Sabtu, 19 Februari 2011

Western Oriented - Ethnocentric

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

"Tidakkah kaulihat pemerintahan demokratis di Barat yang dari luar tampak cerah itu? Namun jika dijenguk lebih dalam akan kelihatan/jiwa mereka lebih kelam dari Jengis Khan"
(Muhammad Iqbal).

(Abdul Hadi WM ) : Yang saya bahas adalah sikap etnosentrik Amerika yang berakar dalam kesadaran kolektif bangsa kulit putih. Sedang yang anda bahas adalah gaya hidup, ilmu pengetahuan, teknologi, dll. Tentang humanismenya? Lain lagi. Humanisme mereka selalu cenderung ethosentrik, artinya kemanusiaannya hanya tertuju kepada orang sebangsa dan sekaum, tidak universal. Karena itu simak baik-baik apa yang dimaksudkan Iqbal, demokrasi Barat tak mampu menolong bangsa tertindas termanusiakan bahkan diperlakukan seperti hewan. Inilah paradoks humanisme Barat yang perlu kita jauhi. Ilmunya, teknologinya, sebagian gaya hidupnya --- boleh saja kita pelajari, bahkan kita kuasasi. Yang membuat kita bungkam adalah penguasa yang bermental inlander, juga kaum sarjana dan cendekiawan yang "western-oriented" dan mass-media yang merupakan penyambung politik imperialisme, serta pasar yang dikuasai kapitalisme pasar bebas.

(Beryl C. Syamwil) : Istilah "ethnocentric" ini jarang terdengar. Rupanya menyangkut kepentingan bangsa/kaum dalam lingkup politik. Itukah bedanya dengan "rasialis", Prof. Hadi. Salah satu kedok Amerika untuk merajalela di PBB adalah anti rasialisme, buktinya Obama dan Rice mantan Menlu, berkulit hitam. Apakah diciptakan semacam "Belanda Hitam" Ambon? Selama ini rasialisme terpusat pada kontradiksi hitam-putih. Di Afrika Selatan bahkan ada istilah "kulit berwarna" (coloured) untuk lebih menindas dan memperhinakan kulit hitam. Kaum "kulit berwarna" ini adalah yg selain kulit hitam, lebih "terangkat" sosial-ekonominya, tapi masih jauh dibawah kulit putih. Afsel sebelum Mandela, adalah pemegang rekor rasialisme dunia sepanjang sejarah. Ternyata banyak orang kulit putih turunan Yahudi. Dana Israel bahkan dipasok dari tambang berlian di Kimberley, Afrika Selatan. Sejak kelahiran Islam, ada tokoh Bilal, budak hitam bersuara merdu, perintis cara menghimbau shalat (azan), kemudian menjadi salah seorang Sahabat Nabi. Dalam perkembangan Islam, peran mereka yang berkulit hitam sangat luar biasa. Sumbangan Sudan dan Nubia (keturunan Fir'aun Mesir) dari kesuburan sungai Nil, adalah "kuda Arab", kuda perang yg tangkas dan cerdas, ras nomor satu yg dijadikan bibit unggul sedunia dan juga teknologi kelautan dengan perahu dari pohon2 kayu besar. Masalahnya, raja-raja Mesir Kuno yg berbudaya tinggi telah lebih dulu dipersepsi sebagai ras kulit putih spt Persia atau setidaknya Indian yg juga punya "piramid" (Inca/Maya/Aztec). Itu masuk ke dalam lukisan/film imajinatif tentang Fir'aun. Padahal sampai ke pedalaman hulu sungai Nil ada kuburan raja-raja berbentuk piramid yg lebih munjung tinggi seperti nasi tumpeng dan ada banyak relief raja-raja berkulit hitam yang tinggi-besar, subur-makmur. "Bangsa Moor" sebagai istilah menghina seiring dengan rasa "takut" orang Eropa (Spanyol dan Portugis) terhadap Islam di mana saja, adalah gara-gara yg "menjajah" mereka selama hampir 800 thn adalah Muslim Afrika Utara, bangsa Arab campuran kulit hitam. Justru karena Islam adalah anutan universal, 'rahmatan lil alamin' (rahmat bagi alam semesta, IAB) Maka yang terbukti anti-rasialisme dalam sejarah, baik teori maupun praktek, baru ajaran Islam. Diskriminasi sejarah ini, ketika terungkap, membangkitkan kesadaran gerakan Black Moslem yg lahir di Amerika.

(Sebuah penggalan diskusi facebook antara Abdul Hadi WM. dan Berryl CS) Foto : Prajurit Nubia di Kesultanan Daulah Islamiah. Lukisan Rudolf Johann Weiss

Kamis, 17 Februari 2011

Hari-Hari di Bulan Februari & Mengenang Pemberontakan Sumatera

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Detik-detik menjelang tentara Soekarno menyerang kota Padang dan kota-kota penting Sumatera Tengah lainnya adalah saat-saat genting dan menegangkan. Bayangkanlah kepanikan seperti apa yang dirasakan warga kota ketika lampu-lampu kapal perang Tentara Pusat telah tampak bertebaran di lepas Pantai Barat? Di sisi lain, apakah pula yang berkelebat di benak para perwira militer dan sipil-- ‘gembong-gembong’ kaum pemberontak, yang telah secara berani menyulut perang dengan Pemerintah Pusat--ketika mengetahui bahwa di luar dugaan mereka tentara Soekarno benar-benar berani menyerbu? Adalah James Mossman (lahir pada 1926), seorang wartawan Inggris yang sengaja datang ke Sumatera Tengah untuk meliput kejadian-kejadian di daerah itu pada masa perang saudara itu. Dia meliput untuk Daily Mail dan Sidney Morning Herald . Mossman melaporkan tentang detik-detik menjelang terjadi dan menjelang jatuhnya Pemberontakan Sumatera. Maret 1958, ketika Nasution berhasil mengamankan Medan dan Palembang untuk kepentingan serangan Jakarta, Mossman berangkat dengan pesawat terbang ke Palembang, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus menuju markas besar kaum pemberontak di Bukittinggi. Beberapa hari kemudian Mossman telah turun ke Padang meliput keadaan kota itu dan kesiapan kaum pemberontak menghadapi serangan kapal-kapal perang Pemerintah Pusat yang sudah bertebaran di lepas pantai.

Di detik-detik menjelang perang benar-benar meletus, Mossman melaporkan, Padang telah sama sekali ‘pudur’ ketika malam. Lampu-lampu listrik telah dipadamkan. Setengah penduduk telah mengungsi ke kerabat-kerabat mereka di pedalaman, meninggalkan rumah dalam keadaan tertutup dan terabaikan. Persiapan menghadapi serangan Tentara Pusat sudah terlihat di sana-sini. Di Bandara Tabing bazooka dan ranjau telah dipancangkan untuk menghalangi pendaratan musuh. Dan ketika suatu kali kapal-kapal perang tentara Soekarno melepaskan tembakan ke arah pantai, prajurit-prajurit PRRI membalasnya dengan rentetan tembakan bazooka bertubi-tubi. Seperti di tataran perwira, lapor Mossman, di tataran prajurit rendah pun terlihat semangat bertempur terngah bergelora. Betul saja, beberapa waktu sebelumnya Amerika telah melepas jangkar kapal pemuat senjata di lepas-lepas pantai, mensuplai alat-alat perang dengan berbagai cara ke kantong-kantong kaum pemberontak. Persediaan senjata kaum pemberontak betul-betul melimpah. Sementara di sisi lain prajurit-prajurit PRRI yang setengahnya terdiri dari milisi tentara pelajar dan milisi rakyat--milisi ini betul-betul sudah gatal-gatal tangannya untuk segera meletuskan senjata. Dapat dibayangkan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah memegang senjata sekali pun kini diberi senjata.

Di tataran elit militer, Mossman mengunjungi beberapa kolonel PRRI dan mewawancarai mereka. Dahlan Jambek di Bukittinggi, Simbolon di Padang dan lalu Padangpanjang. Meskipun Tentara Pusat telah berhasil menguasai kota-kota penting Sumatera di pantai timur, perwira-perwira itu tetap percaya diri bakal melemparkan tentara Nasution “ke laut untuk dimangsa ikan hiu”. Para perwira tampaknya sepakat: membiarkan tentara Nasution masuk untuk kemudian membabatnya di darat dengan strategi gerilya yang dulu pernah mereka terapkan ketika menghadapi Belanda. Di tataran elit sipil, Syafruddin Prawiranegara yang diwawancarai Mossman di Bukittinggi menyimpan kepercayaan diri yang sama meskipun tidak seberapi-api perwira-perwira militer. Syafruddin, misalnya, ketika ditanya pendapatnya tentang pasukan Pemerintah Pusat yang telah melingkari Sumatera Tengah, menjawab: “mereka tidak akan bisa melukai kami, Tuhan bersama kami.”Tapi Syafrudin keliru. Para perwira salah perhitungan. Tiga setengah tahun perang berkecamuk di Sumatera Tengah, dan mereka kalah. Kaum pemberontak terjungkang. Harga yang harus dibayarkan mahal sekali. Puluhanribu pemuda, mahasiswa dan pelajar, tewas. Satu generasi hilang-lenyap ... !!

