Rabu, 07 Desember 2011

Asyura dan Kesyahidan Husein dalam Sastra Melayu (3)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham
(c) Abdul Hadi WM.

Pada tahun 680 M Muawiyah meninggal dunia. Putra Muawiyah, Yazid yang bertangan besi, diangkat sebagai penggantinya. Husein putra Ali menolak mengakui Yazid. Karena itu dia selalu diintai untuk dihabisi nyawanya. Oleh karena merasa tidak aman berada di Mekkah, Husein hijrah ke Madinah. Tetapi kemudian dia memilih pindah ke Kufa, tempat di mana dia merasa lebih aman dan dapat berkumpul dengan sanak saudara serta para pengikutnya. Keinginannya bertambah kuat setelah terdengar kabar bahwa saudara-saudara sepupunya dan para pengikutnya akan membaiat beliau sebagai khalifah. Ketika Husein mulai melakukan perjalanan dari Madinah ke Kufa, Yazid mengganti gubernur Kufa dengan tokoh yang lebih setia kepadanya Ubaidillah bin al-Ziyad. Ketika Husein sedang dalam perjalanan menuju Kufa, Ubaidillah berhasil mengintimidasi penduduk Kufa untuk menyerang Husein. Setibanya di Kerbela Husein diserang oleh pasukan Yazid dan orang-orang yang telah dihasut untuk menyingkirkannya. Sebelum gugur, bersama dengan para pengikutnya, Husein dibiarkan lemas karena haus. Pasokan air dari sungai Eufrat sengaja dipotong oleh Ubaidillah sehingga Husein dan pasukannya lemas disebabkanHussei kehausan. Kematian Husein segera didengar oleh adiknya, Muhammad Ali Hanafiyah. Dia adalah putra Ali yang ketiga dari hasil perkawinan beliau dengan seorang perempuan Hanif bernama bernama Muhmmad bin Ali. Oleh karena ibunya seorang hanif ketika dinikahi Ali, maka gelarnya kemudian ditambah dengan Hanafiyah. Dalam hikayat diceritakan ketika itu dia adalah seorang amir di Buniara.

Pada malam hari setelah wafatnya Husein, Muhammad Hanafiyah bermimpi bertemu Nabi Muhammad s.a.w yang menyuruhnya menuntut bela atas kematian saudaranya Hasan dan Husein. Keesokan harinya Muhammad mengumpulkan semua pengikutnya untuk melancarkan perang melawan Yazid bin Muawiyah. Dalam sebuah pertempuran yang menentukan Yazid tewas dalam keadaan mengerikan. Dia jatuh ke dalam sebuah sumur tua yang penuh kobaran api. Setelah itu Muhammad Hanafiyah menobatkan putra Zainal Abidin, putra Husein sebagai pengganti ayahnya selaku pemimpin kaum Aliyun. Pada saat itulah dia mendengar kabar bahwa tentara musuh sedang berhimpun dalam sebuah gua. Muhammad segera bergegas pergi ke tempat itu untuk menghancurkan sisa pasukan Yazid. Ketika memasuki gua terdengar suara gaib yang memerintahkan agar dia jangan masuk. Serua itu tidak dihiraukan. Malahan Muhammad Ali Hanafiyah terus saja membunuh musuh-musuhnya yang bersembunyi dalam gua. Tiba-tiba pintu gua tertutup dan dia tidak bisa keluar lagi dari dalamnya.”

Episode yang mengisahkan situasi ketika Husein tiba di Kerbela sangat menarik. Inilah petikannya: “... Maka Amir Husein berjalan daripada suatu pangkalan kepada suatu pangkalan, maka sampailah Amir Husein kepada suatu tempat. Maka unta dan kuda Amir Husein merebahkan dirinya, tiada mau lagi berjalan, Maka Amir Husein menyuruh mendirikan kemah barung-barung. Adapun segala kayu pun yang ditetak akan barung-barung itu sekaliannya berdarah. Maka bertanya Amir Husein, “Hai taulanku! Apa nama padang ini?” Maka kata segala hulubalang, “Hai junjungan kami! Inilah padang Kerbela namanya!”. Maka kata Amir Husaain, “Wah inilah tempat kita mati, karena sabda Rasulullah, “Kematian cucuku Husein pada tanah padang Kerbela!” Maka kata Amir Husein, “Qalu inna lilLahi wa inna ilayHi raji`una!” Apabila didengar Umar Sa`d Maisum warta Amir Husein sudahlah ada di padang Kerbela berbarung-barung, maka Umar Sa`d Maisum menghampiri sungai Furat, ditebatnya sungai itu, supaya Husein jangan beroleh air. Setelah sudah ditebatnya sungai ini, maka dikirimkannya surat kepada Yazid, dalam surat itu demikian bunyinya, “Segeralah Yazid memberi bantu akan hamba, karena Amir Husein sudah adalah di tengah padang Kerbela berbarung-barung!” Maka datangnya surat itu kepada Yazid, dengan seketika itu jua disuruhkan Yazid lima puluh ribu hulubalang serta Ubaidillah bin Ziyad dan orang berjalan tujuh puluh ribu, Maka Yazid berkata, “Pergilah kamu ke tebing Sungai Furat, khawani oleh kamu supaya Husein jangan beroleh air minum, maka kepala Husein pun segera kamu bawa kepadaku! Maka tatkala Amir Husein berhenti pada padang tanah Kerbela, sehari bulan Muharam, maka Ubaidillah bin Ziyad pun menghampiri tebing sungai Furat, dikhawaninya.

Maka segala hulubalang Amir Husein dahagalah tersiur-siur mencari air sekalah, tiada beroleh air. Demikianlah datanglah kepada delapan hari bulan Muharam, dalam kedahagaan jua kaum Amir Husein. Pada kesembilan harinya hari bulan Muharam, segala anak Amir Husein pun datang kepada Amir Husein, katanya, “Hai bapaku! Maha sangat dahagaku, air liur kami pun keringlah daripada kerungkungan kami, bermula rasa dada kami pun jerihlah. Berilah akan kami air seteguk!” Maka pada bilik Amir Husein ada suatu kendi kulit belulang berisi air, maka kendi itu pun pesuklah dikorek tikus, air pun habislah terbuang...” (Brakel 1975). Hikayat ini sebenarnya didasarkan atas peperangan yang dilakukan al-Mukhtar, pemimpin sekte Kaisaniyah, melawan Yazid dengan tujuan menuntut bela atas kematian Amir Husein. Dengan dibantu oleh panglima perangnya Ibrahim al-Asytur dia mengangkat Muhammad Ali Hanafiyah sebagai imam pengganti Husein. Pada mulanya kisah ini bersifat legenda, namun kemudian dikembangkan menjadi sebuah roman sejarah (Ali Ahmad 1996).

Melalui paparan yang telah dikemukakan, dapatlah diketahui motif dan latar belakang penulisan hikayat ini. Motif ini bersifat ideologis dan kultural. Namun untuk memahaminya kita harus melihat aspek-aspek menonjol yang membedakan antara versi Melayu dan versi Persia yang merupakan sumbernya. Setidaknya ada enam butir perkara yang penting dicatat bertalian dengan hal tersebut. Pertama, bentuk asli hikayat tentang kesyahidan Husein termasuk ke dalam genre maqtal, yaitu jenis sastra yang khusus memaparkan kesyahidan Imam Ali, Hasan dan Husein. Di dalamnya terpadu unsur elegi dan tragedi. Hikayat seperti ini di Persia biasa dibacakan dengan didramatisasikan pada perayaan 10 Muharam. Versi Melayu mengurangi unsur tragedinya dan merubahnya menjadi roman sejarah dengan unsur epik yang kuat. Versi Jawa, Sunda, dan Madura digubah dalam bentuk tembang macapat (puisi), yang dibacakan dengan lagu khas di majelis-majelis pada malam di hari Asura. Sekalipun unsur tragedi dikurangi, namun unsur elegi masih kuat. Bahkan dalam versi Melayu banyak episode menyangkut gugurnya Husein dan kesedihan yang menyelimuti hati karib kerabatnya digarap lebih rinci. Kesedihan karib kerabat dan keluarga setelah mendengar gugurnya Husein dilukiskan seperti berikut: “Adapun Amir Husein syahid pada sepuluh hari bulan Muharam, harinya pun hari Jumat, maka Amir Husein pada ketika itu jua jadi akan penghuni syurga seperti kaul ‘Inna’s-saffa mahallu ‘dunubi!’ ... Maka kemudian segala isi rumah Rasulullah berkabung serta menampar-nampar dadanya dan merenggut-renggut rambutnya dengan tangisnya dan heriknya, demikian bunyi tangisnya, ‘Wah kasihan kami!Wah kesakitan kami! Wah sesal kami! Wah Muhammad kami! Wah Ali kami! Wah Fatimah kami! Wah Hasan kami! Wah Husein kami! Wah Kasim kami. Wah Ali Akbar kami!’ Maka isi rumah Rasulullah tiadalah sadar diri. Pada ketika Amir Husein syahid seakan Arasy Allah da Kursi gemetaran, bulan dan matahari pun redup, tujuh hari tujuh malam lamanya segala alam pun seolah kelam kabut, karena Amir Husein terbunuh, peninggalan Nabi Allah dan lihat-lihatan daripada Rasulullah, seorang cucunya, Amir Hasan dibunuhnya dengan racun, seorang lagi cucunya dibunuh segala munafik dengan senjata, kepalanya diperceraikan orang. Demikianlah halnya disembelih orang zalim, supaya kita ketahui, hidup dalam dunia tiadalah kekal...”

