Sabtu, 07 Juli 2012

Musuh "Outsider" - Musuh "Insider"


“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, 
tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” 
(Bung Karno)

Faham Ente ?? 

Soekarno - Soeharto

Sumber Foto : Arsip Nasional RI

Si Flamboyan Soekarno (# 1)

Oleh : Muhammad Ilham

Siapa tokoh dunia paling dikagumi tahun 1960-an ? 

Majalah paling berpengaruh pada masa itu - LIFE - menempatkan Soekarno di "pucuak", mengalahkan Kennedy yang ganteng dari negara besar atau Mao Ze Dong maupun Nikita Kruschev. Castro dari Kuba menyebut Soekarno dalam pidato parlemen pertamanya setelah mengalahkan Batista sebagai "guru dan inspirator utamanya", Gamal Abdel Nasser mengabadikan nama jalan boelevard sebagai jalan Soekarno, Tito dari Yugoslavia merasa perlu memandang takzim pada putra fajar ini kala berpidato, revolusioner ulung Ernesto Che Guevarra mengakui mendapat "vitamin" pasca mendengarkan wejangan ayah Megawati ini ....... dan, kedatangannya di berbagai negara disambut bak super-star. Ia-lah tokoh yang berani "menentang" Amerika Serikat dan Uni Sovyet dengan "solusi jeniusnya" ... Non-Blok. 

Life juga mencatat Sukarno adalah pemimpin dunia yang jika ke luar negeri mendapat sambutan luar biasa. Di Amerika Serikat 100 ribu orang berjajar menyambut Sukarno dari Gedung Senat dimana Sukarno berpidato sampai pada tempat-tempat yang dikunjungi Sukarno, di Russia pernah ada Pesta Rakyat bernama Pesta Sukarno. 

Dalam konteks ini, pada akhirnya saya memahami kebanggaan ayah saya terhadap Soekarno kala ia muda. Sungguh, ia memang flamboyan. Tak salah bila penampilannya (pencitraan : istilah sekarang) justru lebih menjadi fokus perhatian, dibandingkan pemikirannya. Padahal, sejarah mencatat, pemikirannya sangat luar biasa, reflektif, "menggerakkan" dan sangat bernas .... hingga sekarang.



 Anda tak suka Lady Gaga atau Musik Western ?
Tiru gaya Bung Karno.
(tutup kuping)


Soekarno sang Putra Fajar putra tersayang Ida Ayu Rai
Bersama (salah satu istrinya) Ny. Fatmawati Soekarno.

Saya tanya sama anak saya yang kecil (perempuan), satu pertanyaan :
"bagaimana menurut malika foto yang laki-laki ?"
  jawabnya, "ganteng sekali, ayah !"
(anak kecil-pun tahu, Soekarno itu ganteng)



Soekarno dengan, istrinya yang lain (lagi) - Ny. Hartini Soekarno


Soekarno, Guntur Soekarno Putra, Fatmawati



"bermantagi"


Si Bung, 3 putrinya dengan rambut panjang kepang dua :
RAHMAWATI (tengah), MEGAWATI (kiri) dan ciuman buat SUKMAWATI.


Soekarno - Fatmawati dan sepeda onthel.


 

 



 

Sumber Foto :
Life.com - Image by (c) Bettmann/CORBIS (c) Corbis

Si Flamboyan Soekarno (# 2)

Oleh : Muhammad Ilham

Siapa tokoh dunia paling dikagumi tahun 1960-an ? 

Majalah paling berpengaruh pada masa itu - LIFE - menempatkan Soekarno di "pucuak", mengalahkan Kennedy yang ganteng dari negara besar atau Mao Ze Dong maupun Nikita Kruschev. Castro dari Kuba menyebut Soekarno dalam pidato parlemen pertamanya setelah mengalahkan Batista sebagai "guru dan inspirator utamanya", Gamal Abdel Nasser mengabadikan nama jalan boelevard sebagai jalan Soekarno, Tito dari Yugoslavia merasa perlu memandang takzim pada putra fajar ini kala berpidato, revolusioner ulung Ernesto Che Guevarra mengakui mendapat "vitamin" pasca mendengarkan wejangan ayah Megawati ini ....... dan, kedatangannya di berbagai negara disambut bak super-star. Ia-lah tokoh yang berani "menentang" Amerika Serikat dan Uni Sovyet dengan "solusi jeniusnya" ... Non-Blok. 

Life juga mencatat Sukarno adalah pemimpin dunia yang jika ke luar negeri mendapat sambutan luar biasa. Di Amerika Serikat 100 ribu orang berjajar menyambut Sukarno dari Gedung Senat dimana Sukarno berpidato sampai pada tempat-tempat yang dikunjungi Sukarno, di Russia pernah ada Pesta Rakyat bernama Pesta Sukarno. 

Dalam konteks ini, pada akhirnya saya memahami kebanggaan ayah saya terhadap Soekarno kala ia muda. Sungguh, ia memang flamboyan. Tak salah bila penampilannya (pencitraan : istilah sekarang) justru lebih menjadi fokus perhatian, dibandingkan pemikirannya. Padahal, sejarah mencatat, pemikirannya sangat luar biasa, reflektif, "menggerakkan" dan sangat bernas .... hingga sekarang.





Si Bung - Soekarno dengan Nikita KRUSCHEV - sitambun-botak, Presiden Uni Sovyet. 
Kruschev "sangat legendaris" pada masanya. Salah seorang sahabat terbaik Soekarno. 
Pernah menggemparkan Sidang Dewan Keamanan PBB - Kruschev, karena marahnya kepada PBB yang amat berpihak kepada Amerika Serikat, merasa perlu untuk menanggalkan sepatunya dan memukul-mukulkannya ke podium. Ada yang mengatakan, sepatu KRUSCHEV tersebut sangat legendaris pada masa berikutnya, se-legendaris sepatu wartawan Irak yang melemparkannya pada George Walker Bush. KRUSCHEV dikenal sportif. 
John F. Kennedy (Presiden AS) adalah musuh terbesarnya. 
Namun ketika JFK mati tertembak, anak pedagang babi dari Ukraina ini-lah yang pertama sekali 
berkunjung ke Amerika Serikat, mengucapkan belasungkawa.








Dengan Fidel Castro - Presiden Cuba






Soekarno dengan Presiden Amerika Serikat John Fritzgerald Kennedy







Dengan "Kamerad" Mao Ze Dong


Lesehan dengan Pahlawan Vietnam - Paman Ho Chi Minh


Dengan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser


Si Bung dengan karibnya PM. India Pandit Jawaharlal Nehru


Dengan Raja Maroko - Muhammad V


Bung Karno dengan Raja Saudi Arabia Ibn Saud


Dengan sang Jenderal Dwight Eisenhower


Berbicara serius dengan salah seorang sahabat karibnya, Joseph Broz Tito
Presiden dan pemersatu Yugoslavia


Dengan Ayub Khan (Pakistan)




Bung Karno di KTT Beograd, 1961


Sumber Foto :
Life.com - Image by (c) Bettmann/CORBIS (c) Corbis

Indahnya Jadi Manusia : "Bernas dari Rumi"


Jalaluddin RUMI, menukilkan :

Lihatlah yang terdalam
Jangan kau seperti Iblis,
Hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam.
Lihatlah di balik lumpur,
Beratus-ratus ribu taman yang indah!