(c) Diskusi FB dan Note Dedi Arsa/Februari 2010

Atas Nama Tuhan ..... Biarlah Foto ini "Bicara"

Oleh : Muhammad Ilham

Teringat-lah saya dengan salah satu artikel Goenawan Mohammad pada tahun 1980-an. Dengan esai ringan-"berisi", GM menawarkan kepada kita sebuah "kebingungan". Perang Irak - Iran yang bermula pada awal 1980, berada pada posisi yang "jelas". Irak itu Islam, ada Sunni dan ada Syi'ah. Demikian pula Iran yang juga mayoritas Islam, tentunya sama dengan Irak - maklum bertentangga - ada Sunni-nya, apalagi Syiah-nya. Selama 9 tahun, puluhan ribu bahkan ratusan ribu anak-anak muda dikirim ke medan perang. Allahu Akbar diteriakkan dari mulut anak muda Iran dan Irak. Lalu untuk siapa mereka berperang ?








"Buah" dari konflik Syi'ah-Sunni di Irak beberapa tahun belakangan ini. Sama-sama meneriakkan Allahu Akbar kala saling "berhadapan" dan mungkin kala saling meledakkan bom ataupun meledakkan diri.

Foto (www.mehr.com)

Revolusi Facebook dan (Selanjutnya) Bahrain ?

Oleh : Muhammad Ilham

Begitu "berjasa" Mark Zuckenberg. Setidaknya rakyat Tunisia dan Mesir berterima kasih pada anak muda Yahudi penemu Facebook ini. Anak-anak muda Tunisia dan Mesir mampu menjatuhkan rezim yang sudah lama berkuasa dengan "alat" komunikasi facebook ini. Cetusan awal dan sosialisasi ide berawal dari komunikasi lewat jejaring sosial populer tersebut. Sehingga tidaklah mengherankan apabila salah seorang pengamat politik Timur Tengah di salah satu media TV swasta mengatakan bahwa revolusi Tunisia dan Mesir lebih tepat diistilahkan dengan "revolusi facebook". Dalam konteks Parsonian (Talcott Parson), "alat" yang digunakan untuk mencapai tujuan serta menjaga "ruh ide/gerakan" tersebut adalah tool yang dikreasi anak muda terkaya di dunia ini. Revolusi rakyat di dunia negara "menjalar" ke berbagai negara di Timur Tengah yang mayoritas diperintah oleh pemimpin-pemimpin yang "selalu merasa nyaman berkuasa dalam waktu lama". Ia "menjalar" ke Yaman seterusnya ke Bahrain. Bahrain, tepatnya rakyat Bahrain, ingin bangkit seperti rakyat Tunisia dan Mesir. Sultan Hamad bin Isa Al Khalifa, merasa takut. Ini terlihat dari laporan beberapa media massa yang memberitakan bahwa Raja Bahrain ini membagi-bagikan uang kepada setiap keluarga - gratis, "percuma" bahasa Malaysianya - 2.500 US Dollar/keluarga.

Amerika Serikat tidak bisa "menyembunyikan" ketakutannya bila revolusi Mesir dan Tunisia terjadi pula di Bahrain. Bagaimana tidak, Mesir dan Bahrain merupakan sahabat terdekat negara Paman Sam ini. Bila Mesir dianggap sebagai penjaga Perjanjian Camp David - untuk itu negara Piramid ini dibantu oleh Amerika Serikat sokongan dana yang amat besar bagi operasional militer sejak zaman Anwar Sadat - maka Bahrain merupakan sahabat strategis AS karena di negara/kerajaan ini berada pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy's Fifth Fleet). Teringat saya dengan ulasan Robert H. Reid, wartawan senior Associated Press, Revolusi Iran menempatkan rakyat Iran 32 tahun lebih awal dari tetangga bangsa Arab mereka. Ada fenomena menarik. Revolusi Islam Iran bukan dicetus oleh "kreasi" Mark Zuckenberg ataupun Google, tapi oleh ulama. Ide tunggal dari kelompok ulama menyebar dengan "oral-verbal" diantara elit-elit ulama lainnya. Tapi revolusi Mesir, Tunisia dan (selanjutnya?) Bahrain atau Yaman, ide dan sosialisasi ide terakumulasi pada jejaring sosial yang bernama facebook.





Foto : al-jazeera.com/metrotvnews.com

Rabu, 16 Februari 2011

Bank Century, Alanda, Ibu dan Makna Keadilan Hukum

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Setiap peristiwa memiliki ceritanya sendiri, setidaknya demikian kata Ernest Hemingway. Tak terkecuali "mega-skandal" Century-Gate. Cerita politik-nya tak usahlah saya paparkan, biarlah "angin" yang membawa bau ceritanya. Saya hanya tertegun pada sosok wanita kecil sedang menuju gadis. Alanda namanya. Gadis pintar yang tak ditakdirkan lahir seperti "Puan Maharani" ini ingin meninju "angin" dan berteriak ...... "Sungguh, sistem hukum Indonesia tak mampu memberikan kepada saya untuk menghargainya". Teriakan ini berawal dari pembelaannya pada sang ibu, wanita yang dihormatinya, telak-kalah karena sistem hukum Indonesia yang tak rasional. Gadis dengan segudang prestasi itu mengaku lebih bersemangat mendampingi ibunya hari ini. Dukungan publik pembaca blognya menambah keyakinan Alanda bahwa ibunya akan mendapat keadilan. "Semoga apa yang terjadi sekarang juga bisa bermanfaat untuk perkembangan kasus Ibu," katanya. Dia juga mengaku tidak menyangka bahwa dukungan publik terhadap apa yang dituliskannya tentang ibunya itu sangat besar. "Gak pernah kebayang kalau bakal kayak gitu karena cuma nulis aja, tapi ternyata banyak yang respons, mayoritas responsnya positif," tuturnya.

Curhatan Alanda Kariza dalam blognya mengenai masalah hukum yang melilit ibunya menyedot perhatian masyarakat dunia maya, terutama yang aktif dalam microblogging Twitter. Alanda mengaku tidak mengerti masalah politik dan tak paham masalah hukum. Yang dia tahu kasus Century yang melilit ibunya telah merampas mimpi dan kedamaian keluarganya. Dalam ceritanya, Alanda berseru tentang ketidakadilan dalam kasus yang menjerat ibunya. Ia menyebut ibunya dituntut 10 tahun penjara dengan denda Rp 10 miliar. Dia protes karena tuntutan tersebut lebih tinggi daripada tuntutan pemilik Bank Century, Robert Tantular. Selain menyedot perhatian masyarakat dunia maya, cerita Alanda juga menjadi perhatian kalangan media. Pagi ini saja, Alanda sudah dikerubuti insan pers saat tiba di pengadilan. Belasan kamera stasiun televisi yang beragam menyoroti wajahnya yang lugu itu. "Terima kasih buat semua yang sudah doain, komentar, bahkan kasih bantuan lebih, termasuk teman-teman media," ungkapnya.

Berikut curahan hati Alanda dalam Blog-nya

Jika ditanya apa cita-cita saya, saya hampir selalu menjawab bahwa saya ingin membuat Ibu saya bangga. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mendengar Ibu menceritakan aktivitas saya kepada orang lain dengan wajah berbinar-binar. Semua mimpi yang saya bangun satu persatu, dan semoga semua bisa saya raih, saya persembahkan untuk beliau. Belakangan ini, kita dibombardir berita buruk yang tidak habis-habisnya, dan hampir semuanya merupakan isu hukum. Saya… tidak henti-hentinya memikirkan Ibu. Terbangun di tengah malam dan menangis, kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan rutin (termasuk, surprisingly, makan), ketidakinginan untuk menyimak berita… Entah apa lagi. Selasa, 25 Januari 2011, periode ujian akhir semester dimulai. Hari itu juga, Ibu harus menghadiri sidang pembacaan tuntutan. Hampir tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Ibu saya, yang sejak bulan September 2005 bekerja di Bank Century. Hanya keluarga dan kerabat dekat kami yang mengetahui bahwa Ibu menjadi tersangka di beberapa kasus yang berhubungan dengan pencairan kredit di Bank Century. Sidang pembacaan tuntutan kemarin merupakan salah satu dari beberapa sidang terakhir di kasus pertamanya.

