Jumat, 17 Desember 2010

Simbolisasi Sensualitas Batu

Oleh : Muhammad Ilham

"Kala batu bicara", demikian kata Brainwood puluhan tahun yang lalu, "maka tafsiran bisa terkesan liar ketika pemahaman konteksual dikesampingkan". Dan itu saya rasakan beberapa tahun lalu, kala berkesempatan pergi ke beberapa tempat di Sumatera Utara, Aceh dan beberapa daerah di Sumatera Barat. Saya terpana melihat phallus. Sebuah istilah dalam ilmu arkeologi untuk menamakan batu tua "tegak berdiri" sedikit melengkung yang dijumpai di makam-makam raja-raja "saisuak". Phallus, batu tegak penanda makam raja. Bentuknya sangat sensual, mirip penis "anak jantan", dengan kepalanya yang sudah disunat. Ketika melihat phallus ini, secara tidak langsung ada ada pesan yang kita tangkap (setidaknya saya) : "hei bung, disini dimakamkan pejantan tangguh" - hehehe, meminjam istilah Sheila on 7. "Nenek moyang kita doyan porno", kata seorang teman saya yang terheran-heran memandang phallus ini sambil menggosok-gosok kepala phallus yang batangnya melengkung dan sudah menua dilumuri lumut, tapi tetap gagah.

Phallus hanyalah bagian kecil dari sensualitas sejarah masa lalu. Bila kita lihat peninggalan tradisi Hindu-Budha kuno, banyak simbol-simbol free sex. Bila ditinjau dari etika kekinian, karya zaman "mpu Tantular" dan mpu-mpu lainnya ini, terkesan pornografis. Tapi, sebagaimana yang diungkapkan Brainwood diatas, pemahaman kontekstual haruslah diperhatikan. Jiwa zaman dalam bahasa ilmu sejarahnya. Patung-patung ini merupakan produk dari masa seksualitas tradisional. Diperkirakan wacana seksualitas ini berasal dari India yang merupakan hulu dari tradisi Hindu (hehehe, jadi ingat Kamasutra). Dalam beberapa candi di India dan Indonesia, ada penggambaran nyata alat kelamin dan hubungan seks. Hubungan seksual di zaman Hindu-Budha kuno tersebut, merupakan simbolisasi dari kesuburan. Simbol-simbol seksualitas ini, baik dalam praktek sehari-hari maupun secara abstrak, menjadi jimat yang harus menjamin berhasilnya panen dan kemakmuran. Ong Kho Kham mengatakan pada masa Raja Singasari terakhir, Kertanegara (1268-1292), mencari jimat atau kekuatan ghaib agar panen berhasil dengan jalan Tantrisme - melakukan hubungan seksual sepuas-puasnya sampai letih-muak. Seksualitas juga terungkap pula dalam perkawinan Ken Arok dan Ken Dedes. Seksualitas bukan hanya dimaknai sebagai sebuah keliaran/barbarisme, tapi sebuah jalan untuk memakmurkan masyarakat. Mungkin dalam konteks inilah, raja-raja dahulu memiliki anak puluhan, cucu ratusan dan cicit hampir ribuan dengan istri yang berjumlah entah berapa puluh pula.

Rabu, 15 Desember 2010

Gender dan Teror Kekuasaan (Sebuah Pengantar Makalah 1 dan 2)

Oleh : Muhammad Ilham

Persepsi yang terbangun adalah bagaimanapun wanita harus dianggap “lemah”. Dianggap sebagai sesuatu yang ideal untuk “mengerangkeng” potensi wanita. Padahal, bukan “mengerangkeng” mereka, yang harus dilakukan adalah “mengerangkeng” nilai-nilai yang membuat wanita “terkerangkeng”).

Pernah ada anekdot feminis yang bagus yang saya kutip dari Ariel Heryanto (2000). Saya modifikasi "sedikit). Bunyinya kira-kira begini. Konon, suatu hari para ahli angkasa luar Indonesia menerima pesan dari makhluk planet lain. Mereka menyatakan minat berkunjung dan mengadakan studi banding ke bumi. Sambutan meledak-ledak bukan saja dari kalangan ahli. Perusahaan pemancar televise, dan pembuat film berlomba-lomba mendapat tempat dalam acara tersebut. Pabrik sepatu, kemeja, minuman, kerupuk, tebu-panggang Kuranji bahkan cendol Pattimura-pun ikut menjadi sponsor. Akhirnya tibalah hari “H”. Para tamu dari planet lain itu diajak berkeliling ke pusat-pusat peradaban manusia Indonesia, baik warisan budaya klasik-kuno hingga modern (yang klasik-kuno mungkin banyak, yang modern … entahlah, mana ada di Indonesia. Ya, namanya saja narasi-imajiner). Seluruh acara kunjungan diikuti ratusan juta penduduk Indonesia, bahkan bumi lewat siaran langsung. Di ujung kunjungan resmi itu, diadakanlah upacara perpisahan. Makan malam di istana negara a-la “keripik”, “bakso”, Obama kemaren-lah. Para tamu diminta memberikan kesan-kesannya. Puja puji berhamburan bak kembang api. Tepuk tangan silih berganti, orang Indonesia bangga. “Tapi”, kata sang tamu tiba-tiba, “ada keganjilan tentang kehidupan di bumi ini”. Serentak perhatian hadirin tertuju kepada wakil dari planet lain yang memberikan sambutan tersebut. “Apa? Katakan, apa yang ganjil?”, teriak hadirin berasamaa. “Yang aneh, “ kata sang tamu, “setiap kali kami berjalan-jalan di pusat-pusat kota pada malam hari, yang kelihatan hanya kaum laki-laki. Baik di Jakarta, Medan, Bandung ataupun Padang”. Para hadirin menjadi lega. “Oh itu”. Seorang petinggi dari Indonesia menjelaskan, “itu lumrah. Maklum, kalau pada malam hari pusat-pusat kota kurang aman. Demi alas an keamanan, kebanyakan wanita dan anak-anak tinggal di dalam rumah”. Penjelasan ini kurang memuaskan para tamu. Mereka kelihatan bingung dan sibuk berbisik-bisik dalam bahasa planet mereka, sampai-sampai tuan rumah bertanya, “Apakah penjelasan kami tadi kurang memuaskan?”. Salah seorang tamu tadi menjawab, “Terus terang, kami masih tak paham. Kalau di planet kami, ada binatang yang buas dan berbahaya bagi umum, maka yang dikurung adalah binatang itu. Bukan korbannya !”. Skak Ster.

Agak sulit bagi saya untuk membuat makalah tentang topik Gender dan Teror Kekuasaan ini. Kesulitan tersebut karena “begitu luasnya” cakupan pembahasan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh filosof-sejarah Milland Kundera bahwa sejarah teror dan kekuasaan itu “ seumur” homo-sapiens. Ketika manusia sudah mulai “lebih dari satu”, dalam konteks itu, kuasa dan teror mulai tumbuh. Apalagi manusia itu sudah mulai terbentuk berdasarkan jenis kelamin (genetic), maka, pada titik itu, teror dan kuasa juga mulai ada. Secara tautologik, teror dan kuasa sudah menjadi kehendak sejarah. Apalagi bila dihubungkan dengan relasi gender. Karena itu saya ingin membatasi pada beberapa sample isu-isu berkembang belakangan ini yang dikaitkan dengan gender dalam konteks teror dan kekuasaan yang kemudian dicari “benang merahnya” dengan fakta-fakta sejarah yang telah berlangsung selama ini. Pertanyaan kritisnya mungkin adalah : “Ketika wanita muncul dalam ranah public (baik politik maupun sosial), mengapa public begitu mudah mencari “titik tembak” terhadap kemunculan wanita tersebut ?. “Titik tembak” disini saya pahami sebagai karena factor kewanitaannya, sehingga factor kewanitaan itu menjadi “titik tembak” public. Publik, disini termasuk kalangan wanita, dan yang pasti adalah sebagian besar kalangan laki-laki.

Selanjutnya, menterjemahkan konsep teror juga begitu dilematis. Karena konsep teror biasanya merujuk kepada upaya untuk menciptakan instabilitas sebuah komunitas ataupun consensus sosial. Diantara berbagai macam defenisi (baik defenisi etimologis maupun semantic) dari teror tersebut, saya hanya ingin mengambil “benang merah” nya dengan topic makalah kali ini tentang Gender dan Teror Kekuasaan. Saya memahami pengertian teror disini sebagai bentuk kezaliman dan kesewenang-wenangan yang distruktur oleh pemegang kebijakan.
Dalam konteks diatas, maka saya mengambil tiga sample untuk melihat bagaimana kesewenang-wenangan dan ini terus di-blow up – sebuah teknik teror yang sistematis – pada publik yang dilakukan oleh pemegang otoritas politik bangsa ini yang mengesankan kekuasaan mendiskriminasi laki-laki dan wanita.

