Rabu, 05 Januari 2011

Untuk Apa dan Siapa Sejarah Ditulis ?

Oleh : Muhammad Ilham

" ...... Jangan kamu cari arti kata-kata/tapi pahami bagaimana kata-kata itu difungsikan !(Gadamer)

Untuk apa dan untuk siapa sejarah ditulis ?”. Teringatlah saya dengan Bennedict R.O’ Gonnor Anderson yang telah memperbaiki tesis dan asumsi dominant selama ini yang berkembang – khususnya sejarah versi Orde Baru – tentang penyebab dan aktor Gerakan 30 September 1965. Beberapa versi selama ini mengatakan bahwa penyebab dan aktor Gerakan 30 September 1965 tersebut adalah Ketua CC PKI ketika Gerakan 30 September 1965 terjadi. DN merupakan singkatan dari Dipa Nusantara. Ada juga beberapa versi lain yang mengatakan bahwa DN adalah singkatan dari Danu Nusantara. Sebenarnya, DN merupakan singkatan dari Dja’far Nawawi Aidit. Karena Dja’far Nawawi terkesan “religius”, maka Aidit menggantinya dengan Dipa Nusantara/Danu Nusantara, sebagaimana halnya dengan tokoh komunis Sumatera Barat Chalid Salim (adik Haji Agus Salim) yang mengganti label namanya dengan Chalid Xalim. Tapi sudahlah, setiap orang berhak “mengkreasi” namanya. Kembali ke Anderson. Melalui Cornell Paper’s-nya, Anderson secara tidak langsung telah merevisi G 30 S/PKI menjadi G 30 S saja. Anderson mengatakan bahwa penyebab terjadinya gerakan tersebut bukan disebabkan oleh faktor tunggal, tapi cukup komprehensif karena analisis sejarah diseputar gerakan tersebut harus memasukkan faktor keterlibatan CIA, konflik internal Angkatan Darat dan peta politik global serta regional. Karya Anderson dan beberapa karya sejarah lain yang berkaitan dengan gerakan 30 September 1965 tersebut dipahami dalam konteks untuk memperbaiki “mainstream” yang selama ini berkembang.

Sulit memang menganggap semua karya sejarah akan bersikap objektif. Karena subjektifiyas itu merupakan kondisi objektif dalam penulisan sejarah. Standar keilmiahan sebuah disiplin ilmu, secara umum biasanya diukur dari cara kerja (metodologi) disiplin ilmu itu sendiri yang mengacu kepada metode-metode baku sehingga hasil dari kerja ilmiahnya akan dinilai sebagai sesuatu yang objektif, sebagaimana halnya pada disiplin-disiplin ilmu lainnya – eksak, khususnya.
Disiplin ilmu sejarah memiliki kaedah-kaedah metode penelitian tersendiri sehingga dikatakan sebagai disiplin ilmu yang objektif. Ungkapan nan “klasik” Leopold van Ranke bahwa sejarah itu harus dikaji “seperi apa yang sebenarnya ia terjadi” memberikan pondasi awal ke-objetifitasan disiplin ilmu sejarah itu sendiri. J.B. Burry misalnya mengatakan bahwa “sejarah itu sains, ia memiliki metode sendiri, tak lebih tak kurang”, kembali mempertegas bahwa ilmu sejarah bisa objektif karena metode sendiri. Karena memiliki metode sendiri, maka kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan dengan merujuk kepada metode yang dimilikinya. Karena memiliki metode sendiri, maka pola kerja dalam sebuah penelitian serta penulisan bisa dianggap sama dikalangan sejarawan di seluruh dunia. Dalam konteks inilah, objektif ilmu sejarah tersebut dipahami.

Bila ada perdebatan-perdebatan dari sebuah karya sejarah, biasanya berawal dari teknik analisis dimana teori-teori/paradigma/pendekatan dari si penulis sejarah/sejarawan tersebut “bermain”. Karena ini pula, hasil sebuah penelitian/tulisan sejarah terkadang berbeda-beda. Tapi, hampir semua disiplin ilmu, khususnya ilmu sosial, perbedaan-perbedaan tersebut selalu bersumber dari paradigma/pendekatan yang digunakan.
Berangkat dari pemahaman ini, maka kerapkali kita menemukan beberapa karya sejarah dengan tema yang sama justru menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Karena seringkali karya sejarah tersebut menghasilkan simpulan yang berbeda, timbul anggapan bahwa karya sejarah tersebut dalam proses rekonstruksinya, tidak objektif. Padahal, perbedaan kesimpulan yang didapatkan bukan karena metode penelitian yang berbeda. Metode-nya sama, akan tetapi pendekatan yang digunakan berbeda.

Banyak karya sejarah, untuk kasus-kasus yang sama, memperkuat hal ini. Kasus tragedy 30 September 1965 juga bisa kita lihat dalam konteks ini. Hermawan Sulistyo (2002) melihat konflik pertanahan/agraria sebagai penyebab terjadinya pembunuhan besar-besaran terhadap eks-PKI dan Gerwani di wilayah Jawa Timur, sedangkan Asvi Warman Adam justru melihat pembunuhan tersebut dari pendekatan Tipe Ideal-nya Weber, dimana eksistensi kepemimpinan kharismatik Kiai “tereduksi” oleh pengaruh PKI yang mengedepankan semangat “egaliterianisme” dan anti borjuis (termasuk borjuisasi agama). Untuk kasus yang sama, simpulannya berbeda. Tapi, rekonstruksi sejarah ini dianggap objektif karena mengikuti prosedur kerja baku yang dikenal dalam epistimologi sejarah. Simpulan berbeda, karena pendekatannya berbeda. Untuk hal yang sama, dalam proses bimbingan skripsi, saya pernah mengalami hal serupa. Membimbing beberapa orang mahasiswa mengenai kasus yang sama, namun dilihat dari perspektif/pendekatan yang berbeda. Skripsi pertama tentang “Dinamika Fungsi Rumah Adat” yang dilihat dari pendekatan sosiologi antropologi (secara general). Mahasiswa bersangkutan melihat perubahan fungsi-fungsi rumah adapt tersebut dalam spectrum waktu dengan mengedepankan teori structural fungsional. Sementara mahasiswa yang lain justru melihat “Dinamika Fungsi Rumah Adat” tersebut dari perspektif arkeologis. Mahasiswa tersebut melihat perubahan-perubahan fungsi dari meaning (pemaknaan) dari tinggalan-tinggalan material yang ada di Rumah Adat itu. Simpulannya, terjadi perbedaan signifikan diantara dua skripsi ini. Akan tetapi, metode yang mereka gunakan sama sebagaimana yang dikenal dalam ilmu sejarah, bagi saya, penelitian mereka tetap objektif karena memiliki parameter untuk bisa dipertanggungjawabkan.

Kita masih ingat dengan ungkapan filosof - sejarawan Italia, Bennedicto Croce yang pernah mengeluarkan ungkapan terkenal : “storia e storia contemporanea”. Artinya kira-kira, sejarah yang benar-benar sejarah adalah sejarah kekinian. Ungkapan ini bisa dipahami dalam dua perspektif. Pertama, Croce ingin mengatakan bahwa penulisan sejarah yang baik haruslah berangkat dari kondisi atau realitas kekinian yang untuk kemudian dicari “akar”nya kedalam “relung panjang sejarah” – meminjam istilah Taufik Abdullah. Pemahaman kedua, Croce ingin menjelaskan posisinya dalam melihat sejarah. Baginya sejarah tersebut sangat terikat dengan konteks masanya yang diistilahkannya sebagai contemporanea – kekiniaan atau ke-masa-an. Intinya adalah, penulisan sejarah, nilai objektifitasnya tersebut sangat terikat dengan ruang dan waktu. Pemahaman orang terhadap suatu fenomena sejarah pada suatu era, akan berbeda dengan era yang lain. Ketika sebuah kalimat tertera dalam sebuah arsip yang dicatat pada era 1910-an : ”Anak-anak di Air Bangis berjalan di tepian soengai pada senja hari pergi sumbajang dan mengadji ke langgar dan poelang tidak pernah laroet malam sehingganja sumbajang isa’ (Isya: pen.) hanja diikoeti oleh orang-prang tua sahaja” (Lihat HAA. Haars, Hikajat Perang : Catatan 1st the Luittenant der Infanteri, Batavia: G. Golf and Co., 1897. Buku dalam bentuk PDF Penulis dapatkan dari kiriman seorang kawan dari Leiden Universitet Belanda). Kalimat “miring” akan berbeda pemahamannya bila ditafsirkan pada masa sekarang. Senja pada masa itu akan dipahami dalam durasi waktu pukul 4 – 5 sore, sedangkan larut malam dimaknai sebelum sholat Isya (lebih kurang pukul 8 malam). Bila hal tersebut ditafsirkan menurut “kacamata” sekarang, maka senja itu adalah pukul 6 – 7 malam, sedangkan larut malam diatas pukul 10 malam. Demikian juga dengan konsepsi poligami, misalnya. Banyak karya-karya sejarah, khususnya yang berkaitan dengan biografi ulama yang berkaitan dengan praktek poligami. Misalnya penggalan kalimat berikut : Syekh Halaban yang dianggap sebagai ulama kharismatik. Dengan potensi kepemimpinan seperti ini, sangatlah mudah bagi Syekh Halaban untuk memiliki istri banyak, bahkan para orang tua berlomba-lomba untuk “menyodorkan” anak mereka menjadi istri Syekh yang juga guru dari ulama tradisional Minangkabau terkenal – Syekh Inyiak Canduang” (Tim Peneliti FIBA, 2007). Konsepsi poligami dalam kalangan masyarakat pada masa-masa tersebut diatas adalah suatu kondisi sosial yang fungsional, baik bagi masyarakat maupun bagi elit agama itu sendiri. Nilai-nilai dan fungsi ini hanya bisa diletakkan pada era itu. Ini tidak akan bisa kita tempatkan pada masa-masa A’a Gym ataupun Zainuddin MZ.

