Selasa, 07 Februari 2012

Damai Nan Eksotik







Sumber : vivanews.com/image only
(cc) abahiffa.blogspot.com

Sosok SYED Muhammad Naquib Al-ATTAS

Oleh : Muhammad Ilham

Hampir tak ada intelektual muslim dunia yang tidak mengenalnya. Ia digelari sebagai "Pemikir Muslim Cemerlang Abad Modern Asia" dan "Putra Mahkota Intelektual Islam Abad Modern", SYED Muhammad Naquib Al-ATTAS. Naquib al-Attas, lahir di Bogor, Indonesia pada 5 September 1931 dan anak dari leluhur Ba’Alawi, Hadramaut ini mendapat "kiprahnya" di negera seberang, Malaysia. Ia seumpama Syekh Taher Al-Falaki, lahir di Minangkabau, mencapai "maqom" di negeri orang. Nenek al-Attas, Ruqayyah Hanum adalah seorang bangsawan Turki. Kakeknya, Syed Abdullah bin Muhdin al-Attas, adalah seorang kiyai terkenal di Jawa. Sementara itu, ibunya, Sharifah Raguan al-Aydarus berasal dari Bogor, Jawa dan berketurunan raden-raden kerabat Diraja Sunda dari Sukapura. Karya-karya al-Attas sering menjadi rujukan dalam kajian keislaman, khususnya yang berkaitan Asia Tenggara. Beberapa buah bukunya tersebar dan diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, seperti Arab, Turki, Persia, Urdu, India, Indonesia, Bosnia, dan Albania. Seluruh karya-karyanya ini mengungkapkan diri al-Attas sebagai seorang intelektual muslim dunia tercerahkan. Keberanian meralat orientalis, kegigihannya berkarya, kepandaian memilih perkataan, serta ketajaman fikirannya, semua itu melengkapkan dirinya sebagai seorang yang harus dihargai dalamjejak intelektual muslim duinia abad modern. Tak salah bila Jennifer Webb tak segan-segan mengolongkan al-Attas sebagai satu-satunya pemikir Muslim dalam Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society (2002).

Berikut saya publish beberapa (hanya sebagian) tanggapan para sahabat tentang topik tokoh ini di Facebook saya (Muhammad Ilham Fadli) :

Sheiful Yazan :
Akankah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi akan sebesar itu jika dia tidak meninggalkan Minangkabau? Fenomena "nabi" seringkali menjadi besar (setelah berkiprah) di tanah rantau perlu penjelasan psiko-sosio-antropologis mungkin Pak Muhammad Ilham.

Muhammad Ilham :
Tak sepenuhnya benar pak Sheiful Yazan. Memang bila dibaca catatan sejarah "menggetarkan" dari manusia-manusia cemerlang asal Minangkabau yang besar dan membesarkan diri di rantau - dalam istilah Wallerstein, mereka menciptakan sejarah karena keluar dari "relung suci habitat mereka" - seperti Hatta, Syahrir, Natsir, Tan Malaka, Chairul saleh Datuk Paduko Rajo, Yamin, Agus Salim ataupun Syekh Taher Djalaluddin al-Falaki - bisa menjadi benar bahwa "daerah rantau" membesarkan mereka, sebagaimana halnya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Bahkan Hatta, misalnya, lebih berani menyuarakan "Indonesia Merdeka" ditanah Netherland sana ketika ia kuliah di Rotterdam era 1920-an/1930-an, dan tak "bermantagi" untuk meneriakkan hal serupa di kampung halamannya. Rantau nampaknya memiliki nuansa dan tantangan tersendiri. Tapi bukan berarti, orang2 besar harus berkiprah di rantau. Bak kata teman saya - "merantau itu mudah, tinggal di kampung itu yang sulit". Yang sulit itu pula yang dipilih Inyiak Djambek, Inyiak Djaho, Inyiak Parabek, Inyiak Candang, Inyiak Dotor (HAKA), Mochtar Luthfi, Syekh Mohammad Khatib Ali ataupun Rohana Kudus dan Rasuna Said. Persoalannya adalah "skala prioritas". Bagi Syekh Ahmad Khatib yang pergi karena "ngambek" melihat sistem adat waris Minangkabau, menganggap dirinya ta akan berkembang baik bila pulang ke Minangkabau, sesuatu yang ustru dilakukan oleh murid-muridnya.


Efrin Baka :
Filsafat Baniah agaknyo lah manjadi maliek contoh ka na sudah maliek tuah ka nan manang di Minangkabau ko.


Sheiful Yazan :
Menarik, Pak Muhammad Ilham. Kembali ke Syed Naquib, Bogor sepertinya terlalu nyaman, kurang menantang. Walaupun sempat kembali ke Sukabumi untuk mengaji, Syed Naquib tetap memilih tanah semenanjung untuk menabur benih pemikirannya. Saya baca hal2 yang mirip dengan tokoh2 lain dari tatar Sunda, seperti Ayip Rosyidi yang "besar" di Jepang, atau Syafruddin Prawiranegara yang "besar" di Minangkabau. Yang menarik adalah: kebesarannya di tanah rantau bahkan tidak dikenal di kampungnya. Banyak kawan2 di Jawa Barat bahkan tidak pernah tahu siapa Syed Naquib, seperti juga tidak mengenal Syafrddin. Kenapa begitu?


Muhammad Ilham :
Sebagaimana halnya Chairul Saleh (yang tidak dikenal orang Minangkabau), padahal Datuk Paduko Rajo dilekatkan padanya. Atau katakanlah DN. Aidit (Dja'far Nawawi Aidit/Dipa Nusantara Aidit) anak Haji Tuan Tanah Bangka Belitung asal Danau Maninjau, Haji Aidit. Ada "aroma" air danau Maninjau dalam darah Aidit yang DN itu pak Sheiful Yazan. Kembali lagi pada Al-Attas. Mungkin karena tantangan. Bagi Al-Attas, bisa jadi Bogor tak menarik baginya, sebagaimana halnya Taher Djalaluddin.


Sheiful Yazan :
Makin menarik Pak Muhammad Ilham. Perlu pemetaan tokoh2 centrifugal tersebut. Keterpelantingan mereka oleh tanah kelahirankah, atau apa....
?

Rusydi Ramli :
Rang Minang lebih tumbuh dan berkembang di "tanah Rantau" karena ranah minang "sompik". Maka kalau untuk besar "gadang" tinggalkan kampung.