Sejak Bank Century di-bailout dan diambil alih oleh LPS, kira-kira bulan November 2008 (saya ingat karena baru mendapat pengumuman bahwa terpilih sebagai Global Changemaker dari Indonesia), Ibu sering sekali pulang malam, karena ada terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya jarang bertemu beliau. Bahkan ketika saya berulangtahun ke 18, saya tidak bertemu dengan Ibu sama sekali, karena beliau masih harus mengurus pekerjaan di kantor. Itu pertama kalinya saya berulangtahun tanpa Ibu. Seiring dengan diusutnya kasus Century, Ibu harus bolak-balik ke Bareskrim untuk diinterogasi oleh penyidik sebagai saksi untuk kasus-kasus yang melibatkan atasan-atasannya.

Sejak saya kecil, Ibu saya harus bekerja membanting tulang agar kami bisa mendapat hidup yang layak – agar saya mendapat pendidikan yang layak. Ketika saya duduk di SMP, beliau sempat di-PHK karena kantornya ditutup. Kami mengalami kesulitan keuangan pada saat itu, sampai akhirnya saya menerbitkan buku saya agar saya punya “uang saku” sendiri dan tidak merepotkan beliau, maupun Papa. Ibu sempat menjadi broker property, berjualan air mineral galonan, sampai berjualan mukena. Adik pertama saya, Aisya, ketika itu masih kecil. Ibupun mengandung dan melahirkan adik kedua saya, Fara. Akhirnya, ketika buku saya terbit, beliau mendapat pekerjaan di Bank Century. Papa sudah duluan bekerja di sana, tetapi hanya sebagai staf operasional. Saya lupa kapan… tapi pada suatu hari, saya mendengar status Ibu di Bareskrim berubah menjadi TSK. Tersangka. Itu merupakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya. Tersangka? Dalam kasus apa? Dituduh menyelewengkan uang? Sejak Ibu bekerja di Century, hidup kami tetap biasa-biasa saja. Jabatan Ibu sebagai Kepala Divisi boleh dibilang tinggi, tapi tidak membuat kami bisa hidup dengan berfoya-foya. Orang-orang di kantor Ibu bisa punya mobil mahal, belanja tas bagus, make up mahal… Tidak dengan Ibu. Mobil keluarga kami hanya satu, itupun tidak mewah. Saya sekolah di SMA negeri dan tidak bisa memilih perguruan tinggi swasta untuk meneruskan pendidikan karena biayanya bergantung pada asuransi pendidikan. Ibu tidak membiarkan saya mendaftarkan diri untuk program beasiswa di luar negeri – beliau khawatir tidak bisa menanggung biaya hidup saya di sana. Papa di-PHK segera setelah kasus Century mencuat ke permukaan. Papa tidak bekerja, hanya Ibu yang menjadi “tulang punggung” di keluarga saya. Papa dan saya sifatnya hanya “membantu”.

Saat itu, berat sekali rasanya, Ibu memiliki titel “tersangka” di suatu kasus. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika itu. Saya duduk di Kelas 3 SMA tatkala status Ibu berubah. Ibu jatuh sakit karena tertekan. Tepat satu hari sebelum Ujian Akhir Nasional, Ibu harus diopname, dan saya baru tahu pukul 10 malam karena keluarga saya khawatir hal ini akan mengganggu konsentrasi saya dalam menjalani ujian. Saya tidak lagi bisa memfokuskan pikiran saya terhadap UAN SMA. Pikiran saya hanya Ibu, Ibu, dan Ibu. Sejak itu, hidup kami benar-benar berubah… walau dari luar, Ibu dan Papa berusaha terlihat biasa-biasa saja. Mereka tidak cerita banyak kepada saya. Mobil dijual dan mereka membeli yang jauh lebih murah. Kami jarang pergi jalan-jalan dan saya jarang mendapat uang jajan. Kami lebih jarang menyantap pizza hasil delivery order. Supir diberhentikan, dan hanya punya satu pembantu di rumah. Ibu dipindahkan ke kantor cabang, sementara Papa mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Saya beruntung, mereka berdua tidak pernah menahan saya dari melakukan hal-hal yang saya mau lakukan, terutama aktivitas Global Changemakers dan IYC. Tapi, saya sadar, bahwa hidup kami benar-benar berubah.

I can live with that. I’m willing to work part time, do internships, and work my ass off to publish more and more books if it would help my parents, especially my mother. Although I don’t have my own car and I can’t shop luxurious stuff just like my friends do, I’m happy, and I’m willing to live like that. Saya mau, meski hal tersebut pasti melelahkan. Saya memilih beasiswa dari BINUS International dibanding Universitas Indonesia, salah satunya juga supaya orangtua saya tidak perlu lagi membiayai pendidikan saya. Supaya uang untuk saya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan adik-adik saya. Saya ingin mereka bisa les Bahasa Inggris bertahun-tahun seperti saya dulu… siapa tahu mereka bisa memenangkan kompetisi-kompetisi internasional yang bergengsi. Awalnya pun berat bagi Ibu, tapi lambat laun, Ibu sangat ikhlas. Ibu jarang membagi kesulitannya kepada saya – selalu disimpan sendiri atau dibagi ke Papa. Beliau hanya mengingatkan saya untuk tidak lupa shalat dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik agar beasiswa tidak dicabut. Dari apa yang dialami Ibu, saya belajar untuk tidak dengan mudah mempercayai orang lain. Ibu orang baik dan hampir tidak pernah berprasangka buruk. Tapi sepertinya kebaikannya justru dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain.

Ibu dituduh terlibat dalam pencairan beberapa kredit bermasalah, yang disebut sebagai “kredit komando” karena bisa cair tanpa melalui prosedur yang seharusnya. Beberapa kredit cair tanpa ditandatangani oleh Ibu sebelumnya. Padahal, seharusnya semua kredit baru bisa cair setelah ditandatangani oleh beliau yang menjabat sebagai Kepala Divisi Corporate Legal. Ya, tidak masuk akal. “Kredit komando” ini terjadi atas perintah dua orang yang mungkin sudah familiar bagi orang-orang yang mengikuti kasus Century melalui berita, Robert Tantular dan Hermanus Hasan Muslim. Dua orang ini sudah ditahan dan seharusnya, menurut saya, kasusnya sudah selesai. Ibu dulu hanya menjadi saksi dalam kasus mereka berdua, karena kredit-kredit tersebut cair karena perintah mereka, bukan Ibu. Bahkan tandatangan Ibu pun “dilangkahi”. Pertanyaan saya, mengapa Ibu dijadikan tersangka? Nonsens. Oleh karena itulah, saya optimis. Saya tahu bahwa Ibu tidak bersalah, walaupun saya ‘awam’ dalam dunia hukum perbankan. Saya selalu berkata kepada Ibu bahwa semua akan baik-baik saja, karena itulah yang saya percayai, bahwa negara ini (seharusnya) melindungi mereka yang tidak bersalah, bahwa negara ini adalah negara hukum. Sampai akhirnya, pada tanggal 25 Januari 2011, sehari sebelum saya ujian Introduction to Financial Accounting, saya harus menerima sesuatu yang, sedikit-banyak, menghancurkan mimpi yang telah saya bangun bertahun-tahun, dalam sekejap. Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja. Ujian hari itu bisa saya kerjakan dengan baik. Saya pulang cepat dari kampus, tidur siang, bangun dan menonton televisi. Ibu pulang malam. Status BBM salah seorang tante berisi: “Deep sorrow, Arga”. (Nama Ibu adalah Arga Tirta Kirana). Saat itu, untuk sejenak, saya tidak mau tahu apa yang terjadi. Hari itu, Ibu dan Papa pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mendengar pembacaan tuntutan.

Ibu dituntut kurungan 10 tahun penjara dan denda sebesar 10 milyar Rupiah.

Sesak nafas. Yang terasa cuma airmata yang tidak berhenti. Mungkin, ini cuma mimpi buruk… Mungkin, ketika terbangun, ternyata kasus ini sudah berakhir, dan saya bisa menjalani hidup yang “biasa” lagi dengan Ibu, Papa, dan dua adik-adik yang masih kecil. Walau hidup kami tidak mewah, tapi bahagia. Tidak harus ada sidang, tidak harus ada penyidikan di Bareskrim, tidak harus ada pulang larut karena harus ke kantor pengacara, tidak harus melewatkan makan malam yang biasanya dinikmati bersama-sama. Saya kangen Ibu masak di rumah: pudding roti, spaghetti, roast chicken, sop buntut, apapun. Saya kangen pergi ke luar kota, walau cuma ke Bogor, bersama keluarga. Hal-hal kecil yang sudah tidak bisa kami nikmati lagi. Kalau ini hanya mimpi buruk, saya mau cepat-cepat bangun.