Keberadaan Hawa (Eva) di Sorga (Eden) merupakan refleksi dan simbolisasi “bermainnya” kuasa berdasarkan genetically. Hampir seluruh Kitab Suci agama-agama Ibrahim (abrahamic releigion) mengatakan bahwa Hawa merupakan “pelengkap” bagi keberadaan spesies sempurna ciptaan Tuhan. Dalam kitab Perjanjian Lama, dikatakan bahwa Hawa didoktrin oleh sang Pencipta untuk membahagiakan Adam. Secara tidak langsung, Hawa “hadir” sebagai aksesoris kebahagian Adam. Dan itu didoktrin Tuhan. Doktrin ini diterjemahkan – dalam bahasa Eksistensialisme - sebagai bentuk “teror” eksistensi Hawa yang kemudian menjadi justifikasi-historis-teologis. Inilah bentuk dan simbolisasi teror dan kekuasaan pertama dalam sejarah manusia. Lihat, Muhammad Baqr al-Shadr, Falsafatunna, terjemahan, Bandung: Mizan, 1993, hal. 141-143; lihat juga Nawel el-Sa’adawi, Catatan Seorang Perempuan (Buku Mini), terjemahan, Jakarta: PSWUIN Jakarta, 2006. Novel Saman karangan Ayu Utami – dalam bagian-bagian tertentu - juga mendeskripsikan justifikasi-historis-teologis ini (walau terkesan “olok-olok”). Mengenai dialog-teologis Abrahamic Religion mengenai nilai-nilai perrenialis penciptaan Hawa, lihat buku monumental Karen W. Amstrong, Sejarah Agama-Agama, terjemahan, Bandung: Mizan, 2005.

Gender dan Teror Kekuasaan : "Ketika Tubuh Wanita Menjadi Sasaran Tembak" (Bagian 1)

Oleh : Muhammad Ilham

Saya masih ingat, pertengahan bulan Mei 1997, berbagai media cetak Indonesia memuat foto “cantik” Alya Rohali, putrid Indonesia ’97. Ia diapit oleh Putri Thailand dan Filiphina. Ketiganya dalam pakaian renang sebagai peserta kontes Miss Universe 1997 di Las Vegas Amerika Serikat. Pemuatan foto ini menimbulkan reaksi keras public. Tak kurang, Menteri Peranan Wanita kala itu, Ny. Mien Sugandhi, merasa “kebakaran sanggul” (jenggot tidak mungkin). Dalam siaran persnya, Mien Sugandhi mengatakan foto Arya Rohali itu sebagai “keseronokkan” (artinya : tidak pantas dan menjatuhkan martabat, karena bila dibawa kedalam bahasa Malaysia, keseronokkan justru berarti menyenangkan atawa mengasyikkan). Keikutsertaannya dalam Kontes Kecantikan Internasional tersebut dinilai merendahkan harkat martabat wanita Indonesia yang lagi-lagi diperjuangkan Mien Sugandhi via KeMenterian Peranan Wanita-nya. Menurut ibu menteri, ia telah ditegur banyak kalangan. Dari kasus ini, timbul pertanyaan kritis : Bagaimana persisnya derajat wanita dapat dinaikkan atau diturunkan ? Siapa yang berhak menaikkan dan menurunkannya ?. Rangkaian pertanyaan ini bisa menjadi panjang. Namun yang pasti, telah terjadi kesewenangan (teror defenisi oleh pemegang otoritas kekuasaan).

Jikalau-lah Alya merendahkan derajat kaum wanita Indonesia, apakah peserta lain dari kontes tersebut tidak juga merendahkan derajat kaumnya di negeri mereka masing-masing. Apakah peserta Kontes Internasional tersebut secara kolektif juga merendahkan derajat kaum wanita di seluruh permukaan planet bumi ini, tanpa terkecuali. Bila tidak, betapa malangnya wanita Indonesia yang mengalami kelainan. Sayangnya, tidak pernah dijelaskan siapa orang-orang yang menegur Ibu Menteri karena penampilan Alya Rohali. Tak jelas persis bagaimana alasan mereka. Atau mungkin kalangan-kalangan yang menegur bu Menteri ini merasa derajatnya direndahkan oleh Arya Rohali. Atau apakah mereka ini merupakan pejabat tinggi Negara, yang biasanya laki-laki, merasa lebih tahu tentang derajat wanita ketimbang Ibu Menteri ?
Sebelum ramai-ramai mengecamnya (istilah lain lagi dari terror), perlu diperiksa apakah benar Kontes Miss Internasional ini sekedar melombakan kemolekan tubuh ? Bagaimanakah seandainya kontes semacam itu memang melulu memperlombakan kecantikan fisik ? Mungkin banyak orang Indonesia yang akan menolaknya. Pasti banyak yang berada dibelakang Mien Sugandhi dan menteri peranan wanita seterusnya. Tapi, Alya Rohali hanya menjalani “bagian kecil” dari prosesi yang sangat banyak yang harus dilaluinya. Bukan tubuh, tapi juga brain. Padahal bila kita jujur terhadap realitas sosial (fakta sosial) yang ada, penampilan yang dikecam Mien Sughandi pada Alya Rohali dan (juga pada Nadine Chandrawinata oleh Khofifah Indarparawansa), merupakan pemandangan sehari-hari yang lazim di kota-kota besar negeri ini.

Penampilan perempuan seperti itu telah menjadi gambar baku dalam poster film di Indonesia, termasuk produksi dalam negeri. Bahkan pada era awal 2000-an, luar biasa parah. Poster-poster film di Padang Theater, misalnya, membuktikan hal itu, sebagaimana yang saya alami, setidaknya. Di daerah lain, juga berlaku hal demikian. Bahkan, hingga hari ini, ada majalah yang sudah bertahun-tahun secara khusus menampilkan perempuan dalam pakaian “semlehoy” dengan dibungkus misi : “majalah keluarga”. Tidak hanya seperti yang dikenakan oleh Arya Rohali, tetapi jauh lebih berani.
Tidak ada kaitan langsung atau alamiah antara tubuh wanita dan martabat kaum wanita. Kaitan itu hanya ada kalau dibuat ada dalam masyarakat. Kesewenangan terhadap wanita, dalam hal ini pelecehan, terhadap martabat wanita telah mewarnai sebagian besar sejarah modern, tetapi ada yang membingungkan. Di satu pihak, pelecehan tersebut secara universal meliputi eksploitasi tubuh wanita. Dipihak lain, tidak semua penonjolan tubuh wanita yang merupakan pelecehan martabat mereka. Pelecehan martabat wanita tidak hanya bercorak eksploitasi jasmaniah. Akhirnya, tubuh wanita, selalu menjadi “sasaran tembak” kelompok-kelompok kekuasaan karena mereka merasa bahwa eksistensi mereka akan tercederai oleh hal-hal seperti ini. Padahal, bila kita ingin jujur, industri “kemolekan tubuh wanita” itu, baik event maupun majalah, adalah industri yang dikuasai laki-laki.

Saya hanya membayangkan dan teringat dengan dialog imajiner diatas, bila suatu hari wanita Indonesia – berkaca dari kasus ini – mempertanyakan manakah yang lebih penting diurus : peranan wanita atau pria ? yang menjadi sumber masalah tersebut, apakah kaum pria atau wanita ?. Bila wanita tidak boleh memamerkan semata-mata kehebatan tubuhnya, bagaimanakah dengan pria yang memamerkan kehebatan tubuhnya? Bukan hanya laki-laki yang bergaya seperti Ade Rai dengan menggunakan “kain sembat” , tapi disini juga bisa dicatat, laki-laki yang juga menampilkan kehebatannya : “membanting”, “meninju”, “menonjok” dan “menendang”. Kita tidak mengetahui, mengapa dahulu tak banyak yang “menggugat” Soekarno kala memamerkan lukisan-lukisan naturalis – wanita semi telanjang. Saya yakin, banyak ulama-ulama yang masuk kedalam istana. Apalagi ulama-ulama yang “getol” dengan konsep Nasakom Soekarno. Hampir tak terdengar, kala Soekarno berkuasa, apakah ada ulama atau tokoh masyarakat yang menggugat Soekarno dengan kalimat : “merendahkan istana Negara”, “merendahkan symbol Negara”, atau “Soekarno merendahkan dirinya sendiri”. Ada dua kemungkinan. Pertama, para ulama dan tokoh masyarakat Indonesia kala itu, “takut” melawan Soekarno dan meneror lukisan-lukisan seperti itu. Atau bisa jadi kemungkinan kedua, para ulama dan tokoh masyarakat tersebut “suka” dengan lukisan-lukisan naturalis tersebut.

Kasus Arya Rohali dan juga kasus-kasus lain sejenis ini, hanya menempatkan wanita dalam posisi yang “sewenang-wenang” untuk ditafsirkan, diukur dan diparameterkan. Bukan berarti saya menyetujui pornografi. Itu jelas tidak, karena saya tidak menyukai pornografi. Namun yang menjadi catatan kritis disini adalah ketika eksistensi wanita selalu diletakkan dalam ukuran “tubuh”.
Tubuh menjadi sasaran tembak. Mereka diteror dengan menjadikan tubuh mereka sebagai “titik tembak”, bahkan oleh kekuasaan, atas nama martabat wanita itu sendiri, tanpa melihat, persoalan substansi di seputar kelompok yang mengarahkan sasaran tembak itu – umumnya laki-laki. Sungguh, kata Cleopatra, wanita memiliki kelebihan dan kemolekan tubuh yang bisa mengguncang dunia. Mengguncang bisa jadi membuat orang terpana, bisa juga meruntuhkan mereka.

