Minggu, 13 Juni 2010

Albert Camus dan Saya

Ditulis ulang : Muhammad Ilham (cq. Deddi Arsa)

“Apa jadinya aku tanpa jam-jam kantor?” (Albert Camus).

Saya membayangka Camus berjalan-jalan di kota-kota Aljazair, jauh dari jam kantor yang pernah dikutuknya. Sesekali ketika punya uang dia menyinggahi bar dan menghabiskan malam mendengar jazz. Hampir seratus tahun yang lalu Camus mengatakan hidupnya berada di antara keinginan bunuh diri dan semangat yang menggebu-gebu namun gampang padam. “apa yang kau pikirkan tentang hidupmu di masa depan adalah kesia-siaan yang kau rawat senantiasa.” Dan kini, bayangan Camus tetap hidup meskipun diingat dengan keengganan yang parah. Saya tak tahu, apakah Camus pernah ke Indonesia. Jika pun pernah, dia akan tahu lebih dari orang Indonesia sendiri, bahwa kemiskinan dan rasa bersalah lebih membunuh dari bencana kemanusiaan yang paling parah sekalipun, seperti perang dan wabah. Indonesia adalah tempat yang pantas untuk Camus, ironi adalah kehidupan sehari-hari itu sendiri.

Tidak, tidak, Camus tidak pernah ke Indonesia. Dan saya percaya, Camus tidak mengenal kota saya ini. Saya katakan pada Anda, kota ini tak pernah mengakui keberadaa bar dan diskotik, meskipun diam-diam semuanya itu ada dan berdenyut setiap malam. Jika Anda datang dari jauh dan bertanya, arah ke manahkah tempat di mana Anda bisa menghabiskan malam-malam Anda dengan mendengar jazz dan segelas bir, saya tidak tahu, sungguh tidak tahu. Ke Vallas (apakah saya salah tulis?) atau ke mana? Saya bisa saja membayangkan bahwa Anda datang dari masa lalu yang jauh, seratus tahun yang lalu barangkali. Saya membayangkan Anda Camus yang datang mengunjungi kota saya. Dalam ransel Anda ada beberapa catatan-catatan yang Anda bawa dari Prancis—berapa ongkos ferry dari Marseile ke Aljazair?

Saya bisa saja keliru, dan sudah pasti keliru, tapi kita kadang perlu merawat impian-impian yang tak akan pernah jadi nyata sekalipun untuk merasa bahagia. Ini kebahagiaan yang semu, ya, saya tahu. Tapi apakah yang tidak semu dari hidup kita ini? Saya tak pernah mencintai kota saya ini, tetapi ada beberapa hal yang membuat saya tak bisa meninggalkannya. Sesekali saya merindukan pementasan drama yang panjang dan menarik, tapi hal itu jarang sekali terjadi. Sering saya dengar justru khotbah-khotbah dari seorang yang sok tahu dengan pemain yang bergerak seperti orang-orang terjangkiti ayan.

Kadang, saya ingin berjalan sendirian di pantai, atau memasuki pasar. Membicarakan pasar, saya kadang ingat Olie, dia mungkin tak pernah membaca Camus, tapi sekali dia memperlihatkan sebuah sajak yang panjang dalam bahasa Inggris. Anda sudah tahu sejak lama, Inggris saya buruk. Saya tidak bisa seperti Olie yang terkagum-kagum melihat pasar dunia ketiga. Rumah saya sekitar 7 kilometer dari pantai, 7 kilometer dari pasar. Pantai dan Pasar, betapa sulit keduanya dibedakan dalam diri saya, sama-sama berdebur, sama-sama hiruk-pikuk. Di titik di mana kita ditelan kesunyian yang parah, kesepian yang tak tertahankan sakitnya, pasar dan pantai bisa jadi penawar. Tapi hidup kita sehari-hari tak melulu bergelut dengan pasar, dengan pantai.

Barangkali ini tak penting. Baik, saya akan berbicara masalah lain. Ketika malam saya tidak bisa tidur karena cuacanya terlalu panas. Saya merindukan punya istri dari daratan yang mataharinya agak sedikit lembut. Di kota kami, Anda yang datang dari negeri yang memiliki empat musim tidak akan bisa merawat hidung Anda untuk tidak jadi merah. Kota kami, kota dengan matahari yang garang, kota yang membuat hidung siapa saja jadi merah. Di masa lalu, gelombang pantai barat menelan sejarah kapal-kapal dagang, dari Peranggi, VOC, perusahaan India Timur, Prancis dan Amerika, Inggris dan Spanyol, mereka tidak pernah lebih berani dari seekor anjing kampung untuk berlabuh di pantai kota kami. (Saya mengatakan ini kepada Anda hanya untuk mengenang dosen saya yang memberi saya sebuah majalah, Amogapasha, majalah arkeologi, yang di dalamnya ada beberapa tulisan tentang tinggalan dunia bawah laut pantia barat!).

Dan Camus, kembali ke Camus, saya membayangkan dia menaiki kapal, melambai pada daratan Eropa yang kering-basah. Afrika, Afrika, tempat orang-orang Arab membangun kemah, dan angin gurun Sahara menghembus memasuki kota memasuki hidung—bersiap-siaplah untuk mimisan ya Saudara. Dalam ranselnya yang berat, kritik-kritik Sartre, Kierkegaard (maa, saya tak begitu baik mengenal mereka), juga bayangan kota Stalin yang baru saja diruntuhkan perang saudara, terus diusung dari hotel ke hotel. Sayang, Camus tidak pernah ke Indonesia, tidak pernah ke Padang yang panas ini! Saya akhiri, saya membayangkan Camus tak bernyawa di sebuah hotel murah di Aljazair, TBC, pes, dan masa lalu yang akut merontokkan dadanya sejak lama, kesepian telah mematahkan batang leher dan mencopot kelaminnya yang panjang. Jika Niethsche menjadi gila sebelum kematiannya, saya tidak tahu, kesunyian seperti apa yang diidap Camus sebelum pintu hotel di kota Aljazair itu didobrak dengan paksa.

(c) Dedi Arsa

Sabtu, 12 Juni 2010

Machiavelisme dan Demokrasi

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Politik kekerasan yang menghias wajah demokrasi Indonesia seakan menjadi tradisi dan budaya modern yang mendapatkan posisi legal ditengah dehumanisasi nilai. Budaya desposit, instan, utopia, egois, hedonis, amoral, tidak tahu malu seperti menjadi sopan santun baru dalam sistem demokrasi yang penuh ketidakpastian. Pada aras masyarakat dan bangsa politik kartel, anarkis, sektarian, oligarkis, monopoli, KKN, ikut mendekonstruksi etika politik yang dibangun diatas peradaban agung negeri ini. Semuanya kemudian diarahkan pada satu kalimat sederhana sebagai pembenaran, Politik Machiavellis. Kalimat yang kemudian disalahtafsirkan sebagai politik menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan-tujuan politik dan kekuasaan. Pada titik ini, bolehkah kita menyalahkan demokrasi dan menganggapnya sebagai biang sebab kejahatan politik dan birokrasi yang telah menjelma menjadi sebuah genosida sosial dan hukum. Ataukah ada musabab lain yang ter-incognita dalam kepalsuan diri? Bisa jadi demikian adanya. Plato dalam karya besarnya Politeia sempat mengaku kecewa terhadap sistem demokrasi dinegaranya polis Athena bahkan ia sudah sampai pada keputusan untuk tidak mempercayai demokrasi. Kondisi ini tak kalah dengan apa yang diteriakkan oleh Epimenides (abad ke-6 SM) dan Eubulides (abad ke-4 SM). Epimenides, seorang Kreta, saking kesalnya terhadap kebobrokan warga Kreta, mengatakan ”Semua orang Kreta pembohong” (All Cretans are liars).

Pertanyaannya: Apa yang salah dengan Machiavelisme? Apa yang keliru dari tesis Plato? kemudian, pernyataan Epimenides itu benar atau salah? Sebab, jika pernyataan Epimenides benar, maka dia berbohong dan sebaliknya jika pernyataannya salah, maka dia benar. Karena ia adalah bagian tak terpisahkan dari komunitas warga Kreta. Plato tidak keliru, juga tidak ada yang salah dengan Machiavelli sebuah kata yang dinisbatkan pada seorang tokoh klasik Italia Niccolo Machiavelli. Demikian juga dengan Epimenides, bukan seorang pembohong. Mereka menyatu dalam sebuah simpul dialektis yang merupakan episentrum permasalahan, yakni tindakan para penguasa yang tidak sesuai dengan kehendak rakyat. Sesuatu yang sering diperdengarkan oleh kalangan aktifis dengan bahasa “ada oknum yang bermain”. Bermula dari hal ini mengispirasi solusi adanya peraturan yang membolehkan rakyat memberikan masukan kepada para penguasa agar aspirasi mereka bisa dilaksanakan. Sebaliknya, penguasa juga bisa diawasi dan dikontrol agar tidak bertindak sewenang-wenang.

Dalam bahasa almarhum Cak Nur, negara harus dibangun oleh sebuah sistem serta kelembagaan dan bukan oleh kharisma tokoh atau pemimpin. Untuk urusan moralitas, Plato menyarankan agar menghindari serta membebaskan diri dari kuasa irasional hawa nafsu dan emosi serta mengarahkan diri menurut akal budi yang rasional. Senada dengan filsuf Hanna Arendt, aktivitas politik tidak berarti hendak mengejar suatu tujuan akan tetapi ia adalah tujuan itu sendiri. Pelibatan diri dalam dunia politik tidak dimaksudkan untuk memperoleh kesejahteraan bagi diri, tetapi lebih untuk merealisasikan berbagai prinsip intrinsik kehidupan politik, seperti kebebasan, persamaan hak, keadilan, solidaritas dan kesejahteraan publik.

Partisipasi politik dan pandangan hidup penguasa bukanlah dalam terma kemuliaan dan prestise pribadi dan kelompok, tetapi dalam terma kebebasan dan kebahagiaan publik. Sebuah revolusi pemikiran yang termanifestasi dalam Pemerintahan Rakyat (demos-cratos). Dalam perkembangannya, oleh para ahli seperti JJ Resesou, Montesque, Voltaire dkk membuat aturan main yang lebih fair, de contract social, trias politica, liberte, egalite, en fraternite sebagai patokan mutlak dalam pemerintahan. Ide-ide diatas dirangkum jadi sebuah sistem yang sekarang kita sebut demokrasi. Anehnya, Niccollo Machiavelli yang dilabeli bapak politik kekuasan dengan tindakan politik menghalalkan segala cara adalah manusia yang paling menjunjung tinggi demokrasi dan menolak politik kekerasan.

Niccolo di Bernardo Machiavelli kerap salah dipahami orang. Ironisnya, kesalahpahaman ini bersumber dari salah satu karyanya, il Principle (Sang Pangeran). Sebagai seorang pemikir, akademisi, filosof dan birokrat apa yang tertuang dalam buku tersebut hanyalah refleksi dari hasil observasi, studi, dialog, diskusi, perenungan, dan pengalaman dia yang kemudian dituangkan dengan tinta sebagai sebuah buku. Sesungguhnya, dalam bukunya yang lain, Discorsi Di Niccolo Machiavelli, Citadino, et Segretario Fiorentino, Sopra La Prima Decca Di Tito Livio, a Zanobi Buedelmonti, et a Cosimo Rucellai, ia justru memihak dan membela demokrasi yang fair dan sehat. Buku ini yang lebih simpel disebut La Discorsi atau Politik Kerakyatan adalah pilihan moral Niccolo Machiaveli dan bukan “Machiavelism”.