Mungkin saya tidak sepintar banyak orang di luar sana, terutama para ahli hukum: mulai dari hakim, jaksa, sampai pengacara maupun notaris. Saya tiga kali mencoba untuk diterima di FHUI, dan tiga kali gagal. Tapi, saya bisa menilai bahwa tuntutan yang diajukan itu tidak masuk di akal. Gayus – kita semua tahu kasusnya, kekayaannya, kontroversinya – divonis 7 tahun penjara dan denda 300 juta. Robert Tantular dituntut hukuman penjara selama 8 tahun dan Hermanus Hasan Muslim dituntut hukuman penjara selama 6 tahun dari PN Jakarta Pusat. Lalu, mengapa Ibu 10 tahun? Setolol dan seaneh apapun saya, saya cukup waras untuk tidak sanggup mengerti konsep tersebut menggunakan nalar dan logika saya. Apakah karena keluarga kami tidak memiliki uang? Ataukah karena Ibu justru terlalu baik? Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikuti summer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010. Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapapun mengkambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.

“Apa yang Alanda ingin lakukan sepuluh tahun lagi?”

Sebelumnya saya tahu, saya punya begitu banyak mimpi yang ingin dicapai, untuk membuat Ibu bangga, dan – mungkin – untuk Indonesia. Ingin mendirikan sekolah supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, ingin menyelenggarakan IYC terus menerus agar ada banyak agen perubahan di Indonesia, ingin ini dan ingin itu. Keinginan-keinginan itu mati tanpa diminta. Sekarang hanya ingin Ibu bebas dari seluruh kasus tersebut. Sekarang hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu, Papa, dan adik-adik – di rumah kami yang tidak besar tapi cukup nyaman; jalan-jalan dengan mobil yang tidak mahal tapi bisa membawa kami pergi ke tempat-tempat menyenangkan. Saya mau ada Ibu di ulangtahun saya yang keduapuluh, dua minggu lagi. Saya mau ada Ibu di peluncuran buku saya – seperti biasanya. Saya mau ada Ibu waktu nanti saya lulus dan diwisuda. Saya mau ada Ibu ketika saya suatu hari nanti menikah. Saya mau ada Ibu ketika saya hamil dan melahirkan anak-anak saya. Uang, politik, hukum yang ada di negara ini menghancurkan bayangan saya tentang hal itu. Mungkin selamanya pilar-pilar hukum hanya akan mempermasalahkan kredit-kredit macet, menjebloskan orang-orang ‘kecil’ ke penjara tanpa bukti dan analisa yang komprehensif (maupun putusan yang masuk di akal), bukan 6,7T yang entah ada di mana saat ini. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat pemuda-pemuda optimis berhenti berkarya untuk Indonesia. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat individu-individu brilian memilih untuk tinggal dan berkarya bagi negara lain… agar keluarga mereka tetap utuh. Supaya mereka tidak harus menghadapi ketidakadilan yang menjijikan seperti ini.

Saya mau Ibu ada di rumah, Indonesia. Tidak di penjara, tidak di tempat lain, tapi di rumah, bersama saya, Papa, Aisya, dan Fara.

Hari Kamis, Ibu akan membacakan pledooi (pembelaan) di PN Jakarta Pusat. Ibu akan menceritakan seluruh kejadian yang beliau alami dan mengapa seharusnya beliau tidak mengalami tuduhan apalagi tuntutan ini.

Saya mohon doanya buat Ibu, walau mungkin Anda tidak pernah mengenalnya. Ia berjasa besar bagi saya, dan saya yakin, bagi banyak orang di luar sana. Beliau membutuhkan doa, dukungan, dan bantuan dari banyak orang.

Even if I have to let Indonesian Youth Conference go, even if I have to work hard 24/7 to live without having to ask for allowances from my mother… I’m willing to do so.

I just want her to stay with me… instead of behind those scary bars. I just want her to witness everything that I will achieve in the future. I just want her to see my little sisters grow up, beautifully. I just want her to always be there around the dining table, and we’ll have dinner together. I just want her to cook again for the whole family on Sunday mornings. I just want her to let me drive for her when she has to go somewhere. I just want her to listen to my stories about my boyfriend, my friend, campus life, or silly little things. I just want her here… Here.

I love you, Mum. I do…

Sumber : http://alandakariza.com/ibu/

Senin, 14 Februari 2011

11 Februari 1979 - 2011 : Syah Reza Pahlevi dan Husni Mubarak

Oleh : Muhammad Ilham

Bukan sebuah kebetulan, tanggal 11 Februari begitu "keramat", setidaknya bagi saudara-saudara kita di Timur Tengah sana. Bermula pada tahun 1979, Syah Reza Pahlevi terpaksa melarikan diri ke luar Iran. Revolusi Islam Iran "menggelora". Syah Reza Pahlevi yang amat sangat dekat dengan Amerika Serikat (plus Israel tentunya) dan (selalu) mengklaim dirinya sebagai penerus Cyrus Agung runtuh karena kharisma Ayatullah Ruhullah Khomeini. Tanggal 11 Februari 2011, Hosni Mubarak "layu" karena Revolusi Rakyat Mesir. Sungguh, faktor kebetulan sulit untuk kita cerna. Faktor "langit" dan campur tangan Tuhan, setidaknya memungkinkan bagi kita mendapat sebuah jawaban, walau kalangan positivis "mencibir" alasan ini.


Februari 1979, seorang penjual koran di Teheran menjajakan koran dengan headline : "Syah Iran ... kabur !"

Husni Mubarak dalam masa dua periode jabatan Presiden AS (Ronald Reagan)

Husni Mubarak dalam masa satu periode jabatan Presiden AS (George Bush)

Husni Mubarak dalam masa dua periode jabatan Presiden AS (Bill Clinton)

Husni Mubarak dalam masa dua periode jabatan Presiden AS (George W. Bush Jr.)

Husni Mubarak dalam masa dua tahun jabatan Presiden AS (Barrack Husein Obama)


Berikut artikel yang ditulis Guntur Romli di Majalah TEMPO edisi Februari 2011 tentang "Masa Depan Politik Mesir Pasca Mubarak".

Tamat sudah era Mubarak. Kini kekuasaan di tangan junta militer Mesir, yang telah menangguhkan konstitusi, membubarkan parlemen, dan berjanji menggelar pemilu, enam bulan mendatang. Kubu militer yang merupakan kroni Mubarak akan berhadapan dengan oposisi dari kubu reformis dan "islamis". Lalu bagaimana masa depan demokrasi dan Islam? Apakah kelompok "politisasi Islam" seperti Ikhwanul Muslimin (IM) akan berkuasa, seperti yang sering diramalkan, melalui pemilu nanti? Tak sedikit yang ketakutan IM akan mudah berkuasa dan menerapkan syariat Islam, atau bahkan mendirikan "negara Islam" di Mesir. Kekhawatiran ini paling tidak karena dua alasan. Pertama, kekuatan IM sebagai kelompok oposisi yang tidak dimiliki kelompok sipil lainnya. Pada pemilu 2005, IM bisa meloloskan 84 anggota parlemen melalui jalur independen-IM adalah parpol terlarang di era Mubarak. Namun sukses itu tak bisa terulang di pemilu 2010 karena kecurangan rezim Mubarak. Tak satu pun calon IM bisa kembali ke parlemen. IM, yang didirikan oleh Hasan al-Banna pada 1929, terbukti menjadi kekuatan oposisi politik yang mampu bertahan hidup, meski ditindas. Kedua, tidak adanya kekuatan penyeimbang di Mesir. Tidak seperti di Turki, meskipun AKP-yang basisnya berasal dari politisi Islam-menang pemilu, menguasai parlemen dan pemerintahan, tidak berani "jualan syariat Islam" karena adanya militer yang sekuler. Militer Turki terus menunggu dan mencari-cari kesalahan politikus AKP. Sekali politikus AKP terbukti "jualan syariat Islam", hal itu akan dijadikan dalih oleh pihak militer untuk kudeta, seperti yang dialami Erbakan dengan partai Refah-nya. Sedangkan junta militer Mesir, yang saat ini memegang kendali kekuasaan, diramalkan hanya bertahan sementara. Militer Mesir pun terkenal "pragmatis", tidak "ideologis" seperti militer Turki. Konstitusi Mesir pun bukan konstitusi sekuler seperti di Turki.

