Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Maret 2010

Hitler : "Pemusnahan Musuh itu Sampai Tuntas"

Oleh : Muhammad Ilham

"Yahudi dan Negro dilarang mampir" (Penggalan Billboard dalam film Life is Beatiful)

"Hitler memang belum mati", demikian celetukan seorang teman saya. Sehabis saya memberi ceramah Maulid Nabi Muhammad di Musholla komplek Perumahan tempat saya tinggal, entah kenapa saya ingin kembali memutar film Life is beautiful yang beberapa tahun dulu diberikan oleh salah seorang teman karib (tepatnya : senior) saya, Saudara Abel Tasman yang sekarang telah menjadi "orang gede", jadi anggota DPRD Propinsi Sumatera Barat dari Gerinda, Partainya Mantan Menantu Mantan Presiden RI. Film Life is Beautiful yang dalam bahasa Italianya, La Vita e Bella, ini kembali mengingatkan saya pada materi ceramah Maulid Nabi yang barusan saya berikan. Tentang, bagaimana dalam sejarah panjang ummat manusia .... pasti ada komunitas yang "dipinggirkan" dan ada satu dua orang tokoh yang berperan sebagai pemusnah atau yang ingin memusnahkan komunitas itu.Komunitas disini mungkin kumpulan orang, mungkin juga seperangkat ideologi/aliran/ajaran normatif agama.

Setiba di rumah, saya nikmati film yg dibintangi oleh Roberto Benigni ini. Saya agak menjauh dari ruang tengah, tempat anak saya sedang belajar Iqra' bareng istri saya. Saya nikmati lamat-lamat untuk kesekian kalinya film yang mendapat penghargaan di Cannes Film Festival & juga Oscar. Film ini diambil dari kisah nyata dengan setting penceritaan gerakan anti Yahudi yg dilancarkan Nazi. Guido Orefice dan putranya Joshua termasuk diantara mereka yg dibawa ke kamp konsentrasi. Guido ingin putranya memandang hidup dengan cara terindah walau apapun situasinya. Guido menunjukkan kepada anaknya bahwa hidup ini indah tergantung bagaimana kita memandangnya. Kehidupan dalam kamp yang mengerikan dan menyedihkan terasa menyenangkan bagi Joshua karena hal itu tidak lebih dari pada permainan. Sungguh, sebuah kisah menyedihkan ditengah "teror" yang bernama Nazi dengan penjaga ruh-nya bernama Hitler. Film ini menggambarkan bagaimana sebuah komunitas (dalam hal ini Yahudi) menjadi korban dari "ganasnya" ideologi Fasisme dan Rasisme-Ultra. Guido dan anaknya bukan siapa-siapa, tapi bagi Hitler, mereka "salah memilih takdir" ..... mereka berasal dari ras Yahudi. Dan untuk .... sebagaimana halnya doktrin Fasisme diatas, "mereka pantas dan sudah seharusnya dimusnahkan", karena pemusnahan itu harus sampai tuntas.

Film ini, sama juga halnya dengan film-film lainnya seumpama Schlinder List kembali memperlihatkan kepada sejarah tentang peran besar dari seorang orator ulung, pribadi menakutkan sekaligus menarik, Hitler. Hitler, lengkapnya Adolf Hitler, lahir di Branau Austria tahun 1889. Waktu Perang Dunia I (1914-1918), Hitler muda masuk Angkatan Perang Jerman. Kekalahan Jerman membuatnya terpukul. Tahun 1999, ia bergabung dengan partai kecil berhaluan kanan di Munich dan kemudian partai ini merubah namanya menjadi Partai Buruh Nasionalis Jerman (NAZI). Dalam tempo dua tahun ia kemudian menjadi pemimpin Jerman yang sungguh sulit mencari tandingannya kala itu. Julukan "Fuehrer" setidaknya memperlihatkan kedigdayaan Hitler ini. Setelah gagal melakukan kudeta yang dikenal dengan The Munich Beer Hall Puts dan melalui lika-liku politik yang dinamis, akhirnya pada bulan Januari 1933, Hitler dalam usia 44 tahun, ia menjadi Kanselir Jerman. Dan kemudian, mulailah Hitler menjalankan keyakinan politik kepemimpinanya, bahwa "matahari" tak boleh dua serta musuh harus dimusnahkan sampai tuntas. Oposisi dilabraknya tanpa proses pengadilan. Musuh politiknya "dihabisi", dan ia kemudian mampu menciptakan kestabilan politik karena ditangannya terpegang kekuatan kediktatoran absolut. Dan rakyat Jerman kala itu mendukung karena kestabilan politik ini berkorelasi dengan kestabilan dan peningkatan ekonomi yang dirasakan rakyat Jerman kala itu.

