Foto : Posted www.kombes.com






Salah seorang wartawan perang CNN legendaris, Peter Arrnet pernah meliput Perang Irak-Iran secara Live pada tahun 1982. Ia pernah melihat salah seorang ibu tua renta berdiri berjam-jam di stasiun kereta api milik tentara Iran. Peter Arrnet menanyakan siapa yang ditunggu oleh ibu tersebut. Si Ibu menjawab, "Saya menantikan anak kedua saya pulang dari front melawan "Yazid" Saddam Hussein, anak pertama saya telah syahid, mati di barisan depan agar pasukan pelapis bisa maju, sekarang saya menunggu dengan bahagia kedatangan anak kedua saya, hidup atau mati. Nanti saya berencana ingin mengirim anak bungsu saya yang sekarang telah berumur 18 tahun, keluarga kami adalah keluarga pejuang dan saya bangga karena rahim saya telah melahirkan para pejuang Iran dan Islam". Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh USA Today (1997, 2001 dan 2003) terhadap anak-anak Palestina dijelaskan bahwa mereka merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan. Mereka merasa hidup mereka tidak berarti lagi. Karena itu tidak ada pilihan lain lagi kecuali melawan dengan berbagai cara. Demikian juga halnya dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Peter O'Gonnor White terhadap komunitas Tamil di Sri Langka. Sri Langka, sebuah negara yang secara genetik dekat dengan Hindustan, akan tetapi mayoritas beragama Budha. Etnis terbesar yang terdapat di negara ini adalah etnis Sinhala (mayoritas) dan Tamil. Etnis terakhir ini merupakan etnis minoritas yang beragama Hindu, dan berada di bawah bayang-bayang diskriminasi sosial politik yang dilakukan oleh etnis Sinhala.
Hampir 70 %, Zona Ekonomi Eksklusif
Seandainya Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI tahun 1945 memutuskan wilayah negara Indonesia merdeka adalah pendapat Muhammad Yamin, bangsa ini akan lebih sulit menjaga kedaulatan teritorialnya daripada yang ada kini. Terobsesi oleh kejayaan Majapahit, tampaknya Yamin menginginkan wilayah negara
Pertama, karena lemahnya, kalau tidak mau disebut “hilangnya” karakter dan orientasi kebaharian. Bagaimana sejarah bisa menjelaskan? Mungkin benar karena keunggulan VOC/Belanda setelah menghancurkan Gowa ditandai Perjanjian Bungaya (1669) mengakibatkan ketidakberdayaan nenek moyang bangsa ini di laut. Kedua, lemahnya kesadaran lingkungan geografis. Rendahnya kesadaran geografis bisa ditunjukkan minimnya pengetahuan mahasiswa tentang peta
"Si Binatang Jalang" Chairil Anwar adalah legenda sastra dan ilham terbaik bagi sebagian besar pecinta sastra. Namun siapa sangka, penyair yang memelopori pembebasan bahasa Indonesia dari tatanan lama ini adalah juga seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi? Berikut ini tulisan tentang Chairi Anwar, yang sebagian besar bahannya dicuplik dari buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arief Budiman, ditambah beberapa referensi lain serta sejumlah wawancara. Arief Budiman memulainya dari kenangan Asrul Sani. "Di Jalan Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku, yang sekarang jadi kantor Astra. Namanya toko buku Kolf dan van Dorp. Koleksinya luar biasa banyak. Saya dan Chairil suka mencuri buku di situ," begitu Asrul Sani pernah bercerita. "Suatu kali kami melihat buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra. `Wah, itu buku mutlak harus dibaca,' kata Chairil pada saya. `Kau perhatikan orang itu, aku mau mengantongi Nietzsche ini.' Chairil memakai celana komprang dengan dua saku lebar, cukup besar untuk menelan buku itu." Buku-buku filsafat, termasuk buku Nietzsche tadi, diletakkan di antara buku-buku agama. Kebetulan buku Nietzsche ukuran dan warna sampulnya yang hitam persis betul dengan kitab Injil. "Sementara Chairil mengantongi buku, saya memperhatikan pelayan toko," kata Asrul. "Hati saya deg-degan setengah mati. Setelah buku berpindah tempat, kami lantas keluar dari toko dengan tenang. Tapi sampai di luar tiba-tiba Chairil terkejut, `Kok ini? Wah, salah ambil aku!' sambil tangannya terus membolak-balik buku. Rupanya Chairil salah mengambil Injil. Kami kecewa sekali."