Kedua, versi Jawa yang di antaranya diberi judul Ali Ngapiyah mateni Yajid (Ali Hanafiyah membunuh Yazid) memiliki keunikan. Penuturannya secara estetik disesuaikan dengan pola penuturan epik dan roman sejarah yang telah ada dalam kesusastraan Jawa. Cerita diulang-ulang, misalnya kisah pertemuan dan perpisahan pelaku, mengikuti pola pengisahan siklus Cerita Panji. Di dalam hikayat ini juga dimasukkan tokoh punakawan, pelayan tokoh utama, seperti dalam Cerita Panji, Mahabharata Jawa, dan Serat Menak (Hikayat Amir Hamzah versi Jawa). Pelaku dipisahkan secara tegas ke dalam dua kelompok yang tidak mudah didamaikan, seperti pemisahan antara Pandawa dan Kurawa dalam Mahabharata (Braginsky 2004). Yazid yang celaka berserta pasukannya disamakan dengan Kurawa, sedangkan Muhammad Ali Hanafiyah dengan Pandawa. Seperti dalam Mahabharata di mana medan perang Kurusetra secara simbolik digambarkan sebagai dunia atau jiwa manusia, tempat pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan. Dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, peranan padang Kuru diganti dengan padang Kerbela.

Ketiga, seperti Mahabharata hikayat ini mengandung unsur eskatologis yang kuat. Tragedi Kerbela dan tewasnya Yazid di tangan pasukan Muhammad Ali Hanafiyah, secara simbolik digambarkan sebagai peperangan akhir zaman antara pasukan Imam Mahdi dan Dajjal. Situasi menjelang tragedi Kerbela juga dilukiskan seperti situasi akhir zaman di mana kaum Muslimin dikeroyok oleh fitnah dan intrik-intrik jahat yang memicu terjadinya banyak konflik dan tindakan kekerasan. Tewasnya Yazid dan tertelannya Muhammad Ali Hanafiyah dalam gua menandakan datangnya era baru dan zaman penuh pencerahan. Dapat dicatat di sini bahwa dalam pertujunjukan wayang topeng pernah populer lakon Sayidina Husen lan Ratu Jajid. Hikayat ini juga mengilhami kisah apokaliptik Serat Akhiring Jaman. Dikisahkan dalam serat ini munculnya raja Jin dari persembunyiannya untuk menumpas segala raja kafir dan membawa orang kafir berbondong-bondong memeluk agama yang benar (Pigeaud 1969). Dilihat dalam konteks sejarah penulisan hikayat ini di Persia, hal ini juga beralasan. Pada pertengahan abad ke-14 M penganut Syiah menyongsong era baru setelah lebih satu abad mengalami masa gelap sebagai akibat penguasaan tentara Mongol. Pada akhir abad ke-13 M bangsa Mongol beramai-ramai memeluk agama Islam bersama pemimpin mereka. Mereka berubah menjadi pelindung kebudayaan Islam. Kebebasan menganut madzab apa pun diperbolehkan, suatu kebijakan yang berbeda dengan kebijakan penguasa sebelumnya.

Keempat, teks Melayu memperlihatkan redupnya ideologi Kaisaniyah. Jika sebelumnya mereka berpendapat mata rantai imamah berakhir dengan wafatnya Muhammad Ali Hanafiyah, kini pandangan seperti itu tidak bisa dipertahankan lagi di lingkungan masyarakat Melayu yang menganut paham Sunni. Muhammad Ali Hanafiyah terpaksa membaiat putra Husein, Zainal Abidin untuk menjadi khalifah. Kelima, versi Melayu merupakan kompilasi sejumlah hikayat yang berbeda jenisnya seperti Hikayat Kejadian Nur Muhammad, Hikayat Hasan dan Husein, dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah sendiri. Legenda dilebur dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi sejak masa awal kenabian Rasulullah sampai peperangan yang dicetuskan Muhammad Ali Hanafiyah menentang Yazid bin Muawiyah. Keenam, teks Melayu tidak sepenuhnya pula mengikuti teks Persia dalam memaparkan kejadian-kejadian penting berkenaan dengan keluarga Nabi. Banyak dijumpai tambahan dalam teks Melayu. Juga ditemui penyimpangan atau perubahan konteks serta makna berkenaan dengan peristiwa-peristiwa yang dituturkan.

Dari enam hal ini, dua hal terakhir yang perlu diberi catatan dan penjelasan, sebab hanya dengan cara demikian kita dapat memahami kreativitas penulis Melayu menjadikan teks Persia menjadi wacana yang sesuai dengan konteks perkembangan Islam di kepulauan Nusantara. Kekhasan teks Melayu hanya bisa diketahui melalui cara membandingkannya dengan teks Persia. Salinan teks Persia yang dijadikan sumber teks Melayu ditemukan naskah salinannya di British Museum (Ms Add 8149). Menurut Rieu (Brakel 1975) naskah itu ditulis dalam huruf Nastaliq di Murshidabad, Bengal, India pada tahun 1721 M. Jadi masih pada zaman pemerintahan Dinasti Mughal, yang hingga awal abad ke-19 M menjadikan bahasa Persia sebagai bahasa utama kaum terpelajar di Indo-Pakistan. Naskah Bengal terdiri dari bagian. Bagian pertama memaparkan riwayat hidup Amirul Mukminin Hasan dan Husein sejak masa kelahiran hingga wafat mereka. Bagian kedua memapakarkan hikayat Muhammad Ali Hanafiyah sejak kematian Husein saudaranya sampai pembebasan putra Husein yaitu Zainal Abidin dan ditemukannya mayat Yazid dalam sebuah perigi.

Versi Melayu terdiri dari tiga bagian: Bagian pertama berupa pengantar, memaparkan riwayat Nabi Muhammad s.a.w. sampai masa awal kerasulan beliau. Sebagian dari bagian ini didasarkan atas Hikayat Kejadian Nur Muhammad yang populer di Nusantara. Bagian kedua terdiri dari tiga episode, yaitu kisah Hasan dan Husein ketika masih kanak-kanak, riwayat hidup tiga khalifah al-rasyidin yaitu Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan beserta karib kerabatnya, kemudian paparan riwayat hidup Ali bin Abi Thalib, dan terakhir kematian Hasan dan gugurnya Husein di padang Kerbela. Bagian ketiga, peperangan yang dicetuskan Muhammad Ali Hanafiyah sampai tewasnya Yazid dan raibnya Muhammad Ali Hanafiyah yang terperangkap dalam sebuah gua. Versi Melayu juga menambahkan beberapa episode penting seperti Masa awal kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., wafatnya Siti Khadijah, pembuangan Marwan, wafatnya Rasulullah, wafatnya Fatimah dan upacara pemakamannya yang bersahaja dan dilakukan secara diam-diam oleh Ali bin Abi Thalib. Versi Persia menceritakan legenda yang berkaitan dengan masa kecil Hasan dan Husein secara panjang lebar, serta ramalan mengenai kematian mereka. Yang sulung akan mati diracun, dan adiknya wafat berlumuran darah di Kerbela. Versi Melayu memaparkan secara ringkas legenda-legenda ini. Tetapi ke dalamnya ditambahkan kisah-kisah yang berkaitan dengan kehidupan ahli bait dan apa yang mereka alami selama mendapatkan intimidasi dari Muawiyah.

Jika kedua versi dibaca dengan seksama, menurut Brakel, tampak bahwa banyak bagian-bagian dalam versi Melayu merupakan terjemahan langsung dari sumber Persia, namun membawa makna yang berlainan. Misalnya pada bagian ketiga, terdapat kalimat dalam teks Melayu: “Maka segala hafiz pun mengaji al-Qur’an dan segala lasykar pun dzikr Allah”. Teks Persianya: “wa hamaye yaran o baradaran dar zekr o fekr dar-amadand”. (Semua saudara dan teman memasuki pekuburan seraya mengingat yang wafat dan memikirkannya). Teks Melayu bernuansa kesufian, tampak dalam memberi makna terhadap kata-kata zikir. Pada bagian kedua teks Persia yang menyajikan perkataan Syahrbanum kepada Yazid tertulis kalimat: “Xak bar dar dahane to” (Telanlah bumi oleh mulutmu!). Dalam teks Melayu berubah makna, “Tanah itu masukkan ke dalam mulutmu!”. Ketika Utbah melapor kepada Yazid, kata-katanya dalam teks Persia ditulis: “Man ham az bine mardanegiye isan gerixte amadim” (Kau telah bebas dari rasa takut disebabkan keberanian mereka). Teks Melayu: “Adapun kami dengan gagah berani, maka kami dapat melepas diri kami”. Sekalipun demikian tak pelak unsur Persia masih dipertahankan dalam teks Melayu. Kata-kata Persia seperti gabayi namadin diterjemahkan menjadi kopiahnya namad merah; kata-kata si gaz gadd dast diterjemahkan menjadi tiga puluh gaz tingginya; kata-kata geysare dirubah menjadi kaisar; Umm-i Kulzum (Arab: Umm al-Kulzum) dimelayukan jadi Ummi Kulzum, dan masih banyak lagi. Bahkan kata-kata Persia seperti Zangi (Negro) tetap tidak dirubah. Perbedaan lain ialah bahwa beberapa lukisan kejadian yang terdapat dalam teks Melayu tidak ada dalam teks Persia (Brakel 1975).

Episode Husein dan pengikutnya yang kehausan setibanya di Kerbela tidak dijumpai dalam teks Persia. Episode ini diambil oleh penulis Melayu dari epos Islam lain yang juga masyhur yaitu Hikayat Iskandar Zulkarnaen. Dalam teks Melayu, kaum Aliyun disebut sebagai Ahlul Sunnah juga, sedangkan lawan mereka yaitu kaum Khawarij dan Umayyah dipandang sebagai kaum munafik. Karakter Muhammad Ali Hanafiyah sebagai tokoh epos digambarkan mirip dengan tokoh historis abad ke-8 M bernama Abu Muslim, yang mengangkat senjata melawan pasukan Abbasiyah di Khurasan. Ketika itu pasukan Bani Abbasiyah yang pada mulanya didukung kaum Aliyun mulai memperoleh kemenangan atas pasukan Bani Umayyah. Ketika itulah Abu Muslim mulai ditinggalkan, sehingga balik menentang Abbasiyah. Adapun deskripsi peperangan dalam hikayat tersebut tidak sedikit yang diilhami oleh deskripsi dalam epos Shahnamah karangan Firdawsi.