(c) Ahmad Mony/Note-diskusi Facebook

Rabu, 09 Juni 2010

Hitler dan IsraHell

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Seorang pria melangkah dengan gundah. Di kepalanya bertumpuk segudang pertanyaan mengenai mimpi-mimpi buruk yang ia alami selama ini. Entah dari mana datangnya dan bagaimana awalnya mimpi-mimpi buruk itu terjadi ia tak begitu paham. Ia bingung dan mulai tak fokus dengan pekerjaannya. Alih-alih menemui psikiater ia menemui seorang peramal terkenal di Linz—salah satu kota di Austria—yang bernama Allois Muller. “Siapa namamu,” tanya Muller. “Zaitz. Gearl Zaitz,” jawab pria itu. “Lalu apa yang hendak kau ketahui?” tanya Muller tanpa basa basi. “Begini, beberapa hari ini aku mengalami serangkaian mimpi buruk—yang terus menerus berulang setiap malamnya—yang berisi rangkaian peristiwa mengerikan. Aku melihat pembantaian dan pembunuhan di mana-mana. Tua muda laki-laki perempuan. Darah dan daging berserak di sekian penjuru. Gedung-gedung hangus terbakar. Aku tak tahan.” Zaitz terdiam sementara Muller mendengarkannya dengan serius. “Hal ini membuatku tak berani untuk sekedar menutup mata karena setiap aku tertidur bisa dipastikan kekejian itu selalu datang menghampiri,” mulai terasa getaran dalam suaranya. “Apa sebenarnya yang akan terjadi padaku dan apa yang mesti aku lakukan?” pria ini mulai putus asa. Muller menghela napas perlahan. Ia memandangi pria kalut di depannya. Sejenak kemudian ia melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh paranormal Eropa—yang tentunya berbeda dengan Mbah Dukun yang suka menyemprot pasennya kata Alam—sebelum akhirnya kata-kata ini terlontar dari mulutnya. “Ini bahaya.” Keringat dingin bercucur di kening Zaitz. Kebingungan semakin terpancar dari matanya.

“Ketahuilah, apa yang terjadi di mimpimu itu adalah apa yang akan terjadi di masa depanmu. Anda akan menjadi penyebab munculnya pembantaian terbesar dalam sejarah umat manusia.” Sekali lagi Muller berkata tanpa basa basi. Mukanya serius. “Apa maksudmu?” Zaitz semakin ketakutan. “Terimalah itu karena itu adalah takdirmu. Tak ada yang bisa kau lakukan dan bahkan kematianmu takkan bisa untuk mencegahnya.” Zaitz keluar dari ruangan itu dengan muka merah; campuran antara kemarahan, kesedihan dan kebingungan. Sepanjang perjalanan ia mencerna kembali apa yang sudah diucapkan oleh Muller. Ia tak mampu menelan konsepsi itu. Kenapa aku bisa menjadi penyebab pembunuhan massal itu, pikir Zaitz. Otaknya semakin panas. Ia kalap. Ia membentak-bentak entah pada siapa. Di sebuah rel kereta api Zaitz berhenti. Ia tahu bahwa tak lama lagi ada kereta yang akan lewat. Pria itu kemudian merebahkan satu kepalanya di sisi rel dan kakinya di sisi rel yang lain. Bahkan kematianmu takkan bisa mencegahnya, kembali ia teringat kata Muller. Entah apa maksudnya itu tapi yang ia mau ia ingin mati hari ini. Zaitz memandangi langit biru dengan nelangsa. Suara kereta api mulai terdengar di kejauhan. Kerongkongannya mulai terasa kecut. Ia tak mampu memandang ke arah kereta lalu ia memalingkan wajahnya ke sisi lain. Ia terkejut. Ada anak kecil di bagian ujung yang melakukan hal yang sama dengannya. Ia pun ingin bunuh diri tampaknya. Tanpa panjang pikir ia kemudian berlari secepatnya. Ia berusaha mendahului kecepatan kereta api yang berteriak kencang di belakangnya. Dengan satu gerakan cepat ia merangkul bocah itu dan meloncat ke samping dan kereta berlalu kencang di belakangnya. Nyaris. “Apa yang sedang kau lakukan?” Zaitz panik dan marah.

Bocah itu menyapu pakaian yang ia kenakan lalu menatap Zaitz tajam. Ia sepertinya tak suka dengan apa yang terjadi barusan. Dengan dingin ia menjawab, “… aku hanya melakukan apa yang juga kau lakukan.” Zaitz terdiam. “Tapi kau masih kecil, paling-paling umurmu masih delapan.” “Sepuluh,” cepat-cepat bocah itu meralat. Ia sakit hati diperlakukan seperti anak-anak tampaknya. “Dan itu bukan urusanmu!” “Hei dengar, kau masih begitu muda. Apapun yang terjadi padamu selama ini janganlah kau jadikan alasan untuk membunuh dirimu sendiri. Banyak hal besar yang bisa kau lakukan kelak. Jangan kau tamatkan semua itu dengan meletakkan kepalamu di pinggir rel. kau mengerti.” Bocah itu terdiam. Ia teringat setiap setiap pukulan keras dari ayahnya dan ibunya yang tak pernah membelanya sedikit pun. Ia pun teringat perilaku bullying di sekolahnya. Ia selalu diperlakukan sebagai orang aneh; lelaki yang suka menangis. Ia sudah tak tahan dengan semua tekanan itu. Aku benci semua Yahudi itu, umpatnya dalam hati. Zaitz mendekat. Ia memegang bahu bocah itu. “Aku tahu kau benci dengan kehidupanmu. Tapi mengakhiri hidupmu hari ini—bersamaku—sepertinya bukan opsi yang cemerlang. Kau sepertinya akan menjadi orang besar kelak. Aku tahu itu. Jadi hentikanlah usahamu membunuh dirimu sendiri. Kau bisa berbuat yang jauh lebih besar dari itu.” Entah kenapa bocah itu terkesima dengan pandangan Zaitz. Ia kemudian berdiri dan melangkah perlahan meninggalkan Zaitz. “Hei bocah, siapa namamu jika ku boleh tahu.” “Hitler. Adolf Hitler,” dan ia tersenyum sembari meninggalkan Zaitz. Setelah peristiwa itu Zaitz pun bisa tidur dengan nyenyak. Ia yakin bahwa prediksi Muller akan masa depannya itu salah. Ketimbang mengakhiri hidupnya ia kemudian menyelamatkan seseorang dari percobaan bunuh diri dan ia bangga akan itu. Tapi sepertinya sejarah berkata lain. Bocah yang ia selamatkan itulah yang kelak menghabisi hampir 35 juta manusia; angka genosida tertinggi sepanjang sejarah modern mampu mencatat. Prediksi Muller hanya melenceng sedikit saja tampaknya—atau lebih tepat?

Pria berkumis konyol ini dibahas di FIB UI. Seorang profesor dari Universitas Siegen Jerman, Dr. Peter Matussek, memberikan ceramahnya tentang Hitler sesuai dengan buku yang ia tulis mengenai Hitler. Buku itu berjudul “Affirming Psychosis the Mass Appeal of Adolf Hitler”. Sepertinya ia berusaha mendekati pria dengan satu zakar ini melalui pendekatan psikologis dam sosiohistoris. “Hitler terlahir dengan segala kegagalan dalam kehidupan awalnya dan dia sangat tidak nyaman dengan semua yang baginya sangat memalukan,” Matussek membuka pembicaraan. “Segala kekurangan ini kemudian mencipta semacam delusion of grandeur di kemudian hari yang sayangnya menjadikan kedinamisan terhadap segala inferioritas di dalam dirinya. Hitler bermimpi mencipta ras tertinggi di dunia dengan mengeyahkan bangsa lain yang dianggap telah merusak tatanan peradaban.” “Mendekati Hitler sebenarnya juga merupakan dilema tersendiri,” sebagai pria dari generasi kedua atau yang terlahir setelah Perang Dunia II, Prof. Matussek sepertinya ingin mempertanyakan generasi-generasi terdahulu yang telah membiarkan pembantaian massal ini terjadi. Bahkan kakeknya pernah terlibat dalam Nazi. Perdebatan mengenai Hitler, Nazi, holocaust dan rasisme pernah terjadi di antara tiga generasi di rumahnya ia mengaku.

“Hitler—individu dengan efek kehancuran yang dahsyat—ini mengidap gejala psikosis yang sebenarnya mengarah kepada skizofrenia. Gejala-gejala paranoid yang ia alami—mungkin pengaruh masa kecil di lingkungannya dulu—semakin membuat saya yakin ada sesuatu yang sebenarnya luar biasa dalam diri Hitler. Yang jadi pertanyaan bagi saya adalah dari mana semua energi ini berasal? Dari mana Hitler mendapat ide-ide penuh delusi itu? Mendekati Hitler dengan menganalisa psikososialnya bagiku adalah untuk berusaha mencegahnya munculnya Hitler-hitler selanjutnya,” harap Prof. Matussek mengakhiri paparan awalnya dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Aku menjadi penanya pertama. “Hitler pada suatu peristiwa pernah berkata bahwa ia tidak berniat untuk membunuh semua Yahudi itu, ia akan menyisakan sedikit untuk memperlihatkan kepada dunia seperti apa berbahayanya para Yahudi ini kelak. Tapi nyatanya ia tetap membunuh semua Yahudi itu sementara yang tersisa adalah mereka yang kemudian meninggalkan Jerman. 15 tahun setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II muncullah negara Yahudi pertama di dunia setelah berjuang selama 2.000 tahun—yang entah kenapa tidak didirikan di Eropa saja—yaitu Isra…hell,” ujarku sembari pura-pura batuk. “Dan beberapa waktu lalu seluruh dunia menyaksikan bagaimana prilaku crime against humanity dilakukan tentara-tentara Yahudi itu terhadap relawan kemanusiaan yang hendak menolong mereka yang tertindas di Gaza Palestina. Di sini aku melihat ada dua ideologi terkait dengan wacana nasionalisme; Jerman dengan Third Rheich-nya dan Israel dengan tanah yang dijanjikan itu. Kita—aku dan Anda—mungkin berbeda dalam memandang Hitler hari ini karena ingatanku tentang Hitler hanya didapat dari film-film Hollywood yang tentunya pro-Yahudi. Jika Anda mencoba menggali psikologis Hitler secara personal mungkin lebih baik dikembangkan ke psikologi massa—terutama Jerman kala itu—yang mendukung sepenuhnya ide-ide Hitler untuk meninggikan ras Arya itu. Bagiku ada yang salah dengan Jerman saat itu.” “Aku bisa merasakan apa yang Anda rasakan dan aku hargai kejujuran Anda mengenai perasaan Anda terhadap kaum Yahudi. Menurutku di Israel juga masih banyak warga Yahudi yang tidak setuju dengan program pemerintahnya dalam menginvasi dan mengembargo Palestina,” ujar profesor itu.

Hitler, setelah Perang Dunia I, di dalam penjara dia menyelesaikan Mein Kampf-nya dan dalam buku itu ia menyusun pembelaannya berikut strateginya terhadap kaum Yahudi yang ia anggap sebagai faktor kuat yang menyebabkan Jerman kalah dalam perang. Dalam persidangan ia kemudian menjadi orator yang ulung yang mampu memukau semua yang hadir kala itu. Hitler berkata, “benar aku adalah penghianat negara tapi ada jauh lebih penghianat dariku. Mereka adalah pemerintah pusat yang tidak pernah memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dan membiarkan martabat bangsa Jerman yang mulia ini lebih rendah dari kaum Yahudi.” Tahun 1925 Hitler mencopot kewarganegaraan Austria-nya dan tujuh tahun kemudian ia mendapatkan kewarganegaraan Jermannya. Setahun kemudian ia menjadi Kanselir Jerman dan setahun setelah itu ia mulai menjalankan aksi politiknya sebagai Sang Führer yaitu dengan membunuh lawan politiknya dan mendata jumlah Yahudi di Jerman. Keberhasilan Hitler dalam mengurangi jumlah pengangguran dan perbaikan ekonomi malah membuatnya didukung oleh sebagian besar warga Jerman. Bahkan, di masanya Hitler mengusulkan kendaraan murah yang bisa dijangkau oleh warga Jerman dengan nama Volkswagen atau yang kita kenal dengan VW hari ini. Selepas diskusi aku bertanya pada Prof. Matussek ini apakah ada yang positif dari Hitler dan setelah agak lama ia berpikir ia menggeleng. “Nothing,” katanya. Seperti yang ia jelaskan tadi di kelas bahwa ia malu menjadi rakyat Jerman hari ini yang memiliki sejarah kelam yang akan tetap melekat sampai kapanpun dalam diri rakyat Jerman. Tampaknya, berbeda dengan rakyat Indonesia yang selalu berdamai dengan masa lalu, rakyat Jerman hari ini terbebani dengan sejarahnya tapi mereka mampu bangkit untuk itu. Di sini, sejarah selalu menjadi bahkan olok-olokan saja. Tak banyak anak mudanya yang menghargai masa lalunya.

