Minggu, 05 Agustus 2012

Pemimpin Itu Tidak Meminta Pahala


Sejauh yang saya pahami tentang teori politik dan teori kepemimpinan, 
mulai dari pendapat paling klasik dari filosof Yunani Plato 
hingga Max Weber terus ke Rheinald Kasali, 
Maka bagi saya, (hanya) satu formulasi pemimpin itu dianggap sebagai pemimpin yang bagus 
dan berkarakter (baik) yaitu  : 
"Ia tidak bertaruh berhala, ataupun meminta pahala"


Sumber Foto : Search via google.picture.com (cc) Jo Dimitri Kabir 

Takdir Bermata Sipit

Oleh : Muhammad Ilham 

Tulisan untuk Ahok, pasangan Jokowi yang dipertanyakan takdir "mata sipitnya". 

Saya mulai dengan Sutan Takdir Alisyahbana tahun 1930-an. "Indonesia, kata Pujangga Balai Pustaka ini, bukanlah penjumlahan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan seterusnya. Indonesia, lanjut pengarang Layar Terkembang dan Grotta Azzura tersebut, bukanlah sambungan seperti itu. Bangsa Indonesia adalah kreasi abad ke-20 yang sepenuhnya baru!". Sejak buku sejarah "terkembang" menjadi bacaan wajib di tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, ada satu entitas budaya yang hampir tak pernah disebut secara jernih - Cina. Cina yang lebih akrab "disapa" dengan Tionghoa itu (setahu saya) sejak saya lepas dari balita dan mulai belajar PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) kala di SD hingga memamah buku Sejarah Nasional Indonesia produk Nugroho Notosusanto cs., hampir tak ada yang menarasikan posisi historis etnik Tionghoa dalam membentuk dan mempengaruhi jalannya roda sejarah nusantara ini. Nebula (megabudaya) Tionghoa di Indonesia bahkan hingga hari ini tak pernah dimasukkan dalam kurikulum sejarah. Asvi Warman Adam (2010) dengan tegas mengkritisi penghilangan kontribusi etnik Tionghoa dalam layar sejarah bangsa ini. Sejarah etnik Tionghoa di Indonesia bukan hanya berkutat pada sejarah "candu" yang selama ini sering di-blowup. Selama ini hanya diajarkan bahwa "pembentuk" sejarah dan budaya bangsa ini hanyalah budaya India (Hindu-Budha), Arab (Islam) dan Eropa (Kristen) yang mempengaruhi budaya lokal. Bila budaya India secara bening menonjolkan aspek spritulitas dan kerukunan, walaupun sebenarnya ada hirarkis (kasta), maka dari budaya Cina-Tionghoa ini bisa kita lihat juga secara bening bagaimana budaya Tionghoa ini mengajarkan kepada kita tentang kreatifitas dan inovasi teknologi.

Asvi Warman Adam (2010) memaparkan bahwa etnik Tionghoa-lah kali pertama berimprovisasi mengolah timah dan emas di pulau Bangka dan Kalimantan Barat pada paruh abad ke-19. Mereka juga memperkenalkan teknik irigasi yang efisien. Kuali juga diperkenalkan oleh etnik mata sipit ini. Bahkan, di Pattani Thailand dan perang Aceh dulu, etnik Tionghoa-lah yang berperan sebagai pengecor logam "jempolan" untuk membuat meriam. Mereka juga tercatat dalam sejarah sebagai penyumbang pembuatan kapal yang inovatif. Bila orang Bugis terkenal dengan Phinisi yang gagah dan estetik, maka etnik Tionghoa memperkenalkan kapal yang efisien. Pati Unus, Pangeran dari Jepara itu, dulunya untuk menyerang Malaka menggunakan kapal hasil kreasi etnik Tonghoa. Perahu Mayang dengan teknik sekat kedap air. Di Gresik dan Sumenep pada abad ke-19, etnik Tionghoa mengembangkan teknik efisiensi dalam pembuatan garam secara modern. Dan mungkin, bila kita runut satu demi satu, akan terlihat "benang merah" karakteristik sumbangan etnik Cina-Tionghoa pada sejarah kita - "inspirasi pada kreatifitas dan kewirausahaan", yang pada tradisi Hindu-Budha India apatah lagi Eropa (Kristen) tidak kita jumpai. 

Tapi entah kenapa, sumbangan etnik Cina-Tionghoa dalam sejarah dilihat dengan "mata sipit", untuk tidak mengatakan "dibutakan". Sejarah Indonesia seakan-akan hanya dibentuk oleh tradisi Animisme-Dinamisme, Hindu Budha India, Islam (Arab) dan Eropa (Kristen) serta budaya lokal. Dengan (selalu) menggunakan patron seperti inilah kemudian, nasionalisme di rumuskan. Di negeri kita ini, nasionalisme itu seakan-akan telah mendapat rumusan baku, bahkan amat sangat gamblang. Disamakan dengan etnisitas. Nasionalitas dianggap sebagai bentuk takdir lewat keturunan, maka bangsa ini hanya diibaratkan sebagai keluarga. Bukan seperti organisasi modern dengan keanggotaan yang bisa masuk-keluar. Dan keluarga itu hanya terpaku pada sebuah konsep yang bernama "pribumi" dan itu dibentuk oleh tradisi selain nebula Tionghoa. Padahal, bila kita (jujur) melihat kebeningan dan kejernihan berfikir para founding fathers kita pada proses pembentukan negara bangsa ini, mereka secara jelas ingin mengajarkan kepada kita bahwa tak ada yang "pribumi" dalam sebuah bangsa. Bangsa adalah adonan baru dari berbagai unsur dari berbagai sumber. Semuanya selalu non-pribumi. Secara teoritis, siapapun orangnya, sewaktu-waktu bisa mengganti kebangsaannya, katakanlah seumpama "naturalisasi" seperti Gonzales, Kim Kurniawan dan Irfan Bachim yang "ngganteng" itu, seperti orang mengganti partai politik, warna rambut ataupun pacar, bahkan jenis kelamin. Kamus resmi Bahasa Indonesia merekam dengan baik bagaimana sejarah nasional itu haruslah diberlakukan seperti bahasa nasional. Bahasa nasional yang unsurnya tidak hanya terbentuk dari bahasa Jawa, Melayu, Arab maupun Sanskerta. Tapi juga ada kontribusi bahasa Portugis, Inggris, Belanda dan Cina. Semuanya melebur menjadi bahasa nasional yang bernama Bahasa Indonesia, tentunya, sesudah dan karena mengalami perobahan. Itulah Indonesia. Semuanya punya kontribusi dan amatlah tidak fair kita meletakkan posisi sebuah unsur pembentuk sejarah kita dibalik "tikar sejarah" dan dipandang dengan "mata sipit". "Indonesia, bak kata Sutan Takdir Alisyahbana pada tahun 1930-an, bukanlah penjumlahan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan seterusnya. Indonesia bukanlah sambungan seperti itu. Bangsa Indonesia adalah kreasi abad ke-20 yang sepenuhnya baru!". Nampaknya lagu "Dari Sabang Sampai Merauke/Berjajar Pulau-Pulau .... perlu direkonstruksi, bahkan didekonstruksi). Hehehehehe, ekstrim kaleee. Wallahu a'lam bish shawab. 

Selanjutnya, beberapa tanggapan dari diskusi di facebook saya (26 tanggapan, saya ringkaskan), berkaitan dengan topik di atas. Tidak semuanya di publish.

Silfia Hanani Syafei : Semenjak saya suka dengan "lampion",  saya mulai belajar membaca falsafah Tiongkok klasik, sampai kitabnya versi Indonesia saya baca, ternayata luar biasa falsafah motivasi dalam falsafah cina.

Muhammad Ilham Fadli : kalau tidak sedemikian, manalah pula, suami tersayang Khadidjah menyarankan silahkan "bertungkuslumus" mencari ilmu hingga ke negeri lampion tersebut.

Ridwan Pasaribu : Budaya Cina-Tionghoa sangat kental mewarnai budaya Indonesia, terutama di betawi (Jakarta).

Muhammad Ilham Fadli : lihat http://ilhamfadli.blogspot.com/2011/01/ras-etnik-dan-sejarah.html

Andri Azis : Mungkin taashub cina-nya yang ditakuti sebagian orang.

Muhammad Ilham Fadli : bila Ludwid Wittgeinstein (1889-1951) pernah menegaskan bahwa bahasa bersifat “sewenang-wenang” terhadap realitas, maka sejarah disewenang-wenangi (pula) oleh politik

Ardi Kushardian : Sejak masuk kampus dan mengenal para teman-teman aktifis dakwah kampusnya yg ber'mata-sipit' sampai bermarga hadromi, maka semakin kaburlah penilaian saya mengenai kualitas seseorang itu dilihat dari suku dan warna kulitnya.

Utje F. Felagona : Menemukan ini dari om google, Minang dan Zhuang.. http://azohri.wordpress.com/2010/04/13/the-similarities-between-minang-indonesia-zhuang-china/

Rio Tampubolon : Seluruh Asia Tengara adalah pengaruh daripada kebudayaan India dan Cina, lihat Indochina :   Historically, Indochina comprises the territory of the former French Indochina : https://www.google.nl/search?q=proto+malay&hl=nl&prmd=imvns&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ei=8dMcUO6_McHH0QXlz4HIDg&ved=0CDIQsAQ&biw=1366&bih=667


Referensi : Asvi WA. (2010)
Sumber Foto : kaskus.co.id

Rabu, 01 Agustus 2012

Rohingya : Suu Kyi, Where are You ?

Ditulis ulang : Muhammad Ilham 

Aung San Suu Kyi (baca : Su Ci) ..... "Where are You ?" 