Sumber : (c) Abdul Hadi WM (FB)
Foto : isna.com

Senin, 05 Desember 2011

Subjektif dan Profesor Botak

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam penulisan sejarah, ada kesan subjektif yang pada umumnya menimbulkan penulisan yang bias atau berat sebelah. Memang, kecenderungan untuk itu lumrah terjadi karena seorang sejarawan yang dalam bahasa sosiologi-nya : “seorang manusia individu, ia adalah gejala sosial itu sendiri, hasil proses dari masyarakatnya” dan dalam kedudukan seperti itulah, ia berusaha untuk mendekati sejarah/merekonstruksi sejarah itu sendiri yang pada prinsipnya hanya terjadi satu kali atau einmalig tersebut. Tentu, subjektifitas sangat sulit untuk dihindarinya. Bahkan, subjektifitas sejarawan itu sendiri juga sebuah entitas objektif dalam penulisan sejarah. Ketika ia mulai memilih judul dan pendekatan yang (akan) digunakannya, maka, subjektifitas tersebut telah “masuk” dan bermain. Oleh karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan subjektifitas, tidak bisa dihindari. Namun yang tidak boleh dilakukan adalah subjektifitas dalam pengertian mengebiri data, memalsukan dokumen dan menyesuaikan dokumen-dokumen yang ada agar sesuai dengan “tuntutan” yang ada. Inilah yang dinamakan dengan subjektifitas ekstrem. Buku Babon Sejarah Nasional Indonesia yang “dimotori”oleh Nugroho Notosusanto, sebagai contoh, adalah salah satu bentuk “pemerkosaan dokumen” agar sejarah yang ditulis tersebut mengkisahkan peran besar Orde Baru, marginalisasi peran sipil, hegemoni dan keunggulan militer (dalam hal ini : Angkatan Darat) dan kesalahan yang “melulu” harus ditimpakan pada Soekarno dan PKI dibalik terjadinya Gerakan 30 September 1965.

Peran historis Nugroho Notosusanto ini dibuka secara gamblang oleh Katherine Mac. Gregory yang membongkar habis “kepalsuan” Nugroho Notosusanto serta bagaimana Nugroho ini “memilah-milah” dokumen yang seharusnya masuk dalam bagian analisis, justru disisihkan karena berpotensi merendahkan peran histories Suharto, Orde Baru dan militer. Karena itu pulalah Chaterine memberi judul bukunya dengan “Ketika Sejarah Berseragam”. Cukup banyak buku-buku sejarah yang ditulis dengan memalsukan berbagai dokumen agar penulisan sejarah tersebut bisa sesuai dengan kehendak yang memesan (biasanya pemerintah). Di Negara-negara otoriter seperti Korea Utara, Irak pada masa Saddam Hussein, Protocol Zion dalam menjustifikasi “duka-lara” sejarah bangsa Yahudi – merupakan beberapa contoh subjektifitas ekstrim dalam penulisan sejarah. Interpretasi dari penulis merupakan bentuk subjektifitas yang tidak bisa dihindari. Subjektifitas jenis ini bisa diminimalisir dengan latihan dan kepatuhan akan metode yang ada. Akan tetapi, subjektifitas dengan “memalsukan” dokumen-dokumen yang ada agar menguntung kan pihak tertentu, itulah subjektifitas yang tidak dibolehkan. Dan ini tidak membutuhkan latihan ataupun kepatuhan ketat terhadap metode penelitian, karena seorang Prof. Doktor “botak” sekalipun, bisa “terjebak” dan mau “dijebak” dalam subjektifitas ekstrem ini.

Foto : e-book.com

Surat Buat Bambang Widjojanto dan Abraham Shamad

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Artikel ini sangat reflektif dan mewakili ragam kegundahan banyak orang terhadap "hasil" pemilihan Ketua KPK beberapa hari lalu. Sebuah pemilihan yang jauh dari ekspektasi publik. Tapi itulah politik. Benar filosof Yunani Plato cakap bahwa manusia itu homo politician. Dalam setiap detak-detik kehidupan manusia, tak lepas dari nuansa politik. Mungkin bobot, kualitas dan impak-nya yang berbeda. Bila terpilihnya ketua KPK beberapa hari lalu dianggap sebagai sebuah "hasil murni" dan bebas dari kepentingan politik, maka Harold Laswell akan senyum-kecut : ...... hey bung, who get what how and when, kata Laswell. Berikut, sebuah "surat imajiner" dari Ira Oemar kepada Bambang Widjojanto dan Abraham Shamad.

Untuk Bambang Widjojanto : Melalui surat ini saya ingin minta maaf pada Mas Bambang. Minta maaf karena selama ini saya – dan mungkin juga banyak masyarakat Indonesia lainnya – terlalu naïf dengan menggadang-gadang mas Bambang untuk jadi Ketua KPK. Mungkin besarnya harapan kami itulah yang membuat mas Bambang tak putus harapan 3x ikut seleksi Capim KPK. Ya, naïf sekali menginginkan mas Bambang terpilih jadi Ketua KPK! Seperti mimpi di siang bolong manakala pemilihan seorang Panglima Perang melawan korupsi dilakukan oleh pasukan pelaku korupsi yang berlindung di benteng korupsi. Partai politik sekarang tak ubahnya benteng kokoh tempat berlindung para koruptor. Kader-kader parpol di DPR saling berlomba menggasak anggaran Negara untuk mengisi kantong pribadi, kelompok dan setoran upeti pengisi pundi-pundi partai. Jadi, tidak logis kalo kami masih berharap orang seperti mas Bambang yang akan dipilih DPR. Seharusnya kami sudah bisa menebak, ketika 1,5 bulan lalu dalam acara talk show ber-rating tinggi di sebuah TV swasta, tiba-tiba muncul tamu “siluman” yang menfitnah mas Bambang, dan tamu tak diundang itu dibawa masuk oleh petinggi partai yang sedang berkuasa. Harusnya kami paham itu skenario besar yang tengah dimainkan oleh the ruling party untuk menjegal mas Bambang, jauh sebelum fit n proper test dilakukan. Seharusnya kami sudah paham kenapa orang-orang DPR yang terhormat itu marah besar kepada Panitia Seleksi yang menempatkan mas Bambang di ranking pertama dan calon jagoan mereka di ranking terakhir. Ya, seharusnya kami sudah berhenti berharap DPR akan memilih Ketua dan Wakil Ketua KPK seperti kehendak masyarakat.

Dan karena kenaifan kami berharap itulah, kami kaget dan kecewa mendengar kabar anda tidak terpilih – tepatnya sengaja tidak dipilih – jadi Ketua KPK karena suara yang anda dapat cuma 4 gelintir saja. Kami sempat heran karena beberapa jam sebelumnya kami dengar seorang tokoh parpol besar sesumbar bahwa 6 Fraksi sudah sepakat memilih mas Bambang jadi Ketua KPK. Kami sudah sempat ge-er saat membaca komposisi usulan fraksi-fraksi, yang nyaris semuanya menempatkan mas Bambang di urutan pertama, kecuali partai berkuasa. Ternyata itu semua kebodohan kami. Semudah itu kami dilenakan bujukan DPR. Betapa polos, lugu dan bodohnya kami, percaya begitu saja retorika mereka. Kini, saya mencoba memahami alur berpikir DPR. Meski biasanya tak pernah bisa saya pahami logika berpikir mereka, khusus kali ini saya paham. Kalo selama ini saya beranggapan DPR selalu salah dalam mengambil keputusan, khusus dalam pemilihan Ketua KPK, keputusan DPR sangatlah benar! Bayangkan, ada diantara mereka yang istrinya jadi buronan KPK, ada yang saudara sepupunya jadi terdakwa kasus suap paling menggemparkan di Republik ini, ada yang rekannya disinyalir terlibat jadi mafia anggaran, bahkan bisa jadi banyak diantara mereka sebenarnya terlibat kasus korupsi dengan beragam modusnya, hanya saja belum terungkap. Dengan kondisi seperti itu, tentu benar jika mereka tidak memilih orang yang paling membahayakan posisi istri, saudara, rekan separtai dan bahkan diri mereka sendiri. Adalah logis jika mereka enggan mengikuti peringkat yang sudah dibuat Pansel, termasuk berdasar masukan dari masyarakat. Sangat masuk akal jika DPR justru ingin membalikkan peringkat itu. Lihatlah mas Bambang, rekan anda di peringkat 2-4 semuanya terpental. Anda wajib bersyukur dengan kenyataan bahwa dari 4 teratas hanya anda yang masih bertahan! Itu bukti bahwa DPR tak punya alasan untuk menyingkirkan anda dari sisi kredibilitas, kompetensi dan integritas pribadi.

Satu-satunya “dosa” anda menurut orang-orang Komisi III adalah : anda terlalu dekat dengan kalangan LSM, anda dianggap tidak independen! Sebuah alasan yang dicari-cari hanya untuk menutupi ketakutan mereka akan rekam jejak kegarangan anda terhadap pelaku korupsi. Nyali mereka ciut, melihat kuatnya jaringan yang anda punya, yang bisa memasok informasi tentang beragam kasus korupsi dari segala sisi dan siap membantu anda memeranginya. Itu sebabnya anda tidak dipilih jadi Ketua, mas Bambang. Tidak apa, petarung sejati tetap akan berjuang dalam posisi apapun. Kami masih menyimpan secuil harapan mas Bambang akan dipilih jadi Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan. Sebagai advokat yang sudah punya jam terbang tinggi, mas Bambang tentunya bisa menjerat pelaku korupsi, menindaknya dan menggiring mereka ke penjara dengan tuduhan yang pas. Kami sudah bosan mendengar banyaknya koruptor melenggang bebas atau dihukum seringan-ringannya hanya karena pasal yang didakwakan luput – atau sengaja diluputkan – dari substansi perbuatannya. Nazaruddin saja cuma diancam hukuman 2 tahun. Padahal pencuri bebek dihajar massa sampai mati babak belur. Pencuri semangka karena kehausan pun dikirim ke penjara berbulan-bulan. Mas Bambang, kami percaya dengan kompetensi yang anda miliki, anda tetap akan bisa berperang melawan korupsi. Tapi tetap berhati-hatilah, jaringan korupsi di negeri ini sudah lebih sadis daripada komplotan mafioso Italia. Kasus Antasari yang menggelikan sekaligus bikin geram, cukup jadi pelajaran buat kita. Kasus Munir yang diracun secara misterius di atas pesawat, jauh dari sanak keluarga, kerabat dan rekan-rekannya, jadi bukti bahwa orang baik di negeri ini akan dilenyapkan dengan segala cara. Kami berdoa untukmu, mas Bambang tetap teguh memegang prinsip, istiqomah berjuang melawan korupsi, tidak takut pada apapun dan siapapun kecuali pada Tuhan Penciptamu. Berjuanglah mas Bambang, rakyat Indonesia menunggu kiprahmu.