Siapa hari ini yang mau mengetahui keterlibatan puluhan ribu Muslim Bosnia yang tergabung dalam Brigade Handjar dan Brigade Kama yang kemudian tergabung dalam IX Waffen-Gebirgs Korps der SS (Kroatisches) dalam kegiatan-kegiatan Nazi? Siapa hari ini yang mau tahu seperti apa peran Partai Fascist Indonesia (PFI) sebagai perkumpulan pribumi dalam menelikung partai fasis asal Belanda seperti Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie (NIFO), Fascisten Unie (FU), dan Nationaal Socialistische Beweging (NSB) dalam memperjuangkan konsep kebangsaan (yang tentu berdasarkan ras tertentu itu)? Hari ini, semua orang—tua dan muda—lebih sibuk membahas video porno dari Ariel-Luna Maya-Cut Tary seraya menunggu siapa lagi nama-nama yang akan keluar. Tim ITE dan UU-nya malah akan memberlakukan penghukuman bagi mereka yang mendownload dan menyebarkan video-video tersebut. Sepertinya akan ada barisan anak muda nanti yang membela haknya untuk mendownload film-film bokep. Cerita keseharian anak muda kontemporer dan politik banal anggota DPR yang sibuk minta dana aspirasi selalu lebih seru untuk dibahas ketimbang peristiwa masa lalu. Mungkin oleh karena itu keterpurukan peradaban selalu menjadi teman perjalanan bangsa ini dalam meraih masa depannya. Bangsa ini tak pernah mau belajar dari sejarahnya sendiri. Bangsa ini adalah bangsa yang terjebak di hari ini; bangsa yang terjebak di kekinian dan di kesinian belaka.

(c) kiriman dari adinda Devy Kurnia Alamsyah : semoga makin tercerahkan !

Sejarah untuk Para Pemenang

Oleh : Muhammad Ilham

Terkadang sejarah adalah untuk para pemenang (Bradd Pitt: Film Troya)

Mungkin kita masih ingat, Presiden "eksentrik" Iran Mahmoud Ahmadinedjad pernah mencemooh tragedi Holocaust. Presiden Iran yang dianggap sebagai salah satu pemimpin negara "Poros Setan" a-la George W. Bush ini, menertawai kelatahan masyarakat dunia tentang tragedi Holocaust. Baginya, rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan. Holocaust adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan genocide (pemusnahan secara terencana) kelompok-kelompok minoritas di Eropa dan Afrika Utara pada Perang Dunia II oleh Adolf Hitler dan Nazi. Orang-orang Yahudi diyakini telah menjadi korban terbanyak dari peristiwa Holocaust ini. Paham diskriminasi ras telah membawa Hitler menempatkan ras-ras lain berada di bawah ras Arya. Kelompok-kelompok bangsa yang dianggap ras bawah seperti Yahudi, Polandia, Rusia, Belarusia-Serbia, Afrika dan Asia dicap sebagai golongan untermensch (manusia rendahan) dan menjadi target utama aksi “pembersihan” Nazi. Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah. Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun.


Para pendukung holocaust mengklaim bahwa yang menjadi korban holocaust adalah sebanyak 6 (enam) juta orang Yahudi, tapi para revisionis mengatakan bahwa pada saat itu hanya ada 3 (tiga) juta orang yahudi menurut penelitian yang mereka lakukan. Revisionis menyatakan adanya konspirasi yang terjadi dalam holocaust, yaitu kaum Yahudi untuk mandapatkan satu wilyah untuk dijadikan satu negara Israel.Dalam pandangan mereka bangsa Yahudi memang terlibat dalam konspirasi tentang holocaust, teori ini berdasarkan akan pengaruh kuat bangsa Yahudi pada Eropa dan Amerika utara. Sekarang penyangkalan holocaust telah bergeser ke dunia Arab yang dibawa oleh para revisionis, dan di negara-negara Arablah sekarang yang banyak mendukung peyangkalan tentang holocaust Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust. Dengan "Holocaust", rezim Zionisme-Israel ingin memberitahu "sejarah" bahwa mereka pantas untuk "dibela", mereka pantas untuk diprioritaskan dan mereka pantas dibackup negara Eropa dan AS dalam upaya menikmati "kedamaian" ala mereka di Timur Tengah, walau dengan mengusir rakyat Palestina dan sejarahnya. Amerika Serikat, siapapun Presiden mereka, dan dunia Barat pada umumnya, "membela" Israel atas nama Holocaust. Sebuah bentuk pemusnahan massal yang pantas dikasihani dan dijadikan tragedi ummat manusia.

Sekarang mari kita bicara Hiroshima dan Nagasaki. Serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki adalah serangan nuklir selama Perang Dunia II terhadap kekaisaran Jepang oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman. Setelah enam bulan pengeboman 67 kota di Jepang lainnya, senjata nuklir “Little Boy dijatuhkan di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diikuti dengan pada tanggal 9 Agustus 1945, dijatuhkan bom nuklir “Fat Man di atas Nagasaki. Kedua tanggal tersebut adalah satu-satunya serangan nuklir yang pernah terjadi. Bom atom ini membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945. Sejak itu, ribuan telah tewas akibat luka atau sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom. Pada kedua kota, mayoritas yang tewas adalah penduduk. Enam hari setelah dijatuhkannya bom atom di Nagasaki, pada 15 Agustus, Jepang mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, menandatangani instrumen menyerah pada tanggal 2 September, yang secara resmi mengakhiri Perang Pasifik dan Perang Dunia II. (Jerman sudah menandatangani menyerah pada tanggal 7 Mei 1945, mengakhiri teater Eropa.) Pengeboman ini membuat Jepang sesudah perang mengadopsi Three Non-Nuclear Principles, melarang negara itu memiliki senjata nuklir.

Pemboman Amerika terhadap dua kota besar Hiroshima dan Nagasaki tanggal 6 Agustus 1945 adalah peristiwa sejarah yang membuat trauma masyarakat dunia hingga saat ini. Pemboman dengan menggunakan Bom Atom yang dikenang sebagai sejarah besar peperangan dan penderitaan besar rakyat jepang atas kesalahan dua kubu yang saling berperang mempertahankan prinsip politik mereka. Bom Atom telah meluluh lantakkan kedua kota itu hingga mengalami penderitaan yang panjang dari generasi ke generasi akibat radiasi kimia yang diturunkan lewat genetika. Pemboman itu mengakibatkan kehancuran yang merata di daerah itu. Dalam film Dokumentasi dari Discovery Channel yang menggambarkan betapa menderitanya rakyat 2 kota tersebut yang tertimpa bom atom berkekuatan antara 15.000 dan 20.000 ton TNT. tersebut menewaskan 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki, semua itu dilakukan oleh Sekutu Amerika dkk. dengan alasan untuk membungkam angkatan perang kekaisaran Jepang yang terkenal sangat heroik, pantang menyerah dan loyal kepada kaisar, Jepang sendiri akhirnya bertekuk lutut pada sekutu 6 hari setelah dijatuhkan bom atom tersebut tepat pada tanggal 15 Agustus 1945 yang kemudian disusul merdeka nya Indonesia dua hari kemudian, yang menurut beberapa orang merupakan hadiah pemberian sekutu.

::: Pertanyaannya, mengapa "keji dan kejamnya" Amerika Serikat dan sekutunya tidak disamakan saja dengan Hitler cs.? Mengapa justru Holocaust dianggap sebagai bentuk pembantaian massal yang mencederai sejarah ummat manusia (walau kita sepakat bahwa Holocaust adalah sesuatu tragedi memilukan ummat "homo sapiens"), tapi pada sisi lain, negara Barat dan AS cenderung mengatakan bahwa "peristiwa tragis" Hiroshima Nagasaki hanyalah sebagai bentuk dari "konsekuensi logis" sebuah perang. Untuk hal yang sama .... bisa saja orang Jerman mengatakan bahwa Holocaust adalah bentuk yang logis juga untuk sebuah konflik sosial bernama perang. Ah .... terkadang sejarah adalah untuk para pemenang !

(Foto Holocaust dan Tragedi Hiroshima-Nagasaki : www.history.com & cnn.com)

Minggu, 06 Juni 2010

Tradisi Tulis dan Kekuatan Teks

Oleh : Muhammad Ilham

Verba Vallent Scripta Mannent - "ota" atau tradisi oral-verbal cepat hilang, sementara itu tradisi tulis akan abadi (No Name)

Kita mulai artikel ini dengan dua kata : "Tradisi Tulis". Menangislah sang penyair romantik, Gibran Kahlil Gibran dalam dalam salah satu puisinya ..... "jangan kau tangisi hilangnya harum mawar di taman, tapi tangisilah mengapa kita kehilangan tradisi menanam bunga di taman". Salah seorang filosog besar dari Mazhab Frankfurt (Frankfurt Cyrcle), Theodore F. Adorno, suatu waktu pernah mengatakan bahwa keprihatinan terbesar dunia intelektual bukan terletak pada berkurangnya hasil capaian-capaian terbaru ilmu pengetahuan. Keprihatinan dunia intelektual justru terletak pada kurangnya tradisi tulis. Semangat dan substansi yang boleh kita ambil dari apa yang dikatakan oleh penyair dari "Paris van Arab" serta apa yang dikemukakan oleh salah seorang peletak dasar Teori Kritisisme diatas adalah bahwa tradisi tulis menjadi sesuatu yang memegang peranan kunci dalam menjaga "ruh" tradisi intelektual. Matinya budaya tulis, akan memiliki konsekuensi pada matinya tradisi intelektual.

Dalam bukunya yang bertitelkan "Post Guttenberg Galaxy : The Fourth Revolution in Means of Production of Knowledge", Steven Hannard mengatakan bahwa telah terjadi tiga revolusi dalam sejarah pemikiran ummat manusia bila ditinjau dari konstruksi pengetahuan ummat manusia. Pertama, terjadi ribuan tahun yang lalu ketika bahasa pertama muncul dalam spesies "homo sapiens" ini (mengutip istilah Darwinisme). Kedua, dengan ditemukannya tulisan. Tidak bisa dibayangkan bagaimana pengetahuan ummat manusia akan berkembang tanpa adanya bahasa tulisan. Invention dari tulisan dapat dimaknai dan dipahami sebagai desakan dari naluri ummat manusia untuk menyempurnakan terus konstruksi maupun propagasi pengetahuan dengan cara yang lebih akurat dan massif kepada spesiesnya - yakni sang "homo sapiens". Kemudian, tulisan yang berbentuk sederhana ini pun belum memadai. Untuk menuliskan ide-ide kepada seribu kelompok manusia, diperlukan waktu yang sangat lama. Sedangkan ide dan pemikiran manusia dapat bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari kecepatan cahaya (tidak percaya ? Silahkan baca artikel fisikawan-fenomenal Stephen William Hawking). Maka, panggung sejarah kemudian mencatat nama Guttenberg dengan temuan "mesin cetak"nya. Temuan ini menjadi "starting point" sejarah tool konstruksi pengetahuan ummat manusia. Kini teks-teks (baca: tulisan-tulisan) dapat didistribusikan dengan kecepatan yang amat sangat tinggi -- suatu kemajuan yang amat dramatik-fenomenal bila dibandingkan dengan sebelumnya. Biasanya transisi perubahan dari tradisi oral-verbal kepada teks-tulisan membuat komunikasi menjadi lebih efektif, reflektif dan individual-personal, dibandingkan dengan pembicaraan langsung. Maka kehadiran mesin cetak menurut Steven Hannard, membuat lebih dimungkinkannya elemen interaktif yang terjadi dalam evolusi ilmu pengetahuan, misalnya jurnal-jurnal periodik. Hal ini kembali mempertegas, bagaimana pentingnya tulisan. Nyatalah, evolusi telah memberikan kepada kita keniscayaan kognitif dan teknologi (yang mentransfer tulisan) sebagai mediumnya.

