Senin, 04 Juni 2012

Agus Salim (yang) Inspiratif

Oleh : Muhammad Ilham
 
Tentang Agus Salim, selalu menarik dan inspiratif untuk dikisahkan.  Sekarang para pejabat selalu bersolek, pake baju necis dan berlagak alim, umroh dan naik haji berkali-kali tapi tak paham menyejahterakan rakyat. Para pemimpin agama berpakaian agama bak orang suci dan menggunakan simbol-simbol keagamaan seraya teriak-teriak mengumandangkan kebencian. Tapi lihatlah Haji Agus Salim, pakaiannya sederhana, bahkan robek, rumahnya di gang sempit yang becek, hidupnya tidak bermewah-mewah, puasanya rajin, referensi bukunya ribuan, intelektualnya luar biasa, ia bisa banyak bahasa asing, kecerdasannya banyak dikagumi, KeIslamannya amat zuhud. 

Bisakah keIslaman kita seperti Haji Agus Salim, yang berguna untuk bangsa dan agama kita, tampa banyak tingkah, tidak mengomersialisasikan agama dan menyebarkan kebaikan.



Berikut, penggalan kisah tentang Agus Salim dan Mohammad Roem yang mengisi waktu mereka di kolam renang (kiriman seorang kawan) :
 
‘Ajo, Pak Salim, naek keatas papan lontjatan (sprinkplank)….”
’Ah, soedah toea sdr. Roem.......” kata Pak Salim, sambil tersenjoem dan mengeloes-eloes djenggotnja.

Tentoe, Pak Salim tida dapet lagi
melontjat seperti Esther Williams. Tapi.....pelan-pelan dia mendekati aer, dan sampai dipinggir bak, kakinja doeloe jang dimasoekan kedalem aer. Dia mao rasakan dingin atau tidak kemoedian baroe badanja.

....Diharie liboer, hari Minggoe atawa hari laennja, begitoelah pekerdjaan orang terkemuka itoe. Dan dihari itoe marika loepa kepada politiek. Besoek soedah segar kembali dan politiek dapet dilanjoetkan”.


( Sunday Courier, Tahoen 1 No. 3)
 
Referensi : Anton DHN

Memperkenalkan Mama Theresa

Oleh : Muhammad Ilham 

Saya (akan) mendongengkan kisah hidup Mama Theresa kepada anak-anak saya.  (selain Fatimah Az-Zahra, yang sangat saya kagumi, sulit mencari figur wanita inspiratif non-mitologik, dalam khazanah sejarah Islam. Islam yang saya fahami adalah Islam yang menghargai wanita. Tapi sayang, budaya tempat berkecambahnya Islam tidak memberikan "ruang" lebih sebagaimana halnya "ruang" bagi laki-laki. sehingga tak salah kemudian bila sulit menjumpai wanita-wanita inspiratif, seumpama Mama Theresia, dalam sejarah Islam. kalau-pun ada, banyak yang bernuansa mitologik). 

Pagi tadi saya membaca time.com (murid-murid sekolah di sebuah sekolah khusus wanita Afghanistan, keracunan. diasumsikan racun melalui asap, disebarkan oleh kelompok Taliban yang tidak menginginkan kaum wanita sekolah. bukan ajaran Islamnya, tapi tafsiran dan kultur yang membentuk tafsiran itu. gara-gara ini, salah satunya, "mama Theresia" tak ada muncul di ranah peradaban Islam mutakhir). Semoga saya salah !!


Sumber foto : time.com

Bung Hatta yang Gentleman

Ditulis ulang : Muhammad Ilham  

Banyak orang mengira termasuk hampir semua sejarawan bahwa mundurnya Hatta di tahun 1956 adalah ketidakcocokannya dengan Bung Karno. Tapi sebenarnya tidak, Hatta tidak pernah memusuhi secara serius Sukarno, Hatta sama sekali tidak ada masalah pada tahun 1956 dengan Sukarno atau keputusan-keputusan politik besar. Pembubaran Konstituante justru dilakukan setelah Hatta mundur, pemberontakan-pemberontakan di daerah tidak ada hubungannya dengan Bung Hatta, bahkan setelah tahun 1956 beberapa pemberontakan daerah awalnya adalah mosi tidak percaya kepada Djakarta karena dikira Djakarta menyingkirkan Hatta, padahal tidak. Dalam beberapa titik penting sejarah di masa lalu, Sukarno amat pasif dalam melakukan keputusan-keputusan politik. Hampir semua keputusan ditangani Hatta. Keputusan yang terkenal adalah Maklumat X 1945 soal liberalisasi pembentukan partai-partai politik. Dalam soal itu Sukarno kerap mengeluh ia dilangkahi Hatta. Dalam revolusi Sukarno ingin adanya Partai tunggal, tapi setelah fait accompli Hatta, partai menjadi terlalu banyak dan kerap menimbulkan friksi politik besar, puncaknya adalah perang Solo yang berakhir pada geger Madiun 1948. Akhir Tahun 1948, Belanda menerjunkan puluhan ribu tentara mereka serentak ke kota-kota penting di Indonesia. Di muka dunia Internasional aksi itu dikatakan "Aksi Polisionil" karena Belanda masih menganggap Indonesia adalah wilayah dalam negeri Belanda. Sementara pihak Indonesia menyatakan itu adalah "Agresi Militer yang kedua" setelah sebelumnya terjadi tahun 1947, Indonesia menuduh inilah yang disebut ekspansi militer sebuah Negara kepada Negara lain seperti hal-nya Hitler menginvasi Polandia. Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim dan pemimpin-pemimpin lain di Yogya ditangkapi. Militer Republikein lari ke gunung-gunung mereka menolak untuk ditangkap, pihak Militer praksis dipegang Jenderal Sudirman yang sudah rusak paru-parunya untuk menembus lebat hutan di Jawa Tengah dan Timur melakukan konsolidasi pasukan. 

Saat itu Tan Malaka sudah berhitung, “Kekuatan Belanda tinggal sedikit lagi, saya tahu benar watak orang Belanda. Dia tidak akan melakukan kekuatan besar-besaran bila tidak putus asa. Saya perkirakan perang paling lama akan berlangsung selama 2 tahun lagi, sementara Amerika Serikat dan Sovjet Uni masih pusing soal Eropa setelah selesainya Hitler dibunuh” Belanda berlagak gagah dimana-mana, tank-tank Sherman berkeliling ke segenap penjuru kota dan membangun pencitraan bahwa Hindia Belanda dalam waktu dekat akan berdiri kembali. Ternyata terbukti dengan serangan militer yang sporadis dari militer Indonesia pasukan Belanda keteter dimana-mana. Serangan Umum di Yogya dan Serangan umum di Solo membuat Belanda keliatan kelemahannya. Tapi tidak bagi kelompok pro perundingan. Di tahun 1945 ada perbedaan antara Pemuda-Pemuda Djakarta dengan Djawa Tengah dan Djawa Timur. Pemuda-pemuda Djawa Tengah dan Timur memutuskan tidak mau berunding dengan pihak Djepang soal merebut gudang senjata, mereka langsung perang dan rakyat mengepung gudang. Senjata-senjata banyak didapatkan, bahkan di Surabaya kelengkapan militernya akibat merebut gudang senjata mampu secara jantan menghadapi Inggris, dan sejarah mencatat : ‘Hanya di Surabaya-lah Inggris kalah perang’. Di Djawa Tengah juga begitu, tidak ada perundingan gudang-gudang senjata harus direbut. Perebutan senjata ini nyaris tak menimbulkan korban, bahkan Kapten Suharto (kelak jadi Letkol Suharto) berhasil merebut gudang senjata di Kotabaru dan pasukannya memiliki alat kelengkapan militer paling kuat. Di Djakarta lain lagi ceritanya, keputusan saat itu adalah perundingan untuk merebut gudang senjata, akibatnya fatal. Puluhan tokoh pemuda mati dalam perang saat perundingan berlangsung bertele-tele, Daan Mogot dan tragedi dua anak Margono Djojohadikusumo : Subianto dan Sujono di Serpong Januari 1946. Akibat perundingan inilah pemuda-pemuda Djakarta terlalu lemah dibandingkan rekannya yang di Djawa Tengah dan Djawa Timur. 

Begitu juga dengan pemikiran memperpendek perang revolusi 1945. Tan Malaka berpikir apabila perang diperpendek dengan perundingan maka yang terjadi adalah ‘Revolusi melahirkan bangsa yang lembek’. Tan Malaka ingin dilakukan perang total karena dengan hanya perang total-lah “Semua royan-royan revolusi bisa melahirkan rasa persatuan yang amat kuat diantara rakyat Indonesia, rakyat akan paham tujuan besar bangsa Indonesia liwat kesakitan-kesakitan perang revolusi”. Tapi kabar di Yogya begitu menyakitkan hati Tan Malaka. Para pemimpin tidak mau tempur mati-matian di hutan-hutan, tidak membangun perlawanan revolusinya. Di tahun 1948 terlihat sekali para pemimpin yang lahir dari dunia pergerakan Intelektual tidak terlatih untuk melakukan perang di hutan-hutan seperti yang dilakukan bekas anak buah Tan Malaka, Ho Chi Minh dari Vietnam. Tan Malaka sudah memperkirakan “Kalau pemimpin ditangkap tak lain tak bukan, ujung-ujungnya adalah Perundingan”. Generaal Sudirman, adalah pengikut Tan Malaka yang paling setia. Ia orang yang paling mendukung program-program Tan Malaka. Saat pertempuran di Solo terjadi, Sudirman menunggu apa kata Tan Malaka. Saat rapat Persatuan Perjuangan, Sudirman-lah yang membuka pidato rapat, lalu ketika Tan Malaka meneriakkan “Merdeka 100%” maka Sudirman berdiri dan bertepuk tangan seraya bersumpah akan memerdekakan Indonesia, total…setotal-totalnya. 