Untuk Abraham Shamad : Selamat! Anda berhasil membuktikan keyakinan anda bakal bisa masuk 4 besar. Diantara mereka yang ada di peringkat 5-8, hanya anda yang tersinggung dengan penilaian Pansel yang menempatkan anda di ranking ke-5. Padahal, Tama Satrya Langkun dari ICW justru mengatakan bahwa dari segi kompetensi sebenarnya anda justru di peringkat 8. Hanya saja mungkin integritas dan posisi anda sebagai penggiat anti korupsi di daerah mengalahkan calon-calon lain dari Kepolisian dan Kejaksaan. Itu sebabnya hasil akhir perankingan menempatkan anda di urutan ke-5. Ini sekedar supaya anda tahu, bahwa dari segi kompetensi, anda masih harus belajar dari Pimpinan KPK lainnya. Itu sebabnya Trimedya Panjaitan dari PDIP bilang : anda masih muda dan dari daerah, jadi belum “terkontaminasi”. Hati-hati memahami kalimat seorang anggota DPR Komisi III, mereka semua jago beretorika dan pandai membuat kalimat bernada politis dengan makna bersayap. Sadarkah anda bahwa kalimat itu bisa diartikan : jam terbang anda belum banyak dibanding calon lain – karena anda termuda – dan jaringan anda di Ibukota belum seluas calon lain – karena selama ini jaringan yang anda bangun di daerah asal anda. Tolong jangan lupa, kasus korupsi di pusat lebih rumit ketimbang korupsi di daerah. Modus korupsi di sekitar pusat kekuasaan lebih sophisticated ketimbang korupsi yang dilakukan seorang Walikota kepala daerah. Mafia anggaran di DPR RI jauh lebih solid ketimbang mafia anggaran di DPRD.

Anda berhasil memukau anggota Komisi III DPR saat fit n proper test, karena sesumbar anda untuk pulang kampung jika dalam tempo setahun gagal menuntaskan kasus-kasus besar. “Ini dia yang gue cari!”, mungkin itu teriakan anggota DPR, seperti teriakan “Eureka!” saat Archimides menemukan hukum kesetimbangan. Dan karena kalimat itu, DPR punya peluang untuk mengobok-obok KPK setahun ke depan. Anda telah sukarela menyodorkan leher anda kepada sekelompok politisi yang memang kerjanya hanya mencari kesalahan lawan politiknya. Ingat, dari dulu KPK musuh bebuyutan DPR. Jangan sampai karena kalimat anda, DPR jadi punya peluru tajam untuk membidik KPK. Untuk soal independensi, saya ragu apakah DPR benar-benar tahu atau tidak, soal temuan kelompok penggiat anti korupsi yang disampaikan pagi tadi di sebuah TV swasta terkenal. Mereka mendapati fakta bahwa ternyata anda – Doktor Abraham Samad – pada tahun 1999 menjadi deklarator PAN dan tahun 2004 pernah menjadi calon anggota legislatif dari PKS. Jadi, siapa bilang anda tidak dekat dengan partai politik?! Semoga saja jejak masa lalu itu tak membekas sampai sekarang. Apalagi mantan rekan se-partai anda, Pak Adang Dorojatun, istrinya sedang jadi buronan nomor satu bagi KPK!

Doktor Abraham Samad, kalo boleh saya sekedar titip pesan, tolong berhentilah sesumbar. Anda sudah terpilih, keinginan anda sudah tercapai, tapi bukankah anda belum lagi masuk ke gudang kasus yang menumpuk di KPK? Bukankah anda belum benar-benar memahami kepelikan kasus besar yang hingga kini jadi PR KPK? Saya lihat di TV, dalam wawancara telepon anda sesumbar akan menyelesaikan semua kasus besar dalam waktu setahun, seperti bailout Bank Century yang melibatkan penguasa negeri ini, kasus cek pelawat yang otak pemberinya sampai kini masih buron dan suaminya masih bercokol di Komisi III DPR, kasus suap Wisma Atlet yang melibatkan the ruling party, kasus mafia pajak yang meilbatkan jaringan perusahaan milik pemimpin parpol besar yang sedang ancang-ancang untuk ikut Pilpres 2014, dan kasus mafia anggaran di Banggar DPR yang melibatkan nyaris semua parpol besar dan sedang. Anda bahkan menantang Arswendo Atmowiloto yang memberi anda alternatif untuk memilih menyelesaikan 2 kasus besar saja dulu. Tapi anda bahkan sesumbar : “Jangankan 2 kasus, lebih dari itu semua akan saya tangani!”. Pak Doktor, anda pasti orang pintar dan prestasi anda tak diragukan lagi. Tapi, pernahkah anda dengar pepatah “mulutmu harimaumu”? Hati-hatilah mengumbar janji, jangan sampai anda termakan kata-kata anda sendiri. Tak bisakah anda sedikit berendah hati? Anda yang mengkritik Ketua KPK sekarang, Ketua KPK tak perlu populer, tak perlu mengumbar pernyataan di media, kata anda. Hanya dalam hitungan jam setelah terpilih, anda jadi over exposed ke media. Bukankah anda bisa menolaknya jika anda konsisten dengan kritik anda pada orang lain? Mungkin anda terlalu over estimate dan over confidence. Tidak apa, asal anda bisa membuktikannya.

Anda juga berjanji untuk menyerahkan kasus korupsi yang nilainya di bawah 50M kepada Kepolisian dan Kejaksaan. Lupakah anda KPK dibentuk karena Polisi dan Jaksa tidak lagi dipercaya publik? Sekarang masyarakat lebih suka lapor ke YouTube ketimbang lapor polisi. Dan para Jaksa, entah sudah berapa Jaksa yang ditangkap KPK karena berbagai kasus suap, jual beli rentut, sampai korupsi. Semoga saja keputusan anda itu tidak jadi blunder bagi upaya pemberantasan korupsi. Sekarang, Kepolisian dan Kejaksaan pasti sudah bertepuk tangan, berharap-harap mendapat limpahan kasus dari KPK di bawah kepemimpinan anda. Akhirnya, selamat bekerja Doktor Abraham Samad. Saya percaya, anda akan berjuang mati-matian supaya tidak pulang kampung setahun lagi. Lebih dari itu semua, kami kini menunggu realisasi janji-janji anda. Begitu banyak janji, banyak pula yang harus ditepati. Dan ingatlah, DPR yang sudah memilih anda pun sudah mulai membidik target anda setahun ke depan.

Sumber : iraoemar/kompasiana

Jumat, 02 Desember 2011

AHMADINEDJAD : "Nominasi Idola Anak-Anakku"

Oleh : Imla Wifra Ilham, S.Ag (Bunda Iffa & Malika)

Dengan latar belakang ilmu tarbiyah dan berkecimpung dalam dunia anak-anak, rasanya saya tidak memiliki pengetahuan yang lumayan tentang biografi orang-orang terkenal apalagi tentang ilmu politik. Entah kenapa, untuk yang terakhir ini (politik), saya sedikit apriori. Apalagi tentang politik internasional. Saya tidak mau mendikotomikan diri : barat-timur, Sunni-Syiah apatah lagi Amerika Serikat - Anti Amerika Serikat. Disamping pengetahuan saya tentang hal ini "sangat luar biasa dangkal", arahan agar dewasa dalam berfikir oleh suami juga membentuk pola pikir saya. Pada prinsipnya saya tak mau menghabiskan waktu dan energi untuk mendikotomikan hal tersebut. Saya hanya ingin menjadi "hamba Allah" yang baik, bekerja dengan ikhlas dan mengabdi pada keluarga (jadi ibunda yang baik bagi anak-anakku serta istri bermartabat bagi suamiku) dan pengabdian tulus buat profesi. Sehingga tidaklah mengherankan, apabila saya tidak memiliki idola "tokoh-tokoh dunia". Namun, ketika suami saya mengenalkan beberapa tokoh "lintas ideologi keIslaman", menceritakan sisi-sisi baik mereka, saya juga agak tersentuh.

Suami saya banyak memiliki tokoh idola, dan biasanya selalu hanya untuk aspek tertentu saja. Kecuali Nabi Muhammad SAW. dan Ali bin Abi Thalib serta Umar bin Khattab, hampir tak ada idola suami saya yang sifatnya total. Ia mengagumi Mandela dengan konsistensi perjuangannya, Mama Theresa dengan "sifat malaikatnya", Che Guevara dengan idealismenya, bahkan Tan Malaka serta Muhammad Hatta untuk aspek prinsip hidup dan kepintarannya. Hampir tak ada artis/entertainer yang diidolakannya. Paling-paling Sir Alex Ferguson (karena ia pengagum berat klub bola Manchester United), atau kesukaannya terhadap karya seorang seniman/artis seperti ia sangat menyukai musik Kitaro, Enya dan Opick (dan ini biasanya diputar pada malam hari sewaktu ia membaca), dan belakangan ini ia menyukai musik dangdut-nya Ridho Irama........ sungguh sangat sulit menebaknya. Beberapa hari belakangan ini, saya diperkenalkan oleh Suami saya tentang Ahmad Ahmadinedjad, Presiden Iran yang "tegar, berani serta zuhud". Tentang Iran, saya tak banyak tahu. Paling-paling, sedikit tentang Khomeini, atau tentang Film "The Children of Heaven" yang mengharukan itu. Saya juga pernah melihat, ada foto Ali Shariati di Perpustakaan Pribadi kami yang bergandengan dengan foto Khomeini, Ulama-Ulama Minangkabau, Hatta, Tan Malaka, Habibie, SBY dan Albert Einstein serta William Stephen Hawkings. Saya pernah tanya pada suami saya, siapa Ali Shariati itu ? Ia menjawab, "Inspirator Revolusi Islam Iran, Idola saya ketika mempelajari sosialisme Islam". Kebetulan Skripsi Sarjananya tentang Filsafat Sejarah Ali Shariati.