Bahkan sekarang kita telah berada di ambang revolusi yang lebih lanjut (saya tak tahu dan tak memiliki kapabilitas-kompetensi untuk memberi label revolusi keberapa). Seluruh pendukung konstruksi pengetahuan seperti telepon, telegraf dan tulisan serta faximile-fotocopy, menyatu dalam suatu eksplosi yang merupakan big bang kedua (big bang pertama adalah ditemukannya tulisan). Big Bang kedua tersebut adalah internet. Internet, lengkap dengan komunikasi elektromagnetoopis via satelit maupun kabel dan didukung oleh jaringan telepon-telefoni yang telah ada dan juga didukung oleh ratusan satelit di "diluar sana". Ummat manusia dalam tahap revolusi ini, dapat berinteraksi oral maupun dengan teks dengan sangat interaktif, keseluruh penjuru-penghujung-sudut dunia ini, tanpa sedikitpun kehilangan interaktifitasnya maupun "sense of live"nya. Dalam ranah politik, selama ini kekuatan ekonomi dan genetic-heredetically yang dianggap sebagai sumber pengaruh potensial. Namun, paradigma yang paling signifikan terhadap pembentukan pengaruh belakangan ini adalah media. Orang yang menguasai, "memperkosa" dan mempengaruhi serta memiliki media-tulis-visual audio, berkorelasi dengan kemampuan dia mempengaruhi opini masyarakat.

::: Tradisi tulis menempati posisi kunci sebagai penyelamat dan penghidup peradaban manusia. Tidakkah kita ingin dan memiliki keinginan untuk menjadi bahagian dari penyelamat peradaban manusia. Bukan hanya sekedar "menjalankan tugas", tapi berusaha untuk "berbuat", sekecil apapun ia.

Romusha : "Catatan Pahit Zaman Kolonial Jepang"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Jika orang Indonesia diminta untuk mengatakan satu faktor yang menjadi pengalaman paling mengerikan selama pendudukan Jepang, mungkin dia akan menjawab ROMUSA. Kata Jepang Romusa yang hebat ini secara harfiah berarti seorang yang melakukan pekerjaan sebagai buruh kasar. Akan tetapi, dalam konteks sejarah Indonesia istilah ini mempunyai pengertian khusus yang mengingatkan rakyat akan pengalaman yang sangat pahit di bawah pemerintahan militer Jepang yang kejam (Hendri FI, 2008)

Salah satu tujuan pokok pendudukan Jepang di Asia Tenggara adalah untuk memperoleh sumber-sumber ekonomi dan untuk menciptakan suatu landasan pokok ekonomi yang penting demi kelangsungan perang di sana. Untuk mewujudkan tujuannya itu, Jepang menganggap tenaga kerja di Jawa yang berlebihan karena Jawa adalah pulau paling padat penduduknya sebagai sumber daya terpenting di Asia Tenggara. Sejak awal peperangan meletus, penguasa Jepang telah bersungguh-sungguh memobilisasi efektif atas tenaga kerja di Jawa dan memasoknya ke seluruh wilayah Selatan. Pada bulan November 1942, perjanjian ditanda tangani di Singapura antara Kepala Staf A.L. Barat Daya dan Kepala Staf A.D. Tentara Selatan yang menyangkut pertukaran komoditi dan bahan-bahan. “Tenaga Kerja” pun menjadi komoditi yang dipertukarkan.

Kemanakah para romusa dipekerjakan? berdasarkan kesaksian, romusa dipaksa bekerja tidak hanya didaerah yang berdekatan, tetapi diangkut kemanapun kalau terdapat tuntutan akan tenaga kerja oleh pihak Jepang. Di Pulau Jawa, Banten merupakan daerah utama penerima romusa, Diantara 17 keresidenan dan 2 kerajaan di Jawa, Banten memiliki kepadatan penduduk yang paling rendah, hanya 129,33 orang/km persegi, sementara rata-rata di Jawa 315,33 orang/km persegi. Para tenaga kerja romusa diperkerjakan pada pembangunan jalur kereta api sepanjang 150 km antara Saketi- Bayah. Jalur ini yang menghubungkan jalur kereta api yang ada antara Labuan dan Jakarta dengan wilayah patai selatan keresidenan dimana terdapat deposit tambang. Disamping mereka yang dikirim ke Banten, banyak diantaranya yang dikirim ke luar Jawa. Mereka di angkut hampir semua bagian Asia Tenggara dan beberapa bagian wilayah pasifik selatan, tempat dilaksanakannya proyek-proyek strategis. Salah satu proyek besar di Asia Tenggara yang melibatkan Romusa Jawa adalah pembangunan jalan kereta api Burma-Siam yang dimulai bulan Juli 1942 dan berakhir bulan Oktober 1943. Romusa merupakan luka sejarah yang digoreskan fasis Jepang yang hingga kini masih membekas– khususnya bagi orang-orang yang menjadi romusa “sejati” bukan romusa “terpelajar” atawa romusa “propaganda”, bahkan mungkin bagi keturunannya. Sebagai konsekuensi dari masa pendudukan, lantas perlukah kita bertanya: siapa yang bertanggung jawab dan menyukseskan program romusa ini? Haruskah beban itu ditimpakan kepada Soekarno? bukankah para pemimpin nasional lainnya dan para “terpelajar” juga menyukseskan romusa.

Pada posisi ini, Soekarno memang memiliki beban moril yang cukup berat dibanding tokoh-tokoh nasional lainnya. Pasalnya, dialah tokoh tertinggi yang notabene bekerja sama dengan Jepang melakukan kampanye propaganda dalam romusa ini. Pada akhirnya Soekarno mengakui bahwa dirinya membantu Jepang dalam pengerahan romusa. Pengakuan pahit, namun dengan jantan diungkapkannya. Romusa merupakan luka sejarah yang digoreskan fasis Jepang yang hingga kini masih membekas– khususnya bagi orang-orang yang menjadi romusa “sejati” bukan romusa “terpelajar” atawa romusa “propaganda”, bahkan mungkin bagi keturunannya. Sebagai konsekuensi dari masa pendudukan, lantas perlukah kita bertanya: siapa yang bertanggung jawab dan menyukseskan program romusa ini? Haruskah beban itu ditimpakan kepada Soekarno? bukankah para pemimpin nasional lainnya dan para “terpelajar” juga menyukseskan romusa. Pada posisi ini, Soekarno memang memiliki beban moril yang cukup berat dibanding tokoh-tokoh nasional lainnya. Pasalnya, dialah tokoh tertinggi yang notabene bekerja sama dengan Jepang melakukan kampanye propaganda dalam romusa ini.

Ribuan orang tak kembali. Mereka gugur di negeri asing– dan negerinya sendiri. Seringkali para romusa itu diperlakukan kejam, seperti di belenggu berdampingan dengan tahanan perang untuk membuat jalan Birma yang terkenal itu. Soekarno mengakui bahwa dia mengetahui keadaan mereka. Mereka diangkut dengan gerbong-gerbong kereta api yang tertutup rapat tanpa udara, dan ribuan dijejalkan sekaligus. Mereka tinggal kulit pembalut tulang. Dan Soekarno tidak bisa menolong mereka. Dalam kenyataannya, Soekarno yang mengirim mereka pergi kerja. Soekarno mengirim mereka berlayar menuju kematian. Soekarno membuat pernyataan-pernyataan untuk mendukung pengerahan romusa. Soekarno diambil gambarnya di dekat Bogor dengan Caping di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukan betapa mudah dan mulianya menjadi seorang romusa. Soekarnolah yang memberikan mereka kepada orang Jepang. Rasanya mengerikan sekali.

Referensi : Kontroversi Sang Koloborator, Hendri F Isnaeni, Penerbit Ombak, 2008, Bab : Romusa, Pergi Menjemput Mati Hal 69-80. Foto : Arsip Nasional/Upload/html

Sabtu, 05 Juni 2010

Ahmad Chatib gelar Haji Datuk Batuah

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam pergulatan sejarah pemikiran Islam akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 Masehi, Minangkabau pernah memiliki seorang Datuk, namanya Datuk Batuah – lengkapnya Ahmad Chatib gelar Haji Datuk Batuah. Orang Koto Laweh ini, pada masa itu sangat mencengangkan dan sekaligus mencemaskan. Persoalannya adalah Datuk Batuah yang haji itu adalah murid ulama ternama Haji Rasul alias Inyiak Dotor, ayahanda ulama legendaris Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Beliau sendiri sampai awal tahun 1923 berprofesi sebagai guru dan menjadi pengurus Thawalib Padangpanjang, Batusangkar dan Bukittinggi. Dalam sejarah, nama Datuk Batuah bukanlah nama yang bagus dikalangan pergerakan Islam, hingga kini. Sejarah mencatat Haji Datuk Batuah membawa dan, menyebarkan paham komunis diaerah tersebut. Pada tahun 1923 ia menanamkan ajaran komunis di kalangan pelajar-pelajar dan guru-guru muda Sumatera Thawalib Padang Panjang. Sumatera Thawalib adalah suatu lembaga pendidikan yang dimiliki oleh kalangan pembaharu Islam di Sumatera Barat dengan Inyiak Dotor sebagai “pilar” utamanya. Haji Batuah merupakan salah seorang pengajarnya.

Berawal dari Sumatera Thawalib Padang Panjang, paham komunis akhirnya menyebar ke berbagai daerah Sumatera Barat dibawa oleh para lulusan sekolah tersebut ke daerah asalnya. Penyebaran ini terutama dilakukan di kalangan petani. Oleh masyarakat setempat ajaran komunis ini disebut “ilmu kominih” (Schrieke, 1960: 155). Ilmu ini menggabungkan ajaran Islam dengan ide anti penjajahan Belanda, anti imperialisme-anti kapitalisme dan ajaran Marxis. Pada akhir tahun 1923 Datuk Batuah, bersama-sama dengan Nazar Zaenuddin (sebagian mengatakan Natar Zaenuddin) mendirikan pusat Komunikasi Islam di Padang panjang. Melalui media massa – Pemandangan Islam dan Djago Djago – Datuk Batuah memaklumkan diri sebagai “orang komunis”. Datuk Batuah menerbitkan harian “Pemandangan Islam” dan dan Nazar Zaenuddin menerbitkan “Djago-Djago” (Djago-Djago bukan berkonotasi fisik atau kuat-hebat, jagoan - namun lebih berkonotasi "pengingat" untuk tidak terhanyut dengan keadaan yang ada, tidak pasrah dan seterusnya).

Lembaga Pusat Komunikasi Islam dan kedua harian tersebut digunakan sebagai media penyiaran paham komunis. Padahal, kontribusi pencerahan yang dirintis oleh Datuk Batuah dengan Pemandangan Islam dan Djago Djago sungguh sangat luar biasa. Konon, pada masa ini, ada tiga media massa paling berpengaruh di Hindia Belanda, dua diantaranya terdapat di Minangkabau …… Pemandangan Islam dan Djago Djago. Bahkan, Ruth Mc Vey dalam bukunya The Rise of Indonesian Communism dan Takashi Shiraishi dalam bukunya Zaman Bergerak mengatakan bahwa Datuk Batuah dan Haji Misbach (yang ini tokoh Islam “kiri” Surakarta), sangat dihormati oleh kolonial Belanda bukan karena mereka “penjilat” akan tetapi idealisme mereka yang sangat tinggi untuk mencerahkan lingkungan masyarakat dan bangsanya.