Sumber : Abdul Hadi WM cc. Muhammad Ilham Fadli FB

Rabu, 04 Juli 2012

Arti Penting Sejarah Bagi Pramoedya Ananta Toer

Ditulis ulang : Muhammad Ilham 

Bagaimana Pramoedya Ananta Toer melihat arti penting sejarah? Bagi sastrawan penulis buku fenomenal tetralogi Bumi Manusia ini, sejarah selalu memberikan pencerahan dalam memahami kehidupan kekinian. Arah langkah hari ini ternyata merupakan dampak dari proses penjang sejarah masa lalu. Berikut tulisan dari Pidato Pramoedya Ananta Toer pada peluncuran ulang Media Kerja Budaya, 14 Juli 1999 di Aula Perpustakaan Nasional, yang masih relevan bagi perenungan akan arti penting sejarah.   

Para hadirin yang terhormat, sebetulnya apa yang saya katakan dalam 10 tahun ini sudah sering saya katakan secara lisan. Sekarang saya sampaikan lagi secara lisan. Pertamakali tentang negara kita adalah negara maritim terdiri dari belasan ribu pulau tetapi mengapa diduduki oleh Angkatan Darat. Dari bupati kadang-kadang sampai kepala desa. Mengapa ini bisa terjadi. Ini adalah kesalahan historis. Kesalahan lain dengan kekeliruan. Kesalahan berasal dari sudah dari otak, kalau keliru itu adalah salah dalam pelaksanaan teknis. Kenapa terjadi kesalahan ini? Dalam abad ke 16 Indonesia dikuasai oleh Portugis. Portugis menamakan Indonesia, India Portugis. Portugis dihalau Belanda, menamakan Indonesia, Hindia Belanda. Kenapa kata Hindia dipergunakan? Karena dalam abad ke 16 itu dunia Barat mencari rempah-rempah. Dan rempah-rempah itu mereknya Hindia. Padahal asalnya dari Maluku dan Aceh (Sumatra) itu sebabnya terbawa-bawa terus nama India dan sampai sekarang pun kita belum pernah mengkoreksinya, nanti akan menyambung.  Pada waktu Belanda menguasai Indonesia menjadi kekuasaan maritim di dunia. VOC ini, Serikat Dagang Belanda yang membangun imperium maritim terbesar di dunia dengan ibukotanya Batavia. Dan Batavia ini menyebabkan lahirnya Java-centrisme, semua diukur untuk kepentingan Jawa. Jadi VOC itu mengirimkan pembunuh keluar Jawa untuk menundukkan luar Jawa. Dari Luar Jawa membawa harta di bawa ke Jawa. Ini Perbuatan VOC. Tetapi kemudian VOC bangkrut, kapal-kapalnya pada tenggelam karena korupsi para pejabat, dengan mengangkuti barang-barang berlebihan. Bangkrut VOC, kemudian muncul pemerintah Hindia Belanda, karena sudah tidak mempunyai kekuasaan laut lagi. Pertahanan Hindia Belanda itu didasarkan pada pada pertahanan Darat. Dan pertahanan Darat dipertahankan sistemnya pada sekarang ini. Padahal sistem pertahanan Indonesia harus pertahananan laut. Salah satu bukti kelemahan pertahanan Darat untuk negara maritim. 

Pada tahun 1812, waktu Hindia Belanda dikurung oleh Inggris dari laut, dalam beberapa hari angkat tangan. Waktu diserang oleh Jepang pada 1942 dalam beberapa hari juga angkat tangan. Jadi kalau itu diteruskan sampai sekarang, itu bukan lagi kekeliruan, tetapi kesalahan. Persoalannya adalah keberanian untuk mengkoreksi kesalahan. Keberanian tidaknya itu terserah kepada angkatan muda yang belum terpakukan pada sebuah sistem. Sekarang ini kekeliruan pada waktu Hindia Belanda melaksanakan politik etik, yakni politk balas budi kepada Hindia, timbul organisasi-organisasi pribumi, di Belanda pun muncul organisasi mahasiswa dan terpelajar yang dipelopori oleh Sutan Kasayangan jumlahnya sangat sedikit. Karena yang terbanyak ke Belanda dari Indonesia adalah babu dan jongos. Ada organisasi kecil, sangat kecil. Makin banyak pelajar yang kesana dan kemudian buangan Indische Party, lantas timbul perhimpunan Indonesia. Dengan munculnya Perhimpunan Indonesia itu, pemuda dan buangan ini menemukan tanah air dan nation-nya. Bukan tanah air dan nation yang konkrit tetapi masih fiktif dan ini dinamakan Indonesia. Pada waktu itu nama Indonesia sedang populer. Dipopulerkan oleh Adolf Bastian orang Jerman. Sebetulnya yang menemukan nama ini orang Inggris, tetapi sekarang ini Saya lupa namanya sorry ya!. Disini terdapat kekeliruan, bukan kesalahan. Karena nama Indonesia itu kepulauan Hindia. Bastian menggunakan kata Indonesia itu untuk etnographi. Karena itu pada persiapan kemerdekaan bagaimana wilayah dan penduduk Indonesia. Orang yang waktu ikut perhimpunan Indonesia adalah ras melayu, itu sesuai dengan ajaran Bastian. Jadi Maluku segala tidak masuk Indonesia, tetapi Malaya, Singapura masuk Indonesia. Tetapi ini dibantah oleh grup lain yang mengatakan Indonesia bukan persoalan etnographi, tetapi persoalan kesamaan dalam penjajahan, yaitu wilayah bekas Hindia Belanda, yang terakhir menang. Jadi nama Indonesia masih terbawa. Dan partai permulaan itu adalah PKI pada tahun 1923, setelah itu partai semua menggunakan nama Indonesia. Sebelumnya PKI namanya Partai Komunis en Hindia. Jadi di sini ada kekeliruan menggunakan nama Indonesia. Zaman Majapahit namanya Nusantara. Zaman Singasari lebih tua lagi Dipantara, Nusantara di antara dua benua. Jadi ada keberanian mengkoreksi atau tidak? Terserah. 

Kembali lagi kita ke masa lewat. Mengapa Belanda yang begitu kecil bisa menguasai Indonesia? Luas wilayahnya tidak lebih besar dari Jawa Barat. Karena politik kolonial Belanda adalah politik parternalisme. Karena Belanda itu pedagang, maka golongan menengah itu dibasmi. Golongan menengah pada waktu itu praktis terdiri atas pemilik kapal dan pedagang antar pulau dan internasional. Kapal-kapal mereka dihancurkan oleh kapal meriam Belanda di laut. Mereka terdesak ke pelabuhan-pelabuhan, terdesak terus ke pedalaman sampai kembali menjadi petani. Dan golongan menengah yang kosong ini diisi oleh orang-orang Tionghoa, itu history. Dalam politik paternalisme kolonial perkawinan antara kolonialisme dan feodalisme. Produk perkawinan itu begitu mendalamnya menghancurkan golongan menengah pribumi. Produk perkawinan antara kolonialisme dan feodalisme, adalah satu kelas khusus dalam masyarakat kelas ini pada zamannya dinamai priyayi. Priyayi ini yang melahirkan kemudian birokrasi kolonial. Karena sudah asal-usulnya demikian maka kita bisa menduga mentalnya demikian. Politik paternalisme ini merasuk dalam-dalam kehidupan, sehingga orang memanggil satu-samalain itu bapak atau saudara, padahal itu panggilan, sapaan yang hipokrit. Tidak ada hubungan apa-apa. Mengapa mesti memanggil bapak, memangnya sudah kawin sama dengan ibunya. Untuk mengguunting putus partenalisme itu, Bung Karno pernah menciptakan kata sapaan Bung. Dengan kata Bung orang yang dihadapi dianggap mandiri. Jadi sebaliknya kita menilai kembali penemuan Bung Karno, karena dengan sapaan itu orang dianggap mandiri. Pada waktu di Buru saya pernah dipanggil oleh Sersan Karo-Karo, ia berkata “bapak sudah tua, sudah saya anggap orang tua sendiri, lalu bak-buk saya dipukul.” Saya ikut jengkel dengan persoalan paternalistik ini, karena sudah ikut mengalami pahitnya. Jadi, tadi saya sudah katakan Jawa sentrisme, VOC, kemudian Hindia Belanda juga mengirim pembunuh-pembunuhnya dari Jawa ke luar Jawa untuk mendudukkan luar Jawa, dan dari luar Jawa mengambil kekayaan ke Jawa. Pola ini berlangsung sampai sekarang. Itu sebabnya Bung Karno pernah berencana memindahkan Ibukota ke Palangkaraya. Tapi sebelum bisa melaksanakan muncullah yang namanya Harto. 