Kembali ke Ahmadinedjad....... saya disodori beberapa gambar yang membuat saya trenyuh. Seorang Presiden yang untuk aspek tertentu mempraktekkan kezuhudan Umar bin Khattab. Walaupun saya tidak mengidolakannya, tapi setidaknya, ada "tersangkut" pada hati saya kekaguman terhadap seorang hamba Allah, dalam posisi yang begitu banyak bujukan rayuan, masih bisa mempraktekkan kesederhanaan bersikap dan bertingkahlaku. Rasanya saya ingin mendedikasikan namanya buat nanti (Isya Allah) bila Allah menagmanahkan pada saya anak laki-laki. Sayang namanya tidak begitu menarik ...... tapi entah nanti, mana tahu, dengan kombinasi nama lain.

Saya ingin mengajarkan kepada anak-anak saya, bahwa manusia-manusia besar tersebut tidak hanya terdapat dalam novel, sinetron ataupun film. Dalam dunia nyata, dunia masa sekarang, dunia dengan tantangan "kekinian", masih ada tokoh-tokoh Islam yang pantas untuk diteladani.

:: Sebagaimana yang ditulis Imla Wifra Ilham dalam Blog Personal-nya : abahiffa.blogspot.com & imlawifrailham.multiply.com

Troglodyte Kandovan Stone is a Tourist Village In Iran.

Oleh : Muhammad Ilham

Berawal dari berita dalam sebuah acara di Metro TV tentang rumah batu yang sudah berumur ratusan tahun di Troglodyte Kandovan Stone Osku dan Tabriz, Iran. Karena menarik, saya coba browsing di google tentang daerah wisata yang eksotik dan kaya sejarah ini. Daerah yang dijadikan oleh pemerintah Islam Iran sebagai tempat/destinasi wisata ini, terkenal karena bentuk tempat tinggalnya yang trogloyte. Beberapa rumah setidaknya berusia 700 tahun dan masih dihuni hingga sekarang. Troglodyte Kandovan Desa Batu ini juga dikenal dengan pemandangannya yang indah sehingga menjadikannya tempat wisata populer disana, disana terdapat hotel dan restoran untuk melayani wisatawan. Air mineralnya juga sangat populer karena banyak wisatawan meyakini air tersebut dapat menjadi obat untuk beberapa penyakit contohnya penyakit ginjal. Namun bentuknya masih tetap utuh dan kokoh. Hanya interiornya yang mengalami perubahan, seiring perubahan jaman. Sungguh indah, alam sangat bersahabat bila kita juga bersahabat dengan alam.






Sumber Foto : diolah dari www.google.picture.com

Kamis, 01 Desember 2011

Memandang Pada Masanya : "Sejarah yang Relatif"

Oleh : Muhammad Ilham

Sejarawan Italia, Bennedicto Croce pernah mengeluarkan ungkapan terkenal : “storia e storia contemporanea”. Artinya kira-kira, sejarah yang benar-benar sejarah adalah sejarah kekinian. Ungkapan ini bisa dipahami dalam dua perspektif. Pertama, Croce ingin mengatakan bahwa penulisan sejarah yang baik haruslah berangkat dari kondisi atau realitas kekinian yang untuk kemudian dicari “akar”nya kedalam “relung panjang sejarah” – meminjam istilah Taufik Abdullah. Pemahaman kedua, Croce ingin menjelaskan posisinya dalam melihat sejarah. Baginya sejarah tersebut sangat terikat dengan konteks masanya yang diistilahkannya sebagai contemporanea – kekiniaan atau ke-masa-an. Intinya adalah, penulisan sejarah, nilai objektifitasnya tersebut sangat terikat dengan ruang dan waktu. Pemahaman orang terhadap suatu fenomena sejarah pada suatu era, akan berbeda dengan era yang lain. Ketika sebuah kalimat tertera dalam sebuah arsip yang dicatat pada era 1910-an :

”Anak-anak di Ajer Banges berjalan di tepian soengai pada senja hari pergi sumbajang dan mengadji ke langgar, poelang tidak pernah laroet malam sehingganja sumbajang isa’ (Isya: pen.) hanja diikoeti oleh orang-orang tua sahaja”
(H.A.A.R.S, 1897 : edisi terjemahan dari Bahasa Belanda ke Bahasa Melayu).

Kalimat diatas akan berbeda pemahamannya bila ditafsirkan pada masa sekarang. Senja pada masa itu akan dipahami dalam durasi waktu pukul 4 – 5 sore, sedangkan larut malam dimaknai sebelum sholat Isya (lebih kurang pukul 8 malam). Bila hal tersebut ditafsirkan menurut “kacamata” sekarang, maka senja itu adalah pukul 6 – 7 malam, sedangkan larut malam diatas pukul 10 malam. Demikian juga dengan konsepsi poligami, misalnya. Banyak karya-karya sejarah, khususnya yang berkaitan dengan biografi ulama yang berkaitan dengan praktek poligami. Misalnya penggalan kalimat berikut :

“Syekh Halaban (1863-1933) yang dianggap sebagai ulama kharismatik. Dengan potensi kepemimpinan seperti ini, sangatlah mudah bagi Syekh Halaban untuk memiliki istri banyak, bahkan para orang tua berlomba-lomba untuk “menyodorkan” anak mereka menjadi istri Syekh yang juga guru dari ulama tradisional Minangkabau terkenal – Syekh Inyiak Canduang” (Tim Peneliti FIBA IAIN Padang, 2007).

Konsep poligami dalam kalangan masyarakat pada masa-masa tersebut diatas adalah suatu yang fungsional, baik bagi masyarakat maupun bagi elit sosial-agama tersebut. Nilai-nilai dan fungsi ini hanya bisa diletakkan pada era itu. Ini tidak bisa kita tempatkan pada masa A'a Gym, alm. Zainuddin MZ. ataupun pada era Ustadz Arifin Ilham, misalnya. Apa yang dikemukakan diatas juga secara “gamblang” pernah dikemukakan dengan baik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-sejarahnya yang bertitelkan “Gadis Pantai”. Dengan begitu bagusnya Pram menarasikan bagaimana seorang ulama begitu dikonstruksikan oleh realitas sosial dalam strata yang demikian tinggi. Walau bukan dalam bentuk karya sejarah “sebagaimana mestinya”, akan tetapi novel-sejarah ini setidaknya mampu memberikan kepada kita gambaran yang terjadi pada era awal 1900-an, khususnya di Pantai Selatan Jawa. Bila kita membaca Gadis Pantai ini dengan kaca mata kita sekarang, maka akan kita simpulkan : “ulama yang maniac seks, ulama yang suka daun-daun muda dan ulama yang sangat otoriter serta ulama yang sombong-pongah dengan keulamaannya”.

Begitu juga dengan kalimat dibawah ini :

“Sebagaimana anak muda kampoeng lainnja, tentunja Ridjal amat senang sekali bisa berkawan dengan kakak sepoepoenja jang manis itu. Namanya Halimah. Tapi sajang, ianja akan berkahwin dengan seorang saudagar kaja dari Bangkahulu, saudagar jang juga ulama karena baru pulang dari tanah Mekkah. Halimah yang baroe beroemoer 14 tahun, akan berkahwin beberapa minggoe lagi”
(Muhammad Radjab, 1927)

Tentu, bila Syekh Puji hidup pada masa Ridjal ini hidup, ia akan dapat memperistri “anak dibawah umur”. Bila Syekh Puji juga hidup pada masa diatas tersebut, tentu juga ia tidak akan dikenakan sanksi mengawini anak-anak usia dibawah umur. Tapi sayang, Syekh Puji hidup pada masa sekarang. Dan karena itu, alangkah juga naifnya bila kita melihat fenomena diatas dalam pemahaman kacamata kita saat ini pula. Karena itu pulalah, Croce dan kawan-kawannya beranggapan bahwa kebenaran sejarah (tepatnya : objektifitas sejarah itu) sangat bersifat relatif. Soekarno besar pada zamannya, dan masyarakat pada waktu itu, teramat merindukan manusia seperti Soekarno, sedangkan Soeharto juga besar pada era-nya, tapi sayang ia tidak membaca yang dirindukan masyarakat pada masanya juga. Dan, pada artikel saya sebelumnya tentang Pahlawan (terbit di Harian Singgalang/17-11-2011), ada satu paragraf-simpulan, begini : "Ada pahlawan yang besar pada masa dahulu, tapi sekarang seakan-akan tidak dibutuhkan. Ada yang pahlawan yang dihilangkan pada masa dahulu, tapi sekarang jadi buah-bibir yang menggoda untuk dibincangkan".

Perang ... !!