Pada pagi 11 Nopember 1923 Datuk Batuah dan Nazar Zaenuddin ditangkap pemerintah kolonial Belanda. Segera setelah itu pusat propaganda komunis berpindah ke Padang ( Schreike, 1960: 60). Pucuk kepemimpinan PKI Sumatera Barat kemudian di ambil alih oleh Sutan Said Ali. Sejarah Datuak Batuah kemudian "terhenti" dan dibuang (diasingkan) bersama Natar Zaenuddin ke Tanah Merah - Boven Digoel, sebuah tempat pembuangan tokoh-tokoh pergerakan yang dianggap kolonial Belanda berpotensi mengganggu stabilitas politik yang mereka bangun. Digoel diibaratkan seperti Gullag-nya Uni Sovyet era Joseph Stalin, sebagaimana yang pernah dinukilkan oleh Alexander Solzhenitsyn dalam The Gulag Archipelago. Sejarawan Jepang, Takashi Shiraishi pernah mendeskripsikan Digoel atau Tanah Merah, dengan “penceritaan” yang menggentarkan. Begitu seramnya Digul, publik Belanda menyebut tempat interniran di tanah jajahan itu sebagai kuburan. Sekali didigulkan, orang seperti menandatangani kontrak kematian. Di daerah ini, kata Shiraishi, "Banyak yang hancur mentalnya karena putus asa." Di daerah ini pulalah, Datuak Batuah kemudian ”redup”. Ahmad Chatib yang bergelar Haji Datuk Batuah sampai hari ini, "seakan-akan" tidak ditangkap oleh layar sejarah sebagai aktor sejarah kontributif dan inspiratif. Terkadang sejarah selalu "bersimpang dua" - meminjam istilah filosof muslim, Hassan Hanafi.

Kamis, 03 Juni 2010

Mari Bicara "Sedikit" Tentang AGUS SALIM

Oleh : Muhammad Ilham

the grand old man Haji Agus Salim adalah seorang ulama dan intelek," kata Bung Karno tentang Haji Agus Salim (1884-1954).

(daripada membahas tentang Perselingkuhan Politik dengan Pengusaha, ditolaknya SKPP Bibit-Chandra yang ibarat Kereta Api Medan Belawan versi Nagabonar, atau "hondoh pondohnya" para advokat hitam jadi calon ketua KPK yang tidak lagi inspiratif....... baiknya kita buka "sedikit" ... ya, "sedikit" dari begitu "besar dan banyak"nya catatan hidup berharga dari seorang Agus Salim).

Julukan "orang besar yang sudah tua" itu masuk akal. Ketika rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia berlangsung, Juni-Agustus 1945, mungkin Agus Salim anggota tertua. Rata-rata umur para Bapak Bangsa adalah 30-45 tahun. Soekarno berumur 39 tahun, Hatta 43 tahun, sedangkan Haji Agus Salim sudah 61 tahun. Nama Haji Agus Salim adalah nama besar. Sama seperti umumnya 67 Bapak Bangsa Indonesia yang lain, pemikiran Agus Salim keluar dari kepompong kepentingan pribadi. Mereka mendahului zaman. Begitu juga Agus Salim. Mereka meninggalkan jejak langkah, warisan nilai-nilai luhur cita-cita kemerdekaan. Sementara posisi "mendahului zaman" itu bagi Agus Salim tidak selalu mengenakkan. Sejarawan Taufik Abdullah pernah mencoba membuka tabir Haji Agus Salim sebagai aktor sejarah. Ia merasakan kegetiran Agus Salim menjadi pemimpin yang berorientasi pada pembaruan. Peran seseorang dalam ruang publik, seperti ditunjukkan Agus Salim, menjadi lebih getir ketika dia tidak hanya terbatas mengisi peran sosialnya, tetapi melampaui batas-batas kesejarahan. "Salim menyelami apa artinya kegetiran itu. Ia menjalaninya dengan segala cerita lucu dan menarik," tulis Taufik Abdullah. Menurut Taufik, kumpulan cerita lucu dan menarik tentang tokoh the grand old man ini membuka tabir apa yang terjadi dalam dirinya. Sosok Haji Agus Salim menjadi ironis. Ironi Salim adalah ironi yang dilahirkan situasi kolonial ketika seseorang mempunyai harga diri yang tinggi. Bahkan juga ironi dari keteguhan sikap tentang seorang pejuang yang ditolak. Salim menyikapi ironi dalam komentar dan pernyataan yang lucu-lucu.

Ahmad Syafii Maarif mengingatkan lelucon kambing, salah satu anekdot yang banyak diingat dan dikutip orang tentang Agus Salim. "Embek, embek," ejek hadirin ketika Agus Salim sebagai pemimpin Syarikat Islam bersama HOS Tjokroaminoto naik ke mimbar. Ia disamakan dengan kambing. "Saya harap kambing-kambing dikeluarkan dari ruangan," kata Agus Salim setelah menyapa hadirin dengan kalimat "saudara-saudara dan kambing-kambing yang terhormat". Kini siapakah yang jadi kambing sesungguhnya? Keadaan telah berbalik. Agus Salim memberi makna penolakan itu dengan sikap melucu, bagian dari luapan kegetirannya.
Tepatlah mengangkat kembali pemikiran dan sosok Agus Salim di hari-hari kita merayakan kemerdekaan. Sosoknya menjadi aktual justru di tengah bangsa Indonesia semakin kehilangan sosok teladan dan sosok pemimpin, di tengah bangsa ini mencari calon pemimpin nasionalnya lewat pemilihan umum presiden 20 September.

Dua hal spontan muncul tentang tokoh Haji Agus Salim. Dialah seorang politikus ulung dan seorang ulama besar. Sebagai politikus, satu dari 68 Bapak Bangsa (founding fathers) itu memiliki beberapa kelebihan. Dalam tubuhnya yang kecil, berjanggut putih lebat, terhimpun berbagai kelebihan. Tidak hanya politikus ulung, tetapi juga seorang wartawan, ahli sejarah, ahli bahasa, praktisi pendidikan, dan filosof.
Selain politikus ulung, Salim juga sosok politikus beretika dan berkarakter. Menengok sejarah, ada yang membagi 68 Bapak Bangsa dalam empat kelompok, yakni Soekarno, Hatta, Soepomo, dan Mohamad Yamin. Di antara empat kelompok itu tersebut nama Haji Agus Salim, yang dituakan tidak karena umur tetapi juga karena pengalaman internasionalnya, terutama dalam penguasaan bahasa-bahasa asing. Karena kelebihan-kelebihan itu dia diminta menjadi salah seorang anggota Panitia Sembilan yang berperan besar dalam perumusan Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang semula berjudul Piagam Jakarta. Agus Salim merupakan satu dari para Bapak Bangsa yang semua mewariskan tradisi intelektualisme dan moral nasionalisme ke anak negeri ini. Ya .... dua kata sakti untuk jadi orang yang pantas diteladani : intelektualisme (beda dengan orang pintar) dan moralitas. Rasanya keteladanan putra Koto Gadang ini begitu bermakna sekarang ini.

Selasa, 01 Juni 2010

Mohammad Roem : "Saya tak punya waktu membenci Soekarno"

Oleh : Muhammad Ilham

Ketika melihat sebagian (bukan seluruhnya) dari elit politik Indonesia belakangan ini, “bermanuver”, rasanya saya rindu dengan tokoh-tokoh panutan Indonesia ketika awal Indonesia sebagai negara bangsa terbentuk, seperti (misalnya) Muhammad Roem. Disaat para sebagian elit, ketika kepentingan mereka tercederai, mereka “kasak-kusuk” mendelegitimasi sebuah keputusan politik, tanpa berusaha mencari solusi-solutif yang lebih “gentle”. Awalnya mereka diam, namun setelah “kalah”, mereka justru merasa dikalahkan. Dalam konteks ini, saya merindukan tokoh Masyumi yang lahir di Parakan Jawa Tengah 16 Mei 1908 ini. Muhammad Roem (dan sahabat-sahabatnya yang lain), bukan hanya seorang tokoh sejarah, tapi lebih dari itu – ia adalah seorang yang berbudi, demikian kata George Mc Turnan Kahin. Ketika ia wafat di Jakarta, September 1983 dalam umur 75 tahun, ratusan orang melayat. Kematiannya, kata Goenawan Moehammad, meninggalkan sebuah saksi perjalanan sejarah demikian panjang dan penuh.

Orang, sejarah dan buku sejarah hanya mengenal Roem sebagai diplomat. Perunding Indonesia vis a vis Belanda, terutama dalam persetujuan yang terkenal “Roem-van Royen”, Mei 1949. Namun, bagi orang yang tahu tentang sejarah, Roem lebih dari itu. Diplomat yang berjuang untuk pengakuan kedaulatan Indonesia ini, juga dikenal sebagai “pembawa dan perekat suara damai” bagi banyak pihak. Kahin menyebut Roem sebagai orang yang sanggup jadi “jembatan pengertian” antara kalangan yang berbeda-beda. Memang tak selamanya ia berhasil. Ketika Pemberontakan PRRI tahun 1958 terjadi di Sumatera, ia gagal mendamaikan “sahabat-sahabatnya” dengan pemerintah pusat. Padang di bom, perang pun pecah. Konsekuensi politis dari Pemberontakan ini, tahun 1960, Masyumi dibubarkan. Roem merupakan salah satu bagian penting dari Masyumi kala itu. Roem bersama-sama dengan tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) lainnya ditahan, sampai empat tahun lebih.

Tahun 1966, pasca keruntuhan rezim Soekarno, Roem dan kawan-kawannya dibebaskan. Bagi Roem, pengalaman ditahan tanpa bersalah itu tak menyebabkannya jadi orang yang pahit, apalagi sakit hati. Mochtar Lubis, sastrawan yang juga rekan satu tahanannya kala itu mengenang kebesaran Roem. Roem, kata sastrawan pengarang “harimau-Harimau” ini, tak pernah kehilangan proporsionalnya, walaupun dalam tahanan Soekarno. Dalam tahanan Soekarno-pun, kata Lubis, Mas Roem masih dapat membenarkan tindakan Soekarno di mana Soekarno memang benar. Kepada seorang wartawan Belanda yang mewawancarainya di tahanan, Roem tidak pernah memperlihatkan rasa bencinya kepada Soekarno. “Saya tidak punya waktu untuk membenci Soekarno”, kata Roem. Kemampuan membuat jarak dari pertentangan posisi dan pendapat itulah yang membuat Roem dihormati siapa saja. Tokoh PNI Ali Sastroamidjojo menyebutnya sebagai “kawan saya”. Tokoh militer-Kristen, Tahi Bonar (TB) Simatupang melukiskannya sebagai pejuang yang tidak “murah marah dan benci sekalipun sering banyak alasan untuk marah dan benci”. Ia dan kawan-kawannya yang lain, merupakan teladan bagi sejarah Indonesia. Kita punya teladan. Sudah sepantasnya kita tidak akan pernah (mau) meneladani sebagian tokoh-tokoh kita hari ini, karena memang mereka tidak pernah mau meneladani orang-orang seperti Roem. Saat-saat seperti sekarang ini, rasanya rindu kita memuncak padanya.

