Oleh : Muhammad Ilham
Bulan ini, tiga tahun yang lalu, guru dan "lawan tanding" diskusi yang menarik itu, wafat. Teruntuk, Al-Muqarram, Buya Drs. H. Syamsir Roust, M.Ag.
" .... politik itu, tahu bila mau kanai dan bilo manganai"
(defenisi sederhana a-la Buya Syamsir Roust)
Mengingat Buya Syamsir, demikian selalu kami panggil beliau di kampus, teringat saya dengan ungkapan Penyair Latino, Gabriel Marcia-Marquez: "Kehadiran yang diharapkan/kehadiran yang membahagiakan". Buya Syamsir Roust ditakdirkan Tuhan untuk selalu disambut bahagia orang-orang yang berinteraksi dengannya. Setiap ia datang ke kampus, hampir dimanapun ia duduk, orang akan merasa bahagia dan senang untuk berinteraksi, berdiskusi bahkan berdebat dengannya. Sebagai akademisi, ia mampu menyederhanakan tema diskusi yang pelik, dengan "joke-joke" yang mengena dan masih terkenang di benak hampir semua koleganya. Dalam ketebatasan fisik beberapa tahun menjelang beliau wafat, beliau tetap datang ke kampus untuk mengajar dan berdiskusi dengan mahasiswa dan teman sejawatnya. Kedatangannya akan membuat semua orang bahagia. Sesekali ia sakit, maka akan keluar ungkapan dari mulut koleganya : "rindu nian kita pada Buya Syamsir Roust". Beruntung-lah almarhum, kehadirannya dirindukan orang.
Ia akademisi tulen. Sifat dan substansi akademisi ada pada dirinya. Mau mendengar, mau bertanya dan mau berargumentasi. Ia akan bertanya bila ia tak tahu tentang sesuatu hal. Saya merasakan hal demikian. Setiap ia datang ke kampus, selalu saja ada hal-hal baru yang didiskusikan-nya dengan saya. Saya yang murid, dan ia yang guru, justru bila ia tak tahu, ia akan bertanya.... !. Ia yang begitu bangga (pernah) menjadi "murid" antropolog kondang Parsudi Suparlan ini, ibarat pengikut aliran de-konstruksionisme dalam berdiskusi. Ia mampu mengemas suatu argumentasi yang berlawanan dengan pendapat umum atau pendapat yang mapan. Ia mampu membungkusnya dengan contoh-contoh "sederhana" tapi mengena (suatu kelebihan yang bermula karena beliau juga seorang muballigh Muhammadiyah kondang ini).
Rest in Peace Buya !. Buya orang baik, Insya Allah, Allah Robbi Izzati akan menempatkan Buya bersama-sama dengan orang baik. Secara pribadi, saya amat sangat kehilangan seorang guru dan teman diskusi yang "menyentak".
Buya nan ispiratif Drs.H. Syamsir Roust, M.Ag (wafat pada Sabtu/22 Januari 2011 Pukul 14.00 WIB siang, lebih kurang, di Rumah Sakit M. Djamil Padang. Dikebumikan di kampung halamannya tercinta, Taram Payakumbuh, kampung kecil yang ia banggakan dan selalu jadi buah bibirnya di kala hidup.





.jpg)


