Apa yang dikemukakan diatas juga secara “gamblang” pernah dikemukakan dengan baik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-sejarahnya yang bertitelkan “Gadis Pantai”. Dengan begitu bagusnya Pram menarasikan bagaimana seorang ulama begitu dikonstruksikan oleh realitas sosial dalam strata yang demikian tinggi. Walau bukan dalam bentuk karya sejarah “sebagaimana mestinya”, akan tetapi novel-sejarah ini setidaknya mampu memberikan kepada kita gambaran yang terjadi pada era awal 1900-an, khususnya di Pantai Selatan Jawa. Bila kita membaca Gadis Pantai ini dengan kaca mata kita sekarang, maka akan kita simpulkan : “ulama yang maniac seks, ulama yang suka daun-daun muda dan ulama yang sangat otoriter serta ulama yang sombong-pongah dengan keulamaannya”. Begitu juga dengan narasi berikut ini : “Sebagaimana anak muda kampoeng lainnja, tentunja Ridjal amat senang sekali bisa berkawan dengan kakak sepoepoenja jang manis itu. Namanya Halimah. Tapi sajang, ianja akan berkahwin dengan seorang saudagar kaja dari Bangkahulu, saudagar jang juga ulama karena baru pulang dari tanah Mekkah. Halimah yang baroe beroemoer 14 tahun, akan berkahwin beberapa minggoe lagi” (Muhammad Radjab, Masa Kecil di Kampung, 1938). Tentu, bila Syekh Puji hidup pada masa Ridjal ini hidup, ia akan dapat memperistri “anak dibawah umur”. Bila Syekh Puji juga hidup pada masa diatas tersebut, tentu juga ia tidak akan dikenakan sanksi mengawini anak-anak usia dibawah umur. Tapi sayang, Syekh Puji hidup pada masa sekarang. Dan karena itu, alangkah juga naifnya bila kita melihat fenomena diatas dalam pemahaman kacama kita saat ini pula. Karena itu pulalah, Croce dan kawan-kawannya beranggapan bahwa kebenaran sejarah (tepatnya : objektifitas sejarah itu) sangat bersifat relatif.

Dalam penulisan sejarah, ada kesan subjektif yang pada umumnya menimbulkan penulisan yang
bias atau berat sebelah. Memang, kecenderungan untuk lumrah terjadi karena seorang sejarawan yang dalam bahasa sosiologi-nya : “seorang manusia individu, ia adalah gejala sosial, hasil proses dari masyarakatnya”
dan dalam kedudukan seperti itulah, ia berusaha untuk mendekati sejarah/merekonstruksi sejarah itu sendiri yang pada prinsipnya hanya terjadi satu kali atau einmalig tersebut. Tentu, subjektifitas sangat sulit untuk dihindarinya. Bahkan, subjektifitas sejarawan itu sendiri juga sebuah entitas objektif dalam penulisan sejarah. Ketika ia mulai memilih judul dan pendekatan yang (akan) digunakannya, maka, subjektifitas tersebut telah “masuk” dan bermain. Oleh karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan subjektifitas, tidak bisa dihindari.

Namun yang tidak boleh dilakukan adalah subjektifitas dalam pengertian mengebiri data, memalsukan dokumen dan menyesuaikan dokumen-dokumen yang ada agar sesuai dengan “tuntutan” yang ada. Inilah yang dinamakan dengan subjektifitas ekstrem. Buku
Babon Sejarah Nasional Indonesia yang “dimotori”oleh Nugroho Notosusanto, sebagai contoh, adalah salah satu bentuk “pemerkosaan dokumen” agar sejarah yang ditulis tersebut mengkisahkan peran besar Orde Baru,
marginalisasi peran sipil, hegemoni dan keunggulan militer (dalam hal ini : Angkatan Darat) dan kesalahan yang “melulu” harus ditimpakan pada Soekarno dan PKI dibalik terjadinya Gerakan 30 September 1965. Peran histories Nugroho Notosusanto ini dibuka secara gambling oleh Katherine Mac. Gregory yang membongkar habis “kepalsuan”Nugroho Notosusanto serta bagaimana Nugroho ini “memilah-milah” dokumen yang seharusnya masuk dalam bagian analisis, justru disisihkan karena berpotensi merendahkan peran histories Suharto, Orde Baru dan militer. Karena itu pulalah Chaterine memberi judul bukunya dengan “Ketika Sejarah Berseragam”. Cukup banyak buku-buku sejarah yang ditulis dengan memalsukan berbagai dokumen agar penulisan sejarah tersebut bisa sesuai dengan kehendak yang memesan (biasanya pemerintah).

Di Negara-negara otoriter seperti Korea Utara, Irak pada masa Saddam Hussein, Protocol Zion dalam menjustifikasi “duka-lara” sejarah bangsa Yahudi – merupakan beberapa contoh subjektifitas ekstrim dalam penulisan sejarah. Interpretasi dari penulis merupakan bentuk subjektifitas yang tidak bisa dihindari. Subjektifitas jenis ini bisa diminimalisir dengan latihan dan kepatuhan akan metode yang ada. Akan tetapi, subjektifitas dengan “memalsukan” dokumen-dokumen yang ada agar menguntungkan pihak tertentu, itulah subjektifitas yang tidak dibolehkan. Dan ini tidak membutuhkan latihan ataupun kepatuhan ketat terhadap metode penelitian, karena seorang Prof. Doktor “botak” sekalipun, bisa “terjebak” dan mau “dijebak” dalam subjektifitas ekstrem ini.

Foto : www.google.picture.com

Selasa, 04 Januari 2011

Talibanisme yang "Sayup-Sayup"

Oleh : Muhammad Ilham

Saya masih ingat, beberapa waktu lalu, saya kedatangan tamu. Beberapa sahabat dengan baju gamis putih, "bertandang" ke rumah saya. Silaturrahim kata mereka. Mereka yang berjumlah 4 orang ini, saya persilahkan masuk, dengan senyum "welcome". Setelah menjawab lengkap salam mereka, saya jabat satu persatu, dengan hangat. Mereka saya ajak ke ruangan pustaka, dan beberapa saat kemudian, mereka mengutarakan maksud kedatangan mereka, silaturrahim dan diskusi masalah keagamaan (Islam). Saya sedari awal sudah mengerti maksud mereka bertandang ke rumah saya. Diskusi, tepatnya indoktrinasi satu arah-pun, mulai berlangsung. Saya katakan demikian, karena sahabat-sahabat saya ini, terus bicara (berwasiat-tausyiah istilah mereka), tanpa saya bisa untuk sedikit menyela. Saya "dipaksa" hanya untuk mendengar tausyiah mereka tentang hal-hal yang sebenarnya biasa-biasa saja : "untuk apa hidup", "tujuan hidup" dan "kehidupan setelah mati". Satu persatu ayat dan hadits keluar, tanpa sedikitpun analisa. Terkadang, ayat yang mereka ungkapkan itu, butuh diperlurus. Sebagaimana pada awalnya, saya hanya tersenyum saja. Saya berusaha memanfaatkan apa yang diungkapkan oleh Raja Arab Saudi - Faisal bin Abdul Azis - bahwa "Tuhan memberi kita satu mulut dan dua telinga, maka banyaklah mendengar".

Saya coba untuk terus mendengar, walau pada hakikatnya saya sedikit "gondok" karena tausyiah mereka tanpa sedikitpun membuka ruang dialog, ditambah lagi, saya biasanya paling suka berdebat. Dan ini berlangsung hampir setengah jam. Istri saya kemudian datang menghidangkan minuman dan makanan, sesuatu yang diSunnah-kan Rasulullah. Setelah istri saya berlalu, mereka bertanya, "Istri antum bekerja ?". Ya, kata saya. "Memangnya kenapa", tanya saya berusaha menghilangkan rasa penasaran. "Sebaiknya, istri antum tak bekerja. Wanita itu harus jadi ibu rumah tangga, mengurus anak dan suami", kata salah seorang dari mereka dengan penuh yakin. Saya kembali tersenyum, walau, sumpah, kala itu saya ingin mendebat mereka. Tapi saya fikir, lebih baik saya mendengar saja dan menjawab dengan senyum. Saya rasa, itu lebih baik. "Ruangannya penuh dengan buku, ya?", kata mereka lagi. Saya pun tersenyum kembali untuk kembali mempersiapkan "bathin"menerima amunisi lagi. "Tapi buku-buku yang saya lihat banyak buku-buku orang kafir", kata mereka dengan ketus. Kebetulan, beberapa buah buku "aneh" baru siap saya baca, tergeletak saja di dekat meja komputer saya. Ada buku The Spoken of Zarathustra-nya Friedrichz Nietsche, beberapa buah buku tentang Tan Malaka, Hantu-Hantu Marx-nya Jacques Derrida dan satu lagi yang agak membelalakkan mata mereka, yaitu buku Aku Bangga Jadi Anak PKI karangan Ribka Tjiptaning. Sementara buku yang ada ditangan saya, juga nampaknya tidak "menyenangkan" mereka, buku karangan Imam Khomeini - Air Mata Kecemerlangan. "Apapun saya baca, karena memang manusia tugasnya membaca!", saya jawab sekenanya. Mereka-pun diam. Mungkin tahu, saya mulai agak "naik". Kebetulan, saya biasa membunyikan musik "lunak" kala membaca. Waktu itu, saya sedang memutar musik-musik instrumental Koi dan Alderaban-nya Kitaro. "Musik ini tidak baik bagi iman kita, Rasulullah tidak mengajarkan kita untuk mendengar musik-musik seperti ini. Musik orang kafir yang menjauhkan kita dari keimanan", kata "kafir" mereka keluarkan kembali. Rasanya, keinginan untuk mendiskusikan hal ini dengan mereka, tak tertahan lagi.

Tapi untunglah, kebetulan datang salah seorang warga saya yang mau mengurus surat pengantar, mencairkan bantuan dana gempa. Kebetulan, gempa 30 September kemaren memporakporandakan istananya. Menyadari saya ada urusan mendesak, akhirnya sahabat-sahabat saya yang sudah dua kali mengeluarkan kosakata "kafir" ini mulai pamitan. Jujur, kala itu saya gembira. Saya antar mereka ke pintu dengan senyuman, senyuman "sayonara". Jelang mereka melangkah ke teras, salah seorang dari mereka sempat bertanya pada saya, "kenapa antum tidak memelihara jenggot, kan itu sunnah nabi". Saya pandangi mereka satu persatu sambil tersenyum, dan menjawab, "tergantung istri saya, kebetulan ia grogi dengan jenggot". Mereka diam dan berlalu, setelah tentunya mengucapkan salam, tanpa senyum.

Saya teringat dengan sebuah artikel yang pernah ditulis Jalaluddin Rahmat di sebuah media massa beberapa tahun lalu. Kang Jalal, demikian dia dipanggil, memulai artikelnya dengan kisah Talibanisme. Syahdan, tulis Kang Jalal, seorang perempuan mati tertabrak kendaraan milisi Taliban (kala Taliban menguasai Afghanistan). Pihak keluarga si perempuan melaporkan kejadian tersebut pada Gubernur Taliban di Herat. Apa yang terjadi ? Bukannya mendapat santunan atau pelakunya dituntut di pengadilan, Gubernur tersebut justru memperingatkan mereka dengan kata-kata : "Tempat perempuan itu di rumah atau di kuburan". Tidak lama setelah itu, di suatu daerah, ada perhelatan pernikahan. Dalam rangka walimah, untuk memeriahkan suasana, musik-pun dimainkan. Serombongan pasukan Taliban, menerobos masuk dan menghardik semua yang hadir. Mereka memukuli pengantin laki-laki, dan plus wanitanya. Mereka dinaikkan ke atas keledai dan diarak kesekeliling kampung. Namun, nasib dua pengantin ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kisah seorang laki-laki yang kepergok mendengar musik barat yang dikategorikan "kafir" dari sebuah tape recorder usang. Ia ditangkap pasukan Taliban dan dikurung di sebuah penjara. Beberapa hari kemudian, ia dituduh mencuri tape recorder dengan alasan tape recorder plus kaset-nya sudah "dibersihkan" di seantero Afghanistan, tentu tape dan kaset tersebut pasti dicurinya. Laki-laki ini kemudian harus membayarnya dengan bayaran tragis, kedua tangannya dipotong, karena (menurut tafsiran Taliban), mencuri hukumannya harus potong tangan. Laki-laki miskin ini akhirnya tak bisa "menghidupi" istri dan lima orang anaknya.

