Jumat, 29 Juli 2011

Musuh Politik & Tebang Pilih a-la Negeri "Paman Sam"

Oleh : Muhammad Ilham

"Kekuasaan yang besar, cenderung korup !", demikian Lord Acton. Sebuah kalimat yang sangat sering dikutip dan kita dengar. Tapi sudah menjadi hukum sejarah ummat manusia, pemilik kekuasaan besar, memiliki kecenderungan lain, defenisi dan pilihan mereka-lah yang paling benar. Sosiolog kritis, Antonio Gramsci, bahkan mengistilahkannya dengan kuasa hegemonik. Pemegang kekuasaan yang besar memiliki kecenderungan untuk menganggap parameter mereka sebagai parameter yang harus digunakan orang lain. Karena itu tidaklah salah apabila ketika terjadi perbenturan kepentingan, pemegang kuasa hegemonik ini akan berusaha untuk menyelamatkan kepentingan mereka, dengan tentunya menggunakan parameter mereka sendiri. Karena kekuasaan besar yang mereka miliki, mereka bisa mendisain bahwa apa yang mereka lakukan tersebut adalah kebenaran umum dengan parameter umum pula. Dan, karena itu pula, biasa saja akhirnya kita temukan praktek Tebang Pilih yang dilakukan oleh para pemegang kuasa hegemonik ini. Semua ini berlaku dalam catatan sejarah ummat manusia. Sangat sulit mempraktekkan apa yang diungkapkan oleh pepatah Minangkabau : "tibo diparuik dikampihkan, tibo dimato dipiciangkan". Dan hal ini juga berlaku pada Amerika Serikat.

Setelah kematian Osama (Usamah) bin Laden beberapa waktu yang lalu, pemerintah Amerika Serikat (bukan masyarakat-nya), secara politis, praktis hanya memiliki 5 orang figur pemimpin negara yang dianggap sebagai "musuh" (tanda kutip). Presiden Venezuela, Hugo Chavez dianggap negara "Paman Sam" sebagai tetangga yang tak pernah patuh pada kebijakan mereka. Sebenarnya banyak para pemimpin negara-negara tetangga Amerika Serikat yang rada-rada mirip dengan Hugo Chavez ini, katakanlah seperti Evo Marales, Presiden Bolivia yang secara ideologis sangat dekat dengan sosialis. Tapi negara Morales beda dengan Chavez. Chavez ditakdirkan Tuhan menjadi Presiden salah satu negara kaya minyak di Amerika Latin, sementara Bolivia tidak. Selama di tangan Hugo Chavez, kepentingan "tangan-tangan tersembunyi" Amerika Serikat tak bisa bermain di kilang-kilang minyak mereka. Pemimpin negara yang kedua dianggap sebagai "musuh" pemerintah Amerika Serikat, yaaaa siapa lagi kalau bukan "si brewok" Fidel Castro. Bahkan Fidel Castro dianggap sebagai musuh paling abadi negara Obama ini. Kedekatannya dengan blok Komunis serta pilihan ideologi-nya yang sangat Stalinis-Castroisme ini membuat Amerika Serikat merasa khawatir dan jengah karena komunisme yang nota bene nya adalah ideologi "lawan" Amerika Serikat tersebut dianut oleh negara yang berada "diteras" Amerika Serikat. Konflik Teluk Babi pada masa John Fritzgerald Kennedy (Presiden Amerika Serikat) dan Nikita Kruschev (Uni Sovyet) menjadi catatan sejarah bagaimana Cuba begitu strategis bagi Amerika Serikat dan Uni Sovyet memiliki kepentingan untuk menaruh negara satelit mereka di "teras" Amerika Serikat.

Selanjutnya, sang Nasserisme, Moammar Qaddafi yang hingga hari (28-7-2011) masih tegak berdiri dari hantaman Amerika Serikat, Perancis dan Inggris (baca : NATO). Qaddafi bahkan dianggap sebagai penjahat perang oleh Mahkamah Internasional karena menembaki beberapa warga sipil dalam demonstrasi menuntut pengunduran dirinya. Qaddafi yang masih tegak berdiri, walau tentunya sudah "sempoyongan", dianggap sebagai pemimpin negara yang harus dimusuhi karena berpotensi menghancurkan nilai-nilai demokrasi dan pelanggar HAM. Heran juga kita, Israel yang menembaki warga Palestina ataupun Basyar al-Assad yang menyuruh militer menembaki rakyat Suriah ketika berdemonstrasi atau Sulthan Bahrain yang dibantu militer Arab Saudi "membunuhi" beberapa demonstran, tidak dianggap sebagai pelanggar HAM (atau, tragedi Shabra Shatilla yang membuat bulu kita "bergidik" ketika Israel dibawah pemerintahan Menachen Begin serta "tangan kanannya" Ariel Sharon). Malangnya Qaddafi, ia pemimpin negara kaya minyak, sementara Suriah, biasa-biasa saja. Seterusnya, Kim Jong Il bin Kim Il Sung, pemimpin "penuh misteri" Korea Utara dianggap musuh lain pemerintah Amerika Serikat. Kalau ini bukan karena faktor minyak, tapi karena faktor Nuklir yang berpotensi menganggu kepentingan sekutu Amerika Serikat - Korea Selatan. Nasib Kim Jong Il juga sama dengan Ahmadinedjad, sama-sama berkaitan dengan isu nuklir, plus satu lagi ..... minyak.

“Kalau nuklir itu buruk, mengapa anda-anda memilikinya? Kalau nuklir itu baik, mengapa kami tak boleh memiliki?”, demikian kata Presiden Iran - Ahmadinedjad. Dalam kaca mata Amerika, ia selalu buruk, sepertinya Amerika merasa diri negara paling baik sedunia ! Padahal berapa banyak negara dihancurkan oleh Amerika Serikat dengan alasan demokrasi, kalau demokrasi menghancurkan negara lain, apa bedanya dengan anarki? ..... Itu Point-nya !!


Presiden Venezuela, Hugo Chavez

Presiden Cuba, Fidel Castro (sekarang digantikan adiknya : Raul Castro)

"Anak ideologis Nasser" ... Presiden Libya, Moammar Qaddafi

Presiden Korea Utara - Kim Jong Il bin Kim Il Sung

Presiden Iran - Mahmoud Ahmadinedjad

Sumber Foto's : www.dejavu.com

Tidak ada komentar: