Tampilkan postingan dengan label Merahnya Minangkabau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merahnya Minangkabau. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2012

Tan Malaka, Syahrir & Hatta : Trio Minangkabau Berseberangan Jalan

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Ah .... sungguh "rahim" Minangkabau pantas berbahagia. Minangkabau yang egaliter mampu melahirkan figur-figur avant garde dalam sejarah pergerakan Indonesia yang tak-lah seragam seumpama Tan Malaka, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir. Mereka bertiga ini didaulat sebagai bagian dari Bapak Revolusi Indonesia selain Soekarno. Tan Malaka yang dari Pandan Gadang, Hatta dari Batuhampar dan Syahrir yang juga kakak Rohana Koedoes dari Koto Gadang ini sama-sama egois. Selalu berselisih paham tentang bagaimana memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Mrazek pernah menarasikan bagaimana "egoisme ideologis" mereka bertiga ketika diskusi mengenai "arah masa depan" republik tercinta. Berawal di Berlin Jerman, di rumah salah seorang dedengkot komunis Hindia Belanda pada tahun 1920-an, Darsono namanya. Di rumah Darsono ini, tiga anak muda mereka bertemu dan berdebat panas. Mohammad Hatta sengaja datang dari Belanda. Tan Malaka juga. Tan berapi-api menjelaskan komunisme yang dasarnya demokrasi tulen. ”Bukankah komunisme itu mengesahkan diktator, Bung? Karl Marx menyebut diktator proletariat,” Hatta, 20 tahun, menyela. ”Itu hanya ada pada masa peralihan,” Tan menukas. Dia melanjutkan, ”Peralihan kekuasaan kapitalis ke tangan masyarakat. Kaum buruh merintis jalan ke arah sosialisme dan komunisme yang terselenggara untuk orang banyak di bawah pimpinan badan-badan masyarakat. Jadi bukan diktator orang-seorang.” Dalam bukunya "Memoir", Mohammad Hatta menceritakan kembali percakapan itu. Dalam buku itu Hatta setuju pada pandangan Tan, yang lebih tua tujuh tahun. Bahkan ia mengomentarinya: jika begitu Tan pasti tak setuju dengan cara otoriter Joseph Stalin memimpin Rusia. Dan itulah perseteruan ideologis duo Minang ini. Hatta sangat menentang komunisme. Ia menganjurkan koperasi dalam menegakkan ekonomi Indonesia. Sebaliknya, Tan percaya, jika digabung, Pan-Islamisme dan komunisme bisa menjadikan Indonesia digdaya. Hatta dan Tan sudah seperti musuh.

Hatta buka kartu kenapa ia selalu curiga dan menentang Tan. Hatta menganggap Tan selalu meremehkannya. ”Dia selalu menganggap kami (Soekarno-Hatta) anak ingusan,” katanya. Hatta, sebetulnya sudah tak senang kepada Tan sejak di Amsterdam. Pada 1927, setahun setelah ”pemberontakan” Partai Komunis Indonesia yang gagal, Hatta meminta tokoh-tokoh komunis menyerahkan pimpinan revolusi kepada tokoh nasionalis. Berbeda dengan Semaun, Ketua PKI, yang langsung teken ketika disodori deklarasi itu, Tan menolak. Penolakan itulah yang ditafsirkan Hatta sewaktu berbicara dengan Soekarno sebagai sikap sentimen Tan kepadanya. Padahal, Tan Malaka hanyalah berpandangan bahwa pemimpin revolusi tak boleh dipegang orang selain komunis. Perbedaan itu melekat hingga Indonesia merdeka. Pada 23 September 1945, sebuah rapat digelar di rumah Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo. Hatta menawari Tan ikut dalam pemerintahan. ”Tidak, dua (Soekarno-Hatta) sudah tepat. Saya bantu dari belakang saja,” kata Tan. Hatta menganggap penolakan itu sebagai keengganan senior dipimpin orang yang lebih muda. Tak mengherankan ketika Soekarno keceplosan membuat testamen lisan yang isinya akan menyerahkan kekuasaan kepada Tan jika ia ditangkap sekutu, Hatta menolaknya. Ia menambah tiga nama: Sjahrir, Iwa Koesoema Soemantri, dan Wongsonegoro. ”Agar mewakili semua kelompok,” katanya.

Selain dengan Hatta, Tan Malaka juga berselisih paham dengan Sutan Sjahrir, yang juga berasal dari Minang. Menurut Adam Malik dalam Mengabdi Republik (1978), pada awal-awal kemerdekaan Sjahrir menolak bergabung dengan pemerintahan karena belum yakin masyarakat Indonesia menerima sepenuhnya proklamasi Soekarno-Hatta. Setelah yakin Indonesia merdeka secara de jure, Sjahrir—yang menganut ideologi sosial-demokrat—ikut mempertahankan dengan cara yang berbeda. Ketika Belanda akan kembali menghidupkan pemerintah jajahan Hindia, ia ”merapat” ke kubu Inggris-Amerika sebagai ”penguasa” baru nusantara. Sekutu memilih Sjahrir sebagai juru runding karena menganggap ”Bung Kecil” itu berpikiran modern dan disukai Belanda. Sjahrir kemudian gencar mengampanyekan politik diplomasi. Dalam kampanyenya, seperti tertuang dalam pamflet Perjuangan Kita, Sjahrir telak-telak menyatakan akan menyingkirkan semua kolaborator Jepang. Tentu saja ini menohok Soekarno-Hatta. Juga Jenderal Soedirman sebagai salah satu pemimpin tentara Pasukan Pembela Tanah Air (Peta) bentukan Jepang. Perselisihan makin runcing ketika Sjahrir menjadi perdana menteri dan mengubah sistem politik dari presidensial menjadi parlementer. Praktis ia dan Amir Syarifuddin yang berkuasa. Meski tak banyak komentar lisan, dalam Demokrasi Kita, Wakil Presiden Hatta mengecam perubahan itu. ”Kabinet parlementer tak bisa bertanggung jawab sesuai dengan fungsinya,” katanya. Jenderal Soedirman lebih jengkel lagi. Ia pun merapat ke kubu Tan Malaka yang sudah lebih dulu menentang ide Sjahrir. Maka, pada akhir medio 1940, muncul tiga dwitunggal yang punya jalan masing-masing menghadapi politik pecah belah Belanda: Soekarno-Hatta, Sjahrir-Amir, dan Soedirman-Tan Malaka. ”Jika ulah Sjahrir itu makin mengancam persatuan kita, saya tak segan mengambil kebijaksaan sendiri,” kata Soedirman kepada Adam Malik. Soedirman dan Tan Malaka lalu mengumpulkan seluruh elemen politik di Purwokerto, Jawa Tengah. Pertemuan ini menghasilkan faksi Persatuan Perjuangan yang kongresnya dihadiri 141 wakil pelbagai kubu.

Dalam silang-sengkarut itu muncul orang Minang lain yang terkenal sebagai politisi-cum-sejarawan: Muhammad Yamin. Ia aktif di Persatuan, tapi sering jalan dengan sikapnya sendiri. Tanpa konsultasi dengan pimpinan Persatuan, Yamin gencar mengkritik secara terbuka politik diplomasi Sjahrir. Sikap frontal Yamin ini kian memanaskan situasi yang berakhir dengan mundurnya Sjahrir dari kursi perdana menteri pada 28 Februari 1946. Situasi adem itu tak berlangsung lama. Tak lama kemudian Soekarno kembali menunjuk Sjahrir melanjutkan diplomasi. Keputusan ini membuat kubu Soedirman-Tan kembali meradang. Saking marahnya, para pemuda Persatuan sempat menembaki mobil Menteri Pertahanan Amir Syarifuddin yang akan masuk Istana Negara. Bahkan saling tangkap pun terjadi. Amir memerintahkan tentara menangkap Tan dan tokoh Persatuan lain. Soedirman membalasnya dengan memerintahkan pasukan Peta menangkap Sjahrir. Kedua kubu sama-sama membebaskan sandera ketika Soekarno turun tangan. Tapi konflik tak begitu saja reda, sehingga Tan terbunuh di Kediri pada Februari 1949.

Sejarawan Harry A. Poeze berpendapat, perbedaan trio Minang itu karena mereka lahir dari lingkungan yang berbeda, meski sama-sama belajar Marxisme dan mendapat pendidikan Belanda. Secara adat Tan seorang raja tapi miskin secara ekonomi, sedangkan Hatta-Sjahrir kelas menengah secara ekonomi. Tan orang udik, Hatta dari Bukittinggi dan Sjahrir dari Padangpanjang dari keluarga pedagang. Meski sama-sama dibuang, Hatta-Sjahrir masih menerima penghasilan. Sedangkan Tan tak punya pendapatan pasti dalam pelarian, hidupnya susah, dan ia berteman dengan penyakit, bahkan bergaul dengan romusha di Banten Selatan. Pasase hidup yang membuatnya kian mantap menjadi Marxis dimulai ketika mengajar di sebuah perusahaan perkebunan Belanda di Deli. Ia melihat langsung bagaimana orang sebangsanya ditindas menjalani kuli kontrak. Berbeda dengan Hatta, kendati sering berseberangan, hubungan pribadi Tan dengan Sjahrir relatif bagus. Menurut Poeze, Sjahrir pernah dua kali menawari seniornya itu memimpin Partai Sosialis Indonesia. Seperti biasa, Tan menolak.

::: Sumber : Tulisan ini didasarkan dari : (c) Tempo Edisi Tan Malaka/Agustus 2008. Referensi : Alfian (1981), Mrazek (1991) dan Poetze (1994). Foto : "diolah" Ilham dari www.google.picture.com

Kamis, 07 Juli 2011

Hikajat Popoeler Tan Malaka : "Pacar Merah Indonesia"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Sungai Brantas, Kediri, Jawa Timur, 19 Februari 1948. Di sinilah Tan Malaka tamat riwayat. Tak banyak penggalan fisik dari tokoh legendaris ini. Jauh dari “kemewahan” fotografis ala Bung Karno (yang memiliki ribuan koleksi foto dalam berbagai momen). Seorang pejuang kiri nasionalis yang radikal ini, yang bernama lengkap Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka, hanya menyisakan sedikit saja kenangan dalam bentuk fisik. Kita kini bahkan harus menikmati foto klasik hitam putih itu-itu melulu —-demi menggambarkan raut muka Tan Malaka. Di novel ini, tegas-tegas menggambarkan Tan Malaka sebagai seorang messiah (Ratu Adil, yang sakti mandraguna). Kala itu, Indonesia bergeliat dengan sebuah era yang disebut oleh sejarawan Taufik Abdullah sebagai A Decade of Ideology. Semangat zaman (zeitgeist) kental dengan nuansa pergumulan ideologi dan api pembebasan —dari cengkraman kumpeni. Penyerapan dan transfer ideologi sedemikian marak (termasuk dari dunia Eropa dan dunia Islam). Sederetan tokoh ideolog (corong pengobar ideologi) berlahiran. Seperti H.O.S Tjokraminoto, Akhmad Dahlan, Bung Karno, Hatta, Semaun, Sneevilt, dan sudah pasti Tan Malaka sendiri.

Namun, lebih dari nama-nama tadi, hanya Tan Malaka yang nyaris dimitoskan di saat itu juga (era 30-an). Terbukti dari novel ini. Berjudul Patjar Merah Indonesia, karangan Matu Mona, yang terbit pertama kali di Tahun 1939, dan diterbitkan kembali oleh Penerbit Beranda di Tahun 2001 (buku jilid I) dan di Tahun 2010 (buku jilid II). Lepas dari muatan fiktif di buku ini, bahwa setidaknya Novel ini memperkuat asumsi yang patut kita angkat kembali. Betapapun ideologi barat berdatangan, tetapi tetap saja butuh domestifikasi, alias penjinakan dan adaptasi, agar sesuai dengan alam pikir masyarakat Indonesia. Masyarakat politik Indonesia waktu itu tak sepenuhnya bisa mengikuti pakem ideologi dari luar yang kental dengan rasionalisme, materialism, pragmatisme, nasionalisme, liberalisme, atau komunisme sekalipun. Sebab, keyakinan-keyakinan mistis bin takhyul masih sangat dominan. Tan Malaka sekalipun, tak bisa bebas dari kultur seperti ini. Ia dipuja karena peran-perannya yang rahasia. Kalau memakai bahasa gaul sekarang, maka sosok Tan Malaka sungguh seksi (penuh daya tarik). Bukankah benar tesis dari Ruth McVey, bahwa para pengobar komunisme zaman itu, tak benar-benar disiplin menerapkan Marxisme Leninisme yang anti takhyul (dan bahkan tak percaya Tuhan)? Mereka justru ringan saja mencampur-baurkan komunisme dengan ajaran-ajaran khas Jawa dan Sunda (seperti kasus Banten). Tan Malaka sendiri, seperti terurai dalam buku Pemikiran Politik Tan Malaka, karya Safrizal Rambe (Pustaka Pelajar, Februari 2003), tak pernah menafikan gejala “irasionalitas” di masyarakat Indonesia. Menurut Tan Malaka, basis filsafat materialism yang menafikan segala sesuatu yang tidak konkret, tidaklah cocok diterapkan di Indonesia. Karena bagaimanapun, sebagai fakta sosial, irasionalisme dan takhyul di Indonesia itu ada. Dari sini, menjadi kuatlah bukti (atau klaim) dari penerbit novel ini, bahwa di zamannya, Novel Patjar Merah Indonesia, yang mencampur-baurkan mitos dan kenyataan tentang Tan Malaka ini sangat laris, terbit berkali-kali, terjual ribuan copy.

Buku ini terdiri dari dua jilid. Mengisahkan petualangan tokoh-tokoh PKI di pembuangan, seperti Tan Malaka (yang hadir dengan berbagai nama tergantung di mana ia tinggal), Semaun (Semaunov), Alimin (Aliminsky), Musso (Paul Mussotte), Darsono (Darsonov), Soebakat (Tjo Beng Kiat), dan lain-lain. Mereka terus berjuang melawan imperialism, baik di Indonesia, Asia, Arab, dan juga Eropa. Tokoh utamanya, yaitu Patjar Merah (alias Tan Malaka), dikisahkan sangat lihai memakai ilmu-ilmu gaib, berkali-kali lolos dari sergapan para intel di manapun ia berada. Secara dramatik, kisah Tan Malaka terurai detil. Mulai dari kedatangannya di negeri Siam (Thailand), menjalin romantika asmara dengan Madmoseille Ninon yang cantik jelita. Alur kemudian berpindah-pindah. Disertai dengan adegan-adegan spionase, pengkhianatan, dinas rahasia, peran ganda, dan unsur ketegangan. Di jilid satu, narasi seperti ini sangat dominan. Sementara di jilid II, pembaca di bawa ke perantauan orang-orang seperti Semaunov, Darsonov, Paul Mussotte, dan Aliminsky. Tetapi ada petikan menarik. Bahwa ketika Musso dan Darsono diburu kaum fasis Nazi (yang saat itu mencekam Jerman, Italia, Perancis, dan Spanyol), keduanya singgah dan mencari penyelamatan di dalam masjjid. Lantas terurailah percakapan dari kedua orang itu, tentang kesaktian masing-masing yang diajarkan guru-guru mereka di kampung, oleh para Kyai tempat mereka mengaji. Sungguh sebuah narasi yang nyaris konyol, bila ditubrukkan dengan wawasan publik Indonesia, yang mengecak nama-nama tersebut sebagai atheis… !

Sebagai catatan akhir, tak mudah memperlakukan posisi buku ini. Lantaran layak berada dalam kategori apapun. Meski fiktif, tetapi latar dan konteks kejadian terekam dalam dokumen sejarah. Penulisnya pun juga adalah tokoh pergerakan (sempat menjadi tahanan Polisi Rahasia Belanda). Konon, penulis buku ini yang bernama asli Hasbullah Parindoerie), adalah praktisi jurnalistik yang sangat intelektual, dan mengaku pernah bertemu secara langsung dengan Tan Malaka di Singapura. Penulis buku ini pula yang memperkenalkan kosa kata “wartawan” dalam khasanah Bahasa Indonesia. Paling penting, justru melahap setiap petikan fakta yang bertabur di setiap lembar halaman. Misalnya tentang negeri Siam, Filipina zaman baheula. Atau tentang pergulatan batin Tan Malaka. Atau juga tentang sejarah dunia di masa itu. Selain keunikan istilah yang laku sebagai bahasa intelektual di Indonesia tempo doeloe.
Namun bukan berarti Tan Malaka mewariskan catatan kering. Lebih dari sekedar cukup, bahkan melimpah: buku-buku, pamphlet, brosur, memoir, surat-surat pribadi, hingga Roman (atau Novel) bertebaran di mana-mana. Kiprah mantan Ketua PKI di tahun 20-an ini teramat lekat dengan arsip dan dokumen sejarah. Sumber-sumber berserak di segala pihak, baik kawan maupun lawan. Tak ayal, jika kemudian sosoknya bertabur dengan mitos, legenda, dan juga tanpa kecuali: fiksi.
Informasi Detil Buku:
Judul: Patjar Merah Indonesia (Edisi I dan II)
Penulis: Matu Mona (Hasbullah Parindoerie)
Penerbit: Beranda, Juni 2010 (terbit pertama kali Tahun 1936).
Tebal: Jilid I (271 halaman) dan Jilid II (228 halaman)
ISBN: 978-979-16030-3-1

Sumber : Koleksi Resensi Buku (c) Endi Biaro

Senin, 28 Februari 2011

Karya-Karya Sastra Tentang PRRI

Diedit/ditulis ulang : Muhammad Ilham

Soewardi Idris (1930-2004), yang bergabung dengan kaum pemberontak selama perang saudara, setelah turun dari hutan, menulis novel Dari Puncak Bukit Talang (1964). Soewardi juga menuangkan pengalamannya selama perang dalam dua antologi cerpen: Di Luar Dugaan (1964) dan Istri Seorang Sahabat (1964). Ketiganya diterbitkan NV Nusantara Padang. Memang, karya Soewardi Idris yang diterbitkan NV Nusantara banyak berbicara tentang PRRI. Bahkan secara lebih jauh Soewardi dalam karya-karyanya banyak menyoroti sisi buruk prajurit-prajurit PRRI, terutama pada masa-masa menjelang PRRI kalah. Ali Akbar Navis termasuk pengarang Sumatera Barat lainnya yang banyak menulis tentang periode ini. Novelnya Saraswati si Gadis dalam Sunyi (diterbitkan pertama kali pada tahun 1970), misalnya, adalah di antara sedikit novel yang secara khusus menyorot realitas perempuan selama perang saudara. Di sisi lain, novel ini juga dianggap telah dengan berani keluar dari pakem resmi historiografi saat itu yaitu dengan menolak untuk menyebut PRRI sebagai pemberontakan atau pembangkangan. Bahwa hampir tidak satu pun kata itu ditemukan dalam novel ini. Sementara, dalam genre lain, AA Navis juga menulis setidak-tidaknya 11 cerita pendek yang berbicara tentang PRRI. Cerpen-cerpen tersebut tersebar dalam beberapa kumpulan seperti Hujan Panas (1964), Hujan Panas dan Kabut Musim (1990), Dua Kelamin Midin: Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980, Pistol Perdamaian: Cerpen Pilihan Kompas 1996, dan Karya Lengkap AA. Navis (2008). Tahun 1978, Wildan Yatim menebitkan novel Pergolakan, berlatar Sidempuan pada periode pemberontakan. Di samping menulis Pergolakan, Wildan Yatim juga menulis cerpen yang menyinggung tentang kehidupan pada periode pemberontakan PRRI, salah satunya Saat Orang Berterus Terang.

Makmur Hendrik menulis Tikam Samurai. Novel ini diterbitkan pertama kali oleh CV. Pena Emas Padang pada Febuari 1983 dengan harga awal per novelnya Rp. 1.000,- (seribu rupiah). Novel ini diterbitkan 12 jilid. Si Bungsu, tokoh utama dalam novel ini, dianggap mewakili bangkitnya superioritas ‘orang Minang’ paska pemberontakan yang tertindas dan diperhinakan. Tahun 2005, Ular Keempat karya Gus Tf Sakai diterbitkan penerbit Buku Kompas. PRRI bukanlah tema sentral dalam novel ini, sebab novel ini lebih banyak berbicara tentang kisruh haji tahun 1970. Peristiwa PRRI hanya disinggung sebagai ingatan tokoh utama terhadap masa lalu puaknya. Di tataran pemrosa yang datang lebih agak belakangan, ada Ragdi F Daye dalam Lelaki Kayu dan Perempuan Bawang juga menulis beberapa cerpen tentang peristiwa PRRI. Beberapa cerpen Zelfeni Wimra dalam Pengantin Subuh juga berlatar periode ini. Dalam genre sajak, Rusli Marzuki Saria yang pernah terlibat dalam pemberontakan, menulis banyak sajak tentang periode perang saudara ini. Dari beberapa kumpulan sajaknya yang telah diterbitkan, terdapat sajak-sajak yang berbicara tentang perang saudara.

Sumber : (Note FB : Deddy Arsa)

Sejarah Perempuan Masa PRRI dalam "Kacamata" Sastra

Diedit/Tulis Ulang : Muhammad Ilham

Perang menyisakan satu kesimpulan sederhana, bahwa untuk melumpuhkan mental musuh, perempuan mereka terlebih dahulu harus ‘dilumpuhkan’. Dalam kasus ini, untuk melumpuhkan mental kaum pemberontak, perempuan mereka harus dinistai. Dalam Saraswati si Gadis dalam Sunyi AA Navis mencatatkan bahwa hal itu benar adanya. Perempuan telah menjadi korban ‘perang laki-laki’. Tentara pusat menistai perempuan di hadapan keluarga laki-lakinya sendiri untuk meruntuhkan mental dan menyurutkan dukungan terhadap pasukan PRRI. Saraswati yang remaja, di antaranya, telah menjadi korban pelecehan dan penistaan. Rumah Angahnya dikepung dan digeledah tentara pusat. Saraswati juga turut ‘digeledah’ di hadapan Angah dan Busra. Seorang prajurit mencoba memperkosanya. “Tangannya diulurkan ke dadaku. Ketika aku mengelak dan hendak menyingkir, aku didesaknya ke dinding. Sehingga aku tergencet dan menjerit-jerit,” tulis Navis. Ketika Saraswati yang bisu dan tuli itu melawan, prajurit APRI itu berlaku serupa ini: “…pangkal bedil yang dihantamkan ke kepalaku, hingga aku terjerongkang. Aku berteriak-teriak dan memaki-maki. Kepalaku berdarah dan darahnya mengalir menutupi mataku.”

Ular Keempat Gus tf Sakai juga mencatat tentang perempuan yang diperkosa tentara pendudukan. Ibu dan kakak perempuan Janir, misalnya, diperkosa dan dibunuh tentara pusat karena dituduh mempunyai hubungan dengan kaum pemberontak. “Tentara APRI membunuh mamakmu yang dituduh tentara pusat itu mata-mata, membunuh ibumu yang karena mamakmu dibunuh jadi gelap mata, membunuh ayahmu yang dengan kalap ingin membalas kematian istrinya, membunuh kakak perempuanmu setelah berulang-ulang diperkosa,” tulis Gus tf Sakai. Perlakuan buruk terhadap perempuan di daerah pendudukan tidak saja dilakukan tentara pusat. Kaum pemberontak pun ada juga yang berlaku demikian kepada ‘orang kampungnya’ sendiri. Ini dilakukan baik karena keterpaksaan bathiniah terpisah dari istri selama bertahun-tahun atau karena moralitas kaum pemberontak yang terus memang merosot di tengah himpitan beratnya medan gerilya.

Di Luar Dugaan
Soewardi Idris mencatat, setelah dua tahun lebih bergerilya di hutan-hutan dan terdesak di mana-mana, diceritakan Soewardi, kehidupan kaum pemberontak semakin terjepit. Hal ini mengakibatkan perbuatan mereka semakin nekat. Soewardi mencatat bagaimana kaum pemberontak mendatarkan sebuah kampung menjadi abu karena tak mau membantu menyediakan perbekalan. Dalam pada itu, “Anak-anak gadisnya kami seret untuk memuaskan nafsu,” tulis Soewardi pula. Di Luar Dugaan sendiri berkisah tentang seorang prajurit PRRI bernama Hadi. Dia bersama pasukannya melakukan pencegatan terhadap sebuah bus yang penuh muatan di Lubuk Silasih. Bus itu dicegat, lalu penumpang dan muatannya diturunkan. Pasukan yang mencegat membariskan penumpang perempuan dan menelanjangi mereka. Bagi prajurit-prajurit itu, perempuan-perempuan itu merupakan “hasil pencegatan yang paling besar, yang membuat anggota gerombolan kami mabuk karena gembira,” tulis Soewardi. “Mereka ingin agar wanita-wanita itu dibagi-bagi seperti membagi nasi bungkus.” Tokoh Hadi sesungguhnya telah ingin memperkosa seorang di antaranya. Tapi Halimah, begitu perempuan itu memperkenalkan diri, ternyata adalah istri adiknya. Hasrat-birahinya yang telah sampai ke ubun-ubun surut seketika. AA Navis dalam cerita pendek Sang Guru Juki (1990), juga berkisah tentang perlakuan buruk yang diterima perempuan. Mayor Ancok yang PRRI membiarkan anak buahnya memperkosa perempuan di desa-desa yang mereka duduki. “Apa salahnya bila anak buahku hanya memakai, bukan merampas perempuan itu?” alasan sang Mayor ketika berdebat dengan Si Dali, anak buahnya yang moralis, dalam sebuah kesempatan. Sang Mayor menganggap prajurit yang memperkosa sebagai “itulah resiko perang!”

Sumber : (Note FB : Deddy Arsa)

Jumat, 21 Januari 2011

"Misteri" Indonesia, Muluk Nasution dan Silungkang

Oleh : Muhammad Ilham

Rupanya Datuk Sinaro Chatib, Sekretaris Sarikat Rakyat Silungkang memiliki koleksi buku lebih dari 1.000 buah. Di sebuah nagari yang biasa-biasa saja, di tahun 1920-an. Salah satu koleksi buku Datuk Sinaro Chatib ini adalah Uncle Tom's Cabin (Gubuk Paman Tom). Datuk Sinaro yang tercerahkan ini, bahagia dikunjungi banyak orang hanya untuk sekedar membaca koleksi buku yang dimilikinya. Buku Uncle Tom's Cabin menjadi salah satu bacaan favorit orang yang berkunjung ke rumahnya. Dalam catatan Ruth Mc. Vey yang menyinggung "Pemberontakan Silungkang", ada anak muda yang bernama Muluk Nasution, atau Abdul Muluk Nasution. Profesinya sebagai pegawai pos, mungkin membawa putra Mandahiling ini "hinggap" di Silungkang. Ia sering membaca buku-fiksi Uncle Tom's Cabin tentang perjuangan budak belian Afrika di Amerika Serikat. Secara imajinatif, Muluk menghubungkan lingkungan yang dilihatnya dengan apa yang menjadi pesan buku-fiksi ini. Melalui buku fiksi ini, Muluk dan mungkin rakyat Silungkang menemukan apa yang dikatakan Bennedict R. O'Gonnor Anderson, the imagines communities - bayangan akan sebuah komunitas yang lebih besar dengan membandingkan lingkungan dan pesan Uncle Tom's Cabin. "Penderitaan dan kesengsaraan budak belian Afrika dalam buku tersebut, saya bandingkan dengan penderitaan dan nestapa kuli-kuli kontrak yang bekerja paksa ditambang Ombilin Sawahlunto atau di perkebunan Ledang dan Tinggam yang pernah saya lihat", demikian Muluk. Kedekatannya dengan Datuk Sinaro Chatib, membuatnya memasuki ranah politik via Sarikat Rakyat Silungkang.

Bulan Februari 1924, Muluk ditangkap dengan sebelumnya dipecat menjadi pegawai pos, sebuah posisi yang cukup terpandang kala itu. Apa kesalahan Muluk ? Bersama Buyung Enek (saya yakin dan percaya, namanya tak ada dalam buku sejarah) Muluk mengumpulkan beberapa orang pemuda Silungkang lalu menyanyikan lagu Barisan Pemula yang menggelora dengan aura pembebasan dari ketertindasan dan keinginan untuk menyatukan barisan, barisan yang bernama Indonesia. Sungguh, negara Indonesia sebagai sebuah konsep yang diimaginasikan, telah tertanam dengan kuat pada tahun 1920-an. Muluk dan Buyung Enek menyampaikan pesan pada sejarah. Dan mereka bukanlah figur yang dianggap penting dan tak diperhitungkan oleh sejarah. Kita tidak tahu apa arti “Indonesia” dan kemerdekaan bagi rakyat masa itu. Tapi bagi kawan-kawan Muluk yang lain, seperti Kamaruddin alias Manggulung bersama dengan Sampono Kayo dan Ibrahim yang dijatuhi hukuman gantung, bagi mereka Indonesia sebagai sebuah imagines communities adalah sebuah keniscayaan. Dalam pledoinya, mereka mengatakan “terus terang” motif pemberontakan mereka - hasrat untuk merdeka. Mereka meminta untuk di hukum gantung di pasar Silungkang, daerahnya mereka sendiri. Menghadapi kematiannya, Kamaruddin masih tetap imajinatif, menuntut agar dagingnya diiris-iris dan dikirimkan kepada Ratu Belanda, Wilhelmina. "Setelah tembok Cina selesai berdiri, kemanakah para budak disembunyikan", kata filosof Cina klasik Lut Szun ratusan tahun lalu.

Referensi : Fachry Ali (1999), Goenawan Mohammad (2000)

Rabu, 29 Desember 2010

"Neraka" bernama DIGOEL

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

"Tempat dengan kesunyian yang mencekik dan mematikan," ucap Chalid Salim, adik kandung Agus Salim yang pernah dibuang di tempat itu selama 15 tahun dalam bukunya, Lima Belas Tahun Digoel. "Kolam neraka," kata Mohammad Hatta dalam tulisannya berjudul The Digoel Tragedy of Dutch Colonial Imperialism memberi gambaran tentang kamp Tanah Merah Digoel itu.
Hatta pada tulisan yang diterbitkan pada 12 September 1930 itu masih mengutip Dr Van Blankenstein, seorang koresponden Nieuwe Rotterdamsche Courant yang pernah datang pada tahun-tahun awal pembangunan kamp pembuangan massal di tanah Papua itu. Tulisan Blankenstein itu kemudian dimuat ulang dalam Het Haagse Maandblad dan Frankfurter Zeitung. "Persediaan bahan makanan sangat terbatas, karena tempat itu sukar dicapai melalui daratan. Kami temui di sana suatu pondok kecil beratapkan seng tanpa dinding. Di mana-mana terdapat genangan air. Ditinjau dari segi kesehatan dan tempat tinggal, tempat itu merupakan neraka," tulis Blankenstein pada November 1928. "Kematian terus menerus tersenyum pada kami. Digoel tak lagi sebuah tempat. Ia menjadi timbunan penderita paru-paru dan penderita malaria, penderita sakit jiwa dan setengah gila, di bawah panas menyengat yang tak kenal ampun, dikelilingi oleh rawa-rawa yang tak sehat di tengah-tengah hutan belantara yang tak bisa ditembus," tulis seorang penghuni Digoel. Dengan citra yang seram dan mematikan itulah kamp Digoel telah mengudarakan ketakutan pada para aktivis pergerakan politik. Soekarno, misalnya, seperti ditulis Takashi Shiraishi dalam buku Hantu Digoel, dengan penuh imajinasi ketakutan oleh bayangan akan dibuang ke Digoel, meminta pengampunan pada pemerintah dengan imbalan siap menghentikan aktivitas politiknya dan bila perlu bekerja sama dengan pemerintah. Soebakat, pendiri partai politik revolusioner bawah tanah Partai Republik Indonesia (PARI) yang juga tangan kanan Tan Malaka bahkan menciptakan bahasa sandi di kalangan anggota PARI dengan menyebut Digoel sebagai "Rumah Sakit Umum". Sementara istilah "Rumah Sakit" berarti penjara. Lantaran takut akan "diopname" di "Rumah Sakit Umum" itu Soebakat sehari menjelang pengasingannya ke Digoel memilih untuk bunuh diri.

Apa yang membuat Digoel ditakuti? Bukankah kamp yang dibangun pada Januari 1927 itu tak seperti kamp konsentrasi Nazi dengan para napi disiksa dan dibunuh? Memang tak ada kerja paksa, apalagi kamar-kamar gas. Kawat berduri pun tak mengelilingi lokasi tahanan di Tanah Merah Digoel. Para tahanan justru dibebaskan berkeliaran 25 kilometer dari kamp. Tapi justru dengan kebebasan bergerak yang diberikan itu pemerintah Hindia Belanda sengaja membiarkan tahanan itu mati, gila, bunuh diri, atau hancur secara fisik dan mental.
Tak ada jalan untuk melarikan diri. Jika ada, hutan yang lebat, keganasan alam dengan sungai penuh buaya, dan penduduk kanibal akan menelan mereka. Ada 50 orang buangan yang mencoba meloloskan diri antara 1929-1934. Hanya satu kelompok yang berhasil mencapai Thursday Island Australia, namun mereka kemudian ditangkap polisi Australia dan dikembalikan kepada pemerintah Hindia Belanda yang memiliki perjanjian ekstradisi dengan Australia. Para pelarian itu kemudian justru dikirim ke Tanah Tinggi, kamp buat para pembangkang yang berjarak 55 kilometer dari Tanah Merah atau lima jam dengan menggunakan perahu polisi--Salim menyebut jaraknya 40 kilometer. Di Tanah Merah itulah Hatta yang menulis kritik pada 1930 akhirnya diasingkan mulai 28 Januari 1935 hingga Desember 1935. Penahanan Hatta menimbulkan protes, karena kamp Digoel pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pengasingan bagi mereka yang terlibat dalam pemberontakan PKI di Jawa Barat pada 1926 dan Sumatera Barat pada 1927.
Pemerintah Hindia Belanda ternyata kemudian melebarkan kategori "layak Digoel" pada semua aktivis politik yang berpikiran radikal. Seorang aktivis bisa saja dibuang ke Digoel hanya oleh rekomendasi polisi rahasia dan residen. Gubernur Jenderal Hindia Belanda cuma mengesahkannya. Dalam kasus ini, Hatta diasingkan dengan tuduhan "ketika tinggal di Belanda sampai 1931 ia memimpin Perhimpunan Indonesia yang bertujuan untuk melakukan tindakan revolusioner melawan pemerintahan di sana." Hatta berangkat dari penjara Glodok pada Minggu pertama Januari. Ia berangkat dengan enam pengurus PNI Baru lainnya: Sjahrir, Bondan, Burhanuddin, Maskun, Suka Sumitro, dan Murwoto. Mereka menaiki kapal Melchior Treub menuju Makassar. Bondan dalam buku Pribadinya dalam Kenangan (UI Press-Sinar Harapan, 1980, disunting oleh Meutia Farida Swasono) mengatakan meski Hatta dan Sjahrir diberi tempat di kelas dua, namun sehari-hari mereka selalu berkumpul dengan teman-temannya di geladak. Sewaktu kapal singgah di Surabaya, Hatta ditemui Saerun, redaktur kepala surat kabar Pemandangan yang naik ke kapal atas izin dari pembesar kapal. Saerun meminta Hatta menulis sebulan dua kali selama dalam masa pengasingan dengan honor 5 gulden per kolom. "Aku merasa lega menerima tawaran itu karena sudah ada jaminan hidup bagiku," tulis Hatta dalam Memoir (1979). Seminggu ditahan di Makassar, Hatta kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal Van Der Wijck yang berukuran lebih kecil ke Ambon. Di Ambon ia kembali dibui seminggu. Lalu dari Ambon menuju Digoel, ia berpindah kapal yang kian mengecil, bernama Albatros. Kapal itu diberi juluk "Kapal Putih" karena warnanya yang putih. Berbeda dengan orang-orang buangan yang lain, Hatta ke Digoel membawa buku sebanyak 16 peti. Begitu sampai di Digoel buku itu diangkut oleh orang Kaya-Kaya, penduduk asli Digoel yang sudah bekerja sama dengan para tahanan menuju rumah Hatta yang disediakan. "Sesaat sampai di rumahnya, saya bertanya, apakah Bung Hatta mau buka toko buku? Beliau hanya menjawab dengan tersenyum," tutur Bondan.

Dengan buku itulah kemudian Hatta "buka praktek", memberi kursus falsafah, ekonomi dan sejarah. Sedangkan untuk politik dan sastra diajar oleh Sjahrir. Bondan ingat, ia pernah diajar tentang filsafat Yunani dengan membaca buku Alam Pikiran Yunani. Hatta juga meminjamkan buku-bukunya pada siapa saja yang memerlukan. "Tapi kalau meminjam bukunya, kita tidak boleh mengotorinya sedikit pun. Ia akan marah," kata Bondan.
Buku-buku Hatta itu, kata Salim, ternyata menjadi cara yang efektif untuk tetap bertahan hidup selama di pengasingan. Selain bertanam sayur, buah, membuka kios kecil, berolahraga, memelihara hewan, atau yang seperti dilakukan Salim yaitu dengan berburu nyamuk penyebar malaria, Hatta menawarkan cara yang mencerdaskan. Pejabat kolonial Belanda di Digoel, kata Salim, menganggap banyaknya buku yang dibawa Hatta itu sebagai bentuk "pameran keunggulan mental". "Tapi bagi kami itu berarti memperkaya pengetahuan dan melupakan nasib kami yang malang," kata Salim. Hatta dan Sjahrir mengajar dan menggelar diskusi hampir tiap malam. Dampak diskusi itu dirasakan kemudian. Salim membanggakan pengetahuan itu dengan menggambarkan bahwa setelah keluar dari Digoel ternyata pengetahuan orang-orang bebas di luar Digoel masih kalah maju dan kalah beradab dari orang-orang buangan dari Digoel.

Di Tanah Merah itu, kata Bondan, Hatta adalah satu-satunya tahanan yang mendapat rumah dari Belanda dengan perabotan yang lengkap. Fasilitas ini diberikan karena Hatta dianggap sebagai pemimpin. Sedangkan tahanan lain diminta membuat rumah sendiri. Tentara Belanda hanya memberi seng, sementara tahanan diminta menebang kayu sendiri. Hatta pun ikut turun membantu membangun rumah teman-temannya.
Dalam proses pembangunan itu, teman-temannya menginap di rumah Hatta. Beberapa orang dari mereka mendapat tugas bergiliran memasak di dapur. Pada giliran pertama, tutur Bondan, Hatta harus menanak nasi dan ia yang mengangkatnya. Dalam soal menanak nasi itu Bondan meledek Hatta dengan mengatakan bahwa Hatta adalah seorang ekonom yang tidak ekonomis. "Hatta tersenyum dan Sjahrir bertanya, 'Mengapa?' Saya jawab, 'nasinya hangus'," ungkap Bondan sembari tertawa, "Hatta kemudian menjawab, 'Terbuang untuk orang, tapi tidak terbuang untuk ayam'." Pada minggu pertama itu, panitia penerimaan membuat agenda pertandingan persahabatan sepakbola. Dalam pertandingan itu Sjahrir menjadi penyerang, Hatta dam Burhanuddin menjadi bek, sedangkan Murwoto menjadi penjaga gawang. "Saya perhatikan Bung Hatta dapat menendang bola dengan kaki kanan dan kirinya, terkadang kepalanya yang hampir botak itu digunakan untuk menerima bola," ucap Bondan.
Sejak hari pertama di Tanah Merah itu Hatta sudah membuat agenda harian secara rinci. Ia bangun pukul 04.30 untuk mandi dan shalat subuh. Lalu ia mulai memasak air panas, merebus telur. Ia makan pagi dengan makan sebuah telur dan 1-2 mangkuk kopi. Pada pukul 07.30 ia mulai jalan-jalan lewat kampung A dan keliling kampung B. Sejam kemudian ia kembali untuk membaca buku. Hatta menyebutnya sebagai belajar. "Biasanya saya belajar pagi sampai pukul 11 atau 11.30," tulis Hatta dalam Memoir. Setelah itu ia menanak nasi dan sayur-sayuran. Tetangganya kemudian biasa datang buat mengajari memasak ikan asin. Hatta mendapat jatah ransum setiap bulan 18 kg beras, 2 kilo ikan asin, 300 gram teh, 300 gram kacang hijau, 2/3 botol limonade minyak kelapa. Hatta hanya menghabiskan 10 kg jatah beras. Sisanya, 8 kg ia berikan kepada siapa saja yang meminta. Hatta juga membagi pendapatannya dari menulis di Pemandangan pada tahanan-tahanan lain yang kekurangan uang. Sesudah makan siang, ia biasanya mengajar murid-muridnya yang ingin tahu ekonomi, tata buku, sejarah dan filsafat. Pada sore hari, ia membantu menjadi tukang jika ada rumah yang akan dibangun atau berjalan-jalan sore menemui tahanan lain. Lalu pada malam hari, sesudah makan, kawan-kawan lama dan baru berdatangan untuk belajar atau berdiskusi atau ia membuat artikel untuk dikirimkan ke koran. Pada pukul 22.00 Hatta tidur. "Aku membuat rencana akan tinggal di Digoel sekurang-kurangnya 10 tahun. Karena itu yang kupentingkan adalah menjaga kesehatan. Di Digoel aku selalu berpesan pada kawan-kawan yang dibuang agar menjaga kesehatan, pikiran dan perasaan agar jangan terganggu apa-apa, dan tetap menerima segalanya dengan hati yang tenang," tulis Hatta. Menjaga kesehatan adalah perkara yang penting, karena mereka berada di daerah yang rawan penyakit, terutama malaria. Kaum buangan juga sering mengidap kesepian yang akut atau penyakit yang menurunkan secara drastis kesehatan fisik dan mental mereka. Bagi Hatta tak ada jalan lain selain harus tetap sehat.

Para tahanan politik itu dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama disebut naturalis, yaitu orang-orang yang tidak mau bekerja sama dengan pemerintah, dan hanya menerima jatah makanan (ransum) secara natura. Kelompok kedua disebut werkwillig, yaitu mereka yang mau bekerja sama, misalnya dengan mencangkul tanah dan melakukan pekerjaan kasar lainnya. Untuk pekerjaan itu, mereka menerima upah 40 sen sehari. Kelompok ketiga disebut onverzoenlijken, yaitu mereka yang terus bersikap menentang, sehingga diasingkan ke Tanah Tinggi. Di antara mereka yang tetap membangkang adalah Aliarcham, Sardjono Sumantri, Boedisoetjitro, Soemarjo, Dahlan, dan Mas Marco Kartodikromo.
Hatta tak ragu memilih menjadi naturalis, sekalipun kepala pemerintahan setempat Kapten Van Langen memintanya masuk dalam kelompok werkwillig agar memperoleh imbalan dan bisa lebih cepat keluar dari Digoel. Dalam memoarnya, Hatta menjawab tawaran itu dengan pedas, "Kalau saya ingin menjadi anggota golongan werkwillig, saya sudah menjadi werkwillig di Jakarta di mana berbagai pekerjaan pemerintah ditawarkan pada saya. Di sana saya pasti telah menjadi tuan besar, tidak perlu pergi ke Digoel lagi untuk menjadi kuli yang diupah 40 sen per hari." Pada suratnya yang ditujukan kepada iparnya, Dahlan Sutan Lembaq Tuah, pada Maret 1935, Hatta menceritakan ada pembagian golongan pada orang buangan itu. Ia juga bercerita bahwa ransum yang diterima setiap bulan harganya sama dengan separo harga makanan orang hukuman di bui biasa. Ia pun mengungkapkan tengah bersiap membuat rumah yang tahan hingga 10 tahun. Ia meminta iparnya itu mengirim alat pertukangan.
Penulis Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta, Mavis Rose, juga mengungkapkan keluhan Hatta yang lain. "Saya sudah hidup di tengah-tengah hutan belantara, tetapi pengawasan atas kegiatan saya tetap berlanjut," kata Hatta. Ternyata ipar Hatta itu menunjukkan surat Hatta itu pada Saerun yang memuatnya di Pemandangan. Berita itu kemudian dikutip koran-koran di Belanda dan mengalirkan kritik pada pemerintah Belanda untuk mengevaluasi kembali Digoel. Namun Perdana Menteri Colijn menekankan bahwa pembuangan Hatta di Digoel tidak dimaksudkan untuk menghancurkannya, tapi untuk mengasingkannya dari masyarakat. Pemerintah Hindia Belanda juga menawari Hatta uang 7,5 gulden per bulan untuk membayar porto pos. Konsisten dengan sikap non kooperasinya, tawaran itu pun ditolak. Namun di lain pihak Sjahrir justru menerimanya, karena ia sama sekali tak punya ongkos untuk korespondensi pada istrinya di Belanda. Sikap Sjahrir itu dicela kaum naturalis yang menuduh dia menyerah kepada pemerintah Belanda. Hatta membela Sjahrir. "Bagaimanapun aku terpaksa mempertahankannya. Dia tidak mengubah prinsip, dia hanya menerima, tidak meminta. Ia menerima karena benar-benar tidak mempunyai pendapatan untuk mengongkosi korespondensinya dengan istrinya. Setelah dua minggu, celaan pada Sjahrir tidak terdengar lagi," tulis Hatta.

Bagaimana Hatta, Sjahrir dan kawan-kawan bisa berkorespondensi dan bahkan menulis artikel ke berbagai surat kabar sementara sensor surat di Digoel sangat ketat? Salim mengungkapkan bahwa surat-surat itu diselundupkan pada para kelasi di Kapal Putih yang datang sebulan sekali. Suatu saat, kata Salim, ada seorang mata-mata dari kaum buangan yang membocorkan soal itu. Penggeledahan pun dilakukan di kapal. Tapi selalu saja mereka punya cara untuk tetap berhubungan dengan kelasi, yaitu dengan mengirim perahu kecil di malam hari ke Kapal Putih menjelang berangkat kembali ke Ambon.
Dari surat-surat inilah kemudian protes-protes kian membanjir. Pemerintah Belanda pada akhir November 1935 memerintahkan pemindahan Hatta dan Sjahrir ke Banda Neira. Hatta gembira dan sedih mendengar kabar pemindahan itu. Senang karena nasibnya akan lebih baik, tapi sedih karena ia harus berpisah dengan para pejuang. Hatta pun kemudian meminta pemindahannya diundur sampai Desember 1935. "Aku harus meminta kembali buku-buku yang kupinjamkan kepada teman-teman dan kemudian mengepaknya kembali ke dalam peti," kata Hatta. Saat hari pemindahan tiba, Hatta meninggalkan 100 bukunya pada teman-temannya. Mereka pun berangkat dengan Kapal Putih menuju Banda Neira pada akhir Desember. Dari Banda maupun sesudah itu, ketika diterbangkan dari Banda pada 1 Februari 1942 menuju tahanan Sukabumi, Hatta tetap rajin meminjamkan buku pada teman-temannya di Digoel. Lahan Digoel yang dibuka oleh Kapten L. Th. Becking, dengan mengerahkan 120 orang dari Jawatan Bangunan Tentara Belanda dan 60 orang hukuman sebagai buruh kasar pada 1927 akhirnya ditutup pada 1943 setelah Jepang masuk ke Indonesia.

Sumber : (c) Yos Rizal S. (2002)

Referensi bagus untuk Digoel, lihat "Hantoe-Hantoe Digoel" Takashi Shiraishi (1999)

Sabtu, 13 November 2010

Hatta, Syahrir dan Tan Malaka : "Hulunya Sama, Hilirnya Bercabang"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tiga Minang itu berdiri tegak di simpang jalan bercabang. Mereka kukuh dengan ideologi masing-masing. Tapi hari ini kemana orang-orang Minang itu ?

Tan Malaka, Hatta dan Sjahrir pun bukan milik orang Minang. Mereka tak pantas dimiliki oleh mereka yang justru mengkerdilkan para pendiri bangsanya dan meninggikan kesukuannya yang entah untuk apa ! (Devi Kurnia A.)

Jika dibandingkan dengan Sjahrir, Hatta dengan Tan Malaka, maka bisa ditarik satu kesimpulan subjektif bahwa hanya Tan Malaka yang paling banyak berbicara tentang Minangkabau di dalam karyanya. Sjahrir sepanjang hidupnya hanya menulis dua buku, sejauh yang saya tahu, dan itupun tak membahas tentang Minangkabau. Bahkan, konon kabarnya, Sjahrir sudah menanggalkan keminangannya sehingga ia tak mau disebut sebagai orang Minang namun anehnya ia masih memakai kata Sutan di depan namanya. Hatta, yang lebih intens dalam menulis ketimbang Sjahrir, juga bukan orang Minang jika itu ditarik dari garis Ibu. Hatta tak pernah memiliki gelar adat — berbeda dengan Sjahrir dan Tan Malaka — yang memang dilakukan suatu upacara resmi dalam pemberian gelar adat tersebut. Hatta adalah orang yang paling necis dan yang paling disiplin dalam menerapkan mimesis Eropa. Mereka bertiga lahir dan tumbuh besar di Sumatera Barat. Tan Malaka di Payakumbuh, Sjahrir di Padang Panjang dan Hatta di Bukit Tinggi. Mereka sama-sama memperoleh didikan Islam yang kuat semasa kecilnya. Mereka bertiga pun sama-sama bersekolah di Belanda dengan jurusan yang berbeda namun memiliki satu kesamaan; mereka sama-sama jatuh cinta terhadap marxisme. Mereka sama-sama paham bahwa melalui marxisme mereka bisa membuka simpul-simpul penjajahan Belanda selama ini. Hanya hulunya saja yang sama tapi semakin ke hilir mereka semakin bercabang.

Hatta, sosok kalem, serius dan religius ini adalah yang paling lurus jalan hidupnya—selurus pilihan hidupnya kepada ekonomi kerakyatan. Sjahrir, si penggila pesta nan senang bercanda, ini lebih memilih jalur sosialis diplomatis sebagai pilihan politiknya. Tan Malaka, si misterius dengan puluhan nama samaran ini, lebih radikal lagi : baginya konfrontasi jauh lebih penting daripada diplomasi ala Sjahrir. Ya, tiga tokoh Minang ini adalah tiga tokoh republik yang paling signifikan sekaligus saling berlawanan. Hatta dan Sjahrir adalah teman dekat selama di Belanda, di partai, di pemerintahan dan di pengasingan. Sedang Tan Malaka, yang jauh lebih tua, dianggap senior dalam beberapa hal. Tapi itu tak membuat Hatta gentar. Tan Malaka ketika di Belanda pernah dibantah oleh Hatta terkait dengan pilihan ekonomi untuk Indonesia merdeka. Di sanalah untuk pertama kalinya Hatta menawarkan konsep koperasi yang kemudian ia terapkan di Indonesia hingga hari ini. Sjahrir, pasca proklamasi, pernah menelikung Hatta sehingga beliau mengeluarkan Maklumat X yang akhirnya membuat Sjahrir menjadi Perdana Menteri pertama di Indonesia—hal yang bertentangan dengan UUD 45 yang merubah sistem presidential menjadi parlementer. Inilah kudeta sunyi Sjahrir terhadap Soekarno. Tan Malaka bersama Persatuan Perjuangan—organisasi politik yang ia bentuk bersama Jend. Soedirman—adalah yang paling menekan kabinet Sjahrir di awal republik terbentuk. Bagi Tan Malaka, Merdeka 100% itu mutlak harus diperjuangkan bukan dengan jalan diplomasi melainkan konfrontasi. Diplomasi boleh dijalankan tapi dengan syarat Belanda mesti angkat kaki terlebih dahulu dari negeri ini. Sejarah kemudian mencatat bahwa setiap diplomasi yang dibentuk Sjahrir selalu membawa kegagalan bagi republik.

Tiga minang ini saling mengagumi masing-masing namun juga saling menjatuhkan masing-masing—secara sadar dan tak sadar—secara tersembunyi maupun terang-terangan. Menjelang proklamasi santer beredar di kalangan pemuda siapa yang pantas memimpin negeri ini. Ada tiga pasangan yang dianggap layak memimpin republik kala itu; Soekarno-Hatta, Sjahrir-Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka-Soedirman. Ketiga pasangan itu ada satu orang Minang di dalamnya. Inilah yang selalu membuatku bangga dilahirkan di ranah minang—walau aku bukan orang minang yang mesti tahu kato nan ampek. Orang minang ditakdirkan untuk tidak bisa tidak memikirkan republik ini sedari awal dan kuharap hingga akhir. Itulah kutukan bagi orang Minang. Tan Malaka adalah orang yang sangat Minangsentris, setidaknya bila kita telusuri karya-karyanya. Ia selalu meninggi-ninggikan Minangkabau dalam setiap tulisannya—walaupun orang Minang hari ini banyak yang tak mau mengenal dirinya.

Di dalam Madilog, Tan Malaka bermimpi bahwa masa depan Indonesia bukan di Jawa melainkan di Sumatera yang inginkan itu berada di poros Bonjol-Malaka sebagai poros yang strategis dan ekonomis. Konsep Indonesia Raya yang ia inginkan itu adalah Nusantara; bukan saja yang bekas jajahan Belanda. Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand hingga Australia ingin ia gabungkan menjadi satu kawasan multiregional yang berdaulat dan sama besar dengan dua blok yang tengah bertikai kala itu dengan nama Aslia. Asia Australia. Inilah Indonesia Asli bagi Tan Malaka. Mungkin bisa dibandingkan dengan konsep Bamantara-nya Sutan Takdir Alisjahbana yang baru saja mendapat Bintang Mahaputra dari Presiden SBY. Tan Malaka ingin mengubah semboyan kolonial yang mengatakan “Maluku masa lalu, Jawa masa kini dan Sumatera masa depan” menjadi “Sumatera adalah pioneer, Jawa masa sekarang dan kelak semuanya akan kembali ke Sumatera”. Ada kepercayaan diri yang luar biasa dari pernyataan itu. Namun sayang, apa yang ia cita-citakan itu belumlah terwujud hingga hari ini. Konsep Aslia ini kemudian diaplikasikan Adam Malik—wakil presiden Soeharto pertama yang berasal dari Partai Murba; partainya Tan Malaka—ke dalam ASEAN. Indonesia Raya yang dinyanyikan setiap upacara bendera dan acara olahraga lintas negara itu memiliki makna mendalam bagi Tan Malaka. Ia memimpikan satu negara industri modern yang besar, yang mampu menghidupi segenap tumpah darahnya dan mampu berdiri sejajar dengan dua blok lainnya yang saling bertentangan.

Bagi Tan Malaka, anjing yang sama besar takkan saling menggigit. Indonesia Raya bukan sekedar lagu kenegaraan biasa saja, tapi ada setiap cita di setiap liriknya—yang digubah WR Supratman dari buku Massa Actie-nya Tan Malaka—lagu itu adalah sebuah mimpi untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang besar karena bagi Tan Malaka bangsa ini layak menjadi besar. Bukan karena korupsi tapi karena prestasi. Tan Malaka adalah seorang pemimpi. Ia mengutarakan setiap mimpi besarnya di dalam karya-karyanya. Ia mendesain Republik Indonesia lebih dulu daripada Soekarno dan Hatta menentukan seperti apa konsep negara ini. Bahkan secara tak sadar Soekarno menobatkan Tan Malaka sebagai mentor politiknya. Pernah suatu ketika selepas proklamasi, Soekarno memberikan semacam mandat—yang kemudian dikenal dengan sebutan Testamen Politik—kepada Tan Malaka. Soekarno meminta Tan Malaka menggantikannya sebagai presiden jika dirinya tak sanggup lagi memimpin negeri ini; dalam artian Soekarno ditawan atau dibunuh dalam peperangan. Maka adalah Hatta yang menolak testamen ini. Ia marah kepada Soekarno yang telah memutuskan sepihak saja. Hatta lalu menambah tiga nama lain selain Tan Malaka.

Tiga orang Minang ini selalu meruncing di dalam pilihan ideologinya. Mereka tak hanya berdialektika di dalam segala hal namun mampu menunjukkan bahwa mereka berkualitas dalam berdialektika. Mereka saling menjaga keotentikan satu sama lain. Satu kecerdasan yang hilang bagi orang-orang Minang hari ini. Hanya Muhammad Fahmi saja yang berbeda, lihat saja komentarya yang sangat brilian dan berkelas. Sjahrir telah menghilangkan keminangannya karena ia sudah merasa menjadi sesuatu yang besar ketimbang meninggikan rasnya. Hatta pun demikian. Sebagaimana Agus Salim—yang menyuruh setiap anak laki-lakinya untuk tak menikah dengan perempuan Minang—menentang adat Minang terutama segi matrilinealisme yang hingga hari ini masih diterapkan di minangkabau, maka Hatta dan Sjahrir pun tak mau menikah dengan gadis Minang. Sjahrir menikah dengan orang Belanda lalu menikahi sekretarisnya. Hatta menikahi gadis Jawa. Sebagian besar tokoh Minang tak mau untuk menikahi gadis Minang. Mereka pada umumnya menolak matrilinealisme. Sepertinya tak ada gerakan feminisme di Sumatera Barat karena hanya kaum patriarki ini saja yang selalu mendemo kedudukan perempuan di ranah Minang. Tiga kali sejarah konsesi di Minangkabau selalu saja dimenangkan kaum adat dan kaum agama mesti puas diri dengan itu. Adat adalah agama asli Minangkabau yang hingga hari ini masih menang terhadap kaum agama. Realitasnya seperti itu. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah Kalimat yang belum selesai. Syarak Mangato Adat Mamakai adalah kalimat yang entah kenapa sering dihilangkan oleh kaum adat tentu saja. Merantau adalah cara kaum patriarki ini untuk lari dari tekanan matrilinealisme dan menikahi perempuan yang bukan orang Minang. Itulah kemenangan mereka tampaknya.

::  (c) Devi Kurnia. A (diskusi via FB)

Jumat, 12 November 2010

Tan Malaka (Lagi) : "Muslim Merah Minangkabau"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tapi ada satu yang mengganjal, jangan-jangan Madilog kita berbeda? Kemana pula kan kucari "Matematika Idiologi Logika" itu wahai Cutaik?
Tan Malaka itu komunis. Komunis itu atheis. Atheis itu tak bertuhan. Itulah komentar umum yang kudapat. Aku pun mulai percaya tentang ketidakpercayaan Tan Malaka akan adanya Tuhan saat itu. Untuk lebih jelasnya aku kemudian mewawancarai Mestika Zed — salah seorang dosen sejarah di kampus Air Tawar — penulis buku “Pemberontakan Komunis Silungkang 1927”. Aku tentu menanyainya terlebih dahulu kenapa provinsi Sumatera Barat bisa menjadi provinsi terbesar di Indonesia yang mempraktikkan komunisme kala itu. Setelah itu baru aku menanyakan Tan Malaka yang memiliki peran besar dalam komunisme tanah air.

“Apakah benar Tan Malaka itu atheis, Pak
?” tanyaku. Pak Mestika Zed terdiam lalu menjawab, “Saya bukan orang yang paling berkompeten untuk menjawab itu. Ada orang yang jauh lebih paham tentang Tan Malaka ketimbang saya. Kamu pergilah ke Mesjid Al Azhar sana, lalu setelah itu temui salah seorang khatib di sana. Namanya Buya Mas’oed. Ia jauh lebih paham tentang Tan Malaka ketimbang saya. Setelah dari sana baru kamu ke sini lagi menemui saya.” Aku pun pergi. Di salah satu ruang kecil di Mesjid Al Azhar, yang kini sedang dirombak dan akan dipindahkan itu, aku duduk di lantai dan Buya Mas’oed di depanku. Beberapa anak murid keluar masuk ruangan itu untuk menanyakan bacaan Qur’an. Ia tengah mengajar ketika aku datang. Lalu ia pun menyelesaikan dulu pengajarannya dan kemudian kembali lagi ke kamarnya yang kecil itu namun penuh dengan buku. “Anda ini siapa dan ada keperluan apa?” tanyanya. “Aku ingin meneliti tentang Tan Malaka dan tadi Pak Mestika menyuruhku ke sini untuk menemui Bapak,” lalu beliau mencatat namaku di secarik kertas. “Apa yang ingin adik ketahui tentang Tan Malaka?” tanyanya sembari tersenyum. “Hampir sebagian besar orang mengatakan Tan Malaka itu komunis sementara pemahaman awam selama ini adalah komunis itu identik dengan atheis. Bagaimana menurut Bapak?” aku menyodorkan muncung handycam-ku ke mukanya. “Tan Malaka adalah seorang muslim yang tegas dan konsisten dengan jalan pendiriannya terutama dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.” Sontak aku terkejut kala itu. Tan Malaka muslim?
“Tan Malaka terlahir dengan nama Ibrahim di Suliki, nagari Pandam Gadang, Payakumbuh dan dia dididik di dalam lingkungan Islam yang ketat. Ketika remaja ia kemudian diberikan gelar adat Datuk Tan Malaka. Ia adalah orang ketiga di dalam ranji Koto Piliang yang mendapat gelar itu. Ia bersekolah di Kweekschool atau lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Raja di Bukit Tinggi. Setelah itu ia melanjutkan ke Sekolah Guru di Belanda atas dukungan dana dari Angku Fonds—semacam Yayasan Para Ninik Mamak—dan bantuan dana dari Horensma gurunya di Bukit Tinggi. Hari ini mana ada ninik mamak yang peduli dengan pendidikan anak kemenakannya? Di Belanda itulah Tan Malaka mulai berkenalan dengan bacaan-bacaan kiri. Ia mulai membaca Nietzsche yang mengatakan Tuhan telah mati, teori evolusi Darwin hingga ke Das Capital-nya Karl Marx—nabi kaum komunis sedunia. Tan Malaka mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang salah di negerinya—tempat di mana Belanda telah menjajah bangsanya selama berabad lamanya. Ia mulai berpikir dan mempertanyakan konsep-konsep kolonialisasi. Semakin ia membaca mengenai Marxisme semakin ia paham tabiat dan watak dari kolonialisme Eropa—terutama terhadap bangsa-bangsa Timur yang bodoh.”

“Lalu apakah Tan Malaka keluar dari Islam atau apa yang terjadi sesungguhnya?” “Jangan terburu-buru men-judge seseorang kafir atau atheis, anak muda. Seorang muslim yang menuduh sesama muslim itu kafir sungguh adalah kafir itu sendiri.” Aku terdiam. “Apa yang dilakukan Tan Malaka sepulang dari Belanda ke Indonesia—selain membuat sekolah—adalah merangkul kaum muslim tertindas. Ia bergabung ke dalam Syarikat Islam yang kemudian terbagi dua menjadi putih dan merah. Tan Malaka memilih yang merah dan kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia. Jadi satu hal yang harus diinsyafi adalah PKI lahir dari satu organisasi muslim terbesar saat itu. Tan Malaka berusaha mencegah perpecahan ini karena baginya Islam adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan merebut kemerdekaan.” “Lalu apa yang terjadi?” “Tan Malaka tak mampu mencegahnya. Idenya ditentang oleh Agus Salim dan Abdul Muis. Ketiga orang ini adalah orang Minang.” “Ada apa dengan orang Minang?” “Tan Malaka ketika dia ke Rusia tahun 1922, mengatakan bahwa sesungguhnya Rusia belum sepenuhnya menjadi Negara Komunis.”

“Loh, kenapa begitu?” “Karena baginya komunisme sebenarnya adalah komunisme ala Minangkabau. Komunisme yang tak pernah mengenal konsep penjara. Komunisme—yang kependekan dari komunalisme—di mana moda produksi bukan dikuasai oleh individu tapi dikuasai, dikelola, diproduksi, dikonsumsi, didistribusi oleh kaum itu sendiri. Tak ada kaya ataupun miskin. Semua derita ditanggung bersama. Rumah Gadang pun dibangun dengan semangat kebersamaan bukan karena faktor uang. Di situlah ruang filsafat bisa berkembang dengan pesat dan pendidikan menjadi bagian terpenting. Inilah komunisme asli Minangkabau yang sangat dibanggakan Tan Malaka. Setelah Belanda datang, semua itu kemudian mulai terkikis dan hilang hingga hari ini.” Aku semakin bingung dengan Tan Malaka, komunis kok beragama? Susah bagiku untuk mencerna ini. “Lalu hubungan Islam dengan Tan Malaka apa Buya?” “Bagiku Tan Malaka tidak hanya seorang pemikir muslim tapi ia juga bertindak untuk mencapai apa cita-citanya yaitu Indonesia yang merdeka dan berdaulat atas dirinya sendiri. Buya membaca hampir seluruh karyanya dan Buya tak menemukan di bagian mana yang mengatakan bahwa ia atheis. Bahwa ia komunis iya, tapi jika masalah atheis sudah tentu itu tidak. Bahkan seorang Buya Hamka pun tak percaya Tan Malaka itu atheis sehingga dia mau memberi kata pengantar di buku Tan Malaka yang berjudul “Islam dalam Tinjauan Madilog”. Semakin aku bingung. Aku pun beranjak pergi karena Buya Mas’oed hendak kembali mengajar.

“Tan Malaka melakukan banyak hal untuk kaum muslim terjajah di mana saja dia berada. Di Indonesia, Malaysia, Rusia, Filipina hingga Thailand. Konsep Pan-Islamisme-nya dulu coba kamu bandingkanlah dengan konsep Hizbut Thahrir hari ini. Jauh sekali bedanya. Oh iya, satu hal lagi yang penting adalah Tan Malaka pernah aktif di PKI namun kemudian keluar karena tak sejalan dengan pendiriannya. Kemudian Tan Malaka jadi musuh PKI nomor wahid,” ujarnya sembari berlalu. Ah, sukses Buya satu ini membuat kepalaku pusing. Tapi satu hal yang akhirnya aku tahu bahwa Sumatera Barat adalah gudangnya kaum komunis. Lalu apakah mereka semua itu atheis? Ataukah hanya Tan Malaka saja yang atheis?

Kembali ke hari ini. Aku paham kenapa temanku Cutaik tetap bersikukuh mempertahankan pendiriannya bahwa Tan Malaka itu atheis—dan seperti atheis yang lain maka ia layak untuk dibenci dan disingkirkan tentu berdasar pemahaman pemeluk monotheis. Namun jika aku boleh memberi saran sekali-sekali tanyakanlah pada Buya Mas’oed itu tentang keatheisan Tan Malaka. Karena sepertinya cara persuasiku belum cukup berhasil. Mungkin Buya Mas’oed bisa lebih gamblang menjelaskan keislaman Tan Malaka yang entah kenapa tak pernah dibahas peneliti asing. Bagi mereka tak penting apakah Tan Malaka itu mengaji atau shalat. Aku pun mulai mencari buku tentang Sumatera Barat tahun 1920an—tahun di mana Marxisme beredar luas di provinsi ini. Aku pun berhasil menemukan satu buku yang kemudian merubah hidupku. Buku itu ditulis Audrey Kahin yang berjudul “Dari Pemberontakan ke Integrasi; Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998”. Ini buku wajib buat anak muda Minang hari ini untuk mengetahui jatuh bangun mereka selama ini. Audrey mengatakan bahwa republik ini didirikan oleh sebagian besar mereka yang terlahir dari provinsi ini. Provinsi ini adalah provinsi yang tingkat dinamisitasnya saat tinggi terutama di saat penjajahan Belanda. Beragam pemberontakan terjadi, seperti Perang Kamang hingga Pemberontakan Silungkang. Sehingga tersiar kabar bahwa provinsi ini adalah negeri para pemberontak di mata Belanda. Tak hanya di jaman Belanda saja provinsi ini memberontak, setelah merdeka pun mereka memberontak kepada kaum Republiken atas nama PRRI. Di sinilah hipotesis Audrey di mulai, kenapa provinsi paling cemerlang di Nusantara ini justru menjadi provinsi paling terbelakang setelah Penumpasan PRRI dilakukan? Dan apa yang ia temukan sungguh membukakan mataku kenapa provinsi tempatku dilahirkan itu menjadi seperti ini hari ini.

Temanku Cutaik itu juga berasal dari Bukit Tinggi—tempat di mana Hatta dilahirkan, tempat di mana Tan Malaka, Marah Rusli dan AH Nasution bersekolah, tempat di mana markas PDRI berada. Perlu teman-teman ketahui bahwa PRRI lahir sebagai bentuk ketidakpuasan daerah terhadap pusat sehingga—selain mengembalikan dwitunggal SoekarnoHattadan membubarkan PKI—keterciptaan semacam otonomi daerah di daerah luar Jawa. Hal lain yang juga cukup signifikan adalah krisis komando di Angkatan Darat yang merupakan kritik terhadap kepemimpinan AH Nasution. Satu ultimatum diberikan kemudian kepada Pusat. Kabinet Djuanda diserang kebijakannya. Achmad Husein kemudian mengumunkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958 yang kemudian dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara—yang sepuluh tahun sebelumnya juga memimpin PDRI. Sehari sesudah itu Pusat berang dan menyerang Painan, Padang dan Bukit Tinggi pada tanggal 21 dan 22 Februari. Nasution kemudian memerintahkan Ahmad Yani untuk memimpin penyerangan ke Sumatera Barat yang kemudian dikenal dengan nama “Operasi 17 Agustus” di bulan April. 17 April kota Padang dibom dari Kapal Perang Indonesia. Solok dihabisi tanggal 21 April dan esoknya Sijunjung. Padang Panjang baru bisa dicapai tanggal 1 Mei dan tak lama kemudian Bukit Tinggi—kota di mana pusat pemberontakan berada. Tanggal 5 Mei Bukit Tinggi berhasil dikuasai. TNI—dibantu ormas-ormas PKI—berhasil menangkap para pemberontak.

Sjafruddin dan M. Natsir—dua pemimpin PRRI—bingung dengan cepatnya penumpasan ini. Kenapa Republik ini bisa lebih cepat menghabisi bangsanya sendiri ketimbang ketika melawan asing? Tapi dua orang itu belum mau menyerah. Sementara ribuan sudah yang meninggal akibat penyerangan Pusat tersebut. Nasution mengakui bahwa jumlah yang meninggal mencapai 22ribu orang namun banyak yang menyangsikan itu hingga ke angka 40ribuan. Di bulan Agustus, Sjafruddin akhirnya menyerah sementara Natsir masih bersembunyi di hutan. Setelah mengetahui temannya Djambek dibunuh oleh PKI yang turut membantu TNI menumpas PRRI barulah kemudian Natsir menyerah di bulan September. Inilah era di mana orang Sumatera Barat mulai merasa dirinya sebagai warga negara kelas dua. Sumatera Barat menjadi provinsi yang mengalami kehancuran mental setelah itu. Inilah masa di mana TNI dan PKI masih menjadi ‘sahabat’.