Muhammad Ilham :
Ada artikel menarik Uwan Suryadi di Padek. Ambo kutip senek: Mungkin tidak berlebihan jika Jeffrey Hadler (2008:180) mengatakan bahwa ”West Sumatra…became an ideological breeder reactor’’ (reaktor pemijahan ideologi) sejak dulu sampai kini. Tuanku Nan Renceh (Islam konservatif), Fakih Saghir (Islam moderat), Haji Abdul Gani Rajo Mangkuto (kapitalis), Tan Malaka dan Upiak Itam (komunis), Sutan Sjahrir (sosialis),…dan kini Alexander Aan (ateis) diyakini hanyalah representatif (wakil yang tampak) dari anggota masyarakat Minangkabau penggandrung berbagai ideologi yang dibesarkan dalam kebudayaan yang intinya mengandung paradoks, dan oleh karenanya terus-menerus berada dalam situasi ”darurat permanen” itu.


Muhammad Ilham :
Pak Sheiful dan pak Rusydi .... bahkan beberapa "hidden communitiies" ada yang mengklaim sebagai AGNOSTIK (dan saya yakin, itu hanyalah bagian dari dinamika pemikiran). Terlepas suka atau tidak suka dengan Alexander Aan, teringat dengan catatan sejarah. Tidakkah masa lalu Minangkabau (era 1920-an/1930-an), Komunis mendapat tempatnya dalam kerangka ideologis ? Pada dasarnya jangan dilihat sebagai sebuah "kecelakaan" tapi kemampuan menjawab tantangan. Pada era itu, ideologi komunis yang dianggap sebagai "biduk militan" dalam melawan Belanda. Sedangkan kaum aristokrat (baik ulama maupun adat) lebih bersifat "elitis" dan hanya bermain dalam ranah yang "nyaman", ranah edukasi dan perdebatan teologis-normatif. Sehingga tak salah bila ideologi "merah" ini menjadi pilihan Datuak Batuah yang "gregetan" melihat kaum ulama pada masa itu hanya berkutat di Madrasah (edukasi), bukan lapangan. Dalam konteks ini mungkin kita bisa melihat fenomena A. Aan !
. .... saya setuju dengan Uwan Suryadi Sunuri, Minangkabau memang "ditakdirkan" dihuni oleh entitas sosial yang tidak ingin seragam. Tuanku Nan Renceh (Islam konservatif), Fakih Saghir (Islam moderat), Haji Abdul Gani Rajo Mangkuto (kapitalis), Tan Malaka dan Upiak Itam (komunis), Sutan Sjahrir (sosialis) .... ditambah Chalid Salim (komunis) semntara kakaknya Agus Salim (sosialis-religius), Hamka-Abdullah Ahmad, Inyiak Djambek cs. (modernis) vis a vis dengan Inmyiak Canduang, Inyiak Parabek cs PADA KURUN WAKTU YANG SAMA dengan ZEITGEIST yang sama pula ...... merupakan MINIATUR dari tipikal masyarakat Minangkabau (mungkin subjektif). Karena itu pula, amat terheran-heran kita bila "orang Minangkabau" di plot hanya menjadi SATU "jenis" ideologi saja. A-HISTORIS kita nampaknya.

Muhammad Ilham
Hahaha..... betul-betul-betul. Pak ! Sikap a-historis selalu melahirkan situasi yang tidak sehat, tidak nyaman, dalam ke-minangkabau-an, ke-islam-an, atau ke-indonesia-an sekalipun. Entitas Minang dipandang dengan kebenaran satu kacamata. Maka jadi kafirlah semua orang yang tidak menyetujui pandangan kacamata kuda itu.


Sumber : Muhammad Ilham Face Book/Februari

Jendela yang (Bukan) Pintu

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Jendela bukan Pintu. Pintu adalah akses utama. Ketika terbuka, isi perut terlihat menganga. Mata pun melotot bebas mengaduk-aduk semua isi. Puas. Terbukanya pintu, membuat angin berbondong-bondong menyeruak masuk. Tidak ada kata antri. Berdampak luas bagi 'hawa' panas penghuni lawas. Hawa dingin mendorong paksa hawa panas untuk menyingkir. Panas tergantikan oleh hawa dingin. Frontal! Adaptasi hawa baru harus berlaku. Jendela bukanlah Pintu. Tidak pernah diketuk jika tidak perlu. Jendela adalah media sirkulasi tetapi harus antri. Sedikit demi sedikit, hawa panas tergantikan hawa dingin. Tidak frontal. Adaptasi bergulir serasi. Walaupun menganga terbuka lebar. Jendela adalah media, untuk mengintip bagian dari isi rumah. Mengangapun mata tidak mampu mengudak-udak isi perut rumah.

Sebaliknya, di balik jendela adalah media menatap isi dunia. Mata menatap luas tanpa batas. Balik jendela adalah media untuk 'sembunyi' bagi orang yang ingin berbagi. Tanpa terkuak utuh, terlihat kasat jati dirinya. Jendela bukanlah aset sirkulasi utama, dan jendela adalah media sempit yang agak rumit. Dari jendelalah, saya ingin berbagi cerita. Karena saya belum mampu, maka saya tidak memilih lewat pintu. Walaupun sempit, semoga saya mampu berbagi sedikit melalui jendela. Bukalah jendela, mari berbagi... !! Dan ...... bila kita berbeda perndapat, semua itu adalah hal yang lumrah karena berbeda itu pada dasarnya indah, sebagaimana halnya foto-foto dibawah ini.





Sumber (c) : djendelahati.blogspot.com
Foto : www.doubleplas.co.uk/google.picture.com

Rabu, 01 Februari 2012

Bukan Hanya Permukaan

Oleh : Muhammad Ilham

Media Televisi sedang "menjaga" kecemburuan publik yang siap meledak, setidaknya demikian kata Cak Nun, suatu waktu.

Sebagai pilar demokrasi, pers memang menjadi harapan terbesar bagi publik untuk terus mengontrol "kurenah" sang penguasa. Dan karena itu pulalah, akhir-akhir ini kita selalu disuguhi tontonan, dialog dan sejenisnya yang terus memupuk kecemburuan itu. Dengan bungkusan jurnalistik yang luar biasa profokatif, beberapa media televisi senantiasa menayangkan kurenah sang penguasa atawa elit politik bangsa loh jinawi ini. Hampir tak ada, gerak-gerik para elit yang tak luput dari pemberitaan. Mulai dari kenaikan gaji anggota DPR, biaya perjalanan dinas Presiden, anggota DPR yang selalu "ngantuk" waktu sidang, affair para menteri hingga kelakuan para bini elit politik negeri ini, dikupas tuntas bak mengupas kehidupan para pesohor (baca : entertain) negeri ini dengan bahasa profokatif. Akhirnya, dalam perbincangan tingkat "lepau"pun, publik memberikan penilaian (dengan tentunya Media Televisi sebagai rujukan) dalam bahasa seperti : "Gaji Presiden Satu Tahun, bila dibelikan beras akan mampu menghidupi sekian keluarga Indonesia", "Biaya perjalanan dinas Presiden satu tahun bisa mendirikan masjid dan musholla sekian buah", dan seterusnya. Publik hanya tahu dengan "rumus matematika" sesederhana itu, karena memang mereka terus "dijaga" oleh media televisi yang menawarkan rumus tersebut. Walau kita terus merasa jengah dengan kelakuan para elit, namun mengajak masyarakat untuk tidak berfikir sesederhana itu, adalah suatu pembelajaran berharga. Media Televisi sebagai media kontrol adalah sebuah keharusan, tapi memupuk pola berfikir masyarakat tidak profokatif dengan dalil-dalil komparatif yang sederhana, adalah juga sebuah kewajiban. Membandingkan biaya perjalanan dinas Menteri dengan berapa roti yang bisa diberikan pada masyarakat, bukan sebuah perbandingan yang mencerdaskan masyarakat itu sendiri.