Sukarno sendiri saat itu sudah terjebak pada sistem pemerintahannya yang ia bentuk. Bila ia ke hutan, maka ia akan berhitung ‘siapa yang pegang komando’ bisa saja nanti kelompok Tan Malaka yang bisa drive dirinya. Sukarno selama perang revolusi menyerahkan keputusan ke Hatta, dan Hatta selamanya satu napas dengan Sjahrir lalu terjadilah keputusan yang paling amat dibenci Tan Malaka “Berunding dengan Belanda”.  Perundingan KMB di Den Haag akhir tahun 1949, merupakan penghinaan bagi kelompok Tan Malaka. Di Koran-koran terjadi eforia KMB, rakyat seakan-akan gembira menerima keputusan perundingan, dikiranya KMB adalah kemenangan Republik, dikiranya KMB adalah berhasilnya perang. KMB justru adalah ‘Pertanda Indonesia Kalah Perang’ karena dimanapun dalam hukum perang Internasional ‘pihak yang kalah perang harus membayar ganti rugi akibat peperangan’ seperti Jerman yang kalah perang pada Perang Dunia Pertama, membayar dengan ‘Klausa Perjanjian Versailles’ dan Jepang yang kalah perang dengan Amerika Serikat harus menerima pendudukan pasukan Amerika Serikat di Jepang juga Jepang dilarang memiliki pasukan militernya sendiri. Indonesia harus membayar 4.6 Milyar Gulden ganti rugi perang. ‘Jadi logikanya Indonesia harus membayar bangsa asing yang membunuhi bangsanya sendiri’. Akibat perjanjian inilah yang amat lama tidak menjadi bahan perdebatan di muka-muka publik karena para tokoh kharismatis terlibat dalam perundingan ini. Ukuran dana 4,6 milyar gulden itu amat besar dengan nominal pada jaman itu, sebagai perbandingan : di tahun 1950 Amerika Serikat pernah menawari pembangunan jalan besar (Highway Standard) di sepanjang pulau Sumatera dengan konsesi masuknya mobil Ford ke Indonesia sebagai satu-satunya mobil yang bisa masuk ke Indonesia selama 10 tahun. Nilai jalan itu adalah 6 juta dollar, tapi usulan itu ditolak karena akan memberlakukan sistem monopoli. Jadi seandainya 4,6 milyar gulden itu tidak dikembalikan maka 200 kali highway standard bisa dibangun diseluruh wilayah Indonesia. 

Setelah terjadi perundingan, Sudirman menolak turun gunung. “Kalau saya turun gunung berarti saya gembira akan kekalahan pasukan TNI”. Generaal Sudirman menolak turun gunung karena ia tahu, perundingan berarti kalah perang. Selama ini banyak di buku sejarah, seakan-akan Sudirman menolak turun gunung karena marah pada Sukarno, padahal bukan. Orang-orang di masa lalu tidak dangkal hatinya, mereka tidak peduli dengan konflik personal. Generaal Sudirman menolak turun gunung karena alasan prinsipil, ia tidak mau kalah perang. “Tapi pada akhirnya” persatuan diatas segala-galanya, pertaruhannya kalau Sudirman menolak turun gunung makan yang akan terjadi adalah perang saudara. Setiap orang tahu pada saat itu, Sukarno yang selalu jadi kartu pegangan orang Indonesia, rakyat akan terjebak pada perang saudara yang tidak mereka mengerti. Sudirman mengalah demi persatuan. Sudirman turun gunung, tapi Tan Malaka ditembak mati di Jawa Timur. Inilah tragedi revolusi. Beberapa kelompok pasukan Tan Malaka menolak turun gunung, yang paling terkenal adalah Chaerul Saleh. Chaerul ini yang pegang pasukan Bambu Runtjing. Ia terus melawan tentara resmi dan menolak perundingan, pasukan Chaerul Saleh menyerang pos-pos militer TNI di Sukabumi dan wilayah lain di Djawa Barat sebagai aksi bentuk penolakannya terhadap KMB. Bahkan sampai pada tahun 1952 pasukan Chaerul Saleh terus bertempur dengan pihak militer. Inilah yang membuat Nasution marah. Kebenaran kelompok Tan Malaka akhirnya terbukti pada tahun 1950-an ke atas. Di Vietnam, mereka menolak kalah dari Perancis dan melakukan perang total, di tahun 1952 Perancis angkat kaki dari Vietnam dengan menyisakan ratusan ribu serdadu berkalang tanah di Vietnam. Lalu Amerika Serikat datang dan merebut Vietnam dua puluh tiga tahun kemudian 1975, Amerika Serikat hengkang dari Vietnam dengan rasa malu, tentaranya berlarian ke helikopter seperti tentara pengecut menyelamatkan diri saat pasukan Ho Chi Minh masuk ke kota Saigon. Begitu juga dengan pasukan Mao yang berhasil menghantam kelompok Kuo Min Tang sampai ke Taiwan padahal pasukan Kuo Min Tang didukung Amerika Serikat. Dan saat ini di tahun 2011 kita menyaksikan seluruh Negara Eropa Barat mengemis pada RRC karena krisis ekonomi yang mereka alami. 

Inilah yang dimaui Tan Malaka, fase pertama dalam pembentukan Negara atau bangsa yang terjajah adalah perang total. Dalam perang total akan terjadi situasi baru, pemahaman-pemahaman baru, alam sadar baru, dan yang terpenting arah sejarah menjadi lebih jelas tidak lembek. Terbukti benar di tahun 1950-an perang Korea meletus. Harga-harga komoditi naik : timah, minyak bumi, kopra, karet dll naik. Kejadian ini mirip dengan boom minyak tahun 1973 yang kemudian dijadikan landasan rejeki Suharto di masa Orde Baru untuk membiayai kekuasaannya. Kenaikan luar biasa harga-harga akibat perang Korea 1950-an ini tidak bisa dinikmati rakyat Indonesia karena Indonesia harus bayar hutang perang kepada pihak Belanda. Yang kaya tetaplah perusahaan-perusahaan besar milik Belanda macam Lindeteves atau Borsumij Wehry. Kejadian ini membuat marah anggota Parlemen Komisi A, mereka memanggil Menteri Perekonomian saat itu Prof.Sumitro Djojohadikusumo. Sumitro menjawab “Kita sudah terikat perjanjian dengan Belanda”. Kelompok sisa-sisa Tan Malaka yang saat itu bergabung dalam Partai Murba marah besar ‘Wah, kalau begini caranya kita harus buat mosi tidak percaya terhadap KMB”. Perjuangan menyusun Mosi tidak percaya ini bukan soal mudah. Kelompok Partai Murba yang dipimpin Maruto Nitimihardjo harus berkelahi kesana kemari untuk meyakinkan mosi tidak percayanya. Untuk memulai mosi ini Maruto mendatangi Hatta lalu Maruto bicara “Masih kurang saja Belanda mengambil dari kita”. Seraya berkata pasrah Hatta berkata “Karena saya yang menandatangani perjanjian KMB itu, saya persilahkan saudara Maruto untuk melanjutkan apa maunya, saya siap menerima segala konsekuensinya”. 

Hampir lima tahun Maruto melakukan pendekatan-pendekatan politik ke semua pihak untuk menolak hasil KMB dan menyatakan mosi tidak percaya. Akhirnya mayoritas anggota Parlemen menyetujui untuk melakukan mosi tidak percaya, apalagi setelah Pemilu 1955 Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mendukung apa mau Partai Murba. “Mosi tidak percaya pada KMB”. Melihat perkembangan mosi itu Hatta secara gentlemen berkata “Saya akan mundur” Saat itu Maruto mendatangi Hatta di kantornya di Merdeka Selatan. Hatta lama memandangi wajah Maruto, dan ia mengeluarkan air mata lalu memeluk Maruto. Setelah pertemuan itu datanglah surat dari Hatta : “Surat Pengunduran Diri”. Surat pengunduran itu menjadi heboh dimana-mana, bahkan Sukarni Ketua Umum Murba, Partai yang jadi pelopor mosi tidak percaya itu berkata singkat sambil mau nangis : “Wah, Bung Hatta terlalu gentleman”. Mundurnya Hatta membuat pihak banyak kalang kabut. Achmad Subardjo yang saat itu jadi Duta Besar di Swiss berkata kepada beberapa orang “Sesungguhnya dulu di tahun 1945 terjadi apa namanya Gentleman Agreement Four, mirip Amerika Serikat pada awal Revolusinya di tahun 1776. Seperti perjanjian antara Washington, Jefferson, Madison dan Franklin untuk bergantian menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, walaupun Franklin tidak menjabat tapi tiga orang menjabat bergiliran. Itulah yang terjadi, nah empat orang yang akan bergiliran jadi Presiden saat itu adalah : Sukarno, Iwa Kusumasumantri, Achmad Soebardjo dan Hatta sendiri. Tapi itu tidak terlaksana toh, malah keluar Testamen Tan Malaka”….. 

Sukarno berdiam diri saja, ia sudah tahu arah sejarah akhirnya kelompok Tan Malaka yang menang dan benar melihat keadaan. Kemerdekaan 100% adalah tujuan terbesar bangsa ini, lalu dengan inspirasi dari Tan Malaka, Sukarno menjalankan program-program politiknya tapi siapakah yang bisa menggantikan Hatta? Kelompok PSI mengajukan Subandrio, yang pada akhirnya Bandrio malah merapat ke PKI. Sementara Murba harus menarik Maruto Nitimihardjo dan Sukarni sebagai lobbying ke Pemerintah, karena Maruto dianggap Sukarno selalu melawan, sementara Sukarni setiap ketemu Sukarno selalu berantem. Akhirnya Murba memanggil Chaerul Saleh yang di Jerman Barat untuk mendampingi Sukarno. Dan pada akhirnya sejarah memberi tahu pada kita, ketika Sukarno dikalahkan saat menjalankan agenda Tan Malaka dengan bahasa-bahasa Sukarno yang ia namakan Trisakti, Berdikari, Pantja Azimat Revolusi, Gesuri, Vivere Pericoloso lalu Gestapu 65 terjadi, Sukarno diinternir di Wisma Yaso, Subandrio diseret ke penjara, Chaerul Saleh kabarnya mati di WC Tahanan Militer dan membuat Sukarni di depan jenasah Chaerul Saleh ngamuk-ngamuk kepada Adam Malik karena tak bisa memberikan pertolongan sama sekali kepada Cherul Saleh. 

Referensi : (c) Anton DHN

Sabtu, 02 Juni 2012

2 Juni 2012, 115 tahun Tan Malaka

Oleh : Muhammad Ilham

Waktu akan lebih jujur untuk berkata/tidak sekarang, mungkin nanti/tapi itu pasti 
(Taufik Ismail)

2 Juni 2012, 115 tahun Tan Malaka. Sebagai figur inspiratif, Tan Malaka terus "hidup". Bukan untuk dimitoskan. Berutung Tan, karena ia terus dikritisi. Dengan itu, namanya terus diperbincangkan. Tanda ia orang besar. Pahlawan bagi Tan, menurut saya, sangat kecil dan reduktif. Lebih tepat, Ia aktor sejarah. Mari kita "dengar" apa yang diungkapkan sejarawan Asvi Warman Adam : “Sejak orde baru, namanya (Tan Malaka) dihapus dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah. Gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut. Tetapi dalam buku teks sejarah ia tidak boleh disebut. Atau menurut istilah seorang peneliti departemen sosial, Tan Malaka menjadi “off the record’ dalam sejarah Orde Baru”.   

Adalah Rudolf Mrazek yang mengukir Tan Malaka lewat bukunya “Tan Malaka a Political Personality’s Structure of Experience”, Kemudian Harry Poeze telah mengabadikan Tan Malaka lewat bukunya setebal 2194 halaman dan berharga 99,90 euro. “Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolution 1945-1949.” Dan menjelang tahun 1980-an, terjadilah arus balik penulisan sejarah Tan Malaka terutama di Eropa, Mulai dari Belanda dengan karya Harry Poeze, sampai ke Australia yang ditulis oleh Helen Jarvis. Penulisan sejarah Tan Malaka di luar negeri ini menjadi bukti bahwa Tan Malaka bercahaya di negeri orang, dan diredupkan di negeri-Nya sendiri. “Apakah Tan Malaka pahlawan Indonesia? Sebab terlalu besar mengangapnya menjadi pahlawan dari bangsa yang menganggapnya kecil ?