Nafsu "de Fuehrer"nya rasa tak terbendung. Tahun 1936 ia mencaplok Austria, dan ini berarti Hitler mengangkangi Perjanjian Versailles. Tapi Hitler tak bergeming. Ini diperlihatkannya dengan pencaplokan negaralain, Cekoslovakia. Tahun 1940 menjadi tahun "emas" Hitler. Denmark dan Luxemburk dilabraknya. Belanda, Perancis dan Belgia bertekuk lutut tahun ini juga. Sebuah prestasi yang mengejutkan dan membuat banyak orang kala itu terhenyak. Negara-negara utama di Eropa masa itu berada dalam genggaman Hitler. Hanya Inggris yang mampu bertahan mati-matian terhadap serangan udara Jerman yang dikenal dengan sebutan Battle Britain. Hitler tak sanggup menjejakkan kakinya di Ingggris. Tahun 1942, Hitler telah berhasil menguasai sebagian daerah Eropa tanpa pernah sanggup dilakukan oleh siapapun dalam sejarah. Menariknya, selain Eropa, Hitler juga mencaplok Afrika Utara.

Selama berkuasa, Hitler terlibat dalam pembunuhan massal yang tak ada tandingannya dalam sejarah ummat manusia .... mungkin hanya Kaisar Nero yang bisa mendekati keberingasan putra seorang petani Austria ini. Hitler sangat rasialis yang ultra, khususnya terhadap kaum Yahudi yang dibencinya dengan kebencian yang meletup-letup. Dalam awal film Schlinder List terlihat nyata bagaimana kebencian ini diselipkan menjadi sebuah bagian ideologi : "kehancuran ekonomi Jerman, dan orang yang bertanggung jawab terhadap kelaparan orang Jerman adalah orang Yahudi. Mereka merampas peluang kerja kita. Sebagai bangsa Aria, ras paling pilihan di muka bumi ini, tentunya kita tidak mau dihina oleh ras paling rendah dan telah membuat kita menderita, ras bangsa Yahudi". Untuk memenuhi ambisi kebenciannya ini, maka dibuatlaj kamp-kamp konsentrasi sebagaimana yang terlihat dalam dua film di atas. Sejarah kemudian mencatat, lebih kurang enam juta orang dibunuh, mayoritas Yahudi selain Rusia, Gypsi dan Ras-Ras yang dianggapnya sebagai ras rendah serta orang-orang yang dianggapnya berpotensi merusak "peradaban ummat manusia" seperti orang gila dan idiot. Hitler membangun kamp-kamp maut itu dengan organisasi yang cukup rapi dan cermat seakan-akan ia sedang merancang sebuah perusahaan bisnis besar. Data-data tersusun rapi, jumlah ditetapkan dan mayat-mayat secara sistematis dipreteli anggota badannya yang berharga seperti cincin ataupun gigi emas. Bahkan banyak mayat yang dimanfaatkan untuk pabrik sabun.

Namun, sebagaimana hikmah asali Maulid Nabi Muhammad yang saya sampaikan di Musholla samping rumah saya, bahwa perbuatan melawan hakikat kemanusiaan dan kebenaran yang tersusun dengan baik dan sistematis serta didukung oleh mayoritas orang, pada gilirannya akan menemui kehancuran. Sejarah mencatat, Fir'aun yang kuat hancur lebur di lautan merah. Dan Hitler, pada musim semi tahun 1945, bersama dengan Eva Braun, pacarnya, bunuh diri dalam kamp pertahanan mereka di Berlin. Tujuh hari kemudian, Jerman-pun menyerah. Dan ..... hingga hari ini kebencian seorang Hitler masih tetap banyak terjaga di benak kita semua, orang-orang disekeliling kita. Kita terkadang mengutuk seseorang karena "takdir" mereka harus dikutuk. Terkadang kita juga tidak bisa membedakan mana YAHUDI, mana ZIONIS (ME) dan mana Bani ISRAEL. Hitler masih "hidup". Wallahu 'alam !

