Rabu, 17 November 2010

Haji dan Kubus Bernama KA'BAH

Oleh : Muhammad Ilham

/Dipintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling" (Chairil Anwar)

Bacalah buku Perjalanan Haji-nya Ali Shariati, kita akan dibawa kepada kerendahhatian. "Bayangkan dirimu, kata sosiolog Iran tamatan Sorbonne ini, sebagai sebuah partikel besi di dalam sebuah medan magnet, seolah-olah engkau berada diantara berjuta-juta burung putih yang sedan melakukan mikraj". Ali Shariati yang dikenal sebagai ideolog Revolusi Islam Iran ini, benar dan menyentuh. Sebuah partikel besi diantara semesta jutaan partikel besi lainnya, sekor burung putih di antara jutaan burung putih. Lalu, siapakah saya ? siapakah kami ? dan siapakah kita ?. Ali Shariati dalam buku "kecil" nan fenomenal tentang hakikat azali perjalanan haji tersebut mendekonstruksi kepongahan sebuah konsep, "massa". Haji bukanlah sekedar massa. Haji ibarat penggalan sajak Rainer M. Rilke, "Tuhan, arti-Mu adalah kerendahhatian". "Massa" bagaikan kata ajaib dalam sebuah mantra perjuangan. Ia diberi tempat khusus. Paham totaliter seperti fasisme dan komunisme meletakkan sang "massa" selalu benar dan ditakdirkan untuk pada akhirnya menang. Sebuah kesombongan dan ketakaburan. Maka, Ali Shariati menggugat kesombongan "massa" itu. Kita tak bisa menyamakan gerak ribuan jamaah yang mengelilingi Ka'bah dengan "massa" dalam pengertian totaliter. Sebab ibadat Haji yang diikuti oleh "massa", pada asasnya adalah sebuah sujud, merendahkan hati dan jiwa dihadapan sang Maha Pencipta.

Ka'bah, kata Ali Shariati yang satu kelas dengan "si jagal" Polpot kala kuliah di Sorbonne ini, adalah sebuah kebersahajaan, tanda menyerahnya manusia di hadapan sang Azza wa Jalla. Ia hanyalah sebuah kubus tanpa ornamen nan indah, kecuali kaligrafi pada kiswah yang membungkusnya - ia praktis tanpa keelokan, tanpa ornamen, tanpa keinginan menjadi impresif. Ia berdiri begitu saja di halaman dalam Masjidil Haram, dan - sebagaimana kata Muhammad Assad - "tak menyentak". Muhammad Assad, penulis Islam keturunan Yahudi Eropa itu benar. Dalam bukunya Jalan ke Mekkah, sebuah buku nan indah tentang perjalanan hidupnya, Assad mengatakan, "Saya telah menyaksikan di berbagai negeri kaum Muslimin, tempat para tangan seniman besar menciptakan karya yang diilhami, tapi justru dalam kesederhanaan Kubus Ka'bah, yang menyangkal segala keindahan garis dan bentuk, tercermin satu sikap bahwa betapapun indahnya segala apa yang dapat dibuat oleh tangan-tangan manusia, adalah congkak jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan". "Oleh karena itu, kata Assad, semakin sederhana yang dapat disombongkan manusia, merupakan hal yang terbaik yang dapat dibuatnya untuk menyatakan kebesaran Tuhan".

Buku Ali Shariati dan Muhammad Asad ini ingin mengajarkan kepada kita tentang "kesederhanaan" haji dan ka'bah. Ka'bah adalah sebuah "pulau tenang", karena pembangun pertama tanda ini tahu, ambisi kita untuk kemegahan, kekerasan hati untuk keunggulan, hanya akan pucat pasi pada detik kita menyadari posisi kita yang sesungguhnya. Kubus yang bernama Ka'bah dan selalu dikunjunggi "massa" setiap perayaan Haji adalah produk kesadaran itu, sebuah pernyataan kerendahhatian. Karena yang akan dikunjungi itu adalah Ka'bah dalam setiap Haji, sudah sepantasnyalah kita meletakkan satu ukuran "mabrur" yaitu kerendahhatian. Karena setiap sholat yang "lima putaran" sehari semalam, kita menghadap dan tertuju pada Kubus yang bernama Ka'bah, sudah selayaknyalah kita yang sholat ini selalu tertuju pula pada kerendahhatian.

:: Kepada seorang sahabat saya yang berangkat menuju Tanah Suci menunaikan Rukun Islam Kelima. Hanya ini yang bisa saya "posting" kepadamu sebagai do'a dari saya. Semoga buku Ali Shariati dan Muhammad Assad yang saya berikan padamu, selalu kamu baca di Pesawat jelang sampai ke Mekkah. Semoga mabrur, dan do'akan saya agar secepatnya kesana. Rinduku pada Ka'bah semoga tertunai dalam waktu yang tak terlalu lama. Daku selalu berdo'a pada mu Ya Allah Robbi Izzati, perkenankanlah !

Inspired : Ali Shariati (1995), G. Mohammad (1987), Muhammad Assad (1989)

Bandit Revolusioner

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949/Penulis : Robert Cribb/Tebal: 304 hlm + xvi/Penerbit: Masup Jakarta/Terbitan: Pertama dalam bahasa Indonesia, 2010

Bandit, demikian dikatakan Robert Cribb dalam- buku ini, merupakan fenomena lama dari kehidupan sosial di Jawa. Namun di sini ia menelaah fenomena itu dari berbagai sudut pandang yang tidak dilandasi pemahaman hitam dan putih. Telaah terhadap bandit di Jawa juga pernah dilakukan oleh Suhartono, sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, dalam buku-nya Bandit-Bandit Pedesaan, Studi Historis 1850 1942 di Jawa (1995). Buku setebal 304 halaman ini menyodorkan serangkaian fakta tentang ambiguitas hubungan antara negara dan kaum kriminal pada masa revolusi. Para bandit yang semula lekat dengan dunia kejahatan tiba tiba menjadi terhormat karena berperan dalam revolusi. Semangat revolusioner pun meresap ke dalam diri para bandit, sehingga mereka, yang semula dianggap apolitis, mendadak hadir sebagai satu golong-an pemuda memiliki kesadaran politik relatif baik. Cribb mencatat pada mulanya gerakan bandit yang beraksi sporadis acap kali bersandar pada tujuan yang serba tak jelas. Camat Nata, misalnya, membunuh seorang mandor perkebunan swasta di Kranji dan menjadikan istri sang mandor sebagai simpanannya. "Mereka lebih merupakan kaum oportunis daripada pejuang revolusi sosial," demikian kata Cribb di halaman 66. Rencana aksi politik justru datang dari para juragan yang sebenarnya tak begitu menyukai keadaan yang serba kacau. Para juragan itu menjadi obyek eksploitasi baik pada masa Belanda maupun masa Jepang. Mereka tak segan membalas dendam. Haji Darip dari Klender, misalnya, pendiri Barisan Rakyat Indonesia yang menguasai jalur lalu lintas di Jakarta bagian barat. Dia memadukan kriminalitas dan patriotisme hanya dengan menjarah orang orang berkulit terang seperti Cina, Eurasia, dan Eropa atau mereka yang berkulit gelap seperti Ambon dan Timor.

Obyek jarahan ini merupakan representasi dari apa yang mereka definisikan sebagai musuh rakyat Indonesia. Cribb memberikan perhatian yang cukup besar pada Angkatan Pemuda Indonesia (API), yang didirikan para pemuda Asrama Menteng 31. API berhasil menarik banyak pengikut, khususnya kelompok kelompok pemuda kurang berpendidikan. Organisasi ini juga menerbitkan manifesto, menyeru rakyat Indonesia untuk menguasai senjata, kantor kantor, dan bisnis Jepang. Seruan yang merupakan manifestasi isi proklamasi kemerdekaan 17 Agustus (bahwa "pemindahan kekuasaan dilakukan dalam tempo yang sesingkat singkatnya") itu disiarkan radio yang terus berpindah pindah-untuk menghindari penggerebekan tentara Jepang. Anggota API memelopori pengambilalihan gedung perkantoran, jaringan kereta api dan trem, dan sejumlah institusi publik maupun swasta. Dunia hitam Jakarta, demikian Cribb memberikan nama pada kelompok kelompok bandit, setidaknya bagian yang berkesadaran politik, adalah elemen alamiah pengikut API (halaman 81). Salah satu orang yang kemudian bergabung dalam API adalah Imam Syafe'i atau lebih dikenal sebagai Bang Pi'ie, pentolan paling berkuasa di wilayah Pasar Senen.

Seiring dengan kekalahan Jepang dan masuknya Inggris yang diberi mandat melepaskan tawanan perang Jepang dan menjaga ke-amanan di Indonesia, beberapa gelintir tentara KNIL sebelum perang kembali menghimpun kekuatan. Mereka merekrut orang Ambon dan Cina untuk melindungi warga Belanda yang baru saja dibebaskan dari kamp interniran dan sering menjadi sasaran kelompok dunia hitam. Pasukan itulah yang kembali menguasai keadaan dan menjadikan para juragan patron para bandit tak leluasa bergerak karena kontrol atas wilayah mereka dikuasai pasukan bentukan Belanda. Fokus Cribb pun beralih kepada Lasykar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) sebagai bagian dari reorientasi API. Seiring dengan terdesaknya LRJR ke pinggir-an Jakarta (Ommelanden), gabungan laskar itu menjalin kontak dengan Haji Darip dan beberapa pemimpin bandit lainnya (halaman 101). Kesatuan laskar itu juga bekerja sama dengan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi yang dibentuk intelijen kantor Peng-hubung Angkatan Laut Jepang. Dalam beberapa hal LRJR memang mirip Badan Pemberontakan Republik Indonesia di Surabaya yang menggelorakan semangat bertempur melawan Inggris. Melalui LRJR, aksi para bandit atau jago yang tak menentu motivasinya terlegitimasi dengan kuat. Kepentingan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan alasan keuntungan pribadi bercampur baur dalam selubung patriotisme. Warga kulit putih dan asing lainnya selalu menjadi sasaran "perjuangan", betapapun mereka itu warga sipil nonkombatan yang sering dirugikan oleh keadaan revolusi. Sjahrir dalam brosurnya, "Perjuangan Kita", mengkritik kegiatan anarkistis itu karena merugikan perjuangan Indonesia. Namun Tan Malaka dalam brosurnya "Moeslihat" justru menyebut aksi itulah modal utama untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Cribb kemudian menyimpulkan bahwa koalisi strategis antara kelompok dunia hitam di Jakarta dan kelompok nasionalis muda radikal merupakan hasil yang tidak biasa. Sebagian disebabkan kesamaan sikap menentang Belanda dan sebagian lagi karena adanya unsur timbal balik.

Para nasionalis, sebagaimana pula dikemukakan Ibrahim Isa, dilihat sebagai kelompok masyarakat Indonesia yang memiliki keahlian bertarung dan nyali besar. Sementara itu, para bandit memandang koalisi mereka dengan kaum nasionalis merupakan kesempatan untuk menaikkan derajat hidup, dari semula di lembah hitam ke tempat yang lebih dihargai masyarakat. Kerja sama itu juga bentuk dari longgarnya penegakan hukum dari sebuah republik yang baru lahir. Maka, ketika pemerintah republik yang baru ini mulai mengkonsolidasi kekuatan dan hukum ditegakkan, perlahan mereka yang berperan besar dalam revolusi itu tersisihkan dari kancah pergerakan politik. Di masa selanjutnya hubungan bandit dan kekuasaan diwarnai oleh "love and hate". Pada periode tertentu, semisal masa Orde Baru, bandit atau preman digunakan segelintir aktor penguasa untuk melakukan tindakan onar demi memperkuat kekuasaannya. Dalam insiden Lapangan Banteng pada 1982, umpamanya, ketika preman digunakan Ali Moertopo untuk menurunkan simpati rakyat yang mulai menguat terhadap PPP dalam kampanye pemilu tahun itu. Namun tak lama kemudian pemerintah melancarkan perang terhadap preman, yang dikenal sebagai penembakan misterius. Saran : buku ini bagus untuk dibaca !!