Di awal tahun 60an terjadilah diaspora luar biasa dari Sumatera Barat ke Jawa—terutama Jakarta. Ada perasaan terhina untuk tetap berada di Sumatera Barat. Para orang tua mulai menamai anak-anak mereka dengan nama Jawa—Irwan Prayitno misalnya—karena takut akan dibunuh oleh tentara dari Jawa. Tak ada lagi penerbitan bermutu setelah itu. Tak ada lagi sekolah-sekolah bermutu. Tak ada lagi yang mampu dibanggakan. Semuanya hilang setelah itu. Sumatera Barat dengan segala kebesarannya di masa lalu itu kini telah tiada. Orang Minang adalah orang yang tak menang. Kalah. Lalu lihatlah hari ini jalan Ahmad Yani begitu besarnya di kota Padang—entah di Bukit Tinggi—dan bandingkanlah dengan jalan Tan Malaka. Orang yang telah meluluh lantakkan Sumatera Barat dalam waktu sangat cepat itu kemudian tewas dibunuh gerombolan PKI yang sebelumnya membantunya menumpas rakyat Sumatera Barat. Bahkan Letkol Untung pun berdinas di Sumatera Barat sebelum dipindah ke Jakarta untuk menjadi Cakrabirawa. Angka puluhan ribu itu seakan hanya statistik belaka ketika pemerintah membunuhi rakyatnya sendiri. Bahkan tsunami Aceh ataupun Mentawai tak mencapai angka puluhan ribu seperti itu. Keganasan manusia ternyata melebihi keganasan bencana alam. Orang minang hari ini seperti kabau yang telah dicucuk hidungnya sehingga bisa diatur sedemikian rupa. Mereka menjadi anak bawang saja. Menjadi anak manis ORBA. Lalu sebagai kaum yang kalah, bisakah Anda melihat porsi Sumatera Barat di buku sejarah nasional? Sumatera Barat tak lebih sebagai pemberontak yang kalah di mata pusat oleh karena itu tak ada tempatnya di buku sejarah—sama seperti Tan Malaka.

Akhirnya aku tak mau lagi peduli pembicaraan tentang Tan Malaka—yang mengajari anak-anak mengaji di Thailand--itu komunis atau tidak, Tan Malaka—yang paling kesal diganggu ketika shalat dan menulis—itu atheis atau tidak, aku sudah tak peduli. Aku lebih benci kepada mereka yang mengakui keislamannya tapi membunuh sesama saudaranya sendiri dengan mengatasnamakan agama. Aku lebih benci ormas-ormas Islam yang menghancurkan tempat prostitusi tapi tak mau tanggap pada korupsi. Aku kini lebih terpukau pada Gayus Tambunan—PNS muslim idola camer Gol IIIA—yang mampu mengobrak abrik law enforcements di negeri ini hanya dengan dana tak terbatas yang ia punya dari departemen yang memakai slogan “Apa Kata Dunia” itu. Inilah idola baru kaum media hari ini. Semua tentang Gayus jauh lebih mempesona.

Oleh karena itu jika dialektika ini masih ingin dibahas maka aku akan berkata sama seperti yang kukatakan kepada mahasiswa IAIN yang ngotot mengatakan Tan Malaka itu atheis; “apa yang sudah Anda lakukan di umur Anda sekarang ini? Hari ini ketika orang-orang Israel membunuhi orang Palestina kalian hanya berdemo di sini—di jejalanan kota. Tan Malaka ketika sebagian Muslim di Rusia dibunuhi dia berjalan sendirian ke Rusia untuk membela kaum Muslim di sana. Sudah berapa buku yang Anda hasilkan di umur Anda? Tan Malaka di umur yang sama dengan Anda sudah menghasilkan buku bernas yang wajib dibaca sebelum lagu Indonesia Raya itu tercipta. Apa yang Anda lakukan ketika Imam Bonjol orang yang paling menginginkan kemurnian Islam itu—yang juga telah membunuh puluhan ribu rakyat Tapanuli itu—dibuatkan patung atas namanya. Apa yang kalian lakukan wahai mahasiswa Imam Bonjol? Apa yang telah kalian lakukan untuk agamamu dan bangsamu?” Mahasiswa IAIN itu tak menjawab pertanyaanku itu tapi entah dengan temanku nanti. Tapi yang jelas komentar Muhammad Fahmi telah menunjukkan seperti apa kualitas dirinya. Sekian dulu, jika ini masih kurang persuasif dan realistis maka akan ada edisi selanjutnya. Untuk Cutaik jangan baca Madilog yang di halaman pertama saja—baca hingga habis baru komentar lagi dan jangan lupa temui Buya Mas’oed karena Buya Hamka tak bisa lagi diwawancarai.

:: Catatan Pinggir ILHAM .... saya bukanlah pengagum fanatik seorang anak manusia bernama TAN MALAKA, tetapi ia adalah salah seorang putra terbaik Minangkabau dan bangsa "Sumpah Palapa"-nya Gajah Mada ini. Seluruh denyut nadi kehidupannya,dipeersembakan buat bangsa yang hari ini kita nikmati. Tapi sayang, karena sejarah kita rasa "nano-nano", membuat Tan Malaka "dipinggirkan" dan hanya seumpama catatan kaki. Berkaca dari Tan, banyak lagi yang "sejenis" beliau dimarginalkan oleh sejarah. Bagaimana kita menjadi bangsa besar, bila diskriminatif terhadap mereka yang "membuat sejarah". SELAMAT HARI PAHLAWAN ... !! Pada kalian, entah tercatat oleh sejarah entah tidak, pada kalian kami berhutang !!

:: (Sebagaimana yang di-narasi-kan Devy Kurnia A. dalam diskusi/note FB (09-11-2010)

Senin, 08 November 2010

Tan Malaka - Pahlawan atau Grand Homme ?

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Waktu akan lebih jujur untuk berkata/tidak sekarang, mungkin nanti/tapi itu pasti (Taufik Ismail)

Ibrahim Tan Malaka, si putra Pandan Gadang Suliki, diangkat Soekarno sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Kepres RI No. 53. Kepres ini ditandatangani Soekarno pada tanggal 28 Maret 1963. Tradisi pengangkatan seseorang untuk menjadi pahlawan ini sendiri dimulai sejak tahun 1959 dengan Abdul Muis sebagai orang pertama yang dinobatkan sebagai pahlawan di Indonesia. Semenjak itu hingga tahun ini daftar pahlawan kita terus bertambah. Soekarno—yang baru dijadikan pahlawan 16 tahun sesudah kematiannya—mengatakan bahwa ‘bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya’ dan itu seakan mesti menjadi suatu teguran bagi rezim Orde Baru yang telah menghilangkan nama Tan Malaka di buku sejarah resmi pemerintah. Tan Malaka tidak pernah hadir di dalam buku sejarah tapi gelar kepahlawannya tidak pernah dicabut. Tan Malaka menjadi pahlawan tanpa makam. Pada tanggal 14 April 2010, puluhan mahasiswa dari beberapa universitas terkemuka di Sumatera Barat memancangkan plang jalan Tan Malaka yang terletak di samping RRI di kota Padang. Sudah beberapa tahun jalan Tan Malaka—yang sebelah menyebelah dengan jalan Abdul Muis—dibiarkan pemerintah tanpa plang nama. Ini adalah suatu bentuk kepedulian mahasiswa untuk memunculkan kembali nama dan peran Tan Malaka khususnya di provinsi di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Namun kondisi ini menjadi semakin miris dikarenakan sebagian besar anak muda Sumatera Barat tidak kenal dengan siapa itu Tan Malaka.

Tan Malaka, jika lahir di Prancis maka ia akan diberikan satu gelar terhormat atasnya yaitu Grand Homme. Gelar ini sebagai pembeda untuk sebutan pahlawan sejenis di negara lain. Jika pahlawan dimaknai peranannya hanya untuk negeri itu sendiri maka Grand Homme adalah bukti pengabdiannya di ranah internasional. Nama-nama seperti Voltaire, Jim Morrison, Oscar Wilde, Victor Hugo hingga Marrie Currie adalah nama-nama yang diabdikan di berbagai Panthéon di Prancis—pekuburan terhormat untuk mereka. Mereka adalah politisi, pemusik, sastrawan, budayawan hingga ilmuwan yang buah karyanya terus berpengaruh besar hingga hari ini. Hari ini Taman Makam Pahlawan kita hanya didominasi oleh kaum militer belaka. Lalu ketika wacana menjadikan Soeharto dan Gus Dur sebagai pahlawan mulai mencuat beberapa waktu terakhir, apakah ini bukan saat yang tepat untuk kita bersama-sama mulai memikirkan ulang pemaknaan kita akan arti dari kata pahlawan itu sendiri? Oleh karena itu dalam peringatan Hari Pahlawan tahun ini sudah saatnya kita mulai melihat sejarah secara objektif dan arif bijaksana sehingga pemaknaan kita akan konsep kepahlawanan tidak menjadi sedemikian sempitnya. Sudah saatnya republik ini mempunyai panthéon-nya sendiri.

:: Referensi (c) : Devy KA., artikel ini dimuat di Haluan, 9 November 2010

Kamis, 04 November 2010

Ketika Tembok Cina Selesai Didirikan, Kemanakah Para Budak (di)Sembunyi(kan) ?

Oleh : Muhammad Ilham

"Ketika tembok Cina selesai didirikan, kemanakah para pekerja bersembunyi atau disembunyikan ?", demikian kata Ernst Bloch. Namun, Ernst Bloch telah menjawabnya. Tembok Cina sejatinya dibuat oleh para pekerja (baca: budak), tapi justru nama Shih Huang-Ti yang tercatat dalam tinta emas sejarah karena “masterpiece” dunia ini.

"Ketika tembok Cina selesai didirikan, kemanakah para pekerja bersembunyi atau disembunyikan ?", demikian kata Ernst Bloch. Untuk logika pertanyaan yang sama, akan timbul gugatan, kemanakah para mahasiswa bersembunyi atau disembunyikan setelah Suharto beserta rezimnya runtuh ? Kemanakah orang-orang yang dengan idealisme adiluhung mau secara tegar dihabiskan oleh ganas-garangnya Pembuangan Digul? Kemanakah mereka yang selama ini berjuang dengan “hati”, namun karena berbeda prinsip politik, mereka akhirnya dijadikan kambing hitam sejarah ?. Pertanyaan-demi pertanyaan akan terus bergulir. Namun, Ernst Bloch telah menjawabnya. Tembok Cina sejatinya dibuat oleh para pekerja (baca: budak), tapi justru nama Shih Huang-Ti yang tercatat dalam tinta emas sejarah karena “masterpiece” dunia ini. Berapa ribu budak menjadi “martir sejarah” hanya demi ambisi Fir’aun dengan proyek mercusuarnya, piramida. Suharto dan rezimnya telah jatuh, namun nama reformasi justru identik dengan segelintir orang. Terkadang, sejarah butuh tumbal untuk merubah arah geraknya.

Gerakan-gerakan nativis, ratu adil dan gerakan-gerakan yang dikompori oleh komunis yang nyata-nyata membuat daya dan energi kolonial Belanda “letih”, justru tidak diapresiasi secara proporsional oleh sejarah. Siapa yang kenal dengan Chalid Salim ? Adik “old-man greatest” H. Agus Salim ini, oleh Takashi Shiraisi, dianggap sebagai pribadi konsekuen. Chalid yang menghabiskan masa-masa produktif intelektualnya menggeluti komunis-sosialis, menjadi salah satu penghuni Digul pada tahun 1920-an s/d 1930-an. Masa itu, Digul adalah “daerah hantu pembuangan” yang ditakuti oleh para pejuang Indonesia. Bersama-sama teman-temannya, Chalid yang diakhir hidupnya menganut agama Nasrani (dan ini disyukuri oleh kakaknya Agus Salim karena selama ini Chalid memproklamirkan dirinya sebagai atheis), menghabiskan hari-harinya di daerah zona 3 Digul.
Ketika itu, Pembuangan Digul oleh Belanda dibagi atas 3 zona. Zona 1 untuk para digulis (orang buangan) yang setelah dibuang ke Digul memperlihatkan kompromi dan bisa “dibina” oleh kolonial Belanda. Mereka ini diberi insentif untuk biaya hidup. Zona 2 bagi digulis yang dianggap “abu-abu”, antara melawan dan kompromi. Zona 3 merupakan zona bagi digulis yang nyata-nyata melawan kepada Belanda. Mereka tidak diberi biaya hidup. Survival in the fittest nyata terjadi di Zona 3 tersebut. Di Zona 3 ini, para digulis banyak berasal dari Minangkabau, diantaranya Hatta, Syahrir dan Chalid Salim. Tapi sayang, Chalid Salim hilang entah kemana dari catatan sejarah. Sejarah pada akhirnya, meminjam istilah dedengkot mazhab Frankfurt-Juergen Habermass, adalah sejarah yang dikondisikan oleh pemegang hegemoni. Justifikasi intelektual yang mencari pegangan ke masa lampau sangat jelas terlihat dalam perjalanan panjang sejarah "anak bangsa" Indonesia. Kita sebagai bangsa yang merdeka, senantiasa berhadapan dengan ketentuan-ketentuan politik dan ekonomi-global yang tidak dapat dikendalikan, bahkan cenderung tidak disadari seperti yang dikatakan oleh Adam Smith -- "tangan-tangan yang tak terlihat".