Bagi saya, kelompok "politisasi Islam" tidak akan menang mudah di Mesir. Apalagi sampai mau mengubah konstitusi Mesir, kecuali melalui revolusi seperti di Iran atau kudeta militer seperti di Afganistan era Taliban, atau dukungan militer seperti Bashir di Sudan. Saat ini yang menjadi tuntutan rakyat Mesir adalah reformasi total. Meski sukses menggulingkan Mubarak, kroninya masih berkuasa, undang-undang belum diamendemen, perbaikan pada sektor ekonomi dan dibukanya kebebasan belum berjalan sesuai tuntutan. Karena itu, kampanye politik yang hanya berpusat pada "politisasi Islam" tidak akan menarik masyarakat Mesir. Andai "politisasi Islam" berkuasa dengan cara apa pun, seperti rezim Saudi, Taliban, dan Bashir, mereka dipastikan akan berhadapan kembali dengan gerakan rakyat sipil, karena dianggap mengulangi era otoriter Mubarak. Tidak mudah mengelola negeri seperti Mesir, yang fakir minyak dan menggantungkan pendapatan negara dari bidang jasa serta pariwisata. Karena itu, mengandalkan kampanye "politisasi Islam" tidak akan laku di pasaran. Rezim-rezim "politisasi Islam" di Teluk bisa bertahan karena mukjizat minyak yang melimpah-ruah, bukan karena rakyatnya benar-benar tertarik pada "ideologi Islam". Dengan minyak, rezimnya dengan mudah memanjakan rakyat dengan subsidi dan fasilitas sosial yang gratis. Rezim militer Presiden Bashir di Sudan masih bertahan dan melakukan "politisasi Islam" karena didukung militer dan menyedot minyak dari Sudan Selatan. Di Mesir, kelompok "politisasi Islam" akan menemukan tantangan berat karena ketiadaan minyak dan tidak bisa mengandalkan produk "syariat Islam".

Jadi, kekuatan penyeimbang bagi kelompok "politisasi Islam" di Mesir-kalau mereka mau merampas kembali kebebasan dan berlindung di balik otoritarianisme Islam-adalah gerakan masyarakat sipil yang terbukti bisa menjatuhkan Mubarak. Dengan alasan ini, tidak bisa dibenarkan dalih: dibutuhkan rezim baru seperti Mubarak untuk mengimbangi kelompok "politisasi Islam". Dalih inilah yang sebelumnya menjadi jualan Mubarak yang menawarkan dua pilihan ekstrem agar bisa bertahan: "pilih aku meski otoriter tapi sekuler" atau "demokrasi yang akan memunculkan IM yang islamis". Sebagai penyeimbang ideologi politik Islam IM, tidak bisa dinafikan pula peran lembaga Al-Azhar yang sudah hidup lebih dari seribu tahun. Lembaga pendidikan Islam ini memiliki akar sejarah yang panjang dan kuat, serta mempunyai fasilitas-fasilitas pendidikan dan sosial yang tidak dimiliki oleh IM. Ideologi Al-Azhar adalah Sunni yang Asyarian dan Ghazalian, berbeda dari IM yang Salafi dan anti-mazhab. Basis aktivis IM pun bukan di lembaga-lembaga Al-Azhar, melainkan di fakultas-fakultas umum negeri. Pemimpin tertinggi IM, yang disebut "mursyid" setelah Hasan al-Banna, semuanya bukan lulusan fakultas agama, tapi fakultas sekuler. Mursyid IM sekarang, Mohamed Badei', adalah dokter, yang menggantikan Mahdi Akef, guru olahraga. Di era reformasi Mesir citra politik Al-Azhar dianggap lemah dan cenderung cacat karena terlalu dekat dengan pemerintah sebelumnya. Alasan ini bisa dimaklumi: karena negara yang memberikan sumbangan terbesar terhadap lembaga Al-Azhar selain wakaf dan donatur. Namun, dengan sejarah panjang dan lembaga pendidikan yang tersebar luas di Mesir, Al-Azhar telah memperkuat "ideologi Islam" yang berbeda dari ideologi IM. "Ideologi Islam" versi Al-Azhar mengembangkan Islam yang moderat, nonpolitis, cinta damai, dan terbuka terhadap yang lain. Kunci keharmonisan antara Kristen Koptik dan muslim Mesir adalah kuatnya "ideologi Islam" ala Al-Azhar, bukan versi IM. Walhasil, tidak mudah bagi kelompok "politisasi Islam" membajak gerakan reformasi Mesir dengan mendirikan suatu rezim teokrasi atas nama Islam, seperti Saudi atau Taliban di Mesir. Kekuatan-kekuatan baru telah muncul berkat demokrasi dan kebebasan, yakni "gerakan sipil baru" yang rasional, demokratis, serta mementingkan tuntutan perbaikan ekonomi dan sosial, bukan formalisasi "syariat Islam".

Sumber foto : google.picture.com/time.com

Minggu, 13 Februari 2011

Gamal Abdel Nasser - Hosni Mubarak dan Faktor Israel

Oleh : Muhammad Ilham

Nasser, lengkapnya Gamal Abdel Nasser, adalah tipikal pemimpin Arab yang menarik. Pemimpin Arab, karena Nasser-lah yang melahirkan konsep imagine community ala-nya sendiri, Pan Arabisme. Menarik, karena dianggap sebagai Presiden Mesir yang menghukum mati ulama-aktifis kharismatik pada zamannya, Hassan Al-Banna dan Sayyid Qutb. Dua ulama-aktifis yang dikenal sebagai icon Ikhwanul Muslimin dicatat dalam sejarah “dibungkam” oleh Presiden yang memiliki postur tubuh besar ini. Karena alasan ini, Nasser sering dibenci oleh aktifis Islam, khususnya yang memiliki kedekatan ideologis dengan Ikhwanul Muslimin. Tapi pada sisi lain, Nasser-lah mungkin satu-satunya Presiden di “ranah Arab” sana yang mampu membuat Israel “bergetar”. Sebagai sebuah entitas negara-bangsa di Timur Tengah, Israel dianggap sebagai representasi praktek kolonialisme modern. Kehadirannya membuat Palestina tak memiliki “rumah”, dan karena kehadirannya itu pula, dunia Arab selalu dilanda ketidakstabilan sosial politik, bahkan hingga sekarang. Dengan dukungan politik serta financial luar biasa dari Amerika Serikat, Israel memiliki “daya tawar” politik tinggi di Timur Tengah. Amerika Serikat adalah alasan utama mengapa negara yang dibentuk Ben Gurion dan kawan-kawan ini seakan-akan menjadi negara tak tersentuh. Nasser-lah yang mampu berada pada garis yang jelas, konfrontasi bersenjata dengan Israel. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh Iran sejak rezim para Mullah berkuasa. Ahmadinedjad yang dianggap sebagai figur paling ditakuti Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah sekarang ini, hanya memainkan politik konfrontasi kata-kata, tanpa pernah melakukan konfrontasi bersenjata. Keberanian Nasser inilah yang kemudian dikenang oleh sejarah, walau ia tidak begitu menang sepenuhnya. Ia kalah dalam menyatukan orang-orang Arab yang tercerai berai dalam upaya mewujudkan “mimpi” Pan-Arabisme-nya.

Bermula dari keprihatinan Nasser pada dunia Arab. Sebuah ranah – yang dalam bahasa Nurcholish Madjid – sebagai ranah-geografis kecil tapi dihuni oleh entitas negara-negara seukuran negeri “liliput”. Nasser ingin Arab milik orang Arab, bukan “milik” (tanda kutip) Amerika Serikat melalui Israel. Tapi Nasser bersedih di bulan Oktober 1967. “Mengapa seratus juta orang Arab masih tercerai berai ?”, keluhnya. Nasser kehilangan harapan dan optimism untuk menghancurkan kecongkakan Israel. Arab Saudi yang dianggap sebagai salah satu negara paling berpengaruh di Timur Tengah pada masa itu, tidak pernah sungguh-sungguh membantu impian Nasser untuk mewujudkan Pan-Arabisme dan “mencungkil” pengaruh Israel di Timur Tengah. Ganjalannya memang ada – Nasser menerima Raja Suud berdiam di Kairo – setelah melarikan diri dari Arab Saudi. Ini membuat Raja Faisal yang menggantikannya, geram. Sementara itu, Israel yang telah menganggap Nasser sebagai “musuh” terbesar, terus melakukan tekanan. Karena melihat kesungguhan bertindak negara-negara Arab tidak ada, maka Nasser akhirnya terpaksa menggantungkan harapannya pada Uni Sovyet. Nasser tak memiliki pilihan lain. Ia beranggapan, Arab akan selamanya tenggelam dalam kehinaan bila Angkatan Bersenjata Mesir tidak dibangun. Konsekuensinya, Uni Sovyet harus ditarik secara menyeluruh kedalam masalah Timur Tengah/Dunia Arab. Sesuatu yang sebenarnya tidak dibayangkan oleh Nasser pada awal ia mencentuskan keinginan untuk menghabisi kecongkakan negara Israel. Ia berharap banyak pada persatuan Arab. Itu tidak didapatkannya.