:: Sumber : Bonnie T.-Tempo/11-2010

Des Alwi : Seonggok Sejarah dalam Miniatur yang Padat

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

"Des Alwi adalah seonggok sejarah Indonesia dalam miniatur yang padat, juga berwarna-warni" (Catatan Pinggir : Goenawan Mohammad)

Bila kita membaca memoir Bung Hatta, kita akan menjumpai nama Des Alwi. Demikian juga halnya dengan riwayat hidup "si Bung Kecil" Sutan Syahrir, nama Des Alwi pasti disinggung, terutama yang berkaitan dengan Banda Neira, sebuah tempat dimana Bung Hatta dan Syahrir pernah dibuang ke daerah ini. Dan, Des Alwi adalah putra Bandar Naira. Tidak salah kemudian, Des Alwi diangkat sebagai anak angkat bung Hatta dan bung Syahrir. Ia menyimpan banyak dokumentasi sejarah bangsa baik berupa naskah, film termasuk dokumentasi tentang Bung Hatta, perjuangan arek-arek Surabaya (10 November 1945) yang saat itu beliau berumur 19 tahun. Koleksi beliau banyak yang tidak di punyai oleh negara. Beliau yang juga saksi sejarah terbunuhnya Jenderal Mallaby di Surabaya ini telah meninggal dunia pada Jumat (12/11) sekitar pukul 05.00 WIB di Jakarta. Di bawah ini, untuk mengenai beliau, saya ketik ulang sebuah Catatan Pinggir dari Goenawan Mohammad tentang putra Bandarneira ini.

Jika kita lihat lelaki ini duduk di bawah pohon ketapang berumur 100 tahun yang menaungi halaman hotelnya di Bandaneira, jika kita ingat sosok yang tambun tinggi itu sudah ada di tempat itu pada 1936 dan, sebagai anak kecil, melihat Hatta dan Syahrir jadi orang buangan yang turun dari kapal dengan paras pucat, kita bisa iri kepadanya, begitu banyak yang telah dilihatnya, begitu beragam pengalamannya, begitu pas ia di pulau Maluku itu. Begitu "Indonesia". Des Alwi seperti Bandaneira, elemen yang sering tak diingat, tapi saksi penting dari riwayat Indonesia-dalam hal ini Indonesia sebagai sebuah perjalanan kemerdekaan. "Di sini," kata Rizal Mallarangeng, yang telah dua kali ke Bandaneira dengan rasa kagum kepada para perintis kemerdekaan yang dibuang ke pulau itu, "bermula apa yang kemudian menjadikan Indonesia." Dia benar: di sini berawal kolonialisme dan antitesisnya.

Kita bisa baca, di Banda-lah pada 1529 usaha kolonisasi Eropa dipatahkan; di sini kontingen orang Portugis terus-menerus diserang hingga mereka batal membangun sebuah benteng. Hampir seabad kemudian, pada 1609, ketika sepasukan Belanda mencoba memperkuat Benteng Nassau, para pemimpin Banda, disebut "orang kaya", membunuh laksamana asing itu dengan segenap stafnya. Banda mencatat konflik seperti itu sampai ke dalam abad ke-20, para penentang VOC (kemudian Hindia Belanda) diasingkan ke sini silih berganti. Kita tahu sebabnya, pada mulanya adalah rempah-rempah, terutama pala, yang di dunia hanya ditemukan di Banda, yang menggerakkan perdagangan internasional paling awal, seperti minyak bumi di zaman ini. Dan bersama perdagangan, datang peradaban. Juga kebiadaban. Sebelum orang Portugis masuk ke Maluku di abad ke-16, letak Banda yang kaya rempah itu dirahasiakan para saudagar Arab (atau "Mur") yang membawa barang berharga itu ke Eropa. Kemudian penakluk dari Semenanjung Iberia masuk, kemudian Belanda dan Inggris. Perjalanan jauh dan berbahaya, tapi mereka selalu datang. Untuk laba yang 300 kali lipat dari jual-beli pala, bahkan yang bengis siap dihadapi dan diberlakukan. Di Bandaneira ada sebuah monumen kecil. Di Parigi Rante itu ada sebuah sumur di sepetak halaman. Di sanalah, 8 Mei 1621, seregu samurai Jepang didatangkan Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Jenderal VOC yang terkenal itu) ke Neira. Mereka disewa untuk menyembelih 40 orang pemuka masyarakat Banda yang menolak klaim Belanda dalam monopoli niaga pala. Tubuh ke-40 orang itu dicincang, kepala mereka dipancangkan di deretan tiang. Di dinding di belakang perigi itu juga tertulis sederet nama orang dari pelbagai penjuru Nusantara yang dibuang ke pulau itu sejak abad ke-19, dari Pontianak, Yogya, Kutaraja, Cirebon, Serang, Blitar. Di abad ke-20 ada nama yang kini lebih dikenal : Cipto Mangunkusumo, Iwa Kusumasumantri, Hatta, Syahrir.

Tak akan mengherankan bila dari kepulauan ini sejarah tampak berbeda, kita tak akan mengatakan bahwa yang berlangsung selama lebih dari 350 tahun di Nusantara adalah 350 tahun penjajahan. Dari Banda kita jadi tahu, sejarah Nusantara adalah 500 tahun perlawanan. Dan Des Alwi, yang lahir 7 November 1927 di Neira dan sejak kecil mengenal Cipto, Hatta, dan Syahrir-orang-orang hukuman yang mengubah hidup Des - mungkin saksi terakhir dari rangkaian perjuangan panjang itu. Saya menyadari itu ketika sore itu saya dan beberapa teman duduk di dekatnya, mendengarkan ceritanya, di petak atap Benteng Belgica yang berumur 400 tahun. Seakan-akan di sore itu, sejumlah abad bertemu. Benteng yang menjulang hitam di bukit ini dibangun Belanda pada 1611. Letaknya dipilih pada posisi yang bisa mengawasi seantero selat dan laut. Sejak didirikan, empat menara pengintainya menyaksikan armada-armada Eropa datang, meriam-meriam ditembakkan, destruksi dan pembunuhan berkecamuk, 200 orang Belanda dihabisi pasukan Inggris di Pulau Ai pada 1615, ratusan orang Inggris dibantai Belanda sebagai pembalasan. Dari sini pula tampak kapal-kapal Inggris meninggalkan Pulau Run setelah pulau itu ditukar-guling dengan Pulau Manhattan milik Belanda di New York pada 1667. Tapi seratus tahun lebih kemudian, pada 1810, marinir Inggris merebut Benteng Belgica.

Abad demi abad, energi dicurahkan, dan uang diperebutkan dengan gigih dan ganas hingga dunia berubah. Kekuasaan pun tegak dan runtuh, kemerdekaan ditindas atau dilahirkan. Hari mulai gelap ketika Des berkisah tentang kemerdekaan yang dicoba digagalkan tapi dilahirkan kembali, Indonesia yang tak mudah. Des bukan sejarawan, bukan pula pelaku utama, tapi-dan ini lebih menarik-ia saksi yang terlibat. Jika kita baca bukunya yang baru, Friends and Exiles, yang diterbitkan Cornell University, kita dapatkan bukan saja kisah kelahiran Indonesia, tapi juga kisah seorang yang "menjadi Indonesia", sejak dari darah dan dagingnya, sampai dengan ketika ia terlibat, sengaja atau tidak, dalam peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang dan membentuk tanah airnya. Des Alwi Baadila-yang orang tuanya berdarah Cina dan "Mur" (nama "Baadila" ditemukan di Maroko dan Spanyol), yang masa kecilnya dibentuk Hatta dan Syahrir, yang masa mudanya ikut bertempur dan terluka di Surabaya 10 November 1945-adalah contoh bahwa Indonesia "men-jadi" dengan riwayat seperti pantai pulau-pulau Banda, kekerasan bisa meletup, tapi inilah negeri yang tak merasa perlu memberi batas mutlak tentang "luar" dan "asing". Kecuali ketika yang "luar" dan "asing" itu menegaskan diri dengan senjata dan pemaksaan. Dan kita melawan. Selamat Jalan Om Des. Anda inspiratif !!

:: Sumber - Catatan Pinggir/19 Oktober 2009

Senin, 15 November 2010

Postur dan Wajah - Sebuah Tulisan Tak Berujung

Oleh : Muhammad Ilham

Timur Leng itu pincang, sesuai dengan namanya - Si Pincang dari Timur - tapi, penguasa Samarkand yang muslim ini, menggetarkan lawan-lawannya (Harold Lamb)

Puja-puji nampaknya belum berhenti pada Obama. Ia magnitude. "Pulang Kampung, Sate, Baso" yang spontan diucapkan si-Barrack Hussein kala Kuliah Umum di Kampus UI ini, meninggalkan kesan mendalam, bagi hampir semua kalangan. Termasuk sahabat saya, sepulang sholat Isya di musholla sebentar tadi. Baginya, "Om BlackBerry" ini (si-Berry Hitam - panggilan kala kecil) sungguh mengasyikkan. Teman saya yang - kalaulah boleh saya memetakannya - masuk dalam kategori "pembenci Amerika Serikat paling abadi" ini, terhipnotis dengan style Anak Menteng yang "Pulang Kampung" itu. "Ganteng sekali saya lihat Obama itu", katanya spontan. "Mana yang paling ganteng dibandingkan dengan Yusril Ihza Mahendra atau Andi Malarangeng", kata teman saya yang lain. "Oh, jauh lebih ganteng si Obama, seperti peragawan," katanya lagi sambil meninggikan suaranya. "Sasek ang ma, ganti kaco mato tu bisuak !". Dan mereka-pun terlibat debat hanya masalah "perwajahan". Saya hanya ketawa, sambil menutup debat mereka dengan, "seandainya saya jadi Presiden Amerika Serikat, mungkin saya jauh lebih ganteng, istri saya jauh lebih anggun dibandingkan Michelle Obama ... prikitiew !". Kami-pun terbahak dan berjalan bercabang, menuju rumah masing-masing.

Jabatan memang "ditakdirkan" tidak memiliki sangkut paut dengan wajah dan postur. Saya kebetulan menyukai membaca biografi orang-orang terkenal yang pernah di"catat" sejarah. Cobalah lihat, Ho Chi Minh yang biasa dipanggil dengan "Paman Ho", ia bermata sayu dan melihat posturnya, hanya satu yang akan terlintas dibenak kita : "Ia kurang gizi". Tapi, Paman Ho ini mampu membabat habis pasukan Perancis di Dien Bien Phu dan memberi malu Amerika Serikat. Untuk membayar malunya ini, Amerika Serikat "terpaksa" memproduk film sejenis Rambo. Paman Ho bisa jadi kepala negara. Mata sayu dan postur kurang gizi-nya itu, justru membuat ia menggetarkan rakyat Vietnam. Namanya diabadikan, Ho Chi Minh City. Di sisi lain, Soekarno yang pancaran matanya yang bisa jadi binar sehingga sulit orang mengadu pandang, bisa juga jadi Presiden. Lalu, lihat John Fritzgerald Kennedy, Presiden Amerika Serikat paling muda dalam sejarah panjang Amerika Serikat, dengan sisiran rambut yang mengingatkan orang pada pemain band, yang wajahnya membuat Marlyn Monroe selalu mengirimkan bunga - juga bisa jadi Presiden. Lalu bandingkan dengan Nikita Kruschev, musuh terdepan Kennedy ini memiliki tubuh tambun-bulat dan berkepala bundar, kelihatan seperti petani Ukraina. Ia yang pernah membuka dan memukul-mukul sepatunya dalam Sidang Umum PBB ini karena marah pada kebijakan politik luar negeri Kennedy, bisa menjadi orang masyhur. Kruschev yang menjadi pemimpin negara pertama mengucapkan belasungkawa dengan sesegukan atas meninggalnya Kennedy tersebut, dengan postur tubuh yang tak seganteng Kennedy, bisa menjadi Perdana Menteri Uni Sovyet paling cemerlang dan brillyan.

