allah. saya PNS bang. hahahaha... kita juga musti membanding-banding semangat zaman "political framing" sarekat islam ketika mencalonkan Van Lith sebagai anggota Volksraad dengan zaman sekarang yang syahwat politiknya amat metrosexual (aih...apa hubungannya ya? hahahaha). namun agaknya SI tentu menilai suara meneer VAN LITH lebih seksi dibanding dibanding semaun atau mas tjokro. eh... SI kan terbagi dua itu bang, ada punya mas semaun dan ada yang punya mas tjokro. kira2 yang calonin mas VAN LITH SI mana ya? selain itu cerita serupa dengan cita rasa yang berbeda juga bisa kita cermati dengan kehadiran meneer douwes dekker. saya menilai, SI amat cerdik menggunakan sumber daya. benda dengan Boedi Oetomo yang gagal karena terlalu ekslusif dan priyayi...maaf bang...belum didalami dansaya belum punya referensi. mudah2an komentar saya ini bercita rasa sejarah juga. hahahaha.

Foto : Facebook/Muhammad Ilham Fadli (cc) usd.ac.id

Minggu, 02 September 2012

Politisi atau Poli(tikus) ?

Oleh : Muhammad Ilham

"Politicians are like gangsters. Unless you catch them redhanded, you never get them”.
(Sylvi Ronie : dipopulerkan Prof JE. Sahetapy dalam acara Indonesia Lawyer Club) 


Politik itu busuk, kata "rakyat bawah-pinggiran", bahkan telah menjadi arus umum pemahaman masyarakat. Opini berkembang dan terstruktur secara baik dan massif dalam opini publik, selalu fair karena (selalu) berdasarkan sample-sample. Praktek politik yang terjadi belakangan ini, mempertontonkan - melalui kekuatan media massa - secara vulgar beragam kebusukan.   Dunia politik yang diisi para politisi (itu sudah pasti, karena tidak mungkin diisi oleh seniman !) adalah sebuah keniscayaan demokrasi. Namun melihat tingkah polah sample-sample para politisi belakangan ini, korupsi dan hedonisme yang berkembang pada badan-tubuh-jiwa mereka, membuat publik justru menganggap dunia politik dan politisi sebagai public enemy, untuk tidak mengatakan benalu. Mungkin publik over generalize, namun publik juga tidak bisa disalahkan. Ekspektasi publik terhadap dunia politik dan para politisi ini begitu besar. Karena itu tidaklah salah bila hedonisme yang menjangkiti para politisi tersebut membuat publik merasa dibodohi dan dipecundangi. Kasihan memang orang yang masuk dunia politik. Tak semua politisi itu yang busuk, pasti ada yang berhati bening dan berjiwa waras. Namun karena dunia politik adalah dunia tawar menawar, maka mau tidak mau, kepentingan publik harus dikesampingkan ketika berbenturan dengan kepentingan kelompok-partai. Banyak politisi berhati bening tidak sanggupmenolak "pakem" ini. Karena bagaimanapun juga, ketika seseorang ingin terjun di dunia politik, maka ia harus siap bergelut dengan dunia kebusukan. Kalau berhasil, dia akan menjadi politisi yang disegani kawan maupun lawan. Karena itu sebaiknya dipisahkan saja antara agama dan politik seperti di Barat. Jelas, terukur dan gentle. Kalau tidak, kasihan agama yang selalu di"tunggangi" oleh politisi-politik. Dan (kalau tidak), fenomena "koboy Cina" dan "ceramah Rhoma Irama", pasti akan bermunculan di berbagai daerah untuk kasus yang sama.

Politisi seharusnya tidak menjadi bagian utama dalam membiarkan masyarakat mempraktekkan pola berpolitik yang merusak, seperti money politic. Praktek jual beli suara hanya akan menjauhkan cita-cita indonesia menjadi lebih baik. Seorang calon yang menangnya dengan cara membayar, pasti yang dipikirkan pertama kali bagaimana mengembalikan modalnya, bukan bagaimana memperbaiki nasib rakyatnya. Politisi yang ingin memperbaiki negeri ini dengan setulus hati, agar tak mengajari rakyat dengan politik transaksional. Karena itu pula, masih "segar" dalam ingatan kita bagaimana Majelis Ulama Indonesia (pernah tahun 2009, walau tak jadi) yang berencana mengeluarkan fatwa haram Golput, idealnya justru mengeluarkan fatwa super "haram" bagi masyarakat untuk memilih politisi bermasalah dan mempraktekkan politik transaksional. Saya rasa, itu jauh lebih mendidik dan memiliki pengaruh besar dalam meniti harapan Indonesia yang lebih baik. Bagaimanapun juga, harapan ini harus terus kita pelihara .... sebagaimana halnya, konsep Indonesia masih terus ada di hati masyarakat kecil, walau fungsi dan peran sebuah negara yang bernama Indonesia tersebut, teramat kecil mereka rasakan !!