Selasa, 14 Desember 2010

Gender dan Teror Kekuasaan : "Ketika Tubuh Wanita Menjadi Sasaran Tembak" (Bagian 2)

Oleh : Muhammad Ilham

Saya mulai dari potongan berita di vivanews.com, berikut :


“Saya tidak menghambat seseorang, katakanlah Julia Peres ataupun Maria Eva melaksanakan hak-hak konstitusinya. Tapi, saya juga tidak bertentangan dengan konstitusi. Salah satu syarat adalah bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Maka, pasal zina ini adalah refleksi dari itu. Jadi bukan menghambat hak konstitusi seseorang”[1]

Salah satu berkah reformasi adalah “meratanya” kesempatan bagi setiap warga negara untuk menjadi kepala daerah. Asal sesuai dengan kaedah-kaedah dan aturan konstitusi yang ada. Bila pada masa Orde Baru, mimpi untuk menjadi Kepala Daerah, harus diawali dengan masuk “biduk” Golongan Karya (bukan partai Golkar). Demikian juga, bila ingin menjadi Menteri dan Duta Besar serta pejabat BUMN dan seterusnya. Sehingga, pada masa Orde Baru, sulit kita jumpai – untuk mengatakan tidak pernah – ada Kepala Daerah dari kalangan artis. Kepala Daerah pada masa ini sejatinya adalah politisi, politisi Golkar. Kalau-pun ada, biasanya hanya menjadi anggota Parlemen. Itupun boleh dikatakan tidak ada. Kecuali dari Partai Demokrasi Indonesia – Sophan Sophian. Barulah pada tahun 2000-an, bermunculan nama-nama artis yang masuk dalam bursa Calon Kepala Daerah. Ada yang terpilih, ada yang tidak. Ada yang ingin coba-coba, ada yang ingin menaikkan “rating” di dunia keartisannya, ada yang benar-benar serius. Dan sejarah mencatat beberapa nama artis yang bisa menjadi Kepala daerah “produk” era reformasi seperti Rano Karno, Dede Yusuf dan lain-lain. Sedangkan di Senayan, berkibar nama-nama seperti Marissa Haque, Rachel Maryam, H. Qomar “Tiga Sekawan”, Jamal Mirdad, Eko Patrio dan lainnya. Ini kemudian menginspirasi beberapa artis lainnya untuk bersaing dalam pemilihan Kepala Daerah. Akhirnya, public disuguhi tontonan menarik, dimana artis-artis selama tahun 2009-2010, banyak yang mengadu peruntungan untuk (sekedar) menjadi Calon Kepala Daerah. Saya katakan sekedar, karena ada beberapa diantaranya yang gugur dalam proses seleksi. Persoalan financial, saya fikir bukan persoalan bagi artis-artis tersebut. Mereka memiliki uang yang cukup. Maka, Ayu Azhari (yang juga dikenal sebagai artis seksi) mencalonkan diri menjadi Calon Bupati Sukabumi. Majunya Ayu Azhari yang merupakan kakak dari Sarah dan Rahma Azhari (yang dua ini, tak kalah seksinya pula) menjadi perbincangan public di beberapa kesempatan, terutama di jejaring sosial facebook dan twitter. Para fesbukiyah dan twit banyak yang mendukung, banyak yang menolak.

Belum habis perbincangan hangat tentang Ayu Azhari, muncul pula Julia Peres. Ini menjadi lebih heboh. “Pacar” Gastano (pemain bola LI asal Argentina, saya lupa nama lengkapnya) “membusungkan dada” untuk mencalonkan diri jadi Calon Bupati Pacitan, kampungnya Presiden SBY. Tak tanggung-tanggung, Julia Peres menwarakan pada adik sepupu SBY untuk menjadi Wakilnya. Partai Demokrat diincar jadi “biduk” politik. Julia Peres yang dalam dunia keartisan lebih dikenal sebagai artis “bodi semlehoy” ini mulai berpakaian rapi, tapi tetap lekuk-lekuk tubuhnya terlihat. Ia mulai wara-wiri kesana kemari mencari dukungan. Bahkan, ia minta izin pada salah seorang kiai sepuh Nahdatul Ulama. Sang kiai ini-pun dengan gembira mendo’akannya. Sebagaimana halnya Ayu Azhari, public pun terbelah. Ada yang mendukung dengan argument bahwa siapapun sama dimata konstitusi, tapi tak sedikit pula yang menentang dengan alas alasan bintang Film Hantu Jamu Gendong ini tak layak untuk dicontoh, karena memiliki track-life sebagai pengumbar syahwat dibandingkan ide-ide cemerlang. Bahkan di jejaring facebook dan twitter terlihat “modifikasi” foto Julia Peres di berbagai baliho membuat “jakun” anak bujang turun naik. Akhirnya Julia Peres, kandas. Ia kalah dalam proses penjaringan calon. Nampaknya Partai Demokrat tak mau berjudi.


Cerita Ayu Azhari dan Julia Peres pun lanjut dengan episode yang lebih menggemparkan. Belum hilang ingatan public mengenai Video Hot anggota senior Partai Golkar, Yahya Zaini (waktu itu : Ketua Departemen Bidang Agama Partai Golkar/mantan Ketua HMI), “lawan mainnya” dalam video hot itu, Maria Eva, mencalonkan diri pula menjadi Calon Bupati di sebuah Kabupaten di Jawa Barat. Hal ini banyak menimbulkan kontroversi di tengah-tengah public. Maria Eva tetap kukuh mencalonkan diri jadi Calon Kepala Daerah. Tapi sebagaimana halnya Ayu Azhari dan Julia Peres, Maria Eva yang juga dikenal sebagai penyanyi dangdut yang tidak begitu terkenal (lebih dikenal karena affairnya), gagal dalam tahap penjaringan. Tapi, keadaan ini tak hanya terputus sampai di Maria Eva. Sebelumnya, artis Primus Yustisio, Penyanyi Dangdut Ayu Soraya dan lain-lain juga kalah dalam pertarungan. Mungkin hanya Andre “Opera van Java” Taulany yang hingga sekarang masih “berkesempatan” bertarung di Tangerang Selatan.


Saya tak ingin mengomentari fenomena sosiologis munculnya artis-artis dalam ranah politik Indonesia. Serta kemenangan-kekalahan mereka dan seterusnya. Saya hanya ingin menghubungkan dengan lontaran/ide Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi diatas. Pertanyaan kritis yang bisa dimunculkan adalah : “Mengapa tawaran pasal Zina begitu urgen ? Bisakah Mendagri menjamin, calon-calon yang lain bebas dari perzinaan ? Mengapa tawaran tersebut terkesan hanya pada calon wanita ? dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang pada prinsipnya ingi menegaskan bahwa tawaran controversial tersebut, disamping (menurut sebagian kalangan) diskriminatif, juga hanya ditujukan pada maraknya calon-calon artis “semlehoy” dan identik dengan budaya hippies, maju menjadi calon kepala daerah.


Tawaran Gamawan Fauzi ini keluar, kala perbincangan terhadap majunya Julia Peres dan Maria Eva. Bukan kala beberapa artis yang lain maju menjadi calon legislative atau Kepala Daerah, dan menjadi “meredup” kala Andre Taulany masih “bersaing” sekarang ini. Publik pun dengan mudah menilai, tawaran Gamawan Fauzi ini hanyalah ingin menjegal atau memberio warning pada Julia Peres dan Maria Eva. Ia tak memberikan “tawaran” lain, misalnya pada salah seorang Bupati di Sumatera Barat yang terpilih kembali menjadi Bupati, padahal baru selesai “membuang dosa” dalam penjara karena kasus korupsi-nya pada jabatan Bupati periode sebelumnya.
Sekali lagi, ini memperkuat anggapan bahwa kesewenangan kekuasaan selalu merugikan kaum wanita. Padahal, wanita dan laki-laki sama dalam hak konstitusi. Tubuh dan keseksian, menjadi “sasaran” tembak. Memang pemerintah berkewajiban mengarahkan masyarakatnya kepada yang lebih baik, tapi pemegang kekuasaan telah menteror dengan memblow-up dan membentuk opini pada public. Bila ingin konsisten, seharusnya tawaran ini dalam aplikasi merata dan tetap ditawarkan hingga sekarang. Sekali lagi, akhirnya telunjuk mengarah kepada pemegang kekuasaan yang dipegang laki-laki. Akhirnya, “Salah satu syarat adalah bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Maka, pasal zina ini adalah refleksi dari itu”, bagaimana dengan yang nyata-nyata pernah terlibat kriminalitas, bagaimana yang pernah terindikasi shabu-shabu dan seterusnya.

Angelina Sondakh itu cantik. Dengan muka tirus-nya, kita merasa nyaman memandangnya. Semua kita pasti sepakat, apalagi saya. Ditambah lagi, ia smart. Sekarang ia dianggap sebagai representasi artis dengan otak cemerlang dalam jagad perpolitikan Indonesia. Muda, pintar, bekas Putri Indonesia, artis dan suaminya gagah pula – Adjie Massaid. Ada yang bilang, Partai Democrat beruntung memilikinya.[2] Anggie, demikian biasa ia dipanggil, juga dikenal santun dan humanis. Ia masuk dalam politikus muda “Negara demokrat” bersama-sama dengan Anas Urbaningrum, Ibas Yudhoyono dan Adjie Massaid.[3] Mungkin karena cantik, santun dan pintar itu-lah, maka Pimpinan Pusat Partai Demokrat mempercayakan padanya posisi Pelaksana Tugas Harian (Plth.) Ketua Partai Demokrat Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagaimana yang kita ketahui belakangan ini, isu yang paling hangat dalam ranah politik Indonesia adalah (perseteruan) SBY versus Sultan Hamengkubuwono X berkaitan dengan Keistimewaan daerah Yogyakarta. Keistimewaan yang didalam-nya in-clude penetapan Gubernur-Wakil Gubernur secara otomatis bagi Ngarso Dalem Sri Sulthan Hamengkubowono X sebagai Gubernur dan Paku Alam sebagai Wakilnya. Karena pemerintah memiliki perspektif lain tentang konsep penetapan Gubernur/Wakil Gubernur ini, maka konstelasi politik Yogyakarta menjadi panas. Imbasnya antara lain, mundurnya KGPH. Prabukusomo sebagai Ketua Umum Pimpinan Daerah Partai Demokrat DIY. KGPH. Prabukusomo merasa Partai Demokrat adalah “actor utama” penggerogotan dominasi politik Keraton di DIY. Sebagai Ketua Umum Partai penguasa, apalagi Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu legislative di Yogyakarta (2009) mengalahkan Golkar[4], tentunya posisi Ketua Umum Partai Demokrat tersebut sangat prestisius dan memiliki bargaining position signifikan.

