Jumat, 16 September 2011

Migran Minangkabau di Semenanjung Negaranya Siti Nurhaliza

Oleh : Muhammad Ilham

Migrasi, atau dalam bahasa lain – merantau, merupakan fenomena sosial yang dilegitimasi oleh asas normatif kultural Minangkabau (karatau madang daulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dikampuang baguno alun). Merantau merupakan konsep spesifik sosiologis kultural (specific concept of culture sociologic), khas Indonesia (Melayu-Minangkabau) yang secara sosiologis mengandung enam unsur pokok (lebih lanjut lihat Mochtar Naim, 1984: 2-3. Secara sosiologis, merantau adalah relatively moving away from one geographical location to another (David Lee, 2001: 62). Fenomena migrasi atau (khasnya : merantau) tidak terlepas dari berbagai motivasi. Secara sosiologis antropologis, merantau memiliki motivasi ekonomi (lihat Brinley Thomas, 1989: 55), ekonomi yang membudaya (culturized economic) (lihat Mochtar Naim, 1984: 48), resistensi ekonomi dan budaya (culture and economic resistention ) (lihat Mochtar Naim, 1984 : 72; Kartini Syahrir, 1988 : 77) dan resistensi politik (political resistention) (lihat Mochtar Naim, 1984 : 93; Tamrin Amal Tomagola, 1994: 38).

Secara umum, merantau dalam perspektif historis, sosiologis dan kultural Minangkabau dilatarbelakangi oleh motivasi perbaikan ekonomi dan resistensi budaya. Tujuan merantau secara sosiologis selalu berdasarkan kepada pertimbangan ekonomi, dimana tujuan utama adalah pusat-pusat sirkulasi ekonomi (Kartini Syahrir, 1988: 12) dan tujuan yang berdasarkan kepada pertimbangan asosiasi klan ataupun etnis (Brinley Thomas, 1989: 92). Kota-kota besar, pusat-pusat perdagangan dan link-link spatial (lihat Kartini Syahrir, 1988) yang dibangun oleh etnis Minangkabau merupakan tujuan orang-orang Minangkabau merantau, baik didalam negeri maupun diluar negeri. Tradisi merantau di Malaysia diasumsikan telah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda (Mochtar Naim, 1984 : 77; Tamrin Amal Tomagola, 1994: 14; Wan Syahibuddin Wan Idris, 1999: 37-61). Motivasi utama pada masa itu adalah motivasi adanya resistensi politik (Mochtar Naim, 1984: 104). Setelah kemerdekaan, motivasi merantau beralih kepada motivasi ekonomi dan ini berlanjut hingga saat sekarang. Link-Link Spatial merupakan salah satu faktor dan motivasi terpenting orang minangkabau merantau ke Malaysia pasca kemerdekaan. Sehingga tidak mengherankan apabila perantau-perantau Minang membentuk enclave-enclave Malaysia. Talcott Parsonn (1989: 77) mengatakan bahwa social enclave terbentuk karena perwujudan proteksi dan aktualisasi nilai-nilai budaya. Di Malaysia banyak ditemukan enclave-enclaveLink Spatial. Timbulnya kelas-kelas dalam lingkungan sosial Minangkabau. Perantau yang sudah dianggap sebagai WN Malaysia merupakan kelas tertinggi, sedangkan yang telah memiliki IC (identity Card) dianggap lebih berkelas dibandingkan perantau yang hanya memiliki visa apalagi yang dianggap sebagai TKI Illegal. Konsekuensi dari semua ini, terjadinya distorsi nasionalisme di beberapa kelas Minangkabau.

Kehadiran secara historis Migran Minangkabau di Malaysia, secara substantif dimotivasi oleh kesempatan kerja yang lebih luas dan fleksibel di Malaysia. Reward dan nilai tukar uang yang tinggi dibandingkan dengan reward dan nilai uang Rupiah yang berada dibawah Malaysia, memberikan potensi kehilangan nilai-nilai eksistensi manusia, termasuk didalamnya memiliki potensi kehilangan rasa nasionalisme terhadap Indonesia. Secara asumtif hal ini terlihat dari timbulnya “rasa berutang budi” secara ekonomi serta “rasa kecewa para buruh Migran Muslim Minangkabau” terhadap pemerintah Indonesia yang tidak memperhatikan keselamatan dan keberlangsungan hidup mereka di Malaysia. Artinya, para Migran Muslim Minangkabau ini justru melihat beberapa kasus kekerasan terhadap Migran-Migran Indonesia pada umumnya belakangan ini justru lebih disebabkan karena “daya tawar” politik pemerintah Indonesia lemah dibandingkan Malaysia. Sementara, Malaysia memberikan peluang kerja yang cukup – terlepas dari berbagai kasus yang berada di dalamnya – asal ketentuan administrasi antar negara dipenuhi. Opini yang terbentuk didalam negeri (baca: Indonesia) yang melihat kerajaan Malaysia sebagai sesuatu yang “telah berubah” dari masa-masa sebelumnya terhadap saudara serumpunnya (baca: Indonesia), justru tidak dianggap urgen oleh Migran Indonesia, khususnya Migran Muslim Minangkabau. Mereka justru – secara kuantitatif – masuk ke Malaysia dalam jumlah yang terus bertambah. Di satu sisi, mereka merasa sebagai orang Indonesia, namun disisi lain, mereka justru beranggapan bahwa kehidupan mereka hanya bisa berlangsung di Malaysia, dengan segala resiko yang harus mereka hadapi. Dalam konteks fenomena diatas, kesempatan kerja mampu mengalahkan rasa nasionalisme yang dipupuk secara dini dalam sistem kehidupan bernegara Indonesia. Perlakuan buruk yang diterima oleh Migran Muslim Minangkabau di Malaysia justru dianggap sebagai konsekuensi logis dari “ketidakpatuhan” mereka dan kurangnya “daya tawar” pemerintah Indonesia terhadap Malaysia.

Dalam penelitian ini, atau fokus permasalahan yang ingin dijawab merupakan elaborasi dari dua konsep kunci yaitu “Lapangan Kerja” dan “Nasionalisme”. Lapangan Kerja bertumpu pada pertanyaan tentang Motivasi kerja di Malaysia yang telah terbentuk di Selangor DE. Berdasarkan kesempatan kerja yang telah mereka (maksudnya : Migran Muslim Minangkabau) peroleh. Sedangkan Nasionalisme bertumpu pada pertanyaan mengenai persepsi Migran Muslim Minangkabau terhadap nasionalisme (ke-Indonesia-an) yang didalamnya include tentang dinamika persepsi mereka tentang pemerintah Indonesia Malaysia serta apakah timbul reduksi atau re-persepsi nasionalisme di kalangan Migran Muslim Minangkabau di dan Malaysia.

:: Merupakan Draft Tentatif Proposal Penelitian Kompetitif Terpadu. Diposting hanya sebagian kecil dari Proposal lengkap. (c) Muhammad Ilham

Masa Depan Hubungan Bilateral Mesir-Israel

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Jatuhnya rezim Mubarak dan tewasnya lima tentara perbatasan Mesir (18/8/11) membuat masa depan hubungan Israel-Mesir yang sebelumnya ”sangat dekat” menjadi pertanyaan besar. Persepsi dan sentimen negatif sebagian masyarakat Mesir terhadap Israel semakin terlihat jelas. Tewasnya lima tentara Mesir yang diduga akibat terjangan peluru operasi militer Israel segera direspons secara keras oleh para pemimpin sipil maupun militer, dan ditanggapi secara keras oleh rakyat dan pemuda Mesir. Tuntutan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Israel yang mulai menguat pascarevolusi 25 Januari kini semakin memperoleh momentum emasnya setelah kerusuhan di depan kompleks Kedutaan Mesir di Giza, Kairo. Hubungan kedua negara sekarang mencapai titik terburuk selama 30 tahun terakhir. Bagi Mesir, mengubah hubungan dengan Israel bukanlah perkara sederhana. Di samping recovery stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan pascarevolusi masih jauh dari berhasil, Mesir harus mempertimbangkan berbagai implikasi yang sangat mungkin timbul akibat perubahan sikapnya terhadap Israel. Terlebih lagi kedekatan itu diikat oleh perjanjian internasional dengan level agreement.

