Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Februari 2010

Euforia "OM" Obama dan Perdamaian Timur Tengah

Oleh : Muhammad Ilham

Tanggal 17 Juni yang akan datang, Obama mau "mampir" di Indonesia. Gema kedatangannya sudah jauh hari dipersiapkan, bahkan Surya Paloh dan kawan-kawanpun telah membuat Patung Obama di Menteng. Entah dasar apa yang mereka pakai, Obama dianggap "pantas" di taruh dalam bentuk patung di Taman Nan Hijau itu. Akhirya, patung kontroversial ini terpaksa "dihijrahkan". Publik tak merestui dengan beberapa alasan yang bisa diterima akal sehat. Dan ... hari-hari belakangan ini, euforia Obama mulai "epidemi" kembali. Kedatangan Obama dianggap sebagai sesuatu yang ditunggu-tunggu. Memang tidak salah, karena bukan faktor Obama-nya, tapi faktor "ideology-hidden". Obama mewakili sebuah negara adi daya yang dipandang dengan penuh kekaguman dan harapan besar. "Negara" Obama ini dianggap sebagai trend-setter dalam segala hal. Sehingga tidak-lah mengherankan, apabila boneka Obama, boneka anak-anaknya hingga pakaian dalam istrinya menjadi "pusat-referensi" semua orang. Tidaklah mengherankan bila kedatangan Obama nanti menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu, tack-life nya sebagai anak Menteng dibaca kembali. Orang yang selama ini merasa "dekat" dengannya (dekat-historis) ingin memperlihatkan kedekatannya kembali. Harapan-pun ditata kembali kepada Obama untuk menyelesaikan beragam masalah. Mungkin kedatangan Obama yang disambut dengan karpet merah tersebut nantinya, akan menjadi ajang "keluh-kesah" dan "utara-harapan" dari berbagai pihak. Mungkin banyak yang akan menaruhkan harapan besar padanya tentang nasib warga Palestina, endorse-agar menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi di Yerussalem. Tapi mungkin Obama akan mendengarnya dengan senyum, dan mungkin setelah ia "menghapus" jejaknya dari Indonesia, ia akan terikat kembali dengan "mainstream-politik" negeri Paman Sam.

Kita masih ingat, dunia berharap banyak pada Obama. Barangkali memang yang bisa “menghentikan” Israel adalah saudara tuanya Amerika Serikat, dan power itu hanya terdapat pada Obama. Bisakah kita berharap pada Presiden Amerika Serikat yang pernah “singgah sementara” di Indonesia ini? Bagaimakah track record pro-Israel pria kulit hitam yang telah meruntuhkan mitos W-A-S-P, bahwa Presiden Amerika Serikat haruslah White-Anglo Saxon and Protestant ini? Pada Obama yang bernama tengah Hussein ini, hanya terdapat satu, Protestant. Ia bukan putih tapi hitam, walaupun unsur white ada padanya karena kontribusi sang ibu, tapi tetap “darah” Kenya ayahnya lebih dominan. Obama juga bukan “trah” Anglo-Saxon – keturunan British yang dalam sejarah dimaknai sebagai komunitas “pencari dunia baru”. Saya ingat, pada waktu inaugurasi kemenangannya, Obama berpidato secara elegan dengan bahasa tertata rapi, sebuah kelebihan yang pantas untuk ditiru. Pidato yang disiarkan secara lengkap oleh salah satu TV swasta Indonesia ini, Obama berdiri dengan gagah di atas podium. Di depan podium itu, tertera 4 (empat) huruf kapital besar – AIPAC. Seketika, saya ingat buku karangan Paul Findley yang telah diterjemahkan oleh Penerbit Mizan “Mereka Berani Bicara”. Dalam buku ini, Findley mengupas-tuntas pertanyaan : “Mengapa lobi Yahudi-Israel begitu kuat dalam ranah politik Amerika Serikat pasca Perang Dunia ke-2?”.

Findley mengatakan bahwa politik negeri Paman Sam ini tidak bisa berkata “tidak” pada Yahudi-Israel karena sebuah organisasi-publik kemitraan bernama AIPAC (American Israel Public Agency Council). Dalam AIPAC ini berkumpul para ekonom-pialang, politisi dan intelektual Amerika Serikat keturunan Yahudi. Mereka inilah yang dominan mempengaruhi politik Amerika Serikat, mulai dari “pengkondisian calon-calon Presiden hingga kebijakan politik luar negeri. AIPAC kata Findley, adalah bentuk lain dari “Gedung Putih”. Pada tahun 2007, menurut Congressional Research Service, Amerika Serikat telah memberikan bantuan militer pada Israel USD 30 milyar. Konon, AIPAC berperan besar atas bantuan yang spektakuler ini mensikapi pengaruh Iran yang semakin besar di Timur Tengah. Pidato Obama di forum AIPAC menunjukkan kepada kita, Obama tak bisa melepaskan diri dari Yahudi-Israel. Penggalan pidatonya yang mengatakan bahwa Hamas merupakan organisasi teroris dan kebijakan negara Israel harus didukung, memperjelas posisi politik Obama. “When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel …..”. Ketika masih menjadi senator, Obama memiliki voting record pro-Israel. Tahun 2006, beliau menjadi salah seorang sponsor the Palestian Anti Terorism Act yang dalam salah satu item-nya menempatkan Hezbollah sama dengan Al-Qaeda. True Friends of Israel pantas disandang Obama.

Lalu, pantaskah kita mempersalahkan Obama? Pantaskah kita berharap banyak pada Obama ke depan? Findley sebenarnya telah menjawab, bahwa siapapun yang akan menjadi Presiden Amerika Serikat, pengaruh AIPAC sulit untuk dihindari. Penunjukkan Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri kabinet Obama memperjelas pengaruh lobi Yahudi yang luar biasa. Konon, Obama tidak sreg dengan Bill Clinton, suami Hillary. Clinton dan Hillary merupakan sahabat “politik” terdekat dari Benjamin Netanyahu – ultranasionalis Israel. Namun, hampir 1/3 anggota kabinet Obama adalah “kerabat politik” Bill Clinton. Kecil kemungkinan persoalan Palestina bisa terselesaikan dengan baik pada era Obama ke depan. Sangat tidak mungkin Obama melawan arus “pakem” kebijakan politik standar Amerika Serikat, apalagi Obama nyata-nyata telah mendukung Israel sebelum ia jadi Presiden. Persoalan Palestina-Israel, lebih memungkinkan hanya bisa diselesaikan oleh komunitas Timur Tengah, khususnya negara-negara Islam Teluk. Kita tak bisa berharap banyak pada PBB, demikian juga dengan Amerika Serikat, siapapun presidennya. Dalam ilmu politik, antara Israel dan Palestina telah terjadi cyrcle bargaining, siklus tawar-menawar. Siapa yang menunggangi dan ditunggangi, tidak jelas secara konkrit. Apakah Israel yang menunggangi Amerika Serikat atau sebaliknya. Namun yang jelas, hubungan Amerika Serikat dan Israel adalah hubungan simbiosis mutualis, saling menguntungkan. Oleh karena itu, kemauan politik negara-negara teluk-lah yang lebih rasional dan memungkinkan.Apakah bisa hal ini terjadi? Ingat, negara teluk pernah memiliki seorang Raja zuhud-bertalenta pemimpin. Raja Faisal namanya, kakak dari Raja Abdullah – penguasa kerajaan Saudi Arabia sekarang. Pada masa beliau menjadi raja Saudi Arabia, karengkang-nya Israel dan hipokritnya Amerika Serikat bisa ditaklukannya. Sejarah mencatat, raja Faisal menjadi “pilar terdepan “Politik Minyak”. Dengan kekuatan cadangan 2/3 minyak dunia berada di Saudi Arabia, raja Faisal menghentikan ekspor minyak ke negara-negara sekutu Israel, khususnya Amerika Serikat. Sebagai negara yang berbasiskan industri, tentu AS menjadi kalimpasingan. Politik minyak ini akhirnya membuat Israel melunak, dengan tentunya akibat tekanan AS. Perjanjian Camp David antara Anwar Sadat (Presiden Mesir) dan Menachen Begin (PM Israel) kala itu, ditandatangani yang difasilitasi oleh Jimmy Carter. Timur Tengah sedikit melunak. Tapi sayang, Politik Minyak ini akhirnya tidak berkelanjutan sampai sekarang seiring dengan tewasnya raja Faisal. Sejarah kemudian mencatat, para penguasa negara-negara teluk, terus berada dibawah “ketiak” Paman Sam (terkecuali Iran, Suriah dan sedikit Yordania).