Burma merupakan negara besar multi etnis dan multiagama. Sejak merdeka tahun 1948 sudah ada konflik dimana etnis minoritas menginginkan merdeka atau otonomi. Ketika tahun 1962 rejim diktator militer berkuasa, konflik ini semakin membesar karena rejim juga semakin keras ingin memadamkan pemberontakan. Ada banyak etnis yang menginginkan kemerdekaan atau otonomi, diantaranya :  800 ribu Rohingya yang beragama Islam; 1,5 juta Kachin yang memeluk animisme; 3,5 juta Karen yang beragama Buddha dan Kristen serta  800 ribu Wa yang memeluk animisme.  Rejim militer Burma telah membunuh tidak kurang dari 700 ribu warganya selama berkuasa termasuk puluhan ribu bhiku Buddha yang menentang pemerintah.  Minoritas Muslim Rohingya memang terdiskriminasi, tapi juga minoritas Kachin, Karen, Wa, dsb yang jumlahnya jauh lebih banyak. Walaupun konflik terakhir membuat Rohingya menjadi pemberitaan, tapi korbannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pembunuhan rejim atas orang Buddha sendiri. Dilema terbesar Rohingya justru datang dari kalangan umat Islam sendiri, Negara Muslim Bangladesh yang juga punya 300 ribu warga Rohingya tidak mau mengakui mereka sebagai warga negara Bangladesh bahkan mengirimkan kembali mereka ke Burma yang berakibat fatal karena mereka semakin dieksploitasi oleh rejim militer. Ditambah dengan keengganan Malaysia dan Indonesia untuk membantu orang Rohingya, maka lengkap sudah penderitaan orang Rohingya. Tidak ada satu negarapun mengakui mereka bahkan yang negara Islam dan nasib mereka akan selalu menjadi pengungsi dimanapun mereka berada. Padahal solusi masalah Rohingya cukup sederhana, mengharapkan rejim militer untuk mengakui minoritas Muslim adalah mimpi di siang bolong karena siapapun yang menentang akan mereka bantai bahkan yang beragama Buddha sekalipun. 

Lalu, ketika kasus kemanusiaan di Burma ini terjadi, dimanakah Suu Kyi "berada?".

Berbagai kritikan dilontarkan pada pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi termasuk oleh pendukungnya sendiri karena ikon demokrasi itu enggan membuat pernyataan sehubungan dengan penindasan yang dilakukan militer terhadap etnis Rohingya. Kelompok aktivis yang mendukung Suu Kyi menuduh ikon HAM itu berdiam diri terhadap isu kemanusiaan dan perlakukan buruk oleh tentara pemerintah terhadap etnis Rohingya. PBB menganggap Rohingya adalah etnis paling teraniaya di dunia. Suu Kyi juga dikritik sengaja menghindar mengomentari isu yang telah berlangsung selama delapan minggu di negeri Rakhine, Myanmar barat. Ratusan orang dilaporkan tewas dan puluhan ribu lagi penduduk terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Laporan lain menyatakan pihak militer memukul, mengancam dan membunuh etnis Rohingya. Suu Kyi juga enggan mengkritik Presiden Thein Sein. Padahal tindakan mantan jenderal militer itu mendukung kebijakan yang mendorong terjadinya penghapusan etnis. Thein Sein mengatakan, sekitar 800.000 etnis Rohingya harus ditempatkan pada kamp pengungsi dan dikirim ke perbatasan Bangladesh. Direktur Eksekutif Kampanye Myanmar-Inggris, Anna Roberts mengatakan, Suu Kyi berada dalam situasi sulit, namun orang banyak kecewa karena ia tidak menyatakan sikapnya berhubung isu Rohingya. “Suu Kyi melepaskan peluang untuk membangkitkan isu mengenai HAM,” kata Brad Adams, Direktur Pemerhati HAM Asia.

Ketika ditanya tentang isu Rohingya, Suu Kyi dalam pernyataan kurang jelas menyatakan pentingnya ‘menghormati kedaulatan hukum’ atau hukum imigrasi perlu direformasi menjadi yang lebih jelas. Pendirian yang kabur itu, menunjukkan bahwa Suu Kyi menganggap etnis Rohingya Islam itu sebagai pendatang haram. Pada ucapan pertamanya di Parlemen pada Rabu pekan ini, Suu Kyi menegaskan tentang pentingnya melindungi hak asasi kelompok minoritas yang lebih mengacu kepada kelompok penganut Buddha di Karen dan Shan. Suu Kyi tidak menyebutkan kekerasan komunal bulan lalu di Myanmar bagian barat antara Rakhine yang beragama Buddha dan kaum Rohinya Muslim yang memangsa sedikitnya 78 orang tewas dan memicu tindak kerasan tentara pemerintah. Peraih hadiah Nobel Perdamaian itu memang telah lama memperjuangkan hak-hak minoritas etnis, termasuk etnis Shan, Karen dan Kachin, tetapi dikritik oleh kelompok hak asasi karena tidak menjanjikan dukungan kuat untuk etnis Rohingya. Kebanyakan orang menganggap Rohingya Myanmar dikembalikan saja ke Bangladesh. Diperkirakan 800.000 Rohingya hidup di negara bagian Rakhine di Myanmar dan setidaknya 200.000 lebih di Bangladesh. Mereka tidak diakui oleh kedua negara.

Suu Kyi, saya dan kami tahu bahwa kamu sedang melihat semua yang terjadi, walau (karena pilihan tertentu), tanganmu kamu tutupkan ke wajahmu !




Catatan Tambahan(detik.com/AFP Press)

Sekitar 80 orang warga muslim Rohingya tewas dalam kerusuhan sektarian di Myanmar pada Juni lalu. Kelompok-kelompok HAM menuding pasukan militer Myanmar ikut melakukan kekerasan terhadap warga Rohingya. Tapi siapa itu kaum Rohingya? Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut mereka sebagai minoritas dari Burma barat yang termasuk sebagai minoritas paling teraniaya di dunia. Namun pemerintah Burma menyebut mereka sebagai migran dari sub-benua India. Negeri tetangga Bangladesh telah menampung ratusan ribu pengungsi Rohingya dari Burma dan menyatakan tak bisa lagi menerima yang lainnya. Sejak kekerasan sektarian Juni lalu yang menewaskan sekitar 80 warga Rohingya, ratusan pengungsi telah mencoba masuk ke Bangladesh. Namun setibanya di Bangladesh, mereka ditolak. Akibatnya, banyak yang tinggal secara sembunyi-sembunyi karena dianggap sebagai imigran ilegal oleh Bangladesh. Seperti dilansir New.com.au, Rabu (1/8/2012), diperkirakan ada sekitar 800 ribu muslim Rohingya yang tinggal di Burma barat. Pemerintah Bangladesh menyatakan sudah ada sekitar 400 ribu warga Rohingya yang tinggal di negeri itu, yang sebagian besar tinggal secara ilegal.     

Bangladesh yang merasa warga Rohingya adalah milik Burma, telah mengusir hampir 1.500 orang Rohingya untuk kembali ke Burma sejak Juni lalu. Alasannya, pemerintah Bangladesh tak sanggup lagi membantu mereka (lihat : youtube.com - dibawah). Namun sebagian dari mereka berhasil tinggal di Bangladesh secara diam-diam. Mereka khawatir jika otoritas Bangladesh mengetahui keberadaan mereka, mereka akan segera dipulangkan ke Burma. Otoritas Bangladesh bertekad untuk menghentikan aliran masuknya pengungsi Rohingya.  Kadang kala orang-orang Rohingya ini terlibat dalam perdagangan narkoba, perdagangan manusia dan aktivitas antisosial lainnya yang benar-benar berdampak pada stabilitas sosial di wilayah ini. Warga Rohingya membantah tudingan tersebut. Warga muslim Rohingya telah membanjiri Bangladesh dalam 30 tahun terakhir. Mereka ditolak hak kewarganegaraan dan hak-hak lainnya di Burma. Tak salah jika PBB dan kelompok-kelompok HAM menyebut Rohingya sebagai salah satu minoritas paling teraniaya di dunia.



Data diolah dari : CNN/Reuters/AFP News/detik.com & youtube.com (cc) Double DN.
Sumber Foto : Reuters

Afifa @ Iffa Ilham Menapaki Angka 9 Tahun

Oleh : Muhammad Ilham & Imla W. Ilham 

Tuhan mencipta cahaya 
Manusia mencipta lampu 
(Sitok S.) 

 
Ah .... Anak selalu mengandung hal-hal yang mempesonakan. Tanpa terasa, usiamu sudah menginjak 9 tahun. Sudah sekian purnama kamu lalui. Tiap kali matamu terpejam, menyiapkan tubuhmu untuk sekolah besok pagi, ada pertanyaan-pertanyaan yang selalu mendatangi aku, ayahmu : "Apa sebenarnya rencana Tuhan dengan dirimu ? Apa sebabnya pada suatu hari sembilan tahun yang lalu, kamu dititipkan-NYA kepadaku - hingga saya bahagia seumpama ibumu, sekaligus cemas ?". Entah mengapa pertanyaan ini selalu muncul ? Padahal pujangga India - Rabindranath Tagore pernah berujar  : "setiap anak tiba dengan pesan bahwa Tuhan belum jera dengan manusia". Anakku, mari kita bicara Statistik. Di India, kampungnya Tagore, 22 juta bayi - lebih kurang - dilahirkan setiap tahun. Ini berarti tiap hari lahir 60.000 nyawa, 20 anak per menit. Jangan dibayangkan, berapa bayi yang melihat dunia di negeri Cina. Dengan statistik sekencang itu, benarkah Tuhan mengirimkan pesan yang sama ?. 

Anakku, kian hari dunia kian penuh. Jumlah orang lapar tak berkurang, meskipun orang kenyang bertambah. Jumlah kesempatan bertambah, meskipun kesempitan tak berkurang. Tiga tahun lalu, pada pagi di bulan Juli, saya lihat orang-orang tua berduyun-duyung antre untuk mendaftarkan anaknya masuk Sekolah Dasar. Tak semuanya dapat tempat. Tak semuanya mampu untuk sekedar mendapatkan sebuah kursi, sepotong ruang dan secercah perhatian ibu guru. Kau beruntung nak, mendapatkannya. Awal sebuah perjalanan panjang. Apa sebenarnya rencana Tuhan padamu ? Ah ... kamu sendiri tak akan mampu menjawabnya, harusnya ayah yang menanyakan hal itu pada Tuhan. Tapi itulah repotnya .... tak mudah mendapat jawaban dari-Nya. Maka lebih baik kuletakkan tanganku di rambutmu dan berharap, "Datanglah dan duduklah dalam haribaan yang tak terbatas anakku". Aku ingin kamu seperti air yang mengalir, karena kamu pantas untuk mengalir. Biarlah ayah seumpama air diam. Karena kamu butuh bercermin di kediamannya air, karena kamu tidak akan dapat melihat bayangan dirimu di dalam air yang mengalir, pada air yang diam itulah kamu bisa bercermin - pada ayah dan ibunda.