Rabu, 26 Mei 2010

Gagalnya Pemberontakan Banten dan Silungkang : 1926 - 1927

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Awal 1927, kaum pemberontak di Silungkang, Sumatera Barat, akhirnya mengikuti jejak rekan-rekan mereka di Banten, yang meletuskan pemberontakan pada pertengahan November 1926. Mereka menyerang kedudukan pemerintah. Sasaran utama adalah menangkap dan membunuh pejabat pemerintah, pejabat pribumi, dan kulit putih. Mereka merusak sejumlah instalasi publik, seperti stasiun dan kantor pos. Juga berencana membakar instalasi tambang batu bara dan menyerang semua simbol rezim kolonial di kota itu. Gerakan pemberontak itu dapat dipatahkan. Hanya sebagian kecil sasaran yang terpenuhi. Selebihnya menyisakan prahara berkepanjangan. Sampai 12 Januari 1927, lebih dari 1.300 orang ditangkap. Ratusan bom dan senjata api disita. Kebanyakan mereka dibuang ke luar Sumatera Barat, termasuk ke Digul. Ada pula yang dihukum gantung. Pemberontakan yang gagal di dua tempat (Banten dan Sumatera Barat) pada 1926-1927 itu cukup mengguncang rezim kolonial di Batavia. Mereka pun memburu pemimpin PKI dan onderbouw-nya, juga kaum pergerakan secara keseluruhan. Sejak itu penguasa kolonial bertindak bengis dan makin represif. Setiap anasir pergerakan nasional ditindas, dan partai-partai politik yang tak mau bekerja sama dengan pemerintah dilarang. Proses ini berjalan sampai akhir 1930-an. Orang-orang PKI menuduh Tan Malaka sebagai biang penyebab kegagalan pemberontakan. Ia dimusuhi dan dicap pengkhianat partai, Trotsky-nya Indonesia. Padahal, sejak semula Tan bukan saja tak setuju, melainkan juga berupaya mencegah rencana pemberontakan yang dirancang oleh kelompok Prambanan itu. Kelompok ini terdiri atas tokoh terkemuka PKI seperti Semaun (1899-1971), Alimin Prawirodirdjo (1889-1964), Musso (1897-1948), dan Darsono (1897-?), yang mendeklarasikan rencana pemberontakan di Prambanan, Solo, awal 1926. Sebagai pemikir yang cemerlang dan otentik sejak masa mudanya, Ibrahim Datuk Tan Malaka memiliki cukup alasan mengapa pemberontakan harus dikesampingkan. Salah satu argumennya ialah bahwa kekuatan pergerakan belum cukup matang. Masih diperlukan pembenahan organisasi partai guna menggalang basis massa yang kuat dan meluas, bahkan di luar kelompok komunis.

Tan, sebagai pemimpin paling terkemuka PKI saat itu, menganjurkan untuk sementara waktu pemimpin-pemimpin gerakan memperkuat organisasi dan tetap melakukan aksi-aksi ”pemanasan” dan agitasi di tempatnya masing-masing. Pendirian ini telah diutarakannya kepada Alimin dan kawan-kawannya. Dari tempat persembunyiannya di Singapura, ia bahkan telah menulis pandangannya lewat sebuah risalah bertajuk Massa-Actie (1926, terbit ulang 1947). Dalam buku kecil itu ia menampik rencana kelompok Prambanan seraya menyimpulkan bahwa rencana pemberontakan itu merupakan tindakan blunder yang bisa menjadi bumerang terhadap partai sendiri, bahkan juga terhadap semua partai nasionalis. Nyatanya memang demikian. PKI, yang didirikan pada 1920, hancur, dan aktivis partai meringkuk dalam penjara atau dibuang ke Digul. Kondisi ekonomi Hindia Belanda saat itu juga sedang membaik. Buruh cukup mudah mendapat pekerjaan, sebagian pemuda mendapat kesempatan mempelajari bahasa Belanda dan menduduki kursi yang agak empuk sebagai juru tulis. Pelengah hidup seperti bioskop, sepak bola, dan dansa hula-hula mulai digemari. Ini berbeda dengan 1942-1945, ketika sebagian besar pabrik gula tutup, kebun-kebun binasa, mesin pabrik mati, rakyat tenggelam dalam penderitaan romusha Jepang. Pendek kata, gagasan pemberontakan di tengah situasi ekonomi yang membaik itu tak bakal laku. Namun kegagalan pemberontakan itu tak lantas membuat Tan memikirkan diri dan partainya sendiri. Baginya justru jauh lebih penting memikirkan perjuangan mencapai kemerdekaan nasional. Ini antara lain dapat diilustrasikan dari fakta berikut :

Pertama, selepas dari penangkapan pada 1922, dan kemudian diusir ke luar Indonesia, ia sudah menjadi aktivis komunis yang tak kenal lelah ”menjual” gagasannya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hampir tak ada negara Asia Timur dan Asia Tenggara yang tak dijejakinya. Ia juga pergi ke Moskow, jantung komunisme. Ia hidup sengsara di tempat persembunyiannya dan selalu dikejar-kejar polisi rahasia. Ia baru kembali ke Tanah Air secara diam-diam pada zaman Jepang (1942). Kedua, baginya partai hanyalah alat untuk mencapai perjuangan, yakni kemerdekaan nasional bagi Indonesia. Selepas pemberontakan yang gagal itu, Tan Malaka keluar dari PKI dan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di perantauan Bangkok pada 1927. Pari kemudian mati suri. Pada masa perang kemerdekaan (1947), ia mendirikan Partai Murba. Alasan keluar dari PKI lalu mendirikan Pari sangat jelas, yakni karena tak lagi sehaluan dengan rekan-rekan separtainya yang lama. Di lain pihak ia menentang kebijakan Komunis Internasional (Komintern) di Moskow. Sejak 1920-an Moskow tampak lebih peduli memanfaatkan Komintern bagi kepentingan ”hegemoni” internasional Uni Soviet ketimbang kepentingan perjuangan kaum nasionalis di daerah-daerah jajahan. Komintern bahkan juga cenderung mencurigai Pan Islamisme sebagai pesaing internasionalnya, sesuatu yang tak bisa diterima oleh Tan Malaka. Maka jelas kelihatan bahwa warna nasionalisme dalam diri Tan Malaka jauh lebih kental daripada fanatisme terhadap ideologi (komunisme). Kedekatannya dengan kelompok Islam sebagian karena pola asuhan masa kecilnya sebagai orang Minang; sebagian lain, karena memang kelompok Islamlah yang lebih diandalkannya sebagai mitra pergerakan ketimbang kelompok nasionalis sekuler yang menurutnya cenderung berperilaku borjuis. Ketiga, Tan Malaka dianggap sebagai satu dari tiga tokoh nasionalis yang pertama-tama menuangkan konsepsi tentang konstruksi masyarakat bangsa yang dibayangkan (the imagined community) di masa depan. Lewat sebuah risalah berjudul Naar de Republiek Indonesia (Kanton, 1925) ia sudah membentangkan betapa pentingnya persatuan dan betapa berbahayanya perpecahan.

”Ini harus kita cegah,” tulisnya. ”Akan tetapi tidak dengan [cara] memberi khotbah tentang hikmah-hikmah yang kosong. Hanya satu program yang benar-benar ingin memajukan kepentingan-kepentingan materiil dari seluruh rakyat dan dilaksanakan secara jujur, yang dapat membentuk solidaritas nasional, suatu solidaritas yang tidak hanya menggulingkan imperialisme, tetapi juga dapat menjauhkan segala gangguan untuk selama-lamanya...” (halaman 26, 28). Meskipun tak menyembunyikan pendirian Marxisnya, Tan Malaka memilih mengabdikan diri dan intelektualitasnya sebagai nasionalis sejati yang ikut merajut gagasan tentang the imagined community itu. Pemikirannya lebih dini juga lebih radikal daripada Mohammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928). Kemudian juga Soekarno yang menulis MIM (Menuju Indonesia Merdeka, 1933). Dalam pemikiran ketiga tokoh ini, gambaran tentang masa depan Indonesia itu memang belum utuh. Ia baru merupakan anggitan yang masih memerlukan penyempurnaan sampai ”cetak-biru” Indonesia Merdeka dapat dirumuskan, yaitu Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 beberapa dasawarsa kemudian. Dan Tan Malaka menyadari itu, sebab ”aksi untuk mencapai kemerdekaan nasional ini,” tulis Tan dalam Naar de Republiek Indonesia, ”akan berlangsung lama, tetapi pasti membawa kemenangan (1925: 65). Sayangnya, Tan Malaka tak sempat melihat tahap akhir perjuangan kemerdekaan, karena ia tewas secara tragis. Ironis, karena setelah malang-melintang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memperjuangkan kemerdekaan negeri Indonesia, ia lalu ”dihujat dan dilupakan” oleh bangsanya sendiri.
::: Secara keseluruhan merupakan artikel Prof.DR. Mestika Zed yang dipresentasikan dalam suatu acara yang saya sudah lupa. Pada bagian tertentu, saya robah, terutama yang berhubungan dengan narasi dan tata bahasa, tanpa mengurangi substansi.

Senin, 24 Mei 2010

MADILOG : Sebuah Sintesis Perantauan

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Sampai kematiannya yang tragis sebagai tumbal revolusi, lebih dari 20 tahun hidup Tan Malaka dihabiskan untuk merantau di negeri lain. Dari agen Komintern untuk Asia di Kanton sampai menjadi free agent bagi dirinya sendiri. Dari seorang pedagog tulen dengan jaminan finansial hingga hidup merdeka seratus persen. Dan Madilog, buku yang ditulisnya dalam persembunyian dari Kempetai, polisi rahasia Jepang (1943), adalah warisannya yang paling otentik. Tan menginginkan Madilog—singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika—sebagai panduan cara berpikir yang realistis, pragmatis, dan fleksibel. Inilah warisan perantauannya yang berasal dari pemikiran Barat untuk mengikis nilai-nilai feodalisme, mental budak, dan kultus takhayul yang, menurut dia, diidap rakyat Indonesia. Mengapa? Sebab, Tan berpikir, mulai periode Yunnan sampai imperialisme Jepang, bangsa Indonesia tidak mempunyai riwayat kesejarahan sendiri selain perbudakan. Tak mengherankan bila budaya bangsa ini berubah menjadi pasif dan menafikan sama sekali penggunaan asas eksplorasi logika sains.

Madilog adalah solusinya. Inilah sebuah presentasi ilmiah melalui serangkaian proses berpikir dan bertindak secara materialistis, dialektis, dan logis dalam mewujudkan sebuah tujuan secara sistematis dan struktural. Segala dinamika permasalahan duniawi dapat terus dikaji dan diuji sedalam-dalamnya dengan menggunakan perkakas sains; yang batas-batasnya bisa ditangkap oleh indra manusia. Namun, lebih dari sekadar Barat, Madilog adalah juga sintesis perantauan dari seorang Tan yang berlatar belakang budaya Minangkabau. Ini terjabarkan ke dalam dua sense of extreme urgency point pemikiran Tan Malaka demi membumikan Madilog dalam ranah Indonesia. Pertama, Madilog lahir melalui sintesis pertentangan pemikiran di antara dua kubu aliran filsafat, yaitu Hegel dengan Marx-Engels. Hegel dengan filsafat dialektika (tesis, antitesis, dan sintesis) dengan kebenaran yang menyeluruh (absolute idea) hanya dapat tercapai melalui perkembangan dinamis, dari taraf gerakan yang paling rendah menuju taraf gerakan yang paling tinggi. Semua berkembang, terus-menerus, berubah tapi berhubungan satu sama lain. Hegel lebih memfokuskan pemikiran bahwa untuk mencapai kebenaran mutlak, pemikiran (ide) lebih penting daripada matter (benda). Sementara itu, bagi Marx-Engels, proses dialektika ini lebih cocok diterapkan dalam ranah matter melalui revolusi perpindahan dominasi kelas yang satu ke kelas yang lain sampai tercapai suatu bentuk kelas yang sebenarnya, yaitu masyarakat tanpa kelas. Jadi matter bagi Marx-Engels lebih penting daripada ide.