Sejarah telah memberikan kepada kita pelajaran berarti. Negara-negara Islam di Timur Tengah pada prinsipnya memiliki “daya tawar” politik potensial dalam menyelamatkan masa depan Palestina. Tapi apa yang terjadi ? Raja Abdullah dari Saudi Arabia membisu, Klan Al-Nahayan dari UEA diam, Klan Al-Sabah tak ambil pusing, Qabus dari Oman tak bersuara. Rakyat Irak sibuk dengan “penyakit mereka”, bahkan Husni Mubarrak dari Mesir justru menutup perbatasan Mesir-Jalur Gaza. Mungkin hanya Ahmadinedjad dan rakyat Iran yang lantang. Seandainya, raja Faisal dan Gamal Abdeel Nasser masih hidup, mungkin Palestina tidak seperti ini. Know your enemy, kata Sun Tzu dalam Kitab Perangnya The Art of War.

(Sebagian dari tulisan ini merupakan Artikel saya yang pernah dimuat dalam Harian Umum Padang Ekspres dan Padang-Today.com)

Kamis, 25 Februari 2010

KALAM : "Science, Technology Should Contribute to Society Development"

First published in The Jakarta Post, November 28, 2007

Renowned Indian scientist and engineer Dr. Avul Pakir Jainulabdeen Abdul Kalam, who was also the 11th president of India (2002-2007), was recently in Indonesia to deliver a speech at Indonesia's National Science Congress (KIPNAS) in Jakarta. Kalam, who is described as the "father of the Indian missile", sat down with The Jakarta Post's Alpha Amirrachman to discuss how science can contribute to the development of society. The following are excerpts of the interview:

Question: You have been described as the "father of the Indian missile" program. Do you think India's nuclear program serves as a symbol of India's advancement in science?

Answer: Well, in India we have bio-technology, agricultural science, space science and nuclear science. And putting them up together we can be said to be a nation developing science and technology.

You believe in science for Indian national development and that science development is ideologically free. How do you think science and technology could help bring about world peace and security?

We have six billion people on our planet, but only two billion people who have drinking water. We have a huge problem here of four billion people who desperately need help. Their standard of living should increase, and for that science and technology is a non-linear tool. If you use technology it will grow like that and very fast. I have emphasized the cultivation of scientific temper and entrepreneurial drive. That's why I am saying that science and technology can bring development to us. And science is borderless, any nation can work together.

What is your most significant achievement in your career as a scientist?

When an orthopedic surgeon came for a visit to my laboratory and found that the material we were producing was so light. He asked me to visit the hospital where I saw children dragging their feet around with heavy metallic calipers which weighed three kilograms each. In only three weeks we managed to produce calipers which weighed only 300 grams. No more dragging around a load of three kilograms, the children can now move and play around more freely.

So the light material you produced (for missile) is also used for producing walking equipment for children with disabilities. Is your country earnestly producing this new kind of orthosis?

Yes, indeed, a number of our industries have started producing the equipment because the material is not only very light but also very cheap.

You have mentioned that Indonesia can benefit from its 13,000 islands for its development? What is your specific idea on that?

Each island can become an economic center. Urban facilities should be provided in rural areas. You are here in Jakarta, but if you go 30 kilometers you would probably find rural areas or villages. You should give psychical and electronic connectivity to them. Build a core competence enhancement for the people, then the economy would come (in the form of) employment, etc. This is what I have suggested in my country that we build around 7,000 PURA (urban facilities in rural areas) clusters. The integrated actions are education that leads to entrepreneurship and employment opportunities, healthcare for all, population growth rates to be within a small band and first-rate infrastructure facilities.

How can regionally-based development help reduce disparities among states in India? How do you think this can be adapted in Indonesia?

In India, for example, the whole southern states now are having the rainy season, while the northern states have winter. In southern states they have unique materials available; we can process the materials and make a product, so southern states can become agricultural centers. And the regionally based management would bring the core competence together and as a result prosperity would come very fast. For example, a number of states now have hydropower where we can connect all power generators and have a common grid and send it to the whole country. Therefore, regionally based development can help develop the nation faster. I believe the physical, electronic and knowledge connectivities of 7,000 PURA clusters will bring about development for the region as a whole. In Indonesia, of course, this would depend on the political (will), the parliament here would need to see if this can be done.

What do you think our nation should do to encourage youth to become passionate about science?

This should be discussed in your parliament too because it is a political decision where you put priority and the availability of the money. In my country, by funding technology we can grow faster, like in agriculture we supported agricultural science. And today we have communications satellites because we gave priority to the space program. Similarly in information and communication technology, people are coming in a big way. Education institutions have been reinforced. This all gives feedback to science. What is important is that the youth should dream and dream, transform their dreams into thoughts and transform their thoughts into action. And the youth should develop righteousness in their heart, which in my experience, can be built by three people: father, mother and primary school teacher.

You have been campaigning for the use of open-source software; how is it progressing in India?

Many of us are using open-source software in our industry and many applications are also used in the academic world.

Since you are a Muslim scientist who grew up in a middle-class family and have excelled in majority Hindu India, do you think other members of minority groups also have the same opportunities to develop themselves and to contribute to the development of the nation, and that their rights are fully protected?

In our constitution we have fundamental rights of equality and freedom. No discrimination for all Indian people and opportunities are wide open. For example, in India Muslims constitute 15 percent (of the population), Christians 3 to 4 percent of the whole population, and others. We are a nation of multi-cultures, religions (multireligious) and languages. Very similar to your country which is also multi-cultural and has multi languages, and with a large number of people and so many islands you actually have more challenges.

What is it that you think you haven't achieved in your career?