Apa yang dialami Nasser ini, untuk kasus yang berbeda, rada-rada “mirip” dengan apa yang dialami oleh sahabatnya – Soekarno (mereka berdua dikenal sebagai diantara tokoh yang mendirikan Gerakan Non-Blok, sebuah organisasi lintas bangsa yang mengedepankan spirit kemandirian dan independensi). Soekarno terpaksa mendekat ke Uni Sovyet dan Cina karena butuh senjata untuk memuluskan “revolusinya” dan Ganyang Malaysia. Tapi apa nyana, negara Paman Sam justru “mengetawakan” Soekarno, karena tak mungkin senjata yang akan diberikan untuk menghantam Malaysia, negara commonwealth yang berada dibawah naungan Inggris, sahabat Amerika Serikat. Karena itulah, apa yang dilakukan Soekarno, juga dilakukan oleh Nasser, bolak-balik ke Moscow. Nasser memiliki alasan. Secara geografis, sekujur Mesir telanjang tak terlindungi. Israel akan mudah menembakkan senjata mereka ke Mesir. Bendungan Aswan pun telah diincar oleh Israel. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana Nasser melindungi Mesir dari Israel ? Tambahan lagi, Pelabuhan yang tersisa tinggal satu : Iskandariyah, setelah Port Said luluh lantak, tersebabkan oleh perang sebelumnya dengan Israel. Bila Iskandariyah di bom, Mesir tak punya harapan. Usaha Nasser menarik Uni Sovyet masuk kedalam masalah Timur Tengah nampaknya tidak tanggung-tanggung. Ini dibuktikan kala Uni Sovyet merasa ragu, Nasser mendapat alasan untuk marah. “Baiklah, jika Mesir tidak memperoleh apa yang dimintanya, maka dunia akan tahu, satu-satunya keputusan ada di tangan Amerika Serikat. Saya akan mengatakan kepada rakyat saya bahwa sudah tiba masanya bagi saya untuk mundur. Tempat saya akan digantikan oleh orang yang pro-Amerika Serikat”, kata Nasser. Presiden Uni Sovyet kala itu, Leonid Ilyich Brezhnev tersentak. “Kamerad Nasser, baiklah !”, katanya.

Akhirnya, persoalan bantuan senjata menjadi beres. Bantuan senjata dari Uni Sovyet ini membuat Nasser menjadi leluasa membangun angkatan bersenjatanya. Suatu pembangunan yang kemudian membuahkan hasil luar biasa dalam Perang Yom Kippur nan terkenal itu. Suatu perang yang “menggetarkan” dan menghancurkan kedigdayaan serta kepongahan Israel. Moshe “si mata satu” Dayan – panglima legendaries angkatan bersenjata Israel – dibuat malu. Kemenangan Nasser dalam Perang Yom Kippur tersebut membuat dunia Arab muncul – dalam istilah Riza Sihbudi – dari lumpur kehinaan. Inilah fungsi hubungan Nasser dengan Uni Sovyet. Dan setelah era Nasser berakhir, Anwar Sadat sangat berhati-hati menjalin hubungan dengan Uni Sovyet hingga keruntuhan negara Tirai Besi ini. Haluan Anwar Sadat dan Husni Mubarak akhirnya beralih ke Amerika Serikat. Mereka berdua dianggap sebagai “penjaga” Perjanjian Perdamaian Camp David. Berdamai dengan Israel dan Amerika Serikat. Sesuatu yang tidak dibayangkan oleh Nasser pada masa hidupnya. Mungkin ini-lah yang membuat garis perbedaan : “Mengapa Nasser begitu dipuja bukan oleh rakyat Mesir saja, tapi hampir seluruh dunia Arab. Sementara Anwar Sadat ditembak mati oleh Khalid Islambouli. Sedangkan Husni Mubarak sedang menghitung hari ............ dan betul-betul "dijatuhkan" revolusi rakyat Mesir” (kalimat terakhir saya tulis Jum'at pukul 11.30 WIB, kala Mubarak "terpaksa" mundur).

Foto : Gamal Abdel Nasser, Husni Mubarak dan Jenderal Moshe Dayan (sumber : time.com)

PRRI : Sebuah Kisah dari Negeri "Pembangkang"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Ahmad Husein menegaskan langkahnya. Ia seakan beradu dengan waktu. Ada sesuatu kecamuk dalam dirinya. Ultimatum yang ia layangkan lima hari lalu pada Kabinet Djuanda untuk menyerahkan mandatnya, lalu meminta Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk suatu kabinet hingga pemilu selanjutnya. Serta meminta Presiden Soekarno untuk kembali kepada posisi konstitusionalnya. Tuntutan ini tak digubris oleh Pusat. Tak ada pilihan lain, pikirnya. Kami bebas dari kewajiban patuh kepada Soekarno sebagai Kepala Negara. 15 Februari 1958, di Padang, Ahmad Husein memproklamirkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sjafrudin Prawiranegara—yang sebelumnya merupakan pemimpin PDRI—terpilih sebagai Perdana Menteri. Piagam Palembang, yang sebelumnya diserukan pada tanggal 8 September, merupakan satu kesepakatan antara petinggi militer Sumatera dan intelektual sipil bahwa ada sesuatu yang salah dengan Indonesia saat itu—terutama kisruh politik antara Pusat dan Daerah. Kolonel Barlian, Husein, Sumual (dari militer) menuntut enam hal; (1) pemulihan dwitunggal Soekarno-Hatta, (2) penggantian pimpinan Angkatan Darat, (3) melaksanakan otonomi daerah, (4) pembentukan senat di samping Dewan Perwakilan Rakyat untuk mewakili daerah-daerah melaksanakan otonomi daerah, (5) meremajakan dan menyederhanakan pemerintah dan (6) melarang komunisme di Indonesia. Kehadiran M. Natsir, yang tengah berseberangan dengan Soekarno terkait dengan isu Nasakom, dalam pertemuan Palembang itu memberi pengaruh besar di dalam sidang tersebut. Bahkan, Natsir tetap berdiri terus bersama PRRI hingga konflik ini berakhir. Benar-benar seorang pembangkang sejati.

Isu komunisme kemudian menjadi isu yang berkembang yang semakin meruncingkan perbedaan antara Pusat dan Daerah. Sebelumnya, sejak tahun 50-an, konflik kepentingan sesungguhnya sudah sangat intens di kalangan partai-partai politik yang anti dan pro-komunis. Kesadaran akan bahaya komunisme gencar dilakukan, terutama oleh Natsir dengan Masyumi-nya. Namun, Soekarno sepertinya semakin cenderung memihak ke PKI. Soekarno semakin otoriter di mata banyak kalangan. Bahkan, sinyalemen itu semakin kuat dan Hatta pun akhirnya mundur sebagai “rem” Soekarno di awal Desember 1957. Belum lagi masalah intern di Angkatan Darat yang semakin menunjukkan krisis multidimensi saat itu. Masalah kemiskinan yang berlarut seakan hanya sebagai bumbu saja untuk semakin mempersedap perpecahan republik. Perpecahan ini dilihat berbeda oleh Amerika yang memang sangat ingin menghilangkan komunisme di Indonesia. Melalui CIA dan Departemen Luar Negeri disusunlah rencana besar untuk membantu pergolakan daerah itu. “Negara Sumatera” menjadi opsi yang lebih baik ketimbang terus bersatu dengan republik yang pro-komunis. Laporan-laporan dari Howard P. Jones, selaku dutabesar Amerika, semakin mempertegas bahwa di kalangan Angkatan Darat mulai terpecah dua dan ia menyimpulkan bahwa benar adanya satu gerakan nyata tentang antikomunis di kubu militer. Dean Almy, seorang Konsul AS di Medan, segera menemui para pembangkang tersebut. Selain menyerahkan uang tunai sebesar 50.000 dollar AS, juga dibahas realisasi bantuan senjata bagi 8.000 personil militer pembangkang Sumatera. Allan Dulles, Direktur CIA yang juga otak dari segala aksi di belakang upaya pembunuhan Soekarno, kemudian bertemu dengan Presiden Eisenhower mengenai kemungkinan operasi militer ‘skala kecil’ di Sumatera yang disebut dengan ‘Haik Operation’. Dengan dalih mengamankan instalasi perusahaan pengeboran minyak Caltex di Pekanbaru, Eisenhower kemudian menggelar operasi intervensi ke bumi Andalas secara amat rahasia. Despotisme komunis yang diusung Soekarno sungguh mengancam hegemoni Amerika di kawasan Asia Tenggara. Ini harus dihentikan.