Nah, dalam Madilog, Tan Malaka mencoba mensintesiskan kedua pertentangan aliran filsafat ini untuk mengubah mental budaya pasif menjadi kelas sosial baru berlandaskan sains; bebas dari alam pikiran mistis. Melalui sains, mindset masyarakat Indonesia harus diubah. Logika ilmiah dikedepankan, pikiran kreatif dieksplorasi dengan langkah dialektis dari taraf perpindahan gerakan kelas sosial dari tingkatannya yang paling rendah sampai paling tinggi berupa kelas sosial baru yang berwawasan Madilog. Inilah proses ”merantau” secara pemikiran karena berbagai benturan ide yang terjadi. Kedua, identitas budaya Minangkabau tentang konsep rantau. Nilai penting konsep rantau dalam budaya Minangkabau adalah mengidentifikasi setiap penemuan baru selama merantau demi pengembangan diri. Karakter masyarakat Minangkabau adalah dinamis, logis, dan antiparokial. Konflik batin khas perantau ditepisnya dengan tradisi berpikir rasional, didukung dengan basis pendidikan guru, yang mengharuskan Tan menanamkan cara berpikir yang logis. Sementara itu, merantau adalah juga mencari keselarasan hidup; yang tersusun dari dinamika pertentangan dan penyesuaian. Pandangan kebudayaan Minangkabau yang umum berlaku di masa mudanya membuatnya memahami baik dinamisme Barat maupun dinamisme alam Minangkabau di dalam suatu cara pandang terhadap dunia yang terpisahkan (Mrazeck, 1999). Sebagai sintesis hasil perantauannya, Madilog merupakan manifestasi simbol kebebasan berpikir Tan Malaka. Ia bukan dogma yang biasanya harus ditelan begitu saja tanpa reserve. Menurut dia, justru kaum dogmatis yang cenderung mengkaji hafalan sebagai kaum bermental budak/pasif yang sebenarnya. Di sinilah filsafat idealisme dan materialisme ala Barat dan konsep rantau disintesiskan Tan Malaka. Lembar demi lembar ditulisnya di bawah suasana kemiskinan, penderitaan, dan kesepian yang begitu ekstrem. Namun Madilog-lah yang menjadi puncak kualitas orisinal pemikiran terbaik Tan Malaka yang dikumpulkannya dari Haarlem, Nederland (1913-1919), sampai kelahiran buah pikirnya itu di Rawajati (1943).

Sumber : (c) Buku Madilog & Rizal Aditya (2008)

Republik Dalam Mimpi Tan Malaka

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tan Malaka adalah revolusioner kesepian (Dr. Alfian, 1981: 37). Rasanya apa yang diungkapkan Alfian bahwa Tan Malaka sebagai revolusioner mungkin tidak berlebihan. Tan Malaka memang pejuang kesepian dalam arti sesungguhnya. Sekitar 20 tahun (1922-1942) Tan Malaka hidup dalam pembuangan, tanpa didampingi teman seperjuangan. Beberapa kali dia harus meringkuk di penjara negara imperialis saat berada di Filipina dan Hong Kong, serta selama dua setengah tahun dipenjarakan tanpa pengadilan oleh pemerintah republik yang ia cita-citakan. Sebagai pelarian dan tahanan, Tan tak pernah berhenti memikirkan nasib Negeri Hindia Belanda. Banyak gagasan yang lahir selama masa pelarian itu. Namun Tan Malaka tak punya cukup kesempatan untuk mendialektikakan gagasannya dengan tokoh-tokoh pejuang lain. Ada perbedaan waktu dan pengalaman sejarah yang membuat Tan Malaka berjarak dengan pengikut-pengikutnya yang kemudian berada dalam barisan Partai Murba. Meski tetap dijadikan idola hingga saat ini, perangai dan prinsip perjuangan Tan sungguh tak bisa diikuti oleh siapa pun. Hatinya terlalu teguh untuk diajak berkompromi dan punggungnya terlalu lurus untuk diajak sedikit membungkuk.

Kita bisa melihat beberapa contoh bahwa memang sulit mencari manusia yang bisa mengikuti kekerasan hatinya. Adam Malik, misalnya, adalah kader Partai Republik Indonesia yang sangat memuja Tan Malaka. Namun, di tangan Adam Malik, segala persoalan bisa menjadi superfleksibel. M. Yamin adalah pengikut Tan Malaka yang juga mendirikan Persatuan Perjuangan pada 1946. Persatuan Perjuangan adalah ikon diplomasi bambu runcing. Organisasi ini didirikan sebagai antitesis politik berunding yang dirintis oleh Kabinet Sjahrir I. Tapi, belakangan, Yamin juga menjadi anggota tim dalam Konferensi Meja Bundar pada 1949, sesuatu yang secara prinsip ditentang dalam ”Program Minimum” Persatuan Perjuangan Tan Malaka. Di tengah kesepian dan kesulitan memperoleh pengikut yang kukuh itulah ia melahirkan gagasan-gagasan yang jernih, asli, bahkan mengagetkan. Mungkin gagasan itu tak sepenuhnya bisa diikuti, tapi jelas penuh inspirasi. Soal pelaksanaannya bisa dicocokkan dengan keadaan yang berkembang. Gagasan Tan Malaka tentang Republik Indonesia tersebar di banyak buku. Ia tak punya kesempatan untuk menuliskannya secara tuntas. Gejolak revolusi mengharuskan revolusioner seperti Tan berada dalam kancah perjuangan fisik ketimbang di belakang meja. Namun, lewat antara lain buku Menuju Republik Indonesia (1926), Soviet atau Parlemen (1922), serta Madilog (1942), kita bisa menyatukan mozaik gagasan republik yang tercerai-berai itu. Tak sulit untuk menyatukan mozaik ini, karena Tan selalu menunjukkan pola pemikirannya.

Tan memberikan perumpamaan tentang burung gelatik untuk menjelaskan republik yang ia angankan. Burung ini terlihat seperti makhluk yang lemah. Banyak yang mengancamnya. Di dahan yang rendah, dia harus waspada terhadap kucing yang siap menerkam. Tapi dahan yang lebih tinggi juga bukan merupakan tempat yang aman baginya. Ada elang yang siap menyambar sang gelatik sehingga hidupnya tak merdeka. Ia hidup penuh ketakutan dan dengan perasaan terancam. Serba tak bebas. Bagi Tan Malaka, Indonesia harus bebas dari ketakutan seperti ini. Bebas dari belenggu dan teror pemangsa. Tapi, jika burung gelatik berada dalam satu rombongan besar, ia akan bebas menjarah padi di saat sawah sedang menguning. Burung gelatik, yang sesaat lalu terlihat seperti makhluk yang lemah, bisa berubah drastis menjadi pasukan penjarah yang rakus tiada ampun. Keringat petani selama empat bulan terbuang sia-sia. Padinya habis disantap sekawanan gelatik. Selain bebas dari penjajahan, merdeka bagi Tan Malaka bukan berarti bebas menjarah dan menghancurkan bangsa lain. Merdeka itu dua arah: bebas dari ketakutan dan tidak menebar teror terhadap bangsa lain. Inilah prinsip Indonesia merdeka.

Setelah merdeka, bangunan Indonesia harus punya bentuk. Ketika para pejuang lain baru berpikir tentang persatuan, atau paling jauh berpikir tentang Indonesia Merdeka, Tan Malaka sudah maju beberapa langkah memikirkan Republik Indonesia. Brosur Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) sudah ditulis di Kanton, Cina, pada 1925, tiga tahun sebelum deklarasi Sumpah Pemuda. Tan Malaka tegas bahwa eks Hindia Belanda harus menjadi Republik Indonesia. Namun republik dalam gagasan Tan Malaka tak menganut trias politika ala Montesquieu. Republik versi Tan Malaka adalah sebuah negara efisien. Republik yang dikelola oleh sebuah organisasi. Tan Malaka sejatinya tak percaya terhadap parlemen. Bagi Tan Malaka, pembagian kekuasaan yang terdiri atas eksekutif, legislatif, dan parlemen hanya menghasilkan kerusakan. Pemisahan antara orang yang membuat undang-undang dan yang menjalankan aturan menimbulkan kesenjangan antara aturan dan realitas. Pelaksana di lapangan (eksekutif) adalah pihak yang langsung berhadapan dengan persoalan yang sesungguhnya. Eksekutif selalu dibuat repot menjalankan tugas ketika aturan dibuat oleh orang-orang yang hanya melihat persoalan dari jauh (parlemen).

Demokrasi dengan sistem parlemen melakukan ritual pemilihan sekali dalam 4, 5, atau 6 tahun. Dalam kurun waktu demikian lama, mereka sudah menjelma menjadi kelompok sendiri yang sudah berpisah dari masyarakat. Sedangkan kebutuhan dan pikiran rakyat berubah-ubah. Karena para anggota parlemen itu tak bercampur-baur lagi dengan rakyat, seharusnya mereka tak berhak lagi disebut sebagai wakil rakyat. Konsekuensinya adalah parlemen memiliki kemungkinan sangat besar menghasilkan kebijakan yang hanya menguntungkan golongan yang memiliki modal, jauh dari kepentingan masyarakat yang mereka wakili. Menurut Tan, parlemen dengan sendirinya akan tergoda untuk berselingkuh dengan eksekutif, perusahaan, dan perbankan. Kalau kita tarik ke zaman sekarang, mungkin Tan Malaka bisa menepuk dada. Dia akan menyuruh kita menyaksikan sebuah negara yang parlemennya dikuasai oleh wakil buruh, seperti Inggris, kemudian menyetujui penggunaan pajak hasil keringat buruh untuk berperang menginvasi negara lain. Akhirnya, parlemen di mata Tan Malaka tak lebih dari sekadar warung tempat orang-orang adu kuat ngobrol. Mereka adalah para jago berbicara dan berbual, bahkan kalau perlu sampai urat leher menonjol keluar. Tan Malaka menyebut anggota parlemen sebagai golongan tak berguna yang harus diongkosi negara dengan biaya tinggi. Singkatnya, keberadaan parlemen dalam republik yang diimpikan Tan Malaka tak boleh ada. Buku Soviet atau Parlemen dengan tegas memperlihatkan pendirian Tan Malaka. Sampai usia kematangan berpikirnya, Tan tak banyak berubah, kecuali dalam soal ketundukan kepada Komintern Moskow. Karena pendirian ini pula Tan Malaka sangat keras menentang Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada 1945 tentang pendirian partai-partai. Sebab, partai-partai pasti bermuara di parlemen.

Lalu seperti apa wujud negara tanpa parlemen itu? Penjelasannya memang bisa memakan halaman yang sangat banyak. Sederhananya, negara dalam mimpi Tan Malaka dikelola oleh sebuah organisasi tunggal. Dalam tubuh organisasi itulah dibagi kewenangan sebagai pelaksana, sebagai pemeriksa atau pengawas, dan sebagai badan peradilan. Anda bisa membayangkan organisasi yang berskala nasional seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Bangunan organisasinya dari tingkat terendah sampai tingkat nasional bisa diandaikan seperti itu. Tidak ada pemisahan antara si pembuat aturan dan si pelaksana aturan. Di dalam organisasi yang sama pasti ada semacam dewan pelaksana harian, dan ada sejenis badan kehormatan atau komisi pemeriksa. Begitulah kewenangan dibagi, tapi tidak dalam badan yang terpisah.