Lihatlah juga Pandit Javaharlal Nehru. Ayah Indira Gandhi dan kakek Rajiv Gandhi ini dikenal ganteng seperti Amitabh Bachan. Badannya semampai dan senantiasa menyelipkan sekuntum mawar merah di bajunya. Sementara penggantinya Lal Bahadur Shastri, berperawakan mungil mirip - bak kata seorang kolomnis - seperti kasir toko kelontong India. Toh, mereka berdua juga sama-sama pernah meraih posisi Perdana Menteri India. Pandang pula texture tubuh Gamal Abdel Nasser yang tinggi besar. Jari jemarinya besar seumpama pisang batu, toh digantikan oleh seorang keling yang bertubuh kecil dan setengah botak bernama Anwar Sadat. Mereka berdua, tercatat sebagai Presiden yang lama dan berpengaruh pada masa mereka. Atau lihatlah Norodhom Sihanouk, raja Kambodja yang memiliki istri terkenal cantik, Putri Monica namanya. Konon, Soekarno yang sahabat Sihanouk, bila berjumpa dengan Putri Monica, selalu rajin mengerlingkan matanya pada Putri ini. Sihanouk orangnya pendek, tingginya hanya "seleher" Soekarno, suaranya nyaring seperti penjual obat, tapi mampu menjadi raja berfikiran moderat Kambodja. Ada anekdot tentang Sihanouk yang senantiasa bersuara nyaring dan dan nyerocos bila bicara, istrinya Monica menjawab, "Kambodja itu penduduknya cuma enam juta, lengang, karena itu, Sihanouk harus bersuara nyaring, bila tidak negeri akan senyap". Ah .. ada-ada saja. Di China, ada Perdana Menteri ganteng, namanya Chou En-Lai. Alisnya tebal dan berair muka merah jambu. Kegantengannya tak bisa dikalahkan Chow Yun-Fat, Jeet Lee, Jacky Chen apatah lagi Stephen Chow. Wajah Chou En-Lai memancarkan inteligensi tinggi. Namun penggantinya, Chen Yi, kebalikannya, bermuka China kebanyakan, bahkan sepintas lalu tampak seperti buruh angkat pelabuhan, sering memakai singlet dan suka angkat kaki di kursi. Konon, ia jarang mandi dan menyisir rambut. China pernah merasakan dipimpin oleh dua orang kontradiktif ini. Dan contoh ini akan semakin banyak, bila dirunut satu per satu.

Di Indonesia, lihatlah Abdurrahman Wahid. Wajah dan posturnya tidak membuat kita "nyaman". Tubuhnya gempal, berkaca mata tebal, bisa tidur dimana saja, bisa menjadi Ketua NU paling berpengaruh dan Presiden paling kontroversial Indonesia. Memiliki kemampuan humor yang tinggi dan pribadi yang sulit ditebak. Terkesan enjoy. Lalu, Habiebie nan mungil, dengan suara mirip Sihanouk, bila bicara selalu panjang-lebar (sudah panjang, lebar lagi). Konon, karena "cerdasnya", sehingga semua yang ada dalam file otaknya ingin keluar semua. Bandingkan pula dengan SBY nan tinggi besar, postur militer tegap. Selalu menjaga penampilan, "pencitraan" istilah orang sekarang dan selalu ingin perfeksionis sehingga terkesan peragu dan banyak kalkulasi. Walau matanya sekarang memiliki kantong (konon, karena jarang tidur), SBY selalu terlihat gagah, rapi, hensem kata orang Malaysia, kalau tak percaya, tanya pada Ruhut Poltak Sitompul, si raja minyak dari Medan. "Rudy" Habibie nan mungil dan terkadang melanggar protokoler dalam berbagai acara, spontan, bicara ceplas ceplos dan terkadang ekspressif (kadang-kadang tertawa lepas, bahkan ngakak). SBY terkesan prosedural, bicaranya tertata rapi-sistematis dan serius ..... mereka bertiga - Gus Dur, Habibie, SBY - juga pernah/masih menjadi Presiden Indonesia.

Napoleon Bonaparte itu pendek, Hirohito kurus dengan tatapan mata nanar, Mussolini gendut-tambun botak. Konon, Alexander Agung sang penguasa Macedonia memiliki tubuh atletis dengan dagu yang lancip, Jenderal Mc. Arthur dirindukan banyak orang pasca Perang Dunia ke-II karena kegagahannya dan Che Guevara sang petualang Marxis dari Cuba sangat macho. Mereka semua berhasil bukan karena wajah dan postur. Tapi, karena - istilah Tukul Arwana - kristalisasi keringat. Bila-lah, seandainya wajah dan postur menjadi parameter jabatan, maka akan bermunculanlah Audisi Pencari Wajah dan Postur di berbagai TV Swasta, kerjasama Supermi atau Indomie dengan KPU/KPUD. Sayang, Mbah Maridjan "telah pergi". Kalau ia masih tetap hidup, mungkin ia adalah salah satu sample dari bentuk pengaruh yang bukan bermula dari wajah dan postur, tapi dari roso.! Ah .... entah kemana perginya .... (dan saya pun menonton KLANTINK dalam acara Opera van Java off Road tadi. Klantink yang nDeso, bisa lebih menarik dibandingkan group-group Band "anak mama".

Foto : Obama - Ho Chi Minh - Nehru - SBY (sumber : cnn.com)

Timur Lenk - "Si Pincang dari Timur"

Oleh : Muhammad Ilham

"Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini, maka di bumi seharusnya hanya ada satu raja" (Timur Lenk)

Namanya Timur Lenk. Si Timur Pincang. Ia anak Taragai, Kepala Suku Barlas di wilayah Uzbekistan kini. Sang ayah kabarnya keturunan Karachar Noyan -menteri dan kerabat Jagatai, anak Jenghis Khan. Namun Timur Lenk sendiri sering disebut sebagai keturunan Jenghis Khan. Secara resmi keturunan Mongol ini telah memeluk Islam. Sejarawan Harold Lamb memperkirakan ia lahir pada 25 Sya'ban 736 Hijriah, atau 8 April 1336 Masehi. Sejak kecil, keberaniannya nampak luar biasa. Pada usia 12 tahun, ia telah terlibat dalam sejumlah pertempuran. Ketika ayahnya wafat, Timur bergabung dengan pasukan Gubernur Tansoxiana, Amir Qaghazan, sampai gubernur itu meninggal. Serbuan pasukan Tughluq Temur Khan melambungkan nama Timur Lenk. Ia bertempur sampai mengundang perhatian Tughluq. Ia direkrut Tughluq menjadi pasukannya, namun kemudian memberontak setelah Tugluq mengangkat anaknya, Ilyas Khoja sebagai Gubernur Samarkand dan hanya menjadikan Timur sebagai wazir. Timur bergabung dengan Amir Husain -cucu Qaghazan.

Tughulq dan Ilyas Khoja tewas dalam pertempuran. Kemudian Timur malah membunuh Amir Husain yang juga iparnya sendiri. Pada 10 April 1370, ia mengangkat dirinya sebagai penguasa tunggal. "Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini, maka di bumi seharusnya hanya ada satu raja." Demikian semboyannya. Sejak itu, Timur menebar maut sebagaimana dilakukan Hulagu seabad sebelumnya. Khurasan, Afghan, Persia, Kurdistan dikuasainya. Di Sabwazar, Afghanistan, ia membangun menara terbuat dari 2000 mayat dibalut dengan lumpur. Pada 1395, ia menyerbu Moskow. Lalu balik lagi ke Timur ke India -tempat ia konon membantai 80 ribu tawanannya. Kebiadaban terus ditebarkan. Pusat-pusat peradaban Islam dihancurkannya kecuali Samarkand. Di tempat ini, ia malah membangun kota dengan mendatangkan batu dari Delhi, India, dengan diangkut oleh gajah. Di Aleppo, Syria, Timur Lenk membangun piramida dari sekitar 20 ribu kepala manusia. Di Baghdad, sebanyak itu pula penduduk yang dibantainya. Di Armenia, 4000 tentara musuh dikubur hidup-hidup. Sekolah dan masjid-masjid di sekitar Irak dihancurkan. Masjid Umayah di Damaskus dihancurkannya sehingga tinggal dinding. Tak terhitung lagi jumlah korban Timur Lenk. Timur juga menggempur dua kesultanan penting. Yakni kesultanan Usmani di Turki serta Mamluk di Mesir. Dalam pertempuran melawan Timur Lenk, Usmani dipimpin sendiri oleh Sultan Bayazid I. Erthugul, anak Bayazid, tewas. Dalam pertempuran berikutnya, perang di Ankara 1404, Bayazid bahkan tertawan dan meninggal sebagai tawanan. Di Takrit -kota kelahiran Salahuddin Al-Ayyubi-Timur Lenk juga membangun piramida manusia. Dinasti Mamluk di Mesir tak luput dari ancamannya. Apalagi Sultan Malik Zahir Barquq melindungi penguasa Baghdad yang melarikan diri, Sultan Ahmad Jalair. Namun, seperti menghadapi Hulagu sebelumnya, Mesir akhirnya luput dari serangan Timur.

Serangan Timur Lenk benar-benar menghancurkan peradaban Islam. Praktis hanya Mesir yang selamat. Baghdad yang belum pulih akibat serangan Hulagu Khan dulu, kini remuk kembali. Tak puas menjarah ke Barat, Timur Lenk kemudian mengincar Cina di timur. Padahal saat itu, ia telah berusia 71 tahun. Saat hendak melakukan invasi itu, Timur Lenk sakit dan meninggal pada 1404. Dua orang anaknya, Muhammad Jehanekir (sebagian menyebutnya : Jehanggir - "sang pengenggam dunia") dan Khalil bertempur hebat memperebutkan kursi sang ayah. Khalil (1404-1404) menang, namun dikudeta oleh saudaranya yang lain, Syakh Rukh (1405-1447). Syakh Rukh dan anaknya, Ulugh Bey (1447-1449) memimpin negaranya dengan baik. Ilmu pengetahuan kembali berkembang. Namun tidak lama. Pada 1469, kekuasaan keluarga Timur Lenk itu ambruk. Timur adalah salah seorang pemimpin paling brutal dalam sejarah. Sepak terjangnya menghancurkan masyarakat Islam habis-habisan. Namun, ironisnya, Timur Lenk adalah seorang muslim. Kabarnya, ia berpaham Syi'ah namun dekat dengan tarekat Naqsabandiyah. Dalam kehidupan sehari-hari, ia seperti menghormati para ulama. Dikabarkan ia dengan sangat hormat menerima sejarawan besar Ibnu Khaldun yang ditugasi Sultan Faraj untuk berunding. Apapun, noda hitam telah terlalu banyak ditorehkan Timur Lenk. Terlalu banyak merah darah yang telah dibanjirkannya. Namun, ia adalah bagian dari sejarah peradaban Islam itu sendiri, like and dislike. !

Foto : salah satu peninggalan kerajaan Timurid di Samarkand (sumber foto : CW. Bosworth)

Sabtu, 13 November 2010

Hatta, Syahrir dan Tan Malaka : "Hulunya Sama, Hilirnya Bercabang"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tiga Minang itu berdiri tegak di simpang jalan bercabang. Mereka kukuh dengan ideologi masing-masing. Tapi hari ini kemana orang-orang Minang itu ?

Tan Malaka, Hatta dan Sjahrir pun bukan milik orang Minang. Mereka tak pantas dimiliki oleh mereka yang justru mengkerdilkan para pendiri bangsanya dan meninggikan kesukuannya yang entah untuk apa ! (Devi Kurnia A.)