Pernah suatu ketika, homepage Taliban mengungkapkan peristiwa yang mereka katakan sebagai "peristiwa yang sangat bersejarah". Kaum Taliban dengan bangga mengatakan bahwa dilapangan yang dipadati ratusan ribu kaum muslim itu tidak ditemukan kemungkaran. "Tak seorang pun diantara ratusan ribu ummat Islam di lapangan itu yang tidak berjanggut", kata penulis homepage itu. Talibanisme menyukai simbol-simbol keIslaman yang tampak. Kesalihat diukur dari panjang janggut bagi laki-laki dan lebarnya burqah yang menutup seluruh muka dan tubuh bagi wanita. Karena wawasan agama yang yang sempit, mereka akhirnya sangat fanatik terhadap mazhabnya. Perbedaan maszahab bukan saja tidak dihargai, tapi bahkan dieliminasi - untuk tidak mengatakan, diperangi.

::: Kita tak mendengar Taliban sekarang. Tapi entah kenapa, Islam yang agung lagi rahmatan lil 'alamin ini, mulai "sayup-sayup" bercita rasa Talibanisme. Pengalaman saya, mugkin juga dirasakan yang lain. Semoga saya salah !!

Minggu, 02 Januari 2011

Indonesia dalam "Bingkai" Sejarah

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Benar tidaknya sejarah dalam peradaban, boleh dibilang tergantung siapa penguasanya, tak terkecuali di Indonesia. Dari sekian banyak penjajah yang pernah singgah, sejarah Indonesiapun muncul dalam banyaknya versi bak jamur di musim hujan. Setiap orang mengatakan bahwa sejarah merekalah yang benar. Akhirnya memunculkan kontroversi berkepanjangan. Dan sejarah tentang Indonesia pun menjadi sesuatu yang absurd.


Memang gagasan tentang awal pemikiran dan pembentukan Negara Indonesia sudah banyak menjadi perdebatan yang cukup alot, terlebih oleh sejarawan internasional. Pelbagai kalangan mengklaim merekalah yang memunculkan ide tentang pembentukan Indonesia. Khususnya sejarawan Belanda yang banyak memiliki data tentang Indonesia, sehingga mereka beranggapan cikal bakal Indonesia dibentuk mereka. R. E. Elson, seorang ilmuan terkemuka, lewat karyanya ini, kita diajak untuk kembali mencari asal-usul dari gagasan terbentuknya Indonesia, yang dimulai sejak pertengahan abad kesembilan belas. Ia juga berupaya menelusuri lebih jauh lagi tentang pelbagai jalan berliku yang telah dilalui Indonesia hingga mampu eksis hingga kini. Dia mencari tahu mengapa Indonesia ada sebagai suatu negara-bangsa meskipun menghadapi begitu banyak tantangan, dan seperti apa bentuk-bentuk yang dulu pernah dilalui Indonesia. Dia mencoba menjelaskan ciri bangsa ini dalam perjuangannya menuju kesatuan dan cita-cita. Analisisnya menyajikan narasi kronologis yang membedah politik Indonesia, tokoh-tokoh politik, serta hubungan mereka dengan rakyat Indonesia.

Jika kita telusuri lebih jauh, gagasan tentang Indonesia ini sebenarnya sudah lama mencuat. Gagasan ini pernah di lontarkan oleh JR Logan pada 1850-an. Ia merupakan seorang sejarawan dari Belanda yang berstatus sebagai editor majalah etnografi The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Kurang lebih gagasan yang dimaksudkan adalah sebagai suatu bentuk mewadahi untuk apa yang kini disebut sebagai identitas Indonesia. Logan memilih, sebuah kesatuan negara-negara itu, dengan sebutan Indonesia dengan ungkapannya, “I prefer the purely geographical term, Indonesia, which merely shorter synonym for the Indians or the Indian archipelago.” Sampai kemudian pada simpulannya, “We thus get Indonesian for Indian Archipelagians or Indian Islanders.” Sayangnya pada masa itu sulit bagi orang-orang yang mendiami sebuah kepulauan pada pertengahan abad ke-19 untuk membayangkan satu indentitas dengan 13.000 suku yang tersebar di Nusantara. Sehingga teori yang digunakan ini belum mampu diterima akal masyarakat. Ironisnya lagi masyarakat tak pernah mengetahui bahwa keterlibatannya dalam suatu ruang-waktu itu kemudian menjadi sebab-sebab adanya Indonesia.

Sembilan tahun kemudian, ketika sebuah novel monumental yang ditulis setelah pengumuman Logan tersebut, Max Havelaar (1859), karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker telah membuktikan fakta itu: semua yang digagaskan oleh JR Logan merupakan sebuah potret otentik yang bisa kembali menggugah kesadaran, yang semakin menguatkan seluruh masyarakat dunia bahwa pada dasarnya gagasan Indonesia telah terbentuk jauh pada abad-abad lampau. Secara rasio, awal terbentuknya Indonesia memang merupakan gagasan luar biasa yang nyaris mustahil terjadi di tengah keterpurukan rakyatnya. Sepintas, bahan-bahan kesatuan nasional Indonesia tampak tak menjanjikan, sejarah Indonesia penuh noda perseteruan internal mendalam dan sering berlumur darah gara-gara perbedaan ideologi, suku, dan agama. Tapi, Indonesia sebagai konsep dan negara-bangsa terus ada, bahkan mungkin sedang mulai berjaya kembali. Sayangnya masyarakatnya Indonesia sendiri kurang begitu antusias untuk lebih memahami awal terbentuknya Indonesia. Kebanyakan masyarakat Indonesia sudah merasa puas dengan kehidupan yang dijalani tanpa berani mempertanyakan kembali asal-usul tempat yang ditinggali. Dengan kehadiran buku ini tentu akan menyadarkan kita sebagai masyarakat Indonesia bahwa bangsa-negara Indonesia ini bukan lahir semata karena koinsidensi, melainkan lahir dari kolase gagasan yang direnungkan dengan serius dan melalui proses yang panjang. Rekomendasi ... : Buku ini sangat bagus dibaca !

Sumber : Tempo/April 2009

Sabtu, 01 Januari 2011

Optimisme 2011 : "Keajaiban itu Hanya Berpihak pada Kaum yang Bertindak.

Oleh : Muhammad Ilham

"Berjalan di jalan yang lempang, justru terkadang membuat kita manja" (Taufik Ismail).

Tahun 2010 akan berakhir dan 2011 pasti akan jelang dan datang. Waktu terus berputar, sebuah sunnatullah yang memang tak akan pernah berhenti. Perubahan terus terjadi, dalam segala bentuk dan dinamikanya. Adalah perkara yang sangat mudah untuk menjadi apatis karena kita hanya dituntut untuk tidak melakukan apa-apa. Pada konteks-konteks tertentu sikap apatis ini mirip dengan sikap berani mati sedangkan lawannya, sikap optimis merepresentasikan sikap berani hidup. Optimisme adalah jalan terjal dan berliku. Didalamnya tersimpan sikap berpantang putus asa, berani mencoba dan menganalisa, percaya pada harapan dan tidak alergi terhadap kegagalan. Bagi kaum apatis mungkin kaum optimis dianggap sebagai kaum bodoh yang tidak jera-jeranya dibohongi berkali kali. Namun sikap optimis yang paling sederhana ini yang dalam istilah Jean-Paul Sartre disebut sebagai optimis pasif, pada hakikatnya adalah salah satu pintu menuju perubahan. Disisi lain selain kaum optimis pasif, masih ada segelintir kaum optimis aktif dengan gerakan-gerakan yang nyaris tidak terekspose. Kalau boleh jujur, pada saat ini media sangat berpihak pada kaum apatis yang teramat sering dikesankan sebagai kaum yang kritis lagi terpelajar. Intelektualitas mereka justru di"umbar" untuk menunjukkan apatisme mereka. Memilih untuk optimis berarti memilih untuk berani mengambil pilihan pada keadaan sulit. "Berjalan di jalan yang lempang, justru terkadang membuat kita manja, " kata penyair Taufik Ismail.

Percaya pada keajaiban yang mungkin muncul sebagai konsekuensi logis atas setiap pergerakan, karena keajaiban itu hanya berpihak pada kaum yang bertindak. Negara ini dan banyak negara-negara lain didirikan oleh sekelompok orang-orang yang optimis, yang berani menyimpan mimpi dan memproyeksikannya pada rencana-rencana, lalu kemudian mengimplementasikan- nya pada gerakan-gerakan. Coba bayangkan, apa jadinya jika kaum terpelajar kita pada era 1920-an terjebak dalam sikap apatis, mungkin saat ini kita tidak akan menemukan istilah Indonesia di peta dunia. Apa jadinya kalau Para Pemuda tidak "memaksa" Sukarno-Hatta memnproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sebuah kemustahilan dan kegamangan kala itu. Tapi para pemuda-pemuda tersebut memiliki optimisme besar bahwa sebuah mimpi harus diejawantahkan, dan itu butuh keberanian. Sikap kritis sebagai buah intelektualitas memang bermata dua, satu sisi adalah optimisme dan sisi lain adalah apatisme. Apapun yang kita pilih, kitalah yang akan bertanggungjawab atas pilihan itu. Selamat Datang Tahun 2011 !

Romantika Pasca 1965

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

" ...... sebuah catatan dari seorang adinda !"