Billions of people should smile a long way, and I still have to work on that.

Selasa, 02 Februari 2010

Anak-Anak Tengah Malam : Sebuah Sejarah Keluarga


Ditulis ulang : Muhammad Ilham


(Ditulis oleh salah seorang mahasiswa bimbingan saya ..... tepatnya mitra diskusi, dimana untuk beberapa hal, saya juga harus belajar padanya)

Pada tahun 1989, Imam Khomeini memfatwa mati Salman Rushdie. The Satanic Verses, novel penulis Mumbay itu, yang terbit setahun sebelumnya, membikin heboh dunia Islam. Novel itu dianggap melecehkan iman umat Muslim, mengolok-olok Tuhan dan rasulullah. Salman Rushdie kemudian ‘diburu’. Novel itu bahkan membunuh salah seorang penerjemahnya, seorang berkebangsaan Jepang, beberapa waktu setelah fatwa itu dikeluarkan Khomeini. Huh, tetapi tenang saja, novel ini berbeda dengan The Satanic Verses. Novel ini tak akan membikin iman saudara terancam. Hampir-hampir tak ada hujatan terhadap agama mana pun. Dan hampir-hampir tak ada olok-olok terhadap tuhan siapa pun.

Midnight’s Children sesungguhnya memiliki kisah yang sederhana, kisah seorang penulis Mumbay bernama Saleem Sinai yang menghabiskan hari-harinya ‘bekerja’ menulis (mungkin) novel di apartemennya. Dia ditemani pembaca dan komentator pertamanya, seorang ‘juru masak’, seorang ‘pengasuh’nya bernama Padma. Lewat Salem Sinai, kisah-kisah dalam novel ini dituturkan, digelindingkan, dari suatu masa ke masa berikutnya, dari satu peristiwa ke perisitwa lain. Berbagai topik disinggung dan berbagai mitos didedahkan. Mula-mula, kisah dalam novel ini melesat ke tahun 1912, ke kisah Aazam Aziz, seorang dokter barat modern pertama di lembah subur Khasmir. Dokter Aziz menjalani kisah unik menemukan cintanya pada seorang perempuan hampir fanatik yang selalu sakit-sakitan bernama Naseem Ghani, anak seorang tuan tanah Khasmiri. Dokter Aziz, diminta untuk mengobati Naseem, tetapi perempuan itu tak boleh dipandangi atau disentuh. ‘Seprei bolong’ lalu dijadikan strategi, tabir yang membatasi antara pasien dengan sang dokter. Di bagian mana dari tubuh si pasien yang sakit, ke arah bagian itulah bolongan seprei ditujukan. Hingga dokter dan pasiennya saling jatuh cinta. Mereka lalu menikah dan pindah ke kota suci Amritsar. Di titik inilah sejarah baru sebuah keluarga dimulai.

Pasangan itu, seiring perjalanan waktu, melahirkan bebarapa orang anak. Salah seorang dari mereka, Amina Sinai, setelah menjadi gadis besar, menikah dengan seorang pedagang kulit yang tinggal di Bombay, Ahmed Sinai. Dari pasangan inilah Saleem Sinai (si pusat cerita), lahir. Tetapi tunggu, Saleem Sinai sebenarnya bukan anak kandung dari pasangan itu. Mary Pereira, pembantu keluarga itu, melakukan dosa abadinya dengan menukar nama pada keranda bayi di rumah sakit. Saleem Sinai, Anak Tengah Malam, lahir tepat tengah malam di hari India memproklamirkan kemerdekaan. Dia mendapat ucapan selamat dari Nehru, Bapak Bangsa India. Dan seperti semua anak India yang lahir tengah malam di hari kemerdekaan itu, Saleem dianugrahi keajaiban: khusus untuk Saleem, ia bisa membaca pikiran manusia, menelurusi lorong-lorong tersembunyi yang tersimpan di otak manusia; ia memiliki kemampuan telepati lewat hidungnya yang penuh ingus, seperti Samson yang kuat karena bulu di kepalanya. Dan di kemudian hari, ketika hidung beringusnya telah disembuhkan, kemampuan itu pun lenyap, tetapi digantikan oleh kemampuan mengendus tiada tara.

Pada diri Saleem Sinai inilah cerita dalam novel ini memusar dan membentuk jejaring. Sejak kelahiran Saleem Sinan, kisah-kisah ‘ajaib’ meletus bagai kembang api menyertai perjalanan usianya. Bagaimana dia memaknai dirinya sebagai anak tengah malam, terlibat kisah cinta-anak-anak dengan Evie Burns seorang anak Amerika, belajar bersepeda dan menabrak kerumunan ‘demontrasi bahasa’, dan di usia mendekati sebelas tahun, rahasia bahwa dia bukan darah dan daging dari Amina Sinai terbongkar. Tetapi cinta tampaknya tak bisa memisahkan keluarga itu. Lalu di usia remaja Saleem, keluarga itu mengungsi ke Pakistan meninggalkan ayah angkatnya yang semakin dikuasai jin-jin alkoholik. Salem terlibat merencanakan kudeta militer di Pakistan, dan kembali ke India ketika ayah angkatnya hampir meninggal karena jantung yang membeku. Dan ketika usianya mendekati 16 tahun, Saleem dan keluarganya benar-benar memutuskan ‘menyeberang’ ke Pakistan untuk selama-lamanya, hidup di tengah orang-orang muslim yang sepenuhnya ‘murni’, ‘fanatik’, berbeda dengan masyarakat muslim kota asalnya (Mumbay, sebelum itu Bombay) yang ‘tak begitu patuh’. Peristiwa-peristiwa berjumpalitan dalam novel ini, melambung jauh ke awal abad ke 20, lalu ke tahun 1947 tahun kemerdekaan India, lalu ke tahun 1956 ketika Saleem Sinai berusia sepuluh tahun, lalu ke tahun 1961 ketika China dan India terlibat perang di perbatasan dan demam optimisme melanda hampir seluruh India, lalu tiba ke kehidupan Saleem Sinai masa ‘sekarang’ saat umurnya 30 tahun, saat dia menulis kisah keluarganya, ketika dia sulit membedakan dunia fiktif dan nyata, penyakit ‘burung yang tak bisa berdiri’, kehidupan keluarganya yang berantakan akibat kesuntukannya pada tulisannya….

Peristiwa yang dialami tokoh-tokoh dalam novel ini bergerak di antara peristiwa-peristiwa besar dan bersejarah; novel ini seperti betul-betul diikatkan kepada benang sejarah bangsa-bangsa: India yang tercerai oleh berbagai praktisi dan kekacauan politik tak berkesudahan, lahirnya Pakistan, Banglades, perang India-Pakistan. Dan Saleem Sinai seperti refleksi dari perjalanan hidup bangsanya: Allah orang muslim yang bersengketa dengan dewa Hindu; mitos-mitos India kuno; Anglo-Saxon merebut tanah Hindustan dari sultan-sultan Mughal yang tambun; kelahiran India dan kemerdekaannya dari Inggris; konsep Dua Negara atau ‘Negara yang Murni’ yang dicetuskan Muhamad Ali Jinnah yang kemudian melahirkan Pakistan; migrasi besar-besaran muslim India ke negara baru penyair besar Islam Muhamad Iqbal; kematian Gandi; lalu tentang danau hijau di lembah Kasmir yang indah, lalu Mumbay, lalu kota suci Amritsar, lalu Gujarat, kota-kota yang luluh-lantak oleh perang agama yang panjang. Dalam lingkaran peristiwa sejarah seperti inilah peristiwa-peristiwa dalam novel ini bergerak dan tokoh-tokohnya berada, memaknai dirinya baik sebagai Islam, Hindu, Kristen, atau seseorang (seperti Dokter Aziz) yang trauma dengan tuhan agama-agama sehingga memproklamirkan diri atheis.