Mundurnya KGPH. Prabukusomo sebagai Ketua Umum Pimpinan Daerah Partai Demokrat DIY hanya menimbulkan kontroversi yang tidak begitu lama. Walaupun media massa memblow-upnya, tetap isu ini tidak se-kontroversi, misalnya, isu wikileaks atau kematian mbah Maridjan kemaren. Justru yang menjadi perbincangan hangat di beberapa media massa dan jejaring sosial facebook serta twitter adalah siapa pengganti KGPH. Prabukusomo tersebut. Orang akan biasa-biasa saja, bila pengganti adik Sulthan Hamengkubowono X ini seperti fungsionaris Pimpinan Pusat Partai Demokrat seperti KGPH. Roy Suryo, yang daerah pemilihannya di Yogyakarta, ditambah lagi keturunan keratin. Diskusi menjadi hangat ketika Anggelina Sondakh nan cantik asli Kawanua ini yang menggantikan posisi strategis KGPH. Prabukusomo.

Dari berbagai pendapat yang bermunculan dengan naiknya Anggelina Sondakh sebagai Plth. Pimpinan Daerah Partai Demokrat DIY hampir semuanya menjadikan “kewanitaan” Anggelina Sondakh sebagai “sasaran tembak”. “Kita juga heran, mengapa bung Anas Urbaningrum meletakkan Anggie yang perempuan itu sebagai Plth di DIY. Ia tidak memiliki pengaruh besar. Walaupun dari pusat, ia tidak akan sekharisma KGPH. Prabukusomo yang gesit. Anggie yang wanita tersebut tak akan mampu menggantikan kegesitan KGPH. Prabukusomo”, demikian kata seorang pakar politik dan diamini oleh funsionaris partai lain yang bukan dari Partai Demokrat.[5] Bagi saya, analisisnya ngawur, menyamakan menara pisa dengan petronas, menyamakan pengaruh Fauzi Bahar dengan Eko Patrio di Kota Padang. Saya tidak ingin mencatat dengan kritis argumentasi perdebatan-perdebatan yang berlangsung. Mungkin benar, mungkin saja tidak, tapi yang pasti, pendapat tersebut bernuansa politis. Buktinya, ada fungsionaris partai selain democrat yang berkata sinis. Saya ingin mengatakan, bahwa beberapa hari ini, seandainya otak Anggie sehebat Hillary Clinton atawa Sri Mulyani dan sekharisma Micchele Obama ataupun Begum Khaleda Zia dari Bangladesh, smart seperti Condoleeza Rize atau Margareth “Iron Woman” Thacer dan Nicola Markel, tapi Anggie yang Sondakh ini akan selalu tetap dianggap debatable memimpin Partai Demokrat Daerah Istimawa Yogyakarta, walaupun hanya Pelaksana Tugas Harian yang nota bene­-nya tidak permanen.

Karena ia tak bisa mengalahkan charisma KGPH. Prabukusomo, karena ia “out-groups” DIY dan arena ia adalah seorang wanita. Ya, karena ia seorang wanita. Dan, kewanitaannya itu diblow-up oleh media massa (setidaknya demikian yang terefleksi dari berbagai pendapat di media massa). Yang memblowupnya adalah para elit politik yang kebetulan memiliki kekuasaan, walau berseberangan dengan partai penguasa. Ini diopinikan kepada public yang kemudian menjadi teror (kesewenang-wenangan) terhadap Anggie yang (kebetulan) wanita. Untunglah pengganti Mbah Maridjan almarhum laki-laki, kalau wanita, mungkin ia diperbinangkan dengan kewanitaannya sebagai sasaran tembak. Oleh semua orang dengan dimoderasi pemegang kekuasaan (baik media massa maupun politik).


Saya tidak memberikan kesimpulan yang bersifat teoritis tentang hal-hal diatas. Namun yang pasti adalah, kesewenang-wenangan penguasa dengan mempengaruhi opini public untuk tidak menerima sesuatu hal yang terjadi pada seseorang karena kewanitaannya, sering terjadi dalam sejarah. Kata “wanita” dengan seluruh varian “pembentuk” kewanitaannya seperti kemolekan tubuh, mudahnya bagian tubuh diperlihatkan pada orang lain, karena wanita tak bisa memimpin dan seterusnya, di-blow-up oleh pemegang kekuasaan (bisa media massa, bisa juga pihak otoritatif ataupun elit politik). Blow-up ini merupakan bentuk teror (kesewenang-wenangan) untuk menguntungkan pihak tertentu (dengan tujuan kekuasaan). Harold Laswell, filosof ilmu politik, mengatakan who get what how and when. Tujuan akhir adalah kekuasaan. Bagaimana cara mendapatkannya, maka ada cara. Cara itu pasti mencari kelemahan lawan. Dan tidak fairnya, bila menyangkut wanita, sejarah selalu mencatat, kelemahannya pasti karena kewanitaannya.

Catatan Pendukung
:

  1. Megawati Soekarnoputri, sebelum menjadi Presiden RI, dalam bahasa Tipe Ideal-nya Max Weber, telah memiliki investasi politik. Ia memiliki charisma yang turun karena factor genetic (ascribed, dalam bahasa sosiologinya). Tapi, ketika terjadi persaingan memperoleh kekuasaan, lawan-lawannya, terutama yang berasal dari kalangan agamawan, mencari celah yang tidak fair dengan ungkapan : “arrijaalu qouwwamuuna ‘alan nisaa’. Ini selalu diblow-up oleh lawan-lawan politiknya. Topik itu saja. Topik tersebut membentuk opini bahkan “menteror” masyarakat. Bahkan ada seorang politisi Partai Politik Islam yang antusias memblow-up ini. Siapakah ia ….. kala Gus Dur turun, Megawati jadi Presiden, maka Wakilnya adalah politisi sebelumnya antusias mensosialisasikan arrijaalu qouwwamuuna ‘alan nisaa’. Harold Lasswell, benar.[6]
  1. Nyi Ontosoroh, dalam Tetralogi[7] Pramoedya Ananta Toer, diceritakan sebagai wanita otodidak, simpanan tentara Belanda, mandiri dan tegar. Dalam sebuah percakapan Nyi Ontosoroh ini dengan anak perempuannya yang kebetulan akan menikah dengan Minke (saya ambil saja substansinya), ia berkata : “kamu harus pintar seperti mami. Belajar tentang hidup. Papimu yang laki-laki itu, kerjanya hanya mabuk, tapi karena ia laki-laki, ia dihormati. Mami mu yang lebih pintar dibandingkan papimu itu, masih dianggap hina oleh orang lain. Karena itu, kamu harus terus belajar untuk pintar karena orang melihat kita bukan pada otak kita, tapi karena kita wanita, itu takdir kita. Kamu harus robah, semampu yang kamu bisa”. Sebuah “jiwa zaman” awal abad ke 20 M., mungkin juga sebelumnya.
  1. Sebelum abad ke-15 M., Dennys Lombard[8] dalam bukunya Nusa Jawa Silang Budaya mengatakan bahwa wanita-wanita nusantara banyak yang bekerja di ranah laki-laki. Sebagai panglima perang dan sebagai perompak ataupun pimpinan kelompok. Bila ditelaah variable ajaran normative agama, maka pola stratifikasi agama Hindu memegang peranan penting menyebabkan hal ini terjadi. Bisa saja, perompak dan wanita yang bekerja di “ranah” laki-laki tersebut berasal dari strata rendah yang tak puas dengan realitas sosial, tapi bisa juga dari strata Brahmana dan Ksatria yang memungkinkan wanita berada dalam posisi sosial demikian. Beberapa ratu kerajaan majapahit dan fenomena Ken Dedes memperkuat hal ini. Lalu, datanglah Islam yang dibawa oleh “laki-laki” dari budaya “patriarkhi” – para pedagang Hadramaut ataupun Persia. Akhirnya, atas nama ajaran normative-teologis, dibentuk opini yang disosialisasikan/diindoktrinasi (di-blowup) oleh mereka yang memiliki kuasa (katakanlah : elit agama dan elit politik yang dekat dengan elit agama) bahwa suatu kelompok manusia tak layak untuk memimpin karena ia wanita. Cause dan sasaran tembaknya jelas. Walaupun untuk beberapa kasus seperti di Aceh, ada Sultanah, tapi tetap posisinya seumpama Anggelina Sondakh diatas.
[1] http.://www.detiknews.com/kontroversipasalzina/html. diunggah tanggal 1 Desember 2010
[2] Kepintaran dan track-record Anggelina Sondakh bisa dilihat di http.://www.anggelinasondakh.com/. Tapi sayang, artikel-artikel buah pemikirannya tidak bisa didownload.
[3] Istilah ini saya pinjam dari dialog pakar politik Ikrar Nusabakti di Metro TV pasca kemenangan Anas Urbaningrum jadi Ketua Umum Partai Demokrat.
[4] Padahal Sultan Hamengkubowono X merupakan fungsionaris Partai Golkar, tapi kemenangan fenomenal Partai Demokrat hampir disemua propinsi di Indonesia (kecuali : Sulawesi Selatan, Bali dan Gorontalo) memperlihatkan bagaimana strategisnya posisi ketua umum Partai Demokrat.
[5] Dikutip bebas dari http.://www.detik.com/mengapaanggelinasondakhdianggap taklayak/html (berita tanggal 8 Desember 2010), diungguh tanggal 12 Desember 2010
[6] Disadur dari Muhammad Ilham, Kumpulan Kliping 3 (tidak dipublikasikan)
[7] Lebih lanjut lihat Pramoedya Ananta Toer, Tetralogi Bumi Manusia, Jakarta: Hasta Mitra, 1999
[8] Lebih lanjut lihat Dennys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya (Bagian II), terjemahan, Jakarta: PT. Gramedia, 1999

:: (Makalah yang disampaikan dalam Acara Diskusi Gender, PSW IAIN Padang, Desember 2010)

Kamis, 09 Desember 2010

Agama Tuhan Agama Uang

Oleh : Muhammad Ilham

Money atau uang, (mungkin) berasal dari kata "moneta", sebuah julukan bagi dewa Juno dalam legenda Romawi Kuno yang artinya "dia yang mengingatkan". Di Kuil Moneta inilah, orang Romawi Kuno membuat kepingan logam sebagai alat tukar dalam perdagangan, mengganti alat tukar lama yang berasal dari benda-benda alam.