Di tengah beratnya kondisi ekonomi saat ini, Mesir tentu sangat mem butuhkan bantuan keuangan dari AS, negara-negara Eropa, dan negara-negara Teluk yang selama ini mengalir deras kepada mereka. Bantuan itu merupakan ”imbalan” perdamaiannya dengan Israel dan dukungannya terhadap AS melawan Saddam Hussein, kekuatan-kekuatan poros Iran, dan gerakan radikal di kawasan. Siapa pun yang memerintah Mesir tentu mengerti betapa besar nilai bantuan itu di tengah situasi yang belum menentu seperti sekarang. Pemutusan hubungan dengan Israel, apalagi diikuti permusuhan dengannya, jelas berpengaruh besar terhadap keberlangsungan bantuan tersebut. Iran dan kekuatan-kekuatan yang berada di porosnya jelas tidak memiliki kemampuan finansial sebagaimana negara-negara di atas andaikata Mesir ingin mengubah haluan politik luar negerinya. Di tengah situasi politik dan militer di kawasan yang memanas, kendati euforia anti-Israel membuncah di kalangan rakyatnya, pemerintah Mesir tampaknya juga enggan terseret lagi ke arena perang yang destruktif. Pengalaman Mesir berperang melawan Israel pada 1948 hingga 1973 menyadarkan mereka akan akibat-akibat perang. Perang bukan hanya menghancurkan mesin-mesin militer, tapi juga menghancurkan kehidupan, peradaban, dan masa depan. Pemerintah dan sebagian rakyat Mesir sangat sadar bahwa perang telah membuat mereka menderita, miskin, kehilangan sanak saudara dan kebersamaan, serta hanya mewariskan dendam. Mesir sangat kecil kemungkinan untuk kembali pada posisi itu lagi. Apalagi, kini persenjataan Israel semakin kuat dan diyakini telah berkapasitas nuklir.

Perubahan secara ekstrem hubungan Mesir-Israel dalam waktu dekat ini mungkin tidak terjadi, apalagi Mesir saat ini di bawah pemerintahan transisi. Meski demikian, isu hubungan dengan Israel hampir bisa dipastikan menjadi salah satu tema paling menonjol dalam pemilu Mesir sekitar dua bulan ke depan. Kecurigaan mengenai peran Israel dalam berbagai kerusuhan di Mesir, tindak spionase, dan upaya-upaya ”membelokkan” arah revolusi akan menjadi bunga-bunga kampanye yang menarik massa. Fundamental Sebaliknya, Israel memandang hubungan baik dengan Mesir adalah kepentingan fundamental negara dan bangsa yang sulit memperoleh sekutu kawasan tersebut. Karena itu, mereka berupaya keras dan sekuat tenaga mempertahankan hubungan dekat itu. Tel Aviv tampak sekali tidak mau terpancing dengan reaksi keras Mesir terhadap kematian lima tentaranya. Mereka juga berupaya hati-hati mengomentari peristiwa di kedutaan mereka di Kairo. Ada pejabat Israel yang menyatakan bahwa itu adalah upaya pihak eksternal untuk mengeruhkan hubungan Mesir-Israel. Sikap itu tentu masuk akal karena hubungan perdamaian dengan Mesir bukan hanya berkaitan dengan kerja sama ekonomi, terutama impor gas alam, namun juga berkaitan erat dengan eksistensi dan masa depan mereka di kawasan. Bagaimana mereka akan terus bertahan hidup sementara mereka dikepung musuh dari segala arah.

Perdamaian dengan Mesir adalah harapan mereka untuk dapat hidup normal dengan bangsa-bangsa di kawasan, kendati entah kapan itu terwujud. Israel juga sadar dengan kekuatan dan pengaruh Mesir baik di Timur Tengah, dunia Islam, bahkan di negara-negara Barat. Faktanya, ketika Mesir berhenti berperang dengan Israel, tidak ada lagi negara Arab yang berani melakukan ofensif terbuka terhadap negara itu. Bahkan, ketika Gaza dibombardir dan Lebanon Selatan diserang dengan segenap tragedi kemanusiaannya, tak satu pun negara Arab yang terjun ke arena perang, apalagi berani pasang badan. Kepentingan Israel lain adalah hubungan baik dengan Mesir akan menjadi jembatan Israel untuk membangun hubungan normal dengan negara-negara Arab, Afrika, dan dunia Islam. Jelas, Tel Aviv dan masyarakat Israel sangat kecewa dengan respons reaktif rakyat Mesir. Namun, mereka jelas tidak akan mengorbankan hubungan strategis itu hanya demi sebuah pembalasan emosional.

Sumber : (c) I. Burdah/Padang Ekspres/September 2011
Foto : abcnews.com

Kamis, 15 September 2011

Mutiara Cemerlang Peradaban Islam

Oleh : Muhammad Ilham

Artikel ini merupakan penggalan dari makalah Penulis (Pengantar Ketua Redaksi) dalam Jurnal Khazanah Fakultas Adab-Ilmu Budaya Islam IAIN Padang Vol. 1 No. 5/Januari-Juni 2011.

Ada diktum sederhana dalam sejarah, bila anda membaca sejarah peradaban-perdaban bangsa di dunia, anda akan temukan sebab kemajuan dan kehancuran sebuah peradaban. Kuncinya adalah belajar. Kecepatan belajar dari kesalahan dan mempelajari kesuksesan out-group adalah point dalam menentukan nasib sebuah bangsa - bak kata Ibnu Khaldun - akan memimpin, tertinggal atau terhapus dalam sejarah. Peradaban Mongol, misalnya, pernah sempat muncul dalam lembaran sejarah peradaban dunia, bahkan "menggetarkan". Tapi kemudian peradaban yang founding father- nya Jengis Khan ini, lenyap-terhapus dalam sejarah. Peradaban Indian dengan Aztek, Inca dan Maya itu, pernah berkilauan dalam lembaran sejarah peradaban ummat manusia. Tapi hari ini hanya tinggal nama. Bahkan ada pula peradaban canggih pada masanya yang terdengar oleh kita, tapi jejaknya hingga hari ini susah untuk ditemukan. Pada akhirnya, peradaban yang (dikatakan) canggih pada masanya tersebut hanyalah berakhir pada mitos. Inti dari semua itu adalah, kecepatan dan semangat belajar pendukung peradaban bersangkutan, menjadi hal penting dalam menjamin apakah peradaban tersebut akan terus brkembang atau kemudian, hanya jadi catatan manis lembaran sejarah. Peradaban Islam, Barat dan Jepang dianggap sebagai 3 peradaban dengan kemampuan dan kecepatan belajar yang amat tinggi. Peradaban Islam, misalnya, tidak hanya ada karena tuntunan semata dari Allah SWT. lewat Nabi dan kitab suci. Tapi lebih dari itu, peradaban ini mampu menjadi estafet, penyelamat dan filter dari peradaban-peradaban besar sebelumya seperti peradaban Romawi dan Yunani Klasik. Peradaban Barat-pun demikian juga adanya. Mereka tak hanya dianggap sebagai "pewaris sah" peradaban Romawi dan Yunani, tapi mereka juga dipandang sebagai peradaban yang menerima tongkat estafet kejayaan Islam yang (mulai) memudar. Sementara itu Peradaban Jepang, memang belum bisa disebut meneruskan estafet dari peradaban Barat. Tapi meskipun demikian, peradaban Jepang ini dianggap sebagai simbol semangat belajar yang luar biasa. Bahkan Jepang dianggap sebagai trigger bagi munculnya - dalam istilah John Naisbitt (1995) - the next civilization, Asia Timur.

Pada abad ke-7 M., ketika dunia sedang berada dalam bahasa Philip K. Hitti (1982) - Dark Ages - Abad-Abad Kegelapan (khususnya kegelapan terhadap apresiasi terhadap potensi intelektualisme dan humanisme), di semenanjung Arab muncul "harapan" dari seorang buta huruf tapi jenius, Muhammad SAW. Ia dilantik "langit" untuk memimpin perubahan dunia. Muhammad SAW. tidak hanya dianggap sukses dalam menyebarkan agama, ia juga memimpin sebuah peradaban, demikian kata Michael H. Hart (1981) dalam 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Sampai abad ke-16, menara peradaban Islam makin menjulang terang ke seantero dunia. Peradan ini bermula dari Mekkah dan Madinah. Muhammad SAW. memimpin dan merubah bangsa yang (pada awalnya) suka berperang menjadi bangsa yang tangguh dan smart. Ia memimpin otak-otak cemerlang bangsa Arab yang hanya butuh sedikit polesan dan lecutan motivasi untuk melejit. Orang-orang Arab ini tidak hanya duduk melingkari sang Nabi untuk mendengar tuturan kata-katanya. Mereka tak hanya merekamnya dengan sempurna di otak mereka (al-Qur'an dan Hadits), tapi juga mempraktekkan ilmu yang mereka dapatkan. Karena itu, dalam masa yang tak terlalu lama, nabi Muhammad SAW. telah menguasai jazirah Arab sebelum ia wafat. Nabi melihat masa depan peradaban Islam dari wajah para sahabat-sahabatnya. Para sahabat-sahabat ini telah dimotivasi oleh nabi Muhammad SAW. untuk mengajar-belajar dan terus mengajar-belajar. Bangsa Arab kemudian tak hanya betul-betul kuat dari olah fisik dan persenjataan, mereka juga dibekali motivasi penguasaan ilmu dan motivasi iman yang tinggi. Tak mengherankan apabila belum sampai setengah abad, mereka sudah berhadap-hadapan dengan "negara super power" kala itu, Romawi dan Persia. Benderang agama sekaligus semangat ilmu bak kecepatan cahaya, segera menjalar ke seluruh negeri yang ditaklukkan.