Saya pernah menerima seorang pustakawan Universitas Cornell nama Ben Abel, dia itu orang Dayak dari Palangkaraya. Saya tanya bagaimana hutan Palangkaraya, karena menurut Semaoen, pemikir perpindahan Ibukota ke Palangkaraya. Saya tanya ke Pak Semaoen, “Biayanya apa?” Pak Semaoen menjawab “Gampang saja untuk Indonesia, hutan Palangkaraya.” Tapi Ben Abel yang datang ke rumah. Saya tanya, “Bagaimana hutan Palangkaraya?” Jawabnya “Gundul, sudah habis semua.” Jadi hutannya habis ibukotanya tidak jadi pindah. Demikianlah kisah sedikit tentang Orde Baru. Sekarang terjadi gerakan separatis. Ada Aceh Merdeka, Papua Merdeka, segala macam Merdeka. Apa sebabnya demikian? Ini masih tetap dalam suatu kesalahan yang memenage Indonesia sebagai negara maritim oleh pendudukan Angkatan Darat. Kalau dimanage sebagai negara maritim, laut akan menghubungkan satu pulau ke pulau lainnya. Tapi dengan pendudukan Angkatan Darat memisahkan dari pulau satu dengan pulau lainnya. Ini salah satu kesalahan besar yang memudahkan terjadi disintegrasi Indonesia. Dan kemudian ini tugas angkatan muda untuk membenahi semua ini. Ada keberaniaan untuk membenahi jangan belagak pikun ya? Saya sendiri tidak setuju dengan federasi, tetapi otonomi luas, seperti juga diperingati Bung Karno “sekarang ini adalah abad campur tangan asing dan federasi memudahkan campur tangan asing”. Apalagi tidak dimanage sebagai negara maritim, Saya masih pas dengan negara kesatuan, ya terserah itu pendapat pribadi Saya. Sekarang tentang demokrasi. Masalah kita adalah masalah demokrasi. Sumbernya adalah revolusi Perancis, seluruh dunia menimba dari revolusi Perancis, seluruh negara Barat negara-negara demokrasi. Tetapi apa yang diperbuat oleh negara-negara demokrasi di luar negerinya, penjajahan dan penghisapan. Jadi Demokrasi Barat tidak sepenuhnya demokratis. Itu baru demokratis kepentingan. Sebab dalam 300 tahun lamanya negara-negara Utara menjadi makmur karena dimakmurkan oleh negara-negara Selatan. Saya dalam keliling belakangan ini, melihat betapa indahnya hutan di Amerika Serikat dan Kanada, hutan dan kota berpeluk-pelukkan. Tapi apa yang diperbuat Amerika dan Kanad, hutan Indonesia dilumat menjadi kertas, bubur kertas. Banyak pembunuhan terjadi. Pembunuhan massal 1965-66, pembunuhan sampai sekarang ini dikecam juga oleh negara-negara Utara, tetapi siapa yang memasok senjata yang memungkinkan pembunuhan juga dari Utara.

Bagaimana kita harus mengatakan? Itu sebabnya pada angkatan muda Saya serukan supaya siap-siap memasuki millenium ketiga dan mengubah kehidupan dan hubungan luar-negeri lebih manusiawi, buka seperti sekarang. Itu tugas angkatan muda sekarang, jangan pura-pura goblok. Karena demokrasi di Indonesia kalau bisa meraih kedaulatan manusia, kedaulatan pribadi. Karena kita ini masih hidup dalam budaya panutan. Budaya panutan itu biar satu orang yang berfikir yang lain ikut saja. Jadi belum dimulai budaya individual, masih budaya kelompok. Soekarno pernah mengatakan “setiap kemajuan diraih bukan oleh kelompok tetapi oleh individu” itu Soekarno mengatakan. Dan sebagai contoh budaya panutan ini, kita mengenal Suwardi Soerjaningrat menguba namanya Ki Hadjar Dewantara, bukan maksudnya merendahkan beliau, tetapi memproklamasikan diri pendeta perantara para dewa. Ini adalah budaya panutan. Jadi dia memproklamasikan diri untuk dianut oleh orang lain. Tetapi jeleknya budaya panutan kalau dalam keadaan kritis sang panutan hanya menjawab yang mengikuti yang menanggung. Itu jeleknya.  Jadi ini supaya ditumbuhkan budaya individu, bukan budaya panutan, saya kira cukup jelas toh. Dan sekarang dalam kehidupan kita ini pertentangan Timur-Barat sudah tidak ada yang ada sekarang adalah Utara-Selatan. Ini saya minta menjadi pikiran, dan dicarikan jalan keluar, supaya hubungan Utara-Selatan lebih manusiawi, bukan seperti sekarang ini. 

Saya kira cukup sekian dulu. 
Terimakasih Banyak 

sumber : www.radix.net

Selasa, 03 Juli 2012

Iran adalah Aktor Rasional, Bagaimana dengan Amerika Serikat ?

Ditulis ulang : Muhammad Ilham  

Pemberitaan yang dirilis PressTV dan IRIB Indonesia baru-baru terkait pernyataan komandan staff gabungan militer AS, Gen. Dempsey sangat menarik. Dalam wawancaranya dengan CNN, Dempsey menyebut Iran sebagai ‘aktor rasional’. Saya sulit menilai bahwa ini sebuah pujian, sehingga saya mencari transkrip asli wawancaranya. Ternyata, Dempsey menyebut kerasionalan Iran itu terkait dengan sanksi embargo bertubi-tubi yang tengah diarahkan kepada Iran. Dempsey yakin bahwa karena rasionalitas itu, lambat-laun Iran akan tunduk pada kemauan Barat. Saya pun membuka-buka kembali text-book Foreign Policy Analysis yang sudah pasti memuat bahasan soal ‘aktor rasional’. Dalam kajian Hubungan Internasional, pelaku aktivitas politik internasional itu diistilahkan dengan ‘aktor’. Aktor ini bisa berupa negara, perusahaan, LSM, atau bahkan individu. Dalam analisis Kebijakan Luar Negeri (selanjutnya saya singkat KLN), sebuah negara (yang diistilahkan dengan ‘aktor’) diharapkan bertindak rasional sehingga menguntungkan kepentingan nasionalnya. Dalam kasus Iran, ketika sudah ‘habis-habisan’ diembargo—menurut perspektif AS—tindakan rasional yang dilakukan Iran seharusnya adalah tunduk kepada AS. Tentu saja, bagi Iran, tunduk kepada AS jelas bukan KLN yang rasional. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa kekuatan soft power Iran justru sangat tangguh dan ketundukan pada AS sangat kontradiktif dengan soft power yang dimiliki Iran. 