Chairil Anwar memang seorang "penggila" buku, yang dengan rakus melahap karya-karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nitsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, J. Slauerhoff, dan banyak lagi. Tapi dia adalah penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, tidak punya pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan. Alhasil, lengkaplah "ciri-ciri" seniman pada dirinya. Namun, dia juga contoh yang baik tentang totalitas berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Jika Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai kegiatan sampingan, di samping tugas keseharian mereka sebagai redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau lainnya, ia semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi. Nama Chairil mulai dikenal di kalangan seniman pada tahun 1943. H.B. Jassin punya cerita. "Suatu hari di tahun 1943," tuturnya. "Chairil datang ke redaksi Pandji Pustaka; seorang muda kurus pucat tidak terurus kelihatannya. Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Pandji Pustaka. Tapi didapatnya keterangan bahwa sajak-sajaknya tidak mungkin dimuat. Kata pemimpin majalah itu, `Susunan Dunia Baru' (sajak Chairil) tidak ada harganya. Sajak-sajak individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu mem-Barat." Sejak itu sang penyair sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi. Gaya bersajak dan elan vital dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).
Asia Tenggara boleh dikatakan menjadi ladang eksploitasi bagi dunia (baca:Barat), terutama memasuki abad 15 sampai dengan paroh abad 20, bangsa-bangsa Eropha memperkaya diri mereka dengan menjajah Negara-negara di Asia Tenggara ini. Setidaknya ini yang dapat ditangkap dari karya-karya sejarah tentang Asia Tenggara pada abad-abad itu. Dengan kolonialisme, bangsa-bangsa Eropa membagun ekonomi dan peradaban mereka. Untuk sementara, ini dapat sekedar menggambarkan bahwa Asia Tenggara untuk beberapa fase pernah menjadi suku bangsa tertindas. Sedangkan Islam sudah bercokol di kawasan ini semenjak abad VII dan VIII. Khusus Muslim Arab,
Ketiga dinasti ini dapat dianggap kekuatan-kekuatan yang memainkan peranan penting bagi terciptanya komunitas apa yang disebut Asia Tenggara belakangan. Jadi sebelum era kolonial, kawasan ini sudah dipengaruhi berbagai agama dan keyakinan. Sebelum akhirnya Islam berhasil mendominasi kawasan selat Malaka dan sebagian kepulauan di wilayah barat nusantara, yang menurut Uka Tjandra sudah mulai berproses semenjak abad ke-7 sampai dengan puncaknya abad ke-13, serta didukung oleh melemahnya kerajaan Sriwijaya abad ke-13, telah terdapat titik konflik antara berbagai keyakinan, disamping berbagai kepentingan, terutama politik dan ekonomi yang menentukan sekali bagi perkembangan kawasan ini untuk masa-masa selanjutnya. Kondisi seperti itu, dimana keberagaman dan keterbukaan sama-sama berpeluang di kawasan ini, adalah karakter yang paling menonjol dari kawasan ini. Tidak satupun dari negara-negara di Asia Tenggara yang memiliki kultur tunggal. Setiap negara dibangun berdasarkan pertukaran budaya secara eksternal maupun internal. Di samping itu, struktur dan kondisi alam yang juga relatif berbeda dari wilayah-wilayah lain di dunia, ikut membentuk karakter masyarakat kawasan ini. Sampai tahun 1700 pergumulan cultural, ideologis di kawasan ini menjadi sebuah dialog yang intens disertai berbagai dorongan dan motivasi yang berkaitan dengan ekonomi dan politik. Akan tetapi kondisi ini dengan sendirinya membuat pemisahan yang jelas antara wilayah Islam di Selatan, konghucu di