Orang yang sedang memancing di pinggiran sungai dan senar pancingnya di bawa arus, pasti berfikir bahwa air di tempat itu deras. Sebuah rumus-kalkulasi logis yang sederhana. Karena itu, ia kemudian berpindah tempat,sesuai dengan naluri memancingnya. Tapi ia melupakan, air menjadi deras karena tanahnya terlalu miring. Bahkan ia lupa bahwa air itu mengalir ke bawah, karena tanah dibawah sungai itu menurun. Kala kita menunggu Angkutan Kota di pinggiran jalan, kita hanya melihat bahwa mobil-mobil hilir-mudik terus menerus. Kita melupakan bahwa jalan di depan kita itu berhubungan dengan jalan-jalan lain terus menerus dan membentuk sebuah jaringan. Tanah miring yang menggerakkan air sungai di atasnya dan jaringan Angkutan Kota dan mobil yang hilir mudik adalah hal-hal yang luput dari pandangan karena (terkadang) letaknya tersembunyi atau memang abstrak untuk dibayangkan. Dan ... terkadang, kita hanya melihat di permukaan peristiwa, tapi tidak mengetahui apa yang memungkinkan peristiwa-peritiwa itu terjadi. Mengajak orang untuk selalu menyelami dasar sebuah peristiwa, jauh lebih mencerahkan dibandingkan hanya memaparkan apa yang ada dipermukaan (Semoga saya salah, Wallahu a'lam bish shawab).

:: Mungkin pendapat saya ini tidak sepenuhnya benar. Tulisan ini hanya sebagai "cetusan instan" setelah menonton sebuah dialog di Media Televisi Swasta dimana salah seorang narasumber-nya yang kebetulan masuk dalam ranah intelektual garda depan Indonesia mengatakan, "Coba lihat Presiden, kerjanya hanya mencipta lagu dan mengeluh dan para menterinya hanya sibuk bermain Twitter".

Fasisme Media dan Demokrasi SMS

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tampaknya mengalahkan ”fasisme” media tidak sesulit menggempur Hitler atau Mussolini. Cukuplah dengan mematikan TV atau memindah ke saluran cerdas. Namun, ”klik” itu membutuhkan disiplin dan intelegensi yang memadai untuk suatu keputusan sadar. Persis itulah yang tidak dimiliki ”warga negara” yang telah berubah menjadi ”konsumen” pasif. Daya sihir reality show berkaitan dengan proses pembodohan dan pendangkalan di luarnya, maka status quo ”fasisme” media sebenarnya dilestarikan oleh ketercabikan politis yang nyata.

Hannah Arendt, korban Nazi Jerman, pernah mengatakan bahwa sikap apatis penduduk terhadap politik telah memberi peluang bagi kebangkitan fasisme. Kehidupan bersama yang tercabik-cabik oleh ekspansi kapitalisme menyisakan onggokan individu-individu apatis dan pasif yang mengalami disorientasi nilai, bahkan kehilangan sense of reality. Celah hampa dalam jiwa para individu yang mencari tambatan kepastian baru itu segera diisi oleh sistem propaganda rezim fasis yang menghadirkan baginya suatu ilusi terencana tempat mereka ”dimanufakturisasi” menjadi kaki tangan loyal rezim. Namun, itu dulu ketika radio masih bersuara parau dengan jangkauan terbatas dan itu juga jauh di seberang benua sana. Saat itu negara perkasa mendikte pasar dan masyarakat. Sekarang, di zaman ponsel di tangan tanpa berisik mengirim jutaan SMS untuk memilih atau mengeliminasi kandidat bintang instan di TV, situasinya tentu berbeda. Kini adalah zaman pasar mendikte negara. Ruang publik bergeser fungsi menjadi ruang iklan, publikasi kepentingan privat. Memang media tidak lagi melayani propaganda, tetapi ia menjadi panggung bagi kepentingan-kepentingan modal. Dan untuk peran barunya ini media membangun watak tiranisnya sendiri: Semua bisa dibuat patuh, dan bila perlu, impian pun bisa diadministrasikan! Reality show, misalnya, menyimpan paradoks. Show adalah show karena dibedakan dari realitas yang bukan keseolahan, melainkan kesungguhan. Namun, jika reality menjadi show, realitas bisa dikomando dalam/oleh show.

”Fasisme” media, bila dominasi media dewasa ini boleh disebut begitu, juga hidup dari populasi yang apatis terhadap politik dan membiarkan diri diseret oleh hasrat untuk mengonsumsi, memiliki dan menikmati lebih lagi dan lagi. Tidak kebetulan bahwa rezim-rezim media meroket pamornya bersamaan dengan kemunculan dari apa yang disebut David Riesman dalam The Lonely Crowd, ”cara hidup yang dikendalikan dari luar” itu, yakni orang-orang kosong yang siap dijerumuskan ke dalam sensasi- sensasi peristiwa media. Entah real atau fiktif, impian atau kenyataan—semua itu sama saja, asal menghasilkan shock, rasa petualangan, pertaruhan atau bahkan teror. Kolaborasi elite media dan investor cepat memakai peluang ini dengan menghadirkan panggung sensasi bagi mereka. Reality show siap mengomando mereka pindah dari keseharian yang menjemukan ke dalam ”impian teradministrasi” yang serba spektakuler. Populasi penonton TV yang didera beban hidup dan kepahitan ingin cepat kaya dan tenar seperti para bintang idola mereka. Media memberi doktrin jalan pintas ke sana: AFI, Indonesian Idol, Mama Mia, Stardut, dan seterusnya. Makin meninggi ke tangga nominasi, makin melambung impian mereka seperti gelembung. Namun, untuk itu kantong dikuras habis untuk menyogok para ”konstituen” mereka dengan pulsa agar memilih mereka. Seperti massa di pertunjukan gladiator Romawi, massa pengirim SMS mengeliminasi para pecundang versi mereka, tentu sesuka hati. Pemenang ciptaan demokrasi SMS yang meniru pola money politics di pemilu dan pilkada itu pun menyentuh langit impiannya, sedangkan gelembung impian si pecundang meletus tanpa bekas seiring dengan kebangkrutannya. Hidup ini nyata dan bukan show, maka kepahitan yang dicecap di luar TV bukan entertainment. Kalah dan menang itu relatif; yang absolut tentu keuntungan yang masuk kas perusahaan penyedia pulsa dan media penayang iklan. Dengan sukses mengontrol massa pemirsa lewat mesin mimpi, media menjadi ”fasistis”: Entertainment menjadi cuci otak untuk patuh pada impian hasil rekayasa rezim media itu.