Melalui pesawat amfibi PBY 5 Catalina, CIA memasok senjata dan aneka perbekalan ke Danau Singkarak dan lapangan terbang Tabing. Tak puas memberi dana, senjata dan perbekalan, militer Amerika kemudian melatih pasukan PRRI di beberapa tempat rahasia sebelum ditempatkan di sekitar Danau Singkarak. Setelah merasa kuat dan mapan, barulah Ahmad Husein mendeklarasikan PRRI di Februari itu. Namun, tak butuh waktu lama bagi Pusat untuk bertindak. Esoknya, Perdana Menteri Djuanda memerintahkan penangkapan Sjafruddin dan yang lainnya. Nasution, selaku KASAD, pun memecat semua pemimpin militer yang terlibat dengan PRRI. Lalu, pada tanggal 21 dan 22 Februari, Painan, Padang dan Bukittinggi diserang melalui udara. Serangan pemerintah ke Sumatera Barat diberi nama “Operasi 17 Agustus” dan dipimpin langsung oleh Kolonel Ahmad Yani—orang yang kini namanya jadi salah satu nama jalan utama di kota Padang. 17 April kota Padang dibombardir dengan skala besar, yang bahkan tak diperhitungkan oleh Eisenhower sekalipun. Mungkin, tak pernah ada pembasmian pembangkang republik yang sebesar ini di Indonesia jika dilihat dari banyaknya jumlah korban. Entah kenapa Pusat begitu semangat menghancurkan Sumatera Barat—berbeda dengan Sumatera Utara atau Sumatera Selatan—yang memang tak memiliki aset Amerika di daerahnya. Amerika sepertinya membiarkan saja Sumatera Barat digempur habis-habisan. Atau inikah taktik Eisenhower? Nasution saja melaporkan sebanyak 22.174 korban sebagai laporan resminya. Angka itu belum termasuk korban sipil yang mungkin pula puluhan ribu jumlahnya. Inilah kemudian yang disebut Audrey Kahin sebagai momen mundurnya Sumatera Barat di republik ini—the lost of intellectual groups.

Jika Mestika Zed menggambarkan bagaimana terhinanya masyarakat Minangkabau setelah penumpasan PRRI oleh pusat atas julukan pemberontak ataupun pembangkang yang kemudian dilekatkan atas diri mereka—seakan-akan ini adalah bentuk diskriminasi sosial—maka tenanglah, hari ini tak akan ada lagi pemberontak yang lahir di Sumatera Barat. Sjafruddin, selaku pemimpin PRRI, mengatakan “sesungguhnya perjuangan kita mencoba memberi isi pada kata-kata dalam lambang Indonesia; Bhinneka Tunggal Ika… sampai sekarang, berbagai pemerintahan di Jakarta tidak memberi isi kata-kata ini, dan pemerintahan Soekarno bahkan kelihatan ingin menghancurkannya semua…sebelumnya kita membuang warna biru dari bendera tiga warna menjadi merah putih, tapi sekarang rezim Soekarno mencoba membuang putih menjadi tinggal bendera merah.” Apakah orang yang ingin meluruskan cita-cita kemerdekaan ketika pendapatnya berseberangan dengan penguasa harus selalu dicap pemberontak? Dicap pembangkang? Bukankah Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, M.Yamin, M.Natsir, Abdul Muis, Hamka, Agus Salim dan lain-lainya itu adalah para pembangkang terbesar yang pernah ada? Jika mereka tak membangkang pada praktik-praktik kolonialisme sungguh tak mungkin kita bisa merasakan Indonesia seperti saat ini—yang tentunya sudah keluar dari apa yang mereka perjuangkan dulu. Tapi tenanglah. Pembangkang-pembangkang itu takkan lahir lagi dari nagari ini lagi. Karena jiwa-jiwa resah itu kini sudah berganti dengan jiwa-jiwa yang nyaman dalam ketidaknyamanannya. Orang Sumatera Barat takkan menjadi seperti orang Jawa Barat yang meniadakan jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk di provinsi mereka karena mereka takkan mengganti jalan Ahmad Yani—orang yang melumatkan nagari para pembangkang atas panggilan tugas—dengan Ahmad Husein. Nagari yang pernah dikutuk untuk tidak bisa tidak memikirkan republik ini mulai dari kelahirannya kini sudah cukup puas hanya dengan mengantar ke gerbang saja. Tidak untuk selamanya. Tenanglah, tak perlu lagi peluru itu dibeli dan dimuntahkan untuk membunuhi saudara sendiri yang mencoba mengkritisi penguasa—melalui pajak yang justru kami bayar sendiri. Jadi, tenanglah. Pembangkang sudah tak lahir lagi di nagari ini. Nagari ini sudah damai dalam ketidakdamaiannya. Semoga saya salah.

(c) Note & diskusi via FB Devy Kurnia K. Foto : kabinet PRRI dan Tokoh PRRI (sumber : www.historia-online.com)

Kamis, 10 Februari 2011

Mubarak : "Sumbu" Prahara dan Biarkanlah Foto Ini Bicara ! (Bagian 1)

Oleh : Muhammad Ilham


Sudah begitu banyak analisis yang kita dapatkan dari semua pakar Timur Tengah. "Berdiamlah" sebentar di depan TV, putar Channel Metro TV ataupun TVOne, maka Z. Misraiwi dan Salim Said ataupun Nurcholis maupun Riza Shihbudi akan muncul dengan analisis-analisis mereka. Mereka teramat laris belakangan ini. Judul berita-nya pun berganti-ganti : "Mesir Bergolak", "Mesir Berdarah", "Mubarak Menghitung Hari" dan seterusnya. Bahkan terkadang terkesan dramatis. Dua TV swasta Indonesia merasa perlu menghabiskan durasi siaran 24 jam-nya dengan topik Mesir 1/2 dari durasi itu. Perbincangan tentang Mesir merambah hingga ke kedai-lepau terkecil sekalipun. Begitu banyak ibu-ibu yang tak melek politik, yang ketika ditanyakan tentang Mesir, mereka hanya tahu dengan Fir'aun "ayah angkat" Nabi Musa itu, akan tetapi belakangan ini, nama Mubarak bagi mereka sungguh familiar, bahkan mengalahkan Adjie Massaid atawa "cerita usang" Milana-Gayus Halomoan Partahanan Tambunan yang rekeningnya itu bertimbun-timbun dengan jumlah yang teramat tambun. Begitu hebat media. Mengisi "ruang memori" publik. Dan pagi tadi, seorang tukang Jagung yang berjualan di pinggiran jalan menantang saya "bertaruh" dengan mengajukan pertanyaan, "berapa lama lagi Mubarak akan turun ?". Saya tanya, "sudah lama-kah Bapak tahu dengan Mubarak ?". "Tidak, katanya, baru dua minggu ini", katanya sambil menanyakan kembali tantangannya itu. Saya tersenyum.

Wakil Presiden Hosni Mubarak (kiri) dan Presiden Anwar Sadat (kanan), saat memperingati “Hari Kemenangan” pada tanggal 6 Oktober 1981, dimana kemudian sekelompok anggota tentara Mesir (yang juga anggota kelompok tentara Jihad Islam) menghabisi nyawa presiden Anwar Sadat dengan berondongan senjata api.



Peristiwa terjadinya pembunuhan terhadap Presiden Anwar Sadat pada tanggal 6 Oktober 1981 oleh kelompok tentara Jihad Islam, karena Sadat telah menandatangani perdamaian dengan Israel.