Sumber foto : INTI


Makna Hidup Versi Buya Hamka




Sabtu, 25 Agustus 2012

Dr. Ahmadinejad, Honourable President of Islamic Republic of Iran


"Barat sejak awal hanya berniat menjarah minyak Libya dan hanya mendukung Moammar Khadafi jika menguntungkan mereka. Bahkan, Barat tak akan segan menyingkirkan Khadafi bila dinilai tak bisa menyokong keinginan mereka. Tunjukkan pada saya satu saja pemimpin Eropa atau Amerika yang belum pernah berkunjung ke Libya atau memiliki persetujuan dengan Khadafi" 

(Dr. Ahmadinejad, Honourable President of Islamic Republic of Iran : Reuters) 




Dr. Mahmoud Ahmadinejad was born in 1956 in the village of Aradan in the city of Garmsar. He moved and stayed in Tehran together with his family while he was still one-year old and completed his primary as well as his low and high secondary education there. In 1975, he successfully passed the university entrance exam with high marks and started his academic studies on the subject of civil engineering in the Science and Technology University in Tehran. In 1986, he continued his studies at MS level in the same university. In 1989, he became a member of the Board of Civil Engineering Faculty of the Science and Technology University. In 1997, he managed to obtain his Ph.D. on transportation engineering and planning from the Science and Technology University. 

Dr. Ahmadinejad is familiar with English language. During the years when he was teaching in the university, he wrote many scientific papers and engaged in scientific research in various fields. During the same period, he also supervised the theses of tens of students at MS and Ph.D. levels on different subjects of civil engineering, road and transportation as well as construction management. While still a student, Dr. Ahmadinejad engaged in political activities by attending religious and political meetings before the Islamic Revolution. With the victory of the Islamic Revolution, he became a founder and also a member of the Islamic Association of Students in the Science and Technology University. During the war imposed on Iran, Dr. Ahmadinejad was actively present as a member of the volunteer forces (Basij) in different parts and divisions of the battlefronts particularly in the war engineering division until the end of the war. Dr. Ahmadinejad is married and has three children- two sons and one daughter.

Sumber : President.ir

Kamis, 16 Agustus 2012

Mencintai Indonesia dengan Sederhana : Dirgahayu Indonesia


Indonesia... tahun 2014 masih puluhan purnama lagi, 
tapi kegaduhan politik sudah bersimaharajalela. 
Engkau sudah nampak letih. 
Namun apapun itu, biar orang kata saya Chauvinis, namun saya suka akan engkau. 
Satu harapan saya, bila suatu masa kelak, bahtera tak satu kata, kata pisah terus menggema
semoga Husnul Khatimah!




Kesadaran terhadap konsep ke-Indonesia-an itu, 
bermula dari kesadaran rakyat kecil, 
bukan berkembangbiak di kalangan elit.

DIRGAHAYU INDONESIA, 67 tahun.
17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2012