Selamat Ulang Tahun, Nak ..... Afifa Ilham 
(24 Juli 2003 - 24 Juli 2012).
Ayah sayang kamu.
Ibunda mu-pun begitu
Sayang kami tak bertepi
Sebagaimana pada adikmu - Malika Ilham - yang selalu kamu jaga
Kalian berdua adalah permata
Mutu Manikam Zamrud paling berharga
Titipan Allah Azza wa Jalla



Seburuk-buruknya Soekarno, Ia adalah Presiden saya!”

Ditulis ulang : Muhammad Ilham 

Sejak 1932, mereka berdua telah berteman, bahu membahu untuk mewujudkan Indonesia yang bebas dari cengkraman kuku imperialisme. Puncaknya terjadi pada 17 Agustus 1945, ketika atas nama sebuah bangsa baru bernama Indonesia mereka mengumumkan kepada dunia tentang kebebasan dan pernyataan perang terhadap semua yang bernama penjajahan. Tapi Hatta tetaplah Hatta. Ia pemilik prinsip: kawan sejati adalah kawan yang selalu tampil mengingatkan. Dan pada 1960, Hatta tampil sebagai kawan sejati bagi Soekarno. Dalam sebuah bukunya bertajuk Demokrasi Kita, Hatta mengeritik berbagai langkah politik yang dijalankan Soekarno. Salah satu yang mendapat perhatian Hatta adalah cara penyelenggaraan Demokrasi Terpimpin yang diusung oleh Soekarno sebagai bentuk praktek nyata dari prilaku diktator. ”Tetapi dengan perubahan DPR yang terjadi sekarang , dimana semua anggotanya ditunjuk langsung oleh Presiden maka lenyaplah sisa – sisa demokrasi yang penghabisan. Demokrasi terpimpin Soekarno menjadi suatu diktator...”tulisnya, langsung dan pedas . 

Soekarno marah. Sikap jujur dan peringatan dari sahabat dekatnya itu,disalahartikan olehnya. Baginya pernyataan Hatta, hanya menjadi duri bagi perjalanan revolusi yang tengah diusungnya.Ya, Soekarno saat itu memang tengah mabuk revolusi. Beberapa hari setelah keluarnya tulisan itu, Soekarno lantas memerintahkan untuk memberangus penerbitan Demokrasi Kita, sekaligus menyertakan ancaman penjara bagi siapa yang menyimpannya dan membacanya. Provokasi untuk menyingkirkan Hatta pun bertiup kencang. Suatu hari, dalam suatu peringatan hari kemerdekaan, Ketua Central Commite Partai Komunis Indonesia:Dipa Nusantara Aidit, membaca teks Proklamasi tanpa menyebut nama Hatta diakhirnya. Berbahagiakah Soekarno?. Alih-alih memuji Aidit dan PKI-nya, Soekarno malah meradang. Seperti dikisahkan Guntur, di rumahnya sambil meninju meja makan, ia berkata geram : “Orang boleh benci pada seseorang, orang boleh dendam pada seseorang Boleeeh entah apalagi! Dan kamu tahu? Aku kadang-kadang jedag dengan politiknya Hatta! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi… Menghilangkan Hatta dari teks proooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”. 

Hatta tahu, sebagai sahabat, Soekarno tak mungkin tega mencelakakannya. Ia yakin, apapun yang dilakukan Soekarno pada dasarnya adalah untuk kebaikan negeri yang sama-sama mereka dirikan tersebut. Keyakinan itu pula yang ia genggam erat-erat, saat ia melangkahkan kakinya menuju Wisma Yaso, justru ketika orang-orang yang dulu dekat dengan Si Bung di puncak kekuasaanya seolah raib ditelan bumi atau mereka pura-pura tak pernah mengenalnya. Bukan sekadar menjumpai, Hatta juga memberi seuntai doa.Sentuhan tangannya buat Soekarno adalah sebuah isyarat : bahwa dirinya tak akan pernah meninggalkan Soekarno, tak akan melupakan manusia besar yang sangat dikenalnya itu, hanya karena tulisannya diberangus dan ia diancam masuk penjara. Ia yakin, sebuah perkawanan sejati diantara dua manusia jauh melebihi segalanya.Bahkan melampau keyakinan-keyakinan ideologis dan kepentingan politik yang nisbi. Ya, pada dasarnya, bisa jadi Hatta tetap percaya dan mencintai Soekarno. Setidaknya itu terlukiskan di tahun 1956, saat ia marah kepada pers Amerika Serikat yang terus menerus menghina sahabat lamanya itu: “Seburuk-buruknya Soekarno… Ia adalah Presiden saya !"

Referensi dan Foto : (c) Hendri Johari/Hendijo

Kegairahan Fungsional Teologis

Oleh : Muhammad Ilham

Mari sobat kita berjabat tangan/Tak perlu saling mengunggulkan/Berlombalah membuat kebajikan/Siapa tahu di surga k'lak kita bertemu/Mengapa masih saling memaki/Mengapa ada saja yang dipertentangkan/Pun buruk sangka dan praduga/Ku ingin tersadar dari lamunan/Karena kita lupa saling mengingatkan/Karena kita, saudara yang lain jadi berbeda/ (Puisi kiriman salah seorang mahasiswa saya, dua puluh satu purnama yang lalu)

Dalam bahasa sosiologi, suatu fenomena atau struktur sosial akan tetap eksis dan tetap digunakan ataupun diakui keberadaannya, apabila fungsional dalam sebuah realitas sosial. Poligami, misalnya, pada masa dulu dipandang fungsional bagi masyarakat. Apalagi yang melakukannya elit sosial dan elit agama. Bahkan akan dipandang patologic bila mereka mempraktekkan monogami. Namun jangan ditanya sekarang. Poligami ataupun Monogami, menjadi standar keluhuran pribadi seseorang. Elit sosial maupun elit agama yang mempraktekkan poligami justru dianggap patologic. Dahulu memiliki banyak anak dianggap "kaya". Sekarang justru dipandang asing. Nilai anak dari sudut kuantitatif dipandang dalam perspektif fungsional. Aksioma yang menyatakan : "Bila ingin menghilangkan suatu fenomena atau sebuah nilai sosial, dis-fungsikan nilai atau fenomena itu, ia akan hiang dengan sendirinya".

Hal ini juga terlihat dalam praktek ritual keagamaan (dalam hal ini : praktek ritual ibadah Islam). Selama Ramadhan berlangsung, karena memang secara kuantitatif, begitu banyak orang yang "berkunjung" ke masjid-musholla, melaksanakan qiyam ul-lail. Beragam style teknis beribadah akan kita lihat. Ada yang sholat dengan "memicingkan mata", menggelengkan kepala dari kiri ke kanan kala berzikir, menaik-naikkan telunjuk waktu tahyat akhir dan seterusnya. Terlepas dari dalil dan perdebatan syar'iyah-fiqh, namun kala kita tanyakan "dalil keyakinan dan empirik" mereka melakukan style demikian, akan didapatkan secara umum dua jawaban, pembelajaran dan fungsional. Mereka lakukan seperti itu, karena memang seperti itu yang mereka pelajari dari guru atau tokoh panutan yang diyakini. Kemudian, mereka juga merasa "nyaman", merasa "at-home" dan merasa menikmati beritual demikian. Orang yang melihat, mungkin merasa heran, tapi bagi mereka yang melakukan, justru merasa nikmat senikmat-nikmatnya. Bagi orang lain terkesan lebay, bagi mereka justru fungsional. Dalam bahasa sosiologi agama, diinilah letak kelebihan agama. Agama menawarkan kegairahan fungsional bagi penganutnya.

Demikianlah, setiap manusia, dalam sejarah panjangnya, senantiasa mencari  Tuhan dan fungsionalisasi teologisnya.









 Sumber Foto : Sami bin Abdullah al-Maghluts (cc) Mufizar Ilyas

PRRI (yang) Meninggalkan "Surat Djaminan"

Oleh : Muhammad Ilham

Masyarakat Sumatera Barat (atau : Sumatera Tengah) pernah memiliki "trauma politik" karena peristiwa PRRI (1958). Terlepas dari perdebatan sebab-asal muasal dengan semua justifikasi historis dan justifikasi politik (untuk tidak mengatakan pembelaan), PRRI jelas telah meninggalkan luka mendalam bagi sebagian besar masyarakat Nagari Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang tersebut. Salah satu dampak PRRI,  berimbas pula pada nama - dalam bahasa Talcott Parson - adaptation (dalam formula AGIL-nya). Sehingga tak mengherankan, nama-nama khas Minangkabau pasca PRRI, seakan-akan "tak pop" lagi. 

Pasca takluknya peristiwa PRRI-Permesta, orang Minang mengalami tekanan mental luar biasa dari pemerintahan Jakarta, banyak diantara mereka kemudian memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau. Setidaknya, demikian pendapat yang tertulis dalam buku “Merantau”-nya sosiolog Mochtar Naim. Mulai pula orang berusaha menanggalkan identitas dan label keminangannya, salah satu lewat perubahan nama. Tak sedikit orang Minang memiliki nama yang kejawa-jawaan, ada seperti nama Eropa, Parsia, atau Amerika Latin. Sekedar contoh, seorang pejuang pemberontak PRRI yang semula bernama Bastian St. Ameh, kemudian merantau ke Jawa dan berhasil jadi pengusaha sukses : Sebastian Tanamas. Ada “urang awak” bernama Revrisond Baswir, ekonom UGM yang terkenal. Beberapa nama yang ikut menjadi calon gubernur Sumbar tempo hari bernama :  Leonardy Armaini, Jeffry Geovanni dan terakhir siapa kira kalau Irwan Prayitno itu adalah putra asli Kuranji, Padang? Saya berkali-kali berusaha meyakinkan orang-orang tua di kampung halaman, kalau Irwan Prayitno bukan orang Jawa, pada saat Pilkada berlangsung. Mungkin mereka kuatir dengan “trauma” masa lalu, pada penghujung Orde Lama banyak sekali pejabat tinggi di Ranah Minang yang di”drop” dari Jakarta dan berasal dari etnis Jawa. 

Berikut : Salah satu bentuk arsip primer sejarah bagaimana implikasi historis peristiwa PRRI bagi masyarakat Sumatera Barat  :


Terima kasih bang Dale Sadli atas kiriman arsip ini. 
Sebagian dari Elfitra B.