"Storia me Absolvera", kata si Brewok Fidel Castro. Biarlah perjalanan waktu yang "membebaskan" dan menilai siapa aku. Untuk Tan, ungkapan ini nampaknya pas.


Sumber foto : kaltimonline.com

Terima kasih bang Dale Sadli (saya gunakan bahasa beliau sebagai judul tulisan)

Chairul Saleh : "Entah Dimana Ia Dicatat"

Oleh : Muhammad Ilham

Ketika Tembok Cina selesai berdiri, kemanakah para budak di (ter)sembunyikan, mengapa justru Shih Huang Ti yang direkam sejarah ? .......... ketika Piramida selesai dibangun, kemanakah para budak dihilangkan, mengapa justru Firaun yang dicatat dalam sejarah ? (Ernst Bloch)

Ada satu "event" yang paling implikatif dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia, yaitu peristiwa Rengasdengklok. Ketika membicarakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, maka Rengasdengklok akan selalu disinggung. Rengasdengklok seumpama "Bukik Marapalam" ketika membicarakan sejarah konflik dan asimilasi adat dan agama (Islam) di Minangkabau, seperti daerah Dien Bhin Pu ketika membahas ketokohan Ho Chi Minh di Vietnam atau seperti daerah Semanggi ketika mengupas seputar lahirnya era reformasi di Indonesia. Rengasdengklok dijadikan salah satu titik terpenting dalam merangkai narasi sejarah proklamasi Indonesia karena daerah ini menjadi tempat penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda yang dipimpin oleh Chairul Saleh dari Menteng 31 terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa atau lebih tepatnya diamankan ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi.

Dalam catatan sejarah dijelaskan bahwa Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka. Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta. Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya "diambil") dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor Laut Dr. Kandeler. Dan ..... sejarah menukilkan : Proklamasi Indonesia bersumbu pada Soekarno Hatta, Pemuda, Menteng 31 dan Rengasdengklok. Sejarah tidak "lupa" atau "melupakan diri" terhadap figur Soekarno-Hatta (walau untuk kasus Soekarno, terajadi reduksi ketokohan pada era Soeharto), demikian juga dengan daerah yang bernama Rengasdengklok dan Menteng 31. Setidaknya buku-buku sejarah yang diajarkan selalu mengekspose fakta-fakta di atas. Namun ada satu yang terkesan ambigue, yaitu Pemuda. Sejarah hanya mencatat bahwa Pemuda-lah yang memiliki kontribusi "menculik" dan memaksa Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Sejarah (terutama yang diajarkan dan "dipaksakan" oleh rezim Orde Baru) tidak berani mengelaboreasi lebih detail, siapa-siapa saja "pemimpin" pemuda dan yang menjadi inspirator "penculikan" Soekarno-Hatta. Jadi jangan heran, apabila banyak orang Indonesia yang hanya berkutat pada kesimpulan, hanya pemuda yang memiliki kontribusi tersebut tanpa memiliki kemampuan elaboratif untuk menerangkan dan memahami siapa tokoh dari kelompok sosial yang bernama "pemuda" itu. Hal ini tidak bisa dipungkiri, memang telah terjadi "peminggiran" sejarah terhadap figur-figur sentral peristiwa Rengasdengklok tersebut. Peminggiran ini terjadi secara signifikan dan massif ketika Orde Baru memegang kekuasaan politik Indonesia. Sebagai rezim yang "alergi" dengan komunisme dan sosialisme serta Soekarnoisme, maka figur-figur yang berada dalam "konsorsium" ini, sebetapapun kontributifnya mereka, maka rezim akan "meminggirkan" mereka, bahkan terkadang menghilangkan mereka dalam catatan sejarah, salah satunya Chairul Saleh. Chairul Saleh, pemuda pintar yang memimpin kawan-kawan muda lainnya menculik Soekarno dan memaksa memproklamirkan kemerdekaan RI, tidak disebut-sebut dalam catatan sejarah. Ia dilebur dalam sebuah konsep yang bernama "pemuda".


Nama lengkapnya Chairul Saleh Datuk Paduko Rajo, lahir 13 September 1916 di Sawahlunto (Sumatera Barat). Sebagai anak dokter, dia mendapatkan pendidikan terbaik, siswa sekolah dasar ELS Bukittinggi kemudian melanjutkan di HBS Medan. Menurut kesaksian BM Diah, "Di Medan, hampir setiap hari saya berpapasan dengan orang muda yang bersepeda. Pemuda itu tampan, badannya berisi dan caranya mengayuh sepeda seperti atlet terlatih. "Saya mengenal Chairul waktu saya jadi mahasiswa RHS. Pada waktu itu dia Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia," kata Subadio Sastrosatomo sambil melanjutkan, "Kesan saya, dia selalu memonopoli semangat nasionalisme, sebab dia menilai mahasiswa yang tidak menjadi anggota PPPI bukan nasionalis. Sebagai mahasiswa RHS, jalannya, gayanya selalu menunjukan, ini lho nasionalis." Sementara SKTrimurti, tokoh wanita pejuang melukiskan, "...penilaian saya, Chairul selalu kurang ajar" (Tempo, Agustus 2007). Maklum, dia tokoh pemuda dan selalu berjiwa muda. Bahwa Chairul tokoh pemuda yang konsisten dalam kata dan tindakannya, nampak menjelang runtuhnya kekuasaan Jepang. Ia mengajak teman-temannya menentang kaum tua yang masih percaya kepada ketulusan sikap Jepang, membantu persiapan kemerdekaan Indonesia. Ia menolak ikut keanggotaan Badan Persiapan Usaha Pencarian Kemerdekaan Indonesia. Ia juga berada di balik aksi penculikan Soekarno-Hatta sehari menjelang proklamasi kemerdekaan. Sumbangan terbesar Chairul mungkin pada keberaniannya mempertahankan pendapat saat perumusan Naskah Proklamasi. Bung Karno, yang (mungkin) mengacu kepada penyusunan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, meminta semua hadirin bertanggung jawab, karena itu mereka harus mencantumkan tanda tangan. Sebaliknya, Chairul dengan tegas menentang. Ia berpendapat, sebagian dari hadirin adalah pegawai Jepang. Bagaimana mungkin, mereka ikut menandatangani proklamasi? Apa sumbangan mereka kepada perjuangan kemerdekaan. Chairul ngotot mempertahankan pendapatnya. Ia tidak mau berkompromi. Kenekatannya saat itu dalam mempertahankan keyakinan mungkin malahan bisa menggagalkan pembacaan proklamasi. Akhirnya, Bung Karno menyerah. Naskah proklamasi, atas nama bangsa Indonesia, (hanya) ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta. Pada sisi lain, selaku penentang Konferensi Meja Bundar, Chairul kembali masuk hutan, begitu kedaulatan Indonesia diserahkan. Ia memimpin laskar rakyat dan berjuang melawan Republik Indonesia Serikat. Tahun 1950 Chairul ditangkap Kolonel Nasution, dipenjarakan dan kemudian dibuang ke luar negeri. Dia muncul kembali di Tanah Air, persis ketika Bung Karno sedang menata pemerintahan dengan prinsip Demokrasi Terpimpin. Kali ini, Chairul dengan sadar menjadi pendukung gigih Presiden Soekarno. Sebaliknya, Bung Karno yang saat itu sedang memperluas basis dukungan politik, memerlukan dukungan massa pemuda yang dikuasai Chairul. Bintang Chairul melesat. Diangkat jadi Menteri Veteran, lalu Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan sampai akhirnya, Wakil Perdana Menteri III. Kecuali itu, jabatan politiknya melonjak, dari Ketua Angkatan 45 diangkat selaku Ketua MPRS.

Dari sekian jejaknya, masyarakat masa kini mungkin tak tahu tekad Chairul membela prinsip negara kepulauan. Konsepsinya mengenai Wawasan Nusantara, di mana batas teritorial secara sepihak ditentukan 12 mil laut (agar semua laut yang ada di antara pulau-pulau jadi wilayah teritorial) langsung diberlakukan pemerintah Indonesia tanggal 13 Desember 1957. Pemikiran Chairul ini baru bisa disahkan tahun 1982 dalam konvensi internasional tentang Hukum Laut di Montego Bay, Jamaika. "Perjuangan tersebut memakan waktu 25 tahun. Saya beruntung mendapat dorongan dari Uda Chairul Saleh. Dari tidak ada sampai tercipta dan diterimanya konsepsi Wawasan Nusantara, sekaligus diterimanya konsepsi baru kita ini," kata Prof Dr Mochtar Kusuma Atmadja mengenang keteladanan Chairul. Tapi, sejarah sering menyeret seseorang ke arah lain. Pada masa Orde Lama, massa komunis dengan gegap gempita menuding Chairul gembong kapitalis birokrat yang harus dilenyapkan. Namun, dalam masa pancaroba kebangkitan Orde Baru, dia malahan masuk tahanan karena dianggap pendukung Soekarno. Meskipun telanjur mati dalam tahanan (8 Februari 1967) dan tidak sempat diajukan ke depan sidang pengadilan, "...yang dapat saya beritahukan, Bung Chairul tidak terlibat G30S/PKI," begitu pernyataan Panglima TNI-AD Jenderal Soeharto, ketika secara pribadi mengirimkan ucapan bela sungkawa kepada istri Chairul Saleh.

Pertanyaannya kini, sebagai politikus ulung yang pasti membaca tanda-tanda zaman, mengapa dia tidak mau pindah posisi ketika fajar kebangkitan Orde Baru muncul di cakrawala? Mengapa dia tidak sebagaimana Adam Malik, rekannya sesama tokoh Murba, melakukannya? Mengapa Chairul tidak menjadi tikus-tikus yang berebut meninggalkan kapal karam, seperti kelakuan rekan-rekannya semasa regim Soekarno mulai nampak menyurut? Analisis tentang ini dengan indah dilukiskan oleh Mochtar Lubis. "...tak ubahnya seperti pahlawan Yunani kuno, melakukan apa yang mereka yakini harus mereka lakukan, karena itulah suratan hidup yang ditentukan para dewata. Mereka tahu yang menanti adalah nista dan maut. Namun, dalam tragedi yang mereka masuki dengan kesadaran, mereka mencapai kebesaran yang tidak sempat diraih semasa (mereka) masih hidup." "... di mata saya, sebagai seorang sahabat, dia tampil sebagai tokoh pahlawan tragis," kenang Mochtar Lubis (Tempo, Agustus 2007). Chairul Saleh dengan penuh kesadaran melangkah menjalani nasib yang dipilihnya, karena itulah kewajiban yang harus dilaksanakan. Inilah puncak tragedi seorang pejuang kemerdekaan yang sangat memilukan.