Dengan demikian pertanyaannya sekarang, rasionalitas itu dari sisi mana? Dari perspektif siapa? Bila sebuah negara menolak solusi yang dipaksakan oleh negara lain, apakah bisa disebut tidak rasional? Sayangnya, sebagaimana diakui oleh Janice Gross Stein (2008), tidak ada konsep yang memuaskan tentang rasionalitas KLN. Stein hanya bisa menjelaskan konsep-konsep dasar soal rasionalitas ini, yaitu bahwa orang-orang yang memiliki posisi sebagai pengambil KLN haruslah mampu berpikir logis, terbuka, sekaligus selektif, terhadap data-data, serta mampu bersikap koheren dan konsisten terhadap argumen-argumen logis. Di sisi ini, pernyataan Dempsey soal rasionalitas jelas menggelikan. Siapakah pihak yang tidak logis dalam berpikir? Bukankah Bush dan kemudian Obama, yang terbukti menerima mentah-mentah data-data yang salah soal nuklir Iran; menuduh Iran tengah berupaya membuat senjata nuklir; lalu mengambil KLN yang membahayakan perekonomian dunia? Bukankah para presiden AS yang menerima mentah-mentah data-data palsu intellijen soal terorisme, lalu menyerang Irak, Afghanistan, Pakistan, atau Yaman, yang dituduh melindungi teroris? Dalam kajian HI, sayangnya, standar rasionalitas tidak dijelaskan secara gamblang. Bila semua pihak menggunakan rasionalitas dari kacamatanya masing-masing, sudah tentu akan timbul konflik. Dan, justru banyak pemikir HI di Barat (dan diadopsi oleh penstudi HI di berbagai penjuru dunia) yang melanggengkan paradigma konflik ini. Menurut mereka, karena masing-masing negara akan bersikap rasional dan memperjuangkan kepentingan nasional masing-masing, situasi konflik (diistilahkan dengan ‘anarkhi’) memang akan terus-menerus terjadi. Mereka pun menyarankan agar masing-masing negara memperkuat militer nya dan bersiap siaga, karena setiap saat negara lain mungkin menyerang. 

Sekilas, logika ‘anarkhi’ ini terlihat benar. Namun bila kita menelisik lebih lanjut, apakah benar ini berlandaskan rasionalitas? Mari kita lihat kasus perang Afghanistan. AS menyerang Afghanistan dengan alasan mengamankan kepentingan nasionalnya yang terancam oleh Al Qaida. Dari sisi ini, seolah-olah AS bertindak ‘rasional’. Padahal, tidakkah ini hanya sekedar strategi untuk bertahan hidup dan justifikasi untuk menundukkan negara lain atas nama kepentingan nasional? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rasional artinya ‘cocok dengan akal’. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi rasionalitas dan akal. Banyak sekali ayat yang memerintahkan manusia agar berpikir. Bila melihat kepada konsep Islam, kita akan menemukan kejanggalan pada konsep rasionalitas yang dikembangkan oleh ilmuwan HI Barat itu. Konsep rasionalitas yang dikembangkan pemikir HI Barat berlandaskan pada keyakinan bahwa manusia adalah animus dominandi atau hewan yang haus kekuasaan dan egois. Karena itulah, sebuah negara menyerang negara lain demi ‘menyelamatkan kepentingan nasional’ dianggap rasional. Sebaliknya, Islam percaya bahwa manusia itu diciptakan dalam berbagai ras dan suku untuk saling berinteraksi berdasarkan kesamaan kebenaran yang disepakati bersama (lita’aarafuu). Sehingga, pola hubungan internasional dalam pandangan Islam adalah pola hubungan yang berlandaskan akal sehat. Inilah yang kemudian diterjemahkan Iran dalam interaksinya dengan negara-negara Barat. Pemimpin Iran selalu menggunakan logika yang sangat kuat dan sulit dibantah saat mengkritik perilaku AS dan sekutunya. 

Misalnya, dalam pidatonya di PBB tahun 2011, Ahmadinejad mengatakan: 

“Sudah bukan zamannya lagi sebagian negara menjadikan dirinya sebagai definisi ‎demokrasi dan kebebasan, sekaligus mengangkat diri sebagai hakim dan eksekutornya. Sementara pada saat yang sama ‎mereka juga memerangi negara lain yang [dibangun] berlandaskan demokrasi hakiki.”‎ “Kini, [sekelompok negara] tidak boleh lagi melakukan pendudukan militer terhadap satu negara dengan slogan ‎melawan terorisme dan narkotika, sementara produksi narkotika menjadi berkali lipat, ‎wilayah terorisme menjadi lebih luas, ribuan orang tak berdosa tewas, cidera dan mengungsi, ‎infrastruktur hancur dan keamanan regional terancam. Lucunya, para pelaku utama tragedi ‎kemanusiaan ini malah terus menuduh pihak lain sebagai pihak yang harus bertanggung ‎jawab.‎” “Kini, [sekelompok negara] tidak boleh lagi meneriakkan slogan persahabatan dan solidaritas kepada bangsa-bangsa ‎dan bersamaan dengan itu mereka memperluas pangkalan-pangkalan militer di dunia, ‎termasuk Amerika Latin.‎” 

Pidato Ahmadinejad jelas meruntuhkan bangunan rasionalitas ala AS: bagaimana mungkin AS meneriakkan demokrasi dan perdamaian jika pada saat yang sama justru AS-lah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia dan menebarkan perang di berbagai negeri? KLN Iran pun dibangun atas rasionalitas semacam ini: bagaimana mungkin sebuah negara yang mengaku berlandaskan Islam mau tunduk patuh pada negara yang menebarkan kejahatan di muka bumi? Justru tidak rasional buat Iran bila menyerah kepada AS. Rasionalitas yang benar haruslah dibangun di atas landasan akal. Nilai-nilai keadilan, sikap mulia, tidak saling merugikan, adalah nilai-nilai universal yang diterima oleh semua umat manusia yang berakal sehat. Namun, sayangnya segelintir negara –dikomandani AS—terus-menerus memaksakan nilai-nilai kejahatan yang dibungkus ‘rasionalitas’, dan menuduh pihak lain yang sedang benar-benar berusaha rasional dalam membangun perdamaian dunia sebagai pihak yang salah dan harus diperangi.

© Dina Y. Sulaeman
Foto : valuewalk.com

Minggu, 01 Juli 2012

Politisi Panjat Pinang


Badan Kotor-Kumal 
Saling Injak Kepala 
Meringis .... demi tujuan bersama
Yaa, tujuan bersama

Politisi nampaknya harus belajar pada mereka !!! 

"Yang tercecer dari" Panjat Batang Pinang : 
Pinggiran Ampang Padang, 17 Agustus tahun terdahulu



VIETKONG Muda dan Perang "Tajam Sebelah"

Oleh : Muhammad Ilham    

Kematian Tragis dan Heroik seorang VIETKONG Muda. Foto ini diambil oleh fotografer perang kawakan Don Mc Cullin di Hue pada 1968. Don mengambil gambar ini setelah mengikuti sebuah pertempuran yang terjadi secara gila-gilaan." Ia lantas mendatangi bekas kubu gerilyawan Viet Cong yang telah dihabisi oleh serdadu Amerika, dan menemukan tubuh seorang Viet Cong muda terbujur kaku dengan banyak serakan peluru dan barang-barang pribadi di dekatnya. Menurut Mc Culllin, para serdadu Amerika lantas menganiaya tubuh tak bernyawa tersebut sekaligus menjarah barang-barang sang gerilyawan muda itu untuk dijadikan sovenir perang.  

"Saya sungguh kesal melihat pemandangan ini, gerilyawan muda ini adalah pemberani yang memperjuangkan kebebasan negaranya, ia sangat layak dihormati, sekalipun sudah mati..." (diambil dari Shaped by War : cc. Hendrijo)

 Sumber : Hendrijo & Shaped by War

Melihat hal di atas, teringat saya dengan nasehat Abu Bkr ash-Shiddiq : "Aku berwasiat kepadamu tentang sepuluh hal : jangan membunuh perempuan, anak-anak, orang tua jompo, jangan memotong pohon berbuah, atau merobohkan rumah, jangan membunuh kambing atau unta, kecuali untuk dimakan, jangan membakar pohon kurma atau menenggelamkannya, jangan menganiaya dan jangan berbuat khianat" : (Abu Bakr ash-Shiddiq : Tarikh At-Thabari Bab Thahaqat).