Membaca novel ini, kita seakan diajak ‘menyusun’ fragmen demi fragmen hidup seseorang, seseorang lagi, dan lagi. Begitu banyak tokoh yang hadir, kadang muncul seperti sembraut benang kusut tak terselesaikan. Fragmen-fragmen itu kadang seperti minta kita susun untuk mendapatkan suatu gambaran dan makna hidup yang utuh-lengkap—atau bisa jadi tidak, cukup kita ikuti saja alir novel ini ke mana membawa. Sebagai penutup, novel ini, huh, tentang sebuah sejarah keluarga; kelahiran, kematian, maju, dan mundur orang per orang dalam sebuah keluarga besar di tengah perubahan-perubahan besar yang terjadi di sekitar mereka. Selamat membaca!

(c) Deddy Arsa

Sabtu, 23 Januari 2010

Kebesaran Hati


(Tulisan ini saya "curi" dari FB Dra. Rani Amelia, M.Phil. Beliau adalah salah seorang guru terbaik saya ketika masih kuliah S1 di FISIP Universitas Andalas Padang dan S1 SKI IAIN Padang. Lebih kurang 2 tahun, ibunda Rani Amelia "mensuply" ilmu politik kepada saya ........ dan rasanya saya seperti "Malin Kundang" karena tidak pernah lagi menemuinya hanya sekedar untuk bertutur sapa atau saling bercerita. Semoga tulisan beliau yang saya "curi" ini selalu menjadi pengingat bagi saya bahwa betapa seorang Rani Amelia merupakan dosen yang "cukup mengesankan" bagi saya, walau hanya dalam waktu yang tidak begitu lama - 1997/1998)

Salah satu tugas yang amat melelahkan di dunia ini adalah menunjukan kebenaran yang tidak dipercayai oleh orang-orang yang ingin diyakinkan. Kata-kata menjadi tidak berguna, hanya berfungsi untuk menimbun kegagalan-kegagalan. Hanya ada dua jalan untuk mengentaskan masalah ini, pertama dengan paksaan, dan kedua dengan kebesaran hati. Dalam sejarahnya kebesaran hati jauh lebih tajam untuk mengubah pendirian manusia. Pengalaman orang-orang besar bisa kita pakai untuk menarik pelajaran ini. Ketika orang-orang lebih memilih kekerasan untuk menyelesaikan persoalan kecil, Mahatma Gandhi menawarkan Ahimsa, pemecahan tanpa kekerasan, yang diyakininya akan berakhir dengan kemenangan. Gandhi memahami betul kelemahan massa India yang kehilangan hati akibat dipimpin oleh keboborokan para politisi. Tenaga mereka diperas dan terkuras oleh perselesihan para elit yang melupakan tujuan politik dari kemerdekaan, yakni kehidupan yang lebih baik. Kekerasan telah menjalar kemana-mana, tidak lagi berpusat hanya di tempat-tempat yang tidak beradab. Kekerasan menjangkau ruang-ruang keluarga, parlemen, bahkan tempat-tempat ibadah. Usulan Gandhi untuk menyelesaikan perselisihan dengan kearifan dan keagungan nilai-nilai manusia tidak dipercayai bahkan oleh Nehru, yang selalu memujanya dan bekerjasama dengannya. ” Sangat menyedihkan bahwa pada saat-saat kritis dalam sejarah kita, kita tidak dapat ... saling memahamai mengenai hal-hal penting” tulisan Gandhi kepada Nehru ( Stenley Wolpert, Mahatma Gandhi: 289) Gandhi berusaha tanpa hasil, oleh karena itu Gandhi memutuskan untuk berjalan seorang diri, meredakan gejolak dan hasrat liar orang-orang yang frustasi dan mengalami kekecewaan berat akibat ulah para politisi. Gandhi sudah meninggal ketika rakyat India menyadari kesalahan mereka. Namun tak akan India menjadi negara seperti sekarang ini kalau orang-orang yang menentangnya tidak tergugah dengan kebesaran hati Gandhi.

Bill Clinton, mantan presiden Amerika Serikat yang terpilih kembali untuk kedua kalinya di tahun 1996. Dalam periode kedua kepemimpinannya Bill Clinton menghadapi tantangan yang amat berat. Ia dituduh korup dan melakukan kejahatan moral karena perselingkuhan. Dalam pemilihan di House of Representative tanggal 19 desember 1996 telah muncul kesepakatan untuk melakukan impeachment terhadap Bill Clinton. Namun dalam sidang tingkat Senat tuduhan itu dibantah dan perjalanan kariernya sebagai presiden AS dilanjutkan. Namun sehari sebelum meninggalkan Gedung Putih Bill Clinton berpidato di depan publik dan mengaku bahwa ia telah mengkhinanati istrinya dan keluarganya, sekaligus juga rakyat Amerika Serikat. Dia mengaku telah berbohong tentang perselingkuhan tersebut. Akibat pengakuannya itu karier politiknya berakhir, namun istrinya bisa tampil dengan terhormat di panggung politik. Orang-orang tidak lagi bisa menghubungkan kejadian itu untuk menjatuhkannya. Halary dapat terus tampil dengan anggun dan partainya semakin mendapatkan kepercayaan rakyat Amerika Serikat. Dalam salah satu kampanyenya Halary mengatakan “ kalian dapat mengatakan bahwa kalian mencintai anak-anak kalian, namun tindakan nyata jauh lebih kuat dampaknya ketimbang ucapan-ucapan semata.”