Jika dibandingkan dengan Sjahrir, Hatta dengan Tan Malaka, maka bisa ditarik satu kesimpulan subjektif bahwa hanya Tan Malaka yang paling banyak berbicara tentang Minangkabau di dalam karyanya. Sjahrir sepanjang hidupnya hanya menulis dua buku, sejauh yang saya tahu, dan itupun tak membahas tentang Minangkabau. Bahkan, konon kabarnya, Sjahrir sudah menanggalkan keminangannya sehingga ia tak mau disebut sebagai orang Minang namun anehnya ia masih memakai kata Sutan di depan namanya. Hatta, yang lebih intens dalam menulis ketimbang Sjahrir, juga bukan orang Minang jika itu ditarik dari garis Ibu. Hatta tak pernah memiliki gelar adat — berbeda dengan Sjahrir dan Tan Malaka — yang memang dilakukan suatu upacara resmi dalam pemberian gelar adat tersebut. Hatta adalah orang yang paling necis dan yang paling disiplin dalam menerapkan mimesis Eropa. Mereka bertiga lahir dan tumbuh besar di Sumatera Barat. Tan Malaka di Payakumbuh, Sjahrir di Padang Panjang dan Hatta di Bukit Tinggi. Mereka sama-sama memperoleh didikan Islam yang kuat semasa kecilnya. Mereka bertiga pun sama-sama bersekolah di Belanda dengan jurusan yang berbeda namun memiliki satu kesamaan; mereka sama-sama jatuh cinta terhadap marxisme. Mereka sama-sama paham bahwa melalui marxisme mereka bisa membuka simpul-simpul penjajahan Belanda selama ini. Hanya hulunya saja yang sama tapi semakin ke hilir mereka semakin bercabang.

Hatta, sosok kalem, serius dan religius ini adalah yang paling lurus jalan hidupnya—selurus pilihan hidupnya kepada ekonomi kerakyatan. Sjahrir, si penggila pesta nan senang bercanda, ini lebih memilih jalur sosialis diplomatis sebagai pilihan politiknya. Tan Malaka, si misterius dengan puluhan nama samaran ini, lebih radikal lagi : baginya konfrontasi jauh lebih penting daripada diplomasi ala Sjahrir. Ya, tiga tokoh Minang ini adalah tiga tokoh republik yang paling signifikan sekaligus saling berlawanan. Hatta dan Sjahrir adalah teman dekat selama di Belanda, di partai, di pemerintahan dan di pengasingan. Sedang Tan Malaka, yang jauh lebih tua, dianggap senior dalam beberapa hal. Tapi itu tak membuat Hatta gentar. Tan Malaka ketika di Belanda pernah dibantah oleh Hatta terkait dengan pilihan ekonomi untuk Indonesia merdeka. Di sanalah untuk pertama kalinya Hatta menawarkan konsep koperasi yang kemudian ia terapkan di Indonesia hingga hari ini. Sjahrir, pasca proklamasi, pernah menelikung Hatta sehingga beliau mengeluarkan Maklumat X yang akhirnya membuat Sjahrir menjadi Perdana Menteri pertama di Indonesia—hal yang bertentangan dengan UUD 45 yang merubah sistem presidential menjadi parlementer. Inilah kudeta sunyi Sjahrir terhadap Soekarno. Tan Malaka bersama Persatuan Perjuangan—organisasi politik yang ia bentuk bersama Jend. Soedirman—adalah yang paling menekan kabinet Sjahrir di awal republik terbentuk. Bagi Tan Malaka, Merdeka 100% itu mutlak harus diperjuangkan bukan dengan jalan diplomasi melainkan konfrontasi. Diplomasi boleh dijalankan tapi dengan syarat Belanda mesti angkat kaki terlebih dahulu dari negeri ini. Sejarah kemudian mencatat bahwa setiap diplomasi yang dibentuk Sjahrir selalu membawa kegagalan bagi republik.

Tiga minang ini saling mengagumi masing-masing namun juga saling menjatuhkan masing-masing—secara sadar dan tak sadar—secara tersembunyi maupun terang-terangan. Menjelang proklamasi santer beredar di kalangan pemuda siapa yang pantas memimpin negeri ini. Ada tiga pasangan yang dianggap layak memimpin republik kala itu; Soekarno-Hatta, Sjahrir-Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka-Soedirman. Ketiga pasangan itu ada satu orang Minang di dalamnya. Inilah yang selalu membuatku bangga dilahirkan di ranah minang—walau aku bukan orang minang yang mesti tahu kato nan ampek. Orang minang ditakdirkan untuk tidak bisa tidak memikirkan republik ini sedari awal dan kuharap hingga akhir. Itulah kutukan bagi orang Minang. Tan Malaka adalah orang yang sangat Minangsentris, setidaknya bila kita telusuri karya-karyanya. Ia selalu meninggi-ninggikan Minangkabau dalam setiap tulisannya—walaupun orang Minang hari ini banyak yang tak mau mengenal dirinya.

Di dalam Madilog, Tan Malaka bermimpi bahwa masa depan Indonesia bukan di Jawa melainkan di Sumatera yang inginkan itu berada di poros Bonjol-Malaka sebagai poros yang strategis dan ekonomis. Konsep Indonesia Raya yang ia inginkan itu adalah Nusantara; bukan saja yang bekas jajahan Belanda. Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand hingga Australia ingin ia gabungkan menjadi satu kawasan multiregional yang berdaulat dan sama besar dengan dua blok yang tengah bertikai kala itu dengan nama Aslia. Asia Australia. Inilah Indonesia Asli bagi Tan Malaka. Mungkin bisa dibandingkan dengan konsep Bamantara-nya Sutan Takdir Alisjahbana yang baru saja mendapat Bintang Mahaputra dari Presiden SBY. Tan Malaka ingin mengubah semboyan kolonial yang mengatakan “Maluku masa lalu, Jawa masa kini dan Sumatera masa depan” menjadi “Sumatera adalah pioneer, Jawa masa sekarang dan kelak semuanya akan kembali ke Sumatera”. Ada kepercayaan diri yang luar biasa dari pernyataan itu. Namun sayang, apa yang ia cita-citakan itu belumlah terwujud hingga hari ini. Konsep Aslia ini kemudian diaplikasikan Adam Malik—wakil presiden Soeharto pertama yang berasal dari Partai Murba; partainya Tan Malaka—ke dalam ASEAN. Indonesia Raya yang dinyanyikan setiap upacara bendera dan acara olahraga lintas negara itu memiliki makna mendalam bagi Tan Malaka. Ia memimpikan satu negara industri modern yang besar, yang mampu menghidupi segenap tumpah darahnya dan mampu berdiri sejajar dengan dua blok lainnya yang saling bertentangan.

Bagi Tan Malaka, anjing yang sama besar takkan saling menggigit. Indonesia Raya bukan sekedar lagu kenegaraan biasa saja, tapi ada setiap cita di setiap liriknya—yang digubah WR Supratman dari buku Massa Actie-nya Tan Malaka—lagu itu adalah sebuah mimpi untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang besar karena bagi Tan Malaka bangsa ini layak menjadi besar. Bukan karena korupsi tapi karena prestasi. Tan Malaka adalah seorang pemimpi. Ia mengutarakan setiap mimpi besarnya di dalam karya-karyanya. Ia mendesain Republik Indonesia lebih dulu daripada Soekarno dan Hatta menentukan seperti apa konsep negara ini. Bahkan secara tak sadar Soekarno menobatkan Tan Malaka sebagai mentor politiknya. Pernah suatu ketika selepas proklamasi, Soekarno memberikan semacam mandat—yang kemudian dikenal dengan sebutan Testamen Politik—kepada Tan Malaka. Soekarno meminta Tan Malaka menggantikannya sebagai presiden jika dirinya tak sanggup lagi memimpin negeri ini; dalam artian Soekarno ditawan atau dibunuh dalam peperangan. Maka adalah Hatta yang menolak testamen ini. Ia marah kepada Soekarno yang telah memutuskan sepihak saja. Hatta lalu menambah tiga nama lain selain Tan Malaka.

Tiga orang Minang ini selalu meruncing di dalam pilihan ideologinya. Mereka tak hanya berdialektika di dalam segala hal namun mampu menunjukkan bahwa mereka berkualitas dalam berdialektika. Mereka saling menjaga keotentikan satu sama lain. Satu kecerdasan yang hilang bagi orang-orang Minang hari ini. Hanya Muhammad Fahmi saja yang berbeda, lihat saja komentarya yang sangat brilian dan berkelas. Sjahrir telah menghilangkan keminangannya karena ia sudah merasa menjadi sesuatu yang besar ketimbang meninggikan rasnya. Hatta pun demikian. Sebagaimana Agus Salim—yang menyuruh setiap anak laki-lakinya untuk tak menikah dengan perempuan Minang—menentang adat Minang terutama segi matrilinealisme yang hingga hari ini masih diterapkan di minangkabau, maka Hatta dan Sjahrir pun tak mau menikah dengan gadis Minang. Sjahrir menikah dengan orang Belanda lalu menikahi sekretarisnya. Hatta menikahi gadis Jawa. Sebagian besar tokoh Minang tak mau untuk menikahi gadis Minang. Mereka pada umumnya menolak matrilinealisme. Sepertinya tak ada gerakan feminisme di Sumatera Barat karena hanya kaum patriarki ini saja yang selalu mendemo kedudukan perempuan di ranah Minang. Tiga kali sejarah konsesi di Minangkabau selalu saja dimenangkan kaum adat dan kaum agama mesti puas diri dengan itu. Adat adalah agama asli Minangkabau yang hingga hari ini masih menang terhadap kaum agama. Realitasnya seperti itu. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah Kalimat yang belum selesai. Syarak Mangato Adat Mamakai adalah kalimat yang entah kenapa sering dihilangkan oleh kaum adat tentu saja. Merantau adalah cara kaum patriarki ini untuk lari dari tekanan matrilinealisme dan menikahi perempuan yang bukan orang Minang. Itulah kemenangan mereka tampaknya.

::  (c) Devi Kurnia. A (diskusi via FB)

Jumat, 12 November 2010

Tan Malaka (Lagi) : "Muslim Merah Minangkabau"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tapi ada satu yang mengganjal, jangan-jangan Madilog kita berbeda? Kemana pula kan kucari "Matematika Idiologi Logika" itu wahai Cutaik?
Tan Malaka itu komunis. Komunis itu atheis. Atheis itu tak bertuhan. Itulah komentar umum yang kudapat. Aku pun mulai percaya tentang ketidakpercayaan Tan Malaka akan adanya Tuhan saat itu. Untuk lebih jelasnya aku kemudian mewawancarai Mestika Zed — salah seorang dosen sejarah di kampus Air Tawar — penulis buku “Pemberontakan Komunis Silungkang 1927”. Aku tentu menanyainya terlebih dahulu kenapa provinsi Sumatera Barat bisa menjadi provinsi terbesar di Indonesia yang mempraktikkan komunisme kala itu. Setelah itu baru aku menanyakan Tan Malaka yang memiliki peran besar dalam komunisme tanah air.