Namun, bukankah populasi meneladan para pemimpin? Dalam politik yang dikonstruksi media, janji negara untuk kesejahteraan juga dirasa tak perlu menjadi reality karena cukup dipamerkan sebagai show. Parlemen berubah dari institusi perdebatan publik menjadi lembaga show untuk para selebriti partai. Juga forum-forum cepat menyulap keluhan-keluhan warga menjadi entertainment penuh gelak tawa. Lalu ke mana substansi masalah kalau tidak membubung ke puri angan-angan? Untuk politik yang beralih menjadi reality show dan reality show yang beralih menjadi politik itu, ”fasisme” media berutang budi pada penduduk yang dalam keseharian bertubi-tubi dikecewakan oleh politik, mengabaikannya dan lalu menjerumuskan diri ke dalam impian teradministrasi itu.

Sumber : (c) F. Budi Hardiman [Kompas, 6 April 2008]

CHE (juga) Lennon

Ernesto CHE Guevarra dan John LENNON
Mereka berdua Orang Hebat dibidangnya
Memiliki satu kesamaan : "Mati Terbunuh karena mencintai Kemanusiaan"


Foto : global.com

Si Soenting Melajoe

Oleh : Muhammad Ilham

Bundo Kanduang itu bukanlah Limpapeh Rumah Gadang, wanita santun, ramah penurut, suka dirumah tak banyak ota. Bundo Kanduang seumpama Rasuna Said, Rohana Kudus dan sejenis mereka ......... garang, kritikal !
(Gusti Asnan)


Kecuali nama sepotong jalan kecil teduh di Padang dan usaha keripik balado yang produknya kerap dibawa keluar kota sebagai oleh-oleh, tidak banyak yang tahu tentang Roehana Koeddoes. Tidak banyak pula yang tahu, ketika Raden Ajeng Kartini, menulis berlembar-lembar suratRoehana School. Nama Roehana memang tidak begitu dikenal di tengah hiruk-pikuk perayaan emansipasi kaum perempuan. Tidak banyak pula dokumentasi yang mencatat kiprahnya sepanjang lebih dari 80 tahun masa hidupnya. Dalam catatan sejarah pers Indonesia, Roehana Koeddoes disebut sebagai wartawati Sumatra Barat pertama, yang menerbitkan koran perempuan Soenting Melajoe pada 1912. Buku Roehana Koeddoes, Perempuan Sumatera Barat, karya Fitriyanti yang terbit pada 2001, mengungkap bahwa Roehana sudah melahirkan dua karya besar yang melampaui jamannya.

Pertama kegigihannya memperjuangkan pendidikan bagi perempuan Minangkabau di awal abad 19 dengan membangun sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia dan Roehana School dan kedua terbitnya surat kabar yang ia bangun dan pimpin sendiri. Dalam buku Tanah Air Bahasa terbitan 2007, yang menghimpun tokoh dan kejadian penting dalam 100 tahun, Roehana disebut sebagai tokoh yang berhasil menyuarakan perubahan bagi perempuan. Roehana percaya surat kabar adalah alat yang ampuh untuk menyebarkan gagasan yang bisa mempengaruhi pikiran perempuan. Lahir di Kotogadang, kampung sunyi di Sumatra Barat, pada 20 Desember 1884, Siti Roehana adalah anak perempuan tertua Moehammad Rasjad Maharadja Soetan, seorang jaksa yang acap berpindah-pindah kota. Meski hidup sederhana, keluarga Roehana terpandang dan terpelajar. Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia, adalah saudara Roehana satu ayah. Ayahnya menikah dengan ibu Sjahrir setelah Kiam -ibu Roehana-- meninggal. keluhan dari kamar pingitannya di Jepara, Jawa Tengah, kepada teman-temannya di Belanda, Roehana Koeddoes sudah mendirikan sekolah perempuan bernama Dengan Haji Agus Salim, Roehana juga bertalian darah. Kakek Roehana dan Agus Salim bersaudara kandung. Roehana anak kesayangan Rasjad. Tidak heran jika di tengah keluarganya, Roehana dipanggil dengan sapaan "Roehana anak ayah."

Sejak kecil, Roehana yang disapa dengan panggilan "One" oleh ayah dan adik-adiknya, gemar membaca buku dan koran, juga menulis, di samping kepandaian putri lainnya seperti menyulam terawang khas Koto Gadang. Meski tidak bersekolah-- karena anak perempuan Minangkabau di masa itu umumnya tidak dikirim ke sekolah formal-- Roehana cepat sekali menyerap berbagai ilmu. Buku-buku mahal, yang dipesankan sang ayah jauh-jauh dari Singapura dilahapnya dengan cepat. Sejak kecil, kemampuan memimpin Roehana sudah tampak. Ia menjadi guru kecil bagi teman-temannya. Padahal, ketika itu, Roehana baru berusia 8 tahun. Di usia itu, ia sudah mahir menulis dalam bahasa Melayu, Arab, dan Arab Melayu. Kegiatan ini rupanya berlanjut hingga dewasa. Di usia 24 tahun, ketika menikah dengan keponakan ayahnya, Abdoel Koeddoes, yang aktivis dan notaris yang gemar menulis kritik terhadap pemerintah kolonial Belanda di koran-koran lokal, niat untuk memajukan kaum perempuan kian kencang. Beruntung Roehana mendapat dukungan suami yang berpikiran maju dan tidak segan mendukung cita-citanya. Ketika mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia untuk mendidik perempuan agar mahir baca-tulis, menjahit, menyulam, pengetahuan akhlak agama, dan pengetahuan umum lainnya pada 1911, sang suami juga menyokongnya. Ketika ia mengeluhkan soal tidak adanya koran khusus untuk perempuan di Minangkabau, suaminya bahkan menggerakkannya untuk membangun sendiri koran perempuan itu. Bagi Roehana, membaca koran ibarat meminum air laut. Makin banyak diminum, makin haus. Roehana kemudian berkirim surat pada Datuk Sutan Maharadja, pemimpin redaksi surat kabar Oetoesan Melajoe, yang acap dibacanya. Sutan Maharadja adalah penghulu adat yang berkiblat ke barat. Pikirannya maju dan sangat menentang penjajahan. Ia juga sangat memperhatikan emansipasi perempuan. Anaknya Zubaidah Ratna Djuwita acap membantu sang ayah di koran, yang berkantor di Padang ini. Surat Roehana pada Sutan Maharadja itu berisi permohonan agar ia bersedia mendanai berdirinya koran pertama untuk perempuan di Minangkabau. Datuk sangat terkesan membaca surat Roehana. Ia datang ke Koto Gadang untuk menemui Roehana.