Bagaimana mengontrol organisasi agar tak menjadi tirani kekuasaan? Di sinilah desain organisasi harus dimainkan. Ritual pemilihan pejabat organisasi tak boleh dalam selang waktu yang terlalu lama, agar kepercayaan tak berubah menjadi kekuasaan, agar amanah tidak berubah menjadi serakah. Kongres organisasi, dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi, harus dilakukan dalam jarak yang tak terlalu lama. Waktu dua tahun mungkin ideal untuk mengevaluasi kerja para pejabat organisasi. Jika kerja mereka tak memuaskan, kongres organisasi akan menjatuhkan mereka. Barangkali banyak pembaca yang mengatakan bangunan kenegaraan seperti di atas jauh dari demokratis. Hal itu sangat wajar. Sebab, sudah demikian lama otak kita dicekoki oleh trias politika ala Montesquieu. Jika bangunan organisasi tanpa badan legislatif dianggap tak demokratis, boleh juga kita mengatakan bahwa partai politik, organisasi kemasyarakatan, ASEAN, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan lembaga yang tak demokratis. Di luar itu, bisa jadi pula ada yang mengatakan gagasan Tan Malaka naif dan tak bisa diikuti. Pendapat itu pun wajar. Seperti pernyataan penulis di awal tulisan ini, tak ada yang bisa dengan total mengikuti Tan Malaka. Selain terlalu lurus, Tan Malaka pasti tak bisa lepas dari belenggu zamannya. Namun tak ada salahnya kita menulis ulang semangat dalam gagasan kenegaraan Tan Malaka. Dalam Thesis, Tan meminta rakyat Indonesia tak menghafalkan hasil berpikir seorang guru. Yang penting adalah cara dan semangat berpikirnya. Ibarat seorang guru matematika, Tan tak ingin menuntut muridnya menghafal hasil sebuah perhitungan, tapi menguasai cara berpikir untuk bisa memperoleh hasil hitungan yang benar.

::: Sumber : Substansi tulisan ini dari H. Nasbi A (2008) dan Alfian (1981)

Jumat, 21 Mei 2010

"Merahnya" Minangkabau : Ranah Bersemainya Komunisme

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Berdiri di tempat tinggi, seorang sejarawan Belanda menadahkan kedua tangannya, berseru, ”Mengapa di tempat yang indah dan subur ini lahir seorang pemberontak?” Harry Poetze, sejarawan peneliti Tan Malaka yang tegak di sampingnya, hanya membisu (Zulhasri Nasir : 2010)


Ya, Roger Tol, peneliti dari lembaga Belanda KITLV, mempertanyakan posisi historis Tan Malaka. Ia yang dibesarkan oleh sejarah, justru dicatat dalam ”ranah” politik sebagai pemberontak. Padahal, nagari Pandan Gadang tempat lahirnya Ibrahim yang Tan Malaka ini, adalah nagari yang menawarkan kesejukan dan kedamaian. Namun Roger Tol lupa – untuk tidak mengatakan a-historis, Minangkabau merupakan ”rahim paling dinamis”, memberikan peluang besar bagi ”putra-putri”nya untuk membentuk diri mereka sendiri. Nagari memberikan kemerdekaan kepada penduduknya untuk menjadi siapa saja. Dalam bahasa sosiologis, nagari meniadakan pelapisan sosial. Yang ada hanyalah fungsi sosial. Jadi janganlah kemudian kita heran, apabila dari ”rahim Minangkabau”, sejarah mencatat lahir penggerak-penggerak dan aktor-aktor sejarah ideologis besar, baik yang berhaluan ”putih” maupun ”merah” (kalau boleh saya mendikotomikan demikian).

Membicarakan gerakan pembaharuan Islam nusantara, konteks dialektika Minangkabau tidak bisa dilepaskan. Minangkabau menjadi salah satu episentrum - meminjam istilah Naquib al-Attas - gerakan pembaharuan Islam di Nusantara. Pengaruh gerakan pembaharuan ini terasa pada gelombang kedatangan alumni Kairo dan Mekah, seperti Syekh Ahmad Wahab, Syekh Ahmad Chatib, Syekh Taher Djalaluddin, Syekh Karim Amrullah, Syekh Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek, dan generasi alumni Mekah yang lebih keras, Haji Datuk Batuah, Mukhtar Lufti, dan Ilyas Jacob. Demikian juga, ketika mendudukkan jaringan Wahhabiyah di kawasan Asia Tenggara, Minangkabau juga menjadi salah satu episentrumnya. Gelombang pertama kedatangan alumni Timur Tengah sebenarnya terjadi hampir satu abad sebelumnya, yaitu pra-Perang Bonjol (1820-an). Mereka adalah Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Tuanku Piobang, Tuanku Pamasiangan—tokoh-tokoh pergerakan di belakang Tuanku Imam Bonjol.

Demikian halnya dengan perdebatan-perdebatan ideologi merah, Minangkabau menyumbangkan ”putra-putra” terbaiknya, salah satunya Ibrahim yang Tan Malaka itu. Mengikuti sepak terjang Ibrahim Datuk Tan Malaka seperti membuka sejarah merahnya Minangkabau. Meski terkenal sebagai negeri yang kuat menganut Islam, siapa nyana justru ideologi kiri seperti sosialisme dan komunisme yang bercokol kuat. Menurut Zulhasril Nasir, Islam-lah yang menjadi basis persemaian ideologi kiri di Minangkabau. Kebanyakan tokoh pergerakan kemerdekaan pernah sekolah di sekolah-sekolah agama. Zulhasril mengatakan bahwa munculnya gerakan kiri radikal di Minangkabau berpangkal di sekolah menengah agama di Padangpanjang (Sumatera Thawalib dan Diniyah), Padang (Adabiyah dan Islamic College) dan Bukittinggi (Sumatera Thawalib Parabek)," ujar Zulhasril Nasir dalam diskusi ”Pemutaran Film Dokumenter Selopanggung di IAIN Padang beberapa waktu yang lalu. 'Koalisi' Islam dan sosialisme/komunisme itu disokong oleh motif yang sama untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Di sinilah peran Tan Malaka sebagai seorang tokoh kiri yang menghubungkan kedua arus itu. Faktor lain adalah sistem pendidikan di Minangkabau merupakan yang termaju di Hindia Belanda setelah pulau Jawa.

Suatu ketika Tan Malaka mencalonkan diri untuk Tweede Kamer (parlemen) Belanda mewakili negeri jajahan. Orang sekarang mungkin tidak dapat membayangkan, dalam keadaan serba terbatas Tan Malaka melanglang buana membentuk dan membangun ideologi dalam perjalanan panjang dari Negeri Belanda, Jerman, Rusia, kemudian naik kereta api Trans-Siberia melalui gurun es hingga Wladiwostok di Timur, terus bolak-balik ke Amoy, Shanghai, Manila, Kanton, Bangkok, Singapura, Semenanjung Malaya, dan Burma. Di kota-kota itu, sembari membangun kekuatan antipenjajahan, ia melahirkan percikan pemikiran melalui buku, brosur, di antara bayang-bayang intelijen Inggris, Amerika, dan Belanda. Sepuluh tahun pada akhir kehidupannya benar-benar dia sumbangkan untuk tanah air, membangun kekuatan perlawanan rakyat melawan Jepang dan Belanda, meskipun berakhir di ujung peluru bangsa yang diperjuangkannya. Bukankah itu suatu kedigdayaan yang tidak dimiliki oleh semua orang ? Tan Malaka bukan seorang dogmatis sebagaimana Stalinis. Dia berpikir menurut dialektika. Ketika Stalin mendakwa kesatuan Islam (Pan-Islamisme) dan Khalifah sebagai bentuk kolonialisme, Tan Malaka membantahnya. Baginya, kesatuan Islam tidaklah harus berada di Asia Barat saja, Pan-Islamisme haruslah dibangun di setiap negeri muslim.

Islam, kata Tan Malaka, telah mengajarkan sosialisme dan antipenjajahan dua belas abad sebelum Karl Marx lahir. Pidato Tan Malaka di Forum Komunis Internasional (Komintern) tahun 1920 memperkuat tesis ini. Ketika sebagian "anak-anak Marx" mencurigai agama dalam denyut nadi perjuangan mereka, Tan Malaka justru memberikan apresiasi terhadap signifikannya pengaruh agama (Islam) dalam menstimuli kesadaran kelas. Bagi Tan Malaka, Pan-Islamisme berpotensi membebaskan rakyat muslim terjajah di mana pun. Pandangan semacam ini yang kemudian menarik kaum terdidik di Minangkabau pada awal abad ke-20. Pusat kaum pelajar di Sumatera Barat pada masa itu berada di Padang Panjang (Diniyah dan Sumatera Thawalib), Bukittinggi (Parabek Sumatera Thawalib), Padang (Adabiyah Islamic School), dan sekolah sekuler Kweekschool di Ford de Kock (Bukittingggi). Pada tahun 1920-an itu, telah muncul puluhan intelektual Minangkabau yang bukan hanya hidup di kampung, tapi menyebar di seluruh Sumatera, Jawa, Belanda, Malaysia dan Singapura. Tan Malaka hanyalah salah satunya saja. Zulhasril (2009) kemudian membagi puluhan aktivis pergerakan kemerdekaan tersebut dalam 5 tipe ideologi. Pertama, Islam-komunis. Mereka berasas pada ajaran Tan Malaka yang menghubungkan ajaran tentang kesamaan dan kebersamaan manusia dalam Islam dan komunis. Masuk dalam kelompok pertama ini adalah pemimpin PKI Sumbar tahun 1948 Haji Datuak Batuah dan mantan Ketua Umum Partai Murba Djamaluddin Tamin. Kelompok kedua berideologi Islam-nasionalis. Kelompok ini diwakili organisasi Permi, PSII, Muhammadiyah dan Masyumi. Tokoh-tokohnya, M Sjafei, AR Sutan Mansyur, Rasuna Said dan ayahanda Hamka, Haji Rasul. Tipe ketiga adalah Sosialis Demokrat. Walau hanya sedikit, tapi menonjol. Mereka mengikuti kepemimpinan Sjahrir dan Hatta di Batavia, seperti M Rasjid. Tipe keempat adalah nasionalis-kiri. Tipe ini baru bermunculan setelah kegagalan pemberontakan 1926 di Silungkang. Mereka masuk dalam Gyu Gun (militer Jepang). Tokoh-tokohnya adalah Chatib Sulaiman, Dahlan Djambek, dan Ahmad Husein. Tipe terakhir adalah komunis. Kalangan ini berasal dari gerakan kiri Tan Malaka yang kemudian dipengaruhi Marxisme-Leninisme. Masuk ke dalam tipe ini adalah Ketua PKI Sumatera Timur Natar Zainuddin dan pimpinan PKI Sumbar Bachtaruddin.

Lima kelompok diatas, Zulhasril secara metodologis-epistimologis, hanya mengelompokkan berdasarkan pada orang yang beraktivitas di Minangkabau saja. Jika dimasukkan yang beraktivitas di tingkat nasional dan luar negeri, masuklah beberapa nama terkenal. Mereka adalah Nazir Sutan Pamoentjak, Hamka, DN Aidit, Hatta, M Yamin, Sjahrir, M Natsir, Agus Salim, Abdul Muis, Asaat, A Rivai dan Tan Malaka sendiri. Ya, Dipa Nusantara Aidit yang sebenarnya bernama asli Dja'far Nawawi Aidit ini termasuk karena meski dilahirkan di Belitung, orang tuanya, Haji Aidit berasal dari Maninjau, Sumatera Barat. "Tokoh pergerakan yang paling dekat dengan Tan Malaka hanyalah Muhammad Yamin," ungkap Zulhasril.

Sementara, meski sama-sama Minang dan mendalami sosialisme/komunisme, Tan Malaka dan Sjahrir memiliki hubungan yang buruk. Mereka berseteru kencang pasca Indonesia merdeka. Keduanya saling culik. Tan Malaka mengerahkan Persatuan Perjuangan yang memiliki simpatisan dari kalangan militer termasuk Jenderal Sudirman. Sementara Sjahrir memiliki Pesindo dan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) yang patuh padanya selaku Perdana Menteri. Perseteruan ini mencapai puncaknya pasca perjanjian Linggarjati 1947. Tan Malaka bersama Persatuan Perjuangan mengerahkan gerilya bersenjata menentang perjanjian Indonesia-Belanda itu. Tan Malaka dikejar-kejar oleh pasukan Sjahrir – yang juga lahir dari ”rahim” Minangkabau. Dan, sejak 21 Februari 1949, Tan Malaka si Putra Pandan Gadang ”divonis” sejarah, lenyap. Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poetze merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Tragis !

Sumber : Sebagian besar dari (c) Zulhasril Nasir (2009 & 2010)