Senin, 23 Juli 2012

Ariel dan Budaya Permisif

Oleh : Muhammad Ilham 

Ariel Peterpan @ Nazriel Irham Sang Cassanova - setidaknya demikian orang banyak memberikan gelar kepada sang vokalis jenis itu, 23 Juli nanti, bebas. Berita (akan) bebas bersaratnya Ariel begitu luar biasa, sehingga beberapa media massa butuh membuat tag-line sendiri untuk memberitakan saat-saat menjelang kebebasan ayah satu anak ini. Histeria luar biasa para "anak gadis" pun mulai terjadi. Beragam jenis rupa-rona kaum hawa mulai terlihat, setidaknya demikian "gambaran" acara-acara infotainment belakangan ini. Secara pribadi, walau saya termasuk orang yang sangat menggandrungi lagu-lagu Peterpan, sudah mulai bosan  bicara apalagi diskusi tentang Ariel-Luna-Tari gate. Pasalnya, telah banyak orang yang menonton film "asyik-masyuknya" (dan itu termasuk saya, suer he he he). Ditambah lagi, Ariel telah "membayar" kesalahannya (walau hingga putusan dibacakan, ia tetap tidak mengaku sebagai "aktor-pelakon") dengan hukuman penjara. Allah SWT. saja Maha Pemaaf, apalagi kita yang dhaif ini. Tak baik lagi untuk menghakimi Ariel sebagai personal. Persoalan ia akan berubah atau tidak, tergantung dan terpulang pada yang punya badan.   Walau malas mendiskusikan tentang kasus Ariel ini, namun tetap saja tanda tanya besar muncul dalam benak saya. Bagi saya, kasus ini "menohok" tatanan dan pakem sosial kita semua. Munculnya budaya permisif.

Saya juga tak akan ulas kupas-tuntas "gaya cacing gila" karena gaya apapun itu, semuanya terasa sudah akrab sejak zaman nenek paling moyang sekalipun bahkan sampai anak-anak yang belum masanya mengenal ‘jurus’ begituan. Teknologi informasi mendidik "tamu ngeres" itu tidak santun. Dia nyelonong boy sesuka hati. Di hand-phone tersedia layanan. Di rumah-rumah fasilitas memungkinkan. Dan di warnet apalagi. Nonstop online biar sering dioperasi. Bak kata Budayawan Suud Sukendar, video porno ini sudah lama berkembang sebagai rumor. katanya Ariel (mirip) berhubungan intim dengan Luna Maya (mirip). Gambar hidup mesum itu menjalar dari hand-phone ke hand-phone. Dan ‘penjalaran’itu akhirnya berubah menjadi tebak-tebakan. Betulkah itu Ariel? Benarkah si cantik itu Luna Maya? Soalnya amat disayangkan jika kegantengan dan kecantikannya diobral murah. Teka-teki yang tidak saling silang itu belum sempat terpecahkan, eh tahunya si mirip Ariel ini hadir kembali.  Ini kali bukan sama si mirip Luna Maya, tapi dengan si mirip Cut Tari. Celakanya yang belakangan ini bukan sorangan. Dia sudah bersuami dan punya momongan. "Tragedi Buah Apel" terakhir ini pencuat video mesum itu. Jika mirip Luna Maya dan mirip Ariel orang masih permisif karena mereka berpacaran. Tapi begituan dengan mirip Cut Tari sudah memasuki pal merah. Zona larangan yang tak baik bagi siapa saja. Merusak pagar ayu. Pagar makan tanaman. Celakanya sampai kini dua petualangan cinta para "miripus" itu masih dianggap biasa dan jadi cerita menggairahkan. Bahkan seorang seniman beberapa hari lalu, berucap, "Ariel itu entertainer dan musikus sejati, pantas ia Playboy dan melakukan hal itu".  Masyarakat Indonesia, rasanya sudah mulai "berkompromi" dengan budaya Permissif. Suatu hal yang menurut Pemikir Islam Afrika Selatan - Ahmad Deedat - sebagai simbol peradaban paling bawah. 

Selamat bebas bung Ariel. "Gate" anda, banyak memberikan pelajaran pada bangsa ini. 

Sumber foto : cartoonized.net/Referensi : Suud Sukendar/detik.com

Agus Salim, Ivan Illich dan Desholling Society

Oleh : Muhammad Ilham

Filosof  IVAN ILLICH beberapa belas tahun terdahulu, pernah memproklamirkan, "saya tak percaya institusi pendidikan", katanya dalam Deschooling Society.  Dan, bagi siapa yang pernah membaca buku SERATUS TAHUN HAJI AGUS SALIM, akan mengatakan bahwa Ivan Illich bukanlah yang pertama. Haji Agus Salim yang diberi gelar sebagai "Diplomat Ulung Hidup Melarat" oleh Indonesianist Avant Garde - George Mc. Turnan Kahin - tidak pernah menyekolahkan anaknya di sekolah formal. "Semua yang saya butuhkan untuk hidup ini saya dapatkan di luar bangku sekolah," kata Bibsy Agus Salim (foto bawah). Mungkin kita berbeda pendapat dengan Agus Salim yang dikagumi oleh RA. Kartini ini, tapi ketika membaca buku di atas, Agus Salim nampaknya tidak ingin berharap banyak kepada institusi pendidikan. Beliau yang banyak menguasai bahasa asing tersebut ingin menegaskan : "Jangan Terlampau Bebankan Pendidikan Anak pada Institusi Pendidikan. Keluarga-lah yang Utama".    

Foto : Bibsy Agus Salim yang memiliki nama SITI ASIA (tak memiliki riwayat pendidikan formal). Demikian juga dengan adiknya CHIDDIQ ISLAM.    

::: terinspirasi dari "kegundahan" seorang kawan, ketika bercengkerama di kedai, "saya sudah menghabiskan banyak uang untuk memberikan les pada anak saya, memasukkannya di sekolah swasta cukup baik, mengantarkannya mengaji di TPA cukup baik (pula) ..... tapi, mengapa anak saya ini tidak bisa dibentuk dengan baik oleh sekolah dan TPA-nya?".

Skenario Perang Dunia ke-III ? (Dipicu Serangan Israel Atas Iran) : Bagian 1

Ditulis ulang : Muhammad Ilham  
(c) Michel Chossudovsky 
Bahan untuk mahasiswa saya di kelas Pendekatan Sejarah Politik

Penimbunan dan penyebaran sistem senjata canggih yang diarahkan terhadap Iran dimulai sesudah pengeboman dan invasi kepada Irak tahun 2003. Sejak awal, rencana perang ini dipimpin oleh Amerika Serikat, dalam hubungannya dengan NATO dan Israel. Setelah invasi Irak tahun 2003, pemerintahan Bush mengidentifikasi Iran dan Suriah sebagai tahapan berikutnya dari "peta jalan untuk perang". Sumber-sumber militer Amerika Serikat mengisyaratkan bahwa serangan udara terhadap Iran bisa melibatkan penyebaran yang berskala besar sebanding dengan "shock and awe" serangan bom Amerika Serikat di Irak pada Maret tahun 2003.  "Serangan udara Amerika terhadap Iran akan jauh melebihi jangkauan serangan Israel tahun 1981 di pusat nuklir Osiraq di Irak, dan akan lebih menyerupai hari pertama  dari serangan udara tahun 2003 melawan Irak (See Globalsecurity).  

"Theater Iran Near Term" (TIRRANT)

Nama kode yang diberikan oleh para perencana militer Amerika Serikat adalah TIRANNT, "Theater Iran Near Term", simulasi serangan terhadap Iran telah dimulai pada Mei tahun 2003 "ketika pemodel dan spesialis intelijen mengumpulkan data yang diperlukan untuk tingkat-medan perang (berarti berskala besar) analisis skenario bagi Iran." ((William Arkin, Washington Post, 16 April 2006). Skenarionya mengidentifikasikan beberapa ribu sasaran di dalam wilayah Iran sebagai bagian dari "Shock and Awe" Blitzkrieg: "Analisis yang disebut TIRANNT, singkatan dari "Theater Iran Near Term," masih ditambah pula dengan skenario tiruan invasi Korps Marinir dan simulasi kekuatan rudal Iran. Dalam waktu yang bersamaan para perencana Amerika Serikat dan Inggris melakukan sebuah permainan perang Laut Kaspia. Bush mengarahkan Komando Strategis Amerika Serikat untuk menyusun rencana aksi serangan perang global untuk menyerang lokasi senjata pemusnah massal Iran. Semua ini akhirnya akan menjadi masukan berupa rencana perang baru untuk "major combat operations" terhadap Iran yang sekarang sudah dikonfirmasikan oleh sumber militer [April 2006] dalam bentuk draft. 


"Rencana tersebut termasuk serangan udara besar-besaran terhadap Iran baik menggunakan senjata nuklir maupun konvensional dan taktis. Di dalam wilayah Iran terdapat lebih dari 450 sasaran strategis penting, termasuk sejumlah sasaran yang dicurigai sebagai tempat pengembangan program-senjata-nuklir. Banyak target keras atau jauh berada di bawah tanah dan tidak bisa dihancurkan oleh senjata konvensional, maka akan dihancurkan dengan opsi nuklir. Seperti dalam kasus Irak, respon ini kurang penting apakah Iran yang sesungguhnya terlibat dalam tindakan terorisme yang ditujukan terhadap Amerika Serikat. Beberapa pejabat senior Angkatan Udara yang terlibat dalam perencanaan dilaporkan terkejut terhadap implikasi dari apa yang akan mereka lakukan - bahwa Iran sedang disiapkan untuk sebuah serangan nuklir yang tak beralasan – namun tidak seorangpun siap untuk merusak karirnya dengan mengajukan keberatan." (Philip Giraldi, Deep Background,The American Conservative August 2005). 