Referensi : Tempo, Agustus 2007/Foto : hispanically.com

Geisha Soekarno

Ditulis ulang : Muhammad Ilham 

"Salah besar kalau Soekarno suka melirik wanita cantik, yang benar, Soekarno menatap dengan kedua bulatan matanya" (Soekarno) 

“Stop Impor Bini Muda!”. Kata-kata di poster itu sangat jelas ditujukan kepada Presiden Soekarno. Seperti sudah umum diketahui, selain memiliki istri-istri pribumi, Soekarno pun mengambil seorang geisha bernama Naoko Nemoto menjadi pendamping hidupnya. Namun rupanya Naoko Nemoto bukanlah perempuan Jepang pertama yang hadir dalam hidup Bung Karno. Menurut Anusapati yang menukil pernyataan seorang penulis Jepang bernama Nishimura, empat tahun sebelum menikahi Naoko, Si Bung ternyata pernah menjalin cerita cinta dengan seorang gadis Jepang yang lain. Namanya Sakiko Tanase. “Ia adalah seorang model fesyen,”tulis Nishimura dalam The Concept of Power in Javanese Culture (1975). Perjumpaan pertama kali Bung Karno dengan Sakiko terjadi di Kyoto. Begitu berkenalan, nampak sekali Si Bung sudah merasa tertarik dengan sang geisha. Sinyal cinta sang presiden rupanya ditangkap secara manis oleh Kinoshita, sebuah perusahaan Jepang yang memiliki kepentingan menanamkan investasi di Indonesia saat itu. Lantas, jadilah Sakiko ‘dibawa’ oleh Grup Kinoshita sebagai bagian dari lobi bisnis tingkat tinggi di Indonesia. Ternyata Soekarno memang benar-benar jatuh cinta kepada Sakiko. Dan pada suatu hari di penghujung 1958, didatangkanlah Sakiko ke Indonesia, sebagai “pengajar anak-anak ekspatriat Jepang” di Jakarta. Namun aslinya, menurut Nishimura, Sakiko sebenarnya dijadikan sebagai salah satu nyonya rumah bagi Soekarno. Lengkap dengan nama Indonesianya : Ny.Basuki. 

Entah bagaimana, hubungan SS (Soekarno-Sakiko), tak berlangsung lama. Diperkirakan itu terjadi karena setahun kemudian, saat mengunjungi Jepang untuk kesekian kali, Soekarno jatuh cinta kembali kepada seorang perempuan Jepang berusia 19 tahun yang tentunya jauh lebih cantik. Dialah Naoko Nemoto, seorang geisha yang menjadi andalan lobi tingkat tinggi Grup Tonichi untuk memuluskan jalur bisnis di Indonesia. Sekembali dari Jepang, Soekarno mengundang Naoko Nemoto untuk berlibur ke Indonesia. Tahun 1959, tepatnya di hari keempat belas dalam bulan September, Naoko dengan suka cita datang ke Indonesia. Menurut penulis CM Chow, Naoko datang tidak sendiri, ia didampingi oleh dua geisha cantik lainnya. “Mereka ditempatkan di dalam rumah yang disediakan secara khusus oleh perusahaan Tonichi di Jakarta, “tulis CM Chow dalam Autobiography as told to Atoh Matsuda (1981). Lalu bagaimana nasib Sakiko setela dicuekan oleh Soekarno? Entah merasa dirinya “terbuang” atau mungkin ada masalah lain, diberitakan dua minggu usai kunjungan cinta Naoko itu, Sakiko Tanase memilih mengakhiri hidupnya. Demi mendengar kabar menyedihkan itu, Soekarno katanya sempat shock dan berurai air mata. Tapi, umumnya lelaki di dunia, duka itu bisa terhapus seketika. Obatnya? Apalagi jika bukan Naoko yang tiga tahun setelah kejadian itu, akhirnya dinikahi secara resmi oleh Soekarno. Kelak nama gadis Jepang kedua-nya itu ia rubah menjadi lebih me-nusantara : Ratna Sari Dewi.

Referensi (c) : Hendi Johari/Hendijo

Jumat, 01 Juni 2012

Dua Syari'at Utama



Sejak zaman Nabi Adam dan Hawa (as), 
Tuhan hanya memberi dua syariat utama kepada manusia yaitu : 
"Mencintai Tuhan" dan "Mencintai sesama makhluk."

Inspired : Chen Cen Muthahari
Sumber foto : blog.its.ac.id

"Kertas Buram" Ahmad Wahib



Sumber : insist.com

Kala Batu Bicara

Oleh : Muhammad Ilham

Seandainya-lah batu bisa bersuara, begitu panjang riwayat yang akan kita tulis ... !
(Rabindranath Tagore)

Kala Brainwood, seorang arkeolog Amerika yang punya dedikasi dan kesungguhan keilmuan luar biasa (dibidangnya), menemukan beberapa peninggalan-peninggalan arkeologi di situs sekitar lembah Mesopotamia, dunia menjadi "terperangah". Orang menjadi tahu, dulu, di lembah ini, pernah terdapat peradaban tinggi dengan segala maha karya-nya. Sejarah Sumeria, Assiria dan figur-figur besar seperti Hammurabi yang dikenal dengan "masterpiece"-nya Kodeks Hukum yang tersohor itu (bahkan dimasukkan sebagai satu-satunya prasasti paling tua yang mengakui Hak Asasai Manusia), sang "Kaizer" Nebukadnezar - terekonstruksi. Hampir seluruh data yang ditemukan arkeologi ini berupa data-data "diam" yang tak tertulis. Data-data ini kemudian "berbicara", bahwa dalam konteks zaman yang sangat klasik (5000 SM.), negeri di lembah dua sungai ini, pernah menjadi pusaran - centrum - peradaban dunia, pada masanya. Data-data megalit dalam bentuk lumpur yang telah membatu, menyibak kebanggaan historis negeri ini, hingga sekarang.

Karena Brainwood, mereka punya sejarah yang "berbicara" sehingga kini. Ketika masih berkuasa, Syah Reza Pahlevi misalnya, menjadi raja yang punya rasa romantisme sejarah hingga begitu bangga memakai simbol-simbol Cyrus Agung. Demikian juga Saddam Hussein kala masih digdaya, selalu menganggap dirinya sebagai "penyambung lidah" Nebukadnezar. Mereka pantas dan sah secara historis untuk bangga dengan sejarah mereka. Seandainyalah, Brainwood dan data-data megalit (batu tua, biasanya agak besar) yang ditemukannya tidak "berbicara", mungkin rakyat Iran dan Irak tidak akan bisa "bertengadah muka" sekedar untuk mengatakan bahwa dalam satu episode panjang sejarah ummat manusia, mereka pernah punya peradaban tinggi yang bisa menjadi referensi dan identitas historis mereka. Tak ada yang sia-sia dalam penciptaan Allah SWT, apapun bentuk dan "rona" ciptaan-Nya. Karena itu pula, tak ada yang sia-sia dalam disiplin ilmu, semuanya memiliki kontribusi dalam memberikan identitas, penyadaran, dan kebahagiaan ummat manusia. Karena itu jugalah, ajaran normatif agama (Islam) dan agama-agama lainnya, mengajarkan untuk tidak sombong dan menganggap diri lebih dari yang lain, karena setiap orang, siapapun dia, memiliki nilai lebih dan kurang, demikian juga suatu disiplin ilmu, memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri yang bila diintegrasikan, saling melengkapi. Jadi, dengan ini, saya ingin menjawab pertanyaan seorang kawan yang selalu ketawa dan sinis melihat kesungguhan dan kerja ilmiah kawan-kawan lain yang bergelut dalam bidang arkeologi - ilmu yang "mencintai" batu-batu atau bahan material tua.

Sumber foto : www.time.com

Rabu, 30 Mei 2012

Lady Gaga dan Budaya Militerisme

Oleh : Muhammad Ilham 

Menonton acara ILC minggu ini (topik : FPI versus Lady Gaga), pada gilirannya mengingatkan saya dengan budaya militerisme.  

Militerisme ?
Sebuah pemahaman yang selama ini - setidaknya yang dipahami publik mayoritas - adalah sesuatu yang... menakutkan. Lihatlah misalnya penggalan "cerita" berikut yang terinspirasi dari sebuah artikel koran - Djalaluddin Rahmat (?) - diawal tahun 2000 : 

Di sebuah tempat di pedalaman Aceh, ketika DOM (Daerah Operasi Militer) masih diberlakukan. Ada sebuah gubuk terpencil yang dihuni satu keluarga. Mereka adalah sebuah keluarga yang mengungsi ke tengah hutan karena tidak sanggup menghadapi konflik bersenjata GAM-TNI. Kedamaian seakan-akan menjadi barang luks. Ketakutan selalu menghantui mereka. Malam itu mereka berkumpul, makan malam bersama, sambil berbincang-bercanda. Suasana terasa hangat-lepas penuh kekeluargaan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Suasana riang berubah menjadi muram. Dari raut mukanya, terlihat sang ayah sangat takut. Disuruhnya salah satu diantara anaknya untuk melihat dan membukakan pintu. Si anak kemudian pergi ke arah pintu, sebagaimana yang diminta oleh ayahnya, dengan raut muka yang juga takut. Sementara sang ayah dan anggota keluarga lainnya menanti dengan harap-harap cemas. Beberapa saat kemudian, si anak yang disuruh membukakan pintu tadi mendatangi ayahnya, masih dengan raut muka takut. Sang ayah bertanya, “siapa yang mengetuk pintu tadi?”. Si anak menjawab, “Malaikat maut, yah. Ia ingin bertemu dengan ayah !”. Spontan si ayah ini menjawab, “Alhamdulillah, saya kira tadi yang datang tentara”. 

 Sebuah ketakutan dengan simbol-simbol riil militerisme - "tentara". Tapi janganlah terlebih dahulu kita berburuk sangka. Militerisme bukanlah (mutlak) suatu keadaan dimana pemerintahan dipimpin oleh para perwira militer seperti junta militer di Myanmar dan negara-negara "sejenis". Tentara jadi representasi kekuasaan politik dihampir semua lini vertikal masyarakat. Bukan itu. Militerisme lebih kepada kondisi sosial dan kejiwaan masyarakat. Ini bisa dijumpai dalam masyarakat yang dipimpin oleh sipil sekalipun.   Refleksi militerisme, kata Noam Chomsky (1997) bisa dijumpai dalam berbagai bentuk kehidupan masyarakat sehari-hari, dalam benak dan pemikiran kita yang terkadang kita anggap sebagai sesuatu yang lumrah. Pakar Sosiologi Politik, Michael Mann (1999) mengatakan bahwa kehadiran militer/tentara bukanlah sesuatu yang otomatis menjadi perwujudan dari militerisme. Pada sisi lain, misalnya, negara yang dikuasai oleh pemimpin sipil secara formal, tidak terdapat jaminan pasti akan steril dari militerisme. Secara teoritis, kata Michael Mann lebih lanjut, militerisme adalah seperangkat sikap dan praktek sosial yang didasarkan kepada anggapan bahwa "peperangan" dengan segala persiapannya merupakan sesuatu yang normal dan "menggairahkan". Bagaimanapun jua, adalah sebuah kewajaran bila sikap militerisme melihat segala sesuatunya sebagai sebuah "medan peperangan". Menyerang atau diserang, kanai atau manganai - kata seorang kolega saya (alm.) adalah suatu prinsip hidup utama militerisme. 