Empat khalifat pasca nabi Muhammad SAW. yang dikenal dengan istilah Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib) tidak hanya meneruskan keimanan (dalam hal ini : Islam sebagai din), tapi mereka juga belajar dan mengajarkan bagaimana mengelola negara yang teramat luas. Dinasti Umayyah kemudian melanjutkan kesuksesan Khulafaur Rasyidin ini dengan meletakkan pondasi pemerintahan yang kuat dan ilmu yang cemerlang. Pondasi tradisi ilmiah ini kemudian disempurnakan pada masa Dinasti Abbasiyah. Maka tak mengherankan apabila banyak lahir ilmuan-ilmuan sekaligus ulama-ulama pada masa-masa tersebut. Dinasti Abbasiyah menyulap Baghdad menjadi metropolis Asia, pada masanya. Sementera itu, Dinasti Umayyah juga menjadikan kota-kota di Spanyol seperti Andalusia, Cordoba dan Toledo serta Malaga menjadi "bintang gemerlap" di Eropa. Sejarawan Hendri S. Lucas mengatakan bahwa kekhalifahan Abbasiyah barangkali merupakan periode yang paling makmur dalam sejarah peradaban ummat manusia, bahkan hingga hari ini .... Ini kata Lucas, bukan kata saya. Baghdad bukan hanya menjadi centrum ilmu pengetahuan, tapi juga menjadi pusat ekonomi, penghubung pusat-pusat ekonomi lainnya. Baghdad bak pemilik silk road, Jalur Sutera. Kata Lucas, Baghdad-Bashrar-Iskandariyah Mesir seumpama New York-Tokyo-London pada aman sekarang. Peradaban ini mengembankan kertas yang mereka pelajari dari peradaban Cina, berdagang sampai ke Nusantara, membangun perindustrian dan pertanian. Bahkan pada masa ini, para petani telah menggunakan sistem silang, irigasi, kanal, dan pupuk penyubur tanah.

Islam di Andalusia-pun tak kalah ilmiah. Bahkan saking cintanya terhadap ilmu pengetahuan, salah seorang khalifahnya, Al-Hakam II, dikenal sebagai khalifah yang memiliki perpustakaan pribadi dengan 400.000 koleksi buku. Ia mendorong penterjemahan dan pencarian buku-buku terbaik. Pada masa itu pula, Cordoba tak kalah maju dibandingkan dengan Baghdad. Kertas dan buku adalah salah satu kunci kemajuannya. Dari tradisi Baghdad dan Andalusia ini, lahir ilmuan-ilmuan besar yang nama mereka hari ini masih dianggap otoritatif seperti Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat, An-Nafis untuk ilmu kedokteran (sirkulasi darah), Ibnu Haitam yang dianggap sebagai Bapak Ilmu Optik, si penemu obat cacar Ar-Razi, Al-Farabi filosof yang ahli musik, Al-Battani si ahli astronomi, Ibnu Batuta yang dipandang sebagai ahli ilmu bumi serta penjelajah dunia yang populer, Al-Khawarizmi yang dianggap sebagai matematikus penemu angka nol, dan Ibnu Sina yang wajahnya terpahat di gerbang masuk Universitas Paris Perancis. Ibnu Sina (Avissena) melahirkan buku Al-Qanuun (The Cannon) yang menjadi rujukan ilmu kedokteran dunia hampir 700 tahun lamanya karena tak tergantikan. Demikian juga dengan Ibnu Khaldun sang bapak Ilmu Sosial. Khusus Ibnu Khaldun, karena masterpiece-nya Mukaddimah begitu otoritatif dalam kajian ilmu sosial (bahkan hingga sekarang), tak salah kemudian, Adam Smith, "mbah" Kapitalisme dalam bukunya Nation of Wealth yang asli mencantumkan nama Ibnu Khaldun sebagai inspiratornya.

:: Rasanya cerita-cerita manis peradaban diatas, bisa ditulis menjadi panjang-terbentang. Tapi point yang bisa kita petik adalah, peradaban tersebut menjadi besar, karena pendukung-pendukung peradaban memiliki kecepatan belajar dari kesalahan dan mempelajari kesuksesan out-group untuk mengembangkan potensi diri mereka.

Koran Tanpa Kertas

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

CEO sekaligus penerbit The New York Times, Arthur Sulzberger Jr mengungkapkan bahwa korannya tidak akan terbit lagi. Dia akan konsentrasi ke edisi online. Dalam beberapa tahun terakhir sirkulasi koran di Amerika Serikat turun terus sekitar 27 persen per tahun. Demikian kita kutip sebagian artikel di majalah Info Kita, majalah spesial untuk para pensiunan Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Penulisnya Budiarto Shambazy (BAS), putera Amir Shambazy dan ibunya Eli, asal nagari Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. BAS melanjutkan tulisannya: Menurut jajak pendapat Pew Research Centre Juli 2010 sekitar 64 persen responden di Amerika Serikat yakin koran dan media cetak lainnya akan punah tahun 2050. Mereka yakin pada tahun tersebut – sekitar 40 tahun lagi – masyarakat memasuki dunia tanpa kertas (paperless future). Berarti eksistensi kertas sebagai media tradisional, makin terancam. Meski begitu, berita sebagai produk tetap akan laris dilahap pembaca. Penerbit koran memerlukan berbagai inovasi untuk bertahan hidup antara lain dengan membangun platforms lain seperti media elektronik ataupun online. Ada asumsi peranan media tradisional berkurang drastis karena diambil alih media sosial seperti Twitter atau Facebook. Jika ingin tetap bertahan, koran dan media cetak lainnya mesti menyajikan berita yang berkualitas. Ia hanya multidimensional mendalam, mengandung analisa mencerahkan open ended dan menggiring opini masyarakat, pemahaman duduk perkara sesungguhnya dari sebuah peristiwa. Satu hal lagi yang tak kalah penting visualisasi yang lebih dari biasa dengan foto-foto istimewa, grafik-grafik menarikdari sajian data terinci. Semua hanya bisa dilakukan dengan lay-out koran mutakhir.

Itulah yang dilakukan koran-koran terkemuka Amerika Serikat. Meskipun bisnis media cetak cenderung merugi, tapi pers di negeri Paman Sam menjadi sumber kecemburuan dunia, karena memiliki: Pertama, misi yang kuat (sense of mission) untuk membayar kepentingan umum. Kedua, secara prinsipil mampu mempertahankan kemerdekaan editorial sekalipun mengalami tekanan dari kekuasaan dunia bisnis dan penerbit. Ketiga, kemerdekaan pers dilindungi oleh konstitusi. Kemerdekaan pers itulah yang sejak tahun 1919 menfungsionalkan pers sebagai pertama sumber berita. Kedua. bagian dari eksperimentasi untuk melayani kepentingan umum, dan ketiga mengawal demokrasi. Warga Amerika Serikat tetap membutuhkan pers yang merdeka dan independen di era globalisasi. Untuk menghadapi tantangan di abad ke-21, pers punya “alat pelindung” yakni jurisprudensi dalam bentuk keputusan-hukum/konsitusional berbagai kebijakan publik yang bertujuan meningkatkan kinerja wartawan dari kultur profesionalisme. Dengan kata lain, sebenarnya kehidupan pers di negara demokrasi juga appliable di negara demokrai lainnya, termasuk Indonesia. Empat sistem pers ini amat berkaitan dengan hubungan yang saling mempengaruhi antara media massa dengan kekuasaan. Sistem yang otoriter dari komunis Uni Sovyet memanipulasi media untuk alat propoganda. Sedang sistem yang libertarian menyanjikan pers ala Barat. Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang tetap menganut sistem yang bertanggung-jawab sosial dengan sejumlah varian/kombinasi yang diambil dari sistem otoriter.