Saya tak punya pengetahuan banyak tentang Husni Mubarak. Saya hanya tahu, ia Presiden Mesir selama 31 tahun, punya istri cantik bernama Susanne/Suzanne yang kecantikannya mengalahkan Farah Diba "kepunyaan" Syah Iran Reza Pahlevi ataupun Jehan Sadat, saya-pun baru belakangan tahu, bahwa Mubarak sedang meniru pola Kim Il-Sung yang mengkader anaknya Kim Jong Il jadi Presiden Korea Utara yang kemudian si Kim "bontot" ini mengkader anaknya pula, mungkin juga Mubarak terinspirasi pada Hafez al-Assad yang "relatif" berhasil mendudukkan anaknya Basyar al-Assad jadi Presiden Suriah/Syiria. Karena itu-lah, mungkin, Mubarrak ngotot "mengkarbit" Jamal/Gamal Mubarrak jadi "putra mahkota"nya (walau beberapa hari nan lewat, si Gamal ini tahu diri dan mengundurkan diri dari Parlemen Mesir serta partai NDP = Partai Nasional Demokrat .... bila nanti Surya Paloh "meresmikan" Nasional Demokrat-nya jadi Partai, maka "lengkap-lah" kemiripan nama Partai bos Metro TV ini dengan Partai Mubarrak). Seharusnya, Mubarak meniru Lee Kuen Yew yang "menyiksa" anaknya belajar jadi pemimpin sehingga Big Lee/Lee She Liong memang pantas jadi Perdana Menteri Singapura, bukan seperti si Gamal yang masuk dalam kategori milyarder muda Mesir yang juga diistilahkan oleh salah seorang komentator di sebuah media TV Swasta - anak manja Suzanne Mubarrak. Demikian juga tentang kiprah Mubarrak muda, saya hanya punya pengetahuan amat segelintir saja. Saya hanya tahu, ia duduk di sebelah kanan Anwar Sadat (disebelah kiri Sadat : Jenderal Gazalba) kala Ismail Islambouli menembak suami Jehan Sadat ini. Kliping fotonya masih saya simpan, oleh-oleh dari almarhum Ayahanda yang Tukang jahit kelas kampung tapi berlangganan Majalah TEMPO era-80-an. Dan belakangan saya sedikit tahu, Mubarrak merupakan pewaris-genetik-politik penjaga Perjanjian Camp David yang ditandatangani Anwar Sadat-Menachen Begin-Jimmy Carter itu - untuk ini, mereka bertiga "diganjar" Nobel Perdamaian. Karena ini pulalah, Mubarrak merasa "anteng" berpelukan mesra dengan pemimpin Zionis Israel seangkatannya seumpama Menachen Begin, Yitzhak Shamir, Yitzak Rabin, Benjamin Netanyahu dan seterusnya. Mubarak dianggap "penanggung jawab" ketenangan negara Israel. Mubarak yang Husni ini, juga dianggap Presiden tipikal meritokrasi-militer - meminjam istilah Harold Crouch seperti Saddam Hussein dan Soeharto.


Suzanne Mubarak - istri Husni Mubarak. Masih "tersisa" raut kecantikannya mengalahkan Farah Diba

Alaa Mubarak - Putra Pertama Husni Mubarak

Gamal Mubarak - Anak Kedua Mubarak. Diplot Mubarak sebagai "Putra Mahkota"

Tapi, walaupun sedikit yang saya kenal, ada satu kepastian sejarah : "Kekuasaan yang dipegang dengan lama, cenderung korup. Kekuasaan yang dibangun di atas pembungkaman hak-hak dasar publik, cenderung akan lumpuh. Dan kekuasaan yang bergelimang uang korupsi, kekuasaannya akan dicatat dengan hina dalam sejarah". Konon, Mubarak memiliki kekayaan keluarga hingga 320 trilyun. Saya tak tahu bagaimana bila uang sebanyak itu ditukarkan dengan uang ribuan kertas 1000 rupiah yang berwarna Kapiten Pattimura @ Thomas Mattulesy. Dan biarkanlah foto dibawah ini "bicara" !!














Sumber foto : al-jazeera.com/cnn.com/reuter.com

Selasa, 08 Februari 2011

Mubarak : "Sumbu" Prahara dan Biarkanlah Foto Ini Bicara ! (Bagian 2)

Diedit oleh : Muhammad Ilham

Sudah begitu banyak analisis yang kita dapatkan dari semua pakar Timur Tengah. "Berdiamlah" sebentar di depan TV, putar Channel Metro TV ataupun TVOne, maka Z. Misraiwi dan Salim Said ataupun Nurcholis maupun Riza Shihbudi akan muncul dengan analisis-analisis mereka. Mereka teramat laris belakangan ini. Judul berita-nya pun berganti-ganti : "Mesir Bergolak", "Mesir Berdarah", "Mubarak Menghitung Hari" dan seterusnya. Bahkan terkadang terkesan dramatis. Dua TV swasta Indonesia merasa perlu menghabiskan durasi siaran 24 jam-nya dengan topik Mesir 1/2 dari durasi itu. Perbincangan tentang Mesir merambah hingga ke kedai-lepau terkecil sekalipun. Begitu banyak ibu-ibu yang tak melek politik, yang ketika ditanyakan tentang Mesir, mereka hanya tahu dengan Fir'aun "ayah angkat" Nabi Musa itu, akan tetapi belakangan ini, nama Mubarak bagi mereka sungguh familiar, bahkan mengalahkan Adjie Massaid atawa "cerita usang" Milana-Gayus Halomoan Partahanan Tambunan yang rekeningnya itu bertimbun-timbun dengan jumlah yang teramat tambun. Begitu hebat media. Mengisi "ruang memori" publik. Dan pagi tadi, seorang tukang Jagung yang berjualan di pinggiran jalan menantang saya "bertaruh" dengan mengajukan pertanyaan, "berapa lama lagi Mubarak akan turun ?". Saya tanya, "sudah lama-kah Bapak tahu dengan Mubarak ?". "Tidak, katanya, baru dua minggu ini", katanya sambil menanyakan kembali tantangannya itu. Saya tersenyum.

Saya tak punya pengetahuan banyak tentang Husni Mubarak. Saya hanya tahu, ia Presiden Mesir selama 31 tahun, punya istri cantik bernama Susanne/Suzanne yang kecantikannya mengalahkan Farah Diba "kepunyaan" Syah Iran Reza Pahlevi ataupun Jehan Sadat, saya-pun baru belakangan tahu, bahwa Mubarak sedang meniru pola Kim Il-Sung yang mengkader anaknya Kim Jong Il jadi Presiden Korea Utara yang kemudian si Kim "bontot" ini mengkader anaknya pula, mungkin juga Mubarak terinspirasi pada Hafez al-Assad yang "relatif" berhasil mendudukkan anaknya Basyar al-Assad jadi Presiden Suriah/Syiria. Karena itu-lah, mungkin, Mubarrak ngotot "mengkarbit" Jamal/Gamal Mubarrak jadi "putra mahkota"nya (walau beberapa hari nan lewat, si Gamal ini tahu diri dan mengundurkan diri dari Parlemen Mesir serta partai NDP = Partai Nasional Demokrat .... bila nanti Surya Paloh "meresmikan" Nasional Demokrat-nya jadi Partai, maka "lengkap-lah" kemiripan nama Partai bos Metro TV ini dengan Partai Mubarrak). Seharusnya, Mubarak meniru Lee Kuen Yew yang "menyiksa" anaknya belajar jadi pemimpin sehingga Big Lee/Lee She Liong memang pantas jadi Perdana Menteri Singapura, bukan seperti si Gamal yang masuk dalam kategori milyarder muda Mesir yang juga diistilahkan oleh salah seorang komentator di sebuah media TV Swasta - anak manja Suzanne Mubarrak. Demikian juga tentang kiprah Mubarrak muda, saya hanya punya pengetahuan amat segelintir saja. Saya hanya tahu, ia duduk di sebelah kanan Anwar Sadat (disebelah kiri Sadat : Jenderal Gazalba) kala Ismail Islambouli menembak suami Jehan Sadat ini. Kliping fotonya masih saya simpan, oleh-oleh dari almarhum Ayahanda yang Tukang jahit kelas kampung tapi berlangganan Majalah TEMPO era-80-an. Dan belakangan saya sedikit tahu, Mubarrak merupakan pewaris-genetik-politik penjaga Perjanjian Camp David yang ditandatangani Anwar Sadat-Menachen Begin-Jimmy Carter itu - untuk ini, mereka bertiga "diganjar" Nobel Perdamaian. Karena ini pulalah, Mubarrak merasa "anteng" berpelukan mesra dengan pemimpin Zionis Israel seangkatannya seumpama Menachen Begin, Yitzhak Shamir, Yitzak Rabin, Benjamin Netanyahu dan seterusnya. Mubarak dianggap "penanggung jawab" ketenangan negara Israel. Mubarak yang Husni ini, juga dianggap Presiden tipikal meritokrasi-militer - meminjam istilah Harold Crouch seperti Saddam Hussein dan Soeharto. Tapi, walaupun sedikit yang saya kenal, ada satu kepastian sejarah : "Kekuasaan yang dipegang dengan lama, cenderung korup. Kekuasaan yang dibangun di atas pembungkaman hak-hak dasar publik, cenderung akan lumpuh. Dan kekuasaan yang bergelimang uang korupsi, kekuasaannya akan dicatat dengan hina dalam sejarah". Konon, Mubarak memiliki kekayaan keluarga hingga 320 trilyun. Saya tak tahu bagaimana bila uang sebanyak itu ditukarkan dengan uang ribuan kertas 1000 rupiah yang berwarna Kapiten Pattimura @ Thomas Mattulesy.































Sumber foto : al-jazeera.com/cnn.com/reuter.com