Dalam tradisi agama, janji akan keselamatan itu lebih bersifat metafisis dan sebagian besar pemenuhannya harus ditunggu di alam akhirat, sedangkan transaksi ekonomi-uang, hasilnya langsung bisa dinikmati dalam waktu yang relatif dekat (K. Hidayat : 2000)

Beberapa malam yang lalu, saya menonton film kolosal Cina di Indosiar. Judulnya saya lupa. Tapi yang jelas, film ber-setting Dinasti Ching ini dibintangi oleh aktor gaek Ti Lung. Saya tak ingin berkisah tentang risalah-cerita film ini. Saya hanya ingin mengutip satu scene dimana Ti Lung yang dalam film ini menjadi pendekar sakti kesayangan Kaisar. Waktu itu, Kaisar ingin membuat mata uang dari logam-metal sebagai alat resmi tukar-menukar di wilayah kekaisaran Ching. Ti Lung - saya tak ingat lagi apa namanya dalam film ini - menyarankan agar mata uang yang dirancang tersebut memuat tiga lambang : lambang emas yang diapit oleh dua tombak. Apa yang disarankan Ti Lung ini bukan tanpa alasan. Dalam perspektif simbolik, hal ini merupakan simbolisasi watak dasar manusia ketika berurusan dengan yang namanya uang. Emas sebagai simbol uang, diapit oleh dua tombak. Tombak pertama menyimbolkan bahwa demi uang, siapapun dimuka bumi ini, selagi ia bernama manusia, ia akan berjuang keras untuk memperolehnya. Bahkan manusia tak akan segan "menggunting dalam lipatan", menusuk teman kala dipandang menghambat keinginannya. Intinya, berburu untuk memperoleh uang tak ubahnya seperti seseorang memasuki medan pertempuran yang selalu siap menghantam musuhnya dengan tombak. Sementara tombak yang kedua, merepresentasikan peperangan dalam bathin. Ti Lung ingin mengatakan bahwa sebelum seseorang mampu melibatkan dirinya dalam peperangan lahiriah, ia terlebih dahulu harus memenangkan peperangan bathin. Karena kemiskinan - sebagaimana yang dikatakan Ali Shariati - sesungguhnya lebih merupakan kondisi bathin, bukan kondisi lahir.

Mengingat kemiskinan merupakan kondisi bathin, maka rasional bila seseorang yang kaya dari segi materi justru miskin mental. Dengan demikian, tidaklah mengherankan, mengapa seorang Gayus Tambunan, rekeningnya bertimbun-timbun yang bila kita perkirakan, tak akan habis sekian turunan. Seandainyalah ia tidak "ketahuan", mungkinan timbunan si-Tambunan ini akan terus ditambahnya, karena ia masih merasa miskin. Tidaklah mengherankan pula, banyak orang yang secara lahiriyah kekayaannya melimpah, namun masih saja ingin mengakumulasikan kekayaannya dengan cara-cara "haram", korupsi dan merampas hak rakyat dan negara. Dalam bahasa "sosiologi uang", mereka ini telah terjangkiti virus love of money its own sake. Mereka ini juga dianggap telah mengkhianati misi "suci" dari keberadaan uang itu sendiri sebagai alat tukar untuk mendukung proses produksi dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Benarlah apa yang dikatakan Voltaire, "bila bicara uang, agama semua orang akan menjadi sama".

Disinilah letak perbedaan mendasar antara efek ajaran agama Tuhan dan agama uang ciptaan manusia. Agama wahyu membentuk kepribadian untuk selalu dan senantiasa bersyukur pada Tuhan. Selalu share, berbagi kasih sayang dengan sesama. Sementara, moralitas dari the religion of money adalah selalu ingin menaklukkan dan mengalahkan orang lain. Seseorang akan merasa bahagia melihat orang lain miskin dan hidup menderita. Pada sisi lain, ia akan merasa menjadi miskin kala melihat orang "lebih" kaya dan hebat. Padahal, agama mengajarkan bahwa kemuliaan itu justru terletak pada rasa empati dengan penderitaan sesama. Maka, yang paling ideal adalah kekayaan materi yang didukung oleh kekayaan bathin, sehingga kekayaan tersebut tidak menjajah pemiliknya, tapi justru yang terjadi adalah kekayaan atau uang tersebut justru melayaninya. Sebagai penutup, pertanyaan logis yang harus dikedepankan adalah : "seandainya-lah pendapatan rata-rata penduduk makin naik - setidaknya demikian klaim pemerintah yang berkuasa -, bahkan banyak diantara pejabat yang kekayaan yang mereka berlipat ganda, lalu mengapa para pejabat yang kaya raya tersebut masih mau korupsi dan mengambil kekayaan rakyat?".

Selamat Tahun Baru Hijriah 1432 H.

Oleh : Muhammad Ilham

Setidaknya sejarah (telah) mencatat dengan baik, bagaimana pertentangan internal jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan tantangan dari "luar". Sejarawan-sosiolog Islam periode awal - Ibnu Khaldun - dalam buku monumentalnya, Muqaddimah, pernah mensinyalir hal ini, dimana kelemahan sebuah komunitas disebabkan oleh konflik internal yang selalu membuat integrasi/soliditas kelompok itu menjadi melemah. Pada saat itulah, "out-siders" akan memporak-porandakan dan menghancurkan kelompok itu. Menghinakan dan merendahkan martabat mereka. Pertentangan kelompok Syi'ah dan Sunni, tercatat dalam sejarah Islam sebagai pertentangan yang (ditakdirkan) begitu abadi. Syi'ah dan Sunni yang merupakan saudara se-iman, justru saling "menjelekkan" dan merendahkan satu sama lain. Karena itu pulalah, "outsiders" Islam menjadi lebih leluasa untuk menghinakan kita.

SELAMAT TAHU BARU HIJRIAH.... Bro semua !

Semoga persaudaraan sesama muslim lebih terekat dengan baik dan abadi sehingga tak ada lagi cerita "miris" saudara-saudara seiman kita yang direndahkan martabatnya oleh "kelompok lain".












Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinedjad (Representasi Syi'ah) dan Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abd al-Aziz (Representasi Sunni). Semoga apa yang diungkapkan Wikileaks yang "menggemparkan" itu : "Raja Arab Saudi Abdullah bin Abd al-Aziz mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran dengan tujuan menghancurkan program nuklir negara itu", tidak benar adanya.


Sumber foto : google.picture.com

Senin, 06 Desember 2010

Tuhan : Dari Nietsczhe hingga Al-Adawiyah

Oleh : Muhammad Ilham

" ... dipintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling ! (Chairil Anwar)

(Tulisan ini tak terlalu panjang). Sejarah mencatat, manusia tidak hanya memuja Tuhan seumpama Al-Adawiyah, tapi juga memperolok-olokkan Tuhan, menjadikan Tuhan sebagai lelucon yang tak berbalas, bahkan "membunuh"-Nya. Coba kita lihat filosof-seniman yang dikenal "tidak waras" Gunter Grass, dengan enteng mengatakan : " Saat Tuhan masih duduk di bangku Sekolah Dasar di surga sana, Tuhan pernah memiliki gagasan untuk menciptakan dunia bersama teman sekolahnya, Iblis yang berbakat". Lalu ini kemudian ditingkahi oleh William Friedrich Nietsche, yang dekat akhir hayatnya "gila" dalam bukunya The Spoken of Zarathustra (telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia) : "Nietzche membunuh Tuhan yang masih kanak-kanak tadi dan mengumumkan ke seluruh dunia bahwa, "Tuhan sudah Mati!". Dan Tak lama sesudah itu, Nietzche pun wafat. Untuk memperingati kematian Nietsche itu, maka pada sampul depan sebuah jurnal filsafat tertulis, "Nietzche sudah mati!" tertanda, Tuhan. Masya Allah !!. Dalam pengembaraan alam pikiran, ada intisari fundamental yang ditujukan pada diri manusia yaitu bertanya. Saat belajar mengenal Tuhan, hanya ada dua konsekuensi yang dikenalkan : surga dan neraka, pahala dan dosa, baik dan buruk serta anonim dan antonim lainnya. Pengenalan tatanan itu hanya bentuk dari ancaman, reward dan punishment yang diberlakukan, sebagaimana majikan terhadap buruh dan peniadaan kontemplasi.