Dari pembicaraan dengan Roehana, Datuk bersedia menerbitkan sebuah koran perempuan, yang diberi nama Soenting Melajoe. Sunting artinya perempuan. Niatnya, koran ini diperuntukkan bagi perempuan di merata tanah Melayu. Di suratkabar ini, Roehana jadi pemimpin redaksi. Ia dibantu Ratna Djuwita. Untungnya, Roehana tidak perlu pindah ke Padang, cukup mengirim tulisannya dari Koto Gadang. Soenting Melajoe memang bukan surat kabar perempuan pertama di Tanah Air. Pada 1903, Tirto Adhi Soerjo sudah membikin koran Poetri Hindia. Ia menempatkan istrinya untuk membantu. Tapi peran Roehana jadi penting karena dialah perempuan Indonesia pertama yang memprakarsai berdirinya sebuah koran perempuan dan menjadi pemimpin redaksi. Dalam suratkabar itu, Roehana menyoroti kehidupan perempuan dari kelas ekonomi menengah dan bawah. Dalam tulisannya, Roehana mengimbau agar perempuan tidak mau lagi jadi pemanis dalam rumah tangga. Ia juga tidak segan-segan mengkritik poligami. Dalam satu tulisan, Roehana menyeru agar poligami dihentikan karena merugikan perempuan dan keluarga. Sudah jamak, jika ada perempuan yang terlalu maju untuk jamannya, jika ada perempuan yang berhasil, makin besar tantangannya. Aktivitas Roehana tidak lepas dari gunjingan dan tuduhan. Mulai dari penggelapan uang hingga tuduhan berselingkuh dengan pejabat kolonial Belanda. Maklumlah, ketika itu tenun terawang bikinan sekolah Roehana laku di kalangan petinggi Belanda. Tidak tahan dengan kondisi ini, Roehana pindah dari kampungnya menuju Bukittinggi. Di sana ia mendirikan Roehana School. Hingga usia tua, Roehana tinggal berpindah-pindah mengikuti anak tunggalnya Djasma Juni. Meski sudah sepuh, Roehana tetap mengikuti perkembangan pers. Dua tahun setelah ia meninggal pada 17 Agustus 1972, Roehana mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah Sumatra Barat sebagai wartawati pertama. Pada 1987, ia mendapat gelar penghargaan perintis pers oleh Dewan Pertimbangan Persatuan Wartawan Indonesia. Hingga kini, namanya belum juga diakui sebagai pahlawan nasional. Roehana Koeddoes, dengan segudang jasanya itu, hanya dikenal sedikit orang lewat sepotong jalan kecil teduh di Padang.

Sumber Utama : korantempo.com/html/April 2007

2011 : Arab Spring


Tahun 2011 adalah ARAB Spring
Sejarah tahun ini, adalah sejarah para "Diktator" Timur Tengah
"dihumbankan" dalam TONG Sejarah.


Sumber foto : time.com

Catatan Banjir Bandang

Pesisir Selatan, Kambang
Jelang Hari Raya Idhul Adha
dan ..... banjir bandang itu menjadi catatan sejarah !










Foto : Mhd. Ilham & Aldes W. Mutri/2011

Jumat, 27 Januari 2012

Soempah Pemoeda, Lapangan Tengah dan Julia Perez

Oleh : Muhammad Ilham

84 tahun yang lalu, pemuda Indonesia bersumpah. Bila Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (Dirjen PAUD) selalu mengatakan bahwa anak usia dini adalah "masa keemasan" (golden age), maka usia muda yang dimiliki pemuda adalah usia pengatur "ritme" bangsa. Mereka adalah ibarat pemain bola Lapangan Tengah. Pelatih-pelatih bola tenar yang pernah dicatat sejarah persepakbolaan dunia, selalu menganggap para pemain lapangan tengah teramat penting. Mereka pengatur serangan, penentu turun naiknya tensi permainan. Pensuplay bola ke striker dan seterusnya. Pelatih Spanyol (juara dunia) tahun lalu Vicente del Bosque, bahkan menganggap pemain lapangan tengah adalah nyawa tim. Jangan tanya sang pelatih kharismatik negara Jerman der Kaizer Franz Beckenbauer, ia pasti menganggap striker Jerman kala juara dunia Karl-Heinz Rumenigge tidak berarti apa-apa bila tidak ditopang pemain tengah mereka yang solid dan disiplin. Sebagai play maker yang menguasai wilayah lapangan tengah, Beckenbauer merasakan bagaimana arti pentingnya wilayah sentral ini dalam mengatur irama pertandingan. Hampir semua pelatih besar dunia senada dengan del Bosque dan Beckenbauer. Mulai dari pelatih Argentina eksentrik Cesar Luis Menotti, para pelatih papan atas Italia seperti Dino Zoff, Cesare Maldini, Marcello Lippi dan Fabio "Don" Capello, Carlos Alberto Perreira dari Brazil, pelatih fenomenal Manchester United Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger bersama Arsenal-nya di daratan Inggris hingga pelatih klub Barcelona yang berjuluk Azzulgrana sekaliber Pep Guardiola, akan merasa khawatir luar biasa bila para pemain tengah mereka cedera atau melemah. Bahkan the special one Jose Mourinho, sejak di FC. Porto - Chelsea - Inter Milan hingga Real Madrid pernah dengan lantang mengatakan : "tanpa pemain lapangan tengah yang kuat, tim tidak memiliki arti apa-apa".

Mungkin pemuda tidak bisa disamakan dengan pemain lapangan tengah, atau para elit-pimpinan negara diumpamakan dengan striker. Tapi, arti penting pemuda dalam sebuah tim yang bernama negara, ibarat para pemain lapangan tengah dalam negara yang bernama "tim sepakbola". Dan bila diumpamakan dengan ungkapan Mourinho diatas, maka : "tanpa pemuda yang kuat dan berkualitas, negara ini tidak memiliki arti apa-apa". 28 Oktober, 84 tahun yang lalu, pemuda Indonesia bersumpah .............. !!