Di setiap negara demokratis, media disebut sebagai the fourth estate, pilar kekuatan yang keempat setelah kekuasaan/absolut pemerintahan, the ruling elite dan masyarakat umum. Setiap kekuatan (power) memanfaatkan media melalui cara-cara kursif maupun persuasif dalam rangka diseminasi kebijakan-kebijakan publik kepada rakyat. Power tidak lagi dimonopoli pemerintah, the ruling elite, masyarakat umum dan media saja. Aktor-aktor bukan negara, seperti lembaga internasional (PBB), Uni Eropa atau berbagai LSM internasional, entitas bisnis, mulai dari MNC (multi national corporation) sampai SME (small and medium enterprises), institut-institut politik (parpol, gerilyawan, pemberontak, kelompok terorisme, tokoh informal atau berbagai LSM lokal maupun komunitas-komunitas kecil (misalnya koperasi atau kelompok petani/nelayan) semakin membutuhkan media. Sebaliknya media sebagai industri raksa juga membutuhkan pemberitaan mengenai peranan aktor-aktor bukan negara tersebut. Ruang publik menjadi tempat pertemuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan masing-masing yang saling menguntungkan. Setiap pihak berhak atas ruang publik yang terbuka lebar dan tersedia setiap saat dalam mencapai tujuan masing-masing. Di ruang publik berlaku pameo who gets what, when and how. Pada dasarnya setiap pihak yang berkompetisi di ruang pulik ingin bersama-sama menciptakan perimbangan kekuatan yang harmonis, stabil dan jinak. Era reformasi mencabut aturan SIUP (Surat Izin Usaha Izin Penerbitan) yang tidak demokratis. Namun masih didapat berbagai bentuk pembatasan atau kontrol oleh pemerintah terhadap pers yang berkaitan dengan isu-isu sensitif seperti hubungan antar agama, pornografi, dan sebagainya. Kehidupan media Indonesia diatur dengan UU Nomor 40/1999. Pasal 9 Ayat 1 mengatakan setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers, dan ayat 2 mengatakan setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum. Pasal 4 ayat 2 menegaskan “terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran pembreidelan atau pelarangan penyiaran”. Tanggung-jawab sosial pers tercermin dari pasal 5 ayat 1 yang mengatakan pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini, dengan menghormati norma agama, dan rasa kesusilaan masyarakat serta praduga tidak bersalah.

Sumber/referensi : (c) Martias Doesky Pandu/Padang Ekspres September 2011
Foto : www.bcpiweb.com

Minggu, 04 September 2011

Hilangnya Kehangatan Institusional

Oleh : Muhammad Ilham

Masjid-masjid mereka ramai, tapi kosong dari petunjuk !
(Baginda Muhammad SAW.)

"Kita memiliki sistem politik yang cukup maju dibandingkan negara-negara lain, tapi mengapa tiap hari kita menyaksikan diberbagai sudut negeri membahana ketidakpuasan publik terhadap sistem pemerintah kita ? ..... Beberapa tahun terakhir ini, kita memiliki Presiden yang hampir tiap hari dicaci maki, apapun yang dikerjakannya, selalu dilihat dari sudut yang tidak positif ? ..... Dari waktu ke waktu, infrastruktur pendidikan senantiasa mengarah kepada kemajuan, kurikulum seakan-akan terus disempurnakan, tapi mengapa produk pendidikan tidak seramah tempo doeloe yang nyata-nyata tidak sesempurna sekarang, setidaknya dari aspek infrastruktur dan sistem-nya?", demikian pertanyaan runtut dari seorang kawan saya, sepulang dari musholla, (tentunya) sambil duduk-duduk di kedai dengan minuman favorit, "Teh Pucuk Harum". Teh yang membuat kita "berkejar-kejar" dengan ulat bulu. Diskusi kami begitu hangat. Tentunya tidak sehangat pengamat-pengamat politik "jagoan" di beberapa TV belakangan ini. Diskusi yang boleh "sekehendak hati" memberikan analisis. Maklum, mayoritas kapasitas pesertanya sulit untuk memahami istilah politik pencitraan, surat palsu Mahkamah Konstitusi dan beberapa istilah yang lagi "trend" dalam jagad politik Indonesia belakangan ini. Mereka lebih mudah memahami : "mengapa Malaysia dan Singapura jauh lebih maju dibandingkan Indonesia atau mengapa Sri Mulyani makin lama semakin cantik". Ah .... bingung kan ?

Tapi sudahlah, kembali ke pertanyaan runtut kawan saya tadi. (Sejumlah) pertanyaan yang jawabannya membuat saya teringat dengan cendekiawan Celia Haddon. Haddon (1990: 67) pernah berkata : "Banyak energi dan dana telah dihabiskan untuk membiayai pembangunan gedung pendidikan, kelas-kelas yang representatif dan metode pengajaran yang selalu di up-date. Tapi, sebagian besar ternyata sia-sia. Gedung, ukuran sekolah, perbedaan administrasi dan sistemnya tidak berpengaruh pada kualitas lulusan". Mengapa hal ini terjadi ? Haddon melihat bahwa ada "hal lain" yang sebenarnya tidak begitu menonjol, tapi sangat penting dan sering luput untuk dihadirkan, yaitu "kehangatan institusional". "Kehangatan institusional" itu bukanlah suasana sekolah yang terletak pada bentuk luar bangunan ataupun organisasi yang mempengaruhi murid. Ia terletak pada suasana pada moril keseluruhan guru yang bersedia memberikan waktu ekstra dan perhatian tambahan kepada siswanya, yang menekankan dorongan dan puji-pujian bukan caci-makian". Dalam konteks Haddon ini, kita bisa memotret apa yang terjadi dalam ranah politik, bahkan ranah praktek keagamaan. Dalam ilmu politik, struktur politik pada dasarnya dibangun untuk menegakkan demokrasi. Semua ahli politik, sepakat dengan hal ini. Tetapi lihatlah, para penguasa dipilih dengan (umumnya) memanipulasi simbol-simbol politik serta informasi. Dan (sekali lagi) lihatlah, panggung politik jadi panggung sandiwara yang tidak menghibur. Seakan-akan publik "tak tahu", padahal mereka cerdas. Para penguasa masuk dalam panggung politik dengan membawa sejumlah janji-janji. Publik dilihat sebagai angka-angka. Pemimpin, dalam bahasa Buya Syafii Ma'arif, bukan lagi memimpin, tapi memerintah.

Sementara itu agama juga telah "bermetamorfosis" menjadi sejumlah ritus, upacara bahkan entertain. Dalam bahasa metafora Nabi Mulia Baginda Muhammad putra tersayang Abdullah, "masjid-masjid mereka ramai tetapi kosong dari petunjuk". Kesalehan tidak jarang justru digunakan untuk menyembunyikan keangkuhan dan menutupi penyelewengan. Bahkan, publik tak bisa dibohongi - setidaknya demikian yang saya "tangkap" dari diskusi di kedai malam ini - bahwa lembaga-lembaga agama menjadi lembaga-lembaga yang memberlakukan kasih dan "kehangatan" agama hanya sebagai komoditas. Teks-teks kitab suci digunakan sebagai amunisi untuk "menembaki" orang-orang yang dianggap sesat. Sebagaimana halnya politik, agama pada akhirnya telah kehilangan "kehangatan". "Agama, kata Baginda Nabi Muhammad SAW., adalah kecintaan dan kehangatan yang tulus. Tak ada agama kalau sudah kehilangan kecintaan dan kehangatan yang tulus tersebut". Wallahu A'lam bish Shawab. (Setelah) letih berdiskusi mengenai ini, kami-pun mulai ma-ota-ota ringan. Tentang bola kaki Indonesia yang tak maju-maju, muballigh pop, istri Nazaruddin yang cantik-ciamik, celotehan Sujiwo Tedjo tentang "aura" ibu Ani Yudhoyono dan entah apa lagi.