Mantan presiden RI, Soeharto memutuskan untuk mundur dari jabatannya pada tanggal 21 May 1998, sebagai tindak lanjut atas krisis ekonomi dan tekanan yang kuat dari berbagai elemen masyarakat agar dirinya mundur. Saat itu perendahan derajad kepada dirinya sangat intensif dilakukan dari berbagai arah. Sampai selang beberapa tahun sesudahnya suara-suara kebencian terhadap dirinya dan keluarganya masih terdengar. Pilihannya untuk mundur dengan terhormat membuat orang-orang harus mengakui tentang kebesaran hati dan keberaniannya untuk menanggung sendiri tanggungjawab atas krisis yang terjadi di Indonesia. Nyatanya sampai beliau meninggal lawan-lawan politiknya tidak bisa memastikan Soeharto bersalah untuk semua kerusakan yang terjadi di Indonesia. Yang terdengar selanjutnya justru suara-suara yang ingin mengangkatnya menjadi pahlawan nasional. Kepemimpinan Seoharto telah digantikan oleh Habibi, orang yang sepanjang pemerintahannya dilihat sebagai bagian dari rejim Orde Baru dan sangat dekat dengan Soeharto. Karena alasan itu pula banyak yang menganggap beliau sebagai ganjalan bagi reformasi Indonesia selanjutnya. Habibi tidak kurang mengalami perendahan derajad baik dari parlemen maupun orang-orang di luar parlemen.Yang dikhawatirkan pada waktu itu adalah Habibi akan melakukan langkah-langkah strategis untuk mengembalikan kekuasaan Orde Baru dengan cara memperpanjang masa kepemimpinannya. Habibi memiliki kemampuan untuk mewujudkan hal itu. Namun beliau menjawab ketakutan itu dengan mengumumkan bahwa dirinya tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan berikutnya. Saat ini yang kita dengar tentang Habibi hanyalah suara-suara yang menghormatinya, yang mendudukannya sebagai salah satu satu putra bangsa Indonesia yang terbaik.

Dalam tahun 1999 Indonesia memiliki seorang presiden baru, seorang yang dikenal sebagai salah satu penggerak reformasi Indonesia, pejuang demokrasi dan lawan berat dari Soeharto, Abdurrahman Wahid. Beliau dipilih dengan satu alasan untuk melahirkan perdamaian diantara kubu-kubu yang konflik, yang menjurus kepada kekerasan dan perang saudara. Dengan mandat itu Gus Dur telah memberikan banyak konsensi kepada kelompok-kelompok di Papua yang menuntut pemisahan diri dan kemerdekaan. Tapi karena kebijakan-kebeijkannya pula beliau dituduh oleh DPR telah melakukan upaya yang keliru, menciptakan kekacauan di Indonesia. Gus Dur dianggap telah melenceng dari kewenagannya dengan menyatakan akan membubarkan DPR. Tanggal 23 Juli 2001 MPR memutuskan impeachment atas Gus Dur, namun Gus Dur tetap bersikeras bahwa ia adalah presiden RI yang sah. Tanpa diduga tanggal 25 Juli Gus Dur dengan kebesaran hatinya keluar dari istana kepresidenan, dan orang-orang melihat keputusan yang tidak disukainya itu sebagai jalan untuk mendamaikan kembali Indonesia. Sejak itu ia dinobatkan sebagai guru bangsa. Tak kurang orang-orang yang melengserkannya mengakui Gus Dur adalah pahlawan nasional yang patut dihormati sepanjang masa.

Itulah upah dari kebesaran hati. Kebesaran hati bukan suatu yang bisa direkayasa,. Ia datang bersama kesadaran pemiliknya tentang mana yang harus ia dahulukan disaat-saat genting. Sering kebesaran hati tidak muncul akibat rasa malu, ketakutan untuk menanggung akibat buruk, atau kekekerasn hati semata. Sesungguhnyalah kebesaran hati tidak pernah menghasilkan keburukan bagi yang memilikinya. Justru kesombongan dan kekekerasan hati itulah yang mendatangkan perendahan derajad. mecelakakan diri sendiri, merusak dan menghapus keseluruhan yang baik, yang tersisa dalam diri pemiliknya. Kebesaran hati ujian terakhir tentang kecintaan pemimpin kepada rakyat yang dipimpinnya.

(c) Ranny Amelia

Kamis, 21 Januari 2010

Inspirative Article from Kick Andy : "GHULAM"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Namanya Gulam. Tubuhnya tinggi, atletis, dengan kulit cenderung hitam. Penampilannya necis. Untuk ukuran orang Pakistan, wajahnya terbilang tampan. Dia menjemput saya dan keluarga di Heathrow Airport, London, kemudian selama dua hari menemani kami sebagai supir paruh waktu merangkap guide. Awalnya saya tidak merasa Gulam istimewa, selain perilakunya yang sangat santun. Tetapi setelah bersama-sama selama dua hari, saya baru menyadari pemikiran-pemikiran Gulam jauh lebih luas dibandingkan profesinya. Begitu pula pandangan-pandangannya tentang hidup. Gulam menikah dalam usia relatif muda, 18 tahun. Dia menikah dengan seorang gadis kulit putih berkebangsaan Inggris. Mereka bertemu ketika sang gadis berkunjung ke Pakistan untuk berlibur. Bagai dalam cerita-cerita karangan Hans Christian Andersen, mereka saling jatuh cinta hanya dalam hitungan minggu. Singkat kata, Gulam dan sang gadis Inggris itu lalu menikah. Dengan status sebagai suami seorang wanita berkewarganegaraan Inggris, berangkatlah Gulam ke negeri yang sama sekali tak terbayangkan akan menjadi negara keduanya: United Kingdom.

Setelah lima tahun menikah dan menetap di negeri Big Ben itu, Gulam memperoleh kewarganegaraan Inggris berikut seluruh hak dan kewajiban sebagai warganegara. Dalam perkawinannya, Gulam memperoleh tiga anak perempuan yang cantik-cantik, campuran Pakistan dan Inggris. Gulam terlihat bangga ketika memperlihatkan foto anak-anaknya. Gulam hanya bisa menyelesaikan pendidikannya sampai SMA. Dia mengaku kedua orangtuanya tidak mampu menyekolahkannya lebih tinggi dari itu. “Saya lahir dari keluarga miskin di Pakistan,” ungkapnya. Karena itu sama sekali tak terbayang olehnya pada suatu ketika, dalam hidupnya, dia akan tinggal di Inggris sebagai warganegara. Meninggalkan ayah dan ibunya, saudara-saudaranya, kampung halamannya, juga handai-taulannya. Termasuk kemiskinannya. Gulam mengaku dia menyadari betul dengan pendidikan yang minim dan kondisi ekonomi di negaranya, dia tidak akan ke mana-mana. “Jujur saja, saya tidak bisa membayangkan masa depan saya. Apalagi Cuma bermodal ijasah SMA,” ujarnya.

Maka, perkawinan dengan gadis Inggris dan menjadi warganegara Inggris, oleh Gulam dilihat sebagai karunia Tuhan yang harus dimaknai secara optimal. “Tidak setiap orang punya kesempatan seperti yang saya dapatkan,” ujarnya. Sempurnahkah hidup Gulam? Ternyata tidak. Ketika saya bertanya apakah dia bahagia menjadi warganegara Inggris dan menetap di luar negara asalnya, dia menggeleng. Hal yang paling membuatnya sedih adalah harus berpisah dari kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Dia juga merasa tercabut dari akar budayanya. Tidak mudah untuk mengajak serta orangtuanya ke Inggris. Selain biaya perjalanan yang mahal, juga sulitnya mendapatkan visa untuk masuk Inggris. Terlebih ketika negara itu belakangan juga terkena dampak krisis global. Banyak imigran pengangguran membuat pemerintah Inggris memperketat pengawasan terhadap masuknya pendatang asing. Terutama dari India dan Pakistan. Sementara bagi Gulam, tidak mudah pula untuk membawa istri dan anaknya pulang kampung. Ongkos pesawat yang mahal membatasi keinginannya. Selama 15 tahun hidup di Inggris, baru sekali dia membawa anak dan istrinya ke Pakistan. Berpisah dari keluarga tercinta dan tanah tumpah darahnya itulah penderitaan yang harus dipikul atas pilihannya bermigrasi ke negara Union Jack tersebut. “Tapi itulah pilihan yang harus saya ambil,” ujarnya dengan suara bergetar. Pilihan itu disadari Gulam tidak membuatnya bahagia sebagai pribadi. “Kalau disuruh memilih, saya lebih ingin hidup di negeri sendiri,” katanya. Tetapi, jika Gulam tetap menguatkan hatinya untuk menetap di Inggris, maka itu dilakukannya demi masa depan ketiga anaknya.