“Apakah benar Tan Malaka itu atheis, Pak
?” tanyaku. Pak Mestika Zed terdiam lalu menjawab, “Saya bukan orang yang paling berkompeten untuk menjawab itu. Ada orang yang jauh lebih paham tentang Tan Malaka ketimbang saya. Kamu pergilah ke Mesjid Al Azhar sana, lalu setelah itu temui salah seorang khatib di sana. Namanya Buya Mas’oed. Ia jauh lebih paham tentang Tan Malaka ketimbang saya. Setelah dari sana baru kamu ke sini lagi menemui saya.” Aku pun pergi. Di salah satu ruang kecil di Mesjid Al Azhar, yang kini sedang dirombak dan akan dipindahkan itu, aku duduk di lantai dan Buya Mas’oed di depanku. Beberapa anak murid keluar masuk ruangan itu untuk menanyakan bacaan Qur’an. Ia tengah mengajar ketika aku datang. Lalu ia pun menyelesaikan dulu pengajarannya dan kemudian kembali lagi ke kamarnya yang kecil itu namun penuh dengan buku. “Anda ini siapa dan ada keperluan apa?” tanyanya. “Aku ingin meneliti tentang Tan Malaka dan tadi Pak Mestika menyuruhku ke sini untuk menemui Bapak,” lalu beliau mencatat namaku di secarik kertas. “Apa yang ingin adik ketahui tentang Tan Malaka?” tanyanya sembari tersenyum. “Hampir sebagian besar orang mengatakan Tan Malaka itu komunis sementara pemahaman awam selama ini adalah komunis itu identik dengan atheis. Bagaimana menurut Bapak?” aku menyodorkan muncung handycam-ku ke mukanya. “Tan Malaka adalah seorang muslim yang tegas dan konsisten dengan jalan pendiriannya terutama dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.” Sontak aku terkejut kala itu. Tan Malaka muslim?
“Tan Malaka terlahir dengan nama Ibrahim di Suliki, nagari Pandam Gadang, Payakumbuh dan dia dididik di dalam lingkungan Islam yang ketat. Ketika remaja ia kemudian diberikan gelar adat Datuk Tan Malaka. Ia adalah orang ketiga di dalam ranji Koto Piliang yang mendapat gelar itu. Ia bersekolah di Kweekschool atau lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Raja di Bukit Tinggi. Setelah itu ia melanjutkan ke Sekolah Guru di Belanda atas dukungan dana dari Angku Fonds—semacam Yayasan Para Ninik Mamak—dan bantuan dana dari Horensma gurunya di Bukit Tinggi. Hari ini mana ada ninik mamak yang peduli dengan pendidikan anak kemenakannya? Di Belanda itulah Tan Malaka mulai berkenalan dengan bacaan-bacaan kiri. Ia mulai membaca Nietzsche yang mengatakan Tuhan telah mati, teori evolusi Darwin hingga ke Das Capital-nya Karl Marx—nabi kaum komunis sedunia. Tan Malaka mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang salah di negerinya—tempat di mana Belanda telah menjajah bangsanya selama berabad lamanya. Ia mulai berpikir dan mempertanyakan konsep-konsep kolonialisasi. Semakin ia membaca mengenai Marxisme semakin ia paham tabiat dan watak dari kolonialisme Eropa—terutama terhadap bangsa-bangsa Timur yang bodoh.”

“Lalu apakah Tan Malaka keluar dari Islam atau apa yang terjadi sesungguhnya?” “Jangan terburu-buru men-judge seseorang kafir atau atheis, anak muda. Seorang muslim yang menuduh sesama muslim itu kafir sungguh adalah kafir itu sendiri.” Aku terdiam. “Apa yang dilakukan Tan Malaka sepulang dari Belanda ke Indonesia—selain membuat sekolah—adalah merangkul kaum muslim tertindas. Ia bergabung ke dalam Syarikat Islam yang kemudian terbagi dua menjadi putih dan merah. Tan Malaka memilih yang merah dan kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia. Jadi satu hal yang harus diinsyafi adalah PKI lahir dari satu organisasi muslim terbesar saat itu. Tan Malaka berusaha mencegah perpecahan ini karena baginya Islam adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan merebut kemerdekaan.” “Lalu apa yang terjadi?” “Tan Malaka tak mampu mencegahnya. Idenya ditentang oleh Agus Salim dan Abdul Muis. Ketiga orang ini adalah orang Minang.” “Ada apa dengan orang Minang?” “Tan Malaka ketika dia ke Rusia tahun 1922, mengatakan bahwa sesungguhnya Rusia belum sepenuhnya menjadi Negara Komunis.”

“Loh, kenapa begitu?” “Karena baginya komunisme sebenarnya adalah komunisme ala Minangkabau. Komunisme yang tak pernah mengenal konsep penjara. Komunisme—yang kependekan dari komunalisme—di mana moda produksi bukan dikuasai oleh individu tapi dikuasai, dikelola, diproduksi, dikonsumsi, didistribusi oleh kaum itu sendiri. Tak ada kaya ataupun miskin. Semua derita ditanggung bersama. Rumah Gadang pun dibangun dengan semangat kebersamaan bukan karena faktor uang. Di situlah ruang filsafat bisa berkembang dengan pesat dan pendidikan menjadi bagian terpenting. Inilah komunisme asli Minangkabau yang sangat dibanggakan Tan Malaka. Setelah Belanda datang, semua itu kemudian mulai terkikis dan hilang hingga hari ini.” Aku semakin bingung dengan Tan Malaka, komunis kok beragama? Susah bagiku untuk mencerna ini. “Lalu hubungan Islam dengan Tan Malaka apa Buya?” “Bagiku Tan Malaka tidak hanya seorang pemikir muslim tapi ia juga bertindak untuk mencapai apa cita-citanya yaitu Indonesia yang merdeka dan berdaulat atas dirinya sendiri. Buya membaca hampir seluruh karyanya dan Buya tak menemukan di bagian mana yang mengatakan bahwa ia atheis. Bahwa ia komunis iya, tapi jika masalah atheis sudah tentu itu tidak. Bahkan seorang Buya Hamka pun tak percaya Tan Malaka itu atheis sehingga dia mau memberi kata pengantar di buku Tan Malaka yang berjudul “Islam dalam Tinjauan Madilog”. Semakin aku bingung. Aku pun beranjak pergi karena Buya Mas’oed hendak kembali mengajar.

“Tan Malaka melakukan banyak hal untuk kaum muslim terjajah di mana saja dia berada. Di Indonesia, Malaysia, Rusia, Filipina hingga Thailand. Konsep Pan-Islamisme-nya dulu coba kamu bandingkanlah dengan konsep Hizbut Thahrir hari ini. Jauh sekali bedanya. Oh iya, satu hal lagi yang penting adalah Tan Malaka pernah aktif di PKI namun kemudian keluar karena tak sejalan dengan pendiriannya. Kemudian Tan Malaka jadi musuh PKI nomor wahid,” ujarnya sembari berlalu. Ah, sukses Buya satu ini membuat kepalaku pusing. Tapi satu hal yang akhirnya aku tahu bahwa Sumatera Barat adalah gudangnya kaum komunis. Lalu apakah mereka semua itu atheis? Ataukah hanya Tan Malaka saja yang atheis?

Kembali ke hari ini. Aku paham kenapa temanku Cutaik tetap bersikukuh mempertahankan pendiriannya bahwa Tan Malaka itu atheis—dan seperti atheis yang lain maka ia layak untuk dibenci dan disingkirkan tentu berdasar pemahaman pemeluk monotheis. Namun jika aku boleh memberi saran sekali-sekali tanyakanlah pada Buya Mas’oed itu tentang keatheisan Tan Malaka. Karena sepertinya cara persuasiku belum cukup berhasil. Mungkin Buya Mas’oed bisa lebih gamblang menjelaskan keislaman Tan Malaka yang entah kenapa tak pernah dibahas peneliti asing. Bagi mereka tak penting apakah Tan Malaka itu mengaji atau shalat. Aku pun mulai mencari buku tentang Sumatera Barat tahun 1920an—tahun di mana Marxisme beredar luas di provinsi ini. Aku pun berhasil menemukan satu buku yang kemudian merubah hidupku. Buku itu ditulis Audrey Kahin yang berjudul “Dari Pemberontakan ke Integrasi; Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998”. Ini buku wajib buat anak muda Minang hari ini untuk mengetahui jatuh bangun mereka selama ini. Audrey mengatakan bahwa republik ini didirikan oleh sebagian besar mereka yang terlahir dari provinsi ini. Provinsi ini adalah provinsi yang tingkat dinamisitasnya saat tinggi terutama di saat penjajahan Belanda. Beragam pemberontakan terjadi, seperti Perang Kamang hingga Pemberontakan Silungkang. Sehingga tersiar kabar bahwa provinsi ini adalah negeri para pemberontak di mata Belanda. Tak hanya di jaman Belanda saja provinsi ini memberontak, setelah merdeka pun mereka memberontak kepada kaum Republiken atas nama PRRI. Di sinilah hipotesis Audrey di mulai, kenapa provinsi paling cemerlang di Nusantara ini justru menjadi provinsi paling terbelakang setelah Penumpasan PRRI dilakukan? Dan apa yang ia temukan sungguh membukakan mataku kenapa provinsi tempatku dilahirkan itu menjadi seperti ini hari ini.

Temanku Cutaik itu juga berasal dari Bukit Tinggi—tempat di mana Hatta dilahirkan, tempat di mana Tan Malaka, Marah Rusli dan AH Nasution bersekolah, tempat di mana markas PDRI berada. Perlu teman-teman ketahui bahwa PRRI lahir sebagai bentuk ketidakpuasan daerah terhadap pusat sehingga—selain mengembalikan dwitunggal SoekarnoHattadan membubarkan PKI—keterciptaan semacam otonomi daerah di daerah luar Jawa. Hal lain yang juga cukup signifikan adalah krisis komando di Angkatan Darat yang merupakan kritik terhadap kepemimpinan AH Nasution. Satu ultimatum diberikan kemudian kepada Pusat. Kabinet Djuanda diserang kebijakannya. Achmad Husein kemudian mengumunkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958 yang kemudian dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara—yang sepuluh tahun sebelumnya juga memimpin PDRI. Sehari sesudah itu Pusat berang dan menyerang Painan, Padang dan Bukit Tinggi pada tanggal 21 dan 22 Februari. Nasution kemudian memerintahkan Ahmad Yani untuk memimpin penyerangan ke Sumatera Barat yang kemudian dikenal dengan nama “Operasi 17 Agustus” di bulan April. 17 April kota Padang dibom dari Kapal Perang Indonesia. Solok dihabisi tanggal 21 April dan esoknya Sijunjung. Padang Panjang baru bisa dicapai tanggal 1 Mei dan tak lama kemudian Bukit Tinggi—kota di mana pusat pemberontakan berada. Tanggal 5 Mei Bukit Tinggi berhasil dikuasai. TNI—dibantu ormas-ormas PKI—berhasil menangkap para pemberontak.

Sjafruddin dan M. Natsir—dua pemimpin PRRI—bingung dengan cepatnya penumpasan ini. Kenapa Republik ini bisa lebih cepat menghabisi bangsanya sendiri ketimbang ketika melawan asing? Tapi dua orang itu belum mau menyerah. Sementara ribuan sudah yang meninggal akibat penyerangan Pusat tersebut. Nasution mengakui bahwa jumlah yang meninggal mencapai 22ribu orang namun banyak yang menyangsikan itu hingga ke angka 40ribuan. Di bulan Agustus, Sjafruddin akhirnya menyerah sementara Natsir masih bersembunyi di hutan. Setelah mengetahui temannya Djambek dibunuh oleh PKI yang turut membantu TNI menumpas PRRI barulah kemudian Natsir menyerah di bulan September. Inilah era di mana orang Sumatera Barat mulai merasa dirinya sebagai warga negara kelas dua. Sumatera Barat menjadi provinsi yang mengalami kehancuran mental setelah itu. Inilah masa di mana TNI dan PKI masih menjadi ‘sahabat’.

Di awal tahun 60an terjadilah diaspora luar biasa dari Sumatera Barat ke Jawa—terutama Jakarta. Ada perasaan terhina untuk tetap berada di Sumatera Barat. Para orang tua mulai menamai anak-anak mereka dengan nama Jawa—Irwan Prayitno misalnya—karena takut akan dibunuh oleh tentara dari Jawa. Tak ada lagi penerbitan bermutu setelah itu. Tak ada lagi sekolah-sekolah bermutu. Tak ada lagi yang mampu dibanggakan. Semuanya hilang setelah itu. Sumatera Barat dengan segala kebesarannya di masa lalu itu kini telah tiada. Orang Minang adalah orang yang tak menang. Kalah. Lalu lihatlah hari ini jalan Ahmad Yani begitu besarnya di kota Padang—entah di Bukit Tinggi—dan bandingkanlah dengan jalan Tan Malaka. Orang yang telah meluluh lantakkan Sumatera Barat dalam waktu sangat cepat itu kemudian tewas dibunuh gerombolan PKI yang sebelumnya membantunya menumpas rakyat Sumatera Barat. Bahkan Letkol Untung pun berdinas di Sumatera Barat sebelum dipindah ke Jakarta untuk menjadi Cakrabirawa. Angka puluhan ribu itu seakan hanya statistik belaka ketika pemerintah membunuhi rakyatnya sendiri. Bahkan tsunami Aceh ataupun Mentawai tak mencapai angka puluhan ribu seperti itu. Keganasan manusia ternyata melebihi keganasan bencana alam. Orang minang hari ini seperti kabau yang telah dicucuk hidungnya sehingga bisa diatur sedemikian rupa. Mereka menjadi anak bawang saja. Menjadi anak manis ORBA. Lalu sebagai kaum yang kalah, bisakah Anda melihat porsi Sumatera Barat di buku sejarah nasional? Sumatera Barat tak lebih sebagai pemberontak yang kalah di mata pusat oleh karena itu tak ada tempatnya di buku sejarah—sama seperti Tan Malaka.