Kemunculan politik pergerakan radikal di dalam Negara yang penduduk muslimnya minoritas lebih mudah dipahami dari pada kemunculannya di Negara yang berpenduduk muslim mayoritas. Penyebab yang dominant sangat jelas, ke-tidakadilan. Di Filiphina, rasa kurang puas terhadap ketidakadilan di kalangan muslim minoritas ini pertama kali muncul pada tahun tanggal 18 Maret 1935, berupa deklarasi yang ditujukan kepada Amerika Serikat. Deklarasi itu berisi tuntutan Ummat Islam untuk berdiri sendiri. Selama ini kalangan Kristen—khususnya Katolitk—selalu memonopoli kepemimpinan dan memajukan kota-kota besar, tanpa memberikan kesempatan kepada Ummat Islam. Tidak ada lowongan terbuka untuk Ummat Islam. Pajak dipungut hanya untuk kepentingan pulau-pulau di wilayah utara, sehingga memperlebar kesenjangan, penguasa Katolik makin maju, sementara Ummat Islam semakin mundur. Namun deklarasi tersebut tidak menghasilkan apa-apa, dan pemerintah Republik Filipina tetap berdiri. Baru tahun 1968, tepatnya tanggal 1 Mei meledak sebuah maklumat politik dari tokoh-tokoh Muslim di Filipina. Maklumat tersebut kira-kira berbunyi: “Dengan nama Allah SWT, umat Islam yang mendiami pulau Mindanao, Sulu dan Palawan menyatakan tekadnya untuk memisahkan diri dari Republik Filipina dan mendirikan sebuah Negara Islam, yang dapat menampung idealisme dan aspirasi umat, yang dapat memelihara dan mengembangkan warisan agama-nya di bawah naungan persaudaraan Islam yang universal, dibawah pemerintahan yang berdasar hukum, keadilan dan demokrasi…negara Islam ini meliputi daerah Filipina bagian Selatan yang penduduknya Ummat Islam yakni: Cotabato, Davao, Zamboanga, Basilan, Lanao Sulu, Palawan dan daerah serta pulau-pulau di sekitarnya yang ditempati atau di bawah pengaruh Umat Islam.”
Gelombang ketidakpuasan minoritas Muslim juga terjadi diberbagai Negara di kawasan Asia Tenggara lainnya. Umat Islam Antropolog Levi Strauss mengatakan bahwa budaya tidak terbatas soal di mana letaknya. Namun, ketika, naskah-naskah kuno Islam (Melayu ataupun Minangkabau) dijual ke negara lain, khususnya ke
Naskah Melayu kuno itu akan menjadi barang berharga yang memiliki nilai sejarah tinggi. Naskah itu nantinya akan menjadi bahan penelitian dari seluruh akademisi dan budayawan dari belahan dunia. Maka, dengan adanya perburuan naskah kono Melayu itu, nantinya
Di jalan Sudirman Kota Padang, tepatnya di dekat Perkantoran Bank Secara genetis, sejarah telah mencatat bahwa Yusuf Kalla adalah sumandonya orang Minang, karena isteri beliau berasal dari Tanah Datar (Sumatera Barat). Sedangkan Megawati Soekarno Putri yang memiliki suami Taufik Kiemas dimana orang tua perempuannya berasal dari daerah Batipuh, Tanah Datar (Sumatera Barat). Sedangkan SBY-Budiono pernah diberi “gala” atau gelar oleh orang Minang serta mendapat dukungan dari Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, S.H. Ketiga keterkaitan genetis dan politis yang menjadi pengikat pemilih Minang menghadappi pilres mendatang tentu membuat peta konflik di kalangan urang awak semakin terbuka untuk masa-masa mendatang. Disamping itu, keterikatan genetis dan politis tersebut ternyata memperlihatkan kepada Publik bahwa masyarakat Minang, baik di kampung halaman maupun di perantauan tidak solid menghadapi pilpres mendatang. Jika urang awak nan “boneh” di rantau dan kampung halaman tidak kompak dan hanya menyelamatkan kapal masing-masing untuk berlayar sampai di “seberang politik” saya yakin dan percaya bahwa mereka tidak akan mampu “mambangkik batang tarandam”.