Namun perjalanan mengenal Tuhan tidak akan pernah berhenti pada titik itu, hingga Gunter Grass dan Nietzche lebih memilih untuk menantang, mengolok-olok, bahkan membunuh Tuhan. Pengembaraan terus berlanjut dan perjalanan mengenal Tuhan akan terus berlangsung dalam sejarah peradaban manusia. Namun tetap tak pernah ada kata yang bisa mewakili jawaban itu, meskipun muncul dari orang yang pintar merangkai kata dan pandai menyusun syair.
Jawaban itu bukan rangkaian kata yang tersusun rapi. Ia menyejukkan jiwa seperti udara pagi di pegunungan. Jawaban itu ada di sini, di dalam hati. Seperti jawaban Rabi’ah Al Adawiyah : Ya Tuhanku/Jika aku menyembah-Mu karena takut Neraka-Mu/Maka bakarlah aku di dalamnya/ Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu/Maka haramkan tempat itu bagiku / Tapi jika aku menyembah-Mu karena mengharap cinta-Mu/Jangan Kau enggan palingkan wajah-Mu dariku.

Sumber : Faridhuddin Athar (1999), Jalaluddin Rumi (2000), Nietszhe (2001), Ali Shariati (1997)

Minggu, 05 Desember 2010

Strategi (Canggih) SBY dalam Kasus Keistimewaan Yogyakarta

Oleh : Muhammad Ilham

" .... politik itu strategi komunikasi, tak selamanya Jenderal pergi ke medan laga ... " (Eisenhower)

" ... keep your friend close but your enemy closer !" (Pepatah Inggris)

Sebagaimana yang telah dijanjikan SBY, maka pada Kamis (2/12/2010) kemaren, SBY berpidato - klarifikasi, tepatnya, berkaitan dengan polemik Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pidato SBY kemarin itu sangat normatif dan mencari aman. SBY mencoba menurunkan tensi ketegangan pasca pernyatan 26 November lalu yang terkesan membenturkan monarki dan demokrasi. Dia kemarin mencoba menyenangkan semua pihak dengan mengambangkan sikap politik terkait RUU Keistimewaan Yogya. Dalam pidato dia membedakan sikap personal dan pemerintah. Secara personal, dia setuju kepala pemerintahan ditetapkan, tapi di sisi lain menunggu kesepakan pemerintah via Kemendagri dan DPR. Pesan Djoko Suyanto (Menkopolhukam) lebih "clear" di mana ingin mencari alternatif dengan menempatkan raja sebagai kepala daerah, tapi kepala pemerintahannya dipilih. SBY mengambangkan itu dan mempersilakan anak buahnya bersikap lebih tegas sebelum (draf) dinaikkan ke DPR. Sikap pemerintah jangka panjang dinyatakan oleh Mendagri dan Menkopolhukam. Ini strategi canggih untuk melempar bola panas melalui anak buah. SBY membuat center of attraction tidak lagi di dirinya tapi di Menteri Dalam Negeri (Gamawan Fauzi) dan Menteri Kordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Djoko Suyanto).

Anak buah bersama DPR yang kemudian membawa bola panas. SBY ingin cari aman. Seharusnya ini dilakukan sejak awal kalau mau cari aman, tapi sekarang "nasi sudah menjadi bubur". Kemarin dia mencoba mengambangkan dengan mengajukan anak buahnya membawa kontroversi ke DPR. Bila dilihat secara jernih, usulan RUU ini mengakomodasi sebagian besar ide tim Universitas Gadjah Mada UGM. Kalau kita baca monograf UGM dengan RUU pemerintah, sebagian besar sama. Banyak pengamat yang berpendapat bahwa ini jalan tengah yang baik. Kalau Sultan dan Paku Alam diletakkan di atas dan punya kemampuan untuk memveto, dikhawatirkan kalau veto dilakukan secara "overdosis" maka kinerja pemerintah jadi sering terganggu. Karena itu veto harus digunakan sesuai kadar. Selain itu kalau misalnya Sultan ditempatkan sebagai Parardhya maka kehilangan hak politik. Ini mencederai hak Sultan, karena tidak bisa maju dalam pemilihan meskipun punya kewenangan simbolik luar biasa.

Dalam pidatonya, SBY mengingatkan bahwa Sulthan pernah minta mengundurkan diri jadi Gubernur DIY. Ini bahasa yang sangat halus yang ingin digiringkan SBY bahwa Sultan sebagai gubernur karena kebesaran hati SBY yang bersedia memperpanjang (jabatan gubernur). Ini pesan yang sangat halus kepada Sultan dan masyarakat Yogya, bahwa SBY sangat perhatian dan berbesar hati dengan perpanjangan kepada Sultan. SBY memperpanjang sampai RUU kelar. Bisa dimaknai 'jangan macam-macam karena ada "utang budi'. Dan mungkin pesan ini sampai. Lagi-lagi pidato kemarin khas SBY untuk membalik keadaan yang awalnya menyudutkan dirinya. Apa yang disampaikan SBY pada 26 November lalu merupakan strategi politik yang salah. Pidato yang disampaikan kemarin mengambang, normatif, tidak jelas. Lalu malamnya diikuti penyematan penghargaan bagi Sultan. Ini tipikal SBY untuk menggaet simpati bukan hanya Sultan tapi juga masyarakat Yogya, sehingga momentum disesuaikan.

Inspired : Burhanuddin Muhtadi/detik.com & Metro TV

Keteladanan dari Van LITH

Oleh : Muhammad Ilham

van LITH, demikian nama akhir seorang pastor Belanda yang ditempatkan di Tanah Jajahan Hindia Belanda (baca: Indonesia), kurun waktu 1920-an hingga awal 1930-an. Walaupun "anak kandung" kolonial Belanda, ia anti dengan kebijakan Belanda yang kolonialis. Van Lith bersikap santun pada anak negeri. Walaupun ia ditugaskan menyebarkan ajaran Kristiani-Katholik ditengah-tengah penduduk pribumi yang mayoritas beragama Islam dan abangan, namun ia amat toleran dan menentang sikap menindas penjajah kolonial. Karena itulah, tercatat dalam sejarah kolonial Belanda di Hindia Belanda, Van Lith menandatangani dua nota minoritas yang menuntut perwakilan minoritas (dalam hal ini : perwakilan masyarakat Islam sebagai komunitas mayoritas) di dalam satu dewan. Dengan segala resiko, ia kemudian menentang peran mayoritas orang-orang Belanda yang minoritas tersebut di dalam volksraad (Dewan Rakyat) yang akan dibentuk.

Karena sikap Pastor yang mengedepankan nilai-nilai demokrasi-kemanusiaan tanpa disekat oleh ego primordialisme dan ideologi, ia kemudian amat sangat disegani. Hubungannya dengan tokoh-tokoh Islam kala itu juga baik. Dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam, ia memiliki hubungan sosial dan politik yang bagus dan saling menghargai. Ketika akan diadakan pemilihan untuk keanggotaan Volksraad - terjadi sebuah peristiwa sejarah yang cukup membuat kita merenung ..... Van Lith, seorang Pastor dan pemimpin Katholik justru dicalonkan oleh Partai Sarekat Islam. Peristiwa pencalonan pastor Van Lith ini menjadi anggota Volksraad oleh Partai Sarekat Islam Serang, dalam konteks interaksionisme-simbolik memiliki makna simbolis-historis yang amat penting. Tak terbayangkan oleh kita sekarang bahwa didalam situasi masyarakat tahun 1920-an, seorang Pastor dicalonkan untuk mewakili organisasi politik ummat Islam di sebuah lembaga politik yang memiliki posisi dan daya tawar strategis-penting di dalam sistem pemerintahan kolonial Belanda. Sejarah kemudian mencatat .... Van Lith lebih sering "menyuarakan" kepentingan masyarakat Islam dibandingkan ke-egoan-nya untuk menjalankan misi Pastoralnya dan misi nasionalisme-nya. Sebuah teladan dari orang yang bernama .... Van LITH.

Ceracau (Konon)

Oleh : Muhammad Ilham

Konon, istana Versailes Perancis nan megah itu, pertama sekali dibangun sekitar abad ke-18, tidak terdapat satu-pun WC di seluruh kamar dan sudut istana, kamar mandi hanya sedikit yang itu digunakan bersama-sama. Sementara, berdasarkan tinggalan arkeologis, empat ribu tahun lalu, masyarakat di Lembah Sugai Indus sudah mengenal WC. Konon, Presiden terkenal Amerika Serikat yang dianggap rasionalis-pragmatis - Benjamin Franklin - merupakan anggota Helfire Club yang memiliki kegandrungan melaksanakan pesta-pesta untuk mengundang setan. Konon, Mussolini yang dianggap pintar luar biasa oleh kaum fasis dunia ternyata pernah diusir gurunya karena menusuk pantat temannya dengan pisau. Edward Kennedy, senator Amerika Serikat dengan otak gilang gemintang, adik Presiden flamboyan JFK itu, pernah dikeluarkan dari Harvard karena ketahuan menyontek kala ujian. Konon, Presiden Amerika Serikat Lindon Baines Johnson yang pendiam-baby face tersebut bukanlah "remaja" yang baik kala berumur belasan tahun, pernah kabur selama 2 tahun dan tidak pulang-pulang ke rumah. Konon, Raja Mogut dari Siam (Thailand : sekarang), mempunyai bini 9.000 orang dan gundik, juga salah seorang Sulthan Turki Utsmany pernah "melempar" gundik-gundiknya dalam puluhan "goni" ke Selat Bhosporus. Konon, Ratu Zingua dari Angola pernah mempunyai harem lelaki dan kemudian memenggal kepala mereka setelah melakukan hubungan cinta.