Huntington (1989) mengatakan bahwa ada dua prinsip utama dari budaya militerisme : (a). rasa takut yang memasyarakat, dan (b). simbol kekerasan dan kejantanan (kebuasan) ditonjolkan. Bila dihubungkan (a) dan (b), maka berlaku asumsi dasar : masyarakat yang mengidap militerisme tersebut secara formal mungkin menyanjung simbol-simbol kekerasan dan kegagahan, tapi ini merupakan kompensasi psikologis karena mereka menderita teror dan trauma. Kekerasan tidak hanya dominan dalam masyarakat "bar-bar"ataupun monopoli dari negara-negara Dunia Ketiga (yang baru "mau" berkembang). Modernitas yang membawa simbol-simbol dan spirit kebebasan, kemerdekaan politik bagi segala bangsa, HAM, rasionalitas serta kapitalisme dengan perangkat "pasar bebas"nya, ternyata tak kurang buasnya. Untuk ini, dalam bukunya Modernisme dan Post-modernisme, Ben Anderson menyimpulkan bahwa dua abad modern terakhir ini merupakan masa-masapenuh kekerasan yang tak ada bandingannya dalam durasi waktu panjang ummat manusia. Tak ada negara yang lebih banyak berperang selama abad ke-19 daripada Inggris - negara pemuka industri (dengan revolusi industri-nya) dan pasar bebas. Demikian juga, tak ada negara di paro abad ke-20, bahkan hingga sekarang yang lebih banyak berperang ketimbang Amerika Serikat, negara yang jumawa berkiblat pada pasar bebas. Dan sejarah masih "segar"mencatat, perang Dunia I dan II, disponsori oleh negara-negara kapitalis. 

Kembali ke militerisme yang bercirikan pada kejantanan dan mempertentangkan sikap hidup kaku menjadi dua realitas belaka : kawan/lawan, kalah/menang, atau kanai/menganai. Sebagai sebuah sikap, militerisme bukan hanya milik anggota militer. Tak sedikit warga sipil, kelompok primordial, lembaga-lembaga kemasyarakatan, organisasi-organisasi kepemudaan bahkan kemahasiswaan yang mengidap "virus" militerisme ini. Intinya, terkadang si penjaga demokrasi itu yang menghancurkan demokrasi, yang merasa berhak menjaga perdamaian yang merusak perdamaian, dan orang-orang yang bukan berasal dari militer, justru lebih militer dalam pendekatan sikapnya.

Semoga saya salah. Para fesbuker, berhak untuk tidak sependapat dengan saya. Berikut, beberapa tanggapan fesbukers dalam (Muhammad Ilham Fadli FB) berkenaan dengan topik terkait :
 

Emeraldy Chatra : Saya tidak terlalu kuatir dengan militerisme, karena kasat mata dan dapat diantisipasi dengan mudah. Yang saya takutkan adalah serangan diam-diam terhadap pikiran, yang membuat kita tidak lagi tahu mana batas antara benar dan salah. Lebih tragis lagi, setelah mengalami ketidakjelasan kita digiring untuk tunduk dan rela memperbudak diri demi kepentingan tertentu.  

Astuti Budi Ferida : Kadang ketika melihat sesuatu.....tak jarang orang melihat masalah lainnya..bukan yang substansinya....dibahas habis kulitnya...tapi terlupakan membahas isinya.....kulit perlu dibahas....tapi isi juga harus dibahas dengan lebih seksama.  

Juan Frans : Tidak hanya Lady Gagah yang bisa KO kalo dibenturkan dengan nilai-nilai Islam, lagu-lagu Cinta yang digandrungi masyarakat mestinya juga KO. Kalo soal lirik lagu setahu saya ada band metal yang mengambil ayat al-quran dan menjadikannya bagian dari lirik musiknya yang berisik, lalu apa band metal ini bisa disebut band religius, islami? Saya curiga jangan-jangan tipe masyarakat kita itu sebenarnya tidak mementingkan Subtansi justru, gandrung dengan kemasan, kulitnya. 

Ranny Amelia : Saya lihat ada sesuatu yang menghubungkan orang-orang di berbagai belahan dunia saat ini, yakni ketertarikan kepada kekerasan, apakah itu landasannya emosional ataupun rasional. Setiap orang atau kelompok bisa terlibat dalam kekerasan. Meskipun demikian semakin sedikit yang menyadari bahwa yang baik sekalipun bisa menjadi ancaman bagi yang lain. Sebuah sikap yang baik adalah tidak memakai energi itu untuk hal yang remeh temeh. Maka salah besar jika dikatakan bahwa kekerasan dan perang hanya itulah isi dari dunia militer. Didalamnya penuh dengan orang-orang yang perduli dengan nilai-nilai kemanusiaan, solidarisme, dan hasrat untuk melindungi. Masalahnya sebuah identitas telah dilekatkan kepada militer, disebarkan secara intensif dan luas, oleh kekuasaan-kekuasaan yang ingin memakai militer untuk mengamankan diri sendiri, dan memastikan bahwa kekuatan ini tetap berada ditangannya. 

Sumber Foto (Lady Gaga) : id.wikipedia.org  
Referensi : Muhammad Ilham FB

Catatan-Catatan Galau # 1 - # 3

Oleh : Muhammad Ilham

catatan #1, dari beragam interaksi siang tadi.

Begini saja, bujang !!
Jangan kau kutuk kegelapan
Nyalakan saja lilin yang kau punyai
Bila ia tak ada
Tak salah pula bersenyap sunyi
Bukan karena kita lemah
Karena itu adalah sebuah solusi

Begini saja Upik dan Butet !
Teruslah berharap menjadi lebih baik kedepan
Karena bak kata Lut Szun, berharap itu umpama jalan ditengah rimba. Pada awalnya tak ada, tapi karena sering dilalui, maka jalan itu ada dengan sendirinya.

Begini saja, Ucok !!
Jangan kau anggap orang tak sayang sama kau
kadang-kadang sering kita bersangka salah
Tertutup pintu di depan
Pintu yang lain banyak terbuka
Dan ... mata kau, hanya menghadap dan mengutuk pintu yang tertutup itu.

(untuk kawan, yang selalu melihat segala sesuatu, terlampau ideal. mungkin karena ini pula, ia sering mengutuk)

Padang, dari pukul 09.00 hingga 14.00 waktu Lubuk Lintah
(lebih kurang)


catatan #2.

dari baca koran lokal hari ini, terdapat satu penggalan berita : "marinir mengamuk-menghantam masyarakat sipil di bukik lampu Kota Padang. patah mematah banyak tulang, remuk-lebam sekian kulit tubuh. gemeretak rakyat badarai ketika membaca".

Buyung, masihkah kau ingat ota saya beberapa waktu lalu.
sebuah ota yang sama persis dengan ucapan seorang ibu di koran pagi tadi, "kami takut sama militer, karena melawan mereka, sama saja bunuh diri".

saya ulang lagi cerita "ketakutan itu". begini :

Di sebuah tempat di pedalaman Aceh, ketika DOM (Daerah Operasi Militer) masih diberlakukan. Ada sebuah gubuk terpencil yang dihuni satu keluarga. Mereka adalah sebuah keluarga yang mengungsi ke tengah hutan karena tidak sanggup menghadapi konflik bersenjata GAM-TNI. Kedamaian seakan-akan menjadi barang luks. Ketakutan selalu menghantui mereka. Malam itu mereka berkumpul, makan malam bersama, sambil berbincang-bercanda. Suasana terasa hangat-lepas penuh kekeluargaan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Suasana riang berubah menjadi muram. Dari raut mukanya, terlihat sang ayah sangat takut. Disuruhnya salah satu diantara anaknya untuk melihat dan membukakan pintu. Si anak kemudian pergi ke arah pintu, sebagaimana yang diminta oleh ayahnya, dengan raut muka yang juga takut. Sementara sang ayah dan anggota keluarga lainnya menanti dengan harap-harap cemas. Beberapa saat kemudian, si anak yang disuruh membukakan pintu tadi mendatangi ayahnya, masih dengan raut muka takut. Sang ayah bertanya, “siapa yang mengetuk pintu tadi?”. Si anak menjawab, “Malaikat maut, yah. Ia ingin bertemu dengan ayah !”. Spontan si ayah ini menjawab, “Alhamdulillah, saya kira tadi yang datang tentara”.



http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=29159

catatan #3

bujang. aku nagabonar bujang. setelah mak-ku, kau-lah orang yang aku sayang. oh ya aku lupa, ada satu lagi, si kirana, yang seharum sabun padang sidempuan itu. harum kali dia bujang, kalau ia lalu, aromanya menggetarkan kelelakian saya seperti bergetarnya rumah mak kau ketika kereta api medan belawan lewat.

bujang menontonkah kau Indonesia Lawyer Club malam tadi.
tentang grasi si cantik Corby (tapi lebih cantik Kirana. karena itu lagu Bunga Tanjung kupersembahkan selalu padanya)
hangat nian diskusinya tadi malam.
tapi aku berfikir, memang tuluskah para raja negeri ini memberi grasi itu ?
walau mereka bilang tulus, saya tak percaya.
ingatkah kau NICA, bujang. mereka berunding-berunding, tapi NICA masuk juga. bohong mereka.

rasanya, kita bisa berguru pada Al Pacino.
tahu kau Al Pacino bujang ?
itu, lelaki ganteng berwajah tirus.
ia lakon paling menarik dalam serial God Father.
di film ini, si Al Pacino pernah berujar :

Tak ada hal yang bisa diputuskan sepihak. Kompromi senantiasa terjadi. Aku memberikan X kepadamu, kamu memberikan Y kepadaku. Tentu saja ada akal sehat dan rasa keadilan yang bekerja di sana tapi juga kepentingan ...... yang tak selamanya luhur "

Catatan-Catatan Galau # 4 - # 6


catatan #4
 
Mak Itam. bosan aku dengar debat TV dari kemaren hingga maghrib tadi. mereka selalu bicara atas nama hukum dan konstitusi. padahal itu kumpulan kata-kata. si buyung baru bersunat kemaren itupun bisa menafsirkan kumpulan kata-kata itu, sekehendak hatinya. si prof ini bilang tafsirannya yang paling matang, sedangkan prof itu bercakap takwilannya pula yang paling ranum. "pening aku tante", kata ruhut poltak sitompul.

daripada debat di tafsiran kata-kata, lebih baik kita menyanyikan nyanyian kamerad Deng Xiao Ping :

"Jangan perdebatkan warna kucing, bila ia pandai menangkap tikus ..... pakai !"