Akhirnya aku tak mau lagi peduli pembicaraan tentang Tan Malaka—yang mengajari anak-anak mengaji di Thailand--itu komunis atau tidak, Tan Malaka—yang paling kesal diganggu ketika shalat dan menulis—itu atheis atau tidak, aku sudah tak peduli. Aku lebih benci kepada mereka yang mengakui keislamannya tapi membunuh sesama saudaranya sendiri dengan mengatasnamakan agama. Aku lebih benci ormas-ormas Islam yang menghancurkan tempat prostitusi tapi tak mau tanggap pada korupsi. Aku kini lebih terpukau pada Gayus Tambunan—PNS muslim idola camer Gol IIIA—yang mampu mengobrak abrik law enforcements di negeri ini hanya dengan dana tak terbatas yang ia punya dari departemen yang memakai slogan “Apa Kata Dunia” itu. Inilah idola baru kaum media hari ini. Semua tentang Gayus jauh lebih mempesona.

Oleh karena itu jika dialektika ini masih ingin dibahas maka aku akan berkata sama seperti yang kukatakan kepada mahasiswa IAIN yang ngotot mengatakan Tan Malaka itu atheis; “apa yang sudah Anda lakukan di umur Anda sekarang ini? Hari ini ketika orang-orang Israel membunuhi orang Palestina kalian hanya berdemo di sini—di jejalanan kota. Tan Malaka ketika sebagian Muslim di Rusia dibunuhi dia berjalan sendirian ke Rusia untuk membela kaum Muslim di sana. Sudah berapa buku yang Anda hasilkan di umur Anda? Tan Malaka di umur yang sama dengan Anda sudah menghasilkan buku bernas yang wajib dibaca sebelum lagu Indonesia Raya itu tercipta. Apa yang Anda lakukan ketika Imam Bonjol orang yang paling menginginkan kemurnian Islam itu—yang juga telah membunuh puluhan ribu rakyat Tapanuli itu—dibuatkan patung atas namanya. Apa yang kalian lakukan wahai mahasiswa Imam Bonjol? Apa yang telah kalian lakukan untuk agamamu dan bangsamu?” Mahasiswa IAIN itu tak menjawab pertanyaanku itu tapi entah dengan temanku nanti. Tapi yang jelas komentar Muhammad Fahmi telah menunjukkan seperti apa kualitas dirinya. Sekian dulu, jika ini masih kurang persuasif dan realistis maka akan ada edisi selanjutnya. Untuk Cutaik jangan baca Madilog yang di halaman pertama saja—baca hingga habis baru komentar lagi dan jangan lupa temui Buya Mas’oed karena Buya Hamka tak bisa lagi diwawancarai.

:: Catatan Pinggir ILHAM .... saya bukanlah pengagum fanatik seorang anak manusia bernama TAN MALAKA, tetapi ia adalah salah seorang putra terbaik Minangkabau dan bangsa "Sumpah Palapa"-nya Gajah Mada ini. Seluruh denyut nadi kehidupannya,dipeersembakan buat bangsa yang hari ini kita nikmati. Tapi sayang, karena sejarah kita rasa "nano-nano", membuat Tan Malaka "dipinggirkan" dan hanya seumpama catatan kaki. Berkaca dari Tan, banyak lagi yang "sejenis" beliau dimarginalkan oleh sejarah. Bagaimana kita menjadi bangsa besar, bila diskriminatif terhadap mereka yang "membuat sejarah". SELAMAT HARI PAHLAWAN ... !! Pada kalian, entah tercatat oleh sejarah entah tidak, pada kalian kami berhutang !!

:: (Sebagaimana yang di-narasi-kan Devy Kurnia A. dalam diskusi/note FB (09-11-2010)

Senin, 08 November 2010

Tan Malaka - Pahlawan atau Grand Homme ?

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Waktu akan lebih jujur untuk berkata/tidak sekarang, mungkin nanti/tapi itu pasti (Taufik Ismail)

Ibrahim Tan Malaka, si putra Pandan Gadang Suliki, diangkat Soekarno sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Kepres RI No. 53. Kepres ini ditandatangani Soekarno pada tanggal 28 Maret 1963. Tradisi pengangkatan seseorang untuk menjadi pahlawan ini sendiri dimulai sejak tahun 1959 dengan Abdul Muis sebagai orang pertama yang dinobatkan sebagai pahlawan di Indonesia. Semenjak itu hingga tahun ini daftar pahlawan kita terus bertambah. Soekarno—yang baru dijadikan pahlawan 16 tahun sesudah kematiannya—mengatakan bahwa ‘bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya’ dan itu seakan mesti menjadi suatu teguran bagi rezim Orde Baru yang telah menghilangkan nama Tan Malaka di buku sejarah resmi pemerintah. Tan Malaka tidak pernah hadir di dalam buku sejarah tapi gelar kepahlawannya tidak pernah dicabut. Tan Malaka menjadi pahlawan tanpa makam. Pada tanggal 14 April 2010, puluhan mahasiswa dari beberapa universitas terkemuka di Sumatera Barat memancangkan plang jalan Tan Malaka yang terletak di samping RRI di kota Padang. Sudah beberapa tahun jalan Tan Malaka—yang sebelah menyebelah dengan jalan Abdul Muis—dibiarkan pemerintah tanpa plang nama. Ini adalah suatu bentuk kepedulian mahasiswa untuk memunculkan kembali nama dan peran Tan Malaka khususnya di provinsi di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Namun kondisi ini menjadi semakin miris dikarenakan sebagian besar anak muda Sumatera Barat tidak kenal dengan siapa itu Tan Malaka.

Tan Malaka, jika lahir di Prancis maka ia akan diberikan satu gelar terhormat atasnya yaitu Grand Homme. Gelar ini sebagai pembeda untuk sebutan pahlawan sejenis di negara lain. Jika pahlawan dimaknai peranannya hanya untuk negeri itu sendiri maka Grand Homme adalah bukti pengabdiannya di ranah internasional. Nama-nama seperti Voltaire, Jim Morrison, Oscar Wilde, Victor Hugo hingga Marrie Currie adalah nama-nama yang diabdikan di berbagai Panthéon di Prancis—pekuburan terhormat untuk mereka. Mereka adalah politisi, pemusik, sastrawan, budayawan hingga ilmuwan yang buah karyanya terus berpengaruh besar hingga hari ini. Hari ini Taman Makam Pahlawan kita hanya didominasi oleh kaum militer belaka. Lalu ketika wacana menjadikan Soeharto dan Gus Dur sebagai pahlawan mulai mencuat beberapa waktu terakhir, apakah ini bukan saat yang tepat untuk kita bersama-sama mulai memikirkan ulang pemaknaan kita akan arti dari kata pahlawan itu sendiri? Oleh karena itu dalam peringatan Hari Pahlawan tahun ini sudah saatnya kita mulai melihat sejarah secara objektif dan arif bijaksana sehingga pemaknaan kita akan konsep kepahlawanan tidak menjadi sedemikian sempitnya. Sudah saatnya republik ini mempunyai panthéon-nya sendiri.

:: Referensi (c) : Devy KA., artikel ini dimuat di Haluan, 9 November 2010

Minggu, 07 November 2010

Pentingkah Indonesia Bagi Barrack Hussein OBAMA ?

Oleh : Muhammad Ilham

Tak ada makan siang yang "gratis" ! (No Name) .... Who Get What How and When (Harold Laswell : 1981)

Euforia kedatangan Obama mulai kembali menjangkiti Indonesia. Setelah terundur dua kali rencana kedatangannya ke Indonesia, kedatangan Obama kali ini (9 Nopember) kembali menyedot perhatian publik ditengah-tengah "malapetaka-musibah" yang tidak berhenti di negeri tercinta ini. Beberapa analisis dalam melihat kedatangan Obama ke Indonesia mulai bermunculan kembali. Mulai dari menganggap kedatangan Obama sebagai kedatangan "anak hilang" hingga over-confident beberapa pengamat yang menganggap kedatangan si Hussein Barrack ini sebagai refleksi begitu strategisnya Indonesia di mata negara Paman Sam tersebut. Pertanyaannya : "Apakah Indonesia dianggap penting oleh Amerika Serikat?". Menarik menyimak tulisan Prof Wiliam Liddle, tgl 3/11/2010 yang dimuat dirubrik Harian kompas. Kejujuran beliau memaknai kunjungan Obama ke Indonesia, dan prioritas pemerintahan AS saat ini, membuat kita harus tahu diri agar tidak terlalu banyak berharap. Hasil pemilu terakhir membuktikan kecerdasan pemilih AS yang membuat ke seimbangan baru, dengan menangnya partai Republik pada pemilu sela, sudah cukup untuk menjadi mayoritas di DPR dengan 230 kursi dari total 435 kursi DPR, setelah mendapat tambahan sekitar 69 kursi.

Kekalahan partai Demokrat, disebabkan frustasi-nya rakyat AS atas krisis yang belum dapat dilalui. Ketersediaan lapangan kerja yang terbatas, tingkat pengangguran yang tinggi, membuat harapan (ekspektasi) yang tinggi terhadap Obama berlahan mulai hilang. Kebijakan-kebijakan Obama yang populis dari jaminan kesehatan, sampai dana talangan Milyaran $ bagi korporasi besar, tidak membuat rakyat AS merasa puas, karena yang paling dibutuhkan ketersediaan lapangan kerja. Tidak heran bila Obama berkunjung ke Asia adalah dengan motif ekonomi, di awali dengan kunjungan ke India, menghasilkan kontrak 10 milyar US Dollar, “Kerja sama ini bakal membuka 54.000 lowongan kerja baru di negara saya,” begitu kata Obama di depan pertemuan para pengusaha Amerika dan India di Mumbai. Tidak heran di India, Obama berkunjung selama 3 hari, sementara di Indonesia, datang pada tanggal 9 november dan tanggal 10 november lansung menuju ke Korsel. Jadi dapat kita pahami, Obama perlu bergerak cepat agar ekonominya negaranya cepat pulih, dengan mencari mitra Negara yang tepat, agar cepat bangkit dari krisis, selain India, menurut William Liddle, adalah negara Cina yang dapat membantu perekonomian Amerika di Asia. Soal peran politik, Prof. William Lidde juga menjelaskan, Indonesia bukanlah posisi Indonesia terletak jauh di bawah posisi Amerika dalam percaturan politik global masa kini. Di panggung dunia, Indonesia belum menjadi pemain sedang, apalagi besar. Lebih terperinci, sumber daya politik yang dimiliki Indonesia dan bisa dimanfaatkan untuk membantu atau melawan Amerika, tentu demi mengajukan kepentingan Indonesia sendiri, masih sangat sedikit dibandingkan dengan negara-negara lain. Kenyataan itu berarti bahwa Indonesia gampang dilupakan atau dikesampingkan pemain lain.