Konflik dan Perang selalu meninggalkan cerita horor, menakutkan dan perendahan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu pula, orang-orang yang berada di kawasan yang identik dengan perang serta konflik, akan dilabelkan dengan persepsi kurang elok. Saddam Hussein, Moamar Qaddafi dan Bashar al-Assad, bahkan bangsa Arab, digambarkan sebagai figur keji dan bangsa yang suka bertengkar. Figur yang tidak memiliki etika dalam berperang (walau "berperang" dengan warga mereka sendiri). Setidaknya demikian yang digambarkan oleh media massa. Gambaran ini kemudian menjadi parameter tersendiri untuk men-cap bagaimana karakter figur-figur dan bangsa tersebut. Gambaran ini dibangun oleh media massa dan opini (yang semua orang sudah tahu, siapa dan kepentingan apa dibalik media massa itu), pada akhirnya melahirkan streotype sendiri - figur-figur tak beradab dalam mensikapi konflik. Walau secara faktual, demikian adanya, namun adalah sesuatu yang tidak adil ketika men-judge sesuatu tanpa memberikan komparasi "sejenis".

"Homo Homini Lupus", kata Hobbes menjadi sesuatu yang reflektif untuk menggambarkan bagaimana ketika konflik dan perang berlangsung, terdapat kekejaman disana. Namun, alangkah naifnya bila kekejaman "hanya dipelihara" pada satu dua figur dan kelompok bangsa saja. Karena ketika konflik dan perang berlangsung, maka setiap ummat manusia, dari bangsa manapun ia, memiliki "aura" kekejaman yang mengerikan. Tak ada beda antara perlakuan Tentara Vietkong-Vietnam terhadap tawanan dan mayat lawan mereka empat dasa warsa lalu dengan bagaimana pula tentara Spanyol memperlakukan penduduk asli dalam pembantaian besar-besaran dahulu di Benua Amerika. Bagaimana tentara Amerika (seperti dalam film Soldier Blue) menghabisi kaum Indian sampai ke bayi-janin. Bagaimana tentara Australia bersikap (dahulu, dan mungkin hingga kini) terhadap kaum aborigin. Bagaimana Pol Pot menghadirkan "republik teror dan horor" di Kamboja dengan menghabisi jutaan rakyatnya sendiri, atas nama ideologi. Dan bagaimana pula kelakuan Hitler terhadap bangsa Yahudi, dengan akibat yang harus ditanggung oleh orang Palestina (dengan dipaksakan oleh "Barat" sebagai bentuk rasa bersalah). Saddam Hussein menghantam etnik Kurdi maupun Iran dengan bom napalm. Saddam yang berkumis ini menggunakan bom yang teramat mengerikan itu karena ia meniru Amerika Serikat yang "mencoba" bom ini di Vietnam. Bashar al-Assad, Presiden Suriah yang sekarang berada dalam posisi diujung tanduk, diblow up sebagai (salah satu, diantara banyak) pemimpin Arab yang memiliki tangan berlumuran darah. Walau sebenarnya anak Hafeez al-Assad ini bukanlah pemimpin yang baik karena tidak mengayomi rakyatnya, tapi setidaknya ia masih lebih baik dibandingkan penjahat perang Serbia yang disamping melakukan genosida juga melakukan pemerkosaan terhadap hampir 150.000 wanita Bosnia, seperti yang pernah dilansir reuters.com.

Ketika konflik berlangsung, kewarasan manusia menjadi hilang. Karena itulah, misalnya, Abu Bakar ash-Shiddiq mengeluarkan sepuluh "pantangan" dalam perang, atau Umar bin Khattab mengatakan : "jangan sekali-sekali membunuh anak-anak dan pelayan". Ya ... pelayan !. Bahkan Umar bin Khattab memberikan sebuah reward bagi para prajurit Islam yang membunuh anak-anak dalam perang .... dihukum bunuh (pula). Khalifah "terbaik" Dinasti Umayyah, Umar bin Abdul Aziz bahkan pernah berkata : "Bertakwalah kamu kepada Allah dalam hal anak-anak dan para petani yang tidak mengangkat senjata melawan kamu (peliharalah nyawa mereka)". Dan, dalam sahibul hikayat yang mutawatir, Umar bin Abdul Aziz tidak pernah membunuh para petani dan tukang kebun, disamping tentunya anak-anak, orang tua dan perempuan, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnul Munzhir dalam al-Qurthubi. Intinya adalah, sebetapapun bengis dan kejamnya konflik dan perang, ketika pemimpin dan penguasa menghormati kesepakatan universal yang telah ada, tentunya konflik dan perang-pun bisa dianggap sebagai "jalan keluar" sebagaimana yang dikatakan Clausewitz bahwa perang adalah jalan keluar dari konflik. Tapi ketika para pemimpin dan penguasa (termasuk yang menganggap sebagai "penguasa") tidak atau terbebani oleh catatan sejarah perang yang buruk, jangan salahkan pula bila Basheer al-Assad mengatakan : "saya punya cara mengatasi konflik di negara saya, dan anda sekalian (maksudnya : negara-negara Barat), tidak memiliki otoritas untuk mengajarkan kepada saya bagaimana cara yang terbaik karena tangan dan sejarah kalian-pun masih basah oleh kebrutalan".

Bola van Kampoeng Tertjinta

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam bahasa sosiologi, "fanatisme selalu terletak pada simbol". Walaupun ada yang mengatakan bahwa fanatisme itu berkecambah dalam ranah ideologi, namun selalu berawal dari simbol-simbol yang tumbuh berkembang pada ranah interaksi sosial. Biasanya fanatisme lintas strata sosial. Dan fanatisme terhadap simbol (bukan ideologi), yang lintas strata sosial tersebut, bisa terlihat ketika event sepakbola berlangsung. Sepak bola memiliki "takdir" bagus dibandingkan dengan, golf dan bowling - misalnya, yang dianggap sebagai olah raga yang diminati dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Ketika event sepakbola bergulir, fantasi saya terbang ke kampung halaman tercinta.  Apalagi suasana Piala Eropa sekarang ini. Ya, daerah pantai paling barat di Sumatera Barat itu, memiliki suasana yang "menggairahkan" ketika event bola skala dunia bergulir. Saking menggairahkan sehingga di Air Bangis dikenal adanya kedai (biasa disebut Lopo) Real Madrid, Manchester United, AC Milan, Inter Milan dan seterusnya, tapi tidak ada kedai Semen Padang, Sriwijaya FC apatah lagi PSP Padang. Mungkin sekarang sudah ada Lopo Lionel Messi atawa Criatiano Ronaldo atau-pun Milanisti dan Internisti, tapi Lopo Nurdin Halid, Lopo La Nyalla dan seterusnya dijamin 100 peratus (bak kata orang Malaysia), tak ada. Masyarakat nelayan disana memiliki "cita rasa" tinggi sehingga mereka tidak tahu menahu tentang perkembangan Liga Indonesia, siapakah Beni Dolo, Nil Maizar (paling-paling mereka mulai hafal dengan baik Alfred Riedl) atau nama-nama pemain yang diimpor dari luar negeri sana untuk memperkaya dinamika persepakbolaan Indonesia. Tapi jangan tanya tentang Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Alex Fergusson, Mourinho, Massimo Moratti, Cannavaro, der-Kaizer, Les-Blues, Los Galacticos hingga Total Footbal dan Cattenaccio, praktis banyak para "komentator" bola dadakan di kampung saya tersebut bisa menjelaskan dengan baik, bahkan hampir mirip - untuk tidak mengatakan kalah - dari komentator sekaliber M. Kusnaeni atawa Rayana Djakasurja. 