Dan konon, sampul konstitusi Perancis terdiri dari kulit bangsawan yang di"kuliti" saat terjadinya revolusi. Konon, pendeta wanita pada kuil Indian purba suka melakukan hubungan seks dengan para pemuja dan kemudian memungut bayaran untuk kas kuil. Lelaki suku Tuareg di Sahara memakai cadar, sementara wanitanya justru tampak muka dan buah dadanya. Cassanova, konon, pernah hampir menikahi anak perempuannya, karena ketahuan oleh ibu si perempuan ini, maka Cassanova mengurungkan pernikahan tersebut. Konon, Raja Mataram Islam, Amangkurat I "mempergilirkan" gundiknya buat sang anak, Amangkurat II. Konon, Raja Henry VI membuka sidang parlemen Inggris ketika umurnya 3 tahun, dan si-Henry ini terus menangis meraung-raung selagi sidang berlangsung. Konon, ada satu suku di Angola yang membuat rumah mereka dari tahi sapi dengan campuran tahi manusia, dan mereka sangat menikmati "parfum" itu. Konon, pendiri Singapura Lee Kuen Yew tidak pernah absen membawa termos yang (selalu) berisi teh panas kemanapun ia pergi. Konon, Idi Amin si penguasa Uganda dikenal "canibal", memakan beberapa daging lawan-lawan politiknya. Daging-daging itu disimpannya dalam kulkas. Konon, Idi Amin ini tak tamat Sekolah Dasar.

Ternyata, banyak yang aneh-aneh bila ber-konon-konon, walaupun "berita" ini tidak dibuat-buat. Tapi bila, Gayus yang pegawai pajak itu memiliki uang "rampokan" lebih dari 100 milyar, itu bukan konon lagi. Saya tak tahu, apa hubungan tulisan diatas dengan Gayus yang "cengar-cengir" setiap sidang berlangsung dengan wajah "tanpa dosanya". Namun yang pasti, beberapa puluh tahun ke depan, akan ada kalimat, (konon), pegawai kecil di Indonesia (asal bekerja di Pajak dan institusi lain yang "dicurigai") bisa memiliki kekayaan 100 Milyar lebih, walau ia hanya golongan III A dengan masa kerja 5 tahunan. Seandainya-lah, ya .. seandainya, saya memiliki anak laki-laki, saya (takut) memberinya nama dengan Gayus Lumbuun .. eh, salah, Gayus Halomoan. Takut, bila ia dewasa nanti, ia akan terbebani dengan (konon). Hehe.

Foto : Kubisme Pablo Picasso (google.com)

Progress Malika Asy-Syifa Ilham @ Adek !!

Oleh : Muhammad Ilham

"Setiap anak dilahirkan dengan membawa pesan, bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia", kata Rabindranath Tagore. Karena itu, Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.



Malika As-Syifa atau Adek, hari ini, 20 Nopember 2010, kala kamu bangun pagi tadi, ayah ucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke-5. Ayah juga berterima kasih, bahwa kamu selalu dan senantiasa mengingatkan ayah tentang semua hal yang menurut kamu tak baik ayah lakukan, tentunya dalam bahasa anak-anak seusiamu. Kritik dan protes pada ayah, sungguh bermakna. Dan ayah ingin, hal tersebut terus kamu lakukan sepanjang usiamu dan usia ayah. Selagi kita hidup, anakku, ayah akan selalu mengingat bahwa kamu adalah amanah yang harus ayah jaga dari sang Robbi Illahi, Tuhan Yang Maha Kasih, Allah SWT. Ayah akan terus belajar menjadi seorang ayah sebagaimana Rasulullah menjadi ayah bagi anaknya, Fatimah. Ayah juga akan ingat, apa yang disampaikan Kahlil Gibran :


Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
...mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.


Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu, belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui. Nak, bacalah sejarah Nabi-nabi dan Rasul, serta temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah. Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun, bahkan di hadapan Allah, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan-Nya, hingga saat usia ayah yang sudah 36 tahun ini. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan. Inilah usaha terberatku, Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Allah.

Nak, Ayahmu barangkali tak kan pernah bisa menjadi orang kaya. Jadi, pandai-pandailah menempatkan dirimu sebagai anak orang biasa. Ayah barangkali tak selalu mampu menyediakan pangan terbaik, tapi jangan terlalu khawatir Nak, itu tak berarti ayah tak selalu berusaha penuhi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembangmu. Percayalah, banyak orang hebat di dunia ini yang terlahir, tumbuh, dan berkembang, hanya dengan mengkonsumsi penganan sederhana. Nak, kelak ayahmu barangkali tidak bisa menyekolahkanmu di sekolah-sekolah unggulan, tapi jangan terlalu risau, Sekolah unggulan bukanlah jaminan untuk bisa menjadi orang baik kelak. Percayalah, banyak orang mencapai kejayaan hidupnya tanpa bersekolah disekolah-sekolah unggulan nan mahal itu. Nak, kelak ayah barangkali tak mampu penuhi kebutuhan mu untuk gaul, tapi jangan ragu Nak, banyak orang-orang rendah hati di luar sana yang dengan tulus mau berteman denganmu, meski kamu tak punya modal untuk dicap gaul. Nak, kelak andai kamu merasa tak memiliki intelejensi di atas rata-rata, jangan terlalu cemas akan masa depanmu. Yakinlah, dengan tekad dan keuletan, masa depan gemilang tak mustahil tetap dapat kamu raih - tapi ingat Nak, kamu tak akan mampu tanpa do'a. Nak, andai kelak banyak orang meremehkan kamu atas apa yang cuma mampu kamu raih dan lakukan, tak usah bersedih Nak, Sepanjang hidup, Ayah juga mengalami banyak perlakuan tidak simpatik, diremehkan bahkan dilecehkan, Tapi yakinlah Nak, Semua itu tak akan mempengaruhi rencana Tuhan atas dirimu, Sejuta pelecehan manusia atas dirimu, tak akan mampu mengalahkan kuasa Tuhan jika Dia ingin memuliakan kalian. Maka dari itu Nak, cuma pada Nya respek tertinggi perlu kamu berikan. Nak, tak perlu gamang menjalani kehidupan, tak perlu terlalu risau dengan segala atribut dunia yang barangkali tidak akan pernah bisa kamu miliki, karena kamu hanya butuh hati yang bersih dan hasrat yang kuat untuk mengarungi anugrah kehidupan ini. Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dariNya, aku akan ikhlas, karena seperti itulah aku di dunia. Tapi kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya...... (Dengan IFA, kakakmu, selalulah kompak berdua !).

:: Mari kita rayakan dengan sederhana. Ayah janji, ayah akan selalu menjadi ayah dan kawan yang baik buat-mu, sampai "menutup mata".

Malika Asy-Syifa kala berusia 4 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 3 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 2 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 1 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 6 bulan

:: Kutulis ini dengan harapan, kelak tulisan ini bisa menjadi "warisan" baginya untuk dibaca dan diceritakan pada anak cucunya, kala saya dan ibundanya telah menghadap Tuhan Sang Pemilik Insan, kala tulang-tulang kami berdua telah memfosil.

Jumat, 03 Desember 2010

Ikhtiar Negara Islam Indonesia

Oleh : Muhammad Ilham

Ada kesaman gerakan (baca: pembangkangan) politik Islam waktu itu, yaitu situasi frustrasi, frustasi pribadi, komunal ataupun ideologis dengan mengusung satu term yaitu :”Daerah lawan Pusat” dan “Kelompok kita (Islam berdasarkan penafsiran mereka) melawan kelompok mereka”.

Teoritisi Sosiologi Konflik, Lewis Coser mengatakan bahwa konflik infra-struktur merupakan representasi dari friksi suprastruktur. Berbagai pemberontakan dan upaya dis-integrasi yang disemangati oleh “komunitas dan atau ideologi keIslaman”, haruslah diamati dari konteks sejarah politiknya. Proses kelahiran Indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang penuh dengan dinamika, membuat demokrasi tak bisa dilihat secara mulus-utuh. Kadang-kadang terasa ada jarak antara percaturan politik dikalangan politisi tingkat atas dan kelompok-kelompok-kelompok yang sesungguhnya diwakili di tingkat bawah. Maka, berbagai bentuk pertentangan yang muncul dalam panggung sejarah seringkali merefleksikan perbedaan kelompok elit, bahkan perbedaan pendapat pribadi-pribadi. Dalam konteks konflik dan gagasan pembentukan negara Islam Indonesia, dapat diabstraksikan kedalam empat fase utama. , yaitu : Fase dimana ideolog negara Islam tak berjarak dari rakyat. Merupakan ujung tombak sebuah “revolusi sosial” untuk mencapai kemerdekaan. Terdapat usaha-usaha kompromi dalam mencari kesepakatan diantara kelompok-kelompok yang berbeda paham, dalam pembentukan bangsa dan haluan-arah bangsa. Fase yang dikenal dalam sejarah pergerakan Indonesia sebagai fase menyusun tata demokrasi dan pemerintahan. Tercatat dalam sejarah, fase ini “riuh-rendah” dengan berbagai perpecahan karena perbedaan paham-golongan, disamping tentunya “who get what how and when (meminjam istilah Lasswell) – jatah kursi atau kedudukan. Fase ini penuh dengan dinamika tantangan, khususnya karena perubahan konstitusi negara dari Republik ke Republik Serikat dan kembali lagi ke Republik dan terus berjalan ke Demokrasi Liberal-Parlementer dan berakhir dengan munculnya Dekrit Presiden 1959 – kembali ke UUD 1945 – tapi dibayangi oleh SOB yang tak sesuai dengan spirit UUD 1945. Fase ketiga ini dikenal dengan masa demokrasi terpimpin (1959-1965), dan Fase ke empat (1965-1998).