“Pendidikan anak-anak lebih penting dari perasaan saya,” Gulam menegaskan. Sebagai anak yang lahir dari keluarga kurang mampu dengan pendidikan yang terbatas, dia mengatakan bertekad agar kondisi tersebut tidak akan dialami oleh anak-anaknya. “Di Inggris mereka mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Adalah kewajiban saya untuk mengusahakan pendidikan terbaik bagi anak-anak saya,” ujar Gulam. Selama dua hari bersama Gulam, saya mendapatkan begitu banyak pelajaran. Terutama perjuangan seorang ayah dalam mengusahakan keadaan yang lebih baik bagi anak-anaknya. “Mereka tidak boleh mengalami nasib seperti saya,” dia menegaskan. “Saya harus memberikan pendidikan terbaik kepada mereka. Sebab keberuntungan untuk bisa keluar dari kemiskinan, seperti yang saya alami, tidak bisa diharapkan akan berulang. Kebetulan saja nasib saya berubah setelah bertemu istri dan tinggal di Inggris. Tapi saya tidak bisa berharap itu akan terjadi pula pada anak-anak saya. Mereka harus mampu keluar dari keterbatasan -- yang selama ini membelenggu hidup ayah mereka -- dengan usaha sendiri. Jangan mengharapkan keajaiban.” Maka, dengan segala konsekuensi selama tinggal dan menjadi warganegara Inggris, Gulam yang profesi sehari-harinya supir antar jemput anak-anak sekolah, memilih berkorban memendam kerinduan dan kecintaan pada tanah airnya. Termasuk kerinduan dan kecintaan pada kedua orangtua dan sanak saudaranya. Semua demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Sumber : www.kickandy.com (kutip "utuh")

Senin, 18 Januari 2010

Penjara Indonesia : Dari Inlander hingga Artalyta

Oleh : Muhammad Ilham

Masih ingat AYIN atawa Artalyta Suryani ..... ? Wanita paroh baya nan cantik ini, untuk kali kedua mengegerkan pentas hukum Indonesia. Dia masuk penjara lantaran menyuap jaksa Urip Tri Gunawan (UTG) untuk membereskan perkara BLBI Sjamsul Nursalim ...... dan dunia hukum Indonesia geger se-geger gegernya. UTG kemudian "dihadiahi" 20 tahun penjara, Ayin mendapat "jatah" (hanya) 5 tahun penjara. Institusi kejaksaan RI-pun tertampar keras. Untuk kali kedua, Ayin kembali membuat heboh dunia hukum Indonesia. Kalau yang pertama menampar institusi kejaksaan, maka kali ini, Ayin "menampar" institusi Departemen Hukum dan HAM, khususnya Direktorat Lembaga Pemasyarakatan. Walaupun Ayin dihukum dalam penjara, rupanya "wanita markus jago lobi" ini hanya berpindah "hotel". Kamar tahanannya (sangat) mewah untuk ukuran sebuah penjara ideal. Berpenyejuk udara, dindingnya berlapis wallpaper bunga-bunga. Ada ruang karaoke dengan kursi empuk. Penguasaha wanita ini mendapatkan mewah, di atas meja tergeletak telepon genggam. Ada pula kulkas berisi sayuran. Temuan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum tentang fasilitas mewah bagi napi tertentu di penjara, menyodorkan fakta bahwa penjara tak lepas dari praktik korupsi. Ditemukan, fasilitas khusus bagi napi berduit.

Fasilitas mewah yang dinikmati oleh segelintir orang membuktikan adanya diskriminasi yang tidak hanya melibatkan narapidana dan sipir. Ia bukan sekadar hasil sebuah upaya dua atau tiga orang. Ia melibatkan pemihakan dan kehendak dari yang punya kuasa baik modal maupun jabatan. Fasilitas "surga" bukan hal yang haram. Bahkan penghargaan terhadap para narapidana sejatinya perlu diperbaiki. Namun, bagaimana dan di mana fasilitas itu harus digunakan, inilah yang sering diabaikan oleh pemangku otoritas (kekuasaan) terkait. Kekuasaan pada dasarnya untuk mendisiplinkan. Begitu pun rutan. Ia merupakan wujud kontrol kekuasaan untuk "mendisiplinkan" penghuninya yang dianggap menyimpang. Proses pendisiplinan ini akan efektif bila ada pengawasan total yang digambarkan Michel Foucault (1977) seperti tahanan Panopticon. Sebuah desain tahanan Jeremy Bentham (1785) yang dibuat sedemikian rupa agar pengawasan berlangsung setiap saat tanpa sang penghuninya merasa diawasi. Dengan demikian, mekanisme dan aturan main bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Praktek "tidak beres" dalam sejarah penjara (baca: lembaga pemasyarakatan) di Indonesia nampaknya sudah berlangsung lama. Penjara di Indonesia sudah mulai berdiri sejak 1905-1921, yaitu sejak munculnya upaya memusatkan penempatan para terpidana kerja paksa yang tersebar di mana-mana di dalam pusat-pusat penampungan wilayah (Gewestelijke Centralen). Penjajah Belanda menerapkan kebijakan ini bukanlah karena bermurah hati, melainkan untuk menekan angka pelarian narapidana. Salah satu Gewestelijke Centralen itu adalah Penjara Cipinang. Adapun Nusakambangan, difungsikan sebagai tempat terpidana kerja paksa. Saat itu tercatat ada 331 tempat penampungan tahanan, termasuk 106 tempat di Jawa dan Madura. Kondisi seperti ini bertahan hingga penjara sentral berubah status menjadi strafgevangenissen yaitu penjara-penjara pelaksana pidana, pada 1920.