Tidak berlebihan memang, tapi banyak diantara komentator kelas kampung tersebut memiliki pengetahuan umum persepakbolaan dunia yang cukup mengagumkan. Bahkan perselingkuhan Silvio Berlusconi, John Lampard, Ryan Gigs atau John Terry bisa dengan baik dan antusias mereka ceritakan mengalahkan penceritaan perselingkuhan artis-artis Indonesia. Dan analisa itu selalu "mendapat tempatnya" atau " mengena" karena selalu dihubungkan dengan maju mundurnya sebuah klub. Kegagalan AC Milan dalam mereka kaitkan dengan kegilaan si pemilik klub, Berlusconi, terhadap wanita. Chelsea menurun karena isu perselingkuhan sang kapten, John Terry. Pokoknya, setiap yang berbau "sensasi atau bumbu-bumbu"pun mampu mereka hubungkan dengan moncernya sebuah klub. Dan ini terjadi hampir di segala level usia. Tahun kemaren, ketika piala AFF berlangsung, saya dapat SMS dari sahabat di kampung nan denai cintai itu, nama Riedl telah mengalahkan Fergusson. Firman Utina cs "mulai" familiar. Bahkan banyak yang sudah tahu, Kiki Amalia itu istri si Markus "kiper" dan Irfan Bachim sudah punya pacar ... halah !

Bila sebuah perhelatan event sepakbola berlangsung, maka malam di kampung halaman saya tidak memiliki arti. Pertandingan Liga Champions, misalnya, yang selalu ditayangkan tengah malam tidak menjadi halangan. Kedai-kedai bahkan menjadi lebih hidup dengan teriakan dan sedikit (pertaruhan). Apalagi Piala Dunia sekarang, praktis kedai-kedai di Air Bangis "menggeliat-kencang" tanpa kenal lelah. Adu mulut, komentar jenius hingga analisis asbun menghiasi tayangan selama pertandingan. Asap rokok mengepul (mungkin merasa berhutang budi, karena rokok-lah yang mampu menjadi sponsor sebuah TV swasta sehingga bisa menyiarkan secara Live). Minuman bergizi seumpama Teh Telor dan Teh Susu menjadi menu paling favorit. Dan ketika pertandingan usai - sekitar jelang Shubuh - mayoritas dari mereka-pun menyebar dengan saling "menertawakan", terutama yang jadi pesakitan adalah pihak yang klub jagoannya kalah. Dan yang kalah tidak merasa gundah, bahkan sering ketawa sambil berkompensasi ria dengan analisis yang terkesan justifikatif terhadap kekalahan klub kesayangannya. "Pola permainan yang tidak pas, pelatih yang tidak jempolan ataupun belum saatnya untuk menang". Tapi yang jelas, perdebatan dan gurauan di antara mereka sangat humanis tanpa dendam dan kepentingan apapun. Ketika uang minuman dan makanan dibayar, bahkan bisa terkadang lebih karena biasa saja setiap selesai pertandingan berlangsung, satu dua buah gelas-piring akan terburai-pecah, mereka ada yang terus melaut (ke laut), sebagian lagi pulang ke rumah.

Sungguh, bola memberikan nilai tersendiri bagi sebagian (kaum laki-laki) di kampung halaman saya. Candu bola ini nampaknya sudah berlangsung lama, seusia dan seumur dengan TV dan listrik masuk ke daerah ini. Saya masih ingat, kala Piala Dunia Meksiko 1982, demam bola (Piala Dunia) sudah mulai terasa. Padahal TV dan listrik baru masuk hanya berjarak satu Pemilu. Dari Piala Dunia Meksiko ini pula, untuk kali pertama saya merasa jatuh hati dengan Maradona dan tim Tango-nya. Melihat dari TV Hitam Putih yang dibeli ayah saya di Bukittinggi, bagaimana Maradona mencatatkan sejarah "tangan Tuhan"nya. Bagaimana Karl Heinz Rummenigge memperkenalkan "tendangan pisang"nya dan seterusnya. Siaran Live TVRI (waktu itu hanya Live untuk pertandingan Semi Final dan Final saja) pukul 05.00 dinihari bukan menjadi halangan untuk "begadang". Ketika sampai di sekolah dengan mata "redup" 3 jam berikutnya, Maradona menjadi perbincangan hangat diantara anak-anak SD ingusan jelang bel tanda masuk berbunyi. Saya pribadi, mendapat berkah dari pertandingan bola ini yaitu : belajar menghapal nama-nama pemain bola. Sehingga sekarang, nama-nama seperti Jorge Valdano, Boniek, Paolo Rossi, Bettega, Buruchaga, Karl Heinz Rumenigge, Johan Cruijf, Sergio Goecheycea, "si dinamit" Preben Elkjaer, "si kembar" Brian dan Michael Laudrup, "Si Burung Nasar" Emillio Butragueno, Hugo Shanchez, Ian Rush dan seterusnya masih teringat dengan baik. Jangan ditanya tentang Maradona yang Diego Armando itu, rasanya masih lekat-lengket gaya mainnya. Dan pada detik itu saya melihat, bola menawarkan : keindahan, sportifitas untuk mengatakan saya kalah serta apa yang dinamakan dengan kerja tim. Karena itulah mungkin saya merindukan suasana kampung halaman saya di kala Piala Eropa ini bergulir. 

Catatan tambahan : 

Salah seorang teman saya, pernah mengganti Sticker salah seorang calon Gubernur dengan gambar Maradona. Ia menjadi marah bergejolak, ketika gambar itu ditutup kembali dengan sticker baru oleh tim sukses salah seorang calon gubernur. "Maradona dan Piala Dunia jauh lebih bermakna dibandingkan Pilkada", setidaknya demikian yang ingin ia sampaikan. 

(Tulisan ini telah dipublish tahun kemaren di Harian Singgalang)

Sumber foto : detik.sport.com

Hatta dan Iklan Sepatu Bally

Oleh : Muhammad Ilham   

"Carilah inspirasi, pada mereka yang sederhana, jernih berfikir dan berani hidup"    
(Vaclac Havel, sastrawan : mantan Presiden Cekoslovakia 1992-1996)  

Siapakah Hatta ? Lelaki "cool" Minang berambut dengan sisiran belah benak itu ?
Beragam orang akan memandangnya. Pandangan kekaguman yang pada gilirannya membuat orang akan berkata, suami Rahmi Hatta ini, manusia langka. Tentang disiplin, kita akan ingat Hatta. Mengenai komitmen pada prinsip, sejarah mencatat Hatta sebagai contoh terbaik.

Berikut ungkapan sahabatnya, Soekarno :

"Hatta itu orangnya kering. Andai ada wanita di sampingnya dalam perjalanan ia tidak akan bicara pada wanita itu, ia tidak pandai menghidupkan suasana, itulah Hatta". Bung Karno adalah pribadi yang hidup, ia menyenangi pembicaraan dan selalu menyenangkan lawan bicaranya. Beda dengan Hatta yang walaupun ramah ia cenderung pendiam dan tekun. Dunia Hatta adalah dunia buku. Tapi diluar itu dunia Hatta adalah dunia kejujuran.