Karena makalah ini merupakan “rekam-sejarah” untuk refleksi pada masa sekarang (harusnya : fase kelima yaitu fase pasca Orde Baru), maka pembahasan mengenai fase kelima tidak dijadikan sebagai “dasar” analisis lanjutan. Kesamaan dalam menggunakan terminologi negara Islam memberikan satu benang merah bahwa terdapat kesaman gagasan antara usulan partai-partai Islam (khususnya Masyumi), DI/TII dan Gerakan Imran (pada masa fase ke empat). Sejarah politik Indonesia mencatat bahwa setiap tahapan atau fase, karena terikat dengan konteks historis-sosiologis, punya watak dan warna tersendiri. Masalah negara Islam pada fase pertama tercatat disekitar upaya “improvisasi” dalam pencarian dasar negara yang akan dibentuk. Di masa pra-kemerdekaan, Pancasila belum ditetapkan sebagai dasar negara. Kelompok Islam yang diwakili para ulama termasuk elemen signifikan dalam mempersiapkan kemerdekaan RI. Sejak masa Jepang, para ulama dipercayai dalam sektor politik baik di badan-badan pemerintahan pusat, maupun jabatan-jabatan bupati seperti Cuo Sang In dan Syu Sangi Kai. (hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Belanda yang lebih mempercayai “pemimpin lokal berbasis genetic-kebangsawanan). Maka tak mengherankan apabila ulama memiliki peran besar dalam merumuskan dasar negara. Dan ketika mereka duduk di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), mereka mengajukan rumusan berdasarkan persepsi mereka : “Negara Berdasarkan Islam”.

Namun para ulama bukan satu-satu kelompok terkuat pada waktu itu karena ada kelompok lain yang dipersonifikasikan kepada kelompok Sukarno Hatta. Kelompok ini mengajukan Pancasila. Dan, kedua kutub ini bertemu di PPKI. Kompromi-pun mulai dicari. Kesepakatan dicapai pada tanggal 22 Juni 1945, yang tercatat sebagai rumuisan Panitia 9 dan dikenal sebagai Piagam Jakarta – Pancasila diterima sebagai dasar negara dan tuntutan para ulama masuk dalam Preambule (Pembukaan) UUD. Namun, konsensus dan kompromi dua kelompok besar ini tidak serta merta diterima oleh semua pihak, terutama kelompok minoritas kristen dari wilayah Indonesia Timur. Kendati mereka tak mengajukan rumusan, tetapi mereka tak mau “dirugikan”. Lewat perwakilannya, Mr. Latuharhary dan Angkatan Laut Jepang yang menguasai Indonesia Timur kala itu, mengajukan keberatan adanya kalimat : “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Keberatan ini diajukan secara resmi oleh perwira Angkatan Laut Jepang pada tanggal 17 Agustus 1945 sore, lewat Bung Hatta. Kemudian, keesokan harinya, keberatan ini disampaikan oleh Hatta kepada para ulama. Entah kebetulan sejarah atau “history accident”, mendesaknya waktu membuat para ulama menerima keberatan tersebut – entah ikhlas atau tidak. Maka Rumusan Piagam Jakarta-pun berubah karena 7 kata “Islam-politik” ter/dihapus.

Masalah Islam sebagai dasar negara kemudian muncul kembali dalam sidang-sidang konstituante, khususnya sejak akhir tahun 1956, di fase kedua ketika yang berlaku lagi bukan UUD 1945 tetapi UUDS 1950. tanggal 22 April 1959, Presiden Sukarno meminta Konstituante memberlakukan kembali UUD 1945. Fraksi-fraksi Islam setuju dengan meminta agar kata-kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” disertai dengan 7 kata-kata yang hilang sebelumnya. Secara politis, ini merupakan bentuk kompromi politik “win-win solution” karena dasar negara tetap Pancasila. Deadlock. Konstituante mengalami jalan buntu, Sukarno akhirnya “mengambil peran sejarah” – membubarkan Konstituante, 5 Juli 1959. Ideologi Islam via parlementaria akhirnya kandas. Sebelumnya, pada tahun 1949, Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo membentuk negara Islam Indonesia di Jawa Barat. Berawal dari sebuah pembangkangan. Pada tahun 1948, Jawa Barat berdasarkan Perjanjian Renville harus dikosongkan dari TNI. Sekitar 35.000 pasukan TNI kemudia hijrah ke Yogya. Pasukan Hisbullah dan Sabilillah tak menaati perintah dan tetap tinggal menjaga Jawa Barat yang telah dikosongkan oleh militer. Alasan Kartosuwirjo : memegang instruksi Panglima Jenderal Sudirman. “Entry history” ini memang kontroversial. Tentara Kartosuwirjo otomatis menguasai Jawa Barat, dengan nama Darul Islam. Kemudian, bentrokan terjadi ketika TNI kembali ke Jawa Barat. Pertempuran berlangsung bertahun-tahun, berlanjut dan terus terjadi hingga pemberontakan berikutnya. Lalu pada tahun 1952, Batalyon 423 (?) dan 426 TNI yang melakukan desersi di Jawa Tengah memberontak pula, yang kemudian diikuti oleh gerakan Islam garis keras di Kebumen dan Tegal serta Brebes. Keseluruhan gerakan ini kemudian membentuk NII dan bergabung dengan NII Jawa Barat dibawah Kartosuwirjo.

Pemberontakan juga pecah di Aceh dibawah pimpinan ulama kharismatis, Abuya Daud Beureuh. Pemberontakan ini merupakan pemberontakan “kemesraan yang dikecewakan”. Diturunkannya Aceh dari status Daerah Istimewa menjadi hanya sebuah Keresidenan dibawah Propinsi Sumatera Utara, membuat Abuya Daud menganggap Sukarno munafik. Tahun 1953, Abuya Daud mengeluarkan maklumat bergabung dengan NII dibawah Kartosuwirjo. Sebelumnya, tahun 1951, Kahar Muzakkar memberontak di Sulawesi Selatan. Kesepakatan para sejarawan mengatakan bahwa pemberontakan Kahar Muzakkar ini dilandasi oleh ambisi Kahar yang tak terpenuhi – menjadi pimpinan APRIS di Sulawesi. Kahar menghembuskan rasa kesukuan, kemudian menyatakan Sulawesi Selatan menjadi bagian dari NII. Masih di Sulawesi Selatan juga, pada tahun yang sama, Andi Azis, anggota APRIS bekas KNIL, memberontak di Ujung Pandang. Peristiwa ini menyebabkan PM Negara (Federal) Indonesia Timur Ir. PD. Diapari meletakkan jabatan karena tindakan Andi Azis ini. Hampir semua pemberontakan makan waktu yang panjang. Kahar Muzakkar baru bisa ditumpas pada tahun 1965. Dalam kurun waktu itu pula, berbagai pemberontakan bermunculan seperti pemberontakan Mr. Dr. Christian Robert Dteven Soumoukil, bekas Jaksa Agung NIT di Ambon. Kericuhan di pemerintahan pusat, termasuk pertentangan dalam tubuh TNI, ikut pula membuahkan pemberontakan. Tahun 1958, Ahmad Hussein memproklamasikan PRRI dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri. Tak lama kemudian, Ahmad Hussein bersama-sama dengan Kolonel Simbolon dan Kolonel Zulkifli Lubis dipecat yang pada akhirnya “mengkristalisasikan” niat mereka untuk melawan pusat.Kemudian, berdekatan dengan PRRI, terbentuk pula Permesta di Sulawesi Utara. Selain berpangkal pada kericuhan di tubuh angkatan bersenjata, juga akibat “akrobat politik” partai politik tertentu yang berhasrat melemahkan infrastruktur TNI. Sejarah kemudian mencatat, perlawanan dengan mengusung ideologi Islam (ulama di PPKI dan Konstituante, Daud Beureuh, Kartosuwirdjo, PRRI, Kahar Muzakkar) akhirnya kandas.

Awal Orde Baru, praktis isu negara Islam menjadi isu “haram”. Namun pada fase keempat ini, muncul anak muda yang bernama Imron dan temannya Salman Hafidz. Ia bermaksud mendirikan Dewan Revolusi Islam Indonesia (jauh sebelum Revolusi Islam Iran, artinya : isu ini betul-betul orisinil). Dengan kharisma yang dimilikinya, Imran membentuk pasukan dan anggotanya dibaiat. Dari berbagai kegiatan profokatif-destruktifnya, sejarah mencatat dua moment spektakuler (untuk konteks masa itu) yang dilakukannya yaitu Penyerangan Kosekta 8606 (?) Cicendo dan pembajakan pesawat terbang Garuda Woyla DC-9. Pembajakan ini akhirnya bisa digagalkan di Bandara Don Muang Thailand (Jenderal (Purn.) Lumbertus Benny Murdany dan Jenderal (Purn.) Sintong Panjaitan merupakan dua orang petinggi militer yang “naik namanya” dengan kasus pembajakan ini). Gerakan Imran gagal. Ia bersama temannya Salman Hafidz, oleh rezim Orde Baru, di hukum mati. DI Jilid II – “reinkarnasi Kartosuwirjo” – tamat. Ada kesaman gerakan (baca: pembangkangan) politik Islam waktu itu, yaitu situasi frustrasi, frustasi pribadi, komunal ataupun ideologis dengan mengusung satu term yaitu :”Daerah lawan Pusat” dan “Kelompok kita (Islam berdasarkan penafsiran mereka) melawan kelompok mereka”. Mungkin hanya pemberontakan PKI Madiun yang benar-benar digerakkan oleh motof ideologi dengan segala teori perlawanannya. Pada golongan frustrasi, seperti pada Imran di fase keempat tersebut, Islam ( menurut penafsiran mereka) memang boleh jadi sebagai penggerak. Tapi Islam, bila dihitung-hitung, hanyalah sekedar “alat cantik” ditangan Karosuwirjo yang konon klenik tersebut. Daud Beureuh di Aceh, memang seorang ulama. Toh, faktor Aceh lebih menentukan karena Abuya Daud memang dikenal sebagai Bapa Aceh.