Foto : americangallery.com

Umar Patek, Al-Qaeda & Terorisme

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Keberadaan Umar Patek, salah seorang tokoh teroris dari Indonesia yang ditangkap intelijen Pakistan ISS pada 25 Januari 2011 di Abottabat masih mengundang tanda tanya. Beberapa pejabat dan pengamat mengatakan Umar Patek alias Umar Kecil alias Umar Arab alias Abu Syekh alias Zacky itu diduga akan bertemu dengan Osama bin Laden yang akhirnya kemudian diketahui berada di kota yang sama dan akhirnya disergap Navy Seals hingga tewas. Pejabat intelijen AS saat itu meragukan Umar Patek yang berada di Abottabad akan bertemu dengan Osama. Walau dia tokoh teroris kelas atas yang berasal dari Indonesia, dan kepalanya dihargai sebesar USD 1 juta, penulispun sejak awal ragu Umar mampu bertemu dan mendapat clearance berhubungan dengan tokoh tertingggi Al Qaeda tersebut yang disembunyikan dengan security tingkat tinggi. Osama menjadi ikon teroris internasional, musuh bebuyutan AS nomor satu dan terus diburu karena dituduh bertanggung jawab atas serangan di WTC 911. Jaringan Al Qaeda selama 10 tahunan mampu menyembunyikan tokoh yang paling berpengaruh dan menakutkan itu dari kejaran intelijen AS. Teka teki seputar keberadaan Umar Patek di Pakistan agak terungkap setelah CIA berhasil membunuh tokoh nomor dua Al-Qaeda, Atiyah Abd al-Rahman pada hari Senin 22 Agustus 2011 di Waziristan, wilayah barat laut Pakistan. Dia termasuk yang tewas dalam sebuah serangan pesawat tanpa awak. Atiyah, ahli bahan peledak, dan berumur sekitar 38 tahun diketahui sebagai tokoh penting kedua di Al Qaeda sejak 2006. Dia pada masa lalu adalah penghubung utama organisasi Al-Qaeda di Irak dan Iran, serta kelompok Salafis Aljazair. Pada bulan Januari, jaringan Aljazair berubah nama menjadi Al-Qaeda Maghreb Islam.

Posisi Atiyah yang demikian tinggi dan penting pada organisasi Al Qaeda diketahui CIA setelah Navy Seals Six Team melakukan penyerangan ke persembunyian Osama di Abottabad. File yang ditemukan di kediaman Osama menyebutkan peran Atiyah adalah tokoh operasional paling penting yang dipercaya oleh Osama bin Laden. Keberadaan Atiyah di Waziristan adalah dalam rangka memimpin sisa-sisa Al-Qaeda, dan dia bertindak sebagai penghubung penting antara jajaran yang lebih rendah dari organisasi Al Qaeda dan pemimpin tertinggi, termasuk Osama bin Laden sebelum kematiannya pada bulan Mei lalu. Seperti diberitakan, Umar Patek saat akan ditangkap sedang berhubungan dengan Shehzad Tahir, anggota Al Qaeda (Afiliasi Asia Tenggara) yang saat ditangkap sedang menjemput dua militan dari Prancis, yang baru tiba di Lahore. Mereka merencanakan akan bergerak bersama-sama menuju ke Warziristan. Keberadaan mereka sudah tercium intelijen Pakistan, dan ketiganya kemudian ditangkap. Setelah itu baru Umar Patek disergap. Jadi sangat besar kemungkinan adanya upaya Umar Patek sebagai perwakilan jaringan terorisme di Indonesia yang sedang melakukan setting ulang dalam membangun hubungan dengan Al Qaeda melalui Atiyah Abd al-Rahman tersebut. Dengan tewasnya Atiyah, menurut pejabat intelijen AS adalah pukulan besar bagi kelompok teroris. Kekuatan dan kemampuan Al Qaeda untuk beroperasi secara internasional dinilai terus menurun. Menhan AS Leon Panetta mengatakan kemenangan akan dicapai apabila mereka terus berhasil dalam melakukan serangan-serangan serupa.

Dalam siaran persnya Leon Panetta mengatakan, "Now is the moment, following what happened with bin Laden, to put maximum pressure on them. Because I do believe that if we continue this effort we can really cripple al-Qaida as a major threat." Akan tetapi ada yang perlu diingat oleh Menhan Panetta dan otoritas intelijen AS, bahwa perang antara AS dengan Al-Qaeda nampaknya akan terus berlangsung, walaupun serangan langsung ke mainland AS tampaknya agak sulit dilakukan Al Qaeda. Perang dan balas dendam kemungkinan justru akan terjadi di negara ketiga, seperti ancaman yang dilakukan dan telah dibuktikan oleh jaringan Al-Qaeda di Irak yang menyatakan akan menyerang 100 sasaran sejak pertengahan puasa Ramadhan sebagai balas dendam kematian Osama bin Laden. Keberadaan Umar Patek, salah seorang tokoh teroris dari Indonesia yang ditangkap intelijen Pakistan ISS pada 25 Januari 2011 di Abottabat masih mengundang tanda tanya. Beberapa pejabat dan pengamat mengatakan Umar Patek alias Umar Kecil alias Umar Arab alias Abu Syekh alias Zacky itu diduga akan bertemu dengan Osama bin Laden yang akhirnya kemudian diketahui berada di kota yang sama dan akhirnya disergap Navy Seals hingga tewas. Pejabat intelijen AS saat itu meragukan Umar Patek yang berada di Abottabad akan bertemu dengan Osama. Walau dia tokoh teroris kelas atas yang berasal dari Indonesia, dan kepalanya dihargai sebesar USD 1 juta, penulispun sejak awal ragu Umar mampu bertemu dan mendapat clearance berhubungan dengan tokoh tertingggi Al Qaeda tersebut yang disembunyikan dengan security tingkat tinggi. Osama menjadi ikon teroris internasional, musuh bebuyutan AS nomor satu dan terus diburu karena dituduh bertanggung jawab atas serangan di WTC 911. Jaringan Al Qaeda selama 10 tahunan mampu menyembunyikan tokoh yang paling berpengaruh dan menakutkan itu dari kejaran intelijen AS.

Teka teki seputar keberadaan Umar Patek di Pakistan agak terungkap setelah CIA berhasil membunuh tokoh nomor dua Al-Qaeda, Atiyah Abd al-Rahman pada hari Senin 22 Agustus 2011 di Waziristan, wilayah barat laut Pakistan. Dia termasuk yang tewas dalam sebuah serangan pesawat tanpa awak. Atiyah, ahli bahan peledak, dan berumur sekitar 38 tahun diketahui sebagai tokoh penting kedua di Al Qaeda sejak 2006. Dia pada masa lalu adalah penghubung utama organisasi Al-Qaeda di Irak dan Iran, serta kelompok Salafis Aljazair. Pada bulan Januari, jaringan Aljazair berubah nama menjadi Al-Qaeda Maghreb Islam. Posisi Atiyah yang demikian tinggi dan penting pada organisasi Al Qaeda diketahui CIA setelah Navy Seals Six Team melakukan penyerangan ke persembunyian Osama di Abottabad. File yang ditemukan di kediaman Osama menyebutkan peran Atiyah adalah tokoh operasional paling penting yang dipercaya oleh Osama bin Laden. Keberadaan Atiyah di Waziristan adalah dalam rangka memimpin sisa-sisa Al-Qaeda, dan dia bertindak sebagai penghubung penting antara jajaran yang lebih rendah dari organisasi Al Qaeda dan pemimpin tertinggi, termasuk Osama bin Laden sebelum kematiannya pada bulan Mei lalu.