The Military Road Map: "Pertama Iraq, kemudian Iran"

Keputusan untuk menargetkan Iran di bawah TIRANNT adalah bagian dari proses perencanaan militer yang lebih luas dari urutan operasi militer. Hal tersebut sudah dilakukan di bawah pemerintahan Clinton, Pusat Komando Amerika Serikat (USCENTCOM) telah menyusun "rencana medan perang", pertama untuk menyerang Irak dan kemudian Iran. Akses terhadap minyak Timur Tengah adalah merupakan tujuan strategis lain. "Kepentingan dan tujuan keamanan nasional yang luas dinyatakan Presiden dalam Strategi Keamanan Nasional - National Security Strategy (NSS) dan Ketua Strategi Militer Nasional - National Military Strategy (NMS) membentuk dasar strategi medan perang Pusat Komando Amerika Serikat (NSS) mengarahkan pelaksanaan strategi penahanan ganda dari negara-negara nakal seperti Irak dan Iran selama negara-negara tersebut menjadi ancaman terhadap kepentingan Amerika Serikat, kepada negara-negara lain di wilayah ini, dan termasuk para warganegaranya. Penahanan ganda  dirancang untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di wilayah itu tanpa tergantung baik kepada Iraq atau Iran.  Strategi medan perang terhadap Iran yaitu USCENTCOM adalah merupakan interest-based danthreat-focused. Tujuan dari keterlibatan Amerika Serikat seperti yang dianut pada NSS, adalah untuk melindungi kepentingan vital Amerika Serikat di wilayah tersebut – supaya tidak terganggu, Amerika Serikat aman demikian juga akses Sekutu kepada minyak Teluk. Perang di Iran dipandang sebagai bagian dari suksesi operasi militer. Menurut (mantan) Panglima NATO Jenderal Wesley Clark, peta-jalan militer Pentagon terdiri dari urutan negara-negara: "Rencana operasi militer lima tahun [termasuk] ... total tujuh negara, dimulai dengan Irak, kemudian Suriah, Libanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan." Dalam "Winning Modern Wars" (halaman 130) Jenderal Clark menyatakan sebagai berikut :  

"Ketika saya kembali melalui Pentagon pada bulan November 2001, salah seorang staf petugas senior militer punya waktu untuk bercakap-cakap. Ya, kami masih berada dalam jalur melawan Irak. Tapi masih ada lagi. Katanya hal ini sedang dibahas sebagai bagian dari rencana operasi militer lima tahun, dan jumlahnya ada tujuh negara, dimulai dengan Irak, lalu Suriah, Libanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan (See Secret 2001 Pentagon Plan to Attack Lebanon, Global Research, July 23, 2006) 

Peran Israel

Terdapat banyak perdebatan mengenai peranan Israel dalam memulai serangan terhadap Iran. Israel merupakan bagian dari sebuah aliansi militer. Tel Aviv bukanlah penggerak utama. Israel tidak memiliki agenda militer yang terpisah dan berbeda. Israel terintegrasi ke dalam "rencana perang untuk operasi tempur besar" terhadap Iran yang dirumuskan pada tahun 2006 oleh Komando Strategis Amerika Serikat  (USSTRATCOM). Dalam konteks operasi militer skala besar, suatu tindakan militer sepihak yang tidak terkoordinasi oleh salah satu mitra koalisi, yaitu Israel, dari sudut pandang militer dan strategis hampir mustahil. Israel secara de facto anggota NATO. Setiap tindakan oleh Israel akan membutuhkan "lampu hijau" dari Washington. Sebuah serangan oleh Israel bagaimanapun juga bisa digunakan sebagai "mekanisme pemicu" yang akan melancarkan perang habis-habisan terhadap Iran, serta pembalasan oleh Iran yang diarahkan kepada Israel. Dalam hal ini, ada indikasi bahwa Washington mungkin mempertimbangkan pilihan serangan awal Israel dengan (dukungan Amerika Serikat) dan bukan sebuah operasi militer pimpinan Amerika Serikat langsung diarahkan terhadap Iran. Serangan Israel - meskipun hubungannya dekat dengan Pentagon dan NATO - akan disampaikan kepada opini publik sebagai keputusan sepihak oleh Tel Aviv. Hal ini kemudian akan digunakan oleh Washington untuk membenarkan di mata opini Dunia, berupa intervensi militer Amerika Serikat dan NATO dengan maksud untuk "mempertahankan Israel", daripada menyerang Iran. Dalam perjanjian kerja sama militer yang ada, baik Amerika Serikat maupun NATO "diwajibkan" untuk "membela Israel" bila diserang Iran dan Suriah. 

Perlu dicatat, dalam hal ini, bahwa pada awal masa jabatan kedua Bush, (mantan) Wakil Presiden Dick Cheney mengisyaratkan, dengan tegas, bahwa Iran berada  "paling atas dalam daftar" dari "musuh nakal" Amerika, dan bahwa Israel akan menyatakan "melakukan pemboman untuk kita", tanpa keterlibatan militer Amerika Serikat dan tanpa kita menekan mereka "untuk melakukannya" (See Michel Chossudovsky, Planned US-Israeli Attack on Iran, Global Research, May 1, 2005): Menurut Cheney: "Salah satu kekhawatiran orang adalah bahwa Israel mungkin melakukannya tanpa diminta ... Mengingat fakta bahwa Iran memiliki kebijakan yang menyatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk menghancurkan Israel, Israel mungkin memutuskan untuk bertindak lebih awal, dan membiarkan seluruh dunia khawatir mengenai  penyelesaian  kekacauan diplomatik setelah itu, "(Dick Cheney, dikutip dari Wawancara MSNBC, Januari 2005)/  Mengomentari pernyataan Wakil Presiden, mantan penasehat Keamanan Nasional, Zbigniew Brzezinski dalam sebuah wawancara di PBS, menegaskan dengan sedikit ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi, ya: Cheney menginginkan Perdana Menteri Ariel Sharon untuk bertindak atas nama Amerika dan "melakukannya" untuk kita. 

"Saya pikir Iran lebih ambigu. Dan ada masalah disana, tentu bukan tirani;.. itu adalah senjata nuklir. Dan Wakil Presiden hari ini dalam pernyataan paralel yang aneh terhadap pernyataan kebebasan ini yang mengisyaratkan bahwa Israel mungkin melakukannya, namun kenyataannya menggunakan bahasa yang terdengar seperti pembenaran atau bahkan suatu dorongan bagi Israel untuk melakukannya." 

Apa yang berurusan dengan kita adalah operasi militer bersama Amerika Serikat-NATO-Israel untuk membom Iran, yang telah dalam tahap perencanaan aktif sejak tahun 2004. Pejabat Departemen Pertahanan, di bawah Bush dan Obama, telah bekerja tekun dengan militer Israel dan mitra-mitra intelijennya mengidentifikasi dengan hati-hati sasaran di dalam wilayah Iran. Dalam istilah praktis militer, setiap tindakan oleh Israel harus direncanakan dan dikoordinasikan di tingkat tertinggi koalisi yang dipimpin Amerika Serikat. Serangan oleh Israel juga akan memerlukan koordinasi dukungan logistik Amerika Serikat–NATO, khususnya yang berkaitan dengan sistem pertahanan udara Israel, yang sejak Januari 2009 sepenuhnya terintegrasi ke dalam Amerika Serikat dan NATO. (See Michel Chossudovsky,  Unusually Large U.S. Weapons Shipment to Israel: Are the US and Israel Planning a Broader Middle East War? Global Research, January 11,2009).  Sistem radar X band Israel dibangun pada awal tahun 2009 dengan dukungan teknis Amerika Serikat telah "mengintegrasikan sistem pertahanan rudal Israel dengan jaringan deteksi rudal global Amerika Serikat [Pangkalan-Ruang Angkasa], yang meliputi satelit, kapal Aegis di Mediterania, Teluk Persia dan Laut Merah serta Patriot radar dan yang berpangkalan di darat." (Defense Talk.com, January 6, 2009,) Apakah ini berarti bahwa Washington akhirnya memutuskan apa yang seharusnya dilakukan. Lebih baik Amerika Serikat daripada Israel yang mengendalikan sistem pertahanan udara:' ‘ini artinya tetap dengan menggunakan sistem radar Amerika Serikat,’ "kata jurubicara Pentagon, Geoff Morrell. "Jadi ini bukan sesuatu yang kita berikan atau menjualnya kepada Israel dan hal itu adalah sesuatu yang wajar akan memerlukan personel Amerika Serikat untuk mengoperasikannya.'" (Dikutip dari Israel National News, 9 Januari 2009). 

Angkatan Udara Amerika Serikat  mengawasi sistem Pertahanan Udara Israel, yang terintegrasi ke dalam sistem global Pentagon. Dengan kata lain, Israel tidak dapat melancarkan perang terhadap Iran tanpa persetujuan Washington. Oleh karena pentingnya undang-undang yang disebut "Green Light" di Kongres Amerika Serikat  yang disponsori oleh partai Republik di bawah Resolusi House 1553, yang secara eksplisit mendukung serangan Israel terhadap Iran: "Undang-undang diajukan oleh Louie Gohmert, partai Republik dari Texas dan 46 rekannya, mendukung penggunaan “semua sarana yang diperlukan Israel" terhadap Iran "termasuk penggunaan kekuatan militer...."Kita harus melakukan ini. Kami perlu menunjukkan dukungan kepada Israel.  Kita harus berhenti bermain game dengan sekutu penting di tengah wilayah yang sulit"’ (See Webster Tarpley, Fidel Castro Warns of Imminent Nuclear War; Admiral Mullen Threatens Iran; US-Israel Vs. Iran-Hezbollah Confrontation Builds On, Global Research, August 10, 2010). 

Dalam praktek, undang-undang yang diusulkan tersebut adalah "Green Light" kepada Gedung Putih dan Pentagon daripada kepada Israel. Ini merupakan persetujuan untuk perang yang disponsori Amerika Serikat melawan Iran yang menggunakan Israel sebagai landasan melancarkan gerakan militer yang sesuai. Hal ini juga berfungsi sebagai pembenar untuk berperang dengan tujuan untuk membela Israel. Dalam konteks ini, Israel memang bisa memberikan alasan palsu untuk berperang, sebagai tanggapan terhadap dugaan serangan Hamas atau serangan Hizbullah dan/atau memicu permusuhan di perbatasan Israel dengan Lebanon. Apa yang penting untuk dipahami adalah bahwa sebuah "insiden" kecil dapat digunakan sebagai alasan untuk memicu sebuah operasi militer besar terhadap Iran. Dikenal oleh perencana militer Amerika Serikat, Israel (bukan Amerika Serikat) akan menjadi sasaran pertama pembalasan militer Iran. Secara umum, bangsa Israel akan menjadi korban dari intrik Washington maupun pemerintah mereka sendiri. Ya,  dalam hal ini, sangat penting bahwa Israel tegas menentang setiap tindakan oleh pemerintah Netanyahu untuk menyerang Iran. 