Dahulu, Founding Father sekaligus Presiden Republik Indonesia pertama - Ir. Soekarno - pernah mengatakan harapannya sekaligus ingin menegaskan betapa strategisnya posisi pemuda. Dalam pidatonya, sang orator ini mengatakan :
“Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku ubah dunia.

Dan Sutardji Calzoum Bachri juga memekikkan :

"Wahai Pemuda, Mana Telurmu"


Apa gunanya merdeka/Kalau tak bertelur Apa guna bebas/Kalau tak menetas? Wahai bangsaku/Wahai pemuda/Mana telurmu? Kepompong menetaskan kupukupu Kuntum mengantar bunga/Putik memanggil buah Buah menyimpan biji/Biji menyimpan mimpi/
menyimpan pohon
/dan bungabunga Uap terbang menetas awan/
mimpi jadi/sungai pun jadi menetas jadi/hakekat lautan Setelah kupikir pikir manusia itu/ternyata burung berpikir Setelah kurenung renung/manusia ternyata burung merenung/Setelah bertafakur Tahulah aku/Manusia harus bertelur Burung membuahkan telur Telur menjadikan burung Ayah menciptakan anak Anak melahirkan ayah Wahai para pemuda/Menetaslah kalian Lahirkan lagi/Bapak bagi bangsa ini! Ayo Garuda/Mana telurmu? Menetaslah/Seperti dulu Para pemuda/bertelur emas Menetaskan kau/Dalam sumpah mereka



Tadi sore jelang malam menjelang maghrib, saya sempat menonton acara Hitam Putih di TransTV. Acara yang "dikomandani" mentalist Dedy Corbuzier tersebut menghadirkan Julia Perez sebagai bintang tamu. Mungkin karena bertemakan Hari Sumpah Pemuda, artis sensual yang pernah mencalonkan diri (mau) jadi Bupati Pacitan tersebut juga menaruh harapan pada para pemuda. (Katanya) ia ingin mengutip pidato Soekarno. Dengan mengepalkan tangan dan "membusungkan dada", artis pemeran Hantu Jamu Gendong ini kemudian berpidato singkat : "Berikan aku sepuluh pemuda gagah, maka akan aku goncangkan dunia".
Julia Perez pun mendelik dan tersenyum sensual.
"Sepuluh orang pemuda, akan kugoncangkan !", katanya kembali.

(Saya tersenyum kecut, lantas berangkat bersama si bungsu ke masjid, sholat maghrib. Disepanjang jalan, saya berfikir, bagaimana bila disandingkan Soekarno dan Julia Perez mengucapkan kata-kata : “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku ubah dunia"?. Pemuda bagi Soekarno adalah potensi besar untuk mengubah dunia. Ada kerja keras dan tanggung jawab disana. Sementara Jupe yang manis-sensual itu, justru ingin meminta sepuluh pemuda gagah, dan ia ingin mengguncangkan (mereka). Ada aura "sensual-erotika" disana. Apalagi Julia Perez menutup pidatonya dengan kerlingan mata manja, kerlingan mata yang bagi saya prikitiw. Mungkin banyak pemuda Indonesia (sekarang) yang memilih Julia Perez ! Semoga saya salah !


Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)

Peserta :

Abdul Muthalib Sangadji/Purnama Wulan/Abdul Rachman/Raden Soeharto/Abu Hanifah/Raden Soekamso/Adnan Kapau Gani/Ramelan/Amir (Dienaren van Indie)/Saerun (Keng Po)/Anta Permana/Sahardjo/Anwari/Sarbini/Arnold Manonutu/Sarmidi Mangunsarkoro/Assaat/Sartono/Bahder Djohan/S.M. Kartosoewirjo/Dali/Setiawan/Darsa/Sigit (Indonesische Studieclub)/Dien Pantouw/Siti Sundari/Djuanda/Sjahpuddin Latif/Dr.Pijper/Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)/Emma Puradiredja/Soejono Djoenoed Poeponegoro/Halim/R.M. Djoko Marsaid/Hamami/Soekamto/Jo Tumbuhan/Soekmono/Joesoepadi/Soekowati (Volksraad)/Jos Masdani/Soemanang/Kadir/SoemartoKarto Menggolo/Soenario (PAPI & INPO)/Kasman Singodimedjo/Soerjadi/Koentjoro Poerbopranoto/Soewadji Prawirohardjo/Martakusuma/Soewirjo/Masmoen Rasid/Soeworo/Mohammad Ali Hanafiah/Suhara/Mohammad Nazif/Sujono (Volksraad)/Mohammad Roem/Sulaeman/Mohammad Tabrani/Suwarni/Mohammad Tamzil/Tjahija/Muhidin (Pasundan)/Van der Plaas (Pemerintah Belanda)/Mukarno/Wilopo/Muwardi/Wage Rudolf Soepratman/Nona Tumbel

Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya" gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

  1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.
  2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang yaitu : (a). Kwee Thiam Hong, (b). Oey Kay Siang dan c. John Lauw Tjoan Hok serta (d). Tjio Djien kwie
Referensi teks Soempah Pemoeda : Marwati Djoened Poesponegoro (dkk.), 1996
Foto : detik.com