Seperti diberitakan, Umar Patek saat akan ditangkap sedang berhubungan dengan Shehzad Tahir, anggota Al Qaeda (Afiliasi Asia Tenggara) yang saat ditangkap sedang menjemput dua militan dari Prancis, yang baru tiba di Lahore. Mereka merencanakan akan bergerak bersama-sama menuju ke Warziristan. Keberadaan mereka sudah tercium intelijen Pakistan, dan ketiganya kemudian ditangkap. Setelah itu baru Umar Patek disergap. Jadi sangat besar kemungkinan adanya upaya Umar Patek sebagai perwakilan jaringan terorisme di Indonesia yang sedang melakukan setting ulang dalam membangun hubungan dengan Al Qaeda melalui Atiyah Abd al-Rahman tersebut. Dengan tewasnya Atiyah, menurut pejabat intelijen AS adalah pukulan besar bagi kelompok teroris. Kekuatan dan kemampuan Al Qaeda untuk beroperasi secara internasional dinilai terus menurun. Menhan AS Leon Panetta mengatakan kemenangan akan dicapai apabila mereka terus berhasil dalam melakukan serangan-serangan serupa.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita tidak bisa terus tinggal diam dan menanti munculnya serangan teror. Keberadaan Umar Patek di Pakistan yang menunjukkan kemungkinan setting ulang dukungan Al Qaeda ke teroris Indonesia perlu didalami. Memang kaitan keduanya baru merupakan sebuah indikasi, tetapi inilah indikasi analisa logik yang perlu didalami. Dalam beberapa serangan bom besar di Indonesia, serangan yang didukung Al Qaeda pada masa lalu kelasnya jelas berbeda dengan serangan teror lokal dengan bom sekelas molotov atau bom gendong gotri. Keberadaan dan eksistensi Amerika di Indonesia cukup bisa mengundang Al Qaeda datang ke negeri ini, karena memang disini sudah ada jaringan yang anti AS. Teroris pernah menyerang kepentingan dan simbol AS serta sekutunya sejak 2002 s/d 2009 dalam beberapa serangan bom bunuh diri. Terorisme jangan dilupakan, mereka bisa surut dan melakukan konsolidasi. Mereka mampu bersabar untuk menyerang sebuah target dan menunjukkan eksistensinya. Jarak waktu serangan bom Bali-2 pada 2005 hingga serangan terhadap JW Marriott-2 dan Ritz Carlton pada 2009 sekitar 3,5 tahun. Jadi apabila kita kurang waspada, meng-underestimate mereka, maka kita harus siap menerima kenyataan suatu saat bukan tidak mungkin akan terdengar lagi suara 'bum', dan kemudian beberapa dari kita menangis dan seperti biasa saling menyalahkan.

Sumber : P. Ramelan/detik.com. Foto : jppn.com

Minggu, 28 Agustus 2011

Mudik Lebaran : "Burung-Burung Rantau yang Senantiasa Rindu Kehangatan Sarangnya"

Oleh : Muhammad Ilham

" ...... Bila kita adalah burung yang terbang jauh di jagat kosmopolitan modern, tentu kita sadari dulunya kita pernah menjadi telur dalam cangkang. Kita sekarang adalah burung-burung rantau yang selalu rindu pada kehangatan sarang ... ! (YB. Mangunwidjaja)



Tradisi mudik berkait sebab akibat dengan fenomena merantau masyarakat urban, pastinya mudik merupakan "kerinduan primordial" terhadap kampung halaman. Tradisi ini bukan sesuatu tradisi yang kebetulan. Tradisi yang menyiratkan sekaligus makna religius dan sosiologis. Melalui ‘pulang kampung’ itu orang ingin kembali kepada keintiman diri melalui reuni kedekatannya dengan keluarga dan sanak saudara di kampung halaman. Pendeknya, fenomena sosial mudik merupakan cermin kerinduan untuk bersilaturahmi dalam kelekatan intim dengan Tuhan dan sesamanya. Semakin kita dibawa menjauh dari "titik awal" di mana kita berasal, bentangan dunia kita akan semakin luas, namun kehendak untuk kembali juga semakin besar. Di era gadget dan internet yang semakin memudahkan dan memanjakan kita untuk melakukan kontak melalui media-media jejaring sosial, bahkan untuk melakukan "komunikasi sekarang juga" dengan siapa pun di belahan dunia mana pun, justru akan membuat kita tambah memberi arti pada kerinduan pulang kampung. Perpindahan dan ruang jelajah kita hingga ke ujung-ujung pergaulan kosmopolitan, seperti kata Goenawan Mohammad, meregang kita dalam sentrifugal emosi untuk kembali ke pusaran diri yang intim. Sejatinya setiap manusia selalu merindukan keintiman. Kerinduan pada yang intim itu semakin membesar manakala kita semakin jauh menjelajah atau pergi merantau.











للّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْ

اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ اَللّه اَكْبَرُ،اَللّهُ اَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدِ

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْتَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ

تقبل الله منا ومنكم صيا منا وصيا مكم من العا أدين والفا أزين




Photo's : www.infomudik.com/vivanews.com/detik.com

Kamis, 25 Agustus 2011

Rancaknya Orang Minang "Saisoeak"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Banyak orang percaya tidak boleh berkodak bertiga karena akan tersua yang tidak elok nantinya. Ada yang percaya, kalau berfoto bertiga, salah seorang akan cepat mati. Tapi yang jelas gadis dari Padang Panjang ini telah melanggar tabu itu dengan berfoto bertiga. Kita tidak tahu bagaimana nasib ketiga gadis Minang ini setelah berfoto bersama. Tapi yang penting didiskusikan di sini adalah image yang terekam dalam foto ini, sebab foto adalah sebuah situs sejarah. Kelihatan betapa rancaknya pakaian pesta perempuan Minang di zaman dulu, tak kurang bagusnya dibandingkan dengan pakaian wanita Minang zaman sekarang. Kainnya sejenis songket balapak yang bagus. Demikian pula dengan baju, selendang dan hiasan kepalanya. Tikuluak gadis yang berdiri di tengah kelihatan agak berbeda modelnya: ada tambahan kain di tengahnya. Di leher mereka kelihatan untaian perhiasan dan di lengan terpasang galang gadang. Rupanya inilah bentuk pakaian tradisional Minangkabau dari Padang Panjang zaman dulu. Tak tahu apakah para wanita Padang Panjang sekarang masih suka memakai pakaian bagus seperti ini atau sudah nge-njeans dan nge-you can see. Banyak bukti visual menunjukkan bahwa setiap daerah di Minangkabau memiliki aksesoris pakaian yang khas, di samping ada ciri umum yang berlaku di seluruh Minangkabau.

Kalau kita lihat foto ini, kelihatan bahwa wanita Minang cukup dimanjakan dengan pakaian bagus. Jarang kita lihat dalam foto-foto klasik tempo doleoe perempuan Minang yang berpakaian tidak sandereh. Barangkali ini salah satu efek dari sistem matrilineal Minangkabau: wanita cukup dimanjakan. Foto ini tampaknya dibuat dengan sebagus mungkin. Artinya, penampilan ketiga gadis ini memang sudah dikondisikan sebelumnya. Bukan tidak mungkin foto ini dibuat di sebuah ‘studio’. Judul foto ini adalah “Minangkabausche vrouwen in nationale kleederdtracht, Padang-Pandjang” (Perempuan Minangkabau dalam pakaian nasional [adat] dari Padang Panjang). Foto ini berbentuk kartu pos, dicetak oleh Tjan Djoe Sien di Padang sekitar tahun 1910. Tampaknya foto ini telah dikirimkan dari Nederlandsch East Indies ke suatu tempat lain. Menurut keterangannya, kartu pos ini dikirim ke Beyrouth di Syiria. Perangko yang tertempel di kartu pos ini adalah salah satu seri perangko Hindia Belanda. Kalau ada pencinta filateli kita yang memiliki perangko seperti ini, tentu sudah bisa belasan juta pula harganya. Pakaian adalah salah satu identitas etnis. Jenis pakaian tertentu memberikan kepercayaan diri kepada pemakaianya. Pakaian berdampak kepada kepribadian. Orang mungkin tak sadar bahwa imperialisme budaya bisa dilakukan antara lain melalui pakaian. Jadi, alangkah bagusnya jika orang Minangkabau tetap menghargai pakaian tradisionalnya.

Sumber : (Suryadi – Leiden, Belanda/Sumber foto: http://www.worthpoint.com/)
(Judul merupakan improve dari Judul Aslinya : Gadis Minang dari Padang Panjang)

Rabu, 24 Agustus 2011

Identitas dan Makna Nama Bagi Etnik Minangkabau

Ditulis ulang : Muhammad Ilham
(c) Elfitra Baikoeni

Diantara sejumlah suku-suku bangsa yang ada di Nusantara, mungkin nama-nama orang Minang tergolong kompleks, aneh, variatif, longgar, tapi sekaligus fleksibel, unik, kreatif serta pragmatis. Orang Batak dan Manado selalu mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama kecil. Nama orang Maluku dan Papua dapat dikenali secara cepat dan familiar. Sebagai pengaruh Islam, nama orang Melayu lazim mencantumkan bin/binti sebelum nama orang tua. Orang Jawa dan Sunda lumayan ketat dalam memberi nama anak, sehingga kita nama-nama mereka memiliki kekhasan tersendiri. Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa langsung dikenali status sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan atau rakyat biasa. Nama depan “Andi” jelas berasal dari kaum ningrat Sulawesi Selatan (Bugis). Demikian juga halnya dengan kelompok masyarakat adat lain : Badui, Dayak, Sakai, Nias atau Mentawai, masing-masing memiliki karakter tersendiri yang mudah dikenali (addressed). Bagaimana dengan dengan Minangkabau??? Penamaan dalam masyarakat Minangkabau masa lampau kelihatannya berpegang pada falsafah “alam takambang jadi guru”. Orang-orang menamai daerah-daerah baru, kampung, dan nama-nama suku-suku dengan falsafah ini, termasuk juga menamai orang (anak) dan gelar. Tak mengherankan kiranya, kalau nenek moyang kita bernama : Kirai, Upiak Arai, Talipuak, Sirancak, Jilatang, Masiak, atau Jangguik. Kedengarannya aneh dan lucu, ya.. ??