Bila watak kepengarangan ditinjau berdasarkan ranah tematik yang dijelajahi seorang sastrawan, maka luka dan nestapa para eks-tapol pasca-1965 begitu identik dengan prosa-prosa karya Martin Aleida. Sukar disanggah jika dikatakan bahwa rupa-rupa peristiwa tragis-traumatis yang ditanggung para pewaris “dosa turunan”— lantaran stigma PKI — adalah “kampung halaman” kepengarangan mantan aktivis termuda LEKRA itu, sejak dari kumpulan cerpen "Malam Kelabu, Ilyana dan Aku" (1998), novelet "Layang-Layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi" (2000), hingga kumpulan cerpen "Leontin Dewangga" (2003). Sastrawan yang dijuluki sebagai penggerak “sastra kesaksian” itu tampak sukar untuk beranjak dari medan tempuh yang itu-itu juga. Disingkapnya setiap pintu, disiginya setiap ruang, disibaknya setiap tabir. Demikian pula dengan konstruksi realitas yang terbangun dalam kumpulan cerpen, "Mati Baik-Baik, Kawan" (2009). Meski dimaksudkan sebagai antologi baru, namun dari segi materi cerpen, mungkin lebih patut disambut sebagai “barang lama stok baru”. Dari sembilan cerpen dalam buku itu, masih ada "Leontin Dewangga", "Ode Untuk Selembar KTP" dan "Malam Kelabu" yang sudah pernah terbit sebelumnya. Begitupun "Dendang Perempuan Pendendam"—pernah terbit tahun 2007—dan "Bertungkus Lumus", yang masuk dalam antologi cerpen TITIAN (2008). Kalaupun ada kebaruan, mungkin bukan pada aspek kandungan cerpen, tapi dari payung tematik yang dengan ketat membuhul semua cerpen, yakni serba-serbi pengalaman traumatik pasca-1965.

Asvi Warman Adam (2004) pernah menimbang cerpen-cerpen Martin sebagai upaya mengejek dan menertawakan nasib orang-orang yang tergetahi stigma PKI. Bila bagi orang-orang beriman, jodoh, rejeki, dan mati, ada di tangan Tuhan, bagi mereka yang diduga terlibat G30S/PKI, ada yang jauh lebih berkuasa. Peruntungan mereka lebih ditentukan oleh stigma PKI itu. Perjodohan bisa batal bila seseorang ketahuan berasal dari keturunan keluarga PKI—meski ia tidak tahu-menahu soal komunisme dan tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai anak PKI. Bagi Asvi, di titik inilah upaya perlawanan cerpen-cerpen Martin Aleida dapat ditandai. Lebih jauh, Katrin Bandel (2009)—sebagaimana tertera pada catatan penutup buku itu—menegaskan, “tampak jelas Martin bukan sekadar ingin menceritakan peristiwa 65 dari perspektif yang berbeda, ia juga punya misi untuk melawan pemalsuan sejarah.” Cara menimbang yang agak berlebihan dalam konteks pembacaan teks sastra. Sekadar geliat perlawanan tentu tak disangsikan, tapi cukup berdayakah teks sastra disetarakan dengan konsep historiografi tertentu? Sejarah dipancangkan atas dasar kepastian epistemologis (benar-salah, terjadi atau tak-terjadi) sementara teks sastra digubah atas dasar pencapaian estetika sastrawi. Sejarah adalah “dunia sesungguhnya”, sebaliknya sastra adalah “dunia seandainya”. Lalu, di titik manakah napas perlawanan itu bisa tertandai?

Maka, sudah waktunya semesta cerita dalam cerpen-cerpen Martin Aleida diselami lebih dalam, agar pembaca tidak buru-buru pada fakta yang memang sengaja dimunculkan, dan tidak lupa bahwa cerpen adalah sebuah karya seni yang dibangun dengan keterampilan artistik, yang tentu tidak hanya berdiri sebagai juru bicara “sejarah versi baru” sebagaimana diharapkan. Salah satu sisi yang kerap terabaikan—bila tidak bisa disebut ‘sengaja dilupakan’—adalah bahwa kerja pembacaan tidak pernah lepas dari konteks ruang-waktu yang menyertainya, sehingga pengulangan demi pengulangan tidak menjadi sebuah kesalahan. Akan selalu ada yang “baharu” di setiap fase pembacaan, lantaran ruang-waktu yang terlibat di dalamnya. Dipastikan ada perbedaan persepsi yang signifikan antara pengalaman baca terhadap cerpen "Malam Kelabu" lima tahun lalu dengan pengalaman baca terhadap cerpen yang sama di tahun ini. Boleh jadi, mainstream-nya bukan lagi peristiwa amuk massa yang membakar rumah Partini lantaran keluarga itu menyembunyikan gembong PKI—hingga Partini, Ibu dan adik-adiknya tewas dalam kebakaran itu—tapi beralih pada gejolak asmara Kamaluddin Armada yang jauh-jauh datang dari Jakarta ke desa Soroyudan—seberang sungai Bengawan Solo—guna melamar Partini, kekasih pujaannya. Sejak mula, tiada sesuatu yang disembunyikan Partini. Pada Kamaluddin, ia mengakui bahwa ayahnya (Mulyoraharjo), mantan gembong PKI yang semasa berkuasa sangat ditakuti, ia pembela setia Barisan Tani Indonesia (BTI) dalam aksi-aksi pencaplokan tanah. Kamaluddin juga tahu bahwa calon mertuanya itu menghilang dan tak pernah kembali setelah gestapu. Tapi, kejujuran Partini tidak meredupkan gairah cinta Kamaluddin. Dengan segenap rindu yang membuncah ia datang ke Solo, hendak mempersunting anak gadis gembong PKI itu. Sejauh-jauh matamu memandang, yang tampak hanya sawah. Sawah semata. Dan lihatlah ke kanan Mas, inilah desa di mana adikmu menunggu, Soroyudan, begitu bunyi surat Partini yang menjadi petunjuk jalan bagi Kamaluddin. Inilah romantika tak biasa yang digarap Martin guna melawan stigma PKI. Atas nama cinta, diterabasnya segala pantangan, dilangkahinya segala tabu, termasuk tabu menikahi anak PKI. Realitas ini bertolak belakang dengan tinjauan Asvi Warman Adam—karena stigma PKI perjodohan bisa batal.

Di cerpen Malam Kelabu ini, jangankan anak PKI, bahkan bila Partini “anak-jadah” sekalipun, Kamaluddin tiada bakal berpaling ke lain hati. Tengoklah, begitu kematian Partini terpastikan, ia bunuh-diri, menyusul kekasihnya. Dan, kematian itu dipastikan tak ada hubungannya peristiwa-peristiwa berdarah pasca-65. Ia mati demi cintanya pada Partini. Tragedi yang tak kalah lebih menyakitkan dari kematian orang-orang eks PKI yang satu persatu “dijemput malam” selepas peristiwa gestapu. Romantika serupa juga muncul di "Leontin Dewangga", khususnya kisah cinta Abdullah Peureulak dan Dewangga, dua sejoli yang justru dipertemukan oleh silang-sengkarut peristiwa 65. Setelah bertahun-tahun hidup sebagai pasangan suami-istri Abdullah akhirnya mengaku telah mengkhianati Dewangga, bahwa sebelum menikahi perempuan itu, ia bukan “lelaki baik-baik” tapi mantan tapol yang dimusuhi banyak orang dan hidup menggelandang demi menghindari kejaran. Dewangga yang saat itu sedang bertarung melawan kanker stadium akhir bukannya kecewa dan berpaling, tapi makin teguh memercayai bahwa Abdullah sungguh-sungguh telah memartabatkan ia sebagai perempuan. Pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya, Dewangga merenggut Leontin yang melingkar di lehernya, lalu diberikannya pada suaminya. Abdullah terperangah melihat simbol bulan sabit merah dari sebuah katup yang ia buka pada Leontin itu, lambang gerakan tani yang melancarkan aksi sepihak guna melaksanakan Undang-Undang Pokok Agraria. Dewangga menerima hadiah Leontin itu dari ayahnya sewaktu ia berusia 17 tahun. Sejak 1965, ayah Dewangga tak pernah pulang, persisnya setelah seorang algojo datang menjemputnya. Maka, nasib Dewangga tak jauh beda dengan ketakmujuran Abdullah, perempuan itu juga pernah ditahan, ia bebas setelah merelakan tubuhnya ditiduri oleh seorang komandan militer. Setali tiga uang dengan Kamaluddin-Partini, Abdullah-Dewangga, dua sejoli yang sehidup-semati, meski kedua pasangan itu sama-sama tak mampu melarikan diri dari stigma PKI yang telah menelan banyak korban tak berdosa. Tapi, tabu setangguh apapun, tiada bakal berkutik di hadapan cinta sejati.

Seandainya tabu lantaran stigma PKI sebagaimana tampak pada romantika Malam Kelabu dan Leontin Dewangga dialih-rupa dengan tabu-tabu subversif lainnya, kisah tetap akan berdiri sebagai peristiwa yang mandiri, tanpa harus bergantung pada fakta-fakta yang selalu dimunculkan. Inilah yang disebut Willem G. Weststeijn (terj Akhadiati Ikram, 1991) sebagai kisah yang “memiliki dunianya sendiri”, sehingga pembaca tidak perlu mencari rujukan-rujukan faktualnya. Dengan begitu, cerpen-cerpen Martin Aleida tidak perlu pula dicurigai mengusung tendensi tertentu. “Kisah yang memiliki dunianya sendiri” pada "Malam Kelabu", "Leontin Dewangga", "Bertungkus Lumus" dapat disebut sebagai Romantika Pasca-65.

Sumber : (c) Damhuri "Yonk"

Ketika Sejarah "Berseragam"

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam beberapa minggu ini, saya begitu tertarik "kembali" (dalam tanda kutip : artinya, sudah lama tidak tertarik) tentang sejarah militer di Indonesia, khususnya militer di era Orde Baru. Kembali saya baca Harold Crouch, TB. Simatupang dan Yahya Muhaimin serta Katherina Mc. Gregory, termasuk "catatan kritis" Bambang Purwanto dan Asvi warman Adam. Saya tak berkisah banyak tentang hegemoni militer - meminjam istilah Juergen Habermas - selama Orde Baru. Hegemoni yang ditafsirkan sebagai kekuatan yang masuk dalam segala lini kehidupan manusia Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Termasuk dalam hal ini penulisan sejarah, yang oleh Asvi Warman Adam dan Harold Crouch, "sejarah Orde Baru adalah sejarah versi militer". Diantara buku-buku diatas, buku Katharine E. McGregor - Ketika Sejarah Berseragam - sangat menarik. Pasca Orde Baru banyak kajian yang menyoroti keterlibatan kaum militer dalam berbagai ranah kehidupan kenegaraan bangsa ini. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari menguatnya peran militer pasca 1965 yang bermetamorfosa menjadi kekuatan yang menggurita dalam setiap sektor kehidupan, sehingga ada yang mengatakan bahwa pada masa Orde Baru militer Indonesia tak ubahnya seperti, sebuah negara dalam negara.