Kondisi ini menggambarkan bahwa urang awak hanya dijadikan elite-elite politik tertentu sebagai “kudo parajang bukik” untuk mendapatkan tahta RI-1 dimasa-masa mendatang. Kalau RI-1 sudah didapat, maka “kacang kembali akan lupa dengan kulitnya”. Secara historis masyarakat Minang memang sangat mandiri dalam konsep berfikir dan menentukan sikap politiknya. Kemadirian “nagari” sebagai sebuah “republik kecil” seperti “city state” di Yunani dulunya dan sistem kelarasan ternyata telah membentuk karakter tersendiri bagi masyarakat Minangkabau. Sejak dulunya sikap politik masyarakat Minangkabau memang tidak pernah mampu diintervensi oleh kekuatan materi dan kekuasaan apapun, termasuk lingkungan keluarga mereka sendiri. Jika “urang awak” sudah tersinggung, maka mereka akan menampilkan identitas dan jati dirinya dengan ungkapan “walaupun kamu pintar, kami tidak bertanya. Walaupun kamu kaya, kami tidak pernah meminta dan walaupun kamu jagoan kami tidak akan berantam”.
Sebagai seorang Gubernur, seharusnya Gamawan Fauzi menginventarisir segala potensi dan keinginan sekaligus aspirasi politik masyarakat Sumatera Barat secara keseluruhan. Selanjutnya semua aspirasi dan dinamika politik yang terjadi “dikunya-kunya”, sehingga menjadi sebuah konsep yang jelas, cerdas dan aspiratif. Strategi seperti ini tentu akan membuat bargaining politik “urang awak” akan lebih diperhitungkan oleh berbagai elite politik dan elite pemerintahan ini ke depan. Jika seorang pemimpin seperti Gubernur sudah jalan sendiri-sendiri, bagaimana masyarakat Sumatera Barat nantinya. Padahal Sejak dulu kala masyarakat etnis lainnya sangat segan dengan paguyuban perantau. Minangkabau di perantauan yang senantiasa solid dan memiliki link yang baik dengan kampung halaman. Jangan hanya karena ambisi pribadi untuk menjadi menteri, maka seorang pemimpin daerah mengorbankan harga diri dan jati diri masyarakat yang dipimpinnya. Secara sosiologis memang masyarakat Minangkabau merupakan etnis yang dinamis dan mandiri, sehingga walaupun karakteristik warganya tergolong homogen dari latar belakang suku dan agamanya, dari sisi politik selalu berubah (Kompas, 23/5). Namun yang dipersoalkan bukan karena dinamika politik masyarakatnya, melainkan karena Gamawan Fauzi adalah seorang pemimpin masyarakat Sumatrera Barat.
Berkatalah Frintjof Capra (1986: 93-94) bahwa peradaban ummat manusia dipat planet bumi ini yang memiliki potensi berkuasa adalah peradaban ummat manusia yang menempatkan ilmu dengan berpusat kepada universitas dan institusi intelektual. Artinya, apabila perdaban ummat Islam ingin memegang peranan, mau tidak mau ummat Islam harus mampu menguasai ilmu pengetahuan. Peradaban ummat Islam pada masa dahulu pernah menjadi peradaban avant garde. Sumbu dan pusat sejarah terdepan ummat manusia pada masanya. Dan sejarah membuktikan, posisi terdepan peradaban ummat Islam tersebut muncul dengan gagah-berkualitas karena peradaban tersebut mampu menjadi wadah untuk bersemai dan berseminya bulir-bulir bernas intelektual, tanpa sekat, tanpa batas primordialisme maupun egoisme sektoral. Pada masa ini, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh sang filosof Muhammad Iqbal dalam khudi-nya bahwa peradaban Islam betul-betul merupakan peradaban universal dan tidak hanya terpaku kepada latar belakang munculnya ilmu tersebut. Pada masa tradisi Cordoba dan tradisi Baghdad, ilmu tidak memiliki nasionalisme.