Saya kira pendapat ini benar dan kita tidak usah harus malu, mengakui segala kelemahan negara kita, agar kita pandai menempatkan diri dan tidak besar kepala akan capaian ekonomi dan peran politik Indonesia baik regional dan internasional. Kita tahu AS banyak persoalan yang harus mereka tuntaskan, dari perang Irak, Afganistan dan Timur Tengah, baik itu terkait dengan Israel Palestina, Iran dan mitra strategis amerika lainnya termasuk Arab Saudi, sebagai suplayer minyak terbesar ke AS. Di kawasan Asean saja, penghormatan Negara tetangga kita terutama Malaysia dan Singapura, adalah semu, penuh "keberpura-puraan", mereka hanya mengiyakan kepentingan Indonesia ketika itu tidak merugikan mereka, pada saat kita membutuhkan bantuan kepada Negara tetangga, baik itu soal kesejahteraan TKI kita di Malaysia, maupun soal koruptor yang berlindung di Singapura, mereka tak mau memenuhi permintaan Negara kita. Apalagi bila kita berbicara dalam konteks yang lebih luas, baik itu Asia maupun dunia. Inilah makna tulisan sang professor, bahwa Indonesia gampang dilupakan dan dikesampingkan pemain lain. Sehingga wajar Obama harus berpikir realisistis dan pragmatis demi kepentingan Bangsanya, bukan hanya romantisme masa lalu, bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari hidupnya. Kondisi ini tidak lantas harus membuat kita berkecil hati, melihat bangsa sendiri dari sudut pandang orang lain, adalah bagian dari introspeksi bagi bangsa ini, ditengah bencana yang terus melanda bumi pertiwi, ternyata kebersamaan kita muncul, rasa kepedulian atas nasib saudara kita tidak pernah lemah, ini sebuah momentum untuk membangkitkan nasionalisme .

Kita punya modal kuat, dari sumberdaya alam dan rasa ikatan nasionalisme yang selalu teruji pada setiap ada musibah besar melanda negeri, dari pengamen sampai rakyat biasa, dari pekerja sampai para guru, berlomba memberikan bantuan walau hanya sekedarnya. Saya kira para pemimpin tinggal memoles ini, dengan memberikan tauladan, baik itu perkataan dan perbuatan, keberpihakan bukan kata-kata, tapi perbuatan, hukum bukan hanya diatas kertas, tapi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak memanpaatkan kesempatan bagi para pejabat dan DPR/D untuk bersenang-senang dan memperkaya diri sendiri atau kelompok, apalagi ditengah derita rakyatnya, kekayaan alam yang melimpah bukan hanya milik korporasi asing atau konglomerat, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia. Dengan inilah bangsa lain akan menghargai kita.

:: Sumber : Sobron H (kompasiana)/William Liddle (kompas)

Hulagu Khan

Oleh : Muhammad Ilham

Pasukan tangguh, jago perang dari gurun nan tandus, penuh kutu dan tidak memahami makna mandi. Pada mereka, pusat peradaban dunia - dinasti Abbasiyah - hancur. Buku-buku, mahakarya intelektual masa itu, mereka bakar dan buang, kulitnya mereka buat jadi penambal sepatu.

Hulagu Khan, nama yang sangat familiar bagi yang membaca kehancuran peradaban Islam Abbasiyah. Benarlah yang dikatakan Philip K. Hitti dan Fernand Braudel, "hanya Muhammad SAW. yang tidak, semua semua aktor sejarah yang lahir dalam belaian gurun tandus, akan memiliki kecenderungan barbar, ganas dan alot dalam peperangan". Bila diletakkan "pada zamannya", apa yang dikatakan Hitti dan Braudel, bisa diterima. Hulagu Khan yang merupakan "cucu genetik-biologis" Jenghis Khan, hidup dalam lingkungan stepa dan gurun tandus (Mongolia dan Dobi). Dalam sejarah, penaklukkan yang dilakukan oleh Jenghis Khan dan anak-cucunya, bisa dikategorikan sebagai penaklukan yang membuat bulu kuduk merinding - setidaknya demikian yang terbaca dari buku-buku sejarah. Bahkan, Timur Leng (pendiri dinasti Timurid) yang tersohor itu, dikenal sebagai petarung tangguh yang "kejam disatu sisi, sentimentil disisi lain", kata sejarawan Harold Lamb. "Sipincang dari Timur" (julukan bagi Timur Leng) yang muslim ini pernah membuat tugu dari ratusan kepala orang-orang taklukannya, di sebuah daerah di Asia Tengah. Ia ibarat Hajjaj, yang dicatat sejarah sebagai "tangan kanan" salah seorang khalifah Dinasti Ummayah paling kejam. "Beringas dan gemar membunuh, tapi sangat kontemplatif kala menghadap Tuhan pada malam hari," kata Ira M. Lapidus.

Dan Hulagu Khan, juga meninggalkan cerita-cerita yang "menyeramkan". Kala Baghdad (dinasti Abbasiyah) ditaklukkan tahun 1258. Tepian sungai Tigris itu menampakkan pemandangan ganjil. Dari dataran sekelilingnya, kecemerlangan kota tampak jelas. Gedung-gedung megah bertaburan tertata secara rapi. Saat itu, hampir tidak ada kota di dunia segemerlap Baghdad. Namun ribuan tenda mendadak bermunculan di luar kota. Itulah tenda pemimpin Mongol, Hulagu Khan, beserta 200-an ribu pasukannya. Sejarah mencatat, Khalifah Al-Mu'tashim dan para pembesar Kekhalifahan Abbasiyah dengan senang hati menemui Hulagu. Ia membawa berbagai macam hadiah. Hulagu menerima mereka dengan dingin. Ia memenggal kepala khalifah dan seluruh pengikutnya satu per satu. Hulagu kemudian memerintahkan pasukannya untuk meratakan Baghdad dengan tanah. Bukan hanya istana dan gedung-gedung kerajaan saja. Namun juga rumah penduduk, masjid, serta madrasah, universitas dan perpustakaan. Kemegahan Baghdad habis tanpa bekas. Seluruh warga tewas dibantai, kecuali yang sempat lari menyelamatkan diri. Peristiwa ini merupakan salah satu penghancuran terbesar kebudayaan masyarakat Islam yang telah berkembang selama lebih 6 (enam) abad. Hulagu tetap tinggal di tendanya. Ia sepenuhnya mewakili karakter masyarakatnya, bangsa Mongol, saat itu yang sangat sederhana namun brutal. Mulanya bangsa itu adalah kelompok-kelompok kecil pemburu dan penggembala di padang stepa di utara Cina hingga Siberia.

Mereka mempercayai sebagai keturunan Alanja Khan yang mempunyai dua anak kembar, Tatar dan Mongol. Adalah Yasugi Bahadur Khan yang diyakini sebagai pemersatu kelompok-kelompok Mongol. Setelah meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya, Temujin yang berusia 13 tahun. Pada 1206, Temujin mendapat gelar Jenghis Khan. Ia membangun pasukan laki-laki dan pertempuan dalam kelompok 10, 200, serta 1.000 orang yang masing-masing dipimpin oleh seorang komandan. Dengan pasukannya itu, ia menaklukkan Cina dan menguasai sepenuhnya Asia Tengah. Kota-kota indah seperti Samarkand, Bukhara dihancurkan sama sekali. Penduduk dibantai habis-habisan. Sultan Ala Al-Din mencoba menghadang gerak pasukan itu di Bukhara. Ia tewas dalam pertempuran. Jalal Al-Din, anaknya, terpaksa lari ke India. Jenghis Khan mewariskan semangat berpetualang dan kebrutalan itu pada anak cucunya. Keempat anaknya, Juchi, Chagatai, Ogotai dan Tuli melanjutkan petualangan tersebut, menjarah wilayah-wilayah Islam.

Salah seorang cucu Jenghis, kemudian malah membangun armada laut yang melakukan ekspedisi militer hingga wilayah Nusantara, sehingga melahirkan insiden Tarik - Jawa Timur, yang melahirkan kerajaan Majapahit. Chagatai menguasai wikayah Ferghana hingga Azerbaijan. Saudaranya, Tuli menduduki Khurasan. Saat itu, kerajaan Islam terpecah belah dan tak mempunyai kekuatan berarti. Sangat mudah bagi pasukan Mongol -yang menghormat matahari terbit-untuk menaklukkan mereka. Sebelum meninggal pada 1256, Tuli sudah menguasai sebagian wilayah Irak. Hulagu tinggal melanjutkannya untuk menaklukkan Baghdad. Damaskus, Yordania, Nablus dan Gaza dengan mudah dikuasai pasukan Hulagu. Mereka mengincar Mesir yang dikuasai kesultanan Mamluk. Panglima Kitbugha mengirim utusan ke Mesir yang meminta Sultan Qutuz menyerah. Utusan Qitbhuga malah dibunuh. Di 'Ain Jalut, Sultan Qutuz bersama panglima Baybars memimpin sendiri pasukannya bertempur melawan pasukan Hulagu. Untuk pertama kalinya, pasukan Mongol dapat ditaklukkan.


Kekuasaan Mongol dilanjutkan oleh anak cucu Hulagu, yang dikenal dengan sebutan dinasti Ilkhan. Abaga, anak Hulagu, memeluk Krtisten. Penggantinya, Ahmad Teguder (1282-1284) masuk Islam, namun dibunuh oleh Arghun, raja keempat yang bertindak kejam terhadap orang-orang Islam. Posisi umat Islam membaik di masa raja ke tujuh Ikhan, Mahmud Ghazan (1295-1304). Ia sempat menganut ajaran Budha sebelum beralih ke Islam. Ghazan tertarik pada masalah peradaban. Ia membangun perguruan tinggi untuk mazhab Syafii serta Hanafi, observatorium, perpustakaan, bahkan juga padepokan atau semacam biara buat kaum sufi. Ia meninggal dalam usia 32 tahun, dan digantikan Muhammad Khudabanda Uljeitu (1304-1317), seorang penganut Syi'ah garis keras. Sultan terakhir dari Dinasti Ilkhan adalah Abu Sa'id (1317-1335). Kekuasaannya hancur setelah terjadi bencana kelaparan hebat akibat serangan badai dan hujan es. Kekuasaan pun terpecah belah, sampai kemudian dihancurkan oleh Timur Lenk, penakluk brutal lainnya yang juga keturunan Mongol. Serbuan Jenghis Khan hingga Hulagu Khan benar-benar membuat masyarakat Islam harus membangun kehidupan baru dari tingkat yang paling dasar. Tidak ada lagi wujud peradaban yang tersisa dari wilayah Asia Tengah, Selatan hingga Timur Tengah. Dinasti Mamluk mampu mempertahankan wilayah Mesir. Dari Mesirlah, kemudian peradaban Islam dibangun kembali.

Sumber : Ira M. Lapidus (1998), Hodgson (1997), Abdul L.Talib (2007) dan Hitti (1982)
:: Bahan kuliah tambahan buat mahasiswa saya mengenai "Titik Balik Peradaban Dunia" di Kelas Sejarah Peradaban Eropa.

Kamis, 04 November 2010

Ketika Tembok Cina Selesai Didirikan, Kemanakah Para Budak (di)Sembunyi(kan) ?

Oleh : Muhammad Ilham

"Ketika tembok Cina selesai didirikan, kemanakah para pekerja bersembunyi atau disembunyikan ?", demikian kata Ernst Bloch. Namun, Ernst Bloch telah menjawabnya. Tembok Cina sejatinya dibuat oleh para pekerja (baca: budak), tapi justru nama Shih Huang-Ti yang tercatat dalam tinta emas sejarah karena “masterpiece” dunia ini.

"Ketika tembok Cina selesai didirikan, kemanakah para pekerja bersembunyi atau disembunyikan ?", demikian kata Ernst Bloch. Untuk logika pertanyaan yang sama, akan timbul gugatan, kemanakah para mahasiswa bersembunyi atau disembunyikan setelah Suharto beserta rezimnya runtuh ? Kemanakah orang-orang yang dengan idealisme adiluhung mau secara tegar dihabiskan oleh ganas-garangnya Pembuangan Digul? Kemanakah mereka yang selama ini berjuang dengan “hati”, namun karena berbeda prinsip politik, mereka akhirnya dijadikan kambing hitam sejarah ?. Pertanyaan-demi pertanyaan akan terus bergulir. Namun, Ernst Bloch telah menjawabnya. Tembok Cina sejatinya dibuat oleh para pekerja (baca: budak), tapi justru nama Shih Huang-Ti yang tercatat dalam tinta emas sejarah karena “masterpiece” dunia ini. Berapa ribu budak menjadi “martir sejarah” hanya demi ambisi Fir’aun dengan proyek mercusuarnya, piramida. Suharto dan rezimnya telah jatuh, namun nama reformasi justru identik dengan segelintir orang. Terkadang, sejarah butuh tumbal untuk merubah arah geraknya.