Dominasi militer tidak hanya tampak physically, tetapi juga mempunyai peranan yang kuat untuk mengontruksi alam bawah sadar massa rakyat Indonesia, sehingga yang terjadi, ingatan kolektif massa rakyat menjadi terkendalikan oleh nalar militer yang kemudian mempengaruhi tindak laku sebagian massa rakyat untuk menciptakan bayangan diri sebagai “mirip-mirip” kaum militer.
Katharine E. McGregor sebagai penulis buku ini melakukan kajian mendalam tentang bagaimana nalar pikir dikonstruksikan oleh persepsi-persepsi kesejarahan dari beberapa kelompok inti yang mempunyai wilayah kerja untuk memproduksi ingatan sejarah versi penguasa, yang didalamnya berkelit kelindan antara kepentingan ideologis patriotik dan pelanggengan mitos-mitos kekuasaan militer. Melalui pengkajian simbol-simbol dan penelurusan mitos-mitos wiracarita yang diciptakan, penulis buku ini relatif berhasil untuk melakukan pembongkaran dominasi historiografi yang selama Orde Baru telah menjadi narasi resmi. Buku yang berjudul asli History in Uniform : Military Ideology and the Construction of Indonesia’s Past ini hadir di hadapan pembaca Indonesia sebagai upaya untuk melacak bagaimana tafsir sejarah diciptakan dan membongkar kepentingan-kepentingan yang ada di baliknya, dan tentu saja supaya kita menjadi belajar dari sejarah yang selama ini hanya menciptakan dendam untuk dinegasikan dengan kepentingan bangsa yang lebih beradab dan manusiawi. Publik Indonesia bisa membaca karya berbobot ini, sehingga bisa melakukan refleksi atas mitos-mitos yang diciptakan di masa lalu. Dibawah ini, saya kutipkan pendapat beberapa pendapat tentang buku ini (dikutip dari http://www.syarikat.org/article/catatan-bedah-buku-ketika-sejarah-berseragam).

Ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama masa Orde Baru Suharto adalah sentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan sejarah militer dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer. Pada akhirnya versi militer tentang kejadian di tahun 1965 mendominasi historiografi periode tersebut dan melegitimasi naiknya rezim Orde Baru. Buku ini mencermati banyak dari kejadian tersebut yang kemudian diakrabi oleh anak-anak sekolah yang tumbuh di bawah Orde Baru, lalu menganalisis metode dan pendekatan yang digunakan para pembuat sejarah di masa Orde Baru, seperti Nugroho Notosusanto dalam menggambarkan dan menafsirkan kejadian-kejadian ini. (Henk Schulte Nordholt, Kepala Penelitian KITLV Leiden)

Jika rezim sebelumnya membangun sejarah Indonesia sebagai hasil dari perbenturan antara kolonialisme dan imperialisme melawan nasionalisme Indonesia dengan Soekarno sebagai pusat, maka Orde Baru melihat sejarah Indonesia sebagai hasil dari perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan menempatkan militer sebagai faktor penentu. Orde Baru hanya menggantikan Soekarno dengan militer, sementara itu para penentang Pancasila khususnya komunisme dan Islam ekstrimis telah menggantikan posisi kolonialisme dan imperialisme sebagai kambing hitam.
(Bambang Purwanto, Profesor Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada)

Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang selama ini sebenarnya kita telah memiliki "jawaban" nya sendiri, khususnya yang berkaitan dengan dominasi militer (baca : ABRI) pada masa Orde Baru, diantaranya : ABRI merupakan institusi yang sangat sistematis, loyalis dan cerdas (bahkan hal ini juga "diamini" hingga sekarang oleh publik). Kemudian, ketika kita membaca buku Ketika Sejarah Berseragam tersebut, kita juga akan tahu bahwa sejarah akan berbahaya bila berada "ditangan" militer (walaupun di tangan "politisi" juga demikian). Selanjutnya, sejarah berbasiskan senjata, amat sangat ampuh untuk memupuk nasionalisme. Namun terlepas dari semua itu, sejarah haruslah dipaparkan apa adanya. Dalam bahasa Edmund Husserl, "harus dikembalikan kepada posisi awal perustiwa itu terjadi". Maka dari sana akan kita ketahui, apa sebenarnya motif yang melatarbelakanginya. Sejarah harus "ditelanjangi", dan Katherine nampaknya menelanjangi sejarah militer Indonesia masa Orde Baru. Dan ini bermanfaat bagi perjalanan bangsa ke depan. Buku ini sangat layak dibaca !

Referensi : Harold Crouch (1999)/Bambang Purwanto-Asvi WA. (2006), syarikat.org

Rabu, 29 Desember 2010

"Neraka" bernama DIGOEL

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

"Tempat dengan kesunyian yang mencekik dan mematikan," ucap Chalid Salim, adik kandung Agus Salim yang pernah dibuang di tempat itu selama 15 tahun dalam bukunya, Lima Belas Tahun Digoel. "Kolam neraka," kata Mohammad Hatta dalam tulisannya berjudul The Digoel Tragedy of Dutch Colonial Imperialism memberi gambaran tentang kamp Tanah Merah Digoel itu.
Hatta pada tulisan yang diterbitkan pada 12 September 1930 itu masih mengutip Dr Van Blankenstein, seorang koresponden Nieuwe Rotterdamsche Courant yang pernah datang pada tahun-tahun awal pembangunan kamp pembuangan massal di tanah Papua itu. Tulisan Blankenstein itu kemudian dimuat ulang dalam Het Haagse Maandblad dan Frankfurter Zeitung. "Persediaan bahan makanan sangat terbatas, karena tempat itu sukar dicapai melalui daratan. Kami temui di sana suatu pondok kecil beratapkan seng tanpa dinding. Di mana-mana terdapat genangan air. Ditinjau dari segi kesehatan dan tempat tinggal, tempat itu merupakan neraka," tulis Blankenstein pada November 1928. "Kematian terus menerus tersenyum pada kami. Digoel tak lagi sebuah tempat. Ia menjadi timbunan penderita paru-paru dan penderita malaria, penderita sakit jiwa dan setengah gila, di bawah panas menyengat yang tak kenal ampun, dikelilingi oleh rawa-rawa yang tak sehat di tengah-tengah hutan belantara yang tak bisa ditembus," tulis seorang penghuni Digoel. Dengan citra yang seram dan mematikan itulah kamp Digoel telah mengudarakan ketakutan pada para aktivis pergerakan politik. Soekarno, misalnya, seperti ditulis Takashi Shiraishi dalam buku Hantu Digoel, dengan penuh imajinasi ketakutan oleh bayangan akan dibuang ke Digoel, meminta pengampunan pada pemerintah dengan imbalan siap menghentikan aktivitas politiknya dan bila perlu bekerja sama dengan pemerintah. Soebakat, pendiri partai politik revolusioner bawah tanah Partai Republik Indonesia (PARI) yang juga tangan kanan Tan Malaka bahkan menciptakan bahasa sandi di kalangan anggota PARI dengan menyebut Digoel sebagai "Rumah Sakit Umum". Sementara istilah "Rumah Sakit" berarti penjara. Lantaran takut akan "diopname" di "Rumah Sakit Umum" itu Soebakat sehari menjelang pengasingannya ke Digoel memilih untuk bunuh diri.

Apa yang membuat Digoel ditakuti? Bukankah kamp yang dibangun pada Januari 1927 itu tak seperti kamp konsentrasi Nazi dengan para napi disiksa dan dibunuh? Memang tak ada kerja paksa, apalagi kamar-kamar gas. Kawat berduri pun tak mengelilingi lokasi tahanan di Tanah Merah Digoel. Para tahanan justru dibebaskan berkeliaran 25 kilometer dari kamp. Tapi justru dengan kebebasan bergerak yang diberikan itu pemerintah Hindia Belanda sengaja membiarkan tahanan itu mati, gila, bunuh diri, atau hancur secara fisik dan mental.
Tak ada jalan untuk melarikan diri. Jika ada, hutan yang lebat, keganasan alam dengan sungai penuh buaya, dan penduduk kanibal akan menelan mereka. Ada 50 orang buangan yang mencoba meloloskan diri antara 1929-1934. Hanya satu kelompok yang berhasil mencapai Thursday Island Australia, namun mereka kemudian ditangkap polisi Australia dan dikembalikan kepada pemerintah Hindia Belanda yang memiliki perjanjian ekstradisi dengan Australia. Para pelarian itu kemudian justru dikirim ke Tanah Tinggi, kamp buat para pembangkang yang berjarak 55 kilometer dari Tanah Merah atau lima jam dengan menggunakan perahu polisi--Salim menyebut jaraknya 40 kilometer. Di Tanah Merah itulah Hatta yang menulis kritik pada 1930 akhirnya diasingkan mulai 28 Januari 1935 hingga Desember 1935. Penahanan Hatta menimbulkan protes, karena kamp Digoel pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pengasingan bagi mereka yang terlibat dalam pemberontakan PKI di Jawa Barat pada 1926 dan Sumatera Barat pada 1927.
Pemerintah Hindia Belanda ternyata kemudian melebarkan kategori "layak Digoel" pada semua aktivis politik yang berpikiran radikal. Seorang aktivis bisa saja dibuang ke Digoel hanya oleh rekomendasi polisi rahasia dan residen. Gubernur Jenderal Hindia Belanda cuma mengesahkannya. Dalam kasus ini, Hatta diasingkan dengan tuduhan "ketika tinggal di Belanda sampai 1931 ia memimpin Perhimpunan Indonesia yang bertujuan untuk melakukan tindakan revolusioner melawan pemerintahan di sana." Hatta berangkat dari penjara Glodok pada Minggu pertama Januari. Ia berangkat dengan enam pengurus PNI Baru lainnya: Sjahrir, Bondan, Burhanuddin, Maskun, Suka Sumitro, dan Murwoto. Mereka menaiki kapal Melchior Treub menuju Makassar. Bondan dalam buku Pribadinya dalam Kenangan (UI Press-Sinar Harapan, 1980, disunting oleh Meutia Farida Swasono) mengatakan meski Hatta dan Sjahrir diberi tempat di kelas dua, namun sehari-hari mereka selalu berkumpul dengan teman-temannya di geladak. Sewaktu kapal singgah di Surabaya, Hatta ditemui Saerun, redaktur kepala surat kabar Pemandangan yang naik ke kapal atas izin dari pembesar kapal. Saerun meminta Hatta menulis sebulan dua kali selama dalam masa pengasingan dengan honor 5 gulden per kolom. "Aku merasa lega menerima tawaran itu karena sudah ada jaminan hidup bagiku," tulis Hatta dalam Memoir (1979). Seminggu ditahan di Makassar, Hatta kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal Van Der Wijck yang berukuran lebih kecil ke Ambon. Di Ambon ia kembali dibui seminggu. Lalu dari Ambon menuju Digoel, ia berpindah kapal yang kian mengecil, bernama Albatros. Kapal itu diberi juluk "Kapal Putih" karena warnanya yang putih. Berbeda dengan orang-orang buangan yang lain, Hatta ke Digoel membawa buku sebanyak 16 peti. Begitu sampai di Digoel buku itu diangkut oleh orang Kaya-Kaya, penduduk asli Digoel yang sudah bekerja sama dengan para tahanan menuju rumah Hatta yang disediakan. "Sesaat sampai di rumahnya, saya bertanya, apakah Bung Hatta mau buka toko buku? Beliau hanya menjawab dengan tersenyum," tutur Bondan.