Sabtu, 21 November 2009

Dari Film "KIAMAT 2012"

Oleh : Muhammad Ilham

Hingga tulisan ini diposting, saya belum pernah menonton film ”2012” secara utuh. Film yang telah diharamkan Majelis Ulama Indonesia (?) ini, menjadi perbincangan hangat. Inilah satu-satunya film yang belakangan ini menarik minat dan analisis dari hampir seluruh masyarakat dari berbagai strata sosial. Anak muda yang biasanya suka bicara film-film melankolik-platonik, sudah ”riuh-rendah” mengagumi film besutan Roland Emmerich, sutradara berdarah Jerman ini, tanpa mau terikat dan dipusingkan oleh pertimbangan-pertimbangan teologis. Kalangan intelektual-pun mulai ”terbelah” antara kekaguman kreasi anak manusia dengan kekhawatiran akan gugatan norma teologis. Tapi sudahlah, bagi saya bukan zamannya untuk haram-haraman.

Bagi saya, itu adalah tantangan. Kehadiran film 2012 adalah sebuah Sunatullah yang harus direspon dengan baik oleh ”kita” yang mengaku orang muslim. Memvonis bahwa film 2012 meracuni dan menggugat sendi aqidah, justru bisa menjadi counter-produktif. Orang justru akan makin penasaran dengan film tersebut. Buktinya, ketika MUI mengomentari film 2012 dengan wacana ”haram”, justru pada pemutaran perdananya, penonton tak hanya antre di gedung bioskop. Mereka rela menunggu giliran mendapatkan tiketnya. Hampir semua gedung bioskop di Jakarta yang memutar film ini panen penonton. "Pemberitahuan. Tiket Pertunjukan Flm 2012 untuk Hari Ini Sudah Habis,” begitu bunyi pengumuman di loket XXI Djakarta Theatre, Jalan M.H. Thamrin, Jarta Pusat (seperti yang dilansir oleh RCTI). Tak hanya di Indonesia, bahkan di belahan dunia lain pun Film Kiamat 2012 yang dibintangi John Cussack ini menyihir banyak orang. Film itu mengantongi pendapatan sebesar USD 225 juta dari penjualan tiket di seluruh dunia. Angka itu, menurut Contactmusic, Senin 16 November 2009, sudah melebihi biaya produksinya yang USD 200 juta.

”Gempa maha hebat mengoyak kulit bumi. Jembatan putus, jalan terbalik. Gedung-gedung pencakar langit runtuh bak istana pasir. Dari perut taman Yellowstone, Wyoming, Amerika, muncrat jutaan kubik lahar berterbangan seperti bola api. Gelombang laut ganas menggulung daratan hingga ke Himalaya. Gunung-gunung merapi meletus. Bumi yang sudah berusia 4 miliar tahun ini pun tergambar bak rongsokan. Kiamat !!”. Film ini sebenarnya mencoba melahirkan kiamat menurut ramalan Suku Maya yang kalendernya berakhir pada 2012. Menjadi heboh karena bertepatan dengan badai matahari yang ditaksir terjadi pada tahun yang sama. Sejumlah ramalan lain juga dicocok-cocokkan agar sejalan dengan tahun ini. Sebelum film ini muncul, publik sebetulnya telah heboh oleh buku pengetahuan populer berjudul Investigasi Akhir Zaman 2012, karya Lawrence E. Joseph. Dia Ketua Dewan Direksi Aerospace Consulting Corporation, New Mexico, Amerika Serikat. Pada bukunya, terjalin unsur ramalan Suku Maya itu dengan pelbagai penelitian ilmiah soal astronomi. Diantaranya, cocok pula dengan perkiraan badai matahari dan sejumlah bencana yang telah terjadi di bumi. Meski terkesan agak ragu, dia meramalkan akan terjadi bencana besar yang meluluhlantakkan bumi pada 2012.

Alkisah, sekitar tahun 250-925 M, hiduplah Suku Maya, di sepanjang pantai utara Semenanjung Yucatan, Meksiko. Mereka terkenal cerdas. Ilmu astronominya kompleks dan akurat. Semua itu terlihat dalam 20 bentuk kalendernya. Lawrance dalam bukunya itu menyebutkan kalender bangsa Maya ini mencatat pergerakan matahari, bulan, planet, masa panen, siklus kehamilan wanita, hingga siklus serangga. Dan jangka waktunya, dari 260 hari hingga 5.200 tahun lebih. Misalnya, kalender 260 hari ini mewakili kehamilan wanita dan juga jumlah hari planet Venus terbit pada pagi hari setiap tahunnya. Sedangkan 5.200 tahun adalah kalender panjang suku Maya. Periode ini disebut satu matahari, tahun surya. Perhitungan satu tahun di suku Maya hanyalah 360 hari, sisanya dianggap di luar waktu. Jadi satu tahun surya, adalah 5.125 tahun. Pergantian tahun matahari inilah yang dianggap akhir zaman. Menurut perhitungan suku Maya, sekarang ini adalah masuk tahun keempat matahari. Jadi mereka sudah melewati tiga tahun matahari. Mengawali tahun matahari dianggap sebagai kelahiran, jadi ada darah dan penderitaan. Tahun keempat matahari ini dimulai sejak 0.0.0.1 (13 Agustus 3114 sebelum masehi). Artinya masa matahari ini hanya bersisa tiga tahun lagi. Bangsa Maya menuliskan 13.0.0.0 (21 Desember 2012). Di akhir tahun matahari, suku Maya percaya, sebagai hari berakhirnya peradaban umat manusia.