(selesai perkara. bosan aku. minum teh pahit tanpa gula beta dahulu. maklum, perut lagi sakit. sudah 6 kali berkontemplasi di kloset produk Amerika Serikat yang baru saya ganti 2 bulan lalu, karena si penjual kloset tak mau tukar tambah dengan kloset saya yang lama).


catatan #5

bujang. walaupun si Mariam itu pencopet bin pencopet, tapi ia berperang melawan NICA. walaupun si Mariam itu hanya mengerti main catur, tapi tak pandai membaca nama ayahnya, ia jenderal lubuk pakam, bujang. walaupun si Mariam itu jarang mandi, bencinya pada NICA tak punya nomor.

sedih aku bujang. si Mariam tak pernah dicatat.
Ingat jadinya saya dengan si Bloch yang bergumam :

Ketika Tembok Cina selesai berdiri, kemanakah para budak di (ter)sembunyikan, mengapa justru Shih Huang Ti yang direkam sejarah ? .......... ketika Piramida selesai dibangun, kemanakah para budak dihilangkan, mengapa justru Firaun yang dicatat dalam sejarah ? (Ernst Bloch)

yakinkah kau bujang, begitu banyak di negeri ini orang seperti si Mariam ?



catatan #6

tante, mengapa kamu berulangkali jatuh cinta pada politisi
mereka tak bisa berkita
kalau kamu tetap ingin jatuh cinta pada mereka
jatuh cintalah pada politisi seperti Natsir.
mengapa harus Natsir ?
karena ia pernah berkata : hakikat politisi itu ... tidak bicara kami dan kamu, tetapi kita !
politisi seperti Natsir pada prinsipnya telah mencatat sejarah
beda dengan kebanyakan "mereka"
yang lebih suka menulis biografi

Sabtu, 26 Mei 2012

Nehru, tepatnya Pandit Jawaharlal Nehru


Membaca biografi NEHRU, pada malam ini, tepatnya Pandit Jawaharlal Nehru 
salah seorang pendiri India beralis tebal, ganteng dengan tubuh semampai itu
saya hanya ingin katakan dalam beberapa patah kata :

"Kebesaran Nehru bukan terletak pada jiwa demokratisnya
 bukan juga karena ia berasal dari keluarga aristokrat-terpelajar India.  
Kebesaran Nehru adalah bahwa kesempatan untuk menyeleweng yang ada padanya
 ia kontrol sendiri sekencang-kencangnya".  

NEHRU, ayah dari Indira Gandhi dan Kakek Sanjay dan Rajiv Gandhi ini
 walaupun tidak pernah merasakan bagaimana pahitnya kalah dalam dunia politik
 ia tetap berpesan hingga akhir hayatnya : 
 "Lebih baik kita berhasil menjaga sukma kita dan kalah dalam pemilu, 
ketimbang menang dengan cara yang salah".




Sumber Foto : curator.com

Membincangkan Marxisme

(Empat Artikel yang terbit di Harian Umum Padang Ekspres dan Harian Singgalang berkaitan dengan : "Haruskah Ajaran Komunisme diajarkan di Sekolah?".  Artikel Muhammad Ilham, Heru Joni Putra, Novellia Musda dan Deddy Arsya) 

Muhammad Ilham (Harian Singgalang)
 
Dalam pergulatan sejarah pemikiran Islam akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 Masehi, Minangkabau pernah memiliki seorang Datuk, namanya Datuk Batuah – lengkapnya Ahmad Chatib gelar Haji Datuk Batuah. Orang Koto Laweh ini, pada masa itu sangat mencengangkan dan sekaligus mencemaskan. Persoalannya adalah Datuk Batuah yang haji itu adalah murid ulama ternama Haji Rasul alias Inyiak Dotor, ayahanda ulama legendaris Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Beliau sendiri sampai awal tahun 1923 berprofesi sebagai guru dan menjadi pengurus Thawalib Padangpanjang, Batusangkar dan Bukittinggi. Dalam sejarah, nama Datuk Batuah bukanlah nama yang bagus dikalangan pergerakan Islam, hingga kini. Sejarah mencatat Haji Datuk Batuah membawa dan, menyebarkan paham komunis diaerah tersebut. Pada tahun 1923 ia menanamkan ajaran komunis di kalangan pelajar-pelajar dan guru-guru muda Sumatera Thawalib Padang Panjang. Sumatera Thawalib adalah suatu lembaga pendidikan yang dimiliki oleh kalangan pembaharu Islam di Sumatera Barat dengan Inyiak Dotor sebagai “pilar” utamanya. Haji Batuah merupakan salah seorang pengajarnya. 

Berawal dari Sumatera Thawalib Padang Panjang, paham komunis akhirnya menyebar ke berbagai daerah Sumatera Barat dibawa oleh para lulusan sekolah tersebut ke daerah asalnya. Penyebaran ini terutama dilakukan di kalangan petani. Oleh masyarakat setempat ajaran komunis ini disebut “ilmu kominih” (Schrieke, 1960: 155). Ilmu ini menggabungkan ajaran Islam dengan ide anti penjajahan Belanda, anti imperialisme-anti kapitalisme dan ajaran Marxis. Pada akhir tahun 1923 Datuk Batuah, bersama-sama dengan Nazar Zaenuddin (sebagian mengatakan Natar Zaenuddin) mendirikan pusat Komunikasi Islam di Padang panjang. Melalui media massa – Pemandangan Islam dan Djago Djago – Datuk Batuah memaklumkan diri sebagai “orang komunis”. Datuk Batuah menerbitkan harian “Pemandangan Islam” dan dan Nazar Zaenuddin menerbitkan “Djago-Djago” (Djago-Djago bukan berkonotasi fisik atau kuat-hebat, jagoan - namun lebih berkonotasi "pengingat" untuk tidak terhanyut dengan keadaan yang ada, tidak pasrah dan seterusnya). Lembaga Pusat Komunikasi Islam dan kedua harian tersebut digunakan sebagai media penyiaran paham komunis. Padahal, kontribusi pencerahan yang dirintis oleh Datuk Batuah dengan Pemandangan Islam dan Djago Djago sungguh sangat luar biasa. Konon, pada masa ini, ada tiga media massa paling berpengaruh di Hindia Belanda, dua diantaranya terdapat di Minangkabau …… Pemandangan Islam dan Djago Djago. Bahkan, Ruth Mc Vey dalam bukunya The Rise of Indonesian Communism dan Takashi Shiraishi dalam bukunya Zaman Bergerak mengatakan bahwa Datuk Batuah dan Haji Misbach (yang ini tokoh Islam “kiri” Surakarta), sangat dihormati oleh kolonial Belanda bukan karena mereka “penjilat” akan tetapi idealisme mereka yang sangat tinggi untuk mencerahkan lingkungan masyarakat dan bangsanya.

Pada pagi 11 Nopember 1923 Datuk Batuah dan Nazar Zaenuddin ditangkap pemerintah kolonial Belanda. Segera setelah itu pusat propaganda komunis berpindah ke Padang ( Schreike, 1960: 60). Pucuk kepemimpinan PKI Sumatera Barat kemudian di ambil alih oleh Sutan Said Ali. Sejarah Datuak Batuah kemudian "terhenti" dan dibuang (diasingkan) bersama Natar Zaenuddin ke Tanah Merah - Boven Digoel, sebuah tempat pembuangan tokoh-tokoh pergerakan yang dianggap kolonial Belanda berpotensi mengganggu stabilitas politik yang mereka bangun. Digoel diibaratkan seperti Gullag-nya Uni Sovyet era Joseph Stalin, sebagaimana yang pernah dinukilkan oleh Alexander Solzhenitsyn dalam The Gulag Archipelago. Sejarawan Jepang, Takashi Shiraishi pernah mendeskripsikan Digoel atau Tanah Merah, dengan “penceritaan” yang menggentarkan. Begitu seramnya Digul, publik Belanda menyebut tempat interniran di tanah jajahan itu sebagai kuburan. Sekali didigulkan, orang seperti menandatangani kontrak kematian. Di daerah ini, kata Shiraishi, "Banyak yang hancur mentalnya karena putus asa." Di daerah ini pulalah, Datuak Batuah kemudian ”redup”. Ahmad Chatib yang bergelar Haji Datuk Batuah sampai hari ini, "seakan-akan" tidak ditangkap oleh layar sejarah sebagai aktor sejarah kontributif dan inspiratif. Terkadang sejarah selalu "bersimpang dua" - meminjam istilah filosof muslim, Hassan Hanafi. 

Heru Joni Putra (Harian Padang Ekspres)

"Adalah hasrat kekayaan, bukan hasrat pengetahuan, yang mendorong peningkatan kemampuan teknologi terus dilakukan dan bagaimana pemasaran produk tersebut di masyarakat.” Jean Francois Lyotard 
Mungkinkah kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah memasukkan pengenalan dan pemahaman lebih lanjut mengenai Marxisme? Tentu ada alasannya mengapa saya menggunakan kata “mungkin” untuk mengawali pertanyaan tersebut. Sebab bisa saja hal itu menjadi tidak mungkin sama sekali bila kita mengingat bahwa pemerintah Orde Baru telah menjadikan Marxisme sebagai ideologi yang dilarang, meskipun bila kaji ulang, akan tampak bahwa pemerintah Orde Baru, dalam hal ini Soeharto, terlalu terburu-buru menyimpulkan itu semua. Dan mungkin saja Marxisme bisa dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional bila pemerintah sekarang mau membuka diri dan meninjau kembali kesalahan-kesalahan yang sepatutnya tak perlu diteruskan dari pemerintahan Soeharto itu. Salah satu kesalahan Soeharto adalah ketika ia tak ingin membedakan antara Marxisme dan Komunisme. Memang, Karl Marx pernah menyebut Komunisme, tetapi Komunisme yang kita kenal semalam ini adalah hasil interpretasi Lenin terhadap Marxisme atau lebih sering disebut Marxisme-Leninisme. Jadi, ketakutan yang sengaja diciptakan Soeharto sebenarnya pada Marxisme-Leninisme, bukan pada Marxisme. Dalam hal ini saya ingin mengulang apa yang sudah seringkali diingat orang-orang sebelum saya, bahwa Marxisme semenjak zaman Karl Marx sampai sekarang ini semakin banyak perbedaannya dengan Marxisme-Leninisme. Keduanya memang menggunakan kata “Marxisme” tetapi sebagaimana ideologi lainnya—sebagaimana juga Pancasila, ada banyak tafsir terhadapnya, bahkan butuh perbaikan di sana-sini. Kita tentu mengenal Louis Althuser, Antonio Gramsci, Terry Eagleton, atau Zizek, dan masih banyak lainnya. Mereka adalah tokoh-tokoh Marxis yang memahami Marxisme secara terbuka. Saya melihat bahwa mereka melakukan penyegaran terhadap pemikiran-pemikiran Karl Marx. Penyegaran terhadap pemikiran Marx tentu saja patut dilakukan mengingat adanya masalah-masalah baru yang terjadisekarang yang tidak begitu berdengung pada zaman Karl Marx. Sekarang kita tak bisa melihat permasalahan, baik itu secara ekonomi, politik, maupun sosial-budaya, hanya sebagai pertentangan antara kaum buruh dan borjuis. Sebab ada gejala-gejala lain yang membuat kita mesti menggunakan pendekatan maupun aspek-aspek lain untuk melawan dengan Marxisme, sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi. Maka, bagi saya, sangat tolol sekali bila kita pada hari ini memahami Marxisme sebagaimana Soeharto untuk meruntuhkan Soekarno dan melakukan itu semua untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaannya sampai 32 tahun.