sumber foto : Muhammad Ilham Fadli facebook

Selasa, 14 Agustus 2012

Aidit dan Idealisme Politik

Oleh : Muhammad Ilham 

DN. AIDIT
DN Aidit @ Dja'far Nawawi Aidit @ Dipa Nusantara Aidit (dan ada juga yang memanggilnya dengan Dani Nusantara) ini adalah putra Haji Aidit keturunan Maninjau Minangkabau. Namanya masuk dalam kategori “haram-jadah” diperkatakan dalam sejarah bangsa ini. Tapi biarlah, terpulang pada yang membaca dan memahaminya. Bak kata revolusioner legendaries Cuba – Ernesto Che Guevarra – revolusi biasanya diletuskan oleh orang gila dan dipimpin oleh orang yang berani, kemudian dinikmati kaum oportunis. Aidit nampaknya hanya merasakan “dua hal” – ia gila dan ia berani. Terlepas setuju – tak setuju dengan ideologi yang dikumandangkannya, tapi seperti yang diakui Prof. Taufik Abdullah, ia termasuk kategori politisi dan pemimpin yang memiliki visi dan strategi serta pembangun institusi yang tangguh. Sebuah hal yang membedakan Aidit bersama-sama dengan “kawan-kawan sezamannya” dengan politisi masa kini. Ia tidak hanya diletakkan dalam footnote (catatan kaki) sejarah, tapi “kehadirannya” dalam memberikan warna pada arah sejarah  bangsa ini – terlepas suka tidak sukanya kita sebagai anak bangsa – tidak diperbincangkan orang. Ia ibarat Tambiluak bagi Peristiwa Situjuah, ataupun Aru Pallaka bagi sejarah heroik kepahlawanan Bugis, atau bias diumpamakan Brutus. Tapi orang tidak tahu, DN Aidit adalah politisi yang sangat anti korupsi, keras dan disiplin. Ada kata-katanya yang kemudian menjadi diktum anggota PKI, "Masuk PKI itu harus siap hidup susah, siap tak punya apa-apa, bahkan mengorbankan segalanya”. Tak salah bila ia lebih suka hidup susah membesarkan partai dibandingkan dengan tawaran ayahnya untuk pulang ke Bangka Belitung, menjalankan usaha ayahnya yang dikenal sebagai tuan tanah dengan luas tanah sejauh mata memandang.

Aidit sangat membenci korupsi, ia menciptakan banyak jargon-jargon politik untuk melawan korupsi termasuk “Hancurkan 3 setan kota, dan 7 setan desa”. Koruptor yang berbisnis wewenang dan menjual kekuasaannya untuk para cukong ia sebut sebagai “Kapitalis Birokrat”. Aidit juga sangat disiplin dalam soal kehidupan pribadi. Ia anti POLIGAMI, kader Partai tidak boleh senang-senang. Untuk poligami sendiri Aidit sangat keras dan ini kemudian menciptakan polemik diam-diam dengan Njoto yang saat itu ada kisah affair dengan perempuan Russia, padahal Njoto sudah punya isteri dan banyak anak. DN Aidit marah besar dengan Njoto. Aidit juga menyerang kesukaan Bung Karno soal perempuan dan banyak Jenderal yang juga suka main perempuan. Ia selalu mengejek Ahmad Yani yang sudah meniru-niru Bung Karno soal perempuan. DN Aidit terus menerus bekerja untuk rakyatnya, ia gebrak konflik di politik Agraria, satu orang petani, satu hektar tanah. Ia buat perahu-perahu yang banyak untuk nelayan. PKI-lah satu-satunya partai yang berani mengepung pangkalan-pangkalan minyak asing dengan gerakan rakyat sampai mereka ketakutan, Bung Karno sampe dibikin pusing dengan gerakan pemuda rakyat ini. Melihat tingkah laku politisi kita di akhir-akhir ini, berbeda sekali dengan Aidit, Hatta, Agus Salim dan Natsir dari Masjumi mereka benar-benar berjuang untuk idealisme-nya bukan untuk duit para cukong. Kiranya pendidikan politik harus kembali diajarkan di SMA dan kampus-kampus Universitas.

SILAHKAN TAK SUKA AIDIT. SEMUA ANAK BANGSA INI MEMILIKI HAK.

Tapi yakinlah, dari AIDIT kita bisa belajar bahwa politisi dulu berani mati digantung soal idealisme – bukan gantung di Monas .. hehe -  apapun idealisme mereka, tapi sekarang idealisme itu sudah mati digantikan dengan politik uang. Kita nampaknya sudah apatis dan pesimis dengan Partai Politik belakangan ini. Seakan-akan Partai Politik adalah sumbu korupsi. Tapi, sejarah masa AIDIT memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa pada suatu fase dalam sejarah politik Indonesia, ada idealisme, dan itu tumbuh di dalam tubuh Partai. Tapi sekarang, idealism tersebut dikonversi menjadi politik uang.