Dua penganut agama besar di dunia seperti Islam dan Kristen tak berani membenarkan jadwal kiamat itu. Bahwa di akhir zaman nanti alam semesta hancur, mereka tak membantahnya. Menurut ajaran Islam, soal kiamat berpedoman kepada Al-Quran, dan hadis Rasulullah SAW. “Al-Quran menyebutkan, kiamat adalah ilmu dan ketentuan Allah, tak satupun manusia mengetahuinya, bahkan termasuk Rasulullah dan malaikat.” kata Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Aminudin Yakub. “ Umat Kristen juga percaya dengan kiamat. Menurut Pastur Setyo Wiboyo, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, dalam perspektif Kristiani sudah jelas bahwa Yesus mengatakan tidak ada satu orangpun yang tahu mengenai kapan dan bagaimana kiamat itu. “Malaikat juga tidak tahu, putra atau Yesus sendiri juga tidak tahu. Jadi yang tahu hanya Allah Bapa,” katanya. Tapi sudahlah ............. alangkah lebih baiknya, film di-counter dengan film sejenis atau diskusi yang lebih akademik dengan bungkusan teologis. Kehadiran ”film” Rambo dan sejenisnya, setidaknya bisa memberi pelajaran bagi kita. Terlepas film Rambo merupakan salah satu bentuk justifikasi paling vulgar dari kekalahan Amerika Serikat dari Vietnam, namun film Rambo dan sejenisnya mampu mempengaruhi opini masyarakat (setidaknya : yang menonton), bahwa Amerika Serikat tetap unggul. Hicks.

Insert : Bilboard Film 2012 dan Kalender Suku Maya (Foto : www.okezone.com)

Selasa, 24 Maret 2009

Dari Film Sejarah "Deacon of Death" : Potret Kejam Ambisi Demi Ideologi

Oleh : Muhammad Ilham

Ada kengerian luar biasa ketika kita menonton film sejarah “Deacon of Death”. Dengan mengambil setting Kamboja tahun 1975-1979, kita diajak ke ranah “peradaban paling barbar”. Pol Pot, tepatnya Rezim Pol Pot, menjadi aktor utama dari catatan paling hitam sejarah peradaban ummat manusia. Siapa yang tak kenal Pol Pot ? Sarjana Sosiologi tamatan Sorbonne Universiti Perancis ini, pulang ke negaranya setelah belajar Marxis di negeri “Eifell”. Ia pulang dengan membawa imaginasi “negara tanpa kelas”. Idenya mendapat persemaian yang baik dengan bergabungnya beberapa teman-teman se ideologi, salah satunya Heng Samrin dan Khieu Samphan…. Dan negara teror mereka mulai ciptakan. Pol Pot, wajah innocent, namun “sejarah” mencapnya sebagai manusia “vampire” yang tak satupun teori tentang etika-moral bisa menjelaskan moralitasnya. Teror, kekejaman, pembantaian, air mata dan darah menjadi instrumen yang digunakan Pol Pot “atas nama” negara yang di-imaginasikannya. Teror itulah yang tergambar dalam Film sejarah besutan Jan van de Berg.

Film Deacon of Death kembali menghadapkan masyarakat Kamboja pada kekejian 20 tahun lalu yang dilakukan oleh Khmer Merah. Rezim Pol Pot itu berkuasa tahun 1975 hingga 1979. Berkisah tentang seorang perempuan Kamboja Sok Chea yang melihat seorang pria digantung di kakinya dan kemudian dikuliti. Jantung si pria, pada saat itu, masih berdetak. Sok Chea juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri hati manusia dari jenasah seorang tahanan yang dipotong dan dimasak, lalu disantap dengan sorak sorai liar oleh pembunuhnya. Pembunuhan biadab itu dipimpin oleh seseorang yang bernama Karoby. Sampai saat ini ia masih hidup. Film itu lebih lanjut berkisah bagaimana Sok Chea bertemu dengan Karoby setelah peristiwa 20 tahun itu dalam sebuah pesta pernikahan di sebuah desa, tempat ia dulu tinggal. Jan van de Berg membuat film tentang Sok Chea bersama Willem van de Put yang telah lama tinggal di Kamboja untuk mengobati orang-orang yang mengalami trauma perang. Van de Put sekarang menjabat direktur organisasi kesehatan internasional Health Net TPO.