Dengan buku itulah kemudian Hatta "buka praktek", memberi kursus falsafah, ekonomi dan sejarah. Sedangkan untuk politik dan sastra diajar oleh Sjahrir. Bondan ingat, ia pernah diajar tentang filsafat Yunani dengan membaca buku Alam Pikiran Yunani. Hatta juga meminjamkan buku-bukunya pada siapa saja yang memerlukan. "Tapi kalau meminjam bukunya, kita tidak boleh mengotorinya sedikit pun. Ia akan marah," kata Bondan.
Buku-buku Hatta itu, kata Salim, ternyata menjadi cara yang efektif untuk tetap bertahan hidup selama di pengasingan. Selain bertanam sayur, buah, membuka kios kecil, berolahraga, memelihara hewan, atau yang seperti dilakukan Salim yaitu dengan berburu nyamuk penyebar malaria, Hatta menawarkan cara yang mencerdaskan. Pejabat kolonial Belanda di Digoel, kata Salim, menganggap banyaknya buku yang dibawa Hatta itu sebagai bentuk "pameran keunggulan mental". "Tapi bagi kami itu berarti memperkaya pengetahuan dan melupakan nasib kami yang malang," kata Salim. Hatta dan Sjahrir mengajar dan menggelar diskusi hampir tiap malam. Dampak diskusi itu dirasakan kemudian. Salim membanggakan pengetahuan itu dengan menggambarkan bahwa setelah keluar dari Digoel ternyata pengetahuan orang-orang bebas di luar Digoel masih kalah maju dan kalah beradab dari orang-orang buangan dari Digoel.

Di Tanah Merah itu, kata Bondan, Hatta adalah satu-satunya tahanan yang mendapat rumah dari Belanda dengan perabotan yang lengkap. Fasilitas ini diberikan karena Hatta dianggap sebagai pemimpin. Sedangkan tahanan lain diminta membuat rumah sendiri. Tentara Belanda hanya memberi seng, sementara tahanan diminta menebang kayu sendiri. Hatta pun ikut turun membantu membangun rumah teman-temannya.
Dalam proses pembangunan itu, teman-temannya menginap di rumah Hatta. Beberapa orang dari mereka mendapat tugas bergiliran memasak di dapur. Pada giliran pertama, tutur Bondan, Hatta harus menanak nasi dan ia yang mengangkatnya. Dalam soal menanak nasi itu Bondan meledek Hatta dengan mengatakan bahwa Hatta adalah seorang ekonom yang tidak ekonomis. "Hatta tersenyum dan Sjahrir bertanya, 'Mengapa?' Saya jawab, 'nasinya hangus'," ungkap Bondan sembari tertawa, "Hatta kemudian menjawab, 'Terbuang untuk orang, tapi tidak terbuang untuk ayam'." Pada minggu pertama itu, panitia penerimaan membuat agenda pertandingan persahabatan sepakbola. Dalam pertandingan itu Sjahrir menjadi penyerang, Hatta dam Burhanuddin menjadi bek, sedangkan Murwoto menjadi penjaga gawang. "Saya perhatikan Bung Hatta dapat menendang bola dengan kaki kanan dan kirinya, terkadang kepalanya yang hampir botak itu digunakan untuk menerima bola," ucap Bondan.
Sejak hari pertama di Tanah Merah itu Hatta sudah membuat agenda harian secara rinci. Ia bangun pukul 04.30 untuk mandi dan shalat subuh. Lalu ia mulai memasak air panas, merebus telur. Ia makan pagi dengan makan sebuah telur dan 1-2 mangkuk kopi. Pada pukul 07.30 ia mulai jalan-jalan lewat kampung A dan keliling kampung B. Sejam kemudian ia kembali untuk membaca buku. Hatta menyebutnya sebagai belajar. "Biasanya saya belajar pagi sampai pukul 11 atau 11.30," tulis Hatta dalam Memoir. Setelah itu ia menanak nasi dan sayur-sayuran. Tetangganya kemudian biasa datang buat mengajari memasak ikan asin. Hatta mendapat jatah ransum setiap bulan 18 kg beras, 2 kilo ikan asin, 300 gram teh, 300 gram kacang hijau, 2/3 botol limonade minyak kelapa. Hatta hanya menghabiskan 10 kg jatah beras. Sisanya, 8 kg ia berikan kepada siapa saja yang meminta. Hatta juga membagi pendapatannya dari menulis di Pemandangan pada tahanan-tahanan lain yang kekurangan uang. Sesudah makan siang, ia biasanya mengajar murid-muridnya yang ingin tahu ekonomi, tata buku, sejarah dan filsafat. Pada sore hari, ia membantu menjadi tukang jika ada rumah yang akan dibangun atau berjalan-jalan sore menemui tahanan lain. Lalu pada malam hari, sesudah makan, kawan-kawan lama dan baru berdatangan untuk belajar atau berdiskusi atau ia membuat artikel untuk dikirimkan ke koran. Pada pukul 22.00 Hatta tidur. "Aku membuat rencana akan tinggal di Digoel sekurang-kurangnya 10 tahun. Karena itu yang kupentingkan adalah menjaga kesehatan. Di Digoel aku selalu berpesan pada kawan-kawan yang dibuang agar menjaga kesehatan, pikiran dan perasaan agar jangan terganggu apa-apa, dan tetap menerima segalanya dengan hati yang tenang," tulis Hatta. Menjaga kesehatan adalah perkara yang penting, karena mereka berada di daerah yang rawan penyakit, terutama malaria. Kaum buangan juga sering mengidap kesepian yang akut atau penyakit yang menurunkan secara drastis kesehatan fisik dan mental mereka. Bagi Hatta tak ada jalan lain selain harus tetap sehat.

Para tahanan politik itu dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama disebut naturalis, yaitu orang-orang yang tidak mau bekerja sama dengan pemerintah, dan hanya menerima jatah makanan (ransum) secara natura. Kelompok kedua disebut werkwillig, yaitu mereka yang mau bekerja sama, misalnya dengan mencangkul tanah dan melakukan pekerjaan kasar lainnya. Untuk pekerjaan itu, mereka menerima upah 40 sen sehari. Kelompok ketiga disebut onverzoenlijken, yaitu mereka yang terus bersikap menentang, sehingga diasingkan ke Tanah Tinggi. Di antara mereka yang tetap membangkang adalah Aliarcham, Sardjono Sumantri, Boedisoetjitro, Soemarjo, Dahlan, dan Mas Marco Kartodikromo.
Hatta tak ragu memilih menjadi naturalis, sekalipun kepala pemerintahan setempat Kapten Van Langen memintanya masuk dalam kelompok werkwillig agar memperoleh imbalan dan bisa lebih cepat keluar dari Digoel. Dalam memoarnya, Hatta menjawab tawaran itu dengan pedas, "Kalau saya ingin menjadi anggota golongan werkwillig, saya sudah menjadi werkwillig di Jakarta di mana berbagai pekerjaan pemerintah ditawarkan pada saya. Di sana saya pasti telah menjadi tuan besar, tidak perlu pergi ke Digoel lagi untuk menjadi kuli yang diupah 40 sen per hari." Pada suratnya yang ditujukan kepada iparnya, Dahlan Sutan Lembaq Tuah, pada Maret 1935, Hatta menceritakan ada pembagian golongan pada orang buangan itu. Ia juga bercerita bahwa ransum yang diterima setiap bulan harganya sama dengan separo harga makanan orang hukuman di bui biasa. Ia pun mengungkapkan tengah bersiap membuat rumah yang tahan hingga 10 tahun. Ia meminta iparnya itu mengirim alat pertukangan.
Penulis Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta, Mavis Rose, juga mengungkapkan keluhan Hatta yang lain. "Saya sudah hidup di tengah-tengah hutan belantara, tetapi pengawasan atas kegiatan saya tetap berlanjut," kata Hatta. Ternyata ipar Hatta itu menunjukkan surat Hatta itu pada Saerun yang memuatnya di Pemandangan. Berita itu kemudian dikutip koran-koran di Belanda dan mengalirkan kritik pada pemerintah Belanda untuk mengevaluasi kembali Digoel. Namun Perdana Menteri Colijn menekankan bahwa pembuangan Hatta di Digoel tidak dimaksudkan untuk menghancurkannya, tapi untuk mengasingkannya dari masyarakat. Pemerintah Hindia Belanda juga menawari Hatta uang 7,5 gulden per bulan untuk membayar porto pos. Konsisten dengan sikap non kooperasinya, tawaran itu pun ditolak. Namun di lain pihak Sjahrir justru menerimanya, karena ia sama sekali tak punya ongkos untuk korespondensi pada istrinya di Belanda. Sikap Sjahrir itu dicela kaum naturalis yang menuduh dia menyerah kepada pemerintah Belanda. Hatta membela Sjahrir. "Bagaimanapun aku terpaksa mempertahankannya. Dia tidak mengubah prinsip, dia hanya menerima, tidak meminta. Ia menerima karena benar-benar tidak mempunyai pendapatan untuk mengongkosi korespondensinya dengan istrinya. Setelah dua minggu, celaan pada Sjahrir tidak terdengar lagi," tulis Hatta.

Bagaimana Hatta, Sjahrir dan kawan-kawan bisa berkorespondensi dan bahkan menulis artikel ke berbagai surat kabar sementara sensor surat di Digoel sangat ketat? Salim mengungkapkan bahwa surat-surat itu diselundupkan pada para kelasi di Kapal Putih yang datang sebulan sekali. Suatu saat, kata Salim, ada seorang mata-mata dari kaum buangan yang membocorkan soal itu. Penggeledahan pun dilakukan di kapal. Tapi selalu saja mereka punya cara untuk tetap berhubungan dengan kelasi, yaitu dengan mengirim perahu kecil di malam hari ke Kapal Putih menjelang berangkat kembali ke Ambon.
Dari surat-surat inilah kemudian protes-protes kian membanjir. Pemerintah Belanda pada akhir November 1935 memerintahkan pemindahan Hatta dan Sjahrir ke Banda Neira. Hatta gembira dan sedih mendengar kabar pemindahan itu. Senang karena nasibnya akan lebih baik, tapi sedih karena ia harus berpisah dengan para pejuang. Hatta pun kemudian meminta pemindahannya diundur sampai Desember 1935. "Aku harus meminta kembali buku-buku yang kupinjamkan kepada teman-teman dan kemudian mengepaknya kembali ke dalam peti," kata Hatta. Saat hari pemindahan tiba, Hatta meninggalkan 100 bukunya pada teman-temannya. Mereka pun berangkat dengan Kapal Putih menuju Banda Neira pada akhir Desember. Dari Banda maupun sesudah itu, ketika diterbangkan dari Banda pada 1 Februari 1942 menuju tahanan Sukabumi, Hatta tetap rajin meminjamkan buku pada teman-temannya di Digoel. Lahan Digoel yang dibuka oleh Kapten L. Th. Becking, dengan mengerahkan 120 orang dari Jawatan Bangunan Tentara Belanda dan 60 orang hukuman sebagai buruh kasar pada 1927 akhirnya ditutup pada 1943 setelah Jepang masuk ke Indonesia.