Michel Chossudovsky seorang penulis pemenang penghargaan, Profesor  Ekonomi (Emeritus) pada Universitas Ottawa dan Direktur dari the Centre for Research on Globalization (CRG), Montreal. Ia menulis buku berjudul The Globalization of Poverty and The New World Order (2003) dan America’s “War on Terrorism” (2005). Ia juga seorang kontributor the Encyclopaedia Britannica. Tulisan-tulisannya telah diterbitkan dalamlebih dari duapuluh bahasa. Ia dapat dihubungi di globalresearch.ca website 

Related articles 
Targeting Iran: Is the US Administration Planning a Nuclear Holocaust? 
- by Michel Chossudovsky - 2010-08-09 
Preparing for World War III, Targeting Iran 
- by Michel Chossudovsky - 2010-08-01

Skenario Perang Dunia ke-III ? (Dipicu Serangan Israel Atas Iran) : Bagian II

Ditulis ulang : Muhammad Ilham  
(c) Michel Chossudovsky 
Bahan untuk mahasiswa saya di kelas Pendekatan Sejarah Politik

Operasi militer global dikoordinasikan dari Markas Komando Strategis Amerika Serikat  (USSTRATCOM) dari pangkalan Angkatan Udara Offutt di Nebraska, berkerja sama dengan komando regional, Komando Pejuang Terpadu (misalnya Komando Sentral Amerika Serikat di Florida, yang bertanggung jawab untuk Timur Tengah -Tengah dan kawasan Asia, lihat peta di bawah) serta unit komando koalisi di Israel, Turki, Teluk Persia dan Diego Garcia, yaitu pangkalan militer Amerika Serikat di Samudera Hindia. Perencanaan Militer dan pengambilan keputusan di tingkat negara sekutu Amerika Serikat-NATO yang dilakukan oleh individu juga "negara-negara mitra" diintegrasikan ke dalam desain militer global termasuk mempersenjatai ruang angkasa. Di bawah mandat baru, USSTRATCOM memiliki tanggung jawab untuk "mengawasi rencana serangan global" yang terdiri dari senjata konvensional dan nuklir. Dalam jargon militer, yang dijadwalkan untuk memainkan peran adalah "sebuah integrator global dengan beban misi Operasi Ruang Angkasa; Operasi Informasi; Pertahanan Rudal Terpadu; Komando Global & Pengendalian; Intelijen, Surveillance dan Reconnaissance; Global Strike; dan Strategic Deterrence.... " 

Tanggungjawab USSTRATCOM meliputi: "Memimpin, perencanaan, pelaksanaan strategis  & operasi pencegahan " di tingkat global, "sinkronisasi rencana operasi dan pertahanan rudal global", "sinkronisasi rencana perang regional", dll. USSTRATCOM merupakan lembaga utama dalam mengkoordinasikan peperangan modern . Pada bulan Januari 2005, pada awal pengerahan dan pembangunan militer yang ditujukan kepada Iran, USSTRATCOM diidentifikasi sebagai "Komando Peramg  untuk integrasi dan sinkronisasi Departemen Pertahanan Amerika Serikat dalam upaya memerangi senjata pemusnah massal." (Michel Chossudovsky, Nuclear War against Iran, Global Research, January 3, 2006). Apakah ini berarti bahwa koordinasi serangan yang berskala besar terhadap Iran, termasuk berbagai skenario eskalasi di dalam dan di luar wilayah Timur Tengah serta yang lebih luas Asia Tengah akan dikoordinasikan oleh USSTRATCOM. 

Senjata-senjata Nuklir Taktis Diarahkan Langsung Kepada Iran

Dikonfirmasi dengan dokumen militer serta laporan resmi, baik Amerika Serikat maupun Israel memikirkan penggunaan senjata nuklir yang diarahkan terhadap Iran. Pada tahun 2006, Komando Strategis Amerika Serikat (USSTRATCOM) mengumumkan bahwa pihaknya telah mencapai kemampuan operasional untuk mentargetkan sasaran secara cepat dengan menggunakan senjata nuklir atau sebjata konvensional ke seluruh dunia. Pengumuman ini dibuat setelah melakukan simulasi militer yang berkaitan dengan serangan nuklir yang dipimpin Amerika Serikat terhadap negara fiktif. (David Ruppe, Preemptive Nuclear War in a State of Readiness: U.S. Command Declares Global Strike Capability, Global Security Newswire, December 2, 2005). 

Kesinambungan dalam hubungannya dengan era Bush-Cheney: Presiden Obama telah mendukung sebagian besar doktrin pre-emptive penggunaan senjata nuklir yang dirumuskan oleh pemerintahan sebelumnya. Di bawah the 2010 Nuclear Posture Review, pemerintahan Obama menegaskan "bahwa itu merupakan pesan berupa hak untuk menggunakan senjata nuklir terhadap Iran" sebagai risiko ketidak-kepatuhan Iran terhadap tuntutan Amerika Serikat mengenai program dugaan (tidak ada) senjata nuklir. (U.S. Nuclear Option on Iran Linked to Israeli Attack Threat - IPS ipsnews.net, April 23, 2010). Pemerintahan Obama juga mengisyaratkan bahwa mereka akan menggunakan nuklir dalam hal Iran merespon atas serangan Israel  kepada Iran. (Ibid). Israel juga membuat sendiri "rencana rahasia" untuk membom Iran dengan senjata nuklir taktis. 

Sumber-sumber senior mengatakan ""Komandan militer Israel yakin serangan konvensional mungkin tidak lagi cukup untuk memusnahkan fasilitas pengayaan yang semakin baik dipertahankan. Beberapa telah dibangun di bawah tanah minimal 70 kaki dari beton dan batu. Namun, the nuclear-tipped bunker-busters akan digunakan hanya jika serangan konvensional dikesampingkan dan jika Amerika Serikat menolak untuk campur tangan."(Revealed: Israel plans nuclear strike on Iran - Times Online, January 7, 2007) 

Pernyataan Obama tentang penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dan Korea Utara konsisten dengan doktrin senjata nuklir Amerika Serikat pasca 9/11 yang memungkinkan untuk penggunaan senjata nuklir taktis di medan perang konvensional. Melalui kampanye propaganda yang telah meminta dukungan dari “otoritatif” ilmuwan nuklir, senjata nuklir mini itu didukung sebagai instrumen perdamaian, yaitu sarana untuk memerangi "terorisme Islam" dan mengukuhkan "demokrasi" gaya Barat di Iran. Nuklir low-yield telah dibersihkan untuk "digunakan di medan perang". Senjata nuklir tersebut dijadwalkan akan digunakan Amerika terhadap Iran dan Suriah dalam tahap berikutnya, disamping senjata konvensional dalam "perang melawan Terorisme". 

"Para pejabat pemerintah menyatakan bahwa senjata nuklir low-yield diperlukan sebagai pencegah yang kredibel terhadap negara-negara nakal [Iran, Suriah, Korea Utara] logika mereka adalah bahwa senjata nuklir yang ada terlalu destruktif untuk digunakan kecuali dalam perang nuklir yang berskala penuh. Musuh-musuh potensial menyadari hal ini, sehingga mereka tidak memperhitungkan ancaman pembalasan nuklir dapat dipercaya Namun, senjata-senjata low-yield kurang daya merusaknya, sehingga dapat dipikirkan untuk digunakan. Dengan demikian akan menjadikan mereka lebih efektif sebagai senjata penangkal." (Opponents Surprised By Elimination of Nuke Research Funds Defense News November 29, 2004). 

Pemilihan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran berupa senjata nuklir taktis (Buatan Amerika), yaitu bunker buster bom dengan hulu ledak nuklir (misalnya B61-11), dengan kapasitas peledak antara sepertiga sampai enam kali bom Hiroshima. The B61-11 adalah "versi nuklir" dari "konvensional" BLU 113 atau Unit Pemandu Bom GBU-28.. Bom ini dapat dibawa dengan cara yang sama seperti bunker buster bom konvensional. (See Michel Chossudovsky, http://www.globalresearch.ca/articles/CHO112C.html, see also http://www.thebulletin.org/article_nn.php?art_ofn=jf03norris). Sementara Amerika Serikat  tidak bermaksud menggunakan senjata termonuklir strategis terhadap Iran, sebagian besar penyebaran senjata nuklir Israel terdiri dari bom termonuklir dan dapat digunakan dalam perang dengan Iran. Dengan sistem rudal Jericho-III Israel yang jangkauannya berkisar antara 4.800 km sampai 6.500 km, maka semua wilayah Iran akan berada dalam jangkauannya.

Dengan logika yang diplintir, senjata nuklir disajikan sebagai sarana untuk membangun perdamaian dan mencegah "kerusakan kolateral". Tidak ada senjata nuklir Iran apalagi merupakan ancaman bagi keamanan global, sebaliknya Amerika Serikat dan Israel adalah instrumen perdamaian yang "tidak membahayakan bagi penduduk sipil di sekitarnya". “Ibu Dari Semua Bom” "The Mother of All Bombs" (MOAB) dijadwalkan digunakan terhadap Iran.  Signifikansi militer senjata konvensional dalam angkatan bersenjata Amerika adalah 21.500-pon "senjata rakasa" dijuluki "ibu dari semua bom" The GBU-43/B or Massive Ordnance Air Blast bomb (MOAB) dikategorikan "sebagai senjata non-nuklir paling kuat yang pernah dirancang" diketahui sebagai arsenal konvensional terbesar di Amerika Serikat. MOAB diuji pada awal Maret 2003 sebelum dikirim ke medan  perang Irak. Menurut sumber-sumber militer Amerika Serikat, Kepala Staf Gabungan telah memberitahu pemerintah Saddam Hussein sebelum diluncurkan tahun 2003 bahwa "ibu dari semua bom" akan digunakan terhadap Irak. (Ada laporan yang belum dikonfirmasi bahwa MOAB telah digunakan di Irak). 

Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah mengkonfirmasi pada bulan Oktober 2009 bahwa bermaksud untuk menggunakan "Ibu dari semua Bom" (MOAB) terhadap Iran. Dikatakannya MOAB "ideal untuk mengubur fasilitas nuklir seperti Natanz atau Qom di Iran" (Jonathan Karl, Is the U.S. Preparing to Bomb Iran? ABC News, October 9, 2009). Kebenaran dari masalah ini adalah bahwa MOAB, karena mengingat daya ledaknya tersebut, akan mengakibatkan korban sipil yang sangat besar. Ini adalah "mesin pembunuh" konvensional dengan jenis awan jamur nuklir. Pengadaan empat MOAB ditugaskan pada bulan Oktober 2009 dengan biaya yang cukup besar sejumlah US$,58,4 juta ($ 14,6 juta untuk masing-masing bom). Jumlah ini termasuk untuk membiaya pengembangan dan pengujian serta integrasi bom MOAB ke pembom siluman B-2. (ibid). pengadaan ini berkaitan langsung dengan persiapan perang dalam hubungannya dengan Iran. Pemberitahuan dimuat dalam sebuah "reprogramming memo" setebal 93 halaman termasuk instruksi berikut ini : 

"Departemen memiliki sebuah Urgent Operational Need (UON) yang berkemampuan menyerang sasaran keras di daerah yang tinggi tingkat ancamannya dan sekaligus menguburkannya. MOP [Ibu Segala Bom] adalah senjata pilihan yang memenuhi persyaratan UON [Urgent Operational Need]." Dinyatakan lebih lanjut bahwa permintaan tersebut didukung oleh Komando Pasifik (yang memiliki tanggung jawab atas Korea Utara) dan Komando Sentral (yang memiliki tanggung jawab atas Iran). (ABC News,  op cit, emphasis added).   Pentagon merencanakan sebuah proses kehancuran infrastruktur Iran dan korban massal sipil melalui penggunaan gabungan nuklir taktis dan bom konvensional rakasa awan jamur, termasuk MOAB dan yang lebih besar lagi yaitu GBU-57a/B atau Massive Ordnance Penetrator (MOP), yang melampaui MOAB dalam hal kapasitas daya ledaknya. MOP digambarkan sebagai "sebuah bom baru yang kuat dan tepat sasaran untuk menghantam fasilitas nuklir bawah tanah Iran dan Korea Utara. Bom raksasa yang ukuran panjangnya lebih dari 11 orang duduk berdempetan bahu-ke-bahu [lihat gambar di bawah] atau lebih dari 20 kaki dari lantai ke hidung" (See Edwin Black, "Super Bunker-Buster Bombs Fast-Tracked for Possible Use Against Iran and North Korea Nuclear Programs". Ini adalah WMD dalam artian yang sebenarnya dari kata tersebut. Tujuannya tidak begitu tersembunyi dari MOAB dan MOP, termasuk penggunaan nama julukan Amerika untuk menggambarkan secara sederhana bahwa MOAB ("ibu dari semua bom'), adalah "pemusnah massal" dan korban sipil secara massal dengan maksud untuk menanamkan rasa takut dan putus asa. 

Teknologi Persenjataan Tercanggih : “Perang Menjadi Mungkin Dengan Teknologi Baru"

Proses pengambilan keputusan militer Amerika Serikat dalam hubungannya dengan Iran ini didukung oleh Star Wars, militerisasi ruang angkasa dan revolusi dalam komunikasi serta sistem informasi. Mengingat kemajuan teknologi militer dan pengembangan sistem senjata baru, serangan terhadap Iran bisa secara signifikan berbeda dalam hal campuran sistem senjata, bila dibandingkan dengan Blitzkrieg yang dilancarkan pada bulan Maret 2003 terhadap Irak. Operasi militer terhadap Iran dijadwalkan untuk menggunakan sistem senjata yang paling canggih untuk mendukung serangan udara tersebut. Dan dalam semua kemungkinan, sistem senjata baru akan diuji. Dokumen The 2000 Project of the New American Century - Proyek Tahun 2000 Abad Baru Amerika yang berjudul Rebuilding American Defenses - Membangun Kembali Pertahanan Amerika, menguraikan mandat militer Amerika Serikat dalam hal medan perang berskala besar, yang akan dilancarkan secara bersamaan di berbagai wilayah Dunia: 

"Memenangkan beberapa pertempuran dengan meyakinkan secara simultan dalam beberapa medan perang.” 

Formulasi ini serupa dengan penaklukan perang global oleh kekaisaran adidaya tunggal. Dokumen PNAC juga menyerukan transformasi pasukan Amerika Serikat  untuk mengeksploitasi "revolusi dalam urusan militer", yaitu penerapan "perang yang dimungkinkan melalui teknologi baru" (See Project for a New American Century, Rebuilding Americas Defenses Washington DC, September 2000, pdf).  Yang terakhir ini terdiri dari pengembangan dan penyempurnaan kecanggihan mesin pembunuh global berdasarkan gudang persenjataan baru yang canggih, yang pada akhirnya akan menggantikan paradigma yang ada. "Dengan demikian, dapat diramalkan bahwa proses transformasi justru akan menjadi proses dua-tahap: Pertama transisi, yaitu transformasi yang lebih menyeluruh. Titik nyaman akan datang ketika jumlah yang lebih besar sistem senjata baru mulai memasuki masa tugasnya, mungkin ketika, misalnya, pesawat udara tak berawak mulai banyak menjadi biasa seperti pesawat berawak. Dalam hal ini, Pentagon harus sangat berhati-hati melakukan investasi besar dalam program-program baru misalnya -. tank, pesawat, kapal induk, - dimana pasukan Amerika Serikat akan berkomitmen melakukan paradigma baru untuk berperang selama beberapa dekade yang akan datang. (ibid, penekanan ditambahkan). Perang dengan Iran memang bisa menandai breakpoint penting ini, dengan sistem senjata baru yang berpangkalan-di angkasa dipergunakan dengan maksud untuk melumpuhkan musuh yang memiliki kemampuan konvensional militer yang signifikan yang jumlahnya lebih dari setengah juta pasukan darat. 

Senjata Elektromagnetik

Senjata elektromagnetik dapat digunakan untuk mengacaukan sistem komunikasi Iran, menonaktifkan pembangkit tenaga listrik, merusak dan mengacaukan komando serta kontrol, infrastruktur pemerintah, transportasi, energi, dll. Dalam keluarga senjata yang sama, teknik modifikasi lingkungan (ENMOD) (peperangan cuaca) yang dikembangkan berdasarkan program HAARP juga bisa diterapkan. (Lihat Chossudovsky Michel, "Owning the Weather" for Military Use,, Global Research, September 27, 2004). Sistem senjata ini sepenuhnya operasional. Dalam konteks ini,  dokumen Angkatan Udara Amerika Serikat AF 2025 secara eksplisit membenarkan aplikasi militer dengan teknologi modifikasi cuaca. 

"Modifikasi Cuaca akan menjadi bagian dari keamanan domestik dan internasional dan bisa dilakukan secara sepihak ... Senjata ini bisa aplikasikan baik secara ofensif maupun defensif dan bahkan dapat digunakan untuk tujuan pencegahan. Senjata ini berkemampuan untuk menghasilkan curah hujan, kabut, dan badai di bumi atau mengubah ruang cuaca, meningkatkan komunikasi melalui modifikasi ionosfir (penggunaan cermin ionosfir), serta produksi cuaca buatan, yang kesemuanya itu merupakan bagian dari serangkaian teknologi terpadu yang dapat memberikan peningkatan penting dalam kemampuan Amerika Serikat atau dalam menundukkan musuh, juga untuk mencapai kesadaran global, jangkauan, dan kekuasaan. " (Air Force 2025 Final Report, See also US Air Force: Weather as a Force Multiplier: Owning the Weather in 2025, AF2025 v3c15-1 | Weather as a Force Multiplier: Owning... | (Ch 1) at www.fas.org). Radiasi elektromagnetik memungkinkan melakukan "gangguan kesehatan dari jarak jauh" mungkin juga dipikirkan untuk digunakan dalam medan perang. (See Mojmir Babacek, Electromagnetic and Informational Weapons:, Global Research, August 6, 2004). Pada gilirannya, penggunaan baru senjata biologis oleh militer Amerika Serikat juga mungkin akan dipertimbangkan seperti yang disarankan oleh PNAC: "Lebih lanjut bentuk peperangan biologis dapat "mentargetkan" genotipe tertentu yang mungkin mengubah perang biologis dari dunia teror menjadi alat politik yang berguna." (PNAC cit, op, hal. 60). 

Kemampunan Militer Iran: Misil Jarak Menengah dan Jauh

Kemampuan militer Iran telah maju, termasuk misil jarak menengah dan jauh yang mampu mencapai sasaran di Israel dan negara-negara Teluk. Karena itu perhatian  aliansi Amerika Serikat-NATO Israel pada penggunaan senjata nuklir, yang dijadwalkan akan digunakan baik secara pre-emptive maupun sebagai respons pembalasan terhadap serangan rudal Iran. Range of Iran's Shahab Missiles. Copyright Washington Post. Pada bulan November 2006, Iran menguji-coba rudal permukaan 2 yang diputuskan bertahap dengan operasi perencanaan yang tepat dan hati-hati. Menurut seorang ahli rudal senior Amerika (dikutip oleh Debka), "Iran memperlihatkan up-to-date teknologi peluncur-rudal dimana Barat tidak mengetahui bahwa Iran memilikinya." (See Michel Chossudovsky, Iran's "Power of Deterrence" Global Research, November 5, 2006) Israel acknowledged that "the Shehab-3, whose 2,000-km range brings Israel, the Middle East and Europe within reach" (Debka, November 5, 2006) 

Menurut Uzi Rubin, mantan kepala program misil anti-balistik Israel, bahwa "intensitas latihan militer belum pernah terjadi sebelumnya ... Hal itu dimaksudkan untuk membuat kesan - dan berhasil membuat kesan." (www.cnsnews.com 3 November 2006). Latihan tahun 2006, sekaligus menciptakan sebuah gelora politik di Amerika Serikat  dan Israel, dengan cara apa pun tidak mengubah keputusan Amerika Serikat-NATO-Israel untuk melancarkan perang terhadap Iran. Teheran telah menegaskan dalam beberapa pernyataannya bahwa Iran akan merespon jika diserang. Israel akan menjadi tujuan langsung dari serangan rudal Iran seperti ditegaskan oleh pemerintah Iran. Oleh karena itu persoalan sistem pertahanan udara Israel penting. Amerika Serikat dan fasilitas militer sekutu di negara-negara Teluk seperti Turki, Arab Saudi, Afghanistan dan Irak juga bisa menjadi sasaran target Iran.  