Oleh : Muhammad Ilham

"Aku berwasiat kepadamu tentang sepuluh hal : jangan membunuh perempuan, anak-anak, orang tua jompo, jangan memotong pohon berbuah, atau merobohkan rumah, jangan membunuh kambing atau unta, kecuali untuk dimakan, jangan membakar pohon kurma atau menenggelamkannya, jangan menganiaya dan jangan berbuat khianat"
(Abu Bakr ash-Shiddiq : Tarikh At-Thabari Bab Thahaqat)

Konflik dan Perang selalu meninggalkan cerita horor, menakutkan dan perendahan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu pula, orang-orang yang berada di kawasan yang identik dengan perang serta konflik, akan dilabelkan dengan persepsi kurang elok. Saddam Hussein, Moamar Qaddafi dan Bashar al-Assad, bahkan bangsa Arab, digambarkan sebagai figur keji dan bangsa yang suka bertengkar. Figur yang tidak memiliki etika dalam berperang (walau "berperang" dengan warga mereka sendiri). Setidaknya demikian yang digambarkan oleh media massa. Gambaran ini kemudian menjadi parameter tersendiri untuk men-cap bagaimana karakter figur-figur dan bangsa tersebut. Gambaran ini dibangun oleh media massa dan opini (yang semua orang sudah tahu, siapa dan kepentingan apa dibalik media massa itu), pada akhirnya melahirkan streotype sendiri - figur-figur tak beradab dalam mensikapi konflik. Walau secara faktual, demikian adanya, namun adalah sesuatu yang tidak adil ketika men-judge sesuatu tanpa memberikan komparasi "sejenis". "Homo Homini Lupus", kata Hobbes menjadi sesuatu yang reflektif untuk menggambarkan bagaimana ketika konflik dan perang berlangsung, terdapat kekejaman disana. Namun, alangkah naifnya bila kekejaman "hanya dipelihara" pada satu dua figur dan kelompok bangsa saja. Karena ketika konflik dan perang berlangsung, maka setiap ummat manusia, dari bangsa manapun ia, memiliki "aura" kekejaman yang mengerikan. Tak ada beda antara perlakuan Tentara Vietkong-Vietnam terhadap tawanan dan mayat lawan mereka empat dasa warsa lalu dengan bagaimana pula tentara Spanyol memperlakukan penduduk asli dalam pembantaian besar-besaran dahulu di Benua Amerika. Bagaimana tentara Amerika (seperti dalam film Soldier Blue) menghabisi kaum Indian sampai ke bayi-janin. Bagaimana tentara Australia bersikap (dahulu, dan mungkin hingga kini) terhadap kaum aborigin. Bagaimana Pol Pot menghadirkan "republik teror dan horor" di Kamboja dengan menghabisi jutaan rakyatnya sendiri, atas nama ideologi. Dan bagaimana pula kelakuan Hitler terhadap bangsa Yahudi, dengan akibat yang harus ditanggung oleh orang Palestina (dengan dipaksakan oleh "Barat" sebagai bentuk rasa bersalah). Saddam Hussein menghantam etnik Kurdi maupun Iran dengan bom napalm. Saddam yang berkumis ini menggunakan bom yang teramat mengerikan itu karena ia meniru Amerika Serikat yang "mencoba" bom ini di Vietnam. Bashar al-Assad, Presiden Suriah yang sekarang berada dalam posisi diujung tanduk, diblow up sebagai (salah satu, diantara banyak) pemimpin Arab yang memiliki tangan berlumuran darah. Walau sebenarnya anak Hafeez al-Assad ini bukanlah pemimpin yang baik karena tidak mengayomi rakyatnya, tapi setidaknya ia masih lebih baik dibandingkan penjahat perang Serbia yang disamping melakukan genosida juga melakukan pemerkosaan terhadap hampir 150.000 wanita Bosnia, seperti yang pernah dilansir reuters.com.

Ketika konflik berlangsung, kewarasan manusia menjadi hilang. Karena itulah, misalnya, Abu Bakar ash-Shiddiq mengeluarkan sepuluh "pantangan" dalam perang, atau Umar bin Khattab mengatakan : "jangan sekali-sekali membunuh anak-anak dan pelayan". Ya ... pelayan !. Bahkan Umar bin Khattab memberikan sebuah reward bagi para prajurit Islam yang membunuh anak-anak dalam perang .... dihukum bunuh (pula). Khalifah "terbaik" Dinasti Umayyah, Umar bin Abdul Aziz bahkan pernah berkata : "Bertakwalah kamu kepada Allah dalam hal anak-anak dan para petani yang tidak mengangkat senjata melawan kamu (peliharalah nyawa mereka)". Dan, dalam sahibul hikayat yang mutawatir, Umar bin Abdul Aziz tidak pernah membunuh para petani dan tukang kebun, disamping tentunya anak-anak, orang tua dan perempuan, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnul Munzhir dalam al-Qurthubi. Intinya adalah, sebetapapun bengis dan kejamnya konflik dan perang, ketika pemimpin dan penguasa menghormati kesepakatan universal yang telah ada, tentunya konflik dan perang-pun bisa dianggap sebagai "jalan keluar" sebagaimana yang dikatakan Clausewitz bahwa perang adalah jalan keluar dari konflik. Tapi ketika para pemimpin dan penguasa (termasuk yang menganggap sebagai "penguasa") tidak atau terbebani oleh catatan sejarah perang yang buruk, jangan salahkan pula bila Basheer al-Assad mengatakan : "saya punya cara mengatasi konflik di negara saya, dan anda sekalian (maksudnya : negara-negara Barat), tidak memiliki otoritas untuk mengajarkan kepada saya bagaimana cara yang terbaik karena tangan dan sejarah kalian-pun masih basah oleh kebrutalan".

"Bang, ternyata ada perang yang baik"
, kata istri saya beberapa hari lalu.
"Ah masa, perang selalu meninggalkan cerita kesedihan", bantah saya padanya.
"Perang harga !", katanya sambil berlalu.

(Dan, perang jenis ini meninggalkan cerita bahagia, setidaknya bagi saya dan istri. Buktinya, kaus kaki saya yang selama ini hanya tiga pasang, beberapa hari lalu, telah bertambah 6 pasang lagi. Dan itu, dibeli istri saya pada suatu sore sepulang dari sekolah. Kebetulan ia melewati sebuah jalan padat pedagang "berteriak", saling berperang menjatuhkan harga dengan menggiurkan. Dengan hanya Rp. 20.000,- ia membeli 2 pasang kaus kaki berwarna hitam, 1 pasang biru, 2 coklat dan 1 pasang berwarna pink. Dan untuk warna terakhir ini, saya protes karena pilihan warna yang tak cerdas. Rupanya, yang warna pink ini merupakan warna kesukaannya, dan ia ingin, bila suatu waktu tertentu nanti, kaus berwarna pink ini saya pakai. Karena saya belum berminat menggunakannya, kaus kaki warna norak itu masih dijadikan koleksi dan diletakkan di lemari. Dan saya pun tidak merasa pusing dengan cuaca yang belakangan ini tidak bersahabat, selalu hujan lebat ketika pulang sore dari kampus. Dengan koleksi tiga pasang yang telah ada, ditambah dengan 5 pasang lagi, maka setiap hari saya bisa menggunakan kaus kaki berlainan jenis, bahkan memiliki stock pula, kaus kaki berwarna pink)....... ternyata perang jenis ini membahagiakan !!.

Referensi : Syu'bah Asa (2000). Foto : kaskus.us

Rabu, 30 November 2011

"Die Reise Der TRÄNEN" (Perjalanan Air Mata)

Oleh : Muhammad Ilham

Tiga dari empat khalifah/mati terbunuh/darah tetes di tengah rumah – Ya Rasulullah !
(Taufiq Ismail)

Ketika Khalifah ke-tiga, Utsman bin Affan (semoga Allah SWT. sentiasa menyayanginya) terbunuh, maka bermulalah cerita konflik internal berkepanjangan dalam tubuh ummat Islam. Ketidakmauan Ali mengusut secara tuntas pembunuhan ini, memunculkan “opini liar” ditengah-tengah masyarakat kala itu, Ali merestui gerakan para perusuh yang membunuh Utsman. Dan, ketegangan antara Aisyah ra. (cs) ini berakhir dengan perang. Thalhah dan Zubeir gugur (kedua orang mereka ini termasuk sahabat paling utama Rasulullah, bahkan dianggap memiliki “tiket-jaminan” masuk sorga). Sementara Aisyah ra. – janda Rasulullah – ditangkap dan dipulangkan dengan baik-baik ke Madinah. Ketika putra Ali bin Abi Thalib – Al-Hasan bin Ali ra. menyerahkan hak pemerintahan ke tangan Mu’awiyyah anak Abi Syofyan dan Hindun (Hindun dalam sejarah dicatat sebagai wanita yang pernah memakan jantung/hati Hamzah paman Rasulullah setelah Hamzah gugur dalam peperangan). Ini terjadi pada 41 H. Saudara kembar Al-Hasan, Al-Hussein bin Ali ra., dibujuk oleh penduduk Kuffah – tempat Muawiyyah “bersemayam” – untuk datang dan dibai’at. Abdullah bin Abbas, sepupunya, serta Abdullah bin Umar bin Al-Khattab, sudah merayunya untuk tidak berangkat. Namun ini ditolak oleh Al-Hussein. Takdir kemudian menentukan : Al-Hussein bin Ali ra. bersama keluarga dan para pengawalnya dibantai oleh bala tentara Gubernur Basrah di Padang Karbala. Ini tejadi pada era Yazid bin Mu’awiyyah. Inilah salah satu episode heroic berbasis etos dendam yang kelak menentukan karakter pembentukan kelompok keagamaan (Syi’ah). Kepala Al-Hussein dipenggal dan kemudian diarak-arak di seputar kota Damaskus. ………….. “Darah Tetes di tengah rumah, Ya Rasulullah!”.







"DIE REISE DER TRÄNEN" (Perjalanan Air Mata) bagian 1-4, sebuah film sejarah berbahasa Arab dengan subtitel bahasa Jerman. Film sejarah dengan setting "menggetarkan" .... KARBALA, peristiwa pembunuhan cucu Nabi - Hussein bin Ali bin Abi Thalib. Sang Pembunuh juga mengklaim bahwa ini adalah misi Islam. Tragik dan ironik. Peristiwa yang begitu mengguncang dunia Islam pada waktu itu (41 Hijriah, bertepatan dengan tahun 685 Masehi)





Terima kasih Kak Ida Muis atas inspirasi dan diskusinya. Semoga "tetap bersemangat" dan sehat
di Hamburg, Germany sana.