Sumber : (c) Yos Rizal S. (2002)

Referensi bagus untuk Digoel, lihat "Hantoe-Hantoe Digoel" Takashi Shiraishi (1999)

Selasa, 28 Desember 2010

Ketika Bola Begitu Merakyat

Oleh : Muhammad Ilham

" .... boooola, kau terobos gawang cintaku ... ooo ya ... oo ya .... kaulah sang primadoona ... booola " (Ona Sutra, penggalan nyanyi Dangdut)

Setiap event bola skala internasional, katakanlah itu Piala Champions dan Piala Dunia, rasanya saya rindu dengan suasana kampung halaman saya. Apalagi suasana Piala AFF sekarang ini. Ya, daerah pantai paling barat di Sumatera Barat itu, memiliki suasana yang "menggairahkan" ketika event Bola skala dunia bergulir. Saking menggairahkan sehingga di Air Bangis dikenal adanya kedai (biasa disebut Lopo) Real Madrid, Manchester United, AC Milan, Inter Milan dan seterusnya, tapi tidak ada kedai Semen Padang, Sriwijaya FC apatah lagi PSP Padang. Mungkin sekarang sudah ada Lopo Irfan Bachim atau Gonzales dan Bepe, tapi Lopo Nurdin Halid dijamin 100 peratus (bak kata orang Malaysia), tak ada. Masyarakat nelayan disana memiliki "cita rasa" tinggi sehingga mereka tidak tahu menahu tentang perkembangan Liga Indonesia, siapakah Beni Dolo atau nama-nama pemain yang diimpor dari luar negeri sana untuk memperkaya dinamika persepakbolaan Indonesia. Tapi jangan tanya tentang Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Alex Fergusson, Mourinho, Massimo Moratti, Cannavaro, der-Kaizer, Les-Blues, Los Galacticos hingga Total Footbal dan Cattenaccio, praktis banyak para "komentator" bola dadakan di kampung saya tersebut bisa menjelaskan dengan baik, bahkan hampir mirip - untuk tidak mengatakan kalah - dari komentator sekaliber M. Kusnaeni atawa Rayana Djakasurja. Tidak berlebihan memang, tapi banyak diantara komentator kelas kampung tersebut memiliki pengetahuan umum persepakbolaan dunia yang cukup mengagumkan. Bahkan perselingkuhan Silvio Berlusconi atau John Terry bisa dengan baik dan antusias mereka ceritakan mengalahkan penceritaan perselingkuhan artis-artis Indonesia. Dan analisa itu selalu "mendapat tempatnya" atau " mengena" karena selalu dihubungkan dengan maju mundurnya sebuah klub. Kegagalan AC Milan dalam mereka kaitkan dengan kegilaan si pemilik klub, Berlusconi, terhadap wanita. Chelsea menurun karena isu perselingkuhan sang kapten, John Terry. Pokoknya, setiap yang berbau "sensasi atau bumbu-bumbu"pun mampu mereka hubungkan dengan moncernya sebuah klub. Dan ini terjadi hampir di segala level usia. Konon, waktu saya menulis artikel ini, saya dapat SMS dari sahabat di kampung nan denai cintai itu, nama Riedl telah mengalahkan Fergusson. Firman Utina cs "mulai" familiar. Bahkan banyak yang sudah tahu, Kiki Amalia itu istri si Markus "kiper" dan Irfan Bachim sudah punya pacar ... halah !

Bila sebuah perhelatan event sepakbola berlangsung, maka malam di kampung halaman saya tidak memiliki arti. Pertandingan Liga Champions, misalnya, yang selalu ditayangkan tengah malam tidak menjadi halangan. Kedai-kedai bahkan menjadi lebih hidup dengan teriakan dan sedikit (pertaruhan). Apalagi Piala Dunia sekarang, praktis kedai-kedai di Air Bangis "menggeliat-kencang" tanpa kenal lelah. Adu mulut, komentar jenius hingga analisis asbun menghiasi tayangan selama pertandingan. Asap rokok mengepul (mungkin merasa berhutang budi, karena rokok-lah yang mampu menjadi sponsor sebuah TV swasta sehingga bisa menyiarkan secara Live). Minuman bergizi seumpama Teh Telor dan Teh Susu menjadi menu paling favorit. Dan ketika pertandingan usai - sekitar jelang Shubuh - mayoritas dari mereka-pun menyebar dengan saling "menertawakan", terutama yang jadi pesakitan adalah pihak yang klub jagoannya kalah. Dan yang kalah tidak merasa gundah, bahkan sering ketawa sambil berkompensasi ria dengan analisis yang terkesan justifikatif terhadap kekalahan klub kesayangannya. "Pola permainan yang tidak pas, pelatih yang tidak jempolan ataupun belum saatnya untuk menang". Tapi yang jelas, perdebatan dan gurauan di antara mereka sangat humanis tanpa dendam dan kepentingan apapun. Ketika uang minuman dan makanan dibayar, bahkan bisa terkadang lebih karena biasa saja setiap selesai pertandingan berlangsung, satu dua buah gelas-piring akan terburai-pecah, mereka ada yang terus melaut (ke laut), sebagian lagi pulang ke rumah.

Sungguh, bola memberikan nilai tersendiri bagi sebagian (kaum laki-laki) di kampung halaman saya. Candu bola ini nampaknya sudah berlangsung lama, seusia dan seumur dengan TV dan listrik masuk ke daerah ini. Saya masih ingat, kala Piala Dunia Meksiko 1982, demam bola (Piala Dunia) sudah mulai terasa. Padahal TV dan listrik baru masuk hanya berjarak satu Pemilu. Dari Piala Dunia Meksiko ini pula, untuk kali pertama saya merasa jatuh hati dengan Maradona dan tim Tango-nya. Melihat dari TV Hitam Putih yang dibeli ayah saya di Bukittinggi, bagaimana Maradona mencatatkan sejarah "tangan Tuhan"nya. Bagaimana Karl Heinz Rummenigge memperkenalkan "tendangan pisang"nya dan seterusnya. Siaran Live TVRI (waktu itu hanya Live untuk pertandingan Semi Final dan Final saja) pukul 5.00 dinihari bukan menjadi halangan untuk "begadang". Ketika sampai di sekolah dengan mata "redup" 3 jam berikutnya, Maradona menjadi perbincangan hangat diantara anak-anak SD ingusan jelang bel tanda masuk berbunyi. Saya pribadi, mendapat berkah dari pertandingan bola ini yaitu : belajar menghapal nama-nama pemain bola. Sehingga sekarang, nama-nama seperti Jorge Valdano, Boniek, Paolo Rossi, Bettega, Buruchaga, Karl Heinz Rumenigge, Johan Cruijf, Sergio Goecheycea, Preben elkjaer, Brian dan Micahel Laudrup, "Si Burung Nasar" Emillio Butragueno, Hugo Shanchez, Ian Rush dan seterusnya masih teringat dengan baik. Jangan ditanya tentang Maradona yang Diego Armando itu, rasanya masih lekat-lengket gaya mainnya. Dan pada detik itu saya melihat, bola menawarkan : keindahan, sportifitas untuk mengatakan saya kalah serta apa yang dinamakan dengan kerja tim. Karena itulah mungkin saya merindukan suasana kampung halaman saya di kala Piala AFF ini bergulir.


Catatan tambahan : Salah seorang teman saya, pernah mengganti Sticker salah seorang calon Gubernur dengan gambar Maradona. Ia menjadi marah bergejolak, ketika gambar itu ditutup kembali dengan sticker baru oleh tim sukses salah seorang calon gubernur. "Maradona dan Piala Dunia jauh lebih bermakna dibandingkan Pilkada", setidaknya demikian yang ingin ia sampaikan. Sekarang, saya lagi membayangkan, foto Firman Utina cs. sudah mulai dipesan, apalagi baju Garuda Didadaku. Dan Irfan Bachim menjadi daya tarik tersendiri ... apalagi ibu-ibu, buktinya ... imut-imut wajah Irfan Bachim itu ya bang", kata istri saya beberapa malam lalu. Nah ... lho !!

Sabtu, 25 Desember 2010

"Ayam Gadang" Minangkabau

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

"Tiok Lasuang ba Ayam Gadang", begitu bunyi satu ungkapan Minangkabau lama. Dalam konteks ini, maksudnya adalah bahwa setiap etnis melahirkan beberapa orang yang kesohor di tingkat nasional maupun internasional. Dan Minangkabau jangan ditanya lagi tentang itu. Mengenai hal itu Jeffrey Hadler dalam bukunya Muslim and Matriarchs : Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism (2008) menulis : “Peta jalan kota mana pun di Indonesia pastilah berisi jalan-jalan raya dengan nama Haji Agus Salim (lahir 1884), negarawan dan menteri luar negeri ; Mohammad Hatta (lahir 1902), wakil presiden pertama; Muhammad Yamin (lahir 1903), filsuf nasionalis; Muhammad Natsir (lahir 1908), politikus Islam; Hamka (lahir 1908), ulama ; Sutan Sjahrir (lahir 1909), sosialis dan perdana menteri pertama; Rasuna Said (lahir 1910), pemimpin revolusioner dan politikus; dan, bila sensor Soeharto lalai, Tan Malaka (lahir 1896), filsuf revolusioner komunis. Rakyat Minangkabau sangat bangga akan pemimpin-pemimpin generasi pertama ini beserta sejumlah besar politikus, ulama, dan cerdik cendekia Minangkabau yang kurang terkenal tapi yang juga punya peran penting dalam sejarah Indonesia.” Orang Minangkabau, yang pada tahun 1930-an hanya berjumlah 3.36 persen (sekitar satu juta jiwa) dari total penduduk Hindia Belanda, begitu mendominasi sejarah nasional. Mereka memainkan peran utama dalam pergerakan nasionalis dan pergerakan Islam, dan merekalah pemberi warna dunia sastra dan budaya Indonesia.