Tetapi, kondisi yang tercermin di Salemba yang menjejal tahanan sampai 25 orang per sel itu sudah terjadi dalam periode Gewestelijke Centralen. Pada tahun itu, ada 37.109 tahanan yang menghuni penjara di Jawa dan Madura, di luar Jawa dan Madura mencapai 19.897 orang. Penjara juga sudah sesak di mana-mana. Kondisi ini hanya untuk inlander atau warga pribumi. Dalam sistem inilah mulai muncul jagoan di penjara, dan juga homoseksual. Bahkan gejala, penjara adalah tempat berguru untuk menjadi penjahat tangguh juga sudah mulai berlangsung. Tetapi itu tak terjadi dengan narapidana berkebangsaan Eropa. Sebab bagi mereka disediakan kamar perorangan, paling banyak untuk lima orang. Masuk periode Jepang, kantor pusat kepenjaraan di Jakarta disebut Gyokeyka, yang dikepalai oleh orang Jepang (gyokey kacho). Sedangkan di daerah karesidenan dipimpin seorang Jepang yang disebut Tosei Keimukantotukan. Pada masa ini perlakuan terpidana sangat buruk. Banyak narapidana tewas. Di Cipinang, para terpidana dikerahkan sebagai romusha, untuk pembuatan kapal-kapal atau sekoci pendarat dari kayu jati untuk kepentingan perang, dan bahkan alat-alat kedokteran, seperti stetoskop. Pada tahun 1944, rata-rata, dalam satu hari 25 orang terpidana tewas di rumah penjara Cipinang. Sejak 17 Agustus 1945, penjara masuk periode zaman kemerdekaan. Istilah pemasyarakatan menggantikan kepenjaraan sejak 27 April 1964. Konsep ini digagas Menteri Kehakiman Saharjo. Tugas lembaga pemasyarakatan bukan hanya melaksanakan hukuman, namun juga mengembalikan orang-orang yang dijatuhi pidana ke dalam masyarakat.

Sayangnya cita-cita Saharjo hingga kini belum terlihat hasilnya. Bahkan kondisi lembaga pemasyarakat boleh dikatakan kembali lagi ke zaman penjajahan. “Bahkan lebih tidak manusiawi,” kata Patrialis Akbar. Sebagian sipir penjara, malah memanfaatkan kondisi itu untuk memeras para tahanan. Terjadilah perbedaan pelayanan untuk tahanan. Tahanan kaya akan mendapat fasilitas berlebihan, sebaliknya yang miskin akan bernasib apes. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) juga pernah menyoroti perlakuan negara terhadap para tahanan di penjara Indonesia. Pengacara hak asasi manusia sekaligus pelapor khusus PBB bidang penyiksaan dan perlakuan tak manusiawi, Manfred Nowak melaporkan adanya perlakuan tak wajar.Tak hanya kurang mendapatkan makanan dan obat-obatan, tahanan dipaksa membayar 'uang harian' untuk akomodasi yang mereka terima di dalam penjara, begitu bunyi laporan Nowak. Penyiksaan jasmani sering digunakan di dalam penjara untuk mendisiplinkan para tahanan. Semoga Penjara Indonesia menjadi "benar-benar" Lembaga Pemasyarakatan ...... karena untu memasyarakatkan para narapidana tersebut harus dimulai dari prinsip egaliterianisme, non-diskriminatif dan non-kolutif. Karena kondisi inilah menjadi pra-syarat "memanusiakan" manusia.

Referensi : vivanews.com

Sabtu, 26 Desember 2009

Dari kasus si-Luna Maya dan Infotainment

Oleh : Muhammad Ilham

Kemaren, satu hari sebelum hari ini, istri saya minta “wejangan”. “Bang, saya nggak mau lagi menulis di-Blog atau Facebook !”. “Mengapa”, kata saya. “Saya takut, salah-salah nanti, saya bisa diadukan oleh seseorang, entah siapapun orang-nya”. “Memangnya kenapa?”, tanya saya heran. “Belakangan ini saya tak bebas untuk mengekspresikan pendapat saya di Blog atau Facebook, saya takut seperti si-Luna Maya dan Prita”, katanya kembali. Saya ketawa, dan sambil berseloroh berkata, “Yaa udah, kamu tulis yang lebih bombastis dan controversial di Blog kamu, nanti ada yang merasa tersinggung, lalu melapor ke Polisi dengan delik aduan Pencemaran Nama Baik yang didasarkan pada UU ITE keramat itu”. “Lalu ?”. “Kamu kan nanti terkenal, menjadi headline di berbagai media massa, untung-untung ada yang kumpulkan KOIN kayak kasus Prita”, cetus saya sambil makan Langsat di teras rumah. “Ngacoooooo !”, katanya sambil mencubit bagian pinggang saya (sebuah kebiasaan baru, meniru “kesengsaraan” Kario yang dicubit istrinya pada bagian pinggang dalam “Istri-Istri Takut Suami”). Istri saya sudah mulai takut. Kasus si-Luna Maya dan Prita serta ”ancaman” UU ITE seakan-akan menghambat kreatifitasnya dan apresiasinya terhadap Blog dan Facebook/Twitter. Padahal ia baru gandrung beberapa bulan belakangan ini.

Tidak cuma skandal Century atau penangkapan mertua gembong teroris Indonesia, Bahruddin Latif @ Baridin yang membuat haru biru suasana ujung tahun kali ini. Artis Luna Maya pun menghiasi perbincangan publik. Pacar Ariel Peterpan (info ini saya dapatkan dari infotainment) sedang menyulut kemarahan kelompok wartawan infotainment, publik juga mulai menjuluki mereka wartawan gossip. (Sekali lagi …. berdasarkan berita yang saya dapatkan dari infotainment) konon, si-Luna Maya ini kesal dengan ketidaknyamanan karena selalu dikejar-kejar wartawan infotainment sehingga kepala anak pacarnya kena kamera wartawan, dan Luna-pun meluapkan kejengkelan dalam akun Twitter pribadinya dengan “sumpah paling serapah”. Wartawan infotainment ia kategorikan lebih rendah daripada pelacur sehingga hanya pantas ditenggelamkan ke dasar neraka. Rupanya kejengkelan Luna Maya nampaknya sudah sampai ke ubun-ubun. Karena tidak suka dijuluki pelacur, kelompok wartawan infotainment melaporkan Luna Maya ke polisi.

Mereka menuduh Luna telah mencemarkan nama baik. Pijakan yuridis adalah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena Luna mencemarkan nama baik melalui Twitter, medium di dunia maya. Mereka membidik Luna dengan pasal 27 ayat 3 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Bahkan dilapis lagi dengan pasal 310, 311 dan 315 Kita Undang-undang Hukum Pidana. Inilah undang-undang yang tergolong kejam. Pencemaran nama baik menurut versi undang-undang ini diancam hukuman enam tahun penjara. Prita Mulyasari yang sempat ditahan dan divonis denda ratusan juta karena menulis keluhannya terhadap pelayanan sebuah rumah sakit swasta adalah salah satu contoh. Luna Maya kini terancam mengalami nasib sama dengan Prita. Publik cenderung membela Prita. Hal serupa juga terjadi pada Luna Maya. Pembelaan publik melalui Facebook di dunia maya pun meluas untuk Luna Maya. Belakangan kelompok wartawan melunak dengan hanya menuntut dialog dengan Luna Maya. Sebelumnya mereka ngotot agar Luna minta maaf terbuka. Tapi Luna tidak melunak. Dia enggan bertemu dan minta maaf terbuka. Soal maaf dia sudah menyampaikan melalui akun Twitter-nya. Banyak perkara yang muncul dari kasus Luna Maya dan sebelumnya Prita.