Sumber Film : youtube.com

Senin, 28 November 2011

Variabel Transisi Demokrasi

Oleh : Muhammad Ilham

Ada empat variabel, dalam tradisi ilmu politik, untuk menentukan apakah negara tersebut menjalani masa transisi secara damai atau anarkis bahkan "berdarah". Pertama, Watak Civil Society. Konsep ini mengacu kepada kemampuan, dinamika dan kemampuan organisasi kemasyarakatan. Dalam masyarakat transisi, civil society-nya penuh dengan dinamika. Masyarakatnya terlibat secara emosional dengan persoalan-persoalan publik. Namun, Civil Society ini memiliki dua karakter yaitu karakter demokratis dan karakter sekterian-parokial-primordial. Karakter pertama "dihidupi" oleh aura dan nilai-nilai penghargaan terhadap pluralisme, kesediaan berkompromi untuk mewujudkan platform bersama yang demokratis serta timbulnya iklim kritik-terbuka dan transparan. Sementara yang kedua, dimotivasi oleh semangat fanatisme ideologi atau agama, anti-pluralisme, menginginkan previlese (baca: hak-hak khusus) bagi suatu kelompok dan anti kritik. Di antara kedua karakter civil society tersebut, hanya berkarakter demokratis yang memiliki kontribusi pada penyelenggaraan transisi secara damai.

Kedua, efektifitas pemerintah dalam mewujudkan atau mengimplementasikan kebijakannya. Pemerintah merupakan satu-satunya "organ" yang sah-legal untuk bertindak mengatasnamakan masyarakat secara keseluruhan. Memiliki daya paksa. Pemerintah yang efektif sangat mudah mempengaruhi kondisi politik secara nasional. Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang dipercaya oleh masyarakatnya. Pemerintah jenis ini dapat mempengaruhi transisi ke demokrasi secara damai. Sebaliknya, pemerintahan yang lemah dan kehilangan legitimasi, maka kebijakan-kebijakan mereka akan mudah dinilai dan ditafsirkan oleh kelompok politik lain sebagai upaya manipulatif. Dengan sendirinya, kebijakan-kebijakan tersebut bukannya diikuti, malah dilawan. Pemerintah jenis ini berpotensi membawa negara ke arah anarki.

Ketiga, Political Society. Konsep ini mengacu kepada aturan main yang menjadi mekanisme kompetisi politik antar aktor dan organisasi politik. Aturan main politik sangat penting. Dalam masyarakat politik ini, juga terdiri dari dua karakter yaitu masyarakat politik harmoni dan masyarakat politik terdisintegrasi. Masyarakat politik yang harmoni akan mudah menerima kemenangan atau kekalahan dalam sebuah kompetisi politik. Penyebabnya, karena mereka yakin dan percaya akan sifat adil dan jujur dari kompetisi. Pihak yang kalah merasa kalah secara fair dan bukan merasa dicurangi oleh sebuah sistem atau aturan main yang manipulatif. Masyarakat tipikal ini memiliki kontribusi bagi terciptanya transisi damai. Sedangkan masyarakat politik yang terdisintegrasi sangatlah rawan. Kekalahan dan kemenangan sangat sulit diterima dengan lapang dada. Bukan karena faktor kebesaran jiwa para aktor politik, akan tetapi lebih disebabkan kepada rasa dizalimi oleh aturan main yang manipulatif. Bahkan, konflik tidak akan menyusut setelah terselenggaranya kompetisi politik melalui pemilu, justru konflik semakin rawan dan menakutkan. Tipikal ini dengan cepat akan membawa negara ke dalam anarki yang berkepanjangan.

Dan yang Keempat, soal kondisi ekonomi. Memang harus diakui, bahwa ekonomi bukanlah satu-satu soal, namun memiliki peranan yang sangat signifikan karena berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan pokok dan tersedianya lapangan pekerjaan. Perekonomian yang tumbuh akan memberikan kesejahteraan yang lebih kepada masyarakatnya. Kepuasan publik akan meningkat. Kepuasan publik yang meningkat akan berkorelasi positif dengan kemampuan pemerintah membawa masyarakat menuju demokrasi damai. Sebaliknya, ekonomi yang memburuk justru menimbulkan ketidakpuasan. Masyarakat akan menjadi rumput kering yang akan mudah terbakar untuk melawan dan marah secara massal. Krisis ekonomi akan mudah menyulut anarki berkepanjangan.

Pertanyaannya : "Bila diperhatikan variabel-variabel di atas, apakah Indonesia masa reformasi ini bisa atau berpotensi melakukan transisi secara damai ?"

Selasa, 22 November 2011

Ketika Monarki (Sudah) Mulai Digugat : "Fenomena Bahrain"

Oleh : Muhammad Ilham

"Revolusi itu menjalar", setidaknya demikian diktum gerakan sosial yang sering didengung-dengungkan. Dan hari ini, kawasan Timur Tengah nampaknya - meminjam istilah Soekarno - "belum selesai melaksanakan revolusi" mereka. Bila gerakan sosial yang terjadi di Tunisia, Mesir, Yaman, Libya dan Suriah menggugat keberadaan tiran dari kalangan rakyat biasa (Ben Ali, Hosni Mubarak, dan Moammar Khaddafi serta Bashar al-Assad), maka pergerakan isu gerakan sosial di kawasan Timur Tengah sudah mulai intens menjangkau kawasan "tabu-politik", menggugat eksistensi monarki. Ini bermula dari Bahrain. Kerajaan/keemiran kaya minyak di kawasan Teluk ini, sedang menghadapi gerakan sosial yang bukan lagi sekedar gerakan protes menggugat politisi mereka (saya tak tahu, apakah negara ini memiliki politisi). Tapi sudah menukik pada gerakan yang membuat Arab Saudi (negara pilar monarki di kawasan Timur Tengah) merasa khawatir. Rakyat Bahrain sudah berani menentang eksistensi Sultan Hamad ibn Isa Khalifa. Menentang hedonisme dan sistem politik yang diterapkan oleh Sultan yang teramat dekat dengan Arab Saudi tersebut. Arab Saudi pantas merasa khawatir. Bila eksperimen rakyat Bahrain bisa menjatuhkan Sultan Hamad ibn Isa Khalifa, tentu ini menjadi "gempa bumi" bagi eksistensi monarki-monarki di kawasan Timur Tengah. Karena itu pula, sebelum "revolusi" ini menjalar, Arab Saudi mengirimkan ratusan tentara lengkap. Al-jazeera melaporkan terjadi "pembantaian" demonstran di Bahrain, sebagaimana halnya yang terjadi di Suriah, misalnya. Seperti biasa, Liga Arab, NATO dan PBB (apalagi Amerika Serikat), mendiamkan Bahrain dan "menaikkan" Suriah.

Hingga sekarang, gerakan sosial yang (bisa) mengarah kepada revolusi di Bahrain terus berlangsung, walau tidak sesporadik Suriah ataupun Yaman. Namun, bila eksperimen revolusi Bahrain berhasil, tentu monarki-monarki di Timur Tengah akan merasakan bagaimana hukum dari revolusi itu sendiri .............. "menjalar".


Syekh Hamad ibn Isa Khalifa, Sultan Bahrain bersama (mantan) Presiden Amerika Serikat George W. Bush


Nampaknya ke depan, Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya (Inggris dan Perancis) serta yang masuk dalam "kategori" historis-kultural Barat seperti Australia, merasa berkepentingan untuk menjaga eksistensi monarki di Timur Tengah. Demokrasi/demokratisasi bukan menjadi parameter utama, namun kepentingan ekonomi dan politik adalah entitas abstrak yang jauh lebih utama. Sudah menjadi "ayat politik" bahwa dalam politik, tidak ada yang gratis. Secara prediktif, kita bisa membayangkan peran Barat selanjutnya di Libya, khususnya dalam masalah minyak, sebab penguasa baru pasti merasa berutang budi kepada NATO yang telah berhasil melumpuhkan rezim Moammar Qaddafi dengan dibantu oleh serangan udara. Sebagai seorang Muslim, kita tentu selalu berharap agar rezim-rezim pengganti ini tidak lupa kepada cita-cita revolusioner mereka untuk berpihak kepada rakyat dan keadilan, yang sebelumnya hampir absen selama sekian puluh tahun. Saya melihat, pergantian rezim-rezim di kawasan Timur Tengah tidaklah begitu penting dan urgen bagi Barat, sebagaimana yang terlihat selama ini. Selama rezim-rezim itu siap menjaga kepentingan Barat, tidak peduli apakah diktator, demokratik, atau campuran dari keduanya, pasti akan didukung. Slogan demokrasi dan hak-hak asasi manusia yang dikibarkan Barat selama ini tidak lain adalah topeng untuk mengelabui mangsanya. Dan ....... monarki-monarki di Kawasan Timur Tengah adalah pendukung setia "kepentingan Barat" itu sendiri. Simbiosis mutualisme kepentingan berlaku, walau sebenarnya hanya satu pihak yang paling (banyak) diuntungkan.








Foto : al-jazeerra.com/reuters.com

Senin, 21 November 2011

Bola dan Aroma Nasionalisme

Oleh : Muhammad Ilham

" .... boooola, kau terobos gawang cintaku ... ooo ya ... oo ya .... kaulah sang primadoona ... booola "
(Ona Sutra, penggalan nyanyi Dangdut)

Baru kali ini saya merasa bangga dan kenal dengan yang namanya Indonesia !
(Status FB "kawan sebelah" tentang kebanggaannya pada Tim Sepak Bola Indonesia)

Ada aroma nasionalisme di Gelora Bung Karno (GBK) dan di depan layar televisi dalam beberapa hari terakhir ini. Semuanya karena Bola dan "Garuda di Dadaku". Nasionalisme sepertinya di keseharian mulai terkikis, entah karena tawuran antara warga, atau korupsi yang menghiasi halaman depan surat kabar dan televisi. Namun kemarin Nasionalisme itu hadir, saat Tim Garuda Muda bertanding melawan Vietnam, Malaysia, Singapura dan Thailand. Apakah berlebihan bila saya mengatakan bahwa aroma nasionalisme ada di GBK ? Nampaknya tidak sama sekali, bila yang kita bicarakan adalah nasionalisme bangsa. Melihat aura nasionalisme di GBK beberapa malam terakhir ini, membuat saya teringat dengan Peristiwa Lapangan Ikada pada tahun 1945. Lapangan Ikada ini telah "berpindah" ke GBK, sebuah tempat dimana yang ada hanya satu warna, lautan manusia berbaju merah yang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan bergetar haru bercampur bangga, dan memekikkan satu suara: “Indonesia! Indonesia!”, bahkan ditambah dengan "Tibo" ... "Tibo" ... "Wanggai" .... Wanggai" .... dua striker U-23 asli Papua, sebuah daerah yang belakangan ini dipertanyakan nasionalisme mereka. Mereka menamakan dunia itu sepak bola, bahkan sebagian menganggapnya lagi "agama" (tanda kutip).