The Turning Point of Abbasid Empire

Oleh : Yulniza & Muhammad Ilham

Dinasti Abbasiyah dikenal dalam sejarah sebagai salah satu Dinasti besar yang mampu melahirkan capaian-capaian peradaban dan ilmu pengetahuan paling unggul untuk masanya dalam sejarah peradaban Islam. Tulisan ini ingin mengetengahkan “sudut lain” dari keberadaan dinasti tersebut, yaitu era kejatuhannya dengan menggunakan analisis teori siklus Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun mengemukakan salah satu teorinya yang terkenal tentang pertumbuhan dan perkembangan suatu Negara atau dinasti. Menurutnya ada lima tahapan pertumbuhan dan perkembangan suatu Negara atau dinasti, yaitu : (1). Tahap Pertama yaitu tahap sukses, penggulingan seluruh oposisi dan penguasaan kedaulatan, dari dinasti-dinasti sebelumnya. Dalam menetapkan dan menentukan keputusan, penguasa tidk sendirian melainkan mengikutsertakan bawahan nya. (2). Tahap Kedua dimulai dengan tindakan sewenang-wenang penguasa terhadap rakyatnya. Menetapkan keputusan sendiri tanpa mengikut sertakan bawahan, bahkan menjauhkan mereka agar tidak ikut ambil bagian dalam urusan pemerintahan. Seluruh kekuasaan berada ditangan keluarganya. Ia mencanangkan seluruh keagungan yang telah ia bangun untuk anggota “rumahnya”. (3). Tahap Ketiga merupakan tahap bersenang-senang, ketika buah kedaulatan telah dinikmati, keinginan akan harta, menciptakan hal-hal yang bersifat monumental serta popularitas. Segala perhatian penguasa terfokus dan tercurah pada urusan pajak, mengatur uang belanja, pemasukan dan pengeluaran, mendirikan bangunan-bangunan besar, konstruksi-konstruksi kokoh, kota-kota luas dan monument-monumen yang menjulang, memberikan hadiah-hadiah kepada orang-orang terhormat dan pemuka-pemuka suku yang disegani. Pada tahap ini, ia mengabulkan permohonan yang diajukan oleh para pengikutnya, baik berupa uang maupun jabatan. (4). Tahap Keempat merupakan tahap kepuasan hati, tentram, damai. Pada tahap ini penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang dibangun oleh para pendahulunya. Semua tradisi dan kebiasaan tersebut diikuti persis seperti apa adanya dan sangat hati-hati. (5). Tahap Kelima merupakan tahap boros dan berlebihan. Pada tahap ini pemegang tampuk kekuasaan menjadi potensi perusak bagi kebaikan dan keberhasilan yang telah dikumpulkan oleh para pendahulunya. Ia menuju pemuasan hawa nafsu, kesenangan menghibur diri dan memper-tontonkan kedermawanannya kepada orang-orang dalam. Ia juga mengambil bawahan yang berwatak jahat untuk dipercayai melakukan tugas-tugas penting. Padahal mereka tidak memiliki kemampuan untuk memikul beban seberat itu dan tidak mengetahui apa-apa yang seharusnya mereka lakukan. Sang penguasa berusaha merusak orang-orang besar yang dicintai oleh rakyat. Mereka pada akhirnya membenci penguasa dan tidak mendukungnya lagi. Penguasa kehilangan banyak tentara dengan segala pemberian untuk kesenangannya. Ia menutup pintu bagi orang-orang yang secara jujur menasehati dan mengawasinya. Ia merusak dasar-dasar yang telah dibangun oleh para pendahulunya dan merobohkan apa yang telah mereka bangun. Pada tahap ini, negara atau dinasti tersebut telah berada dalam kondisi “tua” dan dihinggapi penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan lagi hingga pada akhirnya hancur.

Berangkat dari teori diatas, dapat dianalogikan dengan pertumbuhan dan perkembangan Dinasti Abbasiyah, yaitu tahap pertama dapat dianalogikan dari khalifah Abu al-Abbas sampai kepada khalifah al-Mutawakkil. Tahap kedua sampai dengan tahap yang kelima dapat dianalogikan kepada masa-masa setelah pemerintahan al-Mutawakkil sampai kepada al-Mu’tashim. Dalam hal ini penulis memperoleh kesulitan dalam membagi secara detail-elaboratif tentang kekuasaan khalifah Dinasti Abbasiyah berdasarkan teori diatas. Hal ini disebabkan karena Dinasti Abbasiyah tersebut mencapai puncaknya pada masa al-Mutawakkil, setelah itu dinasti ini mengalami fase kemunduran. Penggantinya tidak ada yang mampu mengerjakan pembangunan yang bersifat monumental. Sedangkan proses kehancuran Dinasti Abbasiyah ini tidak bisa dilepaskan dari masa kemundurannya. Penyebab langsung kehancuran Dinasti ini adalah datangnya serangan pasukan Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H./1258 M. Mongol adalah sebuah bangsa yang berasal dari Siberia yang dating dari arah Utra menuju Mongolia. Mereka menamakan diri mereka sebagai “Putra Serigala Berbulu Hijau”dan sebagai “Rusa Tak Bertanduk”. Kehidupan mereka mirip dengan kehidupan binatang. Imperium Mongol mulai terbentuk dengan berdirinya Dinasti Chi’in di Cina Utara dan Dinasti Sung di Cina Selatan yang didirikan oleh Temujin. Ia berkuasa atas nama Jengis Khan (Penguasa Lautan, Penguasa Dunia atau bisa saja diartikan sebagai Penguasa di Tengah Laut). Jengis Khan memimpin Mongol dan sejumlah suku-suku Turki yang bergabung dengannya dalam rangka menyerbu kerajaan Hsia di Barat dan mengusir Dinasti Chin ke Sungai Kuning. Pada tahun 615 H./1218 M. setelah Gubernur Khawarizm membantai 100 orang lebih suku Mongol di Sungai Atrar, maka semenjak saat itu, pasukan Mongol mulai melancarkan serangan-serangan mereka ke wilayah-wilayah Islam. Setelah Jengis Khan meninggal, usaha-usahanya dilanjutkan oleh para cucunya.

Proses kedatangan tentara Mongol ke Baghdad, menimbulkan ragam pendapat di kalangan sejarawan. Al-Suyuthi dan Ibn Katsir berpendapat bahwa kedatangan tentara Mongol tersebut ke Baghdad ada kaitannya dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh Ibn Al-Qami dari kelompok Syiah Rafidah, dimana ia sangat berambisi untuk merampas khilafah dari tangan Bani Abbas dan kemudian meyerahkannya kepada Dinasti Fathimiyah. Kesempatan emas tersebut diperolehnya sewaktu pasukan Mongol menyerbu wilayah-wilayah Islam. Ia aktif mengadakan kontak dengan pasukan Mongol untuk merebut Baghdad. Jika ia menerima surat dari pasukan Mongol, maka surat tersebut dirahasiakannya. Sebaliknya, seluruh hal yang berhubungan dengan Dinasti Abbasiyah, ia beberkan secara transparan dan detail kepada pasukan Mongol. Hal ini juga terungkap dari ungkapan sejarawan Islam klasik lainya Ibn Katsir yang mengatakan bahwa Ibn Alqami menulis surat kepada Mongol yang intinya mendukung rencana mereka untuk merebut Baghdad dan siap “melicinkan” jalan bagi pasukan Mongol. Ia membeberkan kepada pasukan Mongol tentang kondisi yang dialami oleh Dinasti Abbasiyah termasuk kelemahan-kelemahan pasukan al-Mu’tashim. Itu semua dilakukannya tidak lain karena ia melihat Dinasti Abbasiyah hancur dan khalifahnya tumbang. Sementara sebagian sejarawan berpendapat bahwa kedatangan Mongol ke Baghdad dilatarbelakangi oleh faktor pribadi mereka. Dimana mereka adalah bangsa nomad yang suka berpindah-pindah untuk mencari nafkah sekaligus menguasai daerah-daerah tersebut. Disamping itu, Hulagu Khan ini adalah cucu dari Jengis Khan yang yang bercita-cita untuk menguasai dunia. Hulagu Khan dianggap melanjutkan rintisan usaha dari kakeknya, Jengis Khan. Ia merupakan salah seorang cucu Jengis Khan yang memipin pasukan Mongol dalam penyerbuan terhadap kekuasaan Abbasiyah dan menghancurkan pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah (Baghdad). Sekaligus penyebab utama kehancuran Dinasti atau kekhalifahan bangsa Arab. Dua tahun kemudian, ia dapat menaklukan Damaskus, namun akhir dari ekspansi Hulagu Khan yang sangat ekspansif tersebut bisa cditahan dan diredam oleh Dinasti Mamluk dalam peperangan di ‘Ain Jalut tahun 659 H./1260 M.