Ada perasan hanyut dalam arus global itu dan obat untuk menstabilkan semua itu adalah masa lampau yang diharapkan dan dapat menjamin konsensus dan kemapanan. Pandangan seperti ini dikenal dengan istilah historisisme, sebuah pandangan yang mengabaikan sama sekali sejarah sebagai suatu perubahan dan dengan demikian menutup mata bagi kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik yang bisa diupayakan untuk masa yang akan datang
.

Sederhana yang ingin saya sampaikan dalam tulisan di atas ........ Saat sekarang ini, banyak diantara masyarakat Indonesia mulai melupakan sejarah dan track seseorang ....... sekali lagi : ketika menilai seseorang, lihatlah life-track
-nya.

Referensi : Takashi Shiraishi (2004)

Senin, 01 November 2010

Pahlawan itu Integritas, Bukan (selalu) dari "Haru Biru" Peperangan

Oleh : Muhammad Ilham

"Dia tak lasak seperti sungai di gunung, tapi tak dalam. Dia tak berada di puncak yang tinggi, tapi menampung. Dia tahu bahwa sumber airnya adalah air yang datang dari jauh di pedalaman, sebuah telaga tak bermula dari air yang tergenang setelah kebetulan hujan” (Tao)

Al Pacino, sang aktor watak Hollywood secara filosofis dalam sebuah filmnya mendefenisikan siapa sebenarnya pahlawan itu? Pahlawan adalah manusia yang memiliki integritas dan menjadi inspirasi terbaik bagi zaman ketika dan setelah ia hidup. Sangat filosofis. Ada tiga kata yang perlu digarisbawahi disini. Manusia, Integritas dan Inspirator. Pahlawan bukan malaikat. Pahlawan adalah manusia. Hidupnya dipenuhi dengan perspektif. Suatu perspektif tidak akan pernah diterima secara bulat-menyeluruh. Ia terikat dengan zaman. Karena itu, terkadang kita tidak adil melihat seorang anak manusia dari perspektif kita atau “kekinian”. Parahnya lagi, tanpa menggunakan parameter yang jelas. Siapa yang bisa menjamin Sukarno adalah manusia yang sempurna, apalagi dilihat dari perspektif sekarang. Mengapa kita marah-bergejolak ketika ada yang “menggugat” kepahlawanan Imam Bonjol ? Siapa yang meragukan dedikasi total Tan Malaka terhadap Indonesia, walaupun oleh Rudolf Mrazek dan Harry Poetze, sang putra Pandan Gadang Suliki ini dianggap pernah berusaha “mengkudeta” supremasi ketokohan Sukarno-Hatta. Meniti episode demi episode kehidupan Tan Malaka, sungguh sangat menggairahkan. Mungkin, beliulah satu-satunya orang Asia Tenggara yang tercatat dalam Manifesto Politbiro Komunis Rusia sebagai salah seorang inspirator ideologi sosialis-komunis Asia.

Beliau dianggap jauh lebih besar dibandingkan Mao Tse Tung maupun "Paman" Ho Chi Minh si "pahlawan legendaris Dien Binh Phu" itu. Seluruh hidupnya dipenuhi oleh aura revolusioner demi martabat Indonesia. Sebagaimana halnya Muhammad Hatta, Tan Malaka adalah makhluk Tuhan yang cool pada wanita, karena beliau terlampau hot untuk berjuang demi Indonesia. Ibrahim Datuk Tan Malaka yang dikagumi orang Filiphina ini, mati secara tragis ditangan bangsanya sendiri. Padahal ditangan bangsa lain – ketika ditangkap oleh orang Belanda maupun ketika ditangkap di Filiphina dan Tiongkok – beliau selamat. Tapi sayang, Tan Malaka adalah “manusia” (manusia dalam tanda kutip). Sejarah hidupnya tidaklah konstan. Ketika sesuatu tidak sesuai dengan apa yang menjadi prinsipnya, ia melawan. Itulah konstanta Tan Malaka. Untung Tan Malaka diberi gelar Pahlawan pada masa Soekarno. Bila ia tak tertembak, dan hidup terus sampai Orde Baru, mungkin kita tidak akan mengenal ada Jalan Tan Malaka (walupun jalan-jalan Tan Malaka tak pernah diberikan untuk jalan-jalan protokol) saat sekarang ini. Dijamin : Tan Malaka tak akan menjadi pahlawan. Padahal, sebagaimana halnya Muhammad Natsir, garansi akademik dan kontribusi positif rasanya telah melebihi cum.

Siapa yang tidak kenal DN. Aidit ? Dipa Nusantara Aidit atau Danu Nusantara Aidit atau Dja’far Nawawi Aidit atau apalah namanya. Bersama-sama dengan “teman-teman mudanya”, seperti Soekarni dan Chairul Saleh, anak muda kelahiran Bangka Belitung dari ayah yang merupakan keturunan Maninjau ini, menculik Sukarno Hatta dan “memaksa” Dwi Tunggal ini memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Melalui biduk “ideologi komunis” beliau mengaktualisasikan potensi politiknya. Dalam usia yang relatif “hijau”, 27 tahun, ia mengambil alih kepemimpinan PKI dari Muso. Bersama dia, ada Lukman yang 30 tahun, Sudisman 31 tahun dan Nyoto 25 tahun. Dalam bukunya Indonesian Communism under Soekarno, Rex Mortimer mengatakan bahwa Aidit adalah figur yang menjunjung idealismenya, dan “miskin” dengan bumbu-bumbu politik seperti yang familiar terjadi pada saat sekarang yaitu uang dan seks. Sejarah menunjukkan bahwa Aidit kemudian “terjerambab” dalam kesalahan pilihan ideologis. Kemudian, ia bukan pahlawan. Kemudian ia terhina. Kemudian ia seakan-akan bukan bahagian dari “kita”. Ini bukan profokatif dan saya tak memiliki kepentingan politis apapun terhadap Aidit dan “anak cucu” ideologisnya. Saya pun tak memiliki referensi yang bisa meyakinkan saya untuk kagum pada Aidit. Tapi setidaknya, itulah yang namanya ketidakdilan sejarah (baca: sejarah versi pemegang kekuasaan).

google.picture.com
Dalam pergulatan sejarah pemikiran Islam akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 masehi, Minangkabau pernah memiliki seorang Datuk, namanya Datuk Batuah – lengkapnya Ahmad Chatib gelar Haji Datuk Batuah. Orang Koto Laweh ini, pada masa itu sangat mencengangkan dan sekaligus mencemaskan. Melalui media massa yang didirikannya – Pemandangan Islam dan Djago Djago – Datuk Batuah memaklumkan diri sebagai “orang komunis”. Persoalannya, bukan pilihan politiknya itu. Persoalannya adalah Datuk Batuah yang haji itu adalah murid ulama ternama Haji Rasul alias Inyiak Dotor, ayahanda ulama legendaris HAMKA. Beliau sendiri sampai awal tahun 1923 berprofesi sebagai guru dan menjadi pengurus Thawalib Padangpanjang, Batusangkar dan Bukittinggi. Dalam sejarah, nama Datuk Batuah bukanlah nama yang bagus dikalangan pergerakan Islam, hingga kini. Padahal, kontribusi pencerahan yang dirintis oleh Datuk Batuah dengan Pemandangan Islam dan Djago Djago sungguh sangat luar biasa. Konon, pada masa ini, ada tiga media massa paling berpengaruh di Hindia Belanda, dua diantaranya terdapat di Minangkabau …… Pemandangan Islam dan Djago Djago. Bahkan, Ruth Mc Vey dalam Zabukunya The Rise of Indonesian Communism dan Takashi Shiraishi dalam bukunya Zaman Bergerak mengatakan bahwa Datuk Batuah dan Haji Misbach (yang ini tokoh Islam “kiri” Surakarta), sangat dihormati oleh kolonial Belanda bukan karena mereka “penjilat” akan tetapi idealisme mereka yang sangat tinggi untuk mencerahkan lingkungan masyarakat dan bangsanya. Coba lihat ending film The Lion of Desert, film biografi kepahlawanan Ahmad Mochtar (yang ini pahlawan Libya melawan Italia yang dibintangi Antony Quinn), dengan senyuman bahkan sempat bercanda dengan seorang anak kecil, dengan kepala tegak penuh martabat, Ahmad Mochtar menuju tiang gantungan yang telah dipersiapkan oleh Italia di bawah Mussolini. Diantara euforia pimpinan militer Italia menyaksikan kematian tragis musuh bebuyutan mereka tersebut, ada seorang elit militer Italia kala itu terpana-terpukau dan berlinangan air matanya melihat Ahmad Mochtar “kembali ke haribaan Tuhan”. Bukan kematian tragisnya yang membuat sang tentara menangis, tapi keyakinan dan idealisme Ahmad Mochtar-lah yang dikaguminya. Dalam keadaan yang bisa “menjilat”, beliau justru “pergi” karena membela keyakinannya.

Gelar Pahlawan bukan berarti menjadi garansi untuk menjadi referensi bagi generasi berikut tentang arti kepemimpinan dan keluhuran budi. Tao, sang filsuf Cina Klasik mengatakan : “Seorang pemimpin yang baik adalah ibarat sebuah danau. Dia tak lasak seperti sungai di gunung, tapi tak dalam. Dia tak berada di puncak yang tinggi, tapi menampung. Dia tahu bahwa sumber airnya adalah air yang datang dari jauh di pedalaman, sebuah telaga tak bermula dari air yang tergenang setelah kebetulan hujan”. Karena itu, kepemimpinan dan figur yang baik itu bukan ditentukan atau dinilai dari keberanian bertindak. Kepemimpinan yang baik terjadi ketika sebuah tindakan merupakan bagian dari hidup yang utuh yang mengaktualisasikan diri …. Good leadership concist of doing less being more, setidaknya demikian nasehat Ahlan Ahmad Sahlan (diplomat Dinasti Abbasiyah yang diperankan oleh Antonio Banderas) dalam film The 13th Centuries Warrior.

Rasanya, tokoh-tokoh diatas dan begitu banyak aktor-aktor sejarah Indonesia lainnya adalah orang yang memiliki integritas. Integritas itulah yang pahlawan, bukan “haru biru” peperangan. Dari integritas itulah generasi berikutnya mampu mendapatkan “pelajaran berarti” agar yang namanya Pahlawan tersebut memiliki makna. Natsir, dan Datuk Batuah dan lain-lain adalah orang-orang yang pantas dan harus kita hormati dan hargai bukan karena mereka tidak dijadikan Pahlawan versi pemerintah sebagaimana kita juga kita menghormati Muhammad Hatta, Agus Salim dan lain-lain bukan karena gelar pahlawan mereka. Integritas dan totalitas perjuangan mereka yang memang akan terus kita kagumi. Karena itulah warisan paling berharga dari mereka. Sudah sepantasnya kita memandang putra-putra terbaik sejarah Indonesia dengan cara itu. Karena nilai-nilai substantif dari kepahlawanan itu bukan dari tampilan heroisme ataupun kepiluan episode pengorbanan hidupnya, akan tetapi pada kekuatannya untuk mempertahankan nilai-nilai integritasnya. Selamat memasuki bulan para Pahlawan !

:: Artikel ini pernah diterbitkan di PADANG EKSPRES, Minggu, 11 November 2008