Untuk apa sebenarnya Marxisme bagi anak sekolah, bagi siswa setingkat SMP, SMA, dan bahkan mahasiswa? Agar tidak terpengaruh oleh kapitalisme adalah jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan yang sangat bagus tersebut. Para moralis, mesti memahami seberapa besar dampak kapitalisme terhadap kehancuran moral bangsa. Para politikus mesti mau berpikir tentang seberapa kuat pengaruh kapitalis terhadap gagalnya kata “partai politik” menjadi kata yang menyenangkan di telinga msyarakat banyak. Para budayawan, mesti kembali membicarakan seberapa dahsyatnya dampak kapitalisme terhadap ketidakpedulian masyarakat terhadap isu-isu kebudayaan. Dan terutama, para pengajar mesti mengerti bahwa kapitalisme menjadi sebab mengapa tingkat pendidikan kita masih rendah. Pokoknya, siapapun kita, sudah sepatutnya kita kembali berpikir serius tentang bahaya kapitalisme. Dan apapun profesi kita, dampak jelas dari kapitaslime adalah ketika segala-galanya diukur dengan seberapa uang yang kita punya dan seberapa banyak kita membeli barang-barang yang sebenarnya tidak menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan kita. Sebab landasan dalam sistem ekonomi kapitalis adalah bagaimana mendapatkan untung yang sebesar-besarnya dengan mempengaruhi masyarakat agar membeli sebanyak-banyaknya dan seterus-menerusnya. Salah satu contoh agar orang terus membeli barang mereka adalah dengan cara mengeluarkan barang tertentu hanya dengan satu keunggulan. Dan bila ingin mendapatkan keunggulan lain, bisa dengan membeli barang keluaran selanjutnya. Begitu seterusnya.

Dan salah satu korban dari penipuan terselubung yang dilakukan kapitalis adalah siswa SMP dan SMA yang notabene sangat mudah terpengaruh. Kita bisa melihat lewat iklan-iklan di televisi bagaimana perusahaan di Indonesia pada umumnya yang bermental kapitalisme melakukan apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai “manipulasi tanda-tanda.” Perusahaan-perusahaan tersebut menciptakan iklan yang membuat kita seakan-akan kita memang butuh dan harus membeli barang yang mereka tawarkan. Mereka memanipulasi kita dengan tanda-tanda, dengan simbol-simbol yang dekat dengan kehidupan kita. Sehingga kita pun merasa bahwa apa yang mereka iklankan dengan menggunakan orang-orang terkenal itu memang perlu kita miliki sekarang juga. Maka terjadilah keadaan di mana sebuah keluarga tidak mempunyai beras untuk dimasak tetapi uang untuk membayar kredit motor ada. Atau anak sekolah yang tak punya uang untuk membeli buku tapi untuk membeli pulsa blackberry ada. Atau sebuah universitas yang tak memiliki anggaran untuk memperbaiki pustaka tetapi uang untuk mendatangkan para kapitalis berceramah tentang cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya selalu ada. Ada seseorang yang tak punya uang untuk berbagi, tetapi untuk membeli barang merek terkenal ada. Apakah Anda yakin bahwa perusahaan tersebut peduli dengan itu semua? Meskipun tadi saya mengatakan bahwa siswa sekolah menjadi target utama kapitalis, tetapi yang terjadi malah semakin ironis ketika mahasiswa yang seringkali disebut sebagai agen perubahan justru tidak membawa perubahan dan malah ikut terseret arus yang dibawa kapitalisme. Kapitalisme telah membuat mahasiswa memiliki dua dunia. Dua kampus dan dunia kampung. Kampus adakalanya menjadi show room, tempat memamerkan motor dan mobil-mobil mewah. Kampus menjadi panggung fashion show, tempat memamerkan pakaian-pakaian terbaru, dan seterusnya. Sedangkan kampung menjadi tempat untuk mengadu bila tak ada lagi uang untuk membeli barang-barang terbaru, tak peduli apakah dengan cara meminjam uang orang lain, menjual sawah, atau memakai uang yang disimpan-simpan orang tua untuk keperluan mendadak di kemudian hari misalnya. Dari berbagai contoh tersebut, untuk sementara, kita tentu bisa menyimpulkan jawaban sendiri tentang mengapa marxisme dengan segala perkembangannya sangat perlu dimasukkan ke dalam kukikulum pendidikan nasional.

Saya memaklumi bila sebagian kecil orang mungkin akan menolak untuk memasukkan Marxisme ke dalam kurikulum pendidikan, dengan alasan bahwa mata pelajaran agama telah lama mengajarkan bagaimana siksaan untuk orang-orang yang serakah seperti kapitalis. Atau mungkin sebagian kecil orang lainnya akan mengatakan bahwa mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, Kewarganegaraan, atau Filsafat Pancasila telah mengajarkan tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga bahaya kapitalime bisa dibentengi dengan pancasila. Dan saya kira masih banyak bantahan lain agar Marxisme tak usah dimasukkan ke dalam kurikulum. Tanpa bermaksud merendahkan mata pelajaran agama dan Pancasila, saya memang merasa perlu mendukung untuk memasukkan Marxisme ke dalam kurikulum, karena Marxisme secara lebih khusus bisa membahas mengenai bahaya kapitalisme (tingkat lanjut). Sedangkan mata pelajaran agama dan pancasila mempunyai begitu banyak pembahasan. Tentu saja, kita butuh penerapan terhadap ilmu-ilmu agama maupun pancasila. Artinya, Marxisme pada hakikatnya ikut membantu mata pelajaran agama dan pancasila dalam membahas mengenai sifat serakah dan ketidakadilan sosial yang telah diciptakan oleh sistim ekonomi kapitalime. Semoga dengan menjadikan Marxisme sebagai salah satu mata pelajaran, baik sebagai pelajaran wajib, pilihan maupun ekstrakurikuler, maka kita berharap semoga contoh dari dampak kapitalisme yang sudah saya sebutkan di atas tadi bisa dipahami semenjak dini. Saya berharap semoga nanti hubungan kita dengan orang lain tidak ditentukan oleh barang-barang apa saja yang sanggup kita beli, seperti yang sering kita rasakan akhir-akhir ini. 

Novelia Musda (Harian Padang Ekspres)

Benar kata Heru bahwa di Indonesia kian hari segala sesuatu makin diukur dengan uang dan apa pun dikomersialisasikan kadang tak peduli batas halal haram. Anak-anak muda berorientasi materi dengan tak memperhatikan batas-batas kemampuan. Utang jadi budaya demi gaya hidup, pandangan hidup kian dangkal dan individualistis. Ini terjadi karena serbuan produk-produk dan mentalitas kapitalis yang punya kepentingan bagaimana orang-orang makin tergantung kepadanya. Supaya masyarakat tak tambah rusak, bahaya-bahaya sedemikian musti dicegah dengan melakukan kiat-kiat tertentu. Yang menjadi persoalan adalah apakah Marxisme dapat diharapkan mencerahkan generasi muda untuk mengatasi dampak kemajuan zaman sedemikian? Marxisme memang tidak identik dengan komunisme dan gerakan revolusioner. Banyak analisisnya tentang bahaya kapitalisme serta teori tentang pertentangan kelas yang berguna. Akan tetapi, ada hal-hal negatif dalam paham tersebut membuatnya hanya parsial benar, tapi secara keseluruhan keliru. Hal ini serupa kasusnya dengan eksistensialisme, ala Sartre dan Heidegger, yang humanis tapi sukses menggiring orang dalam keputus-asaan tak tersembuhkan. Karena doktrin tersebut secara prinsip keliru, walau secara parsial berisi kebenaran, mempelajarinya jadi hal tak perlu. Seperti kata Fritjhof Schuon (dalam artikelnya Letter on Existensialism) ,” Truths are to be found in all the philosophers, and above all half-truths, but these truths are flanked with errors and inconsistencies…no need for them. “ Setidaknya ada tiga hal negatif pada Marxisme jika dipelajari atau jadi pandangan hidup oleh kaum muda. Karena keterbatasan tempat, hanya hal-hal umum dan konklusif saja dikemukakan.

Pertama, Marxisme menggiring kepada materialisme. Marxisme secara sederhana adalah ajaran Karl Marx. Karl Marx merupakan seorang Yahudi yang kecewa berat dengan bapaknya yang pindah agama dari Yahudi ke agama Kristen supaya secara finansial dan sosial hidupnya lebih mudah. Salah satunya karena pertarungan batin ini dia memilih jadi ateis. Setiap ateis jika berdakwah akan mendakwahkan materialisme. Namun, bukan berarti setiap yang menganut Marxisme akan jadi ateis atau materialis. Marxisme hanya satu pintunya, tetapi bisa jadi pintu yang mudah dilalui menuju ke sana. Kedua, Marxisme memiskinkan spiritualitas manusia. Karena Karl Marx menganggap agama hanya candu dan Tuhan sebagai proyeksi impian manusia, secara langsung Marxisme menggerogoti keimanan seseorang. Yang dipedulikan Marxisme hanyalah supaya semua manusia secara adil dan damai menikmati kebutuhan-kebutuhan tubuh. Bahwa mereka beragama ini atau itu tidak penting. Yang dinomor satukan hanya kebutuhan jasmaniah dan psikologis. Padahal, yang menjadi nilai lebih pada diri manusia adalah spiritualitasnya, ke-ilahi-an yang ditanamkan dalam dirinya. Yang menjadi tujuan hidup manusia bukan memuaskan hasrat tapi melampaui hasrat dengan membina spiritualitas atau rohaninya. Ketiga, Marxisme mendorong timbulnya paham-paham turunan berbahaya (komunisme, Leninisme, Maoisme) dan bila telah kuat bisa memicu aksi-aski yang bisa membahayakan masyarakat. Banyak sudah contoh terjadi bahwa jika suatu paham sedang tidak digemari masyarakat, atau dipandang mengancam, atau pendeknya posisinya sedang lemah, paham itu akan mendakwahkan hal-hal yang sifatnya kompromistis dan lunak. Hal ini hanya selubung. Pelan-pelan, jika para penganutnya telah cukup kuat, maka kebijakan pun berubah. Yang dituntut bukan sekadar pengakuan, tapi pembenaran. Mulailah dilakukan paksaan demi paksaan dalam beragam bentuk agar paham tersebut jadi satu-satunya yang dianut dan diakui sebagai satu-satunya yang benar. Agaknya sejarah Rusia, China, Korea Utara dan Kuba sudah cukup menunjukkan.