Referensi & Sumber Foto : Anton DHN

KH. Mustafa Bisri : "Aku Harus Bagaimana ?"


aku pergi tahlil, kau bilang itu amalan jahil
aku baca shalawat burdah, kau bilang itu bid’ah
lalu aku harus bagaimana…?

aku bertawasul dengan baik, kau bilang aku musrik
aku ikut majlis zikir, kau bilang aku kafir
lalu aku harus bagaimana…?

aku shalat pakai lafadz niat, kau bilang aku sesat
aku mengadakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid
lalu aku harus bagaimana…?

aku gemar berziarah, kau bilang aku alap-alap berkah
aku mengadakan selametan, kau bilang aku pemuja setan
lalu aku harus bagaimana…?

aku pergi yasinan, kau bilang itu tak membawa kebaikan
aku ikuti tasawuf sufi, malah kau suruh aku menjauhi

ya sudahlah… aku ikut kalian…

kan ku pakai celana cingkrang, agar kau senang
kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot
kan ku hitamkan jidat, agar dikira ahli ijtihad
aku kan sering menghujat, biar dikira hebat
aku kan sering mencela, biar dikira mulia

ya sudahlah… aku pasrah pada Tuhan yang ku sembah… !!





















(sebuah nukilan kritis berbentuk puisi dari KH. MUSTOFA BISRI anak dari KH. BISRI MUSTOFA - Hadratusyeikh Nahdlatul Ulama. Dianggap sebagai salah seorang ulama besar NU selain, misalnya Ulama-Ulama Langitan. Satu generasi dengan Gus Dur. Termasuk salah satu idola "generasi muda/intelektual muda NU". Hobinya : membaca kitab dan berkumpul dengan seniman dan rakyat biasa)

:: siap sholat Taraweh tadi, saya (ditanya : tepatnya) dikritisi oleh seorang jama'ah bahwa sholat itu pakai kain sarung, bukan celana panjang, karena itu BID'AH. Dan ia mendefenisikan BID'AH sebagai "tidak pernah dilakukan Rasulullah dalam ritual ibadah". Berangkat dari ini, saya kemudian mengatakan, "mari kita beri penguatan makna BID'AH tersebut".

- Orang yang tidak sayang sama istri dan anak-anaknya .... ITU BID'AH (karena Nabi SAW. tidak pernah melakukan ini)
- Orang yang tidak ramah pada tetangganya, ITU BID'AH (karena Nabi SAW. dikenal orang yang ramah, murah senyum lagi menyenangkan hati orang banyak)
- Orang yang tidak mau berbeda pendapat, ITU BID'AH (karena Nabi SAW. yang Ummi tersebut bahkan mau mendengar masukan dan arahan dari sahabat dan anaknya sendiri yang perempuan)
- Dan seterusnya.

Lantas Jama'ah saya tadi berkata, "Itu Bukan Ritual Ibadah, pak!".
Saya jawab, "saya hargai pendapat Bapak, tapi izinkan saya memiliki pendapat ..... Bapak adalah SEKULER, karena ibadah bagi Bapak hanyalah sebatas Sarung dan Celana doank. Padahal, TACIRIK-pun bisa jadi ibadah".
Alhamdulillah beliau tersenyum. Kami-pun minum AQUA gelas di Musholla sambil terus ma ota-ota (sesuatu yang dahulunya - bila meminjam versi Bapak tadi - juga BID'AH).

Terlepas dari apa yang diutarakan di atas, saya hanya ingin mengatakan, "Wallahu a'lam bish shawab".

Sumber foto : lkis.org
Sumber : Muhammad Ilham Fadli Facebook 

Getaran Ka'bah yang Berbentuk Kubus

Oleh : Muhammad Ilham 

"Bayangkan dirimu, kata sosiolog Iran tamatan Sorbonne Ali Shariati, sebagai sebuah partikel besi di dalam sebuah medan magnet, seolah-olah engkau berada diantara berjuta-juta burung putih yang sedan melakukan mikraj". Ali Shariati yang dikenal sebagai ideolog Revolusi Islam Iran ini, benar dan menyentuh. Sebuah partikel besi diantara semesta jutaan partikel besi lainnya, sekor burung putih di antara jutaan burung putih.   Ka'bah, kata Ali Shariati yang satu kelas dengan "si jagal" Polpot kala kuliah di Sorbonne ini, adalah sebuah kebersahajaan, tanda menyerahnya manusia di hadapan sang Azza wa Jalla. Ia hanyalah sebuah kubus tanpa ornamen nan indah, kecuali kaligrafi pada kiswah yang membungkusnya - ia praktis tanpa keelokan, tanpa ornamen, tanpa keinginan menjadi impresif. Ia berdiri begitu saja di halaman dalam Masjidil Haram, dan - sebagaimana kata Muhammad Assad - "tak menyentak". Muhammad Assad, penulis Islam keturunan Yahudi Eropa itu benar. Dalam bukunya Jalan ke Mekkah, sebuah buku nan indah tentang perjalanan hidupnya, Assad mengatakan, "Saya telah menyaksikan di berbagai negeri kaum Muslimin, tempat para tangan seniman besar menciptakan karya yang diilhami, tapi justru dalam kesederhanaan Kubus Ka'bah, yang menyangkal segala keindahan garis dan bentuk, tercermin satu sikap bahwa betapapun indahnya segala apa yang dapat dibuat oleh tangan-tangan manusia, adalah congkak jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan". "Oleh karena itu, kata Assad, semakin sederhana yang dapat disombongkan manusia, merupakan hal yang terbaik yang dapat dibuatnya untuk menyatakan kebesaran Tuhan". 