Kami suguhi foto tiga orang ‘ayam gadang’ Minangkabau, benih-benih terbaik dari ranah matrilineal terbesar di dunia ini, yang telah berjasa besar terhadap Republik Indonesia. Mereka adalah (dari kanan ke kiri): Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Muhammad Hatta. Sedangkan Amir Sjarifuddin (pakai dasi), yang berdiri paling kiri, berdarah Batak (lihat: Jacques Leclerc, Amir Sjarifuddin; Antara Negara dan Revolusi, 1996). Cukup unik bahwa ketiga ‘ayam gadang’ Minangkabau itu sama-sama memakai jas panjang ala Eropa. Mungkin Bukittinggi pada waktu itu cukup sejuk seperti suhu pada musim gugur di Eropa. Konteks historis foto ini adalah tahun 1948, waktu Belanda melakukan aksi polisionil terhadap Republik Indonesia yang masih bayi. Pada tanggal 9 Januari 1948 Sutan Sjahrir (penasihat Presiden Soekarno) tiba kembali di Jakarta setelah mengunjungi sejumlah negara selama enam bulan. Bersama Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri) dan Amir Sjarifuddin (Perdana Menteri) ia berangkat ke Bukittinggi (ibukota Republik Indonesia di Sumatra). Di sana mereka bertiga berjumpa dengan Muhammad Hatta yang telah berkeliling Sumatra dan berkunjung ke India. Amir Sjarifuddin berkunjung ke Sumatra Barat untuk menjemput Wakil Presiden Muhammad Hatta karena ia memerlukan dukungan Hatta untuk merampungkan persetujuan Renville yang sedang dalam perundingan.

H. Agus Salim, Hatta dan Sjahrir, tiga putra Minangkabau terbaik, dikenang karena kesederhanaan mereka. Sejarah telah mencatat bahwa mereka tak ragu-ragu meninggalkan kekuasaan bila gerak gerik kekuasaan itu sendiri sudah tidak sesuai lagi dengan hati nurani mereka. Mereka tak lena oleh uang berkebat, apalagi yang berbentuk ‘komisi’ ini dan itu yang diserahkan dalam bentuk amplop yang disuruk-surukkan. Mereka adalah teladan dan ‘cermin terus’ yang dilupakan oleh kebanyakan politikus negeri ini sekarang. Duhai, di manakah orang-orang seperti mereka dapat dicari dalam ranah politik Indonesia kini, yang sudah ‘kelam’ oleh celaga korupsi dan makin carut-marut tak berkeruncingan.

Sumber/diketik ulang dari : (c) Suryadi – Leiden, Belanda (Singgalang, 18/12/2010)
(Sumber foto: H Rosihan Anwar, Sutan Sjahrir; Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan, 1909-1966. Jakarta & Leiden: Kompas & KITLV Press, 2010: 110).

Jumat, 24 Desember 2010

Kisah Rahasia Sang Pemimpin Iran

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Penulis buku Ahmadinejad, Kisah Rahasia Sang Pemimpin Radikal, yaitu Kasra Naji, menyebut Ahmadinejad adalah calon presiden yang lusuh. Berikut penuturannya : kala mencalonkan diri jadi Presiden Iran untuk pertama kalinya, Ahmadinejad, jelas, menjadi Calon Presiden paling lusuh. Iklan politiknya tertayang di media hanya karena “keberuntungan” (bahwa ada peraturan setiap kandidat memperoleh hak yang sama berpromosi di stasiun televisi). Itupun berisi rekaman video dengan kualitas gambar buruk, berisi pesan yang teramat klise bagi rakyat Iran —tentang penghargaan terhadap para pahlawan perang Iran versus Irak (halaman 66). Melihat promosi seperti itu, publik Iran hanya punya satu pikiran: bahwa Ahmadinejad adalah calon presiden pertama yang harus mundur. Mereka menilai mantan Walikota Teheran ini tak layak. Tanggapan “mengentengkan” ini wajar belaka. Ahmadinejad bukan politisi kaliber sebagaimana para calon presiden yang lain (misalnya Ali Akbar Rafshanjani). Jangan tanya soal modal uang dan kapital, publik mengenal Ahmadinejad adalah sosok yang bersahaja, bahkan tak terdapat sofa di ruang tamu rumahnya. Mobil pribadinya pun hanya sebuah Peugot tua. Lalu bagaimana dukungan politik dari pihak lain?. Hampir semua media massa meyakini satu hal, bahwa beberapa hari lagi datang berita penting : Ahmadinejad mengundurkan diri dari pertarungan kursi Presiden Iran. Tak ada satupun media massa yang mendukung tokoh Islam Radikal ini. Pun, yang menyedihkan, sekutu terdekat, kawan-kawannya seperjuangan, juga beberapa politisi parlemen, sama-sama menjauh dari dirinya.

Keyakinan bahwa Ahmadinejad akan habis, kian diperkuat dengan beberapa kali survey, yang menunjuk popularitas Ahmadinejad berada di nomor 2 (dihitung dari belakang, dari 8 kandidat, artinya, ia hanya menempati posisi ke enam). Lalu dunia menatap dengan gembira, terutama Eropa dan Amerika Serikat. Mereka optimis, bahwa kelompok Islam Radikal di Iran sudah habis, salah satu tokohnya yaitu Ahmadinejad tak akan terpilih menjadi presiden. Tetapi di 17 Juni 2005 itu seolah-olah mimpi buruk datang. Ahmadinejad menang dalam pertarungan, menempati posisi kedua di bawah Ali Akbar Rafsanjani, dan itu artinya berhak bertarung di putaran kedua. Persis sejarah mencatat, diputaran kedua dirinya lah yang unggul, menyalip posisi mantan Presiden Ali Akbar Rafsanjani. Dunia terperangah. Seorang duta besar Inggris lalu mengirim faximile yang berbunyi: “ini adalah hasil dari perkembangan yang tak terduga”.

Pada awal kemenangannya jadi Presiden Iran, lawan-lawan yang kalah menghujat terjadi kecurangan sistematis. Kemenangan di luar dugaan ini adalah hasil rekayasa. Mereka menuding Pasukan Pengawal Revolusi, Pemimpin Agung Ayatulloh Khamenei, dan tokoh bangsa yaitu Ali Movahedi telah mengotori pemilihan umum demi kemenangan Ahmadinejad. Berikutnya, karena gagal menghadang laju kemenangan, lawan politik melansir isu keterlibatan Ahmadinejad dalam tragedi penyanderaan berdarah di Kedutaan Besar AS, di Tahun 1979, yang berlangsung selama 444 hari, di era Presiden Richard Nixon. Pihak yang kalah, memfitnah bahwa Ahmadinejad adalah pelaku yang berlumuran darah, dan sangat kotor. Serangan ini begitu gencar, menghumbalang di dalam dan luar negeri. Berbagai saksi mata dari Inggris, Amerika Serikat, dan mereka yang disandera di saat itu mengaku bahwa Ahmadinejad adalah “pelaku penyanderaan”. Tetapi serangan ini pun sirna. Segera setelah keluar pernyataan resmi dari CIA, bahwa Ahmadinejad tak terlibat!. “Mencoba meramalkan apa yang terjadi di Iran adalah main tebak-tebakan”, demikian ujar seorang diplomat Inggris, demi melihat kemenangan Ahmadinejad. Bila Inggris terlihat hati-hati, Amerika Serikat lain lagi. Negara adidaya ini terlihat berang. Mereka melihat masa depan demokrasi di Iran telah habis, bersama dengan kekalahan telak kubur moderat dan Islam modernis. Para pemimpin dunia melihat dengan beragam cara. Begitu banyak julukan tersemat kepada Ahmadinejad, seiring dengan beragam kontroversi yang dimunculkannya. “Presiden berjiwa labil”, “pemimpin arogan dan bodoh”, dan “menjijikan”, adalah beberapa tudingan yang dialamatkan ke Presiden Iran ini. Sebuah pertemuan, ketika Ahmadinejad melakukan lawatan ke Amerika Serikat, berlangsung di Columbia University, sambutan sang rektor menyebutnya sebagai loose cannon, yaitu orang ceroboh yang selalu mengejutkan! (Halaman 143).

Mengapa julukan arogan, keras kepala, bodoh, dan ceroboh begitu gencar? Atau bahkan The Loose Cannon, alias ceroboh dan megejutkan. Dunia tak terlalu pening bila kebencian Ahmadinejad terhadap Israel hanya sebatas retorika. Tak terhitung gaya Anti Israel (tetapi kemudian berkompromi) yang hinggap di kalangan pemimpin Arab. Tetapi hanya Akhmadinejad yang menikam ke ulu hati Ummat Yahuid, dengan menyebut Holocaust (pembantaian di kamp-kamp konsentrasi rezim Nazi) adalah mitos dan bohong! Ahmadinejad bahkan memetik kemarahan komunitas Yahudi yang Anti Zionis —dan anehnya, mereka sudah ribuan tahun menetap di Iran, ketika mengadakan Konferensi Holocaust di Iran. Dengan mengundang para tokoh rasis dunia, mulai dari pemimpin Xu Xluk Klan di Amerika Serikat, pengagum Nazi, dan lain-lain. Presiden Iran ini juga memercikan bensin di tengah upaya perdamaian Timur Tengah, dengan menyebut bahwa “Israel harus dihapus dari peta dunia.” Banyak lagi. Seorang fanatik Imam Mahdi ini bahkan nyaris disebut mengidap delusi, penghayal yang tidak lagi rasional. Berkali-kali kalangan moderat Iran disakiti dengan tingkah polah Ahmadinejad. Paling menonjol terkait dengan ancaman dunia internasional terhadap Iran, bila negeri itu tetap ngotot mengolah industri nuklir. Sang presiden menjawab serampangan, bahwa “pengayaan nuklir iran adalah kereta tanpa rem dan tak perlu perseneling, meluncur tanpa boleh berhenti”. Sontak pernyataan mengejutkan ini membuat dunia marah, dan tekanan terhadap Iran kian dahsyat. Presiden Iran inipun dinilai berkali-kali membuat perbuatan memalukan, seperti mengirim Surat Pribadi kepada Angela Markel, George W Bush, dan pemimpin dunia lain (sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh pemimpin Iran lain). Juga tentang seruannya agar Program Keluarga Berencana dihapuskan di Iran, dengan tujuan memperbanyak orang Islam di Iran.

Tak pelak, dibalik berbagai kelemahan dan dosa politik Ahmadinejad, buku ini memperlihatkan bahwa Sang Presiden tegar dalam membela kaum papa. Ia juga menjalin hubungan baik dengan para pemimpin sosialis, dan mencoba membangun poros anti Amerika Serikat. Sebuah poster, menunjukkan adanya koalisi bertajuk keadilan, yang menggambarkan Ahmadinejad, Evo Morales, Hugo Chavez, Fidel Castro dan Daniel Ortega. Setidaknya, dunia memang selalu punya orang-orang yang tak menjadi penjilat Amerika Serikat. Rekomendasi ..... Buku ini sangat bagus untuk dibaca !.

Referensi : kompas.com/endibiaro.blogdetik.com