Pada dasarnya memang Marxisme bisa diartikan sebagai satu dari banyak teori ekonomi. Namun, sejarah membuktikan banyak orang mengambil inspirasi darinya untuk menciptakan paham-paham turunan yang berbahaya di tengah masyarakat. Ini menunjukkan hal tersebut bukan sekadar teori ekonomi, tapi bisa menggiring kepada ideologi. Ideologi bisa jadi pengganti agama. Lagipula, sudah banyak pendapat yang menunjukkan kegagalan Marxisme sebagai teori dan praktik. Suatu doktrin yang salah dilihat dari buahnya. Doktrin yang salah umurnya juga biasanya singkat. Sekarang Marxisme boleh jadi menarik bagi banyak orang terutama bagi yang belum mengenalnya, bagi yang suka mencoba-coba, bagi yang bosan dengan status quo dan mendapati tantangan baru yang menarik. Akan tetapi, siapa menjamin doktrin ini akan laku 100 tahun lagi. Pemikiran Karl Marx itu kalaupun ada yang benar hanya karena bersandar pada situasi dan kondisi pada zamannya atau kondisi yang serupa. Jika keadaan berubah, maka galeh-nya tak laku lagi. Juga mungkin ada yang keberatan dan mengatakan seseorang bisa sekaligus tetap saleh secara religius dan menganut Marxisme dalam hidupnya. Atau bahwa dengan Marxisme orang bisa sadar bahaya hedonisme dan kapitalisme sehingga mendorong bersikap zuhud. Orang bisa juga keberatan dengan mengatakan bahwa paham Marxisme telah menghasilkan orang-orang besar dan idealis baik skala internasional maupun seperti Tan Malaka. Hal ini memang bisa saja terjadi seperti juga banyak contoh di mana seorang yang saleh pandangan hidupnya salah dan perilakunya sektarian. Karl Marx yang mendakwahkan Marxisme adalah seorang Yahudi ateis dan sekuler. Akan tetapi, kapitalisme kontemporer justru banyak dikecimpungi oleh Yahudi-Yahudi juga yang berkontribusi signifikan di balik kebijakan ekonomi IMF, bank dunia Amerika Serikat dan lainnya. Tak jarang kritikan terhadap kapitalis dari kaum Marxis malah membuat kapitalisme semakin kuat. Sekali lagi ini sudah indikasi yang cukup bahwa apa pun yang datang dari Yahudi ateis dan sekuler musti serius diwaspadai meski dari pemikir besar dan humanis sekalipun.

Pencarian sebab meningkatnya materialisme praktis pada generasi muda Indonesia zaman sekarang pun pertama sekali mungkin bukan pada kapitalisme, tapi sederhananya pada kelemahan-kelemahan kita. Kelemahan ini bersumber dari mentalitas yang salah berupa kedisiplinan batin yang kurang serta ketidaksetiaan terhadap tradisi. Akibat kelemahan ini, kepentingan asing mudah masuk dan paham-paham berbahaya dari Barat dan Timur melenggang gembira. Hal ini juga berdampak pada meningkatnya ketergantungan pada bantuan asing (utang dan bantuan lain) serta kerentanan terhadap perubahan-perubahan luar (seperti naiknya harga minyak dunia). Walhasil, pemuda dan pelajar Indonesia tidak butuh satu lagi pelajaran teori. Cukup mereka saja yang mencari dan membaca sendiri Das Kapital kalau mereka mau tanpa harus diajarkan di sekolah. Lagiupula, kepala mereka sudah kusut dengan teori dan bombardir tugas-tugas. Hal teoritis sudah saatnya dikurangi. Pelajaran yang bersifat praktik dan keahlian (teknik, bahasa asing dan seni) yang perlu ditambah agar mereka tidak hanya sibuk bergaya dan berwacana serta berpuas diri dalam kebanggaan yang hampa. 

Deddy Arsya (Harian Padang Ekspres)

Menumpang pada marxisme sama seperti menumpang pada biduk bocor. Ibarat diri akan karam. Di Sumatera Barat, sejak Magas memperkenalkan ideologi marxisme sebagai ideologi pembebasan dari penderitaan penjajahan, ideologi itu tidak pernah bisa diterima secara utuh oleh masyarakat. Marxisme mulai dapat berterima secara signifikan setelah bertranformasi ke dalam berbagai bentuk ideologi lain, termasuk berafiliasi dengan Islam seperti yang dicobakan oleh Datoek Batoeah. Pada 1920an itu, misalnya, beberapa orang di Minangkabau bahkan juga mencobakan memasukkan pelajaran marxisme ke kalangan pelajar sekolah menengah. Pelajar Sumatera Tawalib pada periode itu banyak yang gandrung pada ideologi ini, apalagi gurunya Datoek Batoeah juga seorang marxis yang hampir fanatik. Akan tetapi, penentangan dengan giat dilancarkan dari banyak kalangan, baik dari kalangan pelajar sendiri, maupun dari kalangan gurunya, terutama yang paling keras adalah Haji Abdul Karim Amarullah. Jika sekarang ideologi itu (betapa pun baiknya ideologi ini tampaknya, yang telah bertransformasi menjadi neo-marxis sekalipun) hendak dimasukkan lagi ke sekolah, bahkan menjadi salah satu mata pelajaran pula, kita hanya mengulang sejarah yang nyata telah jelas hasilnya. Kita hanya akan menuai penentangan demi penentangan. Masyarakat di mana pun, memang mudah antipati terhadap yang asing. Masyarakat kebudayaan paling sulit melepaskan yang lama ketimbang menerima yang baru. Maka dari itu, kita sesungguhnya tidak perlu mencari jauh-jauh ke perbendaharaan asing. Apalagi bersandar pada ideologi yang tidak bisa lagi diandalkan sebagai penyelemat. Idigium orang Minangkabau  lainnya tentang kerja seperti itu sama dengan “bataduah di bawah batang aua” (berteduh di bawah batang aur). Batang aur jika dilihat dari jauh memang nampak rimbun dan meneduhkan, tetapi ketika kita telah berada di bawahnya, kita ternyata tetap basah. Belum lagi, ular dan kala biasanya banyak bersarang di rumpunnya yang siap menggigit dan memantak kita.

Musda bisa jadi benar, mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah sudah banyak, bahkan sudah lebih dari cukup, apalagi ditambah pula dengan les-les yang tidak berkeruncingan. Bikin ruwet otak. Jangankan untuk menjernihkan, memasukkan marxisme malah akan membikin semakin kusut akal. Cukup-lah orang-orang kampus saja yang belajar itu, mahasiswa filsafat saja yang menyuntuk-nyuntukkan diri terhadap itu. Kalau pun pelajar kita ingin pula terlibat belajar marxisme, biarlah kesadaran mereka sendiri yang membuat mereka mempelajarinya. Sementara untuk menangkal kerakusan, hedonisme, hasrat konsumtif, kita memang lebih dari cukup hanya memanfaatkan yang telah ada saja. Misalnya, mengoptimalkan pelajaran agama, budi pekerja, atau BAM. Heru mungkin tidak sepenuhnya hendak memasukkan marxisme sebagai bagian dari pelajaran di sekolah, baik sebagai pelajaran inti maupun pelajaran ekstrakurikuler. Saya menganggap tulisannya adalah sebuah sentilan belaka bagi dunia pendidikan kita. Tulisan Heru, di sisi ini, bisa menjadi refleksi bagi kita bahwa kadang kita memang patut putus asa memandang dunia pendidikan hari ini. Di sekolah diajarkan pendidikan agama, pendidikan budi pekerti, pendidikan BAM, dan pendidikan untuk pembangunan moral lainnya. Namun,  yang diajarkan di sekolah itu tidak berhasil menjadi nilai-nilai yang siap dipraktikkan. Para pelajar tetap saja sulit menjadi sederhana. Pelajaran budi pekerti dekat dengan hapalan demi untuk memenuhi jawaban ujian. Ironis jika kata ‘budi’ harus didefinisikan, pengertian tenggang rasa mesti dihapalkan. BAM juga tidak beranjak dari tataran teoritis yang berupa hapalan pula, tidak berpijak pada konteks zaman, lepas dari realitas. Di buku pelajaran bicara soal mamak, dunia sekarang tak butuh mamak lagi. Bicara tentang pusaka, pusaka sudah tergadai di mana-mana.  Pelajaran agama juga begitu, tak jauh berbeda. Dalam konteks seperti inilah tulisan Heru lahir, sebagai sebuah usulan untuk mencari praksis yang lain ketika yang praksis yang ada dianggap tidak lagi ampuh menyelesaikan masalah kita.Tulisan Heru menjadi semacam kritik untuk memperbaiki pengajaran moral di sekolah. Meneruskan Heru, barangkali, untuk zaman kita yang dikuasai benda-benda seperti sekarang, bukan marxisme (yang malah justru berafiliasi pada materi) yang menjadi penangkalnya.

Kita bisa mantapkan pelajaran agama, dengan dimodifikasi menjadi lebih berafilisasi ke pengajaran untuk zuhud. Pelajaran agama mestinya tidak lagi bertumpu pada pembelajaran yang ritualistik.Hidup sederhanya juga ibadah, juga sesuatu yang harus dipelajari dan dilatih. Melawan diri sendiri untuk tidak memperturutkan hasrat membeli juga sebuah jihad. Rakus adalah dosa besar. Hak kita akan benda-benda hanyalah apa yang menjadi kebutuhan kita. Di luar itu, tidak. Dan lain sebagainya.  Tidakkah dalam Islam, semangat revolusioner dalam melawan kerakusan juga tidak kalah besar ketimbang marxisme. Islam bilang, “celakah para pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya”. Narasi Islam yang seperti itu jika dikontekstualisasikan jelas merujuk sebagai kecaman pada kapitalisme, kepada kerakusan manusia. Orang Minangkabau juga tidak mentoleril kerakusan, bahkan mengutuknya. Ada kata ‘akok’, yang berarti semuanya ingin dipunyai, rakus. Kita tidak boleh ‘akok’. Terminologi ini jelas berkonotasi buruk, sangat buruk dalam masyarakat kita.

Soekarno-Hatta Bukan Prajurit Perang

Oleh : Muhammad Ilham
 
Kolonel Tahi Bonar (TB) Simatupang, dalam bulan Desember 1948, pernah menyarankan Soekarno-Hatta meniru Jenderal Soedirman - ikut perang gerilya. Soekarno-Hatta, tidak memberikan tanggapan. 

Penakutkah dan tidak cukup tangguhkah Soekarno-Hatta ? 

Dalam sejarah, Dwi Tunggal ini tidak tercatat seperti Ho-Chi Minh, Fidel Castro, Che Guevarra maupun Mao Ze Dong, tersuruk puruk dalam kancah perang panjang yang sengit. Walau tidak demikian, rakyat mencintai mereka berdua, bahkan memuja. Mungkin rakyat Indonesia tahu, bila hanya dengan bedil, kita sudah habis sebelum umur 35, meminjam istilah GM. 

Foto : tribunews.com