Saya terkesan pada peran utama Sok Chea yang akhirnya berhasil menghalau ketakutan yang selama ini membayanginya. Namun Sok Chea tidak berhasil melepaskan kesedihan karena kehilangan keluarganya. Dalam pandangan masyarakat Kamboja, kesedihan hanya bisa dilenyapkan kalau tidak lagi memikirkan keluarga yang hilang, namun berarti kenangan terhadap sanak keluarga itu juga akan hilang. Film itu memperlihatkan bahwa ada satu cara untuk hidup dalam kesedihan sekaligus mempertahankan kenangan dari sanak keluarga yang tewas. Dalam masa empat tahun berkuasanya rezim Khmer Merah, tidak kurang dua juta orang dari seantero Kamboja dibunuh. Ada sekitar 343 "ladang pembantaian", seperti Choeung Ek tersebar di seluruh wilayah Kamboja. Tetapi, Choeung Ek adalah "ladang pembantaian" paling terkenal. Pasalnya, sebagian besar korban yang dieksekusi di sana adalah intelektual dari Phnom Penh. Contohnya, mantan Menteri Informasi Hou Nim, profesor ilmu hukum Phorng Ton, serta sembilan warga Barat termasuk David Lioy Scott dari Australia. Sebelum dibunuh, sebagian besar mereka didokumentasikan dan diinterogasi di kamp penyiksaan Tuol Sleng. Penjara S-21 atau Tuol Sleng adalah organ rezim Khmer Merah yang paling rahasia. Pada 1962, penjara S-21 merupakan sebuah gedung SMA bernama Ponhea Yat. Semasa pemerintahan Lon Nol, nama sekolah diubah menjadi Tuol Svay Prey High School. Tuol Sleng yang berlokasi di subdistrik Tuol Svay Prey, sebelah selatan Phnom Penh, mencakupi wilayah seluas 600 x 400 meter. Setelah Phnom Penh jatuh ke tangan Pol Pot, sekolah diubah menjadi kamp interogasi dan penyiksaan tahanan yang dituduh sebagai musuh politik.

Di Tuol Sleng, para intelektual diinterogasi agar menyebutkan kerabat atau sejawat sesama intelektual. Satu orang harus menyebutkan 15 nama orang berpendidikan yang lain. Jika tidak menjawab, mereka akan disiksa. Kuku-kuku jari mereka akan dicabut, lantas direndam cairan alkohol. Mereka juga disiksa dengan cara ditenggelamkan ke bak air atau disetrum. Kepedihan terutama dirasakan kaum perempuan karena kerap diperkosa saat diinterogasi. Setelah diinterogasi selama 2-4 bulan, mereka akan dieksekusi di Choeung Ek. Sejumlah tahanan politik yang dinilai penting ditahan untuk diinterogasi sekitar 6-7 bulan, lalu dieksekusi. Diakhir film, ada pesan moral yang bisa ditangkap. Masyarakat Kamboja tidak begitu berharap banyak agar pelaku kejahatan di hukum seberat-beratnya. Mereka lebih berharap sebuah PENGAKUAN, mengaku bahwa mereka telah salah dan menyarankan pada sejarah untuk tidak mengulang apa yang telah mereka lakukan. Bagi masyarakat Kamboja, Pengakuan ini jauh lebih berarti bagi pembelajaran sejarah Kamboja (dan mungkin dunia) ke depan. Menurut kepercayaan Budha, hukuman itu akan datang sendirinya pada kehidupan lainnya dalam reinkarnasi. Misalnya saja manusia yang melakukan kejahatan berat akan bereinkarnasi menjadi serangga. Mereka harus menunggu sangat lama sebelum membangun karma baik yang dibutuhkan untuk kembali menjadi manusia. Saya teringat apa yang dikatakan oleh salah seorang intelektual-ideolog dari "Dunia Ketiga" (sering dikutip oleh Ali Shariati, yaitu Frantz Fanon : "Pengakuan akan kesalahan memberikan implikasi besar terhadap proses pembelajaran sejarah ummat manusia, dibandingkan institusi hukum yang menyalahkan mereka". Bagaimana dengan "titik-titik hitam" sejarah Indonesia?

Insert : Foto Pol Pot dan "Bukti Killing Machine" (Museum Tengkorak di Kamboja)