Dari Persia dan Byzantium, diambil bermacam-macam gaya upacara dan estetika-seni. Dari India, matematik dan ilmu perbintangan. Dari negeri “para dewa” Yunani, diambil antara lain filsafat dan logika. Dalam khazanah intelektual Islam, unsur-unsur yang diperoleh dari peradaban lain tersebut tidak hanya ditiru an sich tetapi ada improvisasi, ada pengembangan dan kemudian diberi perspektif dan aura keIslaman. Perkembangan peradaban ummat Islam yang paling menarik antara abad ke-VII hingga XIII Masehi tersebut adalah bagaimana peradaban dan agama yang berasal dari bangsa Arab di gurun pasir yang miskin lagi terpencil itu, seolah-olah tahu sekali bahwa yang pertama sekali harus direbutnya adalah ilmu pengetahuan.
"SBY ....... 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia Versi Majalah TIMES", setidaknya demikian headline beberapa media massa dalam dan luar negeri 2-3 hari terakhir ini. Menjelang Pilpres 2009 credit point Susilo Bambang Yudhoyono kembali bertambah. Kali ini dikarenakan beliau berhasil masuk ke jajaran 100 World’s Most Influential People atau 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh di Dunia versi majalah Time. Menurut situs resmi majalah tersebut, Presiden Yudhoyono masuk dalam kategori "Pemimpin dan Tokoh Revolusioner". Majalah itu juga menampilkan pendapat mantan wakil perdana menteri yang kini memimpin kubu oposisi di Malaysia, Anwar Ibrahim, atas kiprah Yudhoyono. Menurut Anwar, sejak memenangi pemilu langsung pertama pada 2004, Yudhoyono telah berhasil membawa Indonesia mengatasi semua tantangan, termasuk krisis keuangan global yang saat ini melanda dunia, sekalipun berbagai masalah masih menghadang.
Ibrahim juga mengatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, untuk mengemban posisi yang menonjol di Asia dan di penjuru dunia Muslim. Untuk kategori "Pemimpin dan Tokoh Revolusioner", Time memilih 20 orang tokoh. Presiden Yudhoyono masuk dalam peringkat sembilan. Selain Yudhoyono, yang masuk dalam kategori "Pemimpin dan Tokoh Revolusioner" antara lain Edward Kennedy, Gordon Brown, Christine Lagarde, Thomas Dart, Avigdor Lieberman, Joaquin Guzman (yang ini "gembong Narkoba" level Pablo Escobar), Nouri al-Maliki, dan Hillary Clinton.
Secara pribadi, ada rasa bangga yang "menyeruak" dari diri saya. Terkadang menikmati rasa nasionalisme tersebut tidak harus melalui konflik dan peperangan, kata Muhammad Iqbal. Beberapa hari ini, apresiasi terhadap SBY justru bisa memberikan kebanggaan. Tulisan ini bukan bertendensi membela SBY, sebagaimana tanggapan beberapa elit politik Indonesia yang belakangan ini sedang "putus-sambung" pacaran politik. Pengakuan terhadap SBY bagi mereka justru "grand design" jelang Pilpres untuk menaikkan ratingnya (mungkin mereka menganggap majalah TIMES adalah institusi yang murahan). Namun bagi saya, ini menjadi sebuah takdir untuk SBY. Ia pantas untuk menerima penghargaan itu. Lihatlah, komentar di facebook, dari orang-orang Indonesia yang lama bermukim di Luar Negeri ..... mayoritas mereka menganggap penghargaan tersebut sudah sepantasnya dan karena itu, mereka justru merasa menjadi bagian dari Indonesia -- dengan penuh bangga.