Kebencian Ibn Alqami bertambah lagi setelah adanya tragedy di Baghdad pada tahun 655 H./1257 M. antara aliran Syiah Rafidah dan aliran Sunni. Ketika itu, aliran Sunni berhasil mengalahkan aliran Syiah Rafidah dan kemudian mengambil alih semua rumah-rumah pengikut aliran Syiah Rafidah tersebut, termasuk rumah keluarga Ibn Alqami. Ibn Alqami akhirnya dapat merayu pasukan Mongol untuk menyerang Baghdad. Ia menyarankan agar khalifah al-Mu’tashim mengirimkan hadiah yang berharga kepada Hulagu Khan agar ia membatalkan rencananya untuk menguasai Baghdad. Beberapa pembantu khalifah mengusulkan agar khalifah tidak memberikan hadiah dalam bentuk hadiah yang mewah, cukup hadiah yang secara materi biasa-biasa saja. Khalifah al-Mu’tashim sependapat dengan ususlan para pembantunya tersebut. Kemudian, beliau mengirimkan hadiah yang tidak begitu berharga kepada Hulagu Khan.

Pada sisi lain, Ibn al-Aqlami kemudian memberikan informasi kepada Hulagu Khan tentang perdebatan di istana mengenai hadiah dari khalifah untuk Hulagu Khan. Hulagu Khan kemudian mengirim surat kepada khalifah al-Mu’tashim untuk mengirimkan pembantu dekatnya yang mengusulkan pemberian hadiah yang tidak berharga tersebut. Khalifah tidak membalas surat tersebut dan tidak menanggapinya secara serius. Hal ini menambah kegeraman Hulagu Khan terhadap khalifah al-Mu’tashim dan kaum muslimin. Pada awal tahun 656 H./1258 M. Hulagu Khan mengirim-kan pasukan ke Baghdad di bawah pimpinan amir-nya sebagai bentuk kedatangan awal pasukan yang lebih besar. Sampai di Baghdad, mereka mendapati kota Baghdad dijaga dengan ketat. Akan tetapi hal tersebut tidak merubah rencana mereka untuk menyerang kota Baghdad. Mereka mengepung istana khalifah dan menyerangnya dengan “hujan panah” dari seluruh penjuru. Panah tersebut masuk ke dalam istana dan mengenai salah seorang pembantu istana. Melihat hal tersebut, khalifah al-Mu’tashim meminta kepada para pengawalnya untuk melipat gandakan pengawalan. Pada tanggal 12 Muharram 656 H./1258 M. pasukan yang berkekuatan 200.000 personil dipimpin oleh Hulagu Khan tiba di Baghdad. Mereka mengepung Baghdad dari Barat dan Timur. Cucu Jengis Khan ini meminta agar khalifah menemuinya. Al-Mu’tashim dengan kawalan hamper 700 orang keluar dari Baghdad. Menjelang sampai ke tempat Hulagu Khan, para pengawal tersebut tidak diperbolehkan mengawal khalifah sebanyak 700 orang tesebut, justru yang diperbolehkan Cuma 17 orang saja. Dan selanjutnya, pengawal-pengawal yang tinggal tersebut dibunuh. Pertemuan antara Hulagu Khan dengan khalifah al-Mu’tashim tetap berjalan seperti yang telah direncanakan.

Setiap Hulagu Khan menanyakan sesuatu kepada khalifah, khalifah menjawabnya dengan gemetar karena melihat penghinaan dan pelecehan yang dilakukan oleh hulagu Khan pada dirinya. Usai pertemuan tersebut, khalifah kembali ke Baghdad dengan pengawalan yang cukup ketat. Ia diikuti oleh Ibn Alqami dan salah seorang kepercayaan Hulagu Khan bernama Nashiruddin al-Thusi. Tidak lama kemudian khalifah mengirimkan hadiah yang terdiri dari emas dan benda-benda berharga lainnya kepada Hulagu Khan. Namun pemberian hadiah tersebut tidak berarti karena Ibn Alqami dan Nashiruddin al-Thusi selalu mempengaruhi Hulagu Khan untuk tetap dan terus menyerang Dinasti Abbasiyah (dalam hal ini adalah khalifah al-Mu’tashim). Bahkan Ibn Alqami mengusulkan pembunuhan khalifah dan usulan tersebut didukung oleh Nashiruddin al-Thusi. Ketika khalifah al-Mu’tashim untuk kali keduanya menemui Hulagu Khan, maka Nashiruddin al-Thusi mengatakan kepada Hulagu Khan bahwa inilah saat yang tepat untuk membunuh khalifah. Akhirnya, pada hari Rabu tanggal 14 Safar 656 H./17 Januari 1258 M., khalifah al-Mu’tashim terbunuh dalam usia 46 tahun. Setelah khalifah terbunuh, pasukan Mongol memasuki Baghdad dan membunuh siapa saja yang memungkinkan untuk mereka bunuh, laki-laki, perempuan, anak-anak dan seterusnya. Disamping itu, mereka juga membunuh para khatib, imam dan penghafal al-Qur’an. Mereka dibunuh secara kejam. Selain membunuh masyarakat, pasukan Mongol ini juga memporakporandakan kota Baghdad, menghancurkan masjid, sekolah dan juga menghancurkan pilar-pilar peradaban Islam yang tidak ternilai harganya seperti membakar dan memusnahkan buku-buku di berbagai perpustakaan di kota Baghdad. Setelah terbunuhnya al-Mu’tashim, maka secara resmi berakhirlah kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang telah mampu bertahan selama lebih kurang 600 tahun. Walaupun masa jayanya tidak begitu lama, tetapi Dinasti Abbasiyah masih dapat bertahan selama lebih kurang 600 tahun. Sebuah prestasi yang cukup mengesankan.

:: Artikel lengkap (dan referensi) diterbitkan dalam Jurnal Tabuah Edisi 14/2012
:: Gambar - salah satu penggalan puisi masa Dinasti Abbasiyah (sumber : www.irna.com)