PWI mendukung upaya pekerja infotainment itu. Pada Hari Pers Nasional 2005, organisasi itu secara resmi mengakui infotaintmen sebagai wartawan. Tapi, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyesalkan tindakan PWI melaporkan Luna ke polisi. Apalagi, karena laporan itu, Luna dijerat dengan pasal pencemaran nama baik di UU ITE. Luna Maya sendiri secara resmi sudah meminta AJI memfasilitasinya dalam perkara ini. Bahkan, Luna juga meminta perlindungan dari LBH Pers. Pengaduan itu, membuka peluang Luna diseret ke pengadilan seperti halnya kasus Prita Mulyasari, ibu dua anak yang digugat RS Omni, Tangerang. Tak hanya AJI, kalangan blogger juga mengecam tindakan PWI yang membenturkan Luna Maya dengan undang-undang ITE itu. “Ini ironi. Sebab, banyak jurnalis memperjuangkan penghapusan pasal itu. Ada ancaman represif dalam masalah itu," kata tokoh blogger Enda Nasution.

Yang paling mendasar adalah apakah medium e-mail dan sejenisnya adalah sarana penyiaran publik sehingga pihak-pihak yang merasa dirugikan menggunakan UU ITE untuk membela nama baiknya yang dicemarkan? Yang lain adalah dunia jurnalistik kita lalai untuk memastikan apakah wartawan infotainment adalah jurnalis yang terikat pada standar kompetensi dan etika profesi?. Pencemaran nama baik adalah premis yang tidak disukai dunia kewartawanan. Karena itu, adalah sangat lucu ketika wartawan menggugat seorang Luna Maya yang mengekspresikan kebebasan berpikir dan berkata melalui teks di dunia maya.

Minggu, 13 Desember 2009

Kontroversi Patung Obama : "Budaya Rendah Diri"

Oleh : Muhammad Ilham

Inilah bentuk paling “telanjang” dari inferioritas sebagian kalangan masyarakat Indonesia. Entah ide siapa, pembuatan patung “Blackberry” menuai kontroversial. Patung Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama yang berada di Taman Menteng (konon pemilihan tempat ini dilatarbelakangi klaim Obama yang mengangap dirinya Anak Menteng) mulai mendapat kecaman dari masyarakat. Melalu situs jejaring sosial Facebook, per tanggal 13 Desember 2009, mereka yang mendukung untuk menurunkan patung Obama telah mencapai 965 orang. Penggagas grup “Anti Patung Obama” bernama Heru Nugroho mengatakan, visi dan misi pembangunan patung Barack Obama dianggap tidak jelas dan tidak memiliki manfaat bagi masyarakat.. Sebagaimana yang dilansir oleh detik.com, Heru mengatakan bahwa Barack Obama memang pernah menjalani masa kecil di sebuah rumah di Menteng, Jakarta Pusat. Tapi dia bukan siapa-siapa bagi sejarah bangsa Indonesia.

Jujur kita katakan, tidak ada kontribusi yang penting dari Obama untuk bangsa Indonesia, apalagi khususnya bagi masyarakat Jakarta, dimana patung Obama didirikan. Untuk konteks Jakarta, masih banyak pahlawan bangsa ini yang lebih inspiratif dan dianggap layak mendapatkan penghargaan, seperti Ali Sadikin dan sejumlah tokoh kebudayaan seperti Benyamin S. Sementara saat peresmian patung senilai Rp 100 juta pada Kamis 10 Desembar 2009 lalu itu, Walikota Jakarta Pusat, Silviana Murni mengatakan, Obama dapat menjadi inspirasi yang baik bagi pemuda (pemuda siapa ? ...... Hicks). Patung Obama ini dibuat berdasarkan foto tokoh itu semasa kecil yang sedang bermain kupu-kupu. Patung ini terbuat dari bahan perunggu dengan tinggi dua meter dan berada di tegah-tangah taman dengan berat 30 kilogram. Perancangnya adalah Edi Chaniago, seorang seniman patung Ancol. Pembangunan patung ini sendiri digagas oleh lembaga Friends of Obama. Obama kecil dalam patung itu terlihat mengunakan sepatu, celana pendek, kaos dan sedang asik bermainan dengan kupu-kupu. Pada bagian bahan patung tertuliskan "Si kecil bermain bersama ibunya di daerah Menteng ini. Dia tumbuh dewasa dan menjadi Presiden Amerika Serikat ke 44 dan penerima Nobel Perdamaian. -Barack Obama- Dalam peresmian itu, hadir perwakilan dari Duta Besar Amerika Serikat dan sejumlah tokoh yang menjadi donatur dalam pembuatan patung ini, seperti Mien R Uno, Hasyim Joyo Hadikusumo dan Surya Paloh. Hadir pula ratusan siswa dan guru SDN Menteng 01, Besuki, dan teman-teman semasa kecil Obama.

Tapi sudahlah ............ saya masih ingat kata salah seorang teman saya, ”sampai hari ini, saya sulit mencerna dengan logika waras saya, sejauhmana kontribusi Obama buat perdamaian dunia, setahu saya ia hanya ”muda sedikit” dari George W. Bush pada rasa haus terhadap perang. Pembiaran Obama terhadap pencaplokan Masjidil Al-Aqsa dan pengiriman tambahan pasukan perang ke Afghanistan justru membuat logika saya terbalik ketika dihadapkan pada kenyataan : ”mengapa Obama menang Hadiah Nobel Perdamaian ?”, kata teman saya yang pada awalnya fans berat Obama ini. Nah ketika saya menyodorkan realitas ”tambahan” peresmian patung Obama di Jakarta tersebut, teman saya ini menjawab dengan ketus, ”mengapa tak sekalian buat patung Madonna atau Michael Jackson, kapan perlu logo Play Boy sekalian”.

Insert : Foto Patung Obama (www.detik.com)

Jumat, 17 Juli 2009

Jakarta "Meledak" Lagi

Narasi : Muhammad Ilham
Foto : Posted www.kombes.com

"Jakarta meledak lagi", demikian penggalan nyanyian Kaka "Slank" yang menjadi musik pengiring Breaking News Metro TV. J.W. Marriot dan Ritz Carlton pun menjadi pusat perhatian dunia. Jum'at, pukul 06.46 dan 06.48 menjadi waktu "keramat" yang membuat Indonesia kembali kehilangan kepercayaan dunia. Terorisme Thopian (pengikut Noordin M. Thop), menjadi kesimpulan awal dan terkuat dalam menyimpulkan subjek pelaku dibalik peristiwa ini. Walaupun pernyataan Presiden SBY dan kemudian diperkuat oleh "ompung" Syamsir Siregar (Kepala Badan Intelijen Negara) yang tidak menunjuk kelompok tertentu (baik agama ataupun partai politik), namun nuansa "Islam garis keras" sebagai subjek pelaku sudah menjadi opini yang terbentuk, mulai dari pendapat para pengamat yang "samar-samar" maupun diskusi "kelas" kedai kopi di pelosok negeri. Genderang perang dengan mantra "persumpahan SBY" hari Jum'at lalu, nampaknya memberikan kepada kita sebuah kenyataan bahwa peristiwa tersebut sungguh sangat menyakitkan bagi kita. Proses membangun kepercayaan internasional akhirnya terkesan hampa-tak bermakna.