Hatta itu lelaki "coool".
Testimoni sahabatnya, Nazir Sutan Pamuntjak, membuat kita tersungging-senyum. Ketika Hatta kuliah di Rotterdam (?) Belanda, bila libur, biasanya para pelajar dari Hindia Belanda (baca: Indonesia) pergi ke bar, sekedar untuk refreshing dan komparasi kultural. Walaupun tidak biasa, suatu ketika Hatta dibawa teman-temannya (diantaranya Nazir St. Pamuntjak) ber”Saturday night”. Ketika sampai ke bar, para teman-teman Hatta ini langsung memesan “minuman tingkat tinggi”, sementara Hatta memesan minuman “anak-anak”, Air Putih dan Susu. Oleh Nazir, dicarikannya seorang wanita untuk mendampingi Hatta. Pada waktu itu, ada wanita-pelajar asal Polandia yang cantik-bahenol. Setiap laki-laki berusaha untuk dekat padanya. Tak ada laki-laki yang tak bisa ditaklukkannya. Nazir merekomendasikan dan menantang wanita ini untuk menaklukkan Hatta. Dengan over confident si wanita menghampiri Hatta yang sedang “menyudut”. Beberapa waktu kemudian, wanita ini kembali ke tempat Nazir dan kawan-kawan berkumpul sambil berkata : “Hatta itu malaikat ………. Nyerah dech”.   

Di suatu malam yang tenang pertengahan tahun 1950-an, Hatta membaca koran ia melihat iklan sepatu kulit Bally. Ia ingin memilikinya dan dengan rapi ia menggunting iklan itu dan menyimpannya untuk memotivasi dirinya menabung uang untuk beli sepatu tersebut, tapi ia tidak pernah bisa mewujudkan mimpinya baik semasa menjadi Wakil Presiden ataupun saat ia pensiun. Ketika pensiun Hatta memang kerap mendapat honor dari tulisan-tulisannya di media massa dan sedikit uang pensiun jabatan Wakil Presiden RI, tapi dengan uang sebegitu kecil ia harus membayar listrik dan menghidupi keluarganya dengan cara yang jujur. Mendengar Hatta kesulitan membayar listrik, Gubernur DKI Ali Sadikin langsung membantu Hatta untuk membayar listrik.



Di tahun 1980 Hatta meninggal dengan tenang, Jakarta berduka. Indonesia menangis dan di laci Hatta masih tersimpan guntingan iklan sepatu Bally yang tidak sempat dibeli Hatta karena kurang uang.


Hatta dan Keluarga 
 


Referensi  sumber foto : 
Deliar Noer (Biografi Politik Hatta), Anton DHN

Jumat, 29 Juni 2012

Mewawancarai “kembali” Bung Hatta


Ditulis ulang : Muhammad Ilham
(dari Majalah Tempo, 26 April 1975 cc. serbasejarah.wordpress.com) 

BATAVIA, 1919. Sabtu sore. Dari rumahnya di Tanah Abang ia bersepeda ke gang Kwini. Pakaiannya selalu rapih, bersih. Dan selalu lima menit sebelum waktu yang dijanjikan ia sudah berdiri depan sahabatnya di asrama STOVIA (School tit Opleiding voor Indische Artsen) Gedung Kebangkitan Nasional jalan Abdurrahman Saleh 26 Jakarta sekarang. Tak jarang keduanya lalu ke Pasar Baru, makan nasi goreng, sate ayam atau nonton film. Lebih sering, acara malam Minggu itu mereka isi dengan diskusi tentang keadilan sosial, sistem kapitalisme, pikiran-pikiran sosialis Jerman Ferdinand Lasalle, dan agama. Pemuda belasan tahun asal Bukittinggi itu semula bernama ‘Attar (minyak wangi). Barangkali haji Muhammad Djamil berharap, kelak puteranya yang lahir 12 Agustus 1902 itu pun mengharum namanya sebagai orang besar. Sehari-hari ia dipanggil sebagai Atta. Ditambah Muhammad yang juga melekat pada nama sang ayah, jadilah kemudian: Muhammad Hatta. Setengah abad kemudian, sejawatnya bersepeda itu menulis dengan bahasa puitis: Wajahnya yang ketat, yang tidak lekas mengundang seseorang untuk mendekatinya, hanya sekali-sekali dilembutkan oleh senyuman yang menarik….. 


Jakarta, 1975. Jalan Diponegoro bising oleh kendaraan. Seperti jalan besar lain di Ibukota. Tapi rumah besar bernomor 57 itu tampak tenang. Di sana tinggal orang tua itu: intelektuil, pejuang, salah seorang proklamator, bekas Wakil Presiden, bapak Republik. Rumah bercat putih itu biasa saja. Tanpa pengawal.  

TEMPO: Kami yang muda uda ini agak sukar juga memanggil Bung Hatta. Dengan ‘bung’ atau ‘bapak’?  

Hatta: Terserah. Di antara kawan-kawan lama memakai ‘bung’saja. 

T: Apa ‘bung’ lebih demokratis ‘ 

Hatta: Ya. 

T: Dari tulisan para pemuda Jong Soematranen Bond awal abad 20, banyak ungkapan pertentangan generasi. Anak-anak muda mengecam adat generasi lama dan sebaliknya. Apakah itu hanya terdapat di kalangan Jong Soematra saja? 

Hatta: Pertentangan melawan adat konservatif ada di mana-mana. Yang sana ketahui di Jong Soematra. Itu selalu ada, tak perlu dikecam. Biarkan saja. 

T: Waktu itu siapa teladan anak-anak muda? 

Hatta: Tak ada, Mereka jalan sendiri, 

T: Bagaimana dengan generasi sekarang? 
Hatta: Sekarang leih jauh. Yang perlu dikecam misalnya kontes-kontes kecantikan dan yang semacam itu: manusia diperlombakan seperti ternak, seperti yang pernah ditulis Prof: Prijono dulu.
T: Tahun berapa Bung Hatta ketemu Bung Karno pertama kali?
Hatta: 1932, di Bandung
T: Bagaimana kesan pertama?

Hatta: Biasa saja. Saya sudah membaca pidato pembelaannya sewaktu saya masih di negeri Belanda, Saya juga sudah berkorespondensi dengannya. Misalnya saya sarankan agar lebih memperhatikan organisasi, bukan hanya agitasi saja. Surat itu masih tersimpan di Arsip Kolonial negeri Belanda. 

Fisiknya memang sudah udzur. Tapi ingatannya masih segar bugar. Idealisme dan semangatnya tak kunjung menurun. Sikapnya selalu prinsipiil. Sejak muda suka berolah raga, terutama sepak bola dan pernah belajar pencak silat. Sampai sekarang pun tak jarang Hatta menyempatkan diri nonton pertandingan sepak bola. Dalam usia lebih setengah abal sekarang, sehari dua kali ia berlatih Orhiba (olah raga hidup baru). Dan Minggu jam enam pagi orang sering melihat Bung Hatta jalan kaki di lapangan parkir timur Senayan. Waktu-waktu terluang di penjara kolonial dulu, ia suka mengajukan cerdas-tangkas pengasah otak di kalangan rekan-rekan seperjuangannya. Dan ia kutu buku. Pindah dari penjara ke penjara, dari kota satu ke kota lain, harta benda utamanya belasan kopor buku. Kecerdasannya tampak ketika sebagai ketua Perhimpoenan Indonesia (1926) ia mengucapkan pidato Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen yang mengupas pertentangan kulit putih (penjajah) versus kulit berwarna (terjajah). Pada usia 25 tahun ia bicara tentang Indonesie et son probleme de Independence (tentang eksploitasl kapital asing terhadap Indonesia) delan forum Kongres Liga anti Imperialis (Desember 1927, Brussels), yang tahun sebelumnya diselenggarakan di Bierville, Perancis. Ia juga hadir dalam Kongres Wanita Internasional di Gland, Swiss. Pada Kongres Liga di Frankfurt (Juli 1929), sidang bertepuk-tangan beberapa menit. Hatta berpidato dalam tiga bahasa: Inggeris. Perancis, Jerman …..


T: Tidakkah disadari sejak tahun-tahun pertama pergerakan nasional adanya perbedaan konsepsi mengenai Indonesia Merdeka’?