Setelah Islam masuk dan berkembang, mulai pula nama-nama orang Minang berubah menjadi kearab-araban (Islam). Nama-nama seperti ini, contohnya : Mohammad Attar, Mohammad Natsir, Saiful, Bahri, Mochtar, Ali, Amir, Arifin, Ismail, Aziz, Fauzah, Hamid, M. Rais, Zakiah, Ibrahim, Idris, Rasid, Sofyan, Dahlan, Fatimah, Aminah, Maimunah, Hayati, Nurhasanah, Nuraini, Saidah, dst.
Pasca takluknya peristiwa PRRI-Permesta, orang Minang mengalami tekanan mental luar biasa dari pemerintahan Jakarta, banyak diantara mereka kemudian memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau. Setidaknya, demikian pendapat yang tertulis dalam buku “Merantau”-nya sosiolog Mochtar Naim. Mulai pula orang berusaha menanggalkan identitas dan label keminangannya, salah satu lewat perubahan nama. Tak sedikit orang Minang memiliki nama yang kejawa-jawaan, ada seperti nama Eropa, Parsia, atau Amerika Latin. Sekedar contoh, seorang pejuang pemberontak PRRI yang semula bernama Bastian St. Ameh, kemudian merantau ke Jawa dan berhasil jadi pengusaha sukses : Sebastian Tanamas. Ada “urang awak” bernama Revrisond Baswir, ekonom UGM yang terkenal. Beberapa nama yang ikut menjadi calon gubernur Sumbar tempo hari bernama ; Leonardy Armaini, Jeffry Geovanni dan terakhir siapa kira kalau Irwan Prayitno itu adalah putra asli Kuranji, Padang? Saya berkali-kali berusaha meyakinkan orang-orang tua di kampung halaman, kalau Irwan Prayitno bukan orang Jawa, pada saat Pilkada berlangsung. Mungkin mereka kuatir dengan “trauma” masa lalu, pada penghujung Orde Lama banyak sekali pejabat tinggi di Ranah Minang yang di”drop” dari Jakarta dan berasal dari etnis Jawa.

Dalam pemberian nama kepada anak orang Minang sangat pragmatis tapi kreatif. Di SD saya punya kawan bernama hebat, John Kennedy, sayang dia sempat tinggal kelas. Waktu kuliah teman akrab saya bernama Socrates, asal Labuh Besilang Payakumbuh, yang waktu lahir kakek yang memberinya nama terkagum-kagum pada pemikiran Filsafat Yunani. Semula saya kira dia orang Tapanuli, namanya Hardisond Dalga, ternyata dia dari Singkarak dan nama belakang adalah nama ayah-bunda ; Dalimi-Gadis.
Ada lagi kawan bernama Ida Prihatin, karena waktu melahirkan orang tuanya mengalami masa-masa ekonomi susah. Indah Elizabeth, Indah namanya dan waktu lahir ditolong oleh bidan Tionghoa yang ramah bernama Elizabeth. Dian Bakti Kamampa, kata terakhir bukan nama daerah melainkan akronim dari “Kepada Mama dan Papa”, juga ada Taufik Memori Kemal, menurut cerita orang tua yang memberi nama tersebut, dia selalu terkenang (teringat) kepada komandan seperjuangan yang gugur pada Revolusi Fisik Kemerdekaan bernama “Kapten Kemal”. Juga menarik seorang mahasiswa bernama M. Batar. Sudah pasti M tersebut adalah Mohammad, dan “Batar” mungkin saja diambil dari kata bahasa Arab, begitu pikir saya selama bertahun-tahun. Tetapi kemudian ketika sesi "mukaddimah" saat dia ujian skripsi, dia menceritakan kisah dibalik nama tersebut (karena memang ada dosen yang iseng nanya arti namanya). Singkatnya M. Batar artinya; “mambangkik batang tarandam”, itulah nama yang sekaligus menjadi misi hidup laki-laki berperawan kurus ini. Kalau kita rentang, akan banyak kisah-kisah seterusnya dibalik pemberian nama Orang Minang. Nama-nama singkatan/akronim bagi orang Minang sudah mentradisi. Salah satu “perintis”nya adalah Buya Haji Abdul Malik Karim Amarullah, yang menyingkat namanya jadi HAMKA. Setelah itu tak sedikit yang meniru, memendekkan nama panjangnya menjadi akronim atau singkatan. Ada Pak AR, Buya ZAS, STA, HAP, HAKA, Zatako (Zainudin Tamir Koto).

Yang menarik ada nama yang sering diasosiasikan sebagai khas Minang, karena nyaris tak dijumpai pada di etnik lain, yakni nama yang mengandung atau ber-akhiran …Rizal. Sampai sekarang penulis juga belum tahu pasti dari mana asal usul tersebut. Sebutlah misalnya ; Rizal, Rizaldo, Rizaldi, Afrizal, Erizal, Syamsurizal, Syahrizal, Endrizal, Masrizal, Syafrizal, Hendrizal, Efrizal, Nofrizal, dst.
Memasuki pertengahan tahun 1980-an, ketiga pemerintahan orde baru sedang puncak-puncaknya, mulai pula “trend” nama anak berbau kebarat-baratan. Ada yang bernama Alex, Andreas, Hendri(k), Anthon(y), Roni, Yohanes, Octavia, Octavianus, Matius, Agustin, Angela, Monica, Susi, Selly, Ryan, Mathias, Dona, Harry, Sintia, Agnes, Yosep, Yoserizal, John, Johan, Yohanna, dan kalau diteruskan nama-nama ini akan jadi deretan cukup panjang. Mungkin pengaruh dominasi budaya orde baru, banyak juga nama yang berasal Sangsekerta seperti : Eka, Eko, Ika, Dharma, Bakti, Agus, Esa, Kurniawan, Sinta, dst. Seiring dengan itu, pernah juga sebagian orang mengangkat nama suku sebagai nama belakang. Ini menurut saya karena pengaruh nama orang Batak dan Mandailing yang terlihat “gagah” dengan nama marga yang selalu menempel di belakang nama mereka. Maka kemudian muncul nama semisal, Hendri Chaniago (karena berasal dari suku Caniago), Indra Piliang, Afrizal Koto, Anisa Jambak. Nampaknya hanya nama Chaniago (mengherankan….entah mengapa nama suku itu selalu dibubuhi “h”, padahal aslinya hanya “caniago”) dan Piliang saja yang cukup populer sebagai nama, suku yang lain relatif jarang. Memang, nama-nama semacam itu hanya sedikit peminatnya, karena tidak lazim. Bagi orang Batak atau Mandailing, kalau mereka berasal dari marga yang sama misalnya sama-sama Sitorus atau Nasution berarti bersaudara. Sementara suku-suku di Minang bersifat menyebar pada semua nagari di seluruh Sumatra Barat, sehingga rasa pertalian sesama suku itu – meskipun di rantau - pun terasa longgar.

Runtuhnya rezim Suharto dan digantikan oleh era reformasi sekarang, kembali trend nama-nama Islam dan religius untuk nama anak. Sebutlah misalnya ; Habib, Farhan, Said, Anisa, Naufal, Aqila, Zahra, Najla, Najwa, Zahira, Salma, Sarah, dst. Sebenarnya banyak hal yang masih menganjal dengan “style” nama-nama orang Minang, misalnya mengapa karakter nama Minang cenderung berubah-rubah, dari satu periode ke periode berikutnya? Mengapa begitu variatif dan kompleksnya nama orang Minang, sehingga kadang bersifat “menipu”, , lalu adakah yang mereka sembunyikan dibalik nama-nama tersebut? Apa arti/makna nama bagi orang Minang zaman sekarang, sejauhmana nama seseorang dianggap penting sebagai identitas sosial? Sejauhmana hubungan antara nama/gelar dengan politik, modernisasi, atau birokrasi? Kalau dulu nama sebagai identitas yang dijumpai adalah, misal : Y. Dt. Rangkayo Basa, M. Dt. Mangkudun Sati atau B. Bagindo Sutan, mengapa tiba-tiba sekarang tak ada yang mencantumkan gelar adat tersebut sebagai dan kadang kartu nama, atau sebagai nama resmi (yang disandang kemana-mana karena bangganya) sebagaimana dulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab melalui sebuah kajian ilmiah atau penelitian.