Gerakan-gerakan nativis, ratu adil dan gerakan-gerakan yang dikompori oleh komunis yang nyata-nyata membuat daya dan energi kolonial Belanda “letih”, justru tidak diapresiasi secara proporsional oleh sejarah. Siapa yang kenal dengan Chalid Salim ? Adik “old-man greatest” H. Agus Salim ini, oleh Takashi Shiraisi, dianggap sebagai pribadi konsekuen. Chalid yang menghabiskan masa-masa produktif intelektualnya menggeluti komunis-sosialis, menjadi salah satu penghuni Digul pada tahun 1920-an s/d 1930-an. Masa itu, Digul adalah “daerah hantu pembuangan” yang ditakuti oleh para pejuang Indonesia. Bersama-sama teman-temannya, Chalid yang diakhir hidupnya menganut agama Nasrani (dan ini disyukuri oleh kakaknya Agus Salim karena selama ini Chalid memproklamirkan dirinya sebagai atheis), menghabiskan hari-harinya di daerah zona 3 Digul.
Ketika itu, Pembuangan Digul oleh Belanda dibagi atas 3 zona. Zona 1 untuk para digulis (orang buangan) yang setelah dibuang ke Digul memperlihatkan kompromi dan bisa “dibina” oleh kolonial Belanda. Mereka ini diberi insentif untuk biaya hidup. Zona 2 bagi digulis yang dianggap “abu-abu”, antara melawan dan kompromi. Zona 3 merupakan zona bagi digulis yang nyata-nyata melawan kepada Belanda. Mereka tidak diberi biaya hidup. Survival in the fittest nyata terjadi di Zona 3 tersebut. Di Zona 3 ini, para digulis banyak berasal dari Minangkabau, diantaranya Hatta, Syahrir dan Chalid Salim. Tapi sayang, Chalid Salim hilang entah kemana dari catatan sejarah. Sejarah pada akhirnya, meminjam istilah dedengkot mazhab Frankfurt-Juergen Habermass, adalah sejarah yang dikondisikan oleh pemegang hegemoni. Justifikasi intelektual yang mencari pegangan ke masa lampau sangat jelas terlihat dalam perjalanan panjang sejarah "anak bangsa" Indonesia. Kita sebagai bangsa yang merdeka, senantiasa berhadapan dengan ketentuan-ketentuan politik dan ekonomi-global yang tidak dapat dikendalikan, bahkan cenderung tidak disadari seperti yang dikatakan oleh Adam Smith -- "tangan-tangan yang tak terlihat".

Ada perasan hanyut dalam arus global itu dan obat untuk menstabilkan semua itu adalah masa lampau yang diharapkan dan dapat menjamin konsensus dan kemapanan. Pandangan seperti ini dikenal dengan istilah historisisme, sebuah pandangan yang mengabaikan sama sekali sejarah sebagai suatu perubahan dan dengan demikian menutup mata bagi kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik yang bisa diupayakan untuk masa yang akan datang
.

Sederhana yang ingin saya sampaikan dalam tulisan di atas ........ Saat sekarang ini, banyak diantara masyarakat Indonesia mulai melupakan sejarah dan track seseorang ....... sekali lagi : ketika menilai seseorang, lihatlah life-track
-nya.

Referensi : Takashi Shiraishi (2004)

Senin, 01 November 2010

Memahami Kearifan MITOS

Oleh : Muhammad Ilham

Mitos "dibodohkan" orang modern karena orang modern "memitoskan" kemodern-an mereka (Ali Shariati)

Jangan cari arti teks, tapi pahami bagaimana teks itu difungsikan... ! (Gadamer)

Mungkin karena takdir, Mentawai berada di daerah administratif Sumatera Barat. Karena takdir ini pulalah, hujan badai yang tidak bisa diprediksi dan terkesan fluktuatif (kadang panas, kadang mendung, kadang hujan lebat plus petir ... sering pula lampu mati) dikorelasikan sebagian orang dengan "masih banyaknya" mayat-mayat saudara-saudara kita di Sipora-Mentawai yang masih belum ditemukan. "Laut dan langit masih ngamuk, karena mayat masih banyak belum ditemukan. Padang dan sekitarnya masuk daerah Sumatera Barat, Mentawai juga Sumatera Barat, maka cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini harus kita tempatkan dalam hubungan itu.!". Sebagian orang meyakini, sebagian tidak. Pengetahuan turun-temurun dari nenek moyang sebagai alasan bagi yang meyakini, mitos yang tidak terukur bagi yang menolak. "Sudah banyak contoh selama ini", kata kawan saya yang meyakini ada hubungan antara respon alam dengan mayat yang masih belum ditemukan. "Sudah diprediksi secara terukur oleh BMKG jauh sebelum gempa-tsunamy terjadi, bahwa cuaca akan ekstrim pendapat kalian adalah mitos", kata kawan saya yang lain. Akhirnya, (selalu) perdebatan itu "dimenangkan" oleh kawan saya yang "memitoskan" BMKG dan parameter ilmiah. Di lain waktu, ketika ada alternatif lain yang ditawarkan oleh kawan saya yang lain pula, bahwa cuaca ekstrim, tsunamy dan gempa karena "Tuhan sudah mulai bosan" - meminjam istilah Ebiet G. Ade, kawan saya yang "me-mitos-kan" parameter ilmiah tersebut, juga mengatakan itu mitos. "Hukum alam yang berlaku", katanya. Saya tidak ingin mengomentari perdebatan ini lebih jauh, karena sangat paradigmatik dan debatable. Saya hanya tergelitik ketika perdebatan ini "menyudutkan" mitos (atau entah apapun-lah namanya). Menganggap mitos sebagai sesuatu yang tidak ilmiah, tidak terukur dan tidak bisa memberikan signal untuk menjaga peradaban dan ummat manusia ini. Seandainyalah mitos tak berguna (fungsional), mengapa ia selalu ada dalam "denyut nadi" perjalanan sejarah ummat manusia ?. Karena fungsional-lah, maka ia menstruktur. Karena ada kearifan dibalik mitos itulah, maka tradisi mitos itu hadir.

Terkadang kita sering menertawakan "nenek moyang". Mitos yang lahir dalam dunia dan masa "antah barantah", zaman dahulu-kala (sudah dahulu ditambah kala lagi) dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna, a-historis, merendahkan akal, membuat "dunia" tertawa dan seterusnya, yang pada dasarnya ingin mengatakan : "mengapa nenek moyang kita dahulu tidak seperti SPA - Socrates, Plato dan Aristoteles - yang meninggalkan warisan "pola asah logika", bukan mitos yang membuat logika tidak pernah matching ?". Mitos yang oleh C.A. van Peursen (Strategie van-de Cultuur, 1981) dianggap sebuah cerita yang hanya memberikan pedoman dan arah tertentu, dan biasanya universal, kepada sekelompok orang. Inti-inti cerita itu berbicara mengenai lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman manusia: kebaikan dan kejahatan, kehidupan-kematian, dosa dan penyucian, perkawinan-kesuburan, dan kehidupan setelah mati. Mitos, bagi van Peursen, bukan hanya sebuah dongeng, ia merupakan rumah pengetahuan bermasyarakat yang di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan. Sampai di sini pengertian mitos masih berbicara dalam salah satu bagian dari kearifan lokal suatu masyarakat dengan berbagai ekspresinya. Peradaban bergeser, maka makna kata dari mitos pun terdegradasi. Definisinya jauh telah berubah dari apa yang dulu coba disandingkan untuk membungkusnya. Ia tereduksi menjadi pengertian yang maknanya sama dengan kata “bohong”, “khayalan”, “asbun”, “bullshit”, dan kata-kata lain yang menghancurkan keingintahuan kita untuk mendalaminya. Ia menutup bentuk-bentuk kearifan lokal dan tradisi masyarakat nusantara yang sarat akan nilai dan filosofi. Ia telah terjatuh dalam sebuah himpunan .... tak berguna!.

Capaian manusia modern, yang terefleksi dari majunya ilmu (sains) mengganti capaian-capaian pengetahuan dan kearifan lokal seumpama mitos. Semua hal diuji guna mendapatkan kebenaran berdasarkan metode dan tatacara yang telah ditentukan secara ilmiah atau keilmuan. Dan tentu saja, bagi sains, “mitos” di nusantara “tidak dapat diuji” kebenarannya. Sains mengingkari nilai kepercayaan dan kearifan tradisi yang sesungguhnya mempunyai tempatnya sendiri. Padahal, tak semua hal—apalagi yang bersifat nonmaterial—bisa dipahami oleh sains. Sains tak mampu mengejar nilai kearifan (sains belum dapat menguji kebenarannya). Dalam perspektif simbolik, “mitos” di nusantara, memiliki fungsi sebagai bagian dari interaksi simbolik, baik ketika berbicara mengenai sejarah, informasi penting, pengetahuan tentang suatu hal, dan fungsi-fungsi lainnya. Nilai kepercayaan, kearifan, dan ekspresi-ekspresi tradisi nyatanya lahir dari latar belakang budaya yang kuat. Ia menciptakan suatu bentuk interaksi, di mana antara satu dengan lainnya berbicara dalam tataran simbolik, berbicara dalam kode-kode alam, ketika— inilah yang hebat — manusia masih menempatkan alam dan bagiannya (gunung, lautan, hewan, tetumbuhan) di atas eksistensi ke-manusia-annya, ketika manusia belum menjadi penakluk bumi yang sangar lagi hingar-bingar.

Ketika masih kecil, ada sebuah mitos yang sangat sering didengar bahwa di setiap pohon yang ada mata airnya ditunggui makhluk halus. Ini mitos untuk menyampaikan ajaran bahwa menghargai lingkungan hidup mutlak diperlukan untuk kelestarian sumber air. Apalagi fungsi pohon adalah tempat pelindung air agar bumi tidak terlalu panas dan menguapkan air ke angkasa. Kita sering diingatkan agar jangan pipis sembarang tempat, karena setiap tempat ada penjaga-nya. Harus minta izin terlebih dahulu, walau tidak pada manusia. Karena banyak orang yang menangkap ini sebagai mitos, maka banyak sudut-sudut bangunan di muka bumi ini yang berbau aring. Nenek moyang kita dahulu pada dasarnya ingin mengajarkan, minta izin itu penting, bukan hanya pada manusia, pada "makhluk lain" dan binatang, juga mutlak dilakukan, karena bumi ini bukan hanya dihuni oleh manusia saja. Dan karena tidak minta izin pada alam (dengan mempelajari apakah layak ditebang atau tidak), akhirnya banjir dan longsor sering terjadi.

Nenek moyang kita lebih arif dan luas dalam memahami segala sesuatu. Itu artinya mereka lebih cerdas dari kita yang secara apriori beranggapan bahwa mitos adalah sesuatu yang tidak perlu dan bahkan secara frontal menuduh sebagai musyrik, bidah, khurofat, takhayul terhadap sebuah mitos. Kenapa tuduhan ini terjadi? Ini berawal dari ketika Logika (logos) "dituhankan". Mitos versus logos yang akhirnya dimenangkan oleh logos. Mitos kemudian dijauhkan dari wacana ilmu pengetahuan modern saat ini. Termasuk yang menyingkirkan peran mitos adalah berkembangnya penafsiran terhadap agama secara “modern.” Padahal, Ali Shariati ketika membedah Imam Mahdi dalam perspektif Syi'ah mengatakan bahwa apabila agama yang dipahami melulu dengan rasio atau akal, justeru memiskinkan hakekat agama itu sendiri. Agama tidak lebih dipahami sebagai benda, yang bisa dianalisa, dipotret, dipotong-potong oleh pisau bedah ilmu dan kemudian hanya diletakkan di laboratorium-laboratorium universitas. Agama dalam pengertian seperti ini tidak akan berkembang sebagai jalan dan petunjuk hidup manusia yang bercahaya terang benderang yang menerangi eksistensi manusia. Agama pun mengalami reduksi makna besar-besaran .... (wallahu'alam, semoga saya salah)

:: terinspirasi dari diskusi diantara kawan-kawan kampus .. !