Michel Chossudovsky seorang penulis pemenang penghargaan, Profesor  Ekonomi (Emeritus) pada Universitas Ottawa dan Direktur dari the Centre for Research on Globalization (CRG), Montreal. Ia menulis buku berjudul The Globalization of Poverty and The New World Order (2003) dan America’s “War on Terrorism” (2005). Ia juga seorang kontributor the Encyclopaedia Britannica. Tulisan-tulisannya telah diterbitkan dalamlebih dari duapuluh bahasa. Ia dapat dihubungi di globalresearch.ca website 

Related articles 
Targeting Iran: Is the US Administration Planning a Nuclear Holocaust? 
- by Michel Chossudovsky - 2010-08-09 
Preparing for World War III, Targeting Iran 
- by Michel Chossudovsky - 2010-08-01

Minggu, 22 Juli 2012

Tragedi Di Balik Pemutaran Film The Dark Knight Rises

Ditulis ulang :  Muhammad Ilham 

Tampak di depan layar sosok besar mengenakan topeng, bernama Bane (diperankan oleh Tom Hardy), tengah memimpin pasukannya untuk menyelusup masuk di gedung Bursa Saham Kota Gotham.  Rentetan tembakan mengenai berbagai panel LCD yang tergantung di dinding ruangan dan sontak suasana riuh terjadi seketika. Begitu pula yang terjadi di sebuah bioskop di Colorado ketika seorang pemuda bertopeng ala Bane yang berumur 24 tahun tiba-tiba melemparkan gas air mata ke arah penonton lalu menembaki mereka secara acak. Bunyi sound effect dari tembakan komplotan Bane di layar ditingkahi oleh desing puluhan peluru yang berhamburan di dalam bioskop. Penonton awalnya mengira ini adalah bagian dari pertunjukan tapi ketika mengetahui beberapa orang di samping mereka yang tertembak mereka pun berusaha melarikan diri namun James Holmes, kandidat Ph.D di bidang neuroscience yang tak memiliki catatan kejahatan sebelumnya, kembali mengarahkan peluru ke arah mereka yang berlari menuju pintu keluar. Berdasarkan laporan Associated Press (20/7) setidaknya jumlah yang meninggal mencapai 12 orang termasuk dikabarkan seorang bayi berumur 3 bulan sebagai salah satu korban dan mereka yang terluka mencapai 58 orang yang 3 di antaranya adalah WNI. Berdasarkan dari banyaknya jumlah korban maka peristiwa ini menjadi peristiwa penembakan massal terbesar dalam sejarah Amerika. Apa motif dari orang yang mengaku sebagai The Joker dalam melakukan tindakan keji tersebut hingga kini masih dalam penyelidikan FBI. 

Hari ini (20/7) adalah hari pertama penayangan film penutup trilogi Batman yang disutradarai oleh Christopher Nolan di seluruh dunia. Film The Dark Knight Rises (TDKR) adalah film yang ditunggu-tunggu kehadirannya setelah Batman Begins (2005) dan The Dark Knight (2008) berhasil menjuarai tangga film blockbuster Amerika. Antusias mengenai film TDKR terlihat dari tiket yang sold-out di hampir seluruh bioskop Amerika. Pada hari itu juga rakyat Amerika kembali diingatkan pada peristiwa berdarah di bulan April 1999 di SMU Columbine dimana dua orang siswa, Eric Harris (18 tahun) dan Dylan Klebold (17 tahun), menembaki 12 siswa, seorang guru dan melukai 26 orang lainnya sebelum kemudian mereka berdua menembak diri sendiri. Bahkan Gus Van Sant menyutradarai Elephant (2003) berdasarkan kejadian berdarah di sekolah yang lokasinya tidak jauh dari gedung bioskop yang kini telah dipasangi garis polisi. Lalu apa korelasi penembakan di gedung bioskop ini dengan Batman? 

Batman dan Kejahatan 

Batman adalah tokoh fiktif yang diciptakan oleh Bob Kane dan pertama kali muncul dalam Detective Comics #27 pada bulan Mei 1939—satu tahun setelah tokoh Superman lahir. Dalam genre superhero, Batman menjadi satu-satunya pahlawansuper yang tidak memiliki kekuatan super sama sekali sehingga memberikan distingsi yang jelas jika dibandingkan dengan pahlawansuper berkostum lainnya. Batman adalah alter ego dari tokoh Bruce Wayne (dalam trilogi Nolan diperankan oleh Christian Bale) yang kehilangan kedua orangtuanya setelah ditembak oleh seorang penjahat jalanan ketika masih remaja. Ini memperlihatkan bahwa kelahiran Batman sangat terkait dengan dunia kejahatan—dalam hal ini keterlibatan senjata akan menjadi sorotan. Batman versi Bob Kane lahir ketika Amerika tengah dilanda Depresi Besar sebagai akibat dari ambruknya saham Wall Street—hal yang sepertinya diinginkan tokoh Bane dalam film TDKR. Sementara Batman versi Nolan lahir sebagai reaksi dari peristiwa 9/11 yang mengguncang Amerika beberapa tahun sebelumnya sehingga sisi traumatik memberi ruang aktualisasi bagi kemunculan kembali Batman. 

Sebagai sutradara beraliran neo-noir, Nolan memberikan tekanan psikologis terhadap tokoh Bruce Wayne terutama mengenai keputusan di balik pemakaian topeng kelelawar dan bagaimana terorisme menjadi identik dengan musuh-musuh yang dihadapi Batman dalam triloginya. Dari trilogi Batman, Nolan memperlihatkan intensitas kejahatan yang semakin meninggi dari satu film ke film selanjutnya. Bagi Bruce, kelelawar adalah bentuk figuratif dari segala bentuk kesedihan, ketakutan dan kemarahan yang muncul dari masa lalu yang kelam. Dengan menjadi Batman, Bruce ingin membagi ketakutan itu kepada para penjahat sebagai suatu simbol—simbol harapan. Dari trilogi Batman yang dihadirkan Nolan terdapat tiga musuh bebuyutan yang harus dikalahkan Batman, mereka adalah Ra’s Al Ghul, Joker dan Bane. Ra’s Al Ghul adalah mentor Bruce Wayne sekaligus musuh Batman dalam film Batman Begins yang berkeinginan untuk memusnahkan kota Gotham dengan senjata pemusnah massal dengan dalih mengembalikan Gotham ke titahnya. Kota Gotham adalah representasi dari kota modern yang korup, penuh dengan kejahatan dan ketimpangan sosial yang terpampang jelas, untuk itu restorasi radikal adalah satu-satunya cara yang tertinggal—Gotham harus dihancurkan. Ide mentor Batman yang tak kesampaian di film pertama kemudian diteruskan oleh Bane di film ketiga yaitu dengan mengisolasi Gotham dari dunia luar dalam menjalankan revolusinya. Namun dari dua tokoh penjahat tersebut, adalah Joker musuh Batman yang paling menyita perhatian. 

Joker (diperankan oleh mendiang Heath Ledger) tak memiliki keinginan tertentu dalam menjalankan aksinya, berbeda dengan Ra’s Al Ghul dan Bane yang memperlihatkan sisi idealitas tertentu. Joker digambarkan sebagai sosok psikotik yang menyenangi segala tindak kejahatannya—Joker melakukan kejahatan murni untuk kejahatan itu sendiri. Joker melakukan perampokan dan pembunuhan berdasarkan faktor kesenangan yang timbul dari kebosanan. Joker hanya berusaha membuktikan bahwa antara dirinya dan Batman itu tak jauh berbeda karena sama-sama dianggap gila oleh masyarakatnya, sama-sama menutupi identitasnya, dan sama-sama terobsesi dengan kejahatan. Batman dan Joker saling mengisi dirinya masing-masing dalam jarak yang jauh sekaligus dekat karena keberadaan Joker-lah yang menjadikan inisiasi Batman layak sebagai superhero. Kualitas penjahat dalam melakukan intensitas kejahatanlah yang menentukan kualitas pengorbanan seorang superhero. 

Ketika Joker Menginspirasi 

Batman dan Joker tentu hanyalah tokoh fiktif namun akan sangat berbeda bagi mereka yang benar-benar menjadikan dua tokoh ini sebagai panutan. Beragam komunitas bermunculan di seluruh penjuru dunia yang mencoba memberi makna bagi perjuangan Batman dalam mengentaskan kejahatan. Ada semangat yang sama bagi pecinta Batman bahwa semua orang bisa menjadi Batman—semua orang bisa menjadi pahlawan. Mereka berusaha memaknai arti pahlawan dengan melakukan hal-hal yang mereka sukai dan sanggup mereka lakukan. Namun bagaimana jika kemudian semua orang pun bisa menjadi Joker? Jika memang James Holmes melakukan penembakan dengan dalih bahwa dirinya adalah Joker tentu semua hal yang diulas dalam tulisan ini memiliki keterkaitan. Sisi psikotik Joker setidaknya dapat dijadikan acuan dalam menggali sisi psikologis pelaku yang sesungguhnya membuka mata kita akan bentuk kejahatan dalam subkultur modern. James Holmes, seperti dilansir ABC News (21/7), memiliki empat senapan dengan ribuan amunisi yang dibeli secara legal bahkan kepolisian setempat telah menemukan beragam alat peledak di apartemen yang ia tinggali. Walaupun pihak FBI menemukan bahwa James Homes tidak terlibat dengan kelompok teroris yang menjadi musuh Amerika, namun setidaknya hal ini telah membuka selubung fakta mengenai bebasnya penjualan senjata di Amerika. Jika kita kembali mengambil sisi rasional dari sekian aksi penembakan massal yang pernah terjadi di Amerika setidaknya dapat ditarik tiga kesamaan; pelaku adalah korban bullying, memiliki gejala psikopatik dan depresi, serta memiliki adiksi terhadap video game berkonten kekerasan. Tentu tiga hal ini tidak untuk menjustifikasi apa yang telah mereka perbuat namun setidaknya memperlihatkan suatu fenomena sosial yang terjadi di era kontemporer. Kejahatan menjadi hal yang dekat dengan produk-produk subkultur seperti musik, komik, film hingga ke video games. 

Batasan antara fakta dan fiksi yang semakin mengabur menjadikan kehidupan modern menjadi sedemikian absurd. Fanatisme berlebihan terhadap apapun yang kemudian dipadu dengan mudahnya akses dalam kepemilikan senjata menjadikan apapun yang tersembunyi di dalam diri setiap manusia modern ibarat bom waktu yang setiap saat dapat meledak. Apabila ini terjadi tentu ini membenarkan asumsi bahwa sesungguhnya setiap manusia memiliki sisi Joker dalam dirinya. Kita semua rentan menjadi Joker, dan di saat-saat seperti ini kita pun kemudian bertanya kemanakah para superhero itu ketika mereka sedang sangat dibutuhkan. Akankah kita semua tegak berdiri untuk menjadi pahlawan bagi diri kita masing-masing dan bagi masyarakat tentu menjadi pertimbangan sesudahnya. Oh James Holmes, why so serious?!

(c) Devy Kurnia A "Opick"
Sumber Foto : ABC.News.com