Sepak bola bagi banyak negara tidak lagi olahraga semata. Tetapi sudah menjadi harkat dan martabat negara dan bangsa. Karena itu, Kiper La Furia Roja Spanyol, Iker Cassilas mengatakan : "sepak bola adalah harga diri bangsa, dan ditengah banyaknya pengangguran di Spanyol akhir-akhir ini, kami ingin memberikan kebahagiaan tersendiri bagi rakyat Spanyol untuk bangga sebagai orang Spanyol" (reuters.com). Senada dengan Iker Cassilas, striker Pattrick Wanggai berujar : "semoga bola memberikan rasa damai di Papua" (okezone.com). Bola menjadi ukuran martabat, karena tuntutan-tuntutan fundamental dalam sepak bola seperti sportivitas, kecepatan, kekuatan, kerjasama dan kecerdasan, telah menyatu dengan tuntutan fundamental bangsa itu. Kekalahan dan kemenangan dianggap mewakili harga diri bangsa. Karena itu kemenangan dihargai setinggi langit, sedangkan kekalahan dicampak ke dasar jurang yang paling dalam. Semua negara yang bermartabat dan beradab dalam sepak bola tahu akan risiko itu. Tahu apa artinya menang, dan tahu pula apa artinya kalah. Bola memang luar biasa, mampu menyatukan semua elemen manusia. Lupa dengan konflik politik ataupun kesulitan ekonomi. Tak salah memang bila Presiden FIFA, Sepp Blatter mengatakan bahwa Seandainya bola itu manusia, niscaya ia akan memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian, mungkin setiap empat tahun sekali.

Walaupun tim U-23 dikalahkan oleh tim Malaysia, cukup penggalan puisi ini yang ingin mewakili apresiasi saya terhadap pemain dan penonton :

..... pecah gelas berdentang.
kecewa terpaku nyilu
beta terpana
ternyata mereka sudah dewasa ... !!"


(Geliat BOLA tak seumpama kerdilnya PILKADA). Hormat buat penonton dan usaha keras Tim U-23. Bukan kalah-menang. Ada ichtiar dan pembelajaran disana.
Mereka (pemain dan penonton) benar-benar GARUDA ...... dan bukan Burung Perkutut ! (meminjam Iwan Fals)

Sebuah FootNote :


(Dari kejadian beberapa tahun lalu) : Salah seorang teman saya, mengganti Sticker salah seorang calon Gubernur dengan gambar Maradona. Ia menjadi marah bergejolak, ketika gambar itu ditutup kembali dengan sticker baru oleh tim sukses salah seorang calon gubernur. "Maradona dan Piala Dunia jauh lebih bermakna dibandingkan Pilkada", setidaknya demikian yang ingin ia sampaikan.





Sumber Foto : www.google.picture.com

Syafruddin Prawiranegara : "Genetik Sunda, Sosiologis-Historis Minangkabau"

Oleh : Muhammad Ilham

Nampaknya ada kesamaan antara SiPongki Na Ngolngolan Sinambela atau biasa dikenal dengan Tuanku Rao dengan Syafruddin Prawiranegara. Bila Tuanku Rao yang merupakan kemenakan Sisingamangaraja dan dianggap sebagai salah satu tokoh utama Perang Paderi di wilayah Pasaman dan "front utara" tersebut secara genetik berasal dari Batak tapi secara sosiologis dimaknai sebagai bagian penting dalam perjuangan sejarah Islam Minangkabau, maka demikian juga halnya dengan Syafruddin Prawiranegara. Syafruddin yang "terlambat" diberi gelar pahlawan ini (karena dianggap "pemberontak"), lahir dari rahim budaya Banten (dulu : Jawa Barat/Sunda), namun beliau ini justru dianggap sebagai "insan" Minangkabau. Membincangkan tradisi politik Minangkabau pasca kemerdekaan, sosok ayah Farid Prawiranegara ini tidak bisa dilepaskan. Seumpama Tuanku Rao yang teramat sulit orang memberi batas apakah ia orang Minangkabau atawa Batak, maka demikian juga halnya dengan Syafruddin Prawiranegara. Beliau memiliki kedekatan emosional dan historis dengan masyarakat Sumatera Barat. Buktinya, ketika Syafruddin Prawiranegara diangkat sebagai Pahlawan Nasional, justru orang Sumatera Barat jauh lebih antusias dibandingkan masyarakat Banten. Menurut laporan Detik.com+, masyarakat Banten banyak yang terheran-heran Sjafruddin Prawiranegara diangkat sebagai pahlawan nasional atas usul Pemerintah Banten. Banyak warga Banten beranggapan Sjafruddin merupakan orang Minangkabau, Sumatera. Sesungguhnya pria yang akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 8 November 2011 ini kelahiran Banten. Sjafruddin lahir di Anyer Kidul, Serang, Banten pada 28 Februari 1911. Ayah Sjafruddin Raden Arsjad Prawiraatmadja, keturunan Sultan Banten. Sang ibu, Nur Aini binti Mas Abidin Mangundiwirya, anak pejabat pangreh praja Banten. Meski demikian, anggapan Sjafruddin merupakan orang Minang tidak terlalu salah. Kakek buyut pria yang biasa dipanggil Kuding itu, Sutan Alamintan yang berasal dari lingkungan Kerajaan Pagaruyung Minang. Sutan Alamintan mengorganisasi rakyat melawan Belanda dalam Perang Paderi. Perang Paderi ini terkenal dengan pemimpinnya Tuanku Imam Bonjol. Setelah ditangkap Belanda Sutan Alamintan dibuang ke Banten.

Dari keluarganya, darah Syafruddin memang darah pejuang. Tidak cuma sang kakek yang melawan Belanda. Saat Syafruddin berumur 12 tahun, sang ayah yang merupakan seorang jaksa juga dibuang ke Kediri, Jawa Timur, karena dianggap memihak pribumi. Raden Arsjad sebagai pejabat pemerintah Belanda menolak duduk bersila di lantai saat memberi laporan kepada pejabat Belanda. Duduk bersila dan memakai bahasa Sunda halus saat itu sudah menjadi aturan baku bagi pejabat pribumi bila berhadapan dengan penguasa Belanda. Namun Arsjad menentang aturan tersebut. Saat sang ayah dibuang ke Kediri, Syafruddin pun mengikutinya. Dengan begitu, masa hidup presiden kedua RI yang memimpin 207 hari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini tidak banyak dilewatkan di Banten. Tidak mengherankan bila kita akan kesulitan untuk menemukan jejak Sjafruddin di kota Jawara tersebut. Ia tidak dikenal di Banten karena Syafruddin menimba ilmu (keIslaman) bukan di daerah ini, tapi di Sumatera Barat. Tidak mengherankan bila pemberian gelar pahlawan nasional kepada Syafruddin pun mengejutkan masyarakat Banten. Mayoritas masyarakat Banten baru mengetahui bila pria yang memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini merupakan orang Banten.

Selain itu, ketidaktahuan masyarakat juga diakibatkan lamanya sosok Syafruddin dilupakan dalam sejarah kemerdekaan RI. Kehidupannya semakin dikucilkan dari ruang publik ketika dijebloskan penjara dengan cap pemberontak karena terlibat Pemerintah Revolusioner RI (PRRI) oleh Presiden Soekarno. Bahkan, ketika Presiden Soeharto pun sosok yang satu ini pun dianggap musuh, karena sering mengkritisi kebijakan Orde Baru. Pada Juli 1980, Sjafruddin bersama AM Fatwa, dan Bung Tomo, dilarang memberikan khutbah Idul Fitri dengan alasan kutbah mereka bisa memancin emosi masyarakat. Khutbah Syafruddin berjudul 'Kembali Pada Pancasila dan UUD 1945' isinya 80 persen soal politik. Tapi sekali lagi, biasa saja orang lahir di sebuah daerah, namun dianggap menjadi milik daerah lain. Che Guevarra yang merupakan orang Argentina, justru diagungkan kaum sosialis Bolivia. Demikian dengan Tan Malaka yang dihormati pejuang Filiphina, hingga sekarang. Beberapa ulama penyebar Islam di Sulawesi "hanya" menumpang lahir dan DNA dari ranah Minangkabau, karena orang Bugis menganggap mereka bagian dari icon Bugis itu sendiri. Tanyalah pada orang Malaysia, siapa Syekh Taher Djalaluddin. Mereka pasti secara serempak akan menjawab, "Syekh Taher adalah orang mulia Melayu Malaysia". Padahal, Syekh yang bergelar al-Falaki (karena dianggap ahli ilmu Falak tersebut) merupakan "produk asli" Minangkabau. Tapi bila ditanya pula orang Minangkabau, siapakah DN. Aidit ? Secara serempak pasti mengatakan : "gembong PKI". Dan banyak diantara orang Minangkabau akan merasa "risih" ataupun bengong, rupanya DNA DN. Aidit ini berasal dari "air danau Maninjau" - ayahnya, Haji Aidit adalah ulama dari daerah di pinggiran Danau Maninjau, dan ketika memberi nama anaknya dengan Dja'far Nawawi (DN) Aidit ketika si anak lahir di Bangka Belitung. Belakangan, Dja'far Nawawi ini diganti oleh Aidit menjadi Dipa Nusantara. "Kurang terkesan proletar", ujarnya suatu ketika kala ditanya mengapa ia mengganti nama yang "Islami" tersebut. Wallahu a'lam.

Referensi : detik.com+/7-11-2011.
Foto : masyumicentre.com