Selasa, 23 Agustus 2011

Dari Meja Makan hingga Terowongan : "Selamat Berbuka Puasa"

Narasi oleh : Muhammad Ilham

" ..... Foto bisa jauh lebih menyentuh/menukik kedalam relung nan paling dalam/memberikan pemaknaan yang tidak bisa ditangkap dengan narasi-oral/yang bisa berbicara lintas usia dan kepekaan hati .. " (Pulitzer). Apa yang dikatakan Pulitzer, nampaknya bisa menjadi "pijakan" bagi kita untuk menelaah foto-foto dibawah ini. (Mungkin) pemahaman kita sederhana, tafsiran kita tidak begitu komprehensif. Semua itu logis, karena pemahaman dan tafsiran berkaitan dengan pengalaman epirik dan bacaan serta kemampuan empati yang dimiliki. Namun, foto-foto dibawah ini, setidaknya membawa pesan. Entah apa pesannya, silahkan kita masing-masing yang menciptakannya ..... Selamat Berbuka Puasa !!


Hidangan makanan pada keluarga di negara Timur Tengah (Teluk)

Hidangan makanan pada keluarga di negara Mesir

Hidangan makanan pada keluarga di negara Turki

Hidangan makanan pada keluarga di negara Jepang

Hidangan makanan pada keluarga di negara India

Hidangan makanan pada keluarga di Italia

Hidangan makanan pada keluarga di Amerika Serikat

Hidangan makanan pada keluarga di Meksiko

Hidangan makanan pada keluarga di Ekuador

Hidangan makanan pada keluarga di Inggris

Hidangan makanan pada keluarga di Perancis

Lalu ....
Lihatlah foto-foto dibawah ini
Saudara-saudara kita di jalur Gaza - sudah sangat lama - begitu sulit untuk sekedar
menghadirkan makanan yang bisa dinikmati seperti keluarga-keluarga di negara-negara diatas.
Akses jalur Gaza yang tidak hanya ditutup negara Israel, tapi juga oleh saudara mereka - Mesir.
Hanya untuk memperoleh suply makanan, mereka harus membangun terowongan
Dari terowongan inilah kemudian mereka menyalurkan makanan, (hanya) sekedar untuk
mengimpikan bisa bersantap bersama keluarga mereka.





Sumber foto : www.picture.google.com

Sabtu, 20 Agustus 2011

Kemerdekaan RI dan Posisi Historis Tan Malaka

Oleh : Muhammad Ilham

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu, adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Setelah kami menyatakan kemerdekaan Indonesia atas dasar kemauan rakyat Indonesia sendiri pada 17 Agusut 1945 bersandar pada Undang-Undang Dasar yang sesuai dengan hasrat rakyat untuk mendirikan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Maka negara Indonesia menghadapi bermacam-macam kesulitan dan rintangan yang hanya bisa diselesaikan oleh rakyat yang bersatu-padu serta gagah berani di bawah pimpinan yang cerdik, pandai, cakap dan tegap. Sedangkan sejarah dunia membuktikan pula, bahwa pelaksanaan cita-cita kemerdekaan itu bergantung pada kesanggupan seluruh rakyat untuk memberi korban apa pun juga, seperti sudah dibuktkan oleh negara-negara atau bangsa-bangsa yang besar di Amerika Utara dan Selatan, di Eropa Barat, di Rusia, Mesir, Turki dan Tiongkok. Syahdan datanglah saatnya buat menentukan ke tangan siapa akan ditaruhkan obor kemerdekaan, seandainya kami tiada berdaya lagi akan meneruskan perjuangan kita di tengah-tengah rakyat sendiri. Perjuangan rakyat kita seterusnya menetapkan kemerdekaannya hendaklah tetap di atas dasar persatuan segala golongan rakyat dengan menjunjung tinggi Republik Indonesia, seperti yang tercantum pokok-pokoknya dalam Undang-Undang Dasar kita. Bahwasanya setelah selesai kami pikirkan dengan saksama dan periksa dengan teliti, pula dengan persetujuan penuh dengan para pemimpin yang ikut serta bertanggung-jawab. Maka kami putuskanlah, bahwa pimpinan perjuangan kemerdekaan kita akan diteruskan oleh saudara-saudara: Tan Malaka, Iwa Koesoemasoemantri, Sjahrir, Wongsonegoro.

Hidup Republik Indonesia!
Hidup Bangsa Indonesia!

Jakarta, 1 Oktober 1945
Sukarno - Moh. Hatta
(ejaan telah disesuaikan oleh "Tan Malakalog" Harry Poetze)


"Setiap raja biasanya memiliki stock wasiat, agar kerajaannya bisa langgeng", kata Hamlet. Wasiat, apalagi bersangkut dengan kerajaan, selalu berbentuk surat ataupun testamen. Bak kata sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, surat sebagai sarana suksesi sebetulnya telah dipergunakan Soekarno pada awal kemerdekaan. Presiden RI pertama itu yang merasa kuatir keselamatannya setelah memproklamasikan kemerdekaan,17 Agustus 1945, merasa perlu menunjuk orang lain untuk memimpin kelanjutan perjuangan bangsa. Ia waswas kalau ditangkap oleh Sekutu. Orang yang dia percayai untuk menggantikannya adalah Tan Malaka. Rencana Soekarno untuk menunjuk seorang pemegang mandat pemimpin bangsa itu tidak disetujui oleh Moh Hatta. Hatta hanya dapat menerima bila mandataris tersebut terdiri dari beberapa orang. Akhirnya disepakati oleh Soekarno dan Hatta orang-orang yang diberi kepercayaan tersebut adalah Tan Malaka, Iwa Koesoemasoemantri, Sjahrir dan Wongsonegoro. Testamen Politik 1945 merupakan surat mandat dari pimpinan nasional kepada orang lain untuk menyelesaikan tugas kenegaraan. Testamen juga sempat mengundang kontroversi karena beredarnya versi yang berbeda. Dalam versi yang beredar kemudian, nama ahli waris kepemimpinan itu hanya satu orang yaitu Tan Malaka. Surat itu berbunyi: “Kami, Ir Soekarno, ketua Republik Indonesia dan Drs Moh Hatta, ketua muda Pemerintah tersebut dengan suci dan ikhlas hati kami menyerahkan pimpinan Pemerintah Republik Indonesia kepada Sdr Datuk Tan Malaka, pemegang surat ini”. Hatta menyebut Chaeroel Saleh sebagai roh jahat di balik pemalsuan dokumen itu. Ia dasarkan keterangannya itu pada hasil pemeriksaan dinas penyelidikan sipil dan militer Belanda (Hatta, 1974:13-14).

Menurut Sajoeti Melik, dokumen asli surat tersebut jatuh ke tangan DN Aidit. Aidit menunjukkannya kepada Soekarno. Soekarno merobek-robeknya lalu membakarnya. Dengan demikian berakhirlah kontroversi tentang Testamen Politik Soekarno tersebut. Meskipun Testamen Politik Soekarno 1 Oktober 1945 merupakan surat tugas kenegaraan yang diberikan oleh pimpinan nasional, namun paling sedikit terdapat perbedaan (atau persamaan?) menyangkut dua hal. Dalam pembuatan Testamen Politik 1945 tidak ada paksaan. Bahkan penyusunannya dilakukan Soekarno secara demokratis dengan berkonsultasi dengan Bung Hatta. Testamen Politik 1945 telah dibakar oleh sendiri oleh Bung Karno agar tidak menimbulkan kontroversi di kemudian hari. Namun yang pasti, Tan Malaka si Putra Pandam Gadang nan fenomenal itu, pernah "dipercaya" sebagai putra mahkota bila suatu saat kelak pada masa itu, sang "raja dan wakilnya" tercederai. Hal ini setidaknya memberikan kepada kita, begitu signifikannya posisi hitoris Tan Malaka pada awal kemerdekaan Indonesia. Sayang, sejarah terkadang terasa "asin".

:: beberapa data mentah diambil dari Asvi Warman Adam (1999)/Foto : dari FB Tan Malaka