Hatta: Untuk mencapai ‘Indonesia Merdeka’ memang ada perbedaan antara penganjur kerja sama dengan Belanda dengan golongan non-koperasi’. Yang pertama, misalnya Hadi dan Susanti, menghendaki kerja sama dengan Belanda dulu sampai kita mendapatkan status dominion, baru kemudian melepaskan diri. Saya menolak itu.

T: Bagaimana konsepsi tentang Indonesia setelah Merdeka’?

Hatta: Perhimpoenan Indonesia sudal punya kinsepsi. Yakni ekonominya berdasarkan koperasi dan sistem politiknya demokrasi.

T: Bagaimana dengan konsepsi Marxisme dan Pancasila?

Hatta: Tak ada hubungan antara Marxisme dan Pancasila. Waktu persiapan kemerdekaan dulu ketika menyiapkan UUD, Dr. Radjiman bertanya negara yang akan kita dirikan ini dasarnya apa? Pada 1 Juni 1945 Bung Karno yang menjawab dan itulah Pancasila. Belakangan ini saya diminta ikut merumuskan penafsiran Pancasila. hasil panitia sudah diserahkan kepada Jenderal Surono, ketua Angkatan ’45.

T: Sejauh mana itu nanti menjadi penafsiran resmi? Bagaimana kalau ada orang lain yang berbeda pendapat?

Hatta: Itu terserah pemerintah.

T: Bagaimana tentang kritik terhadap Maklumat Wakil Presiden No.X tahun 1945 yang dianggap menyimpang dari UUD ’45 ?

Hatta: Sudah baca maklumat ini atau belum ? Mana isi Maklumat yang menunjukkan menyimpang dari UUD ’45:’ Dapatkah saudara perkirakan bahwa saya yang seumur hidup menentang libralisme yang mencelakakan kehidupan rakyat jelata dan saya yang ikut memmbuat UUD ’45 – saya lagi yang menyelewengkannya ?

T: Apa sebenarnya alasan yang mendorong keluarnya Maklumat itu? 

Hatta: Perlu saya peringatkan satu hal yang harus diketahui dan sebenarnya dianggap sudah diketahui. Perang dunia II adalah perang antara Demokrasi dam Facisme (facisme Jerman Italia, Jepang) disertai kemudian oleh Soviet Uni pada pihak Demokrasi. Apalagi, kemudian dibentuk Partai Persatuan atas anjuran Bung Karno pada sidang pertama Komite Nasional Pusat 29 Agustus 1945 dengan nama Partai Nasional Indonesia Rata-rata Partai Persatuan itu ditentang dan dianggap mirip dengan Facisme sebagai tidak sesuai dengan Demokrasi. Dikuatirkan negara-negara Sekutu turun-tangan dan membantu Belanda kembali ke Indonesia dengan segala perlengkapannya. Kemudian berhubung Kabinet akan mengadakan pemilihan umum secara sederhana bulan Januari 1946, keluarkan suara dalam masyarakat dan dalam Komite Nasional Pusat, supaya partai-partai boleh didirikan kembali dengan syarat tertentu supaya dapat melaksanakan UUD ’45 pasal 1 ayat 2. Inilah yang menjadi alasan keluarnya Maklumat Wakil Presiden 3 Nopember 1945 yang membolehkan berdirinya partai-partai dengan syarat yang tertentu 

T: Apa syarat itu? 

Hatta: Maklumat itu menyatakan bahwa partai gunanya memimpin aliran faham dalam masarakat ke jalan yang teratur. Ada pula restriksi, partai-partai hendaknya memperkuat perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan. Dalam rangka UUD ’45 di masa itu di bawah pimpinan Presiden dan wakil Presiden tak ada kemungkinan menyeleweng ke arah liberalisme. Penyelewengan baru terjadi dalam rangka Konstitusi 1950 yang berdasar demokrasi parlementer di mana Presiden dan Wakil Presiden menjadi Kepala Negara yang tak mempunyai tanggung jawab polik.

T: Bagaimana pendapat Bung Karno ?

Hatta: Antara Bung Karno dan saya ada permufakatan untuk melancarkan ancamannya pemerintahan. Bila seorang di antara kami tak ada di Ibukota, yang di Jakarta mengurus segala-galanya yang urgen dan akan disetujui oleh yang keluar kota. Di masa ini Bung Karno memang banyak sekali ke luar kota. Itulah sebabnya saya mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden No. X dan Maklumat 3 Nopember 1945, keduanya disetujui Bung Karno setelah ia kembali ke Ibukota. Baru kemudian setelah liwat 12 tahun, setelah menjadi penganjur Nasakom, Bung Karno mengatakan tidak bertangung jawab terhadap Maklumat Wakil Presiden 3 Nopember 1945. Waktu saya di Sumatera (ketika itu meleus Clash I dan saya tertahan kira-kira tujuh bulan) saya tidak campur tangan dalam perundingan di bawah Komisi Tiga Negara. Tapi tentang akibatnya yang tak baik bagi Republik, saya mengaku ikut bertanggung jawab. Akibat dari Maklumat Wakil Presiden 3 Nopember 1945 ini terlalu dibesar-besarkan seolah-olah lalu banyak timbul partai-partai politik yang menjurus ke liberalisme. Waktu itu partai-partai yang sudah ada dan baru muncul berdasarkan Maklumat tersebut tak lebih dari enam: Masjumi, PNI, PSI, Parkindo, Partai Katolik dan Partai Murbanya Tan Malaka. Awal tahun 60-an, apalagi setelah Manipol dicanangkan (Juli 1959), tak sedikit guru-guru sejarah bicara depan kelas bahwa Maklumat itu adalah biang keladi berkecamuknya “setan liberalisme”. Baru sekarang–15 tahun kemudian – Bung Hatta menjelaskannya.

T: Jadi adakah bukti-bukti penyelewengan itu?

Hatta: Tunjukkanlah dengan bukti bahwa di masa in, selama Dwitunggal memimpin negara, ada partai atau partai-partai yang menyelewengkan politik negara ke arah aliran liberalistik. Sebagai bukti dapat saya katakan bahwa di masa RI pertama itu tidak ada aliran yang menyeleweng ke sana. Aliran menyeleweng ke liberalisme baru disebut dan diulang-ulang setelah Bung Karno mengatakan tak bertanggung jawab terhadap Maklumat tersebut. Di masa Republik pertama itu, Dwitunggal tetap utuh, tiada keretakan sedikit pun sampai pemulihan kedaulatan. Keretakan Dwitunggal baru bermula waktu kita kembali menjadi Negara Kesatuan di bawah UUD 1950. Dengan perubahan Kabinet Presidentiil menjadi kabinet Parlementer, di mana tampuk pimpinan tidak lagi pada Presiden dan Wakil Presiden tapi pada Kabinet, Dwitunggal menjadi Dwitanggal. di masa itulah jumlah partai menjadi banyak. Terutama karena perpecahan di kalangan partai masing-masing.

T: Angkatan 20-an yang memperjoangkan kemerdekaan terdiri dari cendekiawan yang berfikiran konsepsionil. Bagaimana dulu peranan rakyat, terutama di desa-desa, dalam gerakan nasional itu?

Hatta: Kalau dilihat dari rapat-rapat umum di masa itu saja, tampak rakyat ikut aktif dan punya keinginan merdeka. Waktu itu rapat-rapat tak perlu izin. Yang datang kebanyakan malah bukan orang-orang kota. Penduduk kota rnasih sedikit. Rakyat tahu bahwa kita sedang menuju dunia baru. Jadi mereka datang bukan karena agitasi para pemimpin politik. Desa kita kan lain dari desa di India, misalnya. Di India, lembaga kepala desa yang seperti kita tak ada. Rakyat kita memilih sendiri kepala desanya.