 
Sumber Foto : google.picture.com (cc) Muhammad Ilham Fadli facebook

Dua Kategori Manusia


Tidakkah ?
Kalian melihat sekelompok manusia yang sangat fasih berbicara dan lihai berkata-kata,
padahal hatinya lebih gelap dari gelapnya malam yang gulita ?
Dan sebagian manusia tidak dapat mengungkapkan isi hatinya dengan lidah,
padahal hatinya bercahaya bak pelita yang gemerlapan
(Imam Ja’far ash Shadiq)


 sumber foto : google.picture.com (cc) hening rumahhati

Selasa, 07 Agustus 2012

Asketisme Pedagang Zen

Oleh : Muhammad Ilham

Kerja adalah ibadah ...... dan hasil kerja adalah untuk mengeluarkan orang dari kesulitan dan ketidakmampuan mereka, dan Kaya adalah bentuk "pertemuan"dari keduanya 
(Robert N.Bellah)


Pada waktu berbuka kemaren, mata saya tertumbuk pada sebuah buku yang dibawa oleh istri saya tentang "Maju a-la ZEN". Saya juga heran, mengapa "soulmate" saya ini membawa buku ini, biasanya ia tidak begitu menyukai buku-buku sejenis ini. Sambil menanti makan malam (perbukaan) yang sedang diolah di dapur, saya coba baca buku "Maju a-la ZEN" ini. Awalnya saya tidak begitu respek, tapi makin saya baca makin menarik, seumpama minum air laut, makin haus bila makin diminum. Dari buku ini, ada satu hal yang menarik bagi saya, ajaran Shuzuki Shosan, pendeta Budha aliran ZEN yang hidup pada masa Tokugawa. Ajaran ZEN ini dianggap aliran atau ajaran yang "paling" bertanggung jawab terhadap perkembangan kapitalisme Jepang pada zaman modern ini, yang pada akhirnya memberikan julukan bagi orang Jepang sebagai "binatang ekonomi", sebuah julukan yang diberikan orang "Timur" dan "Barat" pada manusia-manusia keturunan Dewi Ameterasu Omikami ini. Mereka dikenal sebagai bangsa yang sangat agresif mencari laba. Iklannya gemerlap merambah seluruh suduut belahan-bulat dunia ini. Merk atau Brand Jepang apa kini yang tidak dikenal oleh masyarakat dunia, bahkan sampai ke pelosok desa paling "pelosok sekalipun.

Tentu saja orang Jepang tidak akan menyukai julukan "binatang ekonomi" ini. Bukan saja karena mereka menolak realitas tingkah laku yang memang secara pas digambarkan. Tapi karena mereka beranggapan persepsi orang lain tentang bangsa Jepang adalah keliru. Memburu laba bukanlah tujuan mereka atau nilai-motivasi yang berada dibelakang kegiatan orang Jepang. Kerja keras yang tekun dan rajin untuk memenuhi kebutuhan orang banyak, itulah basis dasar kegiatan apapun juga dalam berbagai bentuk profesi kerja : apakah pedagang, seniman ataupun sebagai seorang samurai. Dan, ini merupakan kontribusi ZEN. Ajaran ini mendapatkan tempat ketika sebagian besar penduduk negara Sakura ini kehilangan alasan untuk hidup, setelah mengalami perang saudara bertahun-tahun dan ketika memasuki masa damai, justru mengalami kesulitan untuk mengadaptasi diri. Ajaran kerja, sebagai cara untuyk mencapai kebebasan, nampaknya mengena di hati rakyat Jepang. Kerja dengan penuh kejujuran dalam ajaran ZEN merupakan bentuk dari sikap hidup Askestisme (Zuhd). Kerja adalah pekerjaan suci dan harus dihayati dalam kerangka religius. Kerja untuk mencari keuntungan justru ditolak. Kerja a-la ZEN bukanlah suatu kegiatan ekonomi, tapi suatu latihan untuk hidup zuhd.

Menurut buku ini, orang Jepang sangat menghargai seseorang yang sikapnya terhadap kerja bersifat religius. Nilai ini hanya akan bisa diejawantahkan dengan kerja produktif. Seorang pedagang dalam organisasi dagang Jepang a-la ZEN menganggap distribusi barang sebagai tugassuci untuk membebaskan setiap orang dari kekurangan. Mungkinkah karena ini, maka "religiusitas kerja"nya membuat Jepang unggul sebagai pengrajin industri dan sekaligus pedagang ? Mungkinkah karena ini pula .... dunia merasakan kehadiran "Jepang" di mana-mana ? .......... Dan ketika menjelang sahur, kala istri sedang asyik menyiapkan masakah sahur untuk kami, beberapa saat kemudian ia berkata, "bang, makanan sudah selesai saya masak, ayo kita makan bareng anak-anak," kata istri saya ketika saya masih membaca buku ini. Wajahnya nampak bahagia, mungkin ia ikhlas memasak masakan paling enak buat saya, walau dengan harga bahan baku murah. Ia hidangkan buat kami tanpa raut muka letih ............. dan mungkin karena ini pula, kehadiran masakah istri saya, sangat saya rindukan. Masakan itu terasa ada dimana-pun saya ada ...... hah, ingat orang Jepang, yang kehadiran "barang-barang" mereka ada dimana-mana.

Rasis itu, Otaknya Kecil


Perilaku Rasis atau familiar dengan istilah yang lebih komplit -  SARA, 
pada dasarnya adalah perilaku yang terdapat pada manusia
 "berotak kecil"


Sumber Foto : bin'scorner

Isn't History Repeating Itself ( Hitler & Israel, Now)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham 

Sebagaimana yang dilansir oleh detik.news.com (cc) AFP News, pertemuan Gerakan Non Blok (GNB) untuk membahas Palestina dibatalkan setelah Menlu Mary Natalegawa bersama empat menteri luar negeri lainnya ditolak Israel masuk ke Ramallah. Mereka yang ditolak ini merupakan menteri dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. "Sebuah keputusan telah diambil untuk melarang perwakilan diplomatik dari beberapa negara yang tidak mengakui Israel," ujar salah seorang pejabat Israel seperti dilansir AFP, Minggu (5/7/2012). Pada Minggu hari ini, sedianya di Ramallah Palestina akan diselenggarakan pertemuan Gerakan Non-Blok (GNB) tingkat menteri, namun mendadak dibatalkan. Hal itu disebabkan karena Lima menteri luar negeri, salah satunya Marty Natalegawa, ditolak masuk Ramallah. Total 13 menteri sedianya akan mengikuti acara ini. Pihak Israel mendadak menolak lima menteri yang telah hadir dan tengah menuju Ramallah. Lima menteri itu adalah menteri dari Malaysia, Indonesia, Bangladesh, Kuba dan Aljazair. Lima menteri ini bersama dengan para menteri lainnya sedianya hadir untuk menghadiri pertemuan dua hari dalam konferensi Luar Biasa Tingkat Menteri Luar Negeri Gerakan Non-Blok mengenai Palestina (Extraordinary Ministerial Meeting of the Non-Aligned Movement Committee on Palestine) di Ramallah pada hari Minggu ini. 

Apa yang dilakukan negara Israel terhadap negara-negara lainnya - kecuali Amerika Serikat  dan sekutu-sekutunya - dalam lingkup pergaulan internasional, menurut AFPNews menunjukkan kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh "musuh historis" mereka yaitu Adolf Hitler, "sombong dan menganggap diri benar, walau melanggar nilai-nilai kemanusiaan universal". Israel pada prinsipnya mengulang (repeating) apa yang dilakukan oleh Hitler, setengah abad yang lalu.




















Sumber Foto